Senin, 01 Oktober 2018

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 9 WN Bahasa Indonesia



PERTEMUAN

Dalam sekejap mata, dua tahun telah berlalu sejak aku mulai tinggal bersama Chelsea.
Sambil mempelajari kebiasaan dunia ini dari Chelsea, aku menjalin hubungan dengan orang-orang di kota berkat kunjungan rutinku untuk menjual herba dan buah yang kukumpulkan di hutan.
Dan kadang-kadang, aku pergi ke tempat Lydia untuk bermain dan membantunya membersihkan ruang-ruang terlantar. Aku juga melakukan beberapa hal seperti latih tanding dengan para peri menggunakan kekuatanku secara penuh, mengahari Kotarou beberapa trik, dll.
Aku menjalani hidup sehari-hari yang memuaskan sampai masalah tentang Asahi dan mantan teman-teman sekelasku terlihat sebagai kenangan yang jauh di masa lampau.
Di suatu hari, Chelsea sekali lagi mencoba menarik perhatianku.
"Jadi Ruri, apa rencanamu untuk ke depannya?" (Chelsea)
"Rencanaku untuk ke depannya?" (Ruri)
"Sudah dua tahun sejak kau datang ke mari. Kau dulu membicarakan tentang membalas dendam dan semacamnya, tapi kelihatannya kau tidak akan melakukan itu dalam waktu dekat. Bukankah kau seharusnya mulai berpikir bagaimana nantinya kau menjalani hidup di dunia ini?" (Chelsea)
"Tapi, belum pasti kalau aku tidak akan bisa pulang…" (Ruri)
"Kalau begitu, kenapa kau tidak menanyakannya pada para peri? Mereka sudah berada di dunia ini sejak awal. Tidak ada orang lain yang lebih baik untuk diajak bicara mengenai ini. Kau seharusnya sudah bisa menerima kenyataan." (Chelsea)
Dilempari perkataan-perkataan berat seperti itu, rasa bersalah membuatku mau tak mau mengalihkan pandangan dari tatapan Chelsea.
Bukannya aku tidak mau menanyakannya pada para peri mengenai hal ini. Aku tidak bisa. Bagaimana kalau jawaban yang diberikan adalah 'tidak mungkin'…
Aku berpegang pada harapan samar bahwa aku mungkin saja kembali ke dunia asalku.
"Kau paham, 'kan?" (Chelsea)
"……" (Ruri)
Para peri tahu bahwa aku ingin kembali. Tapi tidak sekali pun mereka mengungkit masalah itu, yang dalam artian lain itu adalah suatu kepastian.
Akan tetapi, aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya.
Aku memiliki sebuah keluarga di sana. Aku punya teman-teman di kampus tempatku belajar begitu mati-matian agar bisa masuk, yang bebas dari cengkeraman Asahi. Itu bukanlah sebuah kehidupan yang bisa kulupakan begitu saja setelah tinggal di sini selama 2 tahun.
Aku mencoba untuk melarikan diri dari kenyataan, masih berpikir bahwa tempat ini mungkin hanyalah sebuah mimpi.
Jauh dalam hatiku, aku tahu apa yang kulakukan adalah salah.
Aku tidak bisa menyia-nyiakan nait baik Chelsea lebih jauh.
"Aku tahu semuanya tidak bisa terus-terusan seperti ini. Aku tidak bisa selalu bergantung pada Chelsea-san." (Ruri)
"Aku sama sekali tidak keberatan, kau tahu? Daripada tinggal sendirian, lebih menyenangkan tinggal bersama Ruri. Hanya saja aku mengkhawatirkanmu. Aku tidak yakin kalau ini akan baik-baik saja untuk membiarkanmu tinggal di hutan ini, dengan dirimu yang melarikan diri dari kenyataan.' (Chelsea)
Aku merasakan perasaan yang hangat dalam diriku saat mendengarnya. Semua karena Chelsea yang dengan tulus merasa khawatir dengan keadaanku sehingga aku bisa hidup damai selama dua tahun ini.
"….Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan…" (Ruri)
"Bisa aku merepotkanmu sedikit dengan mengantar pesananku?" (Chelsea)
"Sesuatu di kota?" (Ruri)
"Bukan. Di ibu kota." (Chelsea)
Aku terkejut dengan jawaban yang tidak terduga itu.
"Kebetulan puteraku memintaku untuk mengirimkan beberapa tanaman obat, jadi aku berpikir untuk mengutusmu menggantikanku. Silakan melihat-lihat ibu kota sementara kau melakukannya." (Chelsea)
"Aku sendirian?" (Ruri)
"Ya. Aku sudah mengirim surat dan mengatakan pada puteraku untuk mengurusmu selagi kau di sana. Kali ini, kelilingilah ibut kota dan lihatlah bagaimana hidup berjalan di sana. Kau mungkin menemukan jawaban tentang bagaimana langkahmu selanjutnya di masa depan." (Chelsea)
* * *
Seperti itulah, aku mengucapkan salam perpisahan pada Chelsea sambil membawa tanaman obat dan surat yang ditujukan pada puteranya.
"Berhati-hatilah dalam perjalananmu." (Chelsea)
"Baik." (Ruri)
"Fumo, fumo." (Kotarou)
Seakan berkata "aku ingin ikut denganmu juga", Kotarou menyusutkan tubuh besarnya dan menggesekkan hidungnya padaku.
"Maaf, aku tidak bisa membawamu ikut denganku karena ukuranmu. Kalau aku melakukannya, akan ada kehebohan besar. Aku janji aku akan pulang untukmu, jadi untuk sementara waktu, jadilah anak yang baik dan bantu Chelsea menggantikanku." (Ruri)
"Bumou~" (Kotarou)
Setelah melihat sosok kesepian Kotarou yang menguik sedih dan berjalan ke samping Chelsea, aku terbang ke langit.
"Aku berangkat dulu." (Ruri)
Melambaikan tangan, aku memulai perjalananku ke Ibu Kota.
Setelah dua tahun, aku sudah mempelajari cara untuk terbang di langit. Aku jadi begitu pandai dalam hal itu belum lama ini. Aku bahkan tidak perlu menaiki Chelsea lagi. Aku dapat terbang sendiri di langit selama ke Kota.
Meski begitu, aku harus beristirahat selama perjalanan beberapa hari ke ibu kota. Meskipun keadaanku saat ini sangat memungkinkan untuk terbang dalam kecepatan tinggi, jarak ke ibu kota sangatlah jauh.
Aku juga bukannya sedang terburu-buru, jadi perjalanan ini lebih seperti sedang tur.
Ibu kota memiliki kesan 'barat' yang lebih kental pada arsitekturnya. Saat aku berjalan pada jalanan berlapis batu, aku merasa lebih seperti sedang berjalan-jalan di luar negeri. Jika orang-orang yang berjalan di sekitarku berada dalam wujud manusianya, aku mungkin akan mengira tempat ini adalah duniaku yang sebelumnya. Tapi aku diingatkan oleh fakta bahwa aku tidak sedang berada di sana saat aku melihat orang-orang dengan telinga dan ekor hewan, dan wajah makhluk buas atau hewan di mana-mana.
Dari skala luas tempat dan jumlah orangnya, ibu kota lebih besar daripada kota mana pun yang telah kukunjungi di dunia ini sejak tiba di sini. Di tempat seperti ini, kalau aku membiarkan para peri menempel padaku, akan ada lebih banyak kehebohan daripada yang kualami di kota sebelumnya. Dengan demikian, aku mengatakan pada para peri untuk mengikutiku dari jarak jauh.
Suara tidak puas muncul dari para peri, begitu banyaknya sampai aku dengan enggan mengenakan sebuah jubah besar yang bisa menutupiku sepenuhnya dan membiarkan beberapa peri yang menang dalam suit gunting-batu-kertas untuk bersembunyi di dalamnya. Karena aku memberikan rambut palsuku pada Kotarou yang terlihat begitu sedih, aku menutupi kepalaku dengan tudung jubah itu.
Tinggal di ibu kota menghabiskan banyak uang. Jadi hal pertama yang harus kuurus adalah mendapatkan uang.
Barang yang kurencanakan untuk kujual adalah sesuatu yang diwariskan dari kontraktor Lydia yang sebelumnya, sebatang senapan. Senapan itu adalah sesuatu yang tidak memiliki nilai sentimental apapun bagi Lydia, jadi tidak masalah menjualnya. Ditambah lagi, aku juga tidak memerlukan senapan yang terlalu besar untuk ukuran tubuhku, jadi aku akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengubahnya menjadi uang tunai.
Karena demi-human memiliki indera yang tajam, aku menyuruh para peri untuk meniadakan hawa keberadaan mereka dan memasuki toko senjata yang direkomendasikan Chelsea.
"Selamat datang! Apa yang bisa kubantu?"
"Sya punya sesuatu yang ingin saya jual. Saya dengar dari Chelsea-san toko ini bisa dipercaya." (Ruri)
"Oh, kau adalah kenalan Chelsea? Sudah lama aku tidak melihatnya. Apakah wanita tua itu sehat-sehat saja?"
"Ya, bersemangat seperti biasanya." (Ruri)
"Senang mendengarnya.'
Tanpa membuang-buang waktu, aku meletakkan senjata yang kukeluarkan dari ruang dimensi alternatif ke atas konter. Si pemilik toko terkejut dengan kemunculan mendadak senapan itu.
"Apa yang kita punya di sini! Ini benar-benar relik tua dari sebuah senapan. Tapi rakitan tangan, belum lagi dalam kondisi asli? Benar-benar senapan bagus. Bagaimana kau bisa mendapatkan barang seberharga ini?"
Aku tidak bisa mengatakan padanya bahwa aku menerimanya dari peri waktu. Saat si pemilik toko melihat ekspresi bersalahku karena tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, dia mengangguk paham. Aku cukup yakin apapun alasan yang dia pikirkan, bukanlah itu.
"Mungkin ini kejahilan peri."
"Kejahilan peri?"
"Saat tanpa alasan apapun, barang yang kau tidak ingat pernah memilikinya, mendadak muncul di ruang alternatifmu. Dari barang tingkat nasional hingga sampah, barang-barang yang seharusnya dimiliki orang-orang yang sudah mati dan ruang alternatifnya sudah hancur selamanya, secara misterius muncul di dimensi alternatifmu. Hal ini disebut-sebut sebagai pekerjaan dari peri yang sedang jahil atau semacamnya."
Kurasa aku ingat pernah mendengar Lydia berkata, bahwa sebelum dia menghancurkan sebuah ruangan, dia akan membuang barang dari tempat itu ke ruangan orang lain. Aku yakin tindakan tak berbahaya itulah yang disebut-sebut orang sebagai kejahilan sang peri.
(Lydia… Jadi dia sudah melakukan hal semacam itu sejak lama….)
"Kau beruntung, nona muda. Hanya sekali saja, aku juga ingin mengalami kejahilan sang peri."
"Ahaha."
Dia benar-benar salah paham, jadi aku memaksa tertawa untuk mengelak dari hal yang sebenarnya.
"Ini sangat menyulitkan. Aku benar-benar ingin membeli barang ini darimu secara langsung karena kau adalah kenalan dari wanita tua itu, tapi…"
"Ada masalah?" (Ruri)
"Senapan ini bernilai sangat tinggi. Sayangnya, toko kecil seperti tokoku ini tidak memiliki uang yang tunai yang cukup untuk melakukan transaksi tersebut."
Setelah berkata begitu, si pemilik toko senjata menutup tokonya dan memanduku ke toko yang lebih besar di distirk perbelanjaan.
Aku terpukau dengan apa yang terjadi berikutnya.
Itu adalah sebuah pertarungan sengit antara si pemilik toko yang ingin membeli senapan tersebut dengan harga murah dengan si pemilik toko senjata yang mencoba untuk memeras sebanyak mungkin nilai dari senjata itu. Pada akhirnya, dengan sebuah kalimat 'kalau begitu, aku akan menawarkannya di tempat lain', senapan itu terjual dengan harga di mana seseorang dapat hidup dengan mewahnya selama bertahun-tahun.
"Ini dia! Seperti yang kubilang, hal semacam ini sangatlah mudah bagiku."
"T-terima kasih banyak!" (Ruri)
Si pemilik toko menyerahkan padaku kantung serut berisi uang dengan senyum puas.
Mempertimbangkan bahwa aku bisa saja dengan mudahnya menyerah terhadap tekanan dan menerima tawaran yang lebih murah, aku mencoba untuk memberikan sebagian dari penjualan tersebut pada si pemilik toko. Akan tetapi, dia menolak untuk menerima uang tersebut dan berkata bahwa dia lebih suka kunjunganku yang berikutnya ke tokonya. Setelah menenangkan diriku sendiri, aku membungkuk dalam-dalam padanya dan mengucapkan salam perpisahan.
Semuanya berjalan dengan sangat baik…sampai aku bertemu dengan dua preman.
"Hei, hei, sayang. Kenapa tidak ikut bermain dengan kami?"
"Uangmu itu banyak sekali, sayang. Kenapa tidak membaginya sedikit dengan kami?"
Sepertinya mereka kebetulan mendengar sesi tawar-menawar di tempat penjualan, dan setelah melihat si pemilik toko menyerahkan uang itu padaku yang terlihat lemah ini, aku menjadi target mereka. Yah, aku tidak bisa menyalahkan mereka. Transaksi besar seperti itu biasanya menarik perhatian banyak orang.
Si pemilik toko seharusnya sudah memperkirakan situasi seperti ini. Tapi karena dia terlalu asyik dengan kemenangannya, dia lupa dengan kemungkinan berbahaya semacam ini.
Aku terus berjalan mundur, berusaha melepaskan diri dari kejaran para preman itu. Pada saat yang sama, aku menemukan diriku dalam situasi di mana aku sendirian saja bersama mereka.
(Ah, ini mungkin gawat.)
Ini mungkin kedua kalinya aku merasa ketakutan, bahwa hidupku dalam bahaya, sejak aku dibuang ke hutan. Aku juga berada dalam perasaan khawatir yang berbeda akibat pergerakan para peri di dalam jubahku.
(Wah~ Tunggu!~)
Sambil menahan pergerakan para peri dengan menekan jubahku, aku melakukan lelucon 'Apa itu yang ada di sana?!' untuk mengalihkan si preman. Dengan para preman yang termakan tipuan tua yang kupelajari di buku, aku menyelinap melewati celah di antara preman itu dan berlari secepat yang kubisa.
"Ah! Berhenti kau!"
"Mana mungkin aku melakukannya‼" (Ruri)
Selama aku berlari dan berbelok-belok di belakang gang itu, aku bisa mendengar suara-suara yang benar-benar terdengar berniat jahat dari bawah jubahku.
Musuh Ruri adalah musuh kami, 'kan?
Ayo habisi mereka.
Ya! Hancurkan mereka.
"Sama sekali tidak boleh!"
Peringatan yang Chelsea berikan padaku sebelum pergi melintas di benakku.
'Para peri bertindak berdasarkan apa yang kau rasakan. Kalau itu demi dirimu, mereka akan mengambil tindakan yang berlebihan. Bahaya mengintai di setiap sudut kota, jadi cobalah menghindari bahaya dan pastikan tindakan mereka dalam kendali.'
(Mustahil 'memastikan tindakan mereka dalam kendali', Chelsea‼)
Karena kontrakku dengan Lydia, tidak hanya aku bisa merasakan keberadaan para peri di jubahku, aku juga bisa merasakan keberadaan para peri dari mana saja. Banyak keberadaan dari mereka yang mulai berkumpul di sekitar lokasiku.
(inigawainigawatinigawat)
Belum lagi ini adalah pertama kalinya aku berada di ibu kota. Aku sama sekali tidak tahu tata letak geografis tempat ini. Aku bertujuan untuk mencapai jalan utama dengan banyak orang, tapi entah kenapa aku malah semakin dalam ke gang yang gelap ini.
Dipaksa oleh situasi, aku mengeluarkan sebuah benda berbentuk bola dari ruang dimensiku dan melemparkannya ke jalan kecil tersebut begitu aku berbelok di sudut.
Aku menutup mataku dan menahan napas. Tidak lama kemudian, sebuah cahaya terang benderang dan asap dapat terlihat muncul dari jalan kecil tempatku berada sebelumnya.
Setelah beberapa saat, aku kembali dan disambut oleh dua preman yang tidak sadarkan diri dan bau yang amat sangat menjijikkan.
"Ugh…" (Ruri)
Bukan hanya aku yang terkejut dengan bau yang parah itu. Para peri yang tidak tahan dengan bau tersebut langsung berpencar dan keberadaan mereka menghilang.
Benda yang diberikan padaku oleh Lydia itu digunakan untuk melindungi diri selama kunjunganku di Ibu Kota. Begitu dilemparkan, bola tersebut akan melepaskan cahaya terang benderang dan bau yang amat sangat menyengat sebagai alat pencegah terhadap demi-human yang memiliki indera yang sensitif.
Akan tetapi, itu terbukti sedikit terlalu efektif karena aku pun terpengaruh.
"Aku merasa mual…" (Ruri)
Aku menyesal tidak memasang dinding penghalang sebelumnya. Agar tidak menyebabkan keributan, aku menggunakan sihir angin untuk menghilangkan bau tersebut dalam satu hembusan.
"Kuharap mereka tidak mati…" (Ruri)
Aku tidak berpikir mereka akan mati hanya karena bau ini, tapi mereka tidak bergerak sama sekali. Aku mulai cemas. Di saat itulah aku mendengar suara seseorang yang terkekeh pelan. Aku berbalik ke arah sumber suara tersebut.
Seseorang yang berpakaian serba hitam dengan wajah yang tersembunyi di balik kain, dengan hanya mata berwarna hijau gelapnya yang mengesankan yang terlihat, sedang berdiri di situ. Di pinggangnya, sebilah pedang panjang berada dalam sarungnya. Orang itu benar-benar mencurigakan.
"Siapa kau?" (Ruri)
"Aku melihat seseorang yang sedang dikejar-kejar preman dan memutuskan untuk mengikuti dari belakang."
Setelah mendengar itu, aku merasa sedikit lega.
"Kau akan menyelamatkanku?" (Ruri)
"Kurasa itu tidak diperlukan."
Pria itu menatap para preman yang tumbang di hadapanku.
Perasaanku campur aduk soal itu. Kalau kau ingin menyelamatkanku, tidak bisakah kau melakukannya lebih cepat? Misalnya, sebelum aku melepaskan bola bom bau ini?
Baunya benar-benar PARAH.
"…Benar-benar pekerjaan yang bagus."
"Yah, terima kasih." (Ruri)
Aku benar-benar berpikir bahwa yang dia bicarakan adalah tentang aku yang mengalahkan preman-preman tersebut. Tapi terbukti salah saat dia mulai menyentuh rambutku dengan tangannya.
Aku baru menyadari bahwa rambut pirangku yang tersembunyi di balik tudung kini tersingkap begitu saja saat aku secara tidak sengaja membiarkannya lepas saat dikejar preman-preman ini.
Ini benar-benar gawat.
Dalam pikiranku, kata-kata seperti perdagangan gelap manusia, perdagangan budak, pria mencurigakan di depanku, saling berkaitan. Sebuah rasa bahaya terus menerpaku tanpa henti.
Aku hampir dirampok. Tidak ada bukti pasti bahwa orang di depanku ini aman. Di sebuah gang tanpa kehadiran siapapun, sulit rasanya untuk mempercayai orang mencurigakan dengan hanya matanya saja yang terlihat.
"A-aku punya urusan mendesak, sampai jumpa!" (Ruri)
"Ah, tunggu…"
Aku tidak berhenti terhadap suara di belakangku. Meskipun dia tidak mengejarku, aku terus menjauh darinya. Pada dasarnya aku berlari.
* * *
Sementara itu, kita kembali ke Chelsea yang sudah mengucapkan salam perpisahannya dengan Ruri.
"Aku penasaran apa Ruri baik-baik saja…" (Chelsea)
Dia menghela napas kembali entah untuk ke berapa kalinya hari ini.
"Aku seharusnya pergi ke tempat Klaus bersama dia. Meskipun dia pintar, terkadang dia melakukan banyak hal yang malah membuktikan sebaliknya…" (Chelsea)
Meskipun itu adalah idenya sendiri untuk membiarkan Ruri pergi sendirian, kini dia malah menyesalinya.
Setelah tinggal bersama Ruri selama 2 tahun, dia menjadi mirip seperti ibu bagi gadis itu. Chelsea hanya punya anak-anak laki-laki di keluarganya, dan karena anak-anak ras naga memiliki tubuh yang kuat sejak lahir, mereka hidup dengan didikan liberal.
Dibandingkan dengan ras naga, Ruri lemah. Chelsea lebih merasa khawatir tentang Ruri daripada yang pernah dia rasakan untuk putera-puteranya. Meskipun para peri dengan kekuatan luar biasa bersama dengan Ruri, hal itu pun menambah kekhawatiran Chelsea tentang Ruri.
Sebenarnya, Chelsea tidak ingin Ruri meninggalkan rumah. Kalau Ruri ingin berpegang pada harapan tipis dapat kembali ke dunia asalnya, dia bisa membiarkan gadis itu menunggu untuk menyadarinya.
Jangka waktu usia ras naga itu panjang. Dan begitu pula Ruri yang memiliki kekuatan sihir yang luar biasa dalam dirinya dibandingkan dengan manusia pada umumnya. Ada banyak waktu baginya untuk menata pikirannya.
Tapi, situasinya tidak terlihat bagus mengingat informasi yang dikumpulkan cucunya, Joshua, mengenai Nadarsia.
Miko-sama yang dipanggil oleh Nadarsia mencari temannya. Dia meratapi kehilangan temannya yang diklaimnya telah diculik Kerajaan Naga. Nadarsia menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan memanfaatkan dia demi keuntungan mereka. Informasi terakhir yang didapat adalah Nadarsia menggunakan alasan 'demi menyelamatkan sahabatmu' untuk memanipulasi Miko-sama dan mempersiapkan perang melawan Kerajaan Naga.
"Nadarsia tidak pernah belajar…Meski begitu, si gadis Asahi itu…entah dia itu idiot atau terlalu mempercayai orang lain. Apa dia tidak menyadari masalah yang dia sebabkan pada orang-orang di sekelilingnya dengan melakukan apapun yang dia mau tanpa mempertimbangkan akibatnya? Apa dia sama sekali tidak tahu kalau dia sedang dimanfaatkan?" (Chelsea)
Entah dia buta terhadap sekelilingnya atau dia hanya percaya apa yang ingin dia percayai. Saat sahabatmu menghilang, bukankah seharusnya kau meragukan orang-orang di negara tempatmu berada sebelum menyalahkan orang lain?
Menurut laporan, Asahi benci belajar. Dia bahkan tidak mencoba untuk mempelajari negara Nadarsia atauapun Kerajaan Naga. Dia benar-benar dengan cepat yakin untuk menyatakan bahwa Kerajaan Naga adalah pihak yang jahat di sini. Karena Chelsea berhubungan dengan Kerajaan Naga, dia sudah jelas marah sekali.
Bagi orang luar seperti Chelsea, sudah jelas bahwa semua ini adalah karangan palsu Nadarsia. Bisa dibilang, Asahi adalah boneka yang sempurna bagi Nadarsia karena dia yakin segala sesuatu tanpa keraguan sedikit pun.
Chelsea sama sekali belum memberitahu Ruri tentang ini. Alasannya adalah karena Ruri tanpa diragukan lagi akan pergi sendiri ke Nadarsia untuk mengeluh dan mungkin saja menghujaninya dengan api dalam prosesnya.
Untuk mencegah hal tersebut, Chelsea membuat Rui mempelajari konsekuensi yang muncul akibat tindakannya. Juga untuk membiarkan gadis itu menentukan arah hidupnya dan melangkah maju di dunia ini. Bagaimanapun, kenyataan bahwa Nadarsia menjebak Kerajaan Naga atas penculikan Ruri telah terungkap. Akan lebih baik seperti itu supaya Ruri bertemu dengan Asahi.
Untuk membuatnya tahu seberapa besar pengaruh para peri di sekitarnya dan kekuatan sihir dalam dirinya di dunia ini, akan lebih baik mempertemukannya dengan orang-orang yang belum pernah dia temui. Entah itu rakyat jelata, politisi, atau orang-orang dengan niat terselubung, bertemu dengan mereka semua lebih menjelaskan semuanya daripada penjelasan sederhana dalam cakupan yang luas.
Jika bisa, Chelsea hanya ingin Ruri belajar untuk tidak bertindak berdasarkan perasaannya saja yang bisa menyebabkan para peri menjadi liar.
Tapi itu juga ada bahayanya sendiri…
"Aku sebaiknya memeriksa dia sesekali." (Chelsea)
Begitulah Chelsea yang sedang gundah gulana.

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 9 WN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.