Minggu, 10 Februari 2019

Goblin Slayer Jilid 5 Bab 4 LN Bahasa Indonesia



MEMBANGUN KEMBALI
(Translater : Zerard)

“Di sana sarang kecil mereka.”
Hawa dingin begitu menggigit, namun itu tidak memudarkan kecantikan wanita muda ini. Dia terlihat seperti seorang anak gadis dari keluarga bangsawan, seperti seseorang yang akan lebih terlihat elegan di dalam ruang dansa di bawah langit abu-abu pegunungan utara.
Rambut bergelombang berwarna madunya di ikat menjadi dua kepang, dan parasnya memiliki tatapan bangga. Ukuran dari dadanya tampak terlihat jelas walaupun tertutup dengan armor dada yang di pakainya, pinggulnya begitu kecil sehingga membuatnya tidak memerlukan sebuah korset.
Rapier yang menggantung pada pinggulnya merupakan senjata yang mengagumkan; senjata itu memiliki kesan keindahan yang sama seperti pemiliknya.
Pada leher gadis itu menggantung sebuah kalung peringkat porcelain yang masih baru, memantulkan cahaya matahari dan berkilau di antara salju-salju.
Dia adalah seorang petualang, dia dan empat rekannya telah menghabiskan waktu beberapa hari berjalan menuju sisi pegunungan salju ini. Sekarang sebuah lubang kecil busuk menganga tepat di depan mereka. Melihat sekilas pada tumpukan kotoran yang berada di samping gua membuanya menjadi jelas bahwa gua ini merupakan sebuah sarang.
Dan makhluk apakah yang tinggal pada sarang ini? Yang akan bertarung dengan pahlawan asal jadi ini, makhluk apa lagi kalau tidak…
Goblin.
Hati Noble Fencer begitu bergairah ketika memikirkan pertarungan yang akan mereka jalani.
Sekarang, di sini, dia tidak memiliki keluarga dan kekayaan, tidak ada kekuatan ataupun wewenang. Hanya kemampuannya sendiri dan temannya yang akan membantunya menyelesaikan quest ini. Sebuah petualangan yang sesungguhnya.
Untuk quest pertama mereka, mereka akan menghabisi para goblin yang menyerang desa di utara ini. Mereka akan melakukannya jauh lebih cepat dari pada orang lain.
“Baiklah! Apa kalian siap?” Dia meletakkan tangan kurusnya pada pinggulnya dengan gerakan bangga dan membusungkan dadanya, kemudian dia menunjuk pada sarang dengan pedangnya. “Ayo kita buat goblin-goblin itu kelaparan dan memaksanya keluar!”
Itu sudah berminggu-minggu yang lalu.
Merupakan tindakan yang bagus bahwa mereka telah menghalau terowongan goblin dengan membangun sebuah pelindung di sekitar jalan keluarnya. Dan mereka tidak salah untuk membangun kemah dan membuat api untuk menghangatkan diri, dan menyiapkan penyergapan.
“Para Goblin menyertang desa karena persediaan mereka menipis.” Noble Fencer berkata, penuh percaya diri. “Mereka makhluk kecil bodo. Beberapa hari tanpa makanan dan mereka akan tidak mempunyai pilihan selain keluar dari sarang mereka.”
Dan memang benar, itulah yang terjadi. Mereka bertemu dengan salah satu grup goblin yang berusaha menembus dinding pelindung dan terbunuh oleh mereka. Beberapa hari kemudian, sebuah grup monster kelaparan lainnya muncul, dan mereka juga, terbantai. Tidak salah jika mengatakan bahwa semua berjalan sesuai rencana. Mereka akan menyelesaikan quest ini dengan bahaya dan upaya yang minimal.
Namun itu masihlah sebuah mimpi bagi para petualang hijau ini, layaknya sebuah mimpi mereka menjadi peringkat Platinum. Jika semua semudah yang mereka bayangkan,  maka pembasmian goblin tidak bisa di sebut sebagai petualangan.
Tempat ini merupakan Negara utara, sebuah tempat yang dingin—bahkan terdapat bongkahan es di dekatnya—jauh dari wilayah dari mereka yang dapat berbahasa. Hembusan napas seseorang dapat membeku dalam sekejap setelah meninggalkan mulutnya, membakar kulit, dan alis mata yang membeku membuat suara setiap kali mereka berkedip. Perlengkapan menjadi berat dengan bertambahnya dingin, stamina terkuras hari demi hari tanpa hampir adanya istirahat.
Terdapat dua wanita lainnya dalam party lima orang ini termasuk Noble Fencer, walaupun tentunya para pria menjaga jarak mereka. Mereka makan untuk mencoba mengalihkan diri mereka sendiri dan menjga tenaga mereka. Hanya itulah yang dapat mereka lakukan.
Namun muatan mereka sangatlah berat, karena muatan mereka juga berisi peralatan, dan perlengkapan untuk cuaca dingin. Masing-masing dari mereka membawa sedikit sekali persediaan pangan. Salah satu dari anggota mereka mengetahui cara menjadi pemburu, namun tidak ada jaminan bagi mereka untuk bisa mendapatkan makanan untuk lima orang.
Panah juga sangat terbatas. Mereka bisa saja mengambil panah yang sudah mereka gunakan, akan tetapi…
Pertama dan yang terpenting, mereka telah kehabisan air.
Grup mereka telah membuat kesalahan dengan memakan es dan salju, yang memberikan mereka diare dan menguras tenaga mereka lebih jauh.
Mereka tidaklah bodoh; mereka mengetahui bahwa mereka harus melelehkannya di atas api, walaupun itu merepotkan.
Yang mengartikan, bahwa mereka telah kehabisan bahan bakar.
Mereka memiliki sedikit persediaan pangan, tidak ada air, dan tidak ada cara untuk menghangatkan diri. Merupakan akhir memalukan bagi rencana Noble Fencer yang tampaknya tidak memiliki celah.
Akan tetapi, akan sangatlah konyol untuk menyerah sekarang. Mereka hanya berhadapan dengan goblin—monster paling lemah. Yang sangat sempurna untuk pemula pada petualangan pertama mereka. Untuk kembali pulang tanpa berhadapan dengan makhluk ini akan sangat memalukan. Mereka akan selamanya di cap sebagai petualang yang melarikan diri dari goblin…
Apapun itu, seseorang harus turun dari gunung, mendapatkan suplai daru kota, dan kembali.
Para petualang saling bertukar pandang, meringkuk di dalam tenda mereka yang sempit, dan semua berfokus pada satu hal. Khususnya, Noble Fencer, yang merinding kedinginan, menggunakan pedang silvernya sebagai tongkat untuk meyokong dirinya sendiri, namun walaupun begitu, dia tetap membalas tatapan para rekannya.
Tidak ada yang ingin menyalahkan diri mereka sendiri ketika sesuatu berjalan tidak sesuai rencana.
“Kamu pergi,” rhea scout mereka berkata, dengan tajam hingga cukup menusuk hati. Walaupun dia adalah yang pertaman menyetujui taktik kelaparan yang di usulkan oleh Noble Fencer, karena menurutnya itu sangat menarik. “Sekarang, cuma aku yang melakukan semua pekerjaan di sini. Pergi ambilkan itu! Carikan kita makan malam!” Aku sudah nggak tahan lagi, dia bergumam.
“…Dia benar,” wizard mereka berkata, mengangguk serius dari balik jubah tebalnya. “Kamu tadu tidak? Dari awal aku sudah tidak setuju dengan rencana ini. Aku bahkan tidak punya kesempatan untuk menggunakan mantraku.”
“Yeah, Aku setuju.” Adalah high elf warrior yang berikutnya, menguap seraya dia berbicara. “Aku sudah mulai capek dengan ini semua.”
Jika Noble Fencer tidak salah, tidak satupun dari mereka yang berpikir bahwa rencana membuat goblin kelaparan adalah rencana yang bagus pada awalnya. Namun ketika dia menjelaskan bahwa ini adalah cara yang paling aman, mereka semua menyetujuinya.
Terlebih lagi, Noble Fencer mengira bahwa dia dan Half Elf Warrior telah menjadi dekat selama beberapa hari mereka bersama. Dia mengarahkan tatapannya pada High Elf Warrior, merasa di khianati, dan memberikan dengusan tidak menyukai.
“Tapi penderitaan kita akan sia-sia juga nantinya,” sang half elf menambahkan. “Menurutmu bagaimana cebol?”
“Eh, Aku tidak terlalu peduli siapapun yang pergi.” Sang dwarf monk memainkan simbol akan Dewa Pengetahuan, tampaknya mencoba mencari jawaban sesingkat mungkin. “Tapi kaum dwarf dan rhea mempunyai kaki yang pendek. Dan half elf sangat kurus. Aku rasa manusia pilihan terbaik kita di sini.” Dia melihat pada Noble Fencer dengan tatapan licik di matanya, yang hampir tidak terlihat di karenakan rambut wajahnya.
Warrior lebih cocok untuk pergi sendiri di bandingkan pembaca mantra. Mungkin akan lebih baik jika dia meminta Noble Fencer secara langsung.
“…Baiklah. Aku lakukan.” Noble Fencer, yang diam mendengarkan hingga momen itu, menjawab ketus. “Sudah jelas itu pilihan paling logis.”
Ya, itu dia. Dia akan pergi karena itu merupakan pilihan yang logis. Bukan karena rencananya telah gagal. Atau itulah yang dia pikirkan seraya dia berjalan menuruni pegunungan yang panjang.
Bertumpu pada pedang warisannya sebagai tongkat, dia melepas armor dadanya dan memasukkannya ke dalam tasnya, tidak dapat lagi menahan beban dan dingin. Dia menggigit bibirnya, merasa malu di karenakan perlengkapan petualangannya telah menjadi tidak lebih dari sekedar beban tambahan.
Terlebih lagi adalah sambutan yang menunggunya di desa.
“Ah! Master petualang, kamu kembali! Apakah anda berhasil?”
“Yah, uh…”
“Apakah ada dari kalian yang terluka?”
“Belum… Maksudku, kami belum…bertarung melawan mereka…”
“Astaga…”
“Tapi…apa bisa….apa bisa kalian membagi sedikit makanan kalian dengan kami?”
Jawabannya adalah tidak.
Seseorangnya tentunya dapat membayangkan bagaimana perasaan kepala desa dan penduduk desa. Para petualang yang telah mereka panggil melalui jaringan quest telah pergi selama berminggu-minggu akan tetapi tidak menyelesaikan apapun! Dan sekarang mereka menginginkan makanan, bahan bakar, dan air. Jika desa ini memiliki persediaan pangan untuk mensuplai lima orang muda berarmor, apakah mereka perlu memanggil para petualang? Persediaan mereka bahkan hampir tidak cukup untuk melewati  musim dingin. Terlebih lagi untuk membantu party petualangan ini akan terlalu berlebihan.
Merupakan sebuah keberuntungan Noble Fencer berhasil membawa sedikit persediaan pangan dari mereka.
“…”
Dengan suplai tambahan ini yang membuat perjalanan kembalinya semakin lambat dan semakin sulit merupakan sebuah ironi yang kejam. Dengan setiap langkah yang di ambilnya melewati salju, penyesalan mengisi hatinya layaknya es yang masuk ke dalam sepatu botnya.
Apakah seharusnya dia melakukan persiapan yang lebih sebelumnya? Mengundang lebih banyak petualang untuk menjadi bagian dari partynya? Atau mungkin membatalkan sementara taktiknya di banding terus memaksakannya…?
“Tidak! Tidak! Tidak ada yang akan lari dari goblin!”
Dia membiarkan emosinya yang berbicara, dan tidak ada yang membalasnya.
Pada saat ini dia telah di selimuti oleh kegelapan malam, malam yang semakin menggelapkan “kegelapan putih” akan salju yang mencambuk. Dia sudah merasa lelah ketika dia memulai perjalanan ini dengan bebannya yang berat, dan semua yang terjadi terasa kejam baginya.
“Kami tidak akan menyerah….pada goblin…”
Dia menghela napasnya pada tangannya yang mati rasa, berusaha untuk mendirikan tenda. Hanya untuk mempunyai sesuatu, apapun itu, di antara dia dan salju dan angin akan sangat membuat perbedaan….
“Dingin… Dingin sekali…”
Udara dingin malam sangatlah kejam. Memeluk dirinya sendiri dan merinding. Noble Fencer meraba-raba beberapa kayu bakar.
“Tonitrus,”  dia bergumam, melantunkan mantra petir. Kilatan elektrik kecil muncul dari ujung jarinya dan membakar kayu bakar.
Noble Fencer adalah salah satu petarung garis depan langka yang dapat menggunakan sihir petir, yang dia pelajari karena itu merupakan tradisi keluarganya. Dan apa salahnya menggunakan petir kecilnya di sini? Dia dapat menggunakannya sekali atau dua kali dalam sehari; merupakan hal yang sudah sewajarnya untuk menyalakan apinya untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Namun merupakan suatu kemewahan, untuk menggunakan kayu bakar yang telah di berikan penduduk desa kepadanya.
“………”
Dia memeluk lututnya, mencoba meringkuk menjadi sebuah bola untuk membuatnya melupakan suara lolongan angin dan salju.
Hingga beberapa hari yang lalu, dia memiliki tema.
Sekarang, dia sendirian.
Rekannya berada beberapa jam lagi di depannya. Mereka sedang menunggu dirinya. Mungkin.
Namun Noble Fencer tidak memiliki tenaga lagi untuk mencapai mereka.
Aku lelah sekali…
Hanya itulah yang dapat di pikirkannya.
Dia melonggarkan ikat pinggangnya dan ikatan pada armornya. Adalah sesuatu yang harus di lakukan yang pernah di dengarnya. Kehangatan api mulai menjalar pada tubuhnya, membuat tubuhnya merasa lebih baik.
Dia telah berpikir untuk membasmi goblin dengan cepat dan mudah. Dalam sekejap mata, dia akan naik tingkatan hingga Gold atau bahkan Platinum. Dia akan membuat namanya sendiri, tidak mengandalkan kekuatan orang tuanya. Namun betapa sulitnya sebuah kenyataan!
Aku rasa…mungkin ini sudah seharusnya.
Hal-hal seperti ketenaran dan kekayaan tidak datang dalam semalam. Hal-hal itu terakumulasi dalam beberapa decade bahkan abad. Apakah dia begitu mempercayai bahwa, dia sendiri dan tanpa bantuan, dapat mendapatkan semua pencapaian itu secara sekaligus?
Aku harus minta maaf.
Kepada temannya atau kepada keluarganya? Dia tidak yakin, namun rasa malu yang dia rasakan seraya menutup matanya sangatlah nyata.
Dia mulai melamum, kesadarannya semakin menjauh. Dengan rasa lelah pada tulangnya, akan begitu inginnya dia untuk berisitrahat.
Itulah mengapa dia tidak menyadarinya dengan segera apa yang di dengarnya.
Splat. Suara akan sesuatu yang lembab terinjak.
Entah bagaimana ujung dari tenda telah terangkat—apakah angin meniupnya?—dan sesuatu mendarat tepat di samping api.
Noble Fencer duduk di tempat dia sebelumnya berbaring dan melihat benda itu dengan terkantuk, bertanya. “Apa ini…ini…”
Adalah sebuah telinga.
Bukan telinga manusia, melainkan telingan akan seorang half elf, dengan kejam telah di potong.
“Ee—eeyikes!”
Noble Fencer terjatuh ke belakang. Masih berteriak, dia merayap ke belakang.
Pada saat itu, terdengar suara tawa sesuatu yang mengerikan; tawa itu tampaknya telah mengelilingi tenda.
Tepat pada saat itu,  sesuatu itu menggenggam tenda dan menariknya.
“Ahh—oh! Apa ini?! Kenapa kamu--?!”
Noble Fencer menggeliat di bawah tenda yang rubuh, setengah marah. Api unggun menyebar di dalam tenda, menciptakan begitu banyak asap yang mengumpal, menyebabkan matanya berair dan terbatuk-batuk.
Ketika Noble Fencer pada akhirnya berhasil keluar dari tendanya, dia sudah tidak telihat seperti dirinya yang sebelumnya. Rambut emasnya berantakan, mata dan hidungnya berair dan beringus, dan terdapat abu pada bokongnya.
“Ee-eek! G-goblin…?!”
Dia berteriak dan terhenyak melihat pemandangan akan makhluk kecil menjijikkan, merayap menjauh dari suara tawa hina mereka. Noble Fencer telah benar-benar di kepung oleh para goblin di kegelapan malam putih yang mencambuk, mereka membawa pentungan dan senjata batu dan hanya menggunakan kulit binatang sebagai pakaian.
Akan tetapi, bukanlah penampilan para goblin yang membuat Noble Fencer ketakutan. Adalah apa yang mereka genggam di tangan mereka : beberapa kepala yang tidak asing akan seorang rhea, dwarf, dan manusia.
Di bagian yang lebih jauh, seorang half elf sedang di seret tidak berdaya melewati salju. Dia meninggalkan sebuah garis merah layaknya sebuah goresan kuas pada sebuah kanvas.
“Oh… Tidak…”
Tidak, tidak. Noble Fencer menggelengkan kepalanya seperti anak kecil yang manja, gerakannya membuat rambutnya berayun.
Apakan para goblin menunggu dirinya untuk pergi menjauh sebelum melakukan penyerangan?
Apakah rekan-rekannya telah memutuskan untuk menyerang gua di saat Noble Fencer tidak ada di sana, yang mengakibatkan semua ini?
Noble Fencer menggapai pedangnya dengan tangan yang tidak dapat berhenti bergetar, berusaha menariknya dari sarung pedangnya—
“Ke-kenapa? Kenapa tidak bisa keluar…?!”
Dia telah membuat kesalahan fatal. Apa yang terjadi pikirnya? Pedangnya telah basah oleh salju, kemudian dia telah meninggalkannya di samping api—dan sekarang pedang itu telah terpapar dingin kembali. Salju itu telah meleleh masuk ke dalam sarung pedang hingga sampai pada gagangnya. Apa lagi yang akan terjadi jika bukan salju itu akan membeku kembali?
Beberapa lusin goblin mendekati petarung yang ketakutan dari segala arah. Akan tetapi, gadis itu, menggigit bibirnya keras. Memang benar dia tidak dapat menarik pedangnya, namun dia mulai melantunkan sebuah mantra, udara yang dingin membuat lidahnya berat.
“Tonitrus…oriens…!”
“grorra!!”
“Hrr—ghh?!”
Tentu saja, para goblin tidaklah cukup baik hati untuk membiarkan Noble Fencer menyelesaikan mantranya. Noble Fencer telah di pukul di kepalanya dengan sebuah batu; pukulan itu membuat Noble Fencer berlutut.
“Simpati” goblin hanya memiliki satu tujuan: untuk menghujat mangsa mereka yang menangis ketakutan.
Hidungnya berbentuk indah telah hancur, darah yang menetes mewarnai lahan salju.
“GROOOOUR!!”
“Ti-tidak! Hentikan—hentikan, ku mohon! Ah! H-hrggh! Tidak, tolong--!”
Dia berteriak seraya mereka menjambak rambutnya,  menjerit ketika mereka mengambil pedangnya.
Hal terakhir yang dia lihat adalah kakinya sendiri yang menendang udara. Noble Fencer telah tertimbun oleh banyak goblin yang melebihi jumlah jari kedua tangannya.
Jadi siapa sebenarnya telah di buat kelaparan di sini? Apakah ini yang mereka dapatkan karena telah menantang goblin pada wilayah kekuasaan mereka? Atau di karenakan kegagalan dalam mempersiapkan persediaan yang cukup untuk menjalankan strategi mereka?
Apapun itu, tentunya kita tidak perlu menjelaskan lebih jauh lagi perihal apa yang akan terjadi padanya.
Itulah akhir dari petualang-petualang itu.
*****
Mata Noble Fencer terbuka mendengar denture percikan api yang terbang. Dia merasakan kehangatan yang samar,namun rasa sakit pada lehernya—sebuah sensai terbakar—memberitahukannya bahwa ini adalah realita.
Apa yang terjadi? Apa yang telah menimpanya? Arus ingatan melintas di kepalanya.
“…”
Noble Fencer mendorong selimutnya dan berdiri. Tampaknya dia sedang berada pada sebuah ranjang.
Ketika dia melihat sekitarannya, dia menyadari bahwa dia berada pada sebuah bangunan kayu. Sebuah aroma menggelitik hidungnya—anggur? Merupakan sebuah ketidak-beruntungan, indra penciumannya tidak terputus setelah dirinya terkubur di antara tumpukan kotoran-kotoran.
Dia berada di lantai kedua pada sebuah penginapan. Di dalam salah satu kamar tamu, dia berpikir. Jika dia tidak berhalusinasi.
Pada saat yang sama, dia dapat melihat sesosok manusia yang berjongkok di salah satu sudut gelap ruangan, yang hanya di sinari dengan api.
Sosok itu menggunakan helm yang terlihat murahan dan armor yang kotor. Pedang yang di bawanya memiliki panjang yang aneh dan sebuah perisai bundar kecil di sandarkan pada dinding di dekatnya. Sosok itu tidak terlihat menakjubkan—terkecuali kalung peringkat silver yang berada di sekitar lehernya.
Suara Noble Fencer telah berhenti bergetar. “Goblin,” Dia berkata. Dia berbicara dengan berbisik.
“Ya.” Pria itu menjawab dengan bisikan yang sama, suaranya pelan dan blak-blakan. “Goblin.”
“…Begitu,” Noble Fencer berkata, kemudian kembali berbaring pada ranjangnya. Dia menutup matanya, melihat ke dalam kegelapan di balik kelopak matanya, dan kemudian sedikit membukanya. “Bagaimana dengan yang lainnya?” dia bertanya setelah beberapa detik.
“Semua mati,” datanglah jawaban yang datar. Keterusterangannya begitu dingin namun juga penuh perhatian, dengan hanya memberikan fakta.
“Be… Begitu…”
Noble Fencer berpikir sejenak. Dia merasa kagum akan riak yang melintasi hatinya. Dia mengira dirinya akan menangis, namun jiwanya saat ini begitu tenang.
“Terima kasih sudah menolongku.” Jeda. “Apa…apa sudah berakhir?”
“Nggak.” Lantai kayu berdecit seraya pria itu berdiri. Dia mengikat perisainya pada lengan kirinya, memerika helmnya, kemudian mendekati Noble Fencer dengan langkah sigap, tidak pedulu. “Ada beberapa hal yang aku ingin tanya darimu.”
“…”
“Beritahu saja aku apa yang kamu bisa.”
“…”
“Kamu keberatan?”
“…”
Mungkin menganggap diamnya Noble Fencer sebagai tanda persetujuannya, pria aneh itu melanjutkan : Berapa banyak goblin yang dia temui? Bagaimana latar sarang mereka? Tipe goblin apa saja yang ada di sana? Di mana dia bertemu dengan mereka?
Noble Fencer menjawab tanpa emosi.
Aku tidak tahu. Aku tidak tahu. Mereka semua terlihat sama. Di dekat gua. Sebelah utara.
Pria itu hanya mendegus, “Hmm,” tidak menambahkan apapun lagi.
Momen percakapan mereka di iringi dengan denturan api pada perapian.
Pria itu berdiri dan mengambil sebuah tusukan di tangannya, menusuk-nusuk api. Pada akhirnya, dia berbicara, masih menghadap perapian da dengan nada pelan seperti sebelumnya.
“Apa yang sudah kamu lakukan?”
“…Berusaha membuat mereka kelaparan,” Noble Fencer berkata, ujung bibirnya tertarik. Merupakan sebuah gerakan kecil, begitu kecil sehingga tidak ada yang menyadarinya terkecuali dirinya sendiri. Namun dia mengira dirinya sendiri sedang tersenyum. “Aku yakin sekali itu akan berhasil.”
“Aku mengerti.” Noble Fencer mengangguk mendengar jawaban datar ini.
Tutup jalan keluar gua, tunggu hingga para goblin mulai kelaparan, kemudian habisi mereka. Dia dan rekan-rekannya dapat melakukannya bersama,cepat dan tepat. Mendapatkan beberapa pengalaman, meningkatkan peringkat mereka. Dan kemudian… Dan kemudian…
“Aku yakin sekali….”
“Aku mengerti.” Pria itu mengulangi dan mengangguk. Dia kembali menusuk-nusuk api, kemudian meletakan tusukannya. Lantai berdecit seraya dia berdiri. “Ya, aku mengerti bagaimana itu bisa terjadi.”
Noble Fencer melihatnya dengan melamun. Helm itu telah menghalangi dirinya untuk bisa melihat wajah pria itu. Tampaknya kalimat itu merupakan kalimat pertama dari pria itu katakan yang telah menenangkannya.
Mungkin pria itu telah kehilangan rasa penasarannya pada Noble Fencer, karena pria itu berjalan menuju pintu. Sebelum pria itu sampai ke sana, Noble Fencer memanggilnya.
“Hei, tunggu!”
“Apa?”
Sesuatu melintas pada pikiran Noble Fencer, sebuah gambaran samar dari suatu tempat jauh di dalam ingatannya.
Armor kotor itu, helm murahan itu. Pedang aneh dan perisai bundar itu. Seseorang yang keras kepala dan aneh, dengan status Silver di sekitar lehernya. Seseorang yang membunuh goblin. Semua hanya gambaran samar.
Namun itu semua mengingatkannya pada sebuah sajak lagu yang telah dia dengar dari suatu tempat. Merupakan ingatan yang dulu, dulu sekali, ketika dia dan teman-temannya sedang tertawa bersama di kota.
Seorang petualng yang di kenal sebagai petualang paling baik hati di perbatasan.
“Apa kamu…Goblin Slayer?”
“…..”
Dia tidak menjawab dengan segera; terdapat jeda keheningan.
Kemudian, tanpa berputar, dia berkata, “Ya. Beberapa orang menyebutku seperti itu.”
Suaranya, seperti biasanya, tidak menunjukkan emosi sama sekali, dan dengan itu, dia pergi meninggalkan ruangan.
Terdengar suara pintu yang tertutup. Tusukan yang tergeletak di lantai adalah sisa bukti dirinya pernah berada di sana.
Noble Fencer menatap langit-langit. Seseorang telah membersihkan tubuh dan pakaiannya, dan menukarkan pakaiannya dengan pakaian sederhana. Dia meletakkan tangannya pada dadanya, yang kembang-kempis seirama dengan napasnya. Apakah pria itu yang telah membersihkan tubuhnya? Sejujurnya, Noble Fencer tidak peduli.
Tidak ada yang tersisa dari dirinya sekarang. Tidak ada sama sekali.
Dia telah meninggalkan rumahnya, temannya telah tiada, dan keperawanannya telah di curi. Dia tidak memiliki uang dan tidak ada perlengkapannya.
Itu tidak benar.
Dia menemukan sesuatu di sudut ruangan, sudut di mana pria itu—Goblin Slayer—sebelumnya duduk. Armor kulit, hancur dan bolong, dan kantung peralatannya, yang sekarang telah kotor.
Rasa sakit pada lehernya timbul kembali.
“Goblin Slayer… Seseorang yang membunuh goblin.”
Tampaknya para goblin tidak menyadari bahwa Noble Fencer memiliki lubang rahasia yang terjahir di bawah kantung peralatannya.
Pada umumnya, ketika seseorang menggunakan rapier, seseorang tersebut seharusnya membawa sesuatu pada lengan sebelahnya yang dapat membantunya untuk melakukan pertahanan.
Yang Noble Fencer sembunyikan pada dasar kantung peralatannya adalah permata kedua dari rumah keluarganya. Adalah belati aluminum yang di tempat dengan palu petir di atas sebuah permata merah.
*****
“Bagaimana keadaan dia?”
“Sadar.”
Seraya Goblin Slayer menuruni tangga, Priestess bertanya kepadanya dengan nada khawatir, namun Goblin Slayer membalas acuh.
Tidak seperti diskusi mereka sebelumnya, tidak terdapat penduduk desa di penginapan ini sekarang.
Malam telah larut di saat Goblin Slayer dan yang lainnya kembali. Jika para goblin telah mati semua, maka tidaklah perlu bagi para penduduk desa untuk menjalani malam dengan rasa takut dan penuh siaga. Hari-hari mereka tersiksa oleh kegelapan, dingin, dan ketakutan kini telah berakhir.
Satu-satunya pengecualian adalah kepala desa. Dirinya mendapatkan ketidakberuntungan akan menyambut para petualang dan menjadi orang pertama yang mendengar laporan mereka.
“Para goblin yang muncul sepertinya membuatnya sarang yang terpisah.”
Tidak ada yang bisa menyalahkan rahang kepala desa yang menganga. Bagaiman desanya yang berada di utara ini dapat menyiapkan persediaan untuk musim dingin sekarang? Mereka hanya mempunyai persediaan yang sangat sedikit. Dan sekarang keadaan semakin memburuk. Para goblin yang berada di gua telah terbantai;para petualang mempunyai hak untuk mengangap bahwa quest mereka telah selesai. Para penduduk desa harus kembali ke Guild, dan melakukan permohonan quest lainnya, dan hadiah lainnya.
Jika mereka tidak melakukannya, maka desa mereka akan hancur.
Oleh karena itu, betapa leganya perasaan kepala desa ketika Goblin Slayer mengumumkan bahwa partynya akan terus melanjutkan pekerjaan mereka membasmi goblin. Namun ini tentu saja tidak menyelesaikan permasalahan pangan desa mereka. Meja di mana party ini duduk hanya memiliki makanan sederhana, kebanyakan hanyalah sayuran yang di garami.
Di antara piring-piring, selembar kertas kulit domba terpapar. Adalah sebuah peta pegunungan salju yang di berikan oleh pemburu sebelum mereka melakukan penyerangan pada gua. Goblin Slayer mengatur peta itu agar bagian utara dari peta itu menghadap kepadanya.
“Hei,” High Elf Archer berkata dari matanya yang setengah tertutup. “Apa nggak masalah membiarkan gadis itu sendiri?”
“Aku nggak tahu.”
“Apa maksudmu kamu nggak tahu?”
“Bagaimana aku bisa tahu?” Goblin Slayer berkata, terdengar sedikit kesal. Perkataannya memang singkat, dan acuh, dan dingin. Namun dia hampir tidak pernah membentak. “Aapa yang harus aku katakana padanya? ‘Maaf temanmu semua mati, tapi paling nggak kamu selamat’?”
Ini membuat High Elf Archer tidak dapat berkata apa-apa. “Yah… Yah…” Dia membuka mulutnya, kemudian menutupnya kembali, sebelum pada akhirnya berkata. “Ada cara yang lebih baik untuk mengatakan sesuatu kan.”
Jawaban Goblin Slayer sangatlah singkat: “Itu nggak merubah fakta yang ada.”
Kalau di pikir-pikir lagi…
Priestess menggigit bibirnya lembut. Goblin Slayer tidak berusaha melipur hati gadis itu yang lara. Ataupun mereka menyelamatkan petualang elf yang terluka itu dari reruntuhan. Dia hanya selalu….
Rasa samar akan darah begitu terasa pahit hingga membuatnya hampir menangis.
Dia melirik mengarah Goblin Slayer, namun tampaknya Goblin Slayer tidak menyadarinya.
“Bagaimana lukamu? Apa akan mempengaruhi pergerakanmu?”
High Elf Archer mengerucutkan bibirnya. Perubahan topik tiba-tiba seperti ini adalah spesialitas Goblin Slayer. Namun juga, pria ini sedang mengkhawatirkan dengan dirinya (walaupun perhatiannya hampir selalu tentang goblin!), dan High Elf Archer tidak akan mengeluhkan itu.
“…Nggak apa-apa. Biarpun sakit sedikit. Kaki-ku sudah di sembuhkan.”
“Begitu.” Sebuah anggukan. Helmnya berbunyi seiring gerakannya. “Kalau begitu, sekarang masalah untuk persediaan perlengkapan. Bagaimana perkembangannya?”
“Mm.” Lizard Priest mengangguk serius dan menepuk kantung serat rami yang duduk di sampingnya. Kursinya, yang entah bagaimana dapat memuat ekornya, berbunyi. “Saya berhasil mendapatkan persediaan—walaupun persediaan ini tampak sangat berharga, di karenakan saya harus meminta persediaan dari gudang penduduk desa.”
“Melayang sudah hadiah kita….lagi-lagi.” High Elf Archer berkata dengan helaan. Dia berusaha untuk terdengar frustrasi, namun sebuah senyum tampak pada ujung bibirnya. Mereka telah bersama selama kurang lebih satu tahun, dan dia sudah terbiasa dengan ini. Dan tujuan utama dia untuk mengajak Goblin Slayer pergi berpetualang yang sesungguhnya semakin menguat karena ini.
“Apa-apaan? Cemas soal uang Telinga Panjang? Kamu nggak bisanya seperti itu.” Dwarf Shaman tertawa, entah apakah dia memahami apa yang sebenarnya High Elf Acher pikirkan. Tidak puas dengan hanya anggur yang dia gunakan sebagai katalis, dia mengambil satu gelas lagi di tengah-tengah perbincangan. Anggur itu hambar, tidak berbau, dan memiliki roh yang kuat; botol itu telah di kubur di bawah salju dan berubah menjadi mead. Dwarf Shaman meneguknya. (TL Note: Mead = alcohol madu.)
High Elf Archer mengira dia akan dapat mabuk hanya dengan melihat tingkah laku Dwarf Shaman. “Pastinya dong,” dia berkata, melotot pada dwarf. “Hadiah dari membunuh goblin itu kecil banget!”
“Walaupun begitu, Kita telah berhasil menyelamatkan seorang petualang kali ini,” Lizard Priest berkata.
“Yah, nggak setiap hari juga kamu akan lihat lima atau enam petualang tingkat silver pergi membasmi goblin kan?” Dwarf Shaman berkata.
“Er… Aku baru Obsidian.” Priestess bergumam, dan tersenyum ambigu.
Priestess sangat memahami bagaimana perasaan menjadi satu-satunya seseorang yang selamat dalam party yang terbantai. Priestess ingin mempercayai bahwa dia tidak memaksakan interpretasi ini—namun Priestess tidak dapat menahan pikirannya akan betapa berbedanya dia dengan Noble Fencer.
Priestess tidak mengetahui apakah itu takdir atau kemungkinan… Namun setiap kali dia berpikir akan dadu tak kasat mata yang di lempar oleh para dewa. Dia merasakan sesuatu seperti ampas yang terakumulasi di dalam hatinya.
“Hei, aku berhasil mendapatkan beberapa obat.” Dwarf Shaman berkata. Dia menghabiskan gelasnya, menuangkannya, dan meneguknya kembali.
“Kakak perempuan gadis itu…” Goblin Slayer terdiam beberapa saat. “Wanita obat. Dia bilang bahwa dia tidak berpengalaman.”
“Mungkin dia nggak bisa buatkan kita potion, namun dia bilang dia akan memberikan kita herba sebanyak apapun yang kita mau.” Dwarf Shaman berkata dengan menyeringai. Kemudian membelai jenggotnya. “Apa menurutmu dia tipe yang cocok buatmu? Dia bisa jadi istri yang baik untukmu.”
“Aku nggak tahu.”
“Um…” Priestess menyela, tidak dapat menahan dirinya.
Percakapan Dwarf Shaman dan Goblin Slayer yang terpotong, melihat kepada Priestess, dan Lizard Priest dan High Elf Archer melihat kepada Priestess juga.
“Um, yah…” Dia mengecilkan tubuhnya di bawah tatapan mereka. “Aku…cuma penasaran apa yang akan kita lakukan berikutnya.” Dia berkata.
“Bunuh para goblin, tentunya.” Jawaban Goblin Slayer selalu dingin seperti biasanya. Dia mencondongkan tubuhnya di atas meja, memperhatikan gelas dan piring yang bertumpuk di dekat peta. “Pinggirkan piring-pringnya.”
“Baik,” Dwarf Shaman berkata; dia mengambil sebuah kentang rebus dari salah satu piring dan menggigitnya.
“Hei!” kata High Elf Archer, yang sudah mengincar makanan itu. Dia membersihkan piringnya dengan wajah kesal.
Khawatir anggur miliknya terikut dengan piring yang lain, Dwarf Shaman mendekap melindungi botol dan gelasnya.
Lizard Priest memperhatikan tingkah laku mereka berdua sebagai “Sangat mnenghibur,” menjulurkan lidahnya dan menuang anggur pada gelas kosongnya.
“…..”
Ketika semua telah selesai. Priestess mengelap bersih meja tanpa berkata-kata.
“Bagus,” Goblin Slayer berkata, mengangguk dan mengatur peta di atas meja. Kemudian dia mengambil peralatan menulis—hanya sebuah arang yang di ikatkan pada sebuah stik kayu—dari dalam kantung peralatannya dan menandai lokasi gua dengan sebuah X.
“Sangat jelas bahwa gua mereka bukan ruang tidur mereka.”
“Yeah, tempat itu pasti semacam kapel atau yang lainnya,” High Elf Archer berkata, menyeruput sedikit dari anggurnya. “Walaupun aku masih sulit untuk mempercayainya.”
“Percaya atau tidak, fakta tetap tidak akan berubah. Saya rasa kita menganggapnya seperti itu. Tapi…” Lizard Priests mendesis, menutup matanya. Beberapa detik kemudian, dia membuka salah satu matanya dan melihat kepada Priestess. Priestess bertukar pandang dengan Lizard Priest dan bergetar. “…Saya penasaran dengan apa yang di pikirkan Cleric kita.”
“Oh! Uh… Um, ya…” Priestess dengan cepat duduk tegak di kursinya, meremas tongkatnya, yang terbaring pada lututnya. Adalah jelas bahwa Lizard Priest berusaha menunjukkan perhatiannya pada Priestess.
Aku harus menjawab.
Priestess meneguk anggurnya, menjilat bibirnya yang sekarang telah lembab. “Aku setuju dengan Goblin Slayer. Mereka ada…tiga puluh?”
“Tiga puluh enam,” Goblin Slayer berkata. “Itu jumlah yang kita bunuh.”
“Aku rasa nggak mungkin tiga puluh enam dari mereka bisa tidur di sana semua.”
“Benar, tempat itu sepertinya nggak punya makanan atau anggur atau apapun yang di sukai para goblin,” Dwarf Shaman berkata.
Kata goblin hampir sama saja dengan sinonim kata bodoh, namun itu bukan berarti mereka tidak punya otak sama sekali. Alasan mengapa mereka tidak mempunyai teknologi untuk menciptakan sesuatu adalah karena mereka menganggap mencuri akan dapat memenuhi kebutuhan mereka. Namun itu tidak dapat di samakan dengan gua tempat mereka tinggal. Jika mereka telah mencuri sebuah rumah, atau reruntuhan, semua mungkin akan berbeda. Namun sebuah gua…
Goblin, dengan cara jorok mereka sendiri, akan menyiapkan gudang, ruang tidur, dan ruang sampah. Paling tidak, seseorang akan pasti menemukan potongan-potongan dari pesta daging mereka yang bergeletakan di tanah, namun para petualang ini tidak menemukan sesuatu yang seperti itu. Mereka hanya menemukan sebuah altar batu, sebuah tempat yang seperti kapeel, dan seorang wanita yang akan di persembahkan…
“Itu artinya habitat utama mereka ada di tempat lain.” Goblin Slayer berkata, mengarahkan jarinya pada sebuah lingkaran di peta yang menandatakan sebuah bukit di balik pegunungan. “Menurut penduduk local, ada beberapa reruntuhan tua di beberapa tempat yang lebih tinggi dari yang sudah kita daki.”
“Kemungkinan besar goblin itu bermarkas di sana.” Lizard Priest mengangguk. “Apakah anda mempunyai perkiraaan di reruntuhan mana mereka berada?”
“Benteng kaum dwarf.”
“Hmm,” Dwarf Shaman bergumam mendengar kaumnya di singgung; dia meneguk kembali mead miliknya. “Salah satu benteng kaumku berasal dari Jaman para Dewa, kan? Itu artinya penyerangan secara langsung akan beresiko, Beardcutter. Apa perlu kita coba dengan api?”
“Aku punya sedikit bensin,” Goblin Slayer berkata, mengeluarkan sebuah botol yang berisi cairan hitam dari tasnya. “Tapi aku memperkirakan benteng itu terbuat dari batu. Serangan api dari luar tidak akan membakarnya.”
“Dari luar…” Priestess mengulangi, mengetuk jari di bibirnya. “Bagaimana kalau dari dalam?”
“Rencana yang bagus,“ Lizard Priest berkata dengan segera, membuka rahang besarnya dan mengangguk. Dia menelusuri peta kulit domba dengan cakarnya, mencari sebuah jalan dengan hati-hati. “Kastil yang telah di selundupi oleh musuh akan selalu rentan.”
“Tapi bagaimana cara kita masuk ke dalam? Aku yakin kita nggak akan bisa masuk dari pintu depan begitu saja.” Priestess berkata dengan sedikit kebingungan.
Mendengar itu, telingan High Elf Archer berdiri tegak, dan dia mencondongkan tubuhnya ke depan. “Jadi kamu mau menyenlinap ke dalam benteng!” Dia tampak begitu senang. Dia terus bergumam, “Sip, sip,” pada dirinya sendiri, telinganya  mengepak seraya gumamnya. “Sip! Ini sudah hampir terasa seperti petualangan yang sesungguhnya. Asik!”
“I-ini…petualangan?”
“Iya dong,” High Elf Archer berkata dengan ceria, dan girang. Dia memang biasanya selalu riang, walaupun ada kemungkinan dia hanya berpura-pura tampil kuat. Tidak ada yang mengatakan bahwa kamu harus bersikap muram hanya karena kamu berada di situasi suram.
“Pegunungan kuno di tengah-tengah alam liar! Benteng kokoh yang di kendalikan penjahat kuat! Dan kita akan menyelinap ke dalam untuk mengalahkannya!”
Kalau itu bukan petualang, apa lagi?
High Elf Archer memberikan penjelasannya dengan ayunan dan gerakan, kemudian melihat kepada Goblin Slayer.
“Aku rasa kita memang nggak berhadapan dengan Demon Lord atau semacamnya…tapi ini juga bukan pembasmian goblin yang biasanya.”
“Ini bukan sepenuhnya penyelinapan juga,” Goblin Slayer bergumam. “Musuh akan tahu ada petualang di sekitarnya. Kita harus melakukannya dengan hati-hati.”
“Kamu punya rencana?” Dwarf Shaman berkata.
“Aku baru punya satu.” Goblin Slayer melihat mereka. Ekspresinya terhalang oleh helmnya, namun tampaknya dia sedang melihat kepada dua clericnya.
“Apa penyamaran bertentangan dengan agama kalian?”
“Hmmm. Bagaimana ya,” Lizard Priest berkata, matanya berputar di kepalanya. Kemudian mata reptile miliknya menatap kepada Priestess dan berkedip. Priestess memahami arti ini dan tersenyum lembut.
Aku nggak bisa membiarkan semua orang menjagaku setiap saat.
“A—aku rasa itu tergantung dari waktu dan keadaan.”
“Baiklah.” Goblin Slayer menarik kantung peralatannya dan pada saat yang sama mengeluarkan sesuatu. Sesuatu tersebut berguling di sekitar meja, melewati peta, dan kemudian berhenti.
Adalah sebuah lambang akan mata yang jahat.
“Karena mereka cukup berbaik hati untuk meninggalkan sebuah petunjuk buat kita, aku nggak mungkin akan mensia-siakan ini.”
“Ha-ha. Sungguh cerdas.” Lizard Priest berkata dengan tepukan tangan bersisiknya. Tampaknya dia mengerti apa yang sedang terjadi. “Menjadi anggota dari sekte jahat. Mm, baiklah.”
“Ya.”
“Saya adalah lizardman yang menyembah Dewa Kegelapan. Murid saya adalah seorang warrior, dan kami di temani oleh seorang tentara bayaran kaum dwarf…”
“Berarti aku jadi seorang dark elf!” High Elf Archer berkata dengan menyeringai layaknya seekor kucing.
Kemudian dia berputar kepada Priestess. “Aku harus mewarnai badanku pakai tinta. Hei, mungkin kamu bisa pakai telinga palsu! Kita bisa jadi kembar!”
“Huh? Oh—huh? Apa aku—apa aku harus mewarnai badanku juga?”
Tiba-tiba Priestess tidak mengetahui harus melihat kemana. High Elf Archer mendekatinya, dengan tersenyum lebar.
“Lebih baik dari isi badannya goblin kan?”
“Aku rasa itu hampir sama saja…!”
Jika di berikan kebebasan memilih, Priestess tidak akan memilih keduanya. Namun jika keadaan memaksa…
Goblin Slayer melirik pada kedua gadis yang berbicara, kemudian mengembalikan pandangannya pada kedua pria lainnya. Lizard Priest tampak sedikit menyipitkan matanya.
“Mereka berdua sungguh wanita yang cantik.”
“Ya,” Goblin Slayer berkata dengan anggukan. “Aku tahu.”
Jika dia harus melakukan sesuatu yang di luar perkiraan atau yang sukar di percaya untuk dapat meraih kemenangan, maka dia akan melakukannya. Jika dia harus bersikap serius dan tegas untuk dapat bertarung secara efektif, maka dia akan melakukannya.
Namun kenyataan selalu berbeda. Tawa dan canda: keseluruhan party sangat memahami akan betap pentingnya hal ini.
“Sekarang, saya rasa kita harus memutuskan apa yang akan kita kenakan sebagi penyamaran,” Lizard Priest berkata.
“Akan sangat nggak bagus kalau goblin mengetahui bahwa kita adalah petualang,” Goblin Slayer berkata. “Apapun yang akan kita lakukan, kita harus merubah apa yang kita pakai.”
“Pfah,” Dwarf Shaman berkata dengan tawaan, napasnya bau akan alkohol, “Kalau kamu nggak keberatan memakainya, aku punya beberapa pakaian.”
“Oh-ho. Sungguh anda adalah seorang dwarf dengan berbagai macam talenta master pembaca mantra.”
“Makanan enak dan anggur, music yang enak dan lagu, dan sesuatu yang indah untuk di pakai. Kalau kamu mempunyai semua itu di tambah dengan wanita cantik yang menemani, kamu mempunyai segalanya untuk bisa kamu nikmati di dunia.” Dwarf Shaman meneguk kembali gelasnya dan menutup matanya. “Aku bisa memasak, bermain music, bernyanyi dan menjahit. Untuk wanita, selalu ada pelacur di kota.”
“Puji Tuhan. Anda tidak mempunyai istri?” Lizard Priest terlihat terkejut, namun Dwarf Shaman menjawab. “Iya aku belum punya. Aku ingin menikmati beberapa ratus tahun lagi untuk menikmati masa lajangku, menjadi bon viveur.” (TL NOTE : Bon viveur = https://en.wikipedia.org/wiki/Bon_viveur )
Lizard Priest tertawa kecil, menjulurkan lidahnya dan menyeruput gelas dengan riang. “Master pembaca mantra, betapa mudanya diri anda. Hingga dapat membuat lizard tua ini iri.”
“Ah, tapi aku yakin kalau aku lebih tua darimu.” Dwarf Shaman menjulurkan botol anggur menawarkannya; Lizard Priest mengangguk dan menadahkan gelasnya.
Goblin Slayer berikutnya. Dia mendengus, “Mm.” dan hanya  menadahkan gelasnya, alkohol bergelombang masuk ke dalam gelasnya.
“Kalian semua harus menikmati hidup kalian,” sang shaman berkata, dan menambakan, “Mau itu dengan goblin, atau dewa, atau apapun itu.” Kemudian dia bersandar kembali di kursinya untuk menikmati alkoholnya.
Matanya menatap pada dua wanita muda yang sedang berbincang.
“Tawa, tangis, marah, dan bersantai—gadis telinga panjang itu jago dalam hal-hal itu kan?”
“…”
Goblin Slayer melihat ke dalam gelasnya, tidak berkata apa-apa. Sebuah helm yang terlihat murahan menatap balik dari dalam gelas anggurnya, yang bercampur dengan warna oranye akan sebuah lampu. Dia mengangkat gelas ke dekat helmnya dan meminumnya dengan sekali teguk. Tenggorokan dan perutnya terasa seperti terbakar.
Dia menghela napas. Seperti apa yang di lakukannya pada perjalanan yang panjang, melihat ke belakang, melihat ke depan, dan terus berjalan.
“Semua nggak ada yang mudah,” dia berkata.
“Iya aku rasa itu benar.” Sang dwarf membalas.
“Benarkah?” Tanya Lizard Priest. “Saya rasa anda benar.”
Ketiga pria tertawa tanpa suara.
Adalah ketika mereka menyadari pada gadis memperhatikan mereka, melihat mereka dengan penuh tanda Tanya.
“Ada apa?” Tanya High Elf Archer.
“Ada yang salah?” Tanya Priestess.
Dwarf Shaman hanya melambai menjawab pertanyaan mereka, dan setelah memberikan beberapa waktu untuk menenangkan keadaan, Goblin Slayer berkata:
“Sekarang. Tentang goblinnya.”
“Ah-ha! Akhirnya topic utama kita Beardcutter.” Dwarf Shaman mengelap tetesan anggur dari jenggotnya dan membenarkan posisi duduknya. “Aku rasa paladin ini adalah pemimpin mereka. Itupun kalau dia memang benar-benar ada, tentunya.”
“Ya” Goblin Slayer mengangguk. “Aku belum pernah berhadapan dengan goblin seperti itu juga.”
“Pertanyaannya adalah, seberapa cerdasnya paladin itu?”
“Paling nggak dia dapat meniru panah buatanku.” Goblin Slayer mengambil mata panah dari dalam tasnya, dan berguling di atas tangannya. Mata panah itu ternoda dengan darah High Elf Archer. Dan itu memberikannya perasaan yang suram. “Dan kalau kita menghancurkan tiga puluh enam dari mereka dalam satu ekspedisi, itu artinya jumlah musuh kita banyak.”
“Jadi banyak makhluk berotak kecil? Kedengarannya seperti pekerjaan goblin biasanya,” Dwarf Shaman berkata.
Hal yang terjadi pada festival panen entah bagaimana dapat berpihak kepada para petualang ini, namun itu di karenakan mereka mengetahui lahan dan sudah melakukan persiapan. Walaupun jumlah musuh tidak sebanyak dengan apa yang pernah terjadi di kebun, para petualang tetaplah hanya berjumlah lima orang. Bertarung di dalam wilayah berbahaya tampaknya akan sangat sulit.
Lizard Priest, yang telah mendengarkan dengan diam, membuat suara pada tenggorokannya, kemudian berkata dengan serius, “Dan terdapat satu masalah lagi.” Dia menepuk lantai dengan ekornya, menjulurkan tangannya, dan menepuk cakarnya pada sebuah tanda baru yang Goblin Slayer buat pada peta. “Khususnya, jika kita memiliki keberuntungan untuk dapat masuk ke dalam benteng musuh, apa yang akan kita lakukan dari sana?”
“Ah, soal itu,” Goblin Slayer berkata. “Kalau kita berhasil masuk—“
Kriiiik.
Tidak lama setelah Goblin Slayer berbicara, terdengar suara kayu pintu yang berdecit, para petualang semua menggapai pada senjatanya.
Mereka semua menahan napas mereka. Sang pemilik penginapan sudah tidur terlebih dahulu.
Secara perlahan, decitan itu menjadi suara langkah kaki. Seseorang menuruni tangga, kemudian menghela.
“Goblin…?”
Suara itu begitu serak, hampir seperti sebuah helaan. Datang dari Noble Fencer, yang berdiri memegang susur tangga, berdiri goyah. Dia mengenakan armor yang telah usang di atas pakaian tidurnya, dan di tangannya sebuah belati silver berkelip di dalam cahaya.
Mithril…? Nggak, warnanya terlalu muda. Benda sihir atau semacamnya munkin…?
Dwarf Shaman mendapati dirinya menyipitkan mata pada kilauannya. Bahkan dirinya, yang seharusnya merupakan sahabat para metal, tidak pernah melihat metal seperti itu.
“……Kalau begitu…. Aku ikut juga.”
“Nggak mungkin!” High Elf Archer adalah yang pertama merespon. “Kami datang untuk menyelamatkanmu karena quest yang di pasang orang tuamu.” Dia melihat pada mata Noble Fencer dengan tatapan ciri khas bangsa elf. Mata itu sangatlah dalam dan gelap, layaknya sebuah dasar sumur—atau itu apa yang High Elf Archer pikir.
Orang tuanya yang di singgu tampaknya tidak membuat Noble Fencer goyah.
Terdengar suara tarikan napas yang begitu samar.
“Sebelum kamu mempertaruhkan nyawamu lagi, apa kamu nggak setidaknya pulang ke rumah dan berbicara pada mereka?” High Elf Archer berkata.
“…..Tidak. Aku tidak bisa melakukan itu.” Noble Fencer menggeleng kepalanya, rambut berwarna madunya berayun. “…..Aku harus mendapatkannya kembali.”
Lizard Priest menyatukan tangannya dengan gerakan yang aneh, menopang dagu di atas tangannya. Dengan mata yang tertutup, dia tampak seperti setengah berdoa, setengah menahan rasa sakit. Secara perlahan, dia bertanya:
“Dan apakah itu?”
“Segalanya,” Noble Fencer berkata tegas. “Segalanya yang telah di renggut dariku.”
Mimpi. Harapan. Masa depan. Keperawanan. Teman. Rekan. Perlengkapan. Pedang.
Semua yang telah goblin curi dan renggut menjauh ke dalam lubang busuk mereka.
“Saya tidak dapat mengatakan bahwa saya tidak memahaminya,” Lizard Priest berkata setelah beberapa saat, napasnya mendesis. Noble Fencer sedang berbicara tentang harga diri, tentang jalan kehidupan. Lizard Priest membuat gerakan aneh pada telapak tangannya. “Seorang naga memiliki harga diri di karenakan dia adalah seorang naga. Jika dia tidak memiliki harga diri, maka dia bukanlah lagi seorang naga.”
“Tu-tunggu dulu…!” High Elf Archer berkata. Lizard Priest begitu tenang dan berkepala dingin—walaupun, jika di pikir kembali, tampaknya Lizard Priest begitu menikmati sebuah pertarungan. Telinga sang elf melemas kasihan, namun telinganya dengan cepat berdiri kembali. “Dwarf! Katakan sesuatu!”
“Kenapa kita harus melarang apa yang mau dia lakukan?” sang shaman berkata.
“Guh?!”
Dan satu suara yang tidak seperti elf sama sekali (tampaknya repertoar-nya semakin lama semakin meningkat) datang dari tenggorokan High Elf Archer. (TL Note: Repertoar = https://kbbi.web.id/repertoar )
Dwarf Shaman tidak menghiraukan sang elf, melainkan dia mengocok tetesan terakhir dari botol mead miliknya, dan berkata, “Quest kita adalah untuk menyelamatkannya. Terserah dia apa yang mau dia lakukan setelah itu.”
Eh, uh, dwarf?! Kalau dia mati?! Terus gimana?”
“Kamu sendiri bisa saja mati. Atau aku. Atau salah satu dari kita.” Dia menghabiskan tetesan terakhir gelasnya dan mengelap mulutnya. “Setiap makhluk hidup akan mati suatu hari. Kalian para elf seharusnya mengetahui itu jauh lebih baik daripada orang lain.”
“Yah… Yah…, iya sih, tapi…”
Fwiiip Telinganya melemas kembali. High Elf Archer melihat sekitarannya dengan ekspresi seperti anak kecil yang tersesat yang tidak mengetahui apa yang harus di lakukan.
Priestess bertemu dengan matanya, dan hampir mencegah apa yang Priestess ingin katakan berikutnya. Priestess menatap lantai, menggigit bibirnya, meminum anggur terakhirnya tanpa berkata-kata. Karena jika dia tidak melakukannya, dia berpikir bahwa kata-katanya tidak akan dapat keluar dari dalam mulutnya. “Ayo…ayo bawa dia juga.”
Jika dia tidak mengatakannya, tidak akan ada orang lain yang akan melakukannya.
“Kalau… Kalau kita nggak membawanya…”
Dia nggak akan bisa di selamatkan.
Nggak salah lagi, nggak akan ada yang bisa menyelamatkannya lagi.
Priestess sendiri pernah mengalaminya, dulu.
Dan—Priestess mengira—begitu juga dengan pria itu.
“Aku…” dia—Goblin Slayer—mulai merangkai kata-katanya dengan hati-hati,”…bukan orang tuamu, ataupun temanmu.”
Noble Fencer tidak berkata apapu.
“Kamu tahu apa yang harus di lakukan ketika kamu mempunyai sebuah quest.”
“Aku tahu.”
“Hei!”
Namun sebelum High Elf Archer dapat menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara sesuatu robek yang tidak nyaman.
Rambut emas berterbangan di udara.
“…….Hadiahmu. Aku bayar di muka.”
Dia mengenggam kepang rambutnya dan memotongnya. Dia memotong kepang satunya dengan belati miliknya—suara robekan lainnya—dan meletakkannya di atas meja. Kedua kepang yang sebelumnya terikat dengan pita, kini telah tercabik lepas.
“………..Aku akan pergi juga.”
Rambutnya kini sangatlah pendek, menggigit bibirnya penuh tekad—sebuah gambaran akan seseorang yang di rasuki oleh nafsu membalas dendam.
Priestess mendengar dengusan samar dari dalam helm Goblin Slayer.
“Pak….Goblin Slayer…?”
“Apa yang bisa kamu lakukan?”
Goblin Slayer menghiraukan tatapan Priestess, dan melempar sebuah pertanyaan pada Noble Fencer.
Tanpa keraguan, gadis itu menjawab. “Aku bisa menggunakan pedang. Dan mantra petir.”
Helm itu berputar, melihat kepada Dwarf Shaman.
“Memanggil petir,” Dwarf Shaman berkata. “Sihir kuat, seperti meriam.”
“…Baiklah,” Goblin Slayer berkata perlahan. Kemudian dia bertanya, “Kamu nggak keberatan?”
Helm itu berputar kepada High Elf Archer, yang melihat kepadanya memohon. Sekarang, High Elf Archer mengalihkan pandangnya; dia menggenggam gelasnya dengan kedua tangan dan menatap lantai. Pada akhirnya, sang elf menggosok ujung luar matanya dengan lengan dan terlihat begitu menyedihkan. Dia hanya berkata: “Kalau kamu nggak masalah dengan itu, Orcbolg.”
“Bagus.” Goblin Slayer menggulung peta dan berdiri.
Adalah jelas apa yang harus di lakukan.
Adalah hal yang sama yang selalu harus di lakukan.
Selalu dan di manapun.
Tidak peduli bagaimanapun juga.
Adalah sesuatu yang dia telah lakukan selama sepuluh tahun terakhir.
“Kalau begitu ayo kita pergi membasmi goblin.”

Goblin Slayer Jilid 5 Bab 4 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.