Minggu, 23 September 2018

Only Sense Online Jilid 6 Bab 3 LN Bahasa Indonesia



ANAK WILD BOAR DAN MATERIAL SERAT
(Translater : Hikari)

Beberapa hari telah berlalu sejak mengalahkan Thorn Token bersama Cloude. Dia meneruskan penyelidikannya yang keras kepala tentang masalah lendir tapi aku selalu menghindari topik itu.
Juga, informasi tentang Thorn Token pun perlahan bertambah.
Tidak ada banyak perbedaan antara monster lemah dan bos monster yang diparasiti menjadi Thorn Token. Akan tetapi, beberapa Thorn Token yang memparasiti monster dengan karakteristik tertentu sangatlah kuat.
"Ya, mereka bukan sesuatu yang bisa kau hadapi satu demi satu. Haa, bagian dalam toko ini luar biasa."
"Ya, 'kan. Ini, tehnya."
"Terima kasih, Kyouko-san."
Setelah melalui banyak hal, aku kehabisan energi dan tidak meninggalkan Atelier meskipun selangkah dan memadukan potion, sekaligus membuat aksesoris.
"Hei, hei! Buatkan aku sesuatu juga! Aku bosan, kau tahu!"
"Eeeh, mau bagaimana lagi kalau begitu…"
Setelah percakapan seperti itu, aku membuat gelang dari bahan campuran kulit yang tersisa dan lelehan equipment besi. Tapi, bukannya menjadi seukuran pergelangan tangan si peri, gelang itu berubah menjadi sesuatu yang mirip ikat pinggang.
Beberapa waktu kemudian, saat aku gila-gilaan mengayunkan palu di depan tungku, pemandangan si Peri Nakal yang membawa camilan dan mengunyahnya dengan berisik, membuatku sangat kesal.
"Heii, apa kau punya camilan lain~? Aku sudah bosan dengan yang ini~."
"Pantas saja, tidak heran kau jadi bosan dengan butter cookies, tapi permintaanmu itu terlalu mewah. Dasar."
Ryui dan Zakuro sama sekali tidak mengeluh, pikirku. Saat aku berbalik ke arah mereka berdua, mereka mengalihkan pandangannya sedikit. Tidak mungkin, jadi mereka sudah bosan dengan biskuit juga.
"Haa, berhenti makan butter cookies dulu untuk saat ini kalau begitu. Tapi, aku tidak akan membuatkan yang lain."
"Kenapa! Aku menanti-nantikan camilan manusia!"
"Tidak, hari ini ada jamuan minum teh dengan Cloude dan yang lainnya, jadi kau bisa makan di sana. Aku tidak perlu membuat apapun."
"Apa! Baiklah kalau begitu!"
Saat aku berkata demikian, si Peri Nakal melesat "pyuu" dan melewati jendela ke kebun. Melihatnya, Kyouko-san si NPC terkekeh manis, meskipun secara pribadi, aku ingin lebih banyak kesunyian untuk menenangkan diri.
"Halo, Yun-kun. Sepertinya menyenangkan sekali."
"Emily-san. Karena kau datang kemari, itu pasti tentang Benang Logam, ya 'kan?"
"Ya, memang begitu. Yah, ayo bicarakan soal itu dengan santai. Yun-kun, bagaimana kabarmu?"
Si Peri Air yang menaiki pundak Emily-san turun untuk melihat-lihat tanaman di kebun. Emily-san melihatnya pergi sambil tersenyum.
"Enaknya. Peri Air Emily-san sangat tenang. Punyaku terus mengeluh sepanjang waktu "aku bosan", "aku ingin ini", "aku ingin itu", seperti anak kecil."
;"Tidak juga. 'Di sini gelap', 'payah', 'aku ingin lebih banyak tanaman', katanya."
Emily-san menerima secangkir teh dari Kyouko-san, menyeruputnya dan menghela napas.
Karena percakapan ini seperti obrolan dua ibu-ibu, aku tertawa pelan.
"Jadi kau seperti itu, ya."
"Semua orang di sekelilingku tergantung pada belas kasihan si peri. Mereka mencoba mencocokkan diri dengan para perinya, memahami mereka adalah hal yang berguna."
"Mmm, sepertinya sudah terlalu terlambat bagiku untuk itu. Aku sudah diperlakukan cukup dingin olehnya."
"Kalau Yun-kun diperlakukan dingin olehnya, maka kebanyakan player akan memperlakukan dia dengan lebih buruk."
"Benarkah?"
"Itu benar. Kalau kau benar-benar dibenci, dia akan meresponmu secara mekanis tanpa ekspresi apapun, seperti topeng noh. Dibandingkan dengan itu, kurasa Peri Nakalmu benar-benar ekspresif."
Saat aku melihat ke luar jendela, si Peri Nakal menciptakan sebuah hembusan angin yang menggoyangkan tanaman-tanaman obat di kebun dan membentuk gelombang-gelombang di rerumputan pendek. Peri Air Emily-san membasahi tanah dengan menyebarkan kabut air di udara, yang menghasilkan sebuah pelangi.
Pohon Wisteria Peach di belakang kebun dan pelangi, saat aku menyaksikan kedua peri itu menari dalam pemandangan itu, seulas senyuman muncul begitu saja di bibirku.
"Bunga-bunganya indah, ya. Itu sebanding dengan menyelesaikan raid quest sulit tersebut."
"Ya. Sangat menyenangkan menghabiskan waktu dengan santainya di pohon itu, mengelus Ryui dan Zakuro."
"Karena Pohon Wisteria Peach-ku tidak akan tumbuh sebesar ini di dalam pot yang kudapat dari Yun-kun, aku jadi iri."
Berkata demikian, dia menyeruput tehnya lagi dan memasukkan ke dalam mulutnya sepotong butter cookies yang si Peri Nakal sudah bosan untuk memakannya.
Sebuah suara renyah dan garing mencapai telingaku bersamaan dengan kesunyian yang menyenangkan.
Akan tetapi, di tengah-tengah itu semua, untuk sesaat terdapat sebuah bayangan yang muncul di wajah Emily-san.
"Aku merasa ada yang mengawasi kita. Kamu?"
"Hm? Tidak juga."
"Kau tahu? Sejak aku menaruh pot tanaman Pohon Wisteria Peach, aku merasakan sebuah tatapan yang tertuju padaku. Itu bukan tatapan yang jahat. Peri Air juga berkata bahwa itu adalah tatapan yang bagus, bahwa ada seorang anak baik telah datang."
"Hmm. Aku penasaran apa itu? Seorang roh penjaga? Keberadaan yang ajaib?"
Aku menelengkan kepalaku, penasaran. Tapi dari apa yang dapat kuingat, aku hampir-hampir tidak pernah merasakan tatapan apapun padaku sebelumnya.
Bahkan sekalipun ada, paling-paling adalah orang-orang yang mengintip ke dalam Atelier dan memeriksa keadaan toko.
Saat aku berkata demikian pada Emily-san, "Yun-kun, entah apakah itu tentang tatapan ataupun cara evaluasimu, kau itu benar-benar tumpul," dia mengatakan sesuatu yang kejam, tidak dapat dipahami.
"Itu hanya imajinasimu, bukankah hal seperti itu juga bisa terjadi? Atau mungkin bukan imajinasi tapi 'roh pohon' atau semacamnya." (Note : 気のせい (ki no sei) untuk imajinasi seseorang dan 樹の精 (ki no sei) untuk roh pohon)
"Wah, itu jadi permainan kata, ya. Yah sudahlah, kesampingkan obrolan kecil ini dan langsung ke topik utama."
Aku tidak berniat untuk bermain kata sama sekali, tapi itu menjadi kebalikan dari niatku. Dengan kata-kata ini, seulas senyuman kembali ke wajah Emily-san dan kemudian ekspresinya menjadi Pedagang Material yang serius.
"Pertama, laporan. Tiga tipe material tekstil, Kantung Sutera Arachne, Serat Bambu dan Sutera Magis telah gagal saat ketiganya disintesis secara normal."
"Aku mengerti, jadi semuanya gagal, ya."
Meskipun aku merasa kecewa, ekspresi wajah Emily penuh dengan kepercayaan diri dan berkebalikan denganku, dia hanya menelengkan kepalanya.
"Kubilang 'disintesis secara normal', 'kan? Jadi, aku mencoba mensintesis material tambahan bersama ketiga bahan tersebut berdasarkan informasi yang kupunya untuk melihat bagaimana hasilnya."
"Kemudian…"
"Ya, hasilnya adalah ini."
Sambil berkata demikian, dia menempatkan beberapa bundel Benang Logam yang sama dengan yang Letia tunjukkan padaku sebelumnya.
"Resepnya adalah satu jenis bijih logam dan Air Kehidupan. Dan, kali ini item tipe benang yang berhasil adalah Kantung Sutera Arachne atau Sihir Magis. Barang ini adalah Synthesis dari ketiga item tersebut."
"Bagus! Kita berhasil!"
"Kalau aku tidak salah, Runner Bug yang mengeluarkan Benang Logam berasal dari Dungeon Kota di Kota Labirin, 'kan? Jadi, aku mencoba memadukan ketiga material dari Dungeon Kota dan Air Kehidupan ditambahkan pada resep."
"Aku mengerti. Aku berbicara pada para perajin yang menggunakan Sewing. Kelihatannya, saat mereka menggunakan Air Kehidupan saat memproduksi benang jahit atau benang rajut, kualitasnya meningkat."
Selain itu, material satu itu bisa digunakan untuk air pendingin Smithing dan untuk mengencerkan pernis Woodworking. Aku ingat Magi-san dan yang lainnya pernah menyebutkan ini sebelumnya.
"Haa, aku tidak menyadarinya sama sekali. Aku seharusnya bisa segera membuatnya dengan material yang ada."
Bahkan tanpa mengumpulkan Kantung Sutera Arachne, aku sudah mempunyai potongan-potongan kain Sutera Magis, bijih logam dan Air Kehidupan di Atelier.
"Hal semacam ini tidak bisa ditemukan tanpa mengetahui hukum yang mengaturnya dan pengalaman. Aku hanya memiliki database yang lebih besar daripada orang lain."
Setelah berkata demikian, Emily-san mengeluarkan material yang tersisa setelah membuat Benang Logam.
"Pada akhirnya, sepertiga dari material ini telah lenyap karena gagal. Sepertiga lainnya berubah menjadi Benang Logam. Jadi kelebihan materialnya akan kita bagi antara aku dan Yun-kun. Yah, hanya ada banyak Serat Bambu yang tersisa."
Meskipun aku sudah berhati-hati membakar bambunya untuk membuat serat-serat tersebut, benda tersebut tidak digunakan. Tapi berpikir bahwa mungkin ada kesempatan lain untuk menggunakannya, aku menerima bagianku.
"Bisakah aku mencoba resep Benang Logam-nya sekarang?"
"Tentu, silakan."
Aku mengeluarkan sehelai lembaran untuk mensintesis tiga jenis item dan di atasnya aku meletakkan Sutera Magis, Air Kehidupan dan Bijih Perak.
"Ayo. ——Synthesis."
Cahaya melintasi lingkaran sihir, mengelilingi ketiga material tersebut dan mengumpulkannya ke tengah-tengah, menumpuknya satu sama lain. Dan, cahaya yang berkumpul di bagian tengah lingkaran itu pun membuncah——
"Ini——tidak selesai? Gagal, ya. Padahal level Synthesisku cukup tinggi."
Aku mengambil material yang mirip benang lusuh dan menghela napas. Kemudian, aku sekali lagi mengkonfirmasi status Sense-ku.

Yang Dimiliki SP23
Bow Lv41 Longbow Lv15 Sky Eyes Lv7 Magic Talent Lv46 Magic Power Lv49 Enchant Arts Lv27 Alchemy Lv32 Synthesis Lv33 Crafting Knowledge Lv34 Taming Lv8
Tidak Terpasang:
Speed Increase Lv28 See-Through Lv15 Dosing Lv29 Cooking Lv27 Engraving Lv3 Swimming Lv13 Earth Element Talent Lv19 Linguistics Lv18

Synthesis-ku level 33 tapi masih gagal, ya.
"Ngomong-ngomong, kita masih belum mencari tahu tingkat kesuksesannya berdasarkan level. Aku penasaran level berapa yang direkomendasikan untuk resep ini.
"Sekali lagi——Synthesis! Oh, kali ini berhasil."
Saat aku mengganti jenis bijih logam yang digunakan dalam sintesis dari Bijih Perak menjadi Bijih Besi, aku dapat mensintesisnya. Sepertinya tingkat keberhasilannya sangat tergantung pada tipe bijih logam yang disintesiskan. Satu-satunya yang bisa kusintesis secara stabil dengan levelku baru sampai Benang Logam Besi.
"Yah, karena aku tahu resepnya, aku akan mengumpulkan beberapa material dan menaikkan levelku setidaknya sampai tingkat di mana aku bisa mensintesis Bijih Perak."
"Ide bagus. Juga, bisakah aku mencoba mensintesis yang lain mumpung kita sedang melakukannya sekarang?"
Berkata demikian, Emily-san mengeluarkan beberapa material.
Material yang dia taruh di lingkaran untuk sintesis empat material adalah High Potion, MP Potion, Air Kehidupan, dan Kelopak Wisteria Peach. Mungkinkah itu…
"Nah, ayo. ——Synthesis."
Dengan gumaman pelan, keempat material itu memancarkan cahaya merah muda pucat dan berubah menjadi satu bentuk.
"…itu Obat Pembangkit. Hebat, Emily-san! Jadi Obat Pembangkit bisa dibuat dengan Synthesis juga!"
"Jadi ini tidak eksklusif untuk Sense Mixing. Harganya mungkin saja turun kalau begitu. Tetap saja, daya penyembuhannya sebanyak standar umum."
Emily-san mengangkat bahu saat mengatakan itu.
Sungguh, metode penggunaan Sense sangatlah luas. Tidak hanya satu cara, aku sekali lagi dibuat sadar bahwa ada banyak cara dalam crafting.
Dan kemudian, aku mengusulkan sesuatu pada Emily-san.
"Emily-san, apa kau punya waktu setelah ini?"
"Ada apa?"
"Apa kau mau ikut serta dalam jamuan minum teh dengan Magi-san dan yang lainnya?"
Pesta jamuan minum teh adalah sebuah kesempatan untuk bertukar informasi antara para perajin. Yah, saat ini kami hanya makan kue dan mengobrol saja.
Akan tetapi, Emily-san langsung meresponnya.
"Maaf aku terpaksa harus menolaknya. Aku tidak tertarik dengan hal semacam itu."
"Sudah kukira."
 "Aku tidak suka menarik perhatian. Aku tidak merasa ingin berbaur dengan para perajin kelas atas."
Berkata demikian, dia meminum sisa tehnya dan berdiri.
"Kalau ada sesuatu yang ingin kusampaikan ke tempat itu, aku akan memberitahukannya padamu."
"Baiklah. Sayang sekali, tapi aku bisa mengerti keinginanmu untuk tidak menarik perhatian."
Peri Air Emily-san yang sedang berjalan-jalan di ladang tanaman obat telah kembali dan duduk di bahunya, kemudian bersama dengan Ryui, Zakuro dan si Peri Nakal, kami melihat mereka pergi.
"Haa, ditolak, ya."
Aku sudah menduganya jadi aku tidak terlalu merasa kecewa. Tapi tetap saja, aku senang aku bisa berbicara tentang crafting dengannya sebelum jamuan minum teh, pikirku.
"Hei, berapa lama lagi pesta minum tehnya?"
"Coba kulihat. Sekarang sepertinya kita sudah bisa pergi. Kali ini di Commonest Café & Clothiernya Cloude."
Kami meninggalkan Atelier sedikit terlambat dan mulai berjalan menuju lokasi jamuan minum teh diadakan.
·
Jamuan minum teh kali ini berada di Commonest Café & Clothier Cloude. Acara ini dilaksanakan dengan meja yang dipersiapkan di sudut bengkel kerja toko.
Selama jamuan minum teh, ada lebih banyak percakapan dibandingkan biasanya.
Itu karena ada tambahan anggota dibanding biasanya, ada banyak tamu.
"Wow, kue manusia." "NyamNyam" "Iih, kamu tidak punya harga diri sebagai peri, ya?" "Sruuup"
"Jadi Magi-san dan yang lainnya berhasil mendapatkan peri, ya."
"Yup. Benar sekali!"
"Aku juga!"
Saat aku berkata demikian, Magi-san dan Lyly menanggapi dengan senyuman dan kemudian memanggil para peri yang baru kulihat untuk pertama kalinya.
"Ayo, kau harus memperkenalkan dirimu."
"Kenapa aku harus memperkenalkan diriku pada manusia…"
Si peri laki-laki dengan warna kulit kecoklatan yang mengeluh itu sepertinya adalah peri yang mengikuti Magi-san.
"Hmm. Sepertinya 'Seri Kue Sekali Suap' yang dijual di Commonest Café & Clothier sangat populer di kalangan para peri.'
"Benar. Aku juga suka."
"Aku mungkin akan sangat suka permen juga."
Lyly dan si Peri Angin yang mengikutinya dengan senang memakan kue-kue sekali suap yang Cloude siapkan untuk teman minum teh.
Saat ini, selain kue-kue sekali suap yang sudah dijual di café, ada juga beberapa produk percobaan, sesuatu yang belum bisa kau cicip sebagai seorang pembeli.
Secara pribadi, aku ingin membeli beberapa baby castellan dan membawanya ke rumah.
"Haa, sekarang setelah acara crafting selesai, Crafting Guild kembali beroperasi. Karena aku berada di posisi pimpinan boneka guild ini [TL: Mengingat 'otak' sebenarnya dari guild ini lbih tepatnya si Cloude dan Magi hanya 'pemimpin guild'  secara status saja :3], aku sangat senang bisa kembali ke aktivitas crafting yang biasanya~"
"Setuju."
Magi-san dan aku meminum teh dan bergembira karena beban pekerjaan yang berkurang.
Kami berdua minum teh hitam, Lyly minum teh hijau, dan minuman pilihan Cloude adalah kopi hitam.
"Hei, Cloude. Akhir-akhir ini, pembicaraan mengenai material yang disebut Benang Logam sedang beredar. Apa kau tahu sesuatu?"
"Benar, perajin tipe penjahit seperti Kurocchi seharusnya tahu."
Informasi mengenali Benang Logam mencapai Magi-san dan Lyly juga. Di sisi lain, Cloude menyampaikan informasi yang terbuka bagi umum dan menyampaikan sisa penjelasan itu padaku yang mengerjakan benda itu dengan Emily-san.
"——Dan begitulah. Karena aku tidak berhasil mendapatkan contoh Benang Logam, aku belum membuat apapun. Soal itu, bukankah Yun lebih banyak informasinya?"
"Kurasa kau menyerahkan urusan penjelasan itu padaku. Kami berhasil memastikan sebuah metode selain dari menggunakan monster yang dijinakkan. Kami dapat membuatnya menggunakan Sense Synthesis."
Sambil berkata demikian, aku mengeluarkan Benang Logam yang kami buat sebelumnya. Ada yang perak, besi, dan tembaga.
Aku tetap diam tentang metode pembuatannya, tapi aku mengatakan pada mereka bahwa Emily-san yang membuatnya dan mempromosikan bahwa jika memang dibutuhkan, mereka bisa meminta dia untuk membuatkannya.
"Hmmm. Jadi si gadis Pedagang Material itu yang membuatnya. Aku bisa menggunakan material ini untuk memperkuat ring mail misalnya."
"Hmm. Kalau untukku, aku bisa mengikat inti tongkat dengan ini atau semacamnya. Kurasa ada banyak kegunaannya? Kali berikutnya, aku akan memesan beberapa untuk mencobanya."
"Magi-san dan Lyly, apakah kalian berdua menemukan sesuatu yang baru?"
Aku bertanya pada mereka berdua yang sedang memegangi Benang Logam di tangannya dengan ekspresi serius, tapi mereka menyangkal dengan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Akhir-akhir ini, tidak ada hal yang baru. Jadi, aku bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang bisa dilakukan dengan Benang Logam ini."
"Aku juga sama~"
"Begitu pula denganku. Ngomong-ngomong Yun, sudah seberapa jauh kau menafsirkan buku itu?"
"Eh, yah, masih ada banyak kurasa? Aku sedang membacanya sedikit demi sedikit."
Buku yang Cloude bicarakan adalah hadiah raid quest yang kuterima yang adalah resep-resep Mixing. Di dalamnya, terdapat resep Obat Pembangkit. Sedangkan untuk resep lainnya, aku masih dalam tahap menafsirkannya dengan menggunakan Sense Linguistic.
Soal menafsirkan, kurasa Cloude sudah lebih jauh daripada aku karena level Linguisticnya lebih tinggi.
"Kalau begitu, akan kuberikan catatan singkat ini padamu. Resep-resep yang dapat kutafsirkan tertulis di situ."
Saat aku membuka helaian kertas yang dia berikan padaku sambil berkata demikian, aku melihat resep dan nomor halaman yang dituliskan dengan cermat. Tidak menyangka bahwa dia akan memberikan padaku sesuatu yang seberharga ini, aku menyunggingkan senyuman getir.
"Terima kasih, Cloude. Aku akan menggunakannya dengan baik."
"Apa, jangan dipikirkan. Itu adalah tanda terima kasih untuk Quest Peri."
Berkata demikian, dia menyeruput kopi hitam pekatnya.
Karena tidak ada topik pembicaraan lain dari Magi-san dan Lyly, jamuan minum teh itu dengan segera menjadi sebuah obrolan biasa dan para peri yang menjadi rekan kami menjadi pusatnya.
"Tetap saja, bagus sekali Quest Peri tersebar dari Yun-kun ke Cloude dan pada kami."
Saat dia berkata demikian, Magi-san menyodorkan sepotong bolu seukuan satu suapan pada si Peri Api. Peri Api tersebut menggembungkan pipinya dan tidak menerimanya. Tapi, pemandangan saat castellan mengejar-ngejar dia itu terlihat lucu.
Si Peri Angin Nakal, bersama dengan sesama Peri Angin yang datang bersama Lyly untuk makan kue, terlihat akrab bersama-sama. Hanya saja, aku penasaran ke mana banyaknya makanan itu pergi. Sejumlah besar kue membengkak di perut mereka dalam ukuran yang mustahil. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa itu hanyalah sebuah adegan yang fantastis.
"Jadi, Cloude. Yang sedang tidur di situ adalah perimu yang waktu lalu, 'kan?"
"Ya, si Peri Kegelapan yang datang denganku."
Aku berkata demikian dan melirik si peri yang menempatkan kepalanya pada sebuah alas mungil yang dibuat untuk dipakai peri oleh Cloude. Si Peri Kegelapan menggerakkan mulutnya, bergumam selagi dia tertidur sambil bersandar pada si anak kucing, Socks.
"Entah kenapa, sepertinya dia sedang mengenakan pakaian yang berbeda dari yang kulihat terakhir kali. Yang lainnya juga, para peri kalian terlihat lebih berwarna-warni, sepertinya begitu."
"Yun-kun, kau juga memberikan sabuk yang bagus pada perimu, 'kan?"
"Yah, memang benar."
Dipuji bagus oleh Magi-san, aku merasa sedikit malu. si Peri Nakal menyadari dirinya menjadi topik pembicaraan, tapi tidak akan melepaskan kue-kue itu tidak peduli apa yang terjadi.
Magi-san dan aku hanya memberikan peri-peri kami ornamen-ornamen kecil, tapi usaha Cloude berbeda.
Si Peri Kegelapan tadinya mengenakan gaun terusan sederhana berwarna hitam, tapi sekarang, dia mengenakan kostum bertema gothic lolita hitam dengan banyak renda.
"Fufufu, kalian tidak tahu berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk membuat karya ini. Berapa banyak material yang kugunakan untuk membuatnya."
Cloude menyunggingkan seulas senyuman tanpa takut. Lyly dan aku menatapi mahakarya Cloude dengan sangat berminat.
"Aku iri. Dengan spesialisasi craftingku, tidak ada yang bisa kubuat untuk seorang peri."
"Benar. Kurasa juga begitu. Karena dia terlihat manis, aku ingin membuatkan sesuatu untuknya."
Sambil berkata begitu, Magi-san mengelus kepala Peri Api dengan ujung-ujung jarinya.
Dan, si Peri Api yang kepalanya dielus, menanggapi kata-katanya
"Apa? Apa kau tidak puas denganku?"
"Tidak, sama sekali tidak. Terima kasih telah menguatkan tungku untukku."
Dia mengatakan sesuatu yang menarik. Lyly dan aku menelengkan kepala dengan penasaran.
"Magi-san, apa maksudnya 'menguatkan'?"
"Ah, ngomong-ngomong tentang hal yang belum kuberitahukan pada kalian. Saat aku melakukan Smithing dengannya, dia menaikkan temperature tungku sehingga lebih mudah memproses logam."
"Itu bukan apa-apa."
Seperti itu, Magi-san membangga-banggakan Peri Api yang ada di telapak tangannya. Si peri sendiri melipat lengan dan mengatakan kalau itu bukan apa-apa, tapi terlihat bergerak-gerak tidak tenang dengan senangnya.
"Begitukah? Kalau begitu Lyly dan Cloude, apa peri kalian melakukan sesuatu?"
"Hmm. Tidak juga, kurasa? Hanya, dia menggunakan angin untuk membersihkan serpihan-serpihan serutan kayu."
"Aku tidak masalah selama dia mengenakan baju yang kubuat."
Saat Cloude menjawab, aku dan Magi-san menatapnya lekat-lekat. Jadi dia menjernihkan pikirannya dan menambahkan bahwa perinya berguna saat memberikan status buruk tidur pada lawan.
Karena kami membicarakan hubungan dengan peri satu demi satu, kali ini semua wajah menoleh padaku.
"Dan, peri Yun-kun…"
"Fyuuuh, aku makan banyak sekali!"
Si Peri Nakal yang sampai detik ini terus makan kue, meskipun beberapa hari berlalu sejak dia mengikutiku, yang dia lakukan hanya tidur, makan, dan mengajakku bermain. Hal-hal semacam itu. Juga, dia melakukan beberapa kejahilan kecil seperti mengganti susunan barang dagangan yang sudah ditata.
"Tidak ada yang khusus."
"Apa! Kau membicarakanku, 'kan! Aku adalah Peri Angin Nakal! Aku bisa melakukan kenakalan yang mengagumkan!"
"Seperti memindahkan objek beberapa sentimeter."
"Berhenti mengejekku! Sihir kenakalan! ——Terima Ini!"
Ya, ya. Tidak mempedulikan dia, aku selesai menuangkan lebih banyak teh untukku sendiri dan memasukkan sejumlah kecil gula, kemudian menyeruputnya.
"Ya ampun, hanya kejahilan kecil. ——?‼ Phuaa?!"
"Yun-kun, kau tidak apa-apa?!"
"Yuncchi, apa yang terjadi?"
Aku tiba-tiba menyemburkan teh tersebut, mengejutkan Magi-san dan Lyly. Aku sendiri tidak mengerti kenapa, tapi melihat si Peri Nakal memegangi perutnya sambil tertawa di tengah udara, aku mengerti aku sedang dikerjai.
"K-kau, apa yang kau lakukan?"
"Ahahaha, itu karena mengejekku! Muka yang aneh sekali!"
Sedikit teh memasuki hidungku jadi terasa sakit. Karena aku menyemburkannya ke samping, itu tidak mengotori meja, tapi karena mulutku kotor, aku menyeka wajahku dengan sehelai handuk.
Cloude menuangkan kopi untuk dirinya sendiri, mengambil sedikit gula dari mangkuk dan setelah melarutkannya dalam kopi, dia menyesapnya.
"Aku mengerti. Kopi asin. Untuk kue berikutnya, ayo coba sesuatu yang asin."
"Garam?!"
Terkejut, aku mengambil beberapa kristal dan menjilatinya. Isi dari mangkuk gula berubah menjadi garam.
"Ayo lakukan lebih banyak lagi! Di sanaaa, di sana!"
Si Peri Angin melayang-layang di udara seakan sedang menari. Dengan satu lambaian lengannya, teh berubah menjadi minuman yang berbeda dan satu kaki meja patah. Cloude dan aku buru-buru menahannya saat meja itu miring.
"Hei, hentikan!"
"Lagi, lagi, ayo, ayo! Di sana!"
Sebuah pusaran angin mengangkat mantel Cloude dan membungkus wajahnya. Jika aku berhenti menopang meja untuk menghentikan si Peri Nakal, meja itu akan jatuh.
"Magi-san, Lyly! Tangkap dia!"
"Baik."
Seperti yang diduga, Magi-san dan Lyly juga berpikiran kalau ini sudah kelewatan dan bangkit dari kursi mereka dan mengulurkan tangan ke arah si Peri Nakal.
"Hehehe, kalian tidak akan menangkapku!"
"Tung…berhenti bergerak!"
Si Peri Nakal meloloskan diri dengan menyelinap dari tangan mereka. Si peri terbang berputar-putar di udara dengan bebasnya dengan kami dalam kendalinya.

"Hei, patuhlah dan biarkan aku menangkapmu."
"Itu benar. Tunggu…w-woahhh?!"
"Lyly, hati-hati!"
Magi-san dan Lyly menjulurkan tangan di saat yang bersamaan untuk menghentikan pergerakkan si Peri Nakal. Akan tetapi, dia tidak berada di tempat yang terbuka, sebagai gantinya dia menerbangkan kursi dan meja sehingga menghalangi mereka berdua. Si peri menggerakkan kursi dengan udara dan membuat Lyly tersandung.
Meskipun Magi-san segera mencoba untuk menangkap Lyly, karena si Peri Nakal menekan punggungnya untuk memastikan Lyly terjatuh, kedua orang itu jatuh bersama.
"Magi-san! Lyly!"
"Apa! Apa yang terjadi?!"
Dengan mantel yang masih membungkus sekitar kepalanya, Cloude tidak bisa mengetahui apa yang sedang terjadi.
"M-m-maaf, Magicchi!"
"Tidak, tidak apa-apa selama kau tidak terluka."
"Magi-san! Lyly!"
Aku merona saat melihat postur tubuh mereka. Terjatuh, wajah Lyly menempel pada dada Magi-san.
Memahami situasinya, Lyly mencoba untuk bergerak mundur dalam keadaan panik, tapi dia gagal. Karena terburu-buru, entah kenapa dia tidak dapat menyelinap lepas dari dada Magi-san.
"Lyly. Tenang sedikit. Ayo, tarik napas, hembuskan."
"Fuu, haa, fuu, haa. Oke, aku baik-baik saja."
"Sekarang, berdirilah pelan-pelan."
Magi-san sendiri yang berbicara pada Lyly seakan tidak ada apapun yang terjadi, mengatakan padanya untuk menarik dan menghembuskan napas untuk menenangkan dirinya. Setelah lebih tenang, Lyly berdiri, menjauh dari Magi-san.
"Lyly, apa kau terluka?"
"Ti-tidak, Magicchi."
Wajah Lyly menjadi merah padam dan kepalanya tertunduk rendah. Magi-san menyunggingkan senyuman seperti Kucing Cheshire
"Lyly, malu ya? Meskipun kau seorang bocah, kau tetap saja anak laki-laki, ya 'kan?"
"Magicchi!"
"Ahahaha, maaf. Kau terlalu imut."
Magi-san dan Lyly berbicara dengan riangnya, tapi aku sangatlah murka dalam diriku.
Aku entah bagaimana dapat menyesuaikan kaki mejanya kembali dan bergerak menjauh.
"Hei, bukankah kejahilanmu sudah berlebihan?"
Aku menangkap si Peri Nakal dengan cengkeraman besi saat dia terus tertawa melihat kejahilannya sukses besar dan bertanya dengan serius.
"Lepaskan! Aku si Peri Nakal! Apa salahnya berbuat iseng!"
"Itu salah! Kalau itu begitu penting bagimu, maka batasi hanya padaku saja!"
"Apa-apaan kau ini! Apapun yang kulakukan tidak ada hubungannya denganmu!"
"Kalau kau tidak minta maaf——aku akan memasukkanmu dalam botol!"
Ke dalam botol, mendengar itu, para peri di ruangan itu langsung menjadi tegang.
Tepatnya, ekspresi para peri menjadi kaku dan detik berikutnya, mereka mulai menangis.
" " "TIDAKKKKKKK, jangan ke dalam botol——!" " "
Saat itulah si Peri Kegelapan yang sedang tertidur terbangun dan melihat ke sekelilingnya, tapi termasuk dengan peri yang ada di tanganku, mereka semua mulai menangis.
Magi-san yang sedang menggoda Lyly dan Cloude yang entah bagaimana berhasil mengembalikan mantelnya ke posisi semula, mereka menatapiku dan para peri, bertanya-tanya apa yang telah terjadi.
"Eh, ah, selama kau tidak melakukan hal-hal yang buruk, aku tidak akan memasukkanmu ke dalam botol, jadi jangan menangis!"
Aku menaruh si Peri Nakal yang kutangkap ke atas meja dan menghiburnya.
"Benarkah? Kau tidak akan memasukkanku ke dalam botol? Sejak dulu, peri-peri yang nakal akan dimasukkan ke dalam botol dan digunakan untuk Obat Kebangkitan."
Peri yang Dibotolkan, apakah ini game dengan pahlawan yang berpakaian hijau? Aku menukas diriku sendiri dalam hati dan kembali menghiburnya.
"Aku tidak akan membotolkanmu. Tapi, terlalu berlebihan mengisengi adalah hal yang berbahaya."
"Tapi, aku Peri Nakal."
"Kalau kau akan melakukannya, maka lakukan kejahilan yang membuat orang lain senang. Juga, karena kau membuat repot yang lainnya, minta maaflah."
"…Aku tadi terlalu berlebihan. Maaf."
Si Peri Nakal menundukkan kepalanya dengan patuh. Peri lain yang tadi menangis juga ditenangkan oleh Magi-san dan Lyly.
"Aku tidak begitu keberatan. Yah, aku sedikit terkejut, tapi tidak ada kerusakan berarti."
"Aku juga sama. Kalau kau akan melakukan kejahilan, bagiamana kalau kau melepaskan beberapa pusaran angin di jalan uta—— Magi, turunkan tinjumu."
Cloude berbicara dengan nada bercanda, tapi karena dia menyinggung kenakalan yang berhubungan dengan menyibak rok, dengan wajah tersenyum, Magi-san mengangkat kepalan tinjunya di depan wajah pria itu.
Lyly yang menderita dampak terbesar, kini menunduk malu.
"Aku minta maaf. Aku sudah kelewatan."
"A-aku tidak apa-apa. Um, aku hanya sedikit…kaget…"
Dia melirik Magi-san dan mengeluarkan erangan. Magi-san sendiri tidak begitu peduli karena dia memperlakukan Lyly seperti seorang adik laki-laki.
Melihat orang-orang memaafkan kenakalan itu, aku menghela napas lega.
"Khukhukhu, tetap saja, itu adalah tanggapan yang brilian terhadap kejahilan-kejahilan itu. Seperti yang diduga dari Nanny kalau boleh kubilang."
"Grrr, Cloude, jangan katakan itu. Aku tidak suka nama itu."
Dikatakan demikian, aku melihat ke sekeliling untuk sesaat dan tindakan yang terlalu-bebas dari para peri itu bertumbukan dengan bayangan anak-anak TK.
Saat aku mengerutkan wajah tidak senang, Lyly mengalihkan topik pembicaraan.
"Tapi, itu luar biasa. Mengubah isi mangkuk gula, mematahkan kaki meja, dan semacamnya."
"Hehehe! Itu karena aku adalah Peri Nakal, kau tahu. Aku pintar dalam menahan orang lain dan membuat mereka berjatuhan!"
"Terbawa suasana lagi, ya. Beberapa waktu lalu, kau mengumpulkan segerombol monster musuh pada kami, ya 'kan."
Mengarahkan tubuhnya menyamping ke arah kami, si Peri Nakal menyombongkan diri. Aku membalasnya sengit tapi sepertinya tidak didengarnya. Kemudian, Magi-san nampaknya menyadari sesuatu.
"Hei, Peri Apiku bisa membantu crafting, tapi bukankah si Peri Nakal itu tipe pendukung pertarungan? Sama seperti Peri Kegelapan Cloude yang bisa melancarkan status buruk pada musuh."
"Aku mengerti. Kurasa itu mungkin saja. Menahan musuh dan menarik perhatian mereka adalah potensi tempur yang sangat bagus."
"Kalau begitu, apa yang Peri Anginku bisa lakukan?" tanya Lyly.
Kami mulai memikirkan dengan serius kemampuan para peri yang mengikuti kami.
Sampai saat ini, aku berpikir bahwa periku itu menyebalkan dan tidak menghadapinya secara serius.
Aku juga dikatakan begitu oleh Emily-san, tapi sepertinya aku pernah menghadapi periku sekali.
Benar juga, karena aku hampir-hampir tidak pernah terlibat dalam pertempuran, aku tidak pernah memikirkan kemampuan pendukung tempurnya.
Menatapi si Peri Nakal, aku bergumam pelan.
"Mungkin kita harus jadi lebih akrab. Tidak, ayo lebih akrab."
Memantapkan tekad dalam dadaku, aku mengangkat cangkir teh ke mulutku dan menyemburkan teh asin lagi.
Aku lupa masih ada teh asin yang tersisa.
·
Setelah pesta minum teh, keisengan pun cukup mereda. Ya, cukup.
"Ahahaha! Maju! Maju!"
"Kyu~"
Si Peri Nakal yang duduk di punggung Zakuro sepertinya bersenang-senang hanya dengan menaikinya saat Zakuro berjalan di sekitar toko. Terbang ke sana ke mari akan lebih cepat, pikirku sambil melihatnya dari samping dan melanjutkan persiapanku untuk berpetualang.
Selama beberapa hari terakhir, aku memilih resep potion yang bisa kubuat saat ini dari catatan singkat yang Cloude berikan padaku dan membandingkan resep yang kutafsirkan dengan buku resep Mixing yang belum terpecahkan.
Dengan resep yang sudah diuraikan itu, kecepatanku menafsirkan dengan Linguistic pun meningkat. Sambil mereferensikan pada nama-nama material yang terurai itu dan prosedurnya, aku terus mengembangkan resep yang baru.
Dan, hari ini, aku menuju ke luar kota untuk mengumpulkan material yang mampu kukumpulkan sendirian.
"Ryui, Zakuro, juga Peri Nakal. Kita akan ke luar kota."
"Apa, apa?! Piknik?!"
"Sayangnya, kita akan mengumpulkan bahan-bahan hari ini. Juga, kita akan melakukannya dengan cepat."
Saat aku berkata begitu, Ryui dan Zakuro merendahkan kepala mereka dengan kecewa. Akan tetapi, si Peri Nakal yang sangat jarng pergi ke luar, tetap terlihat senang.
"Kalau begitu, kalau begitu! Ayo kita kalahkan bawahan monster dan bebaskan Desa Peri!"
"Selama ada reaksi musuh di luar kota dan di sekitarnya."
"Grr! Kau tidak punya motivasi! Termotivasilah sedikit! Kau tidak pernah tahu kapan musuh akan muncul!"
"Ya, ya, ayo pergi."
Si Peri Nakal menaiki bahu dan mendesakku untuk melanjutkan Quest Peri, tapi aku tidak mengacuhkannya, membawa Ryui dan Zakuro meninggalkan kota.
Tempat yang kutuju kali ini adalah bagian dalam dari tenggara Rawa-Rawa Kota Pertama.
Aku tahu bagaimana caranya berjalan di rawa-rawa ini saat aku melangkah maju sambil menghindari musuh sebisa mungkin. Di antara tanah berlumpur dan pepohonan yang tumbuh di Rawa-Rawa, aku menemukan suatu tempat.
Sebuaha pemakaman yang dikelilingi pagar rusak. Dan, tersembunyi di balik dua batu nisan yang bertumpukkan, terdapat anak tangga yang mengarah ke ruang bawah tanah. Itu adalah sebuah pintu masuk menuju salah satu dari sekian banyak dungeon kecil yang bertebaran di dunia OSO.
Sesuai dengan dungeon bawah tanah sebuah pemakaman, kebanyakan monster di situ adalah tipe mayat hidup.
"Ohhh! Sebuah tangga menuju ke bagian bawah makam yang mengerikan! Aku bisa merasakan petualangan! Aku bisa merasakan petualangan!"
"Tidak, kita tidak akan masuk."
"Kenapa?!"
Hal itu tidak dijadwalkan kali ini dan terutama aku ini payah saat berurusan dengan hantu.
Tujuanku adalah tanaman yang tumbuh di sekitar batu-batu nisan. Saat aku mengamati sekitar dengan cermat, aku dapat melihat monster tanaman yang kadang-kadang bergoyang.
Aku mengeluarkan pisau dapur yang kumiliki dan sambil menahan daun-daunnya, aku menusuk akar monster tersebut sambil menggali tanahnya.
Akarnya mengamuk bergulat di dalam tanah dan daun-daun tanaman itu berguncang keras. Menahannya, mereka perlahan melemah dan menjadi semakin tenang.
"Eh, jangan-jangan itu, Mandragora?!"
"Tepat. Yang kudapat adalah…Mandragora Jantan, ya. Yah, Mandragora Betina memang langka."
Berkata demikian, aku mengeluarkan Mandragora yang masih segar dari dalam inventory dan menunjukkannya pada si Peri Nakal. Hiii, dia menaggapi dengan jeritan.
Meskipun wajah Mandragora mengerut dengan ekspresi tersiksa seperti lukisan The Scream, bagiku itu terlihat tidak lebih dari sekedar sebatang lobak dengan wajah manusia diukirkan di sana, jadi aku tidak merasa takut.
"I-itu! Bukannya itu jauh lebih berbahaya daripada hantu?!"
"Mandragora tidak bisa tumbuh di ladang, jadi aku datang sejauh ini ke pemakaman untuk mengambil mereka. Haa, aku berharap aku bisa menanam mereka di ladang."
Tidak ada benihnya. Karena ini dianggap sebagai monster, aku tidak bisa membudidayakannya. Kuharap aku bisa melakukannya dengan Sense Taming, tapi tidak ada reaksi.
"Hentikan! Itu berbahaya! Itu adalah tanaman yang tangisannya dapat menghancurkan sekelilingnya."
"Aku tahu itu, makanya aku mengalahkan dia sementara dia masih di dalam tanah."
Mandragora adalah jenis monster yang sangat lemah. Aku bisa mengalahkannya begitu saja, tapi bagi mereka yang tidak tahu cara menghadapinya, ini adalah lawan yang sangat licik.
Pertama, player yang tidak tahu soal ini akan mendekatinya. Begitu cukup dekat, monster ini akan menunggu mereka memetik daun obatnya.
Begitu dia dicabut, pertarungan pun dimulai. Melompat keluar dari dalam tanah, dia mengeluarkan sebuah teriakan nyaring yang menyebabkan Curse, Charm, Confusion dan Anger, status buruk tipe mental pada player dan memiliki kemampuan untuk memanggil monster lainnya.
Karena itulah, metode yang kupilih untuk kugunakan adalah serangan kejutan sambil menekannya supaya dia tidak keluar dari dalam tanah.
"Nah, nah. Sekarang ayo berjuang mengumpulkan material untuk potion."
"H-hiiii! Memperlakukan Mandragora yang dianggap sebagai organisme super berbahaya di Desa Peri seakan itu cuma rumput liar biasa, dan bahkan sambil tersenyum!"
Sambil melemparkan tatapan skeptic pada peri yang gemetar di sela-sela surai Ryui, aku megambil semua Mandragora di sekitar pintu masuk makam. Rasio antara Mandragora jantan terhadap betina adalah empat banding satu. Meskipun kali ini cukup, aku harus datang lagi untuk mendapatkan beberapa Mandragora betina.
"Baiklah kalau begitu, cukup untuk panennya di sini. Ayo pulang,"
"Ayo ke sebelah sana kalau begitu! Ada jalan pintasnya!"
Arah yang ditunjukkan si Peri Nakal adalah utara.
Saat kami datang ke sini, kami pertama-tama bergerak ke selatan kemudian ke timur. Dengan berjalan lurus ke utara, kami akan keluar ke jalan yang menuju Kota Kedua. Sudah lama sejak terakhir kali ke sana, jadi aku bisa pergi untuk membeli beberapa bahan makanan seperti sayur-sayuran di sana, pikirku.
"Baiklah. Pandu kami kalau begitu."
"Serahkan padaku!"
Dan, saat aku perlahan mengikuti si Peri Nakal, tanah berlumpur Rawa-Rawa berubah menjadi tanah lembut hutan. Setelah berjalan selama beberapa saat, aku menemukan sesuatu.
"Bukannya itu  young beast dari Big Boar?"
Setelah pergi dari area bagian tenggara ke bagian timur, salah satu aspeknya adalah perubahan radikal musuh. Di tengah semua itu, aku melihat sebuah bayangan kecil yang berlarian di sekitar ladang yang tidak aktif, Big Boar yang tidur.
 dari Big Boar?"
Setelah pergi dari area bagian tenggara ke bagian timur, salah satu aspeknya adalah perubahan radikal musuh. Di tengah semua itu, aku melihat sebuah bayangan kecil yang berlarian di sekitar ladang yang tidak aktif, Big Boar yang tidur.
Penampilannya dengan belang-belang putih pada kulitnya dan tubuh yang berbentuk bulat panjang tanpa taring di mulutnya itu adalah anak dari babi hutan.
Aku tidak mengira kalau aku akan bertemu dengan salah satu elemen tambahan yang ditambahkan oleh update, seekor young beast.
"Buu."
Dia menguik dan bergerak mendekat. Anak babi yang seukuran dengan Zakuro itu telah menetapkan sasarannya dan mengerahkan seluruh kekuatannya pada kaki belakangnya, kemudian mulai berlari ke arah Zakuro.
"Buu!"
"Kyuu!"
"K-kalian semua, tenanglah."
Tiba-tiba, Zakuro dan si anak babi mulai bermain kejar-kejaran. Kedua hewan itu berlarian mengitari kakiku.
Karena mereka terus berlari memutariku, aku tidak bisa bergerak dan hanya bisa menyaksikannya, kebingungan.
"Menarik! Ayo! Lebih cepat! Balap!"
"Balap apanya, memangnya ini pacuan kuda?! Ayo hentikan sekarang juga!"
Aku tidak tahu kenapa mereka berlarian di sekelilingku. Meskipun dia bukanlah monster yang bermusuhan dan si anak babi ini hanya bermain-main dengan mengejar-ngejar Zakuro, sepertinya Zakuro sendiri berusaha melarikan diri dengan serius.
Tidak lama kemudian, Zakuro melompat ke punggung Ryui dan anak babi itu mulai berkeliaran di bawah kaki Ryui. Karena tidak yakin harus melakukan apa, aku pun menangkapnya.
Meskipun rambutnya sendikit lebih keras daripada Zakuro, itu lebih lembut dibandingkan Big Boar.
"Buu."
"Hei, jangan mengejar-ngejar Zakuro."
"Buu."
"Dasar, jadi kau mengerti."
Aku menghela napas dan melihat lurus ke mata si anak babi saat aku mengangkatnya dnegan kedua tanganku. Mata yang terbuka lebar, hidung yang berkedut-kedut dan telinga yang kecil, uikkan kecilnya seakan menguras kekuatanku.
"——Hei, hei. Apa yang harus kita lakukan?!"
"Yah, bagaimana ya. Aku tidak merasa ingin menambahkan jumlah monster jinakku, jadi kita hanya bisa membiarkannya kembali ke kawanannya——"
"Bukan itu! Bawahan monster yang ketiga ada di dekat sini dan mendekat ke mari!"
"Sampai sekarang kitalah yang mencari mereka, jadi kali ini dia datang sendiri, ya."
Menggerutu, aku menurunkan si anak babi dan melihat ke arah yang ditunjuk si peri.
Aku mengangguk tenang lalu memerintahkan Ryui untuk melindungi Zakuro dan menyembunyikan diri mereka dengan ilusi.
Aku menuju ke arah yang ditunjukkan si peri kemudian bersembunyi di balik sesemakan dan pepohonan.
Efek tambahan dari Ochre Archer Recognition Inhibition dengan cukup baik didemostrasikan saat aku dapat mengawasi Third Token ketiga sambil bersembunyi di sekitarnya.
"Yang benar saja, kali ini Blade Lizard, ya."
Boss monster yang menghalangi jalan ke Kota Kedua, Blade Lizard.
Penampilannya terkikid oleh duri-duri sehingga sisik-sisiknya mengerut, kaki-kakinya terjerat duri-duri dan kuku-kuku keras memanjang bersama dengan duri-duri itu. Bunga mawar yang menjadi  kelemahan Arachne dan Moor Frog dapat terlihat pada mata kiri dan ekornya.
Meskipun Blade Lizard adalah sesosok boss, saat ini dia adalah lawan yang mudah untuk dikalahkan. Akan tetapi, aku tidak tahu seberapa kuat dia sekarang dengan duri-duri itu.
Karena Thorn Token akan bertindak untuk mengalahkan monster terdekatnya, aku menunggunya melakukan hal itu untuk memastikan seberapa kuat dia dan cara untuk menyerangnya.
"Ayo awasi dulu untuk sekarang——"Buu, buu"——Tidak mungkin."
Saat aku melihat ke arah suara tersebut, aku melihat anak babi itu berjalan ke arahku. Dia melihat-lihat ke sekitar dengan cemas seakan sedang mencari sesuatu.
Seakan dia datang untuk mencari kami.
"Hei, lihat. Kalau kita membiarkannya begitu saja, dia akan pergi ke tempat monster itu berada."
"Aku tahu."
Saat ini, Blade Lizard Thorn Token sedang menyerang monster di sekitarnya secara acak. Big Boar, Mill Birds, dan Rats, dia mengalahkan monster-monster itu menggunakan cakar dan taringnya.
"Buu, buu!"
Mencari-cari kami, si anak babi terus menguik. Karena Recognition Inhibition, dia lewat dengan tidak menyadari kami. Aku pun terus mengawasi Blade Lizard Thorn Token.
"Buuuu!"
"AAahh?‼ Dia ketahuan."
"SHURAAAAAA——"
Dengan kemunculan si anak babi di hadapannya, Blade Lizard mengeluarkan suara serak yang mengintimidasi.
"Bu, buu, buu!"
Meskipun ketakutan, si anak babi mencoba untuk menakut-nakuti Blade Lizard saat dia terus mencari kami.
Dan, si Blade Lizard mengayunkan salah satu kakinya.
"Ahh, sial! ——Clay Shield!"
Aku melepaskan keuntungan dari Recognition Inhibitionku dan menciptakan sebuah dinding tanah di antara si anak babi dan Blade Lizard.
"Enchant——Speed."
Menghalangi serangan dari ayunan cakar berduri itu, aku mendapatkan sedikit waktu dan berlari mendekat pada si anak babi dalam sekejap. Merengkuhnya, aku berlari maju.
"Ya ampun, kalau aku memutuskan untuk menyelamatkanmu lebih awal, ini tidak akan berubah menjadi situasi yang merepotkan seperti ini. Aku benar-benar bodoh."
"Tapi tetap saja, masih lebih baik daripada mengabaikannya!"
Si Peri Nakal yang memasuki tudungku mengintip keluar dan menanggapi di telingaku.
Melihat kami muncul secara mendadak, si Blade Lizard membuka mulutnya dan mulai mengancam kami. Dengan sisik-sisik tajam yang menegak, dia menghujam tanah dengan kuku-kuku berdurinya yang diperkeras dan menusukkan keempat kakinya untuk membentuk kuda-kuda.
"Bisakah kita menang melawannya tanpa informasi yang cukup?"
"Aku akan membantu jadi kita pasti menang!"
"Buu, buu!"
Disemangati oleh si Peri Nakal, aku mendapatkan motivasi untuk bertarung. Akan tetapi, si anak babi kelihatan senang telah menemukan kami dan menggesek-gesekkan ujung hidungnya ke lenganku.
"Ya ampun, dengan satu tangan begini, aku tidak bisa menghindar atau menembakkan panah. Enchant——Attack, Defence."
Aku mengambil tindakan lebih jauh dengan memasang enchant pada serangan fisik dan pertahanan selain enchant kecepatan untuk melawan Blade Lizard yang serangannya sepenuhnya fisik. Dan, segera setelah itu aku menghindari cakar besar yang diayunkan pada kami dari samping.
Setelah menghindar, sebuah ekor dengan sisik-sisik yang meremang tegak melintas di depanku. Adalah hal yang tepat untuk menghindarinya tepat waktu, pikirku.
Aku melangkah mundur menjauh dan melemparkan beberapa Magic Gems pada Blade Lizard.
"Terima ini. ——Bomb!"
Magic Gems meledak dengan hebatnya. Permata-permata itu memiliki kekuatan yang sama dengan yang sebelumnya kugunakan untuk melawan Blade Lizard. Tidak, karena level sihir tanahku meningkat sejak saat itu, permata-permata ini kini lebih kuat lagi.
"SHURAAAAAA——!"
Seperti yang kuduga, baik kekuatan pertahanan maupun serangannya telah ditingkatkan.
Setelah dia berubah menjadi Thorn Token, serangan setengah niat tidak akan berhasil. Saat melukai Moor Frog dan Arachne juga tidak ada responnya.
"Monster ini, bukankah dia lebih kuat daripada yang lainnya?"
"Kelihatannya begitu. Monster ini tidak ingin kita mendekati Desa Peri, jadi dia fokus untuk memperkuat bawahannya."
"Kalau begitu, Thorn Token berikutnya akan lebih kuat, ya. Ini pertama kalinya aku mendengar itu."
"Yup, karena ini pertama kalinya aku mengatakannya."
Dia tidak perlu mengakui fakta yang mengejutkan itu di tengah-tengah pertempuran. Aku merasa ingin mendengus sambil memandang langit, tapi aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari musuh.
Aku perlahan memperlebar jarak, mencoba untuk mencapai posisi di mana serangannya tidak akan mencapai si anak babi, tapi saat aku melangkah mundur, sebuah dinding hijau muncul di belakangku.
"Tidak mungkin, dindin duri!"
"Ini, dinding ini memotong jalan keluar kita sepenuhnya. Apa yang harus kita lakukan?"
Dinding duri yang mengelilingi medan pertempuranku dan Blade Lizard seperti jala-jala kawat arena pertarungan gulat mematikan.
Aku tidak bisa melarikan diri sambil memegangi si anak babi.
"Tidak ada pilihan lain selain bertarung, ya."
Menggendong si anak babi di lengan kiriku, aku mengangkat pisau dapur di tangan kananku. Akan tetapi, karena sisik-sisik Blade Lizard yang meremang tegak itu lebih panjang daripada pisau dapurku, kecuali aku membidiknya dengan mantap, pisauku tidak akan bisa melukai tubuhnya.
"SHURAAAAAA——"
"Cih‼"
Aku bermanuver untuk menghindari diriku terhimpir Blade Lizard di depan dan dinding duri di belakang.
Panggung pertarungan berduri ini terlalu kecil untuk bergerak dalam party. Mungkin, ini dibuat untuk solo player. Entah ini penghalang untuk mencegah serangan satu sisi dari kejauhan atau sebuah penjara untuk mencegah serangan dari jauh.
"Bahaya‼"
Ayunan cakar, sabetan ekor, gigitan taringnya, sisik-sisik yang menegak di sekujur tubuhnya. Menggunakan seluruh tubuhku, aku terus menghindari serangan-serangan Blade Lizard dan mengamatinya.
"Seperti yang kuduga, mataku jadi semakin baik."
Aku sekarang benar-benar sadar dengan kemampuan yang kurasakan saat pertarungan dengan Arachne.
Hanya untuk sesaat ketika serangan musuh mendekat, pergerakan dunia di sekelilingku terlihat melambat. Tetap saja, itu bukannya aku bergerak seperti yang biasanya kulakukan. Hanya saja, semua pergerakan,termasuk diriku sendiri, terasa seperti diputar ulang dalam gerak lambat pada saat itu.
Akan tetapi——
"Kalau aku punya waktu untuk berpikir, maka aku akan menggunakan pilihan tindakan yang optimal! —— Ingredients Knowledge!"
Salah satunya adalah menganalisa titik kelemahan musuh dengan Ingredients Knowledge.
Sambil menghindari serangan-serangan tersebut, aku menemukan mawar-mawar itu adalah titik kelemahan lawan dan melawan bali, aku membidik mereka.
"Ha‼"
"GYAAAAAAA——"
Aku menjulurkan pisau dapurku untuk menyerang balik belahan ekornya. Kelopak-kelopan mawar yang mekar di ekor berhamburan dan si Blade Lizard meronta-ronta.
Bunga-bunga mawar yang biasanya mekar pada Thorn Token, saat penanda Ingredients Knowledge bereaksi pada mereka, aku menjurus pada titik tersebut.
"Ya! Serangan——‼"
Seranganku mengenainya. Tidak ada waktu untuk bersenang-senang karena hal itu. Duri tebal yang berhubungan dengan Blade Lizard menyerangku.
Aku lupa bahwa musuh bukan hanya si Blade Lizard yang diparasiti, tapi juga sulur-sulur berduri yang memanjang dari tanah. Duri-duri itu menjadi gelisah menanggapi pemandangan Blade Lizard yang menggeliat kesakitan dan mendekatiku.
Bahkan meskipun memanfaatkan waktu yang kudapat dari Sky Eyes untuk berpikir, aku tidak dapat menemukan waktu yang tepat untuk menghindar ataupun menemukan tempat amat. Aku mulai merasa tidak sabaran.
("Apa yang harus kulakukan, ke mana aku lari, ke mana aku menghindar——")
Tidak dapat menemukan jalan, aku mengambil posisi bertahan.
Dengan postur bertahan tersebut ketika duri-duri itu mengenai bahuku, aku memeluk si anak babi untuk melindunginya.
"Ughh——!"
Duri-duri setebal batangan kayu mengenai bahuku, menghempasku dengan dampak serangannya.
Aku menahannya hanya untuk sesaat ketika dampak serangan itu menusuk bahuku dan mendorongku ke dinding duri di belakangku.
Duri-duri menusuk bahu dan punggungku, 40% dari HPku terkikis dan aku terjatuh pada lututku.
Si Peri Nakal terbang ke langit sebelum duri-duri itu menyerang. Anak babi yang kupeluk di lenganku juga aman. Akan tetapi, karena aku tidak bisa sepenuhnya memblokir serangan tersebut, si anak babi mendapat sedikit cedera.
"Aku akan menyembuhkanmu sekarang."
Sebelum memulihkan diriku sendiri, aku memprioritaskan untuk menurunkan si anak babi yang menguik lemah di lenganku dan menggunakan High Potion padanya.
"Cepat berdiri dan menghindar!"
Aku mengangkat kepala mendengar suara si Peri Nakal saat Blade Lizard mengacungkan ekor tebalnya dan mendekatiku dari depan.
"——?‼ Kupercayakan padamu!"
Aku menyadari bahwa aku tidak bisa menghindarinya dan melemparkan si anak babi ke langit. Segera setelah itu, ekor tersebut melengkung mirip kait dan menangkap sisi kepalaku.
Sementara HP-ku berkurang, aku melihat si Peri Nakal dengan mantap menangkap si anak babi yang terbang dan membawanya ke luar dinding duri.
Di luar dindin ada Ryui dan Zakuro, jadi aku bisa merasa tenang. Saat aku berpikir demikian, pada saat yang sama HP-ku turun ke titik nol dan pandanganku menghitam.
Dan, sebuah pilihan muncul di tengah-tengah pandanganku yang mengabur——bertanya apakah aku akan menggunakan Obat Kebangkitan atau tidak. Aku memilih YES tanpa ragu-ragu.
"Sekarang, ayo kembali fokus!"
Aku perlahan berdiri dan sekali lagi menghadapi si Blade Lizard.
Aku menggunakan High Potion yang kukeluarkan sebelumnya, tapi itu tidak cukup jadi aku menggunakan sebotol lagi untuk memulihkan HP-ku sepenuhnya.
"Apa kau baik-baik saja? Kau barusan mati, 'kan."
"Aku tidak apa-apa! Daripada itu——"Aku sudah membawanya ke luar dinding duri."——Kerja bagus."
"Jadi, aku harus mendukungmu melakukannya, tapi biarkan aku bertanya, apa kita punya kesempatan?"
"Aku tidak begitu yakin. Tapi, kita harus melakukannya, 'kan?"
Sambil berkata demikian, aku mengganti senjataku dari pisau dapur ke Black Maiden's Longbow.
"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?"
"Pertempuran akan berlangsung tidak lama lagi. Aku akan membidik titik vitalnya. Jadi, kau pancinglah perhatian lawan sebisa mungkin."
"Rencana sederhana dan mudah dimengerti adalah rencana yang terbaik!"
Si Peri Nakal terbang dari bahuku sambil berkata demikian. Dia menciptakan sebuah pusaran angin di depan Blade Lizard dan menyerangnya. Meskipun itu digunakan untuk mengerjai dan tidak punya daya serang, karena pusaran angin itu terus bertahan di mana wajah Blade Lizard berada, monster itu mencoba mengayunkan cakar dan ekor pada angin tersebut. Juga, makhluk itu mencoba melompat pada si Peri Nakal yang ada di tengah udara, tapi dengan duri di tanah yang membelenggunya, Blade Lizard tidak bisa mencapainya.
"Hehe. Masih ada lagi!"
Sementara itu, aku melanjutkan persiapan.
Karena aku kembali dengan Obat Kebangkitan, efek penguat dari enchant telah menghilang, sehingga aku harus memasangnya kembali.
"Enchant ——Attack, Defence, Speed. Cursed ——Defence."
Aku memperkuat diriku sendiri dengan enchant dan memperlemah pertahanan Blade Lizard.
Dan, aku menelan Boost Enchant penguat ATK, membantu diriku dengan sebuah item.
"Waktu efektifnya tiga menit. ATK+8 untuk kekuatan serangan maksimal."
Akan tetapi, itu belum selesai.
Yang kukeluarkan berikutnya adalah Elemental Stone api dan sebatang anak panah yang disintesis dengan status buruk racun.
"Elemental Enchant ——Weapon."
Aku memasangkan enchant api pada Black Maiden's Longbow dan memasangkan panah beracun. Aku membidik titik kelemahan laman sambil menambahkan koreksi serangan dari Art.
"Akan kuselesaikan sekarang. —— Bow Skill – Arrow Stitching!"
Sebuah serangan yang paling sering kugunakan. Aku melepaskan tembakan tersebut dan seakan dihisap, panah itu menancap pada mata Blade Lizard sementara si Peri Nakal menarik perhatiannya.
Mengikuti bunga pertama yang ada di ekor, kelopak mawar di mata Blade Lizard itu pun berserakan, tapi monster itu memelototiku dengan matanya yang tersisa.
Sebagai tambahan dampak serangan yang terkumpul, serangan ini semakin menambah efeknya dengan racun. 20% dari HP yang tersisa menyusut seiring serangan sampingan itu.
Tidak dapat mengalahkannya dengan sekali serang dan melihatnya tidak bisa dikalahkan hanya dengan efek serangan tambahan Poison 3, Blade Lizard kembali menjadikanku targetnya dan menyerangku lagi.
Saat dia membuka mulut besarnya, aku bisa melihat begitu banyak duri-duri tipis di dalamnya.
Mengingat kembali apa yang Arachne lakukan sebelumnya saat aku diremukkan, aku jadi merinding.
"Jadi dia ingin menyerap HP-ku!"
Meskipun Blade Lizard melompat untuk melumatku, aku mengaktidkan Magic Gem untuk mengatasinya.
"—— Clay Shield.!"
Aku meneriakkan kata tersebut dan menekan permata itu ke tanah.
Dengan pertama tersebut sebagai titik awalnya, sebidang dinding tanah naik dari permukaan dan menabrak rahang Blade Lizard, memaksanya menutup.
Dan kemudian aku melompat ke atasnya, mengangkangi kepala Blade Lizard.
"Akan kujahit mulutmu dengan ini"!
Aku melilitkan beberapa lapis Benang Logam Besi yang kukeluarkan dari dalam inventory ke sekitar mulutnya. Tidak dapat membuka mulutnya, Blade Lizard terus mengguncang kepalanya dengan kasar. Tidak mampu untuk berdiri sehingga aku tersentak lepas, aku berguling di tanah dan segera bangkit lalu mengangkat busurku ke langit.

"Arahkan ini"!
"Serahkan padaku!"
Aku mendengarkan jawaban bangga si Peri Nakal dan menembakkan sebatang anak panah ke langit.
Dan, saat aku menatap Blade Lizard yang mengamuk karena tidak dapat melepaskan Benang Logam, ini gawat, aku pun bergumam demikian. Beberapa lapis Benang Logam tidak dapat menahannya dan mulai bersuaran nyaring.
"Diamlah sedikit lebih lama lagi! —— Clay Shield!"
Si Blade Lizard mendapatkan tekanan dari dinding lumpur lagi. Kepalanya berguncang dan pergerakkannya menjadi lambat. Pada saat itulah aku melompat ke atas kepalanya lagi dan melilitkan Benang Logam di tanganku dan mempererat ikatan pada mulut Blade Lizard.
"Ghh!"
Untuk mencegahnya menggunakan kemampuan penyerap HP dengan menggigit, aku mengikat mulutnya dengan Benang Logam.
Demi memulihkan HP yang berkurang, Thorn Token mencoba mengguncangku lepas dan menggigitku.
Dia mengamuk dengan seluruh kekuatannya, berguling di tanah untuk menyentakku lepas.
Tidak mampu bertahan, hanya dengan usaha Blade Lizard untuk menyingkirkanku dengan menghantam dinding duri, 60% HP-ku menghilang. Meski demikian, aku menahannya dengan menggertakkan gigiku tanpa melepaskan Benang Logam.
Dan, saat Blade Lizard yang mengamuk sekali lagi menyerbu dinding, kematianku akibat dampak hantaman sudah bisa dipastikan.
Penglihatanku memudar. Meskipun kekuatan di tangan kakiku melonggar untuk sesaat, aku segera menyadarkan diriku lagi dengan Obat Kebangkitan lagi dan lagi sambil tetap memegang erat benang tersebut.
Setiap Blade Lizard berulang kali menghantam dinding dengan tubuhnya, aku pun membangkitkan diriku dari kematian.
"SHURAAAAAAA——"
Setelah aku membangkitkan diriku enam kali, dia tiba-tiba ambruk.
Blade Lizard Thorn Token melengkung ke belakang dan dari celah kecil di mulutnya yang tertutup, muncullah sebuah lidah dengan duri-duri tipis, menghela napas kasar saat terjatuh ke samping.
Thorn Token tidak dapat dikalahkan hanya dengan serangan selipan.
Dan, yang menjadi serangan penentu terakhir adalah——si Peri Nakal.
"Akulah yang terbaik! Mengarahkannya dengan sempurna!"
Anak panah yang ditembakkan ke udara itu dikendalikan olehnya dengan angin dan dengan luar biasanya menembus mawar terakhir di punggung Blade Lizard.
"Terima kasih. Kalau bukan karena dirimu, aku tidak akan menang."
"Fufun. Kau bisa memujiku lebih lagi!"
"Kau terlalu berlebihan."
Untuk menyembuhkan tubuhku yang luka-luka dan memperbaiki armorku yang rusak, aku menggunakan High Potion dan MP Potion. HP-ku akan pulih kembali dan armornya akan mendapatkan kembali daya tahannya dengan menyerap MP-ku lewat efek dari Auto Repair.
"Tetap saja, aku muak bertarung dengan kondisi kurang menguntungkan ini. Kali berikutnya, aku akan bertarung dengan kondisi yang jauh lebih baik."
Aku berbicara seakan sedang bersumpah pada diriku sendiri.
Dinding duri yang membentang ke sekelilingku juga meregang dan terbenam ke dalam tanah. Di sisi lain, Ryui dan Zakuro serta si anak babi sedang menunggu.
"Aku kembali. Maaf membuat kalian khawatir."
Aku mengelus lembut hewan-hewan itu satu per satu dan kemudian bersandar pada pohon terdekat lalu menghela napas.
Kalau bukan karena serangan penghabisan itu, Obat Kebangkitanku mungkin akan habis sebelum musuh tewas.
Thorn Token ketiga memiliki tiga mawar yang menjadi kelemahannya di tiga tempat. Kali ini di salah satu matanya, ekor, dan di antara sisik-sisik di punggungnya.
Aku menembakkan panah tersebut ke udara dan meminta si Peri Nakal untuk mengarahkannya setelah aku mengikat mulut Blade Lizard dengan Benang Logam, dan panah tersebut pun menancap pada mawar yang menjadi kelemahannya.
Dengan menempatkan tubuhku sebagai taruhannya untuk mengulur waktu dan karena itulah kami pun menang.
Kalau panah yang diarahkan itu meleset atau kekangku terlepas dan menyebabkan HP-ku terserap, atau Obat Kebangkitanku habis, aku pasti mati dan kembali ke kota.
Ada banyak hal yang harus direnungkan. Tapi, saat ini aku benar-benar lelah.
Tidak bisa memikirkan apapun segera setelah pertarungan, aku mengambil waktu sesaat untuk istirahat di bawah kerindangan pohon dan angin yang berhembus lembut.


Only Sense Online Jilid 6 Bab 3 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.