Minggu, 02 September 2018

New Hell In Another World Chapter III Ori LN


Bab III
(Author : Fathansy)


Aku bisa mendengar suara alaram yang berdering di belakang ranjangku. Dengan mataku yang tertutup dan badanku yang masih terbaring nyaman di kasur aku berkata, “Alaram, mati.”

Bunyi alaram yang bising berhenti dalam sekejap. Dengan kantup mataku yang terasa berat, aku berusaha membuka mataku. Kepalaku rasanya pusing sekali, dan badanku juga sedikit terasa mual. Yang lebih mengherankan aku seperti melihat siluet Sofie yang sedang tertidur lelap di sampingku dengan menidurkan kepalanya di dadaku. Siluet ini semakin lama terlihat semakin nyata. Mataku langsung terbuka sepenuhnya dengan cepat.

Aku langsung mengangkat kepala Sofie dari dadaku secara perlahan ke samping dan membangunkan badanku, terduduk di kasur. Aku melihat kesekeliling, ini memang kamarku. Apa yang Sofie lakukan di asrama laki-laki? Lebih tepatnya kenapa dia bisa berada di kamarku? Dan aku baru sadar satu hal, “Kenapa aku telanjang?!”

Aku cepat-cepat memeriksa bagian bawah badanku. “Fuh... celanaku masih terpasang...”

Sofie langsung bangun terduduk sambil mengusap-ngusap matanya. “Hrm... kenapa teriak-teriak segala...?”

Mengerikan, apa yang gadis ini lakukan pada komandannya? Aku bergeser sedikit kesamping, menjaga jarak dengan Sofie. “Sofie, apa yang kau lakukan di kamarku?”

Sofie mengerutkan kedua alisnya seraya membalas, “Kenapa kamu menanyakan hal itu? Apa kamu lupa? Semalam aku melaporkan tugas yang harus kamu kerjakan setelah kembali lagi ke akademi.”

“Oh, benar juga aku baru ingat. Tidak, yang ingin kutanyakan, kenapa kau malah tidur di kamarku?”

Raut wajah Sofie dalam sekejap terlihat kesal, seperti sedang dituduh yang tidak-tidak. 

“Bukannya kamu yang menyuruhku untuk tidur saja di kamarmu?”

“Hah? Aku tidak pernah menyuruhmu—”

Tiba-tiba adegan yang terlihat samar terlintas di kepalaku. Aku mulai mengingatnya, saat Sofie memberikan laporannya, aku mencoba meminum sedikit anggur yang di bawa olehnya. Ketagihan aku langsung meminumnya berkali-kali. Sisanya... karena merasa gerah aku melepas kemejaku. Lalu... “Sofie, tidurlah bersamaku...”

Wajahku langsung memerah dengan cepat, “Aaaargh...” aku yakin aku mengatakan hal seperti itu karena insting Arvie yang mesih menempel di tubuh ini.

Sofie mengubah posisi duduknya, berhadapan denganku. “Tidak usah malu seperi itu, hal ini juga sering terjadi dulu. Tapi karena aku mengerti kamu sedang mabuk biasanya aku mencoba menenangkanmu dan langsung pergi. Tapi rasanya kemarin, kamu seperti mengalami hal yang mengerikan saat mengatakan hal itu, seperti benar-benar ingin ditemani oleh seseorang. Aku niatnya menemani sampai tidur tapi tanpa sadar aku ikut tertidur.”

Jadi, aku mengatakan hal itu bukan karena dorongan dari Arvie, melainkan karena aku memang ingin ada seseorang yang menemaniku? Memang, aku masih merasa bingung juga ketakutan soal kejadian kemarin. Imajinasiku saat anak penjaga kafetaria itu menusuk perutku benar-benar terasa sangat nyata. Kenapa juga aku bisa membayangkan hal mengerikan seperti itu?

Tiba-tiba aku merasakan hangat di dadaku. Aku melihat tangan mungil yang sedang menempel pada dadaku. “Sofie, apa yang kau lakukan?”

“Aku mohon jangan salah paham. Aku hanya sedang memeriksa detak jantungmu. Sepertinya kamu masih terganggu akan sesuatu.”

“Iya, kurang lebih...”

“Aku harap kamu bisa menyiapkan diri untuk kegiatan hari ini. Aku akan pergi sekarang.”

Sofie turun dari kasur, dan berjalan menuju pintu kamar, sampai aku mencegatnya dengan suaraku. “Sofie, apa tidak apa-apa kau keluar dari kamarku begitu saja?”

Sofie melihat kebelakang sambil tersenyum, “Tidak masalah, mereka tidak akan berpikiran yang tidak-tidak. Lagi pula aku ini Mayor Jendral. Dan kalau ada yang berani bertanya, aku tinggal bilang ada hal penting yang harus kubahas denganmu di pagi buta ini. Kalau begitu, mohon bantuannya lagi untuk kedepannya, Jendral Arvie.”

Setelah Sofie keluar dari kamarku aku baru menyadari satu hal. Aku, orang yang biasanya gugup saat berhadapat dengan wanita, entah mengapa bisa bersikap begitu akrap dengan Sofie dalam waktu yang cepat. Aku merasa aku benar-benar bisa mempercayainya. Apa karena aku sedang berada di dalam tubuh Arvie?

***

Kegiatan untuk hari ini, pertandingan antar kelas dengan senjata utamanya yaitu senapan air. Masing-masing dari setiap kelas akan dibagi menjadi beberapa tim. Tentu saja tidak akan adil jika kelas unggul membentuk tim dan melewan tim dari kelas bawahannya. Setiap tim yang beranggota lima orang akan diisi oleh masing-masing satu murid dari seluruh kelas, berdasarkan nilai akademi mereka. Murid dengan nilai tertinggi akan menjadi pemimpin dari tim tersebut. Untuk kemudahan berkomunikasi antar anggota tim disiapkan juga Ear Zom, semacam walkie takie moderen yang dipasang di telinga.

Peraturannya cukup mudah. Setiap anggota dari tim akan dipasang semacam detektor air di dekat jantungnya. Jika ada orang yang terkena tembakan maka nama orang tersebut akan otomatis langsung muncul dalam layar monitor yang khusus dipajang untuk orang yang keluar dari tim.

Jika ada tim yang langsung berhasil menembak pemimpin dari tim lain maka permainan otamatis berhenti dan kemenangan menjadi pemilik tim tersebut. Namun, mereka tidak akan mendapat nilai tambahan karena tidak berhasil menembak bawahannya. Berhasil menembak seluruh bawahan dari sebuah tim nilainya dua kali lipat dari menembak pemimpin tim.

Terdapat kamera-kamera yang mengapung di udara, di setiap bagian tempat dari area pertandingan. Dan latihan kami akan ditayangkan di sebuah stadion besar milik akademi. Area pertandingan terbagi menjadi dua, yaitu hutan dan gedung. Tempat pertandingan ditentukan secara acak oleh sebuah program, begitu juga dengan pembagian babak pertandingan para tim.

Pertandingan ini hanya berlaku untuk para Stolz, murid yang sudah belajar di akademi ini selama empat tahun lebih. Bisa dibilang adik kelas kami, akan menonton pertandingan kami dan menjadikannya bahan pembelajaran.

Pertandingan akan berangsur sampai jam enam sore. Dalam timku sendiri aku menjadi pemimpin tim, sudah jelas. Timku, Tim B, akan bermain dalam babak kedua melawan Tim C.

Aku duduk di bangku stadion secara acak yang mana saja boleh asal bisa kududuki, masalahnya aku lupa siapa saja anggota timku. Sofie tidak termasuk dalam timku, dia menjadi pemimpin dari Tim A yang akan melawan Tim E dalam babak pertama. Sebentar lagi aku akan melihatnya bertarung secara langsung. Aku benar-benar penasaran dengan kemampuannya.

Disaat aku mulai fokus dengan layar besar yang berada di depanku, seseorang menepuk-nepuk pundak sebelah kananku dengan lembut. “Arvie, kau masih mengingatku?”

Seorang gadis di sampingku dengan rambut pirang yang panjang bertanya padaku dengan senyumnya yang manis. Aku sedikit menelan ludah seraya membalas, “Arh... maaf, siapa, yah...?”

Dia langsung tertawa kecil setelah mendengar jawabanku. “Sepertinya kau benar-benar terkena amnesia. Namaku Nova Weshtren, aku ini sepupu mu, loh. Melupakan sepupumu sendiri, rasanya aku ingin tertawa sekaligus merasa kecewa.”

“Oh...”

Nova, gadis yang katanya sepupuku ini dengan kencang memukul pundakku secara tiba-tiba. “Aw!”

Nova mendekatkan wajahnya padaku, “Apa-apaan tanggapanmu yang dingin itu? Apa karena kau mengalami amnesia kepribadianmu juga jadi ikut berubah?”

Eh? Arvie ini bukan tipe orang yang dingin, yah? Memang benar saat aku menonton video yang diberikan oleh Sofie semua kegiatannya hanya berisi saat dia sedang dalam tugas atau berlatih saja. Aku tidak terlalu tahu bagaimana sifat Arvie yang sebenarnya saat berhadapan dengan orang-orang di sekitarnya.

“Maaf, aku masih merasa pusing setelah selesai menjalani rehabilitas.”

Nova kembali keposisi semulanya. “Hmm... kalau begitu apa kau yakin bisa memimpin kami dalam latihan ini?”

“Kami...?”

Nova terlihat kesal dengan tanggapanku. “Aku ini termasuk anggota dalam timmu! Ingat baik-baik setiap wajah anggotamu! Astaga, sekarang sepupuku berubah menjadi orang yang menyebalkan.”

Sebelum aku ingin meminta maaf, ada sesuatu yang jatuh di atas kepalaku, rasanya seperti kerikil kecil. Aku langsung melihat kebelakang, lalu melihat ke atas, apa mungkin tadi itu kerikil dari atap stadion yang jatuh? Saat pandanganku kembali menuju Nova, aku menyadari ada sesuatu yang menggeliat di sekitar pundaknya.

“Nova, di pundakmu...”

“Pundakku?”

Nova melihati ulat kecil di bahunya, yang sedang menggeliat menuju leharnya. “AAAAAARGHHH!! LEHER!! MENJUJU LEHERKU!!”

Suaranya saat berteriak lebih berisik dari pada alaramku. Semua orang langsung melihati Nova yang berteriak ketakutan. “Tenang, Nova, itu hanya ulat.”

“LEPASKAN LEPASKAN LEPASKAN!! AKU JIJIK! LEPASKAN...!!!”

Rasanya aku pernah mendengar kalimat itu dalam sebuah sinetron di dunia asalku. Aku langsung mengambil ulat tersebut dari pundaknya, dan melemparnya dengan tepat menuju tong sampah yang berada lima meter di sampingku. Nova langsung memelukku dengan kencang. “Terima kasih..!!”

Pipiku memerah, sensasi kenyal yang kurasakan di dadaku ini. “Sebentar...” gumam Nova.
Dia langsung melepaskan pelukannya, “Bukannya kau juga takut dengan ulat? Apa mungkin karena pengaruh amnesia fobiamu hilang seketika?”

“Eh? Yah, mungkin...”

“Kecoa, katak, kaki seribu, biest. Apa kau juga tidak takut dengan binatang-binatang itu?”

“Sepertinya,” binatang yang terakhir itu apa, yah?

Nova tertawa kecil, “Yah, setidaknya masih ada hal positif yang terjadi setelah kau terkena amnesia. Rasanya aku bisa lebih mengandalkanmu.”

Wow, apa binatang-binatang yang dia sebutkan tadi benar-benar hal yang berpengaruh pada hidup dan matinya sampai sikapnya berubah secepat ini?

“Selain itu kenapa tiba-tiba bisa ada ulat segala di pundakku? Dari mana datangnya?” bingung Nova.

“PERHATIAN SEMUANYA, LATIHAN BABAK PERTAMA TIM A DAN TIM E DENGAN AREA HUTAN, AKAN DIMULAI DALAM SEPULUH DETIK DARI SEKARANG.”

Terdengar suara panita yang menggelegar hingga ke seluruh stadion. Hitungan mundur dari angka sepuluh dalam sekejap muncul di layar raksasa itu. Pertandingan akan dimulai dalam, tiga, dua, satu.

Seketika layar langsung terbagi menjadi dua, layar sebelah kiri menampilkan kondisi Tim A dan sebelah kanan Tim E. Masing-masing dari kedua tim masih berkumpul bersama sambil merundingkan rencana kedepannya.

Saat Tim A sudah mulai berpencah layar monitor di sebelah kiri itu kembali terbelah menjadi sembilan bagian. Saking besarnya monitor ini aku masih bisa melihat dengan jelas salah satu layar itu. Tim E juga sudah mulai berpencar dan layar di sebalah kanan ikut terbagi menjadi sembilan bagian. Total ada delapan belas kamera yang merekam pertandingan ini. Terkadang monitor akan men zoom in salah satu layar jika yang mengoprasikan tayangan ini merasa penting untuk di shoot lebih jelas.

Sejauh ini Sofie sudah berhasil menembak dua orang, Dia menembak kedua orang tersebut tanpa masalah sama sekali. Rasanya seperti dia datang menuju musuhnya secara tiba-tiba dan mengenai sasarannya hanya dengan sekali tembak. Aku tidak benar-benar bisa melihat kemampuan dia yang sebenarnya.

Pemimpin dari tim E adalah seorang laki-laki dengan kepala gundul. Dia mulai bergerak menuju tempat di mana Sofie berada. Kelihatannya orang kedua yang tertembak oleh Sofie memberinya info keberadaan Sofie sebelum keluar dari pertandingan. Tapi apa dia akan mengincar Sofie begitu saja? Karena dari tim A sendiri belum ada satupun yang gugur, akhirnya pemimpin tim E jadi ketakutan dan ingin segera menyelesaikan pertandingan?

Pemimpin tim E datang secara tiba-tiba dari samping pohon tepat di depan Sofie, dan mulai menembakan senapannya. Sofie dengan gesit melakukan salto belakang. Tembakannya mengenai celana Sofie. Sofie sendiri dengen cepat berusaha kabur menuju ke dalam hutan yang tidak terlihat di layar monitor. Sudah kuduga, dia masih ingin mengincar bawahannya terlebih dahulu untuk mendapat nilai lebih.

Ada beberapa bagian area yang tidak terekam, walau begitu karena seperti yang sudah kujelaskan di awal jika ada yang tertembak maka nama orang tersebut akan langsung muncul dalam monitor khusus. Aku tidak terlalu yakin akademi ini kekurangan kamera untuk merekam. Rasanya mereka memang sengaja memberi spot yang tidak terekam karena beberapa alasan.

Sekarang aku kembali melihat Sofie yang berlari dengan tangan yang menempel pada telinganya seperti sedang mencoba mendengarkan dengan seksama. Dengan mendadak dia menghentikan lariannya hingga membuat asap debu di sekitar kakinya. Berbelok menuju arah utara, dia kembali tidak terlihat di monitor.

Sofie kembali muncul di monitor, sekarang aku tahu dia sedang mengincar bawahan tim E nomor 1 yang sedang berlari berlawanan arah dengannya. Sepertinya incaran Sofie juga mengetahui dirinya sedang dalam bahaya. Apa dia tidak berani berhadapan langsung dengan Sofie?

“Tunggu—” gumamku.

“Sepertinya kau juga sudah sadar kenapa incaran Sofie malah melarikan diri.” sambung Nova.

“Memancing Sofie menuju tempat di mana seluruh anggota Tim E berkumpul di spot yang tidak terekam lalu menyerangnya habis-habisan. Memang benar Tim E yang terlihat sekarang ini hanya orang yang dikejar-kejar oleh Sofie saja. Dengan kata lain pemimpin Tim E dan bawahan Tim E yang satunya lagi sedang menunggu pancingannya datang di spot yang tidak terekam. Tapi aku tidak yakin Sofie sebodoh itu untuk masuk ke dalam perangkap mereka. Dan juga aku tidak yakin Tim E merencanakan perangkap murahan seperti itu.”

“Memang benar.”

Tiba-tiba keadaanya terbalik begitu saja, Sofie tiba-tiba berlari berlawanan arah begitu juga dengan incarannya. Sekarang malah terlihat seperti Sofie yang dikejar oleh incarannya. Apa yang terjadi?

Muncul nama baru yang gugur dalam pertandingan, bawahan dari Tim A gugur satu orang. Aku tidak melihat ada yang tertembak, dengan kata lain hal itu terjadi di spot yang tidak terekam kamera. Sepertinya incaran Sofie berlari bukan untuk melarikan diri dari Sofie maupun menjebaknya, melainkan menembak bawahan Tim A nomor 3 yang sedang terpojok. Jadi sejak awal dia tidak menyadari Sofie yang sedang mengejarnya, yah?

Sekarang aku tidak mengerti dengan yang Sofie lakukan. Setelah mengejar incarannya kenapa dia malah berlari berlawanan arah sesudah salah satu bawahannya gugur? Apa rencananya?

Sofie berhenti berlari dan berdiri di spot yang terekam jelas oleh kamera, lalu mengacungkan jempolnya menuju kamera dengan penuh senyum. Apa yang dia lakukan? Aku langsung mengamati ke tujuh belas layar lainnya. Incaran Sofie sedang berlari tepat menuju ke arahnya, bawahan Tim E yang lain yaitu nomor 2 langsung bergerak menuju ke arah barat, menuju tempat Sofie berada. Aneh, aku tidak melihat pemimpin Tim E, di mana dia?

Selain itu yang lebih mengherankan ketiga bawahan Tim A sama sekali tidak terlihat di monitor. Tunggu, bawahan Tim E nomor 2 tiba-tiba mengubah arah larinya menuju ke tempat bawahan Tim E nomor 1 berada begitu juga sebaliknya.

“Ah... sepertinya aku mengerti. Kau juga kurang lebih sudah mengerti apa yang sedang terjadi, kan? Nova—”

Saat aku berpaling melihat Nova, dia mengerutkan kedua alisnya sambil memandang monitor dengan serius. Sepertinya dia masih berpikir keras apa yang direncanakan oleh Tim A.  “Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Saat Sofie mengejar dan mengincar bawahan Tim E nomor 1, orang yang menjadi incaran Sofie itu memang sudah tahu kalau Sofie mengejarnya dari belakang dan memang berniat menggiring Sofie menuju spot yang tidak terekam lalu menyerang Sofie habis-habisan bersama kedua anggota lainnya.”

“Tapi hal itu tidak terjadi.”

“Memang, saat incaran Sofie sampai di spot tersebut kedua anggotanya tidak ada. Yang ada hanya bawahan Tim A nomor 3 yang sudah tertembak. Lebih tepatnya bawahan Tim A nomor 3 itu menembak dirinya sendiri. Kebingungan, incaran Sofie itu kembali berlari menuju spot yang terekam.”

“Kenapa kedua anggota Tim E tidak ada di spot tersebut jika mejebak Sofie memang rencana mereka? Dan kenapa bawahan Tim A nomor 3 bisa ada di sana lalu menembak dirinya sendiri?”

“Sebentar lagi kita akan tahu jawabannya. Aku sendiri masih menduga-duga sampai sini.”

Kami kembali melihat monitor, ketiga Tim A keluar dari sebuah hutan yang lebat dan muncul di tempat Sofie berdiri, bersama pemimpin Tim E yang pingsan.

Bingo. Alasan kita tidak melihat pemimpin Tim E karena dia di sandera oleh bawahan Tim A di spot yang tidak terlihat. Dan dari sana mereka tahu apa yang direncanakan Tim E. Salah satu dari bawahan Tim A menyamar dan memberikan informasi palsu melalui Ear Zom milik pemimpin Tim E tersebut. Awalnya aku kebingungan bagaimana caranya mereka mendiamkan pemimpin Tim E tersebut tanpa perlu menembaknya, ternyata sampai dibuat pingsan.”

“Yah, karena pertandingan ini merupakan bentuk latihan untuk medan perang. Selama tidak menyebabkan luka pada anggota lain perbuatan seperti membuat pingsan anggota lawan dengan memukul vital lawan masih diperbolehkan. Selain itu merencanakan taktik seperti ini akan menambah nilai dari tim tersebut. Kalau tidak aku yakin mereka tidak akan memilih jalan berbelit seperti ini.”

“Tidak juga, aku merasa Sofie melakukan ini karena dia menikmatinya. Ear Zoom ini bisa menghubungi satu orang secara pribadi, bukan? Tim A yang menyamar menjadi pemimpin Tim E tersebut memberitahu bawahan Tim E yang dikejar-kejar Sofie bahwa tempat spot yang sebelumnya ditentukan untuk menjebak Sofie dibatalkan dan dia harus pergi menuju spot yang berbeda.”

“Bagaimana kalau bawahan Tim E tersebut tidak mempercayai hal itu dan langsung bertanya pada anggotanya yang lain?”

“Menurutku kemungkinannya sangat kecil. Lagi pula dia belum mengendus sesuatu yang mencurigakan jadi untuk apa tidak mempercayai pemimpin anggota timmu sendiri? Masing-masing dari tim tersebut berisi anggota dari kelas yang berbeda-beda. Untuk mengenali suara khas masing-masing anggota tim dalam waktu yang cepat itu mustahil. Hal itu membuat penyamaran Tim A tersebut berjalan lancar.”

“Lalu?”

“Alasan bawahan Tim A nomor 3 menembak dirinya sendiri itu untuk meyakinkan bawahan Tim E nomor 1 tersebut bahwa sebelumnya memang ada anggota Tim E di spot itu yang menembak Tim A nomor 3. Supaya dia bisa percaya dengan sumber informasi yang dia terima.”

“Kenapa juga bawahan Tim E nomor 1 dan nomor 2 harus dipisahkan di spot yang berbeda? Kalau mereka berkumpul di spot yang sama juga tidak masalah bukan? Asalkan Sofie tidak masuk ke dalam spot tersebut.”

“Justru itu yang menjadi kunci utamanya. Tidak hanya membalikan meja, Tim A sendiri menyiapkan perangkap balasan yang membuat Tim E makin terlihat menyedihkan. Coba kita liat lagi ke monitor.”

Masing-masing bawahan Tim E nomor 1 dan 2 terdiam di sebuah hutan yang lebat dan terhalang sinar matahari.  Mereka berdua berdiam di dalam hutan yang saling berhadap menuju lahan kosong. Bawahan Tim E nomor 1 di hutan sebelah barat sedangkan bawahan Tim E nomor 2 di sebelah timur.

Terlihat bawahan Tim A nomor 1 yang sedang berbicara dengan Ear Zome milik pemimpin Tim E. Sofie melihatkan sebuah monitor tembus pandang bawahan Tim A nomor 1. Hanya pemimpin yang dapat melihat seluruh layar pertandingan yang terekam kamera.

“Kurang lebih aku tahu apa yang dia bicarakan pada kedua anggota Tim E tersebut, kau melihat siluet hitam yang berada beberapa meter di depanmu, kan? Lalu dia membenarkan posisi tangan masing-masing dari kedua tim E tersebut  agar mengenai sasarannya dengan tepat. Lalu dia berkata, tembak.”

Nama kedua anggota Tim E langsung muncul dalam monitor orang yang gugur.

“Kalau mereka tidak ditempatkan di spot yang berbeda maka Tim A tidak akan bisa melakukan perangkap balasannya ini.” ujarku pada Nova.

Nova menghela napas pelan, “Setelah mengalami amnesia sekarang sepupuku jadi bertingkah layaknya detektif.”

Tinggal tersisa pemimpin Tim E. Bawahan Tim A nomor 2 yang menggendong pemimpin Tim E, langsung menjatuhkannya ke tanah tampa ampun. Sofie menyiapkan pistol airnya dan mengarahkannya menuju dada pemimpin Tim E.

Dalam Sekejap layar raksasa itu menampilkan tulisan besar, THE WINNER IS TEAM A! Satu stadion langsung bertepuk tangan, ada juga yang sebagian yang bersiul dan beteriak. Dalam sekejap seluruh isi stadion menjadi ramai.

“Pacarmu itu terlalu mencolok...” ujar Sofie.

“Pa-pacar?” bingungku.

“Yah, walaupun kau dulu menolaknya. Tapi aku bisa tahu kalau kau juga sebenarnya menyukainya. Hubungan kalian yang benar-benar terlihat sangat dekat juga bagiku sudah termasuk seperti hubungan sepasang kekasih.”

Pipiku memanas, apa-apaan ini, apa aku tidak bisa mengontrol emosi tubuh orang ini?

“Ngomong-ngomong, Arvie, saat perang negara kita melawan Refrech. Kau pernah bilang...”

“Hm...?”

“Tidak, tidak jadi. Aku pikir tidak akan ada gunanya aku bertanya padamu sekarang setelah kau mengalami amnesia.”

Apa yang ingin Nova bicarakan? Sekarang malah aku yang jadi penasaran. Tadi dia berkata soal perang melawan Refrech?

“Arivee...!!”

Aku mendengar teriakan melengking itu dari jauh. Wajahku berpaling menuju sumber suara tersebut. Sofie berlari menuju ke arahku.

Dengan penuh semangat Sofie bertanya padaku, “Bagaimana pertandinganku tadi?”

“Membuat rencana balasan untuk Tim E yang ingin menjebakmu dengan perangkap murahan mereka. Sangat keren menurutku.”

Sofie terlihat tersipu seketika, diiringi senyumnya yang lebar. “Tentu saja! Lagi pula aku ini, bawahan Jendral Arvie!”

Nova bertepuk tangan dengan pelan. “Jarang-jarang aku melihat Arvie memuji seseorang.”
“SEBENTAR LAGI, PERTANDINGAN BABAK KEDUA AKAN DI MULAI.”

Jantungku langsung berdegup kencang mendengarnya. Aku harus bisa membuang rasa takutku. Apa lagi ini hanya latihan saja, bukan perang yang sesungguhnya. Aku tidak boleh mengacau.

“Sekarang saatnya giliran kita yang beraksi. Aku mohon kau melakukan yang terbaik sebagai pemimpin tim, Jendral Arvie.” ujar Nova.

Menarik dan mengeluarkan napas lewat mulut. Aku memandang Nova dengan senyum penuh percaya diri. “Serahkan padaku!”

New Hell In Another World Chapter III Ori LN Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Alei Darkhan

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.