21 Agustus 2018

Kamigoroshi no Eiyuu to Nanatsu no Seiyaku Bab 24 LN Bahasa Indonesia



JALAN MENUJU KE KERAJAAN (1)
(Translater : Theten; Editor : Gian)

Matahari telah terbenam, dan aku berjalan melewati koridor yang gelap. Seluruh tubuhku terasa menyakitkan karena pekerjaan yang melelahkan yang aku lalui sepanjang hari.
Udara dingin menerpa kulitku dan membuatku merinding. Itu adalah koridor batu tapi karpet kelas pertama diletakkan di atasnya sehingga langkah kakiku tidak terdengar keras. Sambil mengerang karena nyeri otot, langkah kaki ku tidak beraturan.
Rak-rak dihiasi dengan ornamen mahal, bunga-bunga cantik, baju besi ksatria yang terbuat dari perak, dan cahaya kecil energi sihir. Semua ini muncul dalam pandangan ku di kegelapan malam.
Tapi semua itu terasa agak menakutkan yang membuat ku berjalan sedikit lebih cepat. Langkah kaki ku yang awalnya tenang menjadi lebih keras .
Tujuanku adalah sebuah kapel di ujung koridor ini. Aku tidak benar-benar memiliki sesuatu yang spesifik untuk dilakukan. ini hanyalah bagian dari rutinitasku.
Di dalam kapel itu terdapat patung Dewi. Patung itu tidaklah  nyata juga tidak memiliki aura Dewi atau apa pun. Terbuat dari perak, itu benar-benar tidak lebih dari sebuah patung.
Berapa lama aku berjalan di koridor gelap itu? Tapi sekarang akhirnya, aku melihat pintu raksasa ada di depanku. Aku mengeluarkan semua tenaga ku untuk mendorongnya terbuka. Karena pintu itu lebih berat daripada yang aku pikirkan, ketika aku memasuki kapel, aku sedikit kehabisan nafas.
Dan akhirnya aku ada di dalam. Di depanku ada kaca patri megah yang menghiasi jendela dan langit-langit. Cahaya samar energi sihir bersinar biru, merah, emas, hijau, ungu ... ..dalam berbagai warna meskipun sudah malam. Itu tampak sangat indah sehingga patung perak Dewi yang ditempatkan di bagian paling dalam dari kapel itu terlihat benar-benar terasa suci.
Patung Dewi Astrarea.
Salah satu dari tiga dewa yang menciptakan dunia ini. Penguasa cahaya dan yang menciptakan manusia.
Di kuil-kuil normal, orang-orang akan berpikir bahwa semakin besar patung, semakin baik patung itu, tetapi yang ada di sini adalah seukuran manusia normal. Mungkin itu sebabnya itu yang menjadikannya indah, menjadikannya terasa suci.
Aku mencoba menutup pintu dengan tenang tapi pintu kayu itu membuat suara kering yang bergema di dalam kapel.
Ini bukan seperti tidak diperbolehkan berada di sini pada saat larut malam tetapi kapel yang kosong membuat ku merasa seolah-olah aku telah melakukan sesuatu yang buruk.
Dan seperti itulah, seolah ditarik, aku berjalan menuju patung dewi.
Meskipun aku berjalan di atas karpet, langkah kaki ku tetap terdengar. Apakah ini hanyalah sekedar udara yang dingin atau patung perak itulah yang mengeluarkan rasa dingin yang kurasakan? Aku tidak tahu tetapi rasa dingin yang ku rasakan membuat ku ingin menghentikan langkah ku.
Tapi aku tidak.
Aku juga merasa seolah-olah diriku sedang ditarik. meskipun sedikit.
Saat aku berjalan menuju dewi perak, aku mengulurkan tanganku - tetapi berhenti tepat sebelum menyentuh patung itu.
Meskipun aku tidak menyentuhnya, aku bisa merasakan panas dari ujung jari ku menghilang karena dinginnya patung. Seakan dibekukan, aku menjadi tidak bisa menggerakkan jari ku.
Meskipun itu seharusnya tidak mungkin. Memberikan senyum masam, aku melepaskan jari ku dari patung itu. Malam yang sunyi begitu dingin sehingga aku bahkan bisa mendengar dengungan di telingaku. aku sendirian di tempat ini. Aku tiba-tiba menjadi takut ketika menyadari itu dan berbalik lalu berjalan menjauh dari patung itu.
Tapi, tepat sebelum itu, aku merasa mendengar seseorang memanggil namaku. Apakah itu hantu? Aku mencoba mencarinya. Lagipula, itu akan sangat konyol jika hantu muncul di dalam kapel. Memikirkan itu, aku menghela nafas. Tiba-tiba, aku merasa bahwa mata ku terhubung dengan patung Dewi.
Apa yang kupikirkan saat itu ........ aku mengingatnya dengan jelas bahkan sekarang.
--Aku ingin pulang ke rumah.
.
.
.
Ketika bangun, aku mendesah lega melihat langit-langit kamar ku yang sudah usang.
Nostalgia  Aku bahkan tidak bisa menyebutnya seperti itu tapi tetap saja itu bukanlah mimpi yang bagus.
Itu tentang kapan kita dipanggil di dunia ini. Entah bagaimana aku menyadari keanehan dari Cheat milikku dan pemahaman bahwa aku tidak akan berguna. Itu adalah mimpi ketika aku benar-benar putus asa.
Mempelajari seni tempur dari ksatria, membaca buku sampai larut malam dan kemudian berdoa kepada patung dewi setelah mulai lelah.
Bahwa aku ingin pulang ke rumah.
[Apa yang terjadi?]
"Tidak ada. Hanya mengalami mimpi buruk. "
[Aku mengerti.]
Dia tidak bertanya apa-apa lagi. Dari atmosfir ku, dia pasti telah menyadari mimpi seperti apa yang ku alami. Sungguh, aku punya rekan yang hebat.
Mengambil Ermenhilde dari bawah bantalku, aku menggosok tepiannya dengan jariku.
"Bisakah aku tidur sepanjang hari hari ini?"
[Kerja. Seperti kereta kuda.]
kamu benar-benar teman yang kejam.
Tertawa, aku bangkit dari tempat tidur. Sekarang, mari bekerja keras hari ini juga.
.
.
.
.
Ketika aku pergi ke guild, sebuah tindakan yang tidak suka kulakukan.
Seperti biasa, tatapan penasaran dari para petualang itu merepotkan.
Permintaan yang diajukan oleh Souichi dan yang lainnya untuk membawa iblis ke ibukota tidak akan dimulai setelah seminggu. Berpikir bahwa aku harus melalui ini setiap hari sampai saat itu, aku hanya bisa menghela nafas.
Dari sudut pandang Ermenhilde, itu adalah hal yang bagus bahwa aku adalah pusat perhatian, tetapi sungguh, aku tidak menginginkan ini.
Tapi tatapan itu sedikit berkurang hari ini. kamu akan berpikir bahwa mereka akhirnya menjadi bosan pada ku tetapi pada hari ini mereka sepertinya lebih penasaran tentang klien dari permintaan yang sangat aneh dan langka.
Di konter ada seorang gadis berkulit putih.
Rambut panjangnya dibentuk dalam kuncir kuda, dan seluruh tubuhnya ditutupi mantel putih.
Perawakannya yang mungil menunjukkan bahwa dia benar-benar seorang gadis, tingginya sedikit lebih tinggi dari perutku. Dari belakang aku tidak bisa melihat ekspresinya tetapi aku bisa tahu kalau penampilannya pasti bagus mengingat banyaknya tatapan yang tertuju padanya.
Petualang atau tepatnya, laki-laki adalah makhluk seperti itu. Bahkan aku selalu lebih suka gadis yang manis.
Dan yang terpenting, alasan terbesar untuk semua tatapan ada di kepalanya. Telinga binatang seperti anjing dan ekor berbulu yang bisa dilihat dari ujung mantel. dilihat ekornya, dia bukan Beaswomant tipe anjing tetapi tipe serigala.
Beastman tidak benar-benar langka. kamu akan menemukannya beberapa kali di dalam kota. Aku tidak tahu mengapa gadis ini menarik begitu banyak perhatian, tetapi, aku tidak peduli dengan itu. Aku pergi dan mengambil memo dari salah satu daftar permintaan pengumpulan ramuan.
Pada saat itu, aku tidak lupa untuk mencuri pandangannya juga. Pada saat itu, gadis itu juga menatapku. bahkan aku sedikit terkejut.

"Butuh sesuatu?" (Gadis)
"Tidak, aku hanya merasa jarang sekali melihat seorang wanita yang memiliki kulit putih bersih, itu saja."
"Jadi begitu. Kamu adalah manusia yang sangat jujur.
Dia gadis yang acuh tak acuh. Itu kesan pertamaku.
Mengingat dia merasakan tatapanku, dia pasti memiliki indera yang tajam. Ini tidak jarang pada Beastmen, jadi itu tidak terlalu mengejutkan.
Aku menoleh ke arah wanita resepsionis dan  melihat dia berekspresi seperti memiliki masalah. Senyumnya yang biasa juga terasa sedikit kaku.
"Apa terjadi sesuatu?" (Renji)
"Yah ... dia datang dengan permintaan tapi detailnya .."
Apakah ada masalah dengan detailnya?
Karena penasaran, aku sekali lagi melihat kearahnya.
"Permintaan apa yang kamu punya?"
"Untuk membawaku ke ibukota kerajaan." (Gadis)
Mendengar itu, aku melihat ke arah resepsionis lagi di mana dia melihat ke sampingnya.
Yah kurasa mau bagaimana lagi.  Aku juga setuju secara mental.
"Ini akan menjadi sangat sulit. Tidak peduli seberapa terburu-burunya kamu, setidaknya akan butuh tujuh hari untuk sampai kesana."
Dan itu juga dengan membuat kuda berlari seolah-olah hidupnya tergantung pada itu. Bahkan kemudian, itu sangat tidak mungkin untuk berjalan selama berhari-hari tanpa istirahat, sehingga setidaknya akan memakan waktu sepuluh hari.
Ketika aku mengatakan itu padanya, resepsionis juga mengangguk setuju.
Tapi gadis berkulit putih di depanku membuat ekspresi bermasalah.
"Tidak bisakah kita sampai lebih cepat?"
"Tidak mungkin. Itu hanya akan terjadi jika ada metode yang lebih baik untuk melakukan perjalanan dengan menggunakan selain kuda, tetapi ...... tidak ada yang seperti itu. "(Renji)
Aku ingat naga yang digunakan oleh gadis [Penjinak Monster]. Sayangnya aku bahkan tidak tahu di mana dia sekarang.
Jika menggunakan naga itu, kita bisa mencapai ibukota dalam dua hari. bahkan lebih awal. Tapi tidak ada gunanya mengatakan itu pada gadis ini.
"Fumu. Aku mengerti."
[Sepertinya dia memiliki berberapa alasan khusus.]
Jika tidak ada, dia tidak akan datang ke guild untuk mengajukan permintaan.
Juga, jangan terdengar senang ketika seseorang dalam masalah. Dan, lagipula aku benci masalah. Aku benar-benar ingin partnerku mengerti itu.
"Apakah kamu dalam masalah?" (Renji)
"Ya, begitulah." (gadis)
Menopang dagunya yang indah dengan jari-jarinya, dia berpikir keras. Dia harus merencanakan apa yang harus dilakukan selanjutnya dari sini kurasa.
Pandangan resepsionis terfokus pada ku. Ekspresinya memohon padaku untuk melakukan sesuatu tentang gadis ini.
"Apakah kamu lapar?" (Renji)
"Hm? Benar, aku hanya makan daging kering selama beberapa hari terakhir tapi ...."(gadis)
"Lalu kita makan dulu. Ketika kamu lapar, otakmu juga tidak akan berfungsi dengan baik kan?"
"…muu. Tapi kamu tahu, aku benar-benar sedang terburu-buru."
Mengatakan itu dia tampak sedikit kesal.
Itu pasti permintaan penting karena dia ingin tetap di konter sekarang. Pada saat yang sama, dia juga tampak kesal karena kelaparan juga.
Aku ragu itu akan berbeda jika kamu berpikir setelah makan, kau tahu? Kamu tidak akan mendapat jawaban hanya dengan tinggal di sini. "
"Lalu, akankah aku mendapatkan satu jika aku mengisi perut ku?"
"Yah, siapa tahu. Tapi, setidaknya otakmu akan bekerja lebih baik daripada saat kamu lapar."
Gadis itu menunduk sambil berpikir.
Aku merasa tatapan resepsionis seolah mendesakku untuk berusaha lebih keras.
"Aku mengerti. Aku pikir kamu ada benarnya. (Perempuan)
Bagus kalau kamu mengerti. Lalu, ada restoran terdekat di mana
"Tapi, aku bangkrut."
Aku akan memperkenalkan dia ke tempat murah tapi makanannya enak dan menyelesaikannya tapi kata-kata itu langsung menghentikanku.
Ketika aku melihat ke arah resepsionis, dia juga melihat ku dengan terkejut. Sepertinya dia belum membicarakan tentang hadiah untuk permintaan itu.
"Apa yang akan kamu lakukan tentang hadiah untuk permintaanmu?" (Renji)
"Aku akan membayar dengan tubuhku."
Apakah kamu bahkan mengerti apa yang baru saja kamu katakan?
Di dalam pandanganku, resepsionis itu dengan marah menggelengkan kepala ke samping. Yah, guild tidak akan ambil bagian dalam layanan seperti itu.
Aku menghela nafas sambil memikirkan itu.
"Itu jelas tidak akan bisa." (Renji)
"Kenapa? Aku mungkin tidak terlihat seperti itu tetapi aku unggul dalam berburu. Aku percaya tidak kalah dengan monster apa pun."
"Oh, maksudmu 'tubuh' dalam arti itu!"
Sekali lagi, kali ini bersama resepsionis, aku menghela nafas.
[Kukuku, sungguh wanita yang menarik.]
"Oi, kamu mimidoshima! "(T / N: mimidoshima adalah kata yang digunakan untuk wanita yang memiliki banyak pengetahuan dangkal tentang seks. Aku tidak bisa memikirkan kata bahasa Inggris yang cocok untuk itu. Punya ide? Tinggalkan di komentar.) "
[Aku tidak tahu apa artinya itu tapi aku merasa seperti kamu mengolokku, Renji.]
Dan resepsionis yang tidak bisa mendengar Ermenhilde tersipu mungkin karena dia pikir aku mengatakan itu padanya.
Bukankah seharusnya kamu marah atau menyangkal itu secara normal? Untuk memerah seperti itu berarti dia pasti tidak terlalu berpengalaman. Sungguh begitu polos.
"Untuk saat ini mari kita pergi makan. aku lelah."
"Tapi, aku tidak punya uang."
"Aku akan mentraktirmu satu kali makan setidaknya. Aku lelah, ingin beristirahat.
[Bagaimana dengan pekerjaan?]
Nanti.
Dalam situasi ini, aku tidak bisa benar-benar meninggalkan gadis bekulit putih ini.
"Apakah tidak apa-apa?" (Gadis)
"Ya. Kita bisa memikirkan solusi bersama sambil makan. Kita mungkin bisa mendapatkan ide yang bagus.
"Umu. Kamu sepertinya orang baik."
Karena diberitahu itu, aku tidak merasakan niat buruk darinya.
Ini akan sedikit menyakitiku di bagian keuangan, tetapi, membantu orang-orang seperti ini mungkin baik sesekali. Meskipun aku bertanya-tanya apakah itu benar-benar bisa disebut membantunya.
"Ini adalah hobi ku untuk melakukan satu perbuatan baik setiap hari." (Renji)
"Itu hal yang sangat bagus." (Gadis)
[Ini pertama kalinya aku mendengar ini.]
Karena ini pertama kalinya aku mengatakan itu. Jika benar ada orang yang melakukan perbuatan baik setiap hari, orang itu akan disebut orang suci.
"Ada apa?"
Ketika aku berbicara tentang itu, sebuah suara datang dari belakang.
Berbalik, aku melihat seorang gadis dengan ekspresi yang agak linglung dan seorang lelaki tampan yang berdiri di sana. Itu Nona Francesca dan Faylona (elf). Saya tidak memperhatikan mereka sejak aku terfokus dengan pembicaraan ku.
Mungkin karena mereka memiliki kompatibilitas yang baik, mereka tampaknya sering berkelompok bersama. Sebagai sebuah kelompok seorang pria tampan dan cantik, mereka juga menarik perhatian.
"Dia tampaknya sedang berada dalam masalah." (Renji)
Aku menunjuk gadis kulit putih itu dengan tatapanku.
"Ya, aku sangat bermasalah sekarang." (Gadis)
"...... Apakah itu sesuatu yang dikatakan seolah-olah menyombongkan diri ?"
Faylona mengatakan itu dengan suara yang agak takjub.
"Aku tidak menyombongkan diri."
[Bagiku, dia hanya terlihat kurang ajar.]
Yah, lagipula itu pasti bukan sesuatu yang dikatakan seseorang sambil membusungkan dada mereka. aku setuju dengan Ermenhilde.
"Ngomong-ngomong, aku lapar." (Gadis)
"Aku mengerti, aku mengerti. Setelah berbicara tentang makanan, sekarang kamu fokus pada itu?"(Renji)
"Sekarang aku tidak makan makanan selain daging kering dan rerumptuan untuk waktu yang lama."
"Bukankah itu luar biasa. Kedengarannya bagus untuk tubuh."
Ketika aku mengatakan itu, dia membusungkan dadanya dengan bangga karena suatu alasan. Aku tidak memujimu.
"Mengapa kalian berdua juga tidak bergabung dengan kami? meskipun Ini sedikit lebih awal untuk makan siang."
"Yah, tentu saja. Karena kamu sudah mengundang kami, aku ingin ikut." (Fran)
Mengatakan itu, Nona Francesca memandang Faylona.
"Kami juga belum mengambil permintaan. Lakukan sesuai keinginanmu." (Elf)
"Tidak, aku memintamu untuk datang juga." (Renji)
"..aku mengerti."
Entah bagaimana, pria ini bodoh di tempat tertentu.
Ketika aku menatapnya dengan tatapan takjub, dia menunjukkan ekspresi kecewa.
"Yah, baiklah. Kalau begitu, ayo pergi ke restoran terdekat." (Renji)
"Umu. Aku serahkan itu padamu." (Gadis kulit putih)
[Apakah itu sikap seseorang yang sedang ditraktir makanan?]
Aku setuju dengan kata-kata Ermenhilde.
Yah, kepribadiannya tidak terlalu merepotkan. Setelah kami menemukan solusi atas permintaannya, kami akan tetap berpisah.
Lagipula aku benci masalah.
Mengatakan itu di dalam kepalaku sekali lagi, kami meninggalkan guild. Tujuan kami adalah dua blok jauhnya dari guild.
Karena pelanggan utamanya adalah petualang, menunya kebanyakan memiliki hidangan yang dipenuhi energi dan banyak alkohol.
Dan ada banyak yang minum meski tengah hari. Mungkin karena Miss Francesca tidak terbiasa dengan tempat-tempat seperti itu, dia sepertinya melihat sekeliling dengan penuh rasa ingin tahu yang tampak lucu.
[Jangan mulai minum, oke?]
Aku tidak punya hobi minum di siang hari. Sambil mendengarkan Ermenhilde, aku duduk secara acak.
Di sekeliling meja bundar, gadis kulit putih itu duduk di sebelah kiriku, Miss Francesca di sebelah kananku, dan Faylona ke depanku.
Menyerahkan menu ke gadis kulit putih, aku menghela nafas. Bagaimana akhirnya seperti ini. Mungkin sudah terlambat untuk ini, tapi aku mendesah karena pengeluaran tak terduga.
Tepat ketika dompetku akhirnya menjadi sedikit lebih tebal. Itu membuat ku menyadari bahwa aku benar-benar terlalu lemah dengan keuanganku.
"Aku akan membayar bagianku." (Elf)
"Tentu saja. aku tidak berniat untuk mentraktir seorang pria."(Renji)
"Sangat kasar."
"Seperti aku peduli saja."
[Kamu terlalu lembut dengan wanita.]
Bisakah kamu berhenti bicara seperti aku pria yang longgar dengan wanita?
Aku masih memutuskan apakah akan mentraktir atau tidak tergantung pada orang tersebut.
"Sekarang,"
Aku melihat ke arah gadis kulit putih yang fokus pada menu. Menyadari tatapan ku, dia melihat ke arah ku.
"Ada apa? aku belum memutuskan apa yang harus dipesan. "(Gadis)
"Setidaknya beri tahu kami namamu. Namaku Renji. "
"Dari sana? Aku Francesca Barton. "
"Faylona."
"…Mu. Untuk tidak menyebutkan nama kepada orang yang memperlakukanku dengan baik, aku telah bersikap kasar. Namaku Mururu. "
"Aku mengerti."
[........ Sepertinya kamu diperlakukan hanya sebagai dompet Renji.]
Ya, aku benar-benar diperlakukan hanya sebagai dompet di sini.
Benar-benar, ada apa dengan gadis ini. aku tidak dapat memutuskan bagaimana berinteraksi dengan gadis seperti ini.
Apakah tidak apa-apa untuk menjadi sedikit marah atau haruskah aku membiarkannya ? Miss Francesca juga memberi ku pandangan yang bermasalah dan Faylona memiliki wajah masam seperti biasa.
"Baiklah, aku sudah memutuskan." (Mururu)
"Dia benar-benar bekerja dengan kecepatannya sendiri ..."
Sambil menghela nafas, aku menyuruhnya memanggil pelayan. Tapi tetap saja, semua hidangannya berupa daging, itu juga, ada dua hidangan. Bisakah dia memakan keduanya? Terus terang, tubuhnya kecil. Jika dibandingkan dengan Miss Francesca, kekerdilannya lebih ditekankan.
"Akulah yang membayar, jangan sampai kamu menyisakan makanan, oke?" (Renji)
"Tidak masalah. Aku benar-benar bisa makan dua kali lipat jumlah itu."
Seorang yang rakus dengan tubuh sekecil itu ?!
"Lagipula siapa yang akan memesan dua piring ketika ditraktir oleh yang lain ?"
"Aku benar-benar minta maaf untuk itu. Sungguh, tapi aku ... terus terang, ketika aku memikirkan hidangan selain daging kering, aku tidak bisa menahan diri. Sangat menyesal, Renji. "
"........ lagipula daging kering bukanlah sebuah hidangan .."
[Yang benar saja.]
Aku juga mengangguk.
"Yah, jangan pikirkan itu. Aku sudah mengatakan bahwa itu traktiran dariku. Aku tidak akan mengingkari janji. "
"Kamu benar-benar orang baik." (Mururu)
"Oh ayolah. Bagiku semuanya adalah hal yang merepotkan.
[Apakah kamu malu?]
Tentu tidak. Memukul Ermenhilde yang mengatakan hal aneh, aku membuatnya diam.
"Sekarang, nona Mururu"
"'Tidak perlu memanggil nona. Aku mungkin tidak terlihat seperti itu tapi aku adalah orang dewasa yang sudah matang.
Dia membusungkan dadanya dengan bangga pada hal itu tetapi tubuhnya ditutupi mantel sehingga aku tidak tahu seberapa besar dia sebenarnya.
"Baiklah, kalau begitu Mururu, apa permintaanmu? Saat kau kehabisan uang, itu." (Renji)
"Yah, ada beberapa keadaan yang cukup mendalam di balik itu."
"Keadaan?"
"Umu. Beberapa hari yang lalu, aku menyelamatkan beberapa petualang di jalan raya tetapi kemudian malam itu, dompetku dicuri."
Tidak ada yang mendalam tentang itu, pada kenyataannya, itu terlalu mudah dimengerti.
Dia dikhianati setelah membantu mereka. Tidak bisa mengatakan apa-apa, kami bertiga hanya bisa diam.
Yah, aku sama sekali tidak terlalu memikirkan tentang uangku sendiri.
"Sungguh menakjubkan bagaimana kamu bisa melakukan perjalanan seperti itu."
Tidak bisa dihindari bahwa aku terdengar hampir  kagum saat itu.
Uang sangat penting ketika bepergian. Sungguh aneh mendengar bahwa kau tidak benar-benar sadar akan hal itu.
Yah, aku tidak dalam posisi untuk mengatakan itu.
"Sungguh kejam ...." (Fran)
Tidak, itu adalah ketidakmampuan ku yang tidak dapat melihat sifat sejati mereka. Meskipun orang tuaku selalu mengatakan padaku untuk selalu mencurigai orang lain.
Kamu, bahkan masih dengan mudahnya akrab dengan Renji sekarang. (Elf)
"....... Kau berbicara seolah aku semacam penjahat, kau tahu."
"Mengapa kau tidak meletakkan tanganmu di dada dan berpikir lagi?" (Elf)
[Yah, lagipula kau menyembunyikan fakta bahwa kau adalah Pahlawan.]
Oh itu. Aku akan mengatakan ini sebanyak yang kamu inginkan, tetapi aku tidak layak untuk disebut pahlawan.
Aku tidak memiliki kehormatan yang dimiliki oleh Souichi atau Aya. Memikirkan itu, aku menghela nafas. Yah, pria itu tidak terlalu serius, dia juga menyeringai. Pasti menikmati saat menggodaku. Kepribadian yang buruk.
"Mu"
Tapi, ketika dia mengatakan itu, tatapan Mururu berbalik ke arahku. Tatapannya mengandung sedikit kejutan juga.
"Apakah Renji juga akan menipuku?"
Jika aku berencana menipumu, aku tidak akan mentraktirmu makan, aku juga tidak akan mengundang mereka berdua.
Jika aku ingin mengelabui dia, aku akan berbohong dan membawanya ke gang belakang. Tentu saja, aku tidak mempunyai hobi semacam itu.
"Tapi yah, itu akan lebih baik jika Mururu sedikit lebih berhati-hati terhadap orang."
"Aku mengerti. Jika Renji mengatakan itu, aku akan memikirkannya.
"Kenapa namaku muncul di sana?"
"Karena kamu mentraktirku makan, aku telah diajari untuk selalu mengambil kata-kata dari penolongku dengan tulus dan serius."
"Yah, kamu telah diajarkan dengan baik sepertinya."
"Umu."
Oh, kami menyimpang dari topik. Aku berdehem * ahem *.
"Jadi, mengapa kamu ingin pergi ke Royal Capital dengan begitu terburu-buru?"
"Aku punya sesuatu untuk disampaikan kepada Penyihir di Ibukota."
"Penyihir – Sang Sage, ya?"
Pada saat itu, pandangan Miss Francesca dan Faylona mengarah padaku. Mururu membuat wajah bingung tapi aku hanya mengangkat bahuku dan mengalihkan tatapan mereka ke samping.
[Kau tidak pernah berkata jujur, itulah mengapa kau dikatai seperti itu oleh Elf itu.]
"Itu membuat telingaku sakit."
Tapi tetap saja, sesuatu untuk Utano-san eh?
Jujur, aku hanya bisa memiliki firasat buruk tentang ini. Aku jadi ingat Ogre hitam dan Orc yang aku lawan.
Entah kenapa? Hanya saja begitu aku mendengar nama Utano-san, aku hanya bisa memikirkan itu. aku dapat mempercayai intuisi ku pada saat seperti itu.
"Apa yang ingin kamu berikan?" (Fran)
"Itu, aku tidak tahu. Dewa Roh telah mengatakan kepada ku untuk tidak menunjukkannya kepada siapa pun kecuali sang Penyihir. Aku minta maaf."
Aku mengerti, itu masuk akal. Juga, karena Dewa Roh yang telah memberikannya, itu pasti sesuatu yang sangat penting.
Sekali lagi, tatapan mereka menoleh ke arahku tapi aku melihat ke langit-langit bertanya-tanya apa yang harus dilakukan.
[Permintaan dari Dewa Roh, eh?]
"Itu bukan permintaan."
Di tempat pertama, aku belum memutuskan apakah aku akan menerima ini atau tidak.
"Itu sebabnya, Renji, apakah ada cara lain untuk sampai ke ibukota secepat mungkin?"
"Aku mengatakan ini sebelumnya juga, tapi itu tidak mungkin. Tidak peduli seberapa cepat kamu pergi, itu akan memakan waktu minimal sepuluh hari."
"Jadi begitu."
Meskipun kamu kecewa seperti itu, bahkan aku tidak bisa membantu.
Sementara kami berbicara, akhirnya hidangan yang kami pesan tiba.
"Untuk saat ini, mari isi perut kita. lagipula, kepala mu tidak akan berfungsi dengan baik ketika perutmu kosong."
"Umu, itu benar."
Tapi tetap saja, sebuah item dari Dewa Roh.
"Mendengar kata itu, Dewa Roh, aku teringat benua." [Elfreim].
Benua Imnesia ini di mana manusia hidup cukup hijau tetapi Elfreim bahkan lebih hijau. Dibandingkan dengan bagaimana manusia hidup dengan membersihkan alam, para binatang buas dan demi-manusia hidup bersama dengan alam.
Itulah sebabnya mengapa negara Demi-Human dan Beastmen memiliki keindahan yang kaya dan mengesankan dari benua ini begitu besar sehingga kamu tidak dapat melupakannya begitu kamu melihatnya.
Dan Dewa Roh adalah yang disembah oleh orang-orangnya. Keberadaan yang seperti itu mengirim sebuah item ke God Slayer. Ini mencurigakan, atau lebih tepatnya, itu pasti akan menimbulkan masalah.
"waa."
Sambil melihat gadis putih mengisi pipinya penuh dengan makanan dengan penuh semangat, aku berpikir tentang apa yang harus dilakukan.
Ada juga permintaan dengan Souichi dan yang lainnya untuk membawa iblis itu ke ibukota juga tapi itu sepuluh hari kemudian. Tidak lama, tapi gadis ini mungkin tidak akan menerimanya.
Selain itu, mengendarai hanya kuda saja dibanding gerbong seharusnya mengurangi perjalanan beberapa hari. Masalahnya adalah gadis ini bangkrut.
Aku tidak bisa mengatakan 'Baik, selamat tinggal'. Dan pergilah sekarang juga. Yah, Aku bisa, tetapi setelah itu aku tidak akan bisa tidur dengan baik.
"Um, Mururu-san? Kamu harus makan sedikit lebih tenang atau itu akan bahaya kau tahu?"(Fran)
"Tidak ada masalah."
"Akulah yang mentraktirmu jadi cobalah untuk merasakan makanannya sebelum menelannya." (Renji)
"Mengerti."
Melihat perbedaan perlakuan antara aku dan Miss Francesca, kami berdua mulai tertawa. Karena tubuhnya kecil, dia sebenarnya merasa seperti hewan kecil.
"Jika itu adalah kata-kata Dewa Roh, maka aku akan membantu juga."
Dan, Faylona yang tadinya tenang sampai sekarang juga angkat bicara.
"Benarkah ? aku berhutang padamu Elf. "(Mururu)
"Namaku Faylona, ​​Beastwoman."
Apakah mereka akrab satu sama lain atau tidak?
Dan, entah bagaimana pembicaraan itu telah meningkat. Nah, untuk seorang Elf, permintaan dari dewa Roh akan sangat penting kurasa.
Sambil melihat pembicaraan mereka berdua ini, Miss Francesca terkikik sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
[Tapi tetap saja, apa kamu pikir mereka akan memberikan permintaan dari Dewa Roh hanya kepada seorang Beastwoman?]
Yah, siapa yang tahu. Apakah itu termasuk pesan suci juga atau apakah ada alasan tersembunyi lainnya? Mungkin ada seseorang yang bergerak dari bayang-bayang juga. Bisa jadi pertemuanku dengan gadis ini bukan hanya kebetulan juga.


Kamigoroshi no Eiyuu to Nanatsu no Seiyaku Bab 24 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.