Rabu, 27 Maret 2019

Fukushuu Wo Chikatta Shironeko Bab 21 WN Bahasa Indonesia



PERTEMUAN

Jade, Finn, dan Klaus tiba di Kerajaan Roh.
Saat ini, Kerajaan Naga mengalami masalah kecil.
Penyebab masalah ini adalah negara tetangga, Nadarsia.
Waktu demi waktu, Nadarsia telah menyatakan perang melawan Kerajaan Naga hanya untuk dikalahkan dalam sekejap. Semua itu sesuai dugaan mengingat perbedaan kekuatan yang jelas antara kedua ras tersebut, entah itu fisik maupun kecocokkan sihirnya.
Raja Nadarsia saat ini sepertinya tidak bisa melihat kenyataan tersebut dan terus mengirim pasukannya untuk kematian yang mutlak, semakin mempertipis kekuatan tempur negara itu. Untuk membuatnya semakin buruk, rakyat Nadarsia dikenai pajak yang luar biasa tinggi dengan alasan perang.
Beberapa tahun ini, ada luapan pengungsi Nadarsia yang bermigrasi ke Kerajaan Naga. Jumlah permintaan migrasinya masih terus bertambah bahkan saat ini.
Akan tetapi, menurut laporan dari Joshua, Raja Nadarsia tidak hanya sekedar tidak mempedulikan keadaan sulit rakyatnya, uang para pembayar pajak digunakan untuk mendapatkan lebih banyak senjata demi persiapan perang melawan Kerajaan Naga.
Menanggapi Nadarsia yang di luar kendali ini, eselon-eselon atas Kerajaan Naga memutuskan untuk tidak hanya mengalahkan Nadarsia, tapi juga menyapu bersih kerajaan itu sendiri.
Sayangnya, selain menyerang balik, Kerajaan Naga dilarang untuk menyerang negara lain dan mengambil alih wilayah tersebut berdasarkan ketetapan kesepakatan aliansi.
Untuk dapat melakukannya, sebuah pertemuan dengan keempat anggota aliansi harus diadakan. Begitu dinyatakan tidak masalah untuk memprosesnya lebih lanjut oleh ketiga pihak lainnya, baru saat itulah Kerajaan Naga akan melaksanakan rencananya.
Itulah alasannya kenapa sekarang berada di Kerajaan Roh.
Selain perwakilan dari Kerajaan Naga, Beast King dan sang Ratu juga akan ada di sana.
Sambil menunggu kedatangan mereka, Jade membaca dengan cermat dokumen-dokumen topik pembicaraan di ruang tunggu. Saat dia melakukan itu, dia menghela napas saat pikiran tentang rambut kucing putih bersih yang tidak dia sentuh beberapa lama ini melintas di pikirannya.
"Aku benar-benar ingin membawa Ruri bersamaku." (Jade)
Kata-kata Jade tidak ditujukan pada siapapun. Itu hanya sekedar monolog internalnya yang terceplos terucap. Melihat hal itu, Klaus tersenyum getir.
"Akan jadi hal yang gawat bila terjadi sesuatu pada Ruri sementara kita tidak ada di sekitarnya, jadi tidak ada cara lain." (Klaus)
Ada banyak negara yang menginginkan Yang Disayangi.
Tidak ada seorang pun yang cukup bodoh untuk menculik atau merampas Yang Disayangi secara paksa. Akan tetapi, Ruri masih bisa digoyahkan agar mau mengikuti orang-orang itu secara sukarela.
Dengan demikian, selama Ruri setuju, itu adalah hal yang adil untuk semua pihak.
Kalau seseorang berhasil membujuk Ruri untuk ke sisi mereka, Jade tidak akan bisa melakukan apapun untuk menghentikan mereka.
Merasa takut akan kejadian semacam itu, tidak mungkin mereka bisa membawa Ruri bersama mereka.
Adalah hal yang dapat dimengerti bahwa Raja Naga ingin selalu menjaga Yang Disayangi karena sudah sangat lama sejak terakhir kali mereka memiliki salah satunya di negara mereka, meskipun alasan utama lainnya ada di diri Raja Naga sendiri. Walaupun Jade hanya menjauh dari Ruri beberapa hari saja, pria tersebut sudah menderita karena sedih. Baginya, Yang Disayangi ini adalah seseorang yang perlahan menajdi bagian penting dari dirinya.
"Kerajaan Roh sudah memiliki seorang Yang Disayangi yang masih muda, jadi tidak akan apa-apa sekalipun Ruri ke sini. Beast Kingdom di sisi lain…" (Klaus)
Setelah mendengar perkataan Klaus, Jade dan Finn memperlihatkan ekspresi rumit.
Yang Disayangi dari Beast Kingdom adalah demi-human dari suku burung.
"Hiperaktigf" adalah kata yang menggambarkan dirinya dan kebetulan, gadis itu mengincar posisi partner seumur hidup untuk Jade. Dengan kata lain, menjadi istri pria itu.
Tidak hanya sekali atau dua kali, malah tak terhitung banyaknya dia melamar Jade hanya untuk ditolak pria itu. Akan tetapi, gadis itu tidak bisa membaca situasi. Tepat, gadis itu adalah seseorang yang tidak bisa Jade tangani.
Ini juga menjadi masalah bagi Beast Kingdom.
Kalau Jade mengambil Yang Disayangi yang satu ini menjadi pengantinnya, gadis itu sudah pasti akan menjadi bagian dari Kerajaan Naga dan meninggalkan Beast Kingdom.
Daratan sekitar Beast Kingdom kurang lebih adalah alam liar. Hanya dengan memiliki seorang Yang Disayangi yang dapat menurunkan hujan, membuat perbedaan besar pada hasil panen secara keseluruhan. Karena itulah pernikahan ini adalah satu-satunya hal yang ingin mereka cegah bagaimanapun caranya.
Di sinilah masalah, atau tepatnya alasan mengapa kemunculan Ruri akan menjadi problematika.
Beast Kingdom tidak diragukan lagi akan menyambutnya ke negara mereka sebagai pengganti Yang Disayangi saat ini. Dan bagi Kerajaan Manusia yang saat ini tanpa Yang Disayangi, sang Ratu juga pasti akan melakukan kontak dengan Ruri begitu dia sendirian.
"Seandainya Yang Mulia memiliki pendamping, maka Yang Disayangi akan menyerah dalam usahanya menggoda Yang Mulia." (Klaus?/Finn?)
"Kau semakin lama kedengaran semakin mirip Agete…" (Jade)
Pada akhirnya, topik tersebut berputar kembali ke kehidupan percintaannya.
"Saat ini, Joshua sedang berusaha mendapatkan gadis yang membuat Anda tertarik, jadi mungkin hari tersebut akan datang lebih cepat daripada yang diduga." (Klaus)
Jade membuat ekspresi tidak senang.
"Yang Mulia, tolong jangan berwajah seperti itu. Salah Anda sendiri yang kelepasan bicara mengatakan pada Agete tentang kenyataan bahwa Anda tertarik dengan seseorang dari lawan jenis." (Klaus?/Finn?)
"Kupikir mengatakan itu akan membuat Agete menjadi lebih tenang mengenai masalah 'menemukan pendamping seumur hidupku'…" (Jade)
"Sebaliknya, itu malah membuat dia semakin bersemangat sepertinya." (Klaus?/Finn?)
Jade yang kehilangan kata-kata kembali menghela napas. Klaus mengulas senyum getir dan memikirkan hal lain sambil menatap Jade.
"Seandainya Ruri adalah Manusia atau Demi-human, maka tidak akan ada terlalu banyak masalah." (Klaus)
Mendengarnya, Jade memikirkan Ruri.
Sepanjang hidupnya, tidak ada seorang pun yang panjang gelombangnya persis sama dengan sempurna seperti Ruri. Hanya dengan bersamanya, membuatnya merasakan kenyamanan dan kehangatan yang tidak pernah dia pikir akan mungkin terjadi.
Adalah hal yang langka bagi 2 individu memiliki panjang gelombang yang persis sama antara satu sama lain. Kalau itu sampai terjadi, tidak diragukan lagi itu akan menuntun kedua individu tersebut untuk menikah. (TL : Waduh, kalau sesama cowok, gimana? Masa jdi yaoi? :v)
Bagi orang-orang ras Naga, karena jangka waktu hidup mereka yang panjang, mereka akan berpergian ke seluruh dunia untuk menemukan orang yang spesial bagi mereka. Akan tetapi, kebanyakan akan menyerah pada akhirnya dan berkompromi sampai ke tingkat tertentu.
"Ruri, ya…kau benar. Tidak ada seorang pun yang panjang gelombangnya sesuai denganku seperti halnya Ruri. Seringkali aku berpikir 'seandainya Ruri bukanlah seekor kucing'… Mungkin sekarang menjadi hal yang mustahil untuk menemukan pasanganku, karena aku pasti akan membandingkan mereka dengan Ruri." (Jade)
"Agete pasti akan sangat marah kalau dia mendengar ini. Dia benar-benar mengerahkan segenap tenaga dan kekuatan dalam pencariannya." (Klaus?/Finn?)
"Ya, tidak diragukan lagi." (Jade)
Suara terkekeh kecil dapat terdengar.
Setelah beberapa saat, seorang petugas datang ke ruangan itu, mengumumkan bahwa semua orang telah hadir sekarang dan memandu ketiganya ke ruangan sebelah.
Saat mereka tiba, Ratu, Beast King, dan Yang Disayangi dari Beast Kingdom telah duduk.
Begitu Jade memasuki ruangan, gadis bermata dan berambut hijau yang indah bangkit berdiri dan mendekati Jade.
"Jade-sama, lama tidak bertemu!"
Melihat sang Raja Naga menunjukkan ekspresi yang seakan-akan berkata 'kenapa Yang Disayangi ada di tempat seperti ini', Beast King yang bermata keemasan dan rambut yang menegak tajam pun ikut dalam percakapan.
"Walaupun aku sudah mengatakan padanya untuk tidak datang, dia sama sekali tidak mendengarkan. Maafkan aku."
Orang itu adalah Armand, seorang Demi-human dari Suku Singa dan sekaligus Beast King.
Wujud manusia Beast King yang mengambil sosok orang yang terlihat tangguh, tidak kalah dibandingkan dengan Raja Naga, cocok bagi seseorang yang dipanggil sebagai seorang raja.
Setelah melihat Armand yang gelisah menatapi Yang Disayangi dari negaranya sendiri, Jade bisa membayangkan kesulitan yang dilalui Armand sepanjang jalan ke sini. Hal tersebut memberatkan nuraninya, sehingga Jade tahu dirinya tidak bisa mengeluh dan menyerah untuk mengatakan hal yang lain.
Jade mengerti bahwa bila Yang Disayangi memutuskan untuk datang, bahkan Beast King sekalipun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Lama tidak bertemu, Celestine. Oh dan tidak, aku tidak akan menikahimu." (Jade)
"Tapi aku masih belum mengatakan apapun!" (Celestine)
"Yah, kau mengajukan pertanyaan yang sama setiap kali kita bertemu. Aku hanya menghemat waktumu." (Jade)
Celestine dibuat tidak dapat berkata-kata oleh Jade. Bahkan Armand pun terkejut oleh perkataan Jade pada Celestine.
Sebuah suara tawa mirip denting lonceng dari seorang wanita muda cantik ikut serta dalam keramaian tersebut.
Pemilik tawa indah itu berjalan ke arah Armand dan duduk di sebelahnya. Dia memiliki rambut hitam panjang sehalus sutera dan dikeliligi orang aura misterius yang membuat orang terpesona oleh kecantikannya.
Meskipun penampilan luarnya terlihat seperti seseorang yang belum melewati usia 20, kenyataannya dia adalah wanita paruh baya dengan seorang putera yang sudah memasuki awal masa kedewasaan.
Dia adalah kaisar wanita yang menyatukan dan memerintah negara dengan populasi manusia terbesar di benua, Ratu Adularia.
"Aku tidak tahu sudah berapa tahun kau melakukan ini, tapi bukankah ini sudah cukup lama untuk sampai membuat Raja Naga mengambil tindakan seperti itu seakan-akan dia sudah terbiasa. Bagaimana kalau kau menyerah saja? Tahu kapan harus menyerah juga penting." (Adularia)
Setelah mendengarnya, Celestine menunjukkan raut wajah menyesal dan sedih.
"Apa aku tidak cukup baik untuk Jade-sama?" (Celestine)
"Daripada memaksakan perasaanmu pada seorang pria yang terang-terangan menolakmu, bukankah akan lebih baik bagimu untuk memilih pria yang akan sangat menyayangimu?" (Adularia)
Mendengar nasihat yang sepertinya berasal dari pengalaman nyata yang telah dialami sang ratu, Celestine berpikir keras.
Seberkas harapan muncul. Apakah akhirnya dia menyerah? Apakah ini akhirnya terjadi? Sialnya, harapan singkat bagi Jade dan Armand itu hancur berkeping-keping saat Celestine kembali ke dirinya yang biasa.
"Tidak! Satu-satunya orang bagiku di dunia ini adalah Jade-sama." (Celestine)
"…Oh, ya sudahlah. Kalau kau bersikeras mengenai hal itu, kurasa aku tidak bisa berbuat apa-apa." (Adularia)
"Tolong jangan menyerah semudah itu, Adularia." (Jade)
Jade mendelikkan mata pada Adularia karena memberikan harapan palsu padanya.
"Karena orangnya sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda untuk menyerah, tidak ada kata-kata yang dapat mengubah pikirannya, bukan begitu? Selain itu, ini tidak akan menjadi masalah seandainya Yang Mulia mengambil seseorang sebagai ratu. Tidak seperti Beast King yang mempraktikkan poligami, sudah diketahui oleh banyak orang bahwa Ras Naga hanya memiliki satu orang isteri sebagai pendamping seumur hidup mereka. "(Adularia)
"…Aku baru saja dikatakan seperti itu oleh anak buah terdekatku…" (Jade)
"Oh, aku mengerti. Umm…itu…aku turut bersimpati." (Adularia)
Akhirnya mengetahui alasan kenapa Raja Naga menunjukkan ekspresi letih bahkan sebelum semua ini dimulai, Adularia meminta maaf. 'Nasihat'nya, sepertinya hanya semakin memberatkan apa yang dikatakan para bawahannya itu, yang berarti sang ratu sama sekali tidak membantu dalam masalah ini.
Untuk mengubah suasana ruangan, Adularia menyinggung topik mengenai Ruri.
"Omong-omong, kudengar Yang Disayangi muncul di Kerajaan Naga. Orang seperti apakah Yang Disayangi itu? Dari rasa apa?" (Adularia)
Armand dan Celestine juga terlihat sangat berminat saat mereka memandangi Jade dengan tatapan penasaran. Jade pun menjawab dengan enggan.
"….Aku tidak menjawabnya. Detail mengenai Yang Disayangi akan diumumkan pada waktunya." (Jade)
"Itu benar-benar jawaban yang tidak jelas." (Adularia)
Memang benar kalau Ruri saat ini berada dalam perlindungan Kerajaan Naga. Akan tetapi, dia masih belum mengatakan apapun tentang ingin berhubungan dengan Kerajaan Naga atau menetap secara permanen di situ.
Belum lagi dia adalah seekor kucing.
Dengan situasinya saat ini, dia tidak terikat pada negara manapun secara khusus. Kalau yang lain meminta untuk bertemu dengannya, Jade tidak dalam posisi untuk menolak.
Jika pertemuan itu mengarah pada kepergian Ruri…
Jade harus menghormati keputusannya.
Jade sedang menunggu sampai Ruri terbiasa dengan kehidupan di Kerajaan Naga sebelum memintanya untuk secara resmi menjadi bagian dari Kerajaan Naga. Dia akan mempercepat hal itu begitu dia kembali ke negaranya.
Pengungkapan apapun mengenai Yang Disayangi akan dilakukan setelah itu.
"Hei, Armand-sama. Karena Yang Disayangi telah muncul di Kerajaan Naga, bukankah tidak masalah kalau aku bertukar tempat dengannya? Tidak apa-apa, 'kan? Kami sama-sama Yang Disayangi bagaimanapun juga." (Celestine)
"SAMA SEKALI TIDAK BOLEH!" (Jade)
Berkebalikan dengan kata-kata yang diucapkan dengan lembut oleh Celestine pada Armand, Jade menyuarakan penolakannya dengan sangat tegas.
Pernyataan mendadak Jade itu terdengar seakan dia sangat marah. Celestine pun gemetar ketakutan.
"Aku tidak akan pernah menyerahkan Ruri." (Jade)
Terkejut dengan penolakan tanpa basa-basi dan tatapan berbahaya Jade, Adularia mengarahkan konsentrasinya pada Jade.
Tidak ada banyak hal yang dapat menyebabkan Jade yang selalu tenang menjadi begitu terganggu.
"Apa ini? Apa ini? Kau terlihat begitu mati-matian, bukan begitu Raja Nagaku tersayang yang kesepian? Apakah dia begitu penting bagimu?" (Adularia)
"Itu benar." (Jade)
Adularia hanya berniat mencandai Jade, tapi jawaban cepatnya membuat semua yang hadir terkejut.
"…Ini tidak mungkin…Tidak disangka Jade-sama menemukan orang lain…" (Celestine)
Celestine terguncang oleh pengungkapan ini sampai dia hampir goyah dan terjatuh.
Dari aliran percakapan, semua orang pasti berpikir bahwa Jade telah menemukan seseorang dalam hidupnya.
Itu tidak 100% benar, tapi memang betul Ruri adalah keberadaan yang penting bagi Jade.
Orang-orang Ras Naga memiliki hasrat yang kuat untuk memonopoli sesuatu. Begitu mereka menemukan orang yang spesial untuk diri mereka sendiri, bahkan tindakan ikut campur sesederhana apapun sama saja bodohnya dengan menyerang Yang Disayangi.
Kalau Jade tidak menjernihkan kesalahpahaman ini, dia yakin tidak ada seorang pun yang meminta untuk bertemu dengan Ruri untuk sementara waktu karena takut dengan pembalasan darinya. Karena itu tidak masalah bagi dirinya, dia tetap diam.
Meminta waktu istirahat, Celestine keluar dari ruangan dengan tampang kacau. Menggantikannya, datanglah Raja Roh.
Awein. Satu-satunya sosok dari Ras Kirin di dunia ini, dan Raja Roh saat ini.
Penampilan Raja Roh adalah sosok seseorang dengan rambut panjang lurus berwarna hijau gelap seperti yang dari lautan dalam dan dilengkapi mata perak kebiruan.
Memiliki raut wajah yang cukup menakutkan dan bisa membuat orang berpikir bahwa mereka telah sedikit menyinggungnya, padahal kenyataannya itu adalah penampilan Raja Roh yang biasanya meski dia tidak sedang marah atau apapun.
"Aku baru saja berpapasan dengan Yang Disayangi dari Beast Kingdom. Apa terjadi sesuatu yang sampai membuatnya berjalan goyah tidak stabil?" (Awein)
"Ah, dia sedang terguncang karena penolakan. Sepertinya Raja Naga kita akhirnya mendapatkan seseorang yang spesial." (Adularia/Armand?)
"Hoo~ itu patut diberi ucapan selamat. Kapan pernikahannya akan diadakan?" (Awein)
"Ya, itu… Err…Suatu hari, mungkin? …Segera…?" (Jade)
Meskipun demi membuat Celestine menyerah atas dirinya, tidak disangka Raja mereka akan membuat lubang yang begitu dalam bagi dirinya sendiri, sehingga Finn dan Klaus yang duduk dengan tenangnya di belakang Jade menutupi wajah mereka sendiri dengan tangannya keras-keras.
Meskipun dia tidak sepenuhnya mengerti dengan situasi ini, Raja Roh tidak mendesak masalah ini lebih jauh saat dia melihat Raja Naga menanggapi dengan kikuk. Sebagai gantinya, dia berbicara pada Armand.
"Dengan begini, rakyat Beast Kingdom bisa menghela napas lega sepertinya." (Awein)
"…Selama dia tidak melakukan apapun pada Yang Disayangi di Kerajaan Naga." (Armand)
Dengan begini, sepertinya masalah bahwa Yang Disayangi akan meninggalkan Beast Kingdom tidak ada lagi, tapi sebuah masalah baru muncul begitu saja.
"Yang Disayangi? Apakah orang yang membuat Jade tertarik adalah seorang Yang Disayangi?" (Awein)
"Sepertinya begitu." (Armand)
"Itu merepotkan." (Awein)
"Kenapa? Apa ada masalah dengan hal itu?" (Jade)
"Yah, begini. Salah satu dari 12 Peri tingkat atas yang melindungi kerajaan ini, 'Peri Pohon', menyampaikan niatnya untuk bertemu dengan Yang Disayangi yang baru-baru ini muncul." (Awein)
Awein menjawab pertanyaan Jade dengan nada bingung.
Peri Pohon yang melindungi Kerajaan Roh mendiami tubuh sesosok pohon raksasa yang berada di tengah-tengah Kerajaan.
Karena itulah Ruri harus datang ke sini sendiri. Akan tetapi, ada sedikit masalah dengan rencana itu, terutama dengan Raja Naga. Dengan sifatnya yang posesif, hanya sekedar memikirkan membuat seseorang yang amat sangat dia sayangi untuk meninggalkan wilayah Kerajaan Naga adalah sesuatu yang tidak bagus baginya.
Meskipun begitu, Awein ingin agar harapan Peri Pohon dapat dipenuhi.
"Kenapa Peri Pohon ingin bertemu dengan Ruri? Apakah Peri Pohon mengatakan sesuatu yang sama tentang Celestine?" (Jade)
Jade mengalihkan perhatiannya pada Armand, tapi Armand pun menggelengkan kepalanya.
"Kurasa mustahil untuk meminta Peri Pohon menyerah terhadap keinginannya bertemu dengan Yang Disayangi, mengingat dia telah membuat kontrak dengan salah satu dari tiga peri tingkat tertinggi. Belum lagi, dia bahkan memberi nama pribadi pada Peri Air serta Peri Angin dan berada dalam kontrak nama dengan mereka!" (Awein)
Menanggapi respon Awein, Armand dan Adularia menatapi Jade dengan mata terbelalak dan bertanya-tanya.
Akan tetapi, yang paling terkejut adalah Jade sendiri.
"Apa mungkin kau tidak tahu ini?" (Awein)
"Y-ya, ini pertama kalinya aku mendengar tentang ini. Ruri tidak pernah mengatakan apapun soal itu…" (Jade)
Ruri adalah seekor kucing. Dengan demikian, Chelsea telah mengajarkan dia pengetahuan umum sebelum mengirim dia ke Kerajaan Naga.
Namun, sepertinya Chelsea tidak mengajarkan dia tentang pentingnya nama bagi seorang Peri.
Dipikir lagi, Jade memang melihat sesosok hewan magis kecil yang mengelilingi Ruri akhir-akhir ini.
"Jadi itu…" (Jade)
"Kurasa kau ada ide mengenai yang kubicarakan?" (Awein)
"Ya, tapi aku ingin memastikan sesuatu. Kalau aku membawa Ruri ke sini, itu haruslah karena keinginannya sendiri. Kalau dia tidak mau, aku tidak akan memaksanya." (Jade)
"Aku mengerti. Peri Pohon tidak menetapkan secara spesifik tanggal maupun waktunya, jadi tidak perlu terburu-buru." (Awein)
Menggangguk menyetujui saat mendapatkan izin dari Jade, Awein memperlihatkan ekspesi serius.
Yang lainnya juga berubah sikapnya mengikuti si pemimpin pertemuan.
"Nah sekarang, marilah kita mulai pembicaraan mengenai bagaimana menangani Nadarsia."
* * *
Pembicaraan berlangsung dengan Raja Naga sebagai fokus utama menjabarkan argumennya. Pendeknya, pembicaraan berjalan dengan cukup mulus.
Keputusan akhirnya diambil dengan mudah berkat laporan yang Joshua kumpulkan. Inti pembicaraan bahwa sang Raja bahkan tidak mencoba untuk mengerti kesulitan yang sedang dialami rakyatnya serta tidak melakukan apapun tentang rakyatnya yang bermigrasi dari Nadarsia menjadi kesimpulan dari semuanya.
Tepat saat pertemuan berakhir, beberapa prajurit memasuki ruangan ketika Awein akan memandu para pemimpin negara itu ke ruangan lain di mana makanan telah disiapkan.
Beberapa prajurit bergegas mendekati Awein.
"Maafkan kami! Sesosok hewan magis baru saja masuk tanpa izin ke dalam perimeter dan sedang mengarah ke lokasi hewan suci‼"
"Apa?! Apa yang sedang dilakukan para prajurit yang ditugaskan di sana?!" (Awein)
Teriakan Awein dipenuhi kemarahan hingga udara di sekitarnya pun bergetar.
Dengan ingatan seekor hewan suci yang mati keracunan belum lama ini masih jelas di ingatan rakyatnya, lebih banyak prajurit yang ditempatkan di sekitar perimeter tersebut.
"Di hutan mana hewan magis itu berada sekarang?! Kumpulkan semua prajurit secepatnya!" (Awein)
"Aku juga akan membantu." (Armand)
Armand menyediakan diri untuk membantu, sementara rasa haus darahnya mulai memancar.
Pada saat itulah, muncullah suara menggelegar yang dapat didengar di seluruh penjuru ibu kota.
Tenanglah!
Jade dan raja lainnya melihat ke sekeliling mencari sumber suara itu. Akan tetapi, sepertinya rakyat Kerajaan Roh tahu suara siapakah itu dan berlutut memberi hormat di tempat mereka masing-masing berdiri.
"Siapa itu?"
"Dia adalah Peri Pohon yang kukatakan sebelumnya."
Pertanyaan mengenai "Mengapa Peri Pohon…" muncul di benak masing-masing saat mereka dengan gelisah menantikan kata-kata berikutnya untuk diucapkan.
Raja Rohku tersayang, hewan magis yang menyusup ke wilayah suci bukanlah sekedar hewan magis, tapi salah satu dari saudaraku. Sepertinya dia datang kemari untuk mencari tubuh baru. Dia menginginkan tubuh dari Hewan Suci yang mati belum lama ini. Aku yakin kau tidak merasa keberatan dengan hal itu?
"Tentu saja." (Awein)
Itu adalah pertanyaan yang bukan pertanyaan.
Itu adalah permintaan dari peri lain yang sama tingkatannya dengan Peri Pohon. Raja Roh tidak pernah ada dalam posisi untuk menolak permintaan seorang peri. Itu adalah aturan yang ditetapkan oleh para peri.
Sekarang, bawalah Raja Naga di sana ke altar. Akan lebih bijak untuk memerintahkan para prajurit yang mengelilingi saudaraku untuk mundur. Mereka akan mati jika tidak melakukannya.
'Apa yang dilakukan si bodoh itu…' bisik Peri Pohon sebagai kata-kata terakhirnya. Akan tetapi, mendengar bahwa prajuritnya akan mati, Raja Roh berada dalam kondisi panik total.
"Jade, ikut denganku." (Awein)
"Tentu. Tapi kenapa aku?" (Jade)
Tanpa mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, mereka menuju ke altar hanya untuk disapa dengan pemandangan para prajurit yang menodongkan senapan mereka dengan penuh ancaman pada hewan mirip serigala putih yang sedang berdiri di atas altar. Hewan itu yang mereka sebut sebagai 'Hewan Suci'.
Ada sesosok jasad tak bernyawa hewan magis di pintu masuk.
Kenapa para prajurit menodongkan senjata mereka pada Hewan Suci bisa dijelaskan dengan fakta bahwa Hewan Suci itulah yang mati beberapa hari yang lalu.
Seekor Hewan Suci yang seharusnya sudah mati kelihatannya hidup kembali, dan di sampingnya terbaring sesosok jasad tak bernyawa hewan magis. Tidak heran para prajurit jadi kebingungan.
Kehadiran Raja mereka membuat para prajurit merasa lega.
Akan tetapi, rasa lega itu sangat singkat. Para prajurit sekali lagi dalam keadaan terdesak ketika Hewan Suci itu turun dari altar dan mulai berjalan ke arah mereka.
"Mundur dan jatuhkan senjata kalian. Dia itu adalah saudara Peri Pohon. Dia adalah peri lain yang datang ke sini untuk mencari jasad Hewan Suci." (Awein)
Wajah para prajurit menunjukkan ekspresi terkesima. Mereka bergegas menjatuhkan senjata yang ada di tangan mereka.
Menyadari bahwa mereka telah menodongkan senjata pada sesosok peri, gelombang perasaan ngeri membanjiri mereka.
Tidak mempedulikan para prajurit, peri yang kini merasuki tubuh Hewan Suci pun mendekati Jade.
Sementara menatapi peri itu dengan cemas, menunggu pergerakan berikutnya, si peri mulai mengendus-endus.
Baumu seperti Ruri.
Ketika nama Ruri disebut, Jade pun terkejut.
"Apa kau kenal Ruri?" (Jade)
Ya. Aku adalah milik Ruri. Dia memberiku nama.
Jade mengingat informasi yang dia dapatkan dari Awein beberapa saat yang lalu.
Dua peri yang diberi nama oleh Ruri, Peri Air dan Peri Angin.
"Kenapa kau ada di sini? Apa tidak masalah kau tidak berada di sampingnya?" (Jade)
Tubuhku yang sebelumnya terlalu besar bagiku untuk masuk ke ibu kota. Karena itulah aku datang ke sini untuk mencari tubuh lembut dan empuk yang baru. Aku senang telah mendapatkan tubuh yang bagus.
Peri itu menggoyang-goyangkan ekornya dengan girang.
Jade melirik sekilas tubuh besar hewan magis yang ada di pintu masuk dan bergumam 'Memang terlalu besar…'
Aku akan berangkat sekarang. Aku harus berada di sisi Ruri. (Kotarou)
Mungkin karena dia tahu bahwa para prajurit tidak akan melakukan apapun padanya, si peri berjalan di antara ruang terbuka yang dibuat oleh para prajurit dan kemudian terbang.
"… …Apa yang harus kita lakukan dengan hewan magis itu?"
"…Entahlah…?"
Ketegangan di udara tergantikan sepenuhnya oleh kecanggungan saat semua yang hadir berdiri kebingungan, memikirkan harus melakukan apa pada oleh-oleh besar yang ditinggalkan peri itu.
* * *
Beberapa hari kemudian, Jade akhirnya kembali ke istana.
Antisipasinya untuk bertemu Ruri langsung hancur berkeping-keping begitu dia disodorkan secarik kertas oleh Euclase.
Itu adalah sehelai kertas dengan kalimat yang tidak selesai. Tulisan tangannya seperti coretan anak kecil. Meski demikian, beberapa kata yang tertulis di situ dapat terbaca.
Jade tidak mengerti mengapa Euclase memberikan dia ini.
"Apa ini?" (Jade)
"Ruri meninggalkan pesan tertulis ini di kamarnya dan pergi ke suatu tempat." (Euclase)
Jade membeku saat kertas tersebut tergelincir jatuh dari tangannya.
Klaus memungutnya dan melihat isinya. Finn juga melihat kata-kata apa yang tertulis.
Rumah Pergi Rumah Pulang
"Menurutmu ini apa, Finn?" (Klaus)
"Terjemahan literalnya bisa berarti dia kabur dari rumah…" (Finn)
Tubuh Jade berguncang begitu mendengar kata 'kabur dari rumah'.
"Tapi 'rumah' bagi Ruri… Apa kau mendengar sesuatu dari ibu?"
"Aku sudah mengontaknya, tapi Ruri tidak ada di sana. Gadis itu meninggalkan istana tanpa mengatakan apapun. Ini berarti hukuman begitu dia kembali ke sini." (Euclase)
"Kau bersikap santai saja dengan masalah ini, ya Euclase?"
"Yah, itu karena aku bisa memperkirakan ke mana dia pergi." (Euclase)
Euclase sadar bahwa Ruri dipanggil ke dunia ini oleh negara Nadarsia.
Ada bisikan-bisikan mengenai kondisi Nadarsia saat ini dari orang-orang. Beberapa detailnya mungkin menarik perhatian Ruri sementara dia bekerja sambilan di restoran.
Dia pasti kembali ke Nadarsia untuk memeriksa keadaan individu lainnya yang datang bersamanya.
"Anak itu masih belum bisa menulis dengan benar, karena itulah arti kata-kata dari kertas ini jadi seperti itu. Tapi, aku sangat yakin bahwa dia hanya mencoba berkata 'Aku pergi dulu, aku akan kembali' alih-alih 'Meninggalkan rumah'. Untuk saat ini, tidak ada kabar terbaru dari Chelsea. Akan tetapi, mempertimbangkan tujuannya, Ruri pasti akan mampir di tempat Chelsea. Aku yakin kalau kita hanya perlu menunggu sebentar laig dan nantinya mendengar kabar lagi dari Chelsea. Ruri itu pintar dan disiplin. Belum lagi para peri melindungi dia, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan." (Euclase)
Euclase benar tentang semuanya. Mengenai Ruri yang tidak bisa menulis dengan benar dan alasan mengapa dia pergi. Malahan, Ruri hanya tidak tahu bagaimana cara menulis kata 'istana' dan kemudian menulis 'rumah'.
"Melihat Euclase yakin mengenai masalah ini, kenapa tidak kita tunggu saja dia kembali, Yang Mulia? … …Yang Mulia??" (Klaus)
Penasaran kenapa tidak ada tanggapan dari Jade selama percakapan ini, Klaus mengalihkan perhatiannya pada Jade. Dan kemudian…
"Kabur dari rumah…Ruri…kabur…" (Jade)
Klaus merasakan tanda-tanda bahaya karena sikap aneh yang ditunjukkan Jade. Pria itu memperlihatkan tampang menggila sambil bergumam berulang kali mengenai Ruri yang melarikan diri.
"Yang Mulia, apa Anda mendengar yang barusan Euclase katakan?! Saya yakin kalau itu Ruri, dia akan segera kembali!" (Klaus)
Klaus mengguncang-guncang Jade untuk menyadarkannya kembali, tapi Jade tiba-tiba berubah ke sosok naganya.
"Yang Mulia?!" (Klaus)
Aku akan membawa Ruri kembali. (Jade)
"Ah! Tolong tunggu saya‼" (Klaus)
Detik berikutnya, Klaus dan Finn sama-sama berubah ke sosok naganya dan mengejar Jade yang telah menjauh.
"…Tingkat rasa sayang ini, padahal Yang Mulia mengira Ruri adalah kucing. Kalau Yang Mulia diberitahu yang sebenarnya bahwa Ruri adalah manusia, apa yang akan terjadi? Aku penasaran." (Euclase)
Kata-kata yang diucapkan Euclase lenyap dibawa angin begitu saja saat ketiga naga raksasa itu perlahan menghilang menjadi bayang-bayang.


Fukushuu Wo Chikatta Shironeko Bab 21 WN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.