Senin, 14 Januari 2019

Goblin Slayer Side Story - Year One Jilid 1 Interlude 2 LN Bahasa Indonesia



AKAN PENGALAMAN PERTAMA MEREKA
(Translater : Zerard)

“Mantap! Ayo kita mulai...”
Mulut gua menganga dengan begitu besarnya hingga dapat melahap semua pohon yang ada di sekitarnta. Heavy Warrior mencoba bersuara bersemangat sebisanya.
Hanyalah sebuah quest sederhana—atau itulah yang seharusnya.
Pembasmian goblin. Sebuah tebas dan libas yang standar.
Tampaknha, para goblin telah membangun sebuah sarang di dekat pedesaan dan mulai mencuri ternak dan semacamnya. Tidak akan lama bagi mereka untuk mulai berpindah pada manusia. Penduduk desa menginginkan seseorang untuk menghabisi semua goblin ini sebelum terlambat. Merupakan cerita yang sudah biasa.
Heavy Warrior mengingat ketika di desanya—pada masa mudanya—ketika beberapa petualang telah datang. Dalam ingatannya, mereka tampak luar biasa, lebih besar dari kwhidupan, dan begitu penuh percaya diri, namun untuk dirinya sendiri...
Aku rasa perjalananku masih panjang.
Tangan Heavy Warrior terbuka dan terutup. Dia masih berusaha membiasakan sebuah perasaan asing mengenakan pelindung tangan.
Apa yang begitu dia khawatirkan? Setiap petualang memulai karirnya dengan quest semacam ini, benarkan? Ini bukanlah sesuatu yang harus di takuti.
Atau aku memang harus takut...?
Bagaimana jika—hanya berdasarkan kemungkinan—dia terkalahkan dan harus merayap kembali pulang? Dia harus tertaih-tatih kembali ke desanya yang di mana dia meninggalkan desa itu dengan begitu dramatis beberapa minggu yang lalu.
Itu hal terakhir yang aku inginkan...!
Bukan karena akan terlihat buruk. Permasalahan utamanya adalah karena teman terbaiknya telah mencuri gadis yang dia sukai.
Yah, lebih seperti dirinya yang menaksir gadis itu. Dia bahkan belum memberi tahu gadis itu bahwa dia menyukainya...dia berpikir. Jadi mungkin itu tidak bisa di sebut bahwa gadis itu telah di curi? Heavy Warrior tidak mengetahuinya, namun itu tidaklah penting. Dia tidak ingin mengganggu hubungan mereka, ataupun dia harus kembali pulang dengan tertatih.
Heh, aku pernah mengusir goblin dari desa kami.
Oleh karena itu dia yakin..yah, cukup yakin...itu jika berasumsi bahwa tidak ada hal di luar dugaan yang akan terjadi, dia akan baik-baik saja. Dan dia tidaklah sendiri.
Kalau di pikir, para petualang yang datang ke desa kami mempunyai party juga.
Seraya pikiran itu melintas, Heavy Warrior berhenti di dalam semak-semak tempatnya sekarang berada.
“Apa? Ada apa? Kenapa kamu berhenti? Kalau kamu berhenti, biar aku yang berjalan di depan.” Di sampingnya, Knight Wanita tersenyum tidak sabar, layaknya seorang anak kecil yang nakal. Kenyataan akan pedangnya yang telah keluar dan bersiap membuktikan keganasan dan ketidak-sabarannya untuk bertarung.
Dia Cuma marah-marah soal minumannya ketika aku menemukannya di rumah makan. Sepertinya salah mengajaknya ke dalam grupku.
“Tidak apa-apa,” dia berkata. “Cuma sedikit melamun.”
Dia menggeleng kepalanya untuk mengenyahkan keraguan di dalam hatinya. Dia adalah pemimpin party sejauh ini (dan jaraknya belum terlalu jauh). Terdapat banyak hal yang harus dia lakukan.
Heavy Warrior berpikir keras tentang bagaimana pria-pria dewasa di desanya berprilaku ketika dia sedang membantu pekerjaan di kebun.
“Ayo gadis,—er, yang bisa menggunakan semua sihir...”
“Bukannya ini sudah saatnya kamu untuk mengingat namaku?” Gadis Druid, mencembungkan pipinya yang membuatnya lebih terlihat lucu di bandingkan marah. (TL Note : kalian di sini semua g punya nama -_- )
Di samping Gadis Druid, Bocah Scout memegang pisau di tangannya dan memperhatikan gua dengan seksama. Berdasarkan pakaian, mereka berdua dapat terlihat sebagai petualang—walaupun petualang miskin.
Mereka lebih kekanak-kanakan dari yang aku kira...
Dia telah di paksa untuk merekrut pengguna sihir dan seorang pengintai dengan hanya berbekal pengetahuan yang telah di dengarnya dari berbagai macam lagu para penyair, dan inilah hasilnya: beberapa anak kecil yang telah berbohong tentang usia mereka demi menjadi petualang. Akan tetapi pada saat ini, dia tidak mempunyai pilihan lain selain mengandalkan mereka.
Mungkin aku terlalu banyak menyuruh mereka, tapi...apa yang terjadi, terjadilah.
“Simpan sihirmu,” Heavy Warrior berkata. “Kita tidak tahu apa yang ada di dalam sana.”
Itu adalah kenyataan.
Bukanlah karena dia berpikir untuk bertemu dengan naga—seekor makhluk yang dia sama sekali tidak ingin ganggu—namun segala sesuatu bisa saja terjadi. Terdapat perumpamaan terkenal tentang seseorang yang berjalan di jalanan dan mereka bertemu dengan seekor drake. (TL Note : saya ragu apa drake yang di maksud di sini itu nama monster atau bebek jantan.)
Tetap saja, perintah itu membuat Heavy Warrior merasa seperti dia menunjukkan rasa takutnya, oleh karena itu dia menambahkan sebuah ucapan penambah keberanian.
“Jangan gunakan sihirmu kalau tidak perlu,” dia berkata.
“Y-yeah, baik,” Gadis Druid berkata, kepalanya naik dan turun dan tangannya pada tongkatnya.
“Jadi,” Heavy Warrior berkata, melihat Bocah Scout, yang tampaknya tidak berkedip sama sekali. “Hey.”
“I-iya!” Sang bocah sedikit melompat dan menjawab dengan suara serak.
Bagaimana cara aku menghadapi momen seperti ini?
Heavy Warrior mencoba berpikir keras mengingat masa di kala goblin telah mendatangi desanya.
“Ambil napas dalam,” dia memberi instruksi. “Tarik, buang, sampai aku bilang berhenti.”
“Ba-baik!” Sang bocah mengangguk kencang; sulit untuk di ketahui apakah ini membantu atau tidak sama sekali. Namun paling tidak Heavy Warrior berhasil membuat bocah itu menjadi lebih tenang. Ini sudah cukup untuk saat ini.
Tapi bukannya ada...sesuatu yang lain?
Sesuatunyang seharusnya kamu lakukan sebelum berpetualang, sesaat sebelum pergi membasmi goblin.
Apakah ada hal lain yang harus di lakukan? Harus di kerjakan? Harus di perhatikan?
Heavy Warrior mendapati dirinya sendiri mabuk, di serang oleh kegelisahan yang tidak dapat dimketahui. Dia berputar kepada half elf figther di dalam grupnya.
“Hey, apa aku ada kelewatan sesuatu?”
“Hmm,” Half Elf Fighter bergumam berpikir. Dia memutar kepalanya dengan anggun, melihat masing-masing anggota partynya, kemudian menepuk tangannya dan berkata, “Ah! Ayo atur formasi kita dulu. ‘Kita nggak tahu apa yang ada di dalam,’ kan?”
“Formasi kita?”
Seperti, scout yang akan berdiri di depan party, sementara pembaca mantra berada di baris belakang? Apa maksud dia seperti itu?
Seraya Heavy Warrior berusaha memutar pengetahuannya, Knight Wanita menepuk punggungnya.
“Asal kamu tahu saja, aku punya keajaiban penyembuhan!”
Mengapa dia mengatakan itu di sini dan sekarang? Apa tujuan yang di maksudnya?
Heavy Warrior mengalihkan pandangannya dari Knigh Wanita, yang tampak membusungkan dadanya bangga dengan cara yang tidak tampak seperti wanita sama sekali. Heavy Warrior menghela.
Mereka memiliki potion yang telah mereka beli bersama. Mengapa mereka harus memohon para dewa untuk—
Tidak. Ingat... kita benar-benar tidakntahu apa yang ada di dalam sana.
“Walaupun kita tidak membutuhkannya kali ini, siapa yang tahu kita akan butuh di lain kali? Bagus.”
Memang bagus. Heavy Warrior berniat mensyukuri setiap kartu yang dapat dia mainkan.
Kemudian Heavy Warrior melirik pada Gadis Druid dan menghela untuk kesekian kalinya. Gadisnitu berdiri di sana, menghapal sebuah lantunan untuk dirinya sendiri dengan harapan dia akan mengingatnya. Bukanlah sebuah pemandangan yang dapat memicu kepastian. Berdasarkan penampilanya yang tampak seperti anak kecil pada perjalanan pertamanya keluar kota, tidaklah salah bagi Heavy Warrior untuk mengkhawatirkannya. Berada di ekor grup, gadia itu tampak seperti akan tersesat atau tersandung.
Mungkin kita harus menaruh salah satu pemain depan kita ke belakang.
“Baiklah, O knight-pengemban keajaiban. Kamu ekor kita. Aku mempercayakan bagian belakang padamu.”
“Baik! Serahkan padaku!” Dari caranya memukul armor dadanya benar-benar hanya menguatkan rasa takutnya—namun biarkanlah.
Dia telah melakukan segalanya yang dapat dia pikirkan. Pikiran itu membuatnya sedikit menjadi lebih santai.
“Oke, ayo bergerak.”
Dia menepuk punggung Bocah Scout, kemudian mengangkat pedang besarnya dan berjalan.
Setelah lima belas menit kemudian, dia akan mendapati dirinya dalam sebuah masalah ketika pedangnya mulai tersangkut di setiap dinding gua.



Goblin Slayer Side Story - Year One Jilid 1 Interlude 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.