Minggu, 02 Desember 2018

Only Sense Online Jilid 6 Bab 6 LN Bahasa Indonesia



HARAPAN DAN GRIM REAPER
(Translater : Hikari; Editor : Gian)

"Hadiah seperti apa sebenarnya ini?"
Saat aku bergumam demikian, Ratu Peri, seorang NPC yang penting menjawabnya.
"Tidak ada apapun di Desa Peri yang bisa kuberikan pada kalian sebagai rasa terima kasih. Karena itulah, para peri yang menemani kalian akan menerima permintaan kalian, dan selama itu hal yang masih memungkinkan, mereka akan memenuhi tiga Harapanmu."
Mendengarnya, aku memeriksa Rugged Iron Ring yang dihuni si Peri Nakal.

Fairy-Possessed Iron Ring Ornamen
DEF+2 Efek Tambahan : Fairy Possession 3/3

"Oh, item pembantu."
Sepertinya para player yang tidak memiliki item tanpa efek tambahan mendapatkan item yang muncul secara acak dari Fairy Possession sebagai gantinya.
Semua orang mengeluarkan item tersebut dan menatapinya.
"Aha, periku menjadi sebuah aksesoris."
"Tetap saja, selama memungkinkan…apa yang seharusnya kuharapkan, ya."
Myu dan Lucato mulai mendiskusikan harapan mereka. Yang lainnya juga sama, mulai berkonsultasi sama lain.
"Baiklah, aku akan menggunakannya duluan!"
"Gantz! Jangan terburu-buru!"
"Keluarlah, periku!"
Mengabaikan saran Kei, Gantz mengangkat gelang Fairy Possession dan memanggil peri yang berada di dalamnya.
"Ya, ya. Aku datang. Apa yang kau ingin aku lakukan?"
"Harapanku adalah——aku ingin material penguat terkuat untuk senjata!"
Mendengar keinginan yang berlebihan ini, kami semua terhenyak dan tidak dapat berkata apapun. Meskipun dikatakan bahwa harus harapan yang mungkin dikabulkan…
"Apa tepatnya yang kau maksud dengan yang terkuat~?"
"Yah, kurasa sesuatu seperti bahan penguat dari Naga atau Raksasa!"
"Tidak mungkin seorang peri bisa memenuhi harapan seperti itu, ya 'kan."
Berkata demikian, si peri menolak untuk memenuhi harapana tersebut.
"Eh, tidak bisa ya? Ka-kalau begitu, umm, berikan aku material penguat yang sedikit lebih lemah."
"Tidak mungkin terjadi. Hei, punya keinginan lainnya? Kalau tidak, aku akan kembali~"
"Uh, um…"
"10, 9, 8…"
 Peri tersebut mulai dengan tanpa perasaan menghitung mundur sementara Gantz panik. Dan——
"Aku tidak peduli apapun itu, tolong berikan aku beberapa material penguat!"
"Yup. Waktunya habis. Sampai nanti."
Gantz tidak berhasil tepat waktu dan peri itu kembali ke dalam gelang.
"Hee, jadi begitu cara kerjanya."
Menyia-nyiakan efek Fairy Possession untuk harapan yang tidak jelas, jumlah harapan yang Gantz miliki tinggal tersisa dua. Merasa sedih oleh hal tersebut, dia terjatuh bersimpuh pada kedua kaki dan tangannya. Semua orang bukannya menghibur dia, malah dengan tenang menganalisa efeknya.
"Hmm. Ini artinya akan lebih baik membuat sebuah harapan yang dapat dengan mudah dipenuhi. Kita harus mengumpulkan beberapa sampel untuk menentukan batas harapan yang mungkin dikabulkan."
"Berkat Gantz-san, kita akan berhati-hati dengan harapan kita. Itu bagus sekali."
"Gantz, pengorbananmu tidak akan sia-sia."
"Setidaknya cobalah menghiburku!"
Taku, Myu dan Kei berbicara berturut-turut dan membuat Gantz meraung.
Aku tersenyum getir melihat semua orang menatap Gantz dengan pandangan hangat saat dia bertingkah seperti biasanya.
Saat percakapan menjadi lebih tenang, NPC Ratu Peri memanggil kami.
"Baiklah kalau begitu. Sudah waktunya kami mengembalikan semua orang ke dunia manusia. Terima kasih banyak atas bantuannya."
Sepertinya waktunya telah tiba saat cahaya yang sama yang pernah kami lihat di lingkaran perpindahan telah kembali melebar di bawah kaki kami.
Sampai pilar cahanyanya rampung, para peri yang tadinya bersembunyi telah mengantar kami pergi dengan melambaikan tangannya.
Jika memungkinkan, aku ingin mengunjungi Desa Peri lagi begitu tempat ini kembali indah. Saat aku berpikiran demikian, kami dipindahkan.
Kupikir kami akan dipindahkan ke lokasi tempat Lingkaran Peri yang kami gunakan untuk masuk, tapi seluruh party ternyata ditransfer ke depan portal Kota Pertama.
"Nah sekarang, quest-nya sudah selesai. Apa berikutnya? Haruskah kita mengumpulkan orang-orang untuk memastikan efek Fairy Possession?"
"Nih, ada ideee! Ayo makan-makan untuk merayakan!"
Dengan selesainya quest, semua orang mulai bergerak.
Grup konfirmasi Fairy Possession berpusat di sekitar Taku.
Grup party perayaan berpusat pada Myu.
Dan, selain dari itu ada satu grup yang lelah dan akan beristirahat.
"Aku akan kembali ke Atelier dan log out."
"Ehh, ikutlah dengan kami."
"Aku sedikit capek."
Aku berkata demikian dan mengelus kepala Myu yang berencana untuk berkeliling memakan kue-kue, kemudian bergerak menjauh dari grup..
Di Atelier, Kyouko-san si NPC telah datang untuk menyambutku. Merasa bahwa aku akhirnya telah kembali, aku menghela napas.
"Selamat datang kembali, Yun-san."
"Aku pulang, Kyouko-san. Apa ada yang berubah di toko?"
"Sama seperti biasanya, hanya para pelanggan yang datang membeli beberapa potion. Juga, kusarakan untuk mempriorotaskan pengisian ulang persediaan High Potion."
"Baiklah. Akan kulakukan nanti."
Aku lelah, pikirku, dan agar dipulihkan oleh Ryui dan Zakuro, aku memanggil kedua hewan itu.
"Kyuu~"
"Aku capek, Ryui, Zakuro. Sembuhkan aku sedikit."
Aku bersandar para Ryui, memeluk Zakuro di perutku dan duduk di lantai di belakang konter.
Untuk beberapa lama, aku merasakan kehangatan Ryui dan Zakuro dalam keheningan, tapi mereka berdua sepertinya resah. Saat menurutku dia mulai mencari-cari sesuatu, Zakuro menjilati tangan kananku.."
"Ada apa? Apa ada sesuatu di situ?"
Aku berkata begitu dan saat aku mulai mengelus Zakuro, aku menyadarinya.
Yang membuat Zakuro terganggu adalah cincin Fairy Possession yang ada di tanganku.
"Aku mengerti. Yah, kalian selalu bersama-sama belum lama ini. Ya, si Peri Nakal ada di dalam sini."
Aku mengangkat cincin Fairy Possession untuk memperlihatkannya, dan arah pandangan Ryui maupun Zakuro berkumpul pada benda itu. Zakuro menyentuhnya beberapa kali. Dari waktu ke waktu, dia menggigit ringan jariku, tapi kemudian memiringkan kepalanya saat melihat perbedaan si Peri Nakal yang biasanya berisik.
"Kurasa rasanya memang sepi begitu dia menghilang."
Saat dia berada di Atelier ini selama quest, kurasa aku telah terbiasa dengan keberisikan si Peri Nakal.
·
Tenggat waktu untuk quest berbatas waktu telah mendekat. Satu demi satu informasi telah terkumpul dan lengkap. Sementara itu, dari balik konter Atelier aku mendengarkan cerita dari seorang player yang mengunjungi toko.
Dan, yang sedang berbicara denganku adalah——
"Yun-chan, coba dengar ini~"
"Apa? Apa terjadi sesuatu?"
Dengan mata berkaca-kaca, Sei-nee datang untuk curhat.
"Di tengah jalan tenggat waktu, aku masih belum mendapatkan seorang peri. Saat akhirnya aku mendapatkannya, di pertengahan quest aku diserang entah oleh Grim Reaper atau para pelaku PK dan tidak bisa meneruskannya lebih jauh! Dan aku selalu mendapat Thorn Token super sulit !" (TL : …kesian amat nasibnya…)
"Kau telah mengalami masa-masa sulit."
Aku berkata demikian dan dengan tenang menuangkan minuman manis untuknya.
Saat aku menanyakan kisahnya secara lengkap, sepertinya tepat setelah quest dimulai, dia diundang ke berbagai party, tapi karena berpikir dia akan menemukan seorang peri untuknya sendiri dan menahan diri untuk ikut serta, dia juga memprioritaskan orang-orang lain dan tidak ikut. Pada akhirnya, dia dibantu oleh Mikadzuchi.
Selain itu, karena ada Mikadzuchi, Flein dan para pelaku PK secara aktif menyerang mereka.
Juga, dia secara acak berpapasan dengan bos monster humanoid tipe-wandering terbaru, Grim Reaper, yang ditambahkan bersamaan dengan update Quest Peri. Dia juga mengalami kesulitan menghadapi Thorn Token yang sangat kuat dan mengalahkan mereka.
"Yun-chan, terima kasih sudah mendengarkan ceritaku. Aku merasa tenang sedikit karenanya."
"Itu bagus. Jadi, Sei-nee, sudah seberapa jauh kemajuanmu dengan quest ini sekarang?"
"Saat ini, kami sedang melakukan bagian yang terakhir, memasuki Desa Peri. Sepertinya kami akan memilih cara yang sulit dengan banyak mekanisme seperti yang sudah dilalui Yun-chan dan yang lainnya."
"Kurasa kau akan baik-baik saja, Sei-nee."
"Kalau aku tidak bisa menyelesaikan quest, akan kubunuh pelaku PK yang menghalangi jalan waktu itu dan memeras uang dari mereka untuk membeli aksesoris Fairy Possession."
Dengan mata sembap Sei-nee mengatakan sesuatu yang mengganggu. Sebenarnya, dia sangat kaya jadi dia tidak mengincar uang hadiah dan bisa saja membeli aksesoris secara normal.
Akan tetapi, saat ini item Fairy Possession dijual di lapak jalanan dengan harga yang luar biasa mahal. Batas harga terendahnya adalah 1 milyar gold. Yang paling mahal harganya 5 milyar.
"Kalau begitu, Yun-chan, bagaimana kalau kau menjual milikmu seharga 2 milyar?"
"Tidak akan! Aku tidak akan menyerahkannya."
Aku menggenggam cincin di tangan kanan dengan tangan kiriku seakan melindunginya.
"Tapi Yun-chan, kau tidak akan menggunakan item langka seperti itu yang jumlah kegunaan yang terbatas, 'kan?"
"Uh…itu benar."
Aku mengerang saat mendengar tebakan beruntungnya. Memang benar, keengganan menggunakan item semacam itu bukanlah sesuatu yang bagus dalam gim. Kalau tidak digunakan di saat yang tepat, mungkin bisa hilang karena hal itu.
"——Elixir Syndrome."
"Uhhh, tapi aku tidak akan menyerahkannya. Ini terlalu berharga!"
Ini adalah benda penting yang menghubungkanku dengan si Peri Nakal, jadi aku tidak akan menyerahkannya meskipun pada Sei-nee.
"Daripada memikirkan apa yang akan terjadi jika kau gagal, kurasa akan lebih konstruktif memikirkan bagaimana menggunakan Fairy Possession setelah kau menyelesaikan quest."
"Kau benar. Kurasa aku agak keterlaluan menggodamu, Yun-chan."
Sei-nee…aku menatapinya. Maaf, balasnya dengan tenang.
"Coba kulihat. Mungkin aku seharusnya tiga kali meminta material penguat."
"Begitukah. Yah, kudengar orang-orang meminta hal-hal seperti membantu mereka menyerang untuk sementara waktu dan semacamnya. Kelihatannya ada banyak macam penggunaan."
Sejujurnya, dari banyak metode penggunaan Fairy Possession, yang ditemukan adalah meminta item, meminta uang, support serangan, support stat, petunjuk quest, dan juga efek seperti mendapatkan bonus EXP. Setiap dari metode itu memiliki efek minor yang tidak memberi banyak perbedaan.
Sejujurnya, hadiah kali ini tidak sepadan dengan usahanya.
Secara pribadi, waktu yang dihabiskan dengan peri ini terlihat lebih berharga.
"Baiklah kalau begitu. Yunc-chan. Sudah waktunya aku pergi."
"Berjuanglah, Sei-nee. Ini, potion untuk hadiah perpisahan."
Saat aku menyerahkan potion pada Sei-nee yang akan memasuki Desa Peri, aku mendadak teringat sesuatu yang bisa dimanfaatkan dan mengeluarkan secarik kertas.
"Sei-nee, bawalah ini juga."
"Yun-chan, apa ini?"
"Peta labirin yang kubuat saat kami terpisah dari anggota party kami. Aku menuliskan detail datanya di dalam, seperti tipe-tipe jebakan dan isi dari kotak hartanya."
Bukan berarti aku memetakan seluruhnya dan ada kemungkinan struktur labirinnya berubah. Tapi tetap saja, mengetahui jebakan jenis apa yang ada, mereka akan dapat bersikap waspada terhadap itu semua.
"Terima kasih, Yun-chan. Aku akan menggunakannya secara efektif."
Setelah itu, Sei-nee meninggalkan Atelier untuk menyelesaikan quest bersama dengan Mikadzuchi dan anggota guild Eighty Million Gods yang lainnya.
Apa yang terjadi sesudahnya, sepertinya peta yang kuberikan pada mereka itu membantu saat melepaskan jebakan dan player tipe pengintai mulai belajar bagaimana memetakan dungeon di kertas.

"Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan juga."
Ryui dan Zakuro yang duduk di lantai yang dingin dengan tenang saat Sei-nee berada di sini telah bangkit dan menuju pintu keluar serta melihat ke arahku seakan berkata "ayo, cepat pergi".
"Aku tahu. Hari ini kita akan mengumpulkan beberapa herba dan bijih logam di timur. Kurasa kita akan pergi sampai ke Kota Kedua."
Dan kemudian, setelah memutuskan jadwalnya begitu saja tanpa rencana, aku membawa Ryui dan Zakuro denganku saat aku berjalan keluar.
Aku melihat lapak-lapak dan toko. Terkadang aku bertukar sapa ringan dengan player kenalanku saat menuju ke luar kota.
Penggunaan aksesoris Fairy Possession telah menjadi topik utama percakapan antar player.
"Haa, tapi aku sendiri tidak bisa memutuskannya."
Aku menghela napas berat. Ryui dan Zakuro juga melakukan hal yang sama, menghela napas berat.
Sama seperti yang Sei-nee katakan, aku memiliki sesuatu seperti Elixir Syndrome[1], membuatku merasa sayang untuk digunakan. Karena itulah aku belum memutuskannya.
"Yah, aku juga tidak sedang terburu-buru. Aku bisa membiarkannya sebagai item untuk saat- saat darurat."
Aku bergumam sendiri, tapi masih tidak jelas apakah aku sendiri puas dengan pilihan ini.
"Kurasa aku orangnya tidak tegas." (TL: Emang -_-)
Sambil berkata begitu, aku terus mengumpulkan herba dari tanah satu demi satu.
Dengan santai, aku berjalan tanpa banyak berpikir di bawah langit biru. Sebelum aku menyadarinya, aku telah tiba di hutan sebelah timur.
"Ah, jadi aku pergi sejauh ini. Baiklah kalau begitu, ayo istirahat di suatu tempat dekat sini."
Aku berhenti di safety area hutan timur, mengeluarkan teh hangat dari dalam inventory dan duduk dengan menggunakan pohon tumbang sebagai kursi. Aku memberikan Ryui dan Zakuro beberapa timun dingin yang kubeli di lapak saat di tengah perjalanan ke sini. Mereka mengunyahnya dengan suara garing yang terdengar keras. Itu hanyalah mentimun dingin tapi segar sehingga sangat enak. Mereka berdua memakannya  satu dan meminta lebih.
"Ya, ya. Ini dia…hei, ada yang datang."
Aku mengangkat timun yang kukeluarkan dan menunggu keberadaan yang kurasakan dari balik rerumputan tinggi.
Keberadaan itu tidaklah berbahaya, tapi karena cukup kecil, mungkin saja itu adalah Grey Rat. Sementara aku tetap waspada, sesuatu yang kecil dan bergaris-garis muncul keluar.
"Buuh."
"Oh, si anak babi! Sehat-sehat saja?"
Si young beast Big Boar berlari ke arahku terlihat bersemangat seperti biasanya seperti saat pertama kali kami bertemu.
Hidung si anak babi tertuju ke arah timun dingin. Saat aku menawarkan satu padanya, dia mulai mengunyahnya tanpa ragu.
"Ahaha, entah kenapa monster-monster di sekitarku biasanya tertarik karena makanan."
Akhir-akhir ini, di Rawa-Rawa di area selatan, monster bola api Wisps, segera mendekat begitu melihatku mengambil herba. Aku penasaran apa yang terjadi, sepertinya monster-monster bertingkah terlalu akrab denganku.
"Buu."
"Apa? Kau sudah selesai makan?"
Saat aku mengelus rambut si babi kecil yang sedikit kaku, aku menyadari pandangannya ke mana-mana seakan-akan sedang mencari sesuatu.
"…seperti yang kuduga, mencari si Peri Nakal, ya."
Sama seperti Ryui dan Zakuro, si anak babi mencari-cari si Peri Nakal yang tadinya terbang di atas bahuku.
Dan, mungkin karena mencium baunya, dia menekankan hidungnya ke tangan kananku, kebigungan.
"Kali ini, si Peri Nakal tidak ada di sini. Maaf."
Aku tak tahu apakah si anak babi yakin dengan perkataanku. Dia berlari ke rerumputan terdekat dan menggali sesuatu dengan kepalanya.
Aku memperhatikannya untuk beberapa lama, kemudian si anak babi kembali dengan sesuatu di mulutnya.
"Ini adalah…sebuah fosil, ya. Yup, terima kasih. Aku akan menerimanya."
Si anak babi memberikan kepadaku fosil yang tidak teridentifikasi dan dengan senangnya kembali ke hutan.
Sepertinya sesuatu yang mirip akan terhadi di saat berikutnya aku datang ke sini. Aku tersenyum getir, meminum tehku dan berdiri.
"Ryui, Zakuro. Waktu istirahat sudah selesai. Ayo pergi ke tempat berikutnya!"
Bertemu kembali dengan si anak babi, aku pun jadi merasa riang. Tapi saat aku kembali berjalan, aku merasakan sesuatu yang hilang.
"Aku harus cepat-cepat dan memutuskan bagaimana caraku menggunakan Fairy Possession"
Meskipun aku bergumam demikian sambil termenung, kesempatan untuk hal tersebut mungkin saja masih jauh di masa yang akan datang, pikirku. Tapi tak disangka-sangka, kesempatan tersebut datang tidak lama lagi.
·
Itu terjadi dengan begitu mendadak saat kami berjalan-jalan tanpa tujuan jelas.
Sebentuk kabut ungu pekat melayang di sekeliling dan jarak pandang menjadi sangat terbatas.
Dan, udara dingin muncul dari kedalaman hutan, membuatku merinding.
Di saat yang sama, aku dikejutkan oleh perubahan ruang mendadak di sekelilngku, semua suara menghilang.
Suara kicau burung, aku bahkan tidak dapat mendengar suara langkah kakiku.
Bahkan dengan kombinasi Sky Eyes dan See Through-ku pun aku tidak bisa menemukan satu keberadaan di sekitarku.
"Apa ini? Semuanya menghilang."
Menghilang…tidak, justru kebalikannya. Aku terbangun di sebuah ruang kosong.
Ryui dan Zakuro yang tadinya berjalan bersama denganku kini telah berkerumun mendekat. Ryui bersiaga penuh, meremangkan surainya. Di sisi lain, Zakuro menurunkan ekor-ekornya, ketakutan.
"Aku tidak bisa menghadapkan kalian pada bahaya. Kembalilah —— Dismissal"
Menggunakan skillDismissal, aku mengembalikan mereka kembali menjadi batu.
Sendirian, aku mengawasi ruang yang dipenuhi dengan kabut ungu pekat.
"…sesuatu di sini."
Sense See-Through memberi tanda sesuatu dari satu titik di sekitar dan aku berbalik ke arah tersebut.
"Apakah itu musuh?"
Apa yang muncul adalah satu sosok yang mengenakan masker wabah[2] dan topi bertepi lebar. Terdapat bulu-bulu burung gagak yang menempel pada jubah hitam kelam yang dia kenakan.
Ilustrasi masker wabah
Nama yang muncul melayang di atas kepalanya adalah Death – Grim Reaper
"Jadi inilah boss monster wandering yang ditambahkan dalam update, ya."
Aku sama sekali tidak ada niatan untuk melawannya sendirian. Aku menghadapinya dengan niat untuk kabur.
"Kakakaka"
Si Grim Reaper mengeluarkan suara yang mirip dengan kaokan burung gagak dan mempersempit jarak di antara kami dalam waktu singkat.
"?‼"
Aku melompat ke samping menghindari ayunan santai lengannya yang bahkan tidak kulihat.
"Woah. Benar-benar serangan dengan kecepatan tingkat tinggi."
Senjata si Grim Reaper adalah sebuah sabit yang mengingatkan pada kematian. Di tangan kanannya terdapat sebuah sabit yang terhubung dengan lusinan rantai yang menggelantung dari lengan baju Reaper. Di tangan kirinya, terdapat sebilah sabit yang begitu panjang  sampai setengah terbenam di tanah. Reaper tersebut dengan santainya mengayunkan senjata itu hanya dengan satu tangan.
Dan di belakangnya, sebilah sabit yang terlipat dapat terlihat di punggung Reaper.
Serangan pertama muncul dari belakang. Sabit dari tangan kirinya diayunkan padaku. Sekalipun aku melihatnya dengan Sky Eyes, akan telambat untuk menghindarinya.
"…dia tidak begitu menyeramkan."
Hanya keberadaannya saja yang tidak biasa dan tidak ada rasa tertekan seperti yang kau dapatkan saat berhadapan dengan sesosok monster besar. Yang ada, bisa dibilang keberadaannya itu lemah.
Begitu aku berpikir demikian——
"?‼"
Sekali lagi dia mempersempit jarak dalam sekejap dan dengan santai mengayunkan sabit besar dengan satu tangannya. Kali ini, aku menghindarinya dengan mencondongkan tubuhku ke belakang, tapi rambutku tertebas dan menari di udara.
"Me-menakutkaaaaaannnn‼"
Monster ini ternyata benar-benar menakutkan.
Karena keberadaannya lemah, sulit untuk membaca gerak awal sebelum dia bergerak. Sebelum aku menyadarinya, dia sudah berada di depanku.
Kemampuan bergerak dalam sekejap ditambah dengan hawa keberadaan yang lemah membuatnya terlihat seakan dia tiba-tiba muncul di depanku.
Aku melakukan semua yang kubisa untuk meloloskan diri dari si Grim Reaper.
"Enchant ——Defence, Speed!"
Aku memasangkan pada diriku sendiri dua enchant pada pertahanan dan kecepatan lalu mulai berlari ke belakang Reaper.
Tanpa tahu bagaimana caranya keluar dari hutan yang ditutupi kabut ungu, aku terus saja berlari.
Kalau aku tertangkap oleh Grim Reaper, aku kalah. Karena itulah, aku harus mencoba melarikan diri bagaimanapun caranya.
"Dia——"
Saat aku melihat ke belakangku untuk sekejap, si Grim Reaper dengan lambannya berbalik ke arahku. Dia hanya menghadap menatapku tanpa bergerak seinci pun. Kalau seperti ini, mungkin aku akan bisa meloloskan diri. Harapan kecil yang kutemukan itu langsung pecah berkeping-keping.
"——Tidak mungkin."
Kecepatan bergerak dalam sekejap dan kekuatannya tinggi, tapi pergerakan selain itu lambat, itulah yang kuduga. Menanggapi pergerakan linear Reaper, aku berniat lari dalam pola zig-zag. Tapi pemikiranku itu naïf.
"Aku tidak mengira dia bisa menggunakan sabit berantai tersebut dengan cara begitu!"
Sabit yang menggantung pada rantai dari lengan baju kanannya berayun dan dengan suara bergemerincing nyaring menancap pada sebatang pohon yang tumbuh di hutan. Kemudian, menelan kembali rantai tersebut masuk ke dalam pakaiannya, Reaper memperpendek jarak di antara kami dalam sekejap.
"Kakaka".
"?‼ Sial—— Bomb!"
Aku menggunakan sihir paling dasar pada Grim Reaper yang berdiri secara horizontal pada batang kayu dengan menopang tubuhnya pada kusarigama yang menancap di situ. Aku tahu itu tidak akan melukainya, tapi aku bertujuan untuk membuat Reaper sedikit pusing.
Ilustrasi Kusarigama
Meskipun aku tahu itu sudah jelas tindakan yang sia-sia, aku tetap menembakkan sihir untuk mengalihkan rasa takutku karena dikejar-kejar dan terus berlari.
Saat awan debu akibat ledakan menghilang, Grim Reaper berdiri di situ seakan tidak ada apapun yang terjadi, memiringkan kepalanya.
Kalau begini terus, aku akan tertangkap. Berpikir demikian, aku semakin mempercepat langkah dan bergegas.
Dari waktu ke waktu aku mencoba menahannya dengan Bomb atau Clay Shield dengan rasa tidak sabar, tapi itu semua sia-sia. Grim Reaper menerima semuanya itu secara langsung dan menebas melewatinya dengan sabit.
"Haa, haa, haa——"
Hal tersebut berlangsung tanpa henti dan di pertengahan jalan aku tidak lagi melihat sosok Reaper.
"Di mana dia…"
Aku menyandarkan punggungku pada sebatang pohon dan memeriksa sekitarku.
Untuk menenangkan napasku yang tersengal-sengal, aku menarik napas dalam-dalam dari waktu ke waktu, perlahan memperlambatnya.
Meskipun sekitarku masih ditutupi kabut pekat, sebuah pikiran penuh harap melintas di benakku.
"Tidak mungkin… apakah aku lolo——?‼"
Apakah aku lolos dari dia. Penilaian tersebut langsung dikhianati.
Kusarigama yang melompat dari dalam tanah mengikat punggungku ke pohon tempatku bersandar.
"Sial! Dia menangkapku?!"
Rantainya membelitku beberapa kali dan sabitnya tertancap begitu dalam ke batang pohon, menahanku.
Karena aku merasa santai untuk sejenak, aku telah tertangkap.
Aku menggeliat dan mencoba untuk melepaskan diri dari rantai, tapi benda tersebut sedikit menggigit tubuhku dan satu-satunya efek adalah suara nyaring logam yang saling bergesekkan.
Tidak adakah sesuatu yang bisa digunakan? Pandanganku beredar dan kemudian aku memperhatikan rantai yang memanjang dari tanah.
*sraak* *sraak*
Aku dapat mendengar suara lambat langkah kaki yang menginjak dedaunan kering. Perlahan sosok Grim Reaper muncul di dalam kabut ungu.
"Lepas, lepas, lepas!"
Aku mencoba melepaskan rantai itu secara paksa, memutar tubuhku mencoba untuk menyelip keluar, tapi aku masih terbelit. Sementara itu, si Reaper perlahan bergerak mendekatiku mengikuti rantai.
Apa ada cara lain——aku mati-matian mengingat kembali daftar item yang kupunya dan memikirkan sebuah metode untuk keluar dari tempat ini.
Untuk sementara waktu, aku menggunakan sihir elemen tanah seperti Clay Shield dan Mud Pool untuk memperlabambatnya, tapi Clay Shield dibelah begitu saja dan dia dengan tenang berjalan melewati Mud Pool.
"Apa yang harus kulakukan, apa yang harus kulakukan, apa——"
Menatap tanganku yang tertahan, aku terpikir sebuah cara.
Kalau aku menggunakan efek Fairy Possessed Ring, aku mungkin saja dapat mengalahkan atau menghadapi Grim Reaper, atau melarikan diri. Tapi sebelum aku melaksanakan ide tersebut, sebuah bayangan hitam berdiri di depanku dan pikiranku terhenti.
Kematian berdiri di hadapanku, menatapku dari atas dengan matanya yang ada di balik topeng yang meniru burung itu.
"Gaw——"
Sebuah sabit terayun begitu saja menebas tubuhku secara diagonal dari bahu. Aku belum mempersiapkan diri secara mental karena serangan tersebut merampas seluruh HP-ku saat itu juga. Jangkauan penglihatanku meredup dan sebuah pesan yang terpampang berbeda dari yang biasanya.

*Dikarenakan kau kalah oleh monster spesial, maka Penalti Kematianmu akan menjadi berbeda dari yang normal.
Penalti monster Grim Reaper memperpanjang jangka waktu penurunan status menjadi 72 Jam.

Tepat, penalti kematian ini bukan main-main. Penalti kematian normal hanya berlangsung satu jam. Jangka waktu tiga hari ini sangat tidak masuk akal.
Aku ingin menghindari menerima penalti kematian sepanjang tiga hari karena dikalahkan oleh musuh yang muncul entah dari mana.
Tanpa keraguan sedikit pun, aku menekan tombol "YES"saat mendapat pilihan penggunaan Obat Kebangkitan.
Kuharap situasi mimpi buruk ini selesai saat aku bangun. Aku berharap demikian dan saat aku membangkitkan diriku sendiri, aku melihat Grim Reaper yang sudah mengambil kembali kusarigamanya dan membalikkan badan.
"Jadi masih belum selesai. Artinya aku hanya bisa melarikan diri."
Merespon kebangkitanku, Reaper memiringkan kepalanya dengan tajam. Tapi berikutnya, dia mungkin akan datang memburuku dengan sabitnya, seakan berkata, "Yah, baiklah. Aku harus menebasnya lagi."
Aku mulai berlari mati-matian dan di perjalanan, aku menenggak High Potion.
"Haa, haa… benar-benar sial."
Aku berpikir bahwa bertemu dengan monster yang sudah pasti mengirimmu kembali setelah mati adalah sebuah kesialan dan melarikan diri dengan mati-matian.
Karena enchant-nya sudah dibatalkan saat aku mati dan bangkit kembali, aku memasang kembali enchant tersebut pada diriku.
Meskipun Grim Reaper mengikutiku dengan pergerakan kecepatan tingginya menggunakan kusarigama, kali ini aku tidak membiarkan dia lepas dari penglihatanku.
Demi menghindarinya, aku tidak menggunakan busur ataupun pisau dapur dan terus melarikan diri sambil mengawasi setiap serangan musuh dan bergerak.
Tetap saja, musuhku itu kuat. Sekalipun aku memperpanjang waktu untuk berpikir selama penyerangan menggunakan Sky Eyes, aku menerima serangan yang tidak bisa kuhindari. Setiap kali, aku bangkit setelah mati dan terus melarikan diri.
Saat aku bergerak tanpa henti untuk melarikan diri, kabut ungu yang menutupi hutan perlahan menipis dan kupikir aku sepertinya dapat meloloskan diri kalau seperti ini.
"——Ada cahaya."
Ada pintu keluar dari hutan. Aku melihat sebuah tempat di mana kabutnya lebih tipis. Kalau aku meloloskan diri lewat sana, permainan kejar-kejaran sinting ini akan berakhir. Saat aku berpikir demikian, aku merasa santai untuk sesaat, yang secara langsung berhubungan dengan kematianku.
"Lagi, ya…"
Aku melihat sabit yang terayun dan tubuhku terjatuh lagi.
Tanpa keraguan, aku memilih "YES" pada menu yang muncul. Dengan begini, aku tidak lagi punya Obat Kebangkitan.
"Akan kupertaruhkan semuanya pada ini! —— Bomb!"
Aku menyebarkan sejumlah besar Bomb's Magic Gem dan memicu mereka, kemudian bergegas menuju pintu keluar saat itu juga. Kalau dia merasa pusing karena sihirku dan tertinggal, ini akan menjadi kemenanganku.
Saat aku berpikir demikian, aku mengambil satu langkah dan tergelincir, terjatuh ke tanah.
"Sial! Kenapa?! Apa ini…"
Aku menyadari saat mencoba berdiri. Kusarigama melilit kakiku. Di sisi lain, terdapat Reaper yang tetap utuh meskipun terkena ledakan begitu banyaknya.
Saat dia menarik tangannya, rantainya terikat kembali dan aku terjatuh ke tanah lagi.
"Agh, aku sudah sejauh ini tapi…"
Aku menggunakan Obat Kebangkitanku yang berharga untuk melarikan diri, namun aku tidak bisa meloloskan diri pada akhirnya… Aku menjulurkan tanganku ke luar, ingin mendekat meskipun sedikit, tapi aku kalah terhadap tenaga yang menarik rantai itu dan menyeretku kembali ke tanah.
Ayo gunakan cincin Fairy Possessed di jari tangan kananku, pikirku. Tapi sekali lagi ide itu tertahan.
Sementara aku berlutut, Grim Reaper meletakkan sabitnya di leherku. Melihat cahaya kusam bilah sabit itu, aku merasakan kengerian.
Aku merasa seperti seorang pendosa yang menunggu proses eksekusi.
Terikat seperti ini, kesedihan dan rasa kesepian berkobar dalam dadaku.
Kemudian, kesedihan dan kesepian itu terikat pada cincin Fairy Possessed yang memantul di penglihatanku. Sebuah pikiran aneh melintas di benakku.
——Aku penasaran, apakah rasanya kesepian di dalam cincin itu?
Begitu aku memikirkan pertanyaan itu, rasa takutku terhadap Reaper menghilang sepenuhnya.
Tidak merasa takut sedikit pun saat sabit tersebut mendekat, aku hanya berpikir untuk menerimanya saja. Pada akhirnya, apa yang membuatku kecewa hanyalah bahwa aku tidak dapat melakukan apapun tentang si Reaper.
Kemudian, sabit tersebut menebas kepalaku dan kesadaranku jatuh dalam kegelapan sepenuhnya.



[1] Dari yang bisa kutangkap, sepertinya ungkapan ini maksudnya "punya barang berharga tapi nggak tega pake karena terlalu sayang"
[2] Topeng berbentuk kepala burung gagak yang dulu biasa dipakai oleh para dokter Wabah Hitam (Black Death) [https://id.wikipedia.org/wiki/Maut_Hitam

Only Sense Online Jilid 6 Bab 6 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.