Senin, 26 Februari 2018

Owari no Seraph : Ichinose Guren, Jyuurokusai no Catastrophe Jilid 3 Bab 4 bagian 6 LN Bahasa Indonesia


CINTA SANG IBLIS
(Part 6)
(Translater : Natsume ;  Editor : Alei)


“……..”
Setelah semuanya berlalu, Mahiru pun bangun dari tempat tidurnya.
Kegelapan berada di dalam ruangan itu.
Mahiru merapikan seragam sailor-nya. Lalu tanpa berkata sepatah kata pun, Ia memutuskan untuk pergi.
Ia memutuskan untuk pergi begitu saja.
Saat  memeluk Guren, ia terlihat sangat bahagia dan menderita di saat yang sama.
Hal itu sejenak membiarkannya melupakan kegelapan tanpa  akhirnya. Guren masih bisa mengingat sentuhan kulitnya yang lembut. Hal itu masih sama seperti saat mereka kecil. Mahiru yang waktu itu selalu memiliki senyum mempesona. Dulu ia percaya selama mereka bersama, mimpi apapun, tidak peduli seberapa musatahilnya, akan selalu tercapai.
[ Aku sangat menyukaimu Guren! Bagaimana denganmu? Guren?]
[………..]
[Hei. Hei. Hei.]
[……….]
[Hei Guren, Katakan kamu suka aku juga dong!]
[Tidak mau.]
[Kenapa tidak? Aku sangat menyukaimu!]
Saat mereka kecil, Mahiru adalah gadis kecil manja yang biasanya sering berkata begitu.  Tapi Guren, adalah anak yang pemalu, ia tidak bisa menjawab perasaannya.
Sekarang sudah terlambat. Sangat terlambat sampai seseorang itu telah kehilangan semua harapannya.
“…… Pergi keluar?”
Guren bertanya. Mahiru mengangguk.
“…… Ya.”
"Aku tidak bisa menolongmu?”
“Nah. Kamu menyelamatkanku barusan.”
“Jangan pergi, Mahiru. Aku…..”
"Kau tidak akan bisa melindungi aku lagi. Kau tidak punya cukup kekuatan untuk melindungiku. Aku yakin kita berdua tahu itu.”
“…….”
“Yang ingin Guren lindungi bukan aku. Tapi rekan-rekanmu.”
“………”
“Jika kamu bisa menunjukannya sekarang, mungkin aku masih bisa bersama denganmu. Jika kamu benar-benar mencintaiku dan ingin bersamaku…. Maka bunuh semua rekan-rekanmu.
Ia menoleh dengan air mata yang berlinang.
"…… Kamu tidak bisa 'kan.”
“…………”
"Guren memang orang yang baik. Sangat baik sampai-sampai mau memeluk dan menghiburku yang menyedihkan ini. Benar-benar berbeda denganku yang egois ini.”
Guren menatap Mahiru. Di bawah sinar bulan, wajahnya begitu indah.
“Apakah melindungi seorang rekan adalah tindakan bodoh?”
Ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku pikir itu sangat tindakan yang gagah. Guren sangatlah gagah. Tapi hal itu tidak akan membuatmu kuat.”
“Kau juga melindungi adikmu, 'kan?”
“Ya. Itu benar. Itulah mengapa aku menelan oni dari Shinoa. Untuk menyelamatkan Shinoa, aku melakukannya. Itulah sebabnya aku sudah mulai membusuk. Memasukan dua oni dalam satu tubuh, itulah sebabnya aku hancur. Tapi.”
Ia memandang Guren dan berkata.
“….. Terlepas dari kenyataan bahwa aku sedang hancur, aku mungkin tidak akan melupakan apa yang terjadi hari ini. Guren, aku mencintaimu. Dan, terima kasih. Kau membuat mimpiku jadi kenyataan. Sekarang……’
Ia membuka kedua telapak tangannya.
"…… Sekarang… seketika itupun, titik lemah di hatiku telah mati. Mahiru yang berumur 6 tahun, kecil dan lemah, orang yang pantang menyerah memanggil dan mencintaimu, telah cukup melihat dunia ini dan mati."
Ia memandang Guren dan berkata.
"……. Kau memanfaatkanku untuk ini?”
“Ya.
“Untuk menghapus kelemahanmu? Jika itu yang terjadi, apakah Mahiru telah menghilang? Kau menjadi Iblis?”
“Ya.”
“Berhenti bercanda. Mengatakan hal itu dengan tangisan di matamu, apa kau pikir aku akan percaya?"
Mahiru menengadah.
Dengan ekspresi sedih.
Ia terlihat seperti manusia. Ia terlihat seperti gadis yang lemah. Tapi, ia berkata dalam sepi.
“……. Data penelitian Kiju semua ada di sini. Jika kamu berharap untuk menyelamatkanku, maka bunuh mereka semua dan temui Aku.”
"Mahiru. Apa yang sebenarnya yang sedang kau hadapi?”
“…….”
“Kau menelan oni di dalam tubuh Shinoa. Dengan kata lain, Shinoa tidak lagi dalam bahaya kan? Jika seperti itu, masalah apa lagi yang kau punya? Oni di dalam tubuhmu? Laboratoriumku…"
Mahiru memotong.
“…… Hasrat terliarmu, apa hanya ini?”
“…….”
"Bersama denganku, akankah itu jadi satu-satunya yang membuatmu bahagia? Bagi seseorang dengan banyak hal untuk dilindungi, apakah kamu bisa menyerah pada mereka dan pergi bersamaku?”
“……..”
“Lihat, kamu tidak bisa.”
Ia tersenyum pahit.
Guren mengamati wajahnya dan berkata.
"Lalu apa hasrat egoismu? Apa mimpimu? Mengapa kau melakukan ini? Untuk menjatuhkan keluarga Hiiragi?”
Tapi Mahiru tetap diam. Mahiru turun dari ranjang. Tubuh lenturnya melompat ke arah jendela. Guren tidak bisa menyusulnya ataupun menghentikannya. Untuk saat ini Guren tidak bisa berjalan di sampingnya.
Mahiru berkata.
"…. Bagaimanapun, aku minta maaf Guren. Telah membuatmu terlibat.” 
“Mengapa?”
"Dalam rangka membersihkan tubuh Shinoa dari Oni, Aku telah membagi sedikit Oni padamu. Jadi, kamu akan menjadi Iblis juga. Aku harus bertingkah seperti anak manja....."
"Kalau begitu, tinggallah. Bertarunglah di sampingku.”
Mahiru menggelengkan kepalanya.
"Waktu yang tersisa tidak cukup.”
Waktu macam apa itu.
Waktu tersisa baginya sebagai manusia?
Atau waktu tersisa sampai penyingkapan?
"Apa yang sebenarnya akan terjadi pada waktu Natal?"
Mahiru memberi jawaban sederhana.
"Seperti yang kukatakan sebelumnya, seperti bagaimana kataku, kehancuran—kehancuran awal akan menimpa si serakah, para orang dewasa. Tepatnya, di seluruh dunia, mereka yang di atas usia 13 akan binasa.”
“…… Ah?.”
"Tuhan akan marah. Marah pada keserakahan. Marah pada semua penelitian kotor ini. Manusia-manusia yang dengan bebas membiarkan hasrat terdalam dan tergelap mereka berlarian amat sangat mengerikan.
Itulah sebabnya Bumi sudah mulai membusuk.
Monster-monster berjalan di tanah.
Hujan racun turun dari langit.
Malaikat terakhir akan meniupkan terompet. Dunia akan hancur.
Manusia akan mati. Manusia lemah tidak akan bisa hidup di dunia itu.”
Mendengar kata-kata Mahiru, Guren teringat.
Natal. Kehancuran.  Virus.
“….. Terorisme?  Akankah gereja Hyakuya menebar virus ?”
Mahiru tertawa dengan sedih dan mempesona.
Barusan, tirai dibelakangnya mulai terhembus lagi. Bukan karena dihembus angin. Nampak bayangan hitam. Tirainya terkoyak.
Seorang wanita, yang Guren lihat kemarin di taman, masuk dengan cepat.
Wanita yang cantik.
Membuka mulutnya.
Menampakan taring.
Itu vampir.
Bagi manusia, mereka adalah musuh yang tak terkalahkan.
"…… Akhirnya kita bertemu, Hiiragi Mahiru.”
Kata si vampire.
"Mahiru !”
Guren berteriak.
Tapi Mahiru tetap tersenyum.
“…… Datanglah, Asuramaru.”
Mahiru menyebut nama yang Guren tidak kenal. Setelah itu, seolah menanggapi panggilannya, pedang hitam tiba-tiba termaterialisasi dari udara tipis dan masuk ke lengan kanannya.
Ia mengayunkan pedang itu. Bisa jadi itu adalah senjata , seolah ayunan pedangya tidak bisa terlihat. Tidak salah lagi itu lebih cepat dibanding vampir itu.
”Ah…..”
Vampir itu terpotong menjadi dua, ekspresi terkejut terpampang di wajahnya. Tapi semuanya berakhir disana, tubuh bagian atas dan bawahnya menghilang.

Guren terdiam di tempatnya berdiri. Ia hanya bisa meneriakan namanya.
Mahiru memegang pedang dan menoleh, dengan ekspresi sedih di wajahnya.
"Jadi, Guren. Dikejar vampir kemarin, apa kamu takut?”
"….. Jadi, itu kau?”
"Aku memalsukan berita bahwa Keluarga Hiiragi berencana menyingkirkan gereja Hyakuya. Jadi gereja Hyakuya memulai pembalasan dendam. Ini akan memantik keluarga Hiiragi untuk membalas dendam. Setelah itu, gereja Hyakuya akan…..”
Suara ledakan menghentikan perkataannya.
Dong, dongdong, dongdongdong Itu terdengar seperti sesuatu di dalam film perang.
Sesaat kemudian, sirine dari mobil polisi dan ambulan bisa terdengar.
Itu datang dari arah Shibuya.
Mahiru terus tersenyum.
"Ah, sudah dimulai. Baru kemarin, hanya akulah si kelinci..... tapi mulai hari ini dan seterusnya, akan berbeda. Semua orang dipaksa untuk menjadi si kelinci. Semua orang di dunia adalah si kelinci. Lebih cepat, lebih cepat.”
Guren menatap Mahiru sebelum melihat keluar jendela.
Suara ledakan demi ledakan tak kunjung berhenti.
Suara itu bisa terdengar 3000 meter dari Shibuya.
"Ah, ha, apa kamu khawatir dengan rekan-rekanmu? Apakah Shigure-chan dan Sayuri-chan, yang sangat mencintai Guren, telah mati?” 
Guren membelalak pada Mahiru.
“Jangan melotot padaku. Kau mencintaiku kan? Lagipula, kita tadi melakukan itu.”
“….. Tujuanmu, apa itu?
“Sama denganmu.”
“Berhenti bercanda.
"Aku tidak bercanda."
“Berhenti bercanda!.
Mahiru tertawa lagi.
“Untuk terus hidup denganmu, untuk terus hidup denganmu di dunia ini. Bahkan jika dunia ini tidak lagi dapat ditempati. Untuk ini, aku memilih untuk menjadi Iblis.”
"…… Aku berbeda denganmu.”
Ya~, barusan kamu bilang kalau kamu ingin aku tinggal di sampingmu."
"Kau ingin kau bersamaku. Aku tidak mengizinkanmu menyerahkan kemanusiaanmu.”
Wajah Mahiru luruh.
Suara ledakan terdengar lagi. Sesuatu meledak dibelakang Mahiru. Raungan dan tangisan dapat terdengan. Seperti “Bunuh para bajingan Hyakuya!” Peperangan sedang berlangsung di luar sana.
Mahiru kembali ke arah jendela dan berkata.
"Ah haha, kamu benar-benar masih ingin tetap di sisi kemanusiaan? Manusia jelek yang saling membunuh  bahkan jika hanya karena ada sedikit rasa takut?’
"Mahiru.”
Ia tidak menunggu dan terus berjalan mundur.
"Hei, Guren. Aku tahu. Kamu itu kuat. Sangat kuat. Itulah mengapa aku mencintaimu. Kureto dan semua orang ini bahkan tidak akan bisa mendekatimu. Jika kamu serius, kamu bahkan bisa menghancurkan dunia. Itulah mengapa kekuatan manusia sangat naif, lemah dan lahir dari suatu hal yang mengerikan. Itulah makanan kesukaan Oni."
“Tunggu, Mahiru!”
Tapi ia tidak berhenti. Dengan punggung menghadap Guren, ia bermaksud untuk melompat keluar jendela. Sebelum melompat, Mahiru menoleh untuk terakhir kalinya seperti Ia melupakan sesuatu.
"Oh iya Guren. Kita sekarang ini. Berapa umur kita?”
Ia pun menghilang.
Semua yang tersisa hanya wangi-wangian and kegelapan di dalam ruangan.
Berapa umur kita? Ia bertanya.
Ia berumur 16 di bulan Agustus.
Virus itu bisa membunuh semua orang yang berumur diatas 13. Tetapi, kata-katanya aneh sekali.
Dunia yang tidak lagi bisa ditinggali manusia.
Dunia yang tidak lagi bisa ditinggali manusia lemah .
Ponselnya yang terbaring di kasur mulai berdering. Guren mengambilnya. Itu sayuri.
“Apa semua baik-baik saja, Sayu....."
Ia menjerit.
"GUREN-SAMA! Larilah sekarang…. Gereja Hyakuya…..”
Panggilannya terputus. Guren segera menelpon balik. Tapi tidak ada yang menjawab.
Ia menelpon Shigure.
Tidak ada jawaban.
“......Sial!”
Ia mengancingkan bajunya dan mengambil pedangnya yang tergeletak di lantai.
Suara ledakan terus terdengar.
Ponselnya mulai berdering di saat yang sama. Guren segera mengangkat teleponnya.
"Sayuri?”
Tapi itu bukan Sayuri, itu adalah Mito. Ia sedang menangis.
“Gu, Guren...... kau masih hidup! Di mana, dimana kau?”
"Kalian di mana?”
“Di ruang audio-visual, di sekolah. Aku terjebak disini dengan beberapa murid.”
"Aku datang sekarang.”
“Jangan datang! Kau akan terbunuh.”
“Lalu kenapa menelponku? Kau ingin pertolongan kan? Beritahu aku detailnya.....”
Ia memotong.
“Tidak, tidak seperti itu. Itu tidak..... panggilan ini.... untuk rasa terima kasih....”
Guren menggenggam jurnal di atas meja dan melompat keluar dari pintu depan.
Mito melanjutkan.
"Sebenarnya.... pergi ke rumah teman kemarin. Rumah teman laki-laki. Itu pertama kalinya bagiku...."
Lift pun turun dan berhenti. Tidak ada waktu lagi untuk menunggu. Liftnya kembali turun.
"Selama ini, karena aku adalah nona muda dari keluarga Juujo, semua orang jadi gugup ketika didekatku. Mereka tidak menunjukan pikiran mereka yang sesungguhnya.....”
Lift pun berhenti di lantai satu. Guren dengan segera berlari keluar. Meskipun suara ledakan terdengar di wilayah sebelah, tidak ada tanda-tanda pertempuran di dekat tempat itu.
"Tapi kau benar-benar berbeda dari mereka. Kau akan berkata padaku kalau aku berisik dan menyebalkan.... Aku biasanya menganggapmu sebagai orang yang sangat tidak sopan. Tapi di saat yang sama....”
Suara Mito sedikit bergetar. Ia mungkin menangis.
“Aku sangat senang. Pertama kalinya aku diperlakukan sebagai gadis normal. Dan bukan nona muda dari keluarga Juujo. Aku juga bisa.... tersenyum seperti gadis normal.... jadi.”
“Jadi apa? kau berhentilah bicara dan dengarkan aku. Beritahu aku situasi terkini, Dengan siapa kau sekarang. Di ruangan...
"Guren. Tolong dengarkan aku.”
"Tidak, dengarkan aku dulu....”
Tapi Ia mengabaikan Guren dan melanjutkan.
"Mungkin aku akan.... mati hari ini. “Tapi, karena aku menjalani kehidupan seperti itu dan bahkan pergi ke rumah teman kemarin adalah yang pertama bagiku... Jadi, dulu tidak ada orang yang aku suka atau apapun. Mati seperti ini, aku tiba-tiba mengingat....."
“Diam. Kau tidak akan mati, jadi dengar...”
Tapi Mito terus mengabaikannya.
"Aku mencintaimu, Guren. Mungkin, kau adalah cinta pertamaku.....”
“Apanya yang mungkin! Katakan hal semacam itu ketika kau aman, hidup, dan benar-benar sadar! Bagaimana bisa kau mencintai seseorang ketika kau mati huh?"
“……..”
"MITO!”
“……”
“Apa kau mendengaku, MITO!”
"...... Aku takut...... Guren. Aku benar-benar takut..... darahnya tidak bisa berhenti mengalir.”
“……..”
“Musuh ada di mana-mana.”
“…….”
“Goshi, Hanayori-san dan Yukimi-san...... karena mereka melindungiku.... ini kesalahanku...”
“…….”
“Pintunya sudah didobrak.”
“Tenanglah Mito. Aku sedang dalam perjalanan, tunggulah sebentar lagi. Tidak apa. Aku akan menyelamatkan semua orang. Tenanglah. Teruslah berusaha. Jangan menyerah.....”
"Tolong jangan datang. Jika kau datang.... kau juga akan....”
"Tidak perlu cerewet. Sebelum aku datang, kalian harus mempertahankan diri di ruang audio-visual sekuat tenaga."
"Guren.......”
"Apa?”
“Selamatkan aku......"
Baru saja, sebuah ledakan dapat terdengar dari sisi lain telepon. Panggilan pun berakhir.
“.Sial.....!”
Guren menggerutu.
“.Sialan....! Sialan. Sialan. Sialan. JANGAN BERCANDA!"
Ia mengabaikan pandangan orang lain disekitarnya dan berteriak.
Berani-beraninya ia mengumumkan bahwa ia akan menyelamatkan semua orang. Ia tidak punya cukup kekuatan. Tidak peduli berapa banyak ia bicara tentang keberanian dan ambisi besar, itu tidak ada artinya baginya. Ia tidak memiliki cukup kekuatan dan karisma.
Untuk melindungi seseorang, untuk fokus melindungi seseorang, ia seharusnya sudah berlari lebih awal.
Tetapi, apa-apaan dengan semua lawakan ini? Apa yang sebenarnya.....
“…….”
Tapi pada saat itu, ia berhenti berpikir.
Ia menemukan sesuatu yang tidak dapat dipercaya di sudut penglihatannya.
Di lorong gelap.
Mesin dari sepeda motor tanpa pemilik yang menyala.
Di samping sepeda motor-
Sebuah pedang tertancap ke tanah, berdiri tegak.
Diterangi oleh cahaya bulan, pedang hitam bersinar dengan kecantikan yang jahat.
“…….”
Itu pedang yang Mahiru gunakan barusan.
Pedang yang disuntik racun dari Oni di dalamnya.
Pedang yang dikutuk dengan
Guren menatap pedang itu.
Kekuatan besar berdiri di depannya.
Menatap pada kekuatan tak tersentuh didepannya, Guren merasa lelah.
Berapa lama lagi aku bisa bertahan dalam permainan bodoh dan menyedihkan yang Mahiru mainkan  sebelum aku menyerah?
Ia tersenyum pada pedang itu.
“Ha, haha, hahahahaha...... baiklah. Aku mengerti, Mahiru. Aku menyerah. Aku akan menjadi si kelinci juga. Aku akan menjadi Iblis juga. Tapi aku berbeda denganmu. Aku membuang kemanusiaanku karena aku tidak ingin menyerah menyerah pada apapun."
Setelah itu, ia menelpon Kureto. Ponselnya berdering sekali sebelum ia mengangkat.
"Apa?”
"Apa kau baik-baik saja?”
"Ha. Ada apa ini. Kau mengkhawatirkaku? Dimana kau?”
Guren memberitahu lokasinya. Saat Mahiru menentukan tempat ini, ia dengan teliti mencari, mengelilingi bangunan-bangunan dan mengingatnya. Karena itu, ia seketika menjawab.
Kureto menjawab.
"Ikejiri......? Kenapa alamat itu?"
Guren menjawab. 
"Aku bertemu dengan Hiiragi Mahiru.”
“....... Lalu?"
Suara Kureto seketika berubah menajdi dingin.
"Orang yang membunuh Gereja Hyakuya adalah Mahiru.
"Jadi? Apapun yang kita lakukan sekarang, perang tidak akan bisa dihentikan.”
“Tepat sekali."
"Lalu?”
"Mulai saat ini, tubuhku akan mengalami hasil eksperimen Mahiru. Aku akan menggunakan kekuatan ini untuk menyelamatkan semua orang di sekolah.”
“……”
"Akan tetapi, jika aku kehilangan kesadaran dan menjadi mesin pembunun, maka bunuh aku. Mengenai informasi tentang , ada di jalan yang lokasinya aku katakan. Jika itu kau, mungkin setelah melihat ini, kau bisa menemukan cara membunuhku."
Kureto menjawab.
"Apa yang kau bicarakan? Siapa yang menyuruhmu untuk bicara?”
“Tidak ada seorangpun yang mengaturku. Aku hanya sampah lemah Ichinose. Juga, di situasi sekarang, tidak ada orang lain yang bisa aku andalkan. Jadi, aku mohon padamu.”
"..... Mengapa percaya padaku?"
Guren menjawab.
"Karena kau mempercayaiku.”
“…….”
Kureto tidak menjawab. Tapi itu tak apa. Ia telah mengatakan apa yang ia ingin. Biarkan segala sesuatunya berjalan sebagaimana mestinya.
Saat Guren akan menutup panggilan, Kureto menjawab.
“...... Mengerti. Mari kalahkan Gereja Hyakuya bersama.”
Guren menutup panggilan.
Ia membuat panggilan lain ke Shinya. Diangkatnya seketika.
"Guren? Kau masih hidup?”
"Ya. Aku perlu memberi tahumu sesuatu.”
"Tentu saja kau harus punya sesuatu untuk disampaikan. Dalam keadaan seperti ini.....”
"Aku tidur dengan Mahiru.”
Shinya hampir terdiam seketika.
“.....Ya~. Apa kau mau sombong atau apa?”
"Apa kau marah?”
"....... Bagaimana mengatakannya, ya. Lagipula, orang yang Mahiru cintai adalah kau..... tapi, sejak barusan.... perasaan kalah ini sangat mengerikan. Kenapa ya?”
“Tanya saja pada Iblis.”
"Haha, bagaimana rasanya kesuksesan cintamu selama ini ?”
“Aku merasa seperti hal-hal lain tidak akan jadi seburuk ini.” 
“Dengan kata lain..... aku mengerti dengan situasi saat ini. Selanjutnya apa?"
"Aku menerima dan menjadi Iblis.”
"Ha? Kenapa?”
"Sayuri, Shigure, Mito dan Goshi sekarang ini ada di sekolah, sedang diserang oleh gereja Hyakuya.”
"Ya.”
Aku akan pergi menyelamatkan mereka.”
Sehubungan dengan apa yang Guren katakan, Shinya benar-benar kehilangan kata-kata. Ia menghela napas dan berkata.
“.......Kau ini, benar-benar orang yang bodoh ya?"
Guren tidak bisa menemukan alasan untuk menyangkalnya. Ia hanya diam. Shinya melanjutkan.
"....... Jadi, kenapa menelponku?"
Guren berkata.
“........ Jika aku mati, aku akan serahkan Mahiru padamu."
"Apa itu berarti kau ingin aku membunuhnya atau menikahinya?”
Guren menutup panggilan. Tidak ada lagi yang bisa dikatakan.
Guren menatap pedang yang tertancap.  Sebelumnya, ketika ia mengambilnya, Oni mengambil keuntungan untuk menyerbu tubuhnya, dan ia tidak punya kekuatan untuk menahannya.
Bisa jadi hal yang sama terjadi kali ini.
Mengambil pedang ini berarti menyerah menjadi manusia. Tapi, bagaimanapun, kekuatan sangat diperlukan.
Tidak ada pilihan, kuncinya adalah kekuatan. Tidak ada waktu untuk ragu.
Guren mengingat apa yang Mahiru katakan tadi.
“Berapa umur kita sekarang?"
Enam belas.
Di usianya yang keenam belas, ia bukan lagi manusia.
Tapi disaat yang sama, ia tidak lagi punya kekhawatiran.
Dan tidak ada lagi keraguan.
Dengan begitu, jika ia bisa menyelamatkan seseorang. Bahkan jika ia hanya serpihan sampah, jika ia bisa menyelamatkan rekannya, ia masih bisa berjalan maju dengan bahagia.
“Selamatkan Mito. Selamatkan Goshi. Selamatkan Sayuri. Selamatkan Shigure.”
Guren terus melihat pedang yang tertancap di tanah, bergumam seolah meyakinkan diri.
"...... Aku berbeda dengan Mahiru. Aku menyerah menjadi manusia karena aku ingin menyelamatkan rekan-rekanku.......”
Ia mengambil pedang itu.

Seketika, kegelapan menyebar kedalam pandangannya.
Hitam pekat.
Kegelapan tanpa akhir menyerang-
Mulai saat itu, malapetaka Ichinose Guren di umur keenam belasnya dimulai.

Owari no Seraph : Ichinose Guren, Jyuurokusai no Catastrophe Jilid 3 Bab 4 bagian 6 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.