Senin, 15 April 2019

Mondaiji-tachi ga Isekai Kara Kuru Sou Desu Yo Jilid 6 Bab 5 LN Bahasa Indonesia



BAB 5
(Translater : Hikari)

—[Tablet Lautan Bintang], Koridor Pajang
Tepat pada saat ini, Matahari telah beranjak tenggelam dengan perlahan ke balik garis horizon di barat.
Penampilan [Kota Kouen] sedikit demi sedikit berubah saat kota tersebut dibanjiri warna senja. Dibarengi dengan cahaya berwarna-warni dari lentera-lentera, hanya saat malam datanglah Kota ini menunjukkan penampilannya yang sebenarnya.
Ada banyak ras nokturnal yang berdiam di Kota ini dan jam-jam saat malam hari sepertinya adalah waktu di mana tempat ini menjadi begitu meriah.
Kota yang memberikan cahaya yang berbeda antara saat siang dan malam hari—itulah wilayah dari [Salamandra].
Tepat saat [Tablet Lautan Bintang] mulai dihiasi warna senja, muncullah secara tiba-tiba keramaian di Koridor Pajang.
Begitu menerima informasi mengenai keberadaan Sandra, sejumlah besar pasukan polisi militer pun menyusul. Mengabaikan tatapan cemas kebingungan yang mereka sebabkan pada wajah-wajah tamu yang penasaran, mereka mengejar jejak keberadaan Sandra dan yang lainnya saat merekar berlari mengelilingi tempat tersebut.
"Tolong tunggu, Sandra-sama!"
"TIDAK ~! Sebelum menyelesaikan kasus 'Kamikakushi', aku tidak akan kembali~!"
*BLEH~* Sandra meleletkan lidahnya pada mereka sambil terus berlari.
Kenyataannya, dia tidak biasanya menunjukkan sisi kekanak-kanakkannya ini pada para bawahannya.
Jin yang juga terseret dalam keributan ini diseret-seret oleh Sandra dan Yang Mulia yang mencengkeram leher kerahnya saat mereka berlarian ke sana ke mari. Dan dia sudah sampai ke kondisi tercekik.
Berjuang untuk waktu yang lama sampai akhirnya bisa mendapatkan tempat bagi lehernya, bocah itu menjerit memelas.
"Hei… …aku sekarat di sini!"
"Tidak masalah. Kalau hanya mati tercekik, kita masih bisa memikirkan cara untuk menghidupkanmu lagi nanti."
Yang Mulia-dono berkomentar dengan ekspresi datar. Apakah itu karena respon anak muda itu sejauh ini? Karena Jin tidak dapat mengetahui apakah pemuda itu sedang serius atau bercanda dengan komentarnya itu sama sekali.
… …Tidak, mungkin saja pemuda ini bersikap serius selama ini.
"Ba…Bagaimanapun, kita harus menemukan tempat untuk sembunyi lebih dulu!"
"Mhm. Ada pintu belakang yang menuju pajangan yang dipamerkan, yang mana biasanya digunakan untuk transportasi barang-barang yang dipajang, tepat di depan kita, ayo langsung saja masuk ke dalam sana untuk saat ini."
"Baiklah."
Yang Mulia dan Sandra terus menyeret Jin sambil mereka melesat di sepanjang koridor lalu berbelok secara tiba-tiba ke kanan dan melompat melewati kepala-kepala para pengunjung. Tapi sepertinya pasukan polisi militer telah menduga pergerakan mereka ini dan mempersiapkan penyergapan di balik pintu belakang tersebut. Dan mereka menyerukan perintah saat mereka melihat Sandra yang berbelok di sudut.
"Sekarang! Keluarkan pasukan Naga Bersayap!"
"Eh…Sayap? Pasukan Naga Bersayap? Tepat di pusat Koridor Pajang?"
Sandra sontak berseru terkejut, berhenti sebentar dalam pelariannya saat tiga Naga Api Bersayap setinggi kira-kira tiga meter menjulang melampaui mereka sambil membuka jalan mereka ke pintu.
Ketiga naga itu tidak hanya memiliki keuntungan dalam serangan mendesak, mengepung dari tengah depan dan belakang, mereka juga dapat terbang dan mengendalikan langit di atas. Dengan penyerbuan semacam itu, ketiga orang itu tidak dapat melarikan diri dari Koridor Pajang.
Ketiga naga dengan api di sekitar rahang mereka, telah mengepung tiga orang itu dan pemimpinnya menatapi Sandra dengan sorot mata tajam.
"Sandra-sama, tolong kembali ke Markas."
"Kami tidak ada niatan untuk melawan pemimpin kami."
"Tolong tunggulah dengan tenang penyelenggaraan Pertemuan Besar. Kalau kabar mengenai masalah ini sampai tersebar, hal tersebut akan menjadi bahan lelucon di antara Master lainnya. Jadi, demi [Salamandra], tolong kembalilah ke istana secepatnya."
Meskipun mereka menggunakan nada bicara yang sopan, itu sama sekali tidak menyembunyikan rasa ketidakpuasan yang ada dalam kata-kata mereka.
Kemungkinan besar ketiga naga ini adalah bagian dari grup yang tidak mendukung tindakan untuk menempatkan Sandra di tahta. Kalau tidak, naga-naga inferior ini tidak akan muncul di hadapan mereka di tempat atraksi turis seperti ini—di [Tablet Lautan Bintang]. Kalau Sandra ingin menggunakan kekuatan untuk melawan, orang-orang itu kemungkinan besar berencana untuk menimpakan semua kesalahan atas kerusakan yang terjadi di pameran ini padanya.
Jadi Jin menarik Sandra untuk melindunginya ke belakangnya saat dia mengusulkan dengan lembut.
"… …Menurutku, Sandra, kenapa kau tidak meminta Mandra-san untuk membantumu dalam hal ini? Mengingat lawan adalah seorang Raja Iblis, bukankah [Salamandra] akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghadapi ancaman itu?"
"… …Tidak, itu tidak akan berhasil. Mandra Onii-sama sama sekali tidak mempercayaiku."
"EH?" Jin memiringkan kepalanya karena tidak dapat membayangkan bahwa Mandra yang suram dan serius itu akan mengesampingkan kata-kata pemimpinnya dan dia mau tidak mau menjadi bertanya-tanya apakah dia salah mendengar.
Tapi Sandra mengencangkan cengkeraman tinjunya saat mengingat peristiwa masa lalunya.
"Sebenarnya… …aku sudah melihat pelaku 'Kamikakushi' di tempat kejadian perkara yang belum lama ini."
"Pelaku 'Kamikakushi'?"
"Mhm. Dia adalah orang yang mengenakan jubah panjang dengan huruf "" terpampang di bagian punggungnya. Tapi hanya aku yang dapat melihat 'Kamikakushi'… …Mandra Onii-sama dan rekan-rekanku tidak percaya pada kata-kataku. Mulai hari itu, Onii-sama menyuruhku untuk mundur dari masalah ini."
Sandra memejamkan matanya saat dia mengisahkan dengan sedih.
Tapi dia segera menggelengkan kepala untuk meluruskan pemikirannya.
"Mandra Onii-sama selalu seperti ini. Dia tidak pernah mendengarkan kata-kataku dengan serius sebelumnya. Jika hubungan antara pemimpin dan pengatur strateginya seperti ini, bagaimana aku bisa memimpin Komunitas? Karena itulah aku harus memanfaatkan kejadian ini untuk mendapatkan kepercayaan dari Onii-sama dan yang lainnya."
Sandra mengatupkan kedua tangannya saat dia memicu kobaran api semangat dalam dirinya lagi.
Mendengar kata-katanya, Jin akhirnya mengerti alasan di balik rencana kabur diam-diamnya ini.
Karakter Sandra selalu adalah seseorang yang apa adanya dan tidak dapat dikekang, tapi itu bukan berarti dia adalah gadis gila yang akan melakukan apapun begitu saja. Dan alasan Sandra mengeraskan hatinya sampai bisa mengambil tindakan seperti ini lebih diakibatkan oleh harga diri daripada sikap memberontak terhadap kakak lelakinya.
Sebagai seorang pemimpin Komunitas, apakah seseorang bisa mendapatkan kepercayaan dari rekannya adalah sebuah perkara yang berhubungan dengan kemampuan untuk mempertahankan hidup. Tidak perlu dikatakan lagi, dengan [Salamandra] sebagai organisasi yang sangat besar, selama anak buahnya merasa sedikit saja keraguan, sudah pasti akan menciptakan banyak masalah dalam rantai kepemimpinan. Dan bagi sebuah Komunitas yang telah selalu mewariskan posisi kepemimpinannya berdasarkan garis keturunan, ini adalah sebuah halangan yang harus gadis itu atasi cepat atau lambat.
"Aku mengerti. Karena kau sudah berkata begitu, aku tidak akan mendesak lebih jauh. Tapi, apa yang akan kau lakukan untuk keluar dari situasi saat ini?"
"Dengan kekerasan… …atau harus kukatakan itulah rencanaku sejak awal. Tapi akan merepotkan jika pajangan di pameran ini hancur. Ada sebuah lorong yang terhubung dengan arena yang berlokasi di atas pintu masuk belakang Pameran dan kita harus menemukan cara untuk sampai ke sana."
"Kalau dipikir-pikir lagi, sudah hampir waktunya untuk [Duel Para Kreator] dimulai. Seharusnya ada aliran besar pengunjung yang berkumpul ke arena."
Setelah pengibaran bendera acara Game, para pengunjung dari Koridor Pajang kemungkinan besar membanjir ke area penonton arena dan menyediakan pengalihan yang sempurna bagi mereka. Tapi bagaimana caranya mereka bisa berhasil ke tempat itu sepertinya adalah masalah terbesar untuk saat ini.
Menatapi ketiga Naga Api yang mendekati mereka, Jin terus berpikir keras mencari solusi.
Saat itulah, Yang Mulia berkata:
"Jin, Sandra, apa hanya ada satu syarat?"
"Hah?"
"Syarat untuk melarikan diri. Bagaimanapun, aku dipekerjakan kalian, jadi masalah kecil seperti ini bisa diserahkan padaku untuk kutangani."
"Kecil…masalah kecil…begitu kita memulai keributan, seluruh pusat pameran akan berada dalam kekacauan dengan adanya pasukan polisi militer. Kalau ada metode untuk menerobos keluar dari pengepungan ini tanpa melukai lawan, itu akan jadi hal yang bagus, tapi metode lainnya sudah pasti akan mengakibatkan masalah besar."
"Begitukah? Jadi, maksudmu selama pasukan polisi militer bisa ditendang minggir tapi tidak melukai mereka, maka itu akan baik-baik saja menurutmu, 'kan? Itu akan jadi tugas yang mudah."
Yang Mulia mengatakannya begitu saja tanpa niatan membual.
Melihat kepercayaan dirinya, Jin dan Sandra menatap satu sama lain, kehilangan kata-kata. Dan untuk memastikan lebih dulu demi mencegah kesalahpahaman apapun, Sandra juga memiliki kekuatan untuk mengalahkan Naga Bersayap dan pasukan polisi militer.
Tapi menghadapi pasukan polisi militer tanpa menyakiti mereka ataupun pajangan yang ada di galeri, itu benar-benar menaikkan kesulitannya sampai beberapa tingkat.
"Nn. Soal itu… …aku akan memastikan rencananya lagi. Tidak menghancurkan Koridor Pajang, menyingkirkan Naga Api Bersayap dan pasukan polisi militer dan menemukan "Kamikakushi". Inilah hal-hal yang harus kita capai… …"
"Mhm, ya. Tidak menghancurkan Koridor Pajang, menerbangkan Naga Api Bersayap dan pasukan polisi militer menjauh dan mencari "Kamikakushi" di saat yang bersamaan, apa aku benar? … … Baiklah kalau begitu, apa ada permintaan lain?"
*Kraaak Kreaak* Yang Mulia mulai menggeretakkan jari jemarinya pada ketiga naga yang hampir mencapai mereka, walaupun dengan perlahan.
Meskipun Yang Mulia telah menanyai untuk memastikan poin terakhir, mereka berdua telah kehabisan ide.
Sandra menganggukkan kepala saat dia membulatkan tekadnya.
"Baiklah kalau begitu, kuserahkan padamu. Aku akan mengurusi Naga Bersayap yang ada di langit sementara kau tidak perlu menahan diri terhadap dua naga lainnya. Berusahalah untuk tidak menyakiti pasukan polisi militer sebisa mung——"
——sebisa mungkin dan robohkan saja mereka ke tanah. Bagian terakhir dari kalimat itu tidak berhasil diucapkan tepat waktu.
Karena seekor Naga Bersayap yang diliputi oleh gelombang hawa panas telah menyerbu dari belakang, mengambil kesempatan untuk menahan gadis itu sementara dia fokus bicara.
"Sandra-sama, maafkan ketidaksopanan saya‼"
Tubuh besar setinggi sepuluh kaki menukik dengan cepat dan mendekati Sandra dari belakang. Sandra yang sedang memberikan instruksi pada Yang Mulia kemudian terlambat sekejap untuk bereaksi dan disambar oleh cakar depan si Naga Bersayap.
"Ahyo~… …?!"
"Sandra!:
"Keamanan Sandra-sama sudah dipastikan! Tidak masalah membuat dua yang lainnya menderita sedikit! Semuanya, serang!"
Pasukan polisi militer dan kedua Naga Bersayap lainnya meraung liar dan merespon dengan penuh semangat terhadap perintah tersebut.
Yang Mulia dengan segera menyambar tengkuk Jin dan menariknya mendekat untuk berbisik di telinganya:
"Ini akan segera berakhir, tetaplah di tempatmu selama lima detik."
"Lima……"
Dalam sekejap, ada sebuah ledakan yang mendadak muncul dari tanah di bawah tempat Yang Mulia tadinya berdiri saat dia menerjang ke arah pasukan polisi militer
Pasukan polisi militer tidak mengira bahwa target yang akan mereka tangkap bersinisiatif untuk menyerang dan mereka pun merasa bimbang untuk sejenak. Akan tetapi kesempatan ini tidak dilewatkan oleh Yang Mulia.
Mengayunkan lengannya dengan ringan, dia menerabas langsung ke tengah-tengah fomasi tujuh orang untuk memberikan pukulan-pukulan akurat dan kritikal di titik-titik vitalnya untuk membuat petugas kepolisian militer tersebut kehilangan kesadaran.
Dan ada total lima puluh lima orang lainnya dari pasukan polisi militer di belakang. Sampai bisa membuat keributan besar demi seorang nona? Yang Mulia mau tidak mau menghela napas dalam hati sambil menyapu habis pasukan polisi militer dengan hujan tinjunya.
Menggunakan kecepatan super yang luar biasa, Yang Mulia dengan akurat menghujamkan tinjunya pada dada para lawannya tepat di atas jantung, leher, ubun-ubun, dll. Hanya pada saat orang yang terakhir dibuat tidak sadarkan diri dan roboh ke tanah, barulah Jin akhirnya berhasil untuk bereaksi.
"… …Sedetik…. …Bahkan tidak sampai sedetik. Yang Muli…kau…!"
"Brengsek! Bocah sialan itu berani-beraninya memandang rendah kita!"
"Kejahatan karena telah melukai kami, kalian semua, jangan pikir kalian akan dibiarkan begitu saja!"
Kedua Naga Bersayap meraung ganas saat mereka mengarahkan kemarahan mereka pada orang yang sepertinya telah luar biasa menyinggung mereka.
Naga Bersayap yang mengeluarkan gelombang hawa panas dari rahang mereka kemudian terbang dengan tubuh besarnya itu dengan kecepatan luar biasa dan memuntahkan bola api yang sangat besar dari mulut mereka.
Bola api tersebut melampaui tinggi Yang Mulia hampir tiga kalinya, tapi Yang Mulia sepertinya tidak terpengaruh dan hanya mengibaskan lengan kanannya dengan ringan untuk membuat bola api itu menghilang tanpa jejak.
"Itu…Itu mustahil!"
"Perintah yang kuterima adalah tidak menunjukkan rasa belas kasihan pada kalian. Jadi, aku tidak akan main-main dengan kalian… …Nah, kalau kalian ingin lari, sekaranglah waktunya, kalian tahu?"
Peringatan itu diberikan karena kemurahan hatinya, tapi kedua Naga Bersayap itu salah memahaminya sebagai sebuah ejekan karena mereka menjadi semakin marah dan meraung :
"Hah! Siapa yang takut padamu, hah?! Pelindung sisik kami telah ditempat di kawah raksasa di puncak yang jauh di sana, ini tidak akan pernah kalah oleh orang sepertimu, seorang bocah tak berpengalaman sepertimu!"
Melebarkan sayapnya, Naga Bersayap itu menegaskan bahwa dia menerima tantangan pertarungan tersebut.
Sampai saat ini, Yang Mulia yang tadinya memukul lawan dengan sekenanya saja, membelalakkan mata dengan terkejut—dan berikutnya seulas senyum kejam merayap di wajahnya.
"… …Begitukah? Kalau begitu, aku akan jadi yang bersalah kalau berbelas kasihan ya… …‼!"
"Ah! Yang Mulia, JANGAN‼"
Sandra yang masih berada dalam cengkeraman Naga Bersayap dan melayang di langit pun menjerit nyaring ketakutan mengkhawatirkan keselamatan rekannya.
Tapi sayangnya itu terlambat. Teriakan untuk menghentikan itu datang terlalu lambat.
Meskipun kuda-kuda tempurnya santai saja, Yang Mulia tidak semurah hati itu untuk memberi lawannya kelonggaran setelah dipancing dengan cara semacam itu. Sikapnya yang biasa tenang kini menghilang sepenuhnya dan digantikan dengan rasa gila bertarung yang meliputi tubuhnya.
Si pemuda pendek, kini memancarkan sedikit kekuatan spiritualnya, memperlihatkan ilusi perasaan menjadi selusin kali lebih besar dari ukurannya yang sebenarnya. Akibat tekanan yang dipancarkan oleh penampang iris matanya yang keemasan, si pemuda rambut putih itu bisa dibandingkan dengan seorang Raja Iblis.
Menjejak tanah dengan kekuatan yang cukup untuk menciptakan lekukan pada lantai di koridor, Yang Mulia terlihat seakan melintas dengan kecepatan yang dapat membakar atmosfir itu sendiri—Kecepatan Kosmis Ketiga saat dia melesat langsung ke dada Naga-Naga Bersayap.
"Ap… …?!"
"Terima ini dengan seluruh kemampuanmu. Jangan khawatir. Kalau kau beruntung, kau mungkin saja selamat——!"
Tinju pemuda itu terhubung dengan si Naga Bersayap.
Dampak pukulan yang dilancarkan oleh seseorang yang terlihat sebagai seorang pemuda kurus pendek  pada sebuah tinju itu melampaui imajinasi si Naga Bersayap. Sisik-sisik yang lebih keras dari besi tersebut bertebaran dengan indahnya dan tubuh besar itu terhempas ke belakang. Dan Naga Bersayap lain menggunakan keempat kakinya sebagai perisai hidup untuk menahan rekannya.
"Ugh, ohohohohohohoh!"
Naga Bersayap lainnya tersebut pun meraung saat mencoba untuk menghentikan kejatuhan rekannya.
Tapi Naga Bersayap yang dihempaskan oleh tinju Yang Muli itu terus berakselerasi ke arah yang sama tanpa melambat sedikit pun dan kedua Naga Bersayap itu terlempar keluar dari pusat Koridor Pajang.
Jin, Sandra dan Naga Bersayap yang masih tersisa menyaksikan rentetan kejadian yang berlangsung di hadapan mereka dengan mata terbelalak terkejut.
Dan suara acuh tak acuh Yang Mulialah yang mengembalikan mereka semua ke saat ini.
"Oi, yang masih memegangi Sandra di sana. Lepaskan dia sekarang."
"Apa?! … … Kau pikir kau ini siapa?!"
"Ayolah, lepaskan saja dia sekarang. Sandra sedang mencoba mendapatkan kepercayaan dari [Salamandra] dalam perjuangan mati-matian ini. Sebagai salah satu kekuatan tempur utama Komunitas, cobalah untuk sedikit lebih mempercayai keputusan pemimpin barumu, ya?"
Yang Mulia mengangkat sebelah alisnya saat menegus si Naga Bersayap.
Dikuliahi seperti itu oleh seorang anak muda, harga diri Naga Bersayap itu terluka. Akan tetapi, Naga Bersayap itu berekspresi rumit saat melihat sekitar Sandra, Jin, dan Yang Mulia, serta rekan-rekannya dari [Salamandra] yang ada di permukaan tanah.
Setelah memandangi mereka dengan tatapan getir, Naga Bersayap itu dalam diam melepaskan Sandra dari cengkeramannya.
Mengantarkan Sandra kembali ke Koridor Pajang, Naga Bersayap itu membungkuk dengan bersimpuh pada sebelah lututnya sambil berkata dengan hormat.
"… …tolong maafkan ketidaksopanan kami, tapi kami sangat memikirkan masa depan [Salamandra]. Tolong jangan paksakan diri Anda dan kembalilah saat Anda merasa bahwa itu terlalu berbahaya untuk ditangani sendirian."
"Baiklah, aku mengerti. Aku juga akan merenungkan sikap tidak dewasaku yang memalukan ini karena memilih metode kasar semacam ini untuk meyakinkan kalian semua. Kuharap tindakanku kali ini akan membantu membawa kejayaan pada Bendera Naga Api, dan dengan demikian, kuharap kalian semua akan memaafkanku."
Si Naga Bersayap dan si pemimpin muda bertatapan dan saling mengangguk.
Mengembangkan sayapnya, si Naga Bersayap melirik lagi untuk yang terakhir kalinya pada Yang Mulia sebelum pergi.
Saat keributan itu akhirnya berakhir, Jin menghela napas panjang sebelum tersenyum lega.
"Dengan begini, kita hanya perlu merlarikan diri ke arena, 'kan?"
"Mhm… …Tapi benar-benar mengejutkan melihat Yang Mulia ternyata sekuat itu."
"Benarkah? Kurasa aku lebih terkesan dengan orang dari pasukan Naga Bersayap itu. Meskipun aku menahan diri, tapi dampak dari tinju itu seharusnya bisa mengirim mereka ke ujung dunia. Aku sama sekali tidak mengira mereka dapat berdiri begitu cepatnya."
"Be… …begitukah?"
"Ya. Kalau ada empat ribu Naga Bersayap dengan standar seperti itu, pasti akan menjadi situasi yang cukup sulit untuk kutangani."
"——Itu seperti kau berencana untuk melakukan perang melawan [Salamandra], huh?" Jin tertawa.
Yang Mulia juga tertawa membalasnya.
"Aw, hentikan itu. Bukankah sudah kukatakan sebelumnya? Komunitasku adalah tipe pedagang dan membuat keributan dengan seorang [Floor Master] sudah pasti akan menyebabkan bisnis kami sangat terpengaruh… …Daripada begitu, ayo ke arena lebih dulu. Apa pintu belakang ke arah sana?"
Ketiga orang itu mengangguk dalam diam saat pandangan mereka bertemu dan mulai menjejaki tangga yang mengarah ke pintu belakang galeri yang terhubung ke arena sebagai tujuan utamaa mereka. Dan sepertinya semua polisi militer masih berada di luar karena tidak sedikit pun keberadaan mereka yang terasa di dekat situ.
Duduk untuk sementara waktu di jalan penghubung itu, sorakan meriah dari keramaian terdengar dari arena.
Dan sebagai tanggapan, wanita yang bertanggung jawab sebagai pembawa acara event tersebut memberikan pengumuman penuh semangat.
Jin dengan waspada melihat ke sekeliling saat dia menarik pintu tersebut dan berjalan ke dalam arena——

"——Ronde pertama akan dimulai sekarang!
Dari [No Name], Kudou Asuka!
Dari [No Name], Kasukabe Yō!
Dan idola semua orang! Kandidat paling populer untuk meraih kemenangan mutlak!
Wanita Super yang tidak terkalahkan!
Dari [Will-O'-Wisp], Willa sang Ignis Fatuus——!"

Catatan penerjemah:
Hola, Hikari is here! Numpang lewat mw ngasih info. Pas lihat-lihat FB, me baru ngeh ternyata ada yg udah ngerjain ni LN smpai Vol. 10. Untuk efisiensi waktu dan tenaga, rencananya me cm bakalan lanjut sampai ending vol. 6 lalu drop.
.
.
.
Yups, segitu aja sekilas beritanya :P

Mondaiji-tachi ga Isekai Kara Kuru Sou Desu Yo Jilid 6 Bab 5 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.