Kamis, 13 September 2018

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 3 WN Bahasa Indonesia



PENYIHIR HUTAN

Ada semangkuk sup di atas meja. Setelah satu suapan pertama, aku dibanjiri oleh aliran kegembiraan yang luar biasa.
Sudah cukup lama sejak terakhir kali aku makanan hangat melalui kerongkonganku, sampai-sampai aku pun mulai menitikkan air mata.
"Inilah kebahagiaan—" (Ruri)
"Makan atau menangis. Jangan lakukan keduanya. Mau daging?" (Penyihir)
:"Ya‼" (Ruri)
Aku menikmati saat-saat setelah satu gigitan daging yang berair tersebut.
Saat aku sedang tidak bisa menahan diri dengan makanan itu, aku merasa bahagia bahwa orang yang kutemui ini adalah orang yang baik.
Meski awalnya aku sempat terkejut, si tersangka pembunuhan yang berlumuran darah itu ternyata bukan sedang melakukan tindak kejahatan saat itu. Malahan, dia sedang menyembelih hewan liar yang dia rencanakan untuk dimasak nanti. Saat dia keluar dari kandang dan menuju lokasi keributan, dia memanggilku. Setelah itulah, dia menyadariku yang pingsan.
Benar-benar salah paham…
Tapi aku bersyukur dia sampai repot-repot merawat luka-lukaku dan menyediakanku makanan hangat.
Aku tidak memperhatikan dia dengan baik awalnya karena aku pingsan tidak lama setelahnya. Sekarang, aku bisa melihat bahwa dia hanyalah wanita tua pada umumnya.
Meskipun kesan awalku dia adalah orang yang kasar hanya karena melihat wajah pemarahnya, orang yang mau menyediakan makanan untuk orang asing sudah pasti bukanlah orang yang jahat.
Dongeng-dongeng yang dulu pernah kubaca tentang penyihir yang bersikap ramah terhadap korbannya yang tidak merasa curiga untuk nantinya dimakan, sempat terlintas dalam pikiranku. Akan tetapi, aku tidak begitu peduli hal itu untuk saat ini. Makanan yang ada di hadapanku adalah hal yang paling utama!
Aku melirik ke sekitar untuk memastikan lokasi perapian yang menyediakan kehangatan yang kurasakan saat ini.
"Tapi tetap saja, kau mengalami masa yang sulit, ya? Aku sama sekali tidak ada perasaan apapun soal Nadarsia sejak awal, tapi ini semakin menurunkan minatku pada negara itu. Aku tidak tahu apapun soal ramalan kuno ini, tapi sampai bertindak sejauh itu dengan menculik kalian dari dunia lain…"
Aku menghentikan gerakan tanganku dan menatapi nenek itu.
"Kenapa kau tahu itu? Aku masih belum menceritakan apapun." (Ruri)
Aku belum mengatakan apapun padanya tentang asalku, tapi saat mendengar perkataannya, itu seperti dia mengetahui apapun yang telah terjadi.
Si wanita tua itu memperlihatkan sebuah cengiran dan mendongakkan kepalanya ke langit-langit rumah.
Aku juga melakukan hal yang sama dan melihat langit-langit serta sekitarnya, tapi pada dasarnya aku hanya menatapi ruang kosong pada saat ini.
"Anak-anak ini yang mengatakannya padaku." (Penyihir)
'Anak-anak' katanya. Tapi yang ada di sini hanya aku dan si nenek. Aku jadi semakin bingung dibandingkan sebelumnya.
"Ah, kau tidak akan bisa melihat mereka saat mereka dalam keadaan seperti itu. Hmm, coba kita lihat. Sebelum sampai sini, apakah kau mendengar suara atau apapun?" (Penyihir)
"Suara…ah! Benar, aku mendengar suara denting bel. Itu selalu memimpinku ke sumber air dan makanan." (Ruri)
Setelah aku berkata begitu, suara yang sama berdering seakan mereka mencoba mengatakan 'Itu benar! Kami di sini!'
"Itu adalah suara-suara para peri. Sebenarnya, ada banyak dari mereka yang berkumpul di ruangan ini sekarang." (Penyihir)
Aku mengamati sekelilingku sekali lagi hanya untuk mendapatkan hal yang sama dengan tidak melihat apapun.
"Dari apa yang bisa kupastikan, kau memiliki kekuatan sihir yang sangat banyak. Akan tetapi, tidak bisa melihat mereka meskipun dengan kapasitas sihirmu yang seperti itu, kemungkinannya hanyalah karena kau tidak terbiasa menggunakan sihir. Tidak peduli sebagus apa sebuah alat, kalau penggunanya payah, alat tersebut tidak akan banyak berguna." (Penyihir)
Tidak dapat menggunakan apa yang kupunya. Contoh bagusnya adalah sebuah televisi tanpa sumber tenaga. Dengan kata lain, aku hanya perlu menemukan tombol "ON"-nya…
Dengan pemikiran seperti itu, aku sekali lagi menggunakan imajinasiku untuk membayangkan dapat melihat mereka seperti saat aku melakukannya untuk menciptakan api. Begitu aku melakukannya, aku mendadak merasakan pandanganku terbuka. Hal berikutnya yang kutahu, aku sedang melihat para peri seukuran telapak tanganku yang sedang melayang-layang di sekitar ruangan ini.
"Woah‼" (Ruri)
Aku terjatuh dari kursiku karena terkejut dengan pemandangan yang ada di depanku. Melihat itu, para peri berkumpul di sekelilingku untuk memeriksa apakah aku baik-baik saja atau tidak.
Apa kau tidak apa-apa?"
Sakit tidak?
"Aku baik-baik saja…tunggu…hah? Aku bisa mendengar dan mengerti kalian!" (Ruri)
"Nah, sekarang kau bisa mendengar mereka? Kurasa kau punya kemampuan adaptasi yang bagus, ditambah panjang gelombang kekuatan sihirmu adalah jenis yang memikat para peri. Dapat memahami perkataan para peri berarti kau dapat mengenali mereka." (Penyihir)
"Panjang gelombang?"
"Kita kesampingkan itu untuk nanti. Ceritakan padaku lebih jauh tentang gadis bernama 'Asahi' ini. Para peri hanya memberiku gambaran tak jelas mengenai dia. Sulit untuk menentukan orang seperti apa dia ini." (Penyihir)
Aku tidak begitu suka bercerita kepada orang lain yang tidak pernah kutemui sebelumnya tentang sesuatu sepribadi ini. Rasanya itu…salah. Aku masih tidak yakin kalau orang-orang di sini baik. Mungkin tidak begitu masalah kalau aku diusir keluar dari rumah ini begitu aku menjelek-jelekkan Asahi. Kalau dia sampai mengirimku kembali ke Nadarsia, aku pasti akan langsung dihukum mati.
"Err, aku tidak terlalu nyaman berbicara tentang hal pribadi dengan seseorang yang baru saja kutemui…" (Ruri)
Saat aku berkata begitu, daging yang baru sekali kugigit itu langsung diambil.
"Hou~ aku mengerti. Jadi kau tidak merasa nyaman dengan makanan yang dibuat oleh seseorang yang baru saja kau temui, ya 'kan?" (Penyihir)
"Uwahh. Tidak, sama sekali tidak masalah! Aku akan menceritakannya padamu tentang diriku! Aku akan mengatakan semuanya!"
Memerasku dengan merampas makananku. Tega sekali.
Tidak mungkin aku bisa menolaknya saat makanan seenak itu ada di depanku.
Aku kembali menggigit daging yang dikembalikan padaku dan mulai bercerita tentang banyak hal yang terjadi sejak pemanggilan waktu itu. Begitu aku mulai berbicara, itu seakan usahaku untuk menahan diri tidak menceritakan kisah hidupku adalah sebuah ide yang buruk saat aku mulai hanyut di dalamnya. Aku bahkan melebih-lebihkan detil-detil kecil.
Kondisiku saat ini seperti seorang ayah yang mabuk yang mengeluhkan masalah-masalahnya di tempat kerja dan di rumah.
Aku yakin wajahku tak keruan saat aku mengucapkan kata yang terakhir. Tapi aku merasa seakan beban di dalam hatiku terangkat.
Dulu, aku selalu dikelilingi oleh para pengikut Asahi. Aku tidak pernah bisa melepaskan uneg-unegku seperti yang baru saja kulakukan.
Ada terlalu banyak hal yang ingin kukeluhkan.
"Aku turut bersimpati mendengarnya. Kau benar-benar mengalami masa yang berat, ya.' (Penyihir)
"Kurasa kau tidak benar-benar mengerti apa yang sudah kulalui! Semua orang dengan seenaknya membuatku menjadi orang jahat dan mulai membenciku. Bahkan sekalipun aku mencoba menjauhkan diri dari Asahi, dia tetap saja menempel padaku tidak peduli apa yang terjadi. Kalau begini, dia mungkin akan mengikutiku meskipun aku menikah. Apa kau mengerti terror dari hal itu?!" (Ruri)
Aku masih ada begitu banyak hal yang ingin kukeluhkan, tapi si nenek langsung menyelaku.
"Baiklah, baiklah, aku sudah mengerti. Berhentilah. Meski begitu, aku bukannya tidak mengerti perasaan gadis bernama Asahi itu."
"Apa maksudmu?" (Ruri)
"Kau memancarkan panjang gelombang yang membuat perasaan nyaman bagaimanapun juga." (Penyihir)
"Lagi-lagi 'panjang gelombang'…Apa sebenarnya itu?" (Ruri)
"Ah, panjang gelombang adalah sesuatu yang dimiliki setiap penyihir. Dengan kata lain, itu adalah kecocokanmu dengan sihir. Di dunia ini, 'panjang gelombang' sihir jauh lebih penting daripada 'kapasitas' sihir. Yang disebut sihir adalah sesuatu yang kau pinjam dari peri untuk melakukannya. Dan 'panjang gelombang' sihir menentukan kecocokkanmu dengan atribut peri tersebut yang bersedia untuk membagikan kekuatannya. Para peri akan bersedia untuk membagikan kekuatannya pada mereka yang memiliki persamaan dengannya. Sebaliknya, mereka bahkan tidak akan mendekat pada orang-orang yang tidak memiliki persamaan. Nah, di sinilah kau. Para peri dari semua jenis atribut berkumpul di sekelilingmu. Itu membuktikan bahwa 'panjang gelombang' sihirmu sangat disukai oleh semua peri.' (Penyihir)
"Jadi maksudmu karena 'panjang gelombang' itu makanya Asahi menempel padaku seperti lintah?" (Ruri)
"Hei, aku sekalipun tidak dapat mengumpulkan peri sebanyak ini di sekitarku, kau tahu? Alasan mereka berkumpul di sekelilingmu adalah karena mereka merasa nyaman berada di sekitarmu. Aku yakin hal itu juga berlaku bagi si gadis Asahi." (Penyihir)
Ini menjelaskan semua tentang tindakan Asahi yang seperti penguntit itu. Benar-benar merepotkan.
Aku tanpa sadar memperlihatkan ekspresi yang sepenuhnya menunjukkan ketidaknyamananku saat memikirkan itu.
"Ah, tapi 'panjang gelombang' sihir yang kau bicarakan itu, bukankah hanya berefek pada Asahi kalau dia memiliki kekuatan sihir?"
Begitu aku mengatakannya, si nenek membuat ekspresi serius.
"Tentang itu, berarti si gadis Asahi bisa menggunakan sihir." (Penyihir)
"Menggunakan sihir?!...Tidak, tidak mungkin. Di dunia kami, sihir hanyalah sekedar fantasi." (Ruri)
Lagipula, Asahi merasa terkejut seperti yang lainnya saat pertama kali melihat sihir.
Dengan enggan, aku bisa mengatakannya dengan yakin berkat hari-hariku selama bersama dengan Asahi. Aku bisa dengan mudah menebak aktingnya. Dan itu bukannya acting.
"Tapi itu sangatlah mirip dengan sihir tertentu. Bagaimana dia memikat orang-orang di sekitarnya. Itu seperti mantera 'pemikat'." (Penyihir)
"Pemikat?..." (Ruri)
"Secara paksa membuat orang-orang yang tadinya tidak merasakan apapun padanya untuk merasa terpikat dan mau tidak mau melakukan permintaannya. Mantera 'pemikat'." (Penyihir)
"Aku tidak terpengaruh. Setidaknya aku berpikir begitu." (Ruri)
"Tidak hanya memiliki persamaan sihir yang bagus, kau juga memiliki kapasitas sihir yang besar. Mereka dengan kapasitas sihir yang lebih tinggi tidak terpengaruh oleh orang-orang dengan kapasitas sihir lebih rendah." (Penyihir)
Sihir pemikat…
Itu menjelaskan tentang kesetiaan membutakan yang mereka miliki terhadap Asahi. Aku mengerti alasan tindakan mereka sekarang.
Tapi, aku tidak merasa bahwa Asahi secara khusus menargetkanku dengan mantera itu. Dia sama sekali tidak sejahat itu.
Maksudku, aku mencoba begitu banyak cara berbeda untuk menjauh darinya.
Aku tidak bisa 100% membuang kemungkinan bahwa dia melakukan itu selain padaku.
Tapi, aku telah menghabiskan waktu mengikutinya dan bahkan membayar seorang detektif pribadi untuk membuntutinya hanya untuk mengetahui urusan apa yang dia miliki denganku. Hasil yang kudapatkan sudah jelas. Dia hanyalah orang bod…tidak, kepalanya hanya dipenuhi dengan hal-hal yang indah dan membahagiakan.
Dia diijinkan untuk melakukan apapun sejak lahir sampai-sampai akal sehatnya tentang hubungan dengan orang lain benar-benar bekerja dengan cara yang aneh. Semua orang begitu saja menurutinya. Karena itulah, dia tidak tahu bagaimana caranya 'membaca' orang.
Tapi, dia sebenarnya tidak bersikap semaunya sendiri atau bertindak dengan niat jahat.
Dia hanya melakukan apa yang dia inginkan, seperti yang anak-anak kecil lakukan.
"Aku tidak bisa membayangkan Asahi menggunakan 'Pemikat' untuk mengendalikan orang lain dengan sengaja.' (Ruri)
"…Yah, kalau seseorang yang berada di sisinya sepanjang waktu sepertimu berkata demikian, itu bisa jadi kenyataannya. Tapi, ada kemungkinan bahwa dia menggunakan sihir secara tidak sadar." (Penyihir)
"Apakah itu mungkin? Kalau dia memiliki kecocokkan untuk menggunakan sihir, bukankah itu berarti dia adalah Miko-sama yang asli?" (Ruri)
"Entahlah. Dari sudut pandangku, kau yang disayangi oleh para peri bahkan lebih luar biasa daripada orang yang dapat menggunakan sihir 'Pemikat'. Ditambah lagi, orang yang memenuhi ciri-ciri khusus memiliki 'warna langka' seorang Miko-sama adalah kau." (Penyihir)
"Apakah ada kemungkinan bahwa mereka akan mencari-cariku saat mereka mengetahui warna palsu rambut dan mata Asahi?" (Ruri)
"Tidak. Seseorang dengan rambut pirang dan mata sewarna lapis lazuli memang langka di dunia ini. Tapi memiliki warna rambut dan mata hitam sama langkanya di sini. Mereka tidak akan langsung mengatakan bahwa dia adalah penipu." (Penyihir)
"Aku mengerti. Masih ada masalah mengenai bekas teman-teman sekelasku." (Ruri)
"Yah. Tapi kalau mereka tidak berkontribusi pada kejayaan kerajaan, siapa yang tahu nasib macam apa yang akan menunggu mereka pada akhirnya." (Penyihir)
Apa yang harus kulakukan kalau mereka benar-benar mencariku…
Wanita tua itu mengambil sebatang pena dan selembar kertas dari laci terdekat dan menuliskan sesuatu. setelah dia selesai menulis, dia melemparkan kertas tersebut ke dalam kotak yang terisi air. Kertas itu kemudian perlahan lenyap begitu saja.
"Apa itu?!"
"Aku mengirim surat. Setelah selesai menuliskan suratmu, lemparkan saja ke dalam kotak air ini dan surat tersebut akan termaterialisasi ulang di kotak si penerima."
"Kereeeeeeeen!" (Ruri)
Aku tidak yakin bagaimana membuatnya, tapi melihat itu, aku sekali lagi diterpa dengan kesadaran bahwa ini bukanlah bumi yang kutahu.
"Kau mengirimkan surat pada siapa?" (Ruri)
"Pada cucuku yang saat ini di Kerajaan Naga. Aku ingin dia melakukan penyelidikan pada gadis Asahi itu dan ramalan kuno. Kalau dia menggunakan sihir dengan sepengetahuannya, dirinya yang berada di bawah kendali Nadarsia bisa menjadi ancaman bagi Kerajaan Naga di masa yang akan datang dan metode untuk menanganinya harus disusun. Kalau dia menggunakan sihirnya secara tidak sadar, kita juga harus menemukan cara untuk mencegah jatuhnya korban yang tak diinginkan." (Penyihir)
Mendengar kata 'Kerajaan Naga', aku mengenyahkan semua hal tentang Asahi.
"Nenek, kau berasal dari negara lain?!" (Ruri)
"SIAPA YANG KAU PANGGIL NENEK?" (Ne…Penyihir)
"Oh iya, aku masih belum menanyakan namamu. Namaku Ruri ngomong-ngomong." (Ruri)
Si nenek merasa ragu-ragu sesaat sebelum bergumam dengan suara kecil.
"…Chelsea…."
"…Pfft!" (Ruri)
Aku tidak bisa menahan tawaku. Seorang nenek tua yang terlihat seperti penyihir jahat dari dalam dongeng menyebut dirinya Chelsea. Itu tidak cocok dengan wajahnya.
"Imuuuuuut sekali. Ahahahahaha." (Ruri)
"Karena itulah aku enggang memberitahukanmu namaku. Silakan, terus saja tertawa. Tidak ada makanan untukmu lagi!" (Chelsea)
"Waaa, maaf, maaf! Itu nama yang sangat cocok dan…imut…pfff!" (Ruri)
"Katakan itu setelah kau selesai tertawa! Baik suara maupun bahumu bergetar, kau tahu?!" (Chelsea)
Setelah beberapa hari yang menegangkan, dapat mengobrol santai seperti ini membuatku senang. Setelah menenangkan tawaku, aku sekali menanyai Chelsea tentang Kerajaan Naga.
"Kerajaan Naga adalah negara tetangga Nadarsia dan kebetulan adalah tempat asalku. Hutan ini berada di antara kedua negara. Sesuai namanya, itu adalah negara yang dipimpin oleh raja naga. Negara tersebut adalah negara terbesar di tanah ini." (Chelsea)
"Raja Naga?" (Ruri)
"Sang raja berasal dari ras naga. Apa kau tahu tentang ras naga?" (Chelsea)
Aku menggelengkan kepalaku.
"Itu adalah ras yang dapat berubah menjadi wujud manusia dan naga. Ada banyak ras lain seperti manusia kucing dan manusia anjing yang memiliki wujud manusia. Akan tetapi, wajah mereka lebih menyerupai hewan dan disebut Beastman. Mereka semua pada umumnya disebut Demi-human. Diskriminasi terhadap Demi-human sangatlah kuat di antara beberapa negara manusia, dan Nadarsia adalah salah contoh yang paling jelas. Di Kerajaan Naga, tidak ada diskriminasi dan semua orang hidup bersama dalam harmoni." (Chelsea)
"Aku mengerti…" (Ruri)
Dari apa yang bisa kuketahui, ada negara-negara lain yang lebih baik daripada Nadarsia.
Tapi, apa yang benar-benar ingin kuketahui bukanlah Ras Naga atau Demi-human. Yang ingin kuketahui adalah apakah ada kemungkinan untuk kembali atau tidak.
"Jadi, mungkinkah metode untuk kembali ke dunia asalku bisa ditemukan di Kerajaan Naga?"
Aku menunggu dengan penuh harap jawaban Chelsea. Dengan begitu banyak ras berbeda di satu lokasi, ada kemungkinan informasi mengenai hal itu.
Tapi, jawaban yang diberikan Chelsea menghancurkan harapanku.
"Sayangnya, tidak ada jalan untuk kembali ke dunia asalmu." (Chelsea)
"Mungkin saja kau hanya tidak tahu caranya. Seseorang di Kerajaan Naga mungkin tahu sesuatu…" (Ruri)
Aku memaksakan diriku untuk berpikir positif, mempertahankan senyumanku sepanjang waktu. Tapi Chelsea menggelengkan kepalanya.
"Situasi mereka mungkin sedikit berbeda dengan yang dipanggil ke sini, tapi kami memiliki beberapa kasus di mana orang-orang dipanggil ke dunia ini tanpa alasan sebelumnya. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang kembali pulang." (Chelsea)
"Tidak mungkin…" (Ruri)
"Di masa lalu, ada seseorang yang dikirim ke dunia ini dengan ingatan selama dia dunia ini di kehidupan lampaunya. Menurutnya, mudah untuk datang ke sini. Tapi meninggalkan dunia ini mengharuskan seseorang untuk mengikis penampilannya saat ini." (Chelsea)
"Apa maksudnya itu?..." (Ruri)
"Mungkin terdengar kejam bagiku untuk mengatakan ini, tapi satu-satunya cara untuk meninggalkan dunia ini adalah dengan kematianmu. Tidak ada cara lain."
Aku tertegun.
Proses berpikirku terhenti.
Aku selamat dari kesulitan di dalam hutan dengan berpegangan pada harapan tipis bahwa aku mungkin bisa menemukan sebuah jalan untuk kembali ke dunia asalku.
Tapi hempasan kenyataan ini, membuat pandanganku menggelap.
Apa yang harus kulakukan mulai sekarang?
Aku tidak punya pengetahuan dasar tentang dunia ini. Aku tidak punya siapa-siapa yang bsa kupercaya. Bagaimana caranya aku bertahan hidup di dunia parallel ini?
Saat aku semakin jatuh dalam keputusasaan, apa yang muncul bukanlah kesedihan, tapi amarah.
(Diculik ke dunia parallel, dikenai tuduhan palsu, dipaksa untuk bertahan hidup melewati kesulitan dikejar-kejar monster besar di dalam hutan. Kenapa hal-hal buruk terus terjadi padaku??!)
Alasan dari semua itu begitu jelas. Asahi yang sama sekali tidak sadar dengan sekeliilngnya, dan tidak memikirkan akibat tindakannya yang menjadi sumber kejengkelanku. Bekas teman sekelasku dan si pangeran yang membiarkanku sendirian untuk mati di dunia parallel ini. Dan yang terakhir, raja dan para pendeta yang memanggilku kemari sejak awal juga patut disalahkan juga.
(Aku tidak bisa begitu saja melupakan semua ini setelah menangis sampai tertidur. Kalau aku tidak bisa pulang, aku akan membalas dendam pada mereka yang membuatku menderita begini!)
Begitu aku memutuskan tindakanku selanjutnya, aku berlutut di hadapan Chelsea dengan kepala tertunduk.
"Aku tahu aku akan merepotkanmu dengan permintaan ini, tapi maukah kau mengajarkan aku sihir? Aku akan melakukan apapun sebagai bayarannya! Pekerjaan rumah, apapun itu." (Ruri)
Untuk membalas dendam, aku masih membutuhkan pengetahuan tentang dunia ini. Ditambah lagi, dengan kecocokkanku dengan para peri, akan ada banyak cara untuk melakukannya.
"Aku tidak keberatan." (Chelsea)
Aku terkejut bahwa Chelsea memberiku jawaban tanpa ragu-ragu.
"Eh? Benar tidak apa-apa? Aku tahu adalah hal yang aneh aku mengatakan ini, tapi bukannya kau seharusnya lebih waspada…?" (Ruri)
"Aku selalu sendirian di rumah besar ini. Akan jadi hal yang sangat bagus kalau ada orang lain yang ikut meramaikan tempat ini. Ditambah lagi, aku tidak merasa perlu waspada terhadap seseorang yang disukai para peri. Kalau aku menendangmu keluar dari rumahku, anak-anak ini mungkin akan berhenti membagikan kekuatannya denganku." (Chelsea)
Saat itulah aku merasa benar-benar senang telah bertemu Chelsea.
"Chelsea benar-benar orang yang baik! Sayang sekali wajahmu seperti penyihir jahat." (Ruri)
"Mungkin seharusnya aku menendangmu keluar saja." (Chelsea)
Dan dimulailah kehidupanku bersama si penyihir dari hutan + para peri.

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 3 WN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.