27 November 2017

Arifureta Shokugyou de Sekai Saikyou Bab 58 LN Bahasa Indonesia


PENAKLUKKAN NAGA HITAM
(Translater: Dhien; Editor : Hamdi)

Tinggi naga itu setidaknya ialah 7 meter. Dengan sisik hitam legam di sekujur tubuhnya, dan 5 cakar tajam di setiap kaki depannya. Sayap besar tumbuh di punggungnya dengan sedikit bersinar seolah sayap itu telah dilapisi oleh kekuatan sihir. Setiap saat naga itu mengepakkan sayapnya sebuah hembusan angin yang luar biasa besar muncul, meskipun sudah memasukkan ukuran sayapnya yang besar ke dalam perhitungan tapi itu tetaplah sebuah angin yang sangat kencang. Akan tetapi, hal paling menakjubkan yang dimilikinya adalah mata emasnya yang mengambang di malam hari seperti bulan. Matanya yang hampir menyerupai reptil, Seperti menandakan bahaya, mata itu menyempit bersamaan dengan dilepaskannya sebuah cahaya yang cantik.
Mata emas itu memandangi Hajime dan yang lainnya di tengah udara. Sebuah dengusan yang lirih merambat ditenggorokannya. Kekuatannya yang melimpah ruah tak bisa Hajime bandingkan dengan Hyveria yang dia lihat di jurang Raisen Grand Canyon. Meskipun Hyveria sendiri digolongkan sebagai makhluk yang meresahkan. Seekor demonic beast level tinggi, tetapi jika dibandingkan dengan Naga Hitam, mereka tak lebih dari seekor burung kecil. Penampilannya yang menawan membuatnya pantas dijukuki sebagai sang raja langit.
Seperti kodok yang dipelototi oleh seekor ular, Aiko dan yang lainnya menjadi kaku tak dapat bergerak. Khususnya Will yang memasang pucat dan brrrbrrrr, gemetaran seolah dia dapat pingsan kapanpun. Di dalam benaknya, dia teringat saat-saat dimana dia diserang dulu.
Hajime telah melihat bekas cakaran dari Naga Hitam yang dapat membuat sungai bercabang. Dia pikir Naga ini pastilah demonic beast yang sangat kuat, tetapi merasakan kekuatan sihir dan tekanan yang dimiliki Naga itu, dia mengoreksi pemikirannya bahwa Naga itu pasti 3x lebih kuat daripada yang dia bayangkan sebelumnya. Mengingat demonic beast yang dia temui di jurang, Naga ini tidaklah sekuat Hydra, tetapi dia dapat merasakan bahwa kekuatannya setara dengan demonic beast dari lantai 90.
Naga Hitam itu mengenali penampilan Will dan menggeram, lalu menajamkan matanya. Selanjutnya, di depan orang-orang yang terpaku itu, perlahan dia mengangkat kepalanya dan mengkonsentrasikan sihirnya di rahangnya yang terbuka dengan barisan taring yang terlihat.
KYUuWAaAAA!!
Sebuah suara jeritan misterius mewarnai langit dan merambat melalui gunung, di dalam benak Hajime, dia teringat dengan bekas serangan di pinggir sungai yang membunuh para petualang.
"Kh! Selamatkan diri kalian!"
Mendengarkan peringatan tersebut, Hajime dengan segera melompat menjauh untuk menyelamatkan diri, Yue dan Shia pun mengikutinya. Akan tetapi, beberapa orang tidak dapat bereaksi terhadap peringatannya, tidak, dalam kasus ini bisa dibilang hampir semuanya.
Aiko, para murid, dan bahkan Will juga ikut terpaku dan tak dapat bergerak sedikitpun. Tubuh Aiko dan para murid tidak dapat mengikuti perkembangan situasi yang tiba-tiba itu, sementara itu Will yang merasa begitu ketakutan bahkan tak dapat mengalihkan pandangannya.
"Cih!!"
"Hajime!"
"Hajime-san!"
Hajime memberikan instruksi kepada Yue dan Shia melalui 'Telepati', kemudian dia dengan tiba-tiba kembali ke posisinya sebelumnya menggunakan 'Ground Shrinker' dan berdiri di antara kelompok Aiko dan Naga. Biasanya, Hajime hanya akan pergi meninggalkannya. Dia tidak peduli untuk mengabaikan Aiko, sepertinya, dia tidak mengerti kenapa Aiko ikut datang ke sini untuk mencari Will yang selamat dengan ajaib. Tapi, pekerjaannya adalah untuk membawanya hidup-hidup. Itulah kenapa Hajime tak bisa mengabaikannya begitu saja.
Hajime mengeluarkan sebuah benda setinggi 2 neter, sebuah perisai berbentuk seperti peti mati dari 'Treasure Box' miliknya dari udara kosong, dia menusukkan tangan kirinya dan menghubungkannya ke benda itu. Bersamaan dengan saat dia menunangkan kekuatan shirinya, bagian bawah tanah bergemuruh, sebuah tonggak muncul. Selanjutnya, benda itu pun menusuk tanah.
Dengan segera, sebuah laser berwarna hitam pun ditembakkan lurus dari mulut Naga. Semburan itu tidak mengeluarkan suara apapun dan sampai ke perisai Hajime dengan begitu saja. Sebuah guncangan yang disertai auman liar dan hawa panas dilepaskan melelehkan tanah di sekitar perisai.
"GuuOooooo!!"
Hajime mengeluarkan auman yang dipenuhi dengan semangat bersamaan dengan menangkis tekanan dari semburan Naga. Sebelumnya tak ada yang menyadarinya, tubuh Hajime dan perisai besarnya itu mengeluarkan cahaya merah terang. Itu berasal dari 'Vajra' Hajime. Akan tetapi, semburan itu terasa begitu kuat, jadi setelah dia menahannya untuk sebentar, pertahanannya dapat tertembus dan perisainya mendapatkan serangan telak.
Bahkan meskipun begitu, perisai itu masih dapat menahan semburan itu. Kekuatan yang menembus 'Vajra' milik Hajime memanas dan perlahan mulai melelehkan permukaan dan bersamaan merontokkan perisai itu, tetapi Hajime menggunakan 'Transmutasi' milikinya untuk mengembalikannya kembali. Dia tidak akan membiarkannya rusak semakin parah.
Tiang yang menembus tanah yang berguna untuk menahan Hajime dikalahkan oleh tekanannya dan membuat Hajime perlahan terdorong mundur. Hajime pun mentransmutasikan sol sepatunya menjadi berduri dan sekali lagi, Hajime menggunakan Vajra-nya untuk menahan semburan itu. Perisai besar itu terhubung dengan tangan lengan kiri Hajime yang diregangkan, dan dia juga menempelkan tangan kanannya padanya.
Perisai besar yang digunakan Hajime menggunakan bijih Taur sebagai bahan utamanya sementara bijih Bintang diletakkan ditengahnya dan lapisan luar perisai pun dilapisi dengan Azanthium. Karena Hajime adalah seorang master transmutasi, bahkan dengan serangan yang dapat menembus daya tahan Azanthium, dia dapat memperbaikinya jika dengan itu membuatnya dapat bertahan beberapa detik lebih lama. Bahkan jika tertembus sekalipun, bijih bintang yang ada di lapisan keduanya memiliki sifat dapat bertambah kuat jika dialirkan kekuatan sihir, dan kekuatan sihir Hajime tidak akan membiarkannya menembus lebih jauh.
Itulah kenapa, semburan yang dapat melebihi daya tahan Azanthium tidak dapat menghancurkan perisai Hajime. Akan tetapi, hal itu bukan berarti semburan itu tidak dapat membuat pengguna perisai terdorong mundur. Kenyataannya, Hajime yang memiliki kekuatan monster saja perlahan terdorong mundur. Tanah dimana Hajime menusukkan tiang perisainya dan tempat dia berdiri sampai tercongkel.
Jika ini terus berlanjut, Hajime yang dilengkapi dengan perisai besarnya dan 'Vajra' bersama dengan kekuatan monsternya tidak akan menerima kerusakan yang terlalu parah. Tetapi jika Hajime sampai kehilangan perisainya, Aiko dan yang lainnya akan terkena semburan itu dan sirna dari dunia ini tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
Ketika Hajime terlihat agak tidak sabaran, sebuah sensasi yang lembut tersalurkan ke punggungnya. Ketika dia melihat ke pundaknya, entah bagaimana Aiko telah melompat ke punggungnya dan mendukungnya dengan mati-matian. Sepertinya, ketika Hajime mencoba menahan semburan itu, Aiko mendapatkan kesadarannya kembali dan melompat untuk membantu Hajime yang terdorong mundur. Melihat hal tersebut, para murid dan juga Will ikut melompat membantu Hajime dalam kepanikan.
Bahkan sampai sekarang semburan itu masih terus berlanjut. Air di sekitar sungai menguap karena gelombang panas yang dikeluarkannya, tanah dan batu di tepi sungai terhempaskan dalam keadaan yang mengerikan. Waktu sedikit berlalu sejak dari pertama kali Hajime menerima langsung serangan itu. Tapi bagi Hajime waktu telah berlalu dengan sangat-sangat lama, tetapi kenyataannya serangan itu belum sampai 10 detik sejak pertama kali diterimanya. Ketika dia menggeretakkan giginya memikirkan hal tersebut, akhirnya, suara yang ditunggu-tunggunya pun muncul.
"Cursed Sky"
Tepat di saat sihir tersebut dirapalkannya, sebuah bola energi yang berputar berwarna hitam dengan diameter 4 meter muncul tepat di atas sang Naga. Sebuah kegelapan pekat yang dapat membuat siapapun yang melihatnya terhisap, dengan segera jatuh dan menghantamkan Naga Hitam ke tanah.
"GuuuRUaAAA!?"
Sebuah auman terdengar bersamaan dengan Naga yang tergeletak di tanah, dan semburannya pun terganggu saat teriakannya semakin keras akibat dampak yang terjadi. Akan tetapi, bola yang berputar itu, seolah berkata bahwa itu tidaklah cukup, bola itu tidak langsung menghilang tetapi malah mengeluarkan tekanan luar biasa yang mendorong Naga itu tenggelam ke dalam tanah.
"Cursed Sky"
Itu adalah sihir gravitasi milik Yue. Dengan membuat bola gravitasi yang berputar, bola itu menghancurkan target dengan kekuatan gravitasi supernya yang sebanding dengan energi sihir yang digunakan. Ini adalah sihir praktis yang dapat mengubah arahnya menggunakan dorongan gravitasi.
Sihir gravitasi tidak membutuhkan banyak kekuatan sihir jika digunakan kepada penggunanya sendiri. Tetapi, jika sihir tersebut digunakan untuk menyerang benda mati atapun hidup seperti yang baru saja terjadi barusan, itu membutuhkan banyak kekuatan sihir dan Yue setidaknya membutuhkan 10 detik untuk mempersiapkannya. Karena Yue masih belum sepenuhnya menguasainya, waktu yang digunakan untuk merapalkan mantra dan energi yang digunakan dapat dibuat lebih efisien dengan lebih banyak berlatih.
Sang raja langit itu pun terhempaskan ke dalam tanah, bagaimanapun juga dia berusaha mati-matian menguatkan bagian-bagian tubuhnya dan berusaha kabur dari serangan bertekanan itu. Tetapi, dengan segera sesosok makhluk dngan telinga kelinci yang berkibar melombat dan meneriakkan, "STOP~!", menjatuhkan dirinya bersamaan dengan Doryukken-nya
Dengan memegang Sledgehammer yang semakin dipercepat dengan efek ledakan, ia menggunakan kuda-kuda tinggi mengincar kepala sang naga.
DOoGAaAAA!!
Dampak yang dihasilkan tidak bisa dibandingkan dengan semua dampak yang terjadi sebelumnya. Saat hantaman dilakukan, terjadi ledakan dari tanah yang menyebakannya terbang berhamburan bersama dengan suara yang menggelegar, hal itu menyebabkan terbentuknya sebuah lubang di tanah yang terlihat seperti bekas pengeboman. Hal itu berkat Doryukken yang dimodel ulangkan oleh Hajime. Sihir gravitasi diberikan ke Azanthium yang dikompres yang menjadi bahan utamanya. Akan tetapi, dalam hal ini sifat material tersebut bukanlah menetralkan gravitasi seperti pada PPTB (Pesawat Pengintai Tak Berawak) melainkan kebalikannya yaitu 'menambahkan bobot'. Bobotnya bertambah sebanding dengan energi sihir yang diberikan. Doryukken yang sekarang layaknya sebuah godam denngan bobot ***** ton! Seperti yang ada pada komik.
Terlebih, mereka yang terkena hantaman ultra-berat seperti itu tidak akan dapat selamat dari kerusakan yang serius. Ya benar, jika saja kena....
"Guruaaa!!"
Bersama dengan auman sang Naga, sebuah peluru api terbang mengarah ke Yue dengan kecepatan yang luar biasa cepat dari balik debu yang berterbangan karena Doryukken. Yue dengan segera menghindar menyelamatkan diri dengan menjatuhkan diri ke kanan. Akan tetapi sebagai gantinya, sihir bola gravitasinya pun dibatalkannya.
Debu-debu pun mulai menghilang akibat efek peluru api yang sebelumnya, dan di sana terdapat Naga Hitam yang tergeletak di tanah menghindari Doryukken dengan jarak perbedaan setipis kertas. Disaat terjadi hantaman, entah bagaimana sepertinya dia berhasil menghindar dengan kekuatan naganya yang unik itu. Merasa lepas dari kekangan, Naga Hitam itu pun melakukan putaran berkecepatan tinggi seolah membalas dendam dan ekornya yang berat menghantam Shia yang baru saja mengambil Doryukken.
"Agh!"
Dengan selisih jarak yang sangat tipis, Shia menggunakan Doryukkennya untuk menahannya dan melompat mundur untuk menghilangkan dampaknya, karena di saat yang bersamaan ia terhempaskan dengan hebat, ia menghilang di balik pohon-pohon.
Sang Naga Hitam menggunakan efek putaran untuk membenarkan kembali posisinya, dan mata emasnya mempelototi Hajime... ... tidak, kata itu hanya menatap Will yang ada di baliknya. Hajime dengan segera meletakkan kembali perisainya ke dalam 'Treasure Box', kemudian mengambil Donner-Schlag dan menembakkannya. Auman pun terus menerus terdengar, disertai dengan kilatan cahaya yang membelah langit dan menyerang Naga Hitam. Tanpa sempat menghindar, Naga Hitam menerima serangan langsung dari badai kehancuran, terhempaskan dari tempatnya, dan terpentalkan ke sungai disertai getaran yang membuat percikan-percikan api di tanah.
Karena Hajime pikir akan buruk bagi Will untuk berada di garis tembak sang Naga, Hajime pun menerjang menuju ke Naga. Menggunakan putaran pistolnya di udara dia pun mengisi ulang Donner Schlag di tangannya, dia berulang kali sukses melakukan tembakan seperti sebelumnya. Akan tetapi, Naga Hitam itu bangkit kembali dengan auman yang menghamburkan air sungai, entah bagaimana, dia mengabaikan tembakkan Hajime dan menembakkan peluru api yang mengarah ke Will.
"Kh!"
Karena peluru itu mengarah ke Will, Hajime pun berani mendekatinya dan menyerang dengan liar untuk mendapatkan perhatiannya. Tetapi, Naga Hitam itu bertingkah seolah tidak peduli jika ada Hajime di sana dan terus menargetkan Will.
"Yue!"
"Nh 'Kastil Ombak'."
"Hih!", adalah teriakan menyedihkan yang berasal dari Will yang penakut, di hadapannya terdapat sebuah tembok air dengan kepadatan tinggi.  Peluru api itu terhalangi oleh tembok air yang seperti benteng yang dibuat oleh Yue lalu menghilang. Dan, di saat itu, para murid mendapatkan kesadarannya kembali akibat dari perkembangan yang panas ini dan mulai merapalkan sihir mereka. Mereka mencoba untuk membantu. Dengan cepat, rombongan peluru api dan pedang angin meluncur dalam lengkungan menyerang sang Naga.
Akan tetapi....
"GOoAAA!!"
Efek dari auman sang naga membuyarkan serangan itu. Terlebih lagi, mendengarkan auman menyeramkan dan pandangan sepasang mata emas itu, Will mengeluarkan teriakan "Hih" yang sama sambil terjatuh mundur dengan pantatnya, dan sampai di tempat para murid wanita berada.
Hajime, yang menilai dengan sempurna bahwa Aiko tidak memiliki kemampuan bertarung apapun, berteriak menyuruhnya untuk menyelamatkan diri. Aiko tampak ragu. Bagaimanapun Hajime juga termasuk murid Aiko, jadi membiarkannya begitu saja berhadapan dengan demonic beast membuatnya ragu sebagai guru.
Di saat itu, sang Naga Hitam mulai mengepakkan sayapnya dan terbang ke langit sambil menyipratkan air air sungai. Ditambah, dia berulang kali menembakkan peluru api kepada Will.
Meskipun Hajime telah menembakkan pistolnya dengan cepat, dia sama sekali diabaikan oleh sang naga. Sisik Naga itu mirip seperti sisik monster Kalajengking dari jurang dulu yang bisa meningkatkan kekerasannya, hal itu membuatnya hanya menerima sedikit goresan kecil meskipun telah terkena serangan langsung.
Naga Hitam itu dengan egoisnya menagetkan Will. Seolah dia seperti sedang dimanipulasi sesuatu. Dia mematuhi perintah dengan patuh layaknya robot. Dia tetap ingin mencoba untuk membunuh Will meskipun telah ditahan gravitasi sebelumnya, sepertinya dia tidak mempedulikan siapapun yang mencoba menghalanginya.
Meskipun Hajime tidak mengerti kenapa dia begitu keras kepala menargetkan Will, ini membuatnya lebih mudah, karena targetnya telah ditentukan, Hajime memberikan perintah kepada Yue.
"Yue. Lindungi Will! Aku akan mengalahkannya!"
"Nh! Serahkan padaku!"
Mendegar instruksi Hajime, dengan segera Yue mendekati Will dan berdiri di hadapannya. Ketika ia mencuri pandang ke belakangnya, rasa jengkelnya mulai muncul ketika melihat Aiko dan para murid yang tidak dapat bergerak bebas dan membuatnya menggerutu.
"... ... Jika kalian tidak ingin mati, bersembunyilah di belakangku."
Murid yang lainnya memanglah tidak berharga, tapi berhubung ada Aiko di situ, setidaknya Hajime peduli kepadanya, jadi Hajime meneriakkan perintah itu agar ia tidak mati. Kebetulan, ia telah lupa bagaimana Aiko telah menjadi penghalang bagi mereka.
Para murid mendekat ke Yue terutama begitu mendengar kata-kata dinginnya. Mereka sadar berada di sisi Yue adalah tempat terbaik berkat benteng es yang dibuatnya tanpa menggunakan mantra dengan menggunakan kelembaban sekitar.
Biasanya, mereka masih memiliki kemampuan untuk bertarung lebih. Tetapi, tak peduli meskipun mereka mengetahui Hajime masih hidup, hari dimana mereka hampir mati oleh Behemoth dan Prajurit Traump sebagaimana Hajime mati saat itu, masih membuat mereka merasa trauma. Mereka mengikuti Aiko karena meskipun mereka tidak dapat mengikuti kelompok penjelajah Dungeon, mereka tidak dapat berbuat setengah-setengah. Meskipun begitu, sihir mereka tidak mempan kepada sang Naga Hitam, ditambah dengan auman yang dipenuhi nafsu membunuh membuat nyali mereka benar-benar menciut. Keadaan mental mereka benar-benar tidak cocok untuk bertarung.
Karena Yue ada di sana, Hajime percaya dengan keselamatan Will, dan berkonsentrasi untuk menyerang. Sang Naga Hitam berkonsentrasi untuk menghancurkan tembok pertahanan Yue, seperti sedang menargetkan Will yang berada di balik tembok, bahkan sampai sekarang. Akan tetapi, peluru api tidak dapat menembus tembok Yue, kemudia dia mengangkat kepalanya membuat lengkungan seolah menyadarinya. Dia pun memfokuskan kekuatan sihirnya di dalam mulutnya.
"Hah, ini pertama kalinya aku diabaikan sejauh ini... ... itulah kenapa, aku akan melakukan apa saja agar kau tak mengabaikanku."
Selagi Hajime menaruh Donner ke wadahnya, dia mengambil Schlagen dari 'Treasure Box'. Dengan segera setelah dia mengaktifkan Rompi Petir-nya ('Lightning Clad'), sebuah senjata sepanjang 3 meter dengan bentuk yang mengerikan mengeluarkan percikan merah terang. Seperti yang telah diduga, Naga Hitam itu menyadari bahwa gerakan Hajime berikutnya cukup berbahaya, dia pun membuka mulutnya, mengincar Hajime. Itu semua seperti yang telah diduga Hajime, dia tidak akan membiarkannya.
Di waktu yang bersamaan sang Naga Hitam menembakkan semburannya yang mematikan. Schlagen Hajime pun selesai mengisi pelurunya dan menembak.
Mereka mengeluarkan kilatan cahaya yang begitu terang bersamaan. Mereka masuk ke dalam badai kematian, aurora merah dan hitam saling berbenturan satu sama lainnya. Di saat terjadi tabrakan, sebuah gelombang kejut yang dahsyat tercipta dan pohon-pohon di sekitar terhempaskan. Hanya dengan kekuatannya sajja, mereka mungkin seimbang. Akan tetapi, aurora merekalah yang menentukan pemenang sebenarnya. Meskipun semburan itu terus mengeluarkan aurora yang hebat Schlagen dirancang untuk fokus pada satu titik dan menembusnya. Oleh karena itu, sebuah hal yang tak dapat dihindarkan semburan sang Naga Hitam itu pun tertembus, dan kekuatan itu terus mencapai ke sang Naga.
Kepala sang Naga Hitam yang menembakkan semburan itu pun dengan segera melengkung ke atas. Peluru berlapis full-metal yang terbuat dari bijih Star itu pun menembus semburan dan mengenai mulut Naga yang terbuka. Akan tetapi, luka yang di deritanya itu tidaklah cukup mematikan. Dengan dibelokannya jalur semburan sang naga, beberapa taringnya yang tajam menguap dan itu hampir membuatnya melewati bagian samping kepalanya, tapi dia menghentikannya sebelum sayap yang berada di belakangnya ikut terkena imbasnya juga.
"GURUaAAA!!"
Sang Naga Hitam terjatuh tak bertenaga ke tanah dan mengeluarkan teriakan kesakitan. Beruntungnya Hajime dapat menghindari semburan tadi menggunakan 'Aerodynamic' miliknya dan selagi dia terbalik di tengah udara dia menggunakan 'Aerodynamic' dan 'Ground Shrinker'. Selagi Hajime meluncur dengan kecepatan tinggi, dia menggunakan 'Grand Leg' miliknya untuk menyerang perut sang Naga Hitam.
ZUDONh! Bagian bawah perut mengeluarkan suara nyaring akibat dampak hantaman, dan sang Naga Hitam pun membungkukkan tubuhnya. Tanah di sekitar sang Naga pun retak akibat dampak yang terjadi. Bisa dibilang bahwa kerusakan yang dideritanya cukup besar meskipun sang Naga Hitam mengeluarkan teriakan. Bagaimanapun sisik bajanya dapat menahan dampak serangan Donner. Akan tetapi, meskipun dengan asumsi tersebut, Hajime terus menyerang menggunakan tangan kiri buatannya itu dengan hebat. KIiIIIII!!! Dari tangan buatannya itu terdengar suara yang mirip seperti mesin. Dia menggunakan 'Oscillation Smash' sebelum terjatuh.
Itu adalah jurus pukulan pamungkas milik Hajime yang menusuk target dengan kecepatan tinggi dan dapat menghancur leburkan bebatuan besar dalam sekali serang, dan dia menggunakannya tanpa belas kasihan sedikitpun untuk menyerang sang naga Hitam.
DOoGUuUU!!
Bersamaan dengan suara yang lirih, sisik di perutnya mulai retak. Dengan tujuan untuk menyalurkan dampak serangan, organ dalamnya menerima kerusakan yang parah dari serangan itu, dan sang Naga Hitam sekali lagi berteriak kesakitan seperti sedang memuntahkan sejumlah darah yang cukup banyak dari mulutnya. Mungkin karena dia pikir akan berbahaya jika hal ini terus berlanjut, sang Naga Hitam menuangkan kekuatan sihirnya ke sayapnya dan menciptakan sebuah badai angin, dia pun mencoba mengembalikan posisinya. Sekali lagi, Hajime menggunakan 'Aerodynamic' untuk menghindar. Dia pun tak lupa untuk meninggalkan hadiah perpisahan.
Di saat sang Naga Hitam membalikkan pandangannya kepada Hajime yang menyelamatkan diri ke udara, sebuah ledakkan besar terjadi di perutnya. Sosok Naga raksasa itu terpentalkan sejauh 2 meter dari titik ledakkan. Hadiah perpisahan Hajime adalah granat miliknya.
"KUuWAaAA!!"
Menerima dampak serangan di tempat yang sama seperti sebelumnya, tapi bagaimanapun Naga itu sudah tak bisa berteriak lagi da hanya mengeluarkan suara erangan yang lirih. Dengan kepalanya yang terkulai lesu menahanya, darah terus mengalir dari mulutnya. Entah mengapa erangannya semakin melemah.
Mungkin karena Naga Hitam itu menganggap Hajime sebagai ancaman, dia mengalihkan pandangannya dari Will menuju ke Hajime dan menyemburkan rentetan semburan api dari mulutnya. Semburan api tersebut terbang melalui udara seperti sebuah rudal anti pesawat. Akan tetapi, tidak satupun semburan itu mengenai Hajime. Hajime yang menggunakan 'Aerodynamic' dan 'Ground Shrinker' secara bersamaan untuk bergerak bebas di udara dan meninggalkan ilusi bekas bayangannya. Hajime pun menghantam Naga Hitam itu menggunakan strategi serang dan kabur.
Dia menembakkan Donner-Schlag dari jarak sedang ke tempat menjijikkan seperti cakar, gusi, mata, pangkal ekor dan juga pantat. Di saat berikutnya, dia mendekat dan menggunakan kombo 'Oscillation Smash' dari ledakkan selongsong pelurunya + 'Grand Arm' untuk menghantam kepala dan bagian pinggir tubuh Naga.
"KURUu, GUWANN!"
Sepertinya, tidak, sang Naga Hitam itu memang mulai mengeluarkan suara tangisan. Dengan sisiknya yang retak di sekujur tubuhnya, dara-darah dalam jumlah yang besar terus menetes dari mulutnya.
"Luar biasa...."
Melihat pertarungan Hajime, Tamai Atsushi dengan spontan bergumam dari tempat yang aman di belakang Yue. Tanpa perlu dikatakan, para murid dan Aiko mengangguk-angguk dalam kesunyian, dan mereka tidak dapat mengalihkan pandangan mereka dari pertarungan yang dahsyat itu. Bagi Will, dia sangat tertarik melihat Hajime dengan mata yang bersinar seolah dia tak ingat lagi bahwa dia gemetaran dalam ketakutan di hadapan sang Naga Hitam sebelumnya.
Ngomong-ngomong, tanpa diketahui oleh mereka Shia telah kembali dan mencoba bertarung kembali, tapi hal itu dihentikan oleh Yue yang dapat membaca niat Hajime. Saat ini, ia melihat Hajime bersama dengan Yue di sampingnya. Telah terpentalkan mundur sejak awal pertarungan, membuat Shia merasa agak sedih.
Hajime tidak dengan segera menarik keluar Schlagen, Orkan, dan yang lainnya karena dia rasa ini saat yang tepat untuknya memamerkan kekuatannya pada Aiko dan murid lainnya. Meskipun Naga Hitam itu benar-benar tangguh dan kekuatannya menakutkan, tapi tubuhnya yang besar membuatnya cukup mudah diserang jika lawannya bertarung dengan tenang, dan serangannya juga monoton. Jadi, hal yang mungkin untuknya mempraktekkan 'Tak peduli apa yang terjadi, aku tidak akan terkena serangannya', bagaimanapun dia adalah lawan yang mudah untuk Hajime hadapi. Karena dia telah terpisah dari Aiko dan para murid, Hajime membuatnya seolah untuk menunjukkan seberapa berbahayanya dirinya. Jadi Gereja dan Kerajaan tidak akan bisa tenang ketika mereka menerima informasi tersebut dari Aiko.
Karena hal tersebut, meskipun Hajime benar-benar menyudutkan sang Naga Hitam, dia sedikit menaruh rasa hormat padanya. Bahkan dengan semua retakkan yang ada di tubuhnya, setidaknya tak satupun sisiknya yang benar-benar hancur. Benar-benar daya tahan yang luar biasa. Karena Hajime mengingat monster kalajengking yang dilawannya dulu, untuk memastikannya, dia menggunakan 'Mineral Appraisal' pada sisiknya dan karena tidak terdapat reaksi, sepertinya mineral tersebut merupakan type yang tidak bisa ditransmutasi.
Perlahan, karena dia pikir bahwa itu sudah cukup untuk menilai kekuatannya, saatnya meluncurkan serangan penghabisan. Dia menyelinap ke dada sang Naga hitam secara cepat, dan menendang dengan 'Grand Leg' untuk menggelinding ke belakang menuju perutnya. Selanjutnya, dia menarik keluar 'Pile Bunker' dari 'Treasure Box' ke bagian perut sang Naga Hitam.
Dari arah dimana Will dan yang lainnya berada, dia dapat mendengar keributan tetapi dia coba untuk mengabaikannya. Dia pun menembakkan jangkar, dan mengepaskan tangannya ke lokasi sang Naga Hitam. Selanjutnya, dia melepaskan 'Lightning-Clad'-nya. Alasan dia memilih Pile Bunker adalah karena dia tidak dapat menarik keluar seluruh kekuatannya di dalam Raisen Great Dungeon, jadi dia ingin mencobanya dalam pertempuran yang sebenarnya.
Tiang yang dilapisi Azanthium mulai berputar dengan cepat di dalamnya, dan Pile Bunker mulai mengeluarkan kilatan merah terang. Jika ini terus berlanjut, tiang seberat 4 ton tersebut akan mengakhiri hidup sang Naga Hitam tanpa belas kasihan.
Akan tetapi, seperti peribahasa 'Seekor tikus yang terpojokkan akan menggit kucing', hewan yang terluka akan bertambah kewapadaannya. Hal itu sama seperti yang terjadi pada sang Naga Hitam.
"GUuGAaAAAA!!!"
Bersamaan dengan Auman sang Naga, sebuah ledakan besar keluar ke seluruh penjuru arah. Itu adalah sebuah ledakan yang murni terbuat dari kekuatan sihir. Sebagai tambahan, dengan menggunakan waktunya untuk menguatkan badannya sampai pada batasnya dan daya ledak dari ototnya, jangkar yang digunakan untuk menahan Pile Bunker di tanah sampai ikut terangkat dan di saat yang bersamaan dengan keras membuka lengannya dengan ototnya. Selanjutnya, benda itu berputar dengan cepat dan menggoncang Hajime.
"Uoh!?"
Hajime dengan nalurinya pun melangkah mundur. Pile Bunker yang hampir siap menembak itu pun mengarah ke langit, dan tiang yang dipersiapkannya pun ditembakkan dengan kecepatan penuh ke langit. Sebuah garis lurus yang membuat orang-orang menyipitkan matanya ke langit, dan Hajime yang menaruh 'Pile Bunkernya ke dalam 'Treasure Box' mengkonfirmasi bahwa Naga Hitam menggunakan kekuatan terakhirnya untuk berjalan menuju Will.
"Cih, Shia!"
"Y-Ya"
Sambil berdecak menanggapi kesalahannya, Hajime memanggil Shia. Shia, yang menyadari maksud Hajime, melompat ke langit dengan menggunakan benteng es Yue dan berteriak supaya dia tidak terhempaskan kali ini. Dengan menggunakan daya jatuhnya dan daya ledak dari palunya, dia menjatuhkan dirinya ke sang Naga Hitam bagaikan sebuah meteor.
Jika dalam keadaan normal, seharusnya Naga Hitam dapat menghindarinya, tetapi karena dia telah sangat kelelahan, dia sudah tak memiliki tenaga lagi untuk menghindarinya. Shia yang sedang menggenggam Doryukkennya dalam posisi siap memukul, terus menambahkan kekuatan sihirnya untuk menambah bobot Doryukken. Selanjutnya, dia menghantamkannya secara langsung ke kepala sang Naga Hitam tanpa meleset satu inchi pun dengan suara yang menggelegar. Kepala sang Naga tenggelam ke dalam tanah dan bagian bawah badannya seolah melayang seperti sedang menahan beban. Setelah beberapa saat dalam keheningan, dia pun roboh dan menggetarkan tanah.
Shia, yang mengambil Doryukkennya dari kapala sang Naga terkejut dengan apa yang ia lihat. Itu adalah sesuatu yang tak wajar. Meskipun kepala sang Naga telah dihantam dan membuat banyak retakan, tapi kepalanya tak sepenuhnya hancur. Itu adalah sebuah daya tahan yang luar biasa.
Hajime datang ke arah Naga Hitam dari belakang. Lalu, tiang yang ditembakkan dari Pile Bunker menancap di tanah diantara Hajike dan Naga Hitam. Dengan merasakan hawa kehadirannya Hajime tahu naga yang tergeletak di tanah itu belumlah mati, selanjutnya, diapun mengingat perbincangannya dengan Muttou dahulu tentang ras Raijin. Sesuatu tentang menendang pantat Naga.
Hajime mengambil tiang yang tertancap di tanah menggunakan 'Grand Arm', dan membawanya di pundaknya sambil memposisikan dirinya di bagian pangkal ekor sang Naga Hitam. Selanjutnya, dia seolah membuat kuda-kuda seperti pelempar lembing. Di tangannya terdapat tiang Pile Bunker.
Semua orang yang ada di sana dapat menebak maksud Hajime, dan pipi mereka pun mengencang. Meskipun sisiknya begitu merepotkan, bukan hal yang baik untuk menusuknya di sana. Meskipun Yue, Shia dan yang lain mengeluarkan ekspresi takut kepada Hajime yang tanpa belas kasih, Hajime hanya menganggap itu sebagai angin yang berlalu.
Dan akhirnya, Pile Bunker milik Hajime menusuk Naga Hitam itu di bagian *BEEEP* dan suara *zlebbb* terdengar. Saat itu.
"Ah--- --- --- nanojyaaaaaaa --- --- --- !!!"
Dengan matanya tiba-tiba terbuka lebar, Naga Hitam itu mengeluarkan suara yg begitu pedih sambil terbangunkan. Sebenarnya, Hajime hanya menusukkan setengah bagian tiang dengan tinjunya agar bisa menembusnya, seperti yang telah diduga, Hajime bahkan ikut terkejut dengan teriakan dari Naga Hitam itu, dan secara tidak sengaja melepaskan genggamannya.
"Pantat-, pantatnya-"
Karena nadanya yang menyedihkan, menyakkitkan dan sedikit menarik, semuanya bergumam "Apa-apaan ini!?" dengan takjub dan terpaku di tempat sambil melihat naga itu.
Sepertinya, ini tidak hanya akan berakhir dengan penaklukkan sang Naga Hitam.

Arifureta Shokugyou de Sekai Saikyou Bab 58 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

4 komentar:

  1. ntaps dtunggu pdf nya nanti

    BalasHapus
  2. Edan si Hajime, kalo sisiknya gak bisa diancurin langsung tusuk pantatnya :v

    BalasHapus
  3. Wanjir... Naganya kena tusvol... :v

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.