Selasa, 16 Oktober 2018

New Hell In Another World Chapter IV Ori LN



BAB IV

( Author : Fathansy )


Pertandingan babak kedua akan segera dimulai, tim yang akan bertanding di babak kedua adalah, tim B yaitu timku yang akan melawan tim C.

Di tim C sendiri yang menjadi pemimpinnya adalah teman yang sepertinya dekat dengan Arvie. Namanya adalah Zio, dia adalah lelaki dengan rambut berwarna hitam, berponi datar, dan memiliki mata berwarna merah yang mencolok. Aku kemarin banyak berbicara dengannya saat jam makan siang.  Dari caranya berbicara padaku kelihatanmya dia benar-benar dekat sekali dengan Arvie.

Aku sekarang sedang berkumpul dengan anggota timku di hutan yang sama dengan yang sebelumnya dipakai untuk melaksanakan pertandingan pertama. Timku berada di hutan area selatan sedangkan tim C berada di area utara.

Anggota tim B terdiri dari 5 orang termasuk diriku sebagai pemimpinnya. Anggota tim B nomor 1 adalah Nova, sepupuku sendiri. Anggota tim B nomor 2 adalah seorang lelaki dengan rambut bob, bernama Burt. Anggota tim B nomor 3 adalah seorang perempuan dengan rambutnya yang benar-benar pendek, bernama Pina. Dan anggota tim B nomor 4 atau yang terakhir adalah seorang lelaki dengan rambut gundul, bernama Giza.

Burt membuka mulutnya lebar-lebar dengan tampang malasnya yang ia pertunjukan padaku dengan sengaja, “Jadi, Jendral Arvie, kau pasti sudah punya rencana atau taktik kan? Kerja sama tim sangat diperlukan di sini karena semua orang sedang menonton kita. Aku harap kau tidak menghabisi seluruh anggotam tim lawan dengan cepat sendirian, seperti yang kau lakukan tahun lalu.”

Hah? Arvie pernah melakukan hal semacam itu? Jangan bilang sebenarnya Arvie itu orang yang egois dan sombong. Aku mencoba memberikan senyuman terbaikku pada Burt seraya membalas, “Tidak usah khawatir, aku punya tugas untuk kalian semua.”

Aku sedikit mengehela napasku sebelum melanjutkan pembicaraan.

“Dengar, tim lawan sendiri pasti punya strategi yang mereka rencanakan untuk menyerang kita dan kita tidak tahu seperti apa strategi yang mereka rencanakan. Satu-satunya jalan termudah untuk mengetahui rencana mereka adalah seperti yang dilakukan tim A sebelumnya, menyandra sang pemimpin lawan. Tapi aku tidak akan melakukan hal semacam itu.”

“Jadi, bagaimana caranya agar kita mengetahui rencana tim lawan?” tanya Giza.

“Tidak, kita tidak akan repot-repot mencari tahu rencana yang dimiliki tim lawan. Aku mempunyai strategi yang sangat normal dan mulus. Jika masing-masing dari kalian sembarangan menyerang anggota lawan yang tidak sengaja kalian temui, bisa saja orang itu memilki kemampuan yang lebih lihai dari pada kalian dan membuat kalian keluar dari pertandingan hanya dalam sekali tembak. Jadi, sampai sini kalian mengerti maksudku, kan?”

“Ah, maksudmu, dari pada menyerang sembarang lawan lebih baik kita memasang target dan melawan orang yang sepadan atau malah lebih lemah dari pada kita?” saut Pina.

“Benar, jika kalian bertemu lawan yang bukan target kalian lebih baik kalian cepat-cepat kabur.”

“Tapi, bagaimana caranya kita mengetahui lawan yang tepat untuk kita lawan?” bingung Nova.

“Itu mudah, aku tidak ingin bersikap rasis atau bagaimana. Tapi urutan nomor anggota diurut berdasarkan jabatan bukan? Jadi aku ingin coba mengetes terlebih dahulu. Pina dan Giza, coba masing-masing dari kalian menghadap satu sama lain.”

Pina dan Giza mengikuti perintahku. “Aku ingin kalian saling menembak satu sama lain, dibagian lutut. Kita lihat siapa yang lebih cepat. Aku mulai hitung mundur, tiga, dua, satu!”

Suara semprotan air terdengar, masing-masing dari bagian lutut mereka basah terkena air. Hasilnya seperti yang sudah kuduga. “Nova, Burt, menurut kalian siapa yang lebih cepat menekan pelatuknya?”

“Pina.” jawab Nova dan Burt bersamaan.

“Aku juga sependapat. Walaupun Pina perempuan tapi dia memilki reflek yang lebih cepat dibanding dengan Giza, karena jabatan Pina berada satu pangkat di atas Giza. Dan hal yang utama dalam penentuan jabatan adalah nilai dari kemampuan bertarung atau nilai praktek. Jadi mudah saja, kalian hanya perlu memasang target pada lawan yang memilki nomor urut yang sama dengan kalian.”

Nova menatapku dengan semangat, “Kalau begitu, jika kita tidak sengaja bertemu dengan lawan yang nomor urutnya lebih rendah dari pada kita kita bisa melawannya—”

“—Tidak,” potongku, “fokus saja pada targetmu. Kau baru boleh membidik lawan lain jika kau sudah menjatuhkan targetmu sendiri. Mengerti?”

“Siap, dimengerti!” jawab mereka serentak.

“Dan aku masih punya strategi tambahan jika misalkan ada salah satu dari kalian yang gagal kabur dari lawan yang bukan target kalian.”

Aku mulai menjelaskan strategi tambahanku pada mereka.


***


Sudah satu menit berlalu semenjak aku berpencar dengan anggota timku. Sekarang aku sedang berada di tengah-tengah area dari hutan, spot yang tidak terekam oleh kamera. Aku hanya berdiam diri saja di sini.

Orang-orang yang sedang menonton pasti kebingungan kenapa mereka sama sekali tidak melihatku di layar. Sebenarnya aku juga ingin cepat-cepat beraksi tapi sayangnya aku tidak bisa.

Strategi tambahan yang aku bahas dengan mereka sebelum berpencar. Karena masing-masing dari anggotaku harus melawan lawan yang sepadan, berarti targetku adalah pemimpin tim C.

Tapi, aku tidak bisa melawan pemimpin tim C sekarang, jelas jika aku menembaknya di awal pertandingan maka pertandingan otomatis selesai dan timku tidak akan mendapat nilai tambahan karena tidak berhasil mengalahkan bawahan tim lawan.

Jadi sampai mereka berhasil mengalahkan targetnya, aku hanya akan menjadi pendukung mereka. Jika ada yang tidak berhasil kabur dari lawan yang bukan targetnya atau jika ada yang kesusahan melawan targetnya, salah satu dari mereka akan menghubungiku dan aku akan segera membantunya.

Aku mendengar pergerakan dari arah kiriku. Aku cepat-cepat memanjat pohon yang ada di dekatku. Seseorang berlari melewati pohon yang aku panjati, dia adalah tim C nomor urut 3, seorang lelaki. Padahal harusnya aku bisa saja melawannya, tapi tugasku di sini sekarang hanya sebagai pendukung.

Aku menghubungi Pina yang sama-sama memiliki nomor urut 3 dengan anggota lawan yang melewatiku.

“Pina, targetmu baru saja melewatiku, dia menuju ke arah barat. Karena aku berada di tengah-tengah area hutan, kau tahu kan berarti posisinya sekarang menuju ke mana?”

Pina membalas, “Iya, aku mengerti. Terima kasih, Jendral. Sebenarnya aku sedang dekat dengan posisimu berada. Bisa bantu aku mengalahkannya? Dia jago sekali dalam hal melarikan diri. Aku tidak ingin kehilangan mangsaku lagi.”

“Oke.”

Aku melompat dari atas pohon seraya berlari secara terang-terangan mengejar target Pina. Menyadari diriku yang sedang mengerjarnya, dia berusaha sekuat tenaga untuk lari lebih cepat.

Semprotan dari tembakan air secara tiba-tiba mengenai wajahnya. Pina muncul dari balik pohon tepat di depan targetnya.

“Ah! Meleset!” kesal Pina.

Sedikit menjaga jarak dari Pina, target Pina memberi tembakan balasan. Pina menghindar ke samping dengan lincah. “Hahaha! Sayang sekali—”

Suara benturan terdengar cukup keras. Sebelum Pina bisa menyelesaikan kalimatnya, kepalanya terbentur mengenai pohon saat ia menghindar ke samping hingga ia terjatuh.

“Haah...” gumamku.

Target Pina mengarahkan pistolnya pada Pina yang masih jatuh terduduk. Aku cepat-cepat menendang pistol yang ada di tangannya. Raut mukanya terlihat terkejut dengan tendanganku yang tiba-tiba dan tepat sasaran.

Jantungku ... mulai berdegup, tapi ini bukan karena sesuatu yang buruk. Kenapa ini, rasanya saat aku bisa menendang pistol yang ada tangannya dengan lincah dan tepat, rasanya ... menyenangkan.

Target Pina cepat-cepat kabur, meninggalkan pistolnya yang terlempar jauh di belakangku.
“Jendral, maaf, kepalaku sedikit pusing. Habisi saja dia secepat mungkin, jangan sampai dia kabur lagi. Tidak usah pedulikan bawahanmu yang bodoh ini.”

Aku mengangguk sambil memandanginya, lalu dengan cepat mengejar target Pina yang sekarang menjadi incaranku. Walaupun kubiarkan dia berlari lebih dulu dari pada diriku, rasanya aku bisa mengejarnya dengan mudah. Memang hebat fisik seorang Jendral.

Menyadari diriku yang sebentar lagi dapat menysulnya. Dia menggaruk tanah dan melemparkannya pada wajahku. Mataku sedikit pedih dan aku merasakan ada kerikil kecil yang masuk pada mataku.

“Sialan.”

Dia sepertinya akan melakukan hal yang sama lagi untuk menghambatku. Aku berusaha untuk berlari dua kali lipat lebih cepat dengan mataku yang pedih terkena angin. Sampai di belakangnya, aku dengan kencang menendang kakinya hingga ia tejatuh dengan posisi tergeletak. “ARGH!”

Aku mengarhakan pistol airku pada dadanya. Aku bisa mendengar, seseorang sedang mencoba menerkamku dari belakang. Aku menghindar kesamping seraya anggota tim C yang lain muncul dari belakangku dengan tangannya yang seperti sedang menyergap seseorang . “Eh?” bingungannya.

“Sedang apa kau, memeluk udara?” tanyaku datar.

Hebat sekali, mata, pendengaran, kelincahan, kekuatan dan reflek tubuh Arvie semuanya sangat sempurna. Benar-benar sangat jauh berbeda, bahkan mungkin 1000 kali lipat jauh berbeda dengan kondisi fisikku di dunia sialan itu.

Anggota tim C yang baru datang adalah target Burt yaitu anggota tim C nomor 2, seorang laki-laki. “Hmm...?” Tunggu, jika aku perhatikan baik-baik, dia adalah orang yang menindas anak kafetaria yang meyelinap masuk ke asrama, kan? Jujur aku tidak suka orang seperti dia. Rasanya dia mengingatkanku pada tipe orang yang sering menindasku di dunia asalku.
Dia dengan sigap mengarahkan pistolnya ke arahku. Saat aku ingin menhindar, incaran Pina yang tadi tergeletak sudah berdiri dan berada di sampingku.

Entah mengapa dengan sendirinya aku menyeringai setelah mendapatkan sebuah ide. Incaran Pina kelihatannya akan mendekapku agar tidak kabur ke mana-mana, aku biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan.

Sekarang aku berada di dekapannya, bertingkah seperti orang yang tidak berdaya. Incaran Burt yang mengarahkan pistolnya pada dadaku mulai tertawa geli sambil melihatiku. “Gahahaha! Jendral macam apa yang tidak menyadari seseorang sedang mencoba mendekapnya dari belakang. Maaf, Jendral, kau sudah tamat.”

Di saat ia menekan pelatuknya. Aku dengan cepat melepaskan dekapannya dari badanku seraya merunduk.

Senapan air itu mengenai dada orang yang mendekapku. Anggota tim C nomor 3 keluar dari pertandingan. Dia pergi dengan langkahnya yang berat, sepertinya dia tidak terima karena kekalahannya lumayan memalukan.

Aku menatap dingin orang yang baru saja menertawakan dan meremehkanku, “Kenapa kau menembak anggotamu sendiri? Kau ini bodoh, yah?”

Eh... sepertinya, aku bicara sesuatu yang bukan diriku biasa katakan. Tapi, rasanya menyenangkan.

Setelah mendengar cemoohanku, dia langsung asal menembak ke arahku. Kakiku langsung reflek ingin menendap pistolnya, namun hebatnya dia mengangkat tangannya ke atas seperti sudah tau pergerakanku.

Walaupun aku terkagum dengan kemampuannya yang bisa membaca gerakanku, sepertinya dia tidak sadar kalau kelamahannya sekarang malah terbuka lebar karena kedua tangannya di angkat keatas. Tidak jadi menandang pistol yang ada di tangannya, aku langsung menendangnya di bagian dada.

Dia terpental kebelakang lumayan jauh dari perkiraanku dan terbentur mengenai pohon hingga jatuh tergeletak.

“Maaf, aku tidak bermaksud menendangmu sampai sekuat itu. Mungkin itu karma untukmu karena sebelumnya kau tertawa geli sambil meremehkan kemampuanku. Asalkan tidak terjadi luka yang parah, serangan fisik masih diperbolehkan, kan, yah...?”

Aku berjalan mendekatinya yang tergeletak tidak berdaya.

Rasanya menyenangkan.

“Kau tidak mau bertarung lagi?”

Kalau saja aku bisa membawa tubuh ini ke duniaku yang sebelumnya.

“Tiada ada jawabah, kah...”

Aku akan menghajar orang-orang yang menindasku layaknya seorang raja.

“Kalau begitu,”

Lalu membuat mereka menjadi bawahanku yang patuh.

“Sampai jumpa.”

Di saat aku ingin menembaknya, seseorang dari belakang berlari ke arahku. Aku dengan  cepat mengalihkan pandanganku kebelakang dengan wajah penuh emosi, dan siap untuk menembakan senapanku padanya. Sampai aku sadar orang yang sedang berada di belakangku adalah anggota timku sendiri, Burt.

“Jendral, kau tidak apa-apa?  Kau terlihat tegang sekali.”

“Eh? Ah? Iya ... maaf.”

“Kenapa kau meminta maaf padaku. Ngomong-ngomong yang di belakangmu itu, itu bukannya incaranku, yah? Kenapa kau tidak memberitahuku lokasinya? Bukannya rencanamu adalah memberitahu kami di mana lokasi target kami berada?”

“Itu ... aku, terbawa suasana. Dia sudah lumpuh, kau bisa langsung menembaknya.”

Tanpa ingin berkata-kata lagi, aku berjalan menuju pepohonan yang lebat, meninggalkan Burt sendirian dengan lawannya.


***


Kebisingan langsung terdengar di telingaku. “Jendral Arvie, di sini Nova. Aku butuh bantuanmu untuk mengalahkan targetku. Kakiku terkilir karena perangkap sialannya. Aku berada di posisi timur dari tempat area tengah hutan atau posmu, sekarang aku sedang berusaha sekuat tenaga berlari menuju ke tempatmu.”

“Baik, aku mengerti.” balasku.

Dengan perasaanku yang masih tercampur aduk, aku mulai berlari menuju posisi di mana Nova berada dengan sekuat tenaga setelah mendengar kakinya terkilir. Aku mulai melihat siluet Nova dari kejauhan yang berlari menuju ke arahku. Dan aku bisa melihat lawannya yang sedang berlari mengejarnya.

benar berada di belakangnya dan siap untuk menerkam Nova.

“Menunduk!” teriakku.

Nova langsung menunduk seraya aku menembakan pistol airku. Lawan Nova langasung melompat ke samping dengan cepat, sudah jelas karena aku berteriak terang-terangan seperti itu. Aku membidiknya bukan untuk mengalahkannya melainkan agar Nova punya waktu lebih untuk berlari.

Nova yang terlu berlari dengan kakinya yang pincang sudah benar-benar hampir berada di depanku. “Kau masih sanggup melawannya?” tanyaku.

“Iya! Tolong bantu aku dan beri aku kesempatan untuk memperlihatkan kehebatanku, Jendral!”

“Baik.”

Karena musuh tidak tahu bahwa yang akan melawannya hanyalah Nova saja. Aku akan bertingkah seakan-akan ingin menembaknya dan membuat dia waspada padaku.

Lawan Nova dengan penuh semangat berlari menuju ke arah kami. Dia sama sekali tidak memiliki rasa takut padaku, atau kami berdua yang menang jumlah. Aneh sekali, ada yang tidak beres.

Tunggu, apa sebelumnya dia memakai jubah berwarna hitam?

“Arive!l” Nova berteriak seraya menyenggolku ke samping dengan badannya. Bunyi tembakan terdengar menggelegar dan bergema, merambat melewati sela-sela pepohonan hutan. Bunyi tembakan ... menggelegar?

Suara keclakan air yang menetes membuat suasana henyi seketika, harusnya sudah jelas itu adalah sebuah bunyi dari air dari pistol yang mengenai Nova. Tapi yang jatuh mengenai tanah hutan itu adalah sebuah tetesan air berwarna merah.

Aku melihati bahu Nova dengan mata terbuka lebar. Darah mengalir keluar dari bahunya yang terkena tembakan.

Nova membuka mulutnya dengan pelan. “Ar..vie...”


Aku terus berlari mendekat dan menunggu waktu yang tepat. Lawan Nova sudah benar-
“Te-tenang, Nova...” ucapku bergemetar.

Nova hanya menggangguk pelan. Aku perlahan membalikan badanku kebelakang. Lawan Nova yang berlari menuju ke arah kami pun tiba-tiba menghilang seketika. Jantungku berdegup dengan kencang, bukan karena suatu hal yang bagus.

Aku menarik dan mengeluarkan napas lewat mulutku secara otomatis tanpa aku sadari. Gawat, aku harus tetap tenang, panik disaat sedang kebingungan seperti ini malah akan memperparah keadaan.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini? Kenapa ada anggota yang lolos pemeriksaan senjata berbahaya? Aku mencoba untuk fokus, sepertinya sekarang ini orang yang menembak Nova sudah tidak ada di sini. Lebih tepatnya sekarang hanya ada kami berdua di area ini. Dan di sini adalah spot yang tidak terekam kamera.

Air muka Nova terlihat sangat pucat bercampur syok. Dia sama sekali tidak bergerak dari posisinya berada.

Untuk sekarang aku harus menghentikan pendarahan dari bahu Nova yang terus mengalir keluar. Aku pernah membaca hal-hal yang harus dilakukan jika ada seseorang yang tertembak senjata api dalam salah satu buku  yang dibawakan Sofie untukku.

Pertama aku harus memeriksa apakah pelurunya mengenai tulang dan pecah menjadi serpihan kecil sehingga menyebabkan luka ganda.

“Maaf, Nova, bisa kau buka baju bagian atas.”

Dengan napas berat, Nova hanya mengangguk.  Dia membalikan badannya sambil mulai membuka seragam bagian atas.

Aku mulai menghubungi seluruh anggota timku. “Halo, Arvie di sini.”

Tidak ada jawaban. “Halo? Kalian dengar, kan? Berhenti bercanda, Nova terkena luka tembak di bahunya!”

Masih tidak ada jawaban. “Sialan! Device, muncul!”

Device ku tidak muncul. “Device, muncul!!”

Tidak ada yang terjadi, device-ku entah mengapa tidak muncul-muncul juga. “Kenapa...?”

Tanganku dengan cepat meraba daun telinga kananku. “Device-ku ... menghilang...?”

Sejak kapan? Yang aku tahu device bukan barang yang bisa jatuh begitu saja setelah di tempel. Seseorang, pasti ada seseorang yang mengambilnya saat aku sedang lengah. Kapan?

Seketika aku langsung mengingat kejadian saat ada kerikil yang jatuh mengenai kepalaku, dan Nova yang berteriak karena ada ulat yang menempel di bahu sekitar pundaknya.

Kerikil yang jatuh di atas kepalaku itu bukanlah kerikil yang jatuh dari atas bangunan stadion, ada orang yang sengaja melemparkan kerikil itu ke kepalaku sehingga pandangannku yang tadinya fokus pada Nova langsung mencari sumber dari mana kerikil itu berasal.

Di saat dengan bodohnya aku mencari asal jatuhnya kerikil itu, ada seseorang yang menempelkan ulat di pundaknya Nova. Dan saat dia berteriak semua pandangan orang-orang di stadion termasuk diriku otomatis langsung terpaku hanya padanya.

Tapi aneh sekali, harusnya aku bisa merasakan ada seseorang yang sedang bermain-main dengan daun telingaku. Apa dia mengambilnya dengan sebuah alat khusus? Siapa yang melakukannya? Dia mengetahui kalau Nova takut dengan ulat. Berarti seseorang yang lumayang kenal dekat dengan Nova?

Di saat Nova ingin berbalik menghadapku, aku langsung segera menghentikannya. “Nova, maaf. Coba kau periksa sendiri apa ada luka di bagian tubuhmu yang lain selain di sekitar bahumu.”

Kelihatannya dia setengah syok setelah terkena luka tembak. Tapi dia masih berusaha mencoba untuk bersikap tenang sebagai seorang prajurit.

“Tidak ada luka lain selain di sekitar bahuku.” ucapnya.

Aku membuang napas lega. “Sebelum kau kembali memakai bajumu. Aku akan menutupi lukamu terlebih dahu—”

“—Arvie, maaf. Aku tidak ingin kelihatan lemah di depanmu. Tapi, ini rasanya sakit sekali.”
“Iya, tidak apa-apa, aku tahu. Coba ditahan, yah?”

Nova menuruti perintahku. Aku langsung merobek bagian lengan dari jas seragamku dengan gigitan yang kuat. Aku mulai mengggulung robekan kain jasku di area bahu Nova yang terkena tembakan. Pipi Nova sedikit memerah.

“Aku ... hanya melihati lukamu saja. Tidak perlu malu segala.”

“Iya, aku tahu...”

Selesai, Nova kembali memakai bajunya. Kaki Nova terkilir, dan sekarang dia terkena luka tembak. “Nova, coba kau cek apa device-mu masih ada padamu?”

Device, muncul.”

Device milik Nova tidak muncul. “Oke, jadi milikmu juga di ambil saat kau sedang lengah, yah? Kalau begitu, karena hanya aku yang bisa berlari dengan cepat sekarang ini. Aku akan memunculkan diriku di spot yang terekam kamera dan mengirimkan tanda S.O.S—”

“—JANGAN!”

“Eh?”

“Ah, maaf, aku berteriak. Aku takut ... ditinggal sendirian. Bawa aku juga, aku mohon.”

“Baiklah...”

Aku langsung menggendong Nova dengan gendongan layaknya seorang putri.

“Kenapa kau menggendongku seperti ini? Aku malu...”

“Kalau aku menggendongmu di belakang punggungku, pasti rasanya sangat tidak nyaman bagimu dengan luka tembak dan kakimu yang terkilir.”

Aku berlari menuju spot yang terekam kamera dengan hati-hati. Siapa yang tahu, orang yang menembak Nova berada di sekitarku, atau lebih bahayanya lagi dia berada di spot yang sedang aku tuju sekarang ini.

Aku sudah sampai di spot yang seharusnya terekam oleh sebuah kamera yang melayang. Harusnya seperti itu.

“Kameranya ... menghilang....?” gumamku.

Tidak, mungkin aku salah mengingat posisinya. Berlari di sekitar area sini selama beberapa menit dengan hasil nihil. Kameranya tidak ku temukan sama sekali.

Aku mencoba menuju spot yang berbeda. Nova yang masih berada di pangkuanku melihatku dengan cemas, “Arvie, maaf. Aku sampai membebanimu.”

“Tidak, tubuhmu sangat ringan kok. Tidak masalah.”

“Bukan itu ... kalau misalkan orang yang menembakku sekarang ini muncul seketika di depanmu. Tanganmu bahkan tubuhmu tidak bisa bergerak bebas untuk melawannya karena diriku.”

“Kau ini bicara apa? Tadi kau sendiri yang bilang kan kalau kau takut kutinggal sendirian. Sudah tidak usah banyak bicara.”

Aku sampai di spot yang berbeda, dan tidak ada kamera yang mengapung di atas sana.

“Di sini juga tidak ada...” gumam Nova.

“Aku bingung sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini? Bahkan semua orang selain kita berdua lenyap seketika hanya dalam setengah jam kurang. Kalau begitu tidak ada pilihan lain selain berlari sampai menuju Akademi.”

“Kau yakin kuat? Jarak dari sini menuju Akademi itu tiga puluh kilo meter, lho. Kita saja harus menaiki mobil terbang saat menuju perjalanan kemari.”

“Itu memang sudah jelas, kita naik mobil terbang ke sini untuk mempersingkat waktu perjalanan dan menyimpan tenaga para murid yang akan bertanding. Jika aku berlari aku hanya akan memperlama waktu perjalanan kita saja.”

“Tapi--”

“—Dari pada kita menunggu bantuan yang datang setelah kita berdua tertembak mati di sini. Masih mau bertanya padaku apa aku kuat berlari sambil menggendongmu atau tidak?”
Nova tidak bisa membalas perkataanku, tapi ekspresi wajahnya menunjukan dia masih khawatir padaku. “...”

“Tidak usah khawatirkan aku.” ucapku menenangkan.

Nova membuka mulutnya tipis dan mulai berbicara dengan lirih, “Habisnya ... kau baru saja pulih dari masa penyembuhan. Bagaimana bisa aku tidak khawatir...”

Senang sekali yah, Arvie? Kau diberkati orang-orang yang sangat peduli padamu.

“Oke, aku mulai sekarang!” teriakku.

Aku mulai berlari menuju ke arah timur, tempat di mana Akademi berada.


***


Sudar sekitar tiga jam aku terus berlari, terkadang aku melambatkan larianku saat merasa lelah, berdiam diri di saat tengah berlari hanya akan membuat napasku semakin terengap-engap dan menjadi sulit untuk berlari kembali. Jujur sebenarnya dadaku terasa sesak dan tangan juga kakiku sangat pegal.

“Sepertinya kita hampir sampai. Untungnya kita tidak menemui orang sialan yang menembakmu itu.” ucapku.

“Iya,” balas Nova seraya tersenyum.

Syukurlah syoknya sudah menghilang dan dia sudah tidak murung lagi.

Waktu sudah berlalu cukup lama setelah aku mengatakan bahwa sebentar lagi sepertinya kami hampir sampai. Kenapa Akademinya masih tidak terlihat juga.

“Aneh sekali, seharusnya kita sudah sampai dari beberapa menit yang lalu. Sebenarnya seberapa jauh jarak antara Akademi dengan hutan ini?” bingungku.

“Rasanya ada yang tidak beres...” saut Nova dengan nada curiga.

“Tidak beres bagaimana...?” balasku sembari ngos-ngosan.

“Mungkin Arvie tidak menyadarinya karena terlalu lelah. Tapi rasanya kita seperti sedang berputar-putar di hutan ini.”

Aku sedikit kesal dengan tanggapannya. “Jadi maksudnya kita tidak sampai-sampai tujuan karena aku salah arah?”

“Bukan, bukan itu. Aku ingin kamu berhenti sebentar, Arvie.”

Nova menghela napasnya kuat-kuat, lalu membuka mulutnya lebar-lebar. “APAAAA ADAAAA ORAAANG DII SANAAAAA?!!!!”

Aku harap telingaku masih berfungsi dengan baik setelah mendengar teriakannya.

“Kenapa kau tiba-tiba berteriak?” bingungku.

“Ssst! Diam saja!”

Aku menuruti perintahnya untuk saat ini.

“Ka .... di ... na ... rang...”

Aku sedikit terkejut dengan suara samar-samar yang kudengar dari penjuru hutan ini. “Suara apa itu?”

Wajah Nova sekarang sudah terlihat sangat yakin dengan pemikirannya. “Sudah kuduga. Arvie, kau pernah mendengar soal alat pengganda dimensi?”

“Tidak.”

“Apa karena amnesia kau juga lupa hal-hal seperti itu? Intinya alat itu adalah alat ilegal yang seharusnya tidak sembarang orang punya. Alat itu menciptakan dimensi lain dari suatu tempat. Dan luas tempat yang bisa diciptakan alat itupun terbatas. Jadi saat kita berlari melewati batas tempat yang diciptakan alat itu kita akan kembali lagi ke tempat semula.”

Aku mengehela napas, lelah. “Jadi maksudmu, sekarang kita terjebak di sebuah dimensi buatan?”

“Iya, kau dengar suara samar-samar tadi? Itu berasal dari teriakan orang di dimensi nyata, dan saat aku berteriak dengan kencang, suaraku sampai juga pada telinga orang-orang di dimensi nyata. Jadi sebenarnya orang-orang di hutan itu tidak menghilang begitu saja dan masih tetap ada di sana, justru kita yang menghilang ke dimensi buatan ini.”

“Sejak kapan kita masuk ke dimensi buatan ini dan bagaimana caranya?”

“Sepertinya sebelum aku terkena tembakan. Yang aku dengar kalau tidak salah orang yang bisa masuk ke dimensi buatan adalah orang-orang yang berada dalam jangkauan sensor alat tersebut.”

“Sekarang bagaimana caranya kita keluar dari sini—“

Suara tembakan terdengar dari arah barat, badanku dengan reflek bergerak mundur kebelakang. Rasanya mata ini bisa melihat peluru yang melintas melewati kepalaku, seperti slowmotion.

Seseorang dengan jubah hitam berlari dengan cepat menuju ke tempat kami berada. Aku punya firasat yang sangat buruk tentang hal ini.

New Hell In Another World Chapter IV Ori LN Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Alei Darkhan

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.