19 Maret 2018

Only Sense Online Jilid 5 Bab 5 LN Bahasa Indonesia


BABAK FINAL DAN MATA LANGIT
(Translater : Hikari)

Babak final akan dimulai lagi setelah semua orang kembali fokus. Flein tiba-tiba menyerbu masuk dan membuat pernyataan mengenai area yang dikuasainya, dan kemudian memprovokasi para player lalu pergi.
Flein sendiri tidak melihat keuntungan dalam kemenangan PvP dan sepertinya hanya ingin mengumpulkan para player di area ini untuk menjadi mangsanya. Begitulah penilaianku berdasarkan pertemuanku dengan para pelaku PK sejauh ini. Akan tetapi, suasana yang menyelimuti Fosch Hound dan Flame Prison Corps terlihat berbeda. Mungkin saja, pernyataan tersebut berasal dari Flame Prison Corps, atau Flein sendiri. Aku penasaran.
"Hei, aku ingin makan kue itu. Boleh tidak?"
"Kalau begitu, sebagai gantinya…"
"Hmm. Jadi ternyata sasaranmu adalah si Kuda Hitam itu? Atau mungkin kita sebaiknya bertaruh 10kG?"
"Jadi naik tujuh ribu kali lipat, ya?"
Saat kami menunggu babak final dimulai, semua orang melakukan apapun yang mereka sukai. Pergi ke stan untuk membeli kue dan makanan, bertukar jus. Juga, meskipun ada terlalu banyak orang yang melakukannya di babak kualifikasi, bertaruh atas player adalah hal yang diperbolehkan oleh Crafting Guild di babak final.
Bahkan sekarang, nama-nama para finalis terpampang di layar besar dengan jumlah uang yang dipertaruhkan pada mereka.
Taku, Sei-nee, Lucato, Toutobi, Mikadzuchi. Di antara kelima kenalanku yang tersisa, para penyerang garis depan seperti Taku, Lucato, dan Mikadzuchi adalah yang difavoritkan. Penyerang jarak jauh, Sei-nee dan Toutobi si penyerang gerilya diyakini lemah dalam pertahanan dan serangan, jadi tidak disertakan dalam kandidat para pemenang.
"Yun-san, Emily-san, jangan membuat ekspresi segelap itu!"
"Itu benar. Ayo membuat prediksi bersama-sama."
Raina dan Al telah membiasakan diri mereka dengan tempat ini. Mereka mengajakku dan Emily-san untuk bertaruh.
Padahal, kami sedang mencoba melarikan dari kenyataan…
"Mau bagaimana lagi. Tapi, aku tidak berniat bertaruh terlalu banyak."
"Aku tidak tertarik, tapi…"
"K-kalau begitu! P-prediksimu saja! Bagaiman dengan prediksimu?"
Mereka berdua dengan cepat menoleh menatap layar taruhan.
Di layar pertaruhan, ada berbagai macam taruhan. Dari taruhan standar tentang siapa yang akan menjadi juara pertama sampai ketiga, selain itu ada juga pertaruhan untuk memilih lima player yang akana memasuki lima peringkat pertama. Ada banyak pilihan.
Kemungkinannya tergantung pada rumor mengenai player tersebut dan reputasinya, tapi ada juga orang yang memilih taruhan yang stabil dan mereka yang memiliki kemungkinan rendah. Orang-orang berinvestasi sebagai hadiah ucapan selamat untuk saudara dan kenalan mereka, menyemangati mereka dengan membuat taruhan dalam jumlah kecil untuk mereka.
Juga, mereka membuat pertaruhan dalam jumlah besar atau membagi resikonya dengan bertaruh atas banyak player…
"Aku akan bertaruh untuk Sei-nee. Juga, untuk kuda hitamnya, aku akan bertaruh semua orang kalah."
"Bertaruh untuk saudara, ya. Yah, kurasa itu masuk akal. Tetap saja, kekalahan semua orang juga dipersiapkan sebagai lelucon, bukanlah mereka yang dengan multiplikasi tujuh ribu kali lipat."
Yah, untuk seorang saudara, itu adalah hadiah ucapan selamat, tapi selain itu aku juga tidak berpikir bahwa orang lainnya akan kalah adalah hal yang mustahil juga. Ada beberapa mage secara keseluruhan, tapi bila seorang mage menggunakan sebuah mantera untuk pemusnahan di area yang luas, mereka bisa terkena serangan balasan langsung dan kerusakan tambahan, juga dikalahkan.
"Oh ya ampun, bukankah kau akan memberi selamat pada Taku, teman sejak kecilmu?
"Ugh, Minute. Juga Hino, Kohaku dan Rirei. Haah. Mau bagaimana lagi. Kalau begitu, Lucato dan Toutobi, Mikadzuchi dan juga Taku, sebagai hadiah ucapan selamat untuk mereka."
"Mufufu, Yun-san benar-benar tidak jujur."
"Dengan bertaruh untuk semua orang, kau menyembunyikan fakta kalau kau sedang menyemangati Taku-san. Tapi tetap saja, kau tidak bisa menipuku."
Ahahaha, tidak dapat menahan tatapanku, mereka bertiga tertawa kering. Aku menghela napas.
"Nah sekarang, untuk tongkat moderator babak final diserahkan dari Cloude padaku, Magi!"
Persiapan babak final PvP pastinya telah selesai karena Magi-san berdiri di atas panggung dan sekali lagi, dia menjelaskan peraturan babak final, menarik perhatian semua orang.

"Untuk aturannya, meksipun penggunaan item penyembuh dilarang dalam babak kualifikasi untuk mencegah kebosanan, mulai sekarang ada pelepasan sebagian aturan item penyembuh! Meski begitu, kalian tida perlu khawatir! Kalau kalian melihat seorang player menggunakan sebuah item penyembuh, kalian bisa mencegah mereka! Untuk item penyembuh yang bisa digunakan, tidak peduli apa jenisnya, kalian bisa menggunakannya sampai 10 buah. MP Potion dihitung secara terpisah! Apakah kau menggunakan potion dengan jumlah penyembuhan yang tinggi, pil yang sulit dicegah untuk dicerna, semuanya tergantung kalian!"

Magi-san menyelesaikan penjelasan singkatnya, lalu memulai hitungan mundur.
"Hitungan mundur, 3, 2, 1——pertarungan dimulai!"
Pada saat yang sama dia mengayunkan tangannya ke atas, para player yang telah memenangkan pertarungan ke babak final, mulai berlari saat itu juga.
Tiga puluh player yang tersisa mulai bertarung dengan senjata-senjata di tangan mereka.
Sei-nee memulai pertempurang dengan mage tipe api. Dampak dari benturan sihir mereka menyebar ke sekelilingnya, menciptakan sebuah situasi di mana tidak ada seorang pun yang dapat mendekati mereka.
Taku dan Toutobi memasuki duel mereka sendiri. Mereka begitu sibuk di sekitar arena. Toutobi mencoba menyerang dengan kecepatan dan banyaknya jurus, sementara Taku terus membalas sambil melindungi dirinya sendiri.
Meskipun dia lebih lambat dibandingkan dengan Toutobi, Taku terus menghindar berkat skill dan Sense pertarungannya, mati-matian bertahan.
Hanya melindungi titik-titik vitalnya, Taku mendapatkan sejumlah kecil cedera. Toutobi yang memiliki tingkat pertahanan yang rendah, menutupinya dengan menghindar. Myu dan yang lain menyoraki mereka berdua.
Dalam pertempuran mereka berdua, mereka seimbang.
Toutobi bergerak secara horizontal seperti seorang ninja yang meloloskan diri dari penglihatan Taku. Tidak dapat mendarakan sebuah serangan pada Toutobi, Taku melepaskan sebuah hujaman tajam dengan pedang tajam di tangan kanannya. Gadis itu menghindar dengan meliukkan tubuh dan memasuki bagian bawah Taku untuk memanfaatkan kesempatan menyerang balik.
"Naif!"
Taku menahan serangan Toutobi dengan pedang di tangan kirinya dan mendorongnya paksa.
Menggunakan pedang di tangan kanannya dia pun menyerang sementara pedang di tangan kirinya untuk bertahan. Dia menghentikan belati Toutobi dengan memanfaatkan perbedaan jangkauan jarak mereka.
Terkadang, ada player yang memasuki pertarungan mereka berdua, tapi tidak dapat menyamai perkembangan serangan dan pertahanan mereka. Player-player itu juga adalah player dengan level tinggi, tapi kedua orang itu lebih kuat beberapa tingkat.
"…kalau begitu, ayo naikkan kecepatannya lebih jauh. —— AttackSpeed."
"Kalau begitu, aku akan meminjam kekuatan lebih untuk menang juga. —— AttackSpeed."
Toutobi dan Taku mencengkeram sesuatu dan menggunakannya. Aku kenal akrab dengan item tersebut yang berubah menjadi partikel-partikel cahaya setelah digunakan.
"Keduanya menggunakan Enchant Stones."
"Jadi ada orang-orang di antara kenalan Yun-kun yang menggunakan itu."
Batu-batu yang dijual di Atelier ——Enchant Stones. Keduanya menggunakan enchant yang semakin meningkatkan kecepatan dan kekuatan mereka
Dalam pertarungan yang tidak berkembang jauh itu, sebuah perbedaan tipis dalam stats mereka pun muncul.
"HAaAaaaa!"
"YAAaaaa!!"
Bersamaan dengan teriakan itu, mereka berdua mulai berlari.
Menangkap Toutobi yang tidak pernah berdiri di satu tempat dan menekankan pada kecepatan adalah hal yang sulit. Dengan kekuatannya yang ditingkatkan, satu serangan tunggal Taku menghancurkan tanah.
Taku terus melindungi dirinya sendiri, tapi ujung belati itu sering menggores tubuh dan cederanya bertambah banyak.
Taku dan Toutobi meneruskan pertarungan saling menyerang antar mereka sendiri dalam serangan dan pertahanan yang begitu cepat. Mereka bergerak ke tepi lokasi tertentu dan pergerakan mereka terhenti.
"Tobi-chan! Tempat itu…!"
Sebelum suara Myu bisa mencapai mereka, api dan es bertubrukan di lokas di mana Taku dan Toutobi berada, menelan mereka berdua.
"U-uaghhh——"
"AAHhhh!"
Serangan sihir tingkat lanjut melahap tidak hanya Taku dan Toutobi, tapi juga beberapa player lainnya.
"Tanpa disadari, mereka memasuki lokasi di mana para mage sedang bertarung. Sayang sekali."
Kekalahan beruntun Taku dan Toutobi adalah karena mereka terlalu bersemangat untuk menyadari bahwa mereka memasuki jangkauan serangan para mage. Meskipun aku merasa itu sangat disayangkan untuk pertarungan kedua orang itu, aku menoleh ke arah pertempuran Sei-nee dengan mage lainnya.
"Sekaranglah waktunya! Ayo bertarung dengan posisi mage terkuat sebagai taruhannya!"
"Padahal aku tidak terlalu tertarik dengan hal-hal seperti posisi terkuat."
Dengan ekspresi miris di wajahnya, Sei-nee mengangkat tongkatnya, menciptakan banyak peluru-peluru air dan tombak-tombak es.
Lawannya memegang sebuah buku besar di tangannya, mengaktifkan sihir dengan cara yang sama.
Di sekeliling mereka di mana orang-orang telah menarik diri, terbentanglah rentetan serangan sengit api dan es.
Sihir dari mereka berdua saling meniadakan satu sama lain dan dampaknya menyapu arena itu. Mereka menggunakan sihir pertahanan, gangguan dan tipuan. Mereka berdua sama-sama akrab dengan batasan dan pengaturan waktu, terus melancarkan permainan sihir tingkat lanjut selama MP memungkinkan mereka untuk melakukannya.
Akan tetapi, Sei-nee perlahan mendapat keuntungan.
Jumlah MP yang tersisa, jumlah sihir yang menunggu dalam keadaan siap, kekuatan sihir yang diberikan oleh sumber eksternal dari enchant, juga termasuk jumlah sihir tingkat tinggi yang dilancarkan.
Dalam setiap hal ini dia hanya sedikit lebih tinggi, dan ketika semuanya dikumpulkan, itu mencapai tingkat di mana hal tersebut tidak bisa diabaikan.
Dan, akhir dari permainan sihir mereka berdua pun tiba. Sihir Sei-nee menembus satu demi satu, kemudian sisa sihirnya membanjiri lawan, menghasilkan sejumlah besar serangan berantai.
Pada dasarnya, para mage memiliki pertahanan yang lemah dan kemampuan serangan mereka itu mematikan. Kompensasi dari pertarungan antar mage tingkat tinggi itu mahal.
Penyusutan MP dan waktu jeda sampai aktivasi skill sihir yang lainnya. Player di sekitar menghadapi daya rusak dari mage tingkat tinggi, bergerak untuk mencegahnya memulihkan diri dengan item. Sei-nee memasuki puncak dari pertempuran.
"…Aku kembali."
"Selamat datang kembali, Tobi-chan! Barusan itu hampir saja! Tetap saja, ternyata kau jadi begitu antusias sampai bersuara lantang seperti itu!"
Saat Myu dengan senang menyambutnya, Toutobi mengingat kembali dirinya telah bersuara sekeras itu saat dia menyerbu Taku dan wajahnya menunduk karena malu.

Semuanya mengucapkan kata-kata pujian untuknya, tapi aku tidak bisa melihat sosok Taku yang seharusnya kalah bersama dengan dia.
"Dan Taku?"
"…dia tidak bersamaku. Tapi, kami tewas di saat yang bersamaan."
Untuk sekejap, Toutobi memperlihatkan ekspresi frustrasi, berhenti sesaat, kemudian berkata.
"…itu tidaklah pasti, tapi pergerakannya terlihat seakan dia bertujuan untuk mengarahkanku ke tempat itu bersama dengannya. Pada akhirnya, Taku-san berhasil mengikuti kecepatanku…"
Saat Toutobi bergumam demikian, aku membelalakkan mataku. Dan pada saat yang sama, Taku yang seharusnya sudah jelas tewas, kini terlihat di layar besar itu.
Percakapan Taku dan Lucato dapat terdengar dari layar itu.
"Kau barusan ada di tengah-tengah benturan sihir itu bersama dengan Tobi-san, bukan?"
"Ya, memang. Tapi aku sudah mempersiapkan item penyembuh untuk hari ini dan dapat melanjutkan pertempuran."
"Haa, liciknya. Kau membuat Yun-san menjadi rekanmu dan mendapatkan Revival Medicine, 'kan."
Sementara Lucato dan Taku memposisikan senjata mereka melawan satu sama lain, kata-kata yang terucapkan begitu saja itu menyebabkan kegemparan pada para penonton.
Dan untuk alasan tertentu, yang terpampang di layar itu adalah kami, yang sedang duduk di kursi penonton. Hei——ehh?‼
"H-heii! Kenapa kalian memunculkanku di layar?! Aku tidak ada kaitannya!"
"Inilah Yun-kun, si pencipta baru dari Revival Medicine yang juga menghiasi upacara pembukaaan!!"
Saat suaraku bergema dua kali, Magi-san menimpalinya.
Agar tidak terlihat, aku menurunkan kepalaku, tapi Myu, Minute, dan yang lainnya juga muncul di layar malah melambai menarik perhatian orang-orang.
"Ayolah, hentikan itu."
Setelah beberapa saat, hal itu berakhir dan sekali lagi pemandangan di layar berubah ke Taku dan Lucato.
Mereka berdua yang tidak memiliki hal tertentu untuk dibicarakan, menutup jarak di antara mereka dalam sekejap.
Jalur lintasan lengan antara Taku dan Lucato semakin menghebat. Akan tetapi, Taku yang terbiasa dengan kecepatan Toutobi, dengan mudah membalas serangan Lucato dan menyebabkan cedera.
Taku si pemegang dua pedang panjang dan Lucato si pengguna bastard sword. Sejauh ini Lucato tampaknya memimpin, tapi karena pemilihan waktu dampak serangannya meleset, itu menjadi perbedaan yang dapat diabaikan. Kecepatan Taku lebih tinggi. Dengan mereka berdua yang tidak menggunakan Art apapun, perbedaan dalam skill di antara mereka menjadi terlihat jelas. Sementara itu, Myu menunggu sesuatu dengan senyum lebar.
"Myu?"
"Tidak apa-apa. Luka-chan itu kuat."
Dalam sekejap, Taku melepaskan serangan tercepatnya untuk mengakhiri pertarungan. Lucato menghindari serangan beruntun dari si pengguna dua pedang itu dengan jarak tipis dan dengan cara yang sama dia menebas secepat yang dia bisa.
"Ya‼ sudah diputuskan dengan serangan balasan Lu——?!"
Seperti yang diduga Myu, itu berakhir dengan serangan balasan, tapi Taku melampauinya.
Dia melepaskan pedangnya kemudian mencengkeram gagangnya kembali di tengah udara dengan cara menggenggam terbalik. Dengan aksi aerobic dan genggaman terbalik pada pedangnya, dia menangkis serangan Lucato, kemudian melanjutkan gerakannya seakan menangkapnya. Dia menghujamkan pedang panjang yang dipegangnya secara terbalik ke bahu gadis itu.
Serangan tersebut memastikan tamatnya Lucato. Yang tersisa di pertempuran adalah Sei-nee yang telah bertahan tapi dalam keadaan terjepit karena MP-nya yang menyusut dan jeda waktu melancarkan sihir, terkunci dalam pertarungan antar anggota Eight Million Godsdengan Mikadzuchi yang masih memiliki kelebihan kekuatan.
Sei-nee menggunakan semua MP-nya yang tersisa untuk menciptakan rentetan serangan air dan es, melepaskannya dengan momentum yang kuat saat mendekati Mikadzuchi.
"Sei! Bukannya kau terlalu tegang! —— Airway Stick!"
Menanggapi, Mikadzuchi memicu sebuah Art yang telah dipersiapkannya, mengenai sejumlah kecil sihir yang diperlukan.
Akan tetapi, sihir yang dilancarkan itu, terkirim ke arah Taku yang sedang beristirahat sampai kedua orang itu menyelesaikan pertempuran mereka.
"Woah, bahaya?!"
"Bagus, Sei-nee! Kalahkan Taku!"
"Hei, Sei. Apakah Nona sedang menyemangatimu? Atau dia punya dendam dengan si bocah Taku?"
"Itu, menyembunyikan rasa malunya."
Mereka berdua mengobrol singkat, kemudian kembali fokus pada pertarungan.
Kalau Sei-nee tidak membiarkan Mikadzuchi mendekat dengan menggunakan rentetan sihirnya, dia menang. Sebaliknya, kalau Mikadzuchi mendekati Sei-nee, dia yang menang. Itulah situasi mereka saat ini.
Sei-nee menembakkan serangan sihir beruntung dan Mikadzuchi menghempaskkannya menjauh.
Mikadzuchi dapat terlihat mengumpulan sejumlah kecil cedera yang saat terkena serangan ketika ada celah kecil dalam pertahanannya setelah mengaktifkan Art, sementara itu Sei-nee mengalami kesulitan karena pemakaian MP yang begitu banyak.
Pertarungan keduanya berakhir ketika detik-detik singkat ketegangan setelah pengaktifan Art. Tidak melewatkannya, Sei-nee menggunakan sihir tingkat lanjutan yang sudah siap sedia, membuat situasi di mana Mikadzuchi tidak bisa melindungi dirinya sendiri.

Yang tersisa adalah Sei-nee dan Taku.
Semua peserta lainnya telah mundur.
·
"Hei, Taku-kun. Bukannya kau tadinya sudah menyerah untuk menang?"
"Apa yang kau bicarakan? Setelah semua kesulitan mempertahankan diriku dalam berbagai cara untuk ini."
Saat Taku berkata demikian sambil berlarian ke sana ke mari, aku menyadari bahwa tindakannya yang fokus dalam menghindar adalah sebuah strategi mantap untuk kemenangan.
Dan bagi para penonton yang ingin melihat pertarungan PvP, itu sudah lebih dari cukup untuk mengolok-olok dia.
Dari seluruh penonton, berdatangan suara-suara ejekan yang mengatakan hal-hal seperti "Itu licik! Bertarunglah secara adil dan seimbang!" dan juga tawa tertahan. Menanggapinya, Taku——
"Siapa yang peduli selama aku menang."
Menahan tawanya seperti para penonton itu, dia menjawabnya. Tidak, akan lebih baik jika dia mengatakannya tanpa terlihat seakan dia hampir tertawa. Itu menghancurkan suasana di area ini.
Selain itu, "Riajuu meledaklah!" "Berteman sejak kecil dengan tiga bersaudara yang cantik itu, kalah sajalah kau!" ejekan yang dipenuhi dengan kecemburuan juga terdengar. Tunggu sebentar, aku ini laki-laki.
Taku menerima cemoohan yang berisi kecemburuan itu dengan tawa dan seulas senyuman. Di sisi lain, sorakan untuk Sei-nee umumnya terdengar positif.
"Berjuanglah!" "Sebagai mage yang kurang diuntungkan, incarlah kemenangan!" "Jadilah harapan kami!"
Dan di antara sorakan yang menghangatkan hati itu——
"Nikahi akuuuu!" "Bagaimanapun juga, jadilah istriku!" "Aku cinta padamu!"
"Umm, tolong lepaskan aku!"
" " "Terima kasih banyak!" " "

Para pria yang berujar semacam itu, dengan segera dihajar habis-habisan oleh player di sekitarnya. Kebetulan, Myu juga mulai memutar-mutar bahunya, melakukan pemanasan.
Aku akan kembali. Hei, apa yang akan kau lakukan?! Aku menangkapnya dengan tanganku untuk menghentikannya. Hino, Kohaku dan yang lainnya juga menenangkan dia.
Pada akhirnya, perlu waktu sampai sorakan-sorakan itu mereda.
Sementara itu, Sei-nee memulihkan HP dan MP-nya hingga penuh dengan item dan Taku mengganti equipmentnya.
"Taku-kun, bukannya kau bisa mengincar saat aku sedang memulihkan diri?"
"Itu tidak akan memuaskan para penonton, 'kan? Aku sudah berlarian ke sana ke mari sampai sekarang. Di sinilah aku akan menunjukkan diri. Tetap saja, Sei-san, dalam waktu dua detik, kau dapat membentuk rentetan serangan sihir kecil bukan?"
Sambil berkata demikian, Taku tertawa tanpa rasa takut.
"Seperti yang kuduga, yang terbaik adalah menang secara adil, ya 'kan."
Sei-nee tersenyum.
Bukannya menggunakan pedang panjang yang biasanya, Taku menggunakan dua pedang besi biru panjang kali ini.
Yang memulai serangan pertama adalah Taku. Dia melakukan lompatan besar, mengurangi jarak di antara mereka berdua. Akan tetapi, bereaksi terhadap hal itu, Sei-nee segera menembakkan sihir.
Sei-nee adalah seorang penyihir penyerang utama. Sama seperti saat dengan Mikadzuchi, dia tidak ada niatan untuk menghadapinya dalam pertarungan jarak dekat.
Seperti Mikadzuchi, Taku mengincar untuk menahan sihir dengan skillnya. Ini terlihat seperti pengulangan adegan sebelumnya, tapi——
"…dia memotong sihirnya."
Dia menebas tombak es dengan pedang di tangan kanannya dan memecahkan peluru air dengan pedang di tangan kirinya.
Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi Myu dan mage kenalanku yang lainnya menatapinya dengan ekspresi getir.
"Taku-san, itu tidak terlalu berlebihan. Tidak hanya Revival Medicine, dia juga menyiapkan equipment meta semacam itu."
"M-meta? Apa itu?"
Saat aku bertanya, Myu menjelaskan tanpa melepaskan tatapannya dari Taku.
Aku mendengarkannya dengan serius bersama Raina dan Al.
Meta——jenis konfigurasi spesifik yang dipersiapkan untuk lawan virtual, dipilih karena memiliki kelebihan dalam pertarungan. Secara singkat, bila lawan lemah terhadap elemen api, itu akan menjadi senjata dengan elemen api. Jika musuh menggunakan elemen angin, itu akan menjadi armor dengan kekebalan terhadap elemen angin.
Terlebih lagi, untuk melawan monster yang memiliki aksi rutin yang tetap, benda itu akan melakukan, merencanakan dan merencanakan perhitungan langkah strategis umum untuk melawan monster tersebut. Itu disebut dengan perhitungan meta.
Dan yang belum lama ini, apa yang pemimpin guild dari guild Flame Prison Corps gunakan,  Killing Edge, bisa disebut sebagai anti-player meta.
"Apa yang Taku-san gunakan saat ini, mungkin adalah senjata dengan Seal Magic (Water) dan versi lebih tingginya Seal Magic (Ice). Itu adalah efek yang dapat membatalkan sihir dengan efek yang berkaitan saat ditebaskan, tapi…"
"Tapi?"
"Itu amat sangat sulit untuk didapatkan. Juga, saat digunakan, daya tahannya akan menurun secara signifikan. Tidak hanya benda tersebut bisa digunakan untuk melawan elemen tertentu, tapi juga hanya bisa digunakan untuk waktu yang pendek. Itulah arti harfiah dari equipment meta."
Sampai menyiapkan dua item itu, apa lagi yang telah dia siapkan. Myu bergumam ngeri.
Mungkin saja, sekalin Revival Medicineku, dia juga telah menyiapkan equipment meta lainnya yang tidak dia gunakan saat ini.
Sei-nee harus mengambil langkah khusus menghadapi lawan semacam ini. Dia merasa terkejut untuk sesaat, tapi mempelajari bahwa sihir level rendah tidak akan berhasil, dia membatalkannya.
"Aku terkejut. Aku tidak menyangka kau menemukan tindakan penanggulangan seberharga itu."
"Setinggi itulah aku menilai Sei-san. Bahkan aku tidak bisa menemukan tindakan pencegahan bagi semua peserta."
"Nah, ayo tetaplah seperti itu. ——Aqua Wall!"
Tiga lapis dinding air mengelilingi Taku dalam pola segitiga. Itu adalah sebuah sihir pertahanan, tapi sebagai gantinya digunakan untuk mempersempit jarak pandang musuh dan memungkinkan Sei-nee untuk menggunakan sihir tingkat tinggi dari balik bayangannya.
"Ini tidak ada gunanya! Tapi, apa benar begitu!"
Dia memotong dinding air tersebut dengan pedang panjang di tangan kirinya, tapi ditangkis oleh dinding es di belakangnya.
Saat dia memotong dinding air tipuan itu, pedangnya ditangkis oleh dinding es. Taku menarik kembali pedang di tangan kirinya dengan buru-buru dan menusuk dinding es itu dengan pedang di tangan kanannya, membuatnya pecah berkeping-keping dan menjadikannya pecahan-pecahan kecil.
"…tidak. Itut juga adalah tipuan."
Kami yang duduk di kursi penonton melihat semuanya.
Sei-nee menciptakan benteng dinding air, di mana di belakangnya terdapat dinding es dan semakin jauh lagi di belakangnya terdapat lima untaian tetes air yang membeku.
Dia berurusan dengan dua elemen, air dan es. Pada dasarnya, air dan es berada pada grup yang sama dan di antara efek tambahan Seal Magic equipment meta, satu senjata termasuk dengan turunannya.
Karena itulah Sei-nee mencoba untuk membuat pedang panjang di tangan kiri Taku menjadi tak berguna dengan mempersempit penggunaan sihir es. Terlebih lagi, kalau dia membuatnya mengenai sekumpulan besar es alih-alih air, ada kemungkinan untuk menurunkan daya tahan senjata itu dan menghancurkannya dengan mudah. Pasti seperti itulah dia memperhitungkannya.
"Baiklah kalau begitu, ayo!"
"?‼ ——Shock Impact!"
Sama seperti Mikadzuchi, Taku membungkus senjatanya dengan skill anti sihir dan membelah sejumlah sihir yang datang padanya.
Karena untaian es bekunya sulit untuk dihindari, dia mengandalkan pedang di tangan kanan untuk menghancurkannya dan sejumlah kecil sihir terhempas kembali ke arah Sei-nee dengan pedang di tangan kirinya.
Konsentrasi Sei-nee terpecah untuk menangkis potongan-potongan es yang menghampirinya karena terdorong balik ke arahnya. Karena hal itu, kendalinya atas sihir yang diarahkan ke Taku jadi melemah.
Taku menilai serangan esnya telah melemah dan dampak cederanya minimal. Meski begitu, serangan Sei-nee tidak berakhir.
"Maaf. Meskipun itu Taku-kun, aku tidak bisa menahan diri. Kurasa kau sudah menyiapkan tindakan pencegahannya."
Sambil berkata demikian, kali ini dia mengayunkan tongkatnya ke samping. Satu dari tiang es yang menunggu aktivasinya telah hancur dan potongan-potongan sebesar kepalan tangan menyerang Taku.
Secara serentak, beberapa lusin potongan es menyerang Taku, mengenai tubuhnya dan menghentikan pergerakannya. Mengincar saat-saat itu, es yang tersisa mendekatinya saat itu juga.
"Sial! —— Mind!"
Taku menarik keluar sebuah Enchant Stone untuk pertahanan sihir dari dalam inventory lalu menggunakannya. Menyerah untuk menghindari dan menghadangnya, Taku mempertahankan dirinya dengan menyilangkan lengan.
"Tidak mungkin?‼ Kau menahannya?!"
"UOOoooo‼"
Taku meningkatkan pertahanan sihirnya, memecahkan es yang mengejarnya dengan pedang panjang di tangan kanannya dan menyerang Sei-nee sambil berteriak lantang.
Sedikit lagi dan dia akan akan mencapai Sei-nee.
"Tapi kau telat selangkah. —— Maelstorm!"
Taku terperangkap dalam pusaran yang terbentuk di bawah kakinya. Diputar oleh sesuatu yang seperti mesin cuci besar berwarna biru gelap, Taku terhempas menjauh.
Sepertinya itu membuat mual. Malahan, setelah berputar sebanyak itu, Taku sudah pasti akan menjadi kotor. Pikiran yang tidak pada tempatnya itu melintas di benakku.
Pertandingan itu selesai, pikirku.
Taku berputar tak berdaya dalam pusaran itu, dia mendapatkan kekuatan hanya untuk sesaat dan memegang pedang di dalam air.
Setelah membangun kembali posturnya di tengah-tengah pusaran itu, Taku mengayunkan pedang panjang di tangan kirinya, mencabik pusaran tersebut sebelum melompat keluar.
"HAAaaa! —— Power Buster!"
Untuk sekejap, Sei-nee mencoba untuk menghadangnya dengan sihir yang menunggu di belakangnya, tapi sebelum dia dapat melakukannya, Taku mengayunkan kedua pedang panjangnya. Taku memelintir tubuhnya untuk berputar ke kanan sambil jatuh, mempertahankan momentum dan mengayunkan pedang panjang kanannya, menebas Sei-nee secara diagonal dari bahu.
"Sei-nee kalah?"
Akan tetapi, tidak ada satu pun dari mereka berdua yang bergerak. Dan ——

"Seri! Itu adalah seri! Semua player tersapu habis, sebuah akhir yang seri tanpa seorang pemenang!"

Komentar Magi bergaung di tempat itu dan pada saat yang sama, Taku dan Sei-nee dikeluarkan ke bagian luar arena.
Bersama dengan suara Magi-san yang lupa untuk mengomentari pertandingan secara langsung, para penonton mendidih begitu bersemangat. Menyapu habis semuanya. Sedangkan bagi para penonton yang tidak tahu apa yang barusan terjadi, sebuah komentar segera muncul bersama dengan video yang telah diedit.
"Sepertinya kontestan Taku pada akhirnya menyerang dengan seluruh tubuh dan Art Power Buster. Di sisi lain, kontestan Sei melancarkan serangan sengit dengan blok-blok es yang melayang naik sampai saat ini, yang memukul jatuh berkali-kali. Itu benar-benar pertarungan yang luar biasa."
Dengan begini sebagian besar peristiwa signifikan telah selesai dan para penonton menghanyutkan diri mereka dalam sisa-sisa perasaan yang muncul setelahnya.
Pertarungan sebelumnya telah meninggalkan berbagai kesan pada orang-orang di lokasi ini, membuat semangat banyak orang.
Taku mengkhususkan diri pada tipe pertahanan tertentu dan mengambil tindakan yang sesuai dengan pertimbangan untuk mempertaruhkan nyawanya. Dan Sei-nee, yang balas menyerangnya dengan menggunakan berbagai jenis sihir. Para penonton secara perlahan dibuat tercengang oleh kehebatan kedua orang itu.
Setelah PvP selesai, para player perlahan berpindah ke lokasi yang mereka pilih sendiri. Tempat di mana kedua orang itu terkunci dalam pertarungan sengit beberapa saat yang lalu, telah menarik banyak perhatian.
"Tidak mungkin, aku tidak mengira kau akan keluar dari dalam pusaran itu. Kau membuatku terkejut, Taku-kun. Aku seharusnya menghancurkanmu dengan batu-batu es saat kau tertahan oleh pusaran itu."
"Kalau aku, aku menyesal tidak melemparkan senjataku alih-alih menyerang secara langsung setelah keluar. Tidak, aku memikirkan kembali kenapa aku tidak melakukannya."
Mendengar Sei-nee dan teman sejak kecilku Taku mengobrol tentang metode untuk menghabisi satu sama lain dengan suasana santai, aku merasa ngeri dan menyapa mereka berdua.
"Sei-oneechan, Taku-san. Selamat atas kerja keras kalian! Kami punya kue di sini!"
Myu memanggil Sei-nee dan Taku dari bagian tempat duduk penonton, bergabung dengan mereka dan kemudian semua orang mulai rapat evaluasi besar.
Gamer ringan seperti aku, Raina dan Al tidak dapat mengikuti percakapan mereka, jadi kami mengalihkan kesadaran kami pada kue-kue. Emily-san yang tidak ingin berbicara dengan Taku dan Letia yang tidak tertarik juga berkumpul di dekat kue-kue. Selain itu, Taku belum menyadari identitas Emily-san.
"Ohh, mereka berbicara dengan bahasa yang misterius."
"Yah, ayo kita bicarakan tentang hal lain. Ngomong-ngomong, Yun-kun, kau tidak lupa 'kan?"
"Lupa soal apa?"
"Yun-san, kau bertaruh 'semua orang kalah' ya 'kan?"
Raina menatapku lekat-lekat. Apa kau lupa? Menanggapi tatapan dingin itu, aku berujar "ah", mengingatnya kembali sambil bersuara salah tingkah.
"Taruhan terendah adalah 100G, kalau aku tidak salah itu dikalikan tujuh ribu…jadi 700kG."
Saat aku bergumam pelan demikian, mata Raina dan Al bersinar. Yah, bagiku itu hanyalah pemasukan ekstra untung-untungan. Itu bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan secara serius. Kalau aku harus mengatakan sesuatu——
"Yah, itu hanya tabungan tambahan."
Saat aku bergumam begitu, Raina dan Al mengarahkan tatapannya padaku yang berkata "kau tidak punya mimpi", membuatku mengerut.
"A-apa maksudnya tatapan itu——"
"Tidak, kita anggap saja memang begitulah Yun-kun. Bagaimana mengatakannya ya…"
Emily-san mengatakan sesuatu yang tidak jelas. Katakan dengan jelas! Aku ingin memprotes keras-keras, tapi aku mengarahkan tatapanku pada satu player yang mendekat dari kursi penonton.
"Ah…Mikadzuchi."
"Kerja bagus di PvP. Acara besarnya sudah selesai sekarang."
Sambil mendekat, Mikadzuchi mengucapkan salam ringan dan berjalan ke arah Sei-nee.
"Mikadzuchi, di mana kau sampai sekarang?"
"Yah, aku dipanggil oleh seseorang. Pada akhirnya, ada banyak orang yang bergerak langsung ke sana setelah dipanas-panasi Flein, jadi butuh waktu untuk mengendalikan mereka."
Mikadzuchi pasti telah mengurus semuanya, melihat dia tersenyum lebar.
"Baiklah! Malam festival akhir-acara! Kita akan memburu para pelaku PK dan menyelesaikan raid quest, jadi mulailah bersiap-siap!"
"Hei, tunggu sebentar!"
"Ngomong-ngomong, Nona, dipaksa ikut!"
"Kau sudah berencana untuk mengabaikan keinginanku?!"
Memangnya perlu terburu-buru begitu? pikirku, tapi Mikadzuchi menjelaskannya padaku.
"Saat ini, Fosch Hound dan Flame Prison Corps menduduki area tersebut. Mereka tidak akan membiarkan kita untuk lewat begitu saja. Karena itulah, kita harus mengumpulkan sejumlah orang untuk menghadapi mereka. Kita bisa mengumpulkan sebagian besarnya tepat setelah pernyataan dari Flein."
Setelah mengatakan hal yang diperlukan itu, dia berhenti sesaat.
"Berikutnya, untuk keadaan tidak menguntungkan dengan didudukinya area tersebut, kau pastinya sudah mendengarnya dari karakter bernama Kuro itu."
"Yah, kalau aku tidak salah itu adalah masalah memonopoli material untutk Revival Medicine dan raid quest, yang mana akan menjadi sebuah kerugian dalam jangka panjang."
"Karena itulah, mengumpulkan orang-orang dan menyelesaikannya malam ini juga adalah hal yang terbaik."
"Aku mengerti. Tapi tetap saja, tidak ada alasan bagiku untuk ikut."
Saat aku berkata demikian dengan tidak puas dan merengut, apa kau lupa? Dia merespon dengan helaan napas.
"Nona, kau memiliki Sense Linguistic yang merupakan kunci untuk membuka raid quest, 'kan? Tanpa seorang player yang memenuhi syarat quest tersebut, rencananya tidak akan dimulai. Si Kuro yang juga mempelajari Sense yang sama saat ini sedang sibuk dengan paska-proses acara. Dan di atas semuanya itu, ini tidak akan berhasil kalau orang yang menemukan quest tersebut tidak ada di sana."
Dengan perkataan itu, Mikadzuchi telah menetapkan keikutsertaanku. Sebenarnya, aku sudah menyelesaikan persiapanku dengan niat untuk menyelesaikannya suatu hari nanti, tapi aku kebingungan karena ini begitu tiba-tiba.
Aku mengalihkan arah tatapannku pada Emily-san untuk mencari bantuan. Dia hanya menunjukkan sikap sedikit cemas dan mengangguk.
Waktunya sudah menipis. Kami harus bergegas dan mulai bersiap-siap.
·
"Emily-san, tolong bantu quest kami. Kau mungkin tidak suka bersama dengan Taku, tapi kumohon."
"Apa benar-benar tidak apa-apa kalau aku ikut?"
Aku tidak tahu ekspresi macam apa yang dia buat di bawah topeng itu, tapi sudah pasti dia merasa prihatin.
Dan…kenapa kau meminta dengan cara yang lebih lemah daripada seorang gadis? Aku tidak bisa menolak kalau seperti itu. Keluhan diam-diam itu tidak mencapai telingaku yang memintanya.
"Dalam hal bertarung, kau bisa membawa Letia juga, 'kan?"
"Tidak, orangnya sendiri tidak berminat. Selain itu, dia juga mengurusi si kembar…"
Raina dan Al tidak dapat mengambil raid quest itu dan mereka sendiri menyadarinya, jadi mereka bahkan tidak mencoba berkata bahwa mereka ingin berpatisipasi. Letia telah membawa mereka sambil berkata "ayo nikmati sisa acaranya" dan pergi dengan ekspresi yang tidak berubah serta tinju yang terangkat tinggi.
Kurasa itu adalah kekhawatiran Letia, aku jadi merasa bersalah.
"Kau mungkin tidak suka bersama dengan Taku, tapi bisakah kau melakukannya?"
"Kali ini saja, aku akan melakukannya karena aku juga tertarik. Dengan kenalan-kenalanku di sana, aku juga akan merasa tenang. Tapi, jangan harapkan aku bisa banyak berguna dengan kekuatanku."
"Tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak memperhitungkanmu sebagai tenaga tempur."
"Apa-apaan cara berpikirmu itu?"
Mendengar evaluasi diri dariku, Emily-san menatapku lekat-lekat, tapi dia segera menghentikannya dan berkata "ayo sama-sama berjuang".
Aku merasa lega melihat Emily-san yang mau melakukannya.
"Jadi, tidak ada waktu lagi, 'kan? Apa yang kau lakukan untuk persiapannya?"
"Untuk equipment, Cloude dan Lyly seharusnya tepat waktu. Juga, untuk item konsumsi, aku hanya akan membawa beberapa dari Atelier, tapi——"
Aku memeriksa Sense-ku dan mengaturnya ulang untuk bertarung.

Possessed SP25
Bow Lv38 Longbow Lv11 Hawk Eyes Lv50 Speed Increase Lv28 See-Through Lv13 Magic Talent Lv44 Magic Power Lv48 Enchant Arts Lv22 Dosing Lv28 Linguistics Lv18
Unequipped:
Alchemy Lv32 Synthesis Lv33 Engraving Lv2 Swimming Lv13 Crafting Knowledge Lv34 Taming Lv8 Earth Element Talent Lv19Cooking Lv26

Sepertinya karena pertempuran semalam dengan para pelaku PK, Hawk Eyes mencapai level yang dibutuhkan untuk berkembang dan sebuah target Sense muncul.
Spesialisasi Sense Hawk Eyesadalah kemampuan menentukan target dan penglihatan malam, dan perkembangan yang bisa dipilih adalah Sky Eyes.
Itu adalah Sense dengan level tertinggi dari antara semua Sense yang kumiliki. Statsku meningkat bersama dengan levelnya, tapi kalau itu berkembang menjadi Sky Eyes, itu akan berubah menjadi level satu dan peningkatan statnya akan menghilang.
Mempertimbangkan statnya, akan lebih baik menghadapi quest seperti ini saja.
Mempertimbangkan kemampuan Sense dan sifat pasifnya, akan lebih baik untuk mengembangkan skill tersebut.
"Hmm."
"Ada apa? Tiba-tiba menggeram begitu."
"Tidak, um…Aku mendapat sebuah Sense yang bisa dikembangkan dan aku bingung harus berbuat apa."
Aku berkonsultasi dengan Emily-san, tapi mungkin itu adalah pertanyaan yang sulit karena dia menjadi terdiam.
Kalau ini adalah Sense turunan, aku akan mengambilnya tanpa ragu-ragu dan akan memasangnya bersama-sama seperti halnya dengan Bow dan Longbow, sebuah metode seperti itu bisa saja.
"Kalau begitu, Yun-kun. Apa deskripsi dari target Sense itu? Pada dasarnya, Sense yang lebih tinggi cocok dengan tingkatan yang sebelumnya, jadi itu tergantung dari bagaimana cara menangani performa dan skillnya yang baru."
"Coba kulihat, target pengembangan Hawk Eyes bernama Sky Eyes."
Sky Eyes bisa didapatkan dengan menghabiskan 3SP. Skill itu memungkinkan untuk memperluas kemampuan menetapkan target dalam jangkauan jarak pandang.
Hanya ada satu kelebihan tambahan, skill khusus bernama Zone akan ditambahkan.
Itu bisa dipicu begitu saja dan memiliki efek saat digabungkan dengan skill lainnya.
Deskripsinya mengatakan bahwa pada saat dipicu, skill itu akan memperluas skill efek tunggal dan jangkauan sihir.
"Tapi, apakah kemampuan ini bagus atau tidak adalah sesuatu yang tidak akan kita ketahui kecuali kita memakainya."
Meskipun sepertinya kegunaannya itu bagus berdasarkan deskripsi skillnya, sering terjadi itu ternyata salah pemahaman.
"Uoooh! Kalau begini, beranikan diri saja!"
Dengan memakai SP, aku mengembangkan Hawk Eyes menjadi Sky Eyes.
"Aku belum pernah mendengar info apapun tentang Sky Eyes. Entah karena itu adalah Sense yang belum pernah dicapai siapapun sejauh ini atau informasinya belum disebarluaskan. Jadi, dengan tidak adanya orang untuk ditanyain, apa yang akan kau lakukan?
"Emily-san, tolong bantu aku memeriksa Sense ini sampai waktunya…"
Ke mana keberanian yang barusan? Emily-san menghela napas saat aku memelas meminta bantuannya.
"Pertama, coba gunakan dalam cara seperti biasanya dan apapun yang bisa kau pikirkan."
"B-baik. Zone Enchant ——Attack!"
Sambil menatap Emily-san, aku menggunakan Zone Enchant untuk meningkatkan daya serang.
Enchantnya dilancarkan pada saat yang sama, efeknya juga sama seperti enchant yang normal.
Masalahnya, waktu jedanya lebih panjang daripada enchant normal dan konsumsi MPnya lebih besar.
Setelah mengulangnya beberapa kali, aku mengatakan pada Emily-san apa yang kutemukan.
"Umm, entah karena aku sendirian atau dengan Emily-san, konsumsi MP-nya tidak berubah, kurasa? Meskipun memang meningkat cukup banyak."
"Kalau begitu, mungkin saja konsumsi secara keseluruhan akan berkurang kalaau kau menggunakannya untuk memasangkan enchant pada anggota party?"
"Mungkin. Juga, ini hanya bisa digunakan sekali setiap beberapa waktu karena jedanya, jadi ini terbatas pada satu tipe. Aku ingin mempelajarinya lebih banyak lagi, Emily-san."
"Aku mengerti. Yang satu ini seharusnya bisa menjadi target yang bagus. ——Summon"
Sambil berkata demikian, Emily-san melemparkan Nucleous Stone, memanggil 59 monster sintetis yang kulihat semalam, para Wood Doll. Setelah itu, dia memanggil 5 monster tipe slime.
Sambil berpikir bahwa ini adalah cara yang bagus untuk menggunakan monster yang tidak mengkonsumsi MP dan bisa sekali pakai, aku menggunakan enchant pada monster-monster yang telah Emily-san persiapkan.
"Zone Enchant ——Defence!"
Emily-san dan aku menatapi para monster sintetis yang dipanggil itu. Jumlah yang ditargetkan adalah enam party, sekitar jumlah orang yang akan menghadapi raid quest bersama kami.
Tapi, tidak ada yang terjadi?
"——E-eh?"
Semua MP-ku terkuras dan enchantnya tidak muncul.
"Dengan sebuah kegagalan, aku kehabisan MP…"
"Kalau begitu, ayo coba periksa detilnya."
Aku memastikan lagi efek dari enchant yang telah habis masa berlakunya dan menggunakan enchant lagi.
Sebagai hasilnya, kami menemukan beberapa hal.
"Konsumsi MP-nya meningkat saat melebihi 6 target."
"Tapi, kenyataan bahwa jeda waktu untuk menggunakan ulangnya tidak berubah dengan jumlah orangnya adalah poin kelebihannya."
Apa dia mencoba menghiburku? Aku memiringkan kepalaku.
Dengan konsumsi MP skill dasar yang meningkat sepuluh kali lipat, konsumsinya meningkat melewati titik tertentu. Dalam hal enchant, sepuluh orang adalah batasan saat ini dengan MP yang terisi penuh.
Apapun yang melebihi itu akan berakhir dengan kegagalan.
Terlebih lagi, itu sama dengan sihir serangan.
Delapan putaran dari sihir Bomb adalah batasannya. Bahkan dengan pengeboman secara berturut-turut, pada akhirnya itu hanya akan berakhir dengan sihir tingkat terendah.
"Ini sudah cukup untuk melawan satu musuh dalam satu waktu, tapi masih kalah dibandingkan dengan rentetan sihir Sei-nee."
"Benarkah? Sudah kuduga."
Ini sangatlah buruk saat mempertimbangkan efisiensi konsumsi MP. Dalam kasus Bomb, MP potion dapat digunakan selama waktu jeda sebelum digunakan kembali, tapi potion akan terpakai begitu saja dan itu tidak efisien.
Melancarkan skill Bomb pada setiap target. Kalau seperti itu, serangan beruntun Sei-nee yang menggunakan banyak simpanan sihir yang menggunakan SenseDelaymemiliki efisiensi yang bagus dan kekuatan serangan yang tinggi. Bahkan meskipun Delay mengkonsumsi MP untuk menahan sihirnya, efisiensiku masih buruk bahkan saat dibandingkan dengan itu.
Skill ini bisa ditembakkan pada saat yang bersamaan dan cukup padat, memungkinkan untuk menambahkan dampak serangan berantai, tapi itu terlalu terbatas.
"Kalau begini, mungkin akan lebih baik untuk menggunakan Sky Eyes saat raid quest."
"Juga, karena waktu jedanya lebih lambat dibanding saat waktu yang dibutuhkan enchant untuk habis masa berlakunya, aku mungkin bisa menaruh dua atau tiga enchant normal selama waktu itu."
"Tentu. Hanya memerlukan waktu tunggu yang cukup pendek untuk menggunakan enchant untuk satu target."
Saat ini level Sky Eyesku masih rendah, tapi kalau terus meningkat dan membaik, ada kemungkinan aku bisa melakukannya lebih lagi.
"Pada akhirnya, aku tidak cocok untuk menyerang. Yah, dengan waktu yang tersisa, ayo naikkan level Sky Eyes sebisa mungkin."
"Baiklah. Kalau begitu aku akan berada dalam kondisi tidur dan beristirahat sejenak. Sementara itu, kau bisa menggunakan monster sintetis sebagai targetnya."
"Terima kasih, Emily-san."
Setelah aku berkata begitu, kesadaran pun menghilang dari tubuh Emily-san. Sepertinya dia bisa log out dengan aman.
Wood Doll yang telah disusun seakan untuk melindunginya dan Slime, membariskan diri mereka di depanku.
Selama itu aku menunggu Emily-san yang log out, aku memanggil Ryui dan Zakuro yang tidak bisa kupanggil saat acara PvP dan keributan kemarin untuk aku bersantai.
Dengan maksimal MP-ku yang berkurang karena memanggil mereka berdua, jumlah target Zone Enchant berkurang menjadi paling banyak delapan, tapi itu tidak masalah. Dengan ditemani mereka berdua selama jeda panjang untuk menggunakan lagi skill, aku terus mengenchant berulang-ulang.
Karena levelnya rendah, skill ini meningkat dengan mudah dan efisiensi dari Enchant bertambah sedikit. Secara spesifik, ada sedikit penurunan dalam konsumsi MP dan waktu jeda. Rasanya lebih baik daripada tidak sama sekali. Aku menunggu Emily-san kembali.
Aku dan sebagian monster terbungkus dalam aura enchant berwarna merah, biru, dan kuning pada saat yang bersamaan, terlihat seperti sebuah pemandangan yang aneh. Entah kenapa, untuk beberapa alasan aku merasakan perasaan déjà vu.
Setelah beberapa saat, ketika kepalaku kosong, tiba-tiba ada kata yang terucap.
"Hei, Ryui, Zakuro. Apakah aku benar-benar bisa melakukan raid quest?"
Ryui meletakkan kepalanya di lututku dan memejamkan mata, Zakuro memiringkan kepala kebingungan. Yah, bukan berarti aku akan didengar oleh seseorang, aku hanya merasa ingin mengatakannya.
"Mikadzuchi bilang bahwa ini adalah waktu yang tepat dan bahwa aku dibutuhkan oleh semua orang, tapi mungkin itu karena mereka membutuhkan seseorang dengan Sense Linguistic."
*Kyuu*, aku menggelitik leher Zakuro dan dia mengeluarkan suara yang imut. Dia meliukkan badan dan berguling-guling. Melihatnya seperti itu, senyumku muncul begitu saja.
"Myu bertujuan untuk meningkatkan levelnya demi balas dendam. Taku juga memikirkan berbagai langkah-langkah."
Tidak hanya Myu dan Taku. Sei-nee, Lucato, Toutobi, Mikadzuchi, mereka semua bertujuan untuk meningkatkan level dan mengasah kemampuan mereka sebagai player dalam PvP.
Sebagai tambahan, Magi-san, Cloude dan Lyly melakukan yang terbaik untuk menenangkan keributan para pelaku PK yang terjadi pada waktu yang sama.
"Aku ingin berguna bukan hanya dengan Enchant Arts dan Linguistics."
Haa. Aku menghela napas. Ya ampun, saat aku melihat ke atas, aku tidak melihat ujungnya. Saat aku menoleh, tiba-tiba Ryui yang tidur di pangkuanku dan Zakuro bergerak cepat menjauh dariku. Ada apa? Dan, sebuah bayangan telah menyelimuti sekelilingku…
"Yun-oneechan! Bukan, Onii-chan! Semangatlah!"
"Gueh‼ My-Myu?!"
Aku mendapat benturan keras dari belakang dan mengeluarkan suara yang aneh.
Saat aku bangkit berlutut dan berbalik, Myu menangkap wajahku dengan kedua tangannya dan mendekatkan wajahnya sampai kedua dahi kami bersentuhan, menatap lurus padaku.
" 'Dia melakukan sesuatu yang menari!' kudengar, tapi saat aku datang untuk melihatmu, kau malah bertingkah lemah."
"Tidak, aku tidak ada niatan untuk melakukan hal menarik apapun…"
Eh? Apa itu cara penangananku yang tidak biasa pada Zone Enchant untuk menaikkan level Sky Eyes?
"Onii-chanku sudah jelas lemah saat sendirian! Berkemauan lemah dan mudah lari!"
"Hei, boleh aku menangis? Atau seharusnya aku marah?"
"Saat kami bersikap gegabah, kau datang menolong kami! Kau selalu menunggu kami, menyemangati kami! Datang membantu kami! Karena itu——"
Dia tersenyum padaku. Senyum percaya diri.
"Kami mempercayakan punggung kami padamu dan maju ke depan untuk bertarung. Karena itulah aku percaya Yun-oniichan pasti akan membantu kami dari belakang."
"…Myu."
Yang bertarung di depan melindungi bagian belakang satu sama lain. Tapi untuk mendukung mereka, itu adalah peranku.
Ya ampun, kenapa seseorang dengan karakter yang peran utamanya adalah pendukung malah selemah ini!
Aku sudah tahu dengan baik bahwa aku tidak punya kekuatan tempur.
Karena itulah, aku hanya perlu melakukan apa yang kubisa.
"Terima kasih, Myu. Akan kulakukan apa yang bisa kulakukan."
"Juga, Mikadzuchi-san berkata begini! Saat raid quest selesai dan pestanya dimulai, tanpa Yun-oneechan kami akan kehabisan ikan."
"Kau menghancurkannya!"
"Pu-fufufufu…Yun-kun sedang terjepit."
"E-eh?‼ Sejak kapan kau di sini?!"
Saat Myu menjauh dariku dengan sangat bersemangat, sebelum aku menyadarinya, Emily-san yang dalam keadaan tidur telah kembali.
"Saat aku log in, aku mendengar keluhan Yun-kun jadi aku tetap diam. Aku telah melihat sesuatu yang tidak biasa."
Aku memelototi Emily-san yang mengenakan topeng dan pengubah suaranya, tapi karena dia berkata "maaf", aku jadi tidak bisa marah padanya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan membawa Yun-oneechan untuk istirahat. Ayo bertemu nanti untuk quest!"
"Tentu. Pastikan untuk mengumpulkan cukup tenaga sebelum datang lagi."
Ditarik oleh Myu, aku dibuat pergi meninggalkan lokasi Emily-san dan log out.
Aku menghabiskan waktu menenangkan diriku sampai tiba saatnya untuk mengikuti quest.


Only Sense Online Jilid 5 Bab 5 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

2 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.