21 Agustus 2018

Owari no Seraph : Kyuuketsuki no Mikaela Monogatari Jilid 1 Bab 3 Part 3 LN Bahasa Indonesia



TENTARA SALIB YANG KEHILANGAN TUHAN
(Part 3)
(Translater : Hikari)

Ingatan Crowley selama beberapa hari ke depan begitu samar-samar.
Dia hanya teringat bahwa mereka terus berjalan siang dan malam — agar tidak dibunuh oleh musuh, agar mereka bisa menjauh sebisa mungkin.
Selama masa itu, mereka diserang beberapa kali, dan setiap waktu itu mereka kehilangan rekan mereka. Meski demikian, mereka tidak mungkin menyerah.
Mereka akan bertahan hidup dan pulang ke rumah.
Menjaga mereka tetap hidup dan kembali ke rumah. Ini adalah perintah terakhir Komandan mereka, karena itulah menyerah bukanlah pilihan.
"Ahh~ Crowley, akhir-ahir ini, aku terus melihat wanita di dalam mimpiku. Apa yang harus kulakukan?" keluh Victor sambil berjalan.
Crowley membalas, "Jangan bicara. Kau membuang-buang tenagamu."
Tapi Victor tidak mendengarkan. "Kita sudah lelah bagaimanapun juga, sekalipun kita berjalan dengan wajah muram."
Crowley tertawa. "Kita memang sudah lelah setengah mati."
"Dan karena itulah kita harus mengobrol tentang wanita."
"Aku lebih memilih mendapatkan air daripada wanita untuk saat ini."
"Yah, aku juga~ Tapi kalau kita membicarakan tentang air, kita hanya akan semakin merasa haus," kata Victor.
Dia terlihat begitu letih. Mereka kehabisan air dan makanan. Mereka semua melemah, hampir mustahil untuk mengerahkan tenaga lagi. Mereka mungkin akan tersapu habis pada serangan musuh yang berikutnya.
Tapi, meski demikian.
"Seharusnya ada air saat kita mencapai Damietta," kata Crowley.
Damietta adalah salah satu benteng pertahanan musuh dan merupakan keuntungan militer paling menonjol yang didapat sejak awal Perang Salib ini. Mereka mengepung dan membuatnya menyerah.
Menaklukkan kota itu seharusnya sudah lebih dari cukup. Lawan mengajukan perjanjian damai. Para raja dari berbagai negara yang berpatisipasi dalam perang ini ingin menerima permohonan damai tersebut. Hal itu saja sudah merupakan kesuksesan besar, kata mereka.
Namun begitu, kekacauan macam apa yang mereka alami saat ini?
"…"
Tapi memikirkan itu saat ini tidak akan membantu apapun. Sekarang mereka hanya perlu mencapai Damietta; di sana mereka akan menemukan banyak kawan, tidak diragukan lagi. Dan akhirnya akan mendapatkan air. Dan…
Dari belakangnya, Gustavo berbicara, "Hei, Crowley."
"Ya?"
"Jangan ganggu Victor."
"Hah? Apa yang sedang kau bicarakan?"
"Obrolannya tentang wanita. Aku ingin mendengarnya, jadi jangan ganggu. Aku sangat lapar sampai kaki-kakiku bisa saja berhenti bergerak," ujar Gustavo.
Victor memperlihatkan wajah kemenangan pada Crowley. Ksatria tingkat tinggi lainnya juga mengangguk, mendukung pendapat Gustavo.
"Bukankah kalian pernah mendengar sumpah kesucian?" Crowley menoleh untuk melihat mereka dari balik bahunya dengan tatapan kebingungan.
Yang menjawab mereka adalah, sesuai dugaan, Gustavo.
"Akan kupikirkan itu setelah aku meniduri satu atau dua gadis."
"Ya ampun."
"Baiklah, Victor. Mulailah berbicara."
Victor mengangguk dan mulai bicara.
"Yah~, biar kuceritakan pada kalian tentang sesuatu yang terjadi di malam musim panas tahun lalu. Aku sedang bersama seorang gadis bernama Claudia, dan dia adalah jenis gadis yang tidak bisa menutup mulutnya untuk menyelamatkan hidupnya. Jadi, gadis itu berkata bahwa mengencani seorang ksatria sebelumnya."
Gustavo menyelanya, "Oh. Ksatria itu, jangan bilang kalau dia adalah salah satu dari Ksatria Templar?"
"Uh-huh." "Kau yakin?" tanyaku padanya, dan dia menegaskan, "Ya, benar!" Untuk memperkuat, pria itu luar biasa mesum, yang suka berbicara seperti anak kecil di depan wanita dan dipukul bokongnya oleh mereka."
"Hei, yang serius?! Apa kau tahu siapa namanya dari dia?"
"Yup, dan, dengar ini, itu adalah Crowley Sesuatu-Atau-Semacamnya," Victor membeberkan sesuatu sekonyol itu.
Dia mengarang cerita itu sambil berjalan, tidak diragukan lagi. Tapi para ksatria menertawakannya. Suaranya cukup tenang — mereka tidak punya kekuatan yang tersisa untuk tertawa keras.
Gustavo menanyai Crowley, "Hei, apa itu benar, Crowley?"
Crowley menyunggingkan senyuman miris. "Aah, Claudia yang itu, ya. Dia banyak membicarakan soal Victor denganku. Bahwa dia tidak bisa melakukan 'itu' dengan wanita."
"Hei!" Victor meninjunya di bahu.
Hal itu menyebabkan ledakan tawa. Kali ini, suara tawanya terdengar lebih nyata. Mungkin karena Damietta sudah dekat.
Saat mereka memutuskan untuk mundur, ada 70 orang dari mereka, tapi sekarang hanya tinggal 45 orang yang tersisa.
Tetap saja, itu berarti 45 orang bisa kembali dengan selamat. Apakah Komandan akan memujinya karena ini?
"Aku bisa melihatnya!" salah satu dari para prajurit berteriak. Crowley mengangkat kepalanya.
Benar, dia pada akhirnya dapat melihat benteng itu dari kejauhan. Di sekitar kota Damietta terdapat dinding-dinding. Dia mengingat betapa sulit saat menembusnya, tapi saat ini dinding-dinding itu terlihat menenteramkan.
Dan kelihatannya musuh tidak mengejar mereka lagi. Di dalam dinding-dinding Damietta, seharusnya masih ada banyak tentara salib yang masih tinggal.
"Dinding kastil!" "Damietta terlihat!" para prajurit berteriak.
Sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi.
Tapi tepat saat Crowley memikirkan ini, telinganya menangkap sebuah suara yang datang dari belakang. Suara itu sangat mirip dengan suara bumi yang bergemuruh, disertai dengan bahasa asing dan suara para pengejar.
"Sial!" Crowley berbalik. Mereka masih belum cukup dekat, tapi kelompok pengejar itu adalah yang terbesar yang pernah dihadapi Crowley dan rekan-rekannya sejauh ini. Dan mereka adalah para penunggang. Jadi mereka akan terkejar tidak lama lagi.
Gustavo melolong, "Ini pasti bercanda! Ini tidak mungkin terjadi, tidak saat kita begitu dekat!"
Crowley segera memerintahkan rekan-rekannya, "Lari! Lari selamatkan nyawamu!"
Tapi dia sendiri tidak bergerak. Berbalik ke arah para pengejarnya, dia mengeluarkan pedangnya dari sarungnya.
Di sebelahnya, Victor bertanya, "Hei, Crowley, apa yang sedang kau rencanakan?"
"Kita tidak akan bisa menjauh dari mereka begitu saja. Jadi aku akan menahan bagian belakang kita."
"Kau akan mati."
"Aku berjanji pada Komandan untuk melindungi rekan-rekan kita."
"Komandan berkata padamu supaya jangan mati bagaimanapun caranya! Jadi kau pergilah ke barisan depan. Aku akan mengurusi bagian belakang!" Sambil berkata begitu, Victor juga menarik pedangnya.
Saat dia melakukannya, seakan menanggapi perkataanya, Gustavo dan ksatria tingkat tinggi lainnya juga menghunuskan pedangnya. Totalnya sepuluh orang. Bahkan dengan tempat untuk melarikan diri yang ada di depan mata, masih ada sepuluh orang di antara mereka yang memilih untuk mempertaruhkan nyawanya demi melindungi rekan-rekannya.
Gilbert berdiri di depan Crowley pada akhirnya.
"Kalau begitu, saya juga akan…" katanya, mulai mengeluarkan pedangnya juga, tapi tangan Crowley datang dan mendarat di gagang pedang Gilbert, menghentikannya.
Crowley memerintahkan, "Tidak, tidak denganmu, Gilbert. Rekan kita yang tersisa membutuhkan seseorang untuk memimpin mereka."
"Apa? Tolong jangan bercanda seperti itu! Di sinilah saya akan mati."
"Bukan. Lindungi rekan-rekan kita dan pergilah ke Damietta."
"Tidak. Ini tugas saya, Pak. Saya akan tetap di sini dan—"
Tapi saat itu juga, Crowley meninjunya di wajah.
"Ghah!"
"Dengar, Gilbert. Ksatria berkemampuan tinggi dibutuhkan untuk memimpin rekan-rekan kita yang tersisa. Dan ksatria itu adalah kau."
"Tidak, Crowley-sam, itulah adalah peran Anda."
"Kau akan melakukannya. Ini adalah perintah. Atau kau ingin mengatakan bahwa kau tidak akan mendengarkan perintah seniormu?"
"…Ugh."
Gilbert terdiam.
Mencengkeram bahunya, Crowley menenangkannya, "Selain itu, aku juga tidak berniat untuk mati di sini. Komandan memerintahkanku untuk selamat bagaimapun caranya. Jadi aku — kita — akan selamat."
Gilbert yang mulai berkaca-kaca, menatapnya. "…Benarkah?"
"Benar. Kami akan bertindak sebagai pengalih perhatian. Jadi kalian harus sampai di dinding itu sementara kami melakukannya. Begitu sampai, bawalah pasukan bantuan dari Tentara Salib di Damietta."
Untuk sejenak, Gilbert terlihat termenung, tapi segera mengangguk.
"Baik, Pak. Tapi setelah itu, kami akan segera bergabung dengan Anda, pasti."
"Tentu."
"Pasti!"
"Aku percaya padamu. Baiklah, ayo mulai. Kalian semua pergilah."
Menanggapi, Gilbert mengangkat tangannya. "Pasukan, ikuti aku! Kita akan memanggil bantuan dari Damietta!" Dengan seruan itu, dia segera berlari.
Setelah Crowley memastikan hal tersebut, dia mengalihkan perhatiannya pada musuh di belakang mereka sekali lagi. Mereka mendekat dengan cepat. Sepertinya ada sekitar seratus orang.
Tidak mungkin sepuluh ksatria yang sudah jelas kelelahan bisa memenangkan ini. Tapi mereka tetap harus memainkan bagian mereka dengan meyakinkannya untuk mengalihkan perhatian musuh dari Gilbert dan kelompoknya.
Karena itulah Crowley berkata pada yang lainnya, "Kita akan menyerang mereka."
Di sebelahnya, Gustavo berkomentar, "Kalau begitu, kita benar-benar akan mati di sini, ya? Ahh, payah sekali. Mungkin aku seharusnya pergi saja dengan Gilbert."
Kecuali Crowley yang tahu maksud sebenarnya, meskipun perkataannya pedas, Gustavo adalah orang pertama yang menghunuskan pedangnya. Dia memang orang yang seperti itu. Seorang pria yang tidak akan pernah meninggalkan rekannya.
Dan di sebelahnya, berdiri dengan sekujur tubuh yang gemetar karena takut, Rosso si pengawal.
Dia juga tetap tinggal di sini.
Yang lainnya juga adalah ksatria yang berteman dengan Crowley. Mereka adalah rekan-rekannya saat berlatih, berbagi makan dan tempat tinggal.
Victor berteriak lantang, membuat sebuah permintaan mendadak, "Hei, kalian semua! Katakan pada kita semua, apa hal pertama yang akan kau lakukan saat kita pulang!"
Satu persatu ksatria yang lain mulai membalas.
"Daging! Aku akan makan banyak daging!"
"Aku akan mencari wanita, tentu saja!"
"Minuman keras untukku! Tidak, air! Yang pertama adalah air!"
Victor berkata sambil tertawa, "Oh kalian ini, kalian semua benar-benar ternoda oleh nafsu duniawi! Tuhan kita tidak akan menyelamatkan kalian kalau kalian seperti itu!
Hal itu membuat mereka semua meledak tertawa. Dan entah bagaimana, itu membuat mereka merasa bahwa mereka ingin selamat dan pulang.
Victor menatap Crowley. "Oke kalau begitu, tugasku selesai," katanya. Dia mungkin masih mengikuti perintah yang diberikan Komandan, tentang menyemangati rekan-rekannya dengan optimismenya. "Kuserahkan sisanya padamu, Crowley," lanjutnya.
"Baiklah kalau begitu. Ayo semuanya, kita kembali hidup-hidup! Dan untuk itu, kita akan menarik perhatian penganut pagan itu kemudian lari. Buatlah pedangmu bernyanyi! Raungkanlah sorak peperangan! Lakukan apapun yang kau bisa untuk terlihat mencolok. Tapi jangan lupa, ini hanyalah misi pengalih perhatian! Tujuannya sudah ada di depan mata. Jadi, tetaplah selamat dengan semua sikap keras kepala yang bisa  kalian kerahkan dan tunjukkan pada lawan kekuatan kita, para Ksatria Templar! Semuanya, majuuuuuu!"
" Yeaaaaaaaaah!!!”
Mengeluarkan pekikan yang memekakkan telinga, para ksatria membenturkan pedang mereka pada baju zirah atau perisai mereka, membuat keributan sebisa mungkin, lalu segera berlari. Ke arah musuh. Ke arah para penganut pagan.
Menyerang mereka secara langsung hanya akan berakhir dengan para tentara salib yang disapu bersih dalam sekejap. Karena itulah mereka akan berhenti tepat di depan musuh dan membuat para penganut pagan itu mengejar mereka.
Kemudian bunuh mereka, dimulai dengan yang akan menyusul mereka.
Bunuh. Bunuh.
"Bantai merekaaaaaaa‼!" raung Crowley.
Dia memenggal musuh di depannya. Memangkas jatuh satu lengan ke lengan lainnya. Kemudian dengan pedangnya menusuk kepala seorang pria yang hampir menyerang Victor yang ada di sebelahnya. Tengkorak pria itu hancur, membuat pedangnya terbena, teralu dalam dan tersangkut.
"Ugh."
Memanfaatkan kesempatan itu, lima musuh menyerangnya dari samping. Gustavo dan Rosso menyambar salah satu dari mereka.
"Crowley!"
"Crowley-sama!"
Gustavo dengan cepat memenggal kepala dua orang yang lainnya. Seniorya ini benar-benar kuat.
Tapi Rosso kalah dalam adu kekuatan. Dia menahan pedang musuh dengan pedangnya sendiri tapi tidak dapat menahan momentumnya dengan baik, membuat bilah pedang tersebut terbenam ke lehernya. Menimbulkan suara mengerikan saat itu terjadi. Darah menyembur keluar dari leher Rosso.
"Rosso!" Crowley menyambar pedang Rosso yang terjatuh dan menghujamkannya tepat ke jantung pria yang menebas si pengawal itu.
"Kh-Crowley-sam…Anda tidak apa-apa, Pak?" Berlumur darahnya sendiri, Rosso masih mengkhawatirkannya.
"Ya. Ya, aku tidak apa-apa. Berkat dirimu. Kau menyelamatkanku."
Mendengarnya, si pengawal, si bocah laki-laki yang hampir berusia 16 tahun, memaksa diri berkata senang, "Syu-Syukurla…"
Dan dengan demikian, dia menghembuskan napasnya yang terakhir.
Satu lagi pemuda polos yang memiliki masa depan, mati demi menyelamatkannya. Crowley mengernyit, namun dia tidak bisa berhenti di sini.
Meninggalkan jasad Rosso, dia memberi perintah, "Mundur! Semuanya, mundur!"
Mereka bergegas lari. Tidak perlu dikatakan lagi, musuh mengejar mereka. Para ksatria berlari sekuat tenaga, menebas musuh saat mereka berpapasan.
Di belakangnya, Crowley dapat mendengar suara jerit singkat dan tersedak rekan-rekannya yang terlalu akrab dengannya.
Rekan-rekannya dibunuhi satu persatu. Tapi dia tidak punya waktu untuk melihat ke belakang pada titik ini. Melarikan diri dengan mati-matian adalah satu-satunya hal yang bisa dia lakukan. Kalau dia tidak melakukannya, mereka semua akan terbunuh.
"Bajingan kaliaaaaaaaannn‼!" Teriakan Gustavo muncul dari belakangya.
Saat Crowley mendengarnya, dia melihat ke belakang sebelum dia sempat menghentikan dirinya sendiri. Dan menemukan seorang prajurit musuh tepat di belakangnya. Pedang pria itu diangkat ke atas kepalanya, siap untuk menumbangkan Crowley, tapi kelihatannya tidak mengira Crowley melihat ke belakang dan berhenti sesaat dengan tatapan terkejut di wajahnya saat Crowley melakukannya. Pedang Crowley menebas wajah itu dengan mulus. Dia benar-benar terselamatkan oleh seruan Gustavo barusan.
Tapi Gustavo yang itu tertinggal di belakang tepat di tengah-tengah musuh. Tangan kirinya memegangi perutnya, dengan ususnya yang menggelantung keluar, dia berteriak, "Kalian, semuanya, larilah! Aku akan menahan penganut pagan itu di sini!"
Mustahil. Tidak mungkin dia bisa.
Gustavo akan mati. Di sini.
Meski begitu, Gustavo sendiri tidak takut mati.
"Hei, Crowley!" dia memanggil nama Crowley sebagai gantinya. "Pastikan kalian semua lolos hidup-hidup!" Gustavo berteriak padanya.
Musuh tidak terburu-buru berkumpul di sekitarnya, mengelilinginya, dan mengangkat pedang mereka.
"Gustavo-senpai!" jerit Crowley, dan saat itu juga, Gustavo mengangkat pedangnya sendiri dan menyerbu masuk ke dalam kerumunan para penganut pagan. Mereka mengerumuni Gustavo, tapi dia masih berhasil membunuh beberapa dari mereka.
“Uwooaaaaaaaah!” Gustavo berteriak.
Tapi hanya sejauh itu pertahanannya berlangsung. Sejumlah pedang menusuk leher, torso, abdomen Gustavo. Tapi dia tetap mengayunkan pedangnya. Gustavo mati-matian mengayunkan pedangnya ke tempat yang kosong, tapi segera tidak lama kemudian lengannya melemah, tidak dapat bergerak lagi.
Crowley hanya dapat menyaksikan. :"..Sial," isaknya. "…Sial, sial, benar-benar sialan!:"
Apa-apaan ini. Apa-apaan ini sebenarnya?!
Kemarahan meluap dalam dirinya, membuat seluruh tubuhnya gemetar. Tapi dia tidak tahu lagi kepada siapa amarah ini dilampiaskan. Pada para penganut pagan? Pada para pembesar yang memaksakan perang tak berarti ini? Atau pada Tuhan yang tidak melindungi mereka meskipun mereka begitu mempercayai-Nya?
Victor menyambar tangannya. "Jangan melamun! Kita masih hidup! Jadi ayo lari!"
"…"
"Ayo, cepatlah!"
Dengan sebuah teriakan, Crowley kembali berlari. Dia berlari mati-matian, menebas musuh-musuh yang ada di jalurnya dan memimpin kawan-kawannya.
Tidak ada waktu untuk memeriksa berapa banyak dari mereka yang masih hidup. Tapi dia harus selamat. Dia harus selamat tidak peduli bagaimana pun caranya.
Komandan telah memerintahkan dia. Dia harus selamat dan pulang ke rumah. Crowley diperintahkan untuk membawa kawan-kawannya pulang.
Karena itulah Crowley berlari dengan segenap kemampuannya.
Lari. Dan lari.
"…"
Bahkan sebelum mereka menyadarinya, mereka berhasil membuka jalan. Tidak lagi terlihat musuh yang mengejar mereka.
Crowley tidak tahu seberapa jauh mereka berlari.
"…Huff, huff, huff," dia hanya bisa bernapas tersengal-sengal, dengan bahu yang berat. Dia mencoba untuk mengendalikan pernapasannya, tapi napasnya tidak kunjung tenang. Dia menekankan sebelah tangan ke dadanya sendiri. Jantungnya berdebar dengan kecepatan yang luar biasa. Tapi tetap saja, meski demikian, mereka…
"…Kita…selamat?" Crowley berbisik dan menoleh ke belakang.
Rekan-rekannya, yang dapat mengikuti, berada di belakangnya. Totalnya ada 7 orang.
Sekitar sepuluh orang menghadapi seratus musuh, dan 7 orang selamat. Setengahnya kalau begitu. Setengah yang lain tewas, tapi tetap saja, sebanyak itu dari mereka yang selamat tidak lain adalah sebuah keajaiban pendek.
Semua orang menatapnya. Dan mereka semua tersenyum. Tidak ada yang bisa bicara— mereka tidak punya kekuatan yang tersisa. Tapi mereka tetap tersenyum. Atas keselamatan mereka yang ajaib. Atas keberuntungan mereka yang tidak dapat dipercayai itu.
Seseorang berkata, "Oh Tuhan…"
Dan beberapa yang lainnya, satu demi satu, menatap ke langit dan mulai berdoa.
Crowley memandangi pemandangan itu. Pada rekan-rekannya, yang sedang berdoa kepada Tuhan.
Dari samping, Victor mencengkeram bahunya. Mengalihkan matanya ke samping, Crowley menemukan dia masih hidup dan juga tersenyum. Saat dia memandangi wajah tersenyum Victor, barulah kesadaran bahwa dia juga tidak mati mulai tertanam dalam benak Cowley pada akhirnya.
"Hahaha," dia secara tidak sengaja akhirnya tertawa.
Damietta seharusnya sudah berada dalam jangkauan pasukan. Belum lagi Gilbert dengan pasukan bantuan akan muncul kapan saja.
Sepertinya mereka benar-benar selamat. Mereka berhasil keluar dari situasi tanpa harapan itu hidup-hidup.
"Hei, kita berhasil," Victor berkata. "Crowley, kau menyelamatkan semua orang."
Tapi Crowley menggelengkan kepalanya. "…Tidak, ini berkat usaha dan pengorbanan semua orang: Komandan, Rosso, Gustavo-senpai…"
Dan tidak hanya mereka. Banyak rekan mereka yang tewas yang telah memenuhi misi mereka. Mereka mungkin kalah dalam perang, tapi semua orang mati dengan terhormat. Dia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri: bagaimana mereka mengorbankan diri mereka untuk melindungi kawan-kawan mereka, untuk mempertahankan kehormatan mereka.
Karena pengorbanan itulah dia dan rekan-rekannya hidup — sekitar sepuluh orang yang dipimpin Gilbert dan ketujuh orang di sisi Crowley saat ini.
Dan di antara mereka, bahkan sahabatnya pun masih ada.
Mengangkat kepalanya, Crowley menatap dia. Pada Victor. Dan meskipun terlambat, membalas pertanyaan Victor sebelumnya, "…Aku akan berdoa saat kita kembali."
Victor memperlihatkan wajah kebingungan padanya, dan Crowley menjelaskan," Kau menanyakan apa yang akan kita lakukan pertama kali saat kita kembali, 'kan."
"Ah, ya. Benar."
"Dan inilah jawabanku. Aku akan berdoa saat kita kembali. Aku akan ke gereja dan berdoa. Dan aku akan mengatakan pada Tuhan bahwa aku merasa bersyukur pada-Nya, sekalipun Ia baru tersenyum pada kita pada saat terakhir."
Merogoh rosario Komandan dari dalam kantungnya, Crowley menggenggamnya erat-erat dan menatap langit seperti yang lainnya.
"Oh Tuhan…" katanya.
Melihat itu, Victor tersenyum. "Ayo pulang. Ke rumah kita."
"Ya," Crowley mengangguk.
Dia baru saja akan memerintahkan rekan-rekannya untuk mengerahkan kekuatan terakhir mereka dan berbaris menuju Damietta, tapi saat itulah dia menyadari sesuatu yang aneh dari arah di mana Damietta berada.
"…"
Dari sana, seorang pria berpakaian serba hitam perlahan mendekat tepat melintasi tanah gersang. Pria itu berkulit gelap, jadi dia mungkin adalah seorang penganut pagan. Tapi dia tidak bersenjata. Tangan kosong, dia menatap lekat-lekat ke arah mereka.
"Apa itu?"
Ksatria yang lain pasti menyadari dia juga.
"Seorang musuh? Apakah dia mengikuti kita?"
"Sekalipun begitu, tidak ada orang di sekitar. Apa yang bisa dia lakukan sendirian saja?"
"Mungkin dia terpisah dari kawan-kawannya?"
"Kalau begitu, kenapa dia tidak melarikan diri? Dia datang langsung ke arah sini."
Crowley  menyela, "Kalian semua, tenanglah sedikit."
Semuanya terdiam. Crowley, dalam kewaspadaan tinggi, menaruh tangannya pada gagang pedang dan bertanya dengan suara lantang. "Hei, kau! Siapa kau?"
"…"
Pria itu tidak menjawab. Terus datang mendekat, tepat ke arah mereka.
"Hei!"
"…"
"Hei! Apa kau mengerti bahasa kami?"
"…"
"Jangan mendekat. Kalau kau melakukannya, aku akan membunuhmu!" Crowley menghunuskan pedangnya.
Rekan-rekannya melakukan hal yang sama dengan serempak.
Pria itu mengangkat kepalanya.
Dia adalah seorang pria yang anehnya begitu tampan. Dan matanya berwarna merah. Merah bagaikan darah. Memperlihatkan gigi-giginya, pria itu tersenyum. Di mulutnya, ada dua taring tajam, seperti seekor hewan buas.
"Apa-apaan itu."
Begitu kata-kata tersebut meluncur dari mulut Victor, pria berpakaian hitam itu menghilang.
"Eh…?"
"Uwah?!"
Saat berikutnya, teriakan itu terdengar dari belakang Crowley. Ketika Crowley berbalik, kedua rekannya telah tewas.
Dengan tangan kirinya, pria itu mematahkan leher salah satu dari mereka dan dengan tangan kanannya menusuk dada yang lainnya.
Kematian mereka terjadi dalam sekejap. Mereka merosot jatuh, tidak bergerak.
"Apa-apaan itu, siapa dia?!" para ksatria berteriak.
Crowley sama bingungnya. Gerakan pria itu sama sekali bukanlah sesuatu yang mampu dilakukan seorang manusia. Sulit untuk dipercaya bahwa siapapun dapat bergerak begitu cepat sampai menghilang dalam sekejap. Ada yang sangat salah dengan pria ini.
"B-brengsek kauuuuu‼!"
Ksatria yang lain mengangkat pedangnya, akan menyerang pria itu, dan Crowley berteriak, "Jangan‼!"
Pria ini sama sekali bukanlah lawan yang dapat mereka hadapi dan harapkan untuk menang.
Tapi terlambat. Pedang itu hampir mencapai leher pria tersebut, saat dia menghentikannya hanya dengan dua jari.
"Apa?!"
Segera sesudah seruan keheranan ksatria tersebut, pria tersebut memuntir jarinya. Dan hanya dengan begitu saja, pedang tersebut patah dengan mudahnya, mematahkannya seakan itu hanyalah sebatang tongkat tipis.
"Hei, itu pasti bercanda," Victor, berdiri di samping Crowley, berkata dalam nada ngeri.
Tapi itu bukanlah candaan. Apa yang mereka saksikan bukanlah sebuah mimpi.
Sesosok monster.
Sesuatu yang bukan manusia, makhluk yang sama sekali beda sedang menyerang mereka. Dan mereka tidak diajarkan bagaimana caranya menghadapi monster yang bisa bergerak seperti itu.
Pria itu mengayunkan tangan kirinya dengan ringan. Saat dia melakukannya, kepala ksatria yang pedangnya barusan dipatahkan oleh pria itu, terpisah dari tubuhnya, terbang melintasi angkasa.
Kemudian pria itu bicara, "…Lemah sekali. Aku tidak suka darah orang yang lemah. Apakah tidak ada yang lebih kuat?"
Crowley beteriak, "Semuanya berkumpul! Jangan menghadapinya sendirian! Kita akan menghadapi monster ini bersa—"
Akan tetapi, tepat saat itu, pria itu berbalik ke arahnya, berujar, "Ahh, pastinya kaulah yang terkuat di antara mereka?"
Dia menghilang lagi dan detik berikutnya sudah berdiri tepat di hadapan Crowley.
"Khugh…"
Saat tangan pria itu hampir mencapai leher Crowley, "Uooooogh!" dia mengangkat pedang dan mengayunkannya, mengincar kepala monster itu. Sebuah serangan dari tangan monster itu mematahkan pedang tersebut menjadi dua tanpa susah payah.
Tapi Crowley sudah mengira sampai sejauh itu. Dia sudah siap, dan dia mengayunkan pedangnya dengan pikiran itu.
Dia menyorongkan sisa bilah dari pedang patah itu ke depan, mencoba untuk mendorongnya ke dalam leher monsteritu. Mata monster itu terbelalak sedikit, tapi dia menghindari serangan tersebut.
"Oops, kau sama sekali tidak buruk. Tapi pedang seperti milikmu itu melawanku itu—"
Crowley, akan tetapi, telah membuang pedang tersebut dan, menjegal monster itu, dengan tubuhnya menekan dia ke tanah, berteriak pada saat yang sama, "Victor, bunuh diaaaaaa‼!"
Pada saat itu juga, Victor dan ksatria yang lainnya menikam monster tersebut dengan pedang mereka dengan serempak. Empat pedang menusuk tubuh monster itu.
Mereka membunuhnya. Mereka dapat membunuhnya.
Atau begitulah yang Crowley kira.
Tapi pria itu menyeringai, "Dan?" Meskipun 4 pedang bersarang di tubuhnya, dia terlihat tenang seperti sebelumnya.
Dia sama sekali bukan manusia. Makhluk ini bukan manusia.
Yang berarti, mereka tidak lagi punya kesempatan untuk menang.
Kalau monster ini tidak mati karena ditikam pedang, maka Crowley tidak tahu bagaimana caraya membunuh dia.
Tamat sudah. Mereka hanya bisa mencoba untuk melarikan diri. Karena itu…
"Hei, Victor!"
Bawa semua orang dan lari, Crowley baru saja akan memerintahkan itu.
Tapi sebelum dia bisa melakukannya, monster itu tertawa, "Kurasa tidak. Aku tidak akan membiarkan kalian pergi. Saksi mata harus dibantai. Aku akan meninggalkanmu sebagai hidangan utama, jadi tunggulah sebentar di sini."
Memutar,Crowley ingin berteriak, "Lari!" pada yang lainnya, tapi saat dia berbalik, monster yang dia tahan beberapa saat yang lalu, sudah muncul tempat di sebelah kawannya. Mencengkeram salah satu di kepalanya, dia mematahkan lehernya. Menghujamkan sebelah tangan ke dada yang lainnya, dia mencongkel keluar jantungnya.
"Hentikan," Crowley memaksa keluar suaranya, menyaksikan rekan-rekannya dibunuh. "Kumohon hentikan‼" jeritnya.
Kenapa ini terjadi. Tepat di saat mereka berpikir mereka telah selamat. Tepat di saat mereka sampai sejauh ini, membayar harga yang begitu besar demi ini. Tepat di saat kotanya, Damietta, sudah terlihat.
Mereka seharusnya berhasil kembali. Mereka seharusnya pulang ke rumah hidup-hidup.
Akan tetapi, apa yang sedang dia saksikan di sini.
Satu demi satu rekannya terbunuh. kawan yang seharusnya pulang ke rumah hidup-hidup terbunuh.
Dan sekarang monster itu menatap Victor.
Victor mengangkat pedangnya.
"Jangan! Victor!" jerit Crowley. Tapi jeritan itu sia-sia.
Pria itu melambaikan tangannya. Dan itu saja sudah cukup untuk melepaskan lengan Victor dan melesatkannya terbang di udara.
"Ah…" hanya itu yang diucapkan Victor. Kemudian dia menatap Crowley. Dengan wajah yang bertanya apa yang harus dia lakukan sekarang, memohon pertolongan. Dan Crowley berniat untuk bergegas ke arahnya.
"Menjauh!" Victor menghentikan dia.
Di saat yang sama kata tersebut keluar dari mulutnya, pria itu mengunci ke leher Victor. Taring panjang dan tajam itu menusuk jauh ke dalam daging, dan pria itu mulai mengisap sesuatu keluar dengan suara basah. Kemudian tenggorokannya bergerak untuk menelannya dengan satu tegukan. Dia terlihat seakan sedang meminum darah.
Dia adalah seorang monster penghisap darah.
"Ah, ah, ah…" Victor mendengus, dan kemudian tubuhnya jatuh ke tanah, begitu saja. Dan kemudian dia mati.
Dengan begitu mudahnya juga.
Itu yang terjadi pada Victor.
Teman yang selalu bersama Crowley sejak dia bergabung dengan Ksatria Templar mati.
Dan Crowley menyaksikannya dengan tatapan hampa.
Melihat Tuhan tidak pernah sekalipun tersenyum pada mereka hingga akhir. Dengan tatapan hampa, dia menyaksikan Tuhan yang kejam, atas segala hal yang telah mereka lalui, bahkan monster penghisap darah terhadap mereka.
Monster yang dibicarakan itu mencengkeram Crowley di leher dan memaksanya berdiri. Tapi tidak ada lagi kekuatan yang tersisa di tubuh Crowley untuk apapun. Itu seakan energi untuk bangkit dan keinginan apapun untuk hidup mungkin telah dihisap hingga kering.
Pria itu berkatan "Aku membuatmu menunggu. Tapi sekarang, aku akan menghisap darahmu."
Dengan mata kosong, Crowley memandangi pria itu. Dia tidak merasakan takut lagi. Bila dunia ini sama sekali tanpa kasih Tuhan, maka dia tidak melihat alasan untuk hidup lebih lama lagi.
Karena itulah dia berkata, "…Bunuh aku."
Pada saat itu, pria itu membuat raut wajah sedikit bosan. "Aku tidak menikmati menghisap darah dari manusia yang tidak melawan. Darah manusia terasa paling lezat saat dipenuhi amarah."
Crowley berpikir dia tidak peduli lagi. Dia tidak tahu makhluk apakah ini, tapi dia tidak peduli lagi, akan segalanya.
Pria itu membuka mulutnya. Di dalamnya, sebagai taring terlihat menonjol. Taring-taring itu melesak ke dalam lehernya. Dia merasa seakan nyawanya sedang dihisap dengan berisik dari dalam dirinya. Untuk beberapa alasan, ada sesuatu seperti rasa nikmat yang luar biasa saat nyawanya dihisap keluar dari dirinya, perasaan saat ajal mendekat.
"Ah, ah…" suaranya keluar begitu saja. Pupil matanya melebar.
Langit dan matahari terlihat begitu menyilaukan—dari tempat ini bersimbahkan darah. Dan seakan itu tidak cukup, langit di atas tempat ini di mana kawan-kawannya terbunuh tepat ketika dia berpikir mereka berhasil bertahan hidup terlihat begitu biru dan indah…
"…Aah, aku tahu. Ini adalah mimpi."
Terlalu konyol untuk tidak demikian, renung Crowley. Jadi ini pastilah sebuah mimpi. Sesosok monster seperti ini tidak mungkin ada, bagaimanapun juga.
Kenyataannya, mereka kalah dan terbunuh di medan perang. Dan ini adalah mimpi yang akhirnya dia lihat di ambang kematian.
Tidak, mungkinkah ini sebuah mimpi yang dia dapatkan karena dia terlalu takut untuk pergi ke perang itu? Sebuah mimpi buruk yang dia lihat setelah berpesta dengan semua orang dan minum terlalu banyak di aula makan itu. Kalau memang begitu, maka dia ingin segera bangun secepatnya.
Dan begitu dia melakukannya, Victor akan mengatakan sesuatu yang konyol lagi padanya. Dan Gustavo akan menjadi orang bermuka masam seperti biasanya, dan Rosso, Komandan Alfred, dan rekan-rekannya yang lain akan tertawa seperti biasa.
Ahh, betapa bagusnya kalau memang benar begitu. Betapa dia menginginkan itu menjadi kenyataan.
Kesadaran Crowley memudar, semakin jauh setiap detiknya.
Dan dari suatu tempat di tempat yang sangat jauh, dia mendengar suara-suara. Dalam mimpi yang jauh, samar-samar, dia dapat mendengar seseorang berbicara.
Apakah itu suara para malaikat? Atau para iblis dari neraka?
♦ ♦
"…Nah, tunggu, jangan bunuh dia, Raux…"
"…Huh? Apa yang sedang kau lakukan di sini, Brengsek?"
 "Ahaah~ Nah, nah, kesampingkan itu, dia adalah Michaela. Dan karena itulah…"
"…"
"Karena itulah…aku tidak akan membiarkan kau membunuhnya."


Owari no Seraph : Kyuuketsuki no Mikaela Monogatari Jilid 1 Bab 3 Part 3 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.