Minggu, 30 Desember 2018

Only Sense Online Jilid 7 Bab 1 LN Bahasa Indonesia



SENSE MENDAKI DAN SANG PENDAKI
(Translater : Hikari)

"Oh iya. Aku akan melakukan perjalanan hari ini. Mau ikut denganku?"
"Haa?"
Saat itu sedang istirahat makan siang di sekolah. Saat kami mengobrol sementara aku menyantap bekalku, Takumi tiba-tiba mengatakan hal itu.
"Ada apa? Mendadak sekali. Event game? Atau mungkin mengantri rilis game baru? Jangan-jangan kau mau pergi ke booth pameran perusahaan game atau semacamnya?"
Saat aku menatapi Takumi lekat-lekat, dia mengerutkan wajah dengan ekspresi kesal dan menyangkal.
"Bukan. Pertama-tama, untuk pergi ke event membutuhkan persiapan. Juga, lebih mudah membeli game lewat online daripada mengantri menunggu di hari perilisan."
"Kau benar-benar blak-blakan, ya."
"Aku tidak mau bermain game yang kusuka sesegera mungkin, tapi lebih suka memainkannya sedikit lebih lama."
Mendengarnya, aku mendapatkan kesan yang sangat sesuai dengannya.
"Kalau begitu, apa? Perjalanan, apa ini tentang OSO? Kenapa kau mau mengajakku?"
Ngomong-ngomong soal yang kuingat kembali, meskipun dia biasanya berburu di dalam game, Takumi memiliki anggota party tetap dan mempunyai pilihan untuk membentuk party sementara dengan kenalan-kenalannya. Tidak ada alasan untuk pergi mengajakku, seorang perajin setengah-niat.
"Yang lainnya baik-baik saja, begitulah. Sekarang waktunya untuk belajar dan menjalani ujian, jadi kami tidak bisa menyamakan waktunya."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kau belajar juga…"
"Periode ujian kita sudah selesai minggu yang lalu!"
Aku tidak tahu bagaimana dengan sekolah yang lainnya, tapi ujian kami berakhir minggu lalu dan suasana santai menyebar di kelas setelah menjalani ujian-ujian tersebut.
"Juga, kau tahu! Menyaksikan pemandangan yang sama itu kurang stimulasi, 'kan. Jadi, aku berniat untuk mengubah keseharianku dengan sesuatu yang berbeda."
"Tetap saja, kenapa kau mengajakku?"
"Tidak, maksudku, Shun, kau belum pergi keluar akhir-akhir ini, 'kan?"
"Tentu saja aku per——"
Dikatakan seperti itu oleh Takumi, aku mencoba untuk menyangkalnya, tapi——
Aku pergi sekolah, aku melakukan pekerjaan rumah tangga begitu pulang ke rumah, istirahat sedikit dan mulai belajar.
Dan selama waktu senggang, aku log in ke OSO, di mana aku mengecek penjualan potion Atelier dan menggunakan skill untuk membuat item dengan cepat.
Juga, kalau aku memiliki sedikit waktu, aku membuat ornamen dengan Sense Craftmanship untuk memasukkan material penguat yang kudapat dari perburuan item drop.
Dengan menggunakan skill Craftmanship seperti Colouring dan Design, aku dengan bebas mengubah penampilannya dan setelah itu, aku kembali belajar.
"——Yah, aku juga tidak merasa masalah dengan itu."
"Sudah kuduga. Meskipun Miu-chan melihatmu di rumah, kudengar dari banyak player kalau kau tidak keluar dari toko dan membuat mereka khawatir."
Setidaknya, tunjukkan dirimu yang sedang penuh semangat pada kenalan-kenalanmu. Dikatakan begitu, aku hanya bisa menggeram, tidak dapat mengelak.
"Aku mengerti, astaga."
"Baiklah, kau sudah setuju untuk pergi denganku! Sekarang, ke mana kita akan pergi?"
"Hei, aku tidak bilang aku akan membuat party denganmu!"
"Kalau kau mau menunjukkan dirimu yang sedang bersemangat pada kenalan-kenalanmu, yang paling baik adalah membentuk party, ya 'kan?"
Memperlihatkan senyum cerah, Takumi menenggak jus dari kemasan karton yang dijual di mesin penjual otomatis dan mengangkat roti chip butty[1]-nya ke mulut.
Yah pada akhirnya, aku jadi menerima ajakannya.
Akan tetapi, mengingat kembali aktivitasku akhir-akhir ini, aku memang merasa mengunci diriku sendiri adalah hal yang buruk. Pergi keluar untuk berpetualag berarti akan menaikkan Sense tempurku, tapi aku tidak terlalu mementingkannya.
"Tapi, kenyataannya sulit untukku pergi berpetualang sendirian. Stats dan Sense-ku termasuk serba guna."
"Shun, aku tidak berpikiran pemilihanmu yang serampangan itu bisa begitu saja diklasifikasikan seperti itu."
"K-kau menyebalkan!"
"Yah, ngomong-ngomong soal area yang tepat untukmu menaikkan level, sepertinya bagian utara Kota Pertama."
Setelah dia selesai minum jusnya, Takumi mulai menggigiti sedotan dan menyampaikan idenya.
"Musuh-musuh di situ cukup kuat dan item dropnya cukup bagus. Karena untuk sementara ini kita sepertinya tidak akan berparty dengan teman-teman kita, kita bisa fokus menaikkan level karaktermu dan mendapatkan uang."
"Dan, motifmu yang sebenarnya?"
"Aku menantang area yang terlalu tinggi untukku. Daya tahan senjata dan armorku merosot, aku kehabisan potion dan barang konsumsi lainnya juga. Keuanganku sedang bermasalah jadi aku harus menutupinya."
"Sudah kuduga."
Saat aku menanyakan alasan Takumi yang sebenarnya, "tapi alasan menaikkan level karaktermu juga benar", dia tetap menekankan hal itu.
"Jadi, seperti apa area di bagian utara Kota Pertama?"
"Ada sebuah area yang membentang di sepanjang pegunungan. Apa yang kuingin tangani di sana adalah musuh-musuh yang ada di langit."
"Musuh-musuh di langit? Yah, aku bisa mengerti tentang membagi tugas antara kau yang menyerang dari jarak dekat dan aku dari jarak jauh, tapi…"
"Monster yang memiliki EXP terbaik adalah Bunker Bee. Juga, kalau kau beruntung dan mengalahkan monster langka yang disebut Queen, kita akan mendapatkan materiall penguat."
"Aku mengerti. Kau menangani yang darat, aku mengurus yang di langit. Mudah dimengerti. Sementara itu, sambil aku mengincar Bunker Bee, aku akan berkeliling mencari item untuk dipungut, terutama tanaman herba dan bijih logam."
"Kalau begitu setelah sampai di rumah, sebelum log in, aku akan mengirim pesan padamu."
Ya, ya. Setelah itu kami membicarakan tentang membuat penyesuaian dan beberapa hal yang tidak berguna lainnya.
Setelah sekolah selesai dan aku pulang ke rumah, aku mengecek email dari Takumi dan log in ke OSO.
·
Tempatku bertemu dengan Taku adalah depan toko serba ada di gerbang utara. Aku menemukan Taku, di antara beberapa kumpulan orang yang sama-sama menunggu untuk bertemu seseorang.
"Maaf. Aku terlambat?"
"Tidak, tidak masalah. Kau tepat waktu."
Bersandar pada dinding, Taku memeriksa menunya dan mengangkat tangan.
"Ayo pergi berburu sesuai jadwal kalau begitu."
Saat kami mulai berjalan, aku dapat merasakan tatapan dari sekelilingku berkumpul pada satu titik. Meskipun aku merasakan pandangan-pandangan berbahaya yang tidak menyenangkan, saat aku melihat ke sekitar aku tidak dapat menemukan sumbernya dan memiringkan kepala dengan penasaran.
"——suh di area itu adalah…hei, Yun. Kau mendengarkan tidak?"
"Ah, ya. Maaf. Sesuatu mengalihkan perhatianku. Kita sedang membicarakan monster di area sebelah utara, ya 'kan."
"Benar. Jadi di area sepanjang pegunungan itu, di darat ada monster tipe tumbuhan yang disebut Mad Seeds dan Rafflesian, di langit ada Aero Snake dan Bunker Bee."
Dinilai dari nama-namanya, monster-monster daratnya adalah jenis biji-bijian dan bunga. Padahal belum lama ini kami bertarung melawan monster tipe tumbuhan seperti bunga-bunga dan duri saat Quest Peri. Dan, monster-monster terbang yang nantinya kuhadapi ada dua tipe, Aero Snake dan Bunker Bee.
"Ciri khas Mad Seed adalah mereka kecil dan karena itu sulit untuk diserang. Stats dasar mereka rendah, tapi mereka memiliki banyak pertahanan. Dan ciri utama mereka adalah——"
"Adalah?"
"——Mereka meledak."
"Hee~, mereka meledak…tunggu, mereka meledak?!"
"Yep. Kalau kau tidak mengalahkan mereka dengan satu serangan, mereka akan mulai menyala berkedap-kedip merah dan mendekati musuh mereka dengan kecepatan abnormal, kemudian tiga detik setelah menempel pada seseorang, mereka meledak dengan memberikan dampak serangan fisik."
"…uwahh."
Hanya dengan membayangkannya saja kakiku mulai terasa lemas. Maksudku, musuh yang melakukan serangan-bunuh-diri itu menakutkan.
"Kalau kau bisa mengalahkan mereka dengan sekali serang, mereka adalah musuh yang sangat bagus untuk dilawan. Kalau misalnya mereka kalah dengan meledakkan dirinya padamu, kau akan mendapatkan EXP tapi kau tidak mendapatkan item drop dari mereka, jadi berhati-hatilah."
Karena kau tidak mendapatkan item drop kalau mereka bunuh diri, aku merasakan sedikit pelecehan dari developer game dalam hal itu, tapi misalkan beberapa dari mereka tersangkut di Mud Pool dan menyebabkan ledakan berantai dalam waktu singkat, sebuah fenomena yang mirip dengan serangan bonus Magic Gem-ku bisa saja muncul, jadi lebih baik berhati-hati soal itu.
"Dan jenis lainnya, Rafflesian, memanggil Mad Seed."
"…hanya itu?"
"Tidak, dia juga memiliki daya tahan terhadap fisik dan sihir yang tinggi. Biasanya serangan fisik mereka di luar dugaan berdampak besar. Tapi karena jangkauan serangannya jarak dekat, itu bukanlah sesuatu yang perlu kau khawatirkan dari posisimu, Yun."
"Itu saja? Kalau begitu, ada banyak monster yang mirip…"
" Mad Seed yang dipanggil akan meledak sekalipun mereka tidak menerima serangan apapun."
"Uwahh."
Itu seperti taktik meta untuk melawan player level rendah. Rafflesian memicu Mad Seed pada player untuk mengalahkan mereka dengan ledakan-ledakan. Dan, mereka tidak mendapatkan item drop apapun dari Mad Seed. Itu tidaklah terlalu menguntungkan tanpa level yang sesuai. Tapi…
"Hei, Taku. Kalau begitu, tidak bisakah kau memanfaatkan Rafflesian dan Mad Seed untuk menaikkan Sense pertahanan?"
Kalau hanya menerima serangan, itu bisa digunakan untuk menaikkan level Sense pertahanan.
"Mungkin saja menaikkan level Sense tersebut kalau kau mengabaikan biaya yang dibutuhkan akibat dampak serangan pada armor dan penalti kematian, tapi ada lebih banyak metode yang lebih efektif yang dikembangkan untuk itu. Jadi monster-monster itu tidak cocok untuk menaikkan level."
Dia dengan mudahnya membuang usulan tersebut. Sepertinya sudah ada orang-orang yang mencoba metode menaikkan level yang kuusulkan barusan.
"Aero Snake dan Bunker Bee adalah ular terbang dan kumpulan lebah besar, jadi aku akan menjelaskan soal mereka nanti."
"Itu benar-benar payah. Dasar…kalau begitu, haruskah aku memasangkan enchant sekarang?"
"Tentu, lakukan saja. Kita akan berada di area utara tidak lama lagi. Begitu kita menemukan musuh, kita akan mengalahkan mereka satu demi satu sambil bergerak ke lereng gunung."
"Baiklah. Enchant ——Attack, Defence, Speed!"
Aku menaruh tiga enchant dan kami bergegas menuju pegunungan di utara.
Kemudian tidak lama kemudian kami menemukan monster yang begitu menarik perhatian dengan bunga-bunga merah berbercak-bercak di permukaannya——dengan kemunculan Rafflesian itu, kami memulai pertempuran.
——*KYOEEEEE*, bersuara melengking mengerikan, Raffelisan itu mengangkat bunga-bunganya yang indah ke atas dengan imutnya dan mengerutkannya, memuntahkan serbuk sari bunga beracun, kemudian mulai mengayunkan sulur-sulurnya.
"Yun! Kau bidik Rafflesian! Aku akan menghadapi lawan-lawan yang lemah!"
"Baik!"
Aku mengangkat busurku dan memantapkan bidikanku pada Rafflesian. Sementara itu, Taku menghunuskan long swordnya di kedua tangan dan menebas Mad Seed yang dipanggil oleh serbuk sari yang dikeluarkan oleh Rafflesian dengan satu serangan tiap kali menyerang.
"Sekarang! Ayo sini!"
Bersuara nyaring, dia memancing Mad Seed yang terlihat seperti biji pohon ek dan terus mengayunkan pedang-pedangnya.
Saat dia mengendalikan long sword itu dengan kedua tangannya, saat terkadang Mad Seed melewati tebasannya, dia terkadang menghempaskan mereka menjauh dengan gagang pedang.
Saat beberapa individu itu menerima serangan dan mulai menyala sebelum meledak, Taku mengambil satu langkah maju dan membunuh mereka sebelum mereka mulai bergerak.
"Whoops, hampir saja. Benar-benar latihan yang bagus untuk mempertahankan diri."
"Tidak mungkin, kau bilang ini latihan mempertahankan diri?!"
Saat lawan menerjang ke arahnya, Taku memprioritaskan menyerang mereka dengan segera sebelum bertindak untuk mengalahkan mereka, membuatku merasakan perbedaan dalam penilaian kami.
Dia terkadang menghindari dengan langkah kaki ringan, menangkis Mad Seed dengan bagian samping pedang dan memukul mereka dengan bagian pegangan pedang.
Pergerakan optimal untuk pertahanan diri yang terlihat seperti tarian yang indah.
"Ups, bukan waktunya untuk kagum. Aku harus melakukan bagianku."
Aku menenangkan diriku sendiri dengan menarik napas dalam-dalam dan menarik tali busurku hingga batasnya. Aku membidik bagian tengan Rafflesian.
"—— Bow Skill – Arrow Stitching!"
Anak panah yang kekuatannya telah ditingkatkan dengan Art menembus kepala Mad Seed dan menusuk bagian tengah bunga merah dengan tutul-tutul berwarna putih dan Rafflesian itu menjerit melengking menyeramkan.
Rafflesian tidak kalah hanya dengan satu serangan dan dengan sembarangan mengayun-ayunkan sulur-sulurkan. Dia mencoba untuk memblokir anak panah, tapi aku menembakkan anak panah kedua dan ketiga dengan akurat, mendaratkan serangan.
Tapi Rafflesian itu tidak roboh dengan mudah. Seperti yang diduga dari monster tipe tumbuhan, HP mereka dan ketangguhannya luar biasa tinggi.
"Ayo cepat…kalahlah!"
Seakan-akan menjerit, aku menusuk pusat Rafflesian dan akhirnya mengalahkannya. Begitu aku merasa lega, aku mendengar Taku memanggilku.
"Yun! Aku memukul salah satunya tapi dia melewatiku!"
"Eh? Woah‼"
Sesosok Mad Seed berbentuk biji ek menyerbu ke arahku. Dia sudah dipukul oleh gagang long sword Taku saat dia mempertahankan diri dan kini sedang bercahaya berkedap-kedip sebelum meledak.
Saat aku melihat itu, kemampuan Sky Eyes aktif secara otomatis dan jalannya waktu yang kulalui pun memanjang.
Aku segera membuang busur dan menarik keluar pisau dapur dari sarungnya yang ada di pinggang lalu mengayunkannya, memegang pisau tersebut dengan genggaman terbalik dan membelah biji tersebut. Pada saat yang sama, sensasi waktuku kembali normal dan Mud Seed yang berkedap-kedip berkali-kali pun jatuh ke tanah lalu menghilang menjadi partikel-partikel cahaya.
"Maaf. Aku mendorongnya ke arah yang salah."
"Tidak, tidak apa-apa, walaupun itu sedikit buruk untuk jantungku."
Haa, saat menghela napas dalam-dalam, aku mengarahkan tatapanku pada Taku. Dia sedang menangani Mad Seed terakhir.
Aku mengambil kembali busurku dari tanah dan menaruh pisau kembali ke sarungnya di sabukku. Meskipun aku dapat menyerang balik dalam sekejap dengan pisau, kalau peristiwa yang sama terulang kembali, aku tidak yakin kalau aku bisa bereaksi seperti itu lagi.
"Haa, kalau aku diserang seperti itu lagi, aku mungkin akan terpaku di tempat dengan kepala kosong."
"Hmm. Benarkah? Yah, nantinya terbiasa."
Jadi supaya terbiasa dengan hal itu, aku harus diserang secara tiba-tiba, ya. Aku menghela napas.
"Mad Seed adalah masalah lain, tapi Rafflesian memiliki daya tahan yang cukup tinggi. Kau sebaiknya menemukan cara untuk mengalahkan mereka dengan lebih cepat, Yun."
"Lebih cepat daripada itu?!"
"Kalau kau bisa tentunya."
"…Aku akan berjuang sebaik mungkin."
Kalau begitu, aku harus menemukan metode yang lebih optimal untuk bertarung.
Dari metode-metode penyerangan yang kupunya saat ini…saat aku menggeram memikirkan itu, tiba-tiba tawa Taku terdengar.
"Ke-kenapa, tiba-tiba tertawa?"
"Bukan apa-apa. Tadinya kupikir kau sial karena memilih Sense yang tidak berguna, tapi kau bisa bertarung cukup baik sekarang."
"Itu bukan masalah kesialan. Aku hanya jadi terbiasa dengan Sense-Sense itu."
Itu adalah salah satu alasan kenapa aku tidak menggunakan senjata lainnya.
Meskipun sepertinya Taku memujiku, aku kebingungan harus bereaksi seperti apa.
"Daripada begitu, ayo mulai lagi. Kita tidak punya banyak waktu."
Aku mendesak Taku yang sedang tertawa dan kami maju lebih jauh.
Beberapa kali kami bertemu dengan sekumpulan Rafflesian dan Mad Seed, dan setelah mengulanginya, kami tiba di pinggir pegunungan.
Sementara itu, aku dapat menyarangkan serangan lebih efektif pada Rafflesian dengan menggunakan Elemental Enchant api pada senjataku, tapi karena menggunakan Fire Elemental Stone, aku harus berhati-hati dengan jumlah yang tersisa.
·
Dan, yang menunggu kami saat tiba di gunung——
"Woah, tebing ya. Dan ada monster-monster di sana."
"Apa yang sedang kau lihat saat ini, Yun, adalah Bunker Bee."
Taku berkata demikian dan di depan sana yang dia tunjukkan dengan jarinya, lebih dari tiga puluh meter di atas langit, terdapat dua jenis monster terbang.
Satunya adalah sekawanan monster tipe lebah, tapi mereka memiliki bentuk yang berbahaya. Bagaimanapun, sungut mereka meruncing di perutnya dan sangat tebal. Terlebih lagi, mereka tidak bergerak sendirian tapi dalam kawanan beberapa lebah.
"Jadi inilah Bunker Bee."
"Ya. Ada banyak dari mereka di sini dan mereka turun untuk menyusuri rute patrol mereka. Metode menyerang mereka adalah mengikuti player sebagai sebuah grup dan menusukinya dengan sungut mereka tebal."
"Se-seram!"
"Terlebih lagi, kalau kau sedang dalam pertempuran yang membingungkan melawan Rafflesian dan Mad Seed, tubuhmu akan berubah menjadi sarang lebah dan kau akan menderita badai ledakan!"
Aku tidak ingin informasi semacam itu. Aku mungkin tidak akan bisa berdiri dengan tubuhku yang ditusuk-tusuki jarum-jarum tebal berkali-kali dan ditelan oleh ledakan beruntun Mad Seed. Tentu saja, itu maksudnya mental dan HP-ku tidak akan bisa bertahan.
"Bunker Bee memiliki kekebalan dan daya tahan tubuh yang rendah. Ciri-ciri mereka adalah mengkhususkan diri dalam serangan dan kecepatan. Musuh jenis lainnya adalah Aero Snake. Jumlahnya sedikit dan tidak akan turun untuk menyerang kecuali diincar. Mereka adalah ular normal yang terbang."
Saat dia berkata begitu dan aku melihat ke arah lain, aku melihat ular-ular dengan tubuh berwarna hijau dan sayap yang mirip kelelawar yang sedang berenang-renang di langit. Daripada disebut terbang dengan sayap, gerakan melenggang mereka di udara membuatnya lebih terasa seakan mereka sedang berenang di udara. Sepertinya mereka menggunakan sayap mereka untuk bergerak cepat naik turun.
Untuk jumlahnya, ular-ular itu bergerak sendirian dan para lebah bergerak sebagai gerombolan yang terdiri dari sembilan ekor rata-ratanya. Di antara para lebah itu, ada kemungkinan terdapat seekor yang khusus disebut Queen, tapi aku tidak tahu apakah itu ada.
"Mmhh…"
Mengawasi lekat-lekat ada sekumpulan lebah hitam legam di atas kami, aku membayangkan saat begitu banyak lebah mendatangiku dengan suara dengung rendah dan aku mulai merasa ketakutan.
"…hei, Taku. Bagaimana kalau kita menyerah soal Bunker Bee? Bukankah Rafflesian cukup."
"Berhenti bersikap manja. Dibandingkan dengan naga dan monster raksasa, ini masih biasa-biasa saja."
"Sekalipun kau membandingkan jenis rasa takut yang berbeda…"
Ayo cepat lakukan, katanya dan benar-benar mendesakku dengan tatapannya. Walaupun aku balas memelototinya, pada akhirnya akulah yang menyerah.
"Baiklah. Tapi lindungiku dengan benar."
"Aku tidak akan gagal soal itu. Jadi, kuharap kau akan mendapatkan sang Queen dengan keberuntunganmu."
Bahkan di umur segini pun aku lemah terhadap senyuman biasa penuh kepercayaan yang ditujukan padaku. Ya ampun…aku merespon dan setelah menghela napas panjang, aku menarik napas dalam-dalam.
Menarik sebatang panah di busur, aku membidik Bunker Bee di langit.
Tidak seperti Rafflesian yang hampir tidak bergerak sama sekali, setiap lebah bergerak dengan penuh semangat dan tidak mungkin untuk menyelesaikannya dengan bidikanku saja.
Dan karena itulah, aku mengincar kawanan yang paling padat populasi lebah-lebah hitamnya dan menembakkan sebatang anak panah.
"Ini sulit bahkan untukmu sekalipun, Yun. Yah, sudah seharusnya. Lain ceritanya kalau sihir serangan area, busurmu hanya bisa menyerang ke satu target."
Seperti yang Taku katakan, panah yang ditembakkan menghilang jauh ke langit tanpa menjatuhkan satu lebah pun.
Dan, kenyataan itu tidak melukai kebanggaanku sebagai seorang archer sedikit pun.
"Aku pasti akan membuat mereka turun."
Karena diperlukan serangan area daripada kekuatan dan efeknya, aku menyiapkan sebuah Art yang tidak biasanya kugunakan.
"Taku, aku akan melakukan sesuatu jadi urus sisanya."
"Ohh, kau merencanakan sesuatu?"
Merasa ini menarik, Taku tersenyum penuh semangat tempur dan mengangkat kedua pedangnya untuk bersiap-siap menahan serangan.
"Enchant ——Attack, Speed. Elemental Enchant ——Weapon."
Aku menaruh enchant kecepatan dan serangan pada diriku sendiri, dan semakin jauh dengan menaruh enchant elemen angin pada senjata.
Dan kemudian, membidik kerumunan lebah hitam di langit, aku memicu sebuah Art.
Aku tidak mengincar satu individu saja, tapi keseluruhan kawanan.
"—— Bow Skill – Gust of Wind!"

Art yang kudapatkan dengan mencapai level tertentu membentuk ekor hijau di belakang panah yang kutembakkan saat menghujam menembus kerumunan lebah.
Tanpa mengenai lebah manapun, panah itu menembus kawanan, tapi sedikit penundaan, sebuah tekanan dari angin hijau telah menyebar dan mengenai seluruh lapisan lebah hitam yang berkerumun di udara.
Saat para lebah mendapat damage dari tekanan angin yang ditimbulkan lintasan panah, jumlah mereka berkurang.
Bukan hanya melukai seekor lebah saja, HP seluruh kawanan itu menurun drastis.
Tetap saja, lebah-lebah yang jauh dari tempat panah itu melintas tetap hidup dan baik-baik saja meskipun menerima damage. Mengenali kami sebagai musuh, mereka pun turun.
"Yun! Art itu…!"
"Akan kujelaskan nanti, sisanya datang!"
Menyadari musuhnya, mata bulat Bunker Bee menjadi merah dan mereka menyerbu secara serempak mendekati kami.
Meskipun waktu tunggu penggunaan Art masih belum selesai, lebih mudah membidik monster-monster yang mendatangi kami daripada mengincar saat mereka membentuk angka 8 di langit.
Aku menembakkan panah demi panah dan aku menjatuhkan beberapa lebah. Akhirnya Art-nya tersedia lagi dan aku menggunakannya.
"——Bow Skill – Gust of Wind!"
Sekali lagi aku menembakkan Art yang sama dan sebagian besar lebah yang berkumpul itu pun hancur.
Meskipun sebagian besar lebah yang kubidik kalah, para lebah yang menyerbu ke arah kami terlalu dekat dan aku tidak bisa menggunakan Art yang sama lagi untuk melawan mereka.
Aku mengganti senjataku dari busur ke pisau dapur lalu menebas lebah-lebah yang datang.
Sementara aku menyerah menggunakan panah untuk memotong lebah-lebah itu satu persatu, Taku menebas beberapa, menyingkirkan sisa-sisa lebah dengan segera.
Begitu HP kerumunan Bunker Bee mencapai titik nol, para lebah yang bertarung sejauh ini pun melarikan diri ke langit secara serempak.
Mengundurkan diri saat sekian persen dari kerumunan itu lenyap, mereka seperti pasukan tentara. Berpikir demikian, aku menyaksikan mereka pergi.
Dan meskipun hanya sebuah pertarungan tunggal, aku menerima begitu banyak item drop dari satu kerumunan Bunker Bee. Memastikan ada banyak item drop, aku dengan girangnya melakukan tos dengan Taku.
"Apa itu! Jadi kau punya serangan area!"
"Yah, aku tidak punya banyak kesempatan untuk menggunakannya dan kekuatannya cukup lemah."
Sedikit malu, aku menggaruk ringan pipiku dengan satu jari. Art yang kubuat dengan tekanan angin memiliki damage yang lebih rendah daripada serangan panah biasa. Terlebih lagi, damagenya semakin berkurang dengan semakin jauhnya musuh dari titip panah itu melintas.
Karena itulah lebah-lebah yang jauh dari panah itu tetap selamat. Kalau itu sihir, mungkin saja semua lebah tersebut akan menerima damage yang sama dalam jangkauan efeknya, pikirku.
"Yah, jangan berkecil hati. Kita punya cara menyerang yang cukup bagus. Ayo, incar yang berikutnya! Berikutnya!"
"Ya, baiklah! Ayo kalahkan mereka lagi!"
Setelah Rafflesian dan Mad Seed, kami mengincar Bunker Bee dan terus berburu. Meskipun kami bertarung sambil memikirkan material penguat dari item drop monster yang disebut Queen, tapi monster yang satu itu benar-benar muncul dan kami hanya lanjut mengumpulkan item drop dari beberapa kawanan yang kalah.
"Kita mengulanginya beberapa kali dan aku mulai terbiasa dengan Bunker Bee, tapi aku tidak berhasil memunculkannya satu pun. Dan dalam pertempuran berturut-turut juga."
"Mau bagaimana lagi, 'kan?"
"Tidak, tapi, hmm."
"Mengkhawatirkan sesuatu? Atau mungkin kau capek?"
Taku berbalik saat aku mengerang.
Tidak, itu bukan masalah besar, tapi…
"Aku sedikit capek, tapi…aku tadi berpikir kalau aku tidak punya waktu untuk mengumpulkan herba atau bijih logam dan semacamnya."
"Kau…melupakan hal itu saat kau berburu atau menaikkan level."
"Tidak, maksudku! Kita sudah sejauh ini, itu sayang sekali!"
Saat aku menekankan hal tersebut, aku terlihat menyedihkan.
"Tapi, mereka berpatroli di area yang luas dan kau tinggal di satu tempat untuk waktu yang lama. Karena itulah, kalau kau dengan santainya mengumpulkan item, kita akan kehilangan langkah awal dalam pertempuran."
"Ta-tapi, sepanjang gunung ini hanya ada Bunker Bee."
"Tidak masalah kalau aku menghadapi Bunker Bee itu, tapi beberapa dari mereka pasti akan lolos untuk menyerangmu, dan kalau aku mengumpulkan item dan kau kelolosan beberapa dari mereka, aku akan mati."
Grrr, apa tidak ada cara untuk mengumpulkan item dengan aman, pikirku, dan aku teringat dengan item tertentu.
"Kalau begitu, misalkan kita bisa menangkal Bunker Bee, tidak ada masalah, 'kan?"
"Seandainya ada item sepraktis i…ahh, ada satu."
Meskipun ini terbatas untuk monster tipe serangga, aku mengeluarkan item yang tidak dapat didekati mereka——item Insect Repelling Incense.
Kalau aku menggunakan dupa berbentuk lingkaran ini, para Bunker Bee tidak akan bisa mendekat. Dengan kata lain, area di sekitar pegunungan di mana hanya Bunker Bee yang muncul akan aman.
"Aku mengerti. Jadi dengan menggunakan itu, kau membuat area aman sementara."
Tergantung lokasinya, ini bisa digunakan untuk memastikan tempat istirahat. Aku pernah kehabisan stok karena aku menggunakannya untuk melarikan diri, tapi aku membuatnya lagi dan menyimpannya di inventory.
"Baiklah. Pergilah dan gunakan itu untuk mengumpulkan item dengan aman."
Aku segera menyalakan Insect Repelling Incense itu.
"Kalau Bunker Bee tidak lagi bisa mendekat, kau bisa menyapu habis mereka secara sepihak dari jarak jauh. Itu kedengarannya menyenangkan."
Di depan di tempat yang dia lihat, para serangga berpencar di udara saat bereaksi terhadap asap Insect Repelling Incense dan melarikan diri dengan berpindah ke belakang lereng gunung.
Seperti yang kuduga, aku tidak bisa membidik saat mereka bersembunyi, jadi tindakan Taku menyapu habis mereka adalah hal yang mustahil.
"Kalau begitu aku akan mengumpulkan item di lereng. Kau bisa beristirahat sebentar, Taku."
"Ya, aku akan melakukannya. Tapi tetap saja, item dengan penggunaan terbatas, ya."
Hmm, Taku menempatkan sebelah tangannya di dagu dan terus menatapi Insect Repelling Incense yang ada di tanah saat benda itu terus berasap.
"Bisakah kau memberiku beberapa Insect Repelling Incense ini? Sepertinya berguna."
"Tentu, tapi kau tetap harus membayarnya."
"Tentu saja, aku bisa membelinya di sini sekarang juga."
Karena dia berkata begitu, aku mengeluarkan lima Insect Repelling Incense dan menyerahkannya dengan melemparkannya dan menerima pembayarannya.
"Makasih."
"Sama-sama. Kalau begitu, aku akan mulai menggali di titik penggalian lereng ini."
Aku mengeluarkan beliung untuk menggali dari dalam inventory. Lokasi titik penggalian muncul di dinding dan aku mengayunkannya ke sana.
"Yun! Aku akan berjaga-jaga, jadi berbagilah sedikit denganku!"
"Kalau begitu, bagaimana kalau 50 banding 50?"
"Itu terlalu adil. Aku mungkin tidak akan melakukan apapun, 'kan——?‼ Yun, minggir!"
Aku tidak terlalu keberatan kalau setengah banding setengah dan mengayunkan beliungku, dan saat itulah Taku menjadi panik.
Apa? Dan dari arah yang dituju Taku, sebuah suara datang dari langit di mana para lebah menghilang.
"——UOOOOOOoOooooooaaa‼"
Sebuah suara berat pria. Teriakan yang bisa saja peringatan ataupun yang lainnya dengan cepat mendekat dari kejauhan. Tidak, suara itu jatuh dari tebing.
Peristiwa mendadak ini menyebabkan pikiranku membeku dan aku berhenti bergerak.
(Sial, tidak disangka aku tidak bisa bergerak di saat-saat seperti ini! Kenapa bereaksi saat Mad Seed menyerbuku dan malah tidak saat ini!)
Saat aku merutuki kaki-kakiku yang tidak bergerak dalam pikiranku——
"Yun! Menghindar ke sini!"
Melihatku tidak bisa bergerak, Taku menarik lenganku dan melompat menjauh dari titik tersebut. Beliung yang kupegang terjatuh saat lenganku ditarik kuat-kuat, dan terhempas dalam pelukan Taku. (TL :UKYAAAA! Eh, ini cowok sma cowok, sih tapi….KYAAAA‼ >o<)
"UOOOOOoooo——"
Aku memandangi orang yang terjatuh dari atas tebing.
Dia memiliki tanda-tanda pertempuran yang baru saja terjadi. Dan, dengan cedera akibat jatuhnya itu, HP-nya terkuras sepenuhnya di depan kami.
Ini mungkin pertama kalinya aku menatap begitu cermat saat HP seseorang menjadi 0. Tubuh player itu terjatuh telentang dan tidak bergerak sama sekali.
Player yang terjatuh itu mengenakan armor kulit tebal yang kelihatan tahan lama dan sebuah helm logam yang kelihatan kokoh di kepalanya. Sepatu bot yang dipakainya adalah sepatu untuk mendaki. Dia adalah seorang pria berotot, di punggung dan sabuknya terdapat tas ransel dan tali-tali pengikat, dan juga diperlengkapi dengan tambang.
Astaga, apa yang sedang kulakukan, dengan tenangnya mengamati orang itu di sini——
"Pada saat seperti ini, uh——harus menggunakan Revival Medicine!"
Sebelum aku dapat bergegas mengeluarkan Revival Medicine, mata pria itu terbuka dan dia menatapi kami.
"Hyah?! Dia bangun!"
Pria tewas itu baru saja bangun begitu saja! Pikirku. Tapi selama memiliki Revival Medicine, orang bisa bangkit sekalipun HP mendarat di titik 0.
Setelah terbangun, pria berotot itu mengangkat bagian atas tubuhnya, mengeluarkan sebotol potion dari dalam inventory dan memulihkan HPnya dengan benda itu.
"Maaf. Tidak bermaksud menakuti kalian. Aww~, kupikir aku akan mati."
Kalau ini adalah kenyataan, aku pasti mati. Player pria berotot itu berkata dan tertawa terbahak-bahak.
"Apa? Apa aku mengganggu kencan anak-anak muda?"
"HAa?! … …?‼"
Dikatakan seperti itu oleh pria di depanku, aku teringat oleh kondisiku. Aku terlihat dalam keadaan mematung dalam dekapan Taku yang menangkapku.
Aku menjauh dari Taku dengan terburu-buru dan untuk menenangkan diriku sendiri, aku bergumam berulang kali sambil menarik napas.
("Mau bagaimana lagi. Mau bagaimana lagi. Fuu-haa, fuu-haa.")
"Yun? Kau tidak apa-apa?"
"Y-ya! Aku baik-baik saja!"
Ditegur Taku, aku pun merespon dengan suara melengking tinggi, tapi aku akhirnya berhasil menenangkan diri dan sekali lagi menghadapi player yang jatuh dari tebing itu.
"Maaf soal itu. Pria tua ini tidak bermaksud mengganggu kencan anak muda dan nona."
"Bukan, aku bukan nona. Aku ini laki-laki."
"Apa? Malu dengan kencanmu?"
"Kenapa malah seperti ini!"
Wahahaha, saat pria berotot itu tertawa terbahak-bahak, aku menekankan telunjukku di ke pelipis untuk menahan rasa sakit kepalaku.
Yang benar saja, kenapa jadi seperti ini.
·
Si pria yang tertawa terbahak-bahak itu bernama Ivan. Dia kelihatan begitu tangguh sampai rasanya tidak mungkin dia bisa jatuh dari tebing yang tingginya segitu. Setiap kali dia tertawa otot-ototnya membesar dan aku berilusi bahwa armor kulit yang dia pakai menjerit.
"Jadi pak tua Ivan, kenapa kau di sini?"
"Saat aku mendaki karena hobiku, aku membuat kesalahan kecil."
Untuk soal mengobrol dengan Ivan, kuserahkan saja pada Taku. Sementara itu, aku mengayunkan beliungku untuk mengambil material dengan menggali di titik penggalian di samping tebing.
Di antara suara denting nyaring benturan bebatuan, aku mencuri-curi dengar percakapan Taku dan Ivan.
"Aku adalah yang kau sebut dengan player pelaku hobi. Aku menggunakan salah satu Sense, Climbing untuk berulang kali mendaki tebing-tebing dan bebatuan itu."
Pendakian, bahkan berjalan di pegunungan Jepang modern membutuhkan waktu berjam-jam untuk persiapannya, jadi di dalam OSO di mana seseorang bisa menemukan area alam yang sesuai keinginan dan suasana hatimu, mudah sekali untuk melakukannya.
"Hee, jadi kau melakukan hal semacam itu."
"Ya, pegunungan adalah hal yang hebat! Itu adalah romansa pria!"
Ivan berbicara tentang kehebatan pegunungan saat dia membentangkan lengan tubuhnya yang besar seperti gunung. Taku duduk bersila dan berbicara dengan Ivan sambil menatapnya langsung.
"Yah, itu tidak aneh. Di antara player kenalanku ada beberapa yang suka memancing, tapi karena mereka tidak bisa memancing di hari-hari kerja, mereka mengambil Sense Fishing dan melakukannya di OSO."
"Aku juga sama. Aku menengar tentang game ini dari seorang kenalanku. Aku sendiri tidak berminat dengan gameya, tapi aku mulai melakukannya demi hobiku."
Wah, kau benar-benar tahu banyak, Nak. Ivan berkata dengan senangnya.
"Jadi, kenapa sampai terjatuh dari tebing itu?"
Aku menghentikan lenganku yang sedang mengayunkan beliung dan mendengarkan jawaban Ivan.
Melipat lengannya, Ivan mengerang dan mengerutkan alis.
"Ini sebenarnya cerita yang menyedihkan. Aku terjatuh dari tebing itu karena lebah-lebah. Mendadak sekumpulan lebah menyerbu ke arahku. Aku mencoba menyingkirkan mereka tapi malah dikalahkan. Tapi itu bukan masalah besar dibandingkan dengan badai dan longsor salju di pegunungan bersalju di tengah musim dingin sebenarnya." (TL :…tangguh…dan menyeramkan…)
Ada banyak hal yang ingin kutanggapi.
Mengalami badai dan longsor salju di dunia nyata adalah hal yang luar biasa, tapi memikirkan fakta bahwa dia diserang lebah dan kaitannya dengan tindakanku dan Taku tepat sebelum itu…
"…Yun."
Taku menatapiku. Aku menaruh beliung kembali ke inventory dan duduk di sebelah Taku di depan Ivan.
Ayo bicara jujur dan meminta maaf.
"…um, ini hanya kemungkinan, tapi…kurasa kami mungkin alasannya kenapa gerombolan lebah itu mengerumunimu."
"Oh?"
Ivan menaruh tangannya di dagu dan mengangkat salah satu alisnya, tertarik.
Aku menjelaskan apa yang terjadi sebelum di terjatuh. Bahwa aku memiliki Sense Dosing dan aku menjelaskan efek dari Insect Repelling Incense dan bahwa kami menggunakannya untuk mengusir para lebah dari tempat ini.
"Karena itu….maafkan aku."
Saat aku menundukkan kepalaku dalam-dalam dan meminta maaf, sebuah tawa muncul dari atas kepalaku.
"Apa? Jadi begitu, ya. Juga, kau memegang sebuah potion karena ingin menyembuhkanku setelah aku jatuh. Tidak perlu cemas, Nona. Sejak awal itu adalah masalahku sendiri karena tidak bisa menghadapi para lebah itu."
Dia berkata begitu dan menurunkan tangannya yang kasar ke kepalaku dan mengelus. Merasa cukup malu, aku merasa sulit untuk mengangkat kepala. Dan, saat Taku mencoba membekap tawanya…aku melirik tajam ke samping.
"Tetap saja, aku terkejut. Aku kebetulan jatuh ke tempat seorang pemuda dan gadis berada…benar-benar mengejutkan."
"Aku juga terkejut melihat seorang pria besar jatuh dari atas. Tanpa sadar aku menyambar Yun dan melompat menjauh."
"Kubilang, aku juga laki-laki! Juga Taku, kau melakukan ini dengan sengaja, 'kan! Kenapa kau tidak mengoreksi kesalahpahaman ini!"
Aku menukas kedua orang itu saat mereka bicara, tapi Ivan dengan lengan yang terlipat menelengkan kepala dengan kebingungan.
"Apa? Nona masih malu-malu?"
"Ayolah, kenapa jadi seperti ini! Malu apanya! Taky, berhenti tertawa!"
Kubilang seharusnya kau mengoreksinya! Kataku, tapi dia berpura-pura tidak mendengarnya.
"Ya ampun, aku merasa bersyukur karena mendadak menarik lenganku, tapi aku bahkan tidak bisa berterima kasih."
"Yun, kau mengatakan sesuatu?"
"Bukan apa-apa!"
Aku menyangkalnya tegas, tapi Ivan melihat ke arahku dengan cengiran lebar yang malah membuatku sangat kesal.
"Apa maksudnya wajahmu itu?"
"Yah, itulah masa muda, pikirku."
Entah kenapa aku jadi sangat jengkel. Panggil dia "pak tua" mulai sekarang.
"Yah, entah Nona ini laki-laki atau perempuan, itu tidak ada hubungannya denganku."
"Tapi itu masalah besar buatku!"
Aku meninggikan suara untuk memprotes, tapi dia sama sekali tidak terganggu. Kebalikannya, aku kalah dalam perang mental ini saat dia tersenyum lebar menampilkan giginya yang putih meskipun tubuhnya kekar seperti itu.
Tatapan bersimpati dan pertentangannya dengan penampilan fisik yang terkesan sangar itu membuat rasa nyamanku dengan anehnya merosot.
"Mau mendaki gunung denganku?"
"Apa?!"
Saat aku menanggapi dengan suara melengking tinggi, Ivan membentangkan lengannya dan mulai membicarakan kebaikan pegunungan.
"Pegunungan itu hebat! Pergi berkeliling-keliling di tanah datar itu terlalu kecil! Tempat-tempat yang biasanya kau datangi kelihatan sangat kecil."
"Dan, kau bisa tertawa seperti orang jahat melihat dunia begitu kecil."
"Taku, jangan bercanda soal itu."
Saat Ivan mulai bicara serius, Taku mulai meledeknya, jadi aku menyikut samping tubuhnya sedikit di mana terdapat celah armornya. Dia memiringkan tubuh dan terdiam.
"Saat kau mendaki gunung-gunung, entah kau laki-laki atau perempuan, hubungan antar manusia dan masalah dalam pekerjaan, kesulitan dalam kehidupan, semuanya kelihatan remeh! Sebesar itulah gunung-gunung! Dan mereka mengajarimu bahwa kekhawatiran manusia itu sangatlah kecil! Karena itulah, ayo mendaki gunung bersama-sama!"
" "… … … " "
Taku dan aku terpukau oleh suaranya yang menggelegar. Suara bass yang menggema di dalam perutku seperti suara gong dan tanpa sadar membuatku terpana.
"Apa yang menjadi dasar——"Tidak ada! Kalau kau pergi ke gunung, kau akan memahaminya begitu saja!"——Benarkah?"
Ivan adalah si bodoh pencinta gunung.
"—— Dan karena itu, ayo mendaki gunung bersama-sama!"
"Bahkan tidak menunggu kami untuk setuju?!"
"Semangat untuk menantang adalah segalanya. Beranilah untuk tantangan! Dan juga, ingin berada di puncak gunung dan pegunungan membuatmu pria di antara para pria, ya 'kan?"
"Tidak, itu cuma dirimu."
Aku tidak ada niatan untuk mendaki. Konyol, pikirku dan untuk tidak menghentikan obrolan ini begitu saja, aku membalikkan badan dan mengeluarkan beliung lagi kemudian mengayunkannya.
Dan menghadap punggungku, dia mengatakan sesuatu.
"——Seorang pria melarikan diri?"
Saat aku akan mengayunkan beliung, tubuhku berhenti bergerak. Setelah beberapa detik, Ivan melontarkan sisa kalimatnya.
"Ohhh! Benar juga. Kau adalah seorang gadis lemah, 'kan. Maaf, maaf. Aku yang salah."
Saat dia mengatakannya secara berlebihan, aku mengerutkan alis. Aku tidak akan terpancing, aku mengatakannya berulang-ulang dalam hati, tapi——
"Kau benar-benar bersemangat tinggi, tapi bagaimanapun kau ini seorang gadis, ya. Sedih rasanya mendengar kau tidak tertarik dengan gunung-gunung."
"Kubilang aku ini laki-laki! Kalau kau berani sejauh itu, tunjukkan padaku gunung atau apalah itu!"
Ah, aku sadar setelah mengatakannya. Dan seharusnya aku tidak membiarkan dia memancingku.
"Kukakaka‼ Kau memakan umpannya, Nona! Kau bilang kau adalah seorang pria, dan seorang pria tidak akan menarik kembali perkataannya!"
"Khh, aku adalah seorang laki-laki! Aku tidak akan menariknya lagi!"
Akan tetapi, tidak dapat mundur lagi, sudah diputuskan bahwa aku akan mendaki gunung bersama Ivan.
Dan dengan takut-takut, aku menoleh ke arah Taku.
"Yun, kau ini bodoh, ya?"
"Uh, ma-maaf. Tapi…"
Taku menghela napas dan melihatku seakan aku ini adalah orang yang menyedihkan. Hentikan itu, jangan menatapku seperti itu.
"Pak Tua Ivan, bisa aku menanyakan sesuatu?"
"Oh, ada apa? Kau ikut juga dengan kami, Nak?"
"Aku tidak keberatan untuk ikut. Tapi saat mendapatkan Sense baru, sekalipun itu Sense untuk hobi, sebaiknya mempelajari itu dari seseorang yang sudah mengetahuinya daripada melakukannya dengan sekedar mencoba-coba."
Tapi, Taku menambahkan.
"Apakah ada keuntungan apapun bagi kami dengan mengambil Sense Climbingitu?"
Menyipitkan matanya, Taku bertanya dengan serius. Wajahnya ini, adalah wajah seorang maniak game. Dia kelihatan seperti ini kapan pun dia menilai item dan efek skill serta untung-rugi dari mendapatkannya.
Menanggapi Taku yang bersikap seperti itu, Ivan menaruh sebelah tangannya di dagu dan mengerang.
"Hmmh. Coba kulihat, aku melakukannya sebagai hobi. Memuaskan hasratku adalah keuntungan terbesar, tapi untuk orang lain——"
Ivan merenung beberapa lama.
"Tidak terpikir yang lainnya. Yang paling bagus, kau dapat mengambil bijih logam di tebingnya dan aku menemukan sebuah pintu masuk menuju sebuah gua di atas tempat ini. Tepat di situ."
"Baiklah, aku ikut! Ayo lakukan dengan semangat penuh!"
"Mudah sekali?! Taku, kau benar-benar tidak masalah dengan itu?!"
"Itu lebih dari sekedar keuntungan untuk kita!"
Saat dia berkata demikian, aku melihat tebing tersebut menggunakan kombinasi Sense Sky Eyes dan See Through.
"Kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal. Ada banyak titik-titik penggalian di atas sana."
Dibandingkan dengan sisi pegunungan tempatku menggali barusan, ada begitu banyak tempat untuk menambang di tebing.
Dan, di puncak tebing yang menonjol, tepat di arah yang ditunjukkan Ivan, kelihatannya ada sebuah gua.
Kalau aku bisa menambang di tebing ini, ada berapa banyak material crafting yang bisa kudapatkan?
"Hei, Yun. Apa kau akan mengambil Climbing dan melakukannya bersamaku dengan kekuatan penuh?"
"Aku juga berubah pikiran. Tapi, kenapa kau juga, Taku?"
"Itu adalah gua yang tidak dikenal! Mungkin saja ada dungeon di bagian belakangnya. Dan bisa saja mengarah ke area di sisi lain tebing ini!'
Taku tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya saat berkata begitu.
"Tapi, Ivan mungkin saja sudah memeriksan——"Aku tidak masuk ke dalam." ——Tidak?"
Biasanya penjelajah akan langsung memeriksanya, 'kan. Aku berpikir begitu, tapi sepertinya aku salah.
"Menjelajahi gua tidak ada kaitannya dengan pendakian gunung. Juga, kalau memang terhubung ke tempat lain, maka aku ingin ke tempat tersebut lewat puncak gunung ini!"
Karena ada gunung, jadi aku akan melakukan perjalanan melintasinya. Sepertinya itulah yang dia pikirkan. Aku tercengang.
"Bagaimanapun, sepertinya aku sukses membuat bocah ini dan nona untuk mengambil Sense Climbing!"
Ivan berkata demikian dan tertawa terbahak-bahak. Taku dan aku, dengan semangat yang berkobar mengambil Sense Climbing dari daftar Sense yang ada di menu.
Dengan mengonsumsi satu SP, kami memperlengkapi diri kami dengan Sense Climbing dan segera mulai mempelajarinya dengan bantuan Ivan.
"Jadi, Yun dan aku menggunakan Sense Climbing, tapi apa yang harus kami lakukan untuk meningkatkan levelnya?"
Apa yang Taku tanyakan adalah performa dasar Sense tersebut. Bagaimana menggunakannya, untuk aksi seperti apa EXP-nya terkumpul, koreksi macam apa yang ditambahkan pada aksi tersebut. Kami sama sekali tidak tahu informasinya.
"Ya, kau memang benar. Sekalipun itu disebut Climbing, segala sesuatu yang berkaitan dengan melangkah di gunung yang curam untuk menaiki dindingnya yang terjal bisa dikatakan mendaki."
Saat Taku mengajukan pertanyaannya, aku menambahkan pikiranku sendiri juga. Sang penjelajah, Ivan menanggapi——
"Kau mendapatkan EXP dengan berjalan di gunung, tapi itu naik dengan sangat lambat. Meskipun awalnya terlihat mustahil, tapi begitu kau mampu mendaki tebing setinggi sepuluh meter, tidak akan ada masalah berdasarkan pengalamanku. Dari waktu ke waktu kau hanya harus beristirahat di langkan[2] yang ada."
Di sana dan di sana ada beberapa langkan di mana kau bisa duduk. Dia menunjukkan dengan jarinya, memperlihatkannya pada kami.
"Yang pertama, penting untuk mendaki sendirian ke tempat landai terendah. Tunggu sebentar."
Ivan berkata demikian dan meninggalkan kami, dia mendaki ke langkan yang berada sepuluh meter di atas kami tanpa bantuan apapun. Kemudian, dia mengaitkan sesuatu di sana dan menggantungkan seutas tambang, kemudian menggunakan itu untuk kembali pada kami.
"Ini adalah tambang pengaman dan hardness. Kau bisa memakainya dan naik ke atas sambil menjejak secara bertahap. Ini adalah penyelamat nyawamu saat tanganmu selip. Ayo cobalah, Nona!"
Ilustrasi Hardness/Harness
Kau pergi duluan, punggungku didorong dan sambil bersandar aku mengambil dua langkah maju.
Ketika aku berdiri di depan tebing yang menjulang dan kebingungan di mana aku harus menaruh tangan dan kakiku, secara alamiah aku menyadari bagaimana bantuan dari Sense itu bekerja.
Aku memastikan titik-titik yang berbaur dengan titik-titik penggalian dan menaruh tanganku pada permukaan berbatu.
Memang ada respon yang memberitahuku di mana aku seharusnya berpegangan beirkutnya untuk memanjat. Tapi——
"——Tidak mungkinn! Aku tidak akan bisa lebih jauh daripada ini!"
Aku menyerah lebih cepat dan bersuara nyaring. Tidak dapat menemukan permukaan menonjol dalam jangkauan tanganku dan tidak mampu mencapai lebih jauh meskipun tinggal sedikit lagi saja. Kemudian, aku turun untuk mencoba menemukan rute lain tapi perlu banyak waktu untu kembali.
"Kau tidak apa-apa, Yun?!"
"Mustahil! Lengan-lenganku gemetaran!"
"Tenanglah, Nona. Ayo turun dulu!"
Dikatakan begitu, meskipun perlahan, aku dengan hati-hati turun sambil mencari-cari pijakan di bawahku. Kemudian akhirnya, aku menendang menjauh dari dinding saat aku hampir mencapai ketinggian tubuhku. Ketika aku akhirnya sampai di permukaan tanah, aku jatuh berlutut dan mulai tertawa sebelum duduk.
"Itu parah! Apa-apaan itu, yang benar saja!"
Saat aku memprotes, tubuhku gemetar tidak bertenaga sama sekali, jadi aku mengistirahatkan diriku.
"Apa? Kau tidak punya cukup otot, makanlah lebih banyak daging!"
"Ini game!"
"Yah, bercandanya nanti lagi. Kau yang berikutnya, Nak. Aku akan menjelaskan sisanya pada nona sambil melihatmu."
"Baiklah. Aku pergi dulu kalau begitu."
Setelah berkata demikian, Taku mulai memanjat dan itu berjalan dengan mulus sepertiku barusan, tapi dia berhenti di pertengahan. Itu adalah tempat yang sama di mana aku berhenti sebelumnya.
"Nona, menurutmu kenapa itu tidak berhasil?"
"Hmmm. Karena tangan kanannya tidak bisa mencapai tonjolan, pilih rute lainnya?"
"Sebenarnya, ada trik untuk mencari tempat itu dengan tangan kananmu, Nak. Lihatlah ke arah sebaliknya di tempat yang coba kau raih dan kemudian coba lagi!"
"…? Baiklah."
Aku tidak mengerti, kata ekspresi Taku, tapi hasil dari percobaannya itu cukup drastis.
"Oh? Aku mencapainya. Tapi kenapa?"
Dia berkata demikian dan naik ke atas di mana aku tidak pergi lebih jauh. Kelihatannya lengannya tidak gemetar. Aku kalah dari Taku dalam stats dan cara menangani Sense itu.
"Tapi, kenapa dia bisa mencapainya padahal tadinya tidak?"
Meskipun aku dan Taku terhenti di tempat yang sama, berkat nasihat Ivan, Taku melanjutkan dengan mulus.
"Itu mudah. Meskipun dia tidak mencapainya dengan normal meskipun menjulurkan tangannya, dengan menolehkan kepalanya ke arah yang berlawanan, tubuhnya secara alamiah akan berputar dan dia dapat memanjangkan tangannya sebanyak itu, begitulah caranya."
Aku sebenarnya mencoba untuk mengalihkan bagian kanan dan kiriku. Dengan pergerakan leherku, bahuku yang sebelahnya bergerak lebih maju. Memanfaatkan jangkauan yang lebih jauh itu, jadinya bisa mencapai titik tersebut. (TL : Intinya sih, misalnya saat tangan kanan dan wajah sama-sama menghadap ke arah kanan dan tangannya nggak nyampe, coba tangannya tetap terjulur ke kanan tapi mukanya ke kiri. Pasti nyampe. Aq dah praktekkin buat megang ujung meja yang jauh XD )
Hanya dengan mendapatkan satu nasihat dari Ivan, Taku memanjat sepuluh meter sampai mencapai langkan tersebut, kemudian dengan mudahnya turun dan mendaki lagi, berjuang untuk menaikkan level.
Di sisi lain, mungkin karena aku tidak punya cukup otot, aku berjuang mengatasi lenganku yang gemetar dan berulang kali beristirahat. Aku menjalani jarak itu sedikit demi sedikit.
"Bagaimana? Apa kau sudah paham triknya?"
"Hmm. Ini cukup keras untuk lenganku, tapi aku tahu bagaimana cara melakukannya, jadi rasanya aku bisa pergi lebih jauh."
"Kalau begitu, cobalah."
"Berjuanglah, Yun."
Disemangati seperti itu, aku menantangnya lagi.
Ivan mengawasiku dalam diam saat aku perlahan mendaki ke atas.
"Yun, kau hampir sampai."
"Nona, sedikit lagi."
"Uuu——berhasil!"
Untuk usaha yang terakhir, aku menaruh tanganku di langkan dan memanjat naik.
Anehnya, tempat-tempat yang tadinya tidak bisa kucapai sebelumnya, hanya dengan menolehkan wajahku ke arah yang berlawanan seperti yang diajarkan padaku dan menjangkaukan tubuhku, aku dapat memanjat dengan seluruh kekuatanku.
"… …huff, huff. Keras sekali."
Aku berguling dan ambruk pada tempat peristirahatan kecil di tebing tersebut dan menatap ke langit dengan punggung di gunung yang berbatu itu.
"Kalian berdua belajar dengan cepat di hari pertama ini. Ada gunanya mengajari kalian."
Saat aku melihat ke arahnya, Ivan yang sedang mengawasi kami dari bawah telah mendaki jarak yang sama dengan yang kami lalui tanpa tali pembantu, menyusul kami. Seperti yang diduga dari perintis Sense Climbing, kemampuannya benar-benar hebat.
"…Taku seperti yang kau lihat, tapi aku tidak punya bakat sama sekali, 'kan."
"Anak muda ini memang abnormal. Sedangkan kau Nona, hanya perlu menggunakan otot-ototmu lebih daripada biasanya."
"Yah, terima kasih…?"
Meskipun aku dipuji, memanjat setinggi sepuluh meter sudah cukup untuk membuatku kelelahan sekali.
Setelah beristirahat sebentar, aku jadi cukup tenang dan menghela napas.
"Baiklah. Kalau begitu, berikutnya kita akan mengulangi latihan yang sudah kita lakukan sejauh ini dan mengincar ketinggian dua puluh meter!"
"Tidak mungkin, mustahil! Lagipula, sekarang waktunya aku harus log out."
Meskipun matahari masih tinggi di langit OSO, saat aku mengecek waktu di menu, sekarang sudah pukul enam sore. Kalau aku tidak mulai memasak makan malam, aku tidak akan tepat waktu untuk makan malam di pukul tujuh.
"Wah, sudah jam segitu? Aku akan meminta nasihat sedikit lagi dari Ivan kemudian log out juga."
"Padahal kupikir rekan memanjatku sudah bertambah, sepinya. Mau bagaimana lagi, ayo mengobrol antar pria, Nak!"
Kemudian, secara sepihak Ivan menaruh sebelah tangannya pada lengan Taku. Sejujurnya, itu membuatku gerah sampai aku mundur selangkah.
"Aku log out kalau begitu."
"Aku akan memanjat di sini sebentar lagi. Kalau kau ingin menaikkan levelmu, datanglah lagi."
"Tentu, demi menggali di sini, Sense Climbing dan skillnya sendiri masih belum cukup bagaimanapun juga."
Karena aku ingin menambang di titik-titik yang bertebaran di area ini, aku berniat untuk datang ke sini selama beberapa waktu.
Dan kemudian aku log out, mengembalikan kesadaranku dari dunia OSO kembali ke dunia nyata.




[1] Roti Chip Butty : roti lapis yang terbuat dari kentang goreng  pada roti tawar yang diberi mentega. Terkadang diberi tambahan brown sauce, mayones, atau cuka gandum. Makanan ini bisa ditemukan di kedai-kedai fish and chips dan kedai makan lainnya yang ada di Britania Raya
[2] Permukaan datar yang menonjol dari dinding, tebing, atau permukaan lain.

Only Sense Online Jilid 7 Bab 1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.