08 Maret 2018

My Love Story Isn't A Romance Tragedy Bab 1 Ori LN


MESKIPUN BODOH, IMPIAN DAPAT MERUBAH RUTE HIDUPMU
(Author : Deddy Z)


“Alan Naufal!”
Samar-samar terdengar suara seorang wanita yang memanggil namaku. Namun aku merasa itu cuma perasaanku saja.
“Alan Naufal...!!!”
Suara itu semakin jelas. Ternyata aku dipanggil oleh guru yang ada di depan.
“I-iya. Ada apa, Bu?” sontak aku berdiri.
Apa impian kamu, Alan?
 “Hah? Impian??? Kok tiba-tiba bahas itu?”
 “Alan…! Dari tadi Ibu jelasin panjang lebar, kamu nggak dengerin!? Beberapa temen kamu udah jawab pertanyaaan saya. Kamu kemana aja!?
Semua murid tiba-tiba tertawa keras, semuanya, kecuali aku.
Gawat. Dari tadi aku malah fokus ngeliatin pengajarnya, bukan ngedengerin apa yang diajar.
Habis mau bagaimana lagi. Pengajarnya lebih menarik untuk diperhatikan.
Aku sedang ada di pelajaran BK (Bimbingan Konseling). Pengajarnya biasa dipanggil Bu Siska. Cantik, masih muda, tapi auranya dewasa. Berambut hitam panjang lalu memakai kacamata. Benar-benar tipe wanita idamanku.
Wajahnya nampak kesal. Namun apapun ekspresinya, tetap saja terlihat menawan.
Ia melangkah menciptakan suara tak tuk tak tuk dari sepatunyayang berhak. Semakin ia dekat, suara ketukan itu semakin jelas terdengar. Jantungku juga semakin cepat berdetak.
Sekarang Bu Siska berdiri tepat di samping mejaku. Jujur saja ini bikin aku grogi berat.
Apa yang sebaiknya aku katakan?
Belum sempat berpikir, kepalaku sudah ditiban gulungan buku.
 “Alan. Jangan ngelamun terus! Perhatikan Ibu ya!”
“I-iya. Maaf, Bu.”
Ramai murid tertawa lagi.
Di akhir pelajaran, Bu Siska memberi tugas. Dia bilang ini adalah tugas penting untuk nilai Ulangan Tengah Semester nanti karena pelajaran BK tidak diujikan. Kami diminta menyalin tulisan yang Bu Siska buat di papan tulis putih ke dalam kertas selembar.
Dengan spidol hitam, ia menulis dua pertanyaan.
1.    Apa impian kamu?
2.    Rencana apa yang sudah kamu buat untuk meraihnya?
Soal yang sederhana. Sama sekali nggak tampak rumit. Tapi nggak ada satu soal pun yang jawabannya terbayang di kepalaku.
Aku baru ingat. Jangankan punya, aku baru sadar setengah jam lalu kalau kata ‘Impian’ ada di dalam kamus Bahasa Indonesia.
Untungnya tugas ini jadi PR untuk minggu depan.
Mau sampe kapan kamu masang muka cabul begitu, Alan? Bikin malu aja.
Siswi yang duduk di depanku bertanya sinis. Nampaknya ia sedang membicarakan mukaku ketika memperhatikan Bu Siska tadi.
Tanpa kusebut nama, dari gaya biacaranya kurasa kamu sudah tau siapa yang bertanya. Yap. Siapa lagi kalau bukan Fenny.
Hah? M-mukaku biasa aja kok.
Ya, aku ngerti kalo biasanya muka kamu emang cabul. Tapi yang tadi itu 100x lebih menjijikan dari biasanya.
“Ah. Stop bahas tentang mukaku! Omong-omong, Fenny. kamu mau isi apa di soal ini?” Aku menunjuk soal nomor satu di buku punyaku.
Niatku bertanya adalah untuk mencari referensi. Karena nggak punya impian sendiri, barangkali aku bisa tiru-tiru jawaban orang.
Namun kalau dilihat dari kepribadiannya, kurasa impian Fenny nggak jauh dari ingin jadi dokter bedah atau ahli forensik. Atau mungkin psikolog?
Profesi-profesi yang sangat dekat dengan penderitaan orang.
“Aku mau jadi pengantin,” jawab Fenny sambil memasang senyum manis.
“P-Pengantin…?!”
Heh? Jawaban itu di luar dugaan.
“K-kamu nggak salah? It-itu… kenapa kamu nggak mau jadi ahli forensik aja? Kenapa harus pengantin?”
“Kenapa aku harus jadi ahli forensik?” Fenny balik bertanya.
“Y-ya… habisnya kan… err… maksud jadi pengantin artinya kamu mau jadi ibu rumah tangga aja gitu?”
“Artinya aku mau menikah, Alan. Kapasitas otak kamu kok nggak pernah bertambah sih?”
“Sialan. Maksudnya setelah menikah.”
“Menurutku jadi ibu rumah tangga itu bukan ide buruk. Di masa depan nanti aku mau banyak bersantai dan menjalani hidup damai bersama keluarga.”
“Oh begitu.”
Jadi intinya Fenny ingin bermalas-malasan lalu menyuruh suaminya saja yang bekerja keras ya? Ternyata cewek ini lebih kejam dari yang kukira.

Dua jam  yang paling kutunggu ketika pertama kali menginjakkan kaki di sekolah adalah, yang pertama jam pelajaran BK, lalu yang kedua jam pulang sekolah. Aku paling senang kalau bel sudah berbunyi sebanyak empat kali. Itu tandanya siswa sudah boleh meninggalkan sekolah.
Seperti biasa aku berjalan pulang bersama teman dekatku dari SMP, namanya Aldi Nugroho. Kami masuk sekolah yang sama, tapi sayangnya jurusan kami berbeda. Alhasil aku hanya bisa ngobrol dengannya di waktu istirahat dan pulang sekolah saja.
Kebetulan rumah kami satu arah. Aku menumpang naik motor Aldi sampai setengah perjalanan, karena rumah Aldi lebih dekat. Sisanya aku jalan kaki sampai rumah.
“Ald. Kamu punya impian?” Tanyaku tanpa basa-basi di motor.
Impian? Aku mau jadi dokter. Emangnya kenapa, Alan?
Mendengar jawaban Aldi, aku jadi membayangkan sosoknya bila beneran jadi dokter. Seorang pria kurus dengan rambut ikal, sedang berdiri di lorong putih memakai toga yang juga berwarna putih bersih.
Dengan kualitas wajah yang lumayan, di mataku dia mirip dokter cabul yang suka melakukan tindak pelecehan terhadap pasien wanita.
Nggak. Aku bercanda. Dia ini cowok baik-baik. Imajinasiku saja yang terlalu ekstrem.
“Tadi Bu Siska ngasih tugas soal impian. Aku bingung mau jawab apa.”
“Jawab aja mau jadi pilot,” dengan nada santai Aldi memberi saran.
“Terlalu basi ah. Aku mau yang berkesan.”
“Yang penting dapet nilai kan? Hahaha.”
“I-iya sih.”
Sesaat terlintas di kepalaku ‘Benar juga ya?’
Tapi di depan Bu Siska seenggaknya aku mau nampak keren. Masa seorang Alan Naufal impiannya mau jadi pilot. Nanti aku dicap kekanak-kanakan gimana?
Pikiranku masih terus melayang-layang sampai ke rumah. Tapi lama-lama pusing juga kalo terus dipikirin. Sudahlah aku nonton TV aja. Jam segini biasanya aku nonton acara Laptop si Unyil.
Aku duduk di bangku yang ada di ruang tamu. Dalam TV ditampilkan tayangan mesin pabrik sedang membuat sebuah biskuit, disertai narasi penjelasan oleh si Unyil.
Mengingat soal impian tadi, aku jadi merasa tayangan ini seolah menyuruhku untuk bermimpi jadi buruh pabrik.
Aku nggak mau dong, soalnya itu nggak keren.
“Assalamuaikum~”
Terdengar suara anak perempuan masuk. Tanpa perlu melihat mukanya, aku sudah tau kalau itu adikku.
“Waalaikumsalam.”
Anak perempuan yang mengenakan baju olahraga itu berjalan menghampiriku, lalu ia mengambil tangan kananku untuk salim.
Namanya Mutiara Syafira, aku memanggilnya Tiara. Umurnnya 14 tahun, golongan darah O, warna kesukaan merah, hobinya berkata tidak senonoh di depan kakaknya. Maksud dari berkata tidak senonoh biarlah kamu melihatnya sendiri nanti.
“Kak, Tiara basah nih. Bantu Tiara puas dong.”
“Kamu nggak bisa minta tolong nyalain air dengan kalimat yang normal ya?” Kesalku.
“Kak Alan bukannya sukanya sama yang lebih dari normal?”
“Kakak rasa kamu salah tanggap tentang maksud lebih dari normal.”
“Udah ih. Buruan, Kak. Badan Tiara udah becek banget ini,” Tiara menggerutu manja.
“Iya, iya.”
Aku ingat, pada hari selasa pelajaran terakhir di sekolah Tiara adalah pelajaran olahraga. Wajar saja ia pulang dalam keadaan berkeringat lalu mau segera mandi. Rambut hitam Tiara yang sepanjang bahu itu nampak basah dan nggak rapi.
Aku memang jarang melihatnya rapi sih. Masa puber adikku ini sepertinya agak terlambat.
Untuk menyalakan keran di rumahku, nggak bisa cuma pencet tombol doang. Aku harus menumpahkan air dulu di tabung mesinnya supaya ia bisa memompa. Istilahnya dipancing.
Tiara takut tersetrum karena air dan listrik kaitannya memang menakutkan. Jadi harus aku yang melakukan.
“Omong-omong, Tiara,” saat mengisi air dengan gayung ke tabung pompa, aku teringat sesuatu.
 “Apa, Kak?” Tiara yang berdiri di belakangku menyahut.
“Impian kamu apa?”
“Impian? Bukannya hidup Kak Alan itu selalu mengalir aja ya kayak cairan. Kok tiba-tiba Kakak nanya soal impian?”
Perkataan Tiara barusan bikin aku kesal, tapi karena itu benar, aku nggak bisa membuat penyangkalan.
“Udah, jawab aja.”
“Hm… Tiara mau jadi pengantin!”
Aku merasa déjà vu mendengar jawaban itu. Apakah semua anak perempuan bermimpi ingin jadi pengantin?
“Kenapa jadi pengantin?” Tanyaku.
“Karena bisa pakai gaun yang cantik, Kak. Mirip Cinderella.”
“Begitu ya.”
Sepertinya Tiara belum mengerti apa maksud dari pengantin itu sendiri. Seenggaknya aku bersyukur alasannya bukan ingin bersantai di masa depan lalu menyuruh suaminya bekerja keras.

Satu minggu berlalu dengan cepat. Tanpa kusadari, aku sudah bertemu lagi dengan hari selasa, hari dimana jam ketiganya adalah pelajaran BK.
Biasanya aku bersemangat ketika tau sekarang hari selasa, karena di hari ini aku bisa puas memandangi guru kesukaanku. Tapi hari ini aku malah khawatir. Aku khawatir karena tugas impianku masih belum juga kuisi.
Namun, di tengah pelajaran fisika, saat aku sedang melamun karena ngantuk mendengarkan penjelasan dari guru bapak-bapak tua, aku mendapat sebuah ide yang brilian. Bu Siska pasti akan kagum ketika tau apa impianku.
Akhirnya aku tiba di pelajaran yang tiap minggu selalu kutunggu, yaitu pelajaran BK. Bu Siska bilang hari ini ia hanya ingin membahas tentang impian-impian muridnya saja.
Semua kertas pun dikumpulkan oleh tiap-tiap murid, termasuk aku juga menaruh kertasku ke meja Bu Siska. Setelah semua terkumpul, Bu Siska nampak memeriksa satu-persatu kertas tugas itu.
“Fenny Anggraeni!”
“Ya, Bu?” Siswi yang duduk di depanku menyahut panggilan Bu Siska.
“Disini kamu menulis ingin jadi pengantin ya? Impian yang manis. Cocok sama kamu yang wajahnya juga manis.”
“Hehe. Makasih, Bu.”
Ya. Hanya wajahnya saja. Ke dalam dikit, Ibu nggak akan liat gula barang sebutir.
 “Rencana apa yang sudah kamu buat untuk meraihnya, aku merahasiakannya.” Bu Siska terlihat membacakan isi kertas tugas Fenny.
“Oke kalo emang rahasia, saya nggak akan bahas punya kamu. Siapapun calon suami kamu pasti akan senang mendapat pengantin semanis kamu, Fenny.”
“Cieeee,” seolah dipandu, satu kelas kompak membuat suara itu. Hanya suaraku yang nggak ada disana. Aku justru menaruh prihatin kepada orang yang kelak jadi calon suami Fenny.
Kemudian Bu Siska lanjut memanggil nama lain. Ia mengomentari tiap-tiap impian muridnya satu-persatu. Dari yang ingin jadi pemain bola, arsitek, sampai penyanyi semua diberi komentar positif yang enak didengar.
Siapapun pasti akan senang lalu semakin bersemangat untuk mengejar impiannya setelah diberikan komentar seperti itu. Nggak cuma komentar, kadang Bu Siska juga memberi saran menyegarkan.
Pesonanya ketika bicara itu sangat menawan. Memang nggak salah aku memilihnya jadi guru idaman.
Aku jadi menanti-nanti ketika impianku dibahas.
“Alan Naufal!”
“Y-ya, Bu!” Aku langsung berdiri.
Akhirnya tiba juga saatnya. Baru dipanggil nama saja, bunga-bunga di hatiku serasa bermekaran. Kalimat apa ya yang akan keluar dari Bu Siska untuk mengomentari impianku?
Kalau kuperhatikan, ekspresi wajah Bu Siska nampak terkejut.
“Alan. Kamu serius nulis ini?” Bu Siska memasang tampang ragu.
“Sangat serius, Bu. Itu impian yang bagus, kan?”
“Beneran serius?”
“Iya. Bener, Bu.”
 Bu Siska nampak nggak percaya. Sepertinya impianku berhasil membuatnya terpukau. Aku jadi bangga dengan diriku.
“Kamu becanda, kan? Masa impian kamu ingin jadi kucing?”
Belum sempat aku menjawab pertanyaan Bu Siska, seisi kelas sudah lebih dulu meledak dengan tawa. Mereka menertawakan dan mengejek impian yang kupunya. Aku heran, memangnya apa yang salah dengan ingin jadi kucing?
Cukup lama sampai suasana kembali tenang. Itu pun harus dibantu perintah Bu Siska.
“Kamu pikir impian itu apa, Alan?”
“Err… Sosok yang dikagumi sampai kita ingin jadi seperti mereka?”
“Ya. Kurang lebih kamu benar. Lalu atas landasan apa kamu bermimpi ingin jadi kucing?”
“Karena mereka lucu dan keren di saat yang sama...?”
“Bisa kamu perjelas lagi?” Bu Siska nampak belum mengerti.
Hidup mereka menyenangkan, BuKepribadian mereka buruk, seperti misalnya pemalas, sering kurang ajar pada majikan, dan juga nggak tau aturan. Tapi nggak ada yang membenci mereka, manusia justru semakin banyak yang jatuh cinta pada kucing. Bukankah itu keren dan lucu di saat yang sama?
Hmm. Masuk akal. Lalu bagaimana caramu mewujudkan impian tersebut?”
Ketika ditanya begitu, aku baru sadar betapa bodohnya impian yang kutulis. Aku melewatkan bagian paling penting dari pengertian impian, yaitu fakta kalau itu harus diwujudkan.
Anehnya Bu Siska menanggapi impianku ini dengan serius dan malah menyebutnya masuk akal. Ternyata benar kalau kebodohan itu mudah menular.
Err… k-kalau kita lihat kenyataan di lapangan, dari 1,000 orang pemimpi, paling hanya 100 dari mereka yang berhasil mewujudkan. Artinya 900 sisanya nggak berhasil. Mengikuti mayoritas itu salah satu pilihan bijak, kan?
Tak kusangka ternyata aku punya bakat alamiah untuk mengarang alasan di saat genting. Tapi alasanku sepertinya terlalu mengada-ada. Bu Siska pasti akan memarahiku.
“Kamu menarik juga ya, Alan. Setelah pulang sekolah, temui saya di ruangan ya.”
“I-iya, Bu.”
Aku pun kembali duduk.
Heh? Aku nggak salah dengar? Bu Siska bilang aku menarik? Bu Siska tertarik sama aku? Tertarik sebagai apa? Aku jadi penasaran.
Gara-gara kalimat Bu Siska tadi, jam pulang sekolah terasa lebih lama dari biasanya. Padahal hanya ada satu pelajaran setelah pelajaran BK, yaitu Kewirausahaan. Sepanjang pelajaran, kakiku nggak bisa diam karena ingin segera bergegas ke ruang BK.
Suara bel akhirnya berbunyi.
Dering pertama, langsung membuat jantungku berdebar kencang.
Dering kedua, aliran darah di tubuhku jadi terasa lebih cepat.
Dering ketiga, suhu badanku terasa naik.
Dering keempat, rasanya aku mau meledak.
Dengan berbunyinya empat bel, kakiku sudah siap untuk bergerak menuju ruang BK. Aku pun segera memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas lalu bersiap untuk doa pulang.
Di dalam ruang BK, aku bertatap langsung dengan guru sekaligus wanita idamanku, Bu Siska.
Hanya ada kami berdua di dalam ruangan yang luasnya sekitar seperempat luas ruang kelas ini. Aku dan Bu Siska duduk berhadap-hadapan. Yang memisahkan kami hanya satu meja kantor berwarna cokelat.
“Alan. Ada yang mau Ibu bahas mengenai impian kamu tadi,” Bu Siska bicara dengan nada serius. Mendengarnya entah kenapa bikin aku jadi tegang.
“Y-ya, Bu?”
“Sebelumnya Ibu tanya, apa kondisi kejiwaan kamu masih normal?”
“Saya tersinggung, Bu. Denger pertanyaan itu.”
“Hehe, maaf. Habisnya impian kamu itu terlewat unik.”
Sebenarnya aku ingin menjelaskan akan kesalahanpahamanku dalam pemilihan impian tadi. Tapi karena itu justru malah membuat Bu Siska tertarik, aku jadi enggan melakukannya.
“Menurut saya biasa aja, Bu.”
“Kamu ini menarik, Alan. Saya jadi suka sama kamu.”
“S-s-suka?!”
Aku nggak salah dengar?! Apakah barusan Bu Siska menyatakan cinta padaku?!
“S-suka sebagai apa, Bu?”
Sebagai objek penelitian, jawab Bu Siska sambil tersenyum.
“Hah?”
Bunga-bunga di hatiku langsung layu seketika. Nggak cuma layu, mereka juga terbakar hingga menjadi abu hitam.
Kini aku menemukan zona baru yang lebih menyakitkan daripada zona teman ataupun zona kakak-adik. Itu adalah zona penelitian.
Aku nggak ngerti kenapa kesialan selalu saja menimpaku dalam urusan asmara. Padahal aku sudah berusaha menghindari dengan tertarik pada guru saja. Karena dalam pikirku seorang guru pasti menyayangi muridnya. Tapi kalau yang terjadi malah begini sih aku sakit juga.
Bahkan lebih sakit daripada ditolak dengan alasan ‘Kamu terlalu baik.’
Memang benar, sebaiknya aku nggak terlibat dalam urusan percintaan. Oke. Akan kupastikan aku nggak akan terlibat lagi. Akan kupastikan, aku nggak akan tertarik dengan wanita manapun lagi.
Sudah cukup rasa sakit yang kualami.
“Kamu tau? Pemikiran anak seumuran kamu biasanya sudah diatur oleh lingkungan.
Bu Siska seperti sedang menjelaskan sesuatu, namun aku nggak mendengarkan karena rasa sakit di hati sedang menutup panca indraku.
“Misalnya ketika lingkungan berpendapat jadi penyanyi pop itu keren, remaja cenderung ingin jadi penyanyi pop. Lalu ketika ia pindah ke lingkungan yang bilang jadi penyanyi rock itu lebih keren, ia otomatis akan berpindah ingin jadi penyanyi rock.”
“Ketika membaca isian tugas kamu tadi, Ibu jadi penasaran. Lingkungan macam apa yang membuat seorang remaja ingin jadi kucing? Sebagai lulusan psikologi, Hal-hal unik begini yang dari dulu selalu ingin saya pelajari.”
“Alan. Kamu dengar Ibu?”
“…”
“Alan…!” Bu Siska menepuk pundakku.
“Ya? Kenapa, Bu?” Jawabku tersadar.
“Saya boleh tanya-tanya tentang diri kamu?”
 Hah? Buat apa?
“Saya mau tau lebih banyak tentang diri kamu?”
Ingin tau lebih banyak?
“Nggak usah lah, Bu. Nggak penting juga.”
Ini penting buat saya, Alan.
“Buat saya enggak, Bu.”
Wajah cantik Bu Siska menampakkan kekecewaan. Biarlah. Sebenarnya aku yang sedang dikecewakan disini.
Gimana kalo saya beri kamu satu permintaan? Kalimat Bu Siska barusan mengingatkanku dengan ucapan seorang jin yang biasanya tinggal dalam botol.
Permintaan?” Tanyaku.
“Ya. Sebagai ganti permintaan saya, kamu juga boleh minta apapun dari saya, Alan.”
Ap-apapun?! M-maksudnya apapun?!
“Ya apapun. Sebagaimana katanya. Tapi hanya satu saja ya, karena saya juga cuma minta satu.”
Glek. Mendapat penawaran ini bikin aku jadi menelan lidah.
Aku nggak ngebayangin hal mesum kok. Enggak. Bener deh. Tiba-tiba aku jadi ingin menelan ludah saja.
B-Bu Siska serius?!
Pertanyaanku dijawab dengan satu senyuman manis yang dapat melelehkan satu bukit es di kutub utara. Kurasa senyum itu artinya iya.
Aku jadi berpikir keras. Menurutku kesempatan ini nggak akan datang dua kali. Ibuku sering bilang, nolak rezeki itu nggak baik. Mungkin sebaiknya aku terima saja ya?
“Err… oke deh, Bu. Saya terima.”
“Gitu dong, Alan. Kita deal ya!” Bu Siska menyodorkan tangan tanda meminta persetujuan.
Lalu aku pun menyambut tangan itu. Rasanya halus, hangat, dan lembut. Bikin aku nggak mau ngelepasin. Seperti ini selamanya juga nggak apa-apa. Namun sayang momen menyenangkan ini cuma bertahan selama 3 detik.
Aku belum tau akan kugunakan buat apa permintaan itu. Kalau dipikirikan sekarang, aku cuma bisa mendapat hal mesum. Sebaiknya nanti saja ketika hati dan kepalaku sudah jernih.
Permintaan kamu apa, Alan? Tanya Bu Siska.
“Sebentar, Bu. Sebelum kita lanjut, boleh saya minta makanan? Perut saya mulai lapar.”
“Boleh. Kamu mau apa?”
“Hmm.... nasi goreng.”
Sesekali melunjak menurutku nggak apa-apa. Aku menyebut ini mendapat keuntungan tambahan dari keadaan yang sudah menguntungkan.
“Baik. Tunggu disini ya. Ibu ke kantin dulu buat beliin.”
Setelah mengatakan itu, Bu Siska berdiri dari kursi lalu berjalan pergi keluar ruangan.
Heh? Aku beneran bakal dapet nasi goreng gratis?
Lumayan. Biasanya aku cuma beli roti seharga dua ribuan buat ganjel perut. Sesekali makan enak boleh lah.
Tok. Tok. Tok. Terdengar suara ketukan pintu.
Belum dua menit habis Bu Siska keluar. Apa dia sudah balik lagi? Cepet banget. Bu Siska beli nasi goreng instan tinggal seduh?
Pintu berwarna putih itu perlahan-lahan terbuka. Dari balik kayu yang dicat itu aku dapat melihat seragam berwarna putih abu-abu. Oh ternyata seorang siswi.
“Permisi...”
Suaranya amat lembut. Kulit tangannya terlihat putih dan halus. Di tangan kirinya ia memakai gelang seperti deretan mutiara kecil berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Lalu di kepala gelang itu terdapat dua mutiara besar berwarna putih.
Ia memiliki rambut panjang berwarna cokelat gelap. Rambut yang indah. Sepertinya sangat terawat.
Lalu ketika garis pintu melewati wajahnya, untuk beberapa detik waktu di duniaku terasa berhenti.
“Anu... Bu Siska ada?” Siswi itu seperti sedang bicara padaku.
“Anu...”
Aku ngga tau berapa lama aku menatapnyaAku disadarkan oleh benda keras yang menabrak tepat ke muka.
“Adoh!”
Aku menjerit sakit.
Lihat apa kamu? Mau ditimpuk sepatu?
“Hei. Kamu udah nimpuk! Harusnya kamu tanya begitu sebelum nimpuk!”
Sakit. Sakit banget. Terbuat dari apa sepatunya itu. Batu? Kok keras banget sih. Aku sibuk memegangi hidungku yang terasa mau patah.
“Muka kamu cabul. Aku merasa keperawananku bisa hilang kalo terus-terusan kamu tatap begitu.”
“Anjir! Mana ada kepewaranan bisa hilang gara-gara tatapan!”
“Ya sudahlah. Kamu ngapain disini, muka cabul?”
Sungguh, perkataannya itu benar-benar menusuk hatiku hingga ke lubuk terdalam.
Jika aku belum terlatih oleh ejekan Fenny, mungkin aku sudah menangis lalu langsung berlari pulang. Setelah itu aku mengadu pada ibu dan nggak mau sekolah selama seminggu.
Bagaimana enggak. Siswi itu sangat cantik. Baru kali ini aku terpesona sampai dibuat nggak sadar. Selain itu juga warna matanya nggak biasaHijau seperti batu zamrud yang menyala oleh amarah. Apa dia ini benar-benar siswi di sekolahku? Kalau pun ia mengaku bidadari yang sedang ber-cosplay anak sekolah, aku pasti akan percaya.
“Harusnya aku yang tanya. Kamu mau ngapain kesini?” Protesku.
“Kok kamu malah balik nanya sih? Ini kan ruang BK. Kenapa malah diisi cowok bermuka cabul macam kamu? Bu Siska kemana?”
“Bisa nggak kamu nggak manggil aku muka cabul?” Hatiku sakit mendengarnya! “Aku punya nama tau! Namaku Alan Naufal. Panggil aku Alan!”
“Huh. Aku nggak sudi manggil nama kamu.” Siswi itu membuang muka. Nggak cuma itu, ia juga melipat tangan ke bawah dada. Lebih dari cukup untuk bahasa tubuh penolakan.
“Nama kamu siapa?”
Siswi itu melirik tajam ke arahku. Kelihatannya ia merasa terganggu dengan pertanyaan barusan.
“Aku kan udah ngenalin nama aku, masa kamu nggak mau ngenalin nama kamu.”
Siswi itu masih nampak enggan. Namun akhirnya ia bicara juga.
“Namaku Cynthia Iskandar. Tapi jangan panggil aku Cynthia ataupun Iskandar! Aku nggak sudi namaku disebut oleh orang cabul macam kamu!”
Nggak cuma mukaku, sekarang aku sepenuhnya yang dikatai cabul olehnya.
Sabar… aku harus sabar…
Kuat… aku harus kuat…
“Trus aku harus panggil kamu apa? Juminten? Marpuah? Markonah?”
“Itu bukan urusan aku. Sepatuku balikin sini!”
Kesabaranku mulai habis. Mau secantik apapun dia, kalau sifatnya menyebalkan begitu lama-lama bikin kesal juga.
Namun aku masih mencoba bertahan lalu menuruti kemauannya. Baru saja aku mau ambil sepatu miliknya yang tergeletak di lantai. Tiba-tiba Cynthia bilang.
“Heh, jangan sentuh!”
“Tadi kamu minta balikin!? Mau kamu apa sih!?”
“Jangan bergerak selangkahpun dari situ! Biar aku yang ambil sendiri aja.”
Setelah berkata begitu, Cynthia lekas berjalan mengambil sepatunya lalu bergegas menjauh. Ia kemudian memakai kembali sepatunya lalu pergi meninggalkan ruang BK tanpa mengucap sepatah kata pun.
Cewek sialan.
Aku akui ia memang sangat cantik, tapi kepribadiannya sama buruknya dengan Fenny.
Apakah ini yang disebut dengan hukum kesetaraan? Dimana orang yang punya sisi cantik di luar, tidak diizinkan untuk memiliki sisi yang serupa di dalam?
Jika dunia memang punya keadilan seperti itu, kenapa kisah cintaku hanya memiliki satu sisi saja, yaitu kesialan?
Sekitar 30 menit aku menunggu di dalam ruang BK sendirian. Memesan nasi goreng ternyata lama juga. Mungkin Bu Siska harus antre. Ini memang jam makan siang sih. Barangkali aku bisa maklum.
Tapi bukankah 30 menit itu terlalu lama? Bu Siska makan dulu atau gimana?
Tiba-tiba pintu terbuka. Tanpa basa-basi Bu Siska masuk sambil membawa bungkusan hitam di tangan.
Wajah cantiknya yang dewasa terlihat sangat bersemangat. Padahal saat keluar tadi dia biasa aja. Jangan-jangan benar Bu Siska makan dulu sebelum balik lagi kesini.
“Alan. Saya punya berita bagus buat kamu!”
“Hah? Berita apa, Bu? Kok muka Bu Siska keliatannya seneng banget.”
“Sebentar lagi kamu akan dapat pacar. Selamat ya!”
“Hah? Pacar? Pacar apa, Bu?”
Bu Siska lalu berbalik badan. Ia seperti ingin memanggil orang yang ada di luar.
“Cynthia, sini masuk!”
“Cynthia?”
Rasanya nama itu nggak asing. Seperti baru-baru ini kudengar.
Sesaat setelah dipanggil, sambil malu-malu seorang siswi menampakkan diri lalu melangkah masuk. Namun setelah melihatku, ekspresi malu-malunya langsung berubah jadi terkejut.
Aku pun juga terkejut melihatnya.
“Heh. Kamu ngapain disini!?”
“Heh. Kamu ngapain kesini!?”
Secara bersamaan aku dan Cynthia meneriakkan kata yang nyaris sama.
Ternyata orang yang dipanggil Bu Siska adalah siswi menyebalkan yang tadi datang ke sini. Mengingat pernyataan Bu Siska barusan soal aku akan dapat pacar, apakah siswi ini diam-diam menyimpan rasa padaku? Apakah sifat kasarnya tadi itu karena dia malu?
Masa sih? Dalam mimpi pun aku nggak pernah membayangkan ini bisa terjadi. Jika benar, ini pasti bayaran atas semua kesialanku selama ini.
“Bu! Meskipun pura-pura, aku nggak mau pacaran kalo sama anak itu!” Cynthia protes kepada Bu Siska sambil memberi telunjuk padaku.
Pura-pura? Karena belum mengerti, aku memilih diam dulu memperhatikan.
“Menurut saya dia adalah pasangan ideal buat kamu, Cynthia.”
“Ideal? Ikh! Iyuh banget deh. Pasangan ideal buat aku itu cuma Reza, Bu. Nggak ada yang lain!”
“Yah. Ini kan demi kamu bisa balikan lagi sama Reza. Cuma sebentar aja nggak apa-apa kan?” Bu Siska kelihatan sedang membujuk.
“Memangnya nggak ada cowok lain?”
“Nggak ada. Dia bagus kok! Ibu berani jamin.”
Cynthia lalu memberi tatapan sinis kepadaku. Seperti sedang melakukan penilaian, namun menilainya hanya dari sisi negatif saja.
Kesan pertamaku dengannya memang buruk. Yah, kurasa itu nggak tertolong.
“Yaudah, kalo nggak ada, biar aku cari sendiri aja, Bu.”
Setelah berkata begitu, Cynthia lalu melangkah pergi.
“Kamu mau kemana, Cynthia?!”
“Ke belakang sekolah. Aku dengar disana suka ada siswa berandalan yang nongkrong. Mereka pasti mau ngelakuin apa aja kalo dibayar.”
Cynthia menjawab pertanyaan Bu Siska tanpa menghentikan langkahnya. Setelah membuat satu helaan napas, Bu Siska lalu mengarahkan mata yang dilindungi bingkai kaca berbentuk segi empat kepadaku.
“Kejar dia, Alan.”
“Hah? Emang masalahnya apa sih, Bu. Aku nggak ngerti.”
“Dia habis putus cinta. Kondisi mentalnya belum stabil. Tadi dia cerita ke Ibu tentang masalahnya, lalu meminta saran gimana cara supaya bisa balikan. Lalu saya menyarankan dia buat pura-pura pacaran. Karena setelah melihat wanitanya jalan bersama cowok lain, biasanya cowok cenderung ingin kembali mengejar.”
“Trus Bu Siska jadi nyaranin dia buat pura-pura pacaran sama saya. Gitu, Bu?”
“Ya. Begitulah. Kamu senang kan?” Bu Siska memberi senyum.
“Nggak, Bu. Aku nggak suka sama sifatnya dia.”
“Jadi kalian berdua udah saling kenal?”
“Dibilang kenal, nggak juga sih, Bu. Aku baru sekali ketemu dia, dan kesan pertamaku ke dia berakhir nggak bagus.”
“Sebenarnya saya mau tanya kesan pertama kamu sama Cynthia kayak gimana. Tapi jelasin itu nanti aja. Sekarang buruan deh kamu kejar dia, Alan.”
“Kenapa aku harus ngejar dia, Bu?”
“Udah. Cepat buruan kejar sana!”
Bu Siska mendorong-dorong aku keluar ruangan.
“Jangan kembali tanpa Cynthia ya! Kalo nggak mau tugas impian kamu Ibu pajang di mading sekolah.”
Setelah berkata begitu Bu Siska lalu menutup pintu rapat-rapat.
“Bu! Tunggu sebentar, Bu! Bu Siska…!”
Hening. Seolah nggak ada orang di dalam.
Sial. Ancaman Bu Siska itu sangat menyeramkan. Aku bisa jadi bahan tertawaan satu sekolah selama tiga tahun ke depan jika itu benar terjadi. Lebih buruknya, aku bisa masuk ke dalam sejarah siswa aneh di sekolah SMK Grafika Cibinong lalu masih ditertawakan meski sudah jadi alumni.
Nggak. Nggak boleh dibiarin. Aku harus bergegas.
Bagian belakang sekolah ini bisa dibilang terpisah dari peradaban. Karena sekolah ini menganut arsitektur modern, namun disana adalah tempat seperti hutan yang banyak pohon rindang.
Meski suasananya sepi, sejuk, dan mendamaikan, aku nggak suka berada disana. Seperti yang Cynthia bilang tadi, tempat itu sering digunakan oleh siswa nakal untuk berkumpul. Di tanahnya pun banyak berserakan puntung rokok.
 “Lepas! Lepasin!”
Sudah dekat di belakang sekolah, aku merasa mendengar suara Cynthia dalam keadaan nggak baik.
Segera aku mempercepat langkah lalu mengintip dari balik tembok.
Disana aku melihat seorang siswi sedang dipojokkan ke pohon oleh tiga orang siswa.
“Kamu nggak perlu bayar buat jadi pacar aku, sayang. Langsung pacaran disini juga aku mau kok,” salah satu siswa nampak sedang menggoda. Lalu tanpa meminta izin ia memegangi tangan Cynthia.
“Lepasin! Aku nggak bilang pacaran beneran! Pura-pura aja! Kalian ngerti nggak sih!”
“Wah. Maksudnya gimana ya? Coba dong ajarin pacaran itu kayak gimana?”
Aku merasa aliran pembicaraan ini nggak bagus. Sebagai laki-laki, tentunya ada rasa aku ingin kesana lalu menolong dia.
Kamu tau kan? Seperti seorang tokoh utama dalam cerita fiksi.
Ketika tokoh wanita sedang diganggu oleh pria-pria nakal, akan datang tokoh utama, entah darimana, lalu memukuli pria-pria nakal itu. Satu lawan banyak pun akan di hajar, dan ia selalu menang. Kemudian pria-pria nakal itu lari meninggalkan tokoh wanita, lalu si tokoh wanita berkata malu-malu mengucap terimakasih.
Sebuah adegan yang indah.
Tapi kehidupan nggak berjalan seindah cerita fiksi. Kalau aku nekat kesana, aku cuma akan jadi korban kedua. Dalam pertarungan fisik, mana mungkin aku bisa menang melawan tiga orang. Lawan satu aja aku nggak yakin menang.
Daripada cuma menambah jumlah korban, lebih aku amati dulu dari sini sambil berdoa semoga mereka nggak melakukan hal aneh-aneh kepada Cynthia.
Akan tetapi sepertinya aku melakukan kesalahan. Mengingat kesialanku selama ini, seharusnya aku mendoakan sebaliknya.
Baru saja aku mendoakan keselamatan Cynthia, ketiga siswa nakal itu mulai melakukan aksi yang melanggar norma kesusilaan.
Satu siswa yang di depan, menutup mulut Cynthia dengan tangannya rapat-rapat. Dan siswa di sebelahnya menyatukan kedua tangan Cynthia ke belakang lalu mengunci dengan kekuatan tangan miliknya. Cynthia berusaha memberontak, namun sayang, tenaganya nggak cukup untuk melawan.
Sementara itu siswa yang satu lagi mulai membuka kancing baju Cynthia satu-persatu.
Panik. Tanpa pikir panjang aku langsung keluar dari persembunyian lalu berteriak.
“Hei! Hei! Hei! Stop disitu! Itu melanggar hukum!”
Tubuhku bergerak sendiri tanpa kuperintah. Sejujurnya aku nggak tau apa yang mau kulakukan. Dan aku juga nggak tau bisa apa aku dalam menghadapi mereka di situasi ini. Ada sedikit penyesalan kenapa aku harus keluar dari persembunyian.
Tapi kalau aku diam saja, pasti akan muncul penyesalan yang lebih besar nanti.
Ketiga siswa nakal itu pun menghentikan aksinya sementara. Perhatian mereka kini berpusat tepat menuju diriku. Seorang bocah yang mengganggu kesenangan mereka.
“Lu siapa, hah?”
“Berani-beraninya lu kesini?”
“Mau gue hajar?”
Gawat. Mereka benar-benar marah. Aku harus gimana?
Tiba-tiba aku terpikir sebuah ide. Seperti muncul lampu di atas kepala.
Dengan tangan kilat aku mengambil HP dari kantong lalu kupamerkan kepada mereka.
“Gue udah rekam perbuatan kalian. Bakal gue laporin supaya orang tua kalian dipanggil trus kaian dikeluarin dari sekolah!”
Tanpa memikirkan mereka percaya atau enggak dengan kebohonganku, aku langsung lari terbirit-birit.
“Woy, kampret! Sini lu!”
Ternyata mereka bertiga memilih mengejarku. Aku nggak tau mereka itu bodoh atau apa. Padahal HP-ku ini cuma HP cina jadul. Mana mungkin bisa merekam video dari jarak sejauh itu.
Baguslah. Kalo mereka mengikutiku, berarti Cynthia aman. Ia bisa lari menyelematkan diri sekarang.
Aku nggak peduli caraku ini nggak jantan atau apapun. Terserah kamu mau bilang apa. Di dunia ini mana ada orang yang mau mengorbankan keselamatan dirinya demi orang yang baru dikenal belum genap satu jam.
Lari jarak jauh itu melelahkan. Perut kananku mulai terasa sakit. Aku merasa ini sudah batasku. Aku pun memperlambat langkah lalu berhenti dengan napas terengah-engah.
Aku berhenti tepat di depan ruang TU (Tata Usaha). Dekat dengan kantor kepala sekolah. Seharusnya siswa-siswa nakal itu nggak berani macam-macam disini.
Benar saja. Ketika melihat ke belakang aku melihat tiga orang itu melangkah ke arah sebaliknya. Namun satu orang dari mereka menoleh lalu membuat isyarat ‘Awas lo ya!’
Beruntung aku bisa lolos dari mereka. Namun aku nggak yakin apa benar ini bisa disebut keberuntungan. Sekarang aku jadi terbayang-bayang apa yang akan terjadi kalau satu hari aku bertemu mereka lagi?
Nampaknya aku harus mengucapkan selamat tinggal kepada kehidupan damaiku di sekolah.
Seharusnya sekarang Cynthia sudah selamat. Tapi demi memastikan, aku memilih kembali ke belakang sekolah dengan mengambil jalan memutar.
Sekarang aku mengintip dari sisi tembok yang lain. Nggak ada orang disana. Ya. nggak ada, kecuali satu orang anak perempuan berseragam putih abu-abu yang sedang terduduk di tanah.
Ngapain sih dia masih disitu. Bahaya tau nggak.
Sesaat aku memperhatikan sekitar guna memeriksa apakah siswa-siswa nakal itu kembali lagi kesini atau enggak. Setelah menunggu cukup lama, nampaknya mereka pindah nongkrong ke tempat lain.
Baguslah. Aku jadi bisa keluar dengan aman.
Aku pun berjalan mendekati Cynthia yang terduduk pasrah di tanah. Ia kelihatan seperti orang yang sedang ketakutan. Kepalanya terus menunduk. Lalu kedua tangan ia posisikan memeluk dirinya sendiri erat-erat.
Kancing bajunya belum ia benarkan. Dari sini aku dapat melihat sebuah belahan daging yang terhimpit oleh lengannya, juga sedikit selaput penutup berwarna biru muda. ‘Tapi karena merasa nggak enak, segera aku mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Hei, Cynthia. Mau sampe kapan kamu duduk disitu?”
“…”
Cukup lama aku menunggu tapi nggak ada jawaban darinya.
“Hoi!”
“…”
“Kamu nggak apa-apa?”
“…”
“Cynthia…! Hoi…!”
Cewek ini tetap diam. Aku jadi ingat tadi Cynthia bilang dia nggak sudi namanya disebut sama aku. Tapi itu cuma sekedar ejekan kan? Bukan benar-benar nggak mau.
Aku mencoba berpikir sejenak. Hmm.
Mungkin dia masih trauma dengan dengan kejadian tadi.
Bu Siska sempat bilang kalo kondisi mentalnya memang lagi nggak stabil juga. Sebaiknya aku temani aja sampai dia baikan.
Aku pun memilih duduk di sisi lain pohon. Sesekali diam-diam aku melihat ke arahnya, namun berapa kali pun kulihat nggak ada satu perubahan pun. Keadaan nggak bertambah baik. Malah sekarang samar-samar aku mendengar suara isak tangis.
Menunggunya sampai baikan lama-lama bikin ngantuk juga. Di bawah pohon rindang, ditemani angin sepoi-sepoi yang sejuk. Aku merasa akan tertidur.
Benar saja aku ketiduran. Aku tersadar karena sesuatu menusuk-nusuk lembut pipiku. Seperti tersentuh jari.
Ketika membuka mata, aku melihat sosok bidadari berwajah polos. Apakah aku sedang bermimpi?
Tentu saja nggak. Itu Cynthia.
Ternyata benar kalau dibangunkan oleh seorang cewek cantik itu terasa ada kesenangan tersendiri.
“Cynthia? Kamu udah ng---”
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Cynthia lekas lari menjauh lalu bersembunyi ke belakang pohon. Seperti seorang anak kecil yang ketakutan.
Penasaran, aku pun berdiri lalu berjalan perlahan ke arahnya.
“Tenang, Cynthia. Aku nggak akan nyakitin kamu.”
“Jangan mendekat!” Teriak Cynthia.
“Kamu ada nomor keluarga yang bisa dihubungi? Biar aku bantu telepon supaya mereka bisa jemput kamu disini. Tapi aku pinjem pulsa kamu ya.”
“Aku bilang jangan mendekat!”
Dia kenapa? Apa pengalaman tadi bikin dia sebegitu trauma? Apa dia punya pengalaman buruk juga sebelumnya? Atau kondisi mentalnya saja yang lemah? Atau semua wanita memang seperti itu kalau kehormatannya sempat terancam?
“Alan…! Kamu ngapain Cynthia!?”
Tiba-tiba terdengar suara galak Bu Siska.
Mungkin karena terlalu lama membawa Cynthia balik, Bu Siska sampai menyusul kesini.
Tapi situasi ini bisa bikin Bu Siska salah paham. Ini terlihat seperti akulah yang sedang membuat Cynthia ketakutan.
“Cynthia, kamu nggak apa-apa?” Bu Siska segera mendekati Cynthia.
Cynthia menyambut dengan mata hijau zamrud yang berkaca-kaca. Ia lalu memeluk erat tubuh Bu Siska.
“Huaaa…. Bu Siska... hiks… aku takut, Bu. Cowok itu nyeremin.”
“Tenang, Nak. Ibu ada disini. Ibu akan melindungi kamu dari cowok jahat itu.”
Bu Siska lalu melirik tajam ke arahku. Matanya dipenuhi kebencian seolah berkata “Anak bajingan! Apa yang telah kamu lakukan!?”
“Saya bisa jelasin, Bu! Ini nggak seperti apa yang terlihat!”
“Alan. Saya minta besok orang tua kamu datang ke sekolah menemui Ibu ya.”
“Bu! Izinkan saya  jelasin situasi sebenarnya dulu dong!”
“Yaudah, coba jelasin.”
Aku pun menjelaskannya.
“Begitu. Apa itu benar, Cynthia?”
Pertanyaan Bu Siska di jawab anggukan pelan oleh Cynthia.
“Maaf ya, saya salah paham, Alan. Ternyata kamu ini memang menarik.”
Kali ini aku nggak senang mendengar kata menarik dari Bu Siska karena aku sudah tau mengarah kemana tertariknya itu.
“Yasudah, kamu pulang duluan aja, Alan. Biar saya aja yang menjaga Cynthia sampai ia benar-benar baikan. Oh iya. Nasi goreng kamu ada di meja Ibu, ambil sendiri aja ya.”
“Oke siap, Bu.”
Fyuuh, aku lega akhirnya ini berakhir. Setelah ini aku nggak akan mau lagi berurusan sama Cynthia. Bersamanya cuma bikin hidupku tambah sial.
Sudah cukup banyak kesialan yang menimpaku hari ini. Kurasa ini cukup. Nggak akan ada kesialan lagi sampai malam nanti.
Akan tetapi ketika sampai di ruang BK, ternyata pintunya dikunci. Akhirnya aku hanya bisa ikhlas pulang tanpa mendapat makanan gratis.

My Love Story Isn't A Romance Tragedy Bab 1 Ori LN Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.