Senin, 11 Februari 2019

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 20 WN Bahasa Indonesia



RUMOR YANG MERESAHKAN

Ruri baru saja akan berangkat ke restoran tempat dia bekerja sambilan saat dia dihentikan oleh Jade. Saat dia digendong sampai matanya sejajar dengan Jade, jantungnya berdegup kencang saat dia menatap mata hijau gelap Jade.
"Ruri, aku akan pergi meninggalkan istana bersama Finn dan Klaus untuk beberapa lama. Kalau kau perlu sesuatu, jangan ragu-ragu untuk mengatakannya pada Euclase atau Agate."
Kau akan pergi ke mana, Jade(-sama)?
"Aku akan pergi ke Kerajaan Roh. Aku akan kembali beberapa hari lagi, jadi jaga dirimu baik-baik, mengerti?"
Aku bukan anak kecil.
Jade mau tidak mau tersenyum kecil saat melihat Ruri cemberut.
"Karena kau sering pergi berjalan-jalan beberapa hari ini, aku jadi sedikit khawatir. Bagaimana kalau begini saja, apa kau mau ikut denganku?"
Saat dia mendengar bahwa dia tidak akan bisa melihat Jade selama beberapa waktu, dia sempat berpikir untuk ikut dengannya. Tapi dia punya pekerjaan paruh waktu di restoran. Tepat saat Ruri menghadapi saat-saat sulit untuk menentukan antar kerja sambilannya atau Jade, Klaus menyela.
"Hal itu tidak mungkin, Yang Mulia. Baik saya maupun Finn akan menghadiri pertemuan juga, jadi tidak akan ada siapapun yang menjaga Ruri."
"Hahhh…itu benar."
Jade menghela napas kecewa sambil memeluk Ruri erat-erat untuk terakhir kalinya. Dia kemudian meletakkan gadis itu di tanah.
"Mau bagaimana lagi. Kita tidak bisa meninggalkan Ruri sendirian bagaimanapun juga."
Aku bisa mengurus diriku sendiri, kau tahu?
Entah apa dia pergi atau tidak, dengan Klaus dan Jade yang berpikiran bahwa dia tidak bisa ditinggalkan sendirian cukup membuat gadis itu tersinggung.
"Aku tahu. Bukan itu alasan yang sebenarnya…"
Tidak mengerti kenapa Klaus ragu-ragu menjawab, Ruri memiringkan kepalanya kebingungan.
"Anda berdua, sudah waktunya."
Didesak Finn, Jade mengelus kepala Ruri dengan lembut sambil berkata "Aku akan membawakanmu oleh-oleh", dan kemudian melangkah pergi bersama Klaus dan Finn.
Segera setelahnya, tiga sosok naga dapat terlihat terbang di langit. Ruri memandangi kepergian mereka sampai akhir.
Apa kau menyukai raja itu?
Hah?! A-apa yang kau bicarakan…!
Ruri jelas-jelas terhenyak dengan komentar itu.
Itu tidak benar! Kau salah paham‼
…Sikapmu ini bertentangaan dengan perkataanmu, kau tahu?
… …
Ruri menenangkan dirinya sendiri dengan menarik napas dalam-dalam, dan sekali lagi menyangkal masalah itu.
Kau benar-benar salah paham. Memang benar aku menyukainya, tapi tidak sampai ke tingkat yang bisa kusebut cinta.
Ruri bukannya berbasa-basi. Dia menyukai Jade, tapi perasaan ini masih dalam tingkatan di mana menahannya adalah hal yang mungkin.
Tidak menurut sudut pandangku walau begitu.
Aku tidak bohong! …Lagipula, Jade menyukai orang lain.
Ruri merasa berkecil hati terhadap perkataannya sendiri.
Benarkah?
Yah. Kau tahu Klaus yang barusan bicara padaku tadi? Puteranya, Joshua saat ini sedang bertugas untuk membawa kembali gadis tersebut ke istana. Karena itulah, tidak peduli seberapa besar aku menyukainya, itu hanya akan menjadi perasaan sepihak.
Mendengar hal itu, mata Rin terbelalak lebar saat memarahi Ruri sambil mengepak-ngepakkan siripnya.
Kenapa hatimu jadi begitu lemah? Cinta adalah sesuatu yang seharusnya kau perjuangkan! Kalau kau tidak bisa melakukannnya, aku akan mengotori tanganku untuk membantumu menghancurkan (bunuh) sainganmu!
Sama sekali tidak boleh! Kau dilarang melakukan hal itu, mengerti? Aku tidak ingin mendapatkan seseorang dengan cara itu.
Naif! Kenapa kau menyerah bahkan sebelum mulai bertarung??
Sekalipun kau berkata begitu…
Alasan kenapa Ruri tidak bertindak agresif meraih kesuksesan hubungan adalah tanpa diragukan lagi karena Asahi.
Orang yang pertama kali Ruri sukai juga menyukai Asahi. Dari situ, seperti biasanya pria itu begitu menempel pada Asahi dan bahkan bersikap bermusuhan pada Ruri…  Pacar pertama Ruri di masa SMP mengakui bahwa dia mengencani Ruri hanya untuk mendekati Asahi. 'Kalau begitu, aku sebaiknya mengencani seseorang dari sekolah lain yang tidak diketahui Asahi', begitu pikiran Ruri. Tapi meski begitu, Asahi menempel pada Ruri seperti lintah dan mengikuti dia bagaimanapun juga. Hari berikutnya setelah pacar Ruri bertemu dengan Asahi, mereka pun putus begitu saja…
Situasi yang berulang-ulang ini membuat Ruri trauma sampai ke tingkat dia pun saat ini jadi bersikap pasif dalam hal membina hubungan.
Ruri sekarang tahu bahwa itu semua karena sihir pemikiat. Sihir semacam itu tidak akan memengaruhi seseorang yang memiliki sihir yang kuat seperti Jade. Meski begitu, Ruri masih tidak mencoba untuk mendekati Jade. Dia merasa yakin kalau dia tidak akan dipilih Jade bagaimanapun juga, dan tidak bersikap sesuai perasaannya.
Ruri sensitif di tempat yang aneh.
Tidak sopan! Apa kau ingin bilang kalau aku tidak punya emosi atau semacamnya?
Jelas itulah yang kukatakan. Biasanya, tidak ada seorang pun yang dapat selamat saat dibuang ke hutan sendirian saja. Mereka pastinya akan terguncang mentalnya sejak lama.
Ruri awalnya penasaran kenapa Rin tahu soal itu, tapi kemudian menganggap bahwa peri-peri yang lain memberitahukannya. Memang benar bahwa setelah dibuang ke hutan, beberapa hari kemudian sebelum dia bertemu dengan Chelsea, Ruri sama sekali tidak merasa sedih atau depresi dan menjalani harinya seperti biasa. Dia bahkan tidur pulas seperti balok kayu.  Tapi Ruri tidak mau mengakuinya, karena itulah dia tetap membisu.
Dengan suasana hati yang sedikit buruk, Ruri pergi menuju restoran untuk mulai kerja paruh waktunya.
Pelanggan yang datang satu demi satu pada hari itu memulai percakapan yang memicu minat Ruri.
"Hah? Perang?"
Tanpa sengaja, Ruri bergabung dengan obrolan. Para pelanggan dengan senang hati membantu Ruri agar dapat mengikuti percakapan. Ada banyak pedagang yang menuju ke ibu kota.
"Itu benar. Baru-baru ini, aku melintasi negara tetangga yang disebut Nadarsia yang ada di sisi lain hutan dan melihat mereka membeli sejumlah besar senjata. Mereka sudah pasti mempersiapkan perang."
"Nadarsia…"
Tanpa menyadari keseriusan wajah Ruri saat ini, si pedagang itu terus berbicara.
"Aku yakin targetnya adalah Kerajaan Naga ini."
"Negara itu sama sekali tidak belajar!"
Ruri kebingungan dengan tawa para pedagang tersebut. Meskipun Ruri tidak pernah mengalami perang sebelumnya, dari TV dan buku-buku, dia menduga bahwa perang adalah hal yang mengerikan dan menyedihkan untuk terjadi.
Akan tetapi, kenapa seperti ini? Dia penasaran. Semua pedagang di hadapannya ini tidak hanya tidak menampakkan sedikit pun rasa takut atau gelisah, mereka bahkan membicarakan perang ini seakan-akan sebuah lelucon atau semacamnya.
"Kenapa kalian bisa begitu optimis? Padahal sebuah perang akan pecah…"
Para pedagang dengan bangganya menjawab pertanyaan Ruri yang sedikit berkesan menyalahkan mereka.
"Yah, karena itu tidak bisa disebut perang! Sudah jelas bahwa Kerajaan Naga akan keluar sebagai pemenangnya."
"Apa kau berasal dari negara lain, Nona? Kalau iya, pantas saja kau tidak tahu soal ini. Sebenarnya, Nadarsia telah melancarkan perang melawan Kerajaan Naga berkali-kali di masa lalu. Dan setiap kali, Nadarsia dihadapkan kenyataan pahit kegagalan tindakan mereka."
Tidak mungkin manusia bisa menang melawan ras Naga, begitulah kata para pedagang sambil tertawa.
Sementara Ruri memikirkan kembali tentang arena latihan yang dia kunjungi sebelumnya, dia mau tidak mau setuju dengan pendapat mereka. Tingkat pemulihan diri yang abnormal bahkan setelah ditikam, kekuatan fisik dan sihir, bahkan sekalipun meniadakan salah satunya, manusia tidak memiliki satu kesempatan pun melawan orang-orang dari ras Naga.
Ruri memikirkan wajah dari orang-orang ras Naga yang dia kenal, dan menghela napas lega. Wajah-wajah yang datang sesudahnya adalah orang-orang yang dia kenal dari Nadarsia…
"Jelas bahwa orang-orang dari Kerajaan Naga akan baik-baik saja, tapi pada saat yang sama, bukankah itu berarti dampak terhadap Nadarsia akan luar biasa hancur?"
"Kurasa begitu. Tapi Nadarsialah yang memulai perang. Kalau mereka siap untuk membunuh, maka mereka harus menghadapi resiko terbunuh juga. Nona, apakah kau berasal dari Nadarsia?"
"Tidak, tapi aku mempunyai kenalan dari Nadarsia…"
Para pedagang memperlihatkan ekspresi bersimpati.
"Sayang sekali. Maaf telah berbicara seenaknya mengenai kematian rakyat Nadarsia. Sudah pasti kau merasa cemas kalau kau punya kenalan di sana."
"Yah……"
Mungkin sadar dengan wajah Ruri yang jelas-jelas terlihat sedih, para pedagang mengubah topik pembicaraan mereka.
"Oh ya, ngomong-ngomong Nona, apa kau sudah mendengar tentang Miko-sama?"
Ruri berpura-pura tidak peduli dan tanpa emosi apapun yang terlihat di wajahnya, dia menggelengkan kepala.
"Katanya Miko-sama akan membawa kemakmuran untuk negara tersebut."
Pedagang yang lain meminum seteguk air dan menyuarakan pendapatnya.
"Itu sudah jelas cerita yang dibuat-buat. Kalau dia seharusnya membawa kejayaan pada negara itu, mereka tidak memanfaatkan dia untuk melancarkan perang. Hanya dengan melihat berapa banyak pengungsi dari negara mereka yang datang ke Kerajaan Naga, lupakan saja soal kemakmuran, negara itu sedang menuju kehancuran."
"Bukannya menyerah dengan gagasan perang, mereka bahkan menempatkan Miko-sama di garis depan!"
(HUH?‼)
Ruri hampir saja tidak bisa menahan dirinya untuk berteriak.
"Miko-sama apanya? Apa yang sebenarnya dia lakukan sementara rakyat Nadarsia menderita?"
"Aku mengerti perasaanmu. Saat aku dalam perjalanan ke sini, pengungsi Nadarsia membanjiri benteng di perbatasan. Bahkan Raja Naga mungkin harus secara pribadi menangani masalah ini kali ini."
Ruri ingat betapa lelahnya Jade akhir-akhir ini. Alasannya kemungkinan besar adalah masalah tentang situasi Nadarsia ini.
Negara yang memanggil Ruri, Asahi, 'teman-teman'nya yang lain.
(Aku yakin aku dimanfaatkan sebagai titik awal pembicaraan perang ini.)
Tidak mungkin seseorang dari dunia yang damai seperti Asahi akan berpikiran untuk memulai perang. Dengan demikian hanya ada satu orang yang mungkin.
Ruri merasa sangat prihatin. Akan tetapi, apa yang bisa dia lakukan dalam situasi ini…?
Saat Ruri kembali ke istana dalam wujud kucingnya, dia duduk di sofa dan hanyut dalam pikirannya saat Rin berbicara padanya.
Kalau kau begitu khawatir, pergi saja untuk melihat mereka.
Hah…?
Kau khawatir, 'kan?
Ruri mengangguk.
Meskipun dulunya Ruri berkali-kali berpikiran untuk membalas dendam terhadap Raja Nadarsia, dia tidak ingin menghancurkan gaya hidup damainya tanpa-Asahi. Karena itulah dia bahkan tidak pergi mendekati Nadarsia.
Secara pribadi, Ruri tidak ingin terlibat apapun dengan Asahi dan yang disebut-sebut sebagai 'teman sekelasnya' yang menjatuhkan tuduhan palsu padanya. Akan tetapi, kalau perang akan  terjadi dengan mereka semua terlibat, Ruri tidak bisa membiarkan mereka begitu saja. Bagaimana pun juga, mereka semua berasal dari dunia yang sama.
Kalau begitu, aku akan bersiap-siap untuk pergi!
Kau akan ikut denganku juga, Rin?
Ruri menatap Rin yang bahkan lebih bersemangat untuk perjalanan ini daripada dirinya.
Tentu saja! Tidak mungkin aku bisa begitu saja membiarkanmu pergi ke tempat berbahaya sendirian seperti itu!
Terima kasih.
Ruri yang biasanya berkemauan lemah dapat mendengar banyak suara di sekitarnya, berkata padanya bahwa mereka juga akan mengikuti dia. Saat mendengar hal itu, Ruri pun tersenyum atas kenyataan bahwa dirinya dikelilingi oleh kawan-kawan yang menyemangati perjalanannya ke Nadarsia.
Karena dia akan pergi, dia harus membuat laporan. Kalau seorang Yang Disayangi mendadap menghilang, akan ada kehebohan besar bagaimanapun juga.
Akan tetapi, Jade, Klaus, dan Finn tidak ada di negara ini. Kalau begitu, Ruri harus mencari Agete. Selama pencariannya, Ruri menemukan bahwa Agete saat itu sedang dirawat di klinik karena keseleo pinggang. Bagi seorang ras Naga yang dapat bergerak seakan tidak ada masalah sekalipun mereka merasa lapar, rasanya aneh bahwa seseorang bisa tidak berdaya hanya karena keseleo pinggang. Sepertinya karena usia tuanya, kecepatan pemulihan Agete tidak lagi secepat yang masih muda.
Hanya Euclase yang tersisa. Dalam situasi normal, Agete seharusnya menggantikan tugas Jade, tapi dengan Agete yang tidak dapat bertugas, Euclase menjadi penggantinya. Situasi di kantor saat ini serupa dengan medan perang.
Saat Rui membuka pintu kantor, Euclase sedang marah-marah pada bawahannya yang berdiri di sampingnya sementara dia terus-menerus menyerahkan dan menangani  pekerjaannya sendirian dengan wajah mengerikan. Ruri merasa sangat ketakutan oleh pemandangan tersebut sehingga dia hanya bsia menutup pintu dan berjalan ke arah yang berlawanan.
Dia tidak punya keberanian untuk mengganggu Euclase.
Sebagai usaha terakhirnya, Ruri kembali ke wujud manusia di kamarnya dan menuliskan sepucuk surat.
Di sinilah masalahnya. Selama Ruri tinggal dengan Chelsea, dia tidak belajar banyak mengenai tulisan di dunia ini.
Hidup di hutan tidak memerlukan tulisan. Chelsea memprioritaskan diri untuk mengajari pengetahuan mengenai dunia ini dan kendali kekuatan Ruri. Dia tidak diajari kalimat-kalimat rumit yang digunakan di dunia ini.
Meskipun dia mulai belajar menulis di dunia ini dengan Agete, dia hanya bisa menulis kata-kata sederhana.
Jadi, dengan kosa kata tulisan yang terbatas, dia berusha untuk menggabungkan kata-kata yang sepertinya masuk akal dan selesai menulis sebuah surat. Setelah itu, dia kembali berubah menjadi wujud kucingnya dan menyerahkan surat itu pada salah satu bawahan di istana, berkata padanya untuk menyerahkan itu pada Euclase.
Ruri berangkat ke Nadarsia, tidak menyadari situasi yang akan muncul saat isi suratnya mengundang kesalahpahaman besar.


Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 20 WN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.