Rabu, 26 September 2018

Arifureta Shokugyou de Sekai Saikyou Bab 35 WN Bahasa Indonesia



SATU-SATUNYA CARA BERTAHAN HIDUP
(Translater : Hikari)

"Baiklah kalau begitu, kurasa aku akan memberimu sedikit latihan tempur."
Hajime dan kelompoknya yang diusir dari Faea Belgaen sedang beristirahat di markas sementara mereka di dekat Pohon Besar saat dia mendadak berkata begitu. Meskipun disebut markas, itu hanyalah sebuah penghalang yang dibentuk dari kristal-kristal Faea Drain yang…dengan santai dicuri oleh Hajime. Di dalamnya sambil duduk pada tunggul-tunggul pohon, para manusia kelinci itu berekspresi linglung.
"I-itu…Hajime-san. Latihan bertarung itu dengan kata lain…"
Shia bertanya padanya mewakili klannya yang kebingungan.
"Seperti yang kukatakan barusan. Lagipula, kita tidak bisa mencapai Pohon Besar sebelum lewat sepuluh hari, ya 'kan? Kalau begitu, akan lebih baik memanfaatkan waktu tersebut secara efektif. Aku berpikir untuk membuat kalian yang lemah, rapuh, dan sifat pecundang yang sudah mendarah daging itu menjadi seseorang yang ahli dalam bertarung."
"Ke-kenapa kau berpikir begitu…"
Telinga-telinga kelinci itu gemetar karena rasa intimidasi yang dapat dirasakan dari mata dan seluruh tubuh Hajime. Shia sudah pasti meragukan pernyataan mendadak Hajime.
"Kenapa? Kau tanya kenapa? Dasar kelinci tidak tahu malu."
"Au, kau masih tidak memanggilku dengan namaku…"
Hajime dengan sorot mata skeptic menjelaskan pada Shia yang merasa tertekan.
"Dengar baik-baik. Janji yang kumiliki dengan kalian semua hanyalah melindungi kalian sampai kalian selesai memanduku. Kalau begitu, apa yang akan terjadi setelah kalian memanduku? Apa kalian pernah memikirkan itu?"
Anggota suku Haulia menatap satu sama lain kemudian menggelengkan kepala. Wajah Kam juga terlihat mengeras. Meskipun mereka samar-samar merasakan kegelisahan itu, sepertinya itu karena mereka mengalami pergolakan demi pergolakan sehingga pikiran tersebut terpendam dalam sudut pikiran mereka. Atau mungkin memang karena mereka tidak memikirkan itu sama sekali.
"Yah, sepertinya kalian sama sekali tidak memikirkannya. Tidak ada seorang pun yang mengatakan padaku apa yang kalian pikirkan tentang itu sama sekali. Kalian lemah, jadi kalian hanya bisa lari dan bersembunyi di hadapan maksud jahat dan kemungkinan untuk terluka. Terhadap kalian yang seperti itu, tempat untuk mundur yang disebut Faea Belgaen sudah hilang. Dengan kata lain, saat perlindunganku hilang, kalian akan sekali lagi jatuh dalam kesulitan."
" " " " " ……" " " " "
Karena itu benar, semua orang di suku Haulia menatap ke bawah dengan ekspresi muram. Sementara iu, mereka bisa mendengar Hajime berkata.
"Kalian tidak punya jalan keluar. Tidak ada perlindungan ataupun tempat untuk bersembunyi. Akan tetapi, demonic beast dan manusia akan mengincar yang lemah tanpa ampun. Jika itu terjadi, hanya akan ada kehancuran…apa kalian tidak masalah dengan itu? Apa kalian tidak masalah dengan kelemahan yang menjadi alasan kehancuran kalian? Apakah tidak masalah nyawa-nyawa yang dengan keberuntungan bisa kalian dapatkan kembali untuk lenyap secara sia-sia? Bagaimana menurut kalian?"
Tidak ada yang berkata-kata sedikit pun dan suasana muram melingkupi sekitar mereka. Sampai seseorang akhirnya tiba-tiba berkata.
"Tidak mungkin aku menerimanya."
Suku Haulia mulai mendongak karena tersentuh dengan kata-kata itu. Shia terlihat penuh tekad.
[Ilustrasi]
"Itu benar. Itu tidak bisa diterima. Kemudian, apa yang harus dilakukan. Jawabannya mudah. Jadilah kuat. Serang saja semua masalah yang datang dan hancurkan, kalian hanya perlu meraih hak kalian dengan tangan kalian sendiri."
"……tapi, kami adalah suku Manusia Kelinci. Kami tidak punya tubuh yang kuat seperti suku Manusia Macan dan suku Manusia Beruang, juga tidak punya kemampuan seperti suku Manusia Bersayap dan suku Manusia Tanah……kami sama sekali……"
Karena menurut logika umum suku Manusia Kelinci itu lemah, perkataan Hajime hanya melahirkan perasaan negatif. Karena mereka lemah, mereka tidak bisa bertarung. Tidak peduli seberapa besar mereka berjuang untuk menjadi kuat seperti yang Hajime katakan, itulah yang mereka pikirkan.
Melihat suku Haulia yang seperti ini, Hajime mendengus tertawa mengejek.
"Apa kalian tahu aku tadinya disebut "payah" oleh teman-teman lamaku?"
"Eh?"
""Payah" kalian dengar, "payah". Status dan skillku rata-rata seperti orang pada umumnya. Yang terlemah di antara teman-temanku. Tidak lebih dari sekedar beban dalam pertarungan. Karena itulah, aku dipanggil "si payah" oleh teman-teman lamaku. Benar, itulah yang sebenarnya."
Semua anggota suku Haulia terkejut dengan pengakuan Hajime. Mereka tidak bisa percaya bahwa Hajime yang bisa dengan mudahnya mengalahkan demonic beast brutal Ngarai Besar Raisen dan Tetua suku Manusia Beruang yang unggul dalam pertarungan adalah seseorang yang "payah" dan "terlemah".
"Akan tetapi, aku yang terjatuh ke dasar Jurang, bertindak untuk menjadi kuat. Aku tidak memikirkan apakah mungkin atau mustahil melakukan hal itu. Kalau aku tidak melakukan sesuatu maka aku akan mati, karena itulah aku bertarung dengan segenap kekuatanku dalam krisis tersebut……saat aku menyadarinya, aku sudah seperti ini."
Semua itu dikatakan dengan nada biasa saja, akan tetapi, semua anggota suku Haulia dapat merasakan hawa dingin menjalari sekujur tubuh mereka karena isi perkataannya yang luar biasa. Dengan status yang sama dengan rata-rata manusia, itu berarti kemampuan dasarnya bahkan lebih rendah daripada suku Manusia Kelinci. Dalam situasi itu, dia dapat mengalahkan monster yang bahkan lebih kuat dari demonic beast di Ngarai Besar Raisen yang bahkan tidak bisa ditandingi mereka. Kemampuannya dan kenyataan bahwa dia selamat meskipun dia tadinya adalah yang terlemah setelah menghadapi monster-monster itu membuat suku Haulia gemetar ketakutan membayangkan situasi aneh tersebut. Jika itu adalah mereka, mereka akan hancur dalam keputusasaan dan menerima kematian secara pasrah. Sama seperti saat mereka menerima keputusan dari Pertemuan Para Tetua.
"Keadaan kalian sama sepertiku. Sekarang berjanjilah pada diri kalian sendiri. Hancurkanlah keputusasaan itu menjadi serpihan-serpihan. Aku tidak peduli sekalipun kalian berpikir itu mustahil bagi kalian. Kalian hanya akan dimusnahkan di waktu berikutnya. Bagaimanapun, aku tidak akan menolong kalian setelah perjanjian ini dipenuhi. Tidak masalah jika kalian menghabiskan sisa waktu yang sedikit dalam kehidupan kalian ini untuk saling menjilati luka satu sama lain seperti para pecundang."
Kalau begitu, apa yang akan kalian lakukan? itulah yang Hajime tanyakan dengan matanya. Tidak langsung ada jawaban dari anggota suku Haulia. Yah, bisa dibilang tidak ada jawaban lain. Mereka mengerti bahwa tidak ada jalan lain untuk selamat selain menjadi kuat. Hajime bukannya melindungi mereka karena rasa keadilan. Karena itulah, dia pasti akan meninggalkan mereka begitu janji tersebut terpenuhi. Akan tetapi, sekalipun mereka mengerti hal itu, sifat mereka cinta damai dan lembut hati. Kelembutan suku Manusia Kelinci itu lebih kuat daripada siapapun, karena itulah usulan Hajime sama saja dengan melangkah ke wilayah yang tidak diketahui. Adalah hal yang sulit bagi mereka untuk mengubah jalan hidup mereka kecuali mereka jatuh ke situasi yang persis sama seperti Hajime.
Suku Haulia terdiam dan menatap satu sama lain. Akan tetapi, Shia yang sejak beberapa saat lalu memperlihatkan ekspresi bertekadnya, melihat mereka dengan pandangan skeptic kemudian bangkit berdiri.
"Aku akan melakukannya. Tolong ajari aku bagaimana caranya bertarung! Aku tidak ingin lagi terus-terusan lemah!"
Suara seruannya menggema ke penjuru Lautan Pohon. Sebuah deklarasi yang menyatakan bahwa tidak perlu memikirkannya lagi lebih dari ini. Shia benci pertempuran. Itu menakutkan dan menyakitkan. Di atas semunya, rasanya menyedihkan untuk menyakiti dan disakiti. Akan tetapi, adalah sebuah kenyataan bahwa dialah penyebab yang mendorong sukunya dalam keadaan berbahaya saat ini, jadi dia benar-benar tidak akan membiarkan sukunya musnah. Untuk alasan itu, Shia ingin menjadi lebih kuat meskipun itu bertentangan dengan sifat alamiah suku Manusia Kelinci.
Shia dengan tekad yang tidak tergoyahkan pada matanya, menatap lurus pada Hajime. Kam dan sukunya yang kebingungan dengan hal itu, perlahan mengubah ekspresinya menjadi penuh tekad. Satu demi satu, mereka berdiri. Pada akhirnya, tidak hanya pria, bahkan para wanita dan anak-anak suku Haulia pun berdiri semua dan Kam mewakili mereka dengan maju selangkah ke depan.
"Hajime-dono…tolong ajari kami."
Kata-katanya hanya sedikit. Akan tetapi, ada sebuah keinginan di dalamnya. Keinginan untuk melawan ketidakadilan yang akan datang menyerang mereka.
"Baiklah. Apa kalian siap? Seberapa kuat kalian nantinya akan tergantung dari tekad kalian. Aku di sini hanya untuk membantu. Juga, aku tidak akan bersikap lembut pada mereka yang memutuskan untuk berhenti di tengah jalan. Kita hanya punya waktu sepuluh hari sebagai tambahan…untuk terbiasa hampir mati. Apa yang menunggu kalian hanyalah hidup atau mati."
Mendengar perkataan Hajime, semua anggota suku Haulia mengangguk dengan penuh tekad.
* * *
Sebelum dia mulai melatih suku Haulia, Hajime mengeluarkan perlengkapan yang akan akan digunakan untuk berlatih dari "kotak harta" dan menyerahkannya pada mereka. Itu adalah pisau bermata satu yang mirip dengan sejenis pedang Jepang bernama kodachi yang diberikan pada mereka sebelumnya. Hajime membuat bilahnya dengan presisi sehingga bagian tajamnya pun luar biasa karena dia mempraktekkan metode untuk menghasilkan bilah yang ultra tipis. Benda ini kuat melawan hantaman karena terbuat dari bijih logam Taur. Senjata ini memiliki kebanggaan dalam daya tahannya meskipun tipis.
Setelah dia memberi mereka senjata-senjata itu, dia mengajari mereka gerakan-gerakan dasar. Tentu saja Hajime tidak punya pengetahuan apapun dalam ilmu bela diri. Tapi itu bukan sesuatu yang dia dapatkan dari manga atau game. Yang dia ajarkan hanyalah "pergerakan logis" yang dia peroleh dan asah dengan menghadapi demonic beast di dalam Jurang. Sambil melakukan itu, dia menimbun pengalaman bertarung yang sebenarnya melawan berbagai jenis demonic beast. Kelebihan suku Haulia adalah kemampuan pencarian dan menyusup mereka. Dengan kata lain, dia berpikir bahkan akan lebih baik strategi grup mereka dikhususkan pada kerja sama dan serangan mendadak.
Ngomong-ngomong, Shia secara eksklusif dilatih oleh Yue tentang sihir. Itu karena dia dapat menggunakan sihir meskipun dia adalah seorang demi-human. Shia juga dapat menggunakan manipulasi sihir secara langsung sehingga dia dapat menggunakan sihir tanpa rapalan atau lingkaran sihir selama dia memiliki pengetahuan tentang itu. Terkadang, jeritan Shia dapat terdengar dari sisi lain kabut tapi sepertinya latihannya berjalan dengan baik.
Akan tetapi, sesuatu terjadi di hari kedua pelatihan. Hajime terlihat jengkel dengan pembuluh nadi yang muncul di kepalanya saat mengawasi latihan suku Haulia. Sudah jelas, anggota suku Haulia yang melawan sifat alamiahnya sedang menjalani latihan dengan serius. Bahkan mereka sepertinya berhasil mengalahkan demonic beast tanpa menerima banyak luka.
Akan tetapi…
Gusrak (Bruk)!
Salah satu demonic beast mati ditusuk oleh kodachi khusus Hajime.
"Aah, tolong maafkun yang berdosa ini~"
Yang mengatakan itu sambil memeluk demonic beast adalah seorang pria suku Haulia. Itu terlihat seakan dia membunuh sahabat yang sudah dia kenal untuk waktu yang lama.
Whuush(Swossh)!
Demonic beast yang lain dikalahkan dengan sebuah tebasan.
"Maaf! Maaf! Tapi aku harus melakukannya~"
Sebilah kodachi yang digenggam kedua tangan memotong bagian leher, sementara si wanita yang melakukannya gemetar. Itu seperti hasil dari cinta buta, seorang wanita yang membunuh kekasih tercintanya.
Buakh!
Bagi si demonic beast, dia menggunakan kekuatannya yang terakhir untuk menyerang. Kam yang terhempas oleh serangan badan itu bergumam mengasihani diri sendiri saat jatuh.
"Hah, inikah hukuman bagiku yang menghunuskan pedang…ini adalah hukum alam…"
Mendengar perkataan itu, suku Haulia di sekitarnya mulai berkaca-kaca, kemudian mereka berseu pada Kam dengan ekspresi getir.
"Kepala Suku! Tolong jangan berkata begitu! Yang berdosa adalah kami semua!"
"Itu benar! Sekalipun saat penghakiman akan datang, tapi itu bukan sekarang! tolong berdirilah! Kepala Suku!"
"Kita tidak sama sekali tidak punya jalan kembali. Karena itulah Kepala Suku, ayo maju bersama-sama sampai mati."
"Ka-kalian semua…itu benar. Aku tidak boleh tumbang di tempat seperti ini. Demi kematiannya (demonic beast kecil yang kelihatan seperti seekor tikus), kita akan melangkah maju melewati kematian!"
" " " " "Kepala Desa!" " " " "
Suasana yang bagus melingkupi Kam dan sukunya. Hajime yang tidak bisa menahan lagi langsung menyela.
"Aghhh—! Berisik, bodoh! Apa-apaan kalian ini bersikap berlebihan begitu setiap kali kalian membunuh seekor demonic beast! Untuk apa? Yang benar saja, apa-apaan maksudnya itu? Drama murahan! Perasaan dramatis macam apa itu? Bunuh saja dalam diam! Bunuh dalam sekejap! Jangan memanggil demonic beast dengan "dia"! itu menjijikkan!"
Begitulah. Meskipun dia tahu bahwa anggota suku Haulia sedang bekerja keras, tapi karena pembawaan sifat mereka, setiap kali mereka membunuh seekor demonic beast, mereka membuat entah drama apa. Sekarang adalah hari kedua. Menyaksikan pertunjukkan itu berkali-kali, Hajime sudah menegur hal ini terus-terusan, perlahan, dia kehabisan kesabaran.
Hajime yang marah, mungkin karena dia mencoba menahan suaranya dengan tubuh yang berkedut dan gemetar setelah gumaman "Sekalipun kau berkata begitu…" atau "Sekalipun mereka demonic beast, mereka patut dikasihani…" terdengar dari anggota suku Haulia.
Sebagai tambahan, banyak pembuluh darahnya yang muncul di kepala.
Seorang bocah laki-laki yang tidak bisa tahan lagi kemudian mencoba mendekat dan menenangkan Hajime. Bocah ini adalah anak yang Hajime tolong di saat kritis dari Hyveria di Ngarai Besar Raisen. Kelihatannya dia sangatlah tertarik pada Hajime.
Akan tetapi, saat bocah ini melangkah maju sambil mencoba mengatakan sesuatu pada Hajime, mendadak, dia melompat mundur.
Hajime yang kebingungan menanyakan hal itu pada si bocah.
"? Ada apa?"
Si bocah menjawab Hajime sambil merangkak perlahan menggunakan kedua tangannya.
"Ah, ya. Aku hampir saja menginjak Nona Bunga…syukurlah. Kalau aku tidak menyadarinya, dia akan hancur. Karena dia sangat cantik, akan sangat disayangkan kalau dia terinjak."
Pipi Hajime berkedut.
"No-Nona Bunga?"
"Un! Hajime-niichan! Aku sangat suka Nona Bunga! Karena ada banyak Nona Bunga di sekitar sini, gawat sekali kalau kita menghancurkannya saat berlatih~"
Si bocah laki-laki bertelinga kelinci itu tersenyum cerah. Anggota suka Haulia di sekelilingnya juga menatap bocah itu dengan senyuman.
Hajime perlahan menundukkan wajahnya. Rambut kelabu Hajime tergerai turun dan menutupi ekspresinya. Kemudian, tiba-tiba membalas dengan suara yang mirip bisikan.
"… …terkadang, saat melangkah kalian melompat di waktu yang aneh… Apakah itu karena si Nona Bunga?"
Seperti yang Hajime katakan, saat latihan, anggota suku Haulia kadang-kadang mengubah langkah mereka di waktu-waktu yang aneh, gerakan semacam itu. Meskipun hanya dalam pikirannya, karena itu berkaitan dengan aksi mereka berikutnya, baginya itu terlihat seakan mereka sedang mencoba untuk menemukan posisi yang lebih mudah bagi mereka untuk membunuh.
"Tidak, tidak, bukan begitu. Bukan karena itu."
"Haha, itu benar, ya 'kan?"
Hajime mulai berkata dengan tenang saat mendengar apa yang Kam katakan dengan senyuman hambar. Akan tetapi…
"Ya, bukan hanya bunga, kami juga menyadari para serangga. Saat kami harus bergerak dengan tiba-tiba dan tergesa-gesa, kami entah bagaimana bisa menghindari mereka."
Mendengar perkataan Kam, ekspresi Hajime mulai merosot. Hajime mulai goyah seakan dia adalah hantu, sementara anggota suku Haulia memikirkan sesuatu yang buruk saat menatap satu sama lain dengan cemas. Hajime perlahan mendekati bocah itu, kemudian dia tiba-tiba memperlihatkan seulas senyuman sementara si bocah juga tetap tersenyum.
Dan kemudian Hajime… …dengan seulas senyuman itu menginjak dan menghancurkan bunga tersebut. Dengan sopan, setelah menginjaknya, dia melumatnya dengan kaki.
Si bocah yang meihat itu kebingungan. Akhirnya Hajime menyingkirkan kakinya. Apa yang tersisa adalah sisa-sisa dari "Nona Bunga" yang terbaring dengan tragis setelah kekejaman itu.
"No-Nona Bunga!"
Suara penuh kesedihan si bocah bergema di dalam Lautan Pohon. "Apa yang kau lakukan!" adalah yang diperlihatkan ekspresi terkejut anggota suku Haulia saat menatap Hajime, kemudian Hajime berbalik untuk melihat mereka dengan seulas senyuman dan pembuluh darah yang muncul di kepalanya.
"Aah, aku akhirnya mengerti. Aku akhirnya ak~hirnya mengerti. Aku terlalu lembut. Ini adalah tanggung jawabku. Ini adalah kesalahanku karena menaruh harapan pada suku kalian. Haha, aku tidak bisa percaya bahkan di dalam situasi hidup dan mati kalian masih memperhatikan "Nona Bunga" dan "Serangga"… ...kemampuan bertarung ataupun pengalaman bertempur sebenarnya bukanlah masalah utama kalian. Aku seharusnya menyadari itu lebih cepat. Aku marah pada kurangnya pengalamanku… …FUFUFU(HUHUHU)."
"Ha-Hajime-dono?"
Setelah Hajime mulai tertawa menakutkan, Kam dengan gugup bertanya padanya. Dan jawabannya adalah…
DUARr!
Tembakan dari Donner. Kam terhempas ke belakang dengan posisi wajah mendongak, setelah menggapai-gapai sedikit di udara dia terjatuh ke tanah. Berikutnya, sebutir peluru karet yang tidak mematikan yang digunakan untuk menyerang, terjatuh ke tanah dari dahi Kam.
Di sekitar mereka, angin berhembus "whuussh", sementara kesunyian menyelimuti tempat itu. Hajime kemudian mendekati Kam yang pingsan dengan mata memutih. Dia kali ini membidik lalu menembakkan peluru karet ke perut Kam.
"Hauu!"
Kam yang terbangun sambil berteriak dan terbatuk-batuk, menatap Hajime dengan mata berlinang air mata. Meskipun pemandangan seorang pria tua bertelinga kelinci dan berjanggut dengan mata basah yang duduk seperti seorang wanita itu terlihat sangat aneh, Hajime menyatakan.
"Kau "piip" kotor. Mulai saat ini, kau "piip" harus membunuh demonic beast itu seakan kau akan mati! Nantinya, jangan pernah memperhatikan bunga-bunga atau serangga! Kalau tidak, aku akan mem"piip"mu! Kalau kau mengerti, buru demonic beast itu sekarang! "Piip"!"
Suku Haulia membeku mendengar kata-kata vulgar Hajime. Dan pada mereka, Hajime menembak tanpa ampun.
DOARr! DOARr! DOARr! DOARr! DOARr! DOARr! DOARr! DOARr! DOARr! DOARr! DOARr! DOARr! DOARr! DOARr! DOARr! DOARr! DOARr! DOARr!
Suku Haulia menyebar ke dalam Lautan Pohon seperti anak-anak laba-laba sambil menjerit. Si bocah mati-matian berpegangan pada Hajime sambil gemetar.
"Hajime-niichan! Apa yang terjadi!? Kenapa kau melakukan ini!?"
Hajime memelototi si bocah yang menatapnya dengan mata berbinar-binar, kemudian melihat ke sekeliling dan mendapati bunga-bunga yang bermekaran di sana-sini. Sampai akhirnya, dia menembak kembali dalam diam.
Satu demi satu bunga-bunga itu berhamburan. Bocah itu menjerit.
"Kenapa~, memangnya kenapa~, tolong hentikan Hajime-niichan!"
"Diam, bocah sialan. Apa kau tahu? Setiap kali kau berbicara sia-sia, aku akan menghancurkan bunga-bunga di sekitar sini. Kalau kau memperhatikan bunga-bunga itu, dia akan kuhancurkan. Bahkan sekalipun kau tidak melakukan apapun, aku akan menghancurkannya. Kalau kau tidak mau itu, pergi dan bunuh banyak demonic beast!"
Berkata demikian, Hajime mulai menembaki bunga-bunga lagi. Tangisan si bocah menghilang ke dalam Lautan Pohon.
Setelah itu, di dalam Lautan Pohon, kata "piip" dapat terus terdengar di jeritan dan tangisan (raungan) anggota suku Haulia.
Itu adalah metode pelatihan yang mengubah sifat suku Manusia Kelinci yang seharusnya tidak mampu bertarung. Bahkan kemampuan dan semangat bertarung dapat diubah dengan metode ini. Bisa dibilang ini sama dengan metode Neraka di bumi…

Arifureta Shokugyou de Sekai Saikyou Bab 35 WN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.