Kamis, 20 September 2018

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 4 WN Bahasa Indonesia



KEKUATAN PERI

Aku menghirup dalam-dalam udara hutan di pagi hari.
"Rasanya menyegarkan sekali." (Ruri)
nyegarkan~
kan~
Para peri di sekitarku meniru tindakanku.
Sudah beberapa hari sejak aku mulai tinggal bersama Chelsea. Meskipun aku merasa sedih dengan kenyataan tidak dapat kembali ke rumahku, aku ternyata mulai menikmati keseharian hidupku tanpa Asahi.
Aku diberikan ruang kosong untuk dijadikan kamarku di rumah ini. Dengan jumlah kamar dan luasnya rumah ini, sulit untuk membayangkan hanya ada satu orang yang hidup di sini.
Hidupku di sini dipenuhi dengan kejutan-kejutan.
Aku benar-benar terkagum-kagum dengan bagaimana caranya sihir digunakan di dunia ini. Bukan dalam cara yang bagus meski begitu.
Metode pada umumnya untuk meminjam kekuatan peri adalah dengan membayangkan hasil yang kau inginkan di dalam kepalamu dan pada dasarnya, berdoa pada peri.
Mungkin ini kedengaran begitu mudah, tapi tidak ada jaminan bahwa sihir yang dihasilkan akan sama seperti yang dibayangkan oleh si pengguna sihir. Kapasitas sihir dan panjang gelombang penggunanya sangat mempengaruhi hasilnya.
Kau bisa bilang bahwa itu tergantung pada apakah para peri menyukai panjang gelombangmu atau tidak.
Sementara kita membicarakan topik mengenai panjang gelombangku, bahkan sepertinya peri yang terikat kontrak dengan Chelsea pun sangat menyukainya sampai mereka akan melakukan apapun yang kuminta pada mereka. Karena itulah bisa dipahami kenapa Chelsea mengomeliku karena memiliki 'kekuatan sihir yang terlalu kuat' dan menyuruhku untuk menekan banyaknya sihir yang kugunakan atau merembes keluar.
Setelah dikatakan 'Mempelajari cara mengendalikan kekuatanmu adalah salah satu bagian dari pelatihanmu', aku terus melatih diriku untuk menggunakan sihir yang tidak akan mengakibatkan kerusakan apapun pada sekelilingku.
Awalnya, aku tidak yakin apa itu sebenarnya 'sihir'. Tapi setelah menggunakannya sebentar, aku perlahan mulai memahami 'perasaan' sensasi aneh saat sesuatu mengalir keluar dari tubuhku setiap kali menggunakan sihir. Aku dapat menghubungkan sensasi tersebut nantinya sebagai aliran keluarnya kekuatan sihir dari tubuhku.
Semula, kapan pun aku mencoba untuk 'membatasi kekuatan sihirku', terkadang ada saat-saat gagal melakukannya. Akan tetapi, begitu aku terbiasa dengan aliran kekuatan sihir dalam diriku, aku dapat mengendalikan pengeluaran kekuatan tersebut tanpa masalah.
Semuanya berubah dengan cukup dramatis sesudah itu.
Secara spesifik, tugasku adalah membersihkan rumah, memasak dan mencuci baju seperti yang kujanjikan sebagai bayaranku untuk tinggal di sini.
Membersihkan dilakukan dengan mengumpulkan sampah-sampah ke satu titik dengan sihir angin dan sihir api untuk membakarnya.
Mencuci baju dilakukan dengan sihir yang disebut 'Pemurnian', sejenis sihir tipe air yang hanya akan menghilangkan noda pada kain tanpa membasahinya. Sihir ini benar-benar membuat hidup menjadi lebih mudah.
Karena air dari sihir pemurnian aman untuk digunakan pada kain dan tubuh manusia, aku menjadi sedikit kecewa. Seandainya aku tahu tentang sihir ini saat aku masih di dalam hutan, aku tidak akan berlarian di sana dalam keadaan lengket menjijikkan begitu…
Sedangkan untuk makanan, aku tidak menggunakan sihir. Sebagai gantinya, aku menerima banyak buah dan kacang-kacangan dari para peri. Mereka melakukannya untuk membuatku senang. Chelsea hanya menatapi dengan ekspresi datar selama itu.
Nah sekarang, alasan aku bangun lebih awal hari ini, karena sekarang waktunya mandi!
Meskipun aku sudah diberi tahu bahwa mandi adalah hal yang tidak diperlukan karena ada sihir pemurnian, sebagai orang Jepang, aku tidak bisa membuang ide berendam nyaman di dalam bak mandi.
Dibandingkan dengan sihir pemurnian, sihir untuk menghasilkan air adalah sesuatu yang bahkan bisa dilakukan pengguna sihir paling payah sekalipun. Selama kecocokkanmu dengan peri air tidaklah nol, kau bisa dengan mudah menghasilkan air kapanpun kau mau. Itu memberi kontribusi pada tidak adanya budaya 'berendam dalam bak mandi' di Kerajaan Naga karena tidak ada alasan untuk membuat pemandian umum kalau siapapun dapat menciptakan air bagi diri mereka sendiri untuk mandi dan sebagainya.
Tetap saja, karena gerutuan yang terus menerus dan sifat keras kepalaku saat meyakinkan Chelsea tentang kehebatan mandi ala Jepang, dia pun dengan enggan memberiku izin untuk membuat bak mandiku sendiri di halaman belakang.
"Baiklah kalau begitu! Ayo mulai membangun!" (Ruri)
Membangun apa~?
Sesuatu yang disebut 'bak mandi'.
Apa itu bak mandi?
Tidak tahu—
Aku mulai membayangkan gambaran sebuah bak di rumah kayu sedetail mungkin
Segera, dahan-dahan yang sepertinya hidup muncul mencuat dari dalam tanah dan mulai saling menjalin satu sama lain menjadi bentuk rumah kayu dalam pikiranku.
Aku pun membuat pose kemenangan.
"Horee~ Sihir memang tidak terbatas! Kalian semua benar-benar mengagumkan!" (Ruri)
Kita dipuji~
Kita mengagumkan~
Para peri yang dipuji olehku menari-nari di langit dengan senangnya.
Tanpa membuang-buang waktu, aku membuka pintu dan disambut oleh ruang ganti baju. Semakin ke dalam terdapat sebuah pemandian air panas terbuka yang sangat mirip dengan yang bisa kau temukan di hotel bintang lima di Jepang. Ini benar-benar tempat pemandian air panas yang luar biasa kalau harus kukatakan.
Begitu aku mengisinya dengan komponen paling utama yang disebut 'air panas', bak mandi sempurna ini pun akhirnya selesai.
Hei, kau tidak bisa menyalahkanku begitu bersemangat seperti ini!
Setelah mengisi bak mandi dengan air panas yang dibuat sihirku, aku melepaskan baju di ruang ganti dan memasuki pemandian. Aku sepenuhnya membenamkan diriku dalam sensasi berendam dalam bak mandi ala Jepang yang sudah kutunggu sejak lama.
Bergabung dalam kesenangan itu, para peri pun dengan nyamannya mengapung di bak mandi.
"Ini surga~" (Ruri)
Selama Ruri menikmati mandinya, sepucuk surat sampai untuk Chelsea yang ada di dalam rumah.
Pengirimnya adalah cucu Chelsea, Joshua, yang bekerja sebagai agen intelijen Kerajaan Naga.
Isi dari surat itu berkaitan dengan berita mengenai Miko-sama dan ramalan.
Menurut penyelidikan, orang-orang di sekitar Asahi secara abnormal dimabukkan dengan kesetiaan terhadap gadis itu. Akan tetapi, kelihatannya tidak akan jadi masalah besar.
Ada bukti bahwa Asahi menggunakan sihir pemikat. Tapi apakah dia melakukannya dengan sengaja atau tidak, sudah dipastikan bahwa kekuatan orangnya sendiri tidaklah begitu besar.
Dikatakan bahwa Asahi memiliki kapasitas sihir yang cukup besar, tapi sihir pemikat hanya mempengaruhi orang-orang yang berada cukup dekat dengannya untuk waktu yang lama. Kalau tidak, efek dari sihir itu tidak akan mengakar.
Akan tetapi, dalam cerita Ruri, mereka yang melakukana kontak dengan Asahi akan menjadi sesuatu yang mirip dengan budak yang setia.
Perbedaan hasil ini mungkin karena kenyataan bahwa sihir eksis di dunia ini dan tidak di dunia lain. Di dunia di mana sihir bahkan bukanlah sebuah konsep, daya tahan orang-orang terhadap sihir berbeda dengan mereka yang terbiasa dengan hal tersebut sepanjang hidupnya. Setidaknya, itulah yang Chelsea pikirkan.
Bagi orang-orang di dunia lain yang kekurangan daya tahan terhadap sihir, efek pemikat itu berada di level yang berbeda. Situasi semacam 'Bahkan obat pun kehilangan efeknya setelah terlalu banyak dikonsumsi'.
Sedangkan bagi penduduk Nadarsia, alasan kenapa mereka begitu menghormatinya meskipun mereka tidak terpikat, kemungkinan besar adalah karena ramalan.
Yang disebutkan dalam ramalan tersebut adalah Miko-sama yang dikirim dari dunia lain akan membawa kemakmuran bagi negeri. Tapi, jika negeri tersebut tidak bertindak sesuai keinginan sang Miko-sama, negeri tersebut akan menuju pada kehancurannya karena dia.
Karena itulah saat Ruri dijebak dengan tuduhan 'percobaan pembunuhan terhadap Miko-sama', semua orang selain si Pangeran bersikap di luar dugaan.
Apa yang terjadi sudah jelas kesialan bagi Ruri, tapi Chelsea senang hal ini terjadi.
Negara yang disebut Nadarsia ini tidak pernah suka dengan demi-human. Iri dengan kenyataan bahwa demi-human menempati lebih banyak lahan daripada mereka, perang yang tak terhitung banyaknya dilancarkan oleh mereka di masa lalu.
Demi-human sejak lahir memiliki semacam kekuatan di dalam diri mereka.'Perang-perang' ini hanyalah alasan remeh dari negara dengan pola pikir 'manusia adalah ras yang lebih hebat' untuk menyingkirkan negara lain dengan penduduk demi-human.
Sudah jelas negara mana yang baik dalam hal ini.
Chelsea merinding saat memikirkan hal-hal yang bisa saja terjadi kalau Ruri terlihat dalam negara yang keras kepala itu.
Raja Kerajaan Naga adalah sosok terkuat dalam ras terkuat di dunia ini, ras naga.
Dan Ruri adalah individu dari ras yang memiliki potensi sihir paling kecil, ras manusia. Akan tetapi, kekuatan sihirnya sebanding dengan sang raja naga dan dia pun dicintai para peri.
Terkadang, ada orang-orang yang membuat para peri tertarik. Tapi membantu mereka saat tersesat di hutan, atau membawakan makanan bagi mereka, bukanlah sesuatu yang akan dilakukan para peri.
Peri mengatur segalanya di dunia ini.
Penampilan mereka mungkin imut, tapi mereka dapat dengan mudahnya menghancurkan seluruh negara jika mereka marah.
Chelsea merasa bahwa para peri tersebut memperlakukan Ruri seperti seorang ibu memperlakukan anaknya.
Bisa dibilang, jika sesuatu yang buruk terjadi pada Ruri, maka para peri akan melakukan pembalasan sebagai responnya.
Jika Ruri diambil oleh negara yang ingin menyingkirkan demi-human dan menanamkan idealism mereka padanya…
Demi-human mungkin akan dibantai oleh manusia.
Yang menakutkan adalah Ruri bahkan tidak menyadari hal itu sama sekali.
Itulah isi dari surat tersebut.
"Kurasa akan gawat kalau aku meninggalkan dia begitu saja." (Chelsea)
Chelsea berdiri dan menuju ke tempat Ruri.
* * *
"Haa~ Pemandian Jepang memang memuaskan. Ah, Chelsea-san. Bagaimana, Chelsea-san? Mau mencobanya? Rasanya benar-benar nyaman." (Ruri)
Tepat saat aku selesai mandi, Chelsea datang ke rumah kayu dengan ekspresi serius.
"Ruri, bisa minta waktunya sedikit?" (Chelsea)
"Hmm? Ya, tentu. Ada apa?" (Ruri)
Kurasa aku tidak melakukan sesuatu yang buruk sampai saat ini, tapi aku siap untuk diceramahi.
"Kau mengalami saat-saat yang buruk di Nadarsia, bukan? Apa mungkin kau…mendendam pada Nadarsia?" (Chelsea)
"Tentu saja! Itu adalah target pembalasan dendamku yang pertama!" (Ruri)
Aku menjawab tanpa ragu-ragu.
Mendengarnya, Chelsea berbicara dengan suara tegang.
"Saat kau bilang balas dendam, apa yang kau rencanakan?" (Chelsea)
"Aku akan membuat mereka menangis! Aku ingin membuat mereka membungkuk padaku! Aku ingin meninju akar dari segala kemalanganku, Asahi; bekas teman sekelasku dan Pangeran yang membuat tuduhan palsu terhadapku; raja dan para pendeta yang menculikku ke sini; prajurit yang menendangku; aku ingin mereka semua berbaris dan merasakan tinju amarahku‼" (Ruri)
"Ah…aku mengerti…" (Chelsea)
Chelsea menatap Ruri dengan kebingungan tapi merasa lega di saat yang sama. Dia mungkin senang bahwa 'pembalasan dendam'  yang Ruri pikirkan sangatlah jinak.
"Kalau begitu, aku punya sedikit permintaan." (Chelsea)
"Apa itu?" (Ruri)
"Sebenarnya, Nadarsia saat ini tidak dapat menggunakan sihir. Tidak peduli bagaimana mereka memanggil para peri, mereka tidak mau menjawabnya." (Chelsea)
"Kenapa?" (Ruri)
Menggantikan Chelsea, para peri yang terbang di sekelilingku menjawab.
Orang-orang itu jahat.
Hukuman~
Karena Ruri bilang ingin balas dendam, ini hukuman mereka.
Kami benci orang yang menjahati Ruri.
Satu demi satu para peri bergantian bicara. Meskipun suara mereka terdengar ringan, tanda-tanda kemarahan dapat terasa.
"Fenomena ketidakmampuan menggunakan sihir bertepatan dengan pembuanganmu ke hutan ini. Tadinya ini hanya dugaan, tapi sepertinya tebakanku benar." (Chelsea)
Karena Ruri marah.
Dia bilang dia ingin balas dendam.
"Karena aku berkata begitu?" (Ruri)
Un.
Aku mulai berkeringat setelah melihat para peri mengangguk dengan ekspresi senang seakan berkata 'puji aku!'.
"Maksudmu, para peri mogok karena aku…?" (Ruri)
"Di dunia ini, tidak dapat menggunakan sihir adalah masalah hidup dan mati. Entah itu memasak atau bersih-bersih, sihir adalah hal vital dalam kehidupan sehari-hari. Yah, ras manusia memiliki kekuatan sihir paling sedikit dibanding ras lainnya. Hanya sedikit orang di Nadarsia seperti para pendeta yang bisa dengan mahir menggunakan sihir. Tapi karena orang-orang yang sangat sedikit itu sekarang tidak bisa menggunakan sihir juga, Nadarsia dalam kekacauan. Kalau 'pembalasan dendam'mu tidak mencakup seluruh negara, bisakah kau mengatakan pada peri ini untuk menghentikannya?" (Chelsea)
Aku ingin membalas dendam, tapi tidak sampai menghancurkan seluruh negara. Sebuah negara sampai jatuh dalam kekacauan hanya karena sihir tidak dapat digunakan adalah hal yang tak terbayangkan olehku mengingat tempat asalku. Akan tetapi, karena Chelsea memperlihatkan wajah yang begitu serius, aku tidak membuang-buang waktu untuk meyakinakn para peri menghentikan aksi mogok mereka.
Apa yang muncul adalah rentetan keluhan dari para peri.
Ehhh, kenapa? Kenapa?
Ruri mau balas dendam, 'kan?
"Yah, benar…Tapi aku ingin menyelesaikan masalah ini sendiri. Jadi kalian semua tolong jangan lakukan apapun soal ini." (Ruri)
Kami…pengganggu…?
Para peri yang imut ini mulai menangis. Aku bersuara 'Uuuh' melihat pemandangan itu dan menenangkan mereka.
"Itu tidak benar! Aku sangat bersyukur atas semua hal yang kalian telah lakukan untukku." (Ruri)
Benarkah?
"Ya! Aku akan mengandalkan kalian saat waktunya tiba, jadi jangan lakukan apapun untuk sementara ini, ya?" (Ruri)
Un! Mengerti~
Tatapan dari Chelsea terasa menyakitkan, tapi aku senang para peri telah kembali tenang.
Chelsea menghela napas 'apa yang seharusnya kulakukan padanya'.
"Ruri, ini adalah peringatanku untukmu. Kau mungkin sudah belajar dari masalah ini. Kalau terjadi sesuatu padamu, para peri akan menanggapinya. Akan ada orang-orang yang ingin menyalahgunakan kekuatanmu. Karena itu, aku akan mengajarimu sebaik mungkin menurut pengetahuanku tentang apa saja dan semua yang kutahu supaya kau dapat membuat keputusan yang tepat untuk dirimu sendiri." (Chelsea)
"…Apa tidak masalah kau mengatakan itu padaku?" (Ruri)
"Apa maksudmu?" (Chelsea)
"Saat aku tersesat di hutan ini tanpa tahu harus ke mana, kaulah yang menyelamatkanku. Aku sangat berterima kasih atas hal itu. Aku tidak punya pengetahuan apapun mengenai dunia ini, jadi mudah bagimu untuk memasukkan pemikiran dan penilaianmu padaku. Kalau itu adalah perkataan dari penyelamatku, aku akan mempercayai semuanya tanpa satu titik pun keraguan, kau tahu?" (Ruri)
Saat aku mengajukan pernyataan ini bahwa ada kemungkinan dia memanfaatkanku, dia menyunggingkan senyum getir.
"Itu mungkin benar, tapi itu adalah hal yang sangat berbahaya untuk dilakukan. Para peri cukup pintar untuk mengetahui apakah kau dicuci otak. Bahkan sekalipun kau memerintahkan mereka sesuatu yang berbahaya, mereka seharusnya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Akan tetapi, ada orang-orang yang cukup bodoh untuk mencoba memanfaatkanmu, meskipun tahu dengan jelas bahayanya. Karena itulah, kau tidak boleh dengan mudah ditipu orang." (Chelsea)
"Aku akan memikirkan nasehatmu itu. Kalau peri memang sekuat itu, apa yang akan kau lakukan kalau memutuskan untuk memanfaatkan mereka dalam menguasai dunia?" (Ruri)
"Aku berdoa semoga hari itu tidak akan datang. Lagipula, kau adalah orang yang pemalu, kau tidak akan memikirkan hal semacam itu. Kenakalan kecil untuk sesekali tidaklah masalah." (Chelsea)
"Aku tidak akan menyangkal itu, tapi apakah para peri ini benar-benar begitu berbahaya seperti yang kau katakan?" (Ruri)
Maksudku, mereka kelihatan sangat imut!
Tidak hanya penampilan mereka, bahkan suara mereka pun imut. Aku tidak bisa berpikir bahwa mereka ini berbahaya.
Ditambah lagi, meskipun memang benar sihir itu praktis, dibenci oleh mereka dan tidak dapat menggunakan sihir bukanlah akhir dari segalanya. Kau masih bisa menjalani kehidupanmu dengan normal.
"Oi, oi, aku akan menjelaskan padamu seberapa berbahayanya mereka…tapi sebelum itu, keributan apa itu di sana?" (Chelsea)
Aku menghadap ke arah yang Chelsea tunjukkan dengan alisnya.
"Tidak ada yang membuat keributan di sana…" (Ruri)
Para peri di sekitarku tidak membuat kegaduhan.
"Bukan di situ, maksudku di balik dinding penghalang." (Chelsea)
"Dinding penghalang?" (Ruri)
"Rumah ini dikelilingi dinding penghalang yang tak terlihat dan sihir yang mencegah orang lain untuk masuk. Kau tidak ingat merasakan sesuatu saat kau pertama kali tersandung ke dalam rumahku?" (Chelsea)
Kalau dipikir-pikir lagi, aku ingat peraasaan yang mirip dengan menembus semacam membrane saat itu. Tidak lama kemudian, aku melihat sebuah rumah besar.
"Saat kau mengatakannya, aku ingat pernah mengalami sensasi menembus sesuatu…" (Ruri)
"Biasanya, kau tidak akan bisa memasuki dinding penghalang, kau tahu? Penghalang ini hanya bekerja pada orang dengan sihir yang lebih lemah daripada si pemasangnya, yang dalam hal ini adalah aku. Aku benar-benar terkejut saat kau melewatinya. Belum lagi kau pingsan begitu melihatku." (Chelsea)
"…Maaf telah merepotkanmu." (Ruri)
Aku mengikuti Chelsea untuk memeriksa situasi di balik penghalang.
Aku tidak menyadarinya saat pertama kali datang ke mari, tapi setelah melatih diriku sendiri untuk memahami seperti apa rasanya 'sihir', aku sekarang dapat melihat penghalang tersebut dengan jelas.
Saat aku melihat ke luar penghalang, aku menemukan sumber dari keributan tersebut.
"…ah! Itu hewan liar waktu itu! Dan dia memakai rambut palsuku." (Ruri)
Itu adalah hewan liar yang memiliki tubuh seekor beruang, wajah babi, dan ekor kalajengking. Dia terus-menerus menubruk penghalang.
Di kepalanya ada wig berwarna coklat yang kuhilangkan saat sedang dikejar-kejar.
Aku penasaran apakah dia sengaja memungutnya untukku…
"Pastinya dia kembali ke sini karena lapar… Chelsea-san, kita harus segera melarikan diri!" (Ruri)
Aku menarik baju Chelsea, tapi dia sama sekali tidak bergerak.
"Jangan khawatir, kecuali kekuatan sihirnya lebih kuat dariku, dia tidak akan bisa menembus penghalang ini. Karena itulah, hewan magis  tidak akan bisa melewati penghalang ini." (Chelsea)
"Hewan magis?" (Ruri)
"Tidak seperti binatang buas pada umumnya, dia adalah binatang buas dengan kekuatan sihir. …tapi aneh. Mereka biasanya tidak bersikap seperti itu." (Chelsea)
Sementara Chelsea memiringkan kepalanya, para peri bicara.
Anak itu ke sini untuk mengembalikan rambut Ruri.
"Dia tidak di sini untuk menyerangku?" (Ruri)
Tidak~. Dia hanya ke sini untuk mengembalikan apa yang Ruri jatuhkan.
Dia tidak akan menyerang~. Dia selalu melindungi Ruri di hutan.
Menurut para peri, alasan kenapa aku tidak diserang oleh binatang liar dan hewan magis lainnya di hutan selama aku di dalam hutan adalah karena hewan magis ini menjagaku secara diam-diam.
Dia bersembunyi selama itu agar tidak membuatku takut. Tapi pada akhirnya, dia tidak bisa tahan lagi dan muncul di depanku. Seperti yang diduga, aku melarikan diri darinya, dan dia mulai mengejarku karena insting hewannya.
Dia jadi begitu bersemangat bukan karena menemukan mangsanya, tapi karena rasa senang berlebih yang dia rasakan. Setelah kembali sadar begitu dia kehilangan jejakku, dia kembali untuk mengambil rambut palsu yang kujatuhkan. Dia ingin mengembalikan rambut tersebut dan meminta maaf, tapi karena aku tidak muncul-muncul untuk waktu yang lama, dia mengambil tindakan drastis seperti yang kami lihat saat ini.
Sebuah tindakan yang mirip dengan anjing yang setia.
"Karena dia punya kekuatan sihir, dia tertarik dengan panjang gelombangmu seperti par peri." (Chelsea)
"Kalian semua seharusnya bisa menjelaskan situasinya padanya…" (Ruri)
Saat aku berkata demikian, para peri segera memberi jawaban Kami lupa~
Aku keluar dari penghalang dan berjalan menuju si hewan magis dengan waspada. Si hewan magis kemudian menyerahkan rambut palsu tersebut padaku yang kemudian kuterima.
"Terima kasih banyak." (Ruri)
Setelah aku berterima kasih padanya, dia menguik "Fu ouuuu” dengan lantang dan mengejutkanku dengan membungkukkan tubuhnya.
Dia ingin dielus di kepalanya oleh Ruri.
"Eh, serius?" (Ruri)
Berhadapan dengan hewan magis yang beberapa kali lebih besar dariku, aku ingin menolak hal tersebut jika mungkin.
Akan tetapi, dia mengecilkan dirinya dengan memadatkan tubuhnya dan menatap dengan mata berbinar-binar penuh harapan. Itu bukanlah sebuah situasi di mana aku bisa pergi begitu saja.
Aku berjingkat dan mengelus kepala yang seperti babi itu.
Dia membuat suara menguik senang…dengan nada yang sangat rendah… Yup, ini sangat menakutkan.
Bertolak belakang dengan penampilannya, bulunya sangat lembut disentuh.
"Ah, ternyata sangat nyaman disentuh."
Sejak hari itu, seekor hewan peliharaan besar ditambahkan dalam kehidupanku.

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 4 WN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.