25 Agustus 2018

Only Sense Online Jilid 6 Bab 2 LN Bahasa Indonesia




SI PERI NAKAL DAN QUEST PERI

(Translater : Hikari)

"Uuh, kita akhirnya kembali."
Setelah kembali ke Atelier, Emily-san dan aku dengan lambat duduk di kursi dan menjatuhkan diri ke konter.
Angin saat melarikan diri menggunakan tali itu terasa nyaman, tapi saat kami perlahan mendekati tebing di seberang dan hampir bertabrakan dengan itu, kami merasa takut. Akan tetapi, berkat dunia fantasi ini, kami melambat mengabaikan hukum fisika dan berhenti tepat sebelum bertabrakan dengan tebing. Meskipun Emily-san dan aku dapat turun dengan selamat, kami berekspresi sangat rumit.
"Yang benar saja, apa itu sebenarnya? Aku penasaran."
Kami kebanyakan terdiam sampai kami kembali ke Atelier, tapi setelah sampai, aku bertanya.
"Bukankah itu salah satu dari jalan-jalan pintas yang sering kau lihat? Sesuatu seperti mesin warp yang terhubung dengan luar dungeon."
Dungeon itu rumit, jadi perjalanan pergi-pulangnya akan memakan banyak waktu. Karena itulah mereka membuat sebuah jalan pintas untuk kembali dengan tenang.
"Yah, itu adalah trik yang menggunakan konsep yang berbeda dari sebuah portal."
"Kalau begitu, maka aku lebih suka perlengkapan yang tidak terlalu membuat jantungku tegang."
"Kurasa, itu mungkin hanya salah satu atraksinya."
Mengatakan bahwa ketegangan barusan adalah tujuan dari perlengkapan tersebut, Emily-san memperlihatkan ekspresi sedikit lelah.
Setidaknya ada cukup kecerdikan untuk tidak pernah merasa bosan. Sambil kembali berpikir demikian, aku melihat kedua peri yang terbang berkeliling di dalam toko.
"Ahahaha‼ Habitat manusia itu menarik! Ada banyak hal-hal yang aneh!"
"Tanaman. Aku sangat suka merawat tanaman. Percayakan pengelolaan pengairan padaku."
Si Peri Nakal yang datang mengikutiku sedang terbang dengan bebasnya di sekitar toko dan menyentuh berbagai benda. Peri Air yang mengikuti Emily-san tertarik dengan bibit Pohon Wisteria Peach yang proses penanaman ulangnya selesai.
"Nah, tidak ada masalah membiarkan mereka seperti itu."
"Kau benar. Baiklah kalau begitu, ayo pastikan materialnya dan siapkan Synthesis."
Berkata demikian, dimulai dengan Kantung Sutera Arachne, Emily-san dan aku mulai memastikan item drop dan bijih logam yang ditambang di dungeon.
Selain itu, aku mengeluarkan Potongan Sutera Magis dan Bambu Magis juga batangan logam serta bijih logam dari stok Atelier.
"Ohhh?! Apa yang kalian lakukan?! Apa yang kalian berdua lakukan?! Apa aku bisa melakukannya juga?"!"
"Kami sedang mensintesi material. Karena kau tidak bisa melakukannya, makanlah ini sebagai gantinya."
Karena Peri Nakal berisik saat terbang ke sana ke mari, aku mengeluarkan sebuah parsel dari dalam inventory dan mengulurkan itu padanya. Isi dari bungkusan ini adalah kue kering yang kubuat kemarin. Si Peri Nakal, tidak dapat menahan berat benda itu perlahan terjatuh. Melihatnya, Peri Air membantu menahannya dan mereka menaruhnya di atas konter.
"OHHH?! Kue buatan manusia! Rasa manis yang tidak bisa kau makan di Desa Peri!"
"Nektar manis memang bagus, tapi makanan manis manusia itu langka! Kelihatannya enak."
Mereka berdua, bekerja sama membuka bungkusan dan mulai menikmati aroma butter cookies yang menyebar. Para peri yang bertingkah berisik barusan sekarang menjadi tenang. Kami kembali mengerjakan sintesis.
"Emily-san, tidak masalah mensintesis dengan logam ini?"
"Pertama-tama, kita harus membuat persiapan. Itu akan gagal begitu saja."
"Yang benar?"
Saat dia berkata demikian, aku meletakkan Bambu Sihir dan Bijih Tembaga yang ada di tanganku ke konter dan mendengarkan penjelasan Emily-san.
"Pertama, kita akan memproses potongan-potongan Sutera Magis dengan Konversi Tingkat TinggiAlchemy menjadi sepuluh lembar Kain Sutera Magis"
Setelah berkata demikian, dia segera mulai menggunakan Konversi Tingkat Tinggi Alchemy untuk menciptakan sepuluh helai kain sutera.
Kau bisa mendapatkan sutera magis ini dari Jubah Sihir yang muncul di dungeon normal Kota Keempat, Kota Labirin.
Meskipun itu adalah dungeon dengan banyak monster yang mengakibatkan status buruk, ada sangat sedikit orang-orang yang menghadapinya karena kurangnya tindakan balasan, karena itulah aku membeli material dari Taku dalam jumlah banyak saat dia datang dan berkata dia tidak memakainya.
"Ini kelihatan cantik. Mungkin ini akan terlihat bagus kalau aku menggantungnya di dinding."
"Ada juga toko yang melakukan itu. Lihat——"
Berkata demikian, Emily-san menunjukkan padaku screenshot salah satu toko itu.
Kain yang berkilauan bergelantungan di seluruh toko, secara tidak langsung meneranginya. Memantulkan cahaya lembut, kain tersebut membuat ruangan menjadi terang, menciptakan ruangan berkesan lembut di dalam. Itu adalah toko dengan desain yang sangat bagus.
"Ah, kita jadi melantur dari topik awal. Jadi, kalau kita menggunakan konversi tingkat rendah Alchemy pada Kain Sutera Sihir ini——"
Itu akan menjadi seperti semula, itulah yang kupikirkan, tapi ternyata itu berubah menjadi dua gulung sutera.
"Dengan begini, kau bisa membuat Gulungan Benang Sutera Magis. Juga, kau bisa menggunakan Alchemy untuk mengubah item drop menjadi bentuk yang lebih diproses."
"Apa tidak masalah mengajariku ini? Sepertinya ini pengetahuan yang sangat penting."
"Tidak masalah. Malahan, ini adalah salah satu potongan informasi yang diperlukan untuk membuat material tujuan kita."
Selain itu, kerikil logam yang muncul dari peti harta adalah sebuah material yang berada di antara bijih logam dan batangan logam, tapi itu sulit untuk diproses begitu saja. Jadi, benda tersebut bisa diproses secara manual menggunakan Smithing atau Craftmanship dengan melelehkannya dan membuatnya ulang menjadi batangan logam, tapi bagi mereka yang tidak bisa melakukannya dapat menggunakan Alchemy dengan mengumpulkan tiga kerikil dan mengubahnya menjadi sebuah batangan logam.
Jadi begitulah caranya. Aku tidak mengetahuinya karena aku selalu memprosesnya dengan cara yang sama memproses bijih logam.
Dan, metode untuk menangani Bambu Magis, dia menjelaskannya secara verbal, tapi menyerahkannya padaku.
"Aku mengerti, jadi aku yang dapat untuk melakukannya."
Kami memasuki bagian bengkel Atelier. Aku menyalakan api di tungku yang bisa dibawa ke mana saja untuk membuat aksesoris dan meletakkan Bambu Magis ke dalamnya sambil memanaskannya dengan api kecil.
Api kecil itu perlahan membakar Bambu Magis. Sambil memperhatikan api di dalam tungku untuk memastikannya tidak menghilang, aku menumpukkan potongan Bambu Magis di atas satu sama lain.
Saat benda tersebut terbakar api, potongan bambu hijau terkarbonasi. Begitu pembakarannya selesai, benda tersebut memutih, menumpuk sebagai abu di tungku tersebut.
"Apa ini cukup?"
Begitu benda tersebut terbakar menjadi abu, aku mengoreknya keluar dan melarutkannya dalam ember air yang sudah disiapkan.
Aku meraup serat-serat hitam yang muncul dari abu yang dilarukan di air dan membasuhnya sampai bersih di seember air lainnya.
Sejumlah kecil serat tahan lama bisa didapatkan dari Bambu Sihir, yang disebut Serat Bambu. Dan Kantung Sutera Arachne yang tersisa dapat diproses menjadi benang dengan mempercayakannya pada perajin dengan skill Sewing.
"Hanya ada sebanyak ini serat yang terbuat dari bambu yang kita punya, jadi ini sangat berharga. Aku penasaran, apa Emily-san sudah selesai."
Setelah memisahkan semua serat dari bambu, aku mengikatnya menjadi satu dan membawanya kembali ke bagian toko Atelier.
·
"Emily-san, bagaimana dengan bagianmu?"
"Yun-kun, aku sudah selesai memproses bagianku juga."
Semua sutera magis telah berubah menjadi benang dan dijejerkan dengan rapi .
Para peri selesai memakan biskuit dan mengunjungi ladang saat aku melihat mereka terbang di luar dari jendela yang terbuka.
"Baiklah kalah begitu, yang tersisa adalah Kantung Sutera Arachne, ya 'kan."
"Aku sudah meminta seorang perajin kenalanku untuk memprosesnya. Akan makan waktu sehari untuk memproses kantungnya, jadi aku ingin kau menunggu dua hari sampai kita mensintesisnya."


"Jadi, masih ada waktu sampai lusa——"
Jadi hasilnya tidak akan segera terlihat. Mau bagaimana lagi. Berpikir demikian, aku meregangkan punggungku.
Pada saat yang sama aku berkata masih ada waktu, aku menyadari sebuah skill.
Sebuah pemanggilan yang menggunakan batu yang kukeluarkan dari inventory. Tidak, para young beast telah memaksa pemanggilan, keluar begitu saja dan muncul di sampingku.
"——Ryui, Zakuro."
Akhir-akhir ini, karena event dan persiapan untuk raid quest, sangat sedikit kesempatan untuk memanggil mereka, jadi mereka keluar sendiri begitu saja, pikirku.
Monster yang dijinakkan dengan Sense Taming sangatlah otomatis, dibandingkan dengan monster alkemis dan sintetis Emily-san. Dan juga, kalau kau tidak memanggil mereka untuk jangka waktu yang lama atau semakin jarang memanggil mereka, terkadang mereka secara muncul keluar begitu saja.
Dalam kasus-kasus semacam itu, mereka memilih waktu di mana tidak ada hal apapun yang berkaitan dengan pertarungan. Kali ini, kata "ada waktu" pastinya menjadi pemicunya.
"Maaf. Kali ini, ayo lakukan kerja lapangan bersama-sama."
Aku mengelus Ryui dan Zakuro yang sama-sama menggesekkan leher mereka padaku.
Aku memeriksa surai selembut sutera Ryi dan rambut berkilauan Zakuro.
"Ahh, ada banyak tanaman di luar sana! Seperti bunga-bunga kecil dan sebatang pohon besar! Jadi manusia merawat hal yang bisa ditemukan di hutan!"
Si Peri Angin Nakal menghambur masuk dari jendela yang terbuka lebar, dan melihat sosok-sosok itu, dia membeku di tengah udara.
"A-apa! Makhluk-makhluk apa itu?!"
"Yun-kun, perimu benar-benar penuh semangat."
"Dia hanya berisik."
Emily-san menatapku dengan senyum ramah, tapi secara pribadi, aku lebih suka peri yang lebih tenang sebagai gantinya.
"Aku sudah mendiami manusia ini lebih dulu! Akulah yang senior di sini, mengerti!"
Si peri berterbangan di sekitar Ryui dan Zakuro lalu berhenti di depan mata mereka serta mendeklarasikan secara tegas. Akan tetapi, mendengar hal itu Zakuro menyambar leher peri itu dengan mulutnya.
"Uwoah?‼ Apa! Aku adalah peri angin yang sangat suka kenakalan! Akulah yang melakukan hal-hal jahil! Berhenti memperlakukanku begitu kasar!"
Dia melambai-lambaikan tangannya untuk memberontak lepas, tapi tidak lama kemudian tangannya bergelantungan tanpa daya, dicengkeram di mulut.
"Uuu, sekalipun kau memakanku, aku tidak enak."
"Tidak, Zakuro tidak akan memakanmu."
Saat aku menyahutiya, masih mencengkeram si peri di mulutnya, Zakuro berjalan menuju tempat yang paling cerah di Atelier.
Seperti itu, Zakuro memposisikan kedua ekornya di perut dan meletakkan si peri di ekornya.
"Entah kenapa, Zakuro bertingkah seperti Ryui."
Saat aku bergumam demikian, Ryui menyundulku ringan. Akan tetapi, bagaimana Zakuro meletakkan si peri kecil di sampingnya supaya tidak menggencetnya terlihat sama seperti yang Ryui lakukan dengan Zakuro. Itu adalah pemandangan yang menyenangkan, seperti seorang adik laki-laki yang meniru kakaknya.
"Aku adalah seorang peri. Dihadapkan dengan keempukan yang menggoda ini, aku——hoaaahmmm."
Tidak lama kemudian, terpesona oleh kekuatan kelembutan dari kedua ekor itu, dia pun membenamkan dirinya sendiri dalam bulu tersebut dan tubuhnya pun menghilang, tersembunyi.
"Ngomong-ngomong, di mana Peri Air-ku?"
"Sepertinya dia sedang menyirami tanaman dengan manusia yang berbeda~"
Terbenam dalam bulu Zakuro, si Peri Nakal membalas pertanyaan Emily-san dengan suara teredam.
Berbicara tentang manusia selain aku dan Emily-san yang ada di Atelier, hanya ada Kyouko-san si NPC.
Setelah si Peri Nakal membalas pertanyaan Emily-san, dia dengan segera tertidur. Ryui juga berbaring di tempat yang sama, merapat pada mereka berdua.
"Ini benar-benar pemandangan yang menyegarkan, Yun-kun. Apa kau akan tidur di situ juga?"
"Tentunya, aku ingin mendapatkan kesegaran itu, tapi sebelumnya, ayo selesaikan persiapan Synthesis."
Sebagai tambahan material tipe benang dan batangan logam, aku memberikan Emily-san beberapa bahan yang kutahu berkaitan dengan Sense Sewing. Aku juga memperkenalkan material yang baru kutemukan, seperti Air Kehidupan yang merupakan salah satu bahan untuk Obat Kebangkitan.
Setelah aku menyerahkannya pada Emily-san, tahap pertama persiapan sudah selesai dan bahan-bahan yang tersisa disimpan saja di inventory-nya.
"Oh-ho, Kantung Sutera Arachne, Benang Sutera Magis dan Serat Bambu. Kau punya banyak material di sini. Apakah kau membuat bahan tipe Sewing?"
Sebuah bayangan menutup pintu masuk Atelier dan dengan akurat melihat material yang kami pegang. Saat aku melihat ke arahnya, aku melihat seorang player mengenakan sehelai jubah dengan seekor anak kucing berada di pundaknya. Cloude berdiri di sana.
"Ohh, Cloude. Selamat datang. Apa kabar?"
Cloude langsung berjalan ke konter dan untuk sekejap, dia memicingkan mata sambil memandangi bahan-bahan yang dijejerkan.
"Hmm. Untuk sekarang, apa tidak masalah kalau aku menanyakan apa yang sedang kalian coba buat?"
"Ya, kami sedang mencoba mensintesis Benang Logam yang beredar saat ini. Ini adalah proyek gabungan dengan Yun-kun."
"Begitu ini selesai, kami akan memesan material-materialnya dan kami akan membeli resepnya dari kalian. Kalian tahu, aku bekerja di balik layar Guild Perajin. Aku tahu siapa yang membawa benang itu pada kami, tapi karena tingginya permintaan, kami tidak bisa memenuhi suplainya."
Mendengar perkataan Cloude, aku menyadari bahwa dia tahu Letia adalah sumber dari Benang Logam. Dan karena kami yang adalah teman Letia sekarang mengumpulkan  bahan-bahan tipe Sewing, dia pasti sudah menduga kami sedang membuat sesuatu yang berhubungan dengan Benang Logam.
"Untuk pesanan bahan kalian, kami akan menerimanya selama itu berkaitan dengan material sintesis, tapi kalau untuk menjual resep, kami menolak."
Sambil berkata demikian, Emily-san menyimpan semua material yang dijejerkan di meja ke dalam inventory-nya dan aku menyiapkan teh untuk tiga orang.
"Untuk sementara ini, biar kutanyakan alasannya. Kenapa?"
"Ada dua alasan. Kalau kami segera menyebarkan resepnya setelah membuatnya, semua orang akan membuatnya. Yang kami punya tidak akan terjual, ya 'kan. Karena itulah, setidaknya sampai kami mendapatkan kembali biaya bahan dan pengeluaran untuk penelitian, kami akan menahan diri untuk mempublikasikannya."
Merasa puas dengan jawaban tersebut, Cloude mengangguk. Aku juga sama-sama mengangguk, tapi kalau aku mendeskripsikannya, entah kenapa aku merasa terkesan dengan kedua orang ini. Mereka berdua menatapku lekat-lekat, bertanya-tanya kenapa aku mengangguk.
"Haa, Yun-kun sama sekali tidak sadar. Yah, baiklah. Alasan yang kedua adalah karena ini projek gabungan dengan Yun-kun. Ini harus melewati Yun-kun lebih dulu."
"Aku mengerti, kalau begitu, saat waktunya tiba, kami akan membayar Yun dan Pedagang Material untuk resepnya."
Selain itu, kalau kami memikirkan level yang dibutuhkan dan biaya sintesis resep, sepertinya akan ada beragam masalah. Tapi, memikirkan semua itu, nampaknya sulit. Itulah yang dikatakan Emily-san.
Saat percakapan itu diinterupsi sejenak, aku meletakkan teh di konter.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau datang ke Atelier, Cloude?"
Cloude memiliki toko Kafe Umum & Penjual Pakaian yang menjual obat sebagai barang titipan Atelier, tapi tidak perlu sampai datang ke sini. Ini hal yang tidak biasa, jadi aku bertanya.
"Benar, aku datang untuk memberitahukanmu persiapan jamuan minum teh berikutnya dan untuk membeli Obat Kebangkitan."
"Oh, aku mengerti. Benar, yang satu itu tidak dijual sebagai produk titipan."
Obat Kebangkitan yang mana bahan utamanya adalah kelopak bunga yang bisa dikumpulkan dari Bibit Wisteria Peach, sebuah hadiah raid quest, masih beredar dalam jumlah yang sangat sedikit. Juga, dibandingkan dengan Obat Kebangkitan lainnya, punyaku sangatlah efektif. Karena itulah, barang tersebut tidak terlalu didistribusikan agar tidak menghalau perajin lainnya dari pasar. Dengan demikian, Atelier menjualnya secara diam-diam dan dalam jumlah terbatas.
"Jadi, juallah padaku tiga Obat Kebangkitan. Juga, aku datang untuk membeli beberapa Obat MP. Oh iya, ini ada jeli kacang manis yang kami jual untuk dibawa pulang."
Makanan untuk dibawa pulang yang dia tunjukkan adalah jeli kacang manis yang terlihat mengilap. Melihatnya, kupikir aku harus menyajikan teh hijau sebagai ganti teh hitam. Aku akan lebih senang kalau dia menunjukkannya sedikit lebih awal.
"Baiklah. Aku akan menyimpan kue ini di——"Kue! Apa kau bilang 'kue'?!"
Cloude membelalakkan matanya dengan terkejut. Gerakanku dan Emily-san pun membeku. Saat kami melihat ke arah suara tersebut, hanya ada sebuah kepala yang menyembul keluar dari ekor kembar Zakuro. Si Peri Nakal menatap lekat-lekat jeli di tanganku. Sudah ada liur di ujung mulutnya.
Di sisi lain, Cloude menatap si Peri Nakal dengan begitu serius.
"Hm? Apa? Ada apa? Apa aku melakukan sesuatu?"
Tidak dapat memahaminya, si Peri Nakal menelengkan kepalnya dengan bingung. Cloude mengalihkan pandangannya dari si peri padaku.
"…hei, Yun."
"Umm, ada apa?"
"Itu peri, ya 'kan?"
"Ya, benar. Karena kami memulai quest terbatas."
Aku menanggapi Cloude begitu saja, tapi di dalam, keringat dingin tidak berhenti mengalir. Merasakan firasat buruk, aku mundur selangkah. Saat aku melakukannya, Cloude meletakkan tangannya di bahuku, mengunci pergerakkanku.
"Kalau kau membantu orang yang menerima Quest Peri, kau bisa mendapatkan seorang peri! Jadi, berbagilah denganku!"
"Takut! Kau benar-benar menakutkan!"
Ada bayangan di wajah Cloude saat dia melihatku dari jarak dekat. Dia berselimutkan semangat juang yang misterius.
"Aku ingin menemukan satu-satunya peri untukku dan aku akan mendandaninya semauku! Tidak, akan sia-sia kalau hanya mendandani salah satu saja. Aku ingin membuat banyak kostum yang sesuai dengan kepribadian para peri dan membuat mereka memakainya! Demi ambisiku itu shagh——?!"
Terdesak oleh antusiasme Cloude, aku terkejut. Saat air mata hampir muncul di mataku, sesuatu jatuh dari atas dan gerakan Cloude pun terhenti.
Emily-san yang duduk di sebelah kami telah membungkam Cloude dengan memukul kepalanya dengan sarung pedang. Socks yang menaiki bahu Cloude pun juga mendaratkan tapak kakinya ke pipi Cloude.
Saat Cloude menahan serangan sarung pedang di atas kepalanya dan tinju tapak kaki, Emily-san berbicara, terlihat menakutkan.
"Apa yang kau lakukan? Yun-kun akan menuntutmu atas pelecehan seksual."
Tentu saja, kalau terlalu jauh itu akan menjadi pelecehan seksual, tapi diperlakukan seperti wanita membuat suasana hatiku buruk.
"Aku terlalu bersemangat. Maaf, jangan memukulku keras-keras."
Socks melancarkan rentetan tinju kucingnya ke pipi Cloude. Emily-san juga, sekali lagi mengayunkan sarung pedangnya, tapi Cloude merespon dengan "tunggu" dan melindungi kepalanya dengan tangannya.
"Tapi, Yun. Ini adalah quest berbatas waktu. Player yang tidak beruntung menemukan perinya sendirian hanya bisa mengandalkan orang lain untuk berbagi dengan mereka."
"Yah, aku tahu soal itu."
Aku yang lemah ini kali ini maju menuju bagian belakan Dungeon Tambang dalam sebuah party bersama Emily-san, kami berdua. Dan, dengan melanjutkan quest, di satu tahap aku bertemu dengan seorang peri.
"Kali ini saja. Aku akan berusaha menyebarkan para peri ke sekitar, jadi tidak akan ada beban untukmu, Yun."
Memang, sepertinya akan merepotkan jika beberapa party yang menerima quest melakukannya sendiri dan tidak menyebarkannya. Juga, aku sendiri mendapatkan questnya dari Emily-san, jadi setidaknya aku harus membagikannya dengan satu orang lagi sebagai gantinya.
"Haa, aku mengerti. Kalau begitu——"Baiklah, ayo bergegas dan pergi sekarang!"——ehhh?‼"
Cloude melompat keluar dari Atelier sambil menarikku mengikuti dia. Ryui dan Zakuro mengejarku dan sebelum aku menyadarinya, si Peri Nakal mengambil sesuap penuh jeli kacang manis dan memakannya sambil menaiki bahuku.
"Nah, peri! Di mana teman-temanmu!"
"Hmm. Keberadaan monster bisa dirasakan dari arah sana, kurasa"?
"Ayo ke sana kalau begitu!"
Emily-san melihatku pergi saat aku diseret menjauh.
"Aku akan melanjutkan penelitian menggunakan Synthesis. Berjuanglah."
Tidak, Emily-san. Kau juga punya Peri Air yang sudah kembali dan sekarang berada tepat di sebelahmu, jadi bantu aku juga! Aku ingin berteriak tapi diantar pergi tanpa bisa berkata apapun.
·
"Nah, Peri. Di mana musuhnya?"
Terus-menerus mengitari kepalaku, hmm, si Peri Nakal bergumam.
Saat ini, kami meninggalkan Kota Pertama bersama dengan Cloude dan sedang mencari Thorn Token berikutnya di padang rumput.
Kalau dipikir-pikir, aku harus menghadapi dua monster itu dalam satu hari. Setidaknya biarkanlah aku istirahat sebentar.
"Apa yang kau katakan? Untuk quest berbatas waktu, ini adalah hal yang paling dasar untuk melakukannya secepat mungkin selagi kau bisa. Selalu ada kemungkinan darurat di mana kau tidak akan bisa menemukan waktu untuk menyelesaikannya."
Saat Cloude berkata demikian, si Peri Nakal kelihatannya merasakan sesuatu saat dia menunjuk ke arah lokasi tertentu.
"Aku bisa merasakan keberadaan bawahan monster yang kuat dari sana!"
"Ayo kalau begitu."
"Hei, hei."
Tanpa motivasi, aku menggendong Zakuro dan mengelus leher Ryui yang ikut bersamaku saat aku mengikuti Cloude.
"……"
"……"
Saat kami berdua berjalan dalam kesunyian, senandung si Peri Nakal terdengar aneh.
Sementara Cloude cukup bagus dalam bersosialisasi, mungkin ini pertama kalinya kami membuat party hanya dengan kami berdua. Sejak awal, para perajin sangat jarang pergi keluar berpetualang.
"…hei, Cloude."
"Ada apa, Yun?"
Tidak dapat menahan keheningan ini, aku mencoba bertanya tapi tidak ada ide topik pembicaraan, jadi aku mulai memikirkan sebuah topik.
"Um——"Bosaaaan!" "
Si Peri Nakal tiba-tiba berteriak nyaring. Kata-kataku tersela saat dia mulai mengamuk liar di tengah udara.
"Mmgh, ini tidak menarik! Ayo kita buat ini, hyah! Eii!"
Dia menghasilkan sebuah angin kecil dan memancing para monster yang tidak agresif di padang. Herbivorous Beast, Slime dan juga Hobglobin mulai berkumpul satu demi satu.
"Yun, mereka mulai berkumpul."
"Kau terlalu tenang! Hei, tunggu! Peri Nakal! Berhenti menyerang!"
"Ini bukan menyerang! Ini bercanda!"
Aku menjulurkan lenganku untuk menangkapnya, tapi tanganku hanya melewati udara dan si Peri Nakal membusungkan dadanya di tengah udara. Lebih tinggi dari yang yang bisa dicapai tanganku, dia meniupkan angin ke arah semua monster dalam jangkauan.
"Seperti yang dia katakan, ini benar-benar menghibur."
"Ini sama sekali tidak menghibur! Ya ampun."
Para monster yang berkumpul semuanya kecil dan lemah. Hanya jumlah mereka saja yang sangat banyak dan setiap dari mereka bisa dikalahkan dengan sekali serang. Aku menebas mereka dengan pisau dapur di tanganku dan Cloude menghantam mereka dengan tongkatnya.
Ini adalah gaya bertarung yang sama sekali tidak seperti seorang archer ataupun mage, tapi kami memutuskan untuk bertarung secara fisik jarak dekat untuk tidak membuang-buang anak panah dan MP.
"Merepotkan sekali."
"Bukankah ini tidak masalah. Ini adalah pemanasan ringan. Juga, adalah hal yang bagus mengetahui kemampuan Peri Angin."
"Kemampuan?"
"Elemen dasar dari para peri yang menempel pada para player adalah api, air, angin, tanah, cahaya, dan kegelapan, totalnya enam. Dan, untuk kepribadiannya, mereka sepertinya dipersiapkan memiliki pola yang tak terhitung."
"Belum lama waktu berlalu sejak update, tapi sepertinya kau tahu banyak."
Kami terus berbicara sambil bekerja melewati musuh yang ada di hadapan kami.
"Hanya dengan setengah hari, kau bisa mengumpulkan informasi berkaitan dengan quest sampai tingkat tertentu. Juga, meskipun para peri menyediakan sedikit bantuan, elemen dan kepribadian mereka juga cara membantu yang mereka berikan berbeda antara satu peri dengan yang lainnya."
Cloude dan aku melirik si Peri Angin Nakal. Ditatapi begitu, dia menatap balik kami tanpa ekspresi.
"Ada apa? Apa aku melakukan sesuatu?"
"Tidak, bukan apa-apa."
Dia dengan seenaknya mulai menyerang para monster tanpa pandang bulu dan memancing mereka. Dia tidak terlihat sedang membantu menurutku.
Dengan suasana hati yang langsung memburuk, aku menusuk slime di depanku dengan pisau dapur.
Monster-monster yang berkumpul segera disapu bersih dalam hitungan menit. Tidak ada lagi tanda-tanda monster di sekeliling kami.
Si Peri Nakal yang sedang terbang di atas kepalaku akhirnya turun dan naik di puncak kepalaku.
"Ahh, itu menyenangkan! Nah, nah! Ayo pergi!"
"Ya ampun, kau benar-benar penuh semangat. Kali berikutnya, jangan lakukan apapun semaumu."
Aku menasihati si Peri Nakal, tapi melihat dia mengabaikanku, bahuku merosot sedih.
"Ngomong-ngomong, Yun, berapa banyak yang kau tahu tentang Quest Peri?"
"Hm? Secara garis besar, aku tahu ini adalah quest berbatas waktu dan orang yang menemani player yang menerima quest ini juga bisa mendapatkan seorang peri dan melanjutkan quest. Juga, kau harus mengalahkan empat Thorn Token, ya 'kan?"
"Kalau kau mau, aku akan mengatakan padaku semua informasi yang kukumpulkan dari para player yang datang ke tokoku."
Aku menanggapi dengan "tentu" dan mulai mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap informasi yang Cloude miliki mengenai quest ini.
"Coba kita lihat. Pertama, quest ini mengharuskan player mengalahkan anak buah monster——Thorn Token. Juga, pola perilaku Thorn Token tergantung dari monster yang diparasiti mereka."
"Yah. Aku sudah bertarung melawan Arachne Thorn Token, jadi aku cukup mengerti itu."
"Berikutnya. Monster yang dapat menjadi Thorn Token tergantung dari kondisi di mana player harus mengalahkan monster tipe tertentu di masa lampau, atau begitulah yang kami pikirkan."
 "Aku mengerti. Dengan kondisi tersebut, tidak akan ada kasus di mana seseorang akan dikalahkan begitu pertama kali bertemu dengan monster."
Karena pola perilakunya sama, itu seperti penguatan sederhana dalam kasus Arachne atau semacam itu. Akan tetapi, monster yang menjadi dasarnya, sebagai tambahan pola serangannya sendiri, jadi bisa menyerang dengan duri-duri. Juga ada serangan penyerap HP dan manipulasi tubuh menggunakan duri.
"Yah, kira-kira sebanyak itulah yang kudengar. Juga, kalau ada kecocokan yang bagus dengan monster yang diparasiti Thorn Token, sepertinya mereka akan menjadi sangat kuat."
Meksipun informasi penuhnya belum tersedia, tetap saja ini adalah hal yang bagus untuk mengkonfirmasi ulang apa yang sudah kami tahu. Memikirkan itu, aku menyadari bahwa dapat mengumpulkan informasi hanya dalam beberapa hari, dan kemudian membaginya denganku, kemampuan Taku dan Myu saat menyangkut hal itu termasuk abnormal.
"Juga——oh iya. Ini tidak berhubungan dengan Quest Peri, tapi ada informasi mengenai monster pengembara sebagai tambahan update."
"Oh, semacam monster baru?"
"Ada itu juga. Di antara Big Boar dan Forest Bear, ada kemungkinan besar bahwa kau akan bertemu versi young beast dari mereka."
Cloude mengoperasikan menunya dan menampilkan sebuah screenshot.
Pada screenshot itu terdapa seekor anak babi liar dengan ciri khas garis belang-belang. Ada juga screenshot saat makhluk itu tidur dan memeluk orang. Untuk young beast Forest Bear, ada sebuah screenshot di mana salah satu makhluk itu sedang menempel pada punggung orang tuanya.
"Woaa, apa ini! Itu super imut! Aku ingin menyentuh mereka!"
Begitu aku berkata demikian, Ryui mulai menyundulku lembut. Tentu saja, aku sayang Ryui dan Zakuro juga.
"Meskipun ada orang-orang yang bisa menjinakkan young beast saat event, player lainnya tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan young beast, karena itulah kami yakin inilah alasannya tambahan update ini. Meskipun mereka tidak akan menjadi kekuatan tempur, ini pasti sangat sering diminta."
Sambil berkata demikian, dia mendekatkan gambar itu. Ahh, aku bersuara penuh penyesalan.
"Juga, ada informasi bos unik tipe-pengembara, tapi——kalau kau bertemu dengannya, kau pasti mati."
"Ma-mati?!"
Dia berbicara tanpa ragu-ragu, aku berakhir menanggapinya dengan suara aneh.
"Namanya adalah Grim Reaper. Monster tipe humanoid bersenjatakan sabit. Party garis depan tertentu telah bertemu dengannya dan disapu bersih."
"Grim Reaper itu, maksudmu seperti, Kematian? Ayolah, apa-apaan dengan boss pembawa malapetaka begitu."
"Itu memang terlihat seperti Kematian itu sendiri. Kalau kau bertemu dengannya, larilah selamatkan dirimu."
"Um…apa ada apapun seperti, pertanda buruk?"
"Ada. Itu seperti kabut ungu yang menyelimuti sekeliling dan udara dingin mulai menyebar ke sekitar."
"Kabut ungu dan udara dingin——hyaa?‼"
Saat aku bergumam tanpa sadar, sebuah hembusan angin dingin bertiup di kakiku. Merasakan sesuatu di leherku, aku segera berbalik.
Aku memberanikan diri dan menyentuh leherku untuk memastikan, tapi tidak ada apa-apa di sana. Apa itu hanya imajinasiku? Pikikur, dan kemudian sebuah tawa muncul dari atas kepalaku.
"AHAHAHA, lucu sekali! Begitu kaget hanya karena angin."
"…jan-jantungku."
Meskipun si peri tertawa, aku bahkan tidak punya kekuatan untuk marah padanya dan hanya bisa jatuh terduduk di tempat.
"Kau tidak apa-apa, Yun?"
"Aku bermasalah dengan cerita-cerita hantu dan semacamnya, jadi aku hanya merasa lega. Aku tidak apa-apa."
"Yah, meskipun itu Grim Reaper, bukannya seperti hantu yang mengerikan, makhluk itu malah didesain keren jadi tidak membuat orang ketakutan. Yang ada, desainnya membuatmu merasa kagum begitu dia menjatuhkanmu."
"Tetap saja, itu berkesan menyeramkan."
Desain luar biasa yang bisa membuatmu mengaguminya begitu dia membunuhku. Aku penasaran seperti apa itu.
"Ya ampun, setidakknya jangan menjahiliku seperti hantu begitu."
"Mgrrr, baiklah."
Meskipun si Peri Nakal kelihatan tidak puas, saat aku memintanya secara baik-baik, dia menyetujuinya. Jadi, kalau aku memintanya secara baik-baik, akan ada efeknya?
Sementara itu, kami telah mencapai tempat di mana Thorn Token kedua berada.
"Hei, bukankah ini Rawa-Rawa?"
Tempat di hadapan kami yang ditunjukkan oleh si Peri Nakal, adalah Rawa-Rawa yang membentang di sebelah selatan Kota Pertama. Area ini memiliki banyak musuh yang menyerang secara mendadak.
"Yup yup, sedikit lagi di dalam!"
"Mau bagaimana lagi. Aku akan berjalan di depan untuk memastikan keamanan kita."
Untuk saat ini, aku menurunkan Zakuro yang sedang kugendong dan menggenggam busurku.
Aku menghindari Treant dan Moor Frog yang bersembunyi di Rawa-Rawa. Dari waktu ke waktu kami juga masuk dalam pertarungan saat kami berjalan menuju lokasi tertentu.
Setelah melangkah maju menuju arah yang ditunjukkan Peri Nakal, mencoba menghindari monster musuh dan tempat-tempat dengan pijakan yang buruk, di suatu lokasi terdapat sebuah instruksi untuk berhenti.
"Dia datang! Jadi, berjuanglah."
Segera setelah berkata begitu, sebuah duri tebal menghujam tanah Rawa-Rawa dan memanjang. Dia mencoba untuk mengikis seekor Moor Frog yang sedang bersembunyi di balik dedaunan tumbuhan yang mengapung di atas Rawa-Rawa.
Tubuh Moor Frog itu membesar sampai seukuran tubuh manusia dalam waktu singkat dan mawar-mawar bermekaran di kedua matanya seperti yang terjadi pada Arachne. Menggunakan lidah panjangnya dan kemampuan melompat yang melekat padanya, makhluk itu mengarahkan serangannya pada kami.
"Hmm. Untuk saat ini, ayo mundur untuk melihatnya dengan lebih baik!"
"Setuju untuk mengambil langkah aman."
Menerima usulan Cloude, aku mengambil jarak dari Thorn Token secepat mungkin. Dan, begitu kami menjauh sedikit——
"Dia tidak mengejar kita. Atau tepatnya…."
"Dia tidak bisa. Duri-durinya menghalangi."
Thorn Token adalah seekor monster hasil dari duri-duri yang memanjang dari dalam tanah dan memparasiti seekor monster di permukaan tanah. Dan, karena pangkal dari duri itu hanya ada di satu tempat, jangkauan pergerakan monster pun sepertinya terbatas.
Katak besar yang diparisiti itu mencoba untuk melompat dan melumatkan kami di bawahnya, menyerang kami dengan memanjangkan lidahnya dan menggunakan sihir air untuk menembakkan Peluru Air pada kami, tapi tak satu pun serangannya yang sampai.
"Mungkinkah ini, sebuah kesempatan?"
"Aku suka pola itu."
Baik Cloude dan aku berekspresi seakan kami sedang merencanakan sesuatu yang jahat.
Saat Arachne Thorn Token, itu mustahil karena kami berada di tempat tertutup di dalam tambang, tapi sekarang itu mungkin.
Cloude secara sepihak menyerang katak itu dengan sihir kegelapan.
"Hahahahaha, sekarang, menarilah! Menarilah untukku! —— Shadow Bolt!"
Tertawa nyaring, Cloude menembakkan sebuah panah kegelapan yang memiliki daya tembus yang tinggi. Sementara menyaksikannya, aku memantapkan bidikanku dengan Sky Eyes dan mengangkat busurku tinggi-tinggi.
"Enchant ——Attack. Sekarang, pergi!"
Panah itu ditembakkan ke langit, membentuk sebuah lengkungan dan menembus punggung si katak. Itu disebut sebagai tembakan simpangan sudut tinggi. Meskipun mustahil untuk digunakan di tempat tertutup, adalah hal yang mungkin untuk menembakkan satu panah setelah yang lainnya membentuk lintasan tiga dimensi.
"Memalukan. Bahkan katak mainan bisa lebih menghiburku!"
"Ahh, ngomong-ngomong, aku tadinya bertanya-tanya ini mirip dengan apa, jadi itu ternyata."
Apa yang Cloude maksudkan adalah mainan karet yang menggunakan sebuah pompa untuk membuatnya terpental ke udara. Udaranya dipompakan ke bagian dalamnya dari bawah dan kaki-kaki katak itu akan memanjang, membuat mainan itu melompat. Karena serangannya tidak mencapai kami, penampilan katak ini yang sedang mengamuk sangatlah mirip dengan mainan tersebut.
"Cih, hanya daya tahannya saja yang tinggi. Aku kehabisan lelucon dan tenaga untuk tertawa."
"Tidak, sebaiknya kau mulai menggerakkan tanganmu sebelum melucu."
Tubuh katak itu besar dan mudah untuk dijadikan target tapi dia tidak mau tumbang.
Ini berbeda dari menyerang dengan pisau mengingat aku bisa menyerangnya semauku, tapi hal berbeda lainnya adalah sensasi antar serangan dengan panah dan bagaimana pisau dapur menusuk bagian mawar di dada Arachne.
"Apakah kekuatan pertahannya meningkat?"
"Bukankah itu berbeda antara setiap monster yang diparasiti?"
"Hmm. Begitukah?"
Merasa sedikit kurang nyaman, aku menembakkan sebatang panah.
Dan, panah bayangan Cloude serta seranganku sendiri menancap pada mawar yang mekar di mata Moor Frog. Itu adalah serangan penentu yang mengakhiri pertempurang dengan Thorn Token kedua.
Sekali lagi duri-duri itu mencampakkan monster yang diparasitinya dan masuk ke dalam tanah. Sementara menyaksikan duri-duri itu melarikan diri, kami dengan hati-hati mendekati bangkai Moor Frog yang telah dikalahkan itu.
"Ada apa? Kenapa kau begitu gugup?"
"Tidak, um——itu "Jangan katakan padanya!"——?‼"
Tiba-tiba, si Peri Nakal muncul dan menutup mulutku. Saat aku bertanya-tanya ke mana saja dia sampai sekarang, dia menutup mulutku menggunakan seluruh tubuhnya dan kemudian berbisik di telingaku.
("Kalau seperti ini, saat temanku yang basah oleh lendir melompat keluar, itu akan jadi menarik.")
"Ada apa, Yun? Kau ingin mengatakan sesuatu?"
"Ti-tidak, bukan apa-apa."
Aku memutuskan untuk tetap diam. Setelah berlumuran lendir misterius, aku tidak akan menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Setidaknya, aku akan menyeret Cloude bersamaku. Saat pemikiran gelap itu melintas di benakku, Cloude mengambil apa yang muncul keluar dari bangkai Moor Frog.
Segera setelah itu, tubuh monster tersebut menghilang menjadi partikel-partikel cahaya dan Cloude mengangkat sebutir telur licin berwarna hitam pekat.
"Apa? Ini bukan peri?"
Itu adalah sebentuk bola yang lembap, tapi sudah jelas itu adalah sebutir telur dengan lendir yang menetes-netes.
"Heeei, berapa lama lagi kau berniat untuk tidur? Banguun!"
Di sebelahku, si Peri Nakal memanggil-manggil ke arah telur tersebut. Seakan meresponnya, cangkang hitam pekat itu berubah menjadi berpendar-pendar dan kemudian, melayang di atas permukaan telapak tangan Cloude, menggosok-gosok matanya dengan mengantuk, adalah seorang peri berwarna gelap.
"Apa kau menyelamatkanku? Aku adalah Peri Kegelapan."
Setelah berkata demikian, peri itu memaksa masuk ke dalam saku Cloude.
"Dia tidak…ditutupi…lendir?"
"Ahahaha, gagal!"
Peri di sebelabku tertawa terbahak-bahak, kemudian aku menyadari sesuatu.
"Hei, apakah kau bisa berubah menjadi telur juga?"
"Aku bisa. Kau tahu, itu adalah dinding perlindungan untuk pelarian darurat peri~"
"Kalau begitu, kenapa kau basah kuyup dengan lendir saat aku bertemu denganmu?"
"Apa?! Yun, aku ingin mendengar lebih jauh tentang basah kuyup dengan lendir itu!"
"Jangan mendekat kemari! Dan jangan tanya! Jangan ingatkan aku!"
"Yaayy! Lariiiii!"
Saat Cloude melangkah maju selangkah, aku mundur selangkah.
Duuh, kenapa jadi seperti ini?
Aku secara blak-blakan mengubah topik pembicaraan ke Peri Kegelapan yang berada di saku Cloude.
"Ngo-ngomong, Peri Nakalku dapat membaca aliran angin dan memimpin kita ke pintu keluar gua. Apa yang menjadi spesialisasi peri itu?"
"Hmm, jadi Peri Angin punya kekuatan semacam itu."
Aku merasa lega karena dapat mengalihkan topik pembicaraan tentang lendir. Si Peri Nakal yang dibicarakan sebelumnya membusungkan dadanya dengan bangga dan menjawab.
"Itu benar! Aku adalah Peri Angin Nakal! Memanfaatkan angin adalah kelebihanku! Terutama saat berhubungan dengan menghalangi orang lain, aku lebih baik dari yang lainnya!"
Hmph, sementara dia mendengus bangga, di sisi lain si Peri Kegelapan yang tidak termotivasi menunjukkan wajahnya keluar dari saku dan bergumam menanggapi dengan terkantuk-kantuk.
"Yah, aku adalah Peri Kegelapan. Aku lebih suka ketenangan daripada kebisingan——seperti ini."
Eii, bersuara tanpa intonasi sedikit pun, dia menudingkan ujung jarinya pada si Peri Nakal. Si peri berisik yang terus mengulang-ulang "puji aku puji aku" itu pun segera terdiam dan mulai berayun-ayun di udara, kelihatannya akan jatuh.
Aku menangkapnya dengan tanganku yang terjulur terburu-buru. Si Peri Nakal tertidur nyenyak dengan ekspresi wajah berantakan.
"Mengakibatkan status buruk. Secara khusus, aku pintar menggunakan sihir tidur. Juga, aku mengantuk."
Setelah berkata demikian, dia menyelam lebih dalam ke saku Cloude.
"Yah, sepertinya mereka berdua tertidur, kita mengalahkan Thorn Token juga. Ayo kembali."
"Kau benar. Tapi tak disangka peri yang dibutuhkan untuk menemukan target lainnya malah tertidur."
Fuuh, Cloude menghela napas berat. Jadi dia ingin meneruskan pertarungan. Aku menatapinya sambil berpikir demikian. Hari ini saja, aku sudah bertarung dengan Arachne dan Moor Frog Thorn Token. Aku ingin beristirahat sedikit, pikirku.
Dan——
"Sambil beristirahat, aku ingin mendengar lebih banyak tentang lendir itu! Nah, ayo luangkan waktu untuk mengobrol di Café sambil makan kue dan minum teh."
*puk*, saat aku berbalik setelah Cloude menaruh tangannya di bahuku, meskipun dia tersenyum lebar, tatapan matanya mengatakan "aku tidak akan membiarkanmu melarikan diri".
Tidak ada jalan untuk meloloskan diri dari raja iblis.


Only Sense Online Jilid 6 Bab 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.