27 November 2017

Only Sense Online Jilid 5 Bab 1 LN Bahasa Indonesia


EVENT DAN LAPAK
(Translater : Hikari; Editor : Toro)

Sekolah berakhir setelah kelas selesai. Banyak murid pulang ke rumah dengan hanya beberapa yang tersisa karena tugas piket atau kegiatan klub serta orang-orang yang memiliki urusan yang harus diselesaikan. Di antara mereka, aku berjalan tepat di sebelah seorang murid perempuan.
"Endo-san, aku akan membantumu membawakan setengahnya."
Endo-san yang berasal dari komite kelas, mengumpulkan catatan yang dikumpulkan dari seluruh kelas, tapi setelah itu semua dikumpulkan, itu menjadi sangat berat. Karena dia adalah seseorang yang berhasil selangkah kudekati dari antara teman-teman sekelasku, entah bagaimana aku merasa cemas dan menawarkan bantuan.
"Ini jadi mudah kalau Shun-kun membantu. Bagaimana kalau melakukan beberapa pekerjaan komite kelas seperti ini?"
"Aku benci melakukan pekerjaan seperti ini. Ini membosankan."
"Haruskah kau mengatakan membosankan di hadapanku?"
"Maaf."
Menanggapi permintaan maaf-nya, Endo-san terkekeh dan berkata, "Cuma bercanda."
"Karena kau berinisiatif untuk membantu pekerjaan yang kau benci, bukankah ada sesuatu yang ingin kau bicarakan? Sesuatu tentangku yang tidak ingin Takumi-kun dengar."
"Yup. Yah…"
Aku langsung ketahuan, pikirku. Kemudian aku mengangguk mengiyakan perkataan Endo-san.
Hubunganku dengan Endo-san adalah sesama player OSO. Endo-san tahu bahwa Takumi dan aku bermain OSO. Aku tidak tahu bahwa dia juga memainkannya dan aku baru mengetahuinya belum lama ini.
Awalnya, dia menyembunyikan identitasnya dariku, tapi sekarang dia berinteraksi denganku secara terbuka. Meskipun sepertinya dia masih menyembunyikannya dari Takumi.
"Jadi, yang ingin kau tanyakan, apakah itu tentang kedua orang itu?"
"Ya, aku telah menyerahkan semuanya pada Endo-san, jadi aku penasaran bagaimana semuanya berjalan."
Kedua orang yang sedang dibicarakan ini adalah tentang Raina dan Al, yang ia bimbing belum lama ini. Saat ditanyai begitu, ia menaikkan suara cemasnya sedikit dan memberikan penilaiannya.
"Coba kuingat. Sampai ke tingkat tertentu, mereka sepertinya memahami Sense mereka, jadi tidak ada masalah. Mengenai level, selama mereka bekerja keras sedikit lebih lama, mereka akan meninggalkan zona pemula. Dan, kalau mereka bergabung dengan suatu party, mereka seharusnya bisa memburu Big Boar. Tetap saja, mereka masih belum cukup layak untuk memburu makhluk tersebut secara solo."
"Aku mengerti. Jadi tidak ada masalah."
Aku merasa lega mendengar hasil penilaian Endo-san.
Kebetulan, bersama dengan Endo-san, kami telah bertemu dan menyelamatkan si pemain kembar pemula dari satu monster yang kuat, sesosok Treant. Dengan hal tersebut,  kami telah memiliki sebuah hubungan dengan mereka. Aku merasa lega mendengar mereka telah berkembang dengan mantap.
"Karena mereka akan meninggalkan level pemula, aku berpikir apakah kita seharusnya memberi mereka hadiah sebagai player senior."
"Kalau begitu, bagaimana kalau sebelum event akhir minggu ini. Kau berpartisipasi juga kan, Shun-kun?"
"Ya, kalau begitu sudah diputuskan."
Partisipasi yang Endo-san bicarakan adalah mengenai event yang disponsori oleh Guild Perajin.
Di sana, para perajin akan menyediakan lebih banyak ragam pilihan dibandingkan biasanya di lapak dan toko mereka. Juga akan ada juga panggung pertunjukkan dan event PVP.
Sebenarnya aku datang hanya untuk menanyakan si duo player Raina dan Al, dan tak sengaja aku terpikir untuk memberi mereka hadiah.
"Apa yang sebaiknya kuberikan pada mereka? Aku tidak begitu tahu tentang item yang sedang populer."
"Bagaimana kalau kau membelikan sesuatu yang mereka sukai di event itu? Dengan begitu, kurasa tidak terlalu merepotkan dirimu ."
Saat Endo-san tersenyum , aku berpikir bahwa itu adalah ide yang bagus. Aku jadi merasa yakin.
Saat kami berbicara tidak terasa kami sudah sampai di ruangan guru, kemudian kami menyerahkan catatan kelas tersebut kepada guru yang bertugas dan kembali ke kelas.
"Shun, darimana saja kau?"
"Takumi, kau sedang menungguku? Aku membantu Endo-san. Ia membawa buku catatan yang kelihatan berat."
"Terimakasih Shun-kun. Sampai bertemu lagi."
Saat itu Takumi memalingkan wajahnya dari Endo-san, supaya tidak ketahuan bahwa dia juga adalah seorang player OSO, lalu Endo-san kembali duduk di kursinya.
Takumi menyipitkan matanya saat mengetahui bahwa aku dan Endo-san mengobrol, Takumi menatap lekat-lekat.
"A-ada apa dengan tatapanmu itu?"
"Tidak, aku hanya penasaran sejak kapan kalian menjadi teman."
Dasar, anehnya intuisinya tajam untuk hal aneh seperti ini. Tetap saja, dia adalah Takumi. Pasti akan ketahuan kalau aku mengatakan kebohongan yang aneh.
"Kami hanya pernah bertemu saat berbelanja dan kemudian mengobrol sebentar. Dan ia merekomendasikan padaku beberapa kue…yah, banyak hal."
"Hmm. Ya sudahlah. Ngomong-ngomong, mau berkeliling bersama saat event akhir minggu ini? Atau kau akan pergi dengan Miu-chan dan Shizuka-san?"
"Umm…aku sudah ada janji dengan seseorang. Kurasa aku tidak akan ikut dengan mereka. Tapi, mungkin, kita akan berpapasan di sana."
"Yah, memang ada saat-saat seperti ini. Baiklah."
Mungkin merasa yakin dengan jawabanku, dia mengambil tasnya dan sambil berkata, "Aku duluan" Takumi pun pulang.
Apa? Jadi dia hanya ingin tahu rencananku untuk akhir minggu ini? Aku menghela napas dan melihat ke arah Endo-san.
"Kerja bagus."
"Yah, sudah biasa. Daripada itu, ayo pulang."
Aku mengajak Endo-san pulang bersama dan kami berdua menuju ke pintu keluar, dan pergi keluar.
Dari betapa rendahnya matahari dan menurunnya temperature, aku merasa musim gugur semakin mendekat hari demi hari. Mengobrol tentang hal-hal konyol, kami menuju ke gerbang sekolah untuk pulang.
Di sisi lain gerbang sekolah, aku melihat punggung yang tidak asing lagi dan memanggilnya.
"Miu, kau mau pulang sekarang?"
"Eh?Onii-chan. Yup, aku tadi piket. Dan…seorang teman?"
"Halo. Aku teman sekelas Shun-kun, Endo."
"Oke. Tidak perlu berbicara sopan. Aku adalah adiknya dan kelas SMP, Miu. Jadi, apa hubunganmu dengan Onii-chan ku?"
"Hei, Miu!"
Pertanyaan tidak sopan apa yang baru saja kau lontarkan? Ya ampun. Saat aku menyipitkan mata dan menatap Miu, dia berkata "Hanya bercanda" dan mengambil satu langkah mundur.
"Coba lihat. Seorang teman sekelas dan seorang teman, kurasa."
"Endo-san, kau tidak perlu menjawabnya dengan serius."
"Kalau begitu, Miu-san, maukah kau menjadi temanku?"
"Ya! Endo-senpai!."
Saat Miu membuat senyum lebar, Endo-san juga tersenyum dan mereka berdua berjalan berdampingan.
Secara tidak sadar, aku bergerak sedikit ke belakang mereka berdua untuk mendengarkan percakapannya, tapi…maaf. Apa itu? Apa maksudnya dengan parade istilah terminologi yang tidak kuketahui itu?
Apakah itu tentang game? Kurasa begitu, tapi bagiku, percakapan kedua orang ini seperti sedang melancarkan mantera. Sesuatu seperti menghindar, saat menyerang, pembuat game sebelumnya, peningkatan jenis medan lahan, variasi jurus berdasarkan warnanya, spesies mutan dan abnormal, isi dari unduhan…aku tidak mengerti apapun.
Saat mereka membicarakan itu, Miu memperlihatkan ekspresi berbinar-binar dan girang yang beresonansi dengan ekspresi Endo-san. Jadi Endo-san adalah seorang gamer selevel Miu, ya. Pikirku.
"Onii-chan! Ini hebat! Endo-senpa benar-benar tahu banyak hal!"
"Begitukah? Baguslah kalau begitu."
Kakak yang tidak bisa mengikuti pembicaraan itu mulai berbicara secara monoton karena kesepian.
"Apakah kau merajuk karena aku mengambil adik perempuanmu? Aku penasaran."
Saat Endo-san mulai terkekeh, aku berkata bahwa bukan begitu. "Aku hanya kewalahan karena kalian berdua", aku menyampaikannya hanya dengan tatapanku, tapi itu mungkin tidak disadari sama sekali.
Pada akhirnya, aku hanya punya pengetahuan. Tentu saja aku sangat suka game, tapi daripada itu, aku menikmati saat membaca panduan, konfigurasi, dan informasi lainnya. Aku adalah seseorang yang sangat suka menatapi data.
"Ehh, aku ingin bermain game dengan Endo-senpai…"
"Maafkan aku. Mungkin, aku tidak sebaik itu dalam game."
Apa kau benar-benar bisa berkata seperti itu? Aku menatapi Endo-san dengan mata setengah terbuka, tapi aku diabaikan.
"Baiklah, aku sampai di sini saja. Sampai bertemu lagi, Shun-kun. Adik juga, terima kasih untuk waktu menyenangkan yang kita habiskan."
Kami menatap kepergian Endo-san yang pergi ke arahnya sendiri. Jika dibandingkan dengan saat pertama kali Endo-san memanggil Miu dengan "Miu-san", entah bagaimana itu menjadi panggilan akrab "Adik".
Miu memanggilnya "senpai" juga, jadi hubungan mereka tidak terlalu buruk.
"Ternyata ada satu orang lagi yang sangat menyukai game! Dia sangat berwawasan luas. Rasanya menyenangkan mengobrol dengannya."
"Itu bagus."
"Yup! Walau begitu, sayang dia lebih ke arah gamer tersembunyi daripada yang bergerak secara terbuka. Tapi…"
"Tapi?"
"Aku merasa aku pernah melihat di suatu tempat sebelumnya."
…seperti biasa, adikku ini memiliki intuisi yang bagus. Tapi, di sinilah aku mengalihkan topik pembicaraan.
"Mau beli kue sebelum pulang ke rumah?"
"Eh?‼ Bolehkah?"
"Sesekali tidak masalah."
Sejujurnya, sebagian dari usulan ini adalah karena lemon cheese cake yang tidak bisa kulupakan, tapi tidak usah terlalu memusingkan itu. Mengalihkan topik utama, mengalihkan pikiran Miu, aku menghela napas.
Endo-san, mungkin ini hanya masalah waktu sampai identitasmu sebagai player OSO ketahuan.
·
Tiga puluh menit sebelum dimulai event. Aku memastikan bahwa bersih-bersih rumah dan kegiatan mencuci pakaian telah selesai, kemudian memutuskan untuk log in lebih awal. Berpikir seperti itu, aku menuju ke kamarku.
Aku memakai VR Gear, berbaring di ranjang dan seperti biasa, kesadaranku tenggelam.

Tempat di mana aku muncul adalah berada di bengkel kerja Atelier yang diatur menjadi titik log in. Myu sudah log in dan seharusnya berada di suatu tempat di kota.
Penasaran dengan yang ada di luar, aku membuka pintu bagian toko. Saat aku melihat ke luar dari pintu masuk toko, aku segera mendengar suara musik yang riang dan bagian depan toko yang sangat riuh.
Aku dapat melihat lebih banyak orang daripada biasanya di kota. Satu-satunya saat di mana orang sebanyak ini berkumpul, adalah saat OSO dibuka secara resmi dan saat event resmi.
"Ada banyak orang. Dengan begitu banyak yang berkumpul, rasanya ini akan segera dimulai bukannya menunggu pembukaan resmi."
Aku tersenyum simpul sendirian, kembali ke kursi konter, kemudian memanggil Ryui dan Zakuro.
Karena Atelier adalah tempat pertemuannya dan Emily-san akan membawa Raina dan Al, aku menunggu mereka dengan santai.
Meskipun ada beberapa tempat pertemuan besar di kota, di hari seperti ini, tidak banyak yang bisa kami gunakan mengingat jumlah orang di luar sana, jadi akhirnya di tokoku.
Saat aku mengelus bulu Ryui dan Zakuro, sebuah bayangan muncul di pintu masuk toko dan beberapa orang melihat kedalam karena tertarik.
"Selamat datang. Yah, itu sedikit aneh untuk dikatakan. Kalian tepat waktu."
"Aku membawa mereka berdua."
Hari ini, Emily-san memakai topeng dan pengubah suara, terlebih lagi dia memakai equipment untuk mengubah namanya menjadi Emilio.
"Emily-san, kenapa berpenampilan begitu lagi?"
"Ada Taku dan si Adik, kan? Kalau bisa, aku tidak ingin mereka melihat wajahku."
Merasa yakin dengan yang dia katakan, aku mengajak Rainda dan Al ke dalam toko.
Rasa keteratarikan Raina yang memasuki toko, terarah pada panci dangkal dengan monster sintetis tiga warna di dalamnya. Al melihat MP PotionEnchant Stone, dan item yang berguna bagi para mage, seperti Boost Tablet.
"Hee, jadi ada item seperti ini juga. Lihat ini, Rai-chan."
"…hei, memangnya benda licin tidak akan melarikan diri? Seperti rubah atau unicorn itu."
Al sedang menganalisis Atelier dan Raina dengan seriusnya menatapi gel-gel itu dengan ekspresi serius.
Dengan sebagian tubuh mereka berada di dalam panci, gel itu memastikan situasi di sekitar mereka.
Mereka berdua benar-benar teralihkan perhatiannya, pikir Emily-san dan aku, mengulas senyum simpul.
"Tidak apa-apa, jika hanya menyentuh mereka."
"Eh?! Benarkah?! Waiii! Yang biru rasanya dingin! Yang merah hangat, dan yang ini, rasanya lembab!"
Melihat Raina yang begitu heboh tentang hal semacam itu, Al datang menenangkan.
"Ayolah, sekarang waktunya pembukaan."
Sekarang sudah waktunya dan aku mendesak mereka berdua. Bersama dengan Emily-san, kami pergi ke pusat kota dan melihat langit di atas aula guild.
Di sana, ada yang menyebar kabut hitam pekat. Dan sebagian dari langit terlihat seakan.  tengah malam.
"A-apa itu?"
"Tidak apa-apa. Itu adalah sihir kegelapan Smog. Itu adalah tirai asap yang tidak berbahaya."
Emily menjelaskan pada Raina yang terkejut.
Dalam sihir elemen kegelapan, ada sihir pelengkap seperti Mud Poolelemen tanah, yaitu sihir tabir asap Smog. Biasanya, ini digunakan untuk membutakan lawan dan melarikan diri sebagai kegunaan utamanya, tapi itu bisa dengan mudah dihilangkan dengan cahaya dari sihir atau obor, sebuah sihir yang mengecewakan.
"Tapi, kali ini, bukan itu tujuannya."
Sesuatu dilemparkan ke dalam kabut dari bawah aula guild dan——meledak.
Bersamaan dengan suara renyah ledakan, bubuk mesiu di dalamnya menjadi bola api berwarna-warni di latar belakang hitam Smogtempat di mana kembang apinya mekar.
"Woah! Itu Gunpowder yang Yun-san buat sebelumnya, 'kan?"
"Itu benar. Meskipun begitu, aku hanya menyerahkan bola mesiunya dan menyerahkan desainnya pada mereka.'
Bukan berarti aku membuat semuanya. Para perajin yang lain berpartisipasi dalam pembuatannya dan aku membagikan informasi bagaimana cara membuatnya.
Setelah itu, kabut gelap itu menyebar di langit untuk membuat efek langit malam bagi letusan kembang api, menimbulkan sorakan yang meledak di berbagai tempat di dalam kota.
Pementasan ini dibuat supaya orang-orang dapat melihat keindahan kembang api di saat siang, itulah yang dipikirkan oleh para pengguna Darkness Element Talent yang berpusat pada Cloude. Pada akhirnya, yang paling mencolok perhatian adalah serangan ilusi sihir yang menembus kabut sihir kegelapan.
Suara yang berbaur telah menyebar ke penjuru kota.
"Terima kasih telah datang ke event yang direncanakan oleh kami hari ini! Bagaimana dengan upacara pembukaannya?! Ada banyak event yang diadakan, jadi silakan menantikannya! Baiklah kalau begitu——kuumumkan pembukaan event ini!"
"Itu suara Magi-san, ya. Karena ini sudah benar-benar dimulai, kita sebaiknya pergi juga."
"Benar. Baiklah, ayo berkeliling melihat-lihat penjual untuk membeli sesuatu, makan sesuatu dan membayarnya."
Dua orang di belakangku dan Emily-san memperlihatkan ekspresi cukup kesepian.
"Ada apa? Kalian berdua."
Pada saat yang sama aku menyadarinya, Emily-san bertanya. Meskipun kenyataannya setengah bagian atas wajahnya tersembunyi di balik topeng, aku bisa tahu bahwa dia merasa khawatir dari nada suaranya yang lembut.
"Kami adalah pemula, kami tidak punya banyak uang. Aku bertanya-tanya apakah kami memiliki cukup uang meskipun menjual item yang dijatuhkan monster."
"Dan kami tidak bisa berfoya-foya karena kami sedang mengumpulkan uang untuk membeli equipment baru…"
Saat aku melihat ke arah Emily-san, sepertinya dia tidak berbicara dengan mereka mengenai hadiah equipment-nya. Kurasa tidak masalah untuk mengatakan pada mereka lebih dulu, tapi mereka akan lebih senang dengan hadiah kejutan.
"Umm, sebenarnya untuk tujuan hari ini, sebagai tambahan untuk membeli dan makan dari lapak-lapak, ada satu hal lagi. Kami ingin memberi kalian beberapa equipment sebagai hadiah."
"Bagaimanapun, karena kalian bersama kami selama ini, kalian sampai saat ini masih memakai equipment pemula, 'kan? Karena itulah, setelah berbicara dengan Yun-kun, kami memutuskan untuk membayar equipment yang kalian berdua beli, seperti itulah. Tentu saja, ada batasan seberapa banyak yang akan kami bayar."
Begitulah, Emily-san telah melengkapi perkataanku. Kami merencanakan 200kG untuk mereka berdua. Apa yang bisa kami dapatkan dalam kisaran harga itu adalah sebuah senjata seharga 60kG dan armor 40kG. Akan tetapi, rasa malu telah menumpuk di dalam perutku dan aku tidak dapat menyampaikannya.
"Y-yah, karena itu, tidak masalah kalau kalian menggunakan uang yang kalian dapatkan untuk bersenang-senang. Yup."
Karena malu, aku malah berakhir bicara dengan payahnya. Tetap saja, meskipun aku berpikir demikian, tatapan kedua orang itu terasa membuat gatal jadi aku memalingkan wajah dari mereka.
"Um, itu, aku tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih banyak."
"Uh, untuk menjawab harapanmu, kami akan menggiatkan diri kami mulai sekarang."
"Kalian benar-benar penurut. Ini adalah sebuah game, jadi tidak masalah untuk bermain seperti yang kalian inginkan."
Meksipun Emily-san berkata begitu, seakan tidak mendengarnya, mereka mengarahkan tatapan berbinar dan polos mereka ke arah kami.
"Ini adalah sesuatu yang adik perempuanku katakan, tapi awalnya ini seperti seseorang menginginkan sesuatu dari kalian. Tapi, jangan memikirkannya terlalu dalam. Juga, kalau kalian berdua semakin kuat, kalian hanya perlu membeli barang-barang konsumsi kalian di tokoku. Kalau itu terjadi, aku akan mendapatkan balasannya. Kau tidak boleh kehilangan seekor lalat untuk menangkap seekor ikan trout."
Dengan demikian, percakapan berakhir. Lalu, aku membawa Zakuro dan Ryui kemudian berjalan maju seakan melarikan diri.
Di belakangku dan Emily-san yang berjalan di sebelahku, Raina dan Al mendiskusikan sesuatu dengan senangnya. Sementara menyaksikan mereka berdua dengan lirikan ke samping, Emily-san berbisik diam-diam padaku.
"Yun-kun, kau sama sekali tidak jujur. Berkata kau akan mendapatkan balasannya kalau mereka menjadi kuat."
"A-apa maksudnya?"
"Kalau kau adalah orang yang seperti itu, kau tidak akan membatasi harganya begitu rendah supaya kau tidak menghancurkan harga pasar dan tidak menaruh batasan belanja di toko."
"Duh…baiklah, aku hanya tidak jujur, oke."
Aku terlihat sepenuhnya oleh Emily-san yang cemberut tidak senang.
Untuk menenangkan diriku sendiri, aku mengelus dua ekor Zakuro yang memasuki tudungku, membuat diriku senang. Karena aku membelainya, rasanya lembut sekali.
Sedikit demi sedikit, aku menenangkan diri dan mengoreksi kesalahpahaman Emily-san.
"Tapi, meskipun dengan harga segitu, aku mendapatkan cukup metode untuk mendapatkan keuntungan."
"Benarkah?"
"Ya, karena aku menumbuhkan materialnya di lading sebelah Atelier, biayanya jadi lebih kecil daripada player lainnya."
Saat aku berkata begitu, dia bertanya, "Kau menyiapkan sendiri?". Aku mengatakan kepadanya cerita tentang item yang bisa digunakan untuk berkebun meskipun wadah tanamannya berada di dalam ruangan kecil. Akan tetapi, efisiensinya lebih kecil daripada di ladang, dan juga dibutuhkan benih. Karena Emily-san memiliki Sense Alchemy, itu bukanlah sebuah masalah.
Dan kemudian, kami menuju lapak-lapak. Kami berempat memasuki kota bersama-sama, Raina dan Al melihat segala sesuatu seakan itu adalah hal yang tidak biasa, teralih dari satu hal ke hal lainnya.
Apa yang ada di ujung arah pandangan mereka, adalah sebuah lapak makanan.
Itu adalah sebuah lapak yang menjual hal-hal yang untuk dimakan dan yang seharusnya tidak dimakan.
"Selamat datang! Ini adalah daging Mill Bird yang sudah dihilangkan racunnya! Rasanya enak! Efeknya memberikan tambahan ATK!" "Bagaimana kalau kebab dari Big Boar! Rasanya lezat!" "Kemarilah, kami menjual batangan sayur segar langsung dari Kota Kedua!"
Aku mendengar suara-suara yang bersemangat seperti itu dan di sisi seberang, aku mendengar candaan yang diarahkan pada para gamer.
"Ayo, ini adalah Russian Roulette! Satu dari enam makanan di sini ada racun di dalamnya! Ini adalah ujian keberuntungan untuk party. Sementara itu, kami juga menjual penawar racunnya!" "Rasanya tidak enak, tapi kau bisa meningkatkan EXP dengan status buruk! Ini tidak cukup kuat membuatmu muntah, kau bisa dengan mudah menaikkan level!" "Rasa bahan ini tetap seperti seharusnya, jelas sebuah rasa unik yang aneh! Nah, ayo mulai dengan party, masakan beracun di sebelah sini!"
Hidangan beracun yang ditujukan pada orang-orang yang menaikkan level Sense tipe kekebalan racun. Sebuah permainan ala Russian Roulette untuk party, berjejer bersama dengannya. Untuk tidak membiarkan para pemula mencobanya karena penasaran, harganya cukup tinggi untuk membuat mereka berpikir dua kali.
Meski demikian, mereka yang telah membeli karena terpengaruh suasana, terus melakukan tindakan bunuh diri di depan lapak itu.
"Yah, ayo cari lapak yang normal."
Mendengar perkataanku, tiga orang yang lain mengangguk bersamaan dan kami melanjutkan tour mengelilingi lapak-lapak.
Kami merasa pusing hanya karena mencari sebuah lapak dengan sesuatu yang enak. Kemudian tiba-tiba, satu sisi jalan telah dikosongkan.
"Aku penasaran apa itu. Hanya di situ saja orang-orang tidak berbaris, malahan berkumpul… Apakah itu sebuah pertunjukkan?, Ayo kita pergi melihatnya!"
"Ah, Rai-chan. Tunggu!"
Raina berlari dan Al mengikutinya. Aku menghela nafas dan menatap sudut yang tidak biasa di jalan yang dipenuhi lapak-lapak.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Kita akan mengetahuinya begitu kita sampai di sana."
Kami berdua mengejar Raina dan Al dengan langkah jalan biasa, bergerak melewati orang-orang. Dan, apa yang kami lihat setelah berhasil sampai di sana adalah——
"Permisi. Tolong berikan aku semua makanan yang ada di lapak ini."
"T-tolonglah aku! Letia-chan! Tidak akan ada makanan lagi untuk yang lainnya!"
Para player yang adalah para pemilik ketiga lapak, berbaris bersama dan menundukkan kepala begitu mati-matian, sepertinya mereka bisa kapan saja membungkuk.

Gadis itu memperlihatkan ekspresi kebingungan dan berkata "bagaimana ini?", kemudian melihat monster peliharaannya. Makhluk itu menelengkan kepala kecilnya, berkicau dan mengguncangkan telinganya.
"Mau bagaimana kalau begitu. Berikan aku sepuluh porsi untuk dibawa pulang."
Karena sepertinya para pemilik toko akan menjerit mendengar perkataan ini, aku mengambil satu langkah maju.
"Apa yang sedang kau lakukan, Letia?"
"Oh, Yun-san? Halo."
"Yun-kun, kenalanmu?"
"Yah, kau bisa mengetahuinya hanya dengan melihat, tapi dia memiliki Sense Taming sepertiku."
Saat ini, sementara seharusnya Letia memiliki dua monster yang dijinakkan yang adalah hewan herbivore Haru dan Mill Bird Natsu, tapi sekarang ada dua makhluk lain dengannya. Satunya dalah Will-O' Wisp, sebuah bola api yang muncul di rawa-rawa sebelah selatan. Yang lainnya adalah seekor Fairy Panther yang muncul di jalan menuju Horia Cave.
"Ini pertama kalinya Yun-san melihat mereka, 'kan? Wisp ini adalah Aki dan Fairy Panther itu adalah Fuyu. Karena ada banyak orang  hari ini, dan juga konsumsi MP yang membuatnya mustahil, mustahil bagi Mutsu untuk berada di sini, jadi hanya ada empat."
Saat Letia memperkenalkan mereka, keempat monster jinak itu mendekat padanya seperti seakan mereka anak-anak yang manja. Karena mata Raina berbinar melihat itu, Letia memperbolehkan dia untuk menyentuh mereka dengan mengatakan bahwa itu tidak masalah.
Karena mereka mendapat makanan dari orang-orang saat mereka berjalan melintasi kota, keempat hewan ini lebih terbiasa dengan manusia daripada Ryui dan Zakuro, dan tidak menunjukkan tanda-tanda keengganan sedikit pun saat disentuh.
"Hee, monster jinak, ya. Tipe pengguna monster yang berbeda denganku."
"Umm…orang ini adalah?"
"Kenalanku, Emily-san."
Saat aku mengatakan "Emily-san", aku merasakan hawa dingin, tapi terlambat untuk memperbaikinya. Karena aku sudah mengatakannya, aku memalingkan wajah untuk melarikan diri dari senyum dingin Emily-san.
Aku ingat sekarang, dengan topeng equipment untuk menyamar, dia adalah Emilio.
"Senang bertemu denganmu. Aku Emily. Aku menggunakan monster dengan Synthesis dan Alchemy."
"Aku mengerti. Emily? Atau Emilio?"
Karena dia mengidentifikasikan dirinya sebagai Emily meskipun karakter namanya disamarkan menjadi Emilio, Letia memperlihatkan ekspresi bingung.
"Kalau begitu, karena Emily dan Emilio…ayo membuatnya menjadi 'Lio'…"
Tentu saja, itu tidak masalah sebagai nama panggilan, karena itu sangat berbeda dari nama asli Emily-san, orangnya sendiri memperlihatkan ekspresi rumit.
"Um…kalau memungkinkan, gunakan Emily."
"…? Baiklah. Kalau begitu, Emily. Karena aku menggunakan Taming untuk menjinakkan monster, kurasa ini sangat berbeda. Bagaimana kalau kita mengobrol sambil makan?"
"Kau benar…Aku sangat menantikan itu."
Merasakan sesuatu yang menghubungkan mereka berdua, Emily-san dan Letia mulai mengobrol dengan senangnya.
Raina dan Al bersenang-sedang memberi makan dengan makanan yang mereka beli dari lapak terdekat untuk monster Letia, dan aku merasa sedikit diasingkan.
"Heei. Ayo pergi membeli senjata Raina dan A——"Mereka melakukan pertunjukkan panggung di sana! Ayo pergi!"…'
Setelah datang kemari, Raina tanpa banyak pikiran pergi menjauh lagi. Sementara aku terbiasa dengan hal itu karena Miu, aku teringat dengan pertama kali aku bertemu Raina dan Al. Aku menghela nafas ringan dan mengikuti mereka bersama Emily-san dan Letia.
Panggung terbuka itu beberapa lantai tingginya dan saat ini, beberapa player tertentu membuat sebuah pertunjukkan dengan memanfaatkan Sense mereka.
"Woaa! Apa! Itu! Bisakah hal semacam itu benar-benar dilakukan?!"
Saat ini, seorang player yang ahli pada bela diri, melakukan jalan di udara dengan terus-menerus menggunakan art-nya. Petarung yang sama tipenya dengan Gants memiliki delay timeyang pendek. Sekali lagi, dia menggunakan jeda waktu yang diperpendek untuk art dan berpura-pura melakukan pukulan ke atas, dan melanjutkan berjalan di atas udara.
Tapi, meski begitu——
"Dia bergerak maju, tapi hanya selangkah demi selangkah."
Itu lebih seperti dengan setiap penggunaan art, dia naik secara vertical sampai cukup tinggi untuk menerima dampaknya jatuh.
Kemudian, teralih oleh sesuatu, dia gagal menentukan waktunya dan jatuh ke bawah, membuat sebuah lubang di panggung.
Dia kelihatannya masih hidup, melambaikan tangan dari dalam lubang, tapi tidak lama kemudian dia diseret keluar dari bawah panggung. Lubang itu ditutupi dengan lempengan kayu dan tanpa masalah apapun, pertunjukkan beralih ke pemain berikutnya.
"Bagaimana mengatakannya, ya. Ada banyak hal di sini."
Pertunjukkan tarian dari peminat pedang di mana mereka menebas di tempat dengan sangat bersamangat, pertunjukkan lempar pisau dengan apel yang ditaruh di atas kepala rekannya dan pisau tersebut tepat mengenai target dengan indahnya. Terlebih lagi, apel itu berubah menjadi jus apel dengan menggunakan cengkeraman dari player bertubuh kecil yang mengkhususkan diri pada ATK. Dan anggota staffnya meminumnya.
·
"Haa, aku puas."
"Baguslah. Kalau begitu ayo pergi ke tempat berikutnya."
"Tempat berikutnya?"
"Mencari equipment, lah."
"Oh...aku ingat."
Setelah itu, Raina dan Al menikmati pertunjukkan panggung, tapi kami pergi untuk mendapatkan tujuan hari ini, yaitu membeli senjata dan armor untuk mereka berdua.
Di perjalanan, kami bergabung bersama Letia untuk menonton pertunjukkan, tapi sekarang sudah waktunya untuk membelinya.
"Lihat! Ada banyak orang yang berkumpul di sana! Pastinya mereka menjual senjata-senjata yang luar biasa!"
Untuk menyembunyikan fakta bahwa dia lupa, Raina menyerbu ke lapak di mana orang-orang berkumpul.
"Senjata sekuata itu akan terjual di pelelangan. Kalau tidak, kurasa kau tidak akan bisa membelinya hanya dengan 200kG."
"Kalau bisa, aku ingin membelinya di toko perajin kenalanku."
"Rai-chan tidak akan mendengarkan sama sekali.'
Mendengar perkataanku dan Emily-san, Al membungkuk.
Dan sebelum disadari siapapun, Letia menghilang dan di atas kepala Ryui berdirilah Haru si Mill Bird.
"Ke mana Letia pergi?"
"Tadi dia bilang akan membeli lebih banyak makanan di lapak. Sepertinya dia meninggalkan Mill Bird sebagai penandanya."
"Haa, Letia juga ingin bersenang-senang."
Aku memegang pelipisku dan menghela napas. Akan tetapi, kami harus mengejar Raina sekarang.
Kami bergerak melintasi keramaian untuk mengejar Raina dan mendekati sebuah kios yang tidak diketahui apa yang dijualnya di sana.
Setelah mendekatinya, aku merasakan aroma tanaman yang tidak asing lagi, barang-barang seperti potion dan pill. Orang yang berada di lapak itu adalah seorang perajin dengan Sense Mixing.
"Apa yang kusiapkan hari ini adalah Revival Medicine yang dapat membangkitkan player yang mati! Satunya seharga 4mG! Selain itu, aku mempunyai potion yang sangat efektif!"
"Revival Medicine ya…'
Aku sudah tahu bahwa player lain membuat Revival Medicine sebelum aku. Karena itulah aku bergerak mendekati Raina dan melihat Revival Medicine yang dibuat orang lain.
"Revival Medicine, di mana itu…"
Setelah menyusul Raina, aku melihat warna dari Revival Medicine yang dibuat player pria dan merasa kecewa.
Warna merah muda sepenuhnya——itu adalah Degraded Revival Medicine.
Tiba-tiba, aku menghela nafas dalam hati. Si pemilik lapak, melihat ke arahku. Kenapa aku?
"Bukannya kau, Yun-san!"
"Aku tidak suka nama panggilan itu."
Aku mengerutkan alis sedikit saat si pemilik Mixing memanggilku.
Mendengar suara dramatisnya yang lantang, aku menjadi kesal.
"Yun-san si pemilik Atelier yang terkenal, yang menjual potion dengan efektivitas yang tinggi! Bagaimana menurutmu! Revival Medicine-ku?"
"Eh, yah, yup. Bagus, kurasa?"
Itu sudah jelas berbeda dari Revival Medicine yang kuselesaikan, sebuah produk gagal, tapi masih bisa digunakan.
"Benarkah? Benarkah? Dengan begini, bisa dibilang aku mungkin adalah pengguna Mixing terbaik di OSO, ya 'kan? Bagaimana? Potion-ku!"
Dengan begitu, meminta harga 4mG untuk Degraded Revival Medicine bukanlah harga yang pantas. Kecuali dia menurunkan harganya, tidak akan ada yang membelinya.
"Apa-apaan dengan obat ini?! Efeknya jauh lebih rendah daripada yang Yun-san buat. Bertingkah seakan orang penting hanya karena ini."
"Hentikan, Raina. Ayolah, kita pergi."
"Apa benar tidak masalah?! Dia mengatakan apapun sesukanya! Memangnya kau tidak merasa kesal karena itu?!"
Sejujurnya, aku tidak terlalu peduli. Aku tidak begitu tertarik dengan julukan perajin terbaik.
"Dan dia memasang harga yang mustahil untuk itu! Aneh!"
"Tapi, hanya kali ini itu bukanlah harga yang aneh."
Berkata demikian, Emily menjelaskan kepada Raina. Mungkin, orang itu mencoba untuk menutupi biaya kegagalannya.
"Saat menjual item hasil crafting, si perajin tentunya ingin mendapatkan keuntungan, bukan?"
"Walau begitu, itu mengambil untung terlalu banyak."
"Sepertinya dia terus membeli Wisteria Peach Petals yang merupakan bahan untuk Revival Medicine dari orang lain dan melakukan penelitian dengan bahan itu, untuk membuatnya."
Seperti yang Emily-san katakan, jika penelitiannya diperpanjang, si pembuat harus menutupi biaya pengembangannya dengan menjual potion tersebut dengan harga tinggi.
Untuk kasusku, meskipun aku melakukan investasi awal di ladang, dengan mencampurnya secara manual, aku dapat mengurangi biayanya dan membuat obat berkualitas tinggi.
Bukan karena obat di lapak ini yang memiliki efek dan harga yang tidak seimbang. Dia adalah perajin yang terampil, tapi dia pasti telah memikirkan tentang balik modal biaya pengembangan Revival Medicine.
Dalam hal ini, itu adalah hasil dari akumulasi biaya pengembangan.
Saat menjelaskan itu, Raina terdiam, sedikit frustrasi.
"Apa maksudnya itu? Ini tidak adil. Sekalipun dia gagal, itu adalah harga yang masih terlalu tinggi untuk dipasang."
"Memasang harga tinggi bukan berarti itu akan terjual. Kalau seseorang membuat yang lebih murah daripada itu, obat tersebut tidak akan terjual. Dengan demikian, harganya akan turun sebagaimana mestinya."
"Entah kenapa, mendengar hal itu, aku merasa Yun-san yang bisa membuatnya dengan harga murah adalah seorang player hebat. Aku tidak mengerti apa yang kau lakukan pada awalnya. Kau memiliki kesan seseorang yang berpengalaman dalam bertahan hidup."
"Al. Aku tidak hebat, tapi aku merasa ingin memeriksa ulang pengenalanmu tentang aku untuk saat berikutnya."
"Oh, itu benar. Ada pembicaraan mengenai equipment kita! Emily-san, tolong antar kami ke toko yang menjual senjata."
"Baiklah."
Dapat mengganti topik pembicaraan dengan mendadak adalah kelebihan Raina. Aku juga jadi dapat melarikan diri, menghela napas dan tersenyum simpul.
Tanpa disadari, kami telah bergabung kembali dengan Letia yang memegang sejumlah besar makanan. Makan sambil berjalan, kami tiba di toko kenalan Emily-san.
"Oh, nona Material Merchant! Ada apa?"
"Kami berpikir untuk memberikan beberapa equipment sebagai hadiah bagi para pemula yang kami jaga ini."
Orang-orang yang dipanggil oleh Emily-san adalah trio perajin yang terdiri dari seorang wanita langsing, seorang gadis bertubuh tinggi, dan seorang pria gemuk.
Setiap dari mereka memiliki item yang dibuat dengan crafting yang berbeda di samping mereka, dan menjualnya di toko tersebut.
"Ada banyak senjata mainan."
"Benar! Nona yang di situ."
Pria gemuk yang berusia akhir dua puluhan mengacungkan ibu jarinya dan mengangkat beberapa makanan dari kantung kertas di tangannya. Letia membalas gestur tersebut dengan tangannya yang kosong.
Item yang dibariskan tidak memiliki kesan keseragaman, tapi setelah diberitahu budget dan gambaran kasar gaya bertarungnya, pria penjaga toko itu mulai berkonsultasi dengan Raina dan Al untuk membuat keputusan.
"Sepertinya akan makan waktu sedikit. Aku akan menyerahkan 100kG duluan kalau begitu."
"Ya, mungkin sulit bagi Yun-kun."
Kemungkinan besar menyiratkan kegiatan belanja para gadis itu memakan waktu lama. Tentu saja, adikku Myu dan Sei-nee selalu perlu waktu untuk mencoba banyak hal, tapi berkat hal itu aku jadi punya banyak waktu senggang.
Dan saat aku melihat item di toko tersebut, sepertinya setengah dari semuanya berdasarkan pada hobi si pemiliknya.
"Ini adalah senjata-senjata yang mengagumkan."
"Begitukah? Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, ini…"
Itu terlihat seperti sebatang balok. Ada banyak senjata praktis yang penggunaannya adalah untuk memukul sampai mati, menusuk dan menggantungnya, tapi karena panjang dan lekukannya yang aneh, benda-benda ini terlihat sulit untuk digunakan. Juga, aneh secara grafis karena ujung-ujungnya ditutupi cat merah.
Selain itu, ada benda-benda seperti helm kuning. Itu dikemas dengan peralatan fantasi yang rusak.
Sementara itu adalah hobi si player pria, si wanita langsing dan gadis jangkung menangani item normal. Dan di sudut toko, berjejer material Emily-san yang dijual sebagai konsinyasi.
Di sana, ada enam batu——Elemental Stone.
Barang itu adalah item yang untuk sementara waktu meningkatkan kekuatan sihir elemen yang berhubungan, tapi aku punya cara pemakaian yang lain untuk batu-batu itu.
Skill yang mampu untuk memperkuat sebuah senjata atau armor dengan elemen yang berhubungan, Elemental Enchant. Ada masih banyak hal yang tidak diketahui tentang itu dan aku baru sekali menggunakannya dalam pertarungan.
"Permisi. Bisa kau jual 20 batu dari setiap Elemental Stone ini?"
Kataku, membeli benda tersebut.
"Tentu. Elemental Stone Grade 5, masing-masing 20 buah. Ini dia."
Saat aku barter dengan Emily-san sebelumnya, itu pastilah batu Grade 4. Grade 5 cukup murah dibandingkan itu.
Pastinya harus dapat menggunakan skill Higher Matter Conversion dari Alchemy untuk membuat ini semua menjadi Grade 4. Atau mungkin, menggunakan Lower Matter Conversion untuk memeriksa material asalnya. Saat aku berpikir demikian, aku menyadari tatapan Letia saat dia terus memakan buahnya.
`..tataaap`
"……"
`…tataaaaaaaaaap`
"…a-ada apa, Letia?"
"Tidak, sepertinya equipment mereka berdua sudah diputuskan."
"Eh?"
Letia menudingkan jarinya ke arah lain. Aku berbalik dan melihat Raina membuat ekspresi senang dan Al yang tersenyum simpul.
Mereka telah selesai mendaftarkan perajin tersebut sebagai teman mereka.
Equipment mereka berubah menjadi yang baru dan kesan mereka munculkan sangatlah berbeda. Dari pemula yang tidak keren, mereka terlihat telah bertransformasi menjadi petualang sepenuhnya.
"Kalian berdua, equipment kalian banyak berubah. Itu terlihat sangat luar biasa."
"Hmph, bukankah begitu! Yun-san dan Emily-san membelikannya untuk kami, tapi uang itu akan ku ganti."
Berkata demikian, Raina dengan senangnya mengetuk perisai bulat di lengannya. Senjatanya digantikan dengan tombak pendek yang bagus untuk bermanuver dan untuk pertahanan. Dia mengenakan armor kulit yang diberi warna indigo. Desainnya terlihat agak aneh, tapi dengan fungsi yang menjadi prioritasnya, orangnya sendiri merasa puas.
Sedangkan untuk Al, dia menunda sepenuhnya pembelian armor, menggunakan sebatang staff yang terbuat dari kayu tua dan aksesoris tipe koreksi INT.
Sepertinya kombinasi penyerang garis depan dengan armor ringan dan bersenjata tombak dengan mage standar telah terbentuk berdasarkan kerja sama kedua orang itu dan perkiraan jarak.
"Kau tidak bisa memanggil kami pemula lagi dengan begini."
"Rai-chan, kau mulai besar kepala lagi."
Lagi, Al tersenyum miris. Tapi, kelihatannya dia begitu bersemangat untuk mencoba equipmentnya.
Dan mata kedua orang itu berbinar saat mendengar sebuah suara yang bergema ke seluruh pelosok kota.

"Sekarang, untuk memulai rencana rahasia dari mereka yang berpartisipasi di event hari ini! Kami akan melepaskan monster-monster ke dalam kota, pastikan untuk memburu mereka semua——perburuan mulai!"

Itu adalah suara Lyly yang terdengar. Jadi event yang direncanakan Lyly dan dilaksanakan secara diam-diam adalah ini, aku baru saja menyadarinya.


Only Sense Online Jilid 5 Bab 1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.