Senin, 24 September 2018

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 5 WN Bahasa Indonesia



PERI WAKTU

Cahaya matahari pagi bersinar melewati celah-celah dedaunan di pohon.
Bersama dengan hewan magis yang bersikap seperti anjing yang setia, kami mencari tumbuh-tumbuhan obat di hutan. Aku menamai dia…'Kotarou'.
"Bagaimana dengan yang ini?" (Ruri)
Itu aman.
Itu memiliki tekstur tajam menggigit yang menarik~
Para peri tidak makan ataupun minum. Akan tetapi, mereka ada hampir di setiap sudut dunia ini dan memiliki jaringan informasi mengagumkanya sendiri. Para peri yang hidup di tempat-tempat yang masih tidak tersentuh peradaban akan mendapatkan informasinya dari para peri yang ada dan begitu pula sebaliknya.
Ada banyak hewan magis di hutan ini, dan Kotarou berada di puncak rantai makanan. Saat aku memujinya tentang hal itu, dia menguik senang.
Awalnya, aku merasa takut karena wajahnya yang mengerikan. Akan tetapi, aku mulai terbiasa dengan keanehan Kotarou. Dia akan menurunkan ekornya dengan sedih kalau dimarahi dan mengibas-ngibaskannya seperti seekor anjing yang girang jika dipuji. Aku bahkan mulai merasa dia imut dengan kelakuannya yang mudah ditebak ini.
Begitu aku selesai memenuhi keranjang yang Kotarou bawa dengan mulutnya, aku kembali ke rumah Chelsea. DInding penghalang di sekitar rumah dimodifikasi agar Kotarou bisa masuk.
Chelsea sedang menungguku di depan rumah dengan kain yang begitu lebar dibentangkan di tanah.
"Aku pulang." (Ruri)
"Oh, sepertinya kau dapat banyak sekali." (Chelsea)
Kami mulai memilah-milah hasil yang kudapatkan berdasarkan jenisnya di atas kain itu.
* * *
Ruri merasa begitu bersemangat sejak pagi setelah mendengar bahwa dia akan mengunjungi kota para demi-human.
Sambil bersenandung ketika menyotir barang dagangan, Chelsea memandangi hasil hutan yang dikumpulkan Ruri dari perjalanan singkatnya.
Ruri tidak menyadarinya saat itu tapi hampir semua yang dia dapatkan, yang ditunjukkan oleh para peri, adalah herba dengan efek luar biasa atau buah yang jarang sekali muncul di pasaran.
Setelah menghitung-hitung nilai dari semua ini, Chelsea sedikit merasa pusing.
(Aku sebaiknya mengajari anak ini tentang nilai barang-barang di dunia ini atau entah siapa yang tahu apa yang akan terjadi nantinya.)
Para peri mungkin ingin membuat Ruri senang, karena herba-herba yang seharusnya tidak ada di musim ini terdapat di antara hasil panen tersebut. Dengan menjual barang-barang yang sangat langka ini, mereka sudah pasti akan menjadi pusat perhatian sekalipun mereka tidak menginginkannya.
Akan berbahaya kalau mereka sampai menarik perhatian orang jahat.
Chelsea tidak begitu khawatir tentang Ruri, dia lebih mengkhawatirkan akibat yang muncul dari pembalasan para peri yang melindungi Ruri.
Chelsea memutuskan untuk menjual hanya setengah saja dari semuanya.
Dia menyimpan sisa setengahnya di ruang dimensi terpisah untuk mencegahnya rusak dan menghentikan proses pembusukan.
Ruri begitu terkejut saat dia melihat sebuah torehan bercahaya yang muncul tengah udara kosong.
"Chelsea-san‼ apa itu?! ITU!" (Ruri)
"Apa maksudmu? Aku hanya membuka ruang dimensi." (Chelsea)
"BAGAIMANA KAU MELAKUKANNYA?!" (Ruri)
Chelsea menatap Ruri seakan DIALAH yang aneh. Tapi mengingat perbedaan akal sehat kedua dunia mereka, dia pun akhirnya mengerti.
"Ini adalah ruang dimensi yang menghubungkan ruang antara dunia kita dengan ruang tempat peri waktu tinggal dengan menggunakan kekuatannya. Barang-barang yang disimpan di ruang dimensi ini tidak akan mengalami arus waktu." (Chelsea)
":Bisakah aku melakukannya juga?" (Ruri)
"Coba saja." (Ruri)
Sesuatu seperti ini mudah untuk dibayangkan Ruri karena dia terbiasa dengan game-game dengan konsep ini. Tidak lama kemudian, sebuah lubang berbentuk lingkaran muncul di hadapannya. Meskipun dia merasakan aliran keluar kekuatan sihir yang lebih berat dengan sihir ini, dia dengan segera melupakannya saat matanya mendarat pada torehan di tengah udara di hadapannya.
"Oh~ oh~!" (Ruri)
Melihat Ruri tanpa kesulitan menciptakan torehan ruang dimensi yang seharusnya sedikit menantang, Chelsea tersenyum getir.
Mengesampingkan Chelsea yang sedang seperti itu, Ruri melihat ke dalam ruang yang diciptakan torehan bercahaya itu.
Kita kemudian akan melihat Chelsea yang bola matanya hampir melompat keluar dari rongganya.
Dari sudut pandangnya, dia menyaksikan sebuah pemandangan horror di mana terdapat sesosok tubuh tanpa kepala yang sedang duduk di kursi.
Chelsea menarik tubuh Ruri dengan panik.
"Uwah! Ada apa tiba-tiba begitu?" (Ruri)
"Harusnya aku yang berkata begitu! Apa yang sebenarnya KAU lakukan?!" (Chelsea)
"Aku hanya penasaran seperti apa bagian dalamnya—" (Ruri)
"Bahkan orang idiot sekalipun tahu kalau tidak boleh memasukkan kepalanya ke dalam ruang itu!" (Chelsea)
"Benarkah?" (Ruri)
Bahaya dari ketidaktahuan.
Tidak seperti Chelsea yang gemetar, Ruri kembali menjulurkan kepalanya ke lubang itu sambil bergumam 'tapi..' tanpa peduli sama sekali.
"Bagian dalamnya sangat luas dan terang, lho?" (Ruri)
"Huh?" (Chelsea)
* * *
Aku terus membujuk Chelsea yang kebingungan untuk melihat ke dalam torehan ruang dimensi itu dengan mendorongnya. Meskipun dia terlihat sedikit menolak ide itu, akhirnya dia menyerah terhadap rasa penasarannya. Dia memegangi pinggiran torehan itu dengan kedua tangannya dan menahan napas sambil terus menjulurkan kepalanya ke dalam celah dimensi tersebut.
"Ini benar-benar pemandangan yang aneh…"
Saat aku melihat Chelsea yang tanpa kepala, aku jadi mengerti kenapa Chelsea bertingkah seperti sebelumnya. Saat Chelsea selesai, dia mengeluarkan kepalanya dengan ekspresi terhenyak.
"Chelsea-san?" (Ruri)
Chelsea kembali sadar setelah aku melambaikan tanganku di hadapannya.
"Kau baik-baik saja?" (Ruri)
"Yah, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit terkejut. Siapa yang tahu kalau bagian dalam ruang dimensi seperti itu." (Chelsea)
"Kau sama sekali tidak pernah memasuki ruang dimensi sebelumnya"? (Ruri)
"Kurasa itu adalah pandangan stereotip di antara pengguna sihir bahwa kau tidak boleh memasukinya. Selain itu, ruang dimensi yang kubuat tidaklah sebesar itu, jadi tidak mungkin aku memasukinya." (Chelsea)
Aku merenung memikirkannya. Aku tidak ingin melakukan hal-hal yang berbahaya. Aku ingin mencoba memasuki ruang tersebut dengan seluruh tubuh, tapi mendengar perkataan Chelsea, tidak ada jaminan itu akan baik-baik saja. Akan tetapi, aku sudah memastikan bahwa bernapas di dalam sana adalah hal yang mungkin berdasarkan percobaan seluruh-kepalaku-di-dalam-lubang.
"Uu~ aku benar-benar ingin masuk… Apa yang harus kulakukan?" (Ruri)
Bagaimana kalau torehannya menutup begitu aku memasukinya?
Sementara aku kebingungan apakah bermasalah atau tidak untuk melanjutkannya, para peri berbicara sambil tertawa-tawa.
Tidak apa-apa.
Dia bilang tidak masalah untuk masuk.
"Siapa?" (Ruri)
Kau akan tahu setelah masuk.
Karena para peri berkata tidak akan ada apa-apa, aku mempercayai mereka dan memasuki ruang dimensi tersebut setelah memperlebar torehannya sampai ke ukuran yang bisa kumasuki.
Di dalamnya begitu luas seperti yang kulihat sebelumnya. Tempat ini seperti sebuah gudang yang sangat besar dengan langit-langit yang begitu tinggi dan benar-benar berwarna putih baik dinding maupun langit-langitnya. Dan sekeliling begitu terang benderang meskipun tidak ada satu pun sumber cahaya yang terlihat.
Chelsea mengikutiku.
"Ini luar biasa." (Chelsea)
"Jadi, siapa yang mengatakan tidak apa-apa aku masuk ke sini?" (Ruri)
Itu adalah aku.
Terkejut oleh suara orang ketiga, Chelsea dan aku melihat ke arah sumber suara tersebut. Di sana, seorang gadis cantik dengan tubuh transparan mendadak muncul entah dari mana.
"Gyaaaaaaa! Hantuuuuuuuuu‼" (Ruri)
Aku berteriak tidak seperti para gadis pada umumnya dan bersembunyi di balik punggung Chelsea, gemetar.
"Sebentar, sebentar, tetap tenang! Itu bukan hantu, itu peri." (Chelsea)
"Peri…?" (Ruri)
Aku mengintip dengan takut-takut dari belakang Chelsea dan meilhat seorang gadis berambut perak panjang dengan mata keemasan yang mungkin seumuran denganku dengan ekspresi kebingungan. Dia terlihat lemah lembut. Meskipun tubuhnya tembus pandang, sepasang sayap seperti yang ada pada peri-peri lain muncul di punggungnya.
"Tapi ukurannya sama sekali berbeda…" (Ruri)
Para peri yang kutahu semua seukuran telapak tangan. Akan tetapi, peri yang berdiri di depanku memiliki tinggi tubuh yang sama dengan manusia biasa.
Itu karena anak-anak tersebut berada di tingkatan lebih rendah, sementara aku adalah peri dengan tingkatan lebih tinggi. Penampilan peri berubah berdasarkan besarnya kekuatan yang mereka miliki.
Begitu keadaannya jelas bahwa dia bukanlah hantu, aku meminta maaf atas keributan yang kubuat atas situasi ini.
"Maafkan aku." (Ruri)
Tidak masalah. Seperti yang diberitakan, kekuatan sihirmu kuat. Tidak banyak orang yang bisa menciptakan ruang dimensi sebesar ini. Saat aku pertama kali mendengar tentang dirimu, aku ingin bertemu denganmu meskipun hanya sekali. Karena aku tidak bisa meninggalkan tempat ini.
Peri tersebut memperlihatkan wajah sedih.
"Kenapa? Tempat ini sekarang terhubung dengan dunia luar. Mau ke luar bersamaku?" (Ruri)
…Aku menghargai niatmu itu. Tapi aku tidak dapat meninggalkan dimensi ini karena aku adalah oeri yang mengatur waktu.
"Peri yang mengatur waktu?!" (Chelsea)
Aku dibuat kaget oleh seruan mendadak Chelsea yang terkejut.
"Chelsea-san, kalau kau berteriak seperti itu, bahkan aku pun akan terkejut." (Ruri)
"Mana mungkin aku bisa tenang! Peri yang mengatur waktu adalah peri yang dianggap hanya mitos. Dikatakan bahwa peri waktu tidak pernah menunjukkan dirinya di depan orang-orang." (Chelsea)
"Aku mengerti…" (Chelsea)
Chelsea mungkin jadi tidak bersemangat begitu melihatku yang tidak tahu seberapa pentingnya hal ini, sampai-sampai dia menunjukkan pose kecewa.
"Kau tidak akan mengerti meskipun aku mengatakannya, 'kan…?" (Chelsea)
"Yah, nyatanya saat ini aku melihatnya. Oh, ngomong-ngomong, karena kau adalah peri yang mengatur waktu, apakah kau bisa mengendalikan waktu? Seperti, yah kau tahu, menunjukkan padaku dunia ini sepuluh tahun yang akan datang?" (Ruri)
Aku tentu saja sedang membicarakan hal-hal semacam lompatan waktu. Aku menunggu jawabannya dengan gelisah.
Tugas mengendalikan waktu membutuhkan sejumlah besar kekuatan sihir. Bahkan dengan total kekuatan sihir dari tiap penyihir di dunia ini, tidak akan cukup untuk mengendalikan waktu seluruh dunia.
"Tapi waktu di sini tidak bergerak, 'kan?" (Ruri)
Ruang ini berada dalam kekuasaanku. Ini adalah dimensi yang berbeda dibandingkan dengan yang ada di luar sana, sehingga aliran waktunya tidak terhubung. Karena itulah mengapa kondisi dari barang apapun yang ditempatkan di ruang ini tetap sama tidak peduli berapa lama waktu berlalu. Benda tersebut tidak mengalami aliran waktu.
"Jadi aku tidak akan menua kalau aku tinggal di ruang ini?" (Ruri)
"Ya. Tapi efek samping pada kesehatan mental akan mulai muncul pada makhluk hidup jika mereka tinggal terlalu lama, jadi aku tidak merekomendasikannya sama sekali. Mereka akan menjadi gila atau menjadi orang yang tidak berguna…
Aku memucat begitu mendengar kata-kata yang meresahkan itu.
"Kalau begitu, sebaiknya kita pergi dari sini secepatnya!" (Ruri)
"Kau benar, ayo." (Chelsea)
Aku buru-buru keluar dari ruang ini. Akan tetapi, ada yang mengganjal di hatiku saat melihat tatapan sedih peri itu ketika aku menoleh.
"Apa kau satu-satunya peri di sini? Bagaimana dengan peri yang lain?" (Ruri)
Aku sendirian di sini. Terkadang, para peri dari luar akan menceritakan padaku banyak hal tentang dunia luar. Tapi kami tidak bisa bertemu.
"Berapa lama seseorang bisa di dalam sini sampai efek sampingnya terasa? Setelah beberapa jam atau semacamnya?" (Ruri)
Hmm? Ah, kalau tidak setiap hari maka tidak ada masalah. Kekuatan sihirmu lebih kuat daripada yang lainnya, jadi kau tidak akan terpengaruh semudah itu…
Aku sudah memutuskannya saat ini juga.
"Kalau begitu, aku akan mampir sesekali." (Ruri)
Si Peri membelalakkan matanya.
Eh…?
"Aku akan ke kota tidak lama lagi. Aku akan mendapatkan beberapa mainan bagus dan ayo bermain bersama nantinya." (Ruri)
Kau benar-benar akan datang mengunjungiku lagi...?
"Tentu saja." (Ruri)
Si peri tidak dapat menahan perasaannya lagi dan mulai menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
…T…Terima kasih…terima kasih banyak…
Aku mengucapkan salah perpisahan pada si peri yang tersedu-sedu dengan ucapan terima kasihnya dan kembali ke dunia luar.
Chelsea memelototiku seakan sedang menyalahkanku.
Dia tidak yakin kalau itu 100% aman, tapi dia tidak ada niatan untuk mengubah pendirianku.
"Apa itu benar-benar tidak masalah?" (Chelsea)
"Aku tidak bisa membiarkannya sendirian begitu saja setelah melihat itu…" (Ruri)
Ekspresi sedihnya mirip denganku di masa lalu….
Kapanpun aku mendapatkan teman baru atau kekasih, mereka akan terpikat oleh Asahi saat itu juga. Ini adalah empati di antara orang-orang seperti kami. Meskipun situasinya sedikit berbeda denganku yang tidak sepenuhnya kesepian karena ada orang tuaku, aku memahami perasaannya yang ingin bersama seseorang.
Chesela tidak berkata apa-apa lagi.
Hari ini, aku berteman dengan seorang peri yang cengeng.

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 5 WN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.