Minggu, 06 Januari 2019

Goblin Slayer Jilid 4 Bab 9 LN Bahasa Indonesia



AKAN MEREKA BERTIGA, BEBERAPA BULAN YANG LALU
(Translater : Zerard)

Sebuah kata rumah makan dapat memiliki banyak arti. Tidak semua rumah makan memiliki hubungan dengan Guild Petualang.
Berkelilinglah di kota dan kamu akan menemukan beberapa rumah makan, lengkap dengan papan buletin dan cahaya yang menyinari.g
Rumah makan biasanya merangkap dengan sebuah penginapan, dan terkadang para petualang ingin sebuah perubahan suasana. Ini adalah tempat di mana para petualang sering terlihat, makan dan minum sebanyak yang mereka mau, dan kemudian pergi ke luar kota.
Dalam satu rumah makan, seorang penyair memetik senar instrumennya dan mulai bernyanyi.

Harus berapa kali perjumpaan dan perpisahan ini terjadi?
Dikau katakan, yang terpenting adalah apa yang ada di dalam hati
Tanpa seorangpun di sisi, mereka selalu datang dan pergi
Hingga dikau melihat hal manis itu di suatu hari
Tidak peduli dikau raja maupun pencuri
Nayanika-mu yang memikat. Namun namanya, sungguh di sayangkan, dikau tidak mengetahui
Dikau umbar kalimat-kalimat pemanismu, tetapi dia tetap merajut langkahnya melewati pintu ini
Kamu terlambat menyadarinya : dia sudah tidak ada di sini lagi
Harus berapa kali perjumpaan dan perpisahan ini terjadi?
Satu pertemuan, satu perpisahan, dan satu hati hancur sepai tak kembali...

(TL Note : saya mencoba mengakhiri setiap ujung kalimat lagu ini dengan huruf “i”  Kenapa? YOLO!)
“Baiklah. Kalau begitu, aku rasa kita sudaah mendapat party, ya kan Scaly?”
“Ha-ha-ha. Walaoepoen saja berharap adanja seorang warrior dan scooet.”
Duduk di dalam sebuah rumah makan yang nyaman, dua petualang berbincang riang dan tertawa.
Salah satunya adalah seorang dwarf, membelai jenggot putihnya, menepuk perut bundarnya, dan sedang asik meminum anggur dan memakan makanannya. Dan di seberang dirinya adalah seorang lizardman, yang makan dengan menggunakan tangannya, tubuh kekar bersisik miliknya duduk di atas sebuah drum anggur. Mereka meminum anggur yang di bawakan kepada mereka layaknya sebuah air. Dengan perilaku riang dan penuh perayaan.
“Seorang blotj’er, ranger, warrior priest, tjleritj, wizard. Saja rasa ‘ita memil’i ‘ombinasi jang coe’oep bagoes.”
“Yah, itu benar.”
Lizard Priest menggigit kaki babi hutan yang dia pegang dengan kedua tangannya, sementara Dwarf Shaman mengelap sedikit anggur yang tertumpah pada ujung jenggotnya. Dia menuangkan anggur dari dalam botol menuju gelasnya dengan bunyi gluk, gluk, kemudian meminum gelasnya yang penuh akan anggur. Dia meneguknya dengan satu tegukkan dan bersendawa.
“Nggak cukup pemain garis depan, nggak cukup di garis belakang, nggak cukup koneksi untuk mendapatkan perlengkapan dan barang. Mengeluhkan semuanya, maka kamu akan punya banyak hal untuk di keluhkan.”
“Benar se’ali, benar se’ali.” Lizard Priest berkata, menepuk lantai dengan ekornya. “Seboeah party dengan tiga penggoena sihir meroepa’an seboeah ber’ah.”
“Jujur saja, ini memang sedikit mengejutkan.”
“Ma’soed anda...?”
“Kamu.” Dwarf yang berwajah merah menjulurkan gelas kosongnya mengarah pada Lizard Priest. “Pada awalnya...Aku kira kamu mungkin nggak akan setuju membentuk sebuah party dengan cleric lainnya.”
“Ha-ha-ha-ha-ha-ha! Oh, master pembtja mantra. Saja tida’ a’an pernah mengetahoei apa lagi jang anda a’an ‘ata’an beri’oetnja.” Lizard Priest tertawa girang. Telah selesai memakan dagingnya, dia mengunyah tulang kaki itu, menunjukkan taringnya yang tajam. “’Bangsa ‘ami berasal dari deboe laoetan, oleh ‘arena itoe saja merasa tida’ ‘eberatan perihal ‘etoeroenan ti’oes jang memimpin ‘ita.” Mungkin efek alkohol telah berkurang, karena Dwarf Shaman terlihat lelah seraya Lizard Priest memutar matanya senang. “Saja bertjanda, saja bertjanda.”
“Sayangnya nggak terlalu lucu bagiku.” Dwarf Shaman berkata, menepis candaan sang lizard.
“Yah, setiap orang memiliki keyakinannya sendiri. Kalau setiap orang selalu berdebat ketika munculnya perbedaan, maka itu semua nggak akan ada habisnya.”
“Namoen pembang’ang agama dan pengi’oet ‘e’atjaoean tentoenja berbeda, benar...?”
“Itu sudah pasti. Mereka harus di bunuh sampai nggak tersisa satupun.”
Kepala Lizard Priest mengangguk dengan penuh keseriusan; sulit untuk mengetahui seberapa seriusnya Lizard Priest.
Dwarf Shaman mendorong piring kosongnya, memanggil pelayan untuk memesan beberapa daging, dan menopang dagu dengan tangannya.
“Aku penasaran—kamu pernah dengar rumor tentang lizardmen. Mereka semua kidal, atau jantung mereka ada di sebelah kanan. Apa itu benar?”
“Hmm Saja tida’ dapat membitjara’an leta’ jantoeng saja, tetapi oentoe’ tangan saja, ambidextrous.” Rumor tentang para semua lizardmen adalah kidal di karenakan tangan kiri sang dewalah yang menciptakan mereka, tampaknya, tidak masuk akal. (TL Note : ambidextrous artinya dia bisa pakai tangan kanan dan kiri.)
Lizard Priest membuka kedua telapak tangan bercakarnya. Kemudian menjentikkan lidahnya seakan dia sedang teringat oleh sesuatu.
“Saja dengar bangsa dwarf dapat terbang, dari wa’toe ‘e wa’toe.”
“Selama kami punya anggur, nggak ada yang nggak bisa kami lakukan. Anggur dan makanan enak!”
Dwarf Shaman mengatakan hal yang sama beberapa bulan yang lalu dan menyeringai.
*****
“Kalau kamu punya anggur, nggak ada yang nggak bisa kamu lakukan. Anggur dan makanan enak!”
Seperti kebanyakan petualang lainnya, party mereka terbentuk di dalam rumah makan. Namun, pada mulanya, hanya terdapat tiga orang, dan sebelumnya lagi, hanya satu orang.
Angin berhembus melewati kanal, membuat udara terasa sejuk seraya melewati pintu. Adalah senja, dan rumah makan kota air sangatlah riuh dengan suara gelas-gelas yang bersulang.
“Tapi paman! Apa kamu pikir itu nggak terlalu berlebihan, bahkan bagi keponakkanmu?”
Dwarf Shaman terdengar tidak senang. Dia melipat tangannya dan memutar punggungnya.
Di seberangnya ada seorang dwarf lainnya dengan otot yang lebih padat, jenggot yang lebih tebal, dan keriput yang lebih banyak dari dirinya, meminum bir dengan ekspresi yang tidak berubah. Di kursinya terdapat sebuah palu perang yang telah sering di gunakannya, bersama dengan sebuah pengait. Dia adalah seorang shield breaker. Wajah muram dwarf veteran itu, cangkir berada di depan wajahnya, berbicara dengan sangat serius tentang keadaan yang sedang terjadi.
“Biarpun begitu—dengar. Saat ini, Cuma kamu yang bisa aku panggil.”
“Tapi walaupun itu dari kamu paman—benar-benar nggak ada yang bisa aku lakukan.” Dwarf Shaman meneguk bir miliknya dan menatap pamannya.
Keriput di wajah dwarf itu semakin bertambah dari sebelumnya, dan kepalanya semakin menjadi botak. Dwarf itu benar-benar sudah menua. Sangatlah di menegerti. Bahwa salah satu pemuda di dalam sukunya yang telah pergi mempelajari sihir, sekarang berprilaku layaknya pemberontak.
Tapi biarpun begitu...ini!
“Pergi berpetualang dengan seorang elf?” Dwarf Shaman berkata. “Yang di pilih secara langsung dari pemimpin mereka atau raja mereka atau apalah?”
“Ya.”
“Tinggi dengan tubuh indah, sok-sok bangsawan—selalu bermandikan keindahan—dan oh, begitu rapuh.”
“Kurang lebih.”
“Proklamator elegan, penyair kelas atas, dan berkah dewa dalam hal memanah?”
“Yah, aku belum pernah bertemu yang seperti itu...”
“Gaaah!” Mustahil, aku nggak mau! Dwarf Shaman mengayunkan tangannya menolak. Dia tidak bercanda. “Aku nggak akan bisa bernapas di sekitar orang seperti itu. Aku bisa mati sesak napas!”
“Dengar, dasar egois...”
“Paman bilang dunia sedang dalam bahaya? Aku akan membantu  dengan senang hati—tapi nggak dengan seorang elf!”
Kemudian itu terjadi. Sebuah gelas datang terbang melintasi udara, menumpahkan anggur di jalurnya, dan menghantam kepala belakang paman Dwaf Shaman.
“Hei! Kamu katakan itu sekali lagi!”
Dari belakang pamannya yang tertunduk di atas meja dan menggosok kepalanya, datanglah sebuah suara bening nan berani, Dwarf Shaman mendengak dan melihat gadis elf bermata tajam, tangan di pinggulnya dengan posisi mengancam. Gadis itu memang benar terlihat anggun, langsing dan cantik—dia menggunakan pakaian berburu yang ketat, telinga panjangnya mengepak penuh semangat. Seseorang mungkin tidak dapat menerka jika hanya mendengar dari suaranya, namun telinga gadis itu lebih panjang di banding kaum elf lainnya, adalah sebuah bukti bahwa dia merupakan keturunan high elf kuno.
Memperkirakan terjadinya pertarungan, Dwarf Shaman mengambil kapaknya, dan akan dengan senang hati untuk ikut bertarung, namun seorang padfoot berwajah anjing mengatakan, “Aku akan mengatakannya sebanyak kamu mau!”
Kulit berbulu padfoot membuatnya sulit untuk menerkanya, namun jika di lihat dari dadanya yang timbul, kemungkinan padfoot itu adalah seorang wanita. Dan suara tinggi kasarnya membuatnya terdengar seperti, dalam bahasa manusia, seorang remaja. Kemungkinan bukan seorang perualang. Wanita itu memiliki bentuk tubuh yang bagus, gerakannya sangat lihai—adalah tanda latihan yang di jalaninya. Kemungkinan seorang prajurit. Dia mengelap anggur yang menetes dari kepalanya dan mendengus.
“Para elf itu Cuma mengurung dirinya di dalam hutan, menghiraukan semuanya dan segalanya—dan di tambah lagi mereka itu kikir!”
“Akan ku tunjukkan sama kamu elf yang sesungguhnya!”
High Elf Archer mendesis layaknya seekor kucing dan lompat menerjang prajurit berwajah anjing. Meja terlontar dengan suara benturan, gelas anggur terbang, piring-piring berserakan. Para peminum yang mabuk mengelilingi mereka dan mulai bertaruh.
“Uangku untuk elf itu.” Nggak, untuk padfoot itu.” “Tapi kaum elf itu rapuh sekali.” “ Yeah, tapi kaum padfoot itu sangat bodoh.”
“...Dasar tukang cari masalah.” Aduh, sakitnya. Dwarf Shaman mengangkat bahunya melihat pamannya, yang sedang menggosok kepalanya dan menggerutu.
“Sedikit nggak biasa, untuk seorang elf.”
“...Apa kamu keberatan kalau rekanmu seseorang seperti dia?”
“Hrm. Yah, aku rasa para petinggi elf yang sok-sok bangsawan itu nggak akan memilih seseorang seperti dia.”
Seraya dia bergumam, Dwarf Shaman menggapai sebuah piring. Dia mengambil beberapa kacang kering, tidak mempedulikan anggur yang terciprat di kacangnya, dan memasukkannya ke dalam mulutnya, mengunyah dengan berisik.
Di sampingnya, pamannya menghela. “Mereka sudah membuat keputusan,” dia berkata. “Dan mereka memilih gadis itu.”
“Apa?”
“Lihat deskripsi pribadi miliknya.”
Pamannya mengeluarkan sebuah kertas kusam dari tasnya dan memberikannya kepada Dwarf Shaman. Dwarf Shaman membukanya dengan jari gemuk miliknya, kemudian membacanya seraya melihat perkelahian yang berlangsung.
“Ahh... si dada papan itu...?”
Jika para elf yang angkih itu telah memilih dia, maka tidak ada alasan untuk meragukan kemampuannya.
Bangsa elf membenci para dwarf, namun pada waktu yang sama, Bangsa Dwarf juga membenci mereka.
Tapi dia gadis kecil.
Gadis itu meneriaki ejekan-ejekan pada prajurit berwajah anjing, mereka berdua saling menarik masing-masing rambut dan bulu. Bangsa elf tidak serta-merta menganggap umur itu tidak penting, namun Dwarf Shaman ingin mengetahui apa gadis itu belum mencapai seratus tahun.
“Tapi...” Entah itu sepuluh tahun—atau bahkan seratus—gadis inilah yang akan menjadi rekan seperjalanannya. “...Aku rasa kita akan terluka kalau mencoba melerai perkelahian itu.”
Seraya dia membelai jenggotnya dan berpikir tentang apa yang harus di lakukan, mata Dwarf Shaman tertarik menuju pintu rumah makan.
Sebuah bayangan besar berdiri di sana.
Bayangan itu sangatlah besar. Sama besarnya dengan batu di pegunungan. Gerakannya begitu lebar, begitu pula rahangnya.
Sekarang, dari manakah asal pakaian itu? Ah, benar. Hutan lebat di bagian selatan.
Lizardman itu memperhatikan keributan yang terjadi dan memutar mata di kepalanya. Dia memasuki rumah makan dengan gerakan sigap dan pergi menuju meja bar, tidak mempedulikan tatapan yang dia dapat di sekitarnya. Dia tidak berusaha duduk di sebuah kursi, mungkin di karenakan ukuran tubuhnya yang besar,  atau mungkin di karenakan ekornya yang terseret di lantai.
“Mohon maaf, saja sedang menoenggoe seseorang. Di’arena’an saja tida’ mengetahoei ‘apan mere’a a’an tiba, saja moeng’in a’an berada di sini dalam wa’toe jang coekoep lama.”
Suaranya begitu rendah seperti sebuah batu. Sangat menakjubkan bahwa lidah panjang miliknya dan bergerak mengucapkan bahasa umum dengan sangat mudah.
“Uh, baik,” sang pemilik berkata dengan anggukkan canggung.
Sang Lizard menjawab dengan “Terima ‘asih,” dan mengangguk. “Saja sedang menanti seorang dwarf dan seorang elf. Djika ada petoealang jang anda kenal memili’i ‘riteria jang sama dengan jang saja cari, moeng’in anda bisa memberi tahoe saja.”
Mendengar ini, Dwarf Shaman melirik kepada pamannya, yang berkata dengan tenang, “Aku memang mendengar ada seorang lizardman yang akan meminjamkan tenaganya membantu.” Ucapannya terdengar seperti dia sendiri tidak bisa mempercayainya.
“Ayolah paman, apa paman tidak mengetahui wajahnya?”
“Biarpun mereka memberikanku deskripsi wajahnya, aku tetap nggak bisa membedakan perbedaan wajah para lizardmen.”
“Benar juga.”
Kaum Lizardmen, yang telah menyatakan diri mereka adalah keturunan dari seekor naga menakutkan yang merayap keluar dari laut, adalah petarung terkuat yang bisa kamu temukan di dunia ini.
Mereka adalah musuh yang dapat membuat darahmu menggigil. Mereka membunuh musuh mereka, membantai mereka, memakan hati mereka. Beberapa orang mengatakan bahwa mereka sangatlah barbarian, dan bahkan terdapat beberapa lizardmen—konon—yang bersekutu dengan Kekacauan.
Namun, lizardman satu ini kemungkinan berada di sisi Ketertiban.
Tetapi, walaupun begitu...
“Ahh, dan seboeah santapan, dji’a anda tida’ ‘eberatan.” Lizard Priest mengangkat satu jari bersisik miliknya, dia masih tetap berdiri di depan meja bar; kemungkinan di karenakan ekornya yang menghalangi ketika dia berusaha untuk duduk. “Ketika matanya berputar dan rahangnya terbuka, dia mengucapkan sebuahnkalimat dengan ringan. “Soenggoeh di sajang’an, saja tida’ membawa oeang, ‘arena itoe saja a‘an membajar anda dengan be’erdja—mentjoetji piring ataoe memotong kayoe ba’ar. Anda tida’ ‘eberatan?”
Dwarf Shaman tiba-tiba tertawa, dia meneguk anggurnya, menepuknperutnya, dan tertawa terbahak-bahak. Dia tertawa hingga Lizard Priest memutar leher panjangnya untuk melihat asal suara itu, dan kemudian dwarf itu kembali meneguk anggurnya.
“Hei, Scaly!” dia memanggil kepada Lizard Priest. Dwarf Shaman batuk, kemudian mengelap anggur dari jenggotnya dengan satu tangan. “Kamu lihat gadis telinga panjang yang kelahi di sana? Coba tarik lehernya dan giring ke sini.”
Dwarf Shaman tertawa, menunjuk pada elf itu yang sedang bergelut dengan padfoot, tidak menyadari apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Saat ini padfoot sedang menjambak rambut elf itu dan bergerak mencari posisi yang menguntungkan. Tangan dan kaki dan kuku lompat kesana kesini. Harga diri bangsa elf sudah tidak ada lagi di dalam dirinya. Dia hanya seorang anak kecil yang sedang berkelahi.
“Kamu lakukan itu, dan aku akan mentraktirmu semua anggur dan daging yang kamu mau.”
“Oh-ho!” Ekor Lizard Priest menepuk lantai dengan keras. Sang pemilik rumah makan mengernyit; begitu pula paman Dwarf Shaman. “Bai’lah, saja a’an mela’oe’annja. Saja sangat berterima ‘asih. Ah, kebadji’an a’an selaloe di balas dengan kebadji’an.”
Dengan segera Lizard Priest, melompat masuk ke dalam keributan dengan kecepatan yang sulit di percaya mengingat besar tubuhnya. Di samping, Dwarf Shaman menyeringai lebar melihat kekacauan yang terjadi di rumah makan, pamannya menggerutu. Perutnya tampak sakit. Bahkan segelas anggurpun tampaknya tidak dapat menghilangkan rasa sakit di perutnya.
Kemudian, pria yang telah menjadi shield breaker di dalam tentara bangsa dwarf selama lebih dari sepuluh tahun berkata, “...Aku permisi dulu, aku akan kembali ke unitku.” Dia pergi meninggalkan beberapa koin emas di meja dan melompat turun terhuyung dari kursi yang di buat dengan ukuran tinggi manusia.
Dia tidak dapat memutuskan apakah bijak untuk menyerahkan nasib akan bangsanya di tangan party ini—termasuk keponakannya.
Oh, dewa...
Seraya dia melangkah menjauh dari rumah makan, kepala shield breaker tua itu di penuhi oleh suara dadu yang berguling.
*****
“....Mau apa kamu?”
Rambutnya berantakan, pakaiannya kotor, pipinya sedikit membengkak, dan dia membelakangi Dwarf Shaman dengan ekspresi jijik. Dwarf Shaman tersenyum ceria mendengar suara pertama yang keluar dari bibir high elf ini.
“Siapa, aku? Aku kira kita akan membicarakan soal pekerjaan.” Dia menyeringai dan menggosok kedua tangan tebalnya bersama. Fsh-fsh-fsh.
Kalau saja setidaknya dia duduk menghadapku seperti orang dewasa, aku baru merasa dia akan mendengarkan ucapanku.
Perkelahian tentunya sudah merupakan hal biasa layaknya sebuah roti dan mentega di rumah makan ini, karena atmosfir suasana rumah makan telah menjadi santai kembali, percakapan dan perbincangan kembali berlanjut.
Padfoot yang mengalami banyak luka lecet sedang berada di sebuah kursi di pojokan, terlihat tidak senang dan mengunyah sebongkah daging. Setelah perkelahian itu berhenti dengan sendirinya, para penjudipun kembali duduk ke tempat mereka masing-masing.
“Hmm, dji’a seperti itoe, ada sesoeatoe hal penting jang haroes saja tanja’an ‘epada anda terlebih dahoeloe.”
Ketertiban yang telah kembali di rumah makan adalah sebagian di karenakan peran sang lizardman, yang sekarang telah duduk di atas sebuah drum anggur sebagai penggantinkursi. Merupakan pemandangan yang tidak biasa melihatnya mengangkat elf dan padfoot dari kerah leher mereka dan memisahkan mereka, namun itu juga merupakan sebuah hasil yang tidak di duga oleh para penjudi yang bertaruh. Oleh karena itu hanyalah pengepul judi yang mendapatkan keuntungan, dan rhea itu berkeliling bar dengan riang mengayunkan anggurnya.
“Dan itu Scaly?”
Lizard Priest mengeluarkan suara “Mmm” dan mengangguk muram. “Dapat’ah ‘ita memisah’an biaya ma’anan ‘ita dari hadiah jang ‘ita dapat’an dari qoeest ini?”
“Tentu saja,” Dwarf Shaman berkata dengan belaian jenggotnya dan tersenyum. “Kita akan berikan tagihan makanan kita pada pamanku.”
“Terima ‘asih banja’” Lizard Priest berkata, kemudian membuka rahangnya lebar dan membenamkannya pada sebongkah daging besar yang berada di meja.
High Elf Archer memperhatikannya, masih menggembungkan pipinya. “Jadi,” dia bergumam, “Pekerjaannya seperti apa? Walaupun aku sudah mendengar dasarnya sih.”
“Ah, ya. Tentang itu,” Dwarf Shaman mengangguk, mengambil sebuah gelas, dan menghabiskannya. Kemudian menggunakan wadah kosong itu untuk menyingkiran beberapa piring dan membuat sebuah ruang di meja. “Kamu tahu pertarungan yang sedang terjadi di Ibukota dengan Demon Lord atau apalah itu?”
Merupakan sebuah pertanyaan retoris. Dia mengeluarkan sebuah gulungan dari dalam tasnya dan membukanya di atas meja. Gulungan itu telah di gamabr menggunakan getah pohon. Gambaran abstrak namun tepat seperti peta kaum elf. Gulungan itu menggambarkan sebuah bangunan kuno tepat di tengah-tengaj lahan gersang.
“Ketika dewan perang baru saja akan di panggil, mereka baru menyadari adanya banyak goblin yang tinggal di belakang bangunan ini.”
“Sarang goblin, itukan sebutannya?”
“Ya, dan cukup besar juga.”
Di sini. High Elf Archer melihat di mana Dwarf Shaman menunjuk dan berkedip. Sang elf melihat sebuah simbol pada bangunan kuno di tengah lahan gersang, kemudian pada hutan yang tidak jauh dari tempat itu.
“Hei—itu rumahku!”
“Mm. Ini mendjelas’an alasan mengapa anda berada di sini...”
Lizard Priest menggigit daging dari tulangnya, dan mengunyah beberapa kali, dan menelan sebelum berbicara kembali.
“...Apa’ah ini jang anda seboet sebagai politi’?”
“Benar.” Dwarf Shaman mengangguk sigap. Yah, ini benar-benar kekacauan yang biasa. Salah satu dari mereka yang berada di sini bertujuan untuk memuaskan derajat seseorang. Dia dapat mencium masalah yang akan datang. “Pamanku memang mungkin menganggap ini berlebihan, tapi kita nggak bisa membiarkan manusia duduk diam begitu saja sementara pasukan kita bergerak.”
“Apa’ah rhea dan padfoot tida’ termasoe’?”
Telinga High Elf Archer berkedut mendengar kaum hewa yang di singgung. Prajurit berwajah anjing yang berkelahi dengannya telah di seret oleh atasannya yang telah datang ke rumah makan. Seraya petugas itu di menggiring prajurit bermuka sedih itu, High Elf Archer berpikir apakah perlakukan seperti itu merupakan pemandangan sehari-hari, ataukah sudah memang sifat alami kaum anjing yang tidak bisa melawan atasannya?
Apapun itu, kota air adalah kota yang indah, dan mereka tidak merasa terancam sama sekali.
“Aku rasa kita nggak bakal bisa mengharapkan bantuan dari mereka.”
Terdapat beberapa individual kaum rhea yang berprestasi, namun ini tidak mencakup hingga clan mereka ataupun administrator mereka, mereka menyukai kedamaian dan keheningan, dan mereka tidak memiliki sedikitpun ketertarikan dalam hal lainnya jika itu tidak menyangkut tanah air mereka secara langsung.
Padfoot tetap saja padfoot; mereka sangat beragam sehingga sangat sulit untuk dapat mempersatukan mereka semua. Jika mereka bersatu, tergantung dari siapa yang memimpin mereka, keadaan dapat menjadi buruk. Ini kenyataan, bahkan jika mengenai perihal kebangkitan Demon Lord dan peperangan melawan semua yang dapat berbahasa di benua ini. Memang benar, jika bahaya sudah mulai cukup dekat, mereka akan bersatu dan berjuang...
“Permasalahan kita lainnya adalah, bagaimana cara agar manusia mau bergabung dengan kita.”
“Ah! Aku tahu manusia yang bagus.” High Elf Archer mendengak setelah melihat peta. Dia mengangkat jari panjang kurusnya, menggambar lingkaran di udara. “Dia di sebut Orcbolg. Seorang warrior yang membasmi goblin di perbatasan.”
“Apa, maksudmu Beardcutter?”
“Iya. Kalian para dwarf mungkin nggak mengetahuinya, tapi sekarang ada satu lagu tentang dia yang sedang populer.”
High Elf Archer sebenarnya tidak mengetahui apakah lagu itu populer atau tidak, namun dia membutuhkan sebuah kesempatan untuk dapat tampil cerdas.

Raja goblin telah kehilangan kepalanya dengan serangan kritikal di momen genting!
Api membara, baju besi Goblin Slayer berkilau dalam kobaran api
Dengan demikian, rencana jahat raja goblin telah sirna, dan permaisuri cantik telah terselamatkan oleh temannya.
Tetapi dialah Goblin Slayer! Tidak memiliki tempat, bersumpah untuk berkelana tanpa seseorang di sisinya.
Hanyalah sebuah harapan kosong yang di temui oleh permaisuri yang berterima kasih—kala Goblin Slayer telah berpaling, tanpa menoleh ke belakang.

Seraya dia telah selesai bersenandung irama, dia membuat gerakan bangga dan membusungkan dada kecilnya.
“Kamu nggak tahu lagu itu karena selama ini kamu selalu hidup di bawah batu. Dwarf memang selalu seperti itu.”
“Ucapan yang berani dari seseorang yang selalu mengurung dirinya sendiri di dalam hutan.”
Dwarf Shaman memberikan tatapan masam seraya High Elf Archer mengepak telinganya puas.
Aku rasa lagi itu tidak sepenuhnya benar. Melodi para penyair selalu menceritakan hal yang terbaik.
“Tetapi, ahh, ahem.”
Gadis elf bertelinga panjang ini pastinya seorang scout atau ranger. Sang lizardman adalah seorang priest...kemungkinan semacam warrior-monk. Dirinya mengetahui beberapa sihir tentunya, dan dia juga memahami cara menggunakan senjata. Namun mereka tidak memiliki petarung yang cukup.
Dia tidak bisa memastikannya sebelum dia dapat bertemu dengan pria itu, namun terdapat lagu yang mmenceritakan kisah pria ini. Sangatlah wajar untuk berasumsi bahwa pria ini mempunyai kemampuan yang cukup tinggi.
“...Aku rasa dia cukup bagus.”
“Hadiah a’an di bagi setjara merata. ‘emoedian, apa’ah ‘ita setoejoe oentoek mengadja’ toeankoe Goblin Slajer bergaboeng dengan ‘ita?”
Lizard Priest melihat partynya dengan memutar mata. Dwarf Shaman dan High Elf Archer mengangguk.
Melihat itu, lizardman berkata, “Dji’a begitoe, mari ‘ita memboeat rentjana,” dan menyentuh ujung hidung dengan lidahnya.
“Pertama, kota ini,” Dwarf Shaman berkata, melirikkan matanya di atas peta. “Ada di kota mana dia tadi kamu bilang?”
“Yah, uhh, Aku tanya sama penyairnya, dan...” Jari pucat High Elf Archer menelusuri peta. Akhirnya menemukan kota perbatasan, dan dia mengetuk tempat itu dengan jarinya yang lentik. “Mungkin di sekitar sini?”
“Tampa’nja tida’ terlaloe djaoeh. A’an tetapi... walaoepoen begitoe.” Lizard Priest tampak sangat serius seraya dia memperhatikan peta. “’ita akan mengoesi’ rentjana moesoeh ‘ita. Saja pertjaja bahwa moesoeh ‘ita tida’ a’an tinggal diam.”
“Hmm? Maksudmu kita akan di serang di tengah-tengah petualangan kita?”
“Mari ‘ita rampoeng’an ini se’arang djoega oentoe’ menghindari ‘emoeng’inan itoe. Sebeloem mere’a dapat mengoempul’an pasoe’an mere’a.”
“Serahkan saja sama kami!” Bop. High Elf Archer menepuk dada kecilnya dengan kepalnya. “Takdir dunia sedang terancam? Itulah di mana petualang dapat melakukan pekerjaannya!”
“Hei, sudahlah,” Dwarf Shaman tertawa kecil. “Kamu sadar ini bukan permainan kan?”
“Aku tahu. Tapi aku nggak tahu tentang dwarf, tapi para elf selalu menggunakan busurnya untuk menjaga dunia tetap aman.”
“Oh-ho. Jadi begitu.” Mata pembaca mantra sedikit melebar, dia membelai jenggotnya dan menghela. “Jadi supaya taali busurmu nggak terhalang waktu di tarik, dadamu jadi papan begitu?”
“Papan?”
“Keras...dan datar.”
“Ka-kamuuu—!”
Rasa malu dan marah mengirim darah menuju pipi sang archer. Terdengar suara hentakkan seraya dia berdiri dari kursinya dan menopang tubuhnyanya di atas meja dengan kedua tangan.
“Berani sekali! Kalian juga—uhh, um...” Dia tidak bisa melanjutkan perkataannya, mulutnya terbuka dan tertutup. Telinganya naik dan turun, dan jarinya berdansa di udara tak berarti. “O-oh iya! Perut itu! Bahkan drum lebih kelihatan kurus dari perutmu!”
“Asal tahu saja ini apa yang kami sebut tubuh proposional! Seorang dwarf lebih menyukai tubuh seperti ini...” Dwarf Shaman berkata, kemudian belirik elf itu dari ujung matanya. “...Nggak peduli seperti apa bentuk tubuh yang di senangi kalian para elf.”
Mustahil bagi High Elf Archer untuk tidak menyadari tatapan Dwarf Shaman pada dadanya. High Elf Archer melipat tangannya dengan mendengus, membuat rasa senangnya sangat tampak jelas.
“Aku selalu tahu kalau kecantikkan darinsudut pandang kalian dwarf itu selalu aneh!”
“Siapa ya yang datang untuk membeli produk metal kami? Oh benar. Kalian para elf.”
“Memangnya kenapa?!”
Dan merekapun bertengkar. Orang lain yang berada di rumah makan ini memperhatikan persaingan  kuno dari kedua bangsa ini tepat di depan mata mereka. Dan dengan cepat atmosfir kembali berubah. Perdebatan dan perkelahian selalu menghasilkan uang.
“Lima silver untuk dwarf itu!” “Satu koin emad untuk elf itu!” “Ayo maju, gadis!” “Hajar dia, pak tua!”
Lizard Priest menggeleng kepalanya dan menghela. Kemudian mengeluarkan desisan lantang. Pada sensasi mengerikan seperti yang di keluarkan seekor reptil ketika sedang berburu, kedua petualang ini menutup mulutnya. Lizard Priest mengangguk.
“Mm.”
Bagus.
*****
Kereta kuda melewati gerbang, terselubung kegelapan malam. Pada saat jam seperti ini, siapapun terkecuali para petualang akan merasa lebih aman jika berpergian dengan sebuah karavan atau semacamnya. Namun mereka bertiga sudah tidak memiliki banyak waktu lagi, dan keadaan telah memaksa mereka.
Kendaraan yang mereka gunakan juga tidak begitu bagus, hanya sebuah pengangkut muatan yang sedikit di modifikasi. Dan kuda mereka pun juga standar saja...yah, mungkin sedikit di bawah standar. Dwarf Shaman dan Lizard Priest berada di depan memegang tali kuda. Sedangkan High Elf Archer memperhatikan langit, dengan busur di tangan.
Berkendara dengan kereta kuda tentunya lebih cepat di banding dengan berjalan kaki, namun lebih lambat dari seekor kuda yang berlari. Dwarf Shaman tidak merasa senang dengan situasi ini. Dia ingin mendapatkan kendaraan dan kuda terbaik. Namun biaya yang telah di dapatkan dari pamannya sangat terbatas, begitu pula waktu mereka.
“Dan terlebih lagi, kita harus pelan-pelan. Merepotkan sekali.”
“Harap di ingat bahwa ‘ita tida’ memili’i dana oentoe’ mengganti ‘oeda ‘ita di tengah-tengah djalan.” Duduk di samping Dwarf Shaman, Lizard Priest menjawab komentar Dwarf Shaman. “Dan dji’a anda mempertimbang’an masalah jang a’an timboel dji’a ‘ita pergi terboeroe-boeroe dan menari’ perhatian tamoe jang ta’ di oendang, bisa di bilang bahwa tjara ini lebih tjepat.”
“Tamu nggak di undang?” High Elf Archer memiringkan kepalanya, mengepak ujung telinganya mengarah kursi kusir.
“Ma’soed saja adalah bandit ataoe sematjamnja.”
“Hmm...”
Wajah High Elf Archer mengernyit mendengar jawaban itu, tidak suka mendengarnya, Dwarf Shaman menyadari perubahan ekspresi tipis sang elf dari ujung pengelihatannya dan berkata jengkel.
“Kita bisa saja menghadapinya kalau di kota, dengan bantuan gadis ini, tapi sekarang kita ada di tempat terbuka.”
“’eti’a ‘ita telah berada jaoeh dari ‘oeil Soepreme God, hanja tinggal masalah wa’toe hingga roh djahat  a’an mengoesi’ ‘ita.” Lizard Priezt berkata.
“Apa kamu sedang membicarakan apa yang mereka sebut berkah dewa? Dewa penempa kami hanya memberikan kami keberanian dalam pertarungan...” Apapun itu, Dwarf Shaman bergumam sebuah doa kepada Dewa agung Krome. Dia mengangkat bahunya dan menggeleng kepala, berkata tanpa niat buruk, “Paling nggak harus berdoa agar gadis elf kita nggak ketakutan di saat yang di butuhkan.”
“Hrk...!” adalah mustahil bagi telinga elf itu untuk tidak dapat mendengar komentar Dwarf Shaman. “Lihat saja nanti! Kamu akan sembah sujud berterima kasih sama aku kalau semua ini sudah berakhir!”
“Ahh, iya, iya.” Dwarf Shaman mengayunkan telapak tangannya. High Elf Archer mendengus marah dan kembali menghadap ke belakang. Dwarf Shaman melihat langit. Langitnpenuh akan bintang-bintang, dan dua bulannya. Bintang berkelip seolah seseorang telah menebarkan berbagai macam permata di atas sebuah beludru hitam. Dua bulan bercahaya layaknya sepasang mata, hijau dan dingin.
Mungkin di karenakan musim panas yang semakin dekat yang menjadikan hawa udara lembab tidak seperti biasa dan membuatnya sulit untuk bernapas.
“Andai ada angin sedikit...” High Elf Archer bergumam. Dwarf Shaman merasakan hal yang sama, walaupun dia tidak berkata apa-apa.
Party mereka telah tiba pada sebuah lahan bumi yang tampak seperti desa yang telah di tinggalkan. Runtuhan-runtuhan bangkai rumah di dalam sinar bulan menghasilkan bayangan di jalanan. Bangkai akan desa ini telah di makan oleh waktu, dan di kuasi oleh tumbuhan-tumbuhan yang merambat; bahkan pada siang hari-pun tempat ini tampak sunyi. Sekarang, di malam hari, tidak akan mengejutkan jika kamu menemukan hantu atau ghoul di sana...
“Hr-ah?”
High Elf Archer mengeluarkan suara aneh. Dia melihat dari balik pundaknya, hidungnya kembang-kempis.
“Apa lagi sekarang? Mau berhenti untuk mencium bunga kah? Hm?”
“Oh, diam. Ada bau yang aneh...” High Elf Archer mengibas tangan di depan hidungnya, melirik di sekitaran area dengan ekspresi penuh curiga. “Baunya agak...tebal, dan menggelitik... Dan aku bisa menciumnya padahal nggak ada angin.”
“...Kemungkinan itu sulfur.”
“Ini sulfur?”
“Lebih tepatnya, semacam uap yang bercampur dengan sulfur.”
Mereka semua memahami arti semua ini. Mereka semua terdiam dan menelan liur secara bersama. Sang elf mendengak ke atas, ekspresi cemas tergambar di wajahnya.
“Di atas kita!”
Tampak lebih terlihat seperti mesin di banding makhluk hidup, dengan daging yang terbentuk seperti manusia serangga. Tubuhnya merah, dan tanduk di kepalanya membuatnya terrlihat seperti menggunakan topi. Seekor Red cap.
Sayapnya mengepak layaknya kelelawar dan cakar kejam nan bengisnya dapat terlihat di kedua tangannya.
Sepasang demon rendahan. Ini adalah pertemuan acak.
“Apa mereka mendekat?!” teriak Dwarf Shaman, mencambuk tali kuda dan memaksa kuda untuk terus berlari. Binatang itu menjerit, merasakan sesuatu yang tidak berasal dari dunia ini. Roda kereta yang berdecit mulai berputar dengan kecepatan penuh seraya kuda berlari kencang.
“Boeat ‘oedanja berlari lebih tjepat...! Tida’, beri’an saja ‘endalinja. Anda persiap’an sadja mantra anda!”
“Ambil!”
Melempar tali kuda pada Lizard Priest, Dwarf Shaman berputar di kursinya. Tentu saja, dia berhati-hati, memegang tali tas katalisnya agar tidak terlempar.
“Apa kita nggak bisa lari darinya?” High Elf Archer berkata, menjilat lidahnya seraya busurnya bernyanyi dengan panah yang tertarik.
“Aku nggak tahu, tapi—“ Dwarf Shaman berkata.
“’ita tida’ bisa membiar’an adanja informasi jang botjor.” Lizard Priest berkata tenang dengan anggukan dengan tenang, seolah dia sedang bersiap menyantap makan malamnya. “’ita haroes memboenoeh mere’a di sini.”
Demon ite tampaknya memiliki pemikiran yang sama. Dengan hentakkan angin, salah satu dari demon itu menukik turun mengarah kereta kuda. Seraya seseorang berteriak karena demon itu mengambil inisiatif terlwbih dahulu, terdengar benturan, dan pecahan kayu yang terbang.
Demon itu telah menyayat kereta kuda dari belakang, kuku miliknya sama berbahayanya dengan senjata apapun.
“Ergh! Pfah!” Dwarf Shaman menyapu serpihan kayu yang tersangkut di jenggotnya dan berteriak, “Kalau kamu menghancurkan benda ini, kita yang akan kena imbasnya!”
“Saja a’an memasti’an ‘eselamatan ‘oeda ‘ita, ‘arena itoe anda tida’ perloe chawatir...” Lizard Priest membalas.
Serangan berikutnya datang dari langit seraya mereka berbicara.
Serangan menukik turun, sayap terlipat. High Elf Archer melotot; terdapat bulan di belakang makhluk itu. Telinganya melompat, membaca arah angin, tali busurnya bernyanyi.
“Dasar makhluk bodoh dan bau...!”
“AAARREMMEERRRR?!?!”
Jeritan mengerikan-pun terdengar. High Elf Archer tidak melewatkan kesempatannya untuk menembak. Demon itu, tangannya tertancap di kereta kuda dengan panah, menjerit kesakitan, dan kayu kembali tercabik dengan cakarnya.
“Rasain kamu!”
Hal yang terakhir demon itu lihat adalah seorang elf menarik busur tepat di depannya, sebuah anak panah bermata tunas.
Tali busur itu mengeluarkan suara yang memiliki keindahan layaknya alat music berkualitas tinggi; busur itu menembakkan panah menembus mata demon dan masuk ke dalam otaknya. Leher makhluk itu terdorong ke belakang oleh gaya tekanan hentakkan ith. Mayat itu terbujur lemas, terseret di tanah mengikuti kereta kuda. High Elf Archer memberikan senyuman senang atas pekerjaannya. “Satu sudah mati!”
“Kerja bagus! Tapi dia jadi beban kereta kita, apa bisa kamu lepaskan dia dari kereta kita?”
“Yeah, baik...guh, apa?!”
Dalam sekejap, beberapa helai rambut High Elf Archer tertangkap oleh sebuah cakar dan terbang berdansa di udara. Monster lainnya telah menerjang ke bawah dan mengayunkan cakarnya pada leher gadis elf itu. High Elf Archer terjatuh ke belakang, gemetar, masih menggenggam batang panah yang baru saja dia keluarkan, pada saat yang sama, demon yang telah mati terseret di tanah, memantul dengan suara gedebuk.
“Kamu ketakutan, kah?”
“Aku nggak takut, aku marah!”
Dia menepis ejekan dari Dwarf Shaman, yang menyiapkan tangannya di dalam tas katalis miliknya selama ini, kemudian High Elf Archer melotot menuju langit. Dengan demon yang telah terlepas dari kereta kuda, kecepatan mereka mulai meningkat kembali—namun masih tidak lebih cepat di banding dengan makhluk bersayap.
“Dwarf!” High Elf Archer berteriak tanpa mengalihkan pandangannya di langit. “Apa kamu nggak bisa gunakan mantra untuk jatuhkan dia dari langit atau apalah?”
“Aku rasa aku bisa, banyak cara yang bisa aku lakukan...” Dia menutup sebelah matanya dan melirik ke atas, memperhitungkan kecepatan dan jarak mereka dengan musuh. Gelapnya malam tidak berdaya di bawah terangnya rembulan dan bintang-bintang, dan lagipula bangsa dwarf dapat melihat di dalam kegelapan dengan sangat baik. “Cuma biarpun aku menjatuhkannya dengan mantra, dia akan segera naik dan terbang lagi.”
“Apa?! Pembaca mantra apaan! Dasar dwarf bodoh!”
“Aw, jangan mengeluh,” Dwarf Shaman berkata dingin, mengernyit. “Mereka nggak bergerak dengan hukum yang sama dengan kami dwarf. Besi dan baja adalah cara untuk melawan mereka.”
“Ma’soed anda serangan fisi’. Benar se’ali!” Memegang kendali kuda, Lizard Priest tersenyum dengan rahang besarnya yang terlihat seperti seekor hiu. Tampaknya dia melakukan kalkulasi cepat, kemudian mengangguk puas. “Master pembatja mantra, anda mengata’an bahwa anda dapat menjatoeh’anja?”
“Aku rasa bisa,” Dwarf Shaman mengangguk. “Tapi nggak bisa terlalu lama.”
“Djika begitoe master ranger, tolong bidi’an panah anda tinggi...”
“Baik!”
Tanpa menunggu mendengar sisa dari rencananya. High Elf Archer menembakkan panahnya tinggi di langit malam. Tembakkannya sangatlah jitu seperti sihir, sebuah tembakkan yang hanya bisa di hasilkan oleh para elf, namun demon itu dengan lincah menghindarinya.

“Aw, sial!” High Elf Archer menjentikkan lidahnya dan memasang panah baru pada busurnya, menarik talinya.
“Se’arang,” Lizard Priest berkata, menarik tali kudanya untuk memperlambat kecepatan. “Dapat’ah anda menemba’ machlu’ itoe dengan panah jang di i’at dengan tali?”
“Panah yang di ikat tali...?!” High Elf Archer mengambil tali yang telah di lempar di dalam kereta, mulutnya mengerucut seraya dia memperhatikan musuhnya yang masih berada di langit. Monster berkulit merah itu terus mengepakkan sayapnya, mencari kesempatan untuk menyerang para petualang. “Iya sudah, aku akan melakukannya!”
Tidak lama setelah dia berbicara, dia mulai mengikat tali pada panahnya. Bahkan di atas kereta kuda yang berguncang, jari elf lincah tidak mendapatkan kesulitan untuk mengikat tali itu. Dia terus mengarahkan pandangan dan pendengarannya pada musuh, tangannya bergerak seolah ada orang lain yang menggerakkannya. Mulutnya berkata. “Kamu itu seperti jendral atau semacamnya.”
“Anda terlaloe belerbihan.” Lizard Priest menggelengkan kepalanya. “Dji’a anda ingin membanding’an saja pada sesoeatoe, ma’a saja seperti seboeah boeloe pada batang panah. Saja hanja mengarah’an, saja tida’...” Sebelum dia melanjutkan, lidahnya menjulur dan menyentuh hidungnya. “Hm,” Dia berpikir. ”Oentoe’ dapat berfoengsi sebagai seboeah oenit, seseorang haroes mengoempoel’an mata panah, batang panah, boeloe, boesoer, dan seorang pemanah.”
Ahh. Higj Elf Archer tersenyum tipis. Itu adalah metafora yang dapat dia mengerti. “Aku penasaran apa aku yang jadi ujung mata panahnya. Ayolah dwarf, pastikan mantramu mengenai sasarannya!”
“Hmph! Ribut!”
Seraya Dwarf shaman meneriaki balik High Elf Archer dan melihat musuh yang ada di atasnya, dia menyadari sesuatu; sebuah titik cahaya merah di langit. Cahaya itu membara di dalam mulut demon yang terbuka lebar...
“Awas Firebolt!”
“Ahh, se’arang!” Lizard Priest berkata riang, memberikan cambukkan pada kendali kuda. Kuda itu memberikan jeritan ketakutan dan kebingungan, dan kereta kuda mengarah pada arah yang baru, berdecit seraya berjalan.
Tidak lama kemudiam, sebuah kilatan api menusuk pada tempat di mana kereta kuda sebelumnya berada, bara api terbanb mengudara. Cahaya yang bersinar memantulkan wajah Lizard Priest yang mengerikan.
“Ha-ha-ha-ha-ha-ha-ha-haaaa! Se’arang baroe mendjadi menari’!”
“Ini kereta kuda, bukan chariot, Scaly!” (TL Note : chariot = kereta kuda perang)
“Benar,” Lizard Priest membalas, mengundang balasan “Sinting....” dari Dwarf Shaman seraya dia melihat ke langit.
Demon merah itu tampak akan melakukan serangan menukik lainnya, di karenakan mereka telah menghindari firebolt miliknha.
Apa kamu kira akan semudah itu?
Dwarf Shaman berteriak seraya bayangan demon itu semakin mendekat.
Pixies, pixies, cepatlah, jangan lama-lama! Tidak ada manisan untukmu—aku hanya membutuhkan tipu muslihatmu!”
Kalimat penuh akan kekuatan sejati mengalir untuk mengubah realita, dan lingkarang sihir mengenkang demon itu.
Normalnya, makhluk itu tidak akan bisa lepas dari cengkraman rantai gravitasi, tidak peduli seberapa kuat dia mengepak sayapnya. Demon rendahan masih tetaplah seekor demon, monster ini hidup untuk memutar balikkan hukum alam.
“ARREMERRRRERRRR!!”
Demon itu, yang sekarang terjatuh ke bumi, melolong dan mengepak sayap sekuat tenaga, memecahkan lingkaran sihir yang mengekangnya. Untuk membalas dendam kepada dwarf itu dan lizardman dan elf itu. Pikiran akam darah dari elf kuno, aroma dari jantungnya, sangatlah cukup untuk memicu keserakahan makhluk ini.
“Rasakan ini!”
Adalah sebuah panah dari elf itu ya g telah memadamkan keserakahan makhluk it badanya mencondong keluar, menumpukan dirinya pada ujung kereta kuda, dan menembakkan satu panah bermata tunas kepada monster itu tanpa kenal ampun.
“AREEERM?!”
Menggeliat kesakitan, demon itu tidak menyadari sebuah tali yang terikat pada panahnya. Dan dengan itulah kereta kuda mempercepat lajunya dan menarik tali itu kuat.
Raungan dan keputus-asaan yang menyedihkan, cukup untuk membuat darahmu merinding, bergema di keseluruhan lahan.
Demon itu tidak pernah menyangka akan di seret di belakang sebuah kereta kuda. Terdapat rasa iba ketika melihatnya makhluk yang di ikat oleh para petualang, terpantul-pantul di tanah seraya dia berusaha keras untuk terbang kembali.
Demon rendahan tergolong kuat. Jika mereka bertiga tidak bisa mengatur posisi makhluk itu, tidak akan lama bagi monster itu untuk menancapkan cakarnya di bumi, dan jika dia bisa berdiri, maka dengan cepat dia akan kembali mengudara. Dan sekali dia mengudara, maka akan sangat berbahaya.
“Apa selanjutnya?!” Teriak High ElF Archer, menarik  panah lainnya dari tempat panahnya.
Lizard Priest berdiri. “Tentoenja ‘ita la’oe’an serangan terachir.” Dia menggengam salah satu dari katalisnya, sebuah taring, dan menekannya di antara telapak tangannya. “O sayap maha tajam velotjiraptor, robe’ dan tjabi’, terbang dan berboeroe!” Sebuuah pedang taring tumbuh di tangannya.
“Bagaimana dengan kudanya?!” Namun di saat High Elf Archer melirik ke belakang, dia melihat seekor Dragontooth Warrior menggenggam erat tali kuda.
“Tunggu dulu, Scaly,” Dwarf Shaman berkata, matanya melotot. “Apa maksudmu serangan terakhir? Ka-kamu nggak bermaksud—“
“Melompat? Djangan bodoh.” Lizard Priest menggelengkan kepalanya. “Itoe a’an sangat konjol.”
Dalam sekejap, kereta kuda berguncang seraya Lizard Priest meloncat pada demon rendahan.
O naga mena’oet’an! Sa’si’an amal hamba, wahai leloehoer’oe!”
“AREEEERMEEER?!?!”
Cakar, cakar, tarinh, ekor. Dia menyerang dan menebas dan merobek setiap bagain tubuh demon seraya demon itu menggeliat mencoba melawan. Rahang makhluk itu terbuka mencoba untuk menembakkan firebolt, Namun Lizard Priest mmeraung—“Grrrryaaahhh!”—dan mengarahkan tendangannya menuju tenggorokan makhluk itu, menghancurkan batang tenggorokannya. Dan kemudian pedang taringnya mendapati kepala demon itu, memotongnya dengan sangat mudah.
Kepala itu bergulung di sekitaran tanah dan menghilang di rerumputan. Sisa tubuhnya, masih tersangkut pada kereta kuda, mencipratkan darah biru keunguan. Lizard Priest berdiri di atas bangkai itu, tampak cukup tenang walaupun dengan cipratan darah yang terus membasahinya; dia mendengakkan kepalanya bahagia.
“Ahh, saja telah mendapat’an pahala hari ini.”
Matahari mulai tampak mengintip di horison, dan cahayanya menyinari sosok Lizard Priest yang sulit di jabarkan.
*****
“Lihat ini. Bukannya kita sudah setuju untuk tidak berhadapan dengannya?”
“Ah, ada ‘ala di mana darah saja membara.” Setelah Lizard Priest menjawab, dia mengangkat sebongkah keju dengan kedua tangannya. Dia membuka mulutnya dan menggigitnya, setiap gigitan di iringi dengan teriakan akan “Madoe manis!” dan sebuah tepukan ekornya di lantai. “’arena saja meroepa’an machloe’ berdarah panas.”
“Candaanmu itu nggak pernah masuk akal bagiku,” Dwarf Shaman menggerutu. Dia melambaikan tangannya menyerah, namun juga untuk memberi tahu pelayan bahwa dia ingin menambah bir putihnya. Ketika minum dengan teman, Dwarf Shaman merasa mengisi perutnya sepenuh yang  dia mampu, merupakan tindakam yang sopan.
“Jadi apa kita sudah lengkap?”
“Apa ma’soed anda?”
“Panahmu. Panah dan busur.”
“Ahh.” Lizard Priest menelan keju yang di kunyahnya dan menjilat remah-remah pada bibirnya. “Mata panah  adalah nona ranger ‘ita , batang panah jang mempersatoe’an ‘ita adalah anda master pembatja mantra, dan saja adalah boeloenja...”
“...Busurnya gadis itu, dan Beardcutter akan jadi pemanahnya—begitukah?”
“Benar, benar.”
Dwarf Shaman mengambil bir putih yang telah di bawakan oleh pelayan, memperhatikan Lizard Priest yang mengangguk dari ujung matanya. Dia membawa gelas itu ke mulutnya dan meminumnya dengan sekali teguk.
“A’an tetapi bagaimanapoen terkenalnja seorang pemanah, djika beliaoe hanja menemba’ langit, ada wa’toenja di mana beliaoe a’an terloe’a.”
“Dan juga, kalau kita Cuma berburu goblin, apa itu hal buruk atau bagus?” Dwarf Shaman, wajahnya merah, bersendawa dan mengelap tangan pada jenggotnya.
“Apapoen itu...” Lizard Priest memulai.
“Benar, bagaimanapun juga,” Dwarf Shaman menyetujui.
“Ini adalah party jang bagoes.”
“Benar sekali.”
Lizard Priest tersenyum lebar pada rahangnya, dan Dwarf Shaman tertawa terbahak-bahak. Mereka berdua mengambil dua gelas baru yang telah di antarkan kepada mereka, dan bersulang.
“Untuk teman yang baik.”
“Oentoe’ re’an jang bai’ dalam pertempoeran.”
“Untuk petualangan!”
Ya, ya! Pada saat gelas terangkat tiga kali, gelas itu menjadi kosong.

Berapa kali kita harus bertemu dan berpisah?
Beberapa menghilang menjadi abu, seperti seharusnya
Dengan harapan akan pertemuan kembali di setiap perjalanan baru di mulai
Layaknya membalik sebuah halaman yang telah menjadi debu
Ingkatkah seorang legenda yang berlatih bertahun-tahun yang lalu?
Siapakah namanya? Sekarang aku tidak dapat mengingatnya
Kamu terlambat menyadarinya, sekarang dia tidak ada di sini
Dan walaupun kita bertemu dan berpisah
Setiap pertemuan adalah sekali seumur hidup, itu saja.

Dengan itu malam semakin larut untuk para petualang.

Goblin Slayer Jilid 4 Bab 9 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.