08 November 2017

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 3 Part 4 LN Bahasa Indonesia


FATE/APOCRYPHA JILID 2 BAB 3
(PART 4)
(Translater : Dan; Editor : Hikari)

Hal ini akan baik-baik saja. Sieg membuang nafasnya, pertada dia merasa lega saat dia melihat Ruler meninggalkan dirinya. Gadis itu punya misinya sendiri, dan tidak bisa dia hindari. Tujuanya juga sangat terpuji dan lebih penting. Tidak seperti dirinya.
Ada segunung masalah yang harus dia selesaikan ketimbang melihat gadis itu lari. Para Dragon Tooth Warrior mendatangi dirinya, sementara para Servant dapat menghabisi mereka dengan sekali tebasan. Namun untuk dirinya, dia harus melayani mereka satu persatu.
Menghunuskan pedang ke arah mereka berdampak sangat kecil, jadi dia menyerang ke depan untuk menabrak mereka dan menempelkan dirinya sendiri, lalu menghancurkan pinggang mereka. Sesosok Dragon Tooth Warrior hancur dalam sekejap mata. Dia memotong tangan Dragon Tooth Warrior yang melangkah dari sisinya dan dengan lembut menyentuhnya dengan satu tangan.
“Stra├če \ gehen”
Dia mengaktifkan sirkuit sihir miliknya—pemeriksaan, menganalisa dan merasakan material barang yang telah disentuhnya—dan bekerja dengan logika seadanya untuk membalikkan semua material dan menghancurkanya.
Dengan cepat kepalan tanganya mengeluarkan sihir yang mengubah tulang belulang bagian dari Dragon Tooth Warrior menjadi material yang rapuh. Sihir milik Sieg membutuhkan diauntuk menganalisa targetnya dengan menyentuhnya, jadi sebenarnya kemampuan ini adalah kemampuan yang membutuhkan jarak yang sangat dekat. Namun tidak diragukan lagi, kekuatan penghancurnya sangat dahsyat.
Para Dragon Tooth Warrior kini berubah menjadi tumpukan kepingan-kepingan kecil saja.
“Rider!!!”
Teriakannya seakan lenyap di tengah-tengah medan perang. Ketika dia sedang berlari, dia sangat berhati-hati untuk memperhatikan situasi di dalam medan perang. Tempat di mana terdapat tabrakan sejumlah besar Mana mungkin itu adalah tempat di mana para servant tengah bertarung.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Ketika Sieg berbalik ke arah suara itu, dia menemukan dua Homonculus tipe petarung tengah memperhatikanya dengan tatapan seakan sedang mencela. “apa yang sedang kau lakukan, kau juga harus ikut bertarung” mungkin itulah yang mungkin mereka maksud.
Cukup, cukup, berhentilah bertarung kalian semua.”
Terhadap kata-kata Sieg, dua Homonculus itu memberikan pandangan yang kebingungan.
“….jika kalian ingin mati, Aku tidak akan menghentikan kalian. Tapi jika kalian ingin hidup, mundur dan selamatkan saudara kita sesama Homonculus. Mereka yang sedang dimanfaatkan untuk sumber Mananya dan mereka yang tidak. Kalian sedang tidak terikat dengan apapun.”
“Ta-tapi itu namanya melanggar perintah yang telah di berikan.”
Benar, perintah yang diberikan adalah untuk bertarung dan mengalahkan Servant musuh dan para pengikutnya.”
Perintah itu sangat tidak masuk akal. Kalian semua pasti mengerti hal itu. Memang benar pada awalnya, tapi apakah kalian sedang terikat dengan suatu kewajiban tertentu sehingga kalian harus menurutinya?”
Terhadap kata-kata Sieg yang dilontarkanya, dua Homonculi itu saling bertukar pandangan. Seakan ingin mengakhiri pembicaraan mereka, sesosok Dragon Tooth Warrior lari ke arah Sieg sambil mengayunkan pedangnya.
Sieg dengan cepat menarik pedang pemberian Rider dan menebaskannya dari sisi dada hingga ke leher tengkorak itu. Dua homunculus yang lainya bergabung dengannya dan menghancurkan tengkorak kaki Dragon Warrior Tooth dengan tombak mereka.
Sieg berbicara sekali lagi.
"Apakah kalian ingin mati atau ingin hidup? ... Kita harus memilih salah satunya. "
Itu adalah peringatan terakhirnya. Salah satu homunculi mengikuti permintaannya dan kembali ke istana. Yang lain memutuskan untuk mematuhi perintahnya begitu, dan kembali ke medan perang sekali lagi.
Ini baik, pikir Sieg. Jika diberi pilihan, para homunculi tidak bisa untuk tidak memilih. Proses berpikir mereka tidak begitu bagus sehingga mereka sama sekali tidak bisa memahaminya.
Sebagai pelayan sejak lahir, pilihan untuk memberontak tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka. Tapi itu adalah masalah yang berbeda jika mereka sudah diberi pilihan.
Dia hanya memberi pilihan para homunculi di daerah sekitarnya di dalam garis belakang. Mereka akan memilih jalan mereka masing-masing. Sieg tidak bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan setelah itu, atau lebih tepatnya, dia berpikir bahwa dia seharusnya tidak bertanggung jawab atas mereka setelah itu.
Sekarang dia hanya perlu mencari Rider Hitam. Dia begitu kikuk sehingga dia tidak memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah menemukannya. Rider Hitam mungkin akan bersedih karena segala hal, ini adalah hal pertama yang Sieg pilih dengan kebebasan barunya.
Walaupun demikian. Meski begitu, ada perasaan yang membuat dia kesal. Ada hal-hal yang ingin dia lakukan dan tidak bisa dilupakan, dan dia tidak memiliki keteguhan untuk mencari hal-hal baru  seperti hari-hari biasa yang damai.
Ada banyak hal, jauh lebih berharga baginya daripada mimpi semacam itu. Dia ingin menyelamatkan rekan-rekannya. Dia ingin bertemu Rider Hitam lagi dan membalasnya.
Dia tidak peduli apakah itu tidak ada gunanya. Meskipun dia tahu betul bahwa Rider tidak mengharapkan dia melakukan hal seperti itu dan mungkin akan meratapi keputusan Sieg. Gampangnya, dia hanya memilih ini.
Ya, karena dia telah memilih, dia tidak bisa kembali begitu saja. Itu adalah hal terburuk yang bisa dilakukannya.
Dia menarik napas dalam-dalam. Dia sangat ketakutan; Meskipun dia sama sekali tidak ketakutan saat jatuh tepat di ambang kematian. Ketika dia berpikir bahwa dia mungkin akan menghilangkan apa yang telah diperolehnya sementara itu. dia tidak bisa untuk tidak merasa takut.
... Tapi detak jantungnya sedang mengaduk sesuatu di dalam dirinya.
Dengan menggertakkan giginya, dia mengepalkan tangannya dengan gemetar dingin beberapa kali.  “Aku bisa melakukan ini”, pikirnya, berharap, dan berdoa — dan melangkah maju.

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 3 Part 4 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.