Senin, 26 Februari 2018

Only Sense Online Jilid 5 Bab 4 LN Bahasa Indonesia


TURNAMEN PVP AND BATTLE ROYALE
(Translater : Hikari; Editor : Gilang)

"Apa yang barusan itu?"
Mendengar pertanyaan Raina, Emily-san menatap tubuh si pelaku PK yang berubah menjadi partikel-partikel cahaya dan menjawab,
"Kalau aku tidak salah, seharusnya itu adalah elemen sihir kegelapan. Aku tidak ingin detailnya, tapi Sacrifice Counter seharusnya bukan skill untuk menghancurkan diri sendiri."
Emily-san bergumam dengan suara rendah.
Saat dia merenungkannya sendiri, Raina dan Al bersuara.
"Y-Yun-san?!"
"A-ada apa?"
"Bukannya 'ada apa'! pakaianmu! Pusarmu terlihat jelas!"
"Yun-san, apa tubuhmu terasa aneh? Apa kau baik-baik saja?"
"Perutku? Ah, sial…"
Setelah menerima sejumlah serangan dari si pelaku PK, pada akhirnya, tikaman terakhir yang kuterima telah menyayat armorku secara vertikal, merusakkannya. Biasanya, aku tidak begitu memikirkannya karena efek tambahan Auto Repair, tapi lubangnya cukup besar, bahkan hingga efek tersebut tidak dapat memperbaikinya.
"Haa, ayo pulang dulu sekarang. kalian berdua, sebaiknya kalian log out untuk hari ini dan beristirahatlah."
"Khawatirkan dirimu sendiri sebelum orang lain."
"Pusarnya, kelihatan."
Raina menghela napas dan entah kenapa, Letia mengacungkan ibu jarinya.
Masih bersemangat, Raina dan Al tanpa log out, mulai dengan enggan berjalan menuju kota. Sementara itu, para pelaku PK yang berada di hutan, kelihatannya sudah mundur. Tidak mempedulikan party-party yang mencari para pelaku PK di hutan, kami dengan sukses kembali ke kota.
"Emily-san dan aku harus pergi dulu ke suatu tempat. Saat kalian merasa tenang, kalian sebaiknya log out."
"Yun-san, tidak apa-apa. Aku akan menjaga dan menenangkan mereka."
Letia mengajukan diri untuk mengurus kedua anak itu. Maaf dan terima kasih, ucapku padanya menyampaikan rasa terima kasih.
"Um…Yun-san, Emily-san. Aku minta maaf untuk hari ini."
"Jangan dipikirkan. Kami memutuskannya sendiri."
"Tapi, gara-gara kami, kalian menggunakan banyak barang berharga seperti Revival Medicine… Maafku aku."
Ya ampun. Raina dan Al terus meminta maaf dan menundukkan wajahnya.
Saat mereka menurunkan kepala mereka sampai di ketinggian yang sempurna, aku mengelusnya untuk menenangkan mereka.
Mereka berdua yang bersikap panik pada awalnya, perlahan menjadi semakin dan semakin malu. Emily-san terkekeh melihat mereka seperti itu, membuat Raina menatap tajam dengan wajah bersemu merah.
"Yun-kun, sudah waktunya kita pergi."
"Ya, baiklah. Kalau begitu, sampai bertemu besok."
Acara event itu berlangsung selama 2 hari. Bahkan sekalipun hari ini adalah yang terburuk, mungkin ini akan berakhir dengan baik.
Demi hal itu, aku harus mengunjungi ruang pertemuan di aula guild dan melaporkannya.
"Yun-kun! Kau kembali! Apa kau baik-baik saja? Bukankah kau terlalu gegabah?"
"Uwaah?! M-Magi-san?! Ada apa tiba-tiba begini?!"
Saat kami kembali ke ruang pertemuan, pada saat yang bersamaan, pintu terbuka dan Magi-san datang memelukku dengan cemas.

Lebih tepatnya, aku sedang ditekan ke dadanya dengan tulang punggung yang meregang ke depan. Saat Emily-san yang ada di sebelahku menatap dingin, aku merasakan keringat dingin mengalir di punggungku.
"Sebesar itulah kau membuat kami merasa khawatir. Juga, Magi, lepaskan dia. Kita tidak bisa terus melanjutkan itu."
Menanggapi suara Cloude, Magi-san dengan enggan melepaskanku. Karena dia sebelumnya membantuku agar bisa pergi dan juga mencemaskanku, aku merasa berterima kasih padanya.
"Aku pulang. Terima kasih untuk kerja kerasnya di sini."
Cloude dan Magi, begitu pula Lyly, menatap kami yang pulang. Semuanya memperlihatkan ekspresi yang serius.
"Ada banyak yang ingin kukeluhkan, tapi di sebelahmu itu adalah Material Merchant, ya 'kan?"
"Halo. Yah, kurasa kondisi citra Emilio sangat kuat. Tunggu sebentar, aku akan melepaskan penyamaranku."
Topengnya rusak, tapi penyamar nama dan pengubah suaranya masih ada. Dia melepaskan semuanya dan kembali bicara.
"Aku adalah Emily, si Material Merchant yang membidangi Alkemi dan Sintesis. Yah, kalian telah membeli material dariku sebelumnya dan bertemu denganku sebagai Emilio.”
 “Di sini aku penasaran apa yang Yun lakukan saat dia sedang bersembunyi, tapi sekarang dia muncul dengan Material Merchant. Apa maksudnya ini?"
Cloude menatapku dengan tajam, tapi yah, aku memiliki banyak hal yang disembunyikan.
Karena pembicaraan ini tidak akan berlanjut kalau terus begini, Cloude menyarankan Emily-san dan aku untuk duduk, kemudian mulai berbicara untuk membuka percakapan.
"Hmm. Kehebohan kali ini sepertinya berpusat pada guild PK Fosch Hound dan Flame Prison Coprs, begitu pula guild berukuran sedang seperti Green Fall dan Mutual Aid Army. Selain itu, ada beberapa solo player independen. Aku tidak tahu jumlah pastinya, tapi setidaknya ada dua ratus orang kali ini."
"Itu jumlah yang sangat besar."
Setuju dengan perkataanku, Magi-san mengambil alih penjelasan setelah Cloude.
"Sepertinya ada beberapa alasan untuk hal itu, tapi salah satunya adalah rekasi balasan dari kita para perajin yang menentang perekrutan jahat mereka yang akhirnya meledak. Kemungkinan guild-guild berukuran sedang ikut serta dalam aktivitas itu untuk memprotesnya. Tapi, pasti ada tujuan yang sebenarnya juga."
"Tujuan sebenarnya? Berbicara soal itu, saat kami kembali, para pelaku PK menghilang tanpa jejak."
"Coba kupikirkan dulu. Kalau begitu…sebuah umpan?"
Menanggapi perkataanku, Emily-san bergumam.
"Tepat. Untuk memonopoli area tertentu, para pelaku PK telah melakukan sebuah tindakan yang mencolok untuk membutakan kita. Meski begitu, yang melakukannya hanya kedua guild PK, sementara yang lainnya hanya dimanfaatkan."
Setelah Cloude menjawab dengan acuh tak acuh, Lyly meneruskannya.
"Area yang dimonopoli sepertinya adalah yang dijaga oleh para pelaku PK yang bergantian melakukannya setiap beberapa waktu. Jumlah mereka cukup banyak dan karena mereka kuat dalam PvP, kita akan kalah dari mereka kalau kita bergerak dengan gegabah."
"Juga, sementara itu adalah tempat yang tidak bisa dicapai oleh para player baru, ini sangat menyakitkan mengingat itu adalah tempat yang sangat penting."
Dinilai dari kenyataan bahwa Magi-san memperlihatkan ekspresi jengkel, aku bisa mengetahui bahwa itu adalah area yang penting.
"Dan, area manakah itu?"
"Area yang dikuasai adalah—sekeliling Wisteria Peach Tree. Tidak hanya tempat di mana bahan-bahan Revival Medicine dikumpulkan, tapi juga titik awal raid quest. Karena quest itu masih belum selesai, ini sangatlah penting."
Karena saat ini tidak ada bahan-bahan atau resep alternatif untuk Revival Medicine, Revival Medicine yang baru tidak bisa dibuat.
Terlebih lagi, kalau mereka menguasai area tersebut untuk waktu yang lama dan memonopoli raid quest, mereka akan bisa menguasai banyak bagian dalam ekonomi game, mempengaruhinya secara buruk.
"Kalau ini berlanjut terlalu jauh, ada tindakan seperti menghapus akun mereka oleh manajemen game yang mana merupakan metode pasif untuk menanggulanginya. Yang paling ideal adalah dengan mengeliminasi alasan untuk mereka tetap berada di area tersebut."
Cloude menyelesaikan laporannya kali ini untuk sementara waktu dan kini giliran kami untuk melaporkan.
Banyak hal yang terjadi di dalam hutan yang bisa dibicarakan, tapi kami fokus pada hal-hal objektif, yaitu skill yang si pria pelaku PK gunakan, Killing Edge dan sihir yang disebut Sacrifice Counter.
"Sebuah ultimate skill dengan jumlah penggunaan yang terbatas, ya."
"Sesekali, itu dapat ditahan oleh permata Substitute Ring. Juga, aku dapat kembali dengan menggunakan Revival Medicine. Hanya itu yang bisa kukatakan."
"Tetap saja, Sacrifice Counter ya."
"Kau tahu soal itu, Cloude?"
"Yah, aku adalah seorang mage yang menggunakan elemen kegelapan. Sihir itu, bisa dibilang, menggunakan HP sebagai gantinya dan tergantung dari jumlah yang diberikan, skill ini memantulkan sejumlah serangan yang sepadan dengan banyaknya HP yang dikorbankan pada lawan."
"Dan, apa maksudnya itu?"
Saat Lyly dan aku yang tidak terlalu terbiasa dengan sihir kami memiringkan kepala kami, Cloude menjelaskan apa kegunaan utama dari Sacrifice Counter.
"Coba kupikirkan dulu. Sebagai contoh, jika sihir ini dilancarkan pada seorang player, serangan dari lawannya akan dipantulkan kembali pada si penyerang."
"Apakah itu menangkal serangan?"
"Itu tidak menangkal serangan seperti sihir pertahanan, tapi melukai lawan. Yah, ini seperti 'mata ganti mata, gigi ganti gigi'. Sihir untuk party sederhana."
Item drop langka dari Blade Lizard bernama Stone Bladescales memiliki efek tambahan yang mirip. Memantulkan serangan saat diserang bisa digunakan dalam berbagai cara.
"Digunakan dalam PvP, skill ini menggunakan HP penggunanya saat dia menyerbu musuh, membuat musuh merasa ragu. Metode semacam itu."
Sebagai contoh, kalau kau menggunakan Sacrifice Counter saat lawan memiliki lebih banyak HP, dalam pertarungan jangka panjang, itu akan perlahan-lahan membuatmu dalam keadaan tidak menguntungkan. Karena itulah, ini biasanya digunakan untuk taktik psikologis dalam PvP.
"Nah, untuk kali ini, skill tersebut digunakan sebagai teknik menghancurkan diri sendiri untuk menghindari kerugian yang muncul dengan Sense PK. Juga, menggunakan Sacrifice Counter saat lawan dalam kedudukan yang lebih beruntung untuk menghancurkan diri sendiri dengan aman, lawan kita adalah spesialis PvP."
Cloude menggumamkan sesuatu, kelihatan terkesan. Aku juga merasa setuju dengannya. Kami entah bagaimana berhasil menyingkirkan dia, tapi aku tidak ingat telah mengakibatkan luka yang cukup sepadan padanya.
"Tetap saja, Yuncchi terlalu gegabah. Juga, armormu rusak. Kami benar-benar merasa cemas."
"Itu benar, Yun-kun, Emily-chan. Onee-san khawatir."
Menanggapi perkataan Magi-san dan Lyly, aku mengucapkan maaf. Kami benar-benar meminta maaf dan meminta mereka bertiga untuk melakukan pengecekan pada senjata dan armor kami. Sebagai hasilnya, termasuk milik Emily-san, equipment kami dinyatakan memerlukan perawatan.
"Aku akan meminta bantuan perajin kenalanku. Bagaimana denganmu, Yun-kun?"
"Sepertinya sekarang sedang sibuk, aku tidak keberatan diperbaiki nanti."
Besok ada acara, mereka akan sibuk, gumamku dalam hati.
"Jadi, apakah kejadian hari ini ada efek apapun pada acara besok?"
"Yah, para pelaku PK tidak akan segera bergerak dan kejadian ini tidak berkembang terlalu jauh untuk membatalkan acaranya. Akan tetapi, usaha untuk memperoleh bahan-bahan untuk lapak makanan tidak berlangsung lancar. Beberapa acara akan dikurangi. Kita akan mempertimbangkan untuk memprioritaskan kesuksesan acara PvP."
Terhadap perkataan Cloude, aku menghela napas lega. Emily-san dan aku berniat untuk bersantai duduk-duduk di antara para penonton.
"Oh, iya. Pembicaraan mengenai PvP mengingatkanku. Kita harus menghukum Yun karena tindakan gegabahnya. Untuk sementara waktu, ayo buat supaya kau yang melakukan pertunjukkan di acara pembukaan PvP besok."
"Haa?! Kenapa?!"
Sepertinya sesuatu berkelebat di pikiran merencanakan sesuatu saat Cloude memperlihatkan ekspresinya, membuatku ingin segera mendebatnya, tapi tidak ada satu orang pun yang menolongku.
"Sayangnya, aku harus setuju dengan Cloude untuk kali ini. Kalau kau menyesali kenyataan bahwa kau membuat kami merasa khawatir, tunjukkan dengan tindakanmu. Oh iya! Berdandanlah untuk pembukaan PvP besok dengan pakaian yang imut! Kau tahu, seperti Gadis Payung!"
"Kalau begitu, bagaimana kalau sesuatu yang paling cocok dengan kepribadian Yun? Sesuatu dengan bagian-bagian yang tidak terlalu terbuka."
Saat Magi-san dengan tanpa ampun memihak Cloude, aku menatap Lyly, tapi…
"Yuncchi, berjuanglah!"
"Khh, tapi…"
Sambil memikirkan cara untuk menolaknya, aku juga memikirkan kondisi apa yang harus kuajukan supaya Cloude memperbaiki armorku.
"Baiklah kalau begitu, tambahkan Lyly untuk berpatisipasi. Dia harus memperbaiki kesalahannya pada perencanaan kali ini."
Dan, pikiranku terarah pada rencana berdiri di atas panggung.
"Yah, selama aku tidak sendirian."
"Tidak mungkin, aku dipaksa untuk ikutan juga?! Kurocchi! Ini bukan salahku!"
Meskipun Lyly memohon-mohon dengan mata berkaca-kaca, aku tidak membantunya. Aku merasa buruk soal Lyly, tapi aku akan membuatnya menemaniku.
"Wah, bagaimana mengatakannya, ya. Yun-kun, kau mudah setuju, ya."
"Emily-san?! A-aku tidak begitu!"
Aku menaikkan suaraku memprotes, tapi tanganku dan tanggan Lyly digenggam secara bersama oleh Cloude, kami dibawa ke kamar yang ada di belakang.

Emily-san sepertinya telah log out lebih dulu untuk bersiap-siap untuk esok hari, tapi Lyly dan aku dibuat bergonta-ganti baju oleh Cloude sebelum log out itu sangat melelahkan.
·
Hari kedua dari puncak acara. Turnamen PvP tidak diadakan di dalam kota, tapi di sebuah arena yang untuk sementara ditempatkan di bagian luar kota.
Arenanya disusun di dekat gerbang barang di mana biasanya latihan PvP dilakukan. Untuk panggungnya, aku memandangi saat para player yang menonton perlahan berkumpul untuk menyaksikan PvP.
"Yuncchi, tenangnlah."
"Uuu…masih ada banyak waktu sampai dimulai, tapi…aku tegang sekali…"
Lyly dan aku yang tiba-tiba ditunjuk menjadi pembawa acara untuk acara pembukaan turnamen PvP, berganti kostum di tempat yang disediakan di belakang panggung. Saat kami menunggu, Emily-san datang untuk memeriksa keadaan kami sebelum acara dimulai.
"Halo, Yun-kun."
"Emily-san, kau datang."
"Halo juga, Emilcchi!"
Dengan mengobrol bersama seorang kenalan sebelum pembukaan acara, hal itu sedikit mengendurkan rasa tegangku, tapi perkataan Emily-san yang berikutnya menghempaskannya sepenuhnya.
"Seperti yang kuduga Yun-kun, keinginanmu untuk berubah…"
"Tidak, aku memiliki keinginan itu! Dan apa maksudnya dengan 'seperti yang kuduga'?! ini adalah kostum untuk pertunjukkan panggung."
Emily-san yang wajahnya tertutup topeng, mengatakan sesuatu yang menyesatkan, jadi aku menyangkalnya mati-matian.
"Emilicchi, kau bersenang-senang hari ini!"
"Ya, aku menantikannya. Kostummu juga imut."
Saat Emily-san memuju kostum Lyly, dia tersipu-sipu dan tertawa malu-malu.
"Yuncchi, ada apa?"
"Tidak ada. Aku hanya memikirkan soal kostum."
Kembali ke saat itu, kostum-kostum yang dipilihkan Cloude memiliki desain yang sama sekali mengabaikan gaya bertarung kami.

"Nah sekarang, pakai ini sebagai gan…"Aku menolak!" kalau begitu, yang ini!"
Yang pertama kali muncul adalah seragam pelaut berwarna merah muda. Yang berikutnya yang dikeluarkan adalah jubah biru muda dengan belahan yang terbuka lebar, kemudian sehelai gaun putih longgar panjang dengan hiasan bulu-bulu berwarna putih bersih, sebuah kostum malaikat. Ada juga kostum jenis pas tubuh yang memperlihatkan garis tubuh.
Lyly menolak baju lainnya yang diperlihatkan padanya. Pada akhirnya, Lyly dan aku memilih kostum yang kelihatannya bisa kami terima.
Kostum yang kupilih adalah jubah biarawati yang diubah modelnya.
Jubah hitam legam sederhana dengan leher tinggi yang tidak memperlihatkan tengkuk dan tulang selangka.
Ada dekorasi mendetil di seluruh pakaian. Sebuah sulaman salib dengan benang perak di bagian dada dan pakaian itu sangat longgar sehingga membuatnya nyaman sangat diangkat dan diturunkan. Akan tetapi, karena bagian pinggangnya diikat dengan tali, garis tubuhku terlihat menonjol, membuatnya sulit untuk dipakai dengan nyaman.
Meski begitu, pakaian tersebut tidak terlalu terbuka. Karena jubah itu tidak berlengan, untuk menutupi kulitku, aku mengenakan sarung tangan yang panjangnya hingga ke siku. Bagian yang terbuka sangatlah sedikit dan tidak peduli bagaimana orang melihatnya, aku terlihat sebagai seorang gadis.

"Dan begitulah. Aku memiihnya sebagai pilihan terakhir, tapi…"
"Jadi, apa yang Yun-kun kenakan saat ini sepertinya adalah pakaian seorang biarawati. Ini cukup erotis."
"Bagaimana bisa begitu?"
"Mau bagaimana lagi. Kostum yang bagus harus dipakai di panggung."
Meskipun Lyly mencoba menyemangatiku karena aku merasa lesu, kau juga punya kostum yang biasa saja, pikirku dan mencengkeram gada yang diimprovisasi di depan tubuhku.
"Kau juga sama, Lyly! Tidak, malahan, kau terlalu terbawa arus! Kau itu laki-laki!"
"Yah, ini hanya bisa dilakukan di saat-saat seperti ini."
Tudung berwarna cokelat dengan tanaman berwarna putih dan hijau di permukaannya membuat sebuah gambaran seorang gadis desa. Celana pendek dan rok tembus pandang berkibar-kibar dengan desain labu.
Daripada disebut kostum untuk laki-laki yang feminine, ini lebih mirip kostum Halloween bertema gadis penyihir. Ditambah lagi, tongkat panjang dengan hiasan labu menegaskan hal tersebut.
Emily menatapi dengan ekspresi rumit.
"Pinggang Yun-kun yang ramping dan garis pinggul yang mengalir serta lekukan tubuhnya terlihat dengan sedikitnya bagian yang terbuka. Sedangkan untuk Lyly-kun, ada keimutan seorang androgini karena karakteristik kedua jenis kelaminnya yang masih belum berkembang. Bentuk tubuh kalian sama-sama dipengaruhi kemontokan secara keseluruhan. Dan juga, ini adalah analisis sederhanaku."
"Khh…padahal aku ini laki-laki."
"Nah, nah, karena sudah sejauh ini, menyerah sajalah. Juga, panggungnya sudah dimulai."
"Eh?‼ Tidak mungkin!"
"Nah kalau begitu, aku akan menyaksikannya dari kursi penonton."
Emily-san melambaikan tangannya dan pergi. Ditinggalkan begitu saja, kupikir tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan menguatkan tekadku.
"Mau bagaimana lagi. kau Siap?"
"Sudah jelas! Ayo, Yuncchi."
Dengan tanganku yang digenggam Lyly, kami berlari menaiki bagian samping panggung.
Ada para player yang menghadap ke arah panggung yang dipersiapkan di arena PvP, menunggu acara pembukaan.
"Halo semuanyaaa, baik-baik saja hari ini?"

Saat Lyly menyebarkan senyumannya seperti seorang idola, aku hanya bisa berpura-pura tersenyum dan melambaikan tanganku ke sekeliling.

"Hei, itu gadis penyihir. Tidak, seorang trap? "Dan Nanny juga." "Bukan, itu seorang biarawati!" "Kalau begitu, Bunda Kudus (Tl: Holy Mother)? Wanita Suci (Tl : Female Saint)?" "Kalau begitu, Holy Nanny (Tl: Pengasuh Kudus/Suci, tapi kyknya lebih asyik pake bahasa Inggris XD)." "Itu diaaaa!"
Meskipun tersenyum miris, aku melambaikan tanganku ke sekeliling.
Lyly mengerling padaku untuk melanjutkan, dan aku pun bersuara. Aku berbicara lantang dengan chat yang terbuka untuk area yang luas.
"Ini adalah hari kedua puncak acara. Pertarungan antar yang terkuat yang kalian nanti-nantikan! Turnamen PvP dibuka!"
"PvP kali ini akan diselenggarakan dalam dua babak, penyisihan dan bagian finalnya, dalam mode battle royale."
"Aturan untuk penyisihannya adalah dilarang menggunakan sihir penyembuhan dan item penyembuh. Penggunaan MP Potion dan MP Recovery dibatasi hanya sepuluh kali. Item-item sekali pakai yang berguna untuk pertarungan, semuanya dilarang. Bertarunglah dengan mempercayai pengetahuan dan keberanian, senjata dan Sense kalian!"
"Babak pertama telah diatur untuk menyaring pesertanya. Kalian akan bertarung hingga jumlah pesertanya sama atau lebih sedikit dari jumlah yang ditentukan."
"Para pemain yang menang akan maju ke babak berikutnya, dan dilepaskan dari aturan pembatasan penggunaan item. Di situlah kita akan menentukan juara yang sebenarnya!"
Di sinilah Lyly dan aku berbicara bersama-sama memberi sinyal tanda dimulai.
" "——Nah, para player hebat yang berkumpul untuk bertarung! Tanggapilah harapan semua orang dan bertarunglah dengan segenap kekuatanmu!" "
Kami berpose seperti yang Cloude rencanakan dan aku telah mempraktekkannya semalaman bersama Lyly.
Untuk menyilangkan tongkat dan gada, kami berdiri saling memunggungi, membenturkan kaki dan bahu, mengulurkan kedua senjata tersebut ke depan.
" "——Baiklah kalau begitu, naikkan tirai tanda pertempuran!" "
Setelah sejauh ini, hal ini jadi terasa menyenangkan. Lyly dan aku dengan sangat bersemangat mengayunkan senjata kami yang bersilangan dan pada waktu yang bersamaan, sesuai rencana, banyak sihir yang diluncurkan ke atas kepala para penonton.
*wusssh*——
Saat sihirnya naik, sorakan memenuhi sekeliling ke arahku dan Lyly yang mengangkat senjata.
Pada saat itulah, jubahku berkibar naik turun karena tekanan angin akibat munculnya sihir dan tekanan angin dari mengayunkan senjata, atau lebih tepatnya, dari angin yang dihasilkan tongkat besar Lyly.
Di bawah jubahku, aku memang mengenakan celana ketat. Tapi tetap saja, itu tidak berarti aku tidak merasa malu saat terlihat.
Kakiku terlihat sepenuhnya, perut dan pinggangku tersingkap. Kain hitam jubahku turun dengan lembut.
"J-j-j…"
Wajahku terasa terbakar karena malu. Setelah semuanya selesai, aku menahan pakaianku dengan tangan yang sedang memegang gada.
Seluruh arena mulai menyimak saat aku mencoba mengatakan sesuatu. suaraku bergema dalam chat mode meluas.
"——JANGAN LIHAT!"
Dan dengan begitu saja, aku melarikan diri ke pinggir panggung.
"Ah, Yuncchi! Tunggu!"
Lyly datang mengejarku dengan terburu-buru. Tapi selama kehebohan itu, Cloude mengambil alih setelah tirai panggung dinaikkan dan meneruskan penjelasan dengan nada kebingungan.
"Battle royale akan segera diadakan setelah ini. Kalian bebas untuk masuk dan berpartisipasi. Bergabunglah dengan para player yang telah mendaftar untuk ikut serta. Dalam setiap kasus, penalty akan ditentukan. Tentu saja, bagi pemenangnya telah disiapkan hadiah."
Kata-kata Cloude telah merangkum semuanya dan saat persiapan telah dimulai untuk panggung ronde pertama, aku pergi ke belakang kemudian memanggil Ryui dan Zakuro lalu membenamkan wajahku ke rambut Ryui.
"…Sudah cukup."
"Maaf, Yuncchi."
"Tidak apa-apa. Ini tidak tersibak terbuka saat praktek. Ada penyebab yang berbeda yang mengakibatkan semua hal ini."
Aku menyeka air mata yang menggenang di sudut-sudut mataku dan membuat seulas senyum rumit pada Lyly. Ekspresi cerahnya yang biasa akan disertai rasa bersalah. Aku tidak bisa terus-terusan muram. Perasaan semacam itu muncul dalam diriku.
"Ah, sial! Aku akan berhenti memikirkannya! Sepenuhnya!"
"Yuncchi?"
"Kali ini, ini semua salah Cloude! Membuatku berdiri di atas panggung pembukaan acara. Yup! Ini salah Cloude!"
"Salah Kurocchi?"
"Itu benar! Salah Cloude."
"Kau benar. Ini salah Kurocchi!"
Kami mengulangi berkali-kali. Untuk alasan aneh yang aku sendiri pun tidak mengerti, Lyly dan aku mulai tertawa.
"Haa, baiklah kalau begitu. Aku akan pergi ke area penonton."
"Ah, aku juga akan pergi. Aku ingin merekrut beberapa orang dari para penonton untuk ikut serta."
Saat aku membaur dengan penonton bersama-sama dengan Lyly, para player terdekat melihat ke arah kami.
"Barusan, itu adalah angin surga." "Ya, sayang sekali itu celana ketat. Tapi aku merasa tidak masalah hanya dengan melihat reaksi polos itu." "Sikap malu-malu seorang biarawati berdada rata adalah sesuatu yang lebih dari cukup." "Sebaliknya, aku tidak melihat pesona apapun dari wanita genit yang membuat kita menjadi pria mesum." """Aku sangat setuju."""
Saat aku menatap mereka lekat-lekat, mereka memalingkan wajah berpura-pura tidak terjadi apa-apa atau menggunakan metode klasik menutupinya dengan siulan yang dibuat-buat. Memangnya aku bisa dikelabui seperti itu? Sambil berpikir demikian, aku berjalan ke arah di mana Emily-san berada di antara pentonton.
"Selamat atas kerja kerasnya, Yun-kun. Juga…tadi itubenar-benar kurang beruntung yaa."
"Yah, benar sekali. Jadi, bagaimana dengan Raina dan Al?"
"Sepertinya mereka belum datang."
Aku duduk di sebelah Emily-san, Zakuro duduk di atas lututku bersama Ryui dan di belakangku. Kami menyita sangat banyak tempat untuk duduk, tapi entah kenapa ada sangat banyak sedikit orang di sekitar kami.
"Baiklah kalau begitu Yuncchi. Aku akan pergi mencari peserta tambahan dulu."
Sambil berkata demikian, Lyly mengeluarkan tanda panitia dari dalam inventory dan mulai berpawai di antara para penonton.
Melintas di sampingnya adalah Raina dan Al. Juga, di belakang mereka ada Letia yang sedang memeluk seember popcorn.
"…Yun-san! Emily-san!"
"Halo."
Semalam kami menitipkan si kembar pada Letia, mengucapkan selamat tinggal dan berpisah, tapi sepertinya kedua anak ini berhasil menenangkan diri.
"Apa kalian baik-baik saja kemarin?"
"Kami baik-baik saja. Ayo, Rai-chan juga."
"Umm, uhh. Sekali lagi, terima kasih banyak untuk yang kemarin."
Meski begitu, dia masih bersikap kaku, menekankan tubuhnya ke Al saat berbicara.
"Agar tidak terlibat dalam hal semacam itu, bersama dengan Al, kami akan menjadi lebih kuat!"
"Tidak, kurasa tidak perlu cemas soal itu."
"Juga! Aku bercita-cita untuk menjadi seorang wanita yang keren dan manis seperti Yun-san dan Emily-san!"
*kraaak*, udara di dalam diriku membeku.
——Aku, adalah seorang laki-laki.
Dalam keheningan yang aneh, Raina menjadi bingung dan suara Letia yang sedang mengunyah popcorn bergema.
"Dengar, Raina. Aku ini adalah la——"Onee-chaaaan!" ——-Uaaah! Myu?!"

Dengan Myu yang tiba-tiba memelukku dari belakang, aku terhuyung ke depan.

Saat aku berbalik, aku melihat anggota party Myu yang lain. Lucato, Toutobi, Hino, Kohaku, dan Rirei.
Sebagai tambahan, ada Minute dan Mami yang merupakan anggota party Taku.
"Kalian semua, kenapa kalian di sini…?"
"Tidak juga, semuanya antara sedang mencari tempat duduk di kursi penonton atau sedang mempersiapkan semangat mereka sebelum pertarungan——"
"Karena itulah kau datang dan melompat padaku?"
Ehehehe. Myu tertawa untuk mengelabuiku. Ya ampun, aku melepaskannya dariku.
"Ryui dan Zakuro, semangati aku juga!"
Myu menarik leher kedua hewan tersebut ke arahnya dan memeluk mereka erat-erat. Di belakangnya berdiri Lucato dengan ekspresi tidak enak hati.
"Yun-san, sebentar lagi akan dimulai. Maaf membuat keributan."
Saat aku melihat ke arah Emily-san, dia berkata bahwa dia tidak keberatan.
"Akan lebih menyenangkan jika bersama-sama, ya 'kan? Juga, akan sayang sekali kalau sekosong ini."
"Terima kasih, Emily-san."
Satu demi satu, hampir setengah kursi di belakang dan di depan kami yang tadinya kosong kini terisi.
"Jadi, Myu dan yang lainnya ikut serta dalam PvP? Bagaimana dengan Kei dan Gantz?"
Saat aku menanyai Myu yang mulai bertukar kue dengan Letia di belakang, dia menjawabku sambil mengunyah sebatang permen tongkat. (Editor : mungkin stik permen seperti permen k*ki)
"Yang ikut hanya aku, Luka-chan dan Tobi-chan. Juga, karena Taku-san, Kei-san dan Gantz-san jugaa ikut, kami mengajak Minute-san dan Mami-san. Selain itu, kenalan Sei-oneechan dan Mikadzuchi-san sama-sama berencana untuk ikut."
Berjuanglah Lucato, Toutobi. Saat aku menyemangati mereka, saat itulah tempat tersebut mulai dipenuhi dengan para player yang ikut serta.
"Ah, itu Sei-oneechan! Onee-chan!"
"Heii! Jangan melompat dari tempat duduk penonton!"
Sendirian, menjejakkan kakinya pada susuran tangan, Myu melompat ke dalam area kompetisi. Lucato dan Toutobi berlari dari pintu masuk yang seharusnya dengan terburu-buru, mengejar Myu.
"Oneeee-chaaaan! Aku akan berjuang sebaik mungkin!"
Menghunus pedangnya, Myu mengayunkannya kesana kemari. Itu bahaya, hentikan, kau mengganggu sekelilingmu.
"Ya ampun, benar-benar adik perempuan yang berisik."
Orang-orang yang tersisa, merendahkan kepala mereka, jadi aku dengan hati-hati berkata pada mereka supaya tidak memikirkannya.
Orang yang sedang dibicarakan sedang menggelayut pada Sei-nee.
Saat aku menyemangati Lucato dan Toutobi yang terlambat muncul dari bangku penonton, mereka balas melambaikan tangan.
Sedangkan kami yang tetap berada di bangku penonton, orang-orang yang baru bertemu untuk pertama kalinya melakukan perkenalan diri yang singkat, kemudian kami mencari kenalan-kenalan kami yang lain di antara para peserta.
"Aku penasaran, di mana yang lainnya?"
"Ah, itu Kei."
"Kau benar. Taku dan Gantz juga di situ."
Dengan cepat menemukan mereka, Mami-san dan Minute menunjuk kenalan-kenalan mereka. Kei si warrior pendiam dengan armor berwarna timah, Gantz si ahli taijutsu (seni beladiri tangan kosong), dan Taku sahabatku. Mereka bertiga melakukan pertemuan sebelum pertandingan dan mulai menjauhkan diri dari satu sama lain.
"Ayo, kalau kau tidak menyemangatinya sekarang, kompetisinya akan keburu mulai."
Mami-san terlalu malu untuk menyemangati, tapi didorong oleh Minute dan mendekap kuat-kuat monster sintetis WindGel, dia akhirnya menyemangati.
"Kei! Be-berjuanglah——!"
Sepertinya suaranya mencapai pemuda itu saat Kei melambaikan tangan ke arah Mami yang ada di kursi penonton. Mami-san tersenyum senang karenanya. Melihat pemandangan yang menghangatkan hati itu, aku tersenyum.
"Keh, laki-laki ini seorang riajuu." "Ya, dia adalah musuh kita." "Ayo hancurkan dia lebih dulu." "Aku tidak akan membiarkan si brengsek populer seperti itu terlihat menonjol. Aku pasti akan menghancurkan dia." "MUSNAHKAAAAN‼"
Sekeliling Kei untuk sesaat menggila dan meskipun pertarungan belum dimulai, suasananya berubah menjadi begitu buas.
"E-eh?"
"Hitungan mundur dimulai, 3, 2, 1——pertarungan dimulai!"
Menelengkan kepalanya dengan imut, Mami-san terlihat kebingungan, tapi pertarungan yang tidak kenal ampun telah dimulai.
" " "Riajuu harus dimusnahkan dengan kematian!!" " "
Mengeluarkan suara yang kedengaran seperti muncul dari kedalaman neraka, para player pria mencengkeram senjatanya begitu erat sampai-sampai mereka seperti akan mencakar dan mengigit, kemudian serempak menyerang Kei, menghajarnya habis-habisan.
Melihat hal itu, Minute berkata "uups, kurasa waktu yang salah untuk menyemangati." Dia menaruh sebelah tangannya di dahu dan mengguncang Mami yang mematung, menyadarkannya kembali.

Seperti itulah, pertarungan turnamen PvP telah dimulai.
·
"Aa?‼ Kei ditelan oleh sekumpulan pria?!"
"Dia tidak bisa menahan gelombang kecemburuan. Selain dia, pria yang dirumorkan telah menemukan seorang kekasih di dalam game juga sudah tamat."
"Dunia ini kejam, ya."
Minute dan Letia berkomentar seperti itu. Mami-san berlari untuk menghibur Kei yang harus mundur lebih cepat dari awal dan tidak lagi di sini.
Serangan-serangan intensif yang dikompori dengan rasa cemburu akhirnya perlahan mereda dan pertunjukkan berubah menjadi battle royale yang sesungguhnya.
"Penyisihannya adalah battle royale yang berlangsung sampai peserta berkurang sampai jumlah tertentu, menyisakan para pemenang!  Ada batasan untuk item penyembuh. Kalau kau bisa bertahan hidup, kau akan sampai ke final battle royale di mana juaranya akan ditentukan!"
Sambil mendengarkan komentar Cloude, mataku mengikuti kenalan-kenalanku.
"Wuah, luar biasa! Cara orang itu menggunakan sihirnya benar-benar mahir."
"Yang lagi melancarkan sihir beruang-ulang itu adalah Still Water's Witch  ——player yang bernama Sei-san. Dia itu kakaknya Yun-kun dan penjelmaan mage dengan gaya petarung dengan serangan besar yang sempurna."
"Tidak, berhadapan dengan itu adalah hal yang mustahil. Mengulur-ulur waktu dengan serangan sihir beruntun dan melancarkan sihir yang lebih tinggi——"
Al menanggapi dengan berkata bahwa mustahil baginya untuk melampaui atau melakukan sesuatu semacam itu saat melihat rentetan sihir air. Akan tetapi, ada satu orang yang melewati dinding serangan itu dan mendekati Sei-nee.
"—— Gram Sword."
Pada ujung tongkat yang dihadapkan pada player tersebut, sebuah bilah air muncul dan sebuah tebasan dilepaskan.
"——Seperti yang kamu lihat, bahkan kalaupun ada orang yang lewat, kemampuan tongkatnya benar-benar hebat. Mereka bakalan ditusuk dengan tongkat itu dan dibekukan dengan sihir."
Berbicara dengan Al yang dengan seksama mengamati Sei-nee, Kohaku mengambil peran sebagai komentator. Rirei yang ada di sebelahnya terus menyaruk ke arahku dengan begitu bersemangat dari kursi di belakang.
"Bokong yang montok dan dada yang tidak terlalu besar ataupun kecil. Di dalam pakaian bergaya biarawati itu, iman yang memanggil seluruh delusi dunia berkumpul. Seorang perawan yang memiliki aspek sosok yang manis sekaligus berwibawa dalam dirinya, sedang duduk tak berdaya——"Rirei! Konsentrasi buat nyemangatin dulu!" ——Yah baiklah, di kesempatan berikutnya. Ayo semangat!"
Bahkan tanpa menatapnya, Kohaku yang bertugas mengurus Rirei mencengkeram tengkuk lehernya. Aku sudah mulai terbiasa dengan hal itu.
"Ah, itu Mikadzuchi-san."
Berikutnya, Hino menjelaskan Mikadzuchi pada Raina.
Hino dan Raina tidak ada perbedaan dalam usia dan sejarahnya sebagai player. Tidak mempedulikan level, mereka dengan mudahnya berteman.
"Gaya bertarung utama Mikadzuchi-san adalah bertarung dengan tongkat, tapi karena senjatanya panjang, tidak banyak yang bisa kugunakan sebagai referensi. Karena tongkat dan tombak itu berbeda, aku harus memperhatikannya baik-baik saat dia melakukan PvP."
Hino adalah petarung tipe tenaga yang menggunakan palu dan tombak panjang. Raina sangat berbeda karena dia menggunakan tombak pendek dan perisai, tapi ada beberapa hal yang bisa dia pelajari dari menonton ini.
Meskipun faktanya ini adalah battle royale, Mikadzuchi dikepung oleh tiga player. Untuk meningkatkan kesempatan menang mereka meskipun sedikit, orang-orang berimprovisasi bekerja sama dengan kontak mata mereka untuk mengalahkan player yang kuat lebih dulu.
"Hebat. Jadi ada yang seperti itu juga."
Bahkan dengan improvisasi kerja sama, para player yang melepaskan serangan mereka yang tidak akan bisa dihindari player pada umumnya. Saat Mikadzuchi menangkis dan menyerang balik serangan-serangan tersebut, sebuah suara kekaguman akan kemampuan Mikadzuchi pun terdengar.
Tubuhnya tidak gentar dan dia dengan akurat membidikkan tusukan-tusukan tajamnya pada lipatan-lipatan armor.
Hanya saja, dibandingkan dengan saat dia berduel melawan Flein, ini terasa sedikit lebih lambat. Jadi sudah jelas kalau dia menahan diri.
"Lihat, Yun-kun. Adik perempuanmu benar-benar berjuang keras."
"Oh, kau benar. Atau malahan, bagaimana situasinya bisa jadi seperti itu?"
Meskipun mereka sudah mulai berpencar, entah bagaimana Myu dan Lucato bergabung kembali dan memegang pedang sambil saling memunggungi.
Di sekelilingnya, para player bersatu untuk menghadapinya.
Mereka ingin menumbangkan player yang kuat terlebih dulu, tapi kalau mereka mengayunkan pedang mereka pada kedua orang itu, mereka akan menerima serangan balasan, jadi mereka berdiri diam.
"Luar biasa. Seperti yang diduga dari orang yang biasanya membuat party bersama-sama. Gerakan mereka sangat kompak."
"Kau benar. Tapi, kurasa bertempur bersama sebagai kenalan itu tidaklah terlalu diterima."
Aku juga berpikir demikian.
Dalam battle royale, elemen PvP seperti kerja sama yang terjadi saat itu juga adalah salah satu elemen untuk dinikmati. Karena itulah para player yang tidak saling kenal satu sama lain membentuk tim dan dengan banyaknya jumlah mereka menyerang lawan yang lebih kuat, meneruskan pertarungan dengan keberuntungan.
Tapi di antara semuanya itu, kalau dua orang yang biasanya bekerja sama dalam sebuah party kemudian berpasangan, ada kemungkinan pertarungan tersebut menjadi berat sebelah. Karena itulah, untuk acara semacam ini hal tersebut tidaklah bagus.
Akan tetapi, kedua orang itu mengangkat tangan untuk menghentikan orang-orang di sekeliling mereka. Perlahan mengambil jarak antara satu dengan yang lainnya——
"Ayo. Luka-chan."

"Ya, Myu-chan. Jangan menahan diri."


Setelah percakapan singkat itu, mereka berdua dengan punggung yang saling berhadapan, tiba-tiba berbalik menghadap satu sama lain dan membenturkan pedang.
Mereka menunjukkan kerja sama yang hebat sejauh ini, jadi kenapa tiba-tiba seperti ini? Para penonton sangat terkejut.
Sebagai tambahan, ada orang-orang yang melihat ini sebagai kesempatan dan mempersempit pengepungan yang mengendur. Tapi begitu mereka menebas kedua orang ini, keduanya mulai bekerja sama untuk menutupi titik buta satu sama lain.
"Umpan?" "Atau acting?" "Tapi tebasan antara mereka terlihat serius."
Di tengah-tengah gumaman-gumanan yang bisa kudengar dari para peserta, di sebelahku Hino dan Kohaku berkata "sudah kuduga" dan sama-sama menghela napas.
"Ada apa? Hino, Kohaku."
"Tidak…sejak awal, mereka berdua pasti sudah menantikan ini terjadi. Kurasa."
"Karena kita selalu berparty bersama-sama. Di tempat seperti ini, mereka merasa ingin menghadapi satu sama lain dengan serius, kupikir begitu?"
Saat aku mendengar penjelasan Hino dan Kohaku, pertarungan kedua orang itu menjadi semakin sengit.
Setelah berbenturan sepuluh kali, dua puluh kali, kecepatan Myu dan Lucato meningkat.
Pertarungan sengit di mana keduanya mengerahkan skill mereka untuk melawan satu sama lain. Keragaman kombinasi sihir dan tebasan Myu dapat terbaca jelas oleh Lucato yang memunculkan pedangnya dan merusak antusiasme Myu.
Lucato tidak menggunakan bastard sword yang tidak sesuai dengan pertarungan pedang melawan Myu. Sebagai gantinya, dia menggenggam sebilah long sword dengan kedua tangannya. Dia mencegah lawan untuk melangkah masuk dan melepaskan sebuah serangan yang mengganggu Myu.
Myu juga menyerang dengan sengitnya. Dia membatalkan aksinya dan melakukan gerakan tipuan, mengambil alih arah pertarungan.
Menduga Myu sedang memulai sihir, Lucato mencegahnya. Akan tetapi, menggunakan sihir sebagai umpan, Myu membalas dengan pedang.
Di balik tebasan-tebasan yang luar biasa itu, mereka berdua melakukan pertarungan pikiran yang singkat namun padat. Dan, pada akhirnya, hasilnya adalah——
"——Ah‼"
"Sekarang! —— Fifth Brea…"
Long sword Myu bertemu dengan long sword Lucato dan menangkisnya, menghempaskannya menjauh, membuat Lucato dalam keadaan tangan kosong. Dia kemudian mengangkat pedangnya untuk melancarkan sebuah serangan penentu dengan seluruh tubuhnya.
"Belum! —— Grand Slash!"
Menarik bastard sword dari punggungnya, Lucato menyamai Art Myu. Percaya diri dengan kemenangannya, Myu mencoba untuk mendesak paksa. Mengincar waktu di mana Myu memicu artnya dan tidak bisa bergerak, Lucato menerjang Myu dan menghempaskannya menjauh.
Untuk sesaat, Myu merasa terganggu  dan terlalu terlambat untuk menurunkan pedangnya lagi. Serangan terakhir diarahkan untuk kesempatan itu. Tertebas, Myu kehilangan HPnya dan dipaksa keluar dari arena.
Melihat kedua orang itu bertarung maju dan mundur, cukup membuat tangan para penonton berkeringat. Tatapan-tatapan penuh gairah berfokus pada mereka berdua sampai pada akhirnya berganti menjadi sorakan yang mengiringi akhir dari pertandingan.
PvP masih berlanjut, tapi Lucato entah kenapa memperlihatkan ekspresi puas.
Saat napasnya sudah tenang, Myu yang mundur melompat keluar ke barisan terdepan para penonton.
"——Luka-chan!"
Di kursi penonton, tepat di bagian pintu masuk, berdirilah Myu yang barusan dihadapi Lucato beberapa saat yang lalu.
"Kau menang melawanku! Teruslah menang!"
"Ya! Terus perhatikan aku!"
Sambil berkata demikian, Lucato mengangkat pedangnya ke arah Myu. Menanggapinya, Myu merespon dengan seulas senyuman.
Setelah beberapa percakapan singkat, banyak orang di sekelilingnya dihancurkan seakan mereka sampai seakan mereka tidak pernah di situ sebelumnya dan pertarungan pun berlanjut.
Gantz melakukan pertarungan yang baik sendirian, tapi dia sangat berjuang karena jangkauan pendek dari ahli bela diri.
Toutobi mengambil keuntungan dari kecepatannya dan mengincar titik-titik vital, mendekat dan menebas musuh tanpa suara lalu berlari pergi. Lawan yang ditebas salah mengira itu adalah serangan dari player di sebelahnya dan menyebabkan pertarungan karena kebingungan yang kemudian berlanjut menjadi sebuah pertumpahan darah.
"Toutobi melakukannya dengan sangat baik. Dalam battle royale ini, dia menjaga cukup banyak HP."
Sementara para player saling memangkas HP satu sama lain, cara bertarung Toutobi di mana dia mempertahankan margin HPnya itu efisien. Sebagai tambahan untuk menambahkan kebingungan, dia dengan agresif mengincar para player dengan HP yang tinggal sedikit.
"Dan dibandingkan dengan itu, Taku-kun…"
Di depan arah pandangan Emily-san yang duduk di sebelahku, adalah Taku.
Langsung menuju Taku adalah serangan dari sebuah grup seperti yang menyerang Kei pertama kalinya…dan saat ini, dia sedang melarikan diri.
"Heeei! Yun! Myu-chan!"
"Orang itu, apa dia memancing mereka dengan sengaja? Atau dia memang serius melarikan diri?"
"Taku-saaan! Berjuanglaaah!"
Sambil dengan luar biasanya menghindari serangan dan sihir yang datang dari orang-orang dengan ekspresi-ekspresi mengancam di belakangnya, Taku melambaikan tangan pada kami.
"Pasti akan kuhancurkan kauuuu!" "Berteman sejak kecil dengan tiga bersaudara yang cantik, lenyaplaaaaaahhhh!" Menghilanglah, dasar jelek! Menghilanglah, dasar buruk rupa! Memohonlah untuk nyawamuuuu!" "Aku tidak akan mengampunimu meskipun kau memohon! Akan kuberikan kau kekalahan yang luar biasa!"
Aku tidak perlu soal memenangkan pertandingan ini, tapi aku tidak memaafkan lelaki itu. Saat krisis mendekatinya dari para player yang berpikir seperti itu, Taku terus melarikan diri seperti hembusan angin. Kadang-kadang, dia mendorong para player yang mengejarnya kegrup yang sedang bertempur, mengurangi jumlah mereka.
"I-itu licik! Kemampuan menghindar dan menangskisnya itu hebat, tapi keseluruhan strategi tempurnya itu licik…"
"Yah, sepertinya itu akan menjadi pertarungan yang tak ada hasilnya."
Kei sudah mati lemas oleh orang-orang yang menggila karena cemburu dan Gantz sudah hampir kalah secara normal. Ah, dia kalah.
Pertempuran perlahan berubah dari tengah-tengah arena menjadi setengahnya. Banyak player yang terus bertarung meski kelelahan.
Dari antara kenalanku, yang masih bertahan adalah Taku, Sei-nee, Lucato, Toutobi dan Mikadzuchi. Veteran seperti mereka tetap dalam kualifikasi.
Tiba-tiba, dari bagian kursi penonton, keributan muncul. Seorang player berdiri mantap dan tenang di tengah-tengah mereka, tersenyum bengis pada para peserta PvP.
"——Itu Flein dari Flame Prison Corps'."
Begitu seseorang mengatakannya, Flein yang menatap ke bawah ke arah arena pertarungan dari kursi penonton hingga saat ini, menjejakkan kakinya ke susuran tangan dan melompat ke lapangan.
Dengan citra dirinya yang lebih dulu dikenal orang sebagai pemimpin kejam dari sebuah guild PK, rasa takut langsung menyebar ke seluruh arena.
"Aku ingin ikut dan berpatisipasi!"
Aku melihat ke arah bangku penonton, di mana Cloude duduk di kursi moderator.
"Menarik. Kami akan memperbolehkanmu berpartisipasi sebagai sebuah pengecualian. PK juga adalah PvP dalam artian luas. Akan tetapi! Sebagai penaltinya, stats-mu dipangkas sampai 70%, item konsumsi dilarang, dan HP dibatasi sampai 50%!"
"Ha, 50% sudah lebih dari cukup."
Hanya bergumam demikian, Flein mencoba menebas player terdengar. Meskipun kenyataannya dia sudah terkena penalty, tidak dapat merespon kecepatannya, player tersebut  dirubuhkan oleh serangan beruntun pedang tipisnya.
"Ayo cepat dan datanglah padaku! Kalau perlu, kalian bisa memberikan syarat yang memberatkanku lagi!"
Menanggapi provokasinya, kemarahan para player semakin berkobar. Sebagai tambahan, para penonton yang memendam rasa kesal dan jengkel pada para pelaku PK karena kehebohan kemarin, mulai mengolok-oloknya.
"Yeah! Aku adalah seorang pelaku PK. Melakukan apapun yang kusuka adalah caraku bermain!"
Dia mengayunkan pedangnya dengan senang, terus-menerus memprovokasi. Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, dia adalah orang jahat.
Akan tetapi, aku merasa tidak nyaman dengan sikapnya ini.
Flein tidak diragukan lagi adalah si penjahat yang gila bertarung, tapi aku tidak berpikir kalau dia memiliki kepribadian yang buruk.
Sementara itu, seorang player muncul ke arah Flein.
"T-Taku-san?!"
Mata Raina dan Al berbinar-binar saat mereka menyaksikan Taku yang menghadapi Flein. Sampai saat ini dia hanya terus melarikan diri dari para player di belakangnya. Tidak, bahkan sekarang pun dia terus menarik para player di belakangnya saat dia menuju ke arah Flein.
"Ternyata ada orang yang datang padaku! Bagus! Akan kuhadapi kau!"
"Yah baiklah, aku akan menerima tantanganmu——"
Begitu Taku memasuki area jangkauan pedang hitam tipis Flein, dia menarik sebilah pedang panjang dan menangkisnya ke kanan, kemudian Taku lari melewati bagian samping Flein.
"——Dan membiarkanmu mengurus orang-orang yang ada di belakangku!"
"Uwahh, orang itu benar-benar tidak sopan."
Raina dan Al yang menyaksikan video Taku dan mengaguminya, memperlihatkan ekspresi terguncang. Terlebih lagi, yang sedang duduk di sebelah mereka, Hino, Kohaku, dan Rirei menatap mereka dengan rasa kasihan.
Flein yang disodorkan paksa orang-orang tersebut, mengarahkan niat membunuhnya pada grup yang mengejar Taku itu daripada Taku-nya sendiri, menyayat dan merubuhkan mereka seakan sedang menyambut hangat mereka semua.
Semua tatapan terkonsentrasi pada seorang player yang berteriak nyaring sambil menuju ke arah pusat pertempuran membingungkan di mana Flein berada.
" FLEIIIIIIINNN!"
Dengan sebuah raungan, Mikadzuchi menuju ke arah Flein.
Dia mengabaikan para player yang membukakan jalan, menghajar para player yang berdiri menghalanginya dan bahkan saat dia terluka dengan serangan  balasan, dia terus menyerbu masuk.
Dan saat dia sampai di depan Flein, ada satu dinding player yang mengelilinginya, berdiri menghalangi jalannya, tapi—
"D-dia terbang?!"
Mikadzuchi menusuk tanah dengan tongkatnya, kemudian menggunakannya sebagai tumpuan untuk melompat hingga setinggi dua kali tinggi manusia, lalu memposisikannya untuk mengayunkannya ke bawah.
"Terima iniiiii‼"
"HA! Kemarilah!"
Flein menerima serangan tersebut yang memiliki momentum jatuh dan ditambah dengan berat tubuh Mikadzuchi dengan menggunakan pedang tipisnya. Kakinya melesak beberapa sentimeter ke dalam tanah bersamaan dengan dampak dan retakan yang menjalar di sekelilingnya.
"Ini yang kedua kalinya, bukan begitu Mikadzuchi! Sebelumnya, itu adalah seri, tapi kali ini aku akan menang telak di tempat bermainmu sendiri!"
"Ha! Kau sengaja datang untuk menyelesaikannya! Juga, yang terakhir itu bukanlah seri, Flein. Itu belum selesai diputuskan karena kau melarikan diri! Kali ini, kita akan memastikannya!"
Menekankan senjata mereka masing-masing, mereka berdua saling menatap tajam dari jarak dekat.
"Kalian semua! Flein adalah mangsaku! Jangan mengganggu!"
"Nee-san!" "Anego!" Biarkan Anego sendirian!"
Mereka pasti adalah player yang mengagumi Mikadzuchi. Mereka memandanginya dengan cemas saat dia menghadapi Flein, mereka tidak menghalanginya.
"Sial! Jangan biarkan siapapun mengganggu duel Nee-san! Musnahkan semuanya yang ada di sekitar.!"
" " Yeah‼" "
"Keren banget, dalam artian lain, sih."
Terlebih lagi, untuk tidak membiarkan siapapun menganggu Mikadzuchi, para player yang dikenalnya mulai mengenyahkan player di sekitarnya. Situasi semakin memanas pada penghujung battle royale.
Dalam pertarungan Flein dan Mikadzuchi, mereka berdua tidak berada dalam keadaan menguntungkan, tapi mereka tidak lagi beradu seperti saat serangan pertama Mikadzuchi yang menggunakan berat tubuhnya.
Dalam kesunyian, mereka saling bertukar serangan, membuat gerakan tipuan dan menghindar. Sementara serangan-serangan mereka dengan nyaring membelah udara, pedang Flein menggores poni Mikadzuchi dan tongkat Mikadzuchi mengenai pakaian Flein.
Mengetahi skill satu sama lain, mereka bertarung dengan waspada terhadap fakta bahwa ini berakhir begitu mereka menerima sebuah serangan karena begitu sedikitnya HP mereka yang tersisa.
Saat mereka berdua bertarung tanpa mempertemukan senjata mereka, para penonton perlahan memanas.
"Flein, cepatlah kalah!" "Enyahlah! Cepatlah kalah!"
Mereka mencemooh Flein. Itu tidaklah menyenangkan bagi yang mendengarkan, tapi orangnya sendiri menerimanya begitu saja, seakan itu adalah hembusan angin.
Di sisi lain, Mikadzuchi bereaksi. Untuk sesaat, dia berhenti bergerak untuk meresponi suara-suara tersebut. Flein tidak melewatkannya. Pada detik itu, dia melepaskan tusukan tercepat pada Mikadzuchi.
Pertarungan sengit itu perlahan menuju akhirnya.

"——Babak kualifikasi telah selesai! Jumlah player telah berkurang sampai jumlah yang ditentukan! Final PvP akan dimulai satu jam lagi!"

Suara si penyelenggara acara, Cloude, bergema.
Saat pedang hitam tipis itu berhenti tepat di depan dahi Mikadzuchi, semua orang bisa mengatakan bahwa itu adalah kekalahan Mikadzuchi.
"Cih, kau nyaris lolos dari kematian."
"Diam kau. Ini berakhir seimbang."
Melihat Mikadzuchi yang frustrasi, Flein mengangkat bahu, kemudian dia bergerak ke tengah arena dengan langkah mantap.
"Kalian semua, dengar! Aku adalah Flein dari Flame Prison Corps'! Aku mengenal dengan baik kalian orang-orang brengsek yang adalah pecundang yang frustrasi!"
Terhadap perkataan ini yang terdengr tepat setelah babak kualifikasi PvP selesai, banyak player yang membelalakkan matanya.
"Kami telah menguasai sekitar Wisteria Peach Tree. Tidak peduli berapa banyak kalian menyangkali kekalahan kalian terhadap kami para pelaku PK, adalah fakta bahwa kalian telah kalah! Kalau kalian mau menang melawanku, datanglah ke sana dan cobalah kalau berani! Tidak masalah datang sendirian! Datang dalam grup pun tidak masalah! Kalau kalian membunuh seorang pelaku PK, levelnya akan turun! Di sisi lain, kalau kalian terbunuh oleh kami para pelaku PK, kami akan lebih kuat! Sekarang, kalau kalian ada keluhan apapun, datangi kami dan selesaikan! Yah, tentunya kalau kau mencapai kami…tentunya."
Untuk sesaat, Flein berhenti di tengah-tengah kalimatnya. Kemudian, bersikap memprovokasi, dia meninggalkan tempat itu.
Bagi Flein, kemenangan di PvP sepertinya tidak berarti dan dia hanya datang untuk mempublikasikan.
Saat dia pergi, dia menemukanku di antara kursi para penonton dan menyunggingkan seulas senyum tanpa rasa takut ke arahku. Aku ingin berpikir bahwa itu hanyalah imajinasiku.

Only Sense Online Jilid 5 Bab 4 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.