Selasa, 26 Februari 2019

Hyouketsu Kyoukai no Eden Jilid 1 Bab 1 LN Bahasa Indonesia



JALAN DI MANA ANGIN TERLAHIR

Bagian 1
'Melakukan shift malam semalam, mengejar waktu tidurku. Datang lagi nanti. — Sheltis'
Menempel di pintu adalah secarik pesan singkat yang ditulis dengan tulisan tangan yang berantakan.
Perabotan yang ada di ruangannya hanya terdiri atas sebuah ranjang, meja, kursi, dan sebuah lemari pakaian. Bila dikatakan secara halus, ruangan ini rapi dan menyegarkan; bila dikatakan secara blak-blakan, ruangan ini kurang fitur apapun yang pantas untuk disebutkan. Di sudut ruangan semacam itu —
Seorang pemuda remaja sedang tertidur dengan napas yang teratur.
Lengan rampingnya sedikit terlalu kurus untuk seorang laki-laki, dan wajahnya terlihat sedikit berkesan androgini[1]. Rambutnya yang berwarna merah-teh keunguan tidaklah rapi, dan memberi kesan itu dipotong asal-asalan. Dari tinggi tubuhnya, umurnya mungkin sekitar enam belas atau tujuh belas tahun. Akan tetapi, dia terlihat lebih muda satu atau dua tahun, dari caranya dia tidur.
"Fu … …"
Tidak diketahui apakah dia sedang mengigau atau sekedar bernapas.
Di sebelah ranjang tempat dia tidur, terdapat sehelai celemek yang digantung pada sebuah kursi. Di lantai terdapat secarik kertas yang terjatuh, di permukaannya tercantum "Jadwal Tugas, Sheltis".
Dia lupa untuk mematikan lampu di langit-langit. Di bawah penerangannya, hanya jam dinding di sebelah bantal yang bergerak seiring waktu. Saat itulah—
"Shel-nii, Shel-nii!"
Pintu ruangan itu terbuka secara mendadak dan seorang gadis muda melongokan kepalanya dari koridor.
Dia adalah seorang gadis muda dan polos yang berusia kira-kira enam tahun, dengan sepasang mata yang dipenuhi kebahagiaan. Rambut hitam lembut berkilaunya diikat dua dalam model twintail dan ada sehelai syal yang membungkus ringan sekitar lehernya. Penampilannya membuat orang terkesan untuk waktu yang cukup lama.
Setelah memandangi sekitar ruangan, gadis itu tiba-tiba mengunci tatapannya. Tempat yang sedang dia lihat adalah pemuda remaja yang masih tertidur lelap. Setelah menyaksikan pemandangan itu untuk beberapa lama—
"… …Ah!"
Gadis kecil itu menepukkan tangannya dengan senyum nakal dan bergegas masuk kamar kecil itu.
"Shel-nii, Shel-nii—"
Dia berlari menuju kursi di sebelah ranjang dan menggunakannya sebagai landasan untuk melompat.
Berikutnya.
"Shel-nii. Waktunya. Untuk. Bangun——!"
"—Ugh?"
Sebuah suara gedebuk yang teredam.
Tendangan melompat gadis itu langsung mengenai kepala si bocah remaja itu.
"…Anak perempuan tidak boleh melakukan tendangan melompat."
Mencengkeram kepalanya yang terasa sakit, Sheltis mengangkat tubuhnya dari tempat tidur.
"Waa—tempat tidur ini hebat. Badannya sampai bisa tenggelam?"
"Itu karena ranjangnya memiliki bahan busa ingatan di bawahnya… Tunggu, Yuto? Kau mendengarkanku tidak?"
"Eh~ Tapi…"
Gadis cilik bernama 'Yuto' berhenti melompat di atas ranjang dan mendongakkan kepalanya.
"Eyri-nee bilang kalau aku melakukan itu, kau pasti akan bangun."
"…Aku terbangun dengan terkejut. Dalam mimpiku barusan, tanah berumput yang indah berubah menjadi berwarna merah darah."
"Tapi, Shel-nii akhirnya bangun. Ayo cepat ke alun-alun! Eyri-nee menyuruh Shel-nii ke sana secepatnya."
Dengan lengan baju yang ditarik-tarik tanpa henti, Sheltis merangkak turun dari tempat tidurnya dengan enggan.
"Alun-alun? Apa dia melakukan percobaan lagi?"
"Mmm, seperti biasanya! Cepat, cepat!"
Yuto melambaikan lengan dan mendesaknya.
"Ya ampun, Eyriey sangat suka membuatku kerepotan…"
Dia mengambil jaket pendek dan menggantungnya di bahu. Kemeja putih dan celana hitam adalah pakaian yang dia kenakan sementara dia tidur barusan.
…Yang benar saja. Lenyaplah kini waktu istirahatnya, yang sangat sulit didapatkan.
Setelah menaruh tabel jadwal kembali ke meja, Sheltis meninggalkan kamarnya.
Café outdoor 'Dua Angsa ' berada di jalan utama Sektor Pemukiman Kedua.
Yang disebut sebagai 'café' sebenarnya hanya bagian depannya karena teh hitam yang disajikannya cukup khas. Ini lebih tepatnya adalah kedai yang aneh, karena kue buatan sendiri dan menu hidangan yang selalu berubah-ubahnya yang lebih terkenal di antara pelanggannya.
"Chef, apa kau sibuk?"
Setelah menyuruh Yuto menunggu di luar, Sheltis membuka pintu belakang dapur. Bersama dengan suara mesin cuci piring otomatis yang bekerja dengan berisiknya, muncul juga aroma teh hitam yang khas.
"Wah, Sheltis. Apa kau di sini untuk membantu secara sukarela?"
Di dapur yang cukup santai karena lewat jam makan siang, seorang wanita dengan rambut pirang keemasan yang diikat tinggi di atas kepala, menolehkan kepalanya ke arah Sheltis.
Bahkan saat ini pun, pisau di tangannya terus memotong sayur-mayur.
"Kenapa bisa begitu? Oh iya, boleh aku pergi keluar sebentar? Eyriey bilang dia akan melakukan semacam uji mesin baru di alun-alun lagi."
"Itu gawat. Kalau kau tidak ke sana secepatnya, seseorang akan menderita lagi. Karena mesinnya akan kehilangan kendali."
Chef menaruh pisaunya di atas talenan, kemudian melipat lengan dengan ekspresi kerepotan. Meskipun dia adalah pemilik café ini, karena minat pribadinya, dia lebih suka dipanggil chef.
"Ingat untuk pulang sebelum jam istirahat selesai. Tempat ini kekurangan tenaga."
"…...Kau sudah sesibuk itu tapi masih punya waktu untuk mencoba kombinasi baru?"
Sambil mengamati belakang Chef, Sheltis menghela napas.
Dapur itu dipenuhi dengan berbagai macam bahan. Selama dua tahun sebagai pesuruh kedai ini, Sheltis tidak pernah satu hari pun melihat kombinasi bahan yang sama yang pernah digunakan sebelumnya.
"Ini bukan kombinasi baru, tapi 'hidangan baru'. Fufu, tunggu saja nanti."
Tanpa mengalihkan pandangannya, tangan wanita itu mulai memotong-motong buah-buah untuk hiasan. Kenyataannya, sebagian besar pembelinya sangat menyukai hidangannya, jadi mau bagaimana lagi.
"Kalau begitu, Chef, apa makan malam kali ini?"
"Bistik Kerang Mumu Panas Mendesis dan Sup Kental Melengking Tanaman Jirususu."
"Kesampingkan nama-nama hidangannya, bukankah bahan-bahan itu terlalu menjijikkan?"
Cangkang spiral kerang merah muda yang sangat muda di atas talenan itu adalah Kerang Mumu, sementara tanaman merah terang dengan duri-duri pada batangnya mungkin adalah tanaman Jirususu.
"Wah, kau tidak bisa menilai buku dari sampulnya. Ini semua benar-benar enak."
Chef menutupi mulutnya dan tertawa.
"Kerang Mumu dan tanaman Jirususu sama-sama mengandung racun mematikan… …tapi karena itulah mereka murah."
"Chef--! Apa kau mengatakan sesuatu barusan?"
"Jangan khawatir, aku sudah membersihkan racunnya secara menyeluruh. Jadi benar-benar aman."
"……Senyum berbahayamu itu tidak meyakinkan."
"Juga, tidak masalah karena yang akan mengetes racunnya adalah kau, Sheltis."
"Aku?"
Sheltis mundur selangkah dengan terkejut. Saat itulah, Chef mengalihkan matanya ke panci di depannya.
"Baiklah, berhenti membicarakan hal-hal yang konyol. Cepat bawa pulang Eyriey. Aku tidak bisa menangani semuanya tanpa bantuan dari kalian berdua."
"Baiklah aku pergi… …sebelum aku dipaksa untuk mencoba racun apapun."
Berpamitan dengan Chef, yang melambaikan tangannya, Sheltis meninggalkan dapur.

Bagian 2
— Angin terasa sangat nyaman.
Hembusan angin menyibak rambutnya yang sewarna teh, seakan mencoba mendorongnya dari belakang.
"…sudah dua tahun ya sejak aku datang ke sektor pemukiman, jauh dari Tenketsu Palace [2]?"
Sheltis, yang sedang berdiri di samping jalan utama dengan rasa kehilangan, mendongakkan kepalanya.
Awan yang mirip kapas terhembus menjadi beberapa bagian lebih kecil oleh tiupan angin, kemudian setiap awan itu terbang ke arahnya masing-masing. Tidak peduli cuaca hujan atau cerah, atau bahkan bersalju, tiada satu hari pun di mana angin tidak berhembus di jalan-jalan ini.
Inilah ciri khas kota ini—bukan, benua di mana semua manusia tinggal ini.
Benua melayang — Orbie  Clar.
Itulah nama dari benua yang ada di bawah kaki mereka, dan pada saat yang sama, nama dari dunia ini.
Benua ini melayang di langit sepuluh ribu meter jauhnya dari lautan es abadi — itulah Orbie Clar, satu-satunya daratan di mana manusia dapat hidup.
Tidak ada yang tahu bagaimana, atau mengapa, benua ini melayang di langit. Akan tetapi, menurut legenda, benua ini telah melayang di atas dunia yang membeku sejak seribu tahun yang lalu.
Sejak sejarah mulai tercatat, manusia telah lama hidup di sepetak benua melayang ini.
Tak terhitung banyaknya pulau-pulau melayang di sekitar Orbie Clar dengan kincir-kincir angin terpasang di atasnya, untuk memanfaatkan energi angin yang tak terbatas untuk memproduksi tenaga listrik.
Tenaga listriknya kemudian akan dikirimkan ke Orbie Clar lewat kabel listrik dari pulau-pulau ke benua utama.
Dengan demikian, peradaban secara alamiah bergerak begitu saja menuju zaman mesin. Sepeda dan mobil-mobil lalu-lalang di sepanjang jalan kebanyakan adalah kendaraan melayang bertenaga listrik, yang bergerak sambil mengapung beberapa sentimeter dari permukaan tanah. Mengangkat kepalanya menghadap langit, siapapun dapat melihat mesin terbang aerodinamis yang terbang melayang melintasi langit dengan anggunnya.
"… …Benar, ke mana Yuto pergi?"
Mendengar suara langkah-langkah kaki di belakangnya, Sheltis berbalik ke belakang dan melihat seorang gadis muda berlari  ke arahnya dengan tertatih-tatih.
"Shel-nii, kau sudah siap?"
"Mmmm, kita bisa pergi sekarang."
Yuto menempel erat-erat pada Sheltis begitu pemuda tersebut mengangguk.
"Shel-nii, aku mau itu!"
Si gadis kecil melompat-lompat, sambil menjulurkan kedua lengannya pada saat yang sama. Apa maksudnya? Dia ingin berjalan sambil berpegangan tangan pada saat yang sama? Tepat saat Sheltis akan menanyakannya, Yuto mengangkat kepala dan tersenyum.
"Yuto mau digendong."
"Ah, aku mengerti."
Dia pun bersimpuh, menempatkan gadis itu pada pundaknya, kemudian berdiri kembali.
"Waa—tinggi! Aku lebih tinggi daripada Shel-nii!"
"T-tunggu Yuto! Jangan bergerak-gerak dulu, atau aku tidak bisa berdiri mantap."
Setelah menenangkan si gadis yang penuh semangat itu di bahunya, Sheltis mulai berjalan menuju ke ujung selatan jalan utama.
Jalan-jalan di benua melayang hampir semuanya dilapisi bata berwarna hijau kelabu muda. Dikatakan bahwa di permukaannya, yang bercahaya keperakan terang di bawah sinar matahari, diatur oleh semacam thermostat, yang memberinya kemampuan untuk mempertahankan temperature yang nyaman meskipun dalam perubahan musim.
"Shel-nii, lihat ke belakangmu. Cuacanya bagus, dan kita bisa lihat menaranya dengan jelas!"
"Hmm…?"
Mendengar perkataan Yuto, dia pun membalikkan badannya.
Para jarak yang cukup jauh dari Sektor Pemukiman Kedua, di pusat benua melayang—
Berdiri sebuah menara putih besar yang begitu tinggi hingga ke langit.
Tenketsu Palace
Dibangun di pusat Orbie Clar, bangunan itu adalah struktur terbesar di benua.
Tingginya dua ribu meter, dengan total dua ratus sembilan puluh lantai. Itu adalah sebuah menara yang memanjang melewati ketinggian burung-burung dan awan, menjulang menuju langit.
"Yuto masih ingat apa yang Shel-nii katakan. Queen-sama ada di lantai paling tinggi di menara, sementara yang di lantai bawahnya ada lima Priestess-sama!"
Queen-sama dan kelima Priestess. Tidak ada satu pun yang tinggal di Orbie Clar ini yang tidak mengenal mereka. Menara Tenketsu Palace adalah sebuah menara yang dibangun khusus untuk mereka.
Itu benar. Itu karena merekalah yang bertugas sebagai 'dinding pelindung' yang melindungi benua melayang ini—
"Mmm… …"
"Eh? Shel-nii benci menara itu? Yuto sangat menyukainya—kelihatan berkilauan cantik sekali."
"Aku tidak membencinya… …hanya saja aku punya kenangan kuat di sana."
—- Ymy[3], apa kabarmu?
Di bawah terik matahari, Sheltis menyipitkan matanya dan menatap puncak menara.
— Semenjak aku datang ke sektor pemukiman, aku jadi semakin mengerti tentang kenyataan bahwa manusia hanya bisa hidup sedamai ini di benua melayang karena kerja keras tanpa henti Tenketsu Palace >.
"Kenangan? Shel-nii pernah di menara itu sebelumnya?"
Menggendong Yuto yang mulutnya menganga lebar karena terkejut, Sheltis menggelengkan kepala sambil tersenyum dengan sedikit getir.
"Itu adalah sesuatu yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Baiklah, Eyriey masih menunggu kita di alun-alun, 'kan? Kita akan kena omel lagi kalau kita tidak cepat-cepat ke sana."
"Ah, iya benar! Shel-nii, cepat! Lari!"
"Ya ya… … Yuto, kurasa kau benar-benar lupa soal itu."
Dia membalikkan badan menuju arah alun-alun.
Dengan punggung menghadap ke arah menara raksasa itu, Sheltis mulai berjalan.
* * *
"Keren sekali ya, Shel-nii! Ada banyak bendera cantik!"
Saat mendekati alun-alun, Yuto berseru kegirangan.
"… …Iya, ya. Festival Bintang sudah hampir mendekat."
Setelah menaruh Yuto ke tanah, Sheltis melihat-lihat sekeliling alun-alun.
Meninggalkan jalan berlapis batu buatan manusia, tanah berumput hijau luas di depan menyambut mereka.
Alun-alun Len—
Di sebuah tempat yang cukup luas untuk menyelenggarakan perlombaan lari cepat jarak pendek, lahan berumput hijau gelap terlihat hidup di bawah perawatan orang-orang, dan anak-anak berlarian ke sana ke mari bertelanjang kaki. Di pinggir-pinggir alun-alun, terdapat bendera-bendera dengan warna yang berbeda-beda berkibar-kibar ditiup angin. Di bawah bendera-bendera tersebut, berbagai macam stan yang berbaris rapi.
Bendera yang tak terhitung jumlahnya itu mungkin untuk persiapan festival yang akan diadakan di alun-alun tersebut.
"Bagaimana, Shel-nii? Aku benar-benar menunggu festival ini! Aku dengar ada banyak stan yang menjual makanan!"
"… …Sebelum itu, kita ada urusan yang lebih mendesak untuk dibereskan."
Sheltis menyilangkan lengan dan melihat ke arah depannya.
Sebuah robot logam abu-abu raksasa sedang mengejar-ngejar seorang gadis remaja yang mengenakan overall.
"Sh……Sheltis! Cepat selamatkan aku——!"
Itu adalah sebuah robot dengan tubuh yang penuh dengan paku-paku, yang membuatnya kelihatan terbuat dari begitu banyak jarum-jarum logam tipis dan tajam.
Tingginya hampir sama dengan Sheltis. Dan mesin itu dengan lincah mengejar-ngejar gadis yang mati-matian melarikan diri, dengan kecepatan dan kemulusan gerakan yang tidak mirip dengan sebuah mesin.
"Ah. Gerakannya benar-benar halus kali ini. Eyriey pastinya sudah berusaha begitu keras, ya?"
"Tu……tunggu, Sheltis! Sekarang bukan waktunya bagimu untuk kagum… … Whoa! Sa-sakit! Rasanya benar-benar sakit! Berhenti berlindung di situ! Cepat datang dan tolong aku~~~~~!"
Setelah dicolek oleh jari-jari tajam robot itu di punggungnya, Eyriey mengomel sambil melihat ke belakang.
Dengan sepasang mata berwarna coklat, bentuk tubuh yang kecil dengan kepala yang penuh dengan rambut jingga yang dipotong dengan tidak rapi. Dia setahun lebih muda daripada Sheltis, dan adalah seorang gadis remaja aneh berumur enam belas tahun yang sangat suka melakukan penelitian terhadap mesin.
"Ngomong-ngomong, mesin kali ini benar-benar mengagumkan. Bukan begitu menurutmu, Yuto?"
Dia menatap gadis kecil yang ada di sebelahnya. Mata Yuto juga berbinar-binar cerah.
"Mmm. Eyri-nee benar-benar hebat!"
"Ber……Berhenti bicara, cepat pikirkan sesuatu~~~~~"
Di Orbie Clar yang dimekanisasi, terdapat banyak robot yang dapat secara akurat meniru tindakan manusia. Meski begitu, diperlukan kemampuan teknis hingga tingkat tertentu untuk merakitnya. Eyriey mungkin hanya satu-satunya orang di seluruh benua melayang ini yang membuatnya dari dasar, benar-benar murni karena minat pribadinya.
"… …Masalahnya, mesin-mesin Eyriey selalu kehilangan kendali tanda diduga."
Setelah mengamati beberapa saat, mesin itu masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Gadis itu selalu merakit mesinnya di alun-alun, dan semuanya selalu lepas kendali untuk alasan yang tidak diketahui. Orang-orang di alun-alun sudah terbiasa dengan pemandangan ini, dan banyak dari mereka yang bahkan menyemangati kejar-kejaran tersebut. Tidak ada satu pun yang merasa takut.
"Ngomong-ngomong, apa yang harus kulakukan? Seperti biasanya?"
"I… …Itu benar! Tekan tombol berhenti di belakangnya!"
"Aku jadi berpikir, kenapa kau tidak membuat remote kendali yang bisa menghentikannya dari jauh?"
"Mesin lepas kendali tepat saat aku akan membuatnya."
.. …Menurutku, seharusnya kau membuat remotenya lebih dulu.
Sheltis menelan kata-katanya yang hampir keluar itu, dan mengubahnya menjadi sebuah helaan napas.
"Terserahlah. Yuto, sembunyilah dulu. Di sini berbahaya."
Setelah Yuto telah pergi, dia berjalan menuju robot itu.
… …Semuanya menjadi sedikit lebih merepotkan dibanding biasanya.
Meskipun robot ini kelihatan cukup konyol saat mengejar-ngejar Eyriey, benda ini memiliki mesin kuat yang menggerakkan tubuhnya, yang mana tidak bisa diabaikan. Bagaimanapun, tenaganya cukup untuk menggerakkan rangka logam yang beratnya beberapa ratus kilogram. Bahkan orang yang sudah tumbuh dewasa sepenuhnya pun akan terbang cukup jauh jika terkena lengannya.
"Baiklah. Pertama-tama…"
*duk*. Dia mulai berlari dengan menjejakkan kakinya dengan ringan ke tanah, kemudian perlahan meningkatkan kecepatannya. Angin melewati telinganya, sementara pemandangan berkelebat cepat terlihat kabur.
"Berlutut!"
Tidak menunggu Eyriey melakukannya, ujung kaki Sheltis menendang keras-keras tanah berumput.
Sebuah lompatan yang lebih tinggi daripada tinggi pria dewasa ataupun si robot, seakan tidak ada gravitasi. Kaki kanan Sheltis mendarat lincah di bahu si robot, yang sudah hampir mencapai Eyriey.
*krak*. Lempengan logamnya terdengar penyok, dan postur robot itu pun goyah. Akan tetapi, benda tersebut tidak berhenti bergerak. Tepat saat Sheltis mendarat, mata lawan terkunci padanya.
"Tangguh… …Sebuah tendangan sederhana tidak akan membuatnya berhenti?"
Dia memutar tubuh untuk menghindari tinju kiri yang datang, kemudian melihat pada serangan lengan-lengan yang bergerak ke arahnya seperti sepasang penjepit. Kaki dan tangan mesin raksasa itu, kurus seperti balok kayu, datang ke arahnya dari titik buta di atas kepalanya… …
*tak*!
Sebuah suara pendaratan samar-samar. Kemudian, para penonton yang menyaksikan semuanya dari awal kini menahan napasnya. Itu karena siluet pemuda remaja itu mendadak terlihat kabur tak jelas—dalam sekejap mata, dia telah melompat ke lengan robot tersebut.
Itu semua dilakukan seketika itu juga. Dia akan tersapu oleh lengan robot itu kalau saja ada kesalahan sedikit pun. Ketajaman visual dan refleks orang pada umumnya, sudah jelas tidak akan mengijinkannya untuk melakuan semua aksi mengagumkan tersebut.
"Oosh."
Dia berpijak pada bahu robot itu setelah melompat dari lengannya, dan menempatkan tangannya pada kepala benda tersebut. Dengan begitu, dia bersalto sekali di udara, kemudian mendarat di punggung si robot… … Apakah itu tombolnya?
Dia menekan tombol merah yang mencuat dari punggung benda tersebut. Dalam sekejap, robot tersebut berhenti bergerak.
"Benar, sukses besar… …Eh?"
Sebuah perasaan aneh berkelebat di  benaknya, membuat Sheltis mengerjapkan mata dan mematung di tempatnya.
Meskipun benda itu tidak bergerak, roboh itu entah kenapa mulai bergetar sedikit. Itu aneh. Pada dasarnya, tombol berhenti seharusnya dapat menghentikan semua pergerakan mekanisnya.
"Ah, Sheltis! Tunggu sebentar!"
Kata-kata Eyriey memecahkan kesunyian.
"Tolong tekan tombol hijau, karena yang merah untuk tombol darurat penghancuran-diri."
"… … … Apa katamu barusan?"
"Kubilang, tombol 'berhenti'nya yang warna hijau. Jangan menekan tombol yang warna merah."
… …Apa yang barusan kutekan?
Sheltis tidak berkata apapun, dan melihat punggung si robot lagi.
Di bawah tombol merah besar, terdapat tombol kecil berwarna hijau. Saat mengamatinya lebih jauh, tombol merahnya memiliki tulisan 'Jangan tekan' dalam tulisan tangan yang berantakan.
"Jangan-jangan kau sudah menekannya?"
"Jangan pasang sesuatu yang seberbahaya itu——!"
Tanpa ada waktu untuk melarikan diri, Sheltis diliputi asap hitam yang dilepaskan oleh si robot.
"Ya ampun—orang normal tidak akan menekan tombol yang sejelas itu. Merah adalah warna untuk memperingatkan. Ya 'kan, Yuto?"
"Ya, Eyri-nee."
Yuto dan Eyriey berjalan dengan senangnya sambil berpegangan tangan.
"… …Yah, kurasa akulah yang salah karena tidak memastikannya dengan hati-hati."
Setelah beberapa saat, Sheltis akhirnya menyusul mereka berdua.
"Mmm? Ahh, jangan khawatir. Itu dinamai sebagai tombol penghancur-diri, tapi kenyataannya, itu hanya alat biasa yang menghasilkan asap."
"Kurasa bukan itu masalahnya!"
Pemuda itu melambaikan lengannya dengan sekuat tenaga, memprotes keras. Meski berkata begitu, saat dia segera melompat menjauh, tubuhnya tidak menghitam karena asap.
"Tapi tetap saja, berkat dirimu, aku akhirnya selamat."
Dengan overallnya yang penuh dengan noda, Eyriey berkata sambil tersenyum.
"… …Saat berhadapan dengan senyum semacam itu, aku benar-benar tidak bisa marah padamu."
"Mmm? Sheltis, ada apa?"
"Tidak, ini… …bukan apa-apa."
Sheltis merasa sangat malu dengan tatapan gadis itu, dan memalingkan muka tanpa sadar… …Benar, sudah jelas, dia terlibat dalam hal-hal seperti ini bukan karena keinginannya. Meskipun dia sibuk setiap harinya, jauh di dalam hatinya ini sangatlah memuaskan. Dalam waktu dua tahun yang singkat sejak dia datang ke sektor pemukiman, gaya hidupnya saat ini juga tidak terlalu buruk.
"Ngomong-ngomong soal itu, Shel-nii benar-benar hebat! Semua orang memuji betapa mengagumkannya Shel-nii barusan!"
Yang sedang Yuto bicarakan mungkin adalah apa yang tadi terjadi di alun-alun.
"Benarkah? Kupikir itu lumayan biasa-biasa saja."
"Tidak tidak, berhenti bercanda."
Eyriey menggelengkan kepalanya.
"Aku basah kuyup dengan keringat hanya dengan memikirkan diriku yang langsung bergegas maju menuju robot yang mengamuk. Tenaga kudanya itu bukan main-main. Sheltis menghindarinya dengan baik-baik saja, tapi kalau kau sampai tertendang olehnya, aku tidak berani membayangkan konsekuensinya… … Berbahaya sekali!"
"… …Kalau memang begitu, buatlah robot yang lebih kecil nantinya. Supaya kau tidak harus khawatir meskipun dia lepas kendali."
Di saat itulah, Yuto mendorong punggungnya. Setelah menempatkan gadis itu di bahunya, Shletis melanjutkan langkahnya.
"Mau bagaimana lagi? Kalau aku tidak mengetes robot seukuran itu, aku tidak akan bisa tahu kondisi jalannya mekanisme bergerak yang sebenarnya. Tapi berkat hal itu, aku mungkin bisa menyelesaikan penyesuaian motornya sebelum akhir pekan tiba."
"Akhir pekan?"
Sheltis merenung sesaat. Dia sama sekali tidak mengerti maksud Eyriey tetang penyesuaian sepeda motor. Sebelum akhir pekan… …apa ada sesuatu yang terjadi saat itu?
"Kau sudah lupa? Bukannya kita semua setuju untuk piknik barbekyu akhir pekan ini?"
"Kita semua?"
"Itu Yuto, Eyri-nee dan Shel-nii."
Yuto yang sedang di bahunya, menekankan kata-katanya dengan menggerak-gerakkan kakinya.
"Aku sama sekali tidak mendengar soal itu."
"Aneh. Yuto tidak memberitahukan Sheltis soal itu?"
"Bukannya Eyri-nee yang tidak bilang sama Shel-nii?"
Setelah itu, kedua gadis itu berekspresi mematung di saat yang bersamaan. Kelihatannya mereka berdua mengira satu sama lain sudah menginformasikan Sheltis.
"… …Ya sudahlah. Akhir pekan, berarti lusa, 'kan? Benar-benar keputusan yang mendadak. Apa toko menanganinya?"
Dia memikirkan Chef, yang mungkin sedang menunggunya kembali di dapur "Dua Angsa '. Kalau dia dan Eyriey mengambil hari libur di hari yang sama, Chef akan sendirian di toko.
"Mmm, aku sudah memberitahukan dia soal ini, jadi tidak perlu khawatir. Hanya saja Chef bilang, 'Sebaiknya kau bersiap-siap saat pulang ke sini!"."
"Chef marah? Pasti begitu."
"Tidak masalah. Ada peribahasa, tak ada hasil tanpa usaha."
Saat mendengar Eyriey mengatakannya dengan santai, Sheltis mau tidak mau memegangi kepalanya dan mengerang, "Kepalaku, yang tadi ditendang Yuto, mulai sakit lagi."

Bagian 3
Bintang-bintang yang bercahaya terlihat bagaikan permata yang dipasangkan di langit malam.
Setelah matahari terbenam, saat orang-orang di jalanan mulai terlihat jarang, ' 'Dua Angsa ' sudah hampir tutup juga. Toko ini tidak memiliki jam tetap untuk tutup. Sebagai gantinya, mereka hanya tutup saat tidak ada lagi pelanggan yang datang.
"Tidak peduli seberapa mekanisnya kehidupan kita, pada akhirya, hanya kita manusia yang dapat melakukan tugas-tugas seperti ini."
Dia mengelap meja-meja di jalanan satu demi satu, kemudian melanjutkan dengan mengumpulkan kursi-kursi lipat sebelum memindahkan meja-meja tersebut kembali ke dalam toko. Ini cukup memakan waktu karena jumlahnya cukup banyak.
"Baiklah, sudah selesai!"
Sheltis berhenti dan menatap sekilas sekelilingnya, sebelum mengangkat kepala untuk memandangi langit.
——Bintang-bintangnya sangat cerah.
Di pagi hari, langit begitu cerah dan tanpa awan. Di malam hari, langitnya berbintang tanpa halangan.
Tidak ada hari di mana tidak ada angin yang berhembus di benua melayang Orbie Clar. Dengan demikian, jarang sekali awan-awan tetap berada di atas Orbie Clar untuk waktu yang lama. Meskipun sering hujan sepanjang tahun, hujannya tidaklah deras. Sekalipun hujan mendadak, hanya perlu menunggu sebentar di tempat-tempat peristirahatan yang berada di seluruh sektor pemukiman, dan langit akan menjadi cerah kembali sebelum mereka menyadarinya.
"Chef, aku sudah selesai beres-beres."
"Terima kasih untuk kerja kerasmu, kau sudah bisa mengabsen keluar sekarang. bisakah kau memanggil Eyriey ke sini?"
Suara Chef muncul dari dalam toko.
"Mmm. Eyiey seharusnya ada di kamarnya sekarang."
Dia membereskan kain lapnya di meja, dan berjalan menuju toko. Menyusuri jalan masuk khusus untuk karyawan, dia berjalan menuju ruang istirahat karyawan yang ada di bagian paviliun.
Total ada tiga orang yang bekerja di 'Dua Angsa '. Selain Chef, yang juga sekaligus bosnya, ada dua karyawan sementara lainnya. Sheltis adalah salah satunya, dan tugas utamanya adalah mencuci piring atau melakukan pekerjaan lainnya, seperti menjadi seorang pramusaji.
Karyawan sementara lainnya adalah Eyriey, yang seperti dirinya sendiri, tinggal di tempat tinggal karyawan.
"Eyriey, kau ada di dalam?"
"Masuklan, pintunya tidak dikunci."
Begitu pintunya terbuka, bau tajam dari oli mesin dan knalpot menyeruak keluar.
*Uonuonuon*… ….suara knalpot yang mirip dengan suara kepakan sayap, muncul dari monitor yang ada di keempat sudut ruangan, begitu juga dengan komputer raksasa yang terhubung dengannya.
"Whoa! Jangan-jangan kamarmu sudah diupgrade lagi?"
Melihat ke bawah, puluhan kabel saling membelit satu sama lain di lantai.
"Ehehe, aku sudah memperbaiki komputer baru dengan gaji yang kudapatkan barusan. Kecepatan prosesnya meningkat dua kali lipat."
"… …Apa gunanya itu?"
"Kecepatan adalah segalanya bagi mesin. Bukankah itu jauh lebih keren!"
Si gadis remaja berpakaian overall berdiri dari kursinya, terdengar cukup senang.
"Baiklah kalau begitu, aku ada kabar bagus untukmu, Eyriey. Mesin pencuci piring di toko mulai terlihat aneh."
"Tidak mungkin?"
"Juga, beberapa tombol di mesin kasir rusak, lalu lampu-lampu di toilet berkedap-kedip."
"Ahh— mengesalkan sekali, di waktu sepenting ini!"
Eyriey menjambaki rambutnya dengan wajah getir. Tugas utamanya adalah mengurus utilitas toko. Pekerjaannya berkisar dari memperbaiki mesin-mesin, sampai merawat dekorasi interior. Tugasnya pada dasarnya kecil, tapi hal-hal darurat semacam ini sering terjadi.
"… …Tidak ada pilihan lain, aku akan bergegas kembali setelah memperbaikinya."
"Saat-saat krusial?"
"Mmm, ini ini!"
Dia menunjuk layar di depan mereka.
Di layar hijau itu, terdapat bingkai rumit berbentuk bujur sangkar, yang digambar dengan menggunakan kursor.
"Ini adalah percobaan hari ini. Mesin yang menggerakkan robot itu bekerja dengan sangat baik semalam operasinya di alun-alun. Aku seharusnya bisa menyelesaikan penyesuaian akhirnya malam ini."
"Kau akan memasangnya pada alat transportasi yang akan kita gunakan untuk pergi piknik barbekyu?"
"Itu benar, karena itu tidak akan berhasil kalau aku tidak memperlengkapinya secara keseluruhan. Tunggu dan lihat saja. Itu akan menjadi kendaraan yang nyaman."
"Aku akan sangat senang kalau itu tidak lepas kendali… …. Ah, ngomong-ngomong soal itu."
Sambil duduk di kursi yang ada di sudut ruangan, Sheltis memikirkan si gadis muda bersyal biru langit.
"Apa Yuto senggang?"
"Mmm, dia bilang dia bisa pergi."
Meskipun gadis itu sangat suka menempel padanya, Yuto sama sekali bukan adik kandung ataupun teman yang dia kenal untuk waktu yang lama. Berbeda dengan mereka berdua yang tinggal di 'Dua Angsa ', kelihatannya Yuto memiliki rumah sendiri untuk pulang.
"Aku mengerti… …"
"Ada apa? Wajahmu mendadak terlihat letih sekali."
Eyriey menyilangkan lengan dan mendekatkan wajahnya.
Berhadapan dengan sikap yang terlihat polos itu, Sheltis menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Tidak, aku hanya menghela napas. Aku sudah mengenal Eyriey dan Yuto selama dua tahun."
Sudah dua tahun sejak dia dibawa secara paksa ke Sektor Pemukiman Kedua. Saat itu, sementara Sheltis yang tidak mempunyai rumah sedang berkeliaran di sepanjang jalan, secara tidak sengaja dia mendapati lowongan pekerjaan yang dipasang 'Dua Angsa '. Mengenal Eyriey adalah permulaan dari segalanya.
"Sejak pertama kali kita bertemu, Eyriey telah tertarik dengan mesin."
"Tentu saja. Sejujurnya, Sheltis benar-benar sudah berubah banyak. Pertama kali aku melihatmu, ekspresimu begitu murung, kau kelihatan seperti setengah hidup setengah mati. Kau tidak menjawab apapun yang kutanyakan."
"… …Itu karena rasa terpukul akibat dibuang dari Tenketsu Palace adalah sesuatu yang terlalu besar untukku."
"Dibuang?"
"Ah, bukan apa-apa.. …aku hanya bergumam sendiri."
——Hal-hal yang terjadi dua tahun yang lalu. Sekalipun dia mengatakannya, itu mungkin juga malah membuat Eyriey terguncang.
Tidak perlu mengatakan apapun pada orang lain tentang hal-hal yang terjadi antara dirinya dan Tenketsu Palace . Sedangkan untuk kata-kata yang tidak sengaja diucapkannya barusan, sepertinya Eyriey tidak benar-benar mendengarnya, karena suaranya yang terlalu pelan.
"Benar, kenapa kita tidak mengubah topik pembicaraannya."
Dengan itu, Eyriey menyerahkan sebuah cangkir pada Sheltis. Uap panasnya memberikan aroma harum yang manis. Dia menambahkan sedikit madu sebagai pengganti gula ke dalam teh hitam tersebut——itu adalah cara menyeduh teh kesukaannya.
"Hmm?"
"Sheltis, apa ada gadis yang kau suka? Maksudku yang kau cintai."
Pada saat itu juga, Sheltis menyemburkan teh yang baru saja dia minum.
"Whoa, apa-apaan, sih! Layarnya bisa rusak gara-gara itu!"
"Itu karena kau mengajukan pertanyaan aneh seperti itu dengan tiba-tiba!"
"Dasar. Jadi, apa jawabanmu? Aku benar-benar penasaran soal itu."
"… …Aku memilih untuk menggunakan hakku untuk tetap diam."
"Fufu, reaksimu itu—artinya memang ada."
Melihat bagaimana mata Eyriey berbinar-binar dengan penuh minat, Sheltis tanpa sadar mengalihkan pandangannya ke bawah. Itu bukan karena dia merasa malu. malahan, dia sendiri tidak tahu jawaban yang sebenarnya.
"Akan tetapi, kurasa kami tidak akan pernah bisa bertemu satu sama lain lagi."
"Wah. Kenapa begitu?"
"Itu rumit, jadi sederhananya… …Aku mungkin hanya akan membuatnya berada dalam masalah kalau aku menemuinya sekarang. Alasanku sampai datang ke sektor pemukiman — mungkin itulah alasan terbesarku."
Itu benar. Mungkin, dia adalah sebuah keberadaan yang tidak termaafkan, bahkan di sektor pemukiman ini.
— Itu karena, Ymy adalah sosok yang jelas berlawanan denganku. Dia adalah sang Priestess yang dihormati oleh semua orang di benua melayang ini.
"Ohh— Gadis itu juga tinggal di Sektor Pemukiman Kedua?"
"Tidak. Dia ada di Tenketsu Palace ."
"Mmm? Jadi dia bekerja di menara besar itu, ya. Seorang staff di situ?"
Jari Eyriey menyentuh layar di hadapannya.
Layar tersebut berubah, dan di permukaannya muncullah sebuah menara putih.
"Kau bisa mengatakannya begitu. Meskipun ada beberapa perbedaan. Oh iya, kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?"
"Mmm— tidak ada apa-apa. Bisa dibilang aku penasaran… … Aneh, kenapa wajahmu memerah, Sheltis? Ah, apa mungkin Sheltis mengira aku tertarik padamu, dan karena itu aku menanyakan hal tersebut? Iya, ya? Aku benar 'kan?"
"T…Tidak, kok…"
Sheltis buru-buru melambaikan kedua tangannya untuk menyangkalnya, tapi itu hanya membuat gadis itu tersenyum semakin cerah.
"Ahaha, apa aku membuatmu salah paham? Maaf, tapi aku benar-benar tidak menganggap Sheltis sebagai subjek cinta. Jauh lebih menarik menyelidiki mesin."
"… …Itu kedengaran sangat kejam."
"Baiklah, bercandanya sudah selesai. Sejujurnya—"
Eyriey menyatukan kedua tangannya dan meregangkannya ke atas, lalu mengambil postur tubuh santai.
"Aku menikmati saat-saat bermain bersama Yuto dan Sheltis, kau tahu?"
Menatap senyum sederhana itu, Sheltis kehilangan kata-kata untuk sesaat. Dia sekali lagi disadarkan — di sektor pemukiman, ada banyak temannya juga yang bersedia untuk menerima dirinya dengan senyuman yang tulus.
"Bagaimana dengan Sheltis?"
Setelah memikirkannya sejenak— atau tepatnya, dia berpura-pura mempertimbangkannya.
"Kurasa tidak buruk juga."
"Dasar, kalau begitu tidak ada masalah. Aku benar-benar menantikan acara piknik barbekyu akhir pekan nanti. Ah, Sheltis yang bertugas menyiapkan dagingnya. Tidak masalah kalau sayurannya lebih sedikit, tapi tolong dapatkan banyak daging yang berkualitas!"
"… Boleh aku menarik kembali pernyataanku?"

Bagian 4
Cahaya putih yang menjadi ciri khas pagi hari bersinar lembut di tanah berumput di bawah kaki mereka.
Kabut yang menyelimuti alun-alun mungkin terbentuk dari uap air hujan semalam. Aroma rerumputan diserta udara lembap yang menyejukkan.
Alun-alun Len. Meskipun berada di sini dua hari yang lalu, tidak seperti saat itu, hampir tidak ada orang di sekitar sini.
"Seperti yang diduga dari pagi-pagi sekali."
Sheltis meregangkan lengannya dan mengambil napas dalam-dalam, kemudian mengangkat kepalanya melihat menara jam di tepi alun-alun.
Mereka akan bertemu pada pukul tujuh pagi di alun-alun. Karena Yuto dan Eyriey biasanya sama-sama tepat waktu, mereka berdua seharusnya akan segera tiba.--- tepat saat dia berpikir begitu.
Sebuah suara langkah-langkah kaki yang cepat bergema di alun-alun.
"Shel-nii, maaf membuatmu menunggu!"
Itu adalah wajah familiar dari seorang gadis berumur lima atau enam tahun. Di lehernya seperti biasa ada syal biru langit sementara gaun terusannya berwarna merah terang dan sepasang sepatunya berwarna putih. Kelihatannya itu semua adalah pakaian luar rumahnya, karena warnanya lebih cerah dibanding biasanya.
"Nah nah, di mana Eyri-nee?"
Yuto mengangkat lengannya dan melompat-lompat.
"Kurasa dia akan segera sampai… Nah, itu dia datang."
Sebuah objek besar mendekati mereka, bersama dengan suara nyaring angin. Dari kejauhan, itu terlihat seperti semacam sebuah batangan logam kelabu, tapi semakin mendekat, bentuknya semakin jelas.
Itu adalah kendaraan besar bertenaga listrik.
Melihatnya dari depan, Yuto pun berseru.
"Wow… sepedanya besar sekali!"
Itu adalah kendaraan beroda tiga berenergi listrik, dengan satu roda depan dan dua roda belakang. Bagian badan kendaraan dicat dengan warna logam tua. Lebarnya cukup untuk memuat tiga pria dewasa duduk bersisian. Tingginya sekitar sebahu Sheltis.
"Maaf membuat kalian menunggu. Selamat pagi!"
Eyriey melompat turun dari kursi pengemudi tanpa menunggu roda-rodanya berhenti. Dia masih mengenakan pakaian overall berminyaknya, tapi bagi gadis tersebut, pakaian itulah yang paling cocok untuknya.
"Eyriey, kau membuat semua ini sendirian?"
"Itu benar! Aku membeli suku-suku cadangnya dari toko loak, dan merakitnya sendiri. Ini benar-benar murah!"
Dia dengan bangga menepuk jok kendaraan tersebut. Kalau bukan karena dia sudah terbiasa dengan robot-robot yang Eyriey buat, Sheltis sudah pasti akan mempertanyakan bagaimana caranya menyelesaikan kendaraan itu.
"Ngomong-ngomong, ke mana kita akan pergi dengan benda besar itu?"
"Eh? Ah, sepertinya aku lupa mengatakan padamu tentang hal itu. Tempatnya adalah taman alami di pinggiran sektor alam bebas. Seharusnya tidak ada makhluk-makhluk berbahaya apapun, tidak peduli apa yang terjadi."
Dari bagian tengah benua melayang, tempat ini dibagi menjadi tiga sektor.
Yang pertama adalah bagian pusat dari benua, menara raksasa yang menjulang ke langit, Tenketsu Palace .
Di sekelilingnya adalah sektor pertama, atau yang disebut 'sektor pemukiman', di mana para manusia tinggal. Sektor pemukiman kemudian dibagi lagi menjadi Area Pertama, Area Kedua, dan Area Ketiga., dari tempat yang paling dekat hingga yang terjauh dari pusat. Meskipun itu hanya untuk mempermudah menentukan lokasi secara spesifik di area pemukiman.
Berikutnya adalah sektor kedua, yang dinamai sebagai 'sektor alam', di mana lingkungan dikendalikan. Sederhananya, itu adalah taman alam buatan manusia. Orang-orang biasanya mengunjungi tempat ini untuk melihat-lihat atau saat liburan.
Lebih jauh lagi, adalah area yang mengelilingi perbatasan benua melayang, sektor ketiga yang mana dinamai sebagai 'sektor konservasi ekosistem '. Karena orang-orang sangat jarang menginjakkan kakinya di situ, tempat tersebut masih mempertahankan kondisi ekosistem aslinya. Karena keberadaan banyak makhluk-makhluk berbahaya dan liar, orang harus mendapatkan ijin dari Tenketsu Palace sebelum diperbolehkan untuk memasuki area ini.
— Baguslah. Tidak akan ada masalah kalau di sektor alam.
"Ah—Aku merasa lega. Kupikir kita akan pergi ke sektor konservasi ekosistem <biotope>."
"Itu juga bagian dari rencana."
"…Berhenti bercanda. Ada sarang Earth Dragon di sektor konservasi ekosistem."
"Uh— Perburuan naga kederannya cukup menarik."
… Aku hampir saja kehilangan nyawaku saat aku dikirim ke sana untuk sebuah misi bersama Leon di umur empat belas tahun.
Sheltis menelan kata-kata tersebut kembali ke hatinya tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
"Lupakan itu. Bagaimanapun, ayo pergi! Taruh saja barang-barangnya di bagasi belakang. Sudah? Baiklah kalau begitu. Yuto duduk di bagian depan, sedangkan Sheltis di bagian belakang."
Mengikuti kemauan gadis itu, Sheltis duduk di jok berwarna merah.
"Mmm, ingat untuk mengencangkan sabuk pengamanmu. Yuto sudah?"
"Sudah—!"
Baik Yuto maupun Eyriey mengamankan sabuk mereka di depan dada masing-masing. Saat melihat itu, Sheltis merasakan hawa dingin di punggungnya.
… Sabuk pengaman? Apakah kendaraan beroda tiga punya sabuk semacam itu?
"Sheltis, ayo cepat dan kencangkan sabukmu juga, atau kau akan terhempas."
"Terhempas?"
"Karena, begitu benda ini dinyalakan, dia bisa mencapai kecepatan lebih dari seratus kilometer per jam, hanya dalam waktu enam detik."
"T…Tunggu! Kalau begitu—"
Dia mau tidak mau langsung melompat ke tempat duduknya.
Hukum di benua ini menyatakan bahwa kecepatan maksimal bagi warga sipil adalah delapan puluh kilometer per jam. Kalau mereka berpergian di jalan-jalan sektor pemukiman, kecepatan tertingginya adalah empat puluh. Jika siapapun melampaui sepuluh kilometer per jam dari kecepatan yang diizinkan itu, petugas patroli otomatis yang ada di langit akan membunyikan sirene mereka dan mengejar sampai ke ujung dunia.
"Petugas patrolinya…"
"Aku tahu soal itu. Begitu mereka menemukan mangsa, mereka akan mengejarnya dengan kecepatan seratus lima puluh kilometer per jam, 'kan?"
"Kalau kau tahu itu—"
Sebelum dia sempat menyelesaikan perkataannya, Eyriey mengangkat kepalan-kepalan tinjunya.
"Kendaraan tersayangku ini dapat mencapai kecepatan maksimum seratus delapan puluh kilometer per jam sambil membawa tiga penumpang. Kita bisa dengan mudah melarikan diri dari mereka meskipun ketahuan."
"Bukannya itu malah lebih parah!"
"Begitulah. Ayo berangkat barbekyu!"
"Yey! Berangkat!"
"Eh? Ehhhh? Bahkan Yuto juga ikut-ikutan? B…Benar…Aku belum mengencangkan sabuk pengamanku—"
"Jangan bicara saat kita berakselerasi, atau kau akan menggigit lidahmu."
Suara deru mesin terdengar nyaring, dan sepeda motor yang dikustomisasi secara illegal itu melesat bagaikan peluru. Suara dari sasis logam yang mencabik-cabik udara, bersamaan dengan sorakan dua gadis muda dan jeritan ngeri Sheltis, terdengar ke seluruh alun-alun di pagi-pagi buta ini.

Di depan mata mereka, terbentang sebuah dunia yang hijau.
Berbeda dengan tanah berumput di alun-alun, bermacam-macam tanaman yang berbeda dalam bentuk dan ukurannya memenuhi setiap inci pandangan. Sebuah hutan membentang tanpa batas sejauh mata memandang.
Dari langit muncullah kicauan bersemangat burung-burung. Di padang rumput, hewan-hewan imut berlarian dalam kelompok-kelompok kecil.
—Sisi selatan dari sektor alam. Taman Nomor Empat.
"Ini mungkin pertama kalinya aku di sini."
Mengambil barang bawaan dari bagian belakang kendaraan dengan salah satu tangannya, Sheltis melirik ke sekitarnya.
Meskipun dinamakan sebagai taman alami, suasana di sini masih sangat mirip dengan sektor konservasi ekosistem . Satu-satunya perbedaan adalah tidak adanya makhluk buas yang akan menyerang manusia.
"Yah, aku sudah mencoba yang terbaik untuk pergi sedalam yang kubisa. Kita mungkin tidak akan mengganggu siapapun kalau kita melakukan barbekyu di sini."
"Eyri-nee, tolong~ biarkan~ aku~ pergi~?"
Eyriey telah menangkap Yuto, yang hampir pergi berlarian dengan senangnya.
"Yuto harus membantu juga. Aku sudah berkendara sejak pagi, dan perutku sekarang keroncongan. Rasanya benar-benar lelah berkendara selama empat jam tanpa henti."
"…Belum lagi, tiga jamnya kita dikejar-kejar oleh petugas patroli."
Sheltis membuka tas jinjingnya sambil mengeluh.
Dia mulai memasang peralatan memanggang barbekyu hitam, kemudian melanjutkan dengan menaruh dua sampai tiga benda yang disebut 'fuel stone'. Yang tersisa adalah menekan tombol pembakaran.
"Di mana bahan-bahan untuk barbekyunya?"
"Di kotak pendingin. Yuto, bukalah."
Yuto membuka kotak biru. Bagian dalamnya dibagi menjadi dua bagian. Bagian atasnya tempat pendingin sayuran, sementara bagian bawahnya adalah tempat untuk membekukan ikan atau daging.
"Baiklah kalau begitu, karena Sheltis telah menyiapkan daging berkualitas tinggi untuk kita, ayo cepat kita panggang—"
"…Akan kukatakan ini lebih dulu. Aku sudah menghabiskan gaji bulan ini untuk semua bahan ini hari ini. Juga, bukankah kita seharusnya mulai memanggang sayurannya dulu, karena perlu waktu lebih lama untuk matang."
Sheltis sudah setengah menyerah apakah dia akan bisa makan apapun, jadi sebagai gantinya dia mengambil inisiatif dengan menempatkan sayuran di rak barbekyu. Kalau tidak, pasti akan ada begitu banyak sayuran yang tersisa setelah itu.
"Dagingnya sudah siap—?"
"Yuto, jangan makan daging setengah matang itu. Ini, kuberi kau sayuran."
Dia menghentikan Yuto yang mencoba makan daging tersebut diam-diam, dan memberikan beberapa sayuran padanya.
… Aneh, kenapa rasanya begitu nostalgik?
Saat menjalani adegan ini, hatinya dipenuhi dengan perasaan yang tidak dapat digambarkan untuk sekejap.
Itu benar. Dulu sekali, sesuatu yang mirip pernah terjadi juga.
—Ymy, Leon dan aku, kami pernah melakukan barbekyu bersama-sama sebelumnya.
—Mereka berdua mungkin berada di posisi tertinggi di Tenketsu Palace … Aku harus berusaha lebih keras di sektor pemukiman juga.
"Ah— Shel-nii berhenti bergerak."
Saat dia kembali sadar—
Dengan tangan kiri yang memegang piring dan tangan kanan memegang garpunya, Yuto berdiri menunggu di samping Sheltis, dan menggembungkan pipinya dengan tidak senang.
"Ah, maaf. Aku bengong sebentar."
Dia buru-buru menaruh potongan-potongan daging dan sayuran di rak barbekyu.
"Apa Sheltis capek? Kau kadang-kadang bengong mendadak."
"Tidak, bukan begitu—"
Tepat saat dia menggelengkan kepala pada Eyriey yang khawatir.
—*bruk*!
"!"
Sheltis tiba-tiba menjatuhkan perlengkapan makan dan piring yang dia pegang, dan cepat-cepat membalikkan badan ke hutan yang ada di belakang mereka.
"Tu…Tunggu sebentar! Kenapa kau membuang sayur dan dagingnya!"
"Diam."
Dia menatap lekat-lekat ke dalam hutan, sambil memegangi Eyriey supaya mundur.
—Dari leher ke tulang punggung, dia merasakan hawa dingin yang intens, seakan dia ditusuk oleh batang es.
Mungkinkah ini…
"Eyriey, seharusnya ada tongkat listrik di kendaraan untuk pertahanan diri, 'kan? Yang dirakit itu."
"Yah…Ada."
"Pinjamkan aku itu."
Setelah menerima tongkat berwarna keperakan itu, Sheltis memanjangkannya sampai setinggi tubuhnya.
Meskipun disebut sebagai sebatang 'tombak', ujung depan tongkat itu berbentuk bulat, yang akan melepaskan sengatan listrik kuat saat menekan tombolnya. Benda ini dibuat dari logam campuran, dan bobotnya ringan sekaligus kuat. Ini biasanya dipakai para wanita sebagai senjata pertahanan diri.
… Meskipun tidak terlalu berguna, ini masih lebih baik daripada tidak sama sekali.
"Tu…Tunggu, Sheltis. Kau pergi ke mana? Di sana hutan!"
"Kalian berdua tunggu di sini. Aku akan segera kembali."
Selangkah demi selangkah, dia perlahan mendekat ke arah hutan.
Dia pergi melewati perbatasan hutan, dan melalui jalur yang mengarah sedikit menuju ke sebelah kiri. Setelah maju beberapa meter, dia berbelok lagi, dan akhirnya berhenti di depan sebuah pohon besar.
… Ini—
Tepat saat itu, muncullah suara dua langkah kaki, yang menginjak ranting-ranting kering.
"Hei— Sheltis, jangan pergi sendirian!"
Eyriey menyingkirkan dahan-dahan kering dan berjalan ke arahnya, sambil menggenggam tangan Yuto.
"Tunggu, Eyriey. Lebih baik kalau kau tidak mendekat ke sini."
Sheltis mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi untuk menghentikan mereka berdua mendekat lebih jauh.
"… …"
"Sh…Sheltis! Kenapa kau terus saja diam sejak—!"
Begitu sampai di belakang pemuda itu, Eyriey mengangkat kepala dan mengeluarkan jeritan tak bersuara.
"…Apa…Apa ini?"
Batang pohon besar berumur lebih dari seratus tahun itu membusuk menjadi berwarna ungu, dan pohon itu mati begitu saja.
Di ujung sebatang dahannya terdapat sehelai daun.
Semuanya berwarna ungu yang aneh, dan telah membusuk.
Tidak hanya itu, dedaunan yang jatuh, dahan-dahan kering dan bahkan tanahnya—semuanya mengeluarkan kabut ungu. Pembusukan itu terus mengikis pohon di sebelahnya.
"Kabut ungu…mungkinkah…pekerjaan 'itu'…?"
Eyriey yang memucat berdiri mematung di tempat.
"… …"
Sheltis berlutut untuk menyentuh tanahnya, yang perlahan terkorosi menjadi warna ungu—
"—Sheltis!"
Tapi Eyriey menariknya mundur dengan memegang pundaknya.
"Apa yang kau pikirkan! Kau tentunya tahu kalau kau akan terinfeksi begitu melakukan kontak dengan itu!"
"… Itu benar, maaf."
Dia menarik mundur tangannya dari tanah, dan menatapi pemandangan pembusukan itu. Jejak-jejak di tanah masih segar. 'Itu' mungkin muncul di sini sekitar satu jam yang lalu…tidak, mungkin lebih dekat. Mungkin saja beberapa menit yang lalu.
"Yuto, Eyriey. Kurasa lebih baik kita segera meninggalkan tempat ini. Dalam situasi semacam ini, akan lebih baik kita serahkan saja ini pada orang yang ahli."
Dia berdiri, dan mengahadap ke arah dua gadis di belakangnya.
"Ahli…Orang-orang dari Tenketsu Palace ?"
"Yup. Rakyat biasa yang menemukan 'itu' harus menginformasikan Tenketsu Palace secepatnya, dan menyingkir dari tempat kejadian. Eyriey juga tahu soal itu, 'kan?"
Itu adalah aturan yang semua orang di benua melayang ini tahu. Meski begitu, tidak ada hukuman apapun bagi orang yang tidak mau mematuhinya. Hanya saja, tidak ada satu pun yang bisa menjamin keamanan mereka kalau mereka memilih untuk melakukan itu.
"Baiklah, ayo pergi secepatnya!"
Mendorong kedua gadis yang ketakutan itu, Sheltis mengikuti mereka dari belakang dari jarak dekat.
…Tidak masalah melakukannya seperti ini, 'kan?
Saat ini, dia bukanlah bagian dari Tenketsu Palace , dan hanya seorang warga biasa. Jadi tidak perlu baginya untuk ikut campur dengan 'itu'. Dia hanya perlu meninggalkan tempat ini seperti yang lainnya.
"Ayo ke sini, kita seharusnya aman untuk sekarang."
Berjalan keluar dari dalam hutan ke padang rumput, alat pemanggang barbekyu berdiri di situ, membara dan berasap.
"Bagaimana dengan alat barbekyunya…?"
"Tidak apa-apa meninggalkannya di sini. Para penjaga dari Tenketsu Palace akan mengembalikannya. Terlebih lagi, barang apapun yang telah terkontaminasi harus dimurnikan juga— Ada apa, Eyriey?"
Eyriey berhenti mendadak dan memandangi Sheltis dengan tatapan kagum.
"Tidak, hanya saja Sheltis kadang-kadang gagah."
"…Jadi aku biasanya tidak bisa diandalkan…"
Detik berikutnya.
Kicauan burung-burung di sekitar mereka menghilang secara tiba-tiba.
—Dia datang!
"Yuto, Eyriey! Mundur sekarang!"
Di saat yang bersamaan Sheltis berteriak, sesuatu melesat keluar dari dalam hutan di dekat mereka.
Penampilan luarnya hitam keunguan, 'sesuatu' yang melampaui semua pengetahuan.
"Yuugenshu[4]? Tidak mungkin… Kenapa dia muncul di tempat yang begitu dekat dengan kota!"
Begitu melihat sesuatu yang muncul dari dalam hutan itu, Eyriey berteriak nyaring.
'Sesuatu' yang diselubungi kabut ungu gelap pekat, di mana dengan hanya sekali lihat dapat membuat orang merasa seakan seluruh energinya akan terkuras keluar.
Seseorang dapat melihat secara kasar anggota-anggota tubuhnya yang berotot dan cakar tajam yang mirip dengan cakar singa dari dalam kabut. Tapi mereka tidak tahu apakah sosok itu adalah orang, makhluk buas atau naga. Satu-satunya yang bisa mereka lihat dengan jelas adalah kilasan cahaya merah darah berbahaya yang muncul dari posisi yang sepertinya adalah mata di bagian kepalanya.
......zz......zzzz......zzzzzzzzzzz.............!
Si penyerang mirip kabut itu mendekat dengan kecepatan tinggi yang menakutkan. Semua tempat yang diinjaknya, tidak peduli apakah itu tanaman atau tanah, dengan cepatnya membusuk menjadi berwarna ungu. Makhluk itu adalah keberadan yang misterius. Bahkan tidak ada yang tahu apakah makhluk itu adalah makhluk hidup.
Tepat karena itulah, orang-orang menyebut mereka sebagai 'Yuugenshu'.
"Yuto, Eyriey, kalian berdua, cepat naik ke kendaraan itu!"
Yuugenshu itu tiba-tiba berhenti bergerak. Setelah itu—

Oe/ Dia =U xeph cley, Di shela teo phes kaon
<■ ■, ■ ...... ■ ■, ■ ■ ■ , ...... ■ ...... ■ ■> 

Sebuah suara aneh muncul melintasi padang rumput, sebuah suara yang membuat seseorang menghubungkannya dengan kata 'kutukan'.
Kabut ungu yang mengelilingi Yuugenshu memancarkan cahaya sewarna batu amethyst. Tidak lama kemudian, cahaya ini perlahan berubah menjadi sorotan cahaya yang lebih tipis dari helaian rambut.
—Mateki[5]?
"Eyriey, lari!'
"Eh?"
Sorotan-sorotan cahaya itu saling menjalin menjadi bentuk spiral yang rumit, dan lingkaran-lingkaran konsentris yang melebar ke luar. Eyriey tidak tahu harus berbuat apa, dan berdiri membeku di tempat meskipun lingkaran-lingkaran itu meluas ke arahnya.
Cahaya keunguan itu semakin menguat warnanya dan mulai bermaterialisasi—
"Tidak akan kubiarkan kau berhasil!"
Pada saat itu juga, Sheltis melemparkan tongkat listrik di tangannya.
*Cep*… Suara tombak yang menancap ke tanah. Tombak yang dilemparkan itu mengunci Yuugenshu ke tanah. Dampak dari serangan itu ternyata menyebabkan tubuh Yuugenshu terangkat ke udara untuk sesaat. Karena gangguan tersebut, cahaya yang menelan peralatan barbekyu dan hampir menyentuh Eyriey, berhenti melebar untuk sekejap.
Di saat yang sama, cahaya yang semula berwarna keunguan itu mulai bermaterialisasi.
...... zz ...... zzzz............
"Alat barbekyunya?"
Pemanggang tersebut, yang dengan mudah bertahan terhadap temperatur hampir seribu derajat, hancur dalam sekejap, bagaikan gundukan pasir yang runtuh. Saat menyaksikan hal itu, wajah Eyriey menjadi begitu pucat pasi.
—Mateki.
Istilah yang digunakan secara khusus untuk kemampuan unik Yuugenshu. Pembusukan, racun, kondisi koma dan gangguan mental—itu adalah energi yang mengikis dan mengkontaminasi semua makhluk hidup dan benda di benua melayang. Karena suara yang seperti mengutuki itu terdengar selama aktivasinya, kemampuan tersebut diberi nama 'Mateki'.
"Eyriey, ambil kesempatan ini untuk menyalakan mesinnya!"
"…Bukannya kau baru saja mengalahkannya?"
Di ujung penglihatan Eyriey, Yuugenshu tertancap di tanah oleh tombak itu.
"Sebuah serangan semacam itu tidak bisa mengalahkan makhluk itu—cepat!"
Sheltis menunjuk ke arah kendaraan tersebut sementara matanya masih tertuju pada monster berkabut tersebut. Yuugenshu bukanlah sesuatu yang dapat dikalahkan dengan mudah. Di masa lalu, mereka adalah sesuatu yang selalu dia hadapi, karena itulah dia lebih baik dari siapapun.
...... zz ...... zzzz ............ zzzzzzzzzzzz ................!
Ujung dari tombak listrik yang memaku Yuugenshu tersebut mulai melumer, dan mengalir ke tanah sebagai genangan logam leleh.
Yang tersisa adalah, monster kabut yang sama sekali tidak terluka.
Mata merah menyala itu menjadi semakin ganas, bersinar bagaikan batu merah-delima sewarna darah.

Oe/ Dia =U xeph cley, Di shela teo phes kaon
<■ ■, ■ ...... ■ ■, ■ ■ ■ , ...... ■ ...... ■ ■> 

Kabut ungu pekat berubah menjadi sekumpulan cahaya lagi, yang kemudian berubah bentuk menjadi jutaan sorot cahaya tipis. Benang-benang cahaya berkumpul dan membentuk sebuah cincin yang amat besar di tanah.
Di dalam area cahaya itu, berdirilah Yuto yang tidak bergerak, yang sedang melihat cahaya di bawah kakinya.
…Sudah terlambat. Area mateki itu terlalu luas, dan Yuto tidak bisa melarikan diri sendirian. Saat dia memikirkan semua itu, Sheltis telah bergegas menuju ke pusaran cahaya ungu gelap tersebut.
"Shel-nii."
"Maaf, Yuto. Mungkin akan sakit sedikit!"
Menyambar bahu dan pinggang Yuto yang tersenyum, Sheltis mengangkatnya dalam sekali tarikan napas.
"Eyriey, kupercayakan Yuto padamu!"
Bersamaan dengan itu, dia melemparkan Yuto kepada Eyriey dengan segenap kekuatannya.
Yuto membentuk jalur parabola di udara, dan keluar dari area mateki.
—Itu sudah cukup.
Dan kemudian, cahaya bayangan itu termaterialisasi.
"Sheltis, kau juga—!"
Teriakan Eyriey tertelan oleh suara memekakkan telinga dari tanah yang terbelah.
*Boom*. Dengan suara yang mirip dengan magma yang mendidih, tanah berumput itu memutih dalam sekejap. Tanah terbelah, kemudian meleleh menjadi sesuatu yang lengket. Tidak peduli apakah itu makhluk hidup atau bukan, mateki dari Yuugenshu akan menyebabkan segala sesuatu di Orbie Clar membusuk dan hancur. Tidak peduli seberapa kuat orang tersebut, begitu dia terkena mateki—
Seperti itulah, si remaja laki-laki tersebut yang mempertaruhkan segalanya demi menyelamatkan Yuto, tidak lagi punya cara untuk lari.
Cahaya ungu gelap yang terang benderang itu membuat mereka tidak dapat melihat secara langsung. Cahaya beracun yang merusakkan tubuh manusia dan menghancurkan setiap sel di dalamnya, telah menelan seluruh tubuh remaja laki-laki tersebut.
"…Sheltis—!"
Wajah Eyriey pucat luar biasa.
Tidak ada harapan bagi Sheltis. Tidak ada seorang pun yang selamat setelah ditelan sorot cahaya beracun itu.
"… …Bagaimana… …Bagaimana bisa ini terjadi…"
Situasi ini menyebabkan si gadis remaja terjatuh ke tanah. Monster kabut itu kemudian mengunci pandangannya pada gadis tersebut.
Tidak perlu menggunakan matekinya. Tanah yang hancur oleh mateki tersebut telah meluar ke arah gadis itu dengan kecepatan yang luar biasa.
Pada tubuh kabut tersebut, memanjang sebuah cakar dengan pembuluh darah yang berdenyut-denyut—
"Jangan pernah berpikir untuk menyakiti mereka, monster."
Tepat sebelum cakar tersebut menyentuh Eyriey, makhluk itu berhenti.
Remaja laki-laki berambut merah sewarna teh itu mencengkeram cakar Yuugenshu dengan tangan kosong.
"… …Sheltis?"
Eyriey mengucapkannya dengan suara gemetar. Dia baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak dapat dipercaya. Level keterkejutannya sama seperti dia telah melihat seseorang yang bangkit dari kematian.
Mateki Yuugenshu yang menghancurkan semua pohon, tanah dan makhluk-makhluk hidup dalam jangkauannya—meskipun terpapar energi semacam itu, Sheltis berdiri di sana dalam keadaan baik-baik saja, dan melindungi dirinya di depan mata kepalanya.
"Eyriey, kau tidak apa-apa?"
"Eh… …Tapi… Tapi… Sheltis, kau…?"
"Aku tidak takut terhadap mateki Yuugenshu."
"—Eh?"
Sheltis mengangkat lengan kanannya di depan Eyriey, dan—
Dia dengan cerdiknya menyerang tubuh kabut monster tersebut, yang penuh dengan racun mematikan.
"———— Uuuuuuuuuuu!"
Yuugenshu itu mengeluakan lolongan kesakitan, dan melompat mundur.
Benar-benar sebuah pemandangan yang aneh. sesosok monster yang tidak terluka bahkan setelah ditombak oleh tombak logam, ternyata tubuh kabutnya menghilang lebih dari setengah jumlah awalnya, setelah mendapat satu serangan tinju kosong si remaja lelaki.
"… …Kok bisa? Kenapa efektif?"
"Aku telah menyerang intinya sementara perhatiannya teralih. Sayang sekali aku tidak punya senjata. Kalau tidak, aku sudah menghancurkannya dalam satu serangan."
Pada tubuh Yuugenshu itu, terletak di tengah-tengah tubuh kabutnya, terdapat sesuatu yang mirip inti dari batu amethyst. Ukurannya bervariasi, tapi kebanyakan ukurannya sama dengan kepalan tangan manusia. Sesosok Yuugenshu akan menghilang dengan hancurnya intinya.

Oe/ Dia =U xeph cley, Di shela teo phes kaon
<■ ■, ■ ...... ■ ■, ■ ■ ■ , ...... ■ ...... ■ ■>

Mateki ketiga tidak lagi berbentuk penghalang, tapi sebuah sinar laser setelah mengumpulkan dan mengkompresi cahaya tersebut. Menghindari cahaya ungu kuat itu yang sudah jelas lebih kuat daripada yang sebelum-sebelumnya, pria muda itu bergegas menuju Yuugenshu.
UOOOOOOOOOOOOOOO!
Yuugenshu tersebut mengeluarkan raungan aneh yang terdengar seakan itu dapat membuat telinga mereka meledak, dan mengangkat anggota tubuh bagian depannya. Pada saat yang sama, Sheltis membidik Yuugenshu tersebut, dan melemparkan tinjunya.
Bayangan dari kedua tubuh tersebut saling melewati, dan berikutnya—
*Crack...... kura....... ra..........*
Bunyi bijih logam keras yang pecah berkeping-keping.
Suara yang dingin dan jernih, dengan sedikit kesan sedih, bergema di padang rumput tersebut.

Inti dari Yuugenshu tersebut hancur, menghentikan pergerakannya, dan perlahan menguap setelah berubah menjadi kabut.
"Sheltis, kau tidak apa-apa!"
"Hmm? Ahh, aku sedikit terluka oleh cakarnya. Hanya luka gores kecil—"
"Bukan itu yang kubicarakan!"
Eyriey menunjuk tempat di mana Yuugenshu menghilang. Di tempat itu, semua tanaman yang tumbuh di situ telah menjadi layu, dan tanahnya berubah menjadi ungu karena pembusukan.
"Kau telah melakukan kontak fisik dengan Yuugenshu…dan membuat tubuhmu terkena mateki demi melindungiku! Kita harus ke pusat pemurnian di Tenketsu Palace sekarang juga! Kalau kita tidak cepat-cepat, akan terlambat kalau kontaminasinya menyebar!"
"Tidak apa-apa, tidak perlu pemurnian. Yang penting Eyriey dan Yuto baik-baik saja."
"Dasar bodoh, apa yang sedang kau bicarakan—"
"Tidak, aku sudah mengatakannya sebelumnya. Mateki Yuugenshu tidak berpengaruh pada tubuhku."
Pada bahu yang tercakar oleh Yuugenshu, kulitnya sedikit berwarna kemerahan, tapi selain dari itu, tidak ada satu hal pun yang menandakan bahwa pemuda tersebut telah terkontaminasi.
"Tubuhmu… … tidak mungkin, aku tidak pernah mendengar hal semacam itu. Aku memang mendengar kalau kau memiliki kekuatan yang mirip dengan Queen dan Priestess dari Tenketsu Palace , maka kau akan dapat menolak mateki."
"Aku tidak termasuk orang-orang itu, tapi aku benar-benar baik saja. Jangan khawatir."
Menekan bahunya yang sedikit berdarah, Sheltis memberikan Eyriey seulas senyuman.
Senyuman itu tidak membuat gadis itu merasa tenang. Malahan, karena itulah Eyriey mencemaskannya.
"…. …Tapi."
"Aku benar-benar bersyukur kalian berdua selamat. Tidak ada hal lain yang lebih penting daripada itu."
Itu benar. Itu adalah hal yang benar-benar pemuda itu rasakan.
Karena dia berhasil menyelamatkan teman-temannya di sektor pemukiman.
—Ymy. Mungkin, kembali ke sisimu hanyalah sebuah mimpi yang tidak mungkin tercapai.
—Akan tetapi, aku baik-baik saja tinggal di sini, jadi setidaknya, kau tidak perlu mencemaskanku di Tenketsu Palace .
"Umm…"
Eyriey bertanya dengan nada bicara yang jelas terdengar ragu-ragu,
"Aku tidak pernah berinisiatif untuk menanyakanmu soal itu… …mungkinkah, Sheltis pernah melawan Yuugenshu sebelumnya?"
"Yah… …itu bukan topik pembicaraan yang menyenangkan, kau tahu."
Menghindari tatapan mata Eyriey yang menandakan bahwa dia ingin mendesak hal ini lebih jauh, Sheltis mulai berjalan.
"Baiklah, bagaimanapun, ayo kita pulang dulu. Akan jadi berbahaya kalau terus berada di sini."




[1]  Istilah populernya "Trap".
[2]  Tenketsu Palace Dapat diartikan secara literal sebagai "istana Pengikat Langit"
[3]  Kalau menurut manganya, bisa dibaca "Yumi". Tapi terjemahan LN ini aq lebih milih ngikutin versi raw novelnya, aja :3
[4] Secara kasar diartikan sebagai "Makhluk Bayangan"
[5] Mateki secara literal dapat diartikan sebagai "Seruling Iblis"

Hyouketsu Kyoukai no Eden Jilid 1 Bab 1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.