Minggu, 03 Februari 2019

Only Sense Online Jilid 7 Bab 2 LN Bahasa Indonesia



BUNKER BEE DAN PENAMBANGAN DI GUNUNG
(Translater : Hikari)

Beberapa hari berlalu sejak kami mendapatkan panduan Sense Climbing dari Ivan. Setiap hari kami pergi ke tebing dan tetap berada di sana sebentar sampai sore. Taku dan aku perlahan belajar melakukan hal-hal baru.
Hasilnya, kami dapat memanjat dua puluh meter sendirian dan kemudian memanjat turun dengan cukup sempurna.
Saat Sense Climbingku meningkat ke level 7, aku menghadapi sebuah masalah.
"Hmm. Beliung ini tidak bisa digunakan di tebing sama sekali."
Apa yang kukeluarkan adalah beliung baja yang kokoh. Benda ini mudah digunakan untuk menggali bijih tambang dengan menggunakan EX Skill Mining.
Akan tetapi, karena ini cukup berat sampai harus dipegang dua tangan, benda ini tidak bisa digunakan dengan cukup memuaskan pada tebing yang tidak stabil dan langkan curam,. Jadi, kalau seperti ini akan jadi hal yang mustahil bagiku untuk mendapatkan bijih logam dari titik-titik penambangan yang tersebar di sepanjang tebing.
"Mau bagaimana lagi. Ayo pergi dan cari beliung yang bisa kupegang dengan satu tangan."
Dan, aku mungkin bisa mendapatkan beliung kecil di Kota Ketiga, pikirku, tapi ternyata aku dapat membelinya di tempat yang mengejutkan.
"Mm? Kau mau beliung kecil? Aku punya satu yang kugunakan untuk menggali tanah yang keras."
Aku dapat dengan sukses membelinya dari NPC Petani yang mengurusi penjualan lahan di selatan Kota Pertama.
Awalnya aku pergi ke Kota Ketiga dan bertanya di mana NPC yang menjual beliung kecil, tapi diajari hal tersebut oleh si NPC Petani dan kembali ke Kota Pertama.
"Kalau begitu, aku akan membeli tiga beliung kecil termasuk cadangannya."
"Ini dia. Hati-hati, ini berat."
Aku menerima tiga beliung kecil dengan harga masing-masing 5kG dari NPC Petani yang berurusan dengan lahan, alat pertania dan perantara NPC tenaga kerja, dan setelah menyimpannya di dalam inventory, aku menuju ke gerbang utara.
"Makan waktuku cukup lama untuk membeli beliung. Taku sepertinya sudah pergi duluan."
Saat aku mengatakan pada Taku bahwa aku akan telat, aku menerima pesan darinya bahwa dia akan pergi lebih dulu. Karena itulah, aku lansung berlari menuju ke tebing di utara sambil menghindari Rafflesian dan Mad Seed yang muncul di area utara Kota Pertama.
Dan, apa yang kulihat di sana adalah——
"Taku dan Pak Tua, kalian sedang apa?"
Mengaitkan seutas tali pada dahan pohon yang tebal, masing-masing mengenakan harness dan tali penyelamat, mereka berdua bergelantungan pada tali.
Bergelantungan bebas dengan kaki tangan terbentang, mereka seperti sedang mempertahankan keseimbangan, kemudian mengangkat tubuh bagian atas mereka sebelum bersantai dan bergelantungan bebas lagi.
Karena Taku tidak biasa mengangkat tubuh bagian atasnya, dia memutar ke samping, tapi entah bagaimana berhasil untuk berhenti berputar dan mencoba mengangkat tubuh bagian atasnya lagi. Di sisi lain, Ivan terbiasa dengan ini jadi dia dapat mengangkat tubuh bagian atasnya dengan mulus, mengeluarkan teleskop tangan, memanjangkannya sampai setengahnya dan mempraktekkan ayunan dalam keadaan itu.
"Oh, Nona. Kau datang."
"Yah, aku sudah datang, tapi…apa ini?"
Semacam pelatihan? tanyaku, dan sepertinya itu adalah latihan simulasi untul memanjat.
Latihan? Tanyaku, dan sepertinya itu latihan simulasi untuk mendaki.
Itu seperti latihan untuk bertarung saat kau mempercayakan tubuhmu pada tali penyelamat pada langkan yang tidak stabil.
"Yun, ini cukup sulit, tapi menyenangkan."
"Tidak, um, sepertinya itu sedikit memalukan."
Tidak diragukan optimalisasi metode pelatihan dan menaikkan level Sense Climbingnya efektif, tapi aku ingin menahan diri terlihat orang lain sedang bergelantungan pada seutas tali.
Berkebalikan denganku yang merasa enggan, mereka mengangkat tubuh bagian atas dengan otot perut bagian atas, melemaskan tubuh mereka, menjulurkan tangan dan menekuk tubuh ke belakang seperti seekor udang, kemudian menggerakkan kepala mereka ke atas dan ke bawah untuk menyeimbangkan diri. Akan tetapi, aku lebih suka kalau mereka berhenti melakukan apa yang terlihat seperti sedang bermain-main itu, saat mereka mengerang nyaring dengan bagian putih mata yang terlihat. Itu menakutkan.
"Nona malu ternyata. Mau bagaimana lagi, kita akan melakukan pendakian ringan dengan Bocah ini jadi lakukanlah latihan ini sendirian."
"Baiklah kalau begitu, aku akan bertukar dengan Yun. Aku akan pergi dengan si Pak Tua Ivan sebentar."
Berkata demikian, mereka berdua dengan cepat melepaskan tali mereka dan turun.
Karena cara mengikat simpul tali adalah bagian dari latihan, kemampuan bertahan hidupku juga meningkat.
Dan, aku telah melihat Ivan dan Taku pergi. Saat mereka tidak lagi terihat, aku mulai berlatihan keseimbangan.
"…Kalau aku berhenti sebelum mereka kembali, aku tidak akan terlihat, ya 'kan."
Aku merasa malu, tapi karena itu adalah tali pengaman di mana aku mempercayakan tubuhku, adalah sebuah keharusan untuk terbiasa menanganinya. Berkata demikian pada diriku sendiri bahwa ini demi menaikkan level Sense Climbing, aku menggunakan harness untuk mendaki yang merupakan item tambahan untuk mendaki, perlahan menyesuaikan simpul talinya dan aku menggantungkan tubuhku.
Saat kaki-kakiku terangkat dari permukaan tanah, aku melepaskan tali dan mencoba menyeimbangkan tubuh. Aku mencoba mengerahkan tenaga ke otot-ototku dan tubuhku pun mulai gemetar. Entah bagaimana aku dapat mempertahankan tubuh bagian atasku untuk naik selama sekitar lima menit.
"Aku bisa…sepertinya! Lakukan! Uwoah?!"
Begitu aku merasa santai, tenaga yang telah menopang tubuhku sampai saat ini berubah menjadi tenaga yang menggerakkanku dan membalikkan seluruh tubuhku sehingga aku dapat melihat secara jungkir balik. Karena tubuhku berayun-ayun ke sana ke mari dan aku tidak dapat mengendalikannya, aku menyerah untuk menggunakan otot-ototku dan bersantai, menunggu gerakan berayunnya berhenti.
"Uuhh, aku merasa mual karena berputar-putar. Kalau aku bersantai dan menengadahkan wajahku, aku akan dapat menstabilkan diri."
Sambil bergelantungan, aku menghadapkan wajahku ke atas. Kepalaku perlahan menurun dengan sendirinya. Aku menarik rahangku dan secara alamiah menggunakan kekuatan di otot perut atas untuk mengangkat tubuh bagian atasku.
Ditopang oleh harness pinggang, aku tetap seperti itu untuk beberapa lama dalam postur tubuh santai menatap langit.
"Ah, langitnya biruuu sekali."
Awan-awan yang bertebaran dan langit biru. Di ujung pemandangan ini ada tebing yang menjulang dan terbang di langit sana adalah Sky Snake dan kumpulan lebah.
Bersantai seperti ini, menatapi langit, ternyata menyenangkan.
"Perjalanan untuk menemukan pemandangan di OSO kedengarannya menyenangkan. Menemukan tempat spesialmu sendiri."
"Kau benar! Mau ke area yang belum dijelajahi kalau begitu?"
"Sekalipun kita membentu party, kau akan membawaku untuk menghadapi boss bagaimanapun juga, ya 'kan?"
Tidak mungkin, aku tidak ingin pergi tempat penyegaran itu di mana aku harus membantai dulu. Saat aku berkata demikian dan mendapat balasan "sayang sekali", aku menyadari aku telah diajak bicara dari samping.
Eh? Kenapa aku bercakap-cakap normal di sini? Dan begitu aku menolehkan wajahku ke arah suara tersebut, aku melihat Taku dan Ivan dengan lengan terlipat sambil tersenyum ke arahku.
"Hei, sejak kapan kalian di sini!"
"Kau benar-benar terlambat menyadarinya. Kami sudah di sini selama beberapa menit. Kami memperhatikanmu saat kau termenung sendirian."
Uwaah, aku terlihat sedang bermalas-malasan di saat latihan keseimbangan.
Aku mencoba mengajukan alasan untuk diriku dan buru-buru menggerakkan tubuhku, tapi karena itu pusat gravitasi tubuhku jadi terganggu dan mulai berputar.
"Hya-wawaaah! Hen-hentikan!"
"Aa-aah, Apa yang sedang kau lakukan, Yun?"
"Nona, karena latihan keseimbangan berarti mempertahankan posisi tubuh, sepertinya kau mengalami kemajuan, tapi kau kurang tenang."
Ivan juga menghadap ke arahku saat aku panik dan membuat penilaian dengan tenang, tapi aku tidak sempat untuk mempedulikannya.
Saat aku berteriak 'ber~hen~ti~", Taku memegang kepalaku dengan kedua tangannya. Meskipun aku merasa bersyukur pada Taku yang kulihat dengan terbalik, tapi kenapa kepala?
"Ingin kubantu turun?"
"Tidak, aku bisa turun sendiri jadi tidak masalah. Lepaskan kepalaku. Jangan memeganginya terlalu kencang."
Taku perlahan melepaskan kepalaku dan memastikan aku mempertahankan sikapku. Perlahan aku mengangkat tubuh bagian atas, mencengkeram tali, mengendurkan simpulnya dan menjejakkan kakiku di tanah.
Merasa sangat aman ketika kaki-kakiku menyentuh tanah, aku menghela napas lega.
"Nona berkembang dengan cepat juga."
"J-jadi, bagaimana dengan kalian?"
Meskipun aku merasa malu karena menunjukkan diriku dalam cara yang tidak pantas, aku bertanya kepada mereka seakan-akan tidak ada apapun yang terjadi.
"Kami mengalahkan beberapa Aero Snake di atas sana. Ivan hebat! Dia memanjat tanpa alat apapun!"
"Karena talinya hanya akan menghalangi. Juga, sekalipun ada tali pengaman, aku tidak terbiasa memegang senjata, jadi akan ada lebih sedikit kecelakaan kalau aku menggunakan tangan kosong dan senjata tumpul."
"Itu cukup meyakinkan."
Karena si Pak Tua Ivan tidak terbiasa dengan game, daripada mengayunkan pedang, lebih baik baginya untuk mengunci seseorang dengan lengan itu atau mengayunkan tongkat, dinilai dari penampilannya, dampak serangannya akan besar. Dan, itu akan dengan mudah menghancurkan tulang lawan.
"Tapi, setelah memanjat naik, apa yang kupelajari adalah pijakannya tidak stabil dan sulit untuk mengerahkan tenaga pada serangan."
"Sepertinya mustahil bagiku. Senjataku adalah busur yang digunakan dengan kedua tangan. Kalaupun ada yang bisa kugunakan, itu adalah pisau dapur sebagai ganti belati."
Aku tidak tahu apakah bisa membidik dengan baik menggunakan busurku sementara tubuhku tergantung pada tali. Sepertinya akan sulit untuk mengendalikan efek hentakan baliknya.
"Taku, sebaiknya kau melindungiku."
"Yun, kau mengandalkan orang lain demi keuntunganmu sendiri di sini?"
"Orang yang tepat di tempat yang tepat. Aku akan mengurus pemulihannya dengan potion dan menggali bijih logamnya."
"Gahahaha. Bocah, kau sedang diandalkan oleh Nona, jadi lindungi dia baik-baik!"
Ivan memukul punggung Taku dengan lengannya yang kekar, yang mana direspon Taku dengan suara memprotes saat merasakan kekuatan hantaman besar dan rasa nyeri. Aku sedikit khawatir dengan perbedaan kecil apa yang Ivan katakan, tapi aku tetap terkekeh melihat mereka bertingkah seperti itu.
"Kalau begitu, ayo Nona. Kita akan memanjat ke atas dan mengambili bijih logam di tempat yang tidak terlalu dalam. Aku juga akan mencoba mengambil beberapa yang berada dalam jangkauan pandanganku."
"Kalau Yun akan menaiki tebing, aku akan pergi ke hutan dan menghadapi beberapa monster serta mengumpulkan item."
Berkata demikian, mereka berdua mulai bergerak. Dasar, mereka ini bertingkat terlalu bebas. Aku mengantar kepergian mereka dengan senyuman dan tanpa menunda-nunda lagi, aku mulai bersiap-siap untuk memanjati tebing.
Seperti yang telah diajarkan Ivan, aku mengamankan tubuhku dengan peralatan dan menggunakan tambang serta pasak untuk keamanan lalu perlahan memanjat naik.
Aku mendaki selama beberapa saat dan saat aku tiba di depan titik penambangan di tengah-tengah tebing, aku mengeluarkan beliung kecil dan memukuli titik tersebut.
Karena aku tidak bisa mengayunkannya dengan seluruh tubuhku seperti biasa, aku dengan hati-hati menghancurkan batunya sedikit demi sedikit sebelum menangkap satu bijih logam yang terpecah dan terlontar keluar sebelum aku menggalinya lagi.
Meskipun jumlah bijih yang bisa ditemukan di titik penambangan sisi tebing ini setiap titiknya lebih kecil daripada yang biasanya, jumlah titik-titiknya sangatlah banyak.
Maju mundur di lereng yang tepat di pinggir tempat yang dijagai para monster, aku dapat mengumpulkan cukup banyak bijih logam.
"Fyuuh, aku mendapatkan cukup banyak. Tapi, kalau aku tidak hati-hati dan menjatuhkannya, sepertinya itu akan melukai seseorang."
Aku harus berhati-hati untuk tidak menjatuhkannya saat aku sedang menambang. Saat aku mengukir kata-kata tersebut dalam hatiku, Ivan telah kembali.
"Kau benar-benar telah mulai melihat bagian itu, Nona. Kalau seperti ini, kau akan bisa pergi ke gua itu bersama-sama dengan si Bocah."
"Sudah kubilang, berhenti memanggilku 'Nona'. Juga, tunjukkan padaku bijih logam yang kau pungut. Aku akan menilainya."
Karena aku memiliki Sense Craftmanship, aku menggunakan efeknya untuk menaksir nilai bijih logam tersebut.
Aku memilah-milah bijih yang kuterima dari Ivan, tapi karena beberapa jatuh ke tanah, kualitas dan jumlahnya tidak begitu bagus.
"Ada 5 Fine Iron Ore dan dua puluh Iron Ore biasa, juga 13 Silver Ore. Sisanya adalah bebatuan biasa. Bagaimana dengan yang itu?"
"Aku bisa menggunakannya untuk dilempar, jadi sisakan saja itu untukku."
"Baiklah."
Setelah menaksir nilai hasil yang didapatnya, aku melanjutkan dengan menilai bijih logamku sendiri.
Kelihatannya permata-permata tidak muncul di area utara. Kalau seperti ini, aku tidak akan bisa mengamankan stok bahan Magic Gem. Berpikir demikian, aku menaksirnya satu per satu.
"Aku perlu Iron dan Silver untuk membuat panah, jadi aku akan dengan senang hati mengambil itu. Juga, untuk membuat aksesoris."
"Oh, aksesoris seperti apa yang kau jual, Nona?"
"Aku tidak menjualnya. Benar-benar hanya hobiku saja."
Karena tujuan utamaku adalah mengasahnya untuk membuat Magic Gem dan Enchant Stone. Paling tidak aku bisa membuat aksesoris untuk menghabiskan waktu. Aku menjawab dan melanjutkan penaksiranku pada banyak bijih logam yang kupungut.
Apa yang kugali adalah 12 buah Fine Iron Oren, 34 Iron Ore biasa, dan 21 buah Silver Ore. Aku memiliki lebih banyak bijih logam daripada Ivan.
120 buah Iron, 97 Silver, 55 Blurite, 35 Black Iron. Oh, satu lagi, Black Iron ke-36. Dan, ternyata semua yang kupungut dari penambangan ini adalah bijih logam.
"——Black Iron Ore sangatlah kuat dari apa yang pernah kudengar, tapi ini pertama kalinya aku mendengar tentang Blurite Ore."
Karena aku hanya bisa mengerjakan Iron dengan tungkuku, ini adalah bijih logam yang belum pernah kuolah sama sekali.
Bagaimana cara menanganinya? Aku penasaran. Ayo berkonsultasi dengan Magi-san nantinya. Aku memutuskan hal itu dan menyimpan bijih tersebut dalam inventory.
·
"Yun, aku pulang. Bagaimana?"
"Selamat datang kembali, Taku. Aku mendapatkan cukup banyak bijih logam."
Taku kembali setelah berburu monster di hutan. Dia kelihatan seakan-akan telah menumpas monster dengan seluruh kemampuannya saat dia mengembalikan pedangnya ke sarung yang ada di punggungnya.
"Kalau kau mendapatkan beberapa bijih logam, bagaimana kalau menukar beberapa dengan herba yang kudapatkan?"
"Tentu. Coba kulihat."
Saat Taku membariskan herba yang dia kumpulkan di trade menu, aku telah menaruh Iron Ore dalam menu yang muncul dengan cara yang sama dan kami berdua menukar material yang kami inginkan.
Meskipun harga bijih logam lebih tinggi daripada material tipe herba, karena aku menerima material yang kubutuhkan, aku menyetujui kesepakatan kali ini.
"Yun, tidak apa-apa? Menukar Blurite Ore dan Black Iron Ore untuk ini."
"Tidak masalah. Malahan, aku memang membutuhkan herba-herba itu."
Berkata demikian, aku melakukan pertukaran dan mengeluarkan item yang Taku kumpulkan.
Ada sekumpulan bahan makanan tipe buah yang disebut Cold Crimson Glory Vine.
Dibandingkan dengan anggur yang ada di pasar, ada sangat sedikit buah di setiap kumpulannya tapi setiap buah berukuran besar dan memiliki bentuk yang indah.
Aku memetik salah satunya dan memasukkannya ke dalam mulutku. Ini adalah buah yang manis yang kulitnya bisa dimakan juga.
"Mm! manis!"
"Yah, baguslah kalau kau menyukainya."
"Ini adalah bahan yang untuk sementara meningatkan daya tahan terhadap Confusion dan Anger. Tapi, kalau hanya sebagai bahan makanan saja, efeknya lemah."
Juga, sayangnya Cold Crimson Glory Vine tidak punya biji, jadi aku tidak bisa menanam mereka di ladang Atelier.
Taku mengambil satu dan melemparkannya ke mulutnya, tapi merasa bahwa rasa manis buah anggur tersebut terlalu kuat, dia mengerutkan wajah. Sepertinya tidak cocok dengan seleranya.
"Hei, Pak Tua Ivan. Kita seharusnya bisa memanjat ke gua di atas sana, 'kan?"
Mendengar pertanyaan Taku, Ivan mengiyakan.
"Baiklah kalau begitu. Yun dan aku ingin pergi ke gua yang ada di pertengahan tebing itu. Maukah kau ikut dengan party dan memandu kami.?"
"Aku tidak keberatan. Kalau begitu waktunya, mungkin kita melakukannya saat malam hari."
"Malam hari? Kenapa?"
"Dari apa yang kutahu, jarak penglihatan saat malam hari itu buruk dan tidak cocok untuk bekerja. Jadi orang-orang berkonsentrasi pada dungeon yang tidak memerlukan sumber cahaya, tapi——
"Asal kalian tahu, aktivitas musuh yang muncul di tebing ini berubah saat malam hari. Saat siang hari, ada banyak Bunker Bee, sedangkan saat malam, banyak Aero Snake yang muncul. Dan, jumlah Aero Snake yang muncul tetap tidak begitu banyak.
"Dengan kata lain, kalau kalian hanya memanjat, melakukannya saat malam hari akan lebih tepat."
Begitulah, Ivan memastikan.
"Juga, kalau Nona memanjat sambil mengumpulkan bijih logam, akan lebih baik melakukannya saat ada lebih sedikit musuh, ya 'kan?"
"M-memang benar, mengabaikan bijih logam yang ditemukan akan jadi sia-sia, tapi…"
Aku bisa dengan mudah membayangkan diriku menyesalinya kalau aku melewatkan bijih-bijih logam saat memanjat. Karena ada lebih sedikit musuh, itu mungkin lebih baik bagiku mengumpulkannya dengan tenang.
"Yah, membicarakan niatku yang sebenarnya, aku ingin kalian belajar betapa menyenangkannya memanjat saat malam hari."
Gahahaha, dia tertawa terbahak-bahak.
Sudah kukira akan seperti itu. Aku menghela napas dan tersenyum getir.
Di situlah Taku dan Ivan memulai rencana untuk memanjat. Mereka menentukan urutan pendakian dan formasinya sekaligus menyesuaikan waktu untuk memanjat.
Karena Pak Tua Ivan dan Taku tidak menemukan waktu yang sesuai untuk kami semua, akhirnya waktu untuk memulainya diundur sampai larut malam.
"Yah, kalau hanya si Bocah dan Nona, seharusnya tidak perlu waktu lama sampai pagi hari untuk memanjatinya."
"Dilihat dari sudut pandang lain, kalau kita meneruskannya sampai pagi…"
Mungkin mereka memprediksi pola di mana aku akan memerlukan waktu untuk menambang bijih logamm, tapi menyaksikan matahari terbit sambil memanjat adalah salah satu kesenangan dari gunung, kata Ivan. Dia kelihatannya benar-benar memiliki kepribadian yang positif.
"Jadi, kurasa kita akan berpencar sampai malam tiba? Yun, apa kau tidak masalah?"
"Begadang semalaman hari ini, ya? Untungnya besok kita libur, jadi kalau aku menyiapkan makan malam sekarang, seharusnya tidak ada masalah kurasa?"
Dan, kalau aku menyertakan waktu untuk tidur singkat…saat aku menggerutu pelan, kelihatannya kau akan baik-baik saja, kata Taku.
Karena biasanya aku menjaga kesehatanku, bermain sepanjang malam adalah pengalaman langka dan aku merasa sedikit bersemangat.
Setelah aku log out dan memprediksi bahwa aku tidak akan bisa membuat sarapan besok pagi, aku menyiapkan makanan yang bisa dibagi untuk malam ini dan esok pagi.

"OHH?! Ada kare hari ini! Daging apa di dalamnya?"
"Hari ini kare sapi. Juga, besok akan ada roti dan kare untuk sarapan, serta yoghurt."
Sekalipun hanya membuat roti bakar dan menghangatkan seporsi kare, aku tidak perlu mengkhawatirkan Miu.
"Kare segar di hari pertama dan yang lebih matang di hari kedua! Yayy!"
"Ya, ya. Juga, bisakah aku mandi yang pertama kali hari ini?"
"Fhue, khenafa?"
"Jangan bicara dengan sendok di mulutmu."
Miu dengan tenang meneguk air dan bertanya lagi.
"Tidak biasanya. Kenapa?"
"Aku diajak Taku untuk main sampai larut malam sedikit. Jadi aku ingin mandi sesegera mungkin dan tidur sebentar sebelum mulai."
"Sangat tidak biasanya untuk Onii-chan. Kau biasanya menjalani hidup yang teratur, jadi…kalau begitu, kare ini…"
"Maaf. Besok pagi aku mungkin tidak bisa menyiapkan apapun, jadi ini untuk jaga-jaga."
Saat aku berkata demikian dengan rasa bersalah, aku tidak masalah, tanggapnya.
"Aku mengerti. Onii-chan pergi bersama dengan Takumi-san, ya. Hari ini aku ada janji pergi ke dungeon bersama Sei-oneechan dan Mikadzuchi-san juga."
"Dan Lucato dengan yang lainnya?"
Saat aku menanyakan tentang Lucato dan yang lainnya yang biasanya bersama dengan Miu, dia tersenyum simpul.
"Semuanya keliahatannya sibuk. Yah, ada saat-saat seperti ini juga. Selain itu, karena ini bertepatan dengan masa ujian di sekolahnya, mereka tidak bisa log in. Berada dalam pengawasan orang tua benar-benar adalah hal yang sulit."
"Tidak, Miu, kau belajar juga. Sekalipun masa ujian sekolah kita sudah lewat, kau tidak boleh bermalas-malasan."
Aku menatap lekat-lekat Miu, tapi dia hanya menanggapi dengan "bantulah aku kalau sedang dalam kesulitan", membuatku menghela napas.
Aku mungkin akan harus membantunya, begitu juga dengan Taku. Aku merasakan tanda-tanda samar saat waktu untuk makan malam tiba.
Dan setelah aku selesai bersiap-siap begadang untuk main, pada akhirnya aku tidak tidur singkat, jadi aku memutuskan untuk tidur besok pagi saat aku log in ke OSO.

"Yoo, sepertinya Yun sampai tepat waktu."
"Kalian berdua lebih awal, Taku dan Pak Tua Ivan."
"Malam untuk anak SMA itu panjang!"
"Malam untuk pria lajang juga panjang!"
Tidak, kalian berdua tidak perlu bertingkah keren dengan melipat lengan begitu. Lagipula, itu membuatku merasa kesepian, jadi hentikan itu.
Berbicara tentang waktu, sekarang sekitar tengah malam. Aku melihat ke langit dengan Sky Eyes. Aku tidak dapat melihat kumpulan Bunker Bee sama sekali yang terbang berkeliling di siang hari, tapi sebagai gantinya aku melihat beberapa sosok Aero Snake.
"Jumlahnya benar-benar berkurang."
"Baiklah kalau begitu, ayo pergi. Aku akan pergi duluan, kemudian Nona. Yang terakhir adalah Taku. Lindungi Nona baik-baik!"
Berkata demikian, Ivan menepuk punggung Taku dan naik ke atas memimpin kami di rutenya.
Karena level Sense Climbing kami cukup rendah, Ivan naik perlahan.
Hanya dengan tambang yang Ivan persiapkan sebagai tali keamanan, kami memanjat sampai mencapai sebuah langkan di tebing dan ketika lengan kami terasa lelah dan kehabisan stamina, kami membiarkan tubuh kami pada tali dan mengistirahatkan lengan kami sedikit.
Bantuan dari Sense Climbing memiliki penanda yang jelas terlihat meskipun di malam hari. Tanda-tanda itu memiliki warna yang berbeda daripada titik-titik penambangan yang terlihat dengan Sky Eyes dan See-Through.
Dari waktu ke waktu, kami bergerak sesuai instruksi Ivan dan menggali titik-titik penambangan terdekat. Supaya dia tidak terkena bijih logam yang terjatuh, Taku menyusulku dan aku menggali sendirian.
Kami memanjat, beristirahat, kemudian memanjat lagi. Dari waktu ke waktu aku menambang bijih logam. Saat kami mengulangi hal tersebut, level kami meningkat dan kecepatan kemajuannya perlahan bertambah.
Dan, pada satu titik di pertengahan——
"Kalau kita memanjat lebih tinggi lagi, musuh akan menyerang kita. Jadi, kita akan melanjutkan pendakian kita setelah istirahat sebentar."
Setelah berkata demikian, Ivan duduk di tempat kosong di tebing, mengistirahatkan kaki tangannya.
"Aku mengerti. Jadi kau terjatuh dari atas sana, Pak Tua."
"Meskipun kau tidak bisa melihat ke bawah karena gelap, di sini sangat tinggi dari sini."
Aku menatap ke bawah tebing dan Taku melihat ke atas kami.
Mendengar perkataanku dan Taku, Ivan memperlihatkan ekspresi getir, tapi tetap melanjutkan persiapan di bawah cahaya bulan.
Dia mengeluarkan sebuah kompor sihir di tempat peristirahatan tebing ini, menaruh sebuah ketel di atasnya dan merebus air. Kemudian setelah airnya panas, dia menaruh bubuk kopi instan di dalam tiga cangkir logam.
"Hee, jadi kau benar-benar minum kopi saat mendaki gunung."
"Yah, tentu saja. Tetap saja, rasanya kalah jika dibandingkan dengan kopi yang sebenarnya, tapi kau bisa menikmati suasananya dengan ini."
Berkata begitu, Ivan menyerahkan kopi instan tersebut padaku dan Taku. Aku menerima cangkir tersebut dengan kedua tangan dan menyandarkan punggungku pada tebing, lalu menyeruput kopinya.
"Pahit…"
"Gahahaha! Yah, ini 'kan kopi! Aku punya gula dan susu juga!"
"Terima kasih."
Setelah memasukkan isi gula dan susu dalam kemasan berbentuk stik, aku mencampurnya dan berubah menjadi sesuatu yang bisa kuminum.
Meminum sesuatu yang hangat, aku merasa lega dan menghela napas perlahan, kemudian menatap langit.
Aku terpukau oleh pemandangan langit berbintang dan bulan buatan OSO.
Aku perlahan menyeruput kopi hangat sambil memandangi langit berbintang misterius yang dingin. Ini adalah pemandangan yang mustahil untuk dilihat di daerah perkotaan yang sebenarnya.
"Sebenarnya, itu dapat terlihat dengan cukup baik di saat dinginnya pertengahan musim dingin. Yah, ini cukup bagus sebagai penggantinya."
"Apa kau juga mendaki gunung saat musim dingin, Pak Tua?"
"Ya, tapi bukan pendakian gunung yang sepenuhnya. Aku memasang tenda di tempat perkemahan selama musim dingin dan melihatnya dari sana."
Mungkin sebagai bagian dari kebanggaannya sebagai pendaki gunung, dia menunjukkan pada kami sebuah screenshot sebagai ganti foto.
Itu adalah foto langit berbintang, sekaligus ada pula beberapa garis bintang jatuh di langit.
"Sebuah screenshot bintang-bintang jatuh? Cantik."
"Jadi Nona menyukainya. Tapi sayangnya, ini bukanlah bintang jatuh. ini adalah foto diam bintang-bintang yang bergerak yang dibuat dengan membiarkan shutternya terbuka. Ini adalah foto pergerakkan bintang-bintang."
Berkata demikian, ini adalah foto setelah tiga puluh menit, yang ini sesudah satu jam, dia terus menunjukkan gambar-gambar tersebut pada kami.
Dari Timur ke Barat. Dari bawah ke atas. Arah pergerakan bintang bervariasi, membuatnya terlihat indah dan menarik.
"Dalam game ini, kau bisa mengambil screenshot dari sudut pandang player, tapi kau tidak bisa mengambil yang semacam ini."
Saat Taku bergumam demikian, Ivan tersenyum riang.
"Karena itulah, bagiku dunia ini hanya pengganti dengan kualitas tinggi. Ini adalah hobi yang tergantung pada cuaca yang memerlukan banyak kekuatan fisik dan waktu. Tapi aku tetap lebih menyukai gunung-gunug dan langit di dunia nyata."
Tetap saja, aku tidak berniat untuk menolak game yang kalian suka, Bocah dan Nona. Katanya.
Ivan yang mencurahkan segalanya pada hobinya ini, tahu cara bersenang-senang yang tidak diketahui oleh kami yang masih anak-anak. Sejujurnya, aku merasa iri.
Yah, dalam kasusku, rasanya menyenangkan juga memanjat sampai ke puncak, tapi kupikir memanjat seperti yang dia lakukan adalah ketegangan yang sebenarnya.
"Aku bisa mengerti itu, tapi bagiku, aku lebih suka hasilnya."
Taku yang terus berulang kali memanjat tanpa mengalami elemen game merasa sedikit lelah, tapi punggungnya dipukul oleh Ivan.
 "Jangan khawatir. Begitu kita semakin tinggi, kalian akan menghadapi musuh sekalipun kau tidak mau. Tentu saja, di dunia nyata kau tidak bisa melawan ular terbang saat mendaki!"
Dari sini ada daerah yang tidak terjelajahi, dia berkata dengan senangnya dan meminum sisa dari kopi pahit di cangkirnya seakan menyemangati dirinya sendiri.
"Sekarang, dari sini kita perlu mendaki dengan semangat tempur. Bocah dan Nona, waktunya untuk serius!"
Di depan kami, ada tebing yang curam. Di belakang, jurang yang gelap. Ada sebuah perjuangan di depan dan belakang kami. Aku merasa cemas apakah Taku dan aku dapat bertarung dalam situasi seperti itu.
Karena aku tidak dapat menyerang menggunakan busurku bahkan dalam kegelapan ini, satu-satunya cara bagiku untuk menyerang adalah kombinasi Sky Eyes dan sihir elemen tanah, tapi aku masih penasaran tentang bagaimana Taku dan Ivan akan bertarung.
·
Kami melanjutkan pendakian dengan Ivan pergi lebih dulu.
Setelah melihat ke atas beberapa saat, kami menemukan ular-ular dengan sayap berwarna hijau gelap dan pupil mata merah sedang menunggu kami. Dengan sayap seperti kelelawar, Aero Snake terlihat seperti Wyvern kecil tanpa kaki dan tangan.
Aku menggunakan penglihatan malam Sky Eyes untuk mengintai.
"Musuh mendekat! Dua ular dari kanan atas. Dua yang lain dari kiri atas!"
"Akan kujatuhkan yang terdekat! Nak Taku, lindungi Nona!"
Setelah aku berkata begitu sebagai seorang pengintai, Ivan memberikan instruksi dan segera mengambil posisi untuk mencegat.
Ivan dengan berani melepaskan tali dan hanya dengan satu tali yang terikat pada tubuhnya dan satu pijakan untuk menopangnya, dia mengeluarkan senjatanya.
Itu bukan tongkat logam yang terpasang di pinggangnya, tapi sebuah cakar yang terikat pada tali.
Cakar itu berputar di dalam kegelapan dengan bising, segera meningkatkan kecepatannya.
"Ini dia!"
Dan saat Aero Snake itu memasuki jangkauan penerangan lentera, dia melemparkan cakarnya.
Logam yang melayang itu kekuatannya semakin meningkat oleh tenaga sentrifugal saat menggores Aero Snake. Tali yang mengikutinya menjerat tubuh monster tersebut dan dengan cakar itu sebagai pemberatnya, makhluk tersebut membentur dinding batu.
Seekor ular jatuh dari tebing dan perlahan menghilang, tapi sisa tiga lainnya telah datang menyerang. Ivan mengeluarkan tongkat dari sabuknya dan memanjangkannya, kemudian saat makhluk itu lewat, dia memukul ular tersebut. Lalu, dia mencengkeram tali dan memukul ular yang lain dengan tinjunya seperti akan menghancurkannya.
Salah satu Aero Snake itu menyelinap melewati Ivan yang telah mengalahkan tiga makhluk itu dengan cepat dan mendekatiku dengan memamerkan taring-taringnya, tapi——
"——Aku tidak akan membiarkanmu. Sonic Edge!"
Taku yang berada di bawahku mengayunkan long swordnya dalam posisi yang tidak stabil dengan sebuah tebasan, memotong kepala dan sayap si ular.
Karena dia masih sama terbiasanya dengan hal ini seperti Ivan, dia mencengkeram tali dengan tangan kirinya, jadi dia hanya bisa memegang senjata dengan tangan kanannya.
"Baiklah! Nona, apa ada musuh yang lainnya?!"
"Tunggu sebentar…yup, tidak masalah. Tidak ada lagi yang mendekat!"
Aku berkata pada kedua orang itu bahwa keadaan sekeliling aman.
Ivan berulang kali mengalahkan musuh secara efisien dengan menggunakan equipment yang disesuaikan untuk bertarung di tebing dan Taku terus menggunakan Art jarak jauh.
Serangan dari Aero Snake bersifat jarang dan karena mereka tidak begitu kuat, adalah hal yang sangat bagus bahwa pertarungannya tidak begitu lama.
Jumlah musuhnya sedikit, mungkin karena waktu respawnnya panjang dan bahkan saat menggali bijih logam aku  tidak diserang sekalipun, sehingga berkat hal itu kami dapat memanjat tanpa melewatkan titik pengambilan bijih logam.
"Hei, Pak Tua, bagaimana caramu memilih senjata?"
"Ada apa ini? Mendadak sekali."
"Hanya penasaran saja."
Dan di tengah-tengah pendakian, meskipun sebenarnya perlu untuk berkonsentrasi pada pendakian, aku menyantaikan diriku dan memulai obrolan. Mungkin karena level Sense Climbingku telah meningkat.
"Coba kuingat. Menggunakan peralatan yang diubah-ulang modelnya dengan yang akrab denganku lebih efisien, dan juga ada romansa di dalamnya."
Cakar dengan tali digunakan untuk memasang tenda, tongkat logam yang bisa memanjang bisa digunakan sebagai ganti tongkat jalan yang digunakan untuk mendaki. Sepertinya ada banyak barang-barang yang berguna.
"Itu kedengarannya sama denganku, menggunakan pisau dapur untuk menggantikan belati."
"Tidak, bukankah kalian berdua aneh?"
" "Kenapa?" "
Taku menyahut dari bawah kami, tapi baik Ivan maupun aku tidak mengerti itu dan kebingungan.
Memang, mempunyai belati yang jelas dibuat sebagai belati memiliki performa dan daya tahan yang lebih stabil, tapi karena Ivan dan aku menggunakannya untuk crafting dan Sense hobi, performanya berada di posisi kedua. Selama kami dapat menggunakannya sebagai senjata, itu tidak masalah bagi kami.
"Haa, seorang gamer sepertiku saat jauh berbeda dari seorang pelaku hobi untuk memahami mereka, yah."
Menghela napas, Taku menyerah.
"Taku. Musuh baru muncul. Kali ini ada tiga di sebelah kanan, dua di kiri dan satu di depan, totalnya enam."
Sementara matahari pagi masih belum muncul, Ivan dan Taku dengan akurat menangani ular-ular itu.
Sementara kami memanjat dengan perlahan, aku juga lanjut mengumpulkan bijih logam.
"Sudah waktunya fajar."
"Eh, begitukah?"
Saat aku mengecek waktu di menu, sudah pukul empat pagi.
"Nona, sekarang bukan malam musim gugur yang panjang, sekarang menjelang fajar.di OSO. Karena distribusi lawan perlahan berubah sebelum fajar, kita akan meningkatkan kecepatan langkah kita saat memanjat."
"Baik."
Aku menyerah untuk mengumpulkan bijih logam dan fokus pada pendakian.
Untuk sementara, waktu kami telah memanjati tebing dan kemudian berbalik menghadap matahari yang terbit. Setelah kami memastikan matahari terbit di OSO, sebuah suara aneh mencapai telinga kami.
*BZZZ* *BZZZZZZZZ* *BZZzz*——
Suara bass rendah yang bergema dalam perutku perlahan mendekat dari bawah.
"Suara apa i——"
Itu adalah kumpulan massa berwarna hitam yang muncul keluar dari dalam hutan.
Suara desin sayap mendekati tebing dalam grup.
"Apa itu Bunker Bees? Kita tidak bisa bertarung di sini!"
"Yun! Nyalakan Insect Repelling Incense!"
Menanggapi instruksi Taku, aku mengeluarkan sebuat Insect Repelling Incense dan membakarnya, kemudian menyebarkan asapnya ke sekitar.
Kumpulan massa berwarna hitam yang berkumpul ke arah kami itu bergerak menjauh dari asap putih, memencar menjadi dua kumpulan besar.
Dan di tengah kerumunan itu, kami melihat satu lebah yang sangat besar.
"……?‼ Be-besar!"
Mata bulat dari lebah besar itu bersinar berwarna hijau zamruh. Tepi-tepi matanya juga bersinar kehijauan yang indah. Sementara kami terpantul di mata zamrudnya itu, sesuatu muncul dari bokong lebah itu.
"Ow!"
"Yun, kau tidak apa-apa?!"
Aku mengernyit dan menatap tempat yang terluka. Lengan kiriku ditusuk dengan contong tebal berwarna hitam. Lenganku diserang dengan sebuah jarum sengat yang mengeluarkan cairan ungu dan asap dari tempat yang terluka. Aku segera menarik jarum di tengah-tengah bau tajam yang bahkan menyakiti mataku, dan diserang rasa sakit yang mirip dengan sengatan panas. Aku membuka menu untuk memastikan keadaanku.
"Status buruk——dan juga Poison 4."
Sementara 1% HPku berkurang tiap detiknya, aku memercikkan Antidote Potion dengan efektivitas tinggi pada lengan kiriku, kemudian meneguk sebotol High Potion.
Saat status buruk dan dampak serangan menghilang, aku sekali lagi berbalik menghadapi musuh.
"Apa-apaan dengan yang satu ini? Tidak terlihat seperti Bunker Bee yang normal."
"Ini adalah bos Bunker Bee. Queen Bunker Bee."
"Bocah, Nona! Tempat ini tidak cocok untuk ini! Ayo mendaki sementara efek dari bau ini masih ada!"
Ivan mempercepat langkah pendakiannya yang tadinya disamakan dengan kami saat itu juga dan naik.
Untuk menyamakan langkah dengannya, aku bergerak mengikuti jejaknya dan saat aku berbalik untuk memastikan para lebah tidak datang mendekat karena aroma Insect Repelling Incense, sebuah sengat menancap di tebing tepat di sebelah kanan wajahku.
"Hhh?!"
"Yun! Ada lebih banyak sengat yang datang! Cepat naik!"
Diburu-buru oleh Taku dari bawah, aku mati-matian memanjat.
"Nona, kau hampir sampai!"
Ivan yang mendaki lebih dulu dan memastikan keamanan tempat di depan gua kini melongok ke bawah melihat kami. Setelah memanjat mati-matian sedikit lebih lama lagi, aku berguling saat menghindari sebuah sengat yang ditembakkan si ratu.
Taku mengangkat tubuhnya dengan tali yang dijatuhkan oleh Ivan dan kami semua dengan aman tiba di depan gua tersebut.
"Hampir saja! Sebuah sengat beracun mengenai tepat di samping wajahku!"
"Tenanglah, Yun. Untungnya, selain dari serangan yang pertama, tingkat tepat sasarannya cukup rendah."
Menanggapi kata-kata Taku, aku menenangkan jantungku yang masih berdegup kencang dan memastikan dengan jelas kemunculan para lebah yang bermandikan cahaya matahari terbit.
Efek Insect Repelling Incense telah menghilang dan kerumunan Bunker Bee telah mengelilingi sang ratu.
"Hei, kita ada gua di belakang kita, bagaimana kalau kita melarikan diri?"
" "Tidak ada kata melarikan diri!" "
"Ah, begitu ya…"
Sahabatku dan si Pak Tua dengan girangnya menghadapi kerumunan lebah tersebut. Mereka berdua memperlihatkan binary-binar kekanakan di mata mereka.
"Tidak mungkin aku akan melarikan diri dari musuh selangka ini! Ayo kalahkan dia dan dapatkan material langka!"
"Ini adalah keberuntungan luar biasa bisa bertemu mereka di sini! Aku akan langsung berhadapan dengan para lebah yang telah mendorongku jatuh dari tebing!"
Si gamer dan si pelaku hobi sepertinya meluap-lual dengan semangat untuk bertarung. Melarikan diri sendirian saja juga bukan hal yang bagus kurasa, pikirku dengan tatapan mata menerawang.
"Jadi, Nak. Mengalahkan para lebah itu satu demi satu untuk memancing keluar si ratu bukanlah ide yang terlalu bagus, ya 'kan?"
"Monster-monster jenis ini menjadi kerumunan yang kacau saat bossnya menghilang. Jadi, kita sebaiknya membidik langsung pada si bos! Yun, berik kami buff dan kurangi jumlah lebah yang ada di sekitar kita!"
"Baiklah! Enchant ——-Attack, Defence!"
Kecepatan mereka terlalu tinggi untuk menghadapi makhluk-makhluk itu di tempat sesempit ini, ditambah dengan faktor kecelakaan. Aku memasangkan enchant dua kali lipat pada mereka berdua, memperkuat mereka.
Kalau bisa, aku ingin memperlemah si ratu dengan Cursed, tapi jarak pandangku terhalang oleh kumpulan para lebah dan mustahil bagiku untuk melihatnya dengan Sky Eyes.
Taku dan Ivan yang telah diperkuat oleh enchant telah mencegat serangan yang datang, melindungiku yang berada di belakang.
Dan, saat racun jarum sang ratu datang dari kawanan lebah itu, beberapa kali mereka menghindarinya dan ada juga saatnya mereka menangkisnya dengan senjata.
Begitu waktu jedanya selesai, aku menembakkan sebuah Art untuk memencarkan para lebah.
"——Bow Skill – Gust of Wind!"
Aku menembakkan sebatang anak panah dengan Art busur yang memiliki efek area yang lebih besar menggunakan tekanan angin langsung ke pusat kerumunan lebah itu. Para lebah terhuyung-huyung di udara karena tekanan tersebut dan terjatuh dari tebing.
Sang ratu yang tersembunyi di pusatnya pun muncul untuk sekejap, tapi segera tertutupi oleh para lebah lagi.
Meksipun sang ratu juga kelihatan mendapat dampak serangan dari Artku, tapi seperti yang diduga dari seekor bos monster yang langka, dia menahannya tanpa terhuyung-huyung di udara.
"Yun, tembakan sekali lagi!"
"Kutembakkan sekarang! —— Bow Skill – Gust of Wind!"
Anak panah yang dibarengi dengan tekanan angin itu sekali lagi menghempaskan para anak buah lebah.
Dalam tempo waktu itu, Ivan melemparkan tali dengan cakar yang terpasang dan menangkap tubuh sang ratu.
Ivan bertahan dalam adu tarik tambang itu melawan seekor lebah sebesar seorang anak kecil.
Sang ratu mati-matian menolak, menggerakkan sayap-sayapnya dengan kecepatan tinggi agar tidak terjatuh ke tanah.
Seperti sebuah raungan dari putaran mesin, kecepatan dengung sayap-sayap itu menjadi semakin terdengar keras, di sisi lain Ivan menggertakan giginya dan menarik tali itu dengan kedua tangannya.
"Pak Tua, bertahanlah sedikit lagi! Yun, terus kurangi jumlah lebah-lebahnya!"
"Cepat! Aku tidak akan bertahan lama!"
Ivan menurunkan pinggulnya dan mati-matian bertahan dalam adu tarik tambang melawan sang ratu yang mulai secara perlahan menarik pria itu.
Aku menembakkan Bow Skill — Gust of Wind satu demi satu, mengurangi jumlah lebah-lebah tersebut. Dan, saat jumlah kebenciannya terhadapku akhirnya meningkat, mereka mengubah targetnya menjadi ke arahku.
Taku berdiri di depanku dan memegang dua long sword, dia terus menebas lebah-lebah itu satu persatu.
Begitu jumlahnya berkurang, aku akhirnya dapat melihat sang ratu dengan Sky Eyes.
"AYooo! Cursed ——Attack, Defence, Speed!"
Aku memberikan kutukan pada serangan fisik, pertahanan fisik, dan kecepatan pada sang ratu, memperlemahnya.
Kutukan serangan fisik ditahan, tapi dengan pertahanan fisik dan kecepatan yang dikurangi, dengungan sayapnya melemah.
Dengan demikian, keseimbangan dalam adu tarik tambang ini mencondong ke arah Ivan. Untuk tidak melewatkan kesempatan ini, dia berjuang sebaik mungkin, sehingga otot-ototnya terlihat membengkak seperti hampir meledak.
"—— Aaayooooo!"
Membelitkan tambang itu pada bahu dan punggungnya, dia langsung menariknya saat itu juga.
Sang ratu yang diseret oleh tali tersebut dalam postur tubuh yang mirip dengan jurus bantingan bahu pun terjatuh di hadapan kami.
"Aku sudah menunggu saat-saat ini!"
Si lebah yang terjatuh di depan kami mencoba untuk melarikan diri dengan menggunakan keenam kakinya sambil menembakkan sengatnya secara acak.
Meskipun sepertinya dia membidikkannya pada Taku yang menyerbu menyerang, saat dia menghindarinya, serangan itu hampir mengenaiku, tapi aku menggunakan Sky Eyes untuk memperpanjang waktu yang kujalani dan menghindarinya saat itu juga.
"—— Fifth Breaker!"
Rangkaian lima serangan yang dilancarkan oleh Taku dalam sekejap mencederai kulit luar sang ratu, memberinya damage yang signifikan.
HP sang ratu terkikis begitu banyak bersamaan dengan setiap serangan, dan berubah ke titik nol begitu serangan keempat. Tapi karena Art tidak bisa dihentikan setelah dipicu, tebasan kelima memberikan overkill damage.
Makhluk itu menjerit kesakitan yang terdengar seperti gesekan logam dan para anak buahnya berpencar saat itu juga begitu mendengarnya.
Meskipun sang ratu sudah jelas mengintimidasi, tapi dihajar habis-habisan oleh serangan berlebihan Taku, aku jadi merasa simpati padanya.
"Fyuuh, seperti yang kuduga, tubuh pria tua ini tahan meskipun tidak sehat."
"Kau tidak apa-apa, Pak Tua?"
Aku memanggil Ivan yang duduk, tapi dia hanya melirikku dan menoleh ke bawah jurang.
"Jangan khawatir. Melihat pemandangan ini, rasa lelahku menghilang."
Di hadapannya, ada hutan yang diterangi cahaya matahari terbit.
Embun pagi berkilauan memantulkan cahaya matahari yang melingkupi hutan dan di depannya, membentang padang rumput yang melebar jauh hingga ke kota kecil di balik dinding-dinding.
Kami memanjat sepanjang malam, bertempur melawan musuh dan mendapat item yang kami inginkan.
Taku berdiri di sebelahku, kelelahan dalam kondisi di mana pikirannya pun hampir terhenti, dia menyipitkan mata menatap pemandangan di hadapannya dan kehangatan cahaya matahari.
"Aku tidak bisa berhenti memanjat karena rasa senang dan puas semacam ini."
Mendengar Ivan bergumam demikian, Taku dan aku mengangguk dalam kesunyian. Rasanya kami sedikit mengerti betapa menyenangkannya gunung.
Aku mengambil screenshot pemandangan ini, berdiri dan berbalik ke arah gua.
Karena kami telah melewati kesulitan untuk mendaki kemari, kami harus menaklukkan gua ini setidaknya sekali dan menemukan portal perpindahan objek…pikirku, tapi saat kami melihatnya dengan saksama, ada sesuatu yang menggangguku.
"Hei, Pak Tua Ivan. Bukankah ini lebih tepatnya terowongan daripada gua?"
."Apa? Benarnkah, Yun?!"
"Kau benar. Aku mungkin tidak menyadarinya karena setiap kali aku datang ke sini waktunya saat malam hari.
Aku tadinya berbicara pada Ivan, tapi Takulah yang bereaksi lebih kuat. Saat Ivan berbalik, barulah dia menyadari sepertinya ada cahaya di bagian belakang gua yang gelap.
"Yun, ayo lihat ke dalam! Pak Tua, kau juga cepat ikut!"
"Dasar, tunggu sebentar. Jangan terlalu terburu-buru."
"Ya ampun, anak-anak muda memang penuh semangat."
Aku menghela napas saat mengejar Taku yang menyerbu masuk ke dalam terowongan gelap.
Pintu keluar terowongan muncul dengan segera. Kaki-kaki Taku secara alamiah menjadi semakin cepat.
Di depan di mana aku mengejar Taku, membentang sebuah dataran tinggi. Tanah lapang itu ditutupi rerumputan dan ada monster-monster tipe hewan. Udara pagi yang menyegarkan memang terasa seperti dari dataran tinggi.
Saat aku memeriksa monster-monster tipe hewan yang berada jauh dengan Sky Eyes, aku menemukan ternak dan domba juga ayam.
"Rasanya seperti lahan peternakan dataran tinggi."
Memang benar itulah kesan yang diberikan tempat ini.
"Aku mengerti, sebuah area dataran tinggi. Area lain yang ditemukan ini membuatku benar-benar bersemangat."
Sementara Taku dengan senangnya melihat-lihat area dataran tinggi di sekitar, aku memandangi sekeliling dan menemukan sebuah portal perpindahan di samping terowongan dan merasa lega bahwa aku tidak harus sering-sering memanjat tebing.
"Kalian berdua sama-sama penuh semangat, Bocah, Nona. Oh, ada portal."
Ivan yang menyusul kami tidak lama setelahnya menemukan portal tersebut dan kami mendaftarkan diri kami pada titik perpindahan area dataran tinggi.
"Apa yang akan kalian berdua lakukan sekarang? Aku akan melihat-lihat area dataran tinggi sekarang."
Mendengar usulan Taku, aku menggelengkan kepala menolaknya.
"Aku sangat capek, jadi aku akan log out sekarang dan pergi tidur."
"Kalau begitu, Ivan?"
"Sayangnya, aku tidak tertarik jadi aku akan tidur."
Meskipun dia tersenyum dengan riangnya, seperti yang diduga, Ivan tidak dapat terus penuh semangat dari malam hari dan sedikit mengantuk.
Sebelum log out, ada sesuatu yang harus kubicarakan dengan mereka berdua.
"Untuk yang terakhir, apakah pembagian bijih logam secara merata tidak masalah bagi kalian?"
Taku dan Ivan bersamaku semalaman dan berkat perlindungan mereka, aku dapat mengumpulkannya. Mereka berhak untuk mendapatkan bagiannya.
"Aku tidak masalah dengan itu.”
"Bagaimana dengan Ivan?"
"Itu merepotkan, jadi bagaimana kalau kau membelinya dariku, Nona? Aku tidak terlalu bagus soal pasar dan aku bisa percaya padamu, Nona."
"Jangan, kita belum terlalu lama kenal jadi bagaimana kau bisa percaya padaku. Dasar."
Menanggapinya, kau mungkin tidak berniat menipuku pada saat-saat seperti ini ya 'kan, tanggap Ivan menunjukkan hal itu. Taku juga, tertawa menyetujui dan aku memelototi keduanya, tidak dapat menimpalinya.
"Memang aku bisa membelinya darimu, tapi karena aku menambang beberapa bijih logam yang tidak kuketahui harganya, aku akan butuh waktu untuk mengkalkulasikan harganya. Juga, kau harus mengunjungi tokoku saat aku ada di sana."
"Kalau begitu, simpanlah itu sebagai deposit sampai kau menentukan harganya. Juga, karena kau mengatakan itu padaku, sepertinya kau tidak ada niatan untuk mengelabuiku sama sekali. Kau benar-benar orang yang serius dan jujur, Nona."
"Haruskah aku menerima perkataan itu sebagai tanda percaya atau dirimu yang ceroboh. Ya ampun…"
Kalau begitu, aku harus membuat dia datang ke Atelier pada tanggal tertentu. Yah, aku akan melakukan itu. Aku mencatat jumlah bijih dan jenisnya yang menjadi bagian Ivan untuk diselesaikan setelah melakukan konsultasi.
"Hari ini menyenangkan. Pak Tua, ayo ber­party lagi kalau ada kesempatan."
"Kalau begitu bawakan aku lebih banyak lagi pelamar Sense Climbing di saat berikutnya. Nona, aku akan mampir ke tokomu nanti!"
"Ya, aku akan menunggu dengan sabar."
Taku dan Ivan melakukan salam perpisahan dengan kepalan tinju mereka dan kemudian bersama dengan Taku kami melihat kepergian Ivan saat dia log out.
Dan kemudian, kali ini aku yang log out diantar oleh Taku. Terbangun di ranjang di dunia nyata, aku melepaskan VR Gear dan berbaring di tempat tidur sekali lagi.  




Only Sense Online Jilid 7 Bab 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.