13 Mei 2018

When Gamer Come To Game World Bab 1 Ori LN


BUKANLAH AWAL DAN JUGA BUKANLAH AKHIR
(Author : Feri)

"Duh, aku lapar. Sial seharusnya sekarang aku tidur dan bersantai dikamar"
Aku yang sedang kesal dan marah karena ditelantarkan ditengah hutan, tanpa adanya makanan dan minuman serta keberadaanku yang tak kuketahui. Yang pasti aku berada ditengah hutan yang amat luas sehingga tak menemukan apapun kecuali pemandangan hijau.
Aku harus keluar dari hutan ini untuk menghindari serangan monster dan binatang buas .
Benar, monster tadi aku melihatnya. Badanya besar dan berotot seperti manusia tapi bukan manusia bisa dibilang monster itu berada disebuah game RPG yaitu Orc.
Biasanya kalau digame yang kumainkan genre RPG, monster itu hanya sekali tebasan bagiku tetapi kalau dengan fisik dan keadaanku yang sekarang melawannya hanyalah bunuh diri belaka. Yang telah kupastikan aku bukan didunia modernku yang sebelumnya melainkan dunia entah dimana. Yang kuingat terakhir kali aku sedang bermain game FPS dan melawan orang yang sangat ahli. Pada akhirnya aku menang. Dia memberi ku pesan di komputer yang berisi 'Datanglah keduniaku jika kamu tidak keberatan kamu bisa menjadi Dewa disana' seketika semuanya berubah menjadi pohon-pohon dan aku ada dihutan sedang terbaring menatap langit yang cerah.
Kemungkinan bahwa peringkat nomor satu dalam game FPS sebelumnya yang telah kukalahkan yang telah mengirimku kemari.
Awalnya saat aku datang kedunia ini, aku sangat panik bahkan membuat diriku pusing karena cahaya dan panas matahari. Kira-kira butuh berapa lama aku untuk beradaptasi. Beberapa menit kemudian aku langsung terbiasa dan menjelajahi hutan ini, saat menjelajahlah aku bertemu dengan monster itu.
Aku berpikir untuk berjalan lebih jauh untuk menemukan jalan keluar dari hutan ini, hasilnya sia-sia hutan ini terlalu luas untuk manusia yang tidak pernah olahraga.
Tukk.. Tukk.. Tukk..
Saat sedang berjalan aku mendengar suara, seperti suara seseorang sedang menebang pohon.
Aku bergumam 'sepertinya tadi aku mendengar suara. Dari arah sana?'
Aku berjalan mendekati suara yang tadi kudengar. Saat aku sampai, disana seorang pria tua sedang menebang pohon dengan kapaknya yang tua.
Aku menghampirinya dari belakang dan sepertinya dia tidak menyadarinya.
"Permisi kakek, aku ingin bertanya. Apakah ada kota didekat sini?"
"…"
Dia tidak menjawab dan seketika pria tua itu berubah bentuk.. Dia berubah menjadi Orc dan memegang kapaknya dengan mantap. Siapa sangka aku  akan menemukan monster buas disini. Yang tak kuketahui mengapa Orc dapat berubah bentuk dan menyamar.
Kabur atau lawan itulah pilihan yang kumiliki sekarang. Lagipula kedua pilihan itu hanya memberikanku kematian. Jika aku kabur pasti langsung kelelahan dan dapat dikejar oleh monster itu mengingat dia adalah monster dengan tenaga yang besar walaupun kegesitannya kecil. Dan jika aku melawannya pasti tidak akan kuat dan dia juga memegang kapak.
Dari pada melawannya, aku memilih kabur setidaknya persenan ku untuk bertahan hidup lebih besar dari pada melawannya.
Aku berputar arah badan kebelakang dan berlari sekencang mungkin dan dalam beberapa detik aku kelelahan. Berita bagusnya aku meninggalkan Orc itu. Aku bersandar disebuah pohon sambil mengambil nafas terengah-engah karena kelelahan
Fu..Fu..Fu..
Orc yang dikenal sebagai monster untuk level menegah sangatlah mahir dalam bertarung ditambah kekuataannya dan tenaganya yang begitu besar. Monster ini kadang-kadang memberi kesulitan kepada mereka yang melawannya, didalam game yang kumainkan Orc memiliki Health Point yang tinggi dan armornya yang sangat keras, tapi dari tampaknya mereka tak memiliki kecerdasan sama sekali. Itu membuat dirinya mudah dikalahkan. Orc itu tidak pernah berkelompok jadi jika ingin mengalahkannya dengan mudah harus berkelompok. Jika adu jotos 1v1 dengannya itu sedikit mustahil untuk pemula.
"Kau ditahan. Serahkan diri dan jangan melawan atau kami akan memaksamu"
Mendengar ucapan itu aku mengangkat tanganku, aku yang masih menunduk menatap tanah tak melihat asal suara itu. Aku mengikuti kemauan dari suara itu dan setidaknya aku senang bertemu orang karena tadi habis bertemu Orc.
"Jalanlah"
"Ba-Baiklah"
Dalam pikiranku siapa mereka dan apa mau mereka. Aku mengangkat kepalaku, mereka adalah manusia dan memakai pakaian seragam kemungkinan mereka adalah prajurit, yang lebih tepatnya prajurit yang menangkap bocah dengan mengepungnya ditengah hutan.
***
Tak..
Dia menendang kepalaku.
"Siapa dirimu?" Tanya dia kepadaku, kira-kira dia telah bertanya selama 6 kali totalnya.
"Aku bilang aku hanya orang biasa yang tersesat"
"Jangan membodohi kami, cepatlah mengaku atau kami akan menusuk kepalamu"
"Aku tak tahu caranya membuat kalian mengakui kalau aku tidaklah bohong"
Setelah ditangkap aku dibawah kekamp didekat pinggir hutan, setidaknya aku keluar dari hutan dengan selamat tapi kali ini urusannya lebih rumit. Mereka menganggap diriku adalah penjahat yang melarikan diri dari penjara.
Tak..
Dia menendangku untuk kedua kalinya, awas saja jika aku lepas gumamku.
"Jangan pikir kami akan memberi belas kasihan kepadamu dasar penjahat"
Siapa yang kau panggil penjahat prajurit bego? Kau pikir untuk apa aku berbohong mengingat aku tidak tahu dimana ini dan siapa kalian.
Suara kaki mendekat, seorang pria besar dengan baju zirah putihnya yang lengkap menghampiri diriku. Dia bapak-bapak membawa pedang dipinggangnya.
"Itu dia kapter, penjahat yang kita tangkap tapi dia tidak mau mengakuinya"
Sangat pantas aku menyebut kalian semua bego, mana ada manusia atau mahluk di alam semesta ini yang mau mengakui kejahatannya.
Seorang pria besar yang dipanggil kapten tadi mendekatiku dan membuatku gemetaran. Dia jongkok dan berbisik disamping kupingku "Maaf, bocah" itulah katanya.
Dia lalu berdiri dan bertanya lagi "Oi, bocah siapa namamu"
Aku terkejut dan langsung memberikan namaku sebagai balasannya. "Na-nama? Oh, namaku Ichigo, kapten"
"Begitu ya, hei kau kesini lepaskan dia"
Mendengar itu aku langsung senang dan mataku berkilau layaknya berlian, dan langsung saja prajurit yang tadi menangkapku mendekati kaptennya.
"E-eh mengapa kapten?"
Dia bertanya dengan wajah kebingungan, dan kapten dengan wajah marah memukul kepalanya. Aku tertawa dan memberikan wajah mengejek kepadanya.
"Yang kita cari itu adalah pria tua berumur 39 dan bernama Jimir, dan bukanlah seorang bocah. BEGO!"
"Benarkah? Maaf kapten aku tidak mengetahuinya" sontak dia mengambil pisau belati dan melepaskan ikatan tali yang dari tadi menyiksaku.
Disitu aku merasa kebebasan, tanganku sedikit sakit karena tali yang diikatkan padaku sangat kencang. Aku membuka mulut dan berkata "aku bilang aku bukan penjatah, aku hanya orang biasa yang tersesat berapa kali harus kukatakan. Sepuluh kali, tidak dua puluh kali? Tidak tiga puluh kali? Agar kau mengerti "
"Diamlah bocah, kami mengerti. Maafkan bawahanku atas tindakanya yang ceroboh, akan kuberi hukuman dia nanti"
"Aku harap kau memberinya hukuman berat"
"Baiklah, aku mengerti. Kami akan pergi kekerajaan bocah, kau ingin ikut dengan kami?"
"Benarkah? Kalau begitu aku ikut"
Dia menawarkan tumpangan kepadaku atas permintaan maafnya. Sepertinya.
"Kau berasal dari mana, sepertinya kau sedikit aneh dengan pakaian dan namamu?"
"Entahlah, sepertinya bukan dari dunia ini"
"Kau sendiri tidak tahu asalmu?"
Yaa, itu sangat kacau tidak mengetahui tempat tinggal sendiri. Sebenarnya manusia sepertiku tidur dibawah pohon saja sudah cukup tapi untuk makanan agak menyulitkan diriku tinggal dialam bebasr dan aku telah mengetahui ancaman bahaya dari binatang buas dan monster. jadi untuk itu aku butuh tempat tinggal dan makanan yang secukupnya.
Aku memikirkan apa yang akan kukerjakan dikerajaan nanti. Aku telah mempunyai pilihan, karena ini dunia seperti zaman medieval. Mengumpulkan kayu bakar, tanaman herbal, dan juga membantu orang-orang berjualan. Tapi untuk mengumpulkan kayu bakar dan tanaman herbal masih ada resikonya seperti bertemu monster, meski begitu tidak terlalu berpengaruh karena jika bertemu aku akan melarikan diri sekencang mungkin. Yang penting sekarang adalah bertahan hidup didunia ini dan lupakan masa lalu. Aku adalah manusia paling cepat beradaptasi tak peduli apa yang terjadi sekarang yang penting aku dapat hidup kalaupun aku mati itu adalah takdirku  dan kata beberapa orang takdir itu tidak dapat dihindari
***
Memasuki gerbang kerajaan, kereta penjaga berhenti.
Aku mengucapkan rasa terima kasihku kepada kapten yang telah memberikanku tumpangan gratis. Aku juga bertanya pekerjaan apa yang pantas untukku saat diperjalanan.
Salah satu prajurit menyarankanku untuk pergi kesekolah sihir yang berada dipusat kota dan mendaftar disana. Katanya sekolah itu memiliki ikatan dengan guild terkenal sehingga mudah mendapatkan uang disana.
Dengan begitu aku berjalan kearah guild sambil memikirkan berapa pengeluaranku untuk sebulan tinggal disini.
Saat melewati pasar aku melihat transaksi yang masih menggunakan uang koin berbasis perunggu, perak, logam, emas, platinum, dan lainnya. Tidak jauh berbeda dengan game RPG yang kumainkan.
Brugghh...
"Aw"
Aku menabrak seseorang dan dia adalah seorang gadis yang sedang membawa buku. Dia terjatuh dan bukunya berserakan. Aku membantunya bangun tapi dia membuang tangannya dan bangkit sendiri, aku jongkok dan membereskan buku yang ia bawa. Kira-kira ada 4 buku yang dia bawa.
Saat aku berdiri mataku menatap dengan matanya. Cantik... itulah kata yang kupikirkan saat itu. Rambutnya yang pirang madu dan matanya yang biru langit membuatku terpesona.
"Dasar, apakah kau buat?" Ujarnya sambil memberikan wajah masam.
Mataku melihat kesekeliling dari yang kulihat semuanya menghindar dan menjauh dari konflik yang kubuat.
"Maafkan aku, aku tidak melihatmu"
Aku membawa buku yang telah kususun tadi, setelah itu aku memberikan kepadanya sambil memberikan senyuman tipis padanya.
"Ini" seruku sambil memberikan
Dia mengambilnya dan pergi begitu saja. Melihat tingkahnya yang lucu membuat kesanku padanya sangat baik.
Saat ingin melanjutkan perjalananku tak sengaja aku melihat salah satu buku masih tergeletak dijalan. Buku dengan judul yang tak bisa kubaca. Jangan-jangan ini buku gadis yang tadi pikirku.
Aku yang berniat menuju sekolah menghilang karena gadis tadi. Aku harus menemukannya segera sebelum kehilangan jejaknya. Buku yang indah berwarna merah kehitaman.
'Kemana arahnya dia pergi ya?' Gumamku
Aku melanjutkan perjalanan sambil melihat kesana kemari, yang mungkin dapat menemukan gadis tadi. Aku menelusuri kerajaan yang sangat indah ini. Kerajaan ini tertata rapi dimulai dari dekorasinya yang sangat indah dimulai dari jalanan berbatu dan pondok-pondok kecil ditepi jalan, rumah-rumah dengan corak yang indah.
Tak lama setelah berjalan aku sampai kepusat kota dan dari situ sangat mudah mencari sekolah sihir karena besarnya sekolah itu, aku melihat gedung besar pasti itu yang dimaksud prajurit tadi. Aku melihat kedalam dan rasanya agak sepi untuk sekolah terkenal.
Ahh, dari jauh aku melihat tukang kebun. Aku menghampirinya dan bertanya.
"Hallo, apakah anda tidak keberatan jika aku bertanya?"
Dia berputar balik dan menatapku sambil mmeberikan senyuman kecil. Dia memegang gunting kebun dan memakai baju yang agak kusam.
"Silahkan tuan muda"
"Tidak perlu memanggilku begitu. Ini mengenai pendaftaran sekolah"
Dia tertawa melihat diriku yang begitu baik hati. Lagipula aku cuma rakyat biasa yang kehidupan seharinya bermain game dan juga suka bermalas-malasan. Sangat tidak dipantas tuan muda bukan.
"Ehmm, aku sedang mencari tempat pendaftaran disini apakah anda mengetahuinya?"
"Oh, itu. Hari ini para murid dan guru melakukan tes sihir di arena pusat kerajaan didekat istana raja"
"Jadi bagaimana caranya aku untuk mendaftar disekolah ini?"
"Mungkin dia dapat membantumu"
Dia menunjukkan jari telunjuknya kearah gerbang, mataku mengikuti apa yang dia tunjuk.
Beberapa saat kemudian datanglah seorang gadis sedang berlari. Dia adalah gadis yang tadi, saat sedang berlari aku melihat kedua dadanya bergelombang, hmm sangat perfect.
"Ayah aku tid-"
Dia tidak melanjutinya dan memberi wajah kesal kepadaku.
Jadi pria tua ini adalah ayah dari gadis ini. Mungkin suatu hari nanti dia akan menjadi mertuaku.
Setelah gadis itu menghampiri kami berdua dia tersenyum dan memeluk pria tua itu. Sangat lucu dan manis, apakah salah jika aku menilainya begitu?
"Ayah, mengapa ayah berbicara dengan orang asing?" (Gadis)
Kejam, kejam banget.
"Bagaimana kalau dia orang aneh yang mau berbuat macam-macam" ujar gadis itu.
Segitu bencinya kah dia kepadaku.
"Tenanglah Lena ayah tidak merasakan aura jahat dari dia"(Pria tua)
Jadi, namanya adalah Lena. Nama yang bagus dia juga cantik dan seperti tampaknya ia pintar. Jika dia ada dijepang sudah pasti dia akan menjadi Idol Star yang sangat terkenal.
"Ayah, aku membawakan apa yang ayah minta"
Dia menjulurkan tangan kanannya, dan muncul sebuah lingkaran dengan cahaya. Muncul buku-buku. Itu adalah buku yang tadi kususun tadi totalnya ada 4. Kalau tidak salah dimeninggalkan satu dan aku masih membawanya. Aku akan mengembalikannya.
"Apa itu? Tanyaku sambil menunjukkan wajah kebingungan.
"Ini? Ini adalah buku yang berisi tentang sihir dan kerajaan ini, kenapa?"(Pria tua)
Oh, jadi yang tadi itu dapat disimpulkan adalah sihir. Aku tidak terlalu terkejut dengan hal itu, wajar saja jika da yang namanya monster berarti ada yang namanya sihir.
"Tapi ayah. Aku menghilangkan satu buku. Bu-buku ke-ke-keluarga kita"(gadis)
"Apa yang kau maksud ini?"(Ichigo)
Aku langsung mengangkat buku yang tadi dia maksud, dia terkejut saat melihat buku itu denganku. Wajahnya senang dan lucu. Dia mendekat dan berkata " bagaimana kau mendapatkannya?"
"Yaa, tadi saat kita bertabrakan kau menjatuhkannya dan saat ingin kukembalikan kau telah pergi entah kemana".
"Sudah kuduga" katanya sambil memegang dagunya.
"Oh, jadi begitu. Terima kasih banyak, aku sangat panik tadi dan aku minta maaf atas kejadian sebelumnya"
Dia membungkuk dan memberikan hormat kepadaku. Wajahku memerah karena malu, dia juga tersenyum.
Aku menunduk kemaluan. Oh, iya. Aku mengangkat kepalaku karena teringat sesuatu.
"Jadi kakek bagaimana caranya aku masuk kesekolah ini?" Tanyaku. Aku melanjutkan topikku mengenai sekolah.
"Itu mudah, sekolah ini memberikan pelajaran sihir, cara bertarung, dan juga pembelajaran materi yang berkualitas. Banyak bangsawan dari berbagai kerajaan kemari untuk mempelajari ilmu sihir disini dan kebanyakan dari mereka 99,99% adalah bangsawan dan hanya ada 00,01% kemungkinan untuk rakyat jelata"
Oi,oi itu bukan lagi yang namanya mudah. Apakah itu yang namanya kesempatan? Itu berarti tidak ada rakyat jelata disekolah sihir ini. Sambil memikirkannya aku melihat kearah fasilitas sekolah , memang hampir semuanya lengkap tapi kesempatan itu bukan untuk orang sepertiku.
"Apa kau juga murid disini?" Tanyaku pada Lena.
"Iya" dia menjawab dengan nada reflek.
"Bukankah kata ayahmu ada tes sihir sekarang. Mengapa kau tidak mengikutinya?"
"Itu tidak berlaku untuk seseorang yang telah diakui sihirnya"
"Itu berarti kau sangat kuat"
"Bisa dibilang begitu"
Saat sedang memikirkan itu aku tiba-tiba teringat sesuatu lagi. Menjadi seorang tukang kebun pikirku. Aku tak masalah menjadi apa saja asalkan ketahanan hidupku dipenuhi dan mendapatkan uang.
"Kakek apakah kau dapat menjadi tukang kebun sepertimu?"
"APA, TUKANG KEBUN? Beraninya kau menghina ayahku!"
Eh, kenapa dia marah? Mukanya memerah bukan karena malu tetapi marah. Dia kelihatan sangat marah saat aku menghina ayahnya tapi bukankah itu kenyataanya.
Suara aneh keluar dari mulut Lena dan dia bergerak sedikit kearahku.
"SHOCKWAVE!"
Seketika aku seperti dihantam oleh angin berkecepatan tinggi. Aku melayang menjauh dari mereka berdua dan membentur...
BRUGGHH..
Pohon.

When Gamer Come To Game World Bab 1 Ori LN Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

4 komentar:

  1. Masih ada beberapa typo...tpi ceritanya keren

    BalasHapus
  2. 1.Daripada pakek kata bego mending pakek kata bodoh
    2.Kenapa malah langsung pergi kesekolah bukannya cari uang dulu buat daftar sekolah kecuali daftarnya gratis
    3.Terus kata "Aku menunduk kemaluan" bukanya lebih enak ditulis aku menunduk karna malu
    dan maaf kalau merasa aku sok menggurui

    BalasHapus
  3. @freya-sama
    ini novel pertama saya jadi maaf jika ada kesalahan.

    yang pertama mengapa saya pakai kata bego, karena kata bego lebih sering digunakan jadinya lebih praktis.

    kedua mengapa pergi kesekolah, karena dia kan mau ngembaliin buku yang tadi jatuh dan dia sitokoh utama mengira itu buku punya cewe yang tadi jadinya begitu.

    yang ketiga mengapa kata saya memakai kata" Aku menunduk kemaluan" karena lagi pakai tehnik analithik jadinya lebih tepat yang itu, memang kalimatnya rumit tapi kalau pakai 'aku menunduk karena malu' lebih tepat ke tehnik dramatik.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.