04 September 2018

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 1 WN Bahasa Indonesia



PEMANGGILAN
(Translater : Hikari)

Di dalam hutan yang nampaknya hanya dipenuhi kehijauan dan tidak ada yang lain, seorang gadis berpakaian compang-camping sedang berlari secepat mungkin di jalur tanpa jejak.
"Mati aku. Aku sudah pasti akan matiiiii!"
Mengabaikan luka-luka yang dia dapatkan dari dahan-dahan dan rumput liar yang mengenainya, dia berlari sekuat tenaga sambil melirik pada pemandangan di belakangnya yang membuat bulu kuduk merinding. Makhluk tak dikenal dengan penampilan luar campuran babi hutan, babi domestik, dan kalajengking sedang mengejarnya tanpa henti.
Gadis itu menghadapi ke depan dengan ekpsresi menderita dan berlari lebih cepat.
"Aku tidak akan memaafkan mereka! Aku akan balas dendam!"
* * *
Morikawa Ruri. Dia memiliki ibu seorang warga negara asing yang bekerja sebagai seorang model dan ayah yang seorang diplomat.
Meski mewarisi rambut pirang platina dan mata sewarna batu lapis lazuli dari ibunya, dia masih memiliki ciri khas wajah cantik orang Jepang. Bisa dikatakan Ruri memenangkan lotere genetik.
Akan tetapi, seakan dia menghabiskan keberuntungannya dalam sekali jalan, hari-hari yang berlangsung dalam hidupnya tidaklah menyenangkan dan memuaskan.
Ketidakbahagiaannya tidak diragukan lagi karena tetangganya, Shinomiya Asahi.
Saat itu, Ruri dan Asahi yang berusia sepantaran sama-sama terlihat manis. Akan tetapi, orang-orang lebih banyak memberi Asahi perhatian dan rasa sayang.
Itu bukannya karena Ruri berkelakukan buruk atau semacamnya, tapi Asahi hanya begitu saja mendapatkan lebih banyak perhatian daripada dirinya.
Hal yang sama terjadi bagi para guru taman kanak-kanaknya, teman, dan bahkan orang tua mereka.
Kapan pun ada pertengkaran antara mereka tentang mainan, yang lain akan secara otomatis menyimpulkan Ruri-lah yang salah.
'Itu karena kecantikan luar negeri yang dimiliki Ruri lebih mengintimidasi dari keimutan Jepang murni Asahi, makanya Asahi lebih mudah didekati orang lain'. Itulah alasan yang ibunya berikan padanya waktu itu. Meskipun dia menerimanya sebagai 'kebenaran', setelah terus-terusan mengalami hal yang sama lagi dan lagi, orang lain tidak menyalahkannya jika dia mulai berpikiran aneh.
Dan seperti itulah, 19 tahun berlalu. Itu membawa kita ke hari pertemuan yang menentukan.
Ruri membuka pintunya pelan-pelan sambil memeriksa sekitarnya.
"Baiklah. Dia tidak di sini." (Ruri)
Setelah memastikan bahwa Asahi tidak terlihat di manapun, Ruri meninggalkan rumah dengan langkah penuh semangat.
Karena mereka bertetangga, mereka berakhir dengan memasuki SMP Negeri yang sama.
Saat di mana dia mulai menyesal kenapa tidak masuk ke sekolah swasta adalah setelah upacara masuk SMP.
"Kalau kau benar-benar membencinya, kau bisa saja masuk sekolah swasta."
Ruri dibuat kaget oleh perkataan ibunya.
Dan begitulah. Ruri mendaftar masuk ke sekolah swasta khusus putri kelas atas. Ruri Dia bahkan memilih sekolah itu setelah mempertimbangkan status kemampuan financial keluarga Asahi. Tidak mungkin mereka bisa sanggup membayar uang SPP-nya bagaimanapun juga.
Berpikir seperti itu, dia masuk ke sekolah yang luar biasa mahal itu. Sayangnya, Asahi yang seharusnya tidak ada di sana…berada di sana.
Saat Ruri menanyakan alasannya, dia diberikan respon 'Karena aku ingin berada di sekolah yang sama dengan Ruri'.
"Tidak apa-apa. Jangan khawatir soal itu."
Itulah kata-katanya saat Ruri mengingatkan untuk memikirkan kondisi keuangan keluarganya.
Dengan pendapatan satu-satunya dari ayah yang bekerja sebagai karyawan biasa, bagaimana caranya dia membayar uang sekolah adalah sesuatu yang Ruri ingin tahu. Pada akhirnya, dengan kemunculannya, kehidupan SMA Ruri pun hancur.
Setelah itu, Ruri belajar mati-matian untuk bisa masuk ke perguruan tinggi ternama. Seperti yang diduga, Asahi gagal saat ujian masuknya, dan dia pun membuat posisi ORZ (TL : http://curiouscityy.blogspot.com/2013/12/internet-slang-arti-singkatan-bahasa-inggris-otl-lol-orz-lmao-jk.html)
Untuk bisa menjauh dari Asahi meskipun sedikit, Ruri pun pindah ke sebuah apartemen dengan universitasnya. Akan tetapi, Asahi juga pindah ke apartemen yang sama dengannya.
"Karena aku diterima masuk ke perguruan tinggi tingkat diploma dekat universitasmu, aku memutuskan untuk tinggal di apartemen yang sama denganmu. Sayangnya ruangan di sebelahmu tidak kosong."
Seperti itulah. Satu-satunya tempat yang damai untuk Ruri adalah kampus universitas. Dia bahkan sampai memaksakan diri ke kampus saat tidak ada kelas hanya demi tidak perlu bertemu Asahi. Akan tetapi, gadis itu selalu muncul tepat di saat Ruri keluar dari apartemennya. Yang terjadi setelah itu adalah khayalan Asahi seorang di mana mereka berakrab-akrab, di mana sebenarnya dia pergi ke kampus dengan Ruri secara paksa.
Untuk menghindari hal itu, Ruri meninggalkan apartemennya lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa, dia masih tercegat oleh dia.
Dan inilah situasi saat ini…
"Ruri-chan~ Tunggu aku~" (Asahi)
(Aku yakin dia memiliki kemampuan pendengaran dan penciuman hewan liar yang luar biasa.)
Ruri mempercepat jalannya sambil mengabaikan kata-kata mirip mantera sihir yang datang dari belakangnya. Begitu Asahi berhasil menyusul, dia menggembungkan pipinya sambil menatap Ruri.
"Bukannya kita sudah berjanji akan pergi ke kampus bersama-sama?" (Asahi)
(Tidak pernah sekalipun aku menerima usulan itu. Kaulah yang memutuskannya secara sepihak!)
Ruri memiliki pemikiran gelap tersebut dalam dirinya sambil berkonsentrasi penuh pada jalannya.
Ini adalah taktik yang dia kembangkan selama bertahun-tahun untuk menghadapi sikap keras kepala Asahi.
(Dia tidak ada. Dia hanya udara.)
Selama itulah, tidak menghiraukan usaha Ruri mengabaikan dia, Asahi mulai berbicara sendiri.
Si bodoh ini yang tidak dapat membaca situasi sekarang sedang berbicara sendiri dengan senangnya. Tidaklah aneh untuk menganggapnya harta nasional dengan tingkat ketumpulannya itu.
Ruri sengaja tidak berbicara pada Asahi sama sekali kecuali situasinya mengharuskan untuk itu.
Dekat kampus Asahi, sekumpulan orang yang terdiri dari tiga pria dan seorang gadis mendekati mereka.
Mereka berempat yang menyalami Asahi dengan seulas senyuman adalah teman-teman sekelas dari masa SMA mereka. Begitu mereka melihat Ruri, dalam sekejap mereka mengerutkan wajah.
"Oi, kenapa kau ada di sini juga?"
"Kami tahu kau ini orang yang baik, Asahi. Tapi kau seharusnya tidak membuang-buang waktu dengan orang seperti dia."
"Teman-teman, Ruri adalah sahabatku. Tolong jangan berkata kejam seperti itu." (Asahi)
(Tidak. Siapa sebenarnya yang kau panggil sahabat? Itu adalah hal yang kau putuskan dengan seenaknya.)
Mencoba untuk tidak terlibat dengan situasi itu, Asahi mencoba meninggalkan tempat kejadian. Akan tetapi, bukannya berjalan ke arah orang-orang yang berkerumun seperti serangga, Asahi tetap berada dekat dengan Ruri.
Orang-orang selalu berkumpul di sekitar Ruri.
Itu bahkan sampai ke tingkat di mana orang-orang tersebut secara literal memujanya. Bahkan tidak akan jadi hal yang aneh untuk menyebutnya sebagai sebuah sekte.
Bagi para pengikut sekte ini, keberadaan Ruri sangatlah mengganggu. Dirinya yang diperlakukan sebagai 'teman dekat' oleh Asahi hanya semakin memperburuk situasi.
Keanehan dari ketaatan dari orang-orang ini terhadap Asahi begitu kentara dilihat dari luar. Orang luar manapun akan mengasihani Ruri seakan sudah jelas bahwa dia hanya terseret situasi.
Akan tetapi, begitu siapapun mencoba ikut campur dalam situasi tersebut untuk 'menyelamatkan' Ruri, mereka tidak diragukan lagi akan memihak Asahi. Demikianlah situasi tidak menguntungkan tanpa akhir yang selalu berulang pada Ruri.
Bagi Ruri, semua yang terjadi ini tidak lebih dari sekedar beban. Setiap kali dia mencoba menjauhkan diri dari Asahi, gadis tumpul itu sama sekali tidak menyadarinya.
Setiap tahun, dia menyumbangkan sejumlah besar uang ke kuil saat memanjatkan permohonan, atau membeli vas aneh yang memiliki kekuatan sihir. Sudah jelas itu sama sekali tidak ada efeknya.
(Sial. Mungkin aku seharusnya mencoba guna-guna dari negara tertentu…)
Mengabaikan keributan di sekitarnya, Ruri hanyut dalam pikiran tersebut. Tiba-tiba, sebuah cahaya mulai bersinar di bawah kakinya.
"Hah?! Apa yang terjadi?!" (Asahi)
Dibutakan oleh cahaya benderang itu, suara panik Asahi dapat terdengar. Perasaan tanpa berat badan yang mirip dengan yang kau rasakan saat jatuh dari Roller Coaster dapat terasa dan membuat mereka jadi berpose duduk.
Saat mereka membuat mata, pemandangan yang mereka duga akan lihat tidak ada lagi. Sebagai gantinya, mereka berempat menemukan diri mereka berada di tengah-tengah kuil yang terbuat dari batu.
"Oh! Ini sukses!"
"Sang Gadis Kuil telah tiba!"
Di hadapan Ruri yang kebingungan, berdiri sekumpulan orang-orang tua yang berpakaian seperti pendeta dan bersorak senang.
"…hah?"
Pikiran Ruri campur aduk.
Saat dia mengamati lingkungan di sekitarnya, sosok Asahi dan empat teman sekelasnya pun hadir.
Sepertinya mereka sama tidak tahunya seperti Ruri tentang peristiwa yang saat ini terjadi di depan mereka, dibuktikan dengan ekspresi menganga mereka.
Sesosok pria seperti pangeran yang mengenakan pakaian gaya Barat memulai percakapan.
"Selamat datang di dunia kami, wahai Gadis Kuil yang sudah lama kami…tung…gu…?"
Pria yang memperlihatkan ekspresi bahagia saat memandang Asahi yang berada paling dekat dengannya saat itu, perlahan ekspresinya berubah menjadi sebuah kebingungan setelah melihat orang-orang yang lainnya.
"Apa maksudnya ini, Pendeta?! Ada 3 gadis di sini!"
Sosok lain yang mengenakan pakaian upacara melangkah maju ke depan menanggapi perkataan sang pangeran.
"Sepertinya orang-orang selain Sang Gadis Kuil secara tidak sengaja terpanggil juga."
"Yang mana Gadis Kuil yang sebenarnya?"
"Sang Gadis Kuil dikatakan memiliki kekuatan untuk menarik perhatian siapapun."
Pria-seperti-pangeran itu mulai mencari-cari di antara gadis yang ada. Pada akhirnya, tatapannya terarah pada Asahi dan dia pun tersenyum.
"Kalau begitu, gadis ini tidak diragukan lagi adalah yang paling menarik perhatian."
(Orang yang sangat tidak sopan. Aku bukannya narsis atau semacamnya, tapi aku mewarisi darah ibuku! Aku sangatlah cantik kalau aku harus mengatakannya sendiri!)
Ruri sangatlah marah.
Pria itu berlutut di hadapan Asahi dan memberinya sebuah kecupan di punggung tangan seperti seorang Kesatria, membuat Asahi bersemu merah.
Asahi mentap lekat-lekat pria tampan yang sedang berlutut di hadapannya.
Tubuh Ruri gemetar menyaksikan adegan itu.
(Kalau Asahi jatuh cinta dengan seorang pria, bukankah dia akan meninggalkanku sendirian?!)
Dengan pikiran tanpa arti itu, Ruri berhasil menjadi tenang.
(Kami tadinya berdiri di jalan sampai barusan, tapi tiba-tiba dikirim ke lokasinya yang sama sekali berbeda. Sesuatu yang seperti ini sama sekali mustahil. Mungkinkah kami diculik setelah hilang kesadaran? Meski begitu, apa maksudnya dengan urusan 'Gadis Kuil'? Bukankah ini peristiwa aneh lain yang dilakukan oleh para pengikut Asahi, ya 'kan?)
Pengikut Asahi sudah jelas mungkin melakukan ini, Ruri benar-benar berpikir demikian.
"Erm, di mana ini sebenarnya? Kalau Asahi adalah orang yang kalian perlukan, aku akan pergi dari sini." (Ruri)
Saat Ruri bertanya pada salah satu pendeta terdekat, orang itu menanyakan tindakan yang harus dilakukan olehnya dari orang lain.
"Bagaimana dengan yang lainnya?"
"Hmm, kita sebaiknya pertama-tama membawa mereka untuk bertemu dengan Yang Mulia. Pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan pada mereka akan dibahas setelah itu."
(Er, tidak? Aku hanya ingin pulang.)
Sebelum Ruri sempat mengungkapkan pikirannya, para pendeta memimpin mereka ke tempat yang tidak dikenal.
Saat mencapai tujuan mereka, mereka disuruh untuk berlutut di hadadapan sosok Raja yang berpakaian begitu megahnya yang sedang duduk di atas kursi yang dihias begitu luar biasanya pada posisi yang lebih tinggi.
Di antara mereka, hanya Asahi yang diperbolehkan untuk berdiri.
"Sebuah kehormatan bagi kami karena akhirnya dapat bertemu dengan Gadis Kuil dalam ramalan yang dikatakan akan membawa kemakmuran pada negeri kami." (Raja)
Tidak begitu mengerti situasinya, Asahi menanggapi dengan gelisah.
"Erm. Terima kasih…banyak…Tapi, di mana sebenarnya ini? Sampai beberapa waktu yang lalu, aku masih berada di tengah jalan…" (Asahi)
"Ini adalah Kerajaan Nadarsia. Kau dipanggil ke sini." (Raja)
"Di-dipanggil…?" (Asahi)
Ruri dan yang lainnya yang sedang berlutut tidak dapat menyembunyikana keterkejutan mereka.
(Apa dia serius berbicara tentang fantasy yang tidak masuk akal?)
Menyimpulkan perkataan sang Raja, menurut ramalan kuno kerajaan, seorang Gadis Kuil yang dipanggil dari dunia lain akan membawa kejayaan dan kemakmuran bagi negeri.
Awalnya, mereka tidak percaya kisah semacam itu. Tapi setelah ditunjukkan sihir, mereka tidak punya pilihan selain mempercayainya.
Diculik hanya karena ramalan, kemarahan Ruri mulai naik.
"Gadis Kuil yang diramalkan adalah seseorang yang memiliki warna rambut yang unik. Rambut pirang dan mata hijaumu, tidak salah lagi, kau pastilah orangnya."
Mendengar perkataan itu dari Kepala Pendeta, Ruri menelan ludah dengan ekspresi terluka.
Untungnya, karena dia sedang berlutut, wajahnya tidak terlihat. Meskipun tidak ada yang menyadarinya, dia sudah jelas gemetar.
Tidak seperti rambut keperakan ibunya, rambut Ruri lebih pirang seperti umumnya warna rambut  pirang platina. Akan tetapi, warna tersebut sangatlah langka terlihat di Jepang, dia akan terlalu menarik perhatian.
Hanya dengan bersama Asahi sudah membuatnya sangat menarik perhatian. Jadi, berdasarkan usulan ibunya, Ruri mulai memakai wig sejak SD.
Meskipun dia benar-benar ingin mengecat rambutnya, ibunya melarang hal itu, berkata bahwa dia tidak boleh merusak rambutnya yang indah. Jadi dia memilih untuk memakai rambut palsu.
Saat ini dia sedang mengenakan rambut palsu berwarna cokelat, dipasangkan dengan kacamata untuk menyembunyikan wajahnya, dia merias wajahnya supaya terlihat lebih biasa-biasa saja daripada seharusnya berkat tekhnik merias yang dia pelajari dari ibunya. Dengan kata lain, dia terlihat sama seperti pemeran figuran manapun yang akan kau lihat bersembunyi di latar belakang.
Berlawanan dengan Ruri, Asahi mulai meniru penampilan Ruri tidak lama setelah masuk perguruan tinggi. Dia memutihkan rambutnya dan mengenakan lensa kontak hijau. Tidak perlu dikatakan lagi, dia juga merias wajah.
Dinilai dari kriteria yang disebutkan Pendeta mengenai sang Gadis Kuil, kemungkinan itu adalah Ruri sudah hampir pasti 100%. Tapi dia menahan diri untuk mengatakannya.
Sangat berlawanan, dia ingin menyembunyikan yang sebenarnya.
Asahi dengan senangnya berbicara dengan pangeran yang dia temui pertama kali, tidak menunjukkan tanda-tanda mengatakan yang sebenarnya juga.
(Baiklah, biar kudesak dia. Sepertinya dia belum cukup puas.)
Orang yang kita bicarakan ini adalah si tumpul Asahi. Dia akan melupakan Ruri dengan mudahnya. Asahi sendiri tidak kelihatan keberatan juga, jadi Ruri memantapkan keputusannya dan mulai berbicara dengan sang Raja.
"Omong-omong, orang yang saat ini dibutuhkan sebagai Gadis Kuil hanya dia, bukan? Kalau saya tidak dibutuhkan, bisakah Anda mengirimkan saya kembali ke dunia asal saya?" (Ruri)
Berharap dia tidak mengatakan sesuatu yang bodoh seperti 'itu tidak mungkin', Ruri menunggu balasan sang Raja.
"Maafkan aku untuk menginformasikan bahwa pemanggilan adalah perjalan satu-arah. Mantera untuk mengembalikan pemanggilan belum dikembangkan. Itu mungkin saja terjadi di masa yang akan datang, tapi untuk saat ini, hal tersebut sama sekali tidak bisa dilakukan." (Raja)
(Benar-benar hebat…)
Kenyataan bahwa ini adalah dunia fantasi mulai meresap pada yang lainnya. Wajah mereka pun mulai seputih kertas.
"Tidak mungkin… Apa itu artinya aku tidak akan dapat bertemu dengan ayah dan ibuku lagi…?" (Asahi)
Melihat Asahi yang berlinang air mata, Raja dan Pendeta mulai panik.
"Tolong jangan menangis. Aku berjanji kau akan diberikan perlakuan khusus dari Raja selagi kau tinggal di sini. Benar, aku akan mengatur supaya kau tinggal bersama dengan teman-temanmu! Dengan begitu, kau tidak akan kesepian."
Dan begitu, keputusan untuk mereka tetap tinggal di istana dibuat tanpa persetujuan mereka.
(Yah, kurasa begini juga tidak masalah. Bahkan sekalipun aku berteriak minta tolong, tidak akan ada hasilnya. Ditambah lagi, semuanya akan disediakan, jadi apa masalahnya?)

Fukushuu wo Chikatta Shironeko Bab 1 WN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.