Kamis, 19 Juli 2018

New Hell In Another World Chapter II Ori LN


BAB II
(Author : Fathansy)


Ruangan kamar yang serba putih, aroma apel yang berasal dari pengharum ruangan menyelimuti kamar ini. Ada beberapa peralatan rumah sakit yang biasa aku lihat di film-film. Kamar rumah sakit ini tidak terlalu jauh berbeda dengan yang ada di dunia asalku. Aku terbaring di ranjang yang di tempatkan dekat dengan jendela yang menyorot taman rumah sakit.

Setelah menerima penjelasan soal keadaanku dari Fredy, aku dipindahkan ke rumah sakit yang ada di tengah kota untuk menjalani masa penyembuhan. Sejujurnya jantungku masih sedikit berdegup-degup tentang apa yang akan terjadi selanjutnya di kehidupan baruku ini.

Pintu kamar itu tergeser ke samping secara otomatis, dan aku sekarang bisa melihat Sofie yang masuk dengan ransel dipunggungnya. Dia menyimpan ransel tersebut di samping ranjangku. “Aku sudah membawa buku-buku yang kamu minta dari perpustakaan kota. Ada beberapa buku yang memang aku sarankan untuk kamu baca.” ucapnya.

Aku tersenyum dengan polos sambil membalas, “Terima kasih!”

Sofie untuk sesaat terlihat tersipu, cepat-cepat dia berkata, “Device, muncul.”

Sebuah layar yang sedikit tembus pandang muncul secara tiba-tiba dan melayang tepat di depan wajahnya. “Aku sudah beritahu soal device ini kan? Benda kecil yang terpasang di belakang daun telingamu. Kau juga munculkan device mu sendiri. Benda ini hanya akan muncul berdasarkan suara pemiliknya.”

Aku menuruti pemerintahnya, “Device, muncul.”

Hal serupa terjadi padaku. Sekarang aku melihat sebuah layar tipis yang menampilkan gambar laut biru yang tenang. Saat pertama kali mendengar penjalasannya aku sudah sedikit mengerti bahwa device ini memiliki fungsi yang hampir serupa dengan ponsel pintar. Sofie kembali bergumam sendiri, “Device, buka folder video. Device, pilih semua video. Device, kirim menuju Arvie.”

Muncul sebuah pop up di layar device ku. Sofie mantapku seraya berkata. “Sekarang sebut, device, terima.”

Aku kembali menuruti perintahnya, “Device, terima.” Sekarang pop up tersebut berubah menjadi tulisan process, lalu dengan cepat menjadi done.

“Kau bilang kau ingin melihat dirimu sebelum amnesia, kan? Jadi kukirimkan video yang berisi kegiatanmu ini dari device ku. Kalau saja dulu kau mau merekam sendiri kegiatanmu. Soal perintah-perintah device lainnya, akan kuberitahu nanti. Untuk memutar video kau bisa menggunakan perintah putar video sekian dan untuk berhenti hentikan video. Kunci utamanya kau harus selalu menggunakan kata device sebelum mengucapkan perintah.” ujar Sofie.

“Baik.” balasku.

Device, mati” gumam Sofie. Layar device Sofie dalam sekejap menghilang. Aku mencoba mengikutinya, dan layar devic-ku juga lenyap.

“Hmm...?” Mengerutkan kedua alisku, aku mulai berkata, “Tunggu sebentar, semua video yang kamu kirimkan ini berisi tentang kegiatanku saja, kan? Tadi saat memilih videonya kamu bilang pilih semua video.”

Sofie hanya terdiam, dia sekarang terlihat seperti membeku. Wajahnya langsung memerah hingga ke telinga. “Aku tidak akan mengelak layaknya orang bodoh. Seperti yang kau dengar dari Fredy, aku ... erm ... suka padamu. Kalau kau merasa tidak nyaman aku akan hapus semua video ini dari device-ku di depan matamu langsung.” ucapnya dengan suara yang kecil.

Reaksinya berbeda dengan ekspetasiku. Sofie masih terlihat sedikit murung karena aku terlalu blak-blakan. Jantungku kembali berdegup dengan rasa yang tidak biasa. Rasanya aku tidak ingin melihatnya murung seperti sekarang ini. Enta kenapa rasanya aku ingin... “Sofie, tundukkan kepalamu.”

Dalam sekejap raut wajah berubah menjadi ketakutan. “Ke-kenapa? Apa kau akan memukul kepalaku dengan keras seperti biasanya? Walau sedang amnesia kesadisanmu tidak pernah hilang...”

“Apa? Sudah, turuti saja perintahku!”

Sofie menundukan kepalanya, aku mengangkat tangan kananku ... dan mulai memukul kepalanya dengan kencang.

“AAAAAAARGH...!!” teriak Sofie.

Dia langsung tergeletak dilantai sambil mengusap-ngusap kepalanya dengan kesakitan. “Sudah kuduga...”

“Maaf, entah kenapa rasanya aku ingin memukul kepalamu.”

Sofie cepat-cepat berdiri dengan tawa kecilnya. “Tapi, dengan begini rasanya kita seperti kembali ke masa-masa sebelum kau mengalami amnesia.”

Hatiku sekarang lega, dia sudah tidak murung seperti tadi. Rasanya seperti sosok Arvie yang benar-bener mengenal Sofie masih menempel di tubuh ini. Dia tahu dengan benar cara agar Sofie terhibur. Aku memukulnya karena dengan anehnya aku merasa memang hal itu yang harus aku lakukan.

Sofie tersenyum padaku seraya berkata, “Kalau begitu aku akan langsung pergi sekarang. Ada beberapa hal yang harus aku persiapkan saat kau kembali ke Akademi. Aku akan kembali untuk memberikanmu sebuah bimbingan yang kau perlukan saat kembali ke Akademi nanti.”

“Dimengerti.”

Saat Sofie berbalik membelakangiku aku cepat-cepat berkata, “Ngomong-ngomong, soal video barusan. Hapus semuanya dari device-mu!”

“Ck! Sialan, padahal aku kira aku bisa mengecohnya.” gumam Sofie.

“Aku bisa mendengarnya, loh...”

Tanpa berbalik, Sofie menggumamkan sesuatu dengan pelan, terlihat layar device-nya muncul kembali dan memperlihatkan folder berisi video tadi menghilang dalam sekejap. Dan dengan cepat layar device-nya menghilang kembali.

Sofie berjalan menuju pintu kamar yang bergeser ke samping secara otomatis seraya dia berjalan mendekatinya. Dia berhenti berjalan tepat saat pintu kamar terbuka sepenuhnya. Memutar kepalanya kebelakang, Sofie berkata, “Semoga lekas sembuh, Jendral.”

Sofie melanjutkan langkahnya hingga dia ke luar dan pintu kembali tertutup secara otomatis. Kalimat terakhirnya tadi, tidak terdengar seperti seseorang yang mendoakan kesembuhan seorang pasien. Dia berkata dengan nada yang serius.

Setelah berpikir semalaman, aku harus bisa menghindari kesalahan sebisa mungkin. Ini adalah kesempatanku untuk menjalani kehidupan baruku, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku harus bisa beradaptasi dengan kehidupan baruku secapat mungkin sebagai Arvie. Sekarang bukan waktunya untuk terus-terusan menolak situasiku yang tiba-tiba berada di dunia lain dengan tubuh yang bukan milikku.

Aku akan melihat bagaimana sosok Arvie yang sebelumnya dan mencoba untuk menirunya sebisa mungkin, kalau aku terlalu paksakan hasilnya pasti tidak akan terlihat natural. Dan yang lebih terpenting aku harus mengetahui tentang seluk beluk dunia ini secepat mungkin. Aku mengambil ransel yang Sofie berikan padaku dan mengeluarkan beberapa buku yang akan kubaca.

***

Prixym, dunia ini terbagi menjadi empat benua dan tiga puluh delapan negara. Keempat benua itu ialah, Syfrish, Seny, Star, dan Sydrix. Aku berada di benua yang bernama Sydrix, terbagi menjadi empat kawasan, Timur, Barat, Selatan, dan Utara. Untuk sekarang aku hanya akan menjelaskan kawasan selatan saja, kawasan ini memilki empat negara yaitu, Juresh, Refrech, Demh, dan Brich. Aku berada di negara bernama Juresh. Negara ini menganut sistem monarki atau bisa disebut sistem kerajaan sebagai sistem pemerintahannya.

Soal perang sendiri, Prixym sudah melalui perang dunia selama empat kali. Perang dunia yang terakhir terjadi enam puluh empat tahun silam. Walau begitu banyak beberapa negara yang bisa memicu perang dunia ke lima dengan sangat mudah, layaknya menjentikan jari. Kali ini aku hanya berada di dalam perang antar negara. Hal ini terjadi karena negaraku tidak bisa membocorkan soal teknologi terbarunya pada publik untuk sekarang ini.

Dari dulu negara Juresh dan Refrech memang tidak menjalin hubungan yang begitu baik. Mereka mencurigai teknologi baru dari negri Juresh bukanlah sesuatu yang baik, mengetahui teknologi tersebut berhubungan dengan sesuatu yang bisa mengutak atik ingatan seseorang.

Refrech mengadakan deklarasi perang pada negara Juresh, perang tidak akan terjadi jika Juresh mau menurut dengan permintaan mereka tentang pembocoran teknologi terbarunya. Namun setelah melakukan perunding yang serius dengan raja, hal tersebut tetap tidak bisa dilakukan dan terjadilah perang yang sudah berangsur sebulan hinggat saat ini.

Refrech mengadakan genjatan senjata di saat-saat hari terakhir Arvie meninggal dunia. Entah karena apa alasannya, tapi itu sedikit menguntungkan diriku untuk bisa beradaptasi dengan dunia yang baru ini. Sofie mengatakan padaku dengan keyakinan yang tergambar jelas di wajahnya, Refrech akan kembali mengadakan perang dengan Juresh dalam waktu dekat.

Beralih ke teknologi. Teknologi di dunia ini sudah berkembang sangat pesat dibandingkan dengan bumi. Mobil terbang bukan sesuatu yang mustahil lagi. Anak-anak mulai diberi device mereka sendiri yang memiliki fungsi seperti ponsel sejak umur empat tahun. Kegunaan device itu dapat berubah seiring bertambahnya umur orang tersebut. Tidak tergantung siapapun mau anak konglomerat atau anak miskin. Device tersebut berbentuk seperti logam kecil, memiliki berat yang sangat ringan dan biasa di tempel di belakang daun telinga. Untuk pengisian dayanya sendiri cukup ditaruh di sebuah inkubator kecil yang memang khusus dibuat untuk device tersebut. Cukup dengan perintah suara, layar tipis akan muncul di depan mata.

Teknologi yang begitu pesat benar-benar menjadi hal utama yang membuat dunia ini menjadi dunia fantasi. Tadinya aku kira aku akan menemukan ras yang biasanya ada di dalam novel fantasi atau ras ras lainnya yang jelas tidak ada di bumi. Selain itu aku memikirkan tentang kemungkinan hal-hal lainnya, seperti orang-orang yang memilki sihir, kekuatan esper atau semacamnya. Sayangnya hal-hal seperti itu tidak ada di dunia ini.

Tetapi walaupun begitu, Arvie memiliki kelebihan khusus. Seperti yang sudah kubilang, teknologi di dunia ini benar-benar sangat luar biasa. Saking luar biasanya aku tidak bisa membedakan lagi apa ini benar-benar sebuah teknologi atau sebuah sihir.

Setiap murid dari Akademi militer yang berhasil memperoleh pangkat jendral, akan diberikan kesempatan untuk memilih salah satu teknologi yang hanya ada dan dibuat khusus untuk mereka.

Dari sekian banyaknya pilihan yang aku bahkan tidak tahu apa saja, Arvie memilih timer. Aku tidak diberitahu cara mereka memasangkan teknologi itu pada tubuh ini. Bahkan aku dengar Arvie sendiri harus dibuat tidak sadarkan diri selama dua hari selama proses pemasangan teknologi itu.

Yang jelas timer bisa membuatku memundurkan waktu selama tiga detik. Aku sudah mencobanya sendiri, fokus pada kejadian beberapa detik yang lalu dan layaknya film yang diputar mundur aku sudah berada pada kejadian tiga detik sebelumnya.

Soal senjata, di dunia ini terdapat senjata-senjata yang tidak ada di bumi. Saat pertama kali mendengar soal senapan petir aku sempat bingung sendiri. Senapan petir adalah senjata legal dalam perang,  senapan ini dapat mengeluarkan kilatan petir dengan jarak hingga tiga puluh meter.

Selain senapan petir ada beberapa senjata perang legal lainnya yang benar-benar menarik dan tidak ada di bumi. Übernatürlich, adalah senapan dengan peluru tembus pandang dan tidak bersuara. Deutlich, panah dengan teknologi di dalam busurnya yang bisa mengincar titik vital target dengan ketepatan hingga tujuh puluh persen. Stecken, granat yang bisa membuat dinding penjebak tembus pandang dengan lebar lima belas meter kali lima belas meter dan tinggi lima meter, daya ledakannya bisa mencakup sampai ke seluruh dinding yang dibuatnya.

Kelemahan Stecken yaitu memiliki bau khas yang benar-benar menyengat hingga jarak yang cukup jauh dan membuat siapa saja yang memiliki penciuman tajam dapat menghindarinya sebelum dilempar. Masih banyak lagi senjata-senjata unik lainnya, tapi aku tidak punya waktu untuk membaca semuanya.

Sekarang bagian yang terpentingnya adalah Arvie, orang yang akan menjadi identitasku selama aku berada di dunia ini. Arvie lahir di kota bernama Duley. Demi menjenjang pendidikannya, dia merantau sendirian menuju kota Flame, kota yang dikenal memiliki Akademi militer terbaik.

Aku akan memberikan pengetahuan singkat tentang pendidikan di dunia ini terlebih dahulu. Di dunia ini sekolah dibagi menjadi dua tahapan, tidak seperti di bumi. Anak-anak diwajibkan untuk bersekolah dari umur lima atau enam tahun di tempat pendidikan yang disebut Erster Schritt selama dua belas tahun. Erster Schritt adalah tempat bagi anak-anak menimba ilmu-ilmu dasar. Layaknya SD, SMP, dan SMA dipadukan menjadi satu sekolah.

Untuk tahapan kedua,  mereka akan digiring menunju tempat bernama Akademi setelah lulu dari Erster Schritt. Akademi sendiri adalah sebuah tempat yang memang khusus memberikan pelajaran soal satu bidang saja. Dengan kata lain, satu gedung Akademi hanya menyediakan satu jurusan saja. Mereka bebas memilih Akademi yang mereka inginkan sesuai dengan pekerjaan yang mereka idamkan kedepannya setelah lulus.

Untuk parang orang tua yang tidak memiliki biaya untuk menyekolahkan anaknya, mereka hanya akan mendapatkan pendidikan di Erster Schritt. Dan dapat mencari pekerjaan untuk kelas orang rendah. Kecuali untuk mereka yang memilki otak cerdas, akan diberikan beasiswa untuk masuk Akademi.

Aku akan menjelaskan tentang Akademi Militer, Akademi di mana Arvie belajar. Akademi militer memiliki peraturan yang sedikit berbeda. Setelah menimba ilmu selama empat tahun di Akademi tersebut. Para pihak dari Akademi akan memilih murid paling berprestasi dari semua kelas dan memberi mereka pangkat sesuai penilaian mereka. Mereka yang sudah melalui masa pembelejaran selama empat tahun di sebut Stolz.

Bisa dibilang ini seperti masa percobaan. Para murid bisa mengalami yang namanya kenaikan pangkat atau bahkan turun pangkat seperti di kemiliteran pada umumnya, sesuai dengan hasil kerja mereka.

Para murid yang sudah menjadi Stolz ikut mengemban tugas sebegai tentara bagi negara mereka. Dari hal ini sendiri pihak Akademi bisa menilai kerjas keras para murid dan memutuskan untuk menaikan pangkat atau menurunkan pangkat suatu murid. Masa percobaan ini harus mereka lalui selama dua tahun.

Di kota ini terdapat dua Akademi militer terbaik se-Juresh, Akademi Drench dan Akademi Alopo. Arvie adalah salah satu murid dari Akademi Drench, dan ini sudah berlangsung satu tahun setelah aku menjadi Stolz.

Arvie adalah Jendral dari Akademi ini, dan diliat dari riwayat rapornya, dia tidak pernah mengalami yang namanya turun pangkat. Dengan begitu sudah dapat dipastikan, orang ini sudah berumur dua puluh dua tahunan. Aku yang asalnya bocah ingusan berumur enam belas tahun dalam sehari menjadi pria muda berumur dua puluh dua tahun. Walaupun begitu itu tidak mengubah kehebatan Arvie dalam berperang.

Setelah beberapa hari mengalami pemulihan, aku menjalani berbagai macam tes. Yang pertama adalah tes menembak dengan senapan shotgun. Herannya aku bisa mengenai bola kayu kecil yang berjarak dua puluh meter dari jarakku hanya dengan sekali percobaan. Aku juga bisa menghindari tembakan air dari tiga sniper terbaik dengan begitu mudahnya selama tiga puluh detik. Layaknya tubuh ini bergerak dengan sendirinya karena sudah terbiasa.

Aku bisa melihat kerja kerasnya selama dia masih hidup, bersusah payah untuk membuat dirinya berada diposisi yang ia inginkan seperti sekarang. Aku merasa aku harus benar-benar serius menjalani kehidupannya. Aku akan menggantikannya sebaik mungkin, demi dirinya dan demi diriku sendiri.

***

Mobil terbang, biasanya aku hanya membaca itu dalam cerita sci-fi, tapi sekarang aku sedang duduk di dalamnya. Melihat keluar jendela mobil, aku menemukan beberapa mobil terbang lainnya, dengan warna yang benar-benar berbeda satu sama lain, layaknya pelangi.

Walaupun ini pengalaman yang terkesan tidak biasa, tapi aku tetap merasa bosan karena hanya terduduk diam saja. Aku mengeluarkan beberapa buku yang kupinjam dari perpustakaan kota, dan ada beberapa buku yang dengan sengaja Sofie pinjamkan padaku.

Aku sebenernya sudah hampir membaca semua buku yang ada di genggaman tanganku sekarang ini. Aku hanya membaca-baca kembali sedikit isi dari beberapa buku ini. Hingga aku sadar aku belum menyelesaikan bacaanku pada buku yang berjudul Waffen des Krieges, atau bisa diartikan sebagai Senjata Perang. Aku mulai membacanya perlahan dengan perlahan, karena aku tidak terlalu mengerti soal sebab dan penyebab senjata berteknologi hebat itu bisa dibuat.

Setelah kupikir kembali, dunia ini memanglah sebuah dunia fantasi. Banyak hal-hal yang tidak bisa dijelaskan, secara logika manusia bumi sepertiku tentunya. Memikirkan hal itu membuat semangatku untuk menikmati kehidupan yang baru semakin bertambah.

Tak terasa rasanya aku hampir sudah membaca setengah dari buku tersebut. Merasa ada yang melihatiku dari kursi depan, aku langsung mengalihkan pandanganku dari buku yang kugenggam, dan mendapati supir tua dengan kumis putih abunya yang tersenyum kepadaku seraya berkata, “Kita sudah sampai, Jendral.”

Aku menekan bulatan hitam yang ada di sampingku dan dengan cepat pintu mobil tergeser ke samping. Menelan ludah, aku mencoba menggerakan kakiku yang tegang karena duduk terlalu lama di dalam mobil. Menapakkan kaki kananku terlebih dahulu keluar mobil, aku bisa mendengar hentakan sepatu yang cukup banyak secara bersamaan.

Keluar dari mobil, mataku disuguhi dengan pemandangan yang membuat jantungku berdegup-degup. Dari barisan yang dibagi menjadi enam gelombang, aku bisa mengetahui ada sekitar tiga ratus murid, memakai seragam yang sama, berbaris di depan gedung sekolah yang luasnya bukan main.

Sofie yang berdiri sendirian di depan barisan-barisan para murid itu mulai berteriak dengan kencang, “Hormat pada Jendral!”

Seluruh murid dengan serentak mengangkat tangannya, menghormat kepadaku. “Ucapkan salam penyambutan!” teriak Sofie kembali.

“Selamat datang kembali, pak!” teriak seluruh murid.

Aku langsung mengingat kata-kata Sofie saat aku mengalami pemulihan. Dia memberiku beberapa bimbingan yang perlu aku lakukan saat kembali ke Akademi. Aku langsung dengan sigap hormat menanggapi penyambutan mereka.

Gawat, ini rasanya menyenangkan. Aku yang dulunya selalu ditindas dan dipandang rendah, sekarang dihormati dengan mudahnya oleh tiga ratus orang lebih. Spontan aku langsung terbahak pelan. Tidak ada reaksi sama sekali, mereka menungguku berbicara.

Aku sedikit berdeham dan mencoba memberatkan suaraku, “Terima kasih untuk penyambutan kalian hari ini. Seperti yang sudah kalian dengar, aku mengalami gejala yang disebut amnesia. Walaupun begitu aku sudah menjalani beberapa tes dan kondisi fisikku masih bisa mengenali medan perang. Jadi aku akan tetap melaksanakan tugasku dengan sebaik-baiknya sebagai Jendral dari Akademi ini. Aku mengharapkan yang terbaik dari kalian semua! Paham?”

“Siap! Dimengerti!” jawab mereka serentak.

***

Hari ini aku belajar penuh bersama teman-teman sekelasku yang memiliki pangkat khusus. Untungnya aku bisa cepat tanggap mengenai bahan pelajaran yang baru. Dan aku baru sadar bahwa hanya Sofie satu-satunya wanita yang ada di kelas ini. Jam istirahat aku habiskan dengan memakan makan siang bersama orang-orang yang katanya sahabatku di sebuah cafetaria.

Aku sekarang sudah berada di dalam asrama Akademi, lebih tepatnya aku sudah berbaring di kamarku. Rasanya aku lelah sekali, dan tiba-tiba terlintas sekali lagi di dalam pikiranku, “Jadi ini memang bukan mimpi, yah?”

Selama pemulihan beberapa kali aku terbangun dengan perasaan sepertinya yang aku alami kemarin hanya sebuah mimpi belaka. Tapi saat aku melihat tidak ada bulatan besar diperutku, aku langsung sadar bahwa aku tetap terbangun di dunia ini. Ini memang bukan sebuah mimpi. Rasanya seperti aku masih belum bisa menerima dan menghadapi situasiku sekarang ini.

Aku mendengar suara gaduh di luar kamarku. Penasaran, aku mencoba menengok keluar pintu. Aku menemukan dua orang lelaki yang sedang menghujat seseorang dan beberapa kali menendanginya. Orang itu terpojok di sudut koridor dan tidak bisa kabur kemana-mana karena terhalangi dua orang yang menindasnya. “Aku tidak melihat mereka berdua dikelasku, kelihatannya mereka berdua bawahanku.”

Mengingat latihan dan video yang aku lihat, aku harus bisa bersikap layaknya Arvie. Keluar dari kamarku, aku langsung mendekati mereka berdua dengan langkah yang berat. “Apa yang kalian berdua lakukan di sini? Kamar kalian bukan di lantai ini, kan?”

Mendengar suaraku, mereka berdua cepat-cepat membalikan badannya dengan tangan kanan mereka berdua yang menempel di keningnya, menghormat padaku. Salah satu dari mereka menjawab. “Ah, siap, pak! Kami menemukan pelayan cafetaria yang menyelinap masuk seenaknya ke dalam asrama! Jadi kami memberikan pelajaran pada penyelusup kecil ini.”

Mereka berdua mundur dengan perlahan dan membiarkanku bertatap muka dengan si penyelusup tersebut. Ia adalah seorang anak laki-laki yang kelihatannya masih berumur dua belas tahunan. Entah mengapa melihat ia terhina dengan babak belur seperti ini langsung sedikit membuka kembali bekas luka lamaku.

“Kenapa kamu menyelinap kemari?” tanyaku.

Anak itu langsung berdiri, menghormat padaku dan menjawab dengan teriakan, “Jendral Arvie! Saya tidak berbohong! Saya tadi ke mari hanya untuk memberikan bingkisan atas kembalinya Jendral Arvie. Tapi saat saya coba cek tas yang saya bawa, isinya kosong. Sepertinya saya lupa memasukannya saat berada di kamar. Saya menyelinap karena mereka dengan tegas menolak saya untuk masuk!”

Tiba-tiba salah satu orang yang menindasnya tadi berkata dengan arogan, “Pasti, dia menyelinap masuk untuk mencuri sesuatu dengan tas kosongnya itu. Dari tampangnya saja sudah kelihatan tampang-tampang pencuri!”

Sekarang bekas luka lamaku benar-benar terbuka kembali. Aku menatap orang bernada arogan itu dengan tajam. “Bagian fisik seseorang tidak jadi penentu apa dia adalah orang baik atau jahat! Tidak di bumi tidak di sini yang namanya manusia tetap sama saja!”

“Pa-pak...?”

Aku langsung tersadar kembali. Tidak bagus, aku harus bisa menahan diri. “Kalian berdua, kembali ke kamar kalian masing-masing! Ini perintah!”

“Siap, pak!” jawab mereka berdua kaku.

Aku sekarang hanya berdua saja dengan anak yang katanya ingin memberikan bingkisan padaku. Saat aku ingin mencoba untuk mengajaknya bicara, anak itu sudah tidak berada di tempatnya berdiri tadi. “Kemana dia per—“

Sebelum aku selesai mengucapkan kalimatku, darah tiba-tiba terciprat keluar dari bagian depan badanku. Aku melihati darah berkeclakan dari ujung mata pisau yang menembus depan tubuhku. Aku mencoba untuk melihat kebelakang dengan mataku yang bergetar.

Anak itu tersenyum lebar dengan cipratan darah yang menempel di tangannya. “Ahahahaha! Karena terlalu naif kau tertusuk pisau di badanmu untuk yang kedua kalinya!”
Aku langsung menelan ludah berat-berat. Jantungku kembali merasakan degupan kencang yang tidak nyaman.  Kedua kalinya? Tunggu sebentar, kenapa anak ini bisa mengetahui kejadian...?

***

Semua terlihat hitam pekat.

“Jendral Arvie...?”

“Hah?”

Cahaya dalam sekejap memenuhi mataku. Aku bisa melihat kembali segalanya dengan jelas setelah mendengar ada yang memanggilku. Hal yang kulihat pertama kali adalah anak yang sudah menunsuk perutku.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya.

Aku melihat ke sekelilingku, aku sedang berada di koridor asramaku. Aku cepat-cepat mengecek bagian bawah badanku, tidak ada darah atau tusukan pisau yang menembus keluar tubuhku. “Kenapa..?” gumamku.

Aku masih bisa merasakan jantungku yang berdegup kencang. Aku cepat-cepat menggeledah anak tersebut dari atas baju hingga bawah celana, juga mengecek tas ranselnya. “Tidak ada pisau...”

Anak itu melihatiku dengan penuh tanda tanya.

Aku cepat-cepat berkata, “O-oh.. iya. Kau mau memberikan bingkisan padaku bukan? Kembali ke tempatmu dan ambil bingkisannya. Aku tunggu di luar asrama.”

Anak itu tersenyum dengan lebar. Sekejap senyuman itu mengingatkanku pada adegan mengerikan. Aku cepat-cepat menggelengkan kepalaku.

“Siap, aku akan kembali dalam sekejap!”

Dia berlari dengan riang menuju kebawah tangga, dan kini hanya ada aku saja di koridor. Rasanya sangat mustahil anak polos seperti itu akan menusuk perutku dengan pisau.

Lalu apa-apaan kejadian mengerikan tadi itu...? Apa itu hanya halusinasiku saja?

New Hell In Another World Chapter II Ori LN Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Alei Darkhan

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.