Jumat, 04 Januari 2019

Hyouketsu Kyoukai no Eden Jilid 1 Prolog



PROLOG

——Hujan sedingin es.
Rasa sakit seakan masuk sampai ke dalam sumsum hanya dengan basah kuyup karenanya. Itu seperti hujan es yang mengkristal… Sebeku itulah hujan yang turun.
Hujan deras yang menggila itu bagaikan air mata dari surga, yang hampir menembus atap. Dari sekeliilng muncullah suara gemuruh air, yang melampaui suara curah air hujan——menyebutnya air terjun akan lebih sesuai.
Sudah berapa lama hujan berlangsung?
Curah hujan dari perbatasan yang jauh di langit telah menembus semua rekor sebelumnya. Akan tetapi, hujan tidak terlihat akan mereda sama sekali.
*tap*
Di jalan yang gelap, muncul sebuah riak kecil.
Diikuti dengan raungan hujan, lampu-lampu jalan menerangi objek tertentu. Di bawah remang-remang cahaya, merangkaklah sebuah bayangan hitam di jalan yang dipenuhi air.
——Itu adalah seorang pemuda remaja.
Kira-kira berusia empat belas atau lima belas tahun. Rambut merah sewarna teh yang hampir mendekati ungu, memantulkan gemerlapnya cahaya malam.
"…Ugh… Uh Ugh…."
Si pemuda remaja itu mengeluarkan erangan tak bersuara, dan terus merayap di tengah hujan sedingin es itu. Apa yang terlihat seperti juba resmi yang sudah tercabik-cabik, menunjukkan kulitnya yang bersimbah darah.
…*ssshh*!
Suara terbakar yang berpadu dengan suara hujan. Di jalan di mana si remaja merayap lewat, jejaknya perlahan larut, seakan itu disiram dengan asam korosif.
Selapis kabut tipis berwarna ungu gelap membungkus tubuhnya, seakan memberi tahu penyebab terjadinya keanehan itu. Itu seperti tubuhnya telah dikendalikan dan dikutuk oleh sesuatu yang tidak diketahui.
"…Ugh…Ah…"
Untuk alasan tertentu, dia mungkin tidak akan bertahan. Tapi si remaja tetap terus maju.
Dia menyeret tubuhnya yang sekarat, dan memaksanya maju beberapa inci, lagi dan lagi.
Tujuannya adalah gudang di depannya.
Jika dia dapat mencapainya, dia mungkin dapat melindungi dirinya dari tikaman hujan es. Bahkan untuk luka-lukanya yang berdarah, dia akan bisa merawatnya juga di situ.
Lima meter…empat meter … … tiga meter.
Dua meter. Pada jarak di mana pintu gudang tersebut berada dalam jangkauannya, si remaja tidak dapat bertahan lebih lama lagi, dan ambruk dengan kepala pada genangan air hujan di jalan.
Begitu banyak darah mengalir keluar bersama hujan. Wajahnya terbenam dalam air berlumpur.
Si remaja tidak menyekanya—tubuhnya terbaring begitu saja tak bergerak. Tidak, dia tidak dapat bergerak. Sejumlah besar darah hilang, bersama dengan hujan es, yang menyebabkan dia tidak mampu terus bergerak.
…*tap*
Di jalan gelap malam hari, datanglah riak kecil lainnya.
Di bawah cahaya yang menerangi jalan, siluet seseorang muncul.
"…."
Mendengar suara langkah kaki, si remaja yang ambruk mengangkat kepatanya sedikit.
Itu adalah siluet seseorang, yang mengenakan pakaian ketat, meski malam terasa membekukan.
Karena cahayanya tidak cukup kuat, orang tidak dapat melihat penampilan orang tersebut secara mendetail. Akan tetapi, dari lekukan tubuh yang menggairahkan dan juga sosoknya yang begitu menggoda, bahkan anak kecil bisa mengenali bahwa orang tersebut adalah seorang wanita.
"—Selamat datang kembali ke benua terapung – Orbie Clar."
Wanita itu melihat ke langit, bibir menggairahkannya membentuk senyum tipis.
Dia adalah seorang wanita muda. Dinilai dari suaranya, dia bahkan mungkin belum berusia dua-puluh lima tahun.
"Aku telah menunggumu. Menunggu kembalinya dirimu…. Perasaan itu, seperti menunggu kembalinya kekasihku yang menghilang."
——Sebuah adegan yang misterius.
Hujan memantul menjauh dari tubuh wanita yang bercahaya benderang itu, bahkan sebelum berhasil menyentuhnya.
Seakan teradapat sebuah penghalang cahaya tak terlihat yang memisahkan dia dari hujan.
"…."
Dengan sepasang mata yang kehilangan fokusnya, si remaja menatap wanita di depannya itu.

"Ah, kau bahkan tidak punya tenaga untuk membalas?"
Wanita tersebut menjulurkan tangannya pada si remaja. Dalam sekejap—
—*zzz*….*zzz*….
Percikan berwarna biru langit mirip petir meletup di antara mereka berdua.
"!"
Dia secara refleks menarik tangannya, tapi ujung-ujung jarinya terlihat seakan telah terkena luka bakar.
Melihat luka itu—
"….Tidak buruk."
Dalam kegelapan, wanita tersebut tertawa ringan.
"Tubuhmu telah dipenuhi dengan mateki dari 'Taman Nyanyian Ternoda '—dan mateki-mu cukup kuat untuk sampai sebanding melawanku. Sepertinya kau telah jatuh ke tingkat yang cukup dalam."
Tubuh remaja lelaki itu memunculkan asap hitam yang aneh. Wanita tersebut melihatnya dengan tatapansayang, kemudian meraih si remaja itu dengan tangannya lagi.
Si remaja mendadak mengerutkan tubuhnya. Melihat hal itu, wanita tersebut tersenyum getir.
"Kau secara tidak sadar takut dengan penolakan—itu adalah reaksi yang normal. Akan tetapi, kau tidak perlu cemas, setidaknya sekarang. Aku sudah melakukan sesuatu, sehingga meskipun kita bersentuhan, tidak akan ada bahaya penolakan. Dengan kata lain, kalau kau ternyata berniat buruk terhadapku, aku tidak akan bisa melindungi diriku sendiri."
"…."
Si remaja masih dalam keadaan roboh, dan mengangkat kepalanya untuk melihat wanita itu.
Sepasang mata birunya berkilau, seakan mencoba mengatakan sesuatu.
"Aku mengerti, sepertinya aku terlalu terburu-buru barusan. Itu benar, satu-satunya alasanmu kembali adalah supaya kau dapat melihatnya lagi."
Menatap mata si remaja, ekspresi wanita itu melembut untuk pertama kalinya.
Dengan ekspresi lembut yang mendekati senyum ringan, seakan dia adalah seorang ibu yang anaknya yang kembali.
"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu. Ke tingkat mana dari Taman Nyanyian Ternoda kau telah terjatuh? Ke Cermin Kelima? Atau Cermin Keenam? Atau, kau sudah mendengar 'lagu tersebut' yang hanya mengalir di area terdalam?"
Saat ditanyai pertanyaan itu——
Si remaja, yang terdiam selama ini, membuka mulutnya dengan lemah. Akan tetapi, dia tidak punya tenaga untuk bicara. Mulutnya yang terbuka setengah hanya berhasil mengeluarkan napas parau samar-samar.
"Kau berharap untuk menjawab tapi tubuhmu tidak mengijinkannya? Yah, tidak masalah. Kau akan segera mengerti."
Dia menyibak rambut hitamnya, yang masih terlihat menyilaukan meskipun dalam kegelapan.
"Namaku adalah Tsali. Kau tidak perlu mengingatnya sekarang. suatu hari, kau akan sering mendengar namaku. Jadi untuk saat ini—biarkan aku untuk menyambut kembalinya dirimu lagi."
Setelah itu.
Sebuah kilatan cahaya bersinar di dalam mata kuning ambernya. Wanita yang menyebut dirinya sendiri sebagai "Tsali" memegang tangan si remaja dengan erat.
"Aku menyambutmu. Oh pria muda, yang telah terjatuh ke dalam Taman Nyanyian Tenoda , dan kembali ke benua terapung ini. Selama seribu tahun, surga yang membeku ini telah menantikanmu—"
Pada malam itu, benua terapung – Orbie Clar telah mencatat hujan terlebat dalam sejarah, sesuatu yang sangat langka untuk dilihat.



Hyouketsu Kyoukai no Eden Jilid 1 Prolog Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.