Selasa, 15 Januari 2019

Hyouketsu Kyoukai no Eden Jilid 1 Bab 1 Part 2 LN Bahasa Indonesia


JALAN DI MANA ANGIN TERLAHIR
(Part 2)

Bagian 2
— Angin terasa sangat nyaman.
Hembusan angin menyibak rambutnya yang sewarna teh, seakan meluncoba mendorongnya dari belakang.
"…sudah dua tahun ya sejak aku datang ke sektor pemukiman, jauh dari Istana Tenketsu ?"
Sheltis, yang sedang berdiri di samping jalan utama dengan rasa kehilangan, mendongakkan kepalanya.
Awan yang mirip kapas terhembus menjadi beberapa bagian lebih kecil oleh tiupan angin, kemudian setiap awan itu terbang ke arahnya masing-masing. Tidak peduli cuaca hujan atau cerah, atau bahkan bersalju, tiada satu hari pun di mana angin tidak berhembus di jalan-jalan ini.
Inilah ciri khas kota ini—bukan, benua di mana semua manusia tinggal ini.
Benua melayang — Orbie  Clar.
Itulah nama dari benua yang ada di bawah kaki mereka, dan pada saat yang sama, nama dari dunia ini.
Benua ini melayang di langit sepuluh ribu meter jauhnya dari lautan es abadi — itulah Orbie Clar, satu-satunya daratan di mana manusia dapat hidup.
Tidak ada yang tahu bagaimana, atau mengapa, benua ini melayang di langit. Akan tetapi, menurut legenda, benua ini telah melayang di atas dunia yang membeku sejak seribu tahun yang lalu.
Sejak sejarah mulai tercatat, manusia telah lama hidup di sepetak benua melayang ini.
Tak terhitung banyaknya pulau-pulau melayang di sekitar Orbie Clar dengan kincir-kincir angin terpasang di atasnya, untuk memanfaatkan energi angin yang tak terbatas untuk memproduksi tenaga listrik.
Tenaga listriknya kemudian akan dikirimkan ke Orbie Clar lewat kabel listrik dari pulau-pulau ke benua utama.
Dengan demikian, peradaban secara alamiah bergerak begitu saja menuju zaman mesin. Sepeda dan mobil-mobil lalu-lalang di sepanjang jalan kebanyakan adalah kendaraan melayang bertenaga listrik, yang bergerak sambil mengapung beberapa sentimeter dari permukaan tanah. Mengangkat kepalanya menghadap langit, siapapun dapat melihat mesin terbang aerodinamis yang terbang melayang melintasi langit dengan anggunnya.
"… …Benar, ke mana Yuto pergi?"
Mendengar suara langkah-langkah kaki di belakangnya, Sheltis berbalik ke belakang dan melihat seorang gadis muda berlari  ke arahnya dengan tertatih-tatih.
"Shel-nii, kau sudah siap?"
"Mmmm, kita bisa pergi sekarang."
Yuto menempel erat-erat pada Sheltis begitu pemuda tersebut mengangguk.
"Shel-nii, aku mau itu!"
Si gadis kecil melompat-lompat, sambil menjulurkan kedua lengannya pada saat yang sama. Apa maksudnya? Dia ingin berjalan sambil berpegangan tangan pada saat yang sama? Tepat saat Sheltis akan menanyakannya, Yuto mengangkat kepala dan tersenyum.
"Yuto mau digendong."
"Ah, aku mengerti."
Dia pun bersimpuh, menempatkan gadis itu pada pundaknya, kemudian berdiri kembali.
"Waa—tinggi! Aku lebih tinggi daripada Shel-nii!"
"T-tunggu Yuto! Jangan bergerak-gerak dulu, atau aku tidak bisa berdiri mantap."
Setelah menenangkan si gadis yang penuh semangat itu di bahunya, Sheltis mulai berjalan menuju ke ujung selatan jalan utama.
Jalan-jalan di benua melayang hampir semuanya dilapisi bata berwarna hijau kelabu muda. Dikatakan bahwa di permukaannya, yang bercahaya keperakan terang di bawah sinar matahari, diatur oleh semacam thermostat, yang memberinya kemampuan untuk mempertahankan temperature yang nyaman meskipun dalam perubahan musim.
"Shel-nii, lihat ke belakangmu. Cuacanya bagus, dan kita bisa lihat menaranya dengan jelas!"
"Hmm…?"
Mendengar perkataan Yuto, dia pun membalikkan badannya.
Para jarak yang cukup jauh dari Sektor Pemukiman Kedua, di pusat benua melayang—
Berdiri sebuah menara putih besar yang begitu tinggi hingga ke langit.
Istana Tenketsu
Dibangun di pusat Orbie Clar, bangunan itu adalah struktur terbesar di benua.
Tingginya dua ribu meter, dengan total dua ratus sembilan puluh lantai. Itu adalah sebuah menara yang memanjang melewati ketinggian burung-burung dan awan, menjulang menuju langit.
"Yuto masih ingat apa yang Shel-nii katakan. Queen-sama ada di lantai paling tinggi di menara, sementara yang di lantai bawahnya ada lima Priestess-sama!"
Queen-sama dan kelima Priestess. Tidak ada satu pun yang tinggal di Orbie Clar ini yang tidak mengenal mereka. Menara Istana Tenketsu adalah sebuah menara yang dibangun khusus untuk mereka.
Itu benar. Itu karena merekalah yang bertugas sebagai 'dinding pelindung' yang melindungi benua melayang ini—
"Mmm… …"
"Eh? Shel-nii benci menara itu? Yuto sangat menyukainya—kelihatan berkilauan cantik sekali."
"Aku tidak membencinya… …hanya saja aku punya kenangan kuat di sana."
—- Ymy[1], apa kabarmu?
Di bawah terik matahari, Sheltis menyipitkan matanya dan menatap puncak menara.
— Semenjak aku datang ke sektor pemukiman, aku jadi semakin mengerti tentang kenyataan bahwa manusia hanya bisa hidup sedamai ini di benua melayang karena kerja keras tanpa henti Istana Tenketsu >.
"Kenangan? Shel-nii pernah di menara itu sebelumnya?"
Menggendong Yuto yang mulutnya menganga lebar karena terkejut, Sheltis menggelengkan kepala sambil tersenyum dengan sedikit getir.
"Itu adalah sesuatu yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Baiklah, Eyriey masih menunggu kita di alun-alun, 'kan? Kita akan kena omel lagi kalau kita tidak cepat-cepat ke sana."
"Ah, iya benar! Shel-nii, cepat! Lari!"
"Ya ya… … Yuto, kurasa kau benar-benar lupa soal itu."
Dia membalikkan badan menuju arah alun-alun.
Dengan punggung menghadap ke arah menara raksasa itu, Sheltis mulai berjalan.
* * *
"Keren sekali ya, Shel-nii! Ada banyak bendera cantik!"
Saat mendekati alun-alun, Yuto berseru kegirangan.
"… …Iya, ya. Festival Bintang sudah hampir mendekat."
Setelah menaruh Yuto ke tanah, Sheltis melihat-lihat sekeliling alun-alun.
Meninggalkan jalan berlapis batu buatan manusia, padang rumput hijau luas di depan menyambut mereka.
Alun-alun Len—
Di sebuah tempat yang cukup luas untuk menyelenggarakan perlombaan lari cepat jarak pendek, lahan berumput hijau gelap terlihat hidup di bawah perawatan orang-orang, dan anak-anak berlarian ke sana ke mari bertelanjang kaki. Di pinggir-pinggir alun-alun, terdapat bendera-bendera dengan warna yang berbeda-beda berkibar-kibar ditiup angin. Di bawah bendera-bendera tersebut, berbagai macam stan yang berbaris rapi.
Bendera yang tak terhitung jumlahnya itu mungkin untuk persiapan festival yang akan diadakan di alun-alun tersebut.
"Bagaimana, Shel-nii? Aku benar-benar menunggu festival ini! Aku dengar ada banyak stan yang menjual makanan!"
"… …Sebelum itu, kita ada urusan yang lebih mendesak untuk dibereskan."
Sheltis menyilangkan lengan dan melihat ke arah depannya.
Sebuah robot logam abu-abu raksasa sedang mengejar-ngejar seorang gadis remaja yang mengenakan overall.
"Sh……Sheltis! Cepat selamatkan aku——!"
Itu adalah sebuah robot dengan tubuh yang penuh dengan paku-paku, yang membuatnya kelihatan terbuat dari begitu banyak jarum-jarum logam tipis dan tajam.
Tingginya hampir sama dengan Sheltis. Dan mesin itu dengan lincah mengejar-ngejar gadis yang mati-matian melarikan diri, dengan kecepatan dan kemulusan gerakan yang tidak mirip dengan sebuah mesin.
"Ah. Gerakannya benar-benar halus kali ini. Eyriey pastinya sudah berusaha begitu keras, ya?"
"Tu……tunggu, Sheltis! Sekarang bukan waktunya bagimu untuk kagum… … Whoa! Sa-sakit! Rasanya benar-benar sakit! Berhenti berlindung di situ! Cepat datang dan tolong aku~~~~~!"
Setelah dicolek oleh jari-jari tajam robot itu di punggungnya, Eyriey mengomel sambil melihat ke belakang.
Dengan sepasang mata berwarna coklat, bentuk tubuh yang kecil dengan kepala yang penuh dengan rambut jingga yang dipotong dengan tidak rapi. Dia setahun lebih muda daripada Sheltis, dan adalah seorang gadis remaja aneh berumur enam belas tahun yang sangat suka melakukan penelitian terhadap mesin.
"Ngomong-ngomong, mesin kali ini benar-benar mengagumkan. Bukan begitu menurutmu, Yuto?"
Dia menatap gadis kecil yang ada di sebelahnya. Mata Yuto juga berbinar-binar cerah.
"Mmm. Eyri-nee benar-benar hebat!"
"Ber……Berhenti bicara, cepat pikirkan sesuatu~~~~~"
Di Orbie Clar yang dimekanisasi, terdapat banyak robot yang dapat secara akurat meniru tindakan manusia. Meski begitu, diperlukan kemampuan teknis hingga tingkat tertentu untuk merakitnya. Eyriey mungkin hanya satu-satunya orang di seluruh benua melayang ini yang membuatnya dari dasar, benar-benar murni karena minat pribadinya.
"… …Masalahnya, mesin-mesin Eyriey selalu kehilangan kendali tanda diduga."
Setelah mengamati beberapa saat, mesin itu masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Gadis itu selalu merakit mesinnya di alun-alun, dan semuanya selalu lepas kendali untuk alasan yang tidak diketahui. Orang-orang di alun-alun sudah terbiasa dengan pemandangan ini, dan banyak dari mereka yang bahkan menyemangati kejar-kejaran tersebut. Tidak ada satu pun yang merasa takut.
"Ngomong-ngomong, apa yang harus kulakukan? Seperti biasanya?"
"I… …Itu benar! Tekan tombol berhenti di belakangnya!"
"Aku jadi berpikir, kenapa kau tidak membuat remote kendali yang bisa menghentikannya dari jauh?"
"Mesin lepas kendali tepat saat aku akan membuatnya."
.. …Menurutku, seharusnya kau membuat remotenya lebih dulu.
Sheltis menelan kata-katanya yang hampir keluar itu, dan mengubahnya menjadi sebuah helaan napas.
"Terserahlah. Yuto, sembunyilah dulu. Di sini berbahaya."
Setelah Yuto telah pergi, dia berjalan menuju robot itu.
… …Semuanya menjadi sedikit lebih merepotkan dibanding biasanya.
Meskipun robot ini kelihatan cukup konyol saat mengejar-ngejar Eyriey, benda ini memiliki mesin kuat yang menggerakkan tubuhnya, yang mana tidak bisa diabaikan. Bagaimanapun, tenaganya cukup untuk menggerakkan rangka logam yang beratnya beberapa ratus kilogram. Bahkan orang yang sudah tumbuh dewasa sepenuhnya pun akan terbang cukup jauh jika terkena lengannya.
"Baiklah. Pertama-tama…"
*duk*. Dia mulai berlari dengan menjejakkan kakinya dengan ringan ke tanah, kemudian perlahan meningkatkan kecepatannya. Angin melewati telinganya, sementara pemandangan berkelebat cepat terlihat kabur.
"Berlutut!"
Tidak menunggu Eyriey melakukannya, ujung kaki Sheltis menendang keras-keras tanah berumput.
Sebuah lompatan yang lebih tinggi daripada tinggi pria dewasa ataupun si robot, seakan tidak ada gravitasi. Kaki kanan Sheltis mendarat lincah di bahu si robot, yang sudah hampir mencapai Eyriey.
*krak*. Lempengan logamnya terdengar penyok, dan postur robot itu pun goyah. Akan tetapi, benda tersebut tidak berhenti bergerak. Tepat saat Sheltis mendarat, mata lawan terkunci padanya.
"Tangguh… …Sebuah tendangan sederhana tidak akan membuatnya berhenti?"
Dia memutar tubuh untuk menghindari tinju kiri yang datang, kemudian melihat pada serangan lengan-lengan yang bergerak ke arahnya seperti sepasang penjepit. Kaki dan tangan mesin raksasa itu, kurus seperti balok kayu, datang ke arahnya dari titik buta di atas kepalanya… …
*tak*!
Sebuah suara pendaratan samar-samar. Kemudian, para penonton yang menyaksikan semuanya dari awal kini menahan napasnya. Itu karena siluet pemuda remaja itu mendadak terlihat kabur tak jelas—dalam sekejap mata, dia telah melompat ke lengan robot tersebut.
Itu semua dilakukan seketika itu juga. Dia akan tersapu oleh lengan robot itu kalau saja ada kesalahan sedikit pun. Ketajaman visual dan refleks orang pada umumnya, sudah jelas tidak akan mengijinkannya untuk melakuan semua aksi mengagumkan tersebut.
"Oosh."
Dia berpijak pada bahu robot itu setelah melompat dari lengannya, dan menempatkan tangannya pada kepala benda tersebut. Dengan begitu, dia bersalto sekali di udara, kemudian mendarat di punggung si robot… … Apakah itu tombolnya?
Dia menekan tombol merah yang mencuat dari punggung benda tersebut. Dalam sekejap, robot tersebut berhenti bergerak.
"Benar, sukses besar… …Eh?"
Sebuah perasaan aneh berkelebat di  benaknya, membuat Sheltis mengerjapkan mata dan mematung di tempatnya.
Meskipun benda itu tidak bergerak, roboh itu entah kenapa mulai bergetar sedikit. Itu aneh. Pada dasarnya, tombol berhenti seharusnya dapat menghentikan semua pergerakan mekanisnya.
"Ah, Sheltis! Tunggu sebentar!"
Kata-kata Eyriey memecahkan kesunyian.
"Tolong tekan tombol hijau, karena yang merah untuk tombol darurat penghancuran-diri."
"… … … Apa katamu barusan?"
"Kubilang, tombol 'berhenti'nya yang warna hijau. Jangan menekan tombol yang warna merah."
… …Apa yang barusan kutekan?
Sheltis tidak berkata apapun, dan melihat punggung si robot lagi.
Di bawah tombol merah besar, terdapat tombol kecil berwarna hijau. Saat mengamatinya lebih jauh, tombol merahnya memiliki tulisan 'Jangan tekan' dalam tulisan tangan yang berantakan.
"Jangan-jangan kau sudah menekannya?"
"Jangan pasang sesuatu yang seberbahaya itu——!"
Tanpa ada waktu untuk melarikan diri, Sheltis diliputi asap hitam yang dilepaskan oleh si robot.
"Ya ampun—orang normal tidak akan menekan tombol yang sejelas itu. Merah adalah warna untuk memperingatkan. Ya 'kan, Yuto?"
"Ya, Eyri-nee."
Yuto dan Eyriey berjalan dengan senangnya sambil berpegangan tangan.
"… …Yah, kurasa akulah yang salah karena tidak memastikannya dengan hati-hati."
Setelah beberapa saat, Sheltis akhirnya menyusul mereka berdua.
"Mmm? Ahh, jangan khawatir. Itu dinamai sebagai tombol penghancur-diri, tapi kenyataannya, itu hanya alat biasa yang menghasilkan asap."
"Kurasa bukan itu masalahnya!"
Pemuda itu melambaikan lengannya dengan sekuat tenaga, memprotes keras. Meski berkata begitu, saat dia segera melompat menjauh, tubuhnya tidak menghitam karena asap.
"Tapi tetap saja, berkat dirimu, aku akhirnya selamat."
Dengan overallnya yang penuh dengan noda, Eyriey berkata sambil tersenyum.
"… …Saat berhadapan dengan senyum semacam itu, aku benar-benar tidak bisa marah padamu."
"Mmm? Sheltis, ada apa?"
"Tidak, ini… …bukan apa-apa."
Sheltis merasa sangat malu dengan tatapan gadis itu, dan memalingkan muka tanpa sadar… …Benar, sudah jelas, dia terlibat dalam hal-hal seperti ini bukan karena keinginannya. Meskipun dia sibuk setiap harinya, jauh di dalam hatinya ini sangatlah memuaskan. Dalam waktu dua tahun yang singkat sejak dia datang ke sektor pemukiman, gaya hidupnya saat ini juga tidak terlalu buruk.
"Ngomong-ngomong soal itu, Shel-nii benar-benar hebat! Semua orang memuji betapa mengagumkannya Shel-nii barusan!"
Yang sedang Yuto bicarakan mungkin adalah apa yang tadi terjadi di alun-alun.
"Benarkah? Kupikir itu lumayan biasa-biasa saja."
"Tidak tidak, berhenti bercanda."
Eyriey menggelengkan kepalanya.
"Aku basah kuyup dengan keringat hanya dengan memikirkan diriku yang langsung bergegas maju menuju robot yang mengamuk. Tenaga kudanya itu bukan main-main. Sheltis menghindarinya dengan baik-baik saja, tapi kalau kau sampai tertendang olehnya, aku tidak berani membayangkan konsekuensinya… … Berbahaya sekali!"
"… …Kalau memang begitu, buatlah robot yang lebih kecil nantinya. Supaya kau tidak harus khawatir meskipun dia lepas kendali."
Di saat itulah, Yuto mendorong punggungnya. Setelah menempatkan gadis itu di bahunya, Shletis melanjutkan langkahnya.
"Mau bagaimana lagi? Kalau aku tidak mengetes robot seukuran itu, aku tidak akan bisa tahu kondisi jalannya mekanisme bergerak yang sebenarnya. Tapi berkat hal itu, aku mungkin bisa menyelesaikan penyesuaian motornya sebelum akhir pekan tiba."
"Akhir pekan?"
Sheltis merenung sesaat. Dia sama sekali tidak mengerti maksud Eyriey tetang penyesuaian sepeda motor. Sebelum akhir pekan… …apa ada sesuatu yang terjadi saat itu?
"Kau sudah lupa? Bukannya kita semua setuju untuk piknik barbekyu akhir pekan ini?"
"Kita semua?"
"Itu Yuto, Eyri-nee dan Shel-nii."
Yuto yang sedang di bahunya, menekankan kata-katanya dengan menggerak-gerakkan kakinya.
"Aku sama sekali tidak mendengar soal itu."
"Aneh. Yuto tidak memberitahukan Sheltis soal itu?"
"Bukannya Eyri-nee yang tidak bilang sama Shel-nii?"
Setelah itu, kedua gadis itu berekspresi mematung di saat yang bersamaan. Kelihatannya mereka berdua mengira satu sama lain sudah menginformasikan Sheltis.
"… …Ya sudahlah. Akhir pekan, berarti lusa, 'kan? Benar-benar keputusan yang mendadak. Apa toko menanganinya?"
Dia memikirkan Chef, yang mungkin sedang menunggunya kembali di dapur "Dua Angsa '. Kalau dia dan Eyriey mengambil hari libur di hari yang sama, Chef akan sendirian di toko.
"Mmm, aku sudah memberitahukan dia soal ini, jadi tidak perlu khawatir. Hanya saja Chef bilang, 'Sebaiknya kau bersiap-siap saat pulang ke sini!"."
"Chef marah? Pasti begitu."
"Tidak masalah. Ada peribahasa, tak ada hasil tanpa usaha."
Saat mendengar Eyriey mengatakannya dengan santai, Sheltis mau tidak mau memegangi kepalanya dan mengerang, "Kepalaku, yang tadi ditendang Yuto, mulai sakit lagi."



[1]  Kalau menurut manganya, bisa dibaca "Yumi". Tapi untuk terjemahan LNb kali ini aq lebih milih ngikutin versi raw novelnya aja :3

Hyouketsu Kyoukai no Eden Jilid 1 Bab 1 Part 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.