03 Oktober 2018

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 11 WN Bahasa Indonesia



KUNJUNGAN RUMAH

Setelah kejadian dengan kedua preman itu dan pria yang mencurigakan, aku masuk ke dalam penginapan dan beristirahat sampai keesokan paginya.
Hari berikutnya, aku menuju ke rumah Klaus dan disambut dua pereman yang kutemui kemarin. Tidak seperti kota yang biasanya kudatangi, aku tidak kenal siapapun di ibu kota. Kemungkinan bertemu dengan orang yang sama dalam dua hari berturut-turut di ibu kota yang sibuk sangatlah tipis.
Akan tetapi, di sinilah mereka. Wajahku menjadi kaku saat mata kami bertemu.
"Ugh…" (Ruri)
"Hehehe, kebetulan sekali, nona muda."
"Kau melakukan banyak hal pada kami kemarin, ya 'kan?"
Senyum kedua pria itu membuatku merinding. Aku langsung berbalik dan lari.
Mengucapkan maaf yang tidak tulus pada orang-orang yang kutabrak saat berlari, meskipun berada dalam situasi yang sama seperti kemarin, aku tidak disangka bisa tenang.
Kali ini, aku memasuki sebuah gang tanpa orang di dalamnya dengan sengaja.
Seluruh jalan di depanku adalah sebuah jalan lurus. Akan tetapi, begitu aku mencapai belokan pada ujung jalanan…
"Aa? Ke mana dia menghilang?"
"Kita berada tepat di belakangnya selama ini. Tidak mungkin kita kehilangan jejaknya! Temukan dia!"
Pria-pria itu membuat keributan di jalan. Aku mengawasi situasinya dari balik sebuah kotak kecil.
(inigawatinigawatinigawat)
Aku mengenakan gelang pengubah wujud kucing begitu aku berbelok di sudut dan bersembunyi di balik beberapa kotak kayu.
Begitu aku memastikan suara-suara mereka menghilang, aku melompat ke atas kotak kayu dan menghela napas lega.
Berkat indera penciuman mereka yang tajam, demi-human dapat membedakan bau yang muncul dari manusia dan demi-human. Karena alasan itulah pria-pria tersebut mengejarku dengan mengetahui aku adalah manusia dari awal.
Aku menyimpang gelang di tempat yang mudah dijangkau untuk situasi seperti ini. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa seorang manusia akan berubah menjadi kucing dan bersembunyi di balik kotak kecil.
Sihir penyembunyi yang ditanamkan dalam gelang ini begitu kuat bahkan sampai demi-human pun dengan indera mereka yang tajam tidak dapat mengetahuinya. Lebih tepat dikatakan bahwa aku sebenarnya telah menjadi seekor 'kucing', (TL : Maksudnya tidak hanya sekedar ilusi, tapi 'benar-benar' menjadi kucing pada umumnya), Aku benar-benar bisa merasakan obsesi dari si penciptanya.
Berkat pengubah-kucing dari  penampilan luarku sampai ke baunya, aku dapat melindungi diriku sendiri begitu saja.
Ini adalah tekhnik yang kupikir untuk berjaga-jaga kalau aku berada dalam masalah meski bukan yang seperti kudapatkan barusan. Tidak kusangka aku akan menggunakannya secepat ini…
(Aku mungkin akan berpapasan dengan mereka lagi. Lebih baik aku menggunakan wujud kucing ini sebisa mungkin selama aku berada di ibu kota.)
Dengan pemikiran itu, aku melanjutkan perjalananku ke rumah Klaus dalam wujud kucing.
Dalam wujudku saat ini, aku tidak bisa menyembunyikan para peri seperti yang kulakukan dengan jubah. Jadi aku menyuruh mereka untuk mengikutiku dari jauh,
Saat tiba di rumah Klaus, alih-alih rumah standar yang bisa kau harapkan dari orang biasa, apa yang ada di depan mataku adalah sebuah kediaman yang sangat besar.
Dilihat lewat pintu depannya yang tebal, pintu masuk sebenarnya ke rumah ini sendiri bisa dilihat dari jauh. Sekilas, sulit untuk membayangkan seluruh struktur bagunan ini adalah rumah. Seberapa besar tempat ini sebenarnya…?
Aku sudah jelas tidak mengira hal ini karena yang kita bicarakan adalah putera Chelsea ada di sini. Chelsea yang sanggup mencukupi kebutuhannya sendiri itu yang hidup dengan tenang di hutan. Chelsea yang ITU.
Apa yang lebih mengejutkan lagi adalah macan yang berdiridi depan pintu tebal tersebut.
…Benar, berdiri di sana tanpa sedikit pun keraguan, seekor macan.
Macan yang ditutupi dengan rambut (TL : rasanya aneh sebenarnya karena dah kbiasa, tapi bulu untuk burung, bukan untuk mamalia…) berwarna coklat kekuningan itu bertubuh sangat besar dengan tapak yang terlihat tebal yang bisa dengan mudahnya mengirim siapapun terbang menjauh kalau terpukul.
Kalau bukan karena fakta dia mengenakan pakaian biasa dan sedang berdiri dengan kedua kakinya, seseorang bisa saja salah mengenalinya sebagai macan biasa. Mengecualikan sekumpulan kecil komunitas manusia hewan. Kebanyakan dari mereka sebenarnya sangatlah lembut. Siapapun yang tidak tahu itu akan lari begitu melihat macan tersebut.
Macan itu mungkin si penjaga gerbang.
Mengabaikan tatapan yang terarah padanya, aku mulai mendekatinya. Akan tetapi, aku kesulitan dengan penampilan kucingku saat ini. Baru saja realita bahwa aku tidak dapat kembali menjadi manusia terlintas olehku.
Adalah hal yang bagus bahwa aku dapat berubah menjadi kucing dan kembali ke wujud manusia adalah perkara mudah dengan melepaskan gelang yang telah berubah ukurannya sehingga begitu pas di pergelanganku. Inilah masalahnya : sepertinya aku tidak bisa melepaskannya sesegera mungkin dengan tapak kucingku yang kenyal.
Meskipun para peri adalah makhluk yang dapat melakukan kontak dengan benda-benda dunia fisik dan kekuatan sihi, aku tidak bisa meminta bantuan mereka sementara aku sedang berada di tengah jalan.
Kalau aku meminta bantuan dari para peri yang begitu-bersemangat-untuk-menyenangkanku, lupakan saja cuma satu, seluruh dari mereka akan keluar untuk mengerumuniku dalam sekejap.
Ada juga metode meminta si macan di depanku untuk membantu melepaskan gelang, tapi aku benar-benar tidak ingin melakukannya.
Aku tidak cukup berani untuk menjulurkan kaki kucingku yang terlihat lemah dan bahkan lebih kecil dari jari macan di depanku ini. Lengan besarnya mungkin saja bisa dengan mudah memecahkan batu.
Gelangku pasti akan pecah berkeping-keping…
Percakapan bisa dilakukan secara telepati, jadi aku tidak perlu terburu-buru kembali ke wujud manusiaku. Masalahnya adalah apakah tuan rumah setuju untuk bertemu dengan seekor kucing aneh.
(Aku sudah pasti menjauh dari individu yang aneh seperti itu. Seekor kucing yang bisa bicara…Hmm, tapi ada demi-human dari ras kucing, jadi sesuatu seperti kucing yang bisa bicara seharusnya bukanlah hal yang tidak biasa.)
Sementara aku melakukan monolog dalam hati, tapi kusadari, aku sudah berdiri di depan tujuanku tidak lama kemudian. Melihatku yang berdiri membeku di tempat, seorang peri yang khawatir mendekatiku. Mereka mungkin tahu kalau datang bergerombol bukanlah ide yang bagus, jadi hanya satu saja sebagai perwakilan.
Ruri, tidak masuk~?
Oh bukan, aku masuk. Aku hanya sedang asyik berpikir. Hei, gelangku. Bisakah kau… ah, ada yang keluar. (Ruri)
Karena si peri datang pada waktu tepat, aku berpikir memintanya melepaskan gelangku. Akan tetapi, sebelum itu terjadi, seseorang yang berpakaian rapi muncul dari balik pintu.
Si macan  penjaga gerbang membungkuk hormat dan menyapa orang tersebut. Aku tidak yakin apakah dia si pemilij rumah, tapi dia sudah pasti adalah penghuni rumah ini.
Dia memiliki rambut yang berwarna merah menyala dan mata berwarna kuning cerah. Dari kesan penampilannya yang terlihat cerdas, kurasa dia berumur sekitar 30 tahun. Akan tetapi, penampilan bisa menipu bagi demi-human. Jadi sebenarnya, dia kemungkinan jauh lebih muda atau lebih tua daripada itu.
Saat aku pertama kali melihat orang ini, aku entah bagaimana secara naluriah tahu bahwa dia adalah putera Chelsea, meskipun penampilannya tidak seperti Chelsea.
Sambil memikirkan kenapa aku bisa berpikiran begitu, sadar bahwa pandangan kami bertemu, pria itu berjalan ke arahku.
"Benar-benar kombinasi yang langka, sesosok peri dan seekor kucing. Apa yang kau lakukan di sini?"
Karena dia mengarahkan tatapannya yang penasaran pada si peri, aku menyela.
Ah, sayalah yang di sini untuk bertemu dengan Anda. (Ruri)
Awalnya, pria itu terlihat sedikit kaget saat aku secara telepati menjawabnya. Namun, dia dengan cepat tersenyum dan bersikap seperti sedang berbicara dengan anak kecil dengan berlutut menyamai tinggiku dan berkonsentrasi padaku. Seperti yang kuduga, meskipun cukup tidak biasa untuk seekor kucing dapat mengungkapkan apa yang dia pikirkan di dunia ini, hal tersebut bukanlah sesuatu yang akan menyebabkan kehebohan atau semacamnya.
"Apa kau di sini karena perlu sesuatu?"
Apakah Anda putera Chelsea, Klaus? Nama saya Ruri. Saya diminta untuk mengantarkan barang oleh Chelsea-san, itulah alasan kunjungan saya har ini. (Ruri)
"Ahh, ya. Aku Klaus. Jadi kau adalah Ruri? Memang benar ibuku mengatakan bahwa di akan mengirimkan bantuan…" (Klaus)
Klaus menatap ragu.
Untuk membuktikan bahwa aku mengatakan yang sebenarnya, aku membuka ruang dimensiku di depan Klaus. Sebuah surat jatuh dari torehan, yang lansgung ditangkap Claus dan dia pun yakin dengan identitasku setelah melihat tulisan tangan ibunya di bagian depan surat itu.
"Ini memang tulisan tangan ibuku. Aku minta maaf atas ketidaksopananku. Kau dipersilahkan untuk memasuki rumahku." (Klaus)
Sebelumnya, aku benar-benar ingin gelangku dilepas. Tetapi, karena aku lagi-lagi kehilangan kesempatan untuk melakukannya lagi, aku mengikuti Klaus dari belakang dalam wujud kucingku.
Aku kesulitan menentukan di mana aku duduk setelah memasuki ruangan, tapi Klaus dengan baik hati menunjuk pada sebuah sofa besar yang kemudian aku pun melompat naik untuk duduk di tengah-tengahnya.
Tidak lama kemudian, seseorang yang kutebak bekerja sebagai pelayan di rumah ini, muncul dengan sebuah piring. Dia menaruh piring tersebut pada meja di depanku dan langsung menuangkan susu ke atasnya. Benar…
Aku menyesal tidak kembali ke wujud manusiaku saat aku punya kesempatan.
Sementara itu, Klaus membaca isi surat yang kuberikan padanya dengan wajah berkerut. Setelah beberapa saat, dia mengusap pelipisnya dan menghela napas sambil melihatku.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" (Klaus)
Ya, silakan. (Ruri)
"Sudah berapa lama kau mengenal ibuku?" (Klaus)
Sudah 2 tahun, kira-kira begitu. (Ruri
Setelah itu, dia kembali menanyaiku beberapa hal yang kujawab dengan jujur. Kebanyakan pertanyaan itu berkaitan dengan kehidupan di hutan dan kondisi Chelsea secara garis besarnya. Di tengah jalan, aku menyerahkan tanaman obat yang Chelsea minta padaku untuk diberikan padanya.
"Yang terakhir, dalam surat ibuku, dia mengatakan bahwa kekuatan sihirmu menarik para peri. Tapi hanya ada satu peri di sebelahmu…"
Oh, saya meminta yang lainnya untuk menjauh dari saya. Jika mereka terlalu banyak berkerumun di sekitar saya sementara saya ada di jalan, akan ada keributan besar. Saya bisa memanggil mereka kemari jika Anda mau. (Ruri)
Mengecualikan peri yang sedang bersamaku saat ini, aku dapat merasakan keberadaan para peri lainnya yang gelisah untuk mengetahui apakah sudah giliran mereka untuk berada di sisiku atau tidak dari luar jendela.
Karena Klaus juga tertarik, aku memberi tanda setuju pada para peri setelah menerima izin darinya. Kemudian, para peri datang mengalir ke ruangan itu satu demi satu, memenuhi ruangan itu dalam sekejap.
Saat melihat pasukan peri yang memenuhi rumahnya, Klaus menegakkan tubuhnya dengan terkejut dan terpana. Sedangkan aku, karena aku tidak mengira akan ada sebanyak ini yang berkumpul di sini, aku menyunggingkan senyum pura-pura yang aneh yang menyebabkan mulutku berkedut tak terkendali. Kumis kucingku bergerak-gerak sendiri begitu saja, naik dan turun, naik dan turun.
Selain para peri biasanya yang mengikutiku dari hutan, sepertinya para peri yang asli berasal dari Ibu Kota juga ikut serta dalam kumpulan peri pengikutku. Kekacauan pun terjadi.
Wah, jadi gadis ini Ruri? Senang bertemu denganmu.
Itu kucing putih~
Dia lebih kecil daripada yang diceritakan, ya?
Kekuatan sihirnya sangat nyaman~
Karena para peri mengungkapkan pendapat mereka secara bersama-sama, suasananya menjadi sangat berisik. Dan karena mereka secara telepati mengirimkan pikiran mereka, tindakanku menutup telinga tidak membantu sama sekali.
Saat aku menutupi kedua telinga dengan tapak kakiku, aku bisa melihat Klaus melakukan hal yang sama sepertiku dengan kedua tangannya. Meskipun kami tahu bahwa tindakan ini sama sekali tak berguna, kami tetap saja melakukannya.
Semuanya, berhenti, BERHENTI~‼ Kepalaku terbelaaaaahhh. (Ruri)
Setelah mengatakannya beberapa kali, para peri akhirnya menjadi tenang. Akan jadi hal yang buruk kalau sampai terjadi lagi, jadi aku meminta para peri dari ibu kota untuk meninggalkan ruangan dan hanya mereka yang menemaniku dari hutan yang tetap tinggal.
Setelah aku dan Klaus sama-sama menghela napas lega, kami melanjutkan percakapan kami.
"Para peri memang tertarik pada kekuatan sihirmu." (Klaus)
Setelah menerima kenyataan di hadapannya, Klaus terdiam sejenak untuk berpikir. Dia kemudian melanjutkan pembicaraan dengan wajah serius.
"Kalau begitu, aku tidak dapat menjagamu di sini." (Klaus)
Aku sudah sangat siap untuk menjadikan tempat ini sebagai rumahku selama kunjunganku di sini. Begitu mendengar jawaban penolakan dari Klaus, aku mau tidak mau menanyakan alasannya.
Eh? Kenapa begitu? (Ruri)
Awalnya, kupikir alasannya adalah karena peri yang setengah-menyiksanya dengan rentetan pertanyaan beberapa saat yang lalu. Tapi Klaus berkata bahwa bukan begitu alasannya.
"Aku yakin kau pernah mendengar ini dari ibuku, tapi keberadaanmu adalah sesuatu yang sangat langka. Itu berlaku baik di Kerajaan Naga atau di negara manapun. Keamanan di tempat ini sangatlah kurang… Tempat yang lebih baik adalah istana." (Klaus)
Saya rasa tidak perlu sampai sejauh itu menurut saya… (Ruri)
Kita sedang membicarakan istana tempat Raja Naga tinggal. Hanya dengan memikirkan tinggal di kediaman yang begitu luas ini saja sudah cukup membuatku kewalahan. Aku sudah pasti tidak akan bisa santai sama sekali kalau tinggal di istana kerajaan.
"Tidak. Jika itu menurut pendapat saya, itu pun tidak akan cukup. Memikirkan bahwa apapun dapat terjadi padamu adalah sesuatu yang tidak berani kupikirkan. Aku akan pergi dulu ke istana kerajaan untuk meminta ijin dari Yang Mulia. Aku akan kembali sesegera mungkin, jadi tolong jangan tinggalkan rumah ini bagaimanapun juga!" (Klaus)
Bahkan tanpa menunggu jawabanku, Klaus meninggalkan rumah dengan terburu-buru.
Ah, sebelum itu, bisakah Anda membantu saya dengan gelang…
Suara pintu yang tertutup mengakhiri kalimatku.
(Apa yang harus kulakukan…)

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 11 WN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.