28 Mei 2018

When Gamers Come Game World Bab 2 Ori LN



KEJUTAN DALAM CELANA DAN TEMPAT BERNAUNG
(Author : Feri)

Aku mendengar suara kaki menjauh dan mendekat.
Terdengar suara kaki mereka mendekatiku.
"Sudah berapa lama dia tertidur?"
"Sekitar 4 hari. Keadaanya sudah membaik jadi tenanglah"
Aku tahu arah pembicaraan mereka, aku sedang pingsan pikirku.
Aku ingin berteriak bahwa aku tidak apa-apa, tapi aku tidak bisa karena pita suaraku tidak membiarkannya.
"Aku mempunya urusan lain, jadi aku tinggal sebentar"
"Baiklah"
Aku mencoba membuka mataku, mencoba dan pada akhirnya aku berhasil.
Disampingku seorang gadis terlihat sedang duduk menatap ke arah luar jendela.
"Ha-haii..."
Tenggorokanku terasa sakit saat mengeluarkan suara.
Saat mendengarku dia membalik arah dan menatapku dengan wajah bersalah, jadi dia mendekatiku.
"Kau sudah bangun, syukurlah"
"Aku berada dimana?"
"Kau berada di ruang kesehatan sekolah. Ngomong-ngomong maaf dan terima kasih"
Dia menunduk, dari wajahnya aku melihat ketulusan, dia juga terlihat cantik.
"..Ohh, sama-sama"
"Eh, jadi kau sudah bangun,ya"
Di kejauhan pria tua yang kemarin ku temui memanggilku. Yaa, bisa dibilang bukan panggilan hanya sapaan biasa, lupakan itu.
"Benar, dia baru saja bangun"
Gadis di sampingku menjawabkan  untukku, kalau tidak salah namanya adalah Lena. Nama yang bagus.
"Kau tahu, Lena sangat mengkhawatirkan dan mengawasimu setiap saat. Apalagi saat kau mengingau"
"Hehe.."
Aku tertawa kecil sambil tersenyum, itu sedikit membuatku malu.
"AAHHH!! Itu bohong, bohong, bohong!"
Dia ingin membantah bahwa itu tidak benar, tapi dari ekspresinya , dia malah membuatnya seperti benar.
Tuuttt..Tuuttt..Tuuttt..
Tiba-tiba ada suara, suara yang begitu sering terdengar.
Tuuttt..Tuuttt..
Bunyi itu masih berlanjut dan kusadari suaranya berasal dari saku celanaku.
Aku memeriksanya dan memasukkan tanganku kedalam, yang kutemukan adalah smartphone.
"…"
Aku terdiam beberapa detik.
Aku berpikir mengapa aku dapat membawa smartphoneku kemari. Seingatku saat di hutan aku tidak membawa apapun, karena aku lapar aku memeriksa setiap sudut dan tak menemukan apa-apa. Jika benar smartphoneku ada, mengapa tidak rusak saat aku diterbangkan oleh Lena.
"Apa itu?"
Pertanyaan langsung itu langsung memecahkan keheningan, aku juga langsung berpikir jernih.
"Ini... bagaimana ya menjelaskannya"
"Aku tak pernah melihatnya, apakah itu alat sihir?"
"Ah iya.. Ini adalah alat sihir, lihatlah"
Aku memegangnya dan memperlihatkannya pada mereka. Mereka tampak bingung dengan bentuk dan ukuran smartphone ini.
Tadi aku mendapatkan pesan, sepertinya pikirku.
Aku menekan tombol home dan smartphonenya telah nyala, aku melihat terdapat 5 pesan masuk disana.
Kelima-limanya dari pengirim yang sama yaitu X.
Aku membuka pesan dan isinya.
'Hai! Kau sehat disana? Bagaimana kabarmu?'
'Jika kau perlu sesuatu tanyakanlah padaku. Jangan sungkan ya!'
'Oi, balas pesanku. Kenapa diam saja?'
'Oh, iya kau tidak dapat kembali keduniamu yang sebelumnya'
'Satu hal lagi, mari menikmati dunia ini bersama-sama'
***
Suasana sekarang menjadi lebih baik, langit sekarang menjadi senja panas dari matahari membuat diriku merasa hangat dan nyaman.
Di depanku air yang mengaliri sungai terasa sangat tenang, burung yang terbang kesana kemari membawa kerindangan.
Aku sedang duduk ditepi sungai sambil memasukkan kakiku kedalamnya.
"Begini saja sudah cukup"
Aku merasakan bahwa inilah yang disebut hidup, aku merasa terbebas dari semua beban yang kujalani selama ini.
Sebelumnya aku dikirim pesan oleh seseorang, sebut saja dia X.
Aku sama sekali tidak mengerti, siapa dia dan tujuannya. Aku belum membalas pesan dan bertanya sesuatu dengannya. Setelah mendapatkan pesan darinya aku meminta izin kepada Lena dan pria tua tadi untuk mencari angin segar.
"Sudah berapa lama ya??"
Aku bertanya kepada diriku, sudah berapa lama aku pergi.
Aku masih memandangi langit itu, rasanya sangat aneh.
Aku lebih menyukai dunia baruku dari pada dunia ku yang sebelumnya padahal aku sudah tinggal puluhan tahun disana.
***
Cahaya makin melebar, di depanku terlihat sungai yang mengalir air dengan tenang serta penduduk yang melakukan kegiatannya.
Cahaya matahari senja membuat diriku hangat, membuatku merasa rindu dengan masa laluku.
Aku sedang duduk di pinggir sungai, kadang-kadang aku mengambil batu kecil dan melemparkannya ke sungai.
"Bagaimana ya, kedua orang tuaku"
Tiba-tiba aku mengatakan itu.
Terasa berat untukku memikirkan itu, pikiran itu hanya melintas sejenak.
Aku pikir, aku menikmati panorama dunia ini, yang kulakukan sekedar duduk dan bersantai melihat pemandangan indah. Tentang sebelumnya aku tidak ingin memikirkannya lagi.
Aku memasukkan kakiku ke dalam sungai dan rasanya sangat nyaman, airnya hangat sehingga rasanya sangat sempurna.
Kalau di pikir-pikir aku membutuhkan uang untuk bertahan hidup.
Aku mendengar dari Lena jika ingin kerja di dunia ini harus memiliki License Magic.
License magic merupakan tanda pengenal diri yang di sertai status dirimu, sihir dan job yang telah di kuasai.
Jika ingin memilikinya harus lulus dari sekolah sihir, tak peduli sekolah sihir manapun yang penting ada yang menjaminnya.
Aku.. Tidak memiliki License Magic dan juga kemampuan sihir. Bagaimana caraku mencari kerja..
Tapi License Magic lebih condong ke pekerjaan berat seperti Request Board guild.
Request Board adalah permintaan dari semua penduduk kerajaan, mereka banyak meminta permintaan melenyapkan monster tapi biasanya ada permintaan untuk mengawal bangsawan.
Aku tidak termasuk ke dalam dua kategori tersebut, bisa di bilang aku hanyalah penduduk biasa.
Aku tidak memiliki kenalan untuk menjadi pedagang, aku juga tidak pandai berbicara sehingga membuat diriku terlihat payah. Menyerah sajalah.
"Apa yang harus kulakukan?"
Aku mengeluh kepada diriku sendiri, menjijikan sekali.
"Jadi, apa yang kau lakukan dari tadi?"
"?"
Dari jarak agak dekat denganku berasal suara seorang perempuan.
Suara itu agak jelas dan bisa di bilang aku mengenalinya.
Aku membalikan tubuhku dan melihat.. YUP! Tentu saja Lena.
Dia berjalan mendekatiku, aku berdiri dan menemui mataku dengan matanya. Dia tampak cantik seperti pertama kali bertemu.
"..Maaf, aku tadi sedang bersantai sebentar"
"Sudah selesai bukan? Jika iya kita harus segera kembali ke sekolah"
"..Baik"
Pembicaraan kami sangat singkat dan kami bergegas kembali ke sekolah. Aku berjalan di belakangnya dan melihat ke arah langit.
Tidak kupercaya aku sangat mematuhinya setelah dia menerbangkanku. Jujur saja aku tidak terkejut saat dia menggunakan sihir, aku juga tidak terkejut saat melihat monster.
Itu karena aku memiliki mental yang kuat, sebenarnya aku malah penasaran.
Memikirkan semua itu beberapa lama kemudian aku sampai di depan sekolah.
Sesampainya di sana kami menemui pria tua atay ayahnya Lena.
Dia itu pria tua dengan jenggot panjang serta menggunakan tongkat, tentu saja dia beruban dan sedikit menunduk saat berjalan.
"Ayah!"
Serentak Lena melambaikan tangan sambil memanggil ayahnya, dia berlari dan itunya bergelombang, dia mendekati pria tua dan memeluk tanganya.
Sama seperti yang di lakukan perempuan lainya, bedanya ini pertama kalinya aku melihatnya di dunia lain.
Memang tidak penting tapi aku selalu memikirkan apa yang kulihat secara teliti.
Walaupun ini hanya pemikiran biasa dariku, jelas aku menikmati apa yang kupikirkan itu karena aku menyukai diriku sendiri, bukan berarti aku tidak menyukai gadis muda, tapi aku pikir hidupku lebih berarti dan penting dari mereka.
Selama ini aku hanya berperan penting kepada diriku sendiri, jadi wajar saja aku memiliki pemikiran seperti itu, aku tidak pernah di bantu dan aku tidak pernah membantu. Aku selalu sendirian, bahkan saat aku sakit mau tidak mau hanya diriku yang dapat ku andalkan.
Selama ini aku hidup seperti itu, jadi masa laluku lah yang membentuk diriku yang sekarang.
Jika saja aku memiliki masa lalu yang lebih baik, aku pikir aku tidak akan pernah berpikir membantu seseorang itu salah.
Fuu.. Aku menghela nafas, hatiku terasa hancur memikirkan itu.
Di depanku Lena dari tadi terlihat berbisik dengan pria tua itu, aku tidak dapat mendengarnya karena itu adalah bisikan.
"Ini adalah waktunya kami memutuskan!" (Lena)
'Memutuskan?' .. apa maksudnya?
"Sebenarnya aku dan ayah dari tadi merundingkan tentang dirimu. Kau tidak memiliki tempat tinggal bukan? Kalau begitu jadilah murid disini, semua biaya akan di tanggung oleh ayah sebagai balasan terima kasih dan permintaan maaf dariku. Kami juga telah mendengar dari prajurit penjaga batas wilayah, mereka bilang kau tersesat dan ditemukan di hutan. Tawaran ini tergantung pada dirimu, jadi apa jawabanmu?"
".. EH?!"
"Jangan bilang 'Eh' kau tak mendengarku dari tadi?"
"BAIKLAH! AKU TERIMA! AKU MAU!"
Dengan begitu, itulah cerita bagaimana diriku tinggal disekolah. Tapi kenyataannya...
***
"Kita sampai" (Lena)
Lena membawaku ke gedung sekolah, kami berjalan lumayan jauh dan sampai di sebuah ruangan.
"Akan kubuka, lihatlah!" (Lena)
Di depan kami sebuah ruangan kotor dengan barang yang tak berguna, ini di sebut sebagai gudang. Banyak sekali barang yang terbuat dari kayu dan besi, di sana juga terdapat lemari yang sudah usang tapi sedikit bagus dan kasur yang berdebu.
"Jadi. Inikah kamarku?"
"YUP! Tentu saja"
Dia berbicara seolah dia senang melihatku tersiksa, aku merasa kesal dari hati diberikan tempat seperti ini.
Semua orang akan menduga sekolah ini akan berbaik hati kepada siapapun, tapi berbeda denganku. Apa yang ingin mereka tanggung setelah membiarkanku tinggal disini.
"Ini seragam sekolah kita, besok kita akan memulai pelajaran. Beristirahatlah"
Dia  mengeluarkan sebuah pakaian dari tangannya, tidak. Maksudku  sihir, dia menggunakan sihir.
Aku memegang rambutku, 'pikirkan. Bagaimana cara dia mengeluarkannya' aku memikirkan kata itu, terus menerus.
"Eto, bag--"
"Pergi! Beristirahatlah!"
Dengan begitu dia memarahiku, tapi apa salahku?
Dia memberiku pakaian itu, dan berdiri di depan kasur.
Dia merentangkan tangannya ke depan dan tiba-tiba.
Sebuah lingkaran sihir, angin kencang tiba-tiba berhembus.
Aku menyilangkan tanganku di depan wajah, anginnya sangat kencang sehingga penglihatanku agak susah.
"ARGG... hentikan" (Ichigo)
Teriakku, segera dia melihat ke belakang dan menghentikan sihir itu.
"Kau sudah gila?! Untuk apa kau melakukan itu?!"
".. maaf aku tidak menyadari itu, aku ingin membersihkannya. Te-he"
"Ini sama sekali tidak membantu! Sebaiknya melakukan dengan tanganku sendiri"
"H...Hei, aku tidak bermaksud begitu"
"Aku mengerti, kau dapat membantuku dengan menyapu lantai"
"Tapi... aku tidak bisa menyapu"
"?… APA?"
Dia tersipu malu saat aku melihatnya, kepalaku terasa sakit mendengar itu. Bukannya aku ingin melebih-lebihkannya tapi sebutkan padaku, apa susahnya menyapu.
"AH! Aku akan menyuruh pembersih untuk membersihkannya nanti!"
Dia berbicara begitu dengan riang, aku tak tahu maksudnya tapi aku ingin tidur sekarang.
Lupakan aku dapat tidur dengan kondisi apapun, lebih baik aku menyuruhya pergi.
"Aku akan menyelesaikannya sendiri"
Dia melihatku begitu, dia menunduk, aku tahu dia merasa bersalah tapi itu tidak dapat di katakan sebuah masalah bukan.
"Aku maksud, aku akan tidur dengan kain"
Aku melihat kain besar di samping kananku, ku ambil dan ku gelar di kasur kotor tersebut. Setelah selesai aku langsung tidur di kasur tersebut, tanpa bantal dan selimut.
"Begini saja cukup"
"H—HAHAHA!"
Dia tertawa keras, muka ku memerah dan memalingkan wajahku ke arah dinding.
"Kau! Kau benar-benar lucu!"
Dia tertawa dengan keras. Sebenarnya aku tak peduli tapi. Ya sudahlah biarkan.
Dia pergi sambil tertawa meninggalkan ruangan.
Ya.. Akhirnya aku sendirian, aku bangun dan duduk di kasur. Aku mengambil mengambil smartphone dan menyalakannya.  
Jam 19.42 sekarang.. Jadi apa aku harus meninggalkan hari ini sekarang dan pergi tidur.
Setelah membaca beberapa pesan tersebut, aku pikir membalasnya bukan pilihan yang salah.
Aku membuka pesan yang tadi dan membacanya berulang.
Aku menguap dan mengantuk, pada akhirnya aku tidur di kasur...


When Gamers Come Game World Bab 2 Ori LN Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.