Selasa, 15 Januari 2019

Hyouketsu Kyoukai no Eden JIlid 1 Bab 1 Part 1 LN Bahasa Indonesia



JALAN DI MANA ANGIN TERLAHIR
(Part 1)

Bagian 1
'Melakukan shift malam semalam, mengejar waktu tidurku. Datang lagi nanti. — Sheltis'
Menempel di pintu adalah secarik pesan singkat yang ditulis dengan tulisan tangan yang berantakan.
Perabotan yang di ruangannya hanya terdiri atas sebuah ranjang, meja, kursi, dan sebuah lemari pakaian. Bila dikatakan secara halus, ruangan ini rapi dan menyegarkan; bila dikatakan secara blak-blakan, ruangan ini kurang fitur apapun yang pantas untuk disebutkan. Di sudut ruangan semacam itu —
Seorang pemuda remaja sedang tertidur dengan napas yang teratur.
Lengan rampingnya sedikit terlalu kurus untuk seorang laki-laki, dan wajahnya terlihat sedikit berkesan androgini[1]. Rambutnya yang berwarna merah-teh keunguan tidaklah rapi, dan memberi kesan itu dipotong asal-asalan. Dari tinggi tubuhnya, umurnya mungkin sekitar enam belas atau tujuh belas tahun. Akan tetapi, dia terlihat lebih muda satu atau dua tahun, dari caranya dia tidur.
"Fu … …"
Tidak diketahui apakah dia sedang mengigau atau sekedar bernapas.
Di sebelah ranjang tempat dia tidur, terdapat sehelai celemek yang digantung pada sebuah kursi. Di lantai terdapat secarik kertas yang terjatuh, di permukaannya tercantum "Jadwal Tugas, Sheltis".
Dia lupa untuk mematikan lampu di langit-langit. Di bawah penerangannya, hanya jam dinding di sebelah bantal yang bergerak seiring waktu. Saat itulah—
"Shel-nii, Shel-nii!"
Pintu ruangan itu terbuka secara mendadak dan seorang gadis muda melongokkan kepalanya dari koridor.
Dia adalah seorang gadi muda dan polos yang berusia kira-kira enam tahun, dengan sepasang mata yang dipenuhi kebahagiaan. Rambut hitam lembut berkilaunya diikat dua dalam model twintail dan ada sehelai syal yang membungkus ringan sekitar lehernya. Penampilannya mengesankan orang untuk waktu yang cukup lama.
Setelah memandangi sekitar ruangan, gadis itu tiba-tiba mengunci tatapannya. Tempat yang sedang dia lihat adalah pemuda remaja yang masih tertidur lelap. Setelah menyaksikan pemandangan itu untuk beberapa lama—
"… …Ah!:
Gadis kecil itu menepukkan tangannya dengan senyum nakal dan bergegas masuk kamar kecil itu.
"Shel-nii, Shel-nii—"
Dia berlari menuju kursi di sebelah ranjang dan menggunakannya sebagai landasan untuk melompat.
Berikutnya.
"Shel-nii. Waktunya. Untuk. Bangun——!"
"—Ugh?"
Sebuah suara gedebuk yang teredam.
Tendangan melompat gadis itu langsung mengenai kepala si bocah remaja itu.
"…Anak perempuan tidak boleh melakukan tendangan melompat."
Mencengkeram kepalanya yang terasa sakit, Sheltis mengangkat tubuhnya dari tempat tidur.
"Waa—tempat tidur ini hebat. Badannya sampai bisa tenggelam?"
"Itu karena ranjangnya memiliki bahan busa ingatan di bawahnya… Tunggu, Yuto? Kau mendengarkanku tidak?"
"Eh~ Tapi…"
Gadis cilik bernama 'Yuto' berhenti melompat di atas ranjang dan mendongakkan kepalanya.
"Eyri-nee bilang kalau aku melakukan itu, kau pasti akan bangun."
"…Aku terbangun dengan terkejut. Dalam mimpiku barusan, padang rumput yang indah berubah menjadi berwarna merah darah."
"Tapi, Shel-nii akhirnya bangun. Ayo cepat ke alun-alun! Eyri-nee menyuruh Shel-nii ke sana secepatnya."
Dengan lengan baju yang ditarik-tarik tanpa henti, Sheltis merangkak turun dari tempat tidurnya dengan enggan.
"Alun-alun? Apa dia melakukan percobaan lagi?"
"Mmm, seperti biasanya! Cepat, cepat!"
Yuto melambaikan lengan dan mendesaknya.
"Ya ampun, Eyriey sangat suka membuatku kerepotan…"
Dia mengambil jaket pendek dan menggantungnya di bahu. Kemeja putih dan celana hitam adalah pakaian yang dia kenakan sementara dia tidur barusan.
…Yang benar saja. Lenyaplah kini waktu istirahatnya, yang sangat sulit didapatkan.
Setelah menaruh tabel jadwal kembali ke meja, Sheltis meninggalkan kamarnya.
Café outdoor 'Dua Angsa ' berada di jalan utama Sektor Pemukiman Kedua.
Yang disebut sebagai 'café' sebenarnya hanya bagian depannya karena teh hitam yang disajikannya cukup khas. Ini lebih tepatnya adalah kedai yang aneh, karena kue buatan sendiri dan menu hidangan yang selalu berubah-ubahnya yang lebih terkenal di antara pelanggannya.
"Chef, apa kau sibuk?"
Setelah menyuruh Yuto menunggu di luar, Sheltis membuka pintu belakang dapur. Bersama dengan suara mesin cuci piring otomatis yang bekerja dengan berisiknya, muncul juga aroma teh hitam yang khas.
"Wah, Sheltis. Apa kau di sini untuk membantu secara sukarela?"
Di dapur yang cukup santai karena lewat jam makan siang, seorang wanita dengan rambut pirang keemasan yang diikat tinggi di atas kepala, menolehkan kepalanya ke arah Sheltis.
Bahkan saat ini pun, pisau di tangannya terus memotong sayur-mayur.
"Kenapa bisa begitu? Oh iya, boleh aku pergi keluar sebentar? Eyriey bilang dia akan melakukan semacam uji mesin baru di alun-alun lagi."
"Itu gawat. Kalau kau tidak ke sana secepatnya, seseorang akan menderita lagi. Karena mesinnya akan kehilangan kendali."
Chef menaruh pisaunya di atas talenan, kemudian melipat lengan dengan ekspresi kerepotan. Meskipun dia adalah pemilik café ini, karena minat pribadinya, dia lebih suka dipanggil chef.
"Ingat untuk pulang sebelum jam istirahat selesai. Tempat ini kekurangan tenaga."
"…Kau sudah sesibuk itu tapi masih punya waktu untuk mencoba kombinasi baru?"
Sambil mengamati belakang Chef, Sheltis menghela napas.
Dapur itu dipenuhi dengan berbagai macam bahan. Selama dua tahun sebagai pesuruh kedai ini, Sheltis tidak pernah satu hari pun melihat kombinasi bahan yang sama yang pernah digunakan sebelumnya.
"Ini bukan kombinasi baru, tapi 'hidangan baru'. Fufu, tunggu saja nanti."
Tanpa mengalihkan pandangannya, tangan wanita itu mulai memotong-motong buah-buah untuk hiasan. Kenyataannya, sebagian besar pembelinya sangat menyukai hidangannya, jadi mau bagaimana lagi.
"Kalau begitu, Chef, apa makan malam kali ini?"
"Bistik Kerang Mumu Panas Mendesis dan Sup Kental Melengking Tanaman Jirususu."
"Kesampingkan nama-nama hidangannya, bukankah bahan-bahan itu sedikit terlalu menjijikkan?"
Cangkang spiral kerang merah muda yang sangat muda di atas talenan itu adalah Kerang Mumu, sementara tanaman merah terang dengan duri-duri pada batangnya mungkin adalah tanaman Jirususu.
"Wah, kau tidak bisa menilai buku dari sampulnya. Ini semua benar-benar enak."
Chef menutupi mulutnya dan tertawa.
"Kerang Mumu dan tanaman Jirususu sama-sama mengandung racun mematikan… …tapi karena itulah mereka murah."
"Chef--! Apa kau mengatakan sesuatu barusan?"
"Jangan khawatir, aku sudah membersihkan racunnya secara menyeluruh. Jadi benar-benar aman."
"… …Senyum berbahayamu itu tidak meyakinkan."
"Juga, tidak masalah karena yang akan mengetes racunnya adalah kau, Sheltis."
"Aku?"
Sheltis mundur selangkah dengan terkejut. Saat itulah, Chef mengalihkan matanya ke panci di depannya.
"Baiklah, berhenti membicarakan hal-hal yang konyol. Cepat bawa pulang Eyriey. Aku tidak bisa menangani semuanya tanpa bantuan dari kalian berdua."
"Baiklah aku pergi… …sebelum aku dipaksa untuk mencoba racun apapun."
Berpamitan dengan Chef, yang melambaikan tangannya, Sheltis meninggalkan dapur.






[1] Istilah populernya "Trap".

Hyouketsu Kyoukai no Eden JIlid 1 Bab 1 Part 1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.