01 Oktober 2018

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 10 WN Bahasa Indonesia



SANG RAJA NAGA

Di dunia di mana Ruri dipanggil ke dalamnya, terdapat sebuah benua yang sangat besar.
Di benua ini, ada begitu banyak negara di sana dan di sini. Di antara negara-negara itu, ada empat negara besar :
Kerajaan Naga, dipimpin oleh demi-human ras naga;
Kerajaan Hewan Buas, dipimpin oleh manusia hewan dari suku singa;
Kerajaan Roh, dipimpin oleh Kirin (Unicorn Jepang)
Dan yang terakhir, Kekaisaran terkuat dari semua negara yang saat ini dipimpin oleh Manusia.
Jika keempat negara besar ini mengobarkan perang, benua ini sudah pasti akan berada dalam kondisi hancur lebur. Untuk mencegah hal tersebut, sebuah aliansi dibentuk oleh mereka sejak dulu.
Kerajaan Naga saat ini adalah tempat yang damai di mana manusia dan demi-human hidup berdampingan. Di masa lalu, demi-human diperlakukan sebagai budah, dan hanya setelah kedatangan orang-orang dari ras naga barulah mereka dilepaskan. Dan dengan demikian terbentuklah Kerajaan Naga.
Meskipun demi-human lebih unggul dalam kemampuan dan kekuatan sihir saat dibandingkan dengan manusia, mereka hanya berkumpul dalam grup-grup kecil dan cenderung tidak terlibat dengan suku lainnya. Alasan dari cara hidup komunitas tertutup mereka adalah karena mereka memprioritaskan kebudayaan dari suku mereka sendiri, yang kebetulan menjadi alasan kejatuhan mereka.
Tidak peduli seberapa hebat atau kuat seseorang, saat dihadapkan dengan kuantitas, tidak ada kesempatan untuk menang. Beberapa terbunuh, yang lain menjadi budak, dan ada yang lebih memilih kematian daripada perbudakan.
Sebagian yang bisa melarikan diri, mencari bantuan dari ras yang paling bijak dan kuat di dunia, Ras Naga.
Tetua dari ras naga saat itu murka dengan perbuatan jahat ras manusia yang terus meningkat populasinya dan maju untuk membebaskan para budak lalu menciptakan sebuah negara yang bisa menampung mereka.
Tetua ras naga atau sang raja pertama tersebut ingin menciptakan sebuah tempat di mana manusia dan demi-human dapat hidup bersama dalam damai dan secara aktif memberikan tempat perlindungan bagi mereka yang tidak memiliki rumah, yang kemudian menjadi Kerajaan Naga saat ini.
Generasi demi generasi, hanya yang terkuat dari ras naga yang mengatur negara.
Dengan kekuatan dan status yang diakui sejak usia muda, raja naga saat ini dalam usia siap menikah. Akan tetapi, meskipun menerima tawaran tidak hanya dari negaranya sendiri, bahkan sampai dari negara tetangga, dia masih melajang dan tidak berniat menikah.
Orang-orang mulai merasa khawatir tentang raja naga yang bahkan tidak memiliki seorang pun wanita di sisinya.
Hari ini, Klaus tersenyum getir saat melihat Agete memasuki ruang kerja raja sambil memegang sebuah berkas berisi foto para calon istri yang telah melalui proses pemilihan ketat.
"Banyak sekali, Agete-dono." (Klaus)
"Aku harus membuat Yang Mulia melihat ini semua hari ini. Kalau ada kandidat sebanyak ini, pasti setidaknya ada satu yang menarik perhatiannya. Bantu aku, Klaus.' (Agete)
Klaus mengikuti perintah Agete dan mulai menyusun foto-foto itu di meja sambil berharap bahwa kali ini hasilnya akan muncul.
"…Ngomong-ngomong, di mana Yang Mulia?" (Klaus)
"Beliau pergi ke luar istana." (Agete)
"Lagi? Kalau sudah begini, sebaiknya seseorang membawa dia pulang…" (Klaus)
"Itu…akan sulit." (Agete)
"Seandainya Yang Mulia bersikap sama seperti Raja Hewan Buas. Dari yang kudengar, dia mengambil istri yang ke-19 bulan lalu." (Klaus)
"Bukannya itu sedikit berlebihan…?" (Agete)
"Itu benar. Setiap kali dia mengambil istri baru, kita harus mengirim hadiah ucapan selamat. Tidak hanya menghabiskan uang kita, kita juga harus memikirkan supaya hadiah-hadiahnya tidak sama dengan hadiah yang kita berikan sebelumnya. Orang-orang dari departemen perbendaharaan dan hubungan luar negeri sudah marah-marah di belakang kita." (Klaus)
Saat pembicaraan itulah pintu terbuka perlahan dan dua orang berjalan masuk.
Klaus dan Agete membungkuk memberikan salam hormat pada orang yang berjalan masuk pertama kali.
"Selamat datang, Yang Mulia."
"Aaa"
Setelah mengangguk sekilas, sang Raja Naga memperlihatkan ekspresi tidak senang saat dia melihat tumpukan foto di mejanya.
"Apa itu?" (Raja Naga)
"Itu adalah kandidat mempelai wanita untuk Anda, Yang Mulia. Tidak masalah jika ada beberapa pilihan yang menarik perhatianmu. Tidak peduli garis keturunannya, penampilan atau kekuatan sihirnya, siapapun yang Yang Mulia pilih bisa menjadi Ratu Anda." (Agete)
Raja Naga melirik sekilas Agete dan menaruh tangannya pada foto-foto tersebut. Setelah itu, api pun muncul dan membakar semua foto itu menjadi abu yang kemudian tertiup keluar jendela, menghilang tanpa jejak.
"Aaaaa! Apa yang Anda lakukan?! Para kandidat yang sudah saya susah payah pilihkan sepanjang malam…!" (Agete)
"Sudah kubilang kalau aku tidak membutuhkan itu semua, bukan begitu? Selain itu, seorang raja naga ditetapkan berdasarkan kekuatannya, jadi tidak perlu memaksaku untuk menemukan seorang pasangan." (Raja Naga)
"Sekalipun Anda berkata demikian, sudah menjadi fakta bahwa yang kuat akan melahirkan anak-anak yang kuat. Kalau Anda tidak menyukainya, maka bawalah pasangan Anda sendiri. Anda juga tidak punya meski begitu!" (Agete)
"… …" (Raja Naga)
Agete merasa yakin bahwa Raja Naga tidak tertarik pada siapa pun saat ini. Tapi kebungkamannya membuat dia dan Klaus terkejut.
"…Apa sebenarnya ada seseorang yang Anda pikirkan?" (Agete)
"…Aku tidak akan menyebutnya 'pasangan'. Tapi aku ingin bisa mengobrol dengannya." (Raja Naga)
Raja Naga tidak sepenuhnya menyangkal kemungkinan bahwa dia memiliki ketertarikan terhadap wanita yang dia bicarakan. Mendengarnya, wajah Agete begitu antusias.
"Ya ampun! Benar-benar sebuah berita yang menggembirakan! Dia mana dia sekarang? Apa rasnya? Bagaimana dengan tingkat kekuatan sihirnya? Orang seperti apa dia?!" (Agete)
"Tolong tenang dulu, Agete-dono. Apa kau tahu sesuatu tentang ini, Finn?" (Klaus)
Sambil mengkhawatirkan naga tua yang sedang bersemangat tinggi di sebelahnya, Klaus menanyakan pria yang selama ini tidak bicara sementara berdiri di dekat pintu masuk. Jika itu Finn yang melayani sebagai pengawal Raja Naga, dia mungkin tahu sesuatu tentang ini.
Tapi Finn hanya melipat lengannya dan memiringkan kepala.
"Bahkan sampai Finn pun tidak tahu siapa orang ini… Siapa sebenarnya wanita ini?!" (Agete)
"Tidak tahu." (Finn)
"…HAH?!" (Agete)
"Seperti yang saya katakan, saya tidak tahu." (Finn)
Finn berbicara tentang peristiwa yang berlangsung di gang belakang. Tentang mengikuti seorang gadis yang dalam kesulitan, para preman yang dia kalahkan, dan bantuan yang ditawarkan Raja Naga.
"Pada saat itu, mereka hanya bertukar kata sebentar, jadi namanya tidak diketahui. Tapi rambut pirangnya sangat indah…" (Finn)
 Raja Naga menatapi tangannya. Kelembutan rambut sehalus sutera dari gadis yang dia temui di gang itu yang dia sentuh tanpa sadar, kembali melintas di pikirannya.
"Hou~ Itu warna yang langka. Kerja bagus, Yang Mulia." (Agete)
Merasakan sesuatu, Agete mulai tersenyum. Dia menoleh dan menunjuk Finn.
"Hei, Finn. Kerahkan tentara naga dan tangkap gadis berambut pirang itu…maafkan saya, 'sambut' dia ke istana! Kita tidak boleh bersikap tidak sopan pada Ratu kita di masa depan ‼" (Agete)
"Tunggu, tunggu sebentar! Aku tidak pernah mengatakan apapun kalau aku tertarik dengan wanita itu!" (Raja Naga)
Raja Naga panik melihat reaksi Agete. Agete sendiri begitu bertekad untuk menyambut orang yang dia sebut-sebut 'ratu di masa depan' itu ke istana.
"Oh, jangan khawatir soal itu. Yang Mulia baru saja berkata bahwa Anda ingin 'mengobrol' dengannya. Tidak ada yang salah untuk tertarik dengan seorang wanita. Itu berarti Anda memiliki ketertarikan dengannya. Kita, para ras naga, adalah makhluk semacam itu. Itu mengingatkan saya dengan masa lalu saya~" (Agete)
Saat semuanya seakan telah berjalan sesuai perkataan Agete, Raja Naga hanya bisa memegangi kepalanya yang sakit.
Memang benar dia tertarik dengan gadis dengan rambut warna langka itu. Tapi dia tidak ada rencana untuk melakukan apapun saat ini.
"Tolong, apapun selain mengerahkan kesatria naga." (Raja Naga)
Jika orang-orang sampai tahu bahwa kesatria naga dikerahkan untuk mencari seorang gadis hanya karena sekedar minatnya terhadap gadis itu, orang-orang akan berpikir aneh tentang dia.
Raja Naga melihat Klaus untuk meminta bantuannya terhadap situasi ini.
"Kalau begitu, mari panggil Joshua untuk kembali. Pengamatan terhadap Nadarsia tidak diperlukan lagi. Bahkan tanpa menggunakan kesatria naga, kalau orang itu memiliki warna rambut yang langka, dia akan ditemukan dengan mudah, Agete-dono." (Klaus)
"Kurasa itu benar." (Agete)
Dengan Agete yang setuju terhadap usulan itu, Raja Naga menghela napas lega. Sementara itu, di waktu yang sama, pemikiran bahwa dia mungkin akan dapat bertemu dengan gadis itu lagi, memberinya perasaan bahagia yang hangat dalam dirinya.

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 10 WN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.