Kamis, 27 September 2018

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 7 WN Bahasa Indonesia



GELANG BERSEJARAH

Aku melanjutkan rencanaku dengan membeli barang-barang yang ingin kupakai sendiri dengan uang yang kudapat dari penjualan. Saat aku mencari-cari di toko-tokot terdekat, aku dipanggil oleh seorang penjual buah.
"Bagaimana dengan yang ini? Rasanya benar-benar enak."
Beragam buah-buahan yang tidak pernah kuihat sebelumya disusun dengan rapi. Aku direkomendasikan beberapa buah yang terihat beracun karena begitu berwarna-warni sampai aku penasaran apakah itu bahkan aman untuk dimakan. Kalah oleh rasa ingin tahuku, aku pun membelinya.
"Saya beli satu kalau begitu." (Ruri)
"Ini, ambillah yang banyak."
Si Pak Tua dari toko itu mulai mengisi sebuah kantong dengan buah-buahan. Aku segera menyelanya.
"Ah! Ummm. Satu saja sudah cukup. Saya masih mau ke tempat lain…" (Ruri)
Aku tadinya ingin membeli yang lain setelah ini. Aku tidak yakin kalau uang yang kupunya akan cukup, jadi aku mencoba sehemat mungkin.
Akan tetapi, si Pak Tua menyunggingkan senyum cerah dan menyerahkan kantong tersebut berisi buah tersebut.
"Ini gratis! Hadiah dari Pak Tua ini."
"Oh, saya tidak bisa…" (Ruri)
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Sebagai gantinya, bisakah kau datang lagi ke kota ini? Tentu saja, aku akan lebih senang kalau kau mau datang ke tokoku lagi."
Chelsea mengatakan padaku untuk menerimanya setelah melihat wajah bingungku. Aku pun melakukannya setelah mengucapkan terima kasih sambil tersenyum.
"Saya akan menerimanya kalau begitu. Terima kasih banyak." (Ruri)
"Datanglah lagi."
Setelah berpisah dengan pria tua penuh semangat itu, aku kembali berjalan-jalan bersama Chelsea. Saat aku menolehkan kepalaku ke sana dan ke mari karena begitu banyaknya yang menarik, Chelsea menyuruhku untuk menahan diri dan tidak bertingkah seperti anak kecil. Tapi setiap kali aku melihat ke sebuah toko, aku disapa dan dipersilakan untuk datang ke toko itu dengan tangan terbuka.
Pada akhirnya, aku menerima banyak hal dari orang-orang di sana tanpa mengeluarkan satu sen pun.
"Apa ini karena ada banyak peri padaku?" (Ruri)
"Tanah yang disentuh para peri memproduksi hasil panen yang lebih baik dan tidak mengalami bencana alam besar. Kalau kau mengunjungi kota, para peri akan datang bersama-sama dan tempat itu akan makmur. Itu adalah harga yang kecil untuk dibayar agar kau mau datang lagi." (Chelsea)
"Begitu…"(Ruri)
Jadi para peri di dunia ini diperlakukan seperti para dewa di duniaku. Tapi karena kau bisa melihatnya dan merasakan sihir dari mereka, mereka pun diperlakukan dengan takut dan hormat.
Aku mulai mengerti keberadaan yang disebut peri di dunia ini dan bahaya yang mungkin kuhadapi karena berteman akrab dengan mereka.
(Aku hanya berharap aku tidak akan terlibat dalam masalah.)
Dengan pemikiran itu, aku kembali melanjutkan acara belanja yang lama kutunggu.
Yang pertama, pakaian baru!
Seperti yang diduga, selera fesyen di dunia ini berbeda dengan di dunia asalku. Sangat langka bagi para gadis untuk mengenakan celana panjang di dunia ini dan gaun terusan adalah standarnya.
Meski begitu, celana panjang adalah sebuah keharusan dalam hidupku di hutan. Terutama karena lebih mudah bergerak saat mengenakannya. Bukannya mereka tidak menjualnya, tapi alih-alih membeli yang kelihatan bagus, aku berpikir bahwa aku bisa saja membuatnya sendiri. Tapi aku tidak pintar menjahit dan meminta penjahit untuk membuat celana panjang akan memakan banyak biaya. Aku menyerah dengan keinginan itu dan memilih yang siap pakai.
Setelah selesai berbelanja sepatu, baju, bumbu dan makanan yang diawetkan untuk waktu yang lama, aku kembali ke rumah dengan menaiki Chelsea yang berubah menjadi naga.
Hari berikutnya, aku membuka portal ke ruang dimensi tempat si peri waktu berada. Aku yakin dia akan senang kalau aku memberikan padanya mainan-mainan yang kubeli untuknya. Akan tetapi, aku mendapatkan sebuah pemandangan yang tidak terduga.
Tempat itu seharusnya kosong. Aku memang menaruh barang belanjaanku di ruang ini, tapi seharusnya ada lebih banyak ruang kosong karena pengaruh sihirku.
Tapi, pakaian yang tidak aku ingat kalau aku membelinya, furniture yang tidak kubeli, beragam barang seperti senjata dan armor yang tidak pernah kulihat sebelumnya ada di situ.
"Apa maksudnya ini semua?!?!" (Ruri)
Mungkin tertarik dengan teriakanku, si peri waktu muncul entah dari mana.
Senangnya! Kau benar-benar datang…
Si peri mulai menangis karena melihatku.
"Maaf aku merusak pertemuan kembali yang menyenangkan ini, tapi apa ini??" (Ruri)
Kupikir kau akan menginginkan ini, jadi aku membawanya ke mari.
Si peri mungkin berharap aku memuji dia, tapi aku hampir pingsan karena perkataannya.
"Dari mana sebenarnya kau membawa semua ini?!" (Ruri)
Dari mana katamu? Tentu saja dari ruang milik orang lain! Lagipula aku tidak bisa meninggalkan dimensi ini.
Dengan kata lain, dia mencurinya…
Aku kehilangan kata-kata…
"Kembalikan mereka sekarang!" (Ruri)
Ehh…Kenapaaa? Kupikir Ruri akan senang…
Dia mungkin tidak mengira aku akan berkata begitu saat rasa terkejut membuat matanya berkaca-kaca lagi. Melihatnya, aku melembutkan perkataanku.
"Aku sangat senang dengan niatmu, tapi kau tidak boleh mencuri dari orang lain." (Ruri)
Kalau karena itu, kau tidak perlu khawatir. Aku mengambil semua ini dari ruang yang sudah ditinggalkan.
Saat aku akan menanyakan maksud perkataannya itu, aku menemukan diriku berdiri pada sebuah tangga.
Itu adalah sebuah tangga memutar yang panjang yang mengapung di ruang gelap.
Meskipun tangga tersebut bercahaya, aku tidak bisa melihat ujung dari tangga tersebut karena begitu panjang dan tak berakhirnya tangga itu memanjang.
"Ini…?" (Ruri)
Ini adalah ruang-waktu yang kuatur. Biasanya, tidak ada seorang pun yang dapat memasuki tempat ini, tapi Ruri adalah pengecualian. Lihat pintu yang di sana itu?
Sebuah pintu melayang di kejauhan dengan tulisan besar "Ruang Ruri" di atasnya. Sebuah jalur yang menjembatani jarak antara tangga dan pintu sama bercahanya seperti tangga ini.
Pintu itu menuju ruangan Ruri tempat kita tadi berada. Hanya aku yang bisa membuka pintu ke sisi ini.
"Maksudmu, pintu-pintu yang lain menuju ke ruangan orang lain?" (Ruri)
Ya. Ada pintu-pintu yang bercahaya dan pintu yang redup, 'kan? Bercahaya berarti ruangan itu berada dalam kepemilikan seseorang. Yang kubawa ke ruanganmu berasal dari saat ini tanpa pemilik.
Begitulah katanya. Tapi aku masih merasa tidak enak dengan situasi ini.
"Sekalipun kau berkata begitu, mengambil barang-barang tanpa permisi seperti itu rasanya sedikit…"(Ruri)
Ruri benar-benar orang yang jujur. Kontraktorku yang sebelumnya sering berkata padaku untuk mengumpulkan barang-barang yang ditinggalkan di ruang ini dan menyimpan yang berguna untuknya.
"Kontraktor?" (Ruri)
Ya. Sederhananya, seorang peri membuat kontrak dengan orang yang mereka sukai untuk menyediakan kekuatan sihir dan dukungan tambahan. Orang-orang ini disebut 'kontraktor'. Kontraktorku yang sebelumnya juga adalah orang yang dapat memasuki ruang ini. Meskipun dia selalu bersikap angkuh dan sangat merepotkan, dia juga orang yang sangat baik.
Dalam kata-kata si peri yang dengan bahagianya mengingat kembali masa lalu, sekelumit rasa sepi dapat terasa. Baginya, orang tersebut mungkin memiliki tempat khusus di hatinya.
Yah, itu hanyalah masa lalu. Tentang kepemilikan barang-barang ini, ruang yang diciptakan oleh orang tersebut hanya bisa diakses oleh orang yang sama. Jadi jika orang tersebut menyerahkan kepemilikan ruang tersebut, dengan kata lain [Mati], maka semua yang ada di ruang itu akan menghilang setelah jangka waktu tertentu. Mempertimbangkan itu, bukankah lebih baik kalau Ruri menggunakannya?
"Kau akan menghancurkannya?" (Ruri)
Ya. Kalau tidak, akan begitu banyak pintu hingga tak terhitung banyaknya.
Aku kebingungan. Akan tetapi, aku tidak bisa selalu mengandalkan Chelsea. Untuk bertahan hidup di dunia ini tanpa sanak saudara satu pun dan dukungan perlindungan dari orang tuaku, akan lebih cerdas untuk menerima bantuan apapun yang bisa kudapatkan dan mengambil yang bisa kuambil.
"Baiklah, aku hanya akan mengambil yang sepertinya berguna." (Ruri)
Baiklah. Oh iya, aku masih punya beberapa barang dari kontraktorku yang sebelumnya. Aku akan membawanya ke ruanganmu nanti.
"Eh, tidak apa-apa. Ini punya nilai khusus secara pribadi, 'kan?" (Ruri)
Tidak apa-apa, tidak masalah. Orang itu mengatakan padaku kalau tidak masalah untuk memberikan semuanya pada kontraktor berikutnya.
'Kontraktor berikutnya' katanya. Sampai saat ini, aku tidak pernah mendengar tentang hal itu. Si peri tersenyum geli saat melihat wajah bingungku.
Aku membuat kontrak denganmu setelah kau pulang kemarin.
"…Aku tidak tahu itu…" (Ruri)
Yah, itu karena aku menyukai Ruri!
Aku menyerah untuk berkata-kata lebih jauh setelah melihat si peri membuat gesture minta maaf yang manis dengan tangannya. Di saat berikutnya, kami dipindahkan ke ruang si kontraktor sebelumnya.
Senjata-senjata yang bernilai tinggi dan barang-baran dekoratif menumpuk seperti gunung dan menutupi tempat ini seluruhnya. Aku terpana.
"…benar-benat tidak masalah aku menerima semua ini…?" (Ruri)
Tentu saja! Aku akan menghubungkan ruangan Ruri dengan ruang ini nantinya dan memindahkan barang-barangnya, tapi kalau kau melihat ada yang menarik, silakan ambil saja.
Meskipun aku tidak tahu nilai dari barang-barang di dunia ini, bahkan aku pun tahu bahwa perhiasan paling sederhana yang berguling di tempat ini sangatlah mahal.
Aku mulai sakit kepala karena semua benda yang berkilauan ini dan buru-buru melihat ke sekeliling. Sebuah gelang menarik perhatianku.
"Cantik…" (Ruri)
Selain gelang, aku mengambil sebilah pisau, sebuah busur, beberapa anak panah, dan beberapa barang lainnya yang kurencanakan untuk diberikan pada Chelsea sebagai kompensasi saat aku pulang ke dunia luar.
Tidak diketahui oleh saat itu, aku melupakan beberapa peringatan yang diberikan padaku oleh peri tersebut saat sesi mencari harta karun yang membuat sakit kepala.
"Ngomong-ngomong, siapa namamu? Sulit rasanya hanya bisa memangilmu 'Kamu' atau 'Peri yang mengatur waktu."
Namaku Lydia. (Lydia)
Bagi seorang peri, bulan dan tahun berlalu dalam sekejap mata.
Seorang kontraktor baru mengambil alih posisi kontraktor sebelumnya.
Di antara para kontraktor, hanya satu yang memberinya nama. Itu adalah sesuatu yang terjadi di waktu yang begitu jauh di masa lalu sampai sulit untuk menghitung sudah berapa tahun.
Tapi, setelah akhirnya menemukan seseorang yang memanggilnya dengan nama berharga yang diberikan padanya di masa lalu, Lydia menyunggingkan seulas senyuman terbaik setelah sekian lama.
* * *
Setelah mengucapkan salam perpisahan dengan Lydia, aku kembali ke dunia luar dan segera menuju Chelsea untuk memberikan dia beberapa oleh-oleh.
Tapi entah kenapa, dia mulai menceramahiku setelah begitu terkejut melihat barang-barang yang kuberikan padanya.
Dia salah paham dengan berpikir bahwa aku menerima semua barang-barang itu dari seorang peri. Hanya setelah aku menjelaskannya panjang lebar, akhirnya dia mengerti situasinya dan kembali ke kamarnya dengan sakit kepala.
Aku tadinya membayangkan Chelsea akan senang dengan hal ini, tapi tidak tahu kesalahan apa yang telah kulakukan, aku jadi merasa sedih.
Aku kembali ke kamarku dan berbaring di ranjang. Setelah menghela napas berat, aku mengeluarkan gelang yang kutemukan sebelumnya.
Dengan keterampilan mendetail dan permata-permata indah di sekelilingnya, gelang ini adalah sebuah karya seni.
"Sepertinya tidak akan ada masalah nantinya, tapi saat ini juga sedang bermasalah…"
Setelah menyadari bahwa aku mendapatkan kekayaan yang luar biasa dalam sekejap, aku mulai khawatir tentang masa depanku. Aku bisa dengan mudahnya menjadi target orang-orang yang menginginkan hartaku begitu mereka mengetahuinya. Aku memutuskan hanya akan menceritakan masalah ini pada Chelsea.
Setelah itu, aku mengenakan gelang tersebut dan menyerah terhadap mantera tidur yang dilancarkan oleh cahaya matahari yang hangat.
Saat aku terbangun, matahari telah terbenam.
Aku langsung terbangun untuk menyiapkan makan malam, tapi rasanya ada yang aneh.
(Hmm? Ini aneh…)
Pemandangan biasanya di depanku entah kenapa berbeda dari biasanya. Tapi furniture berada di tempat yang sama seperti biasa, jadi apa yang berbeda?
Bingung dengan kegelisahan yang kurasakan, aku mencoba untuk turun dari ranjangku. Saat itulah aku menyadari tanganku.
Itu adalah tangan berbulu putih kecil yang lembut. Saat aku membalikkan telapak tangan ke arahku, aku melihat tapak kucing yang benar-benar imut dan empuk.
Setelah berpikir dan berpikir untuk beberapa saat, aku menjerit.
"Meow Meaouwww‼"
Tapi tidak peduli seperti apa aku berteriak, kata-kata tidak terbentuk. Aku menjadi semakin panik. Chelsea yang menyadari keributan ini datang ke kamarku.
"Kenapa kau berisik sekali, Ruri? Ayo bantu aku menyiapkan makan ma…lam… …" (Chelsea)
Alih-alih aku, Chelsea hanya melihat seekor kucing putih.
"Wah~ Dari mana kau datang, kucing kecil? Apakah Ruri membawamu ke sini? Kadang-kadang, gadis itu bisa cukup…"
(Kucing?! Aku berubah menjadi kucin?!)
Aku mulai membuat keributan di depan Chelsea.
"Meow, Miaw Miaw. (Chelsea, ini aku, Ruri!)"
Aku mencoba sebisa mungkin untuk berkomunikasi dengan Chelsea, tapi tidak mungkin dia akan mengerti meonganku. Chelsea benar-benar salah membaca situasinya.
"Oh? Kau lapar?" (Chelsea)
"M.E.O.N.G! (BUKAN ITU)!"
Aku sudah hampir menyerah saat para peri bicara.
Kucing ini Ruri.
Ruri berubah menjadi kucing~.
Kami tidak bisa menaiki bahunya lagi karena dia jadi begitu kecil.
Setelah mendengar apa yang peri katakan, Chelsea menatapku dan mulai berbicara untuk memastikan kebenaran pernyataan itu.
"…Apa…kau benar-benar Ruri?" (Chelsea)
"Meow Meow."
Karena kata-kata tidak berguna, aku mengangguk penuh semangat. Tapi Chelsea sama sekali tidak yakin.
"Ruri seharusnya dari ras manusia, 'kan? Dari apa yang Ruri ceritakan padaku, dunianya tidak ada ras demi-human. Apa kau mau bilang kalau dia memiliki darah dari manusia kucing?" (Chelsea)
Para peri menjawab pertanyaan Chelsea setelah melihatku berpose berpikir.
Itu karena gelang yang Ruri pakai.
Gelang yang terbuat dari sihir kuno, yang mengubahmu menjadi kucing~
Saat aku melihat kaki depanku, tidak diragukan lagi ada sebuah gelang di situ. Ukuran gelang itu yang seharusnya cocok untuk dipakai manusia, menyusut ke ukuran yang pas untuk kaki kucingku saat ini.
Chelsea kemudian mencoba untuk melepaskan gelang tersebut dari tanganku. Benda tersebut lepas tanpa hambatan apapun. Hal berikutnya yang kutahu, aku dikelilingi oleh cahaya yang sama dengan yang Chelsea pancarkan saat fase perubahan naga dan kembali ke wujud manusiaku.
Setelah memastikan tanganku adalah tangan manusia, aku menyentuh wajah dan tubuhku untuk memastikan bahwa semuanya kembali normal. Aku merasa lega.
"Syukurlaaaaaaaaaah! Aku tiba-tiba berubah menjadi kucing dan sama sekali tidak bisa bicara. Kupikir aku tidak akan bisa kembali jadi manusia!" (Ruri)
"Haah…aku tidak pernah bosan dengan Ruri." (Chelsea)
Aku mengambil gelang itu dari Chelsea dan segera pergi untuk menanyakan pada Lydia tentang benda itu. Menurutnya, gelang itu bukanlah aksesoris normal. Itu adalah alat sihir yang dibuat jauh di masa lalu yang dapat mengubah orang dari ras apapun menjadi seekor kucing.
Si penciptanya adalah seseorang yang sangat menyukai apapun yang berkaitan dengan 'kucing' dan menghabiskan seluruh hidupnya untuk menciptakan gelang ini.
Tidak ada seorang pun yang mengerti dengan obsesinya ini.
Bagiku, aku benar-benar ingin bisa mendapat kesempatan untuk berbicara dengan orang yang mengerti betapa hebatnya kehalusan kucing. Akan tetapi, orang itu berasal dari masa lampau yang jauh. Aku benar-benar berpikir bahwa kami bisa menjadi sahabat.
Aku merasa senang bisa mendapatkan barang sebagus ini. Tapi aku mendapat pelajaran, bahwa aku harus benar-benar mendengarkan apa yang orang lain katakan.




Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 7 WN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.