Senin, 11 Februari 2019

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 19 WN Bahasa Indonesia



GOSIP 3

Ada tak terhitung banyaknya peri yang berkeliaran di dunia ini. Dalam jajaran mereka, ada sedikit perbedaan di antaranya: Tingkat rendah, tingkat menengah, tingkat atas.
Berdiri di puncak adalah 12 peri yang dikategorikan sebagai tingkat atas.
Saat ini, salah satu dari peri tingkat atas dari elemen air sedang dalam perjalanan utnuk menemui peri tingkat atas lainnya.
Dia adalah peri yang mengendalikan elemen angin. Peri tersebut adalah salah satu peri yang paling tidak bisa diprediksi dari antara kedua belas peri lainnya dan memiliki kecenderungan untuk membenci Manusia serta tidak punya masalah dengan pihak manapun.
Secara tak terduga, peri itu baru-baru ini menerima nama yang diberikan seorang Manusia padanya.
Tindakan menerima nama adalah persoalan besar bagi para peri.
Saat seorang peri menerima nama dari seseorang, itu bertindak sebagai bentuk pengakuan identitas peri dan di saat yang sama membentuk kontrak nama di antara mereka.
Kontrak yang biasa lebih ke arah kesepakatan antara peri dan pihak lainnya, di mana si peri hanya sekadar meminjamkan kekuatannya dan bebas untuk berhenti bekerja sama kapan pun dia mau.
Kontrak nama, di sisi lain, adalah kontrak yang berlangsung sampai kematian orang yang memberinya nama. Dan peri tersebut biasanya memakai nama tersebut sebagai miliknya sendiri bahkan setelah kontraknya selesai.
Hanya dengan mendapatkan nama, efek instan dan efek setelahnya yang berlangsung cukup lama akan menjadi urusan besar bagi seorang peri.
Karena itulah dia semua orang memberikan nama. Adalah hal yang mungkin bagi orang dengan kekuatan sihir yang besar untuk memberi nama secara paksa pada peri tingkatan lebih rendah, tapi melakukannya pada peri tingkat atas pada dasarnya sama saja dengan kematian bagi orang itu.
Kata "mungkin" di sini sangat ditekankan karena kalau seseorang bahkan mencoba melakukannya, para peri dari tingkat lebih tinggi akan datang untuk menghentikan orang itu. Bisa dikatakan, itu tidak akan berakhir baik bagi orang itu.
Dalam kasus di mana hal semacam itu terjadi pada peri angin, dia mungkin akan langsung membunuh sendiri orang itu. Harga diri peri angin tidak akan membiarkan dirinya  untuk mengampuni orang yang mencoba memaksakan nama kontrak padanya.
Si peri angin dengan harga diri yang tinggi itu juga memprioritaskan kebebasan daripada apapun, entah kenapa bersedia membiarkan seorang Manusia memberinya nama.
Ini sudah pasti mengejutkan.
Setelah mendengar cerita itu, si peri air pergi mencari Manusia tersebut. Akan tetapi, sudah dua tahun berlalu sejak saat itu, dan orang yang dicari itu tidak lagi berada di tempatnya semula.
Para peri adalah makhluk abadi, jadi indera waktu mereka terdistorsi.
Jadi menunda pertemuan dengan si Manusia, si peri air pergi untuk menemui si peri angin…dan tercengang dengan apa yang dia lihat. Apa sebenarnya yang membuat si pergi angin dengan harga diri tinggi itu sampai berubah menjadi anjing bodoh yang setia?
Apa kau tidak waras? Peri elemen angin seperti dirimu merasuki hewan magis yang tidak ada hubungannya dengan elemen angin, itu sama saja dengan menyegel sihirmu dengan senang hati.
Peri angin saat ini bahkan tidak dapat menggunakan telepati.
Para peri dapat menyampaikan pikiran mereka antar satu sama lain tanpa telepati. Tapi ketidakmampuan untuk menggunakan telepati berarti komunikasi antara Ruri dan si peri angin tidaklah mungkin, dan itu adalah penyebab kekecewaan bagi si hewan magis yang sedang berdiri di depan si peri yang kehilangan kata-kata.
Si peri angin menjelaskan bahwa alasan dia merasuki hewan magis besar dan kuat ini adalah supaya dia dapat melindungi Ruri dari para prajurit Nadarsia. Dia benar-benar berpikir bahwa Ruri akan merasa sangat senang dengan penampilannya ini.
Akan tetapi, dia menemukan bahwa Ruri lebih menyukai sosok imut dan empuk daripada kekuatan otot. Setelah berkata begitu, si peri angin sekali lagi patah semangat.
Oh, sang 'angin', kalau begitu sedih tentang ini, kau bisa saja mengganti tubuhmu!
Aku tidak lagi dipanggil sang 'angin'. Aku sekarang adalah Kotarou. Itu adalah nama yang Ruri berikan padaku. Sebuah nama yang dapat kukatakan milikku.
Kalau seseorang melihat adegan ini, yang bisa mereka lihat hanyalah seekor hewan magis yang mengeluarkan suara "Bumo Bumo", tapi mereka dapat dengan jelas melihat bahwa si hewan magis begitu senang tentang sesuatu.
Untuk si peri angin yang biasanya tenang dan tanpa emosi sampai membuat ekspresi sesenang itu, si peri air merasa tertarik.
Hei, apa mendapatkan nama adalah sesuatu yang begitu menyenangkan?
Ya. Sebelum ini, aku tidak bisa mengerti kenapa sang 'waktu' dan peri-peri lainnya yang bernama membesar-besarkan hal ini. Tapi aku mengerti hal itu sekarang. dipanggil dengan namaku oleh Ruri membuatku begitu bahagia.
Bahagia katamu?
Kau bisa saja meminta nama dari Ruri kalau kau mau. Aku yakin kau akan menyukainya juga. Bahkan sang 'waktu' membiarkan Ruri memanggil namanya.
Satu hak khusus eksklusif para peri yang memiliki nama, adalah keputusan mereka untuk memilih siapa yang boleh memanggil mereka dengan nama yang begitu mereka sayangi. Hanya dengan membiarkan seseorang untuk memanggil dengan nama mereka, menjadi sebuah bukti betapa mereka menyukai orang tersebut.
Hmm, Ruri ya? Tetap saja, aku terkejut. Kalau dia adalah orang yang begitu kau sukai, tadinya aku benar-benar menduga kau tidak akan membiarkanku mendekati dia.
Ruri sendirian di dunia ini. Bahkan sekarang, dia masih merasa kesepian memikirkan tentang keluarganya. Aku ingin membuatnya tersenyum. Karena itulah aku ingin mengisi rasa kesepian di hatinya. Kalau kau ada dalam kehidupannya, kesepiannya akan berkurang.
Si peri air tidak begitu suka dengan ide berada di bawah kontrak, tapi melihat wajah bahagia si peri air yang berubah sampai sejauh ini hanya karena mendapatkan nama dari Manusia bernama Ruri, dia mulai berpikir bahwa mungkin bukanlah ide yang buruk untuk dinamai oleh orang itu.
Aku mengerti. Kurasa tidak masalah untuk menemuinya. Karena aku juga ada di sini, aku akan mendapatkan tubuh sebelum bertemu dia.
Setelah mendengar itu, si peri angin menatap peri air dengan ekspresi perih.
Apa?
Aku ingin pergi juga. Tapi Ruri mengatakan padaku untuk tetap tinggal dengan manusia tua Ras Naga.
Si peri air memandangi peri angin yang kini bersedih dan tidak bisa berpikir betapa dia telah banyak berubah.
Tidak bisakah kau mendapatkan izin dari manusia Ras Naga itu? Karena kau tidak bisa menggunakan telepati, apa kau mau aku berbicara dengannya mewakilimu?
Setelah mendengar itu, si peri angin mengangkat kepalanya dan menggoyangkan ekornya dengan girang. Rerumputan di sekitarnya terpangkas oleh ekornya itu.
Mereka berdua kemudian pergi menemui Chelsea dan menjelaskan situasinya. Chelsea mungkin juga tidak tahu bahwa Kotarou adalah seorang peri saat dia memperlihatkan wajah yang terlihat sedikit kaget, tapi pada akhirnya dia memberikan persetujuan agar Kotarou pergi ke samping Ruri.
Si peri air kemudian langsung pergi dan ke tempat Ruri.
Sedangkan si peri angin, untuk menemukan tubuh yang jauh lebih cocok untuk membuat Ruri tersenyum, dia meninggalkan hutan dan menuju ke Kerajaan Roh. Dia telah melakukan semua penyelidikan yang diperlukan terlebih dahulu. Ras berbulu lembut yang Ruri suka, dapat ditemukan di ibu kota Kerajaan Roh.
Ibu kota ini seperti istana yang mengapung di atas danau. Dan di balik istana itu, terdapat sebuah hutan yang disebut dengan 'Tempat Suci'. Kotarou mengincari salah satu hewan yang disucikan yang disebut 'Hewan Suci'.
Penampilannya seperti seekor serigala tapi lebih besar ukurannya dalam beberapa faktor. Bulu lembutnya yang putih bercahaya memberikan kesan aura ilahi yang sesuai dengan statusnya.
Si peri angin memuji dirinya sendiri karena dia telah melakukan pekerjaan bagus dengan menemukan tubuh yang dapat membuat Ruri senang. Saat dia melakukan itu, dia mengalihkan perhatiannya pada aktivitas di sekitarnya.
Para hewan suci adalah hewan dengan kecerdasan tinggi. Hanya dengan sekali lirik pada Kotarou, mereka langsung memahami kekuatan sihir dari si peri angin dan mengambil posisi tunduk dengan merunduk.
Hewan yang terbesar di kawanan itu datang ke depan.
Begitu Kotarou mengatakan padanya tentang keinginannya untuk memiliki salah satu dari tubuh mereka, si hewan suci memberitahukan bahwa ada salah satu dari kawanan mereka yang belum lama ini mati dan jika memungkinkan, menggunakan jasad tersebut.
Apakah bulu pada tubuh itu indah?
Bagi Kotarou, keadaan bulunya adalah hal yang paling diprioritaskan. Kalau kriteria tersebut tidak terpenuhi, maka tidak ada artinya memilih tubuh tersebut.
Jika diperlukan, dia sepenuhnya siap untuk memburu mereka yang ada di hadapannya. Tapi sepertinya itu tidak diperlukan.
Itu karena salah satu dari mereka itu baru saja tewas karena keracunan.
Makhluk itu masih muda. Rasa ingin tahunya terbukti fatal karena hidupnya berakhir setelah dia memakan sesuatu yang beracun tanpa mengetahui efeknya.
Dia tidak memiliki bulu yang terbaik, tapi karena dia mati akibat keracunan di usia muda, tubuhnya tidak memiliki luka luar dan penampilannya masih sama dengan saat dia masih hidup. Karena itu, jasadnya itu akan dibiarkan begitu saja menurut kesepakatan para hewan suci.
Kotarou berpikir.
Dia lebih suka mendapatkan yang bulunya lebih baik untuk menyenangkan Ruri. Akan tetapi, ukuran tubuh si makhluk muda itu jauh lebih kecil daripada yang dewasa. Ruri suka yang hal-hal yang imut, jadi dia mungkin suka tubuh yang lebih kecil daripada yang besar, begitu pikir Kotarou. Dan dengan demikian, dia menerima tawaran mereka.
Sesosok tubuh yang mirip dengan serigala putih terbaring di altar sebuah kuil di hutan.
Ukurannya memang lebih kecil daripada hewan suci lainnya. Tapi tubuhnya yang indah dengan sempurna dipertahankan sehingga tidak aneh kalau makhluk itu melompat hidup lagi.
Kotarou meninggalkan tubuh hewan magis yang dia rasuki selama ini dan memasuki jasad hewan suci itu.
Pada saat itu, si hewan magis yang kini tak berjiwa jatuh ke tanah saat si hewan suci di altar mulai bangkit.
Merasa senang dengan tubuh barunya ini, Kotarou menggoyang-goyangkan ekornya untuk menunjukkan kepuasannya.
Kotarou dalam suasana hati yang sangat bagus karena dia sekarang dapat pergi ke samping Ruri.
Dari apa yang dia dengar, Ruri sekarang tinggal sebagai seekor kucing.
Bulu putih, seperti Ruri. Dan perasaan lembut ini. Ruri akan merasa senang.
Membayangkan Ruri yang memeluknya, Kotarou melolong senang.



Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 19 WN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.