Kamis, 28 Maret 2019

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 22 WN Bahasa Indonesia



KEBENARAN

Keputusan tak terbendung Ruri untuk kembali mengunjungi Nadarsia terbukti menjadi hal yang membuat putus asa saat dia luar biasa terguncang dengan situasi di Nadarsia.
"Ini mengerikan…" (Ruri)
Saat Ruri dibuang dari Nadarsia, dia dilemparkan ke dalam sebuah kereta kuda dan langsung dibawa ke hutan. Dia tidak pernah mendapat kesempatan untuk melihat secara langsung kondisi dari ibu kota dan desa-desa antara istana dan hutan iblis.
Ternyata itu lebih baik, pikir Ruri.
Kalau pemandangan ini ada dalam pikirannya saat itu, dia mungkin saja akan dikuasai perasaan tanpa harapan dan tidak akan mampu melanjutkan hidup di hutan dengan penuh semangat seperti waktu itu.
Kondisi Nadarsia begitu parah.
Meskipun kotanya cukup besar, orang bisa salah mengira tempat ini sebagai reruntuhan yang ditelantarkan dari masa lalu. Bangunan-bangunan ditinggalkan adalah bagian dari pemandangan normal dan sejumlah kecil orang yang berlalu lalang pun luar biasa kurus tanpa ekspresi di wajahnya.
Tidak ada anak kecil yang berlarian ke sana ke mari, tidak juga ada para wanita yang mengobrol sambil berdiri di pinggir jalan seakan-akan mereka memilikinya. Bahkan seruan-seruan ciri khas pemilik toko yang mengumpulkan pembeli pun tidak terdengar di manapun.
Perbedaan antara tempat ini dengan Kerajaan Naga yang letaknya bersebelahan begitu menggemparkan.
Sudah dua tahun sejak Ruri dipanggil ke sini. Dia mengingat saat-saat dia berada di Nadarsia.
Diperlakukan sebagai teman Asahi, semuanya disediakan bagi mereka di istana. Begitu dia memahami gaya hidup 'normal' rakyat yang tinggal di sini, Ruri sekarang tahu betapa bersyukurnya dia saat itu.
Sebagai seorang Miko-sama, Asahi menerima perlakuan yang sama seperti para keluarga kerajaan. Tidak ada pengeluaran yang dihemat-hemat mungkin adalah kata yang dapat menggambarkannya.
Dari sudut pandang lain, sepertinya tepat untuk mengatakan bahwa gaya hidup di istana adalah hal yang abnormal. Dan kota yang di sekelilingnya adalah yang mendapat bagian yang terburuk.
Akan tetapi, negara ini bersiap-siap untuk pergi berperang dengan Kerajaan Naga. Bahkan Ruri yang tidak begitu paham dengan hal-hal politik pun tahu bahwa Nadarsia tidak berada dalam posisi untuk itu.
Ruri, ayo tinggalkan tempati ini… (Rin)
Rin mendorong Ruri untuk meninggalkan tempat ini, tapi Ruri tidak dapat melakukannya. Seakan menyadari sesuatu, Ruri ke wujud manusianya dan berjalan menuju ke arah alun-alun.
Ada sebuah sumur di alun-alun yang dipenuhi orang-orang yang mencoba mengisi perut mereka yang lapar dengan air. Akan tetapi, tidak mungkin air dapat memuaskan rasa lapar mereka. Orang-orang itu menatap sekilas Ruri yang bukan orang sekitar sini, dan segera kehilangan minat padanya dan kembali ke kondisi mereka yang menyedihkan.
Ruri? (Rin)
Rin sedang menatapi Ruri dengan terkesima saat Ruri berdiri di tengah-tengah alun-alun dan berkonsentrasi pada sesuatu.
Tiba-tiba, sebuah tunas muncul dari dalam tanah.
Ruri menyalurkan sihirnya ke tunas tersebut, membuatnya tumbuh dengan kecepatan berkali-kali lipat lebih cepat daripada tumbuhan biasa. Ruri tidak berhenti menyalurkan sihirnya ke tanaman itu, bahkan setelah menjadi sebatang pohon yang sangat besar berdaun hijau lebat. Tidak berapa lama kemudian, pohon itu mulai mengeluarkan buah.
Dengan perubahan pemandangan seperti itu, orang-orang yang menatap langit dengan pandangan lesu, kini menunjukkan sebuah perubahan di matanya.
Ruri menggunakan sihir anginnya untuk mengumpulkan buah-buah yang ada di pohon dan memberikannya pada orang-orang yang terlihat lemah di sekitarnya satu demi satu.
Kebingungan dengan tindakan Ruri, orang-orang  memegangi buah itu sambil saling menatap satu sama lain.
Dengan waspada, mereka melahap segigit. Sari buah membanjiri indera perasa mereka dengan rasa manis yang luar biasa, seakan sebuah rantai telah diputuskan dari mereka. Mereka pun menelan buah tanpa peduli apapun lagi.
Mungkin karena itu adalah pohon yang diberi cukup banyak kekuatan sihir oleh Ruri, saat dia selesai memberikan setumpuk panenan buah yang pertama, pohon itu mengisi kembali dirinya sendiri dengan lebih banyak buah.
Melihat hal itu, Ruri membuat permintaan khusus pada orang-orang yang masih bersemangat untuk memberikan buah-buah itu pada orang-orang di sekeliling kota dan kemudian meninggalkan kota.
Tidak dapat memahami tindakannya, Rin mempertanyakan Ruri.
Sekalipun kau melakukan itu, tidak akan ada yang berubah, kau tahu? (Rin)
"Tidak masalah. Adalah tugas negara untuk memperbaiki situasi ini, bukan aku. Hanya saja…kalau aku meninggalkan tempat itu tanpa melakukan apapun, aku takut pemandangan ini bisa menghantuiku saat tidur. Meskipun aku hanya beberapa hari saja di sini saat aku pertama kali tiba, barang-barang yang kupakai, kumakan, dan kuminum dibayar oleh orang-orang ini. Bisa dibilang, aku merampoki kehidupan orang-orang ini. Aku melakukan ini hanya untuk menghibur diriku sendiri dan membatasinya sebisa mungkin, mengembalikan kepada mereka apa yang telah kuambil dari mereka." (Ruri)
Pikiran manusia begitu rumit, pikir Rin. Melihat Rin yang bingung, Ruri hanya bisa tersenyum getir. Dia kemudian melanjutkan perjalannya ke ibu kota Nadarsia sambil memberikan makanan pada orang-orang di setiap kota yang dia kunjungi selama itu.
Seperti yang diduga dari tempat yang paling terdekat dengan kediaman Raja, ibu kota dipenuhi dengan orang-orang yang lalu-lalang dengan pakaian bagus.
Meskipun jauh lebih kecil daripada Kerajaan Naga, jika hanya ibu kota ini sajalah 'Nadarsia', para pelancong dari tempat lain akan menghilangkannya dari daftar keinginan mereka "tempat-tempat yang ingin kukunjungi dalam hidup ini". Bagi Ruri yang telah melihat situasi desa-desa dan kota-kota yang membuat perasaan depresi di sekitar Nadarsia, dia hanya bisa merasa tidak nyaman dengan perbedaan perlakuan yang diberikan pada rakyat Nadarsia.
Hal lain yang mengganggu Ruri juga sudah terjawab. 'Kenapa kebanyakan orang di desa-desa yang dia kunjungi terdiri dari anak-anak, wanita dan orang-orang tua?'
Di pintu masuk ke ibu kota berdiri barisan panjang pria. Beberapa terlihat seakan mereka belum tidur selama berhari-hari, sementara yang lain gemetar hingga ke sepatu botnya.
Ruri jadi tahu bahwa pria-pria ini adalah orang-orang yang dipanggil untuk bertempur saat dia menguping percakapan mereka dalam wujud kucingnya.
Apa yang akan kau lakukan sekarang, Ruri? (Rin)
Ruri bingung.
Dia datang ke Nadarsia untuk mengetahui apakah rumor itu benar tentang mereka yang berencana untuk pergi berperang dengan Kerajaan Naga. Dia sekarang mengetahui bahwa kebenaran yang keras yang tidak ingin dia percayai itu ternyata benar.
Dia tahu bahwa hanya dirinya saja tidak akan bisa melakukan apapun untuk menghentikan perkembangan perang yang akan segera terlaksana tidak lama lagi. Dia hanya datang ke sini karena rasa penasaran.
Alasan lainnya kenapa Ruri datang ke mari adalah untuk mencari tahu apakah Asahi akan terlibat dalam perang ini dalam cara apapun. Ruri sekarang benar-benar menyesal.
Dan sekali lagi, Ruri kebingungan.
Untuk saat ini, bagaimana kalau kita pergi ke istana sebelum mengambil keputusan? (Rin)
Kau benar. Tapi aku tidak ingin bertemu dengan Asahi, jadi ayo lakukan dengan diam-diam. (Ruri)
Setelah menentukan langkah selanjutnya, Ruri dan Rin menyusup ke Ibu Kota melewati lubang dari dinding luar yang hancur.
* * *
Raja Nadarsia sedang duduk di takhtanya di istana.
"Bagaimana dengan kemajuan persiapan perang?" (Raja)
Orang yang menjawab sang Raja adalah pendeta tua yang sama yang memiliki posisi tertinggi di antara rekan sejawatnya yang melakukan ritual pemanggilan dan membawa Ruri beserta yang lainnya ke dunia ini.
"Semuanya berjalan dengan yang lancar. Kami tadinya khawatir untuk sesaat saat kami kehilangan kemampuan kami untuk menggunakan sihir, tapi setelah memahami bahwa itu adalah peringatan dari Dewa karena telah membiarkan orang-orang yang tidak percaya kepada Miko-sama tetap hidup, kami membuang mereka semua ke Hutan Iblis. Saat ini, mereka pasti telah menjadi santapan bagi para hewan buas di hutan tersebut." (Pendeta Tua)
"Benar, itu sangat membuatku takut. Akan tetapi, berkat hal itu, kita memiliki alasan untuk menyingkirkan para pengacau sialan itu. Bahkan Miko-sama pun semakin lama semakin berguna." (Raja)
"Sesuai yang Anda katakan." (Pendeta Tua)
Baik Raja maupun si Pendeta Tua tertawa terbahak-bahak tanpa belas kasihan sedikit pun.
Mungkin hanya ada sedikit masalah dalam rencana mereka, tapi itu tidak terlalu serius sampai bisa membuat mereka melenceng dari tujuannya.
"Yah…satu-satunya masalah menurut saya saat ini adalah Pangeran, yang benar-benar jatuh hati pada Miko-sama…" (Pendeta Tua)
"Tidak disangka dia bisa terpikat sejauh itu, benar-benar menyedihkan. Akan kukirim saja dia sekalian dengan Miko-sama ke dalam peperangan dan menyingkirkan mereka berdua sekaligus. Aku bisa menggantikan poisisnya dengan orang lain yang tersedia." (Raja)
Inilah sang Raja yang membicarakan darah-dagingnya sendiri seakan-akan anaknya itu hanya sekedar barang sekali pakai demi keserakahannya dan si Pendeta pun setuju dengan setiap perkataannya seakan-akan itu adalah yang biasa saja. Akan tetapi, si Pendeta Tua merasa terganggu oleh sebuah detail kecil.
"Miko-sama juga?" (Pendeta Tua)
Berkat kemunculan Miko-sama yang telah diramalkan, kuil menerima begitu banyak sumbangan. Akan jadi hal yang sangat disayangkan kehilangan sang Miko-sama di titik ini, begitu pikir si Pendeta Tua.
"Jika tiba waktunya kita memerlukan seorang Miko-sama, kita panggil saja yang lainnya! Kita tidak perlu seseorang yang lebih berpengaruh daripada aku. Gadis itu benar-benar mengganggu." (Raja)
Menanggapi Raja yang mengerutkan keningnya, si Pendeta mengangguk seakan setuju. Awalnya, meskipun Raja menjanjikan perlakuan istimewa pada Miko-sama, semua orang di istana memberi hormat dan berhati-hati dengan perlakuan mereka terhadap Asahi murni karena kenyataan bahwa dia adalah seorang 'Miko-sama'.
Dia bertingkah seperti layaknya seorang Miko-sama dengan menggunakan sihir pemikat. Dalam dunianya sendiri, dia bersikap bahwa perlakuan yang diberikan padanya adalah hal yang sepantasnya.
Memanfaatkan hal itu, dia menggunakan para prajurit di istana dalam misi pencarian temannya tanpa rasa sungkan. Dari sudut pandang Asahi, mungkin sepertinya mereka bergerak karena mereka ingin membantu dia atas dasar kebaikan hati, tapi kenyataannya, para prajurit melakukannya seakan itu adalah tugas mereka. Belum lagi sang Pangeran pun secara literal pergi demi gadis itu demi memenuhi tugas tersebut.
Dari mata sang Raja, keberadaan Asahi terlalu berbahaya untuk dibiarkan berkeliaran.
"… …Kalau begitu, akan jadi ide yang bagus seandainya membuat teman dari Miko-sama yang kita buang ke hutan menjadi Miko-sama berikutnya. Kita waktu itu terlalu fokus dengan membuat penampilan unik sebagai ciri-ciri Miko-sama. Ditambah lagi, warna rambutnya ternyata sebuah kekeliruan." (Pendeta Tua)
Menanggapi si Pendeta yang resah, Raja pun menukas.
"Tidak, orang itu tidak cocok." (Raja)
"Mengapa begitu?" (Pendeta Tua)
"Saat mereka pertama kali dipanggil ke sini, semua orang selain gadis itu dalam keadaan panik. Hanya dia saja yang mencoba dengan tenang memahami situasinya. Kita tidak memerlukan orang pintar seperti dia. Yang kita butuhkan adalah orang bodoh yang akan percaya dengan setiap perkataan yang kita ucapkan dan bertindak menuruti kita." (Raja)
"Benar. Kata yang akan saya pilih untuk Miko-sama saat ini adalah 'bodoh'. Beberapa orang mungkin berkata dia itu 'murni', tapi Tomat tetaplah Tomat." (Pendeta Tua)
"Kita hanya perlu berbicara manis agar dia mau melakukan apapun yang kita inginkan. Tapi kalau gadis lain itu berada di sampingnya, dia mungkin saja menyadari siasat kita dan entah apa yang akan dia bisikkan pada Miko-sama lalu menghancurkan rencana kita. Memang tepat menyingkirkan gadis itu lebih cepat." (Raja)
"Seperti yang Anda katakan. Kalau dia mengetahui bahwa yang disebut 'ramalan' tentang Miko-sama itu ternyata tidak pernah ada dan hanya sekedar fiksi yang kita buat, segalanya akan menjadi sia-sia." (Pendeta Tua)
… … …
(Apa-apaan ini…)
Berniat untuk menemukan Asahi, Ruri sedang berkeliaran di dalam istana dalam wujud kucingnya saat dia secara tidak sengaja mendapati adegan ini, di mana sang Raja dan si Pendeta Tua Nadarsia sedang mengobrol dengan santainya.
Berpikir bahwa dia mungkin saja bisa mendapatkan sedikit informasi, dia menguping pembicaraan mereka dan itu amat sangat mengejutkannya. Sebuah gelombang kejutan menghantamnya begitu kuat sampai-sampai dia berhenti total dalam perjalanannya.
(Kalian pasti bercanda! Apa maksud dari semua ini… …?!)



Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 22 WN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.