Kamis, 06 September 2018

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 2 WN Bahasa Indonesia



PEMBUANGAN

Translater note : Berhubung istilah Gadis Kuil rasanya agak aneh pas dalam dialog, aq coba menyesuaikannya dengan kebiasaan Jepang sana dengan sebutan "Miko-sama". Bagaimana menurut kalian?
— 0 —
Awalnya, kami diperlakukan luar biasa ramah karena kami adalah teman Miko-sama.
Sedangkan pelayanan untuk Miko-sama sendiri tepat seperti yang Raja katakan padanya.
Sebuah kamar pribadi yang sangat besar, beragam gaun yang dihias dengan begitu banyak permata dan bebatuan yang indah sebagai pakaian sehari-harinya. Apapun yang dia inginkan dia mendapatkannya. Pelayanan terbaik yang diinginkan di manapun.
Kebalikan dengan perlakuan yang didapakan Ruri, ada banyak hal tersisa yang diinginkan. Meski begitu, setidaknya, makanan dan akomodasinya disiapkan. Jadi dia tidak terlalu cemas dengan situasi ini.
Bagaimanapun, dia terbiasa dengan sikap berat sebelah ini. Tidak ada banyak bedanya dengan yang lalu-lalu.
Atau tepatnya, seperti yang dia duga, pengikut Asahi bertambah bahkan setelah datang ke dunia fantasi ini. Reputasinya sebagai Miko-sama yang dapat membawa kejayaan untuk kerajaan ini yang menjadi faktor yang paling mempercepat dibandingkan apapun.
Ruri tadinya berharap bahwa keadaan akan membaik ke arahya setelah dia pindah ke dunia parallel ini, tapi penampilan Asahi menghancurkan harapannya tentang hal itu.
Memikirkan hal tersebut, dia memutuskan bahwa akan lebih baik dia mempelajari kebiasaan negara ini secepat mungkin dan meninggalkan istana. Jadi dia memulai hari-harinya dengan mempelajari bahasa negeri ini.
Dia berpikir bahwa dapat berbicara secara normal dengan orang-orang dunia ini akan membuat proses mempelajari huruf dunia ini akan menjadi lebih mudah. Sebuah pemikiran yang benar-benar naïf.
Yang paling buruk, Asahi menempel padanya terus-menerus.
Dan tepat di saat dia ingin belajarlah Asahi akan datang untuk mengganggunya.
"Nah ketemu, belajar lagi~ Sudah jangan belajar dan bermain saja denganku! Kita ada di dunia parallel, jadi kenapa membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna~" (Asahi)
"Karena ini penting." (Ruri)
(Malah karena kita ada di dunia parallel maka kita harus belajar. Kau sendiri seharusnya belajar. Dan si pangeran yang sudah dicuci otak yang ada di sini ini juga merepotkan. Bukannya dia pangeran mahkota? Kenapa dia menempel terus pada Asahi?)
Di belakang Asahi berdiri sang Pangeran dan teman-teman sekelasnya dulu. Dia mendapatkan lirikan penuh kebencian dari para pengikut Asahi di dunia sebelumnya itu yang sudah biasa diarahkan padanya.
Sepertinya Pangeran yang terpikat itu mencoba mengundang Asahi beberapa kali, tapi hanya bisa melihat pemandangan di mana Asahi yang begitu mengakrabkan diri dengan Ruri. Dia pun mulai berpikiran buruk tentang Ruri.
"Miko-sama sepertinya berhubungan sangat baik dengan Ruri-dono." (Pangeran)
"Un. Kami adalah teman baik sejak kecil!" (Asahi)
(Berapa kali harus kukatakan ini kalau itu sama sekali tidak benar.)
Mendengarnya, sang Pangeran semakin menyipitkan matanya saat melihat adegan di hadapannya. Asahi yang tumpul bahkan tidak menyadari bahwa sang Pangeran menahan helaan napasnya.
Dan kemudian, sebuah peristiwa terjadi.
Pagi datang dan Ruri berganti baju dengan gaun terusan berlengan panjang dan sepatu bot yang dia kenakan saat pertama kali dibawa ke sini.
Meskipun orang-orang di sini menyiapkan pakaian daerah setempat untuknya, membayangkan mengenakan gaun dengan renda-renda dan dekorasi yang belebihan membuatnya merasa malu. Karena itulah, dia menolaknya dengan sopan.
Tidak demikian halnya untuk Asahi dan yang lainnya.
Tanpa peringatan, pintu kamarnya didobrak paksa. Para prajurit mulai berhamburan masuk ke dalam ruangan.
"?! Ada apa ini?!"
Mengabaikan keterkejutan Ruri, prajurit tersebut menahan dan membawanya ke ruangan Raja.
Kepalanya dipegang dengan paksa dan dia dibuat berlutut. Simpul tali di tangannya menyakitinya.
"Sakit…" (Ruri)
Banyak prajurit yang mengelilingi ruangan itu. Di antara mereka ada sang Pangeran dan bekas teman-teman sekelasnya. Asahi tidak terlihat di manapun.
Tidak seperti ekspresi kebencian sesungguhnya yang ditunjukkan para prajurit padanya, baik Pangeran maupun bekas teman-teman sekelasnya memperlihatkan senyum janggal. Dia punya firasat buruk tentang semua ini.
"Beraninya kau mencoba untuk membunuh Miko-sama meskipun kau diperlakukan cukup baik karena kemurahan hatinya. Seharusnya kau tahu tempatmu!" (Pangeran)
"HUH?! Aku tidak pernah…ugh!" (Ruri)
Ruri menukas begitu dia mendengarkan tuduhan palsu sang Pangeran. Akan tetapi, dia dengan sengaja ditendang oleh kesatria yang berada di belakangnya.
"Ada saksinya." (Pangeran)
Setelah sang Pangeran berkata demikian, gadis dari grup bekas teman sekelasnya kemudian maju ke depan.
"Tidak salah lagi. Dia memendam keinginan untuk membunuh Asahi-san karena perbedaan perlakuan yang dia terima. Dia bahkan datang padaku, meminta bantuanku untuk membunuhnya." (Si bekas teman sekelas b**ngsek)
(Ah, aku mengerti. Melenyapkan orang yang mengganggu. Mereka bahkan bekerja sama dengan Pangeran untuk menyingkirkanku.)
Berada dalam situasi tanpa harapan seperti ini, Ruri tetap tenang seperti biasanya.
"Berencana untuk membunuh Miko-sama adalah sebuah kejahatan besar. Aku mengusulkan untuk membuangya ke dalam Hutan Tersembunyi. Bagaimana menurut Anda, Yang Mulia?" (Pangeran)
"Um, lakukan saja seperti itu." (Raja)
Begitu mendengar kata "Hutan Tersembunyi", para prajurit terkesiap. Ruri dalam sekejap merasakan firasat buruk.
"…Apakah Asahi tahu tentang ini? Dia tidak akan percaya dengan lelucon tentang aku yang ingin mengambil nyawanya. Bahkan sekalipun aku benar-benar berencana membunuhnya, dia akan meminta kalian untuk mengampuniku, kalian tahu?" (Ruri)
Bekas teman-teman sekelasnya memperlihatkan ekspresi frustrasi mendengar hal itu. Mereka tidak punya nyali untuk menyangkal fakta tersebut.
Sebagai gantinya, sang Pangeran berbicara.
"Kami tidak tega memberitahukan dia tentang sahabatnya yang berencana untuk membunuhnya. Kami akan mengatakan pada Miko-sama bahwa kau pergi meninggalkan istana karena kau membencinya." (Pangeran)
"Aku ragu dia akan percaya semudah itu…" (Ruri)
Aku yakin dia tidak akan percaya itu.
Sudah jelas bahwa mereka menyembunyikan hal ini dari Asahi untuk menyingkirkan Ruri. Dari sudut pandang Ruri, merekalah yang sama sekali tidak memahami Asahi.
Obsesi Asahi terhadap Ruri adalah hal yang abnormal. Bahkan sampai ke titik di mana jika Ruri mengatakan bahwa dia akan 'meninggalkan rumah selamanya', Asahi mungkin akan melakukan hal yang sama.
(Sekali lagi, aku terlibat dalam situasi yang-amat-sangat-merepotkan karena Asahi. Dia seharusnya memasangkan tali kekang pada pengikut-pengikutnya yang tidak waras ini!)
Meskipun menjadi tersangka utama dari sebagian besar masalah dan kesialan Ruri, Asahi sama sekali tidak menyadarinya.
Ada lebih banyak lagi yang ingin dikatakannya tentang situasi ini tapi dia menyerah karena semua ini mungkin sudah disepakati sejak awal. Tidak peduli seberapa kuat dia mencoba untuk membuktikan dirinya tidak bersalah, lawannya adalah Raja dari negeri ini. Mengarang-ngarang pembunuhan atau bahkan memerintahkan usaha pembunuhan dirinya adalah hal yang mudah baginya. Tidak ada gunanya mencoba membantah.
Kalau begitu, dikirim ke 'Hutan Tersembunyi' akan sangat jauh lebih baik daripada dibunuh di sini. Ada rincian kecil yang tidak dia ketahui tentang tempat macam apakah 'Hutan Tersembunyi' ini.
Dan begitulah, dia ditempatkan di sebuah kereta kuda dengan tangan terikat.
Dia tidak tahu seberapa jauh mereka pergi karena matanya yang sesekali tertutup. Akan tetapi, guncangan kereta tidak salah lagi menjadi semakin buruk dan buruk seiring berlalunya waktu.
Setelah waktu yang tidak diketahui, dia dengan kasar dipaksa keluar dari dalam kereta.
"Kutukilah dirimu sendiri atas masalahmu saat ini."
"Oi, cepat!"
"Aa, kita harus cepat-cepat melarikan diri atau kita sendiri juga tamat."
Mengatakan hal-hal berbahaya semacam itu, si prajurit meninggalkan tempat tersebut dengan tergesa-gesa.
"Setidaknya lepaskan ikatanku ini…" (Ruri)
Ruri masih terikat dengan tali. Ikatannya begitu ketat sehingga menggoyang-goyangkan tangannya adalah satu-satunya hal yang bisa dia lakukan.
Dengan tenang, dia membuka tempat penyimpanan tersembunyi di sepatu botnya. Di dalamnya terdapat sebilah belati sepanjang telapak tangannya, yang kemudian dia gunakan untuk membebaskan dirinya sendiri dari tali tersebut.
"Tidak disangka ini akan berguna." (Ruri)
 Mengelus-elus pergelangan tangannya yang baru dibebaskan, dia mulai melihat-lihat ke sekitarnya.
Sebuah hutan lebat dengan pepohonan tinggi.
Karena Ruri belum begitu membekali diri dengan pengetahuan mengenai dunia ini, dia sama sekali tidak tahu di mana dia berada sekarang.
* * *
Tidak ada air ataupun makanan. Hanya sebilah belati kecil. Situasi ini begitu buruk. Tidak akan jadi hal yang aneh kalau aku mati di sini kapanpun.
Tapi ada satu hal yang pasti.
"Aku pasti akan selamat dan bertahan hidup dari ini. Dan aku akan membalas dendam. Apa-apaana dengan omong kosong mengenai kejahatan palsuku itu? Aku tidak senang Asahi yang terus menempel padaku seperti lintah sedikit pun."
Kebalikannya, aku akan dengan senang hati memberikan posisiku pada orang lain.
Meski begitu, aku tidak punya rencana pasti untuk pembalasan dendamku. Yang ada, selamat di hutan ini adalah prioritasku saat ini.
* * *
Ruri mengingat kembali gambaran kasar peta dunia ini yang dia lihat saat belajar.
"Kalau aku mengingatnya dengan benar, seharusnya ada negara besar lainnya selain Nadarsia." (Ruri)
Ruri ingat membaca tentang sebuah negara yang jauh lebih besar daripada Kerajaan Nadarisa di arah timur laut. Negara itu dikatakan adalah rumah dari ras yang disebut 'demi-human' dan menjadi target cemoohan Kerajaan Nadarsia
"Tempat manapun yang Nadarsia benci mungkin sebenarnya adalah tempat yang bagus kalau mengingat seperti apa Nadarsia." (Ruri)
Meski begitu, dia tidak yakin ke arah mana seharusnya dia mulai berjalan kalau dia tidak bisa menentukan lokasinya saat ini.
Hari sudah mulai berakhir. Untuk sementara, mendapatkan air dan tempat berlindung harus didahulukan.
Dia menajamkan pendengarannya untuk mendengar suara aliran air sungai. Dengan kecewa, dia hanya mendengar suara dedaunan yang bergemerisik di sekitarnya. Tepat saat dia akan menyerah, dia mendengar suara sayup denting bel.
Berharap ada orang lain di luar sana, dia mulai berjalan menuju suara tersebut yang sepertinya semakin menjauh dan menjauh.
Dia kehilangan jejak berapa lama waktu berlalu sejak dia mulai dengan putus asa mengejar suara tersebut. Kakinya dengan segera menyerah karena rasa lelah luar biasa saat dia jatuh terduduk. Berkat cahaya bulan, dia tidak sepenuhnya diselimuti kegelapan. Barulah detik itu Ruri mulai menyesal bertindak gegabah seperti ini.
Sebuah suara air yang mengalir memasuki jarak pendengarannya.
Mengerahkan segenap kekuatannya yang tersisa, dia mulai berjalan menuju sumber suara tersebut di mana pemandangan sebuah sungai kecil muncul di depannya.
"…Aku penasaran apa tidak masalah meminum ini. Uuuu, ah siapa yang peduli. Lebih baik daripada dehidrasi."
Mempersiapkan diri untuk kemungkinan sakit perut setelah minum air yang belum dimurnikan, dia mulai menegaknya.
Ruri begitu sibuk sampai dia bahkan tidak sadar bahwa denting bel tersebut berhenti.
Begitu dia cukup terhidrasi, dia mulai dengan langkah berikutnya mendapatkan tempat berbaring.
Ruri mengumpulkan dedaunan kering dari sekeliling dan menyebarkannya di tanah. Tempat tidur sementaranya selesai.
"Seandainya aku bisa menggunakan sihir di saat-saat seperti ini…" (Ruri)
Dia mulai memikirkan kembali saat di mana salah satu pendeta melancarkan sihir untuk meyakinkan mereka tentang semua urusan pemanggilan ini. Apa yang dipertunjukkan padanya waktu itu adalah sihir api dan air. Kedua hal itu akan menjadi bantuan besar untuk Ruri saat ini.
Dia menutup matanya dan mulai membayangkan sebuah api sambil bergumam.
* * *
"…Mana mungkin itu akan berhasil." (Ruri)
Tidak mungkin aku bisa melakukannya.
Bagaimanapun, dikatakan bahwa untuk dapat menggunakan sihir, seseorang harus memiliki bakat bawaan dan pelatihan yang cukup. Karena itulah mereka yang bisa menggunakan sihir diberikan posisi tinggi dalam negeri.
Jika sihir begitu mudah didapatkan, dunia akan dipenuhi dengan penyihir.
Aku merasa malu bahwa aku bahkan berpikir kalau aku bisa menggunakan sihir.
* * *
Setelah hanyut dalam pikirannya sendiri, dia membuka mata, terkejut dengan api yang saat ini berkobar kuat di depannya.
"Hah?!"
Tercengang dengan apa yang baru saja terjadi, dia menempatkan api yang semakin kecil seiring berlalunya waktu ke sebuah tumpukan daun.
Untuk sesaat, dia merasa lega bahwa urusan sumber cahaya sudah terpecahkan. Dia mulai memikirkan apa yang terjadi.
"…Tidak mungkin, 'kan? Tidak mungkin…" (Ruri)
Tidak mungkin dia bisa menggunakan sihir.
Sekalipun dia berkata begitu, dia memegang sebatang ranting dan mulai membayangkan sebuah api. Ujung dari ranting itu menyala seperti lilin.
"Ahahaha…ini pasti mimpi. Ayo kembali tidur supaya aku bangun dari mimpi ini."
Begitulah, Ruri benar-benar mencoba untuk lari dari kenyataan. Meski begitu, dia tertidur dengan mudahnya karena rasa letih yang terkumpul seharian itu.
Hari berikutnya, dia dipaksa bangun oleh rasa nyeri yang dia rasakan di seluruh punggung dan bahunya.
Memikirkan bahwa dia dapat tidur nyenyak sepanjang malam seperti sebatang gelondongan kayu bahkan setelah dikenai tuduhan semacam itu, bahkan dia sendiri ternganga keheranan. Dia juga merasa kecewa bahwa apa yang terjadi kemarin itu bukanlah sekedar mimpi.
Dan begitulah, lima hari berlalu.
Ruri berhasil bertahan hidup.
Mengesampingkan fakta bahwa Ruri dapat menggunakan sihir api, kakeknya adalah mantan anggota tentara dan penggemar berat hal-hal yang berkaitan dengan usaha bertahan hidup. Sejak kecil, kakeknya melatihnya keterampilan bertahan hidup dasar untuk selamat di dalam hutan. Baik bagaimana cara mendapatkan makanan, air, dan tempat perlindungan, atau kemampuan yang dapat menentukan antara hidup dan mati, semuanya dijejalkan padanya dengan gaya Sparta.
Ide menyembunyikan belati di sepatu botnya juga adalah hasil ajarannya.
"Kau harus selalu mempersiapkan diri untuk situasi apapun yang mungkin muncul untuk bertahan hidup, tidak peduli apa yang terjadi!" adalah kalimat favorit kakeknya. Ruri benar-benar ingin menarik kembali pikiran yang dia miliki saat itu. Pikiran-pikiran seperti 'Berhenti mempermalukanku dengan pembicaraanmu yang seperti obrolan-otaku, Kakek! Kita tinggal di negara Jepang yang damai. Kau tidak perlu jadi orang aneh soal 'bunuh atau mati'.'
(Aku benar-benar minta maaf, Kakek~)
Hidup tidak bisa diprediksi.
"Kakek tersayang, berkat ajaranmu, Ruri masih hidup dan sehat. Aku seharusnya menyiapkan perlengkapan bertahan hidup setiap waktu seperti yang kau katakan…"
(Kalau aku berhasil menemukan cara pulang ke dunia asalku, aku bersumpah akan melakukan Sliding Dogeza (TL: Sujud Meluncur? O.O) di depan Kakek.)
"…Itu, kalau aku berhasil kembali…" (Ruri)
Sejujurnya, Ruri sama sekali tidak merasa itu mungkin. Akan tetapi, dengan berpergian ke negara lain, dia mungkin akan menemukan cara untuk pulang. Harapan kecil yang dimilikinya itulah yang menguatkan dia.
Tiba-tiba, dia mendengar suara denting bel.
Itu adalah suara denting yang sama dengan yang dia dengar lagi dan lagi sejak hari pertama dia dibuang ke sini.
Kapan pun dia mengikuti arah suara denting bel itu, tidak diragukan lagi dia akan menemukan dirinya di tempat sumber air dan buah-buahan.
Rasanya sedikit menakutkan saat memikirkan bahwa dia sedang diawasi oleh seseorang yang tidak diketahui. Tapi dia tidak dapat berpikiran buruk tentang 'dia' karena berkat orang itu, dirinya dapat selamat sampai sekarang.
Meskipun, dia mengharapkan lebih banyak kemewahan seperti baju ganti bersih dan makanan dengan rasa yang lebih kuat.
Dia mulai mencari-cari makanan di lokasi sekitar bel tersebut bordering. Akan tetapi, ada sesuatu yang terasa aneh saat ini.
Suara deringnya sangat berisik. Seakan sedang mencoba untuk memberi sinyal kedatangan sesuatu, suara dering itu semakin bertambah keras volumenya. Suara itu muncul dari titik di mana dia hampir-hampir mendengarnya berdering tepat di sebelah telinga kanannya. Tepat saat dia akan berteriak 'Berisik—', sebuah suara gemeresak dapat terdengar datang dari belakang Ruri.
Dia dengan begitu saja berputar, untuk menemukan dirinya berhadapan dengan makhluk campuran babi, beruang, dan kalajengking. Makhluk itu berada terengah-engah membuah suara "Fuhyaaa" dan mulai mengejar Ruri.
"Kyaa! Apa itu? APA ITU?" (Ruri)
Melihat serangan hebat yang akan mulai dilakukan oleh makhluk tersebut, Ruri mulai berlari terbirit-birit dengan kecepatan tinggi sambil menjerit nyaring.
Dan begitulah kita kembali ke mana cerita ini dimulai.
* * *
Aku bermanuver di antara pepohonan dengan efisien, mencoba meloloskan diri dari makhluk itu. Tapi itu sia-sia saja karena makhluk tersebut menghantam jatuh begitu saja pohon-pohon di depannya, tidak memperlambat pengejarannya.
"Aku sangat yakin aku dapat membuat rekor dunia baru untuk lari cepat…ha ha…Oi, kau sangat ngotot, ya? Aku sama sekali tidak enak, oke?!"
Bagiku yang berlari mati-matian, dahan-dahan yang mengenaiku benar-benar menghambat. Rasa letih dengan cepat menguasaiku.
Tamat sudah…
Saat aku berpikiran begitu, aku merasa baru saja melewati semacam dinding penghalang. Aku tersandung dan jatuh ke tanah.
Aku segera berdiri dan melihat ke belakangku. Tapi makhluk itu yang seharusnya mengikutiku, langsung berhenti di tempat dan mulai mencari-cari ke sekitar.
Dan seperti itulah, pengejaran keras kepala makhluk itu berakhir saat dia berjalan menjauh, mengabaikanku yang berada di depannya.
"…A-aku selamat…Tapi, apa yang barusan itu…"
Aku menghela napas dalam-dalam dan mulai melihat ke sekitar. Saat itulah sesuatu menangkap perhatianku.
"…Sebuah rumah? Kenapa…bagaimana bisa?? Padahal sampai tadi tidak ada apa-apa…"
Sebuah rumah besar muncul di tengah-tengah hutan yang seharusnya hanya dipenuhi dengan kehijauan.
Tidak peduli seberapa putus asanya aku mencoba untuk meloloskan diri, tidak mungkin aku akan melewatkan rumah seperti ini.
Sementara aku masih mencoba untuk memahami situasi, aku mulai berjalan ke rumah tersebut. Asap mendadak mengepul dari cerobongnya.
"Seseorang di sini…" (Ruri)
Tidak diragukan lagi orang itulah yang menolongku dari balik layar sejak aku dibuang di hutan ini.
Seakan semua rangkaian kejadian dengan makhluk tersebut tidak pernah ada, aku mulai merasa santai.
"Kuharap orang di dalam rumah adalah orang yang baik!" (Ruri)
Di dalam kepalaku dipenuhi dengan harapan pemandian hangat, pakaian ganti, dan makanan yang mengenyangkan.
Berpegang pada harapan bahwa dia akan diberkati dengan hal-hal itu, aku berdoa dengan mengatupkan tangan sambil mendekati rumah itu.
"Oi, Nak. Bagaimana kau bisa datang ke sini."
Aku dibuat terkejut oleh suara yang kudengar yang langsung mengalihkan tatapanku.
Itu adalah seorang wanita tua yang sedang memegang pisau dapur dengan darah yang berlumuran di sana sini.
"Kyaaaaa. Hantu nenek-nenekkkkkkkk‼" (Ruri)
"SIAPA YANG KAU PANGGIL NENEK‼"
Aku ingin langsung membalasnya dengan berkata 'Itu yang membuatmu khawatir??'. Tapi karena rasa letih setelah berlari begitu lama dan situasi yang tidak bisa dipercaya yang tersibak di hadapanku, membuatku kehilangan kesadaran karena syok.

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 2 WN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

3 komentar:

  1. kwkwkw lebih suka karakter yuri di novel deh daripada manganya. soalnya kesan yuri jadi lebih kuat dan sedikit tomboi. suka sama mc yg kayak gini. makasih untuk terjemahannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kyaa <3 Ternyata ada juga yg suka baca Ruri >.< U're welcome. Tadinya sempet pesimis ada yg mau baca, tapi syukurlah ada yg suka juga

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.