Minggu, 11 November 2018

Goblin Slayer Jilid 4 Bab 1 LN Bahasa Indonesia



AKAN SEORANG ROOKIE WARRIOR DAN APPRENTICE PRIESTESS
(Translater : Zerard)

Pedang murahan memotong daging dengan fwwsh, dan seekor tikus raksasa, gemuk dan bulat, datang melompat menuju mereka.
“Eeyikes!”
Giginya yang lebar, tajam, dan kotor, napasnya yang tengik mengundang gambaran akan kematian mereka.
Terkepung, dia mengambil langkah mundur, menghantam makhluk itu dengan perisainya yang telah sering di gunakan.
“GYURI?!”
Tikus itu terjatuh dengan teriakan, namun dengan cepat kembali berdiri kembali. Tidak terluka.
Rookie Warrior  mengibas lengan kirinya, yang telah menjadi mati rasa dari benturan itu, dan berusaha menstabilkan pijakannya.
“Ayolah, kenapa kamu nggak pukul lagi?”
“Lenganku sakit semua!”
Di belakangnya, Apprentice Priestess meneriakinya dengan lengkingan suara sengau. Dia memegang gabungan antara pedang dan timbangan dalam satu tangan dan sebuah lentera pada tangan satunya seraya mengernyit.
Saluran air ini penuh akan aroma membusuk yang dapat mengancam isi perutnya keluar. Bahkan menutup hidungnya-pun tidak dapat membantu.
Pijakan yang licin, aliran limbah mengalir di dekatnya. Tikus raksasa dengan gigitan yang lebih berbahaya dari sekedar rasa sakit biasa. Hama yang berkeliaran di mana-mana.
Semua ini tidak ada beda dengan yang biasanya. Namun ini tetap saja membuat Rookie Warrior ingin menangis.
Mereka bilang, Satu hari di sini, satu keping emas di kantongmu.
Itu jika mereka dapat mencapai kuota mereka. Dan itu merupakan sumber penghasilan penting untuk kehidupan.
Tapi tetap saja, bukankah petualang paling tidak berhadapan dengan goblin atau sesuatu...?
“Awas, bego, dia datang!”
“—?!”
Teriakan temannya kembali menyadarkannya, dan dia memberikan tusukan hebat dengan pedangnya, tanpa melihat kemana dia mengarahkannya.
“GYAAARU?!?!”
Dia menusuk bulu dan daging dan jantung, sensasi itu sangat tidak menyenangkan.
Sensasi itu di iringi oleh cipratan cairan hangat yang terciprat pada wajah bocah itu.
Dia bertumpu pada gumpalan daging yang menggeliat dan berteriak.
“Hr-hrrk...?!”
Ketika dia mengoyak tikus itu dengan pedangnya, tikus itu mati, namun masih kejang-kejang di lantai.
Genangan darah hitam di kakinya tersebar di sekitaran lantai, membasahi sepatunya.
“Hey, kamu nggak apa-apa? Dia nggak gigit kamu?”
“Ye-yeah, aku baik-baik saja.”
“................Oke.”
Apprientice Priestess berusaha untuk bersikap tidak peduli, namun walaupun begitu, dia dengan terburu-buru berusaha datang ke sisi Rookie Warrior. Tidak mempedulikan akan jubah putihnya, dia mengelap darah pada pipi bocah itu, dan darah itu mengotori jarinya.
“Nggak ada yang masuk ke mata kan? Kalau mulutmu gimana?”
“Ugh. Sedikit.”
“Astaga. Apa sih yang kamu lakukan?”
Dengan gumam lelah, gadis itu mengambil antiracun dari tas yang dia bawa.
Rookie Warrior meludahkan darah itu dan mengelap mulut dengan air minum. Dia meneguk antiracun pahit itu dengan rasa syukur.
Mereka berdua masih tingkat Porcelain. Bagi mereka, keajaiban Cure, yang dapat menyembuhkan racun, masihlah sebuah mimpi layaknya armor full plate dan sepasang baju besi.
Tapi tetap saja, Sebagai mantan monster yang sekarang menjadi tidak lebih dari sekedar gumpalan daging yang tergeletak di lantai--makhluk ini tidak boleh di remehkan.
Tikus ini sebelumnya telah disibukkan oleh sesuatu: sebuah mayat terbungkus kain. Sosok tak bermata dan tulang pipi yang telah hancur yang terlihat seperti seorang gelandangan Namun, di sekitar tenggorokknnya yang telah tercabik bergantung sebuah kalung peringkat.
Apprentice Priestess mengambil kalung Porcelain berwarna itu, membungkusnya dengan lembut menggunakan sapu tangan, dan memasukkannya ke dalam tas.
Gadis malang itu—mereka tahu bahwa itu gadis, karena berdasarkan kalung itu—tidak menggunakan armor apapun. Dia telah berpergian ke dalam saluran air tanpa menggunakan apapun selain bajunya dan sebuah stik, dan kemungkinan para tikus memakannya.
“...Ugh,” Rookie Warrior berkata. “Mereka kembali.”
“Jangan nggak senang begitu. Ini pekerjaan kita kan?”
Mungkin dikarenakan kematian familinya yang telah mengundang mereka, atau mungkin hanya karena aroma darah yang terciprat, tikus lainnya muncul dari kedalaman saluran air.
Makhluk itu lebih besar dari seekor bayi, dan bayangannya berdansa di dalam cahaya lentera.
“Kita butuh telinganya sebagai bukti kita membunuhnya,” kata Apprentice Priestess. “Cepat potong sebelum tikus itu memakannya!”
“Telinganya? Aku?”
“Lakukan saja!”
“Coba kamu kasihan sedikit sama aku....”
Walaupun dengan gumamnya, bocah itu memegang gagang pedangnya yang masih tersangkut pada bangkai tikus, dan menariknya.
“....Huh?”
Tidak bisa tertarik.
Tidak peduli seberapa keras dia menarik, pedang itu tertanam dalam di dalam daging, dan menolak untuk di tarik.
Dia menahan dirinya pada mayat untuk menarik pedangnya—yang sekarang telah menjadi lembek setelah serangan gencar sebelumnya—namun tidak berhasil.
Dan seraya dia berdiri mencoba dengan sekuat tenaga, satu dari tikus yang hidup, matanya bersinar dengan terang, semakin mendekat.
Si-sial—!” dia terkesiap. “ Tun-tunggu sebentar....!”
“Dia datang! Lakukan sesuatu bego, dia semakin mendekat!”
“E-eeyikes!”
Dengan gerakan cepat:
Rookie warrior berguling kebelakang untuk menghindari rahang tikus, mendarat pada tumpukkan sampah. Makanan yang membusuk, atau apapun itu dulunya, melumuri dirinya, namun itu lebih baik di banding tergigit dan beresiko terkena infeksi. Sebuah serangan kritikal dari gigi itu, dan tenggorokannya dapat tercabik.
“GUUURURURURRUUUUU....!”
Tikus raksasa menggeram, mengayunkan ekornya ke kanan dan kiri, mengancam Rookie Warrior. Tikus itu kemungkinan melihat bocah tak bersenjata dan gadis kecil yang berdiri di belakangnya hanya sebagai sebuah makanan. Tikus itu melihat mereka seraya liur menetes dari mulutnya, gambaran akan makhluk kelaparan. Tikus itu tentunya tidak memiliki niatan untuk membiarkan mangsanya melarikan diri.
Tentu saja, jika mereka lari, para petualang tidak akan bisa mendapatkan makanan, juga—walaupun dengan alasan yang berbeda.
“Ahhh, sialan!” Apprentice Priestess menjentikkan lidahnya.
Tikus raksasa... tikus raksasa menyebarkan penyakit dan jorok dan sedang menyerang kita sekarang, dan mereka adalah musuh ketertiban—musuh ketertiban!
Dia seperti sedang mengingatkan dirinya sendiri akan semua ini seraya mengangkat pedang dan timbangannya tinggi dan cahaya mulai terpencar dari senjatanya. Benda itu berubah menjadi pedang halilintar.
“Dewa pengadilan, pangeran pedang, pembawa timbangan, tunjukkanlah kekuatanmu di sini!”
Dan kemudian Holy Smite, yang telah dia mohon dari para dewa, menembus tikus dengan mata pedangnya.
Menyebabkan sebuah asap dan aroma daging terbakar, tikus raksasa terlempar ke udara sebelum terpantul dan berguling di lantai, mati.
Bocah itu mengerucutkan bibirnya dengan suara tidak senang seraya gadis itu menghela napas lega.
Enak betul kamu. Para dewa membuat semuanya menjadi mudah ya?”
“Oh, sudahlah. Kamu tahu aku cuma bisa menggunakannya sekali sehari.” Apprentice Priestess melotot pada Rookie Warrior karena perkataan tidak sopannya. “Ngomong-ngomong, kita harus cepat dan mengambil pedangmu. Aku mau mengumpulkan telinga itu dan pergi pulang dan mandi.”
“Ya, ya.”
Rookie Warrior mendekati bangkai tikus pertamanya dengan ragu, dan kali ini mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencabut pedang.
Kemudian...
Scccrapee.
“....”
“.....”
Adalah suara yang mereka tidak sukai. Kedua petualang itu bertukar pandang ketika mendengar suara tak di duga itu, kaku dengan rasa takut.
Scrr...
Scrape.
Scrrrrpee...
Scrape.
Suara itu berasa dari dalamnya kegelapan.
Merinding. Apprentice Priestess mengangkat lenteranya,
Sesuatu akan hitam dan berkelip redup timbul sebagai sebuah serangga besar. Serangga itu bercahaya seperti terlumasi dengan minyak. Satu, dua....kemudian banyak, dan lebih banyak lagi. Bahkan dengan perhitungan cepat, sangatlah jelas bahwa mereka berjumlah lebih dari sepuluh.
Sementara menjulurkan antena tipis dan panjang, makhluk itu mendekat secara perlahan.
Mereka mendatangi para petualangan, rahang terbuka lebar.
“Oh—“
Suara Apprentice Priestess tersangkut di tenggorokannya, sebelum—
“Tiiiiiiiidddddaaaaaakkkkkk!”
“Bego! Jangan teriak, lari!”
Pasangan itu mengambil apa yang mereka bisa dan berlari dalam saluran air dengan panik.
Suara gesekan mengerikan memberitahu mereka bahwa serangga hitam itu masih berada di belakang mereka.
Seberapa jauh tadi jalan keluarnya?
Rookie Warrior bertobat: dia tidak akan meminta naga. Mungkin paling tidak seekor goblin—walaupun mereka dapat membuat hidupmu berakhir dengan mengenaskan. Tapi di bandingkan itu semua, mati dengan di makan hidup-hidup oleh kecoa adalah kematian yang paling dia tidak inginkan.
*****
Arunika musim semi sangat hangat, seakan menyambut kedatangan musim panas.
“Hrg...ggrrhh...”
Rookie Warrior terbangun di karenakan cahaya yang menembus matanya, meregangkan tubuhnya di atas jerami untuk melonggarkan badannya yang kaku.
Dia mengambil napas dalam dan menghembuskannya, campuran akan aroma alkohol dan binatang yang tidak mengenakan.
Menyambut hari baru di kandang kuda masihlah lebih baik di banding dengan berada di saluran air.
Tentu saja, Guild Petualang memiliki penginapan, namun itu tidaklah gratis. Memang benar, semua kamar itu adalah kelas “ekonomi”—walaupun ranjangnya hanyalah selimut yang di tebarkan di atas papan kayu.
Ruangan itu tidaklah mewah, namun...
“Aku nggak punya uang sama sekali.”
Dia menghela napas perlahan. Petualangan pada hari sebelumnya merupakan “kerugian” secara finansial baginya.
Satu antiracun, satu pedang, dan—karena mereka tidak dapat memenuhi kuota—tidak ada hadiah.
Dia dapat bertahan hidup hari ini, karena paling tidak dia masih memiliki uang yang telah dia simpan dan tabung di masa lalu. Tapi jika seperti ini terus, tidak akan lama baginya untuk membawa pekerjaan impiannya kembali pulang, atau—jika dia memang benar-benar tidak beruntung—mungkin bahkan menjadi budak prostitusi.
Baru beberapa bulan semenjak Rookie Warrior telah pergi dari desanya untuk menjadi petualang. Alasannya adalah karena Apprentice Priestess, teman lamanya, telah pergi untuk berlatih dan terlihat seperti akan mati jika dia di biarkan begitu saja.
Sebaliknya, dari perspektif gadis itu, adalah dia yang menemani bocah ini untuk “semacam latihan warrior atau sesuatu” agar bocah ini tidak mati di suatu semak-semak.
Bocah merasa bahwa dia perlu meluruskan tentang ini semua kepada gadis itu.
Yah, pernah merasa.
Dalam berbulan-bulan mereka telah datang pada kota perbatasan, mereka hanya membunuh tikus. Dan terkadang kecoa.
Apa ini benar-benar pekerjaan petualang...?
Sangatlah cukup untuk membuat mimpinya layu, mematahkan tekad dan niat.
“Hentikan, hentikan. Sudah cukup berpikiran seperti itu.”
Dia memberikan kepalanya gelengan dan mencabut sehelai jerami yang tersangkut pada bajunya.
Di dekatnya, pria paruh baya, yang juga merupakan petualang, nyenyak dalam tidur lelapnya, menggorok berisik.
Di seberang mereka, para kuda memberikan tatapan jijik pada manusia yang telah mengambil ruang tidur mereka.
Dia tidak melihat Apprentice Priestess di manapun.
Tidak peduli seberapapun kecewanya dia, Rookie Warrior masih memiliki harga diri untuk membiarkannya tidur di atas salah satu ranjang sederhana itu.
“Hoookkkee! Satu lagi hari lainnya!”
Berpura-pura dalam mood yang bagus sudah sama saja dengan benar-benar dalam mood bagus, kan? Dia memberikan teriakan, mengambil barangnya, dan keluar dari kandang kuda.
Melangkah menuju sumur, dia menarik ember dan menyiramkan air ke seluruh tubuhnya. Menggunakan kain pada pinggulnya, dia mulai menggosok dengan keras.
Masih tidak tampak akan adanya kemungkinan tumbuhnya sebuah janggut.
“Nggak lama lagi aku akan mulai terlihat seperti pahlawan....mudahan.”
Atau mungkin janggut hanya akan memberikan alasan bagi Apprentice Priestess untuk mentertawainya. Rookie Warrior mengeluh.
Apapun itu, banyak yang harus di lakukan.
Dengan tugas sederhana untuk membuat dirinya pantas, bocah itu kembali masuk ke dalam kandang kuda. Dia mengambil sekop dari rak peralatan kebun dan pergi ke belakang kandang kuda.
“Hmmm. Aku taruh di mana ya...?”
Dalam keadaan lelah di kala dia kembali malam itu hanya memberikannya ingatan samar akan tempatnya.
Dia mengitari tanah dalam beberapa menit, mencari sesuatu, hingga, dengan sebuah “Ah, di sana.” Dia menemukan bekas tanah galian yang masih baru.
Dia menusukkan sekop ke dalam tanah, menekankan kakinya pada sekop dan menggali selama beberapa saat.
Tidak lama kemudian, dia mengeluarkan perlengkapannya dari dalam tanah—armor dan perisainya.
Dia telah memilikinya tidak lama setelah mencapai kota, menggunakan uang miliknya. Barangnya memang murah, namun tanpa ada tandingan. Ini adalah perlengkapan yang dia yakin dapat di andalkan.
Tentu saja, terdapat alasan mengapa dia mengubur mereka.
“....Erk. bau...hrrm. yah, paling nggak masih lebih mendingan ku rasa.”
Dia mendekatkan wajahnya dan menciumnya.
Berkeliaran di dalam kumpulan limbah saluran air sama sekali tidak menganggunya selama mereka terburu-buru melarikan diri. Permasalahannya adalah ketika mereka kembali ke permukaan, dan dia baru tersadar akan betapa baunya aroma tubuhnya. Tidak hanya orang-orang di jalan, bahkan sesama rekan petualangnya menutup hidung mereka dan mengernyit kepadanya.
Pada akhirnya, mereka telah kembali ke Guild untuk membuat laporan, resepsionis berkata dengan senyuman, “Mohon bersihkan diri anda di belakang.”
Semua terjadi sementara Apprentice Priestess berdiri di sana, muka merah, dan bergetar menatap ke lantai....
Kacau sekali... dia berpikir.
Pada akhirnya, walaupun dia tidak terbiasa, dia mencuci pakaiannya, mengeringkannya, dan membersihkan dirinya sebelum menganti pakaian.
Setelah berpikir tentang apa yang harus di lakukannya pada armor kulit dan perisainya, dia memutuskan untuk menguburkannya di tanah dan berharap agar aromanya dapat menghilang.
Aromanya sedikit berkurang, atau itu yang di harapkannya, dengan itu dia mengelap bersih tanah yang menempel dengan kain dan memakai armornya.
Dia tidak memiliki keberanian untuk membiarkan perlengkapan berharganya bergeletakan begitu saja walaupun dia menyewa ruangan, terlebih lagi jika menginap pada kandang kuda seperti saat ini.
“Erk...”
Perutnya mulai berbunyi, di iringi dengan sensasi sakit.
Rookie Warrior secara reflek meletakkan tangan pada perutnya dan melihat sekeliling dengan panik. Tidak ada siapapun di sana. Tidak ada yang mendengar.
Sekarang setelah dia memikirkannya, dia hanya meminum segelas air pada hari sebelumnya.
Langit begitu biru, arunika pagi begitu benderang.
Rookie Warrior menghela.
“....Aku rasa aku harus cari sesuatu untuk di makan.”
*****
“....Kamu terlambat.”
Apprentice Priestess sudah berada di rumah makan.
Dia berada di sebuah pojok, dan ruangan ini penuh sesak dengan para petualang bahkan di pagi ini seperti ini.
Dia menopang dagu dengan tangannya dan terlihat kesal; Rookie Warrior duduk di meja dengan permohonan maaf singkat.
“Oh,” dia menambahkan, ”Dan selamat pagi. Sarapan?”
“Aku sudah makan,” Apprentice Priestess berkata acuh, kemudian dia bergumam menjawab salamnya. “Pagi. Ngomong-ngomong, buruan cepat makan. Aku mau turun lagi ke bawah siang ini kalau kita bisa.”
Terdapat sebuah piring roti kosong di depan gadis itu. Pada kursi bocah, terdapat kacang, sup sepek, dan roti.
Rookie Warrior membuka mulut kebingungan, menutupnya, kemudian membukanya lagi.
“Maaf.”
“Untuk apa?”
“Ahh...”
Tampaknya apapun yang akan dia katakan, hanya akan membuat gadis itu menjadi marah kembali.
Kita nggak perlu bertengkar di pagi hari seperti ini.
Dia mengambil sendok dan menggiring sup itu menuju mulutnya. Apprentice Priestess memberikan sebuah hmph.
“Dan bajumu. Apa mereka masih tergantung di belakang kandang kuda?”
“Oh, uh, yeah.” Rookie Warrior mengangguk. Dia menggigit roti keras dan menelan. “Bajunya masih belum kering.”
“Oke, berikan padaku nanti. Bau itu nggak akan hilang kalau ikutin cara kamu cuci. Biar aku saja yang cucikan.”
“Oh, uh...maaf.”
“Aku nggak mau jadi ikut bau karena berdekatan denganmu.” Dan kemudian gadis itu memalingkan kepalanya.
Kegagalan perjalanan mereka kembali adalah sepenuhnya salah Rookie Warrior. “Maaf,” dia bergumam, berfokus pada makanannya.
Dia merobek bagian roti dan mencelupkannya ke dalam sup. Ketika menjadi basah, dia menyendok beberapa sepek dan memakan semuanya bersamaan. Sup itu sangat encer dan hanya berasa garam. Dia memakannya tanpa sepatah kata.
Jika seorang pria yang seharusnya menjadi perisai sangat kelaparan hingga membuatnya tidak dapat bergerak, apa yang akan party kecil mereka lakukan? Ini adalah salah satu dari pekerjaannya.
Semua telah habis, dia meletakkan sendok pada piring yang sekarang kosong dan mengangguk.
“Oke. Senjata.”
“Sayang banget meninggalkan pedang itu di bawah sana.”
“Tunggu, dengar,” dia berkata, menuangkan air dari botol di atas meja menuju gelasnya. “Aku butuh senjata kalau kita mau kembali lagi dan mencarinya.”
“Dan apa kamu punya uang?”
“Soal itu....”
Dia menelan airnya. Apprentice Priestess menggapai botol air bersamaan dengan bocah itu, karena itu bocah itu menuangkan air pada gelas Apprentice Priestess.
“Terima kasih.” Dia berkata, menggunakan kedua tangan pada gelas dan membawanya ke bibir. “Kamu nggak punya sedikitpun kan? Uang, maksudku.”
“Mungkin aku bisa pinjam....”
“Hentikan. Jangan berhutang.”
Bukan. Maksudku meminjam perlengkapan atau sesuatu.”
Meminjam senjata. Dia memikirkan beberapa dari kenalannya, berharap jika salah satu dari mereka bersedia meminjamkan sesuatu.
Akan mudah baginya untuk membeli sebuah belati, namun itu tidak begitu membuatnya percaya diri.
Dan untuk meminjam sesuatu seperti pedang panjang—layaknya yang dia hilangkan dengan sebuah ayunan—akan menjadi sebuah hutang baginya.
Kepercayaan adalah sesuatu yang tidak mudah di dapatkan.
Dia baru saja akan menghela lemas pada ketika....
“Hm, ada apa, bocah? Pagi-pagi sudah bermuka masam begitu.”
Komentar ringan itu terdengar dari atas kepalanya.
Kepalanya mendengak. Dia melihat seorang petualang membawa sebuah tombak yang berkelip dalam cahaya.
Kalung yang bergantung di sekitar lehernya adalah Silver—tingkat ketiga.
“Oh, uh, yah....”
“Aku punya kencan, yang artinya aku akan berpetualang, jadi aku nggak punya waktu lama. Tapi aku akan mendengarkan selagi aku bisa.”
Rookie Warrior tiba-tiba mendapati dirinya tidak bisa berkata apa-apa. Spearman yang di kenal sebagai “Pria perbatasan terkuat,” memberikan senyuman bersahabat kepadanya.
Warrior muda menelan liur. Di sampingnya, Apprentice Priestess menyikut dirinya. Bocah itu mengangguk memahami.
“Uh, sebenarnya, Aku...Aku kehilangan senjataku pada petualangan kami kemarin.”
“Oh yeah?” Secara reflek Spearman mengernyit. ”itu sulit sekali.” Dia berkata, suaranya terdengar penuh dengan rasa kasihan.
“Aku ingin mengambilnya kembali, tapi aku nggak punya senjata, jadi...Aku berpikir apa ada kemungkinan seseorang akan meminjamkan senjata padaku...”
“Cadangan yang bisa kamu pinjam, huh? ...Aku punya beberapa, jadi aku bisa meminjamkanmu, tapi...” Spearman memperhatikan Rookie Warrior dari kepala hingga kaki, kemudian menyimpulkan: “Aku nggak yakin kamu punya kekuatan untuk mengayunkannya.”
“Erk...”
Suara akan rasa malu terlepas dari mulutnya.
Rookie Warrior sangat kurus dan fleksibel, tapi jika berhubungan dengan otot, dia bukanlah tandingan Spearman.
Mereka memiliki tipe tubuh yang berbeda. Tentu saja mereka akan menggunakan senjata dengan berat yang berbeda.
“Dan kalau kamu kehilangan ini juga, aku yakin kamu nggak bisa menggantinya.”
“Benar, kan?” Bahkan Spearman-pun tidak dapat memalak uang dari petualang junior.
Seorang wanita cantik muncul pada sisi Spearman, senyap layaknya bayangan, hanya gumamnya yang terdengar.
Dia adalah Witch yang menggunakan pakaian yang menunjukkan figurnya yang montok nan aduhai. Apprentice Priestess mendapati wajahnya memerah, dan mengalihkan pandangannya.
“Dan, senjata, sihir, tentunya, tidak, akan, cocok, denganmu, kan?”
Meminjam senjata sihir?!
Mata Rookie Warrior melotot seraya Witch berbisik dan tertawa kecil.
Bagi pemula seperti dirinya, armor metal merupakan sebuah impian belaka. Senjata sihir mungkin sama saja dengan barang legenda.
Aku dengar kamu bisa mendapatkannya di reruntuhan atau labirin kalau kamu benar-benar beruntung, dan aku juga sering melihatnya di jual.
Namun senjata itu beberapa angka terlalu mahal baginya untuk di miliki.
“Karena, itu, biarkan, aku, meminjamkan, sesuatu, lain, yang, bagus.”
Witch mengambil sesuatu dari garis lehernya dengan gerakan elegan—sebuah lilin.
Lilin itu tidak tampak seperti putih biasa, melainkan putih kebiruan—yang dimana, setelah di lihat lebih seksama, dikarenakan huruf berwarna yang melapisinya.
Berbagai macam karakter terukir pada lilin dalam sebuah kalimat yang tidak dapat di mengerti Rookie Warrior.
“Itu...” Apprentice Priestess berkedip beberapa kali. “...Sebuah lilin.”
“Ya.”
Witch berkedip dan mengecilkan suaranya seolah sedang menunjukkan sebuah rahasia gelap.
“Ini, adalah, lilin pencari... Ketika, kamu, berada, di dekat, benda, yang, kamu, cari, lilin, ini, akan, menjadi, lebih, hangat. Mengerti?”
Sebuah benda sihir. Rookie Warrior menelan liurnya.
Tidaklah perlu bagi mereka untuk menggunakannya. Jika mereka menjualnya, lilin ini akan menghasilkan uang yang cukup untuk membeli pedang yang bagus....
“Silahkan, di jual—ubah, menjadi, uang.”
Senyumnya terlihat dapat menebak apa yang di pikirkan bocah itu, dan Rookie Warrior mendapati dirinya menatap ke lantai. Apprentice Priestess kembali menyikutnya.
“Oh, um, aku, uh— Ma-makasih. Terima kasih banyak.”
“Jangan, di pikirkan. Sedikit, sesuatu, untuk, menolong.”
Rookie Warrior menerima barang itu dengan ragu seraya Witch mengenakan ekspresi terhibur dan tersenyum.
“Yah, kalau begitu. Kami akan...berkencan dulu.”
“Yep. Jangan, mati, bocah.”
Spearman mengacak rambut Rookie Warrior dan pergi dengan langkah riang.
Witch mengikuti di belakangnya melewati pintu Guild.
Rookie Warrior mengangkat telapak tangan ke depan wajahnya, yang di mana dia masih merasakan genggaman kuat itu.
“....Mereka keren banget.”
“Yeah.” Apprentice Priestess mengeluarkan bisikan. “Mungkin....”
*****
“Uh-uh, nggak mungkin!” Pada lahan berumput di belakang Guild, Bocah Scout sedang duduk dan melambaikan tangannya panik. “Aku baru-baru saja kehilangan belatiku. Yang aku punya sekarang ini pinjaman. Kalau aku pinjamkan, Kapten bakal bunuh aku!”
“Hilang? Kenapa?”
Di lelehkan sama siput raksasa.”
“Apa sih yang kamu lakukan?” Gadis Druid rhea, mengangkat alisnya.
“Siput raksasa, huh? Beruntung kamu....”
Rookie Warrior mengerucutkan bibirnya, menerima sikut dari samping oleh Apprentice Priestess. “Kita tingkat Porcelain, sementara mereka sebuah party Silver. Kita nggak sebanding.”
“Kalian membunuh tikus raksasa, kan?” Bocah Scout bertanya. Rookie Warrior mengernyit dan mengangguk.
“Dan aku kehilangan pedang karena itu.”
“Kamu beruntung setidaknya itu bukan barang langka.”
Bocah Scout melirik pada Heavy Warrior yang sedang mengayunkan pedang besarnya.
Terdengar suara whooosh seraya pedang itu memotong angin, dan kemudian sebuah duk seraya Knight Wanita melompat masuk.
Pedang besarnya membuatnya tidak dapat membawa perisai, namun kemudahan dia menggunakan pedangnya merupakan bukti kekuatan sihir yang telah di berikan padanya.
Serang, tangkis, kena, halau, hantam, serangan atas, pantul, potong.
Senjatanya di buat secara detil, seperti juga armornya. Kilau senjata yang di buat secara seksama tidak dapat di bendung walau dalam cahaya matahari.
“...Andai aku punya seperti itu.”
“Seperti apa?”
“Pedang besar itu,” Rookie Warrior berkata, menopang dagu dengan tangan. “Pedang dua tangan.”
“Lupakan saja.” Apprentice Priestess berkata, matanya melebar. “Biarpun kamu punya, coba pikir apa yang akan terjadi.”
“Yeah, terserah.”
“Apa maksud dia kamu hanya akan mengenai angin?”
“Dia bermaksud kalau kamu nggak akan mengenai apapun.”
Kicauan Bocah Scout dan Gadis Druid membuat Rookie Warrior berputar kesal.
“Tapi kalau aku berhasil mengenai sesuatu, bakal keren banget.”
“Senjata itu berat banget, kamu bakal kecapean duluan.”
“Tapi aku bakal keliatan keren.”
“Dan senjata itu juga nggak murah.” Apprentice Priestess mengayunkan jarinya memarahi Rookie warrior, dan tidak ada yang bocah itu lakukan selain terdiam.
“Kayak dia memakai Silence sama kamu!” Bocah Scout tertawa. “Kamu benar-benar nggak bisa ngelawan!
“Oh,” Gadis Druid berkata dengan sedikit dengusan dan ekspresi tenang, mengepak telinga berbentuk daun miliknya. “Kamu sendiri bakal menghabiskan semua uang kita kalau bukan aku yang pegang dompetnya.”
Bocah Scout mendapati dirinya sendiri di marahi. Dia menjentikkan lidahnya, dan Gadis Druid mengangguk puas. Kemudian Gadis Druid bertanya, “Hey, gimana kalau kamu tanya saran sama Guild?”
“Maksudmu tentang meminjam senjata?”
“Bukan, tentang bagaimana membunuh tikus raksasa. Mungkin mereka punya beberapa tips.”
“Hmmm.” Apprentice Priestess mengeluarkan suara pelan. “Aku penasaran apa bisa semudah itu.”
*****
“Saya rasa tidak akan semudah itu.”
Tentu saja tidak.
Gadis Guild menggeleng kepala perlahan pada Apprentice Priestess, meletakkan tangan pada pipinya dan terlihat kebingungan.
“Sudah kuduga...”
“Kami meminta para petualang untuk melakukannya karena pada dasarnya itu tidak mudah.
“Kalau semua orang bisa melakukannya, maka nggak akan ada pekerjaan, huh...” Rookie Warrior berkara. “Oh, Satu penawar, tolong.”
“Tentu saja, ini dia.”
Apprentice Priestess mengambil botol yang di tawarkan dan menyimpannya dengan hati-hati ke dalam tasnya. Paling tidak pengalaman pahit ketika dia berlari dan tersandung, memecahkan botol itu di dalam tasnya, menjadi pengalaman yang berguna.
“Bagaimana dengan potion penyembuh?” Gadis Guild menambahkan.
“Aku mau sih, tapi...kamu tahulah, uang.... Apa kamu punya perban, atau herba, atau salep?”
“Memang tidak semudah itu ya? Tapi, walaupun begitu...” Gadis Guild mengeluarkan batuk bernada penting. “Mungkin ada sesuatu yang bisa saya anjurkan kepada anda...”
“Yang benar?!” Rookie Warrior berdiri dari kursinya seraya bertumpu pada meja resepsionis.
Tengah hari telah lewat, dan hanya terdapat sedikit petualang yang terlihat pada Guild Petualang.
Kebanyakan dari mereka telah memilih quest yang di inginkan dan dengan antusias pergi untuk berpetualang.
Rookie Warrior dan Apprentice Priestess telah menunggu hingga momen ini untuk meminta pertolongan, dan mereka akan membenci jika harus pulang tanpa sedikitpun petunjuk.
“Apa saja! Apapun itu!”
“Yah, ini sebenarnya merupakan anjuran yang sudah jelas...” Gadis Guild mengangkat telunjuknya, yang menampilkan kuku yang di rawat dengan baik. “Perkuat pertahanan anda. Paling tidak miliki beberapa baju besi, atau sesuatu yang seperti itu, agar tikus dan kecoa raksasa tidak dapat menggigit anda.”
“Tapi kami nggak punya uang....!” Semangat Rookie Warrior sirna, dan kursi berbunyi  seraya dia kembali duduk lemas, suaranya terdengar begitu kecewa.
Gadis Guild memiringkan kepalanya ke samping, menyebabkan kepangnya menggantung.
“Anda bisa mendapatkan diskon kecil jika anda membeli perlengkapan bekas.”
“Bukannya mereka mendapatkan itu dari orang yang sudah mati?” Apprentice Priestess bertanya dengan sedikit dingin, dan Gadis Guild membuat suara Tidak sopan sekali tidak menyenangi.
“Beberapa berasal dari para petualang yang telah pensiun, atau orang yang menukarnya. Kami tidak memiliki apapun yang terkutuk.”
“Tapi kamu memang punya barang dari orang yang mati, kan?”
“Yah, kami... Tidak jika mereka menjadi undead...” Gadis Guild tampak ragu untuk sesaat. Tetapi tidak lama kemudian dia mengenakan senyumnya kembali. “Lagipula, perlengkapan tetap saja perlengkapan, bukan?”
Rookie Warrior menghela.
Dan nggak punya uang tetap saja nggak punya uang.
“Ada saran lain...?”
“Hmm... Oh, apakah anda menggunakan lentera?”
Ya, dari pelengkapan petualang,” Apprentice Priestess berkata dengan lelah. Terdapat tali, lentera, kapur, dan beberapa rantai dalam perlengkapan petualang. Sejauh ini, hanya lentera yang banyak berguna bagi mereka, dan dia terlihat menyesal telah membelinya.
“Terdapat orang yang menggunakan obor di banding sebuah lentera, karena dapat berfungsi juga sebagai senjata.”
Gadis Guild mengatakan dengan senyuman bahwa tikus dan serangga membenci api.
“Petualang macam apa yang menggunakan sesuatu seperti itu?”
“Ya, salah satunya—“
Gadis Guild tiba-tiba berhenti, dan wajahnya terlihat seperti bunga yang mekar.
Rookie Warrior mengikuti pandangannya, menuju pintu masuk Guild.
Pintu bermodel seperti salon terbuka, dan aroma besi yang mengusik hidung mulai menyebar.
Sulit untuk menyalahkan “Ergh” yang keluar dari mulut Rookie Warrior.
Seorang petualang misterius muncul pada pintu masuk.
Dia mengenakan helm yang terlihat murahan dan armor kulit kotor, sebuab perisai bundar terikat pada lengannya, dan sebuah pentungan primitif menggantung pada pinggulnya.
Dia adalah petualang dengan sebutan Goblin Slayer.
“Pa-pak Goblin Slayer, aku sudah bilang, ini kecepatan...”
“Benarkah?”
Seorang priestess dalam jubah putih tercemar noda hitam kemerahan datang mengikutinya.
Jawaban Goblin Slayer singkat. Dia melihat dua orang yang berada pada meja resepsionis, kemudian memulai jalan sigapnya. Dia duduk pada bangku di ruang tunggu dengan gedebuk. Priestess ikut duduk di sampingnya.
Gadis Guild, mengayunkan jarinya ke samping seperti sebuah sinyal, menyipit seolah mengatakan, Apa boleh buat.
“Kamu harus membersihkan diri. Aku sudah sering bilang sama kamu. Orang-orang akan salah paham,” Priestess mengeluh. Kemudian Gadis Guild menyadari ekspresi pada wajah Rookie Warrior dan Apprentice Priestess. “Kalian berdua baik-baik saja?”
“Oh, kami, uh...”
“Um...” Apprentice Priestess menggaruk pipinya canggung. “Kami sudah mengatakan sesuatu yang...agak kasar sebelumnya.”
Dia sedang membicarakan sesuatu dari beberapa bulan yang lalu, namun kejadian itu masihlah segar dalam ingatan mereka.
Mereka berpikir bahwa pria itu hanya menggunakan rekan pemulanya sebagai umpan.
Sekarang itu terlihat seperti hal yang tidak sopan untuk di pikirkan, namun pada saat dulu mereka yakin mereka harus menyelamatkan Priestess.
“Ah!” kata Gadis Guild dengan tawaan kecil, memahami. “Saya yakin tidak masalah. Beliau bukanlah orang yang akan terganggu dengan hal semacam itu.”
“Ya, tapi kami merasa nggak enak...” Rookie Warrior berkata, kemudian berkedip. Dia menggosok mata dengan lengan bajunya. Ada sesuatu yang janggal.
Pendatang baru itu menggunakan helm baja yang terlihat murahan, armor kulit yang kotor, perisai bundar kecil terikat pada lengannya, dan sebuah pentungan primitif pada pinggulnya.
Pentungan?
“.....Apa dia nggak menggunakan pedang?”
“Iya juga...” Apprentice Priestess melihat kepada Goblin Slayer juga. “...Aku rasa dia menggunakannya, tapi pedang yang benar-benar kelihatan murahan.”
“Yeah, kamu benar.”
“Dan gadis itu juga berlumuran cipratan darah...”
Apa-apaan yang terjadi? Pasangan muda terlihat khawatir, namun Gadis Guild hanya tertawa kecil dan tersenyum.
“Berpikir tentang mereka?” dia bertanya, menepuk kertas pada meja untuk merapikannya. “Cara terbaik untuk mempelajari cara berpetualang adalah dengan bertanya pada para petualang.”
“I-iya...”
Tetapi orang itu adalah Goblin Slayer.
Tetapi juga, dia merupakan petualang tingkat ketiga, tingkat Silver.
Tetapi...dia juga Goblin Slayer...
“...Okelah!”
Adalah Apprentice Priestess yang berdiri dengan gumam antusias yang bisa dia lakukan.
“He-hei, apa—?”
“Bertanya,” dia berkata, menatap ke depan, “Itu gratis!”
Kemudian dia pergi meninggalkan Rookie Warrior yang terbengong dan mulai melangkah ke depan dengan penuh tekad.
Rookie Warrior melirik pada Gadis Guild. Dia masih tersenyum.
“Aww, sial...!”
Sekarang Rookie Warrior menyemangati dirinya dan berdiri.
Ekspresi Gadis Guild, tentu saja, tidak pernah berubah.
*****
“Ummm...” Apprentice Priestess memanggil, yang hanya mengundang jawaban letih “Appha?” dari Priestess.
Sangatlah jelas bahwa dia baru saja menyelasaikan petualangan dengan Goblin Slayer. Apprentice Priestess mengernyit, baru tersadarkan bahwa seharusnya dia memilih waktu yang lebih baik.
“Ada apa?”
“Eep...”
Dan di tambah lagi, terdapat sebuah suara bernada rendah, tidak berekspresi, hampir mekanikal.
Helm baja bergerak perlahan, dengan tatap tajam dari balik pelindung kepala. Armor pria itu penuh dengan noda darah.
Dia memang benar terlihat seperti armor hidup atau sesuatu...
Dengan pikiran seperti itu yang terbesit di benaknya, Apprentice Priestess menelan liur.
“Uh— Um!” Rookie Warrior memanggil untuk membantu temannya. Dia menghiraukan keluhan tunggu dulu! Dari temannya dan melanjutkan dengan nada akrab.
“Ada sesuatu yang kami ingin tanya padamu...kalau kamu nggak keberatan.”
Ada apa?”
Jawaban Goblin Slayer singkat, dan menggunakan nada rendah yang sama.
Di sampingnya, Priestess menggeleng kepala dari samping ke samping.
“Tolong jangan ribut.”
“Oh—erk... Ma-maaf...” Rookie Warrior membalas dengan suara tegang. Tangannya kaku, dan sedikit bergetar karena gugup.
Apprentice Priestess menggenggam tangan temannya dengan lembut. Tangan itu kasar dan penuh akan luka.
“....Apa seburuk itu, pekerjaan ini?”
“Kami memerlukan uang.” Tetapi, tidak. Goblin Slayer menggeleng kepala dari samping ke samping. “Aku di paksa untuk ikut.” (TL Note : asli saya tidak paham konteks kalimat di sini, ataupun siapa yang berbicara di sini. Jadi saya mohon maaf kalau kalian bingung, karena saya juga sama bingungnya. L )
Rookie Warrior menelan liur dan memeras tangan Apprentice Priestess.
“Yah, kami... kami ingin bertanya sesuatu.” Dia mengambil nafas dalam. Tangannya melemas. “Kenapa kamu memakai pentungan?”
Jawabannya datang dalam sekejap: “Aku mencurinya dari goblin.”
“Men-mencuri?”
“Kamu melempar, atau menusuk dengan pedang. Pedang itu akan patah atau terkikis. Penggunaan secara hati-hati dapat membantu, tapi satu pedang nggak akan bisa lebih dari lima goblin.”
Itu terdengar seperti sebuah jawaban... Tetapi juga, tidak terdengar seperti jawaban.
Tunggu... mungkin itu memang jawaban.
“Hrmm” dengus Rookie Warrior. Kemudian dia berpikir cukup lama. “Bagaimana dengan tikus atau kecoa?”
Sekarang adalah giliran Goblin Slayer mendengus. “Tikus dan kecoa?”
“...Yeah.”
“Aku nggak tahu.” Tapi... Dia menepuk pentungan pada ikat pinggangnya. “....Kalau kamu mengayunkan ini dan mengenainya, kamu akan melukai mereka. Paling nggak kamu nggak perlu khawatir soal mata pedang yang terkikis.”
Goblin Slayer berdiri dari bangku, dengan sangat perlahan. Priestess, yang bersandar padanya, terkejut.
“Mudah.”
“Mudah....”
“Aku akan pergi,” dia berkata singkat pada Rookie Warrior, yang berdiri berpikir. Kemudian helmnya berputar mengarah Priestess yang menggosok matanya mengantuk. ”Istirahat?”
“Oh, ng-nggak, Aku ikut.”
“Aku mengerti.”
Priestess berdiri juga, terburu-buru mengikuti langkah sigap yang menggiring pria itu menjauh.

Namun ketika Priestess hendak mengikuti, dia berputar mengarah kedua petualang dan menundukkan kepala.
“Oh, um—hei!” Apprentice Priestess berkata.
“Ya?”
Sekarang atau tidak sama sekali.
Apprentice Priestess telah memanggil hampir tanpa berpikir, dan sekarang Priestess memiringkan kepalanya. “Ada yang bisa aku bantu?”
“Anu, um, kami cuma... Kenapa kamu berlepotan darah?”
“Oh...” Priestess bergumam dengan wajah kebingungan. Dia sedikit tersipu. “A...Aku kalau bisa nggak ingin...menjawabnya.”
“Oh...yang benar?”
“Ah, ta-tapi aku nggak terluka sama sekali, jadi jangan khawatir!” dia memberikan senyuman tegar namun lelah pada Apprentice Priestess. Dia berlumuran dengan keringat dan tanah, namun tidak ada sedikitpun tanda lingkaran hitam pada ekspresinya.
Kalung peringkat yang menggantung pada lehernya bukanlah Porcelain, melainkan Obsidian.
Apprentice Priestess menghela nafas.
“Hei...”
“Ya?”
“Maaf soal sebelumnya.”
“?”
“Aku rasa kami benar-benar salah paham tentang apa yang sebenarnya terjadi.”
Mata Priestess melebar, dan dia berkedip beberapa kali. “—Jangan khawatir soal itu!” Dan kemudian tiba-tiba, dengan ekspresi tenang dan serius gadis itu, menggenggam tongkat dengan kedua tangan. “Benar-benar nggak masalah kok. Aku tahu bagaimana dia kelihatannya, tapi dia orang yang baik...”
“Nggak ikut?” Suara kasar memanggil dari kejauhan.
“Kita harus ngobrol kalau ada kesempatan,” Priestess berkata, dan kemudian dia menundukkan kepala kepada mereka. Meletakkan satu tangan untuk menjaga topinya, dia berlari menuju tempat di mana Goblin Slayer berdiri.
“Ada apa?” dia bertanya.
Namun Priestess menjawab, “Nggak ada apa-apa.”
“Kamu lelah?”
“Oh, nggak... Um. Yah mungkin aku sedikit lelah.”
“Istirahat sebentar.”
Bahkan dari kejauhan, mereka berdua dapat melihat sedikit senyum Priestess seraya dia menjawab, “Baik, pak.”
Apprentice Priestess menghela dan mengangkat bahunya.
“Aku rasa...”
“Huh?”
“Kita juga harus berusaha sebaik yang kita bisa.”
“Uh-huh!”
Dengan itu, Rookie Warrior dan Apprentice Priestess membenturkan kepal tangan mereka bersama.
*****
“Baiiiiikkklaaah! Ayo!”
“Oke, Ayo periksa daftarnya!”
Di pinggiran kota, tepat setelah fajar, dengan kabut biru keungguan yang masih menghias langit, suara akan seorang bocah dan gadis dapat terdengar di dekat lubang saluran air.
“Antiracun!”
“Ada!”
“Kotak P3K!”
“Ada!”
“Salep dan herba, ada!”
“Lampu!”
“Lentera dari perlengkapan petualang, beberapa minyak, dan obor! Bagaimana denganmu?”
“Lilin pencari... Umm, peta!”
“Ada! Tapi aku cuma meminjamnya ketika kita menerima quest kita.”
“Nggak apa-apa. Sekarang, armor!”
“Armor kulitku masih agak bau...perisaiku, juga. Coba kamu berputar.”
“Aku? Bukan aku kan yang akan di serang menggunakan jubah seperti jni.”
“Aku nggak peduli, putar saja. Kalau nggak begitu, apa gunanya melakukan daftar pemeriksaan.”
“Yeah, baik... Terakhir, senjata!”
“Ada!”
Dan dengan itu, Rookie Warrior mengambil pentungan primitif, namun baru di tangan kanannya.
Sangatlah baru, kemungkinan masih ada label harga yang terpasang. Pembeli biasanya hanya akan menganggap ini barang murahan, namun pria muda ini tidak berpikir seperti itu.
“Bagus,” Apprentice Priestess berkata, mengangguk melihat pentungan. Dia melebarkan lengannya dan berputar sekali lagi. Lengan baju pakaian putihnya menggembung. Terdapat robekan dan jahitan di beberapa tempat, namun pakaiannya masihlah bersih dan menarik.
“Bagus?”
“Kamu mungkin perlu melakukan sedikit perbaikan nanti.”
Ya kalau aku punya sesuatu untuk di perbaiki…” Apprentice Priestess meletakkan tangan pada pinggulnya dan, dengan ekspresi serius memberikan teriakan. “Kalau kita nggak mencapai kuota kita hari ini. Kita bakal tamat!”
“Aku rasa keadaan kita nggak seburuk itu...”
“Tapi kamu harus tetap memiliki sikap seperti itu!”
Rookie Warrior terlihat santai; Apprentice Priestess memberikan pukulan menegur dengan pedang dan timbangannya. “Kita nggak punya uang untuk kembali pulang. Kamu bakal berakhir menjadi budak, dan aku akan menjadi...kamu tahu...”
“Pelacur? Pfft, siapa yang mau sama kamu?”
“Beraninya kamu ngomong begitu, kampret!” Wajahnya menjadi merah, dan menyikut sisi samping bocah itu—tepat di mana armornya terikat.
Dia melihat bocah itu gemetaran dan kemudian mendengus.
“Ngomong-ngomong, kamu mengerti nggak?”
“Ye-yeah, aku mengerti, tapi... yah.” Rookie Warrior menyiapkan dirinya, mengatur pegangannya pada barang, dan mengangguk bersemangat. “Bagaimanapun juga kita pasti berhasil!”
Ini adalah kota perbatasan, salah satu tempat di mana orang-orang bekerja untuk membangun tempat ini, dan terdapat saluran air di sini karena, tentu saja, seseorang telah membangunnya.
Merupakan hal yang berbeda jika sebuah kota di bangun di atas sebuah reruntuhan. Pengerajin bangsa dwarf dan para wizard, perancang sukses akan berbagai macam hal, telah di panggil untuk membuat saluran air batu dari nol.
Apakah saluran air ini di bangun ketika kota sedang dalam masa jaya, atau kota menjadi berjaya karena saluran air telah di bangun? Rookie Warrior tidak mengetahui jawabannya.
Aku bahkan nggak tahu bagaimana cara kerjanya!
Di balik pintu metal berkarat dan tangga menurun adalah dungeon remang dan lembab.
Jalan setapak menyisiri kanal yang membawa air limbah, dan aroma busuk mengalir ke segala arah.
Tanpa rasa ragu, Rookie Warrior menutup mulut dengan sebuah kain; Apprentice Priestess mengernyit wajah dan menutup hidung dengan penyumbat.
Saluran air ini masih baru, namun tikus raksasa dan kecoa raksasa selalu menyukai kotoran-kotoran.
Entah mengapa, Makhluk-Tak Berdoa—MTB— terlihat muncul secara alami di tempat seperti ini. Yang semakin menguatkan alasan mereka untuk menghabisi mereka sebelum ancaman yang lebih besar muncul... (TL Note : Di LN di sebut sebagai “Non Praying Charatcters—the NPCs—“)
“Jadi, mau lewat arah mana kita?”
“Oh, um, tunggu dulu!”
Seraya Rookie Warrior berdiri dengan apa yang menurutnya, siaga penuh, Apprentice dengan terburu-buru mengeluarkan sesuatu.
Dia mengambil batu api dan menyalakan lentera, kemudian menggantungnya pada pingul. Dia membukanya dan menyentuhkan lilin pada api.
Lilin pencari terbakar dengan api aneh putih kebiruan; dia dapat merasakan lilin itu semakin menghangat pada tangannya.
“....Gimana?”
“Hangat, tapi rasanya masih kurang...”
“Pastikan kamu bayangkan pedangku terus di pikiranmu.”
Mereka di sana untuk mencari sebuah pedang, benar, mereka juga di sana untuk membunuh tikus. Mereka memiliki kuota untuk di penuhi.
Rookie Warrior, yakin bahwa mereka dapat menyelesaikan segala hal yang mereka lakukan, berjalan maju, berbelok pada beberapa terowongan saluran air hingga mereka mendapati diri mereka pada bagian dalam.
Adalah sarang tikus raksasa, yang telah mereka temukan setelah beberapa kali berkelana ke saluran air untuk mencarinya.
“...Ooh, ini dia.”
Mungkin adalah aliran air yang membawa begitu banyak limbah makanan dari kota hingga kemari.
Itulah yang di incar oleh tikus berukuran besar ini. Satu, dua....
Rookie Warrior meludahi telapak tangannya dan menggosokkannya kepada gagang senjata, kemudian menerjang pada makhluk itu.
“Yaaaaaaahh!”
“GYUUI?!”
Salah satu dari mereka melarikan diri dari Rookie Warrior, namun dia menyerang salah satu yang sedang fokus memakan santapannya.
Terdengar suara tumpul benturan yang benar-benar berbeda dengan suara serangan pedang, dia merasakan senjatanya mengenai gumpalan daging.
Tikus raksasa menjerit dan termundur, namun masih tetap hidup.
“Mati—kamu!”
Dia sudah sejak lama membuang rasa kasihan pada monster ini. Adalah bunuh atau di bunuh. Jika makhluk itu berhasil membenamkan giginya pada tenggorokannya, maka Rookie Warrior lah yang akan mati.
“Whoa! Yah!”
Tikus raksasa melompat mengarah padanya, menunjukkan taringnya.
Rookie Warrior menghalangi dengan perisai, menggunakan berat tubuhnya untuk menahan serangan itu. Lengan kirinya, yang memegang perisai, menegang karena benturan akan gumpalan daging dengan berat hampir sepuluh kilogram.
“Kamu—!”
Namun Rookie Warrior memiliki keuntungan jika berdasakan berat tubuh.
Dia menjaga tubuhnya agar tidak terpeleset di atas pijakan kotor, kemudian mengayunkan turun pentungan pada kepala tikus itu.
Tidak ada teknik, tidak ada rahasia. Perkelahian pada sebuah gang memiliki teknik yang lebih dari ini.
“GYU?!”
Terdapat retakan layaknya patahnya cabang pohon yang basah seraya tulang belakangnya patah. Serangan lainnya berlanjut. Tikus raksasa kejang-kejang.
Dia memeriksa matanya, dan setelah itu barulah Rookie Warrior mengelap keringat dari dahinya.
“Gi-gimana dengan ya-yang lainnya...?!”
“Dia sudah lari.”
Rookie Warrior memeriksa daerah sekitar, sementara sang gadis menggengam pedang dan timbangan dengan gugup, menghela nafasnya.
Dia melangkah dengan cepat menuju Rookie Warrior dan dengan gerakan mata terlatih memeriksa tubuh bocah itu secara keseluruhan, mencari jika ada luka.
Rookie Warrior menutup telapak tangannya seakan ingin memastikam bahwa tangannya masih bekerja, kemudian membukanya; kemudian berganti pada lengan dan kaki.
Dia tidak terluka. Dia tidak tergigit. Tikus itu berbuih darah, namun tidak sedikitpun dari darah itu mengenainya.
“Aku...baik-baik saja.”
“....Kelihatannya begitu.”
Bagus. Apprentice Priestess mengangguk. Mereka tidak perlu menggunakan antiracun ataupun barang penyembuh mereka yang lain.
“Jadi bagaimana dengan pentungannya?”
“Aku masih belum yakin...”  Rookie Warrior memberikan ayunan pada senjata itu. Benda ini tidak tajam seperti pedang, namun lebih berat dari pedang, dan anehnya itu membuatnya jadi mudah di andalkan. “Tapi yang aku tahu kalau aku mengenai sesuatu dengan ini, sesuatu itu mati.”
Dia menghela lemas, berpikir akan betapa berbedanya dia dengan sikap riang Spearman atau ketangguhan Heavy Warrior.
Hanya merupakan satu tikus.
Namun itu merupakan awal yang bagus.
*****
“Bagaimana lilinnya?”
“Hm... Aku rasa lewat sini sedikit terasa lebih hangat.”
Setiap kali mereka menemukan jalan bercabang, Apprentice Priestess akan mengangkat lilinnya untuk mencari arah yang benar, dan kemudian mereka akan melanjutkan.
Sayangnya—atau mungkin sudah seharusnya—pedang itu sudah tidak berada di tempat di mana mereka meninggalkannya pada pertempuran sebelumnya. Mungkin tikus raksasa itu telah membawanya, atau kecoa raksasa telah mendorongnya menjauh...
“Mereka bukan goblin. Mereka nggak cuma sekedar mengumpulkan barang jarahan.”
“Hey, jangan bilang begitu, ngeri.” Apprentice Priestess melotot pada Rookie Warrior dan menyikut dengan sikunya. “Nggak bakal lucu, kalau memang ada goblin yang tinggal di bawa kota ini.”
“Iya benar.”
Jika memang seperti itu maka mereka akan meminta lebih dari sekedar saran dari Goblin Slayer.
Mereka melanjutkan pencarian mereka, mengeluh tentang aroma yang ada.
Sepanjang jalan, mereka bertemu—dan melenyapkan—sebanyak tiga tikus raksasa dan satu kecoa raksasa.
Pentungan itu terlumuri lendir tebal dengan cepat, membuktikan pertempuran yang mereka jalani.
“Aku rasa aku nggak mengira kalau senjata ini mencipratkan banyak darah dan...apa itu ceceran otak?”
“Yah, kamu lihat sendiri betapa kotornya pria goblin—“ Apprentice Priestess menghentikan dirinya. “Betapa kotornya Goblin Slayer.”
Senjata baru ini juga berat, dan mengayunkannya berulang-ulang kali dalam pertarungan membuat dirinya lebih cepat lelah di banding dengan pedang.
“Tapi aku suka kamu hanya perlu mengayunkannya tanpa harus mengarahkannya.”
“Jangan sampai kehilangan atau apalah.”
“Yeah—“
Rookie Warrior mendengus menyetujui saran ini seraya dia melirik pada sebuah sudut.
Hanya terlihat beberapa tikus yang berukuran biasa untuk saat ini, jadi tidak ada masalah.
Memberi isyarat pada Apprentice Priestess di belakangnya, dia melangkah maju langkah demi langkah.
Apprentice Priestess menjerit seraya mereka menginjak ekor panjang curut yang berkeliaran.
“Oh, yeah...”
“Ada apa? Ada komentar bodoh lainnya yang mau kamu buat?”
“Bukan.” Rookie Warrior menggeleng kepala cepat, memeriksa kiri dan kanan untuk memastikan bahwa mereka aman, kemudian duduk di tempat mereka berdiri. “Apa kita punya benang?”
“Apa tali bisa?”
“Terlalu tebal.”
“Aku punya pita untuk mengikat rambutku...”
“Terima kasih.”
Apprentice Priestess merogoh isi tasnya, dan menyerahkan pengikat rambut kepadanya, dan berkata, “Pastikan kamu kembalikan.” Kemudian dia menunduk di samping Rookie Warrior dan memperhatikan dengan seksama seraya bocah itu melakukan sesuatu.
“Kalau kita punya uang, aku akan membelikanmu yang baru.”
“Di potong dari bagianmu, oke?”
“Yeah, yeah.”
Yang di lakukannya sederhana. Dia mengikat benang dengan kuat di sekitar gagang pentungan hingga membuat sebuah lingkaran dengan ukuran yang spesifik.
Ketika dia memasukan tangannya ke dalam lingkaran untuk memegang pentungan...
“Lihat? Sekarang aku nggak bakal menjatuhkannya.”
“Hmmm...” Apprentice Priestess menginspeksi ikatan itu dengan seksama, kemudian mendengus. “Tumben bagus yang kamu lakukan.”
“Aduh, pedisnya.”
“Ketika kita kembali. Aku akan mengikatnya lebih bagus untukmu.”
Apprentice Priestess berdiri dengan tawaan kecil, namun ketika dia mengangkat lilin untuk memeriksanya—
“Whoa, yikes!”
—dia hampir menjatuhkannya, dengan panik mengatur genggaman untuk menahannya.
“Hei, kenapa?” Rookie Warrior berdiri mengikuti, memegang pentungannya menjaga kemungkinan adanya masalah.
Dia masih belum berpengalaman, namun dia masih melihat sekitaran dengan hati-hati, perisai terangkat. Gadis itu menggeleng kepalanya.
“Ng-nggak apa-apa. Cuma...lilinya semakin tambah panas.”
“Semakin panas? Itu artinya...”
Dia dapat melihat api putih kebiruan lilin pencari semakin membesar.
Rookie Warrior dan Apprentice Prieztess saling melihat satu sama lain.
“Kita pasti semakin dekat.”
Merupakan suatu keberuntungan yang sangat yang membuatnya merasakan sesuatu sedang mendekati mereka dari atas.
Rookie Warrior dengan segera bergerak untuk melindungi Apprentice Priestess, mendorongnya seraya mereka berdua menghindar.
“Eek! Ap-apa-apaan—!”
“Bego, lihat!”
Merupakan sebuah gumpalan hitam besar.
Pastilah berukuran 182 cm, hampir dua kali lipat ukuran biasanya. Makhluk itu memiliki tempurung berkilau dan enam kaki, dan melambaikan antenanya yang terlihat setebal kawat besi tipis dan mengertakan gigi tajam mereka.
“Bagaimana lilinnya...?!”
“Panas banget!”
“Jangan bilang pedang itu ada di dalam makhluk itu!”
Serangga itu—melebihi raksasa, seekor kecoa—merayap mengarah mereka. Mereka berdua menjerit dan mulai melarikan diri.
*****
“Ap-ap-ap-apa yang harus kita lakukan?!”
“Mana aku tahu...!”
Serangga hitam besar merayap secara acak di atas langit-langit dan dinding, merupakan gambaran akan menakutkan.
Pengejaran ini bukanlah satu-satunya yang menakutkan. Adalah pikiran akan di makan hidup-hidup oleh makhluk itu.
Mereka tidak menjadi petualang untuk menjadi santapan bagi para tikus atau kecoa...!
“Kita akan terkejar kalau begini terus...!”
Kenyataan bahwa mereka masih selamat seraya mereka berlari dengan panik melewati saluran air adalah karena kecepatan reaksi mereka dan jarak awal mula antara mereka dengan makhluk itu.
Seekor kecoa raksasa tidaklah selincah manusia—paling tidak petualang sekelas Porcelain.
Namun sangat jelas bahwa tidak akan butuh waktu lama hingga mereka tertangkap dan di makan oleh makhluk itu.
Kita harus sampai ke permukaan sebelum... Tidak, kita nggak akan sempat...!
Mereka harus memanjat sebuah tangga untuk dapat ke permukaan. Jika mereka di serang pada saat itu, maka semua akan berakhir. Kecoa biasa dapat terbang, kemungkinan, kecoa raksasapun bisa terbang juga.
“Bagaimana kalau kita lompat ke air?!”
“Kita bakal repot kalau sampai terjaangkit virus!”
“Oke kalau begitu.... terowongan sempit! Mungkin dia nggak bisa mengikuti kita!”
“Nggak bakal berhasil! Kecoa sangat fleksibel!”
Sebuah jalan yang sempit mungkin akan memberikan waktu bagi mereka untuk bernapas, namun kemudian serangga itu akan memaksa dirinya untuk masuk bersama mereka. Bayangan seperti itu sudah cukup untuk membuatnya merinding tidak karuan. Tidak ada terowongan kalau begitu.
“Kita harus bertarung!”
“Tapi bagaimana?!”
Suara gesekan itu membuatnya mual, dan makhluk itu semakin mendekat.
Rookie Warrior melihat pentungan yang berada di tangannya.
Jika dia berhasil memukul kecoa beberapa kali, makhluk itu akan mati. Dia sangat yakin tentang itu. Namun bagaimana cara melakukannya?
Kalau aku cuma mengayunkan secara asal, aku nggak akan mengenainya.
Kecoa itu sangat cepat. Jika dia tidak dapat membuatnya berhenti bergerak, pertarungan ini akan sia-sia. Dia hanya tidak memiliki kemampuan yang cukup.
“He-hei! Menurutmu kamu bisa mengenainya dengan Holy Smite?!”
“Aku nggak tahu....! Para dewa yang membidik sihirnya, bukan aku!”
“Bagaimana kalau dia mendatangimu?!”
“Kalau seperti itu, mungkin...!”
“Oke!”
Sekarang dia harus berpikir cepat. Jika dia akan melakukannya, dia tidak boleh bimbang.
Rookie Warrior mengambil lentera dari pinggul Apprentice Priestess.
“Yikes! H-hei, apa yang kamu—?!”
“Kamu bisa omeli aku kalau kita selamat!”
Berteriak lebih kencang dari Apprentice Priestess, Rookie Warrior melihat ke belakang.
Serangga luar biasa besar berada tepat di sana, lendir menetes dari rahang pemotongnya.
Rookie Warrior mengambil napas dalam.
“Rasakan ini!”
Dan dia melempar lentera itu tepat di depan serangga.
Benturan dengan lantai memecahkan kaca lentera murahan, dan api membesar dari dalam pecahan itu.
Kecoa raksasa memberikan jeritan, melebarkan sayap, dan terbang ke udara. Pemandangan ini saja sudah cukup untuk menghilangkan semangat tarung mereka.
Rookie Warrior merasakan sesuatu yang hangat dan basah di celananya. Dia menutup rahangnya untuk mencegah giginya bergetar.
“Sekarang—lakukan!”
“—Ee—ehh—ahh—!”
Menjawab teriakan Rookie Warrior, Appremtice Priestess, yang bergetar terbengong, mengangkat pedang dan timbangan.
“Dewa pengadilan, pangeran pedang, pembawa timbangan, tunjukkanlah kekuatanmu di sini!”
 Kilatan petir mengarah tepat pada serangga menjijikkan.
Terdengar gemuruh petir, dan cahaya terang putih kebiruan menghilangkan kegelapan saluran air. Keajaiban ini hanya berlangsung dalam sekejap.
Asap yang beraroma tidak mengenakkan dan tubuh terbakar dari monster, membuat perut mereka mual.
Kecoa raksasa terjatuh ke lantai, perutnya terpapar secara mengerikan, berusaha keras untuk dapat bangkit kembali dengan enam kakinya.
“H-hii—yaaaaaaahhh!”
Rookie Warrior mengangkat pentungannya dan melompat mengarah kecoa. Dia berusaha menyerang perut hitam itu, menghiraukan kaki berduri yang berusaha mencakarnya, dan menyumpal perisai pada rahang kecoa. Jarum hitam berusaha menembus armor kulit berminyak miliknya, namun konsentrasinya tidak terbuyarkan. Dengan teriakan layaknya binatang, dia mengangkat pentungan dan menurunkannya, memukul, mematahkan, lagi dan lagi.
Dia tidak menggubris lendir yang terbang dari rahang itu, ataupun darah yang mengalir dari luka yang di derita makhluk itu. Jika dia mempedulikannya, dia akan terbunuh.
Telapak yang berkeringat membuat senjatanya terlepas dari genggaman. Benang yang telah di ikatkan di sekitarnya membuatnya dapat mengambilnya kembali, dan dia menyerang kembali.
Serang dan serang dan serang dan serang dan serang dan serang dan serang. Apapun yang terjadi, terus serang. Serang sebanyak-banyaknya. Sampai mati.
“Hoo...ahh...huff...ahh...”
Akhirnya, dia telah mencapai batasannya. Dia sudah kehabisan oksigen.
Dia berusaha untuk menjernihkan kepalanya, pengelihatannya memerah dikarenakan panas tubuhnya, dan upayanya telah membuatnya pusing. Kemudian Apprentice Priestess berada di sana, membantunya seraya bocah itu berpikir dia akan pingsan.
“Kamu—kamu nggak apa-apa...?!”
“I-iya aku rasa.”
Bocah itu menyadari bahwa dia telah blepotan oleh jus kecoa dari kepala hingga kaki. Terutama tangan kanannya yang memegang pentungan.
Tempat di mana kepala kecoa berada, sekarang hanya menyisakan genangan akan cairan.
Enam kaki, yang masih menggeliat dalam detik terakhirnya, adalah yang masih perlu di takuti.
“Apa dia....masih hidup...?” Tanya Apprentice Priestess.
“Ja-jangan mendekat, ma-masih berbahaya”
Rookie Warrior menelan liurnya, kemudian mengambil belati dari ikat pinggangnya. Dia menggunakannya untuk memotong masing-masing kaki pada pergelangan paling bawah hingga akhirnya putus. Dia harus melakukan ini, atau mereka tidak akan aman. Enam kali dia melakukannya, hingga jarinya kaku dan sakit. Namun ini masih belum berakhir.
“Um...perutnya, kan?”
Dia memegang belati dengan kedua tangan secara terbalik, mengangkatnya dan menghujamkan ke bawah. Terdengar suara fsssh dan cipratan akan cairan dari dalam tubuh.
Mata belati itu mengenai sesuatu yang keras, dan kemudian Rookie Warrior memberanikan dirinya dan membenamkan tangan ke dalam perut kecoa. Dia menarik sesuatu keluar.
“Ketemu...”
Dia tidak dapat memahami apa yang di pikirkan makhluk ini ketika memakan pedangnya. Namun pedang yang di tarik keluar tidak salah lagi merupakan pedang yang di belinya, senjata pertamanya.
“...Mulai hari ini, mungkin aku akan menyebut pedang ini Chestburster, dan pentungan ini Roach Slayer. Gimana menurutmu?”
“Menurutku kamu harus berhenti berbicara bodoh dan minum antiracun ini, dan kemudian kita pulang.”
Figur menyedihkan bocah itu, setiap bagian tubuhnya terlumasi oleh lendir. Beberapa lendir itu telah mengenai dan mengalir di pinggul gadis itu, pada saat lentera di cabut darinya.
Mereka berdua berpura-pura tidak menyadari hal ini seraya mereka bertukar senyum lelah pada kemenangan mereka.
****
“Haaa.....”
Matahari sedang terbenam di kota perbatasan.
Mereka berdua sedang membersihkan diri mereka dari kepala hingga kaki di sungai—sama sama berusaha untuk tidak melirik tubuh lawan jenis yang hanya menggunakan pakaian dalam.—dan kemudian pergi menuju Guild untuk membuat laporan.
Mereka memeriksa perlengkapan mereka, mengisi kembali persediaan mereka yang telah di gunakan, mengobati luka goresan mereka, dan akhirnya membayar tempat sederhana untuk tidur.
Pada akhirnya, semua yang tersisa hanyalah beberapa koin silver yang sekarang di genggam Rookie Warrior.
Ini akan menjadi tabungan mereka. Tapi...seberapa banyak yang bisa kita tabung?
Berjongkok di dekat pintu Guild Petualang, Rookie Warrior ingin menghela juga.
“Hei, kenapa kamu melamun begitu?”
“Hmmm...”
Apprentice Priestess, berada di sampingnya, mengelap rambut basah dengan handuk.
Rookie Warrior memberikan jawaban ambigu, konsentrasinya terpusat pada orang-orang yang keluar dan masuk melewati pintu guild.
Petaualang dari berbagai macam jenis sedang berpergian keluar kota dengan barang spesial mereka atau datang menuju Guild. Masing-masing dari mereka kaya akan perlengkapan, rasa lelah bercampur dengan pencapaian  tergambar pada wajah mereka.
Bocah dan gadis itu belum cukup berpengalaman untuk menyadari bahwa ini berarti tidak ada petualang yang mati pada hari jni.
“Aku cuma...lagi berpikir kalau perjuangan kita masih panjang.”
“Yah, pastinya.” Apprentice Priestess berkata dengan dengusan, duduk di samping Rookie Warrior. “Sedikit kemajuan setiap harinya! Masalah akan terjadi kalau kamu menginginkan yang lebih dari itu.”
“Yah, iya, tapi...”
“Lakukan yang terbaik, berkorban, hasilkan uang, dan jalani kehidupanmu. Nggak boleh mengeluh tentang itu, kan?”
“Ya-yah, iya, tapi...” koin silver di tangannya berkilau pantulan cahaya senja. Kilauan terang itu menyilaukan matanya. “...Perjuangan kita masih panjang.”
“...Itu benar.”
Tapi aku—bahkan aku—berhasil menghadapi beberapa tikus raksasa dan kecoa hari ini.
Bukanlah sesuatu yang melegenda, namun tidak dapat di pungkiri bahwa dia telah mempertaruhkan nyawanya.
“Baiklah! Ayo kita cari makanan enak!” dia berkata, dan melempar koin itu pada Apprentice Priestess.
“...Yeah. aku rasa kita bisa bersenang-senang sedikit hari ini.”
Suatu hari—suatu hari—suatu hari.
Mereka ingin menjadi tangguh. Mereka ingin menjadi pahlawan.
Mereka ingin menjadi seorang petualang yang dapat mengalahkan naga.
Koin itu berdenting dalam telapak tangan gadis itu seraya dia berdiri.



Goblin Slayer Jilid 4 Bab 1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

7 komentar:

  1. wah updatenya lebih cepet sehari, makasih mimin zerard untuk terjemahannya ^^
    btw ini cerita dari manga goblin slayer : brand new day kan?
    di bab ini rasanya si goblin slayer cuma jadi cameo doang wkwkwkwk
    di tunggu updatenya y min ^o^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mas, vol 4 isinya semua side stories karakter lain. di sini goblin slayer cuma jadi figuran yang muncul sesekali.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.