21 Juni 2018

New Hell In Another World Chapter I Ori LN

BAB I
(Author : Fathansy)


Berjalan di pinggiran kota yang sepi, aku langsung mengecek jam tanganku, sudah jam setengah delapan malam. Tubuhku yang berat membuat diriku susah berjalan ditambah rasa sakit setelah kakiku diinjak-injak oleh Giro sekawan.

Hal seperti ini bisa dibilang sudah biasa bagiku. Giro tidak pernah kapok walaupun sudah beberapa kali kulaporkan pada guru. Itu karena satu hal, uang. Menyogok bukanlah perkara yang sulit baginya. Ditambah keluarganya orang tersohor.

Sekarang rasanya jadi terdengar aneh, kenapa Giro menghajarku dan masih mengincar uangku. Sepertinya bukan itu alasan utamanya, dia hanya senang menghajar, menindas, dan menyengsarakan tipe-tipe orang sepertiku.

Walaupun guru-guru, murid, dan yang lainnya mengetahui bahwa aku sedang tindas. Mereka menutup mata dan telinga, lebih parahnya mereka sendiri termasuk pelaku yang menindasku. Rasanya sekarang aku ingin berbaring di taman belakang rumahku. Aku bisa menangkan diriku di sana setelah mengalami nasib buruk.

Sekitar lima belas meter dari jarakku berjalan, aku melihat Giro. Menarik napas dalam-dalam, aku mencoba menghiraukannya. Namun dia malah melambaikan tangannya padaku dengan senyum. “Hei! Sini!”

Tidak ingin menambah masalah aku pun menghampirinya. Sebelum aku sempat bertanya, dia langsung menarik tanganku. Aku tidak tahu hal busuk apa lagi yang kali ini akan ditujunkannya padaku.

Kami berjalan cukup lama dan memasuki sebuah hutan. Giro langsung memulai pembicaraan sambil berjalan. “Kau masih ingat awal pertama kita bertemu? Waktu itu cuma kau satu-satunya orang yang membantunku di jalan saat aku terjatuh dari motor. Semua orang di sana langsung tertawa kecil sambil bergumam, “Anak SMP nakal yang telrihat seperti punk itu malah dibantu sama bocah culun”. Itu termasuk salah satu penghinaan yang aku alami.”

Aku ingat, dan saat itu pula dia langsung menghajarku di tempat. Aku benar-benar menyesal sudah menolongnya waktu itu. Kami sampai di tengah hutan yang benar-benar sepi dan rasanya sudah jauh sekali dari kota. Jantungku langsung berdegup dengan kencang. Aku punya firasat tidak mengenakan tentang ini.

Sesuatu dari belakang punggungku mulai menusuk hingga aku bisa melihat ujung dari pisau keluar dari depan badanku. Aku langsung terkapar di tanah hingga membuat bunyi yang keras dengan posisi terbaring. Giro langsung tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. “Ah... akhirnya sedikit puas juga.”

Aku berusaha bicara dengan sekuat tenaga. “Kenapa...?”

Giro menginjak badanku seraya menjawab, “Pulang sekolah tadi aku habis-habisan kena marah orang tuaku karena suatu masalah. Ditambah yang lebih parahnya lagi aku langsung diputuskan pacarku saat aku menceritakan masalahku. Jadi rasanya aku ingin melampiaskan kekesalanku pada orang lain.”

“Kau ... sudah tidak waras yah?”

“Persetan dengan yang namanya waras.”

Giro mengangkat pisaunya kuat-kuat, bersiap untuk menusuk badanku untuk yang kedua kali. Memikirkan hidupku akan berakhir hanya karena masalah bodohnya, aku tidak terima! Dengan kedua tanganku yang penuh luka aku menekan kaki Giro yang menginjak badanku dengan kuku ku yang cukup panjang.

Melepaskan kakinya dari badanku dengan kesakitan dan kehilangan keseimbangan, dia mulai terjatuh kebelakang. Aku cepat-cepat mengambil kesempatan ini untuk kabur. Berdiri dengan sekuat tenaga dan mencoba untuk berlari.

Aku melihati kebelakang, menemukan Giro yang dengan cepatnya sudah berada lagi di belakangku. Dengan jantungku yang berdegup tidak karuan hingga rasanya mau pecah aku berteriak meminta permintaan tolong. Rasanya aku sudah pasrah setengah mati meneriakan permintaan tolong di tempat seperti ini.

Giro mendekapku dengan kencang dari belakang. Kami berdua terdorong kebelakang mendekati sungai yang curam, sekali terjatuh aku ragu akan ada orang yang bisa selamat. Dengan sekuat tenaga aku melepaskan kedua tangan Giro yang mendekap erat badanku. Aku langsung berusaha berlari kedepan. Kepalaku langsung beralih kebalakng seraya aku mendengar teriakan Giro. Aku melihatinya, terjatuh ke sungai yang curam itu dengan ekspresi putus asa tergambar jelas di wajahnya.

****

Malam ini terasa sejuk, langit yang gelap terlihat gemerlapan karena taburan bintang menepi di sana. Aku mulai melihati  jam tanganku, sudah pukul setengah sembilan malam. Suara jangkrik yang tiada hentinya bergema membuat suasana saat ini seperti di desa nenekku. Walaupun dengan segala nuansa menenangkan yang mengeliliku ini, hatiku terasa kosong.

Di tengah hutan ini aku berusaha untuk menggerakan kakiku. Tubuhku benar-benar babak belur dan darah dari badanku tidak henti-hentinya mengalir keluar berkat tusukan pisau dari Giro. Mengetahui fakta bahwa aku tidak akan pernah melihatnya lagi membuatku sedikit senang. Dia terjatuh ke sungai itu juga bukan karena salahku.

Aku langsung tertawa-tawa kecil, dan semakin lama tawa ini anehnya malah semakin membesar. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku sendiri saat ini. Air mata tiba-tiba keluar membasahi pipiku dengan cepat. Aku sekarang menangis dengan kencang layaknya anak kecil.

Meratapi nasib sial yang tiada hentinya selalu datang kepadaku. Berpikir jika aku tidak memiliki fisik seperti sekarang ini, apa hidupku tidak akan semenderita ini? Jika aku tidak terlahir dengan fisik seperti ini apa kehidupanku benar-benar akan berbeda dari yang sekarang?

Suara petir mulai menyambar dengan keras. Rintik-rintik air mulai membasahi wajahku yang masih mengadah keatas. Semakin lama semakin banyak dan semakin menderas. Padahal beberapa detik yang lalu awan pucat itu tidak ada di atas sana.

Aku terus berjalan tanpa memperdulikan hujan petir yang tiba-tiba ini. Lukaku sekarang rasanya semakin perih karena terkena rintikan hujan. Petir seketika menyambar pohon yang lumayan dekat dengan jarakku berada. Terkejut, aku langsung jatuh bersujud.

Rasanya, sekarang aku seperti ingin meledak. Perasaanku yang campur aduk ini benar-benar membuatku gila sendiri. Tidak kuat lagi aku langsung berteriak dengan sekuat tenaga. 

“AAAAAAAARHH!!”

Sambaran petir terdengar semakin dekat dengan tempatku berdiri sekarang. Rasanya aku ingin mengeluarkan semua emosiku yang selama ini berusaha aku pendam.

“Kenapa aku harus mengalami nasib seperti ini?! Setiap hari sepanjang waktu setiap saat terus-terusan dicaci dan dimaki! Apa itu semua belum cukup sampai aku harus mengalami hal seperti sekarang?!! Hanya karena wajah burik sialanku dan fisikku ini!! Ini sangat tidak adil! Aku yakin orang dengan fisik sempurna pasti hidup dengan nikmat!! Aku jamin bertaruh! Bahkan dengan nyawaku...!!!”

Kilauan petir dalam sekejap berada di depan mataku. Suara gelegarannya terdengar sangat melengkin dan keras. Semuanya langsung terlihat gelap, aku tidak bisa merasakan apa-apa sama sekali. Sangat gelap, dingin, apa aku ... akan mati?

****

Di dalam kegelapan ini, rasanya ... aku mendengar suara seorang gadis. Dia seperti sedang menangis, dan memanggil-manggil nama seseorang. Suaranya semakin lama semakin jelas ku dengar, Jendral...! Arvie!

Rasanya badanku seperti sedang berbaring di tempat yang penuh batu kerikil. Aku mulai bisa merasakan kedua tanganku, perlahan-lahan aku mencoba untuk menggerakan jariku. Aku juga mulai merasakan kedua mataku, mencoba untuk membuka katup mataku dengan sekuat tenaga.

Aku melihat, seorang gadis yang dengan air mata yang membasahi seluruh pipinya, terdiam kebingungan. Berambut sebahu, memakai sebuah seragam kalut yang penuh bercak darah. Dalam sekejap raut mukanya yang pilu berubah menjadi haru dan mulai menangis lagi.

Dia mendekapku dengan sangat tiba-tiba. “Syukurlah!! Aku kira aku tidak akan bisa biacara lagi padamu setelah mengatakan hal-hal jahat itu! Aku minta maaf sudah membuatmu kecewa!”

Rasanya dia sungguh-sungguh menyesal atas perbuatan yang dia lakukan padaku. Sebentar, aku bahkan tidak tahu masalah apa yang dia bicarakan. Lebih tepatnya dia ini siapa? Kepalaku rasanya pusing sendiri.

Aku mendorongnya dengan pelan dari badanku. Mata bulatnya menatapku dengan kebingungan untuk yang ke sekian kalinya. Sebelum aku mulai bicara, seorang laki-laki tua dengan jas putih mendatangiku dengan wajah terheran-heran. Rasanya seperti dia menatapku seakan aku ini hantu.

Laki-laki tua itu mulai berbicara dengan lirih, “Mustahil... dari analisaku seharusnya sambaran dari senapan petir itu membuat keruasakan yang fatal pada saraf otakmu. Seharusnya kau sudah mati, muzizat tuhan memang tidak ada yang tahu.”

Ternyata aku memang terkena sambaran petir. Tunggu, rasanya aku mendengar hal lain yang janggal. Aku mulai menggeleng-geleng kepalaku, menghilangkan semua kebingungan yang malah membuat kepalaku tambah sakit. Kelihatannya laki-laki tua itu adalah seorang dokter.

Aku mulai melihat ke sekeliling, semuanya serba putih, rasanya tempat ini di kelilingi oleh kain parasut berwarna putih. Setelah kulihat lebih teliti dinding-dinding yang bergoyang karena angin itu memang kain parasut. Apa aku berada di sebuah tenda?  Kenapa? Apa ini semacam puskesmas keliling atau apa? Dan juga mereka tidak menutup bagian bawahnya, aku benar-benar terbaring di atas tanah.

Aku hampir lupa dengan gadis yang berada di depanku sekarang ini. Mengerutkan kedua alisnya, dia terlihat khawatir. “Kamu tidak apa-apa? Apa kepalamu terasa sakit?”

Sejujurnya kepalaku memang terasa sakit. Aku mulai membalas dengan lemas. “Iya, sedikit.” Hm? Rasanya suaraku terasa berbeda, atau hanya perasaanku saja. Aku langsung memegang dahiku dengan rasa pusing. Hmm?? Aku melihati tanganku dengan kebingungan. Sepertinya tanganku jadi lebih kurus? Apa karena sambaran petir itu, mataku membuat proporsi objek yang kulihat jadi tidak benar? Dan yang lebih penting kenapa tanganku di penuhi bercak darah?!

Aku langsung berdiri dengan sergap. Melihat kesekeliling dan menemukan sebuah kaca panjang yang dibaringkan di dinding tenda. Aku berjalan mendekati kaca itu dengan jantung yang berdegup tidak jelas.



Aku meraba-raba kaca itu. Mengerutkan kedua alisku kebingungan, orang gagah yang ada di depan kaca ini siapa? Lagi-lagi karena sambaran petir, aku sekarang malah jadi berdelusi yang tidak-tidak.

Aku mencoba meraba perutku, sensasi perut kotak-kotak ini terasa nyata, aku tidak merasakan sama sekali tumpukan lemak tubuhku. Apa karena petir itu juga indera perabaku jadi...? Tidak, yang satu ini jelas tidak mungkin!

Aku mulai menampar-nampar pipirku, mencubit kedua pipiku. Aku tidak sedang bermimpi, apa-apaan ini? Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada di dalam tubuh orang ini? Kemana tubuhku?

Seseorang menyentuh pundakku dari belakang dengan lembut secara berulang. Aku menengok kebelakang dan menemukan gadis berambut pendek itu kebingungan. “Arvie, kamu sedang apa?”

Aku langsung menunjuk diriku sendiri sambil bertanya. “Arvie? Siapa? Aku?”

Gadis itu langsung terkejut dan seketika tertawa kecil. “Jangan bercanda! Hampir aku jantungan, pikir kamu kena Amne—”

“—Aku serius!” bentankku.

Aku tidak sengaja membentaknnya karena rasa sakit di kepala ini dan rasa bingung yang sedari tadi mengelilingiku. Gadis itu terlihat seperti akan mengeluarkan air mata. Matanya sudah berkaca-kaca dan siap menyemburkan tangisan.

“Ma-maaf! Aku tidak sengaja membentakmu! Tapi aku serius, aku tidak tahu siapa Arvie yang kamu bicarakan.”

Gadis itu langsung mengusap-ngusap kedua matanya, menahan air yang sudah ada di ujung kelopak mata. Dokter tua yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan kami langsung ikut berbicara. “Sepertinya Arvie mengalami Amnesia. Tapi ini masih lebih baik bukan dari pada dia mati, Sofie? Dan Arvie, namaku adalah Fredy. Panggil saja aku dengan nama itu.”

Nama gadis itu ternyata Sofie. Sofie mengangguk-angguk pelan, menanggapi pernyataan Fredy. Oke, sepertinya sekarang aku bisa menanyakan hal-hal lain dengan mudah. “Sekarang kita sedang ada di mana?”

Fredy menjawab, “Aku akan menjelaskan keadaan saat ini secara rinci dan singkat. Kita sekarang sedang ada di tempat pengungsian untuk para prajurit beristirahat. Di kota Flame, di negara Juresh, dan kita para warga negara Juresh berperang melawan penjajah teknologi dari negara sebrang, Refrech.”

Kepalaku sekarang rasanya mau meledak. Entah aku yang salah bertanya atau apa. “Egh... dan aku ini siapa?” Tanyaku pasrah.

“Kau adalah Arvie Fheric. Salah satu murid dari Akademi Militer Drench, prajurit tentara Juresh yang memiliki pangkat Jendral di sekolahmu. Kau seharusnya sudah mati karena terkena serangan dari senapan petir, walau tidak seluruh tubuhmu tapi tepat di atas dahimu. Informasi tambahan, gadis yang berada di sampingmu itu Sopie, teman sekelasmu yang berpangkat Mayor Jendral. Dia sudah mengungkapkan perasaan cintanya padamu dua kali dan kau menolak keduanya” jawab Fredy.

Pipi Sopie terlihat memerah. “Informasi seperti itu memang penting, yah?!” kesalnya.

Senapan petir? Nama negara yang tidak kuketahui? Dan orang yang seharusnya sudah mati ini adalah seorang murid dari akademi militer berpangkat Jendral? Aku hanya bisa tertawa geli untuk sekarang.

“Maaf, mungkin ini sedikit melenceng. Nama dunia kita ini, apa?”

Fredy membuka mulutnya lebar-lebar. “Prixym.”

Oke, ini bukan di bumi. Yah, mana mungkin aku bisa menerima fakta itu dengan mudah. Aku sekarang tertawa-tawa sendiri seperti orang gila. Aku menghiraukan Sopie yang terlihat cemas. Lagi pula siapa dia?

Sepertinya, karena aku menantang kalau orang yang memilki fisik sempurna pasti hidup dengan nikmat. Aku mati tersambar petir di dunia asalku, dihidupkan kembali di dalam tubuh orang mati berfisik sempurna ini, seorang murid akademi militer dengan tugas tersulit, di kota yang tidak ku ketahui, di negara yang tidak ku ketahui, di dunia lain yang tidak ku ketahui, di mana teknologi, budaya, dan aturannya sama sekali tidak ku ketahui. Sungguh adil sekali hidup ini.

Melamun sendirian, aku sudah tahu lagi harus berbuat apa sekarang. Rasanya, semua pandanganku terasa kosong. Aku hanya bisa mendengar detank jantungku saja sekarang. Aku ingin menyerah saja dengan hidupku ini. Menyerah? Entah mengapa kata-kata itu membuat suatu perasaan aneh di dadaku, rasanya kata-kata itu membuatku kesal tidak karuan.

Benar, aku sudah muak dengan kehidupanku dan tidak pernah sama sekali merasakan yang namanya kenikmatan hidup, aku belum boleh menyerah sekarang! Karena aku sudah berani menantang yang tidak-tidak sampai mempertaruhkan nyawaku. Akan kujalani sisa hidup orang ini dengan sepenuh hati! Akan kubuktikan kalau aku masih bisa menikmati kehidupanku.

Aku menatap Sopie dengan serius. “Dengar, Sopie. Mungkin Arvie Fheric yang kamu kenal tidak akan pernah kembali lagi. Kamu harus terbiasa dengan—”

Sebelum aku melanjutkan kata-kataku, Sopie menatapku dengan raut mukanya yang penuh kemarahan. “Jangan bicara hal bodoh seperti itu. Ingatanmu yang dulu pasti akan kembali! Dari pada ingatanmu tidak kembali lebih baik kau mati saja.”

Aku menundukan kepalaku, merasa bersalah. “Ma-maaf...”

Sopie terlihat seperti sedang menahan tawanya, tidak tahan lagi dia langsung mengeluarkan tawanya yang menggelegar. “Kenapa?” tanyaku ketakutan.

Sopie mencoba untuk menghentikan tawanya. “Tidak, Arvie yang kukenal pasti sudah memarahiku dengan tegas jika aku mengancamnya. Melihat Arvie yang sekarang malah meminta maaf padaku saat aku mengancamnya...”

Sopie langsung kembali tertawa dengan kencang. Entah kenapa rasanya aku jadi malu sendiri. Sopie mengusap air mata kesenangannya, dan menatapku dengan penuh senyum. “Mungkin, Arvie yang lucu seperti ini juga tidak ada-apa.”

Jantungku langsung berdegup. Apa jangan-jangan Arvie ini sebenarnya juga suka dengan Sopie? Lalu kenapa dia menolaknya hingga dua kali? Yah, itu bukan urusanku. Sebentar, karena sekarang aku akan menjalani kehidupan sebagai Arvie, maka hal itu otomatis menjadi urusanku.

“Baiklah, sekarang aku akan merawat sisa-sisa luka Arvie. Setelah selesai kau bisa pulang ke asramamu, ditemani Sopie tentunya. Untuk Sopie, jangan terlalu memaksakan Arvie untuk mengingat tentang ingatannya yang dulu. Itu berpengaruh pada kesehatan otaknya. Kita hanya bisa berdoa dan berharap ingatannya segera pulih.”

Sopie mengangguk, lalu bertanya, “Apa ada kemungkinan ingatannya tidak akan pernah kembali?”

Iya, karena Arvie memang sudah mati.  Jelas, mana mungkin aku bisa mengatakannya.

Fredy memberikan senyuman hangat pada Sopie. “Walaupun begitu, kau tetap akan selalu mendukungnya, bukan?”

Sopie hanya bisa menundukan kepalanya, entah dia merasa malu atau kecewa atau kenapa aku tidak tahu alasannya. Yang lebih penting sekarang, aku harus mempelajari tentang dunia ini terlebih dahulu.

****

New Hell In Another World Chapter I Ori LN Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Alei Darkhan

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.