02 Oktober 2017

Mahouka Koukou no Rettousei Jilid 10 Bab 8 LN Bahasa Indonesia


BAB 8
(Translater : Michael; Editor :Hamdi)

Matahari terbit setelah malam penuh badai energi Psion dan hujan meteor.
Walaupun ini hari Minggu, Tatsuya masih datang ke sekolah. Di sampingnya, Miyuki mengapitnya seolah-olah itu sudah biasa.
Mengkesampingkan apa yang terjadi di masa lalu atau masa kini, fakta kalau sekolah buka saat hari Minggu tetap tidak berubah. Sekolah masih bisa dimasuki pada hari Minggu untuk siswa yang ikut dalam aktivitas klub, tapi juga untuk siswa yang sudah menerima izin untuk menggunakan perpustakaan, laboratorium, atau bahkan ruang latihan praktik.
Ngomong-ngomong, target mereka bukanlah ruang klub, ruang olah raga, perpustakaan, atau laboratorium.
Target tujuan Tatsuya dan Miyuki adalah ruang OSIS.
“Sepertinya belum ada yang datang.”
Seperti yang dikatakan Miyuki, tidak ada seorang pun di dalam ruang OSIS. Mendengar gumaman adiknya, Tatsuya tertawa kecil untuk alasan yang aneh.
“Pahlawan yang datangnya terlambat hanya ada di dongeng saja. Kenyataannya tidak ada yang seperti itu.”
Jawaban Tatsuya yang dikatakannya dengan nada mengejek tentunya terasa sangat buruk. Senyuman Miyuki menunjukkan ‘kau pasti benar’ hanya digunakan untuk menghiburnya.
Tetap saja…… Tatsuya sendiri sadar akan keanehan candaannya. Alasan dari tawanya adalah karena dialah yang biasanya dipanggil, sementara hari ini dialah yang memanggil. Ituadalah satu-satunya keanehan yang ada, jadi tidak peduli kalau dia sedang mengutip cerita sebuah novel.
Di sisi lain, dia tidak memiliki banyak waktu meskipun dia yang mengundangnya. Kemudian, rasanya dia belum menunggu terlalu lama.
“Selamat pagi, Tatsuya-kun, Miyuki.”
Salah satu orang yang mereka tunggu telah muncul tepat waktu.
“Ara, Erika. Kau datang bersama Yoshida-kun?”
“Ini hanya kebetulan saja! …….Ini hanya aku, atau memang ada aura jahat di sekitar sini?”
“Itu hanya dirimu.”
Disamping dua gadis yang berbincang-bincang,
“Apa kalian sudah menunggu lama?”
“Tidak terlalu, kami baru saja sampai. Maafkan aku memanggil kalian pada hari Minggu.”
Para laki-laki juga sedang melakukan perbincangan kecil.
“Untuk alasan tertentu, aku merasa kalau Miki dan aku diperlakukan dengan berbeda…….. Ah, terserahlah. Jadi, bagaimana hari ini? Jarang sekali Tatsuya memanggil kita saat hari libur.”
Itu merupakan hal yang langka. Bukanlah hal yang aneh melihat siswa SMA seumuran mereka keluar rumah saat hari libur, tapi dalam hal ini, Tatsuya lah yang biasanya diundang.
Ngomong-ngomong masalah hal aneh, mata Erika jelalatan ke segala arah, mungkin karena dia melihat banyaknya data yang terkumpul dalam perangkat-perangkat di dinding ruang OSIS yang agak berbunyi-bunyi. Melihatnya seperti itu, Tatsuya teringat kalau ini pertama kalinya dia memasuki ruangan ini.
“Mari kita tunggu sebentar lagi. Kita tidak bisa mulai kalau semuanya belum sampai.”
“Siapa lagi yang datang?”
“Ah, hampir semuanya sudah di sini.”
Tatsuya mengiyakan untuk menjawab pertanyaan Mikihiko. Seolah-olah diaba-abai oleh perkataan Tatsuya, seseorang mengetuk pintu ruangan itu dari luar. Di antara seluruh siswa di ruangan itu, mungkin dialah yang paling terbiasa dengan ruangan itu, sampai-sampai hampir menjadi pemilik ruang OSIS, jadi tidak akan ada orang yang akan merasa terganggu jika dia masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Walau begitu, secara mengejutkan dia ternyata orang yang sangat sopan. Seseorang mungkin akan meragukan ‘akal sehat’nya yang lebih memilih mengetuk pintu daripada menggunakan intercom, tapi Tatsuya juga membuka pintu itu secara langsung tanpa menggunakan remot, jadi mereka berdua dalam situasi yang sama.
“Aku minta maaf memanggil kalian mendadak.”
Tepat saat Mikihiko akan bertanya ‘mengapa kau menyapanya langsung’, pertanyaannya segera hilang saat pintu ruangan itu terbuka. Itu karena Mayumi dan Katsuto muncul di pintu.
“Yoshida-kun dan Chiba-kun? Apa kalian berdua juga dipanggil Shiba-kun hari ini?”
Menggantikan Mayumi, yang berdiri terkejut dan sedikit goyah, Katsuto menyampaikan sebuah pertanyaan sederhana.
“Ah, ya.”
Menggantikan Erika, yang tiba-tiba kehabisan kata-kata, Mikihiko lah yang memberikan jawaban singkat atas pertanyaan itu.
“Kalau begitu, mari kita mulai.”
Tatsuya memperkuat perkataannya, dan meminta mereka untuk duduk.
“Bisakah kau jelaskan terlebih dahulu? Mengapa kau memanggil kita dan Saegusa-senpai disini di waktu yang sama?”
“Aku setuju. Aku juga ingin mendengar alasannya terlebih dahulu.”
Emosi dalam setiap manusia memiliki hubungan yang sama seperti karma. Niat baik, niat jahat, dan kebencian semuanya dibalas kebaikan. Memperhitungkan kategori yang tepat dan menyiapkan respon yang tepat merupakan cara pendekatan orang dewasa, tapi hal ini akan sulit untuk disiapkan jika tidak bisa membaca niat dari pihak yang lain.
Sikap Mayumi ialah contoh tepat dari refleks emosional. Secara pribadi, dia tidak memiliki rasa tidak senang terhadap Erika, walaupun lebih tepatnya, dia tidak pernah menyibukkan dirinya atas apa yang dilakukan Erika. Ngomong-ngomong, dia sudah membalas kebencian yang keluar jelas dari Erika. Melihatnya seperti ini, Tatsuya tidak bisa melakukan apa-apa tapi dalam hati, ‘Kau dua tahun lebih tua darinya, bisakah kau melakukan hal yang sedikit lebih logis?’
“Mengenai perburuan Vampire yang kami lakukan, aku memiliki satu hal yang perlu kusampaikan kepada kalian semua.”
Namun, Tatsuya tidak terlalu peduli jika mereka sedang bermusuhan. Dia tidak berusaha untuk melakukan apapun yang tidak berarti dan segera masuk ke dalam pokok pembicaraan.
“Kalau begitu mari kita dengarkan.”
Orang pertama yang bereaksi adalah Katsuto. Atau lebih tepatnya, tidak ada yang bereaksi selain Katsuto.
“Kemarin malam, aku memasang sebuah transmitter sintetis molekuler yang mengirimkan sinyal elektronik setiap tiga jam mengenai tubuh sang Vampire.”
Transmitter itu ditempatkan didalam peluru bius untuk berjaga-jaga jika bius itu gagal bekerja. Namun, situasi aslinya sudah jauh dari dugaannya, memaksanya untuk bergantung pada halyang tidak terjamin seperti ini. Ngomong-ngomong, hanya Tatsuya saja lah yang tidak dapat memanfaatkan hal ini dengan semaksimal mungkin.
“Disaat yang sama, transmitter itu akan bertahan sampai tiga hari. Walaupun kekuatan sinyalnya sangat lemah, kita seharusnya masih dapat menangkap sinyal itu jika kita memanfaatkan antena yang ditempatkan pada kamera jalan yang digunakan untuk mendeteksi sinyal elektronik ilegal.”
Kali ini, semuanya bereaksi. Sebenarnya, lebih seperti tidak ada dari mereka yang bisa diam saja.
“Tunggu sebentar, Tatsuya-kun. Kemarin malam? Di mana?”
Mata Mayumi melotot ke arahnya.
“Bagaimana kau menemukannya?”
Tidak seperti nada frustasinya yang biasanya, pertanyaan Erika lebih terdengar seperti teguran.
“Kau bilang transmitter sintetis molekuler, memangnya darimana kau bisa dapat barang seperti itu…..”
Mikihiko bergumam dalam kebingungan saat semua orang bertanya kepada Tatsuya.
Sementara Tatsuya secara pribadi yakin kalau semua pertanyaan itu memang pantas untuk ditanyakan, dia belum siap untuk menjelaskan semua proses dan latar belakangnya. Untuk melakukan itu, dia tidak akan dapat menghindari menyentuh puncak gunung es Batalion Sihir Independen dan juga identitas Lina.
“Ini frekuensi sinyalnya.”
Saat dia mengatakannya, Tatsuya menaruh kartu didepan setiap mereka.
“Kelompok senpai dan kelompok Erika seharusnya dapat memperoleh akses kepada antena itu, bukan?”
“………Jadi kita yang menemukan lokasinya, bukan?”
Tatsuya mengangguk tanpa mengeluarkan satu kata pun untuk menjawab pertanyaan Mayumi.
“………Mengapa kau memberikan ini kepada kami?”
Tatsuya tidak bodoh sampai tidak mengerti kalau ‘kami’ yang dimaksud Erika adalah tim yang dibentuk oleh Keluarga Saegusa dan Juumonji dan juga kelompok yang dibentuk Keluarga Chiba. Walau begitu, dia tidak punya niat untuk menjawabnya secara langsung. Tapi tetap saja, tujuan Tatsuya adalah untuk menyampaikan data yang telah dikumpulkannya sejauh ini kepada mereka berempat yang ada didepannya, jadi dia melanjutkan penjelasannya daripada menjawab pertanyaan Erika.
“Mengenai identitas dari Vampire yang kita buru, mereka sepertinya merupakan penyihir yang berkhianat kepada militer USNA.”
Mereka berempat menunjukkan ekspresi ‘mana mungkin itu terjadi’ dan juga ‘itu masuk akal juga’.
Sebuah pihak tak diketahui menghambat investigasi mereka. Kekuatannya tidak bisa diremehkan, yang membuat Mayumi dan Erika berpikir kalau hal itu tidak dilakukan hanya oleh organisasi kriminal biasa. Ini akan membuat semuanya masuk akal jika identitas sebenarnya dari Vampire adalah penyihir yang berkhianat dari militer USNA.
“Selain itu, mereka lebih dari satu. Setidaknya masih ada dua pengkhianat dan mungkin bisa sampai sepuluh atau lebih.”
“Sepuluh pengkhianat Stars?”
“Tidak, Erika. Mereka masih merupakan anggota militer USNA walaupun mereka tidak memiliki hubungan dengan Stars.”
“Eh, apa seperti itu?”
“Saegusa….. Stars adalah pasukan yang hanya beranggotakan penyihir dengan kemampuan tempur tertinggi diantara seluruh militer USNA. Itu berarti ada penyihir dalam militer USNA yang bukan anggota Stars.”
Tatsuya memperbaiki kesalahpahaman Erika sementara Katsuto juga melakukan hal yang sama kepada Mayumi. Dua wanita cantik itu terlihat sama persis, mereka berdua menunjukkan muka jengkel saat mereka menerima penjelasan itu. Tatsuya menyimpulkan kalau dia seharusnya tidak mengatakannya.
“Bahkan jika mereka bukan anggota Stars, mereka tetaplah orang terlatih ditambah dengan kekuatan Vampire. Mereka bukanlah musuh yang mudah untuk dihadapi.”
“Itu benar. Bahkan tenpa kekuatan mahluk itu, mereka tetaplah tidak mudah untuk dihadapi.”
Katsuto menyampaikannya dengan berat.
“Namun, bahkan jika mereka bukan penyihir dari Stars, hal itu tidak merubah fakta kalau mereka berasal dari militer USNA…….. Aku kira setiap negara akan mengekang penyihir mereka yang berhubungan dengan militer, atau apa militer USNA memiliki peraturan yang lebih longgar?”
Komentar Mikihiko sedikit keluar topik diskusi saat itu. Walau begitu, Tatsuya mungkin juga sepemikiran. Dia tidak ‘setuju’ dengan topik ini, tapi tetap menjawabnya dengan aktif.
“Tidak, mungkin kau mengertinya terbalik?”
“Terbalik?”
“Dampak dari Parasite jauh diluar kontrol militer, bukankah Parasite terlihat sepenuhnya menggantikan manusia itu sendiri? Jika transformasinya melebihi fisik dan sampai pada tingkat pikiran, maka tidak akan aneh jika sifat mereka juga ikut berubah setelah penginfeksian Parasite.”
“Itu……. benar. Kalau begitu, mengapa Parasite melarikan diri?”
Mungkin karena mereka merasa kalau tidak ada alasan lagi untuk tinggal atau mungkin tujuan mereka tidak dapat dipenuhi oleh militer. Kita tidak bisa mengetahuinya sampai kita menangkap Parasite dan menginterogasinya.”
“Tujuan, eh……. Selain Parasite, tujuan dari semua mahluk hidup adalah untuk memuaskan nafsu mereka dan menambah jumlah mereka, tapi tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang. Apapun yang kita katakan semuanya hanyalah dugaan saja. Dibandingkan dengan itu, jika bukan karena aturan mereka yang longgar, maka situasi ini akan jauh lebih parah.”
Benar sekali. Dengan kata lain, bagaimana mereka berharap untuk menegakkan kedisiplinan didalam militer jika ada pengkhianat diantaranya?”
"…….Pada akhirnya, apa yang akan kita lakukan?”
Tepat saat Tatsuya dan Mikihiko sedang terbawa dalam pembicaraan ini, Erika dengan kesal memotongnya. Saat mereka melihat sekitarnya, mereka sadar kalau Mayumi juga menunjukkan ekspresi yang sama.
“Aku tidak pernah berencana untuk mengatakannya.”
Tatsuya hanya bisa merasa canggung dan tetap diam dan tidak mencoba untuk memecah keheningan itu bahkan dengan batuknya. Dia segera menggunakan nada yang benar-benar biasa untuk menyampaikan perkataannya.
Mendengar respon Tatsuya, Erika bukanlah satu-satunya orang yang menunjukkan ekspresi ‘Eh?’.
“Apapun yang terjadi, aku tidak berencana untuk tutup mata selagi temanku dalam masalah, tapi disaat yang sama, aku juga tidak bermaksud untuk membalas dendam secara pribadi. Jika Public Safety dan polisi tidak dapat mengatasinya maka tidak ada yang bisa kulakukan, ataupun keluhan pada keputusan Sepuluh Master Clan. Tentu saja, aku juga tidak punya masalah meski Keluarga Chiba memutuskan untuk melakukan penyelidikan ini sendirian.”
Setelah berdiri, Tatsuya menyampaikannya saat dia meninggalkan mejanya.
Sebelum Mayumi dapat mengatakan sesuatu, Katsuto menyampaikan ucapan selamat kepada Tatsuya.
“Tidaklah mudah untuk mengumpulkan semuanya bersama-sama. Mari kita bicara lebih banyak sebelum pergi.”
“Apa seperti itu? Maka, bisakah aku minta tolong kepadamu untuk menutup pintu dan jendela?”
“Serahkan saja padaku.”
Tatsuya menunduk kepada Katsuto dan memberikan tatapan penuh makna kepada Miyuki sebelum pergi.
Saat Mikihiko dengan putus asa meminta bantuan melalui tatapan matanya, Tatsuya salah mengartikannya dan mengabaikannya.
◊ ◊ ◊
Sementara itu, disaat yang sama saat Tatsuya meninggalkan sekolah.
“Lina, ini sudah waktunya kau bangun!”
Dimarahi oleh teman sekamarnya, Lina akhirnya merayap turun dari ranjang.
Sepuluh menit yang lalu, dia menolak untuk bangun setelah teman sekamarnya dengan kejam mengambil selimutnya. Sekarang, Lina sedang duduk didepan meja sambil masih mengenakan piyamanya.
“Yang benar saja…….. Walaupun ini hari Minggu, kau terlalu santai.”
Benar-benar kehabisan kata-kata, Silvia menaruh segelas susu hangat dengan madu didepan Lina. Lina perlahan-lahan menggunakan tangan lemasnya untuk membawa susu itu ke mulutnya. Menghela nafas setelah melihat susu madu itu, Lina akhirnya benar-benar terbangun.
“Terima kasih atas minumannya……… Silvie, apa kita dapat sesuatu dari markas?”
Nadanya sudah benar-benar berubah menjadi nada seorang Komandan Stars. Selain piyama dan rambut acak-acakannya dia benar-benar tampak seperti seorang Komandan. Tapi tetap saja, bahkan tampang malasnya tidak dapat mengalahkan kecantikannya, ‘kecantikan sejati’ yang begitu absolut. Silvia hanya bisa tertawa kecut, akhirnya memilih untuk menggigit lidahnya karena dia juga berpikir ‘mau bagaimana lagi’.
“Saat ini, kita belum menerima informasi apapun. Namun, aku tidak yakin kalau kita akan diminta bekerja tanpa pemberitahuan lebih dulu…..”
“Kau juga berpikir seperti itu, Silvie…….”
Mendengar jawaban Silvie, Lina dengan suram merendahkan kepalanya dan menutupinya dengan kedua tangannya. Saat dicocokkan dengan anak seusianya, postur itu terlihat tidak bisa dipercaya. Walaupun sadar kalau ini hanya seperti menabur garam pada luka, Silvia tidak bisa melakukan apa-apa selain memulai pembicaraan.
“Lina, sebenarnya apa yang terjadi kemarin malam? Bahkan walaupun mereka hanya Kelas Satelit, mereka tetaplah anggota Stars, tapi mereka berempat dikalahkan dalam sekejap…… Diantara mereka, dua menderita luka dalam, gegar, dan patah tulang. Mereka semua terluka sampai mereka tidak dapat melanjutkan tugas mereka.”
“Hah………”
“Yang lebih penting lagi, kita kehilangan komunikasi denganmu selama lebih dari tiga jam, benar-benar MIA…….” (MIA = Missing In Action = Hilang Dalam Tugas)
“Hah……..”
Silvia mungkin tidak bermaksud untuk melakukannya, tapi interogasinya menekan Lina.
“Jangan bilang………. kau kalah?”
Itu skak mat baginya. Lina, yang sedang menutupi kepalanya dengan kedua tangannya dan mengeluarkan suara kecil, mendadak terbaring diatas meja. Situasi ini benar-benar membuat Silvie kehabisan kata-kata, yang tidak sengaja men-skat mat Lina.
“Aku tidak bisa melanjutkannya. Aku tidak punya keyakinan untuk melanjutkan misi ini. Aku akan mengembalikan gelar Sirius.”
“Huh, ah, Lina………. Komandan!?”
Bahkan Silvia pun mulai panik, didepan Lina yang benar-benar murung dengan mata berkaca-kaca.
“Ti-tidak mungkin. Komandan, kau selalu menjalankan tugas Sirius dengan baik.”
Silvia tidak bermaksud untuk menanyai  Lina secara beruntun dan baru saja sadar kalau dia telah mendorongnya hingga murung. Dengan panik, dia segera mencoba untuk menghibur Lina.
“Komandan tidak mungkin kalah melawan seorang anak SMA, bukan?”
Saat ini, Silvia benar-benar ingin untuk menghela nafas. Tampaknya Lina benar-benar tenggelam ke dalam kemurungan itu. Meski kalimat ‘kalah melawan seorang anak SMA’, dibawah situasi normal, Lina sendiri masih pada usia bersekolah. Mengkesampingkan hal itu, mata berkaca-kacanya benar-benar sesuai dengan gadis seusianya, pikir Silvia dengan banyak pertimbangan.
“Yah, itu benar, kau hanya kurang beruntung kali ini.”
Walau begitu, tidak mungkin Lina dapat melanjutkan tugasnya jika situasi terus seperti ini. ‘Sirius’ adalah kekuatan tempur terkuat di lapangan. Agar dia tetap dapat bekerja, Silvia terus-menerus mencoba untuk menghibur Lina.
“Tentang Shiba bersaudara yang kau bicarakan sebelumnya, yang mana yang mengalahkan Komandan?”
“……..Dua-duanya. Saat aku akan menangkap Tatsuya, Miyuki mengganggu.”
“Oh! Sesuai dugaan, mereka berdua bukan anak SMA normal.”
“…..Tidak mungkin mereka berdua ‘anak SMA normal’!”
“Saat berhadapan dengan penyihir seperti itu, memang akan sulit sekali bagi para Kelas Satelit.”
Silvia merubah kata ‘anak SMA’ menjadi ‘bukan anak SMA normal’ dan merubahnya lagi menjadi ‘penyihir seperti itu’ untuk menghilangkan rasa terpukul Lina dan meningkatkan suasana hatinya.
“Bukan hanya mereka berdua saja!”
Tiba-tiba, Lina mengangkat kepalanya dengan penuh semangat. Tampaknya rencana Silvia menghasilkan sesuatu yang tak terduga.
“Selain Tatsuya dan Miyuki, ada tiga orang ninja juga yang muncul entah dari mana!”
“Ninja……….?”
Silvia mengerti kalau ninja atau ‘Pengguna Ninjutsu’, adalah sebutan lain dari pengguna Sihir Kuno. Sumber keterkejutannya bukan karena dia memandang kata ‘ninja’ sebagai sesuatu yang mencurigakan, tapi lebih karena Lina yang menyampaikannya dengan bersemangat.
“Walaupun aku tahu kalau Tatsuya punya hubungan dengan para ninja, tapi aku tidak pernah menduga kalau ninja sehebat itu akan datang waktu itu!”
“Y-ya. Itu benar……..”
“Data dari intelijen hanya mengatakan kalau ‘seorang ninja menjadi pelatih Shiba Tatsuya’! Bagaimana aku tahu kalau ninja itu setingkat Master!”
“……….Darimana intelijen itu datang?”
“Aku dengar orang itu mengatakannya sendiri. Jika aku tahu ada kemungkinan adanya musuhnya seperti itu muncul, aku pasti akan merubah lokasinya. Ini semua sepenuhnya salah intelijen. Aku sebenarnya bukan orang dengan latar belakang intelijen, jadi akan sulit bagiku jika aku tidak dapat intelijen yang akurat. Benar bukan, Silvie!?”
Tepat seperti rencana Silvie, Lina telah berhasil lepas dari kemurungan itu. Sebagai gantinya, Silvia terpaksa harus mendengar keluh kesah dan komplain Lina.
“Silvie, maaf atas sebelumnya…….”
Berkat pelampiasan amarahnya, Lina telah sepenuhnya kembali pada dirinya sendiri. Saat dia telah menguasai dirinya sendiri, hal pertama yang keluar dari dirinya atas tentang sikapnya sebelumnya.
“Jangan dipikirkan. Akan tidak baik kalau kau tidak melampiaskannya sesekali.”
Melihat Lina sedikit menundukkan kepalanya, Silvia tersenyum dan menggelengkan kepalanya sambil mengisi kembali gelas itu dengan susu madu. Perkataannya hanya makin merendahkan harga diri Lina, tapi Silvia tidak bermaksud melakukan itu. Di usianya, dia sudah belajar untuk melewati komplain-komplain dari atasan yang menjadi salah satu tugasnya.
“Walaupun kita belum mendapat perintah baru, masih ada beberapa laporan yang harus kukerjakan. Ah, tidak, kau tidak apa-apa.”
Lina mungkin ingin ‘sedikit menyegarkan diri’. Silvia melambaikan tangan kepada atasannya, masih mengenakan baju tidurnya, seolah-olah memintanya untuk tetap duduk.
“Pertama, mereka berempat yang terluka kemarin malam…………Titan dan Enceladus berhasil tidak terkena luka serius, jadi akan kita rawat selama sehari dan tidak ada masalah lagi, mereka seharusnya bisa kembali bertugas. Mimas dan Iapetus seperti yang kukatakan sebelumnya dan aku tidak yakin kalau mereka dapat kembali menjalankan misi.”
“…….Kalau mereka berdua yang mengalami luka serius dapat pulih dan bisa berjalan, kirim mereka kembali.”
“Kalau begitu hanya ada aku. Selain Komandan Canopus, sepertinya tidak ada lagi orang yang dapat menggerakkan orang dari Stars ke Jepang.”
“……….Aku mengerti.”
“Kepala Staf Gabungan kelihatannya ingin menjadikan Stardust sebagai pendukung, setidaknya itulah rumornya.”
“Apa mereka berencana untuk menambah tim pengejar?”
Jika dibandingkan dengan sistem sihir yang dikembangkan oleh Empat Sistem Penting dan Delapan Tipe Utama, penelitian tentang penggunaan sihir sebagai sensor masih agak ketinggalan. Bahkan diantara pasukan khusus seperti Stardust, penyihir yang ahli dalam pencarian dan pengejaran pun kesusahan untuk melakukannya. Bahkan diantara seluruh militer USNA, sedikit sekali yang bisa melakukannya. Saat ini, dengan kurangnya tenaga yang dikirim ke Jepang, Kepala Staf Gabungan sudah tidak punya pasukan lagi yang dapat dikirim.
“Tidak, mereka mengirim pasukan khusus.”
Sesuai dugaan, respon Silvia membantah pertanyaan Lina.
“Walaupun aku setuju kalau kekuatan Stardust mungkin agak tidak cocok menghadapi situasi ini……. Tidak ada yang bisa kita lakukan.”
Perbedaan kemampuan antara Kelas Satelit dan Stardust tidak terlalu signifikan. Perbedaannya adalah kekuatan pasukan Stardust tidak terlalu kokoh dan dapat roboh kapan saja. Setelah diperkuat, mereka akan memiliki kekuatan yang setara dengan anggota Stars. Tapi tetap saja, pasukan Kelas Satelit yang dikirim untuk misi ini ke Jepang juga memiliki kemampuan bela diri yang tinggi, dan jika dibandingkan dengan mereka, kekuatan tempur Stardust memang jelas dibawah. Ini adalah alasan mengapa Lina menghela nafas.
“Ini adalah laporan dari USNA, tapi tidak ada laporan dari pasukan di Jepang.”
Silvia juga setuju dengan sanggahan Lina, tapi karena tidak ada yang dapat mereka lakukan tidak peduli seberapa keras mereka memikirkannya, dia melanjutkan ke laporan selanjutnya.
“Karena kita ditempatkan pada situasi dimana kita harus mengatasi para pengkhianat terlebih dahlulu, kita hanya bisa menyerahkan sisanya pada tim yang lain. Tapi tetap saja, mengapa kita masih belum mendapatkan apapun?”
Sisanya merujuk pada investigasi ‘ledakan dahsyat’ yang disebabkan oleh Sihir Kelas Strategis, diberi tugas untuk mengidentifikasi pengguna dari apa yang disebut oleh diplomat dan anggota militer USNA sebagai ‘Great Boom’. Pasukan yang dikirim adalah pasukan intelijen yang telah memasuki Jepang melalui universitas dan SMA dengan penyamaran sebagai siswa pertukaran atau orang penting dalam industri perangkat sihir, Maximilian Devices.
“Ngomong-ngomong, sudah agak lama kita tidak berbicara dengan Mia.”
Nama yang terlintas di ingatan dan bibir Lina adalah salah satu anggota dari pasukan intelijen yang tinggal bersebelahan dengan Lina dengan nama Michaela Honda. Walaupun dia juga keturunan Jepang seperti Lina, penampilannya berbeda dengan Lina yang membuatnya terlihat seperti orang Jepang asli. Saat ini, dia sedang menyusup didalam Maximilian Devices sebagai penjual dengan nama samaran Aya Honda.
“Dalam beberapa hari terakhir, sepertinya dia selalu keluar larut malam. Hari ini mungkin juga karena kerja.”
“Kita juga sama kalau bicara masalah keluar larut malam……..Jujur saja, dia cukup rajin bahkan pada hari Minggu.”
Lina dan Silvia saling tersenyum. Walaupun pekerjaannya sebagai penjual Maximilian Devices hanya sebagai kedok semata, dia sepertinya cukup populer dikalangan mahasiswa saat mereka ingat bagaimana Mia mengomel masalah situasinya.
“Dia tampaknya akan mengunjungi SMA 1 besok. Sesuatu tentang pengembalian perbaikan CAD.”
“Eh?”
Namun, senyuman Lina terhenti saat dia mendengar jadwal Mia keesokan hari. Sebagai Komandan Stars, Lina tidak senang kalau ada orang yang melihat penyamarannya sebagai seorang anak SMA biasa, lebih seperti bagaimana seorang anak SD tidak senang ketika orang tuanya berkunjung ke sekolah.
“Karena dia dijadwalkan berkunjung pada jam makan siang, bisakah kau bertemu dengannya selama istirahat makan siang?”
Tanpa pengalaman nyata bersekolah, Lina tidak yakin mengapa dirinya segugup ini, tapi Silvia lebih mengerti Lina daripada dirinya sendiri itulah mengapa dia menawarkan hal ini. Melihat Lina mengalihkan matanya dengan bingung, Silvia diam-diam menyeringai.
◊ ◊ ◊
“Tear!”
Ditengah-tengah keributan itu, sebuah panggilan dari belakangnya membuat Shizuku menolehkan kepalanya. Di Pantai Barat Amerika, saat ini masih Sabtu sore tanggal 28 Januari. Saat itu, Shizuku sedang dalam pesta rumah yang diadakan di asramanya.
“Ray.”
Setelah memastikan suara laki-laki yang melambaikan tangannya dengan bersemangat itu, Shizuku sedikit mengangkat tangannya.
Namanya adalah Raymond S. Clark.
Setelah Shizuku pindah, dia lah yang pertama diantara murid laki-laki yang mencoba untuk berbicara dengan Shizuku. Sejak itu, dia adalah teman kulit putih (Anglo-Saxon [1]jarang sekali ada di Pantai Barat) yang selalu lekat bersama Shizuku untuk alasan yang tak diketahui.
Shizuku berpikir kalau dia hanya perlu mengangkat tangannya saja. Karena dia secara mengejutkan dapat menjaga jarak dan tidak menjengkelkan, persepsi Shizuku tentangnya tidak terlalu buruk.
Sebagai tambahan, panggilan ‘Tear’ juga dimulai dari Raymond. Saat ditanya apa arti nama ‘Shizuku’ saat perkenalan, Shizuku menjelaskan kalau namanya merujuk pada ‘tetesan’ atau bisa diartikan ‘tetes air mata’ atau ‘tetesan air’, yang mana membuatnya mendapat panggilan ‘Tear’. Shizuku tidak terbiasa dengan panggilan itu, tapi saat dia bertanya pada teman sekelas perempuannya ‘Apa aku terlihat seperti orang cengeng?’ dan jawaban mereka ternyata ‘Karena kau benar-benar cocok dengan artinya’ dia tidak bisa menolaknya lagi. Karena dia begitu malu. Akibatnya, karena dia bukannya tidak suka dipanggil ‘Tear’, dia memutuskan untuk membiarkannya. Tapi entah bagaimana, dia tetap masih dipanggil seperti itu.
Monolognya berhenti sampai disitu.
“Gaun itu terlihat luar biasa, Tear. Kau bahkan lebih mempesona daripada biasanya.”
“Benarkah?”
Dihadapkan dengan senyuman dan pujian Ray, Shizuku tetap mempertahankan ekspresi datarnya. Sebenarnya, lebih seperti dia memiringkan kepalanya ke samping karena terkejut.
Gadis berambut hitam ‘jamur’ yang dibiarkan tumbuh panjang tersibak ke depan-belakang.
Mengabaikan tatapan Ray yang makin menghangat, Shizuku melirik ke arah gaunnya.
Gaunnya cukup panjang sampai menyapu lantai.
Punggungnya, bahunya, dan kedua lengannya terbuka.
Dia juga mengenakan sepasang sarung tangan panjang yang terlihat sedikit ketinggalan zaman.
Walaupun Shizuku pernah mendengar tentang toko di USNA yang menjual fashion terkini, dia terkejut melihat kalau yang dijualnya lebih kuno daripada yang dibayangkannya. Banyak sekali yang mengenakan gaun korset di tempat itu, tapi untungnya gaun Shizuku tidak seperti itu.
“Setelanmu sangat cocok denganmu, Ray.”
Walaupun dia menuruti rekomendasi penjaga toko dan membeli gaun yang dikenakannya sekarang, Shizuku masih belum mengerti bagian bagus dari gaunnya, jadi dia menjawab balik dengan kalimat biasa. Baginya, tuxedo Raymond sedikit ketinggalan zaman (akan sangat aneh jika yang mengenakannya orang Jepang), tapi dengan sempurna cocok dengan penampilannya yang membuatnya terlihat seperti bangsawan muda, jadi pujiannya tidak terpaksa.
“Terima kasih! Sebuah kehormatan untuk bisa dipuji oleh Tear.”
Mengenai perkataannya, Shizuku tidak akan merusak kesenangannya mendengar pujian sederhana itu. Untuk alasan tertentu, Raymond yang menunjukkan perasaannya dengan jelas mengingatkan Shizuku akan adiknya. Dalam masalah ras, remaja Eropa seharusnya lebih terlihat dewasa daripada remaja Asia di usia yang sama, jadi walaupun Raymond seusia dengannya, dia masih sedikit terlihat kekanak-kanakan dimata Shizuku.
(………Tidak, bukan Ray yang kekanak-kanakan, hanya saja Tatsuya terlihat lebih bijaksana dibanding orang-orang seumurannya.)
Setelah menghilangkan itu dari kepalanya, Shizuku sekali lagi melihat Raymond.
“Apa kau sendirian?”
“Aku tidak punya rencana untuk menemani gadis lain selain Tear.”
Ngomong-ngomong, pesta malam ini bukanlah pesta yang harus dihadiri dengan pasangan.
“Maksudku bukan perempuan.”
Pada saat itu, Shizuku mengikuti rasa penasarannya dan meluruskan kesalahpahaman Raymond.
Dan karena itu, Raymond tersipu dengan cara yang sangat menarik.
“Eh? Uh, ya, kalau itu maksudmu maka aku sendirian……. Aku rasa?”
Shizuku benar-benar ingin untuk memberitahunya agak tidak mengajaknya nanti, tapi sebaliknya dia malah menggigit lidahnya.
Melihat orang dibelakang Raymond membuat gestur-gestur tangan yang rumit (Shizuku tidak sadar akan hal ini, tapi mereka sedang mendesak Raymond), tidak perlu dikatakan lagi kalau dia sedang berbohong. Walau begitu, Shizuku tidak tega untuk mempermalukannya.
“Um……. Tear, mengenai yang kau tanyakan padaku sebelumnya.”
Mungkin karena dia merasakan situasinya memburuk, Raymond berusaha untuk merubah topik pembicaraannya.
“Ray.”
Ini tepat seperti yang diinginkan Shizuku, tapi dia merasa kalau ini bukanlah tempat yang tepat untuk membicarakannya.
“Ayo kita pindah ke tempat lain.”
Mendengar Shizuku dengan terpaksa meneriakkan namanya, Raymond hanya bisa menghentikan mulutnya dan berulang kali menganggukkan kepalanya pada perkataan Shizuku.
Walaupun ini adalah pesta rumah, ini adalah tempat yang dipilih sebagai tempat tinggal putri Keluarga Kitayama. Pesta ini terasa lebih mewah, dibandingkan dengan pesta rumah biasa. Pesta itu digelar sampai ke taman, tapi jika melihat waktunya, sebagian besar undangan sudah pulang.
Shizuku mengenakan mantel rajutan diluar gaunnya saat berjalan dibawah langit berbintang. Bagi perempuan Jepang, tingginya tidak terlalu pendek, tapi dalam standar Amerika dia jelas sekali ‘mungil’. Mantel Amerika yang dikenakannya memanjang dari bahunya sampai pinggangnya, tapi masih ada celah kecil, yang entah bisa melindungi dirinya dari dinginnya malam atau tidak.
Dia menggunakan CAD yang disimpan didalam tas tangannya dan membuat area disekitarnya hangat. Sepanjang jalan, dia juga menarik Ray ke suatu lapangan. Area hangat itu juga akan menyembunyikan suara mereka.
“Terima kasih, Tear…… Sihir benar-benar praktis.”
“Sihir setingkat ini tidak selangka itu.”
Dalam masalah pujian, Shizuku merasa kalau itu sedikit berlebihan, tapi Raymond menggelengkan kepalanya.
“Tear, kau baru saja datang ke negara ini, jadi kau mungkin belum sadar, tapi bagi kami, sihir bukan sesuatu yang bisa dilakukan seperti ini. Jelas sekali mustahil untuk melihat sihir digunakan dalam kegiatan sehari-hari di negara ini. Sihir digunakan untuk meningkatkan kekuatan seseorang, sesuatu untuk menunjukkan pengetahuan seseorang, dan bahkan status orang tersebut.”
“Jadi menurutmu ini sia-sia, bukan?”
“Hahahaha……. Yah, semacam itu.”
Raymond tertawa terpingkal-pingkal, mendengar sanggahan blak-blakan Shizuku. Tapi tetap saja, tawa itu terdengar sedikit aneh.
“Selain untuk tujuan militer, penelitian sihir negara ini sebagian besar diutamakan untuk kepentingan fundamental. Pelayanan sosial dan aktivitas sehari-hari dianggap tidak penting. Jika ada keuntungan besar dibaliknya, mungkin bukan itu masalahnya. Karena ini……. Tidak, maaf. Kita tidak ke sini untuk membicarakan itu.”
Walaupun dia biasanya terlihat santai, dia juga punya kekhawatirannya sendiri.
Shizuku tanpa berkata-kata menunggunya untuk melanjutkan perkataannya.
“Kalau begitu, ayo kembali ke topik kita.”
Mengangkat kepalanya, ekspresi Raymond sangat tajam sampai dia terlihat seperti orang yang berbeda.
“Pertama-tama, insiden ‘Vampire’ memang benar adanya.”
Dia, Raymond, adalah ‘teman serba tahu’ yang dikatakan Honoka dan juga sumber intelijen yang dijanjikannya kepada Tatsuya.
“Walaupun penyebabnya masih belum jelas, aku sudah menemukan semua informasi terkait.”
“Lanjutkan.”
“Tentu saja. Ini adalah informasi tingkat tinggi, tapi November lalu di Dallas, mereka melakukan sebuah eksperimen berdasarkan Teori Dawai untuk menciptakan dan mengevaporasi black hole miniatur.”
“Teori Dawai?”
“Maaf, aku tidak tahu rinciannya.”
“Tidak apa-apa. Lalu?”
Tentunya dia dapat mengetahui hal itu jika dia bertanya kepada Tatsuya, bukan? Pikir Shizuku saat dia meminta Raymond untuk melanjutkan penjelasannya.
“Kejelasan eksperimen ini masih belum diketahui, tapi apa yang sudah diketahui adalah kalau ‘Vampire’ tercipta setelah eksperimen ini dilakukan.”
Shizuku memikirkannya selama lima detik sebelum kembali membuka mulutnya.
“Jadi Ray, kau yakin kalau eksperimen itu dan Vampire berhubungan, benar bukan?”
“Sebelumnya, aku bilang kalau penyebabnya masih belum diketahui.”
Disini, Ray berhenti untuk sesaat untuk mengatur pemikirannya.
“Aku yakin kalau eksperimen black hole lah yang menciptakan Vampire.”
Tidak mungkin Shizuku dapat menebak dari mana Raymond mendapatkan informasi tersebut dan apa dasar dari keyakinannya. Tapi tetap saja, seperti biasa, Shizuku dengan jelas mengerti kalau dia memiliki kemampuan spesial untuk dapat mengetahui kebenaran yang tersebunyi. Baik ini kemampuan dirinya atau dari sebuah organisasi tidaklah penting bagi Shizuku saat ini.
“…….Aku mengerti. Terima kasih.”
Yang terpenting adalah informasi darinya bisa dipercaya.
“Sama-sama. Lagipula, ini adalah permintaan Tear. Jika ada hal lain yang bisa kulakukan untukmu, katakan saja kepadaku.”
Dimata orang lain, sudah jelas apa yang Raymond coba lakukan. Bagi Shizuku sendiri, dia yakin kalau ‘Ray hanya penasaran tentang dirinya saat ini’. Dugaan orang lain adalah kalau ketidakpekaannya disebabkan oleh sifat aslinya atau pengaruh dari teman-temannya.
◊ ◊ ◊
Bagi Tatsuya, hari Minggu yang membuatnya dapat santai sangatlah langka, meski begitu bukan berarti dia bisa bersenang-senang selagi mengenakan seragamnya. Tatsuya dan Miyuki memilih untuk tidak berjalan-jalan dan pulang terlebih dahulu.
Hari ini, mereka tidak menggunakan sepeda motor, tapi sebaliknya mereka menggunakan bus. Duduk bersandaran seperti yang biasa mereka lakukan di bus, Miyuki dengan suram melihat ke samping wajah kakaknya saat Tatsuya sedang melihat pemandangan diluar.
Mengenai insiden ini, Tatsuya juga sakit kepala memikirkannya. Daripada menyebutnya sakit kepala, dia sedang memarahi dirinya agar lebih berhati-hati. Dibanding biasanya, jarang sekali Tatsuya tidak yakin dengan sesuatu.
Aku harap Onii-sama dapat membicarakannya denganku, pikir Miyuki.
Dia tidak yakin kalau dirinya dapat banyak membantu, ataupun yakin kalau dia dapat meringankan beban kakaknya.
Namun, dia tetap ingin mendengar apa yang membebaninya. Bahkan jika dia tidak bisa menghilangkan bebannya, setidaknya dia dapat mengurangi sakit kepalanya, pikir Miyuki.
Aku harap aku bisa melakukannya, Miyuki berdoa selagi tetap melihat ke samping wajah kakaknya.
“Aku terlalu naif……….”
Apa permohonanku tersampaikan? Tatsuya bergumam kecil.
“Onii-sama?”
Menyembunyikan rasa senang dan harapannya, Miyuki pura-pura tidak mengerti dan bertanya kepada Tatsuya. Kalimat ‘apa yang kau pikirkan’ tidak keluar dari mulutnya, tidak pernah dikatakan.
“Aku rasa hasilnya tidak masalah bagiku, jadi sekarang aku terjebak dalam posisi serba salah. Semuanya sekarang bertentangan. Ada petunjuk-petunjuk didepanku, tapi tetap saja intinya tidak kuketahui.”
Selagi Tatsuya berbicara agak tidak jelas, insting Miyuki tahu kalau ‘petunjuk’ yang dimaksud Tatsuya.
“Maksudmu….. situasi Lina?”
Tatsuya hanya bisa membelalakkan matanya pada seseorang yang secara langsung dapat menebak dengan tepat apa yang dipikirkannya.
“Menyedihkan sekali……. Aku tidak bisa menyembunyikan apapun dari Miyuki.”
Itu tidak benar! Miyuki dengan sekuat tenaga menahan dirinya untuk berteriak.
Seringkali, Miyuki tidak tahu apa yang dipikirkan Tatsuya. Walau begitu, Miyuki meyakinkan dirinya untuk tidak melampiaskan kekhawatirannya kepada kakaknya dan sebaliknya berusaha untuk memahaminya.
“Aku tahu sejak awal apa tujuan Lina. Aku bahkan berkesempatan untuk menginterogasinya, atau secara paksa membentuk kesempatan itu. Meski begitu, aku meninggalkannya di pinggir jalan karena aku tidak ingin ingin menimbulkan masalah dalam kehidupan kita dan sekarang aku melewatkannya.”
Tatsuya tersenyum mengasihani dirinya sendiri.
Miyuki bertahan dari rasa sakit di hatinya dan menunggu kakaknya untuk melanjutkan perkataannya dengan diam.
“Tidak…… aku sudah tahu. Bahkan jika aku segera melakukan sesuatu, tidak ada jaminan kalau kita tidak akan mengalami kerugian. Ada kemungkinan dimana situasi dapat memburuk. Tapi……. Dihadapkan dengan teman yang terluka, aku hanya bisa berpikir bagaimana jika………”
Mendengar pengakuan Tatsuya, kali ini Miyuki hanya bisa tersenyum. Bukan karena kakaknya telah menyampaikan isi hatinya kepadanya, tapi karena isi dari perkataan kakaknya.
“Onii-sama………. kau sudah jadi lebih baik.”
“Miyuki? Apa maksudmu tiba-tiba bicara seperti itu?”
“Tidak……. Onii-sama sebenarnya adalah orang yang baik. Hanya saja agak susah untuk kelihatan seperti itu.”
“Maaf, tapi bisakah kau jelaskan lagi lebih jelas?”
Melihat ekspresi bingung Tatsuya, Miyuki sudah memutuskan untuk tidak menyembunyikan senyumannya lagi.
“Jadi ada beberapa hal yang tidak Onii-sama mengerti. Bahkan Onii-sama tidak dapat mengerti dirinya sendiri?”
“Tentu saja, aku rasa kau terlalu menganggapku tinggi. Ada banyak hal yang tidak kuketahui, dan aku baru bisa melihat wajahku jika menggunakan cermin. Sebuah gambaran yang terbalik kanan kiri.”
“Seperti yang diharapkan dari Onii-sama, kau tidak mencoba berlagak berani di depan. Dengan kata lain,”
Miyuki secara berlebihan merendahkan suaranya.
Meski sadar kalau dia sedang berada dalam permainan adiknya, Tatsuya tetap menggunakan telinganya untuk mendengarnya.
“Onii-sama tidak bisa memaafkan diri sendiri karena membiarkan Saijou-kun terluka. Walaupun waktu kita terbatas, Onii-sama tidak ingin melakukan apapun yang kasar terhadap Lina, yang sudah menjadi teman kita. Miyuki sangat senang, Onii-sama. Senang karena Onii-sama memiliki perhatian terhadap orang lain selain kepada diriku. Onii-sama memiliki perasaan manusiawi lebih dari yang Oniii-sama kira.”
Tatsuya duduk diam dan menutup matanya.
Miyuki merasa kalau kakaknya yang mencoba untuk menutupi rasa malunya sebagai hal yang lucu.
Melihat kakaknya bersedia menunjukkan sisi lain dirinya kepada Miyuki, membuat Miyuki kegirangan.
◊ ◊ ◊
“Yoshida-kun, kita dapat respon dari Tokyo Tower. Saat ini, sedang bergerak menuju Penyeberangan Iigura.”
“Aku mengerti. Aku saat ini sedang berada di sekitar Stasiun Toranomon dekat Sakurada. Aku akan segera menuju Penyeberangan Iigura.”
“Tolong datanglah dalam sepuluh menit.”
“Baik. Kurang lebih dua menit lagi.”
Transmisi itu diputus. Mereka tampaknya akan sampai tepat waktu. Sadar akan itu, Mayumi menghela nafas lega.
Hasil diskusi mereka tadi siang menghasilkan sebuah sistem dimana Mayumi bertanggung jawab atas kontrol informasi sementara Katsuto dan Erika yang bekerja di lapangan. Semuanya sadar kalau tidak ada gunanya untuk saling menghambat satu pihak dengan yang lain.
Namun, tidak ada pihak yang bersedia untuk mengambil langkah pertama, jadi aksi independen semua pihak hanya menghasilkan situasi dimana mereka saling menghambat satu sama lain.
Pada tingkat itu, mereka benar-benar perlu berterima kasih berkat pengawasan Tatsuya yang memaksa mereka dapat berkompromi. Bagi Mayumi, dia benar-benar merasa kalau Tatsuya memperlakukannya seperti seorang anak kecil.
(Tunggu saja. Aku akan memberimu cokelat yang paling pahit saat hari Valentine.)
Puas dengan kejengkelannya terhadap Tatsuya, Mayumi merubah perhatiannya kembali ke monitor.
Sayangnya, transmitter yang diberikan Tatsuya tidak terlalu kuat. Lebih tepatnya, buruk sekali, walaupun memang benar kalau antena kamera pengawas dapat menangkap gelombang sinyalnya.
Namun, dalam metropolis yang juga terhubung dengan sistem transportasi publik, target dapat bersembunyi diantara kerumunan selama tiga jam.
Terlebih lagi, sinyalnya hanya muncul sekali setiap sepuluh menit. Singkatnya, mereka harus menangkap target dalam jangka waktu itu.
Kali ini, baru setelah mereka menggunakan sistem pengawasan kamera jalan mereka sadar untuk pertama kalinya kalau mereka tidak akan bisa mengejar pergerakan Vampire hanya dengan menggunakan kamera jalan saja. Lebih seperti legenda atau fiksi, kamera jalan tidak bisa menangkap gambar kepala mereka. Tapi tetap saja, legenda dan fiksi tidak seluruhnya salah. Tidak peduli bagaimana pun mereka menyesuaikannya, mereka hanya bisa mendapat gambar buram dari tubuh Vampire tersebut.
Terutama pada area diatas leher. Tidak ada cara untuk mengetahui ciri wajah mereka. Sistem kamera jalan didesain sebagai alat pengejar yang memiliki kemampuan pengenal wajah, jadi benar-benar tidak berguna jika mereka tidak dapat melihat ciri wajahnya.
Tim dari Keluarga Saegusa menyimpulkan kalau tidak ada tanda-tanda dari kerusakan pada mesin, target mungkin menggunakan sihir untuk mengganggu optik.
Inilah alasan mengapa target dapat melarikan diri tiga dan enam jam yang lalu. Karena itu, perburuan mereka berlangsung sampai malam.
Untungnya, kali ini mereka kelihatannya berhasil mengejarnya.
Mayumi meningkatkan pengawasannya selagi membuka sambungan komunikasi dengan Katsuto, yang masih menginvestigasi di Ditrik Shiodome.
◊ ◊ ◊
Awal minggu ini, Tatsuya menemukan sesuatu yang agak familiar pada beberapa hari terakhir di kelasnya.
Erika tertidur di mejanya. Dia mungkin lebih baik tidak perlu masuk sekolah, karena dia terlihat benar-benar kelelahan.
(Lupakan itu, apa dia bekerja sepanjang malam?)
“……..Um, apa kita harus membangunkannya?”
Mizuki, yang sebelumnya bertemu dengannya di stasiun, bertanya kepadanya dengan pelan-pelan.
Dia benar-benar tertidur sampai-sampai suara yang keras tidak dapat membangunkannya. Walaupun Mizuki tahu hanya dengan melihatnya, sudah merupakan kebiasaan Mizuki untuk berbicara dengan suara kecil.
“Biarkan saja dia tidur.”
Jawaban Tatsuya cukup sederhana. Lebih tepatnya, masuk akal.
Bahkan jika mereka berhasil membangunkannya, sudah jelas kalau dia tidak akan dapat mengunjungi fasilitas terapi mental sebelum siang hari, walaupun pada kenyataannya, Tatsuya tidak punya energi tersisa untuk mengkhawatirkan tentang keadaan mental orang lain saat itu.
◊ ◊ ◊
Untuk mengetahui alasan dibalik kelelahan Tatsuya, kita perlu kembali ke setengah hari yang lalu.
Sebenarnya, kebetulan setelah Tatsuya dan Miyuki selesai makan malam, telepon mereka berbunyi.
Saat ini, bukanlah waktu yang aneh untuk menelpon orang. Setidaknya bagi sang penerima telepon.
Namun, ini sudah larut malam di Pantai Barat Amerika dan hampir berganti hari. Tidak akan mengejutkan kalau Tatsuya sedikit gugup tentang apa yang akan terjadi.
“Halo, Shizuku? Apa terjadi sesuatu?”
Sesuai dugaan, orang yang muncul di layar adalah dia. Namun, penampilannya pada layar itu benar-benar tak terduga.
Shizuku terlihat seperti sedang mengenakan piyamanya. Mengikuti fashion disana, baju tidurnya tidak memiliki jubah.
Menjawab telepon di ruang keluarga bukanlah sesuatu yang buruk. Gambar berukuran besar dan beresolusi tinggi menampilkan sebuah gambar jernih yang begitu nyata.
Mungkin karena yang dipakainya adalah piyama, tapi kain tipis piyamanya tidak terlalu menutupi tubuh ramping Shizuku.
Tatsuya sudah pernah melihat Shizuku mengenakan baju renang saat musim panas, tapi apa yang ditampilkan Shizuku saat ini jauh lebih memikat daripada sebelumnya.
Ini mungkin efek dari tubuhnya yang terbayang dibalik piyamanya.
Berdasarkan dari apa yang dilihatnya, Shizuku tidak mengenakan pakaian dalam. Walaupun renda dan potongan piyamanya menutupi bagian-bagian penting tubuhnya, jika posisi pakaiannya sedikit bergeser maka bagian-bagian itu akan terlihat.
Dalam keadaan normal, bahkan Tatsuya pasti akan mengerutkan alisnya. Untungnya, pikirannya sedang penuh masalah, jadi dia tidak tersipu canggung melihatnya.
“Shizuku? Apa yang kau lakukan!?”

Tapi, bahkan seorang gadis yang melihat ini, Miyuki, tersipu melihatnya.
“Ah, Miyuki, selamat malam.”
“Lupakan sapaannya! Setidaknya pakailah jubah dulu!”
“…….Ini tidak apa-apa, bukan?”
Dia menunjukkan ekspresi skeptis, tapi Shizuku dengan patuh memakai jubah dengan perlahan.
“Maaf menghubungimu larut malam.”
Setelah itu, dia sekali lagi melanjutkan pembicarannya setelah menundukkan kepalanya.
“Disini masih belum selarut itu……. Tunggu, apa kau habis minum-minum?”
Nada bicara Shizuku terdengar lelah tapi agak aneh, seperti ada kapas di pita suaranya.
“Minum apa?”
Tentu saja akan seperti itu, tidak peduli seberapa ingin Tatsuya untuk menyelesaikan komentarnya, dia memilih untuk membatalkan perkataannya. Itu karena dia sadar kalau tidak ada gunanya karena sekarang sudah malam.
“Lupakan saja, apa yang ingin kau katakan?”
Kesadarannya kelihatannya juga sudah menurun, tapi dia tidak mungkin memanggil seseorang tanpa alasan. Tatsuya memutuskan untuk mendapatkan informasi sebaik mungkin darinya secepat mungkin.
“Hmm, aku rasa aku harus mengatakannya kepadamu cepat atau lambat.”
Memberitahuku apa? Tentunya Tatsuya harusnya dipuji karena dapat mengetahui maksud dari perkataannya tanpa perlu bertanya.
“Apa kau sudah mengetahuinya? Mengesankan.”
“Puji aku lagi.”
Mendengar Shizuku menggunakan nada datarnya untuk menggoda, Tatsuya mendadak merasakan adanya rasa ketidakberdayaan yang mengitarinya.
(…….Siapa yang membiarkan Shizuku minum?)
Shizuku sudah jelas mabuk. Dalam keadaan tersebut, dia terlihat lebih kekanak-kanakan.
“Tidak, kau cukup luar biasa, Shizuku. Kalau begitu, apa yang kau temukan?”
Dia tidak bermaksud untuk menyudutkan orang yang menghubunginya saat larut malam (di tempat Shizuku), tapi mungkin lebih baik bagi mereka untuk mengakhiri pembicaraan ini sesegera mungkin. Bahkan jika dia memang mabuk, dia tidak akan sampai menyia-nyiakan kesadarannya sampai seperti ini.
“Alasan di balik kemunculan Vampire.”
Tapi tetap saja, ini adalah inti permasalahan yang dicari-carinya. Berdua Tatsuya dan Miyuki membungkuk ke depan.
“Dawai……… itu penyebabnya, suatu dawai yang berhubungan dengan eksperimen black hole.”
“Huh? Black hole? Shizuku, apa maksudmu?”
Segera setelahnya, karena ada beberapa hal yang tidak jelas dan tak terduga yang dikatakannya, banyak sekali tanda tanyak yang berputar-putar di kepala Miyuki.
Lebih tepatnya, di dalam kepala Miyuki.
“Aku tidak tahu. Aku berencana untuk bertanya pada Tatsuya.”
“Menggunakan Teori Dawai sebagai dasar untuk menciptakan miniatur black hole? Yang kau maksud adalah efek pemusnahan, bukan?”
Tatsuya meluruskannya dengan suara yang kecil dan kaku.
“Ya itu. Kau benar.”
Shizuku sepertinya lupa merubah nada bicaranya (tidak ada tanda-tanda dia melakukannya), tapi Miyuki dengan malu-malu melirik ekspresi kakaknya dengan diam-diam.
“Jadi mereka melakukan itu………..”
Pada titik ini, Miyuki benar-benar ingin memutus panggilan itu. Menggunakan kata ‘ini sudah malam’, dia berencana untuk menghentikan panggilan itu karena dia tidak ingin untuk memperburuk suasana hati Tatsuya.
Sayangnya, sebelum hal itu dapat terjadi, Shizuku sudah menyampaikan pertanyaannya.
“Penjelasan detailnya akan terlalu rumit jadi kujelaskan singkat saja.”
Tatsuya juga sudah memulai penjelasannya.
“Itu adalah eksperimen yang didesain untuk mengekstrak sebuah miniatur dari black hole buatan. Para peneliti percaya kalau selama proses evaporasi dari pembentukan black hole, materi akan berubah menjadi energi termal. Tujuan mereka adalah membuktikan hal tersebut.”
Usahanya untuk menghentikan pembicaraan ini gagal, Miyuki tidak punya pilihan lain selain mendengar penjelasan kakaknya, tapi hatinya kaget saat mendengar tentang perubahan energi. Peringatan yang telah mereka terima dari bibi mereka sekali lagi terngiang di kepala Miyuki.
“Itu Teori Dawai? Itu cara mereka mengekstrak energi dari dimensi lain?”
Tentu saja, Shizuku tidak mengerti akan kekhawatiran Miyuki dan hanya bingung melihatnya sebagai seorang siswa yang mabuk.
“Tidak, proses ekstraksi energi itu sendiri tidak ada hubungannya dengan dimensi lain. Itu karena mereka telah memprediksi kalau evaporasi dari black hole miniatur itu tidak ada hubungannya dengan proses pembentukannya. Teori Dawai merujuk pada pemikiran kalau dunia ini seperti lapisan luar dari dunia lain dalam sebuah tingkatan yang lebih tinggi. Dalam masalah energi fisik, hanya gravitasi yang bisa menyerap pelindung dimensional, jadi gravitasi membiarkan sebagian besar energi bocor ke dimensi lain. Teori ini juga menyiratkan kalau dimensi kita hanya dapat mengamati energi dari dimensi yang lebih tinggi dalam skala yang jauh lebih kecil daripada aslinya. Namun, jarak yang kecil dalam tingkat atomik akan menimbulkan reaksi dengan objek yang sama sebelum bocor ke dalam dimensi lain dan akan menarik perhatian dari gravitasi yang lebih besar. Karena itu, berdasarkan Teori Dawai, pembentukan miniatur black hole dapat diwujudkan dangan energi yang kecil. Itulah latar belakang teoritis dibalik eksperimen untuk menciptakan black hole buatan dalam skala miniatur dengan Teori Dawai.”
“………Miyuki, apa kau mengerti?”
“Sayangnya, tidak. Aku tidak terlalu paham.”
Melihat Shizuku menggoyangkan kepalanya ke depan dan belakang, Miyuki juga tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya.
“Tapi Onii-sama, bagaimana hal ini berhubungan dengan Vampire…….?
Setelah itu, Miyuki dengan enggan mengajukan pertanyaan selagi melirik ke arah wajah kakaknya dari dekat.
Tatsuya melirik ke arah adiknya dan mengedipkan matanya kepada Shizuku sebelum berbicara tentang serangkaian hal-hal yang tak berhubungan.
“Energi tidak diperlukan jika perubahan fenomena dilakukan oleh sihir. Juga tidak ada tanda-tanda dari energi fisik yang diberikan. Semua orang percaya kalau tidak ada energi mistis di dunia ini yang dapat dirubah menjadi energi fisik. Walau begitu, Sihir Akselerasi dan Sihit Tipe Gerakan jelas merubah energi itu sendiri sebelum dan sesudah sihir itu dilancarkan. Berdasarkan hal ini, sihir tidak terbatas hanya pada konservasi energi. Melalui sihir, kita dapat dengan jelas melihat kalau hukum-hukum itu mulai tidak berlaku.”
“Aku ingat kalau ini disebut sebagai salah satu dari paradoks terbesar dalam sihir modern.”
“Ini masih pendapat, walaupun semua orang setuju kalau proposal ini tidak sempurna.”
Tatsuya dengan cepat melirik ekspresi Shizuku di monitor. Perkataannya agak aneh, hampir seolah-olah dia gagap. Terlepas dari hal itu, tidak ada tanda-tanda sedikit pun kalau dia akan tertidur. Melihat mata penasaran didepan matanya, ada kemungkinan kecil kalau dia akan menerima alasan seperti ‘ayo kita bicarakan lain kali’. Orang mabuk itu sedikit keras kepala seperti itu. Setelah memikirkan hal itu, Tatsuya memilih untuk melanjutkan pembicaraan mereka.
“Kau benar, Shizuku. Dari luar, ini terlihat menyimpang dari hukum kekekalan energi. Yang perlu diingat, hukum kekekalan energi adalah hukum hasil deduksi, jadi mustahil jika ada fenomena fisik yang menentangnya. Selama sihir menghasilkan sebuah reaksi fisik, maka setidaknya mereka akan terikat oleh hukum-hukum itu, hukum kekekalan energi seharusnya masih dapat diamati. Walaupun hukum kekekalan energi terlihat tidak berlaku saat pengaktifan Psion dengan kecepatan tinggi, perubahan energinya masih bisa diamati saat sedang dalam proses. Jadi, saat sihir merubah fenomena fisik, maka dalam kejadian itu, hukum kekekalan energi seharusnya tetap berlaku. Tentu saja, hukum kekekalan energi mengacu pada konsep energi tetap yang konstan dalam sistem tertutup. Jika ada fluktuasi tingkat energi, maka itu pasti menandakan kalau ada kesalahan pengamatan atau sistem itu tidak tertutup.”
“Sihir sudah mengatakan kalau dunia ini bukanlah sistem tertutup….. Itu tentunya mengingatkan kita dengan pembicaraan Teori Dawai yang sebelumnya.”
“Aku mengerti! Jadi energi yang dibutuhkan untuk sihir didapat dari dimensi lain?”
“Akhir-akhir ini, kita melihat banyaknya peneliti sihir yang mendukung teori itu. Aku juga mendukung hal itu. Menganggap kalau Teori Dawai itu memang benar, maka kita seharusnya memikirkan bagaimana jika gravitasi adalah satu satunya kekuatan yang bisa melewati dimensi lain. Apa yang kukatakan tidak memiliki dasar teoritis dan pendekatakanku murni hanya berdasarkan spekulasi.”
Miyuki dan Shizuku kehabisan kata-kata melihat tampang serius Tatsuya.
“Ada kemungkinan kalau gravitasi lah yang menjadi pelindung dimensional. Dengan menganggap kalau sihir menembus pelindung itu, energi mungkin dapat dihilangkan dari dimensi lain. Walaupun memang benar kalau sihir adalah sebuah fenomena yang tidak membutuhkan energi, tapi itu tidak menjamin kalau tidak ada energi sama sekali yang terlibat didalamnya. Bahkan dengan parameter yang dapat diamati, ada kemungkinan kalau sihir bisa gagal saat total keluaran sihirnya nol.”
Bingung mendengarnya, Miyuki dan Shizuku tetap menaruh pandangannya pada Tatsuya saat dia melihat ke depan.
“Kemungkinan besar, Rangkaian Sihir berperan sebagai energi yang dibutuhkan untuk merubah suatu fenomena dan mengekstrak energi yang sedikit itu dari dimensi lain. Mengenai jumlah energi fisik yang tidak bisa diamati, maka kita dapat mengasumsikan kalau energi yang berasal dari dimensi lain memiliki kekuatan mistis, atau lebih sederhananya energi gaib, maka hukum kekekalan energi dapat diamati setelah Rangakaian Aktivasi telah selesai terbentuk.”
Walaupun mereka tidak sepenuhnya mengerti penjelasan Tatsuya, dua gadis itu tetap membuka telinga mereka karena mereka merasa kalau perkataannya sangat penting bagi seorang penyihir.
“Sisi lain dari penghalang dimensi mengandung dimensi yang penuh dengan energi gaib dan, untuk mencegah energi bocor ke dimensi fisik, gravitasi menyokong penghalang dimensi dan mencegah kebocoran. Namun, sihir bisa menembus penghalang ini untuk hingga kekurangan energi dengan cara menarik energi sihir. Aku yakin ini adalah sistem yang memecahkan paradoks besar sihir modern. Di sisi lain, black hole miniatur dikembangkan melalui perhitungan dalam Teori Dawai, gravitasi yang bekerja pada penghalang dimensi akan disia-siakan oleh penciptaan black hole. Dalam hal ini, penghalang dimensi berfluktuasi seketika saat black hole terbentuk.”
“Pelindung dimensional itu berfluktuasi…… Lalu apa yang terjadi?”
“Energi gaib yang berada diluar kendali Rangkaian SIhir akan keluar melaluinya…….?”
Dipisahkan oleh layar, Miyuki dan Shizuku saling bertatapan. Kamera beresolusi tinggi dan monitor itu menampilkan sebuah teror yang tercermin dari mata mereka.
“Energi secara langsung membentuk dirinya sendiri dan membentuk sebuah badan informasi. Jika tidak, alam semesta pasti sudah menjadi sebuah kekosongan. Energi gaib dari dimensi lain seharusnya juga memiliki pola yang sama. Disaat pelindung dimensional melemah, kemungkinan energi gaib dari dimensi lain untuk masuk ke dalam dunia ini dalam wujud badan informasi meningkat. Setidaknya, begitulah pendapatku.”
Di sisi lain monitor itu, tubuh Shizuku sedikit terguncang.
Di sisi ini, Miyuki melingkarkan tangannya pada lengan Tatsuya seolah-olah dia tidak ingin melepasnya.
◊ ◊ ◊
Mikihiko akhirnya muncul di kelas setelah jam pelajaran kedua selesai.
“Apa sudah selesai?”
Dia tidak terlambat.
Hari ini, dia dirawat lagi di UKS.
“Tatsuya…… aku benci dirimu.”
Awalnya, nadanya masih belum disadari, tapi apa yang keluar setelahnya disampaikan dengan nada yang berat.
“Hey, itu cukup kasar.”
Walaupun perkataannya hanya main-main, emosi yang keluar dari dirinya benar-benar sesuai dengan perkataannya.
Setelah tidak sengaja mendengar perkataan itu, Mizuki mundur ketakutan.
“Kalau apa yang kulakukan hanya mengeluh, kau mungkin juga akan membiarkanku melampiaskannya. Lalu, apa kau tahu seberapa sakit pikiranku saat itu……….?”
“Saegusa-senpai hanya duduk diam tersenyum tanpa berkata sepatah kata pun, Erika tetap tutup mulut dengan tampang tidak senang……… hanya aku sendirilah yang terus berbicara. Perasaanku hampa seperti sedang duduk diatas jarum.”
“Apa Juumonji-senpai tidak ikut bicara?”
“Apa menurutmu orang seperti itu akan ikut campur masalah orang lain?”
Dalam kasus ini, itu memang benar.
Mayumi, Erika, dan Katsuto semuanya bersikap sesuai dengan ‘sifat’ mereka.
“Yah……. Tidak ada alasan khusus, tapi aku tahu itu pasti sulit bagimu.”
Mikihiko terlihat sedikit tersembuhkan oleh kalimat Mizuki yang menghiburnya.
Di samping Mizuki, Erika masih tertidur diatas mejanya.
Erika akhirnya bangun saat istirahat makan siang. Mungkin karena dia akhirnya bangun, dia menarik Mizuki dan mulai mengeluh.
“Apa kau dengar? Sampai sekarang, hanya ada satu dari mereka yang melarikan diri, tapi tiba-tiba dikabarkan ada tiga. Apa menurutmu itu tidak aneh?”
Mungkin sadar kalau akan sangat buruk kalau ada seseorang yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka di kantin, Erika memutuskan untuk tidak makan siang dan menarik Mizuki ke dalam sebuah ruang kosong, laboratorium yang sering digunakan Mikihiko.
“Um, apa begitu?”
Mizuki mengangguk untuk melanjutkan permbicaraan mereka, tapi kenyataannya, dia tidak benar-benar yakin apa yang dimaksud Erika.
Dia menebak kalau yang dimaksudnya adalah tentang insiden ‘Vampire’, tapi dia tidak paham rinciannya. Pertanyaan ‘Vampire itu tunggal atau jamak?’ terlintas di kepala Mizuki.
“…………Sebelum itu, kau lebih baik cepat ke kantin. Istirahat makan siang sudah hampir selesai, ‘kan?”
“Aku tidak terlalu lapar.”
Itu karena kau tidur daritadi! Mizuki benar-benar ingin mengatakan itu, tapi dia merasa kalau dia hanya akan membuat Erika makin jengkel, jadi dia memilih untuk tidak mengatakannya.
(Ha…….. aku menyerah.)
Mizuki tidak makan siang, bukan berarti dia sedang puasa, dia tidak punya kebiasaan seperti itu. Tidak ada pelajaran olahraga atau kelas keterapilan teknis nanti, jadi tidak makan siang tidak akan jadi masalah, dia mengatakan kepada dirinya. Dibandingkan itu, ada hal lain yang lebih dikhawatirkannya.
“Hey, Erika-chan. Mengapa kau bertengkar dengan Tatsuya?”
Dalam sekejap, bahu Erika gemetaran.
“A-apa yang kau bicarakan, Mizuki. Kita tidak ada-apa. Sama sekali tidak apa-apa.”
Dia dengan berlebihan menggelengkan kepalanya dan melambai-lambaikan tangannya.
Akibat dari membiarkan rambutnya tumbuh panjang sejak musim semi lalu, rambut ekor kuda panjangnya, gaya rambut kesukaan Erika, juga bergerak ke depan dan ke belakang mengikuti gerakan kepalanya.
“Tidak perlu panik……. Bukan berarti aku bepikir kalau Erika-chan melakukan sesuatu pada Tatsuya. Bahkan jika kau membuat masalah, bukankah Tatsuya hanya akan tersenyum dan menerimanya? Jadi jika memang Erika-chan alasannya, maka tidak akan ada masalah diantara kalian berdua.”
“Um, yah, aku tidak terlalu yakin ini pujian atau ejekan……..”
Tepat seperti perkataannya, Erika menunjukkan ekspresi ‘tidak dapat memutuskan’ saat menyampaikan protesnya. Mungkin.
“Aku tidak keduanya. Aku hanya mengatakan situasi yang sebenarnya.”
Di sisi lain, Mizuki dengan tegas menekankan perkataannya.
“Walaupun kau mengatakannya seperti ini, aku masih merasa kalau aku tidak bisa menerimanya.”
“Ya, ya. Apapun yang terjadi, aku tidak merasa kalau Erika-chan lah alasannya.”
Perkataan itu dengan mudah diabaikannya.
“Mizuki, kau sudah lebih kuat……..”
“Kalau kau tidak ingin membicarakannya, apa kau pikir aku akan berhenti bertanya?”
Usaha Erika untuk menggunakan candaan untuk menghentikan pembicaraan ini gagal dengan cepat.
Tak berdaya, Erika terdiam.
“Kami benar-benar tidak bertengkar…… Hanya saja aku merasa canggung ada disampingnya. Aku tidak berencana untuk membawa-bawa masalah ini sampai besok, jadi bisakah kau tolong lepaskan aku hari ini?”
Kepalanya miring, Erika dengan lemah melirik dibalik rambut dan lengannya.
Hm~, Mizuki juga sedikit memiringkan kepalanya dan menggunakan jari telunjuknya untuk mengetuk dagu Erika.
Rambutnya sedikit condong kedepan dan rambut sebahunya cocok dengan gerakan seperti itu.
Berayun setelah dia melakukan itu, dia menegakkan kepalanya lagi.
“Karena kau bisa mengatakan kalau kalian akan berbaikan kembali mulai besok, aku rasa sudah baik-baik saja.”
Suasana hatinya tampaknya mengarah pada apa yang diharapkan Erika.
“Ya, yang benar saja…… Ah~, menyebalkan sekali.”
Aslinya, bahkan Erika tidak percaya omong kosong tentang berbaikan kembali saat keesokan harinya.
Setelah sadar akan hal itu, Erika bangkit berdiri dengan ekspresi lesu.
“Pada akhirnya, kita mungkin hanya akan menggoda Tatsuya. Kita tidak pernah meminta Tatsuya-kun untuk memberi kita bantuan dan anggap saja jika kita tidak mengatakan apa-apa, dia masih akan menolong kita. Jadi aku sangat marah, saat aku melihat dia juga menolong wanita itu dan menginjak dua kapal……… Sialan, aku malu lagi.”
Diantara sela-sela lengannya yang menutupi wajahnya, terlihat kalau dia tersipu. Rasa malunya tidak terbatas hanya pada perkataannya.
Melihat penampilan aneh menawan ini, Mizuki mendesah dalam.
“………Apa, desahanmu seolah-olah mengatakan ‘kau membuatku terkesan sampai hatiku yang terdalam’.”
“Walaupun aku tidak yakin kalau ini dari hatiku yang terdalam, tapi paruh pertama kalimatmu memang benar.”
Mizuki mengalihkan matanya menanggapi tatapan tajam Erika yang tertuju kearahnya dari balik sela-sela jarinya.
Ujung mata Erika mulai tidak terlihat secara bertahap.
Mizuki pindah sehingga dia berada didepan Erika (dia baru saja merubah posisi duduknya) sebelum memegang dan melepas lengan yang menutupi wajah Erika.
“Jadi pada akhinya, kau hanya keras kepala membenci dirimu sendiri……. Aku rasa hal seperti ini bisa dianggap sebagai ‘monolog’.”
“Aww! Mizuki tanpa ampun menusuk hatiku dengan perkataannya~”
“Aku sedang serius.”
“……….Maafkan aku.”
Walaupun dia menyampaikannya tanpa emosi, tubuh Erika terlihat mengerut.
“Jujur saja, Erika-chan, kau tidak bisa bergantung pada Tatsuya-kun untuk melakukan langkah pertama.”
“………Tepat seperti yang kuduga?”
“Aku tidak yakin kalau kau memang dikejar atau tidak, tapi apa yang perlu kau lakukan hanyalah bersembunyi, lalu Tatsuya-kun akan benar-benar mengabaikanmu, bukan? Sejak awal, Miyuki-san lah yang menjadi segalanya di dalam kepala Tatsuya. Bahkan jika kau tidak bergerak sedikit pun, kalau kau tidak berusaha untuk dapat dilihatnya, lalu apa dia masih akan tetap mengingatmu?”
“……..Itu, cukup masuk akal.”
“Aku rasa aku dapat menganggap kalau Tatsuya-kun yang memperhatikan Erika benar-benar mustahil. Aku yakin kalau kau benar-benar salah kau berasumsi seperti itu.”
“Ya…… kau ada benarnya juga. Orang itu mempunyai keberanian sekeras baja dan akan terlalu baik jika hanya menyebutnya tidak peka. Dengan dia sebagai musuhnya, merasa malu tidak akan memberikan kemajuan sedikit pun.”
Erika mengepalkan tangannya dengan erat.
Melihat hal itu, Mizuki menunjukkan sebuah senyuman hangat.
Ini adalah pemandangan yang menyambut Mikihiko saat dia masuk ke ruangan itu.
“Ah, jadi kalian benar-benar tidak makan apa-apa.”
Segera setelah dirinya masuk, Mikihiko menyampaikan hal itu.
Sebelum mereka berdua dapat bertanya ‘apa yang kau bicarakan?’, Mikihiko mengeluarkan dua sandwich dari sebuah kantong plastik di tangannya.
“Ini, Erika, yang ini isinya tuna, kentang, dan wortel. Shibata-san mau sandwich telur, bukan?”
“Eh, kenapa?”
“Ter-terima kasih.”
“Sama-sama.”
Itu untuk menanggapi jawaban Mizuki.
“Tidak apa-apa. Kalau kau tidak makan sedikit pun, kau akan kelaparan walaupun yang kau lakukan hanya tidur, ’kan?”
Setelahnya, jawaban itu ditujukan untuk pertanyaan Erika.
“Ho~…….. Miki, kau menjadi lebih perhatian.”
“Aku ingin bilang ‘sama-sama’, tapi ini dari Tatsuya. Karena kau kelihatan sedang menghindarinya, dia memintaku untuk memberikannya kepadamu.”
Mendengar perkataan Mikihiko, Erika dan Mizuki saling bertukar pandang.
“Jadi dia tidak lupa……..”
“Sepertinya kau sudah salah paham………”
Tiba-tiba, Erika menyangkalnya dengan keras.
“A-apa-apaan itu?”
Erika menampilkan sebuah postur kemenangan didepan Mizuki yang terbelalak.
“Kalau kau punya pemikiranmu sendiri maka aku juga punya, Tatsuya-kun! Aku tidak akan menyerah untuk diperhatikan!”
“Kau pergi saat dia perhatian terhadapmu.”
“Miki, apa kau mengatakan sesuatu?”
“Tidak. Aku hanya bilang kau sebaiknya cepat makan.”
Mikihiko menarik keluar sandwich-nya sendiri dan menjawab tanpa memerdulikan tatapannya.
Seperti yang diharapkan dari sepasang teman masa kecil. Walaupun dia baru saja menginjak sebuah ranjau, dia mahir dalam menangani Erika.
Apapun yang terjadi, Erika sekarang sudah tenang dan duduk. Segera setelahnya, mereka bertiga mulai memakan sandwich masing-masing.
“Aww………!”
Mendadak, wajah Mizuki menegang saat dia menutup matanya. Erika dengan sigap menangkap sandwich telur yang jatuh dari pegangannya. Namun, bukan sebuah refleks, berdua Erika dan Mikihiko memusatkan pandangan mereka pada Mizuki, yang sedang mengerang kesakitan. Mizuki melepas kacamatanya dan menekan tangannya pada matanya.
Sebuah erangan keras keluar dari mulutnya.
“………Apa………..ini……….. aura ini, aku belum pernah melihat yang seperti ini……..”
Menyadari ada sesuatu yang terjadi, Mikihiko segera mengeluarkan jimat dan mengaktifkan sebuah pelindung yang dapat menghalangi roh-roh. Walaupun membawa CAD bertentangan dengan aturan sekolah, tidak akan ada orang yang peduli akan aturan itu sekarang.
“Ini, kehadiran dari ‘iblis’……….”
Itu bukanlah Psion, tapi gelombang pushion. Itulah mengapa Erika tidak mungkin tahu dan hanya Mikihiko lah yang sadar setelah memfokuskan dirinya.
Gelombang ‘iblis’ murni menabrak dan menembus pelidung itu.
Memilki kemampuan untuk menembus lensa, tidaklah mengagetkan kalau kekuatan gelombang ini dapat memengaruhi mata Mizuki.
“Shibata-san, pakailah kacamatamu.”
Namun, dengan pelindung itu, seharusnya lensa itu sudah dapat melindunginya dari gelombang itu.
Seperti yang dicurigai Mikihiko, Mizuki dapat kembali tenang setelah memakai kacamatanya kembali.
Dengan begitu, mereka akhirnya punya waktu tenang untuk memikirkan apa yang baru saja terjadi
Berwajah pucat, Erika dan Mikihiko saling bertukar pandang.
“Jangan bilang, ada Vampire di sekolah ini?”
“Berani sekali! Miki, dimana?”
Berdiri dengan penuh semangat, Erika tidak memerdulikan bunyi kursinya yang jatuh. Dia maju ke depan Mikihiko dengan ekspresi penuh semangat.
“Erika, tenanglah.”
Mikihiko juga berdiri dan dengan tenang merespon sikap Erika.
“Pertama-tama, kita perlu perlengkapan. Aku tidak merasa cukup hanya dengan membawa jimat.”
“……….Itu benar. Mizuki, tunggu di kelas ini.”
“Aku juga ikut.”
Erika mengajukan permintaannya, tapi Mizuki menggelengkan kepalanya.
“Mizuki.”
“Aku punya perasaan kalau aku lebih baik ikut pergi. Untuk alasannya……… aku tidak terlalu tahu.”
Nada bicaranya tetap tenang, tapi berisi keberanian teguh.
“………..Aku mengerti. Namun, tolong jangan jauh-jauh dariku.”
“Miki?”
Mata Erika terbelalak mendengar perkataan tak terduga Mikihiko.
Tapi tetap saja, perkataannya adalah hasil dari pemikiran dalam saat menghadapi situasi ini.
“Jika sendirian maka kita akan jadi mangsa yang empuk, sementara kita akan bisa menghadapi serangannya kalau sebagai kelompok. Ditambah lagi, mata Shibata-san akan menjadi aset besar.”
“Ha……….. Miki, kalau begitu kau bertanggung jawab melindungi Mizuki.”
Tidak ada gunanya lagi memperpanjang pembicaraan ini, jadi Erika mulai berjalan kearah kantor dimana CAD disimpan. Mikihiko selangkah dibelakangnya. Berdua dirinya dan Mizuki tahu kalau ini bukanlah waktu dan tempat untuk sebuah adegan romantis anak SMA. Walau begitu, untuk memastikan Mizuki tidak tertinggal, yang bisa dilakukannya hanyalah memegangi tangannya, begitulah cara Mikihiko meyakinkan dirinya.
◊ ◊ ◊
Letnan Silvia, berperingkat ‘Mercury First’, bekerja sebagai pendukung Mayor Angelina Sirius selama misinya di Jepang. Mengingat hal itu, merawat Lina tidak termasuk dalam daftar tugasnya.
Anggota Stars dikategorikan menjadi Kelas 1 Planet, Kelas 2 Planet, Kelas Rasi Bintang, Kelas Komet, dan Kelas Satelit. Diantara mereka, Kelas 1 dan 2 Planet dan Kelas Rasi Bintang dijadikan sebagai petarung garis depan, sementara Kelas Komet dan Kelas Satelit mengisi peran sebagai tenaga pendukung dan agen rahasia. Tentu saja, itu hanya pembagian peran diatas kertas karena Lina yang berperingkat Kelas 1 Planet juga diberikan misi mata-mata.
Sebagai anggota ‘Kelas 1’ dari Komet ‘Mercury’, tugas Silvia adalah mendukung dari belakang, seperti menggunakan sihir untuk mengumpulkan dan menganalisa data. Untuk misi kali ini, kemampuan analisa datanya sangat berharga diantara rekan-rekannya, tidak seperti kedutaan, dia secara spesifik dipersiapkan untuk menganalisa tanda gelombang Psion secara diam-diam.
Tugasnya saat ini termasuk mengidentifikasi sosok bertopeng yang membuat Lina pingsan setelah bertarung dengannya. Untuk menentukan apa dia memiliki tanda gelombang Psion yang sama dengan target, dia memeriksa semua informasi mengenai orang-orang yang berhubungan dengan militer dan pemerintah USNA.
Sebagai komponen utama dari sebuah CAD, batu sensor memiliki fungsi untuk merubah sinyal Psion menjadi sebuah sinyal elektrik. Terlebih lagi, tidak peduli apa itu penyihir atau bukan, jejak Psion masih akan tertap tertinggal walaupun mereka tidak melakukan apa-apa. Setelah batu sensor selesai merubah sinyal Psion menjadi sinyal elektrik, pola itu dapat terekam secara elektronik dan ditampilkan melalui proyektor. Namun, jika dibandingkan dengan gambar pada proyektor, mungkin akan ada perbedaan beberapa menit saat mencoba untuk merubah gambar itu kembali menjadi tanda gelombang Psion dengan waktu yang pendek. Itulah mengapa penyihir yang terlatih dalam mengidentifikasi tanda gelombang Psion dikirim untuk menjalankan tugas ini daripada seseorang yang bukan penyihir.
Pada akhirnya, mustahil untuk mengumpulkan semua data yang berhubungan dengan militer dan pemerintah USNA, tapi lebih tepatnya semua penyihir yang ada didalamnya. Selain mereka, orang-orang yang bukan penyihir tapi masih berada dibawah payung Stars juga termasuk. Berdoa dalam hati kalau dia tidak akan menemukan kecocokan diantara mereka, Silvia melanjutkan pemeriksaannya.
Pertama-tama, dia memastikan tidak ada anggota Stars yang memiliki tanda gelombang Psion seperti itu. Siapapun yang bekerja di garis depan yang tidak berhubungan dengan Stars memiliki alibi yang sama. Tidak lama pada siang hari, Silvia menemukan sesuatu yang mengejutkan saat jam makan siang.
(Huh? Ini mustahil……….)
◊ ◊ ◊
Saat Lina makan bersama teman-teman Kelas A nya, dan bukan dengan kelompok Miyuki, dia bingung harus melakukan apa setelahnya. Istirahat makan siang hanya berlangsung selama sejam, dan hanya ada 30 menit lagi yang tersisa. Mereka mungkin sudah selesai makan lima menit yang lalu. Biasanya, dia akan mencari tempat lain untuk minum teh atau pergi ke ruang OSIS sebagai anggota sementara, tapi hari ini….
(……….Mungkin aku harus menemui Mia.)
Dia adalah tetangga Lina dan, pada tingkat tertentu, juga sebagai rekan kerjanya. Hari ini, Michaela Honda, atau singkatnya ‘Mia’, sedang mengunjungi SMA 1 dengan penyamaran sebagai penjual dari Maximilian Devices. Sibuk dengan pekerjaannya untuk mengejar pengkhianat, Lina tidak bertemu dengan Mia beberapa hari terakhir. Walaupun dia tidak ada alasan khusus, ini mungkin kesempatan yang sempurna untuk menemuinya.
Walaupun otaknya memikirkan masalah ini, gerakan tangan dan ekspresi Lina tidak menunjukkan apa yang dipikirkannya saat dia melanjutkan pembicaraannya dengan teman-temannya dengan normal sampai pada sendokan terakhirnya.
(Ini!?)
Lina secara naluriah ingin berdiri, tapi dia segera menahan dirinya saat dia sudah mengangkat pinggangnya. Untungnya, teman-temannya mengira kalau dia hanya memperbaiki posisi duduknya dan tidak terlalu memerhatikannya. Lina memasang senyuman sopan dan segera menghilangkan semua gejolak yang ada dipikirannya.
Tepat setelahnya, sebuah gelombang asing menerpanya. Melihat teman-temannya kebingungan akan itu, itu mungkin bukan aura gaib tapi sebuah gelombang Psion. Lina bisa menyadarinya hanya karena dia sudah pernah menemui hal ini berkali-kali selama pertarungan. Ini adalah si sosok bertopeng, sang ‘Vampire’. Dia juga dapat menebak dimana kira-kira lokasinya. Itu berasal dari balik pintu dimana para pekerja keluar.
(Itu benar, Mia!)
Disaat dia menemukan lokasinya, semua yang dipikirkannya terlintas di pikiran Lina. Saat ini adalah waktu dimana Mia mengunjungi SMA 1. Sebagai anggota kru transportasi, dia seharusnya juga melewati pintu itu.
“…..Maaf, aku baru saja ingat ada yang harus kudatangi. Kususul kalian nanti.”
Lina dengan sopan memohon untuk meninggalkan teman-temannya dan pergi dari meja itu.
◊ ◊ ◊
(Ternyata itu hanya Illusionary Contact Formation…….. Kelihatannya kita salah sudah meremehkannya hanya sebagai seorang murid SMA biasa.)
Sebuah suara tanpa kata berasal dari trailer Maximilian Devices. Gelombang pushion itu terdengar seperti kepakan sayap lebah, suara yang tidak bisa didengar oleh telinga manusia. Ini ‘suara’ yang terbentuk dari kesadaran kolektif seorang Vampire. Dalam ‘suara’ ini, 70% dari suara itu setuju dan 30% tidak setuju. Suara itu bercampur aduk dan tidak dapat dipisahkan dengan mudah.
(Apa kau pikir mereka menyadarinya?)
Formasi itu tersebar di sepanjang dinding dan pintu. Perbedaaan antara gelombang pushion tersembunyi dan gelombang Psion yang tersamarkan sangatlah kecil. Hanya ada beberapa penyihir yang bisa membedakan gelombang pushion dan tanda gelombang Psion.
Dari dalam trailer, Vampire itu menanyakan pertanyaan baru yang dijawab oleh gelombang pushion dari dalam dirinya. Jika pihak ketiga memiliki orang yang dapat mendeteksi pikiran ini, maka orang yang diamati akan terlihat seperti bicara sendiri. Kali ini, responnya 90% tidak setuju, mereka yakin kalau diri mereka masih belum ketahuan.
(Aku pikir juga begitu...... Tapi, kita seharusnya tidak datang ke sini.)
Untuk mempertahankan penampilannya, penyamarannya yang memungkinkan dirinya masuk ke SMA 1 benar-benar merupakan kesempatan yang luar biasa. Namun, saat mengingat kembali tujuan utamanya, berjalan ke dalam SMA 1 yang dipenuhi dengan perangkat sensorik dan penangkal sihir dapat menimbulkan risiko tidak penting. Penampilan luarnya tidak memungkinkannya untuk menolak tugas ini, tapi dia mungkin lebih baik menghindari tempat ini bahkan jika dia harus melepas penyamarannya...... Kegelisahan mulai muncul didalam dirinya.
◊ ◊ ◊
Setelah makan siang, Tatsuya naik ke atap sekolah.
Akibat suasana hati Erika yang masam hari ini, Tatsuya, Miyuki, dan Honoka makan siang bersama.
Dari sudut pandang tertentu, dia terlihat seperti memiliki bunga di kedua lengannya. Lupakan itu, dia memang seperti itu sekarang. Lagipula, baik Miyuki maupun Honoka tidak terganggu untuk menyembunyikan ketertarikan mereka. Bukan berarti mereka tidak berencana untuk menyembunyikannya, tapi lebih seperti mereka memang tidak bermaksud untuk menyembunyikannya sejak awal.
Tidak ada yang bisa dilakukannya, tapi bahkan orang dengan hati seperti Tatsuya akan merasa sedikit tidak nyaman pada tatapan-tatapan yang tertuju ke arahnya. Akibatnya, dia memilih untuk pergi dari kantin.
Atap SMA 1 memiliki kemiripan dengan taman pada umumnya, dilengkapi denga bangku yang modis, dan merupakan titik populer di sekolah.
Tapi tetap saja, mengingat ini puncak musim dingin, hanya sedikit orang yang berani menghadapi angin dingin di atap sekolah ini.
Hari ini agak lembap, tapi dilihat dari suhunya, tempat itu sangat dingin. Meski begitu, hanya mereka bertiga yang ada di atap. Seseorang mungkin akan menggunakan sihir yang dapat melawan dingin, tapi selain beberapa golongan kecil di sekolah, kebanyakan orang dilarang membawa CAD. Terlebih lagi, tidak ada orang yang cukup bodoh untuk ‘menggunakan sihir tanpa CAD’ hanya untuk menjaga lokasi selama istirahat makan siang. Bagaimanapun juga, mereka bertiga termasuk diantara golongan kecil itu. Saat ini, Miyuki menggunakan sihir untuk menghalangi dingin dan membuat mereka bertiga dapat menikmati momen-momen mereka dengan nyaman.
Sekali lagi agar lebih jelas, sihir Miyuki aktif meliputi mereka bertiga. Sihir Miyuki mengkondensasikan oksigen untuk menciptakan udara dingin. Bahkan jika dia membalik prosesnya, hal sepele seperti menjaga suhu dingin agar tidak sampai titik beku adalah hal yang mudah bagi Miyuki.
Dengan kata lain, tidak mungkin mereka kedinginan.
Walau begitu, Honoka memeluk lengan Tatsuya dengan erat sampai tidak ada celah diantara mereka.
Di saat Honoka melakukannya, Miyuki tampak terkejut, walaupun lebih seperti tatapan dingin, tapi sekarang dia juga melakukan hal yang sama pada lengan Tatsuya seolah-olah sedang bersaing dengan Honoka.
Berkat hal itu, Tatsuya sekarang benar-benar tidak bisa bergerak, seolah-olah kedua lengannya sedang diikat.
Sekarang Tatsuya akan terlihat menggemaskan jika dia bisa sedikit tersipu saat ini, tapi bahkan dengan kedua lengannya yang terjebak pada belahan dada mereka berdua, Tatsuya masih menunjukkan senyuman kecut biasanya yang terlihat seperti mengatakan ‘aku tidak bisa apa-apa’. Banyak siswa yang yakin kalau tidak akan ada orang yang akan mengeluh jika dia di posisinya bahkan jika mereka ditusuk dari belakang setelahnya.
Seperti biasa, Miyuki dan Honoka terdiam untuk beberapa alasan yang tak diketahui. Jika diamati lebih dalam, mereka berdua tersipu sampai ke telinganya. Karena itu bukan karena suhu, maka pasti ini alasannya, jadi bukankah mereka lebih baik melepaskan tangan mereka, pikir Tatsuya. Dengan pemikiran itu, bahkan jika dia tidak dicap ‘tidak peka’, dia tidak mungkin terhindar dari tuduhan tidak peka terhadap hati wanita.
Walau begitu, bahkan jika situasinya seperti itu, Tatsuya tidak akan pernah mempermasalahkan hal itu. Karena mereka berdua tidak berbicara sedikit pun, Tatsuya mulai menata data mengenai insiden barusan di kepalanya.
Awalnya, dia pikir kalau ‘Vampire’ menyerang manusia dengan sebuah tujuan. Berdasarkan situasi saat ini, satu-satunya informasi yang mereka ketahui adalah mereka menyerang manusia dengan peralatan sihir tingkat tinggi dan mengambil darah dan energi spiritual.
Mengapa mereka menyerang penyihir?
Dan apa gunanya mengambil darah?
Pada akhirnya, mereka sampai di Jepang setelah melarikan diri dari militer USNA? Apa mereka harus berada di Jepang untuk mencapai tujuan tertentu, atau ada pihak ketiga yang memaksa mereka untuk melakukan sesuatu disini.
Tidak dapat menemukan cara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dia ganti memikirkan identitas asli dari ‘Vampire’.
(Berdasarkan sistem identifikasi dari pengguna Sihir Kuno, dugaan kita kalau identitas asli dari ‘Vampire’ adalah ‘Parasite’ seharusnya memang benar.)
(Menurut hipotesis Master, kemungkinannya besar kalau Parasite terbentuk dari badan informasi independen yang terpisah dari jiwa manusia.)
(Informasi dari Shizuku tentang eksperimen black hole miniatur milik USNA yang menjadi katalis juga terdengar dapat dipercaya.)
(Kalau begitu, insiden ini disebabkan oleh badan informasi yang menyerang dari dimensi lain….. Apa teoriku benar?)
(Masalahnya adalah hubungan, antara badan informasi yang menyerang dari dimensi lain dan badan informasi yang terbentuk dari aktivitas jiwa manusia.)
(Intinya adalah, dimana wujud asli dari ‘jiwa’? Dimensi lain? Dimensi yang lebih tinggi? Atau bahkan ‘tidak dimana-mana’?)
(Kalau begitu, maka dimana yang namanya Idea? Eidos?)
Sadar kalau dia mengarah ke dalam jalan buntu, Tatsuya sedikit menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk menata ulang pemikirannya.
(Ada dua kemungkinan.)
(Yang pertama, Parasite menyerang dari dimensi lain.)
(Yang kedua, energi tak terkendali merayap keluar dari dimensi lain dan mendorong Parasite yang sebelumnya tertidur di dunia ini.)
(Dan yang terakhir, selama Parasite………, yah, karena kurangnya informasi mengenai identitas asli dari badan informasi independen yang diakibatkan aktivitas jiwa manusia, kita hanya bisa sejauh ini, eh.)
(Mengingat hal itu, apa yang harus kupikirkan adalah bagaimana cara untuk mengetahui dan mendekomposisinya.)
(Jika badan informasi berasal dari jiwa, maka kemungkinannya tinggi kalau mereka terdiri dari pushion.)
(Jadi memperhitungkan kemampuanku, masih ada musuh yang tidak dapat aku dekomposisi bahkan jika aku melihat mereka, eh……….)
Rentetan pemikirannya dihentikan oleh gerakan tak terduga Miyuki.
“Miyuki, ada apa?”
Apa yang dilakukannya barusan bukan karena dia sudah tidak bisa menahannya, tapi secara refleks karena tidak nyaman.
Mendengar suara Tatsuya, Honoka sadar kalau itu bukan karena dia sedang memanjakan Miyuki dan juga memisahkan dirinya dari posisinya sebelumnya di sisi Tatsuya. Segera setelahnya, tubuhnya mulai gemetaran karena sihir yang menghalangi dingin telah berhenti.
“Ah, aku minta maaf.”
Miyuki menggunakan tangan kosongnya untuk segera mengendalikan CAD.
Udara dingin hilang seketika.
Namun, ekspresi Miyuki tetap tidak berubah.
“Tidak, dibandingkan dengan ini, apa yang terjadi?”
Tindakan Tatsuya tidak menunjukkan kalau dia kedinginan.
Dengan Sihir Restorasi Diri-nya digabung dengan latihan kerasnya, Tatsuya tidak punya alasan untuk takut menghadapi kedinginan. Dibandingkan itu, dia lebih khawatir dengan sikap aneh adiknya.
“……Rasanya ada gelombang tidak mengenakkan yang menyapu kulitku…….. Tidak, itu mungkin hanya imajinasiku saja.”
Miyuki dengan menyesal menggelengkan kepalanya seolah-olah dia merasa bersalah telah mengganggu lamunan Tatsuya. Tapi tetap saja, Tatsuya tidak menerima permintaan maaf Miyuki.
“Gelombang tidak mengenakkan? Apa itu gelombang Psion atau gelombang pushion?”
Kebetulan sesuai dengan apa yang dipikirkannya sebelumnya, Tatsuya tidak bisa menganggapinya hanya sebatas salah kira. Namun, pertanyaan ini agak tidak berguna.
“Aku tidak tahu….. Tapi, kalau Onii-sama tidak menyadarinya, aku rasa itu pushion?”
Jika itu gelombang Psion, tidak mungkin lepas dari pengawasan Tatsuya.
Benar-benar berbeda. Walaupun pemikiran itu terlintas di kepala Tatsuya, dia segera mengatakan kepada dirinya kalau ini bukan saatnya untuk memikirkan hal itu. Ada banyak rahasia yang disimpan di terminal SMA sihir yang terhubung secara langsung dengan Universitas Sihir Nasional, jadi dari sudut pandang keamanan, perlindungan disini sudah sesuai dan berjalan seperti yang dibutuhkan. Penangkal orang mencurigakan, alat perekam gambar dan suara rahasia, selain itu juga ada penangkal untuk menghadapi sihir.
Sebuah ledakan gelombang pushion menandakan kalau seseorang mungkin telah memicu penangkal tersebut. Instansi pemerintah pasti akan datang jika tempat ini yang biasanya menghasilkan gelombang sihir membuat rasa tidak nyaman. Mengingat banyak yang tidak tahu akan hal ini, pemilik gelombang ini memiliki kemampuan untuk mengendalikan gelombang pushion mereka.
Hanya merasa tidak nyaman tidaklah cukup untuk menentukan kalau pemilik gelombang itu orang yang berbahaya, tapi bahkan ada penjelasan yang lebih singkat untuk sebuah kesimpulan yang optimistik. Itu tidak perlu dikatakan lagi mengingat situasi saat ini. Diantara musuh-musuh mereka yang dapat membuat Miyuki merasa tidak nyaman, kemungkinan besar yang mereka hadapi saat ini adalah ‘Vampire’.
Tepat saat dia sedang memikirkan cara untuk menemukan sumber gelombang pushion itu dan apa metode terbaik untuk mendekatinya, terminal informasinya berbunyi. Ini adalah suara panggilan masuk. Tatsuya memasang receiver ke telinganya.
“Tatsuya-kun, ini gawat!”
Sebelum dia dapat mengatakan sesuatu, sebuah teriakan terdengar dari receivernya. Bahkan jika tidak terjadi apa-apa, orang yang pemalu, anggap saja mereka tidak ‘pingsan’ setelah mendengar kata ‘gawat’, mungkin akan segera panik. Dalam keadaan normal, seseorang mungkin akan mengira kalau ini adalah waktu yang pas bagi Tatsuya untuk muncul.
“Saegusa-senpai, apa kau tahu lokasi pastinya?”
Transmitter yang ditembaknya pada tubuh seorang Vampire beberapa hari lalu masih bekerja. Selama penyerang ini adalah Vampire yang sama seperti yang terakhir kali, mereka seharusnya dapat menggunakan Local Positioning System (LSP) di sekolah untuk mengunci lokasi target saat ini. Sebagai mantan Ketua OSIS, Mayumi seharusnya tahu sandi untuk menggunakan LSP (tentu saja, ini jelas bertentangan dengan tugasnya sebagai Ketua OSIS).
“Vampire itu sedang ada di sekolah. Ah, akan lebih mudah jika kau sudah tahu. Sinyal yang sebelumnya berasal dari pintu samping menuju loading dock untuk kelas kemampuan teknis. Hari ini, seharusnya ada karyawan-karyawan Maximilan Devices yang dijadwalkan untuk mendemonstrasikan pengujian peralatan baru mereka.”
(Dengan kata lain, mereka berada diantara orang-orang itu.)
Meskipun berhubungan dengan pemikirannya sebelumnya, Tatsuya mengesampingkan pertanyaan seperti mengapa Vampire memilih momen seperti ini untuk muncul atau apa tujuan mereka dan segera bangkit berdiri.
Segera setelahnya, dia menggunakan alat Sihir Tipe Terbang di pinggangnya dan melompati pagar di atap.
Miyuki segera mengikutinya dengan Sihir Tipe Terbang-nya.
Tidak memiliki alat Sihir Tipe Terbang pribadi, Honoka ditinggal sendirian di atap.
◊ ◊ ◊
Selain anggota OSIS dan beberapa anggota terpilih dari Komite Moral Publik, para siswa dilarang membawa CAD di sekolah.
Sebagai kompensasinya, para siswa meninggalkan CAD mereka di penyimpanan dan mengambilnya sepulang sekolah.
Cukup sulit untuk mengambil CAD dari penyimpanan saat sekolah belum usai. Selama insiden pada Musim Semi tahun lalu, semua orang yang punya mata pasti tahu kalau keadaan sedang darurat, jadi pengecualian khusus dibuat mengenai pengambilan CAD. Sayangnya, hanya sebagian kecil dari siswa dan pihak-pihak lain yang merasakan adanya keanehan hari ini. Sangat disayangkan, staf di ruang penyimpanan tidak termasuk dalam sebagian kecil itu, jadi permintaan Erika dan Mikihiko ditolak.
Kalau hanya mereka yang menjaganya, selesai sudah.
“Yoshida-kun, bagaimana…….. Ah, kalian juga merasakannya.”
Katsuto datang sementara Erika masih berdebat dengan staf penjaga.
“Juumonji-senpai.”
Tidak peduli seberapa marahnya Erika, tidak mungkin dia dapat mengabaikan Katsuto. Hal itu tidak ada hubungannya dengan posisi mereka sebagai kakak kelas dan adik kelas, itu disebabkan karena perbedaan kemampuan dan status mereka.
Erika menarik mundur tubuhnya tapi tangannya masih tetap di meja sang penjaga sementara Katsuto sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan. Hanya dengan itu saja, para karyawan, staf sekolah yang sedang bertugas langsung dikalahkan oleh seorang siswa.
“Keadaan sedang darurat, aku ingin mengambil CAD ku.”
Kenyataannya, Komite Manajemen Klub juga secara tidak resmi diberi hak untuk membawa CAD, tapi Katsuto lebih memilih untuk mengikuti aturan setelah menyerahkan posisinya kepada Hattori.
“Ta-tapi, ini masih belum waktunya………”
“Ini darurat.”
Walau begitu, dia terlihat seperti seseorang yang tidak  akan terikat oleh peraturan dengan mudah. Dihadapkan dengan seorang penjaga perempuan yang mencoba untuk menjalankan tugasnya dengan baik, Katsuto sekali lagi mencoba menekannya. Akhirnya, orang dewasa itu dengan menyedihkan kalah dengan seorang siswa.
“Jika dibiarkan maka akibatnya akan gawat. Tolong kembalikan CAD ku.”
Akan tidak sopan jika mengatakan penjaga itu ‘lemah’. Jika tidak memiliki tekad yang sama kuat, tidak mungkin orang itu dapat menang melawan tekad Katsuto.
“Mereka berdua asistenku.”
“…….Baik, saya mengerti.”
Tapi tetap saja, hal itu benar-benar sangat menyedihkan.
◊ ◊ ◊
Setelah berlari sampai terengah-engah, Lina segera mengejar trailer Michaela saat sudah terlihat. Sebenarnya, dia benar-benar tidak ingin menemui kenalannya selagi mengenakan seragam sekolah. Tidak masalah jika ada orang yang melihatnya mengenakan seragam sekolahnya, tapi dia akan malu jika orang yang melihatnya satu sekolah dengannya. Misi yang diberikan kepada Lina adalah menyamar sebagai anak SMA. Berkat misinya untuk mengejar pengkhianat, pekerjaan intelijennya saat ini sedang dihentikan. Mengenai itu, identitas aslinya telah diketahui oleh target investigasinya, Tatsuya dan Miyuki. Hal yang selalu membuat Lina khawatir adalah apa dia masih harus menyamar sebagai anak SMA.
Tapi, walaupun Tatsuya dan Miyuki sudah mengetahui identitasnya, rekan-rekan dan para profesor tampaknya masih belum mengetahuinya. Tampaknya Tatsuya dan Miyuki tidak berniat untuk menunjukkan wajah ‘Sirius’ kepada dunia. Lina tidak mengetahui apa yang mereka rencanakan. Berada di situasi dimana dia tidak dapat mencegah mereka membocorkan rahasia itu, satu-satunya hal yang dapat dilakukannya hanyalah mencoba menjaga rahasia itu sebisa mungkin.
Saat ini adalah waktu baginya untuk memastikan dirinya tidak dicurigai karena telah melakukan sesuatu yang diluar kelakuan anak SMA.
Karena itu, Lina bingung apa dia harus menemui Michaela di trailer Maximilian Devices atau tidak.
Tapi tetap saja, menemui Michaela bahkan bukan pilihan bagi Lina. Walaupun ini mungkin terdengar agak naif, dia tidak dapat mengabaikan rekan-rekannya. Ditempatkan antara rekan-rekannya dan misinya, Lina terjebak diantara pilihan sulit. Dia mencoba menghindari perhatian musuh, tapi dia tidak memerdulikan sekitarnya.
Bahkan jika dia melihat Michaela keluar dari trailer dari jauh. Lina tidak merasakan apa-apa selagi menghela nafas.
◊ ◊ ◊
Walaupun lokasinya sudah jelas, Tatsuya dan Miyuki mendarat tanpa menyebabkan keributan sedikit pun. Tidak perlu diragukan lagi kalau Vampire yang menyebabkan keributan di kota saat ini sedang di sekolah, tapi kenyataannya, disini tidak terlihat adanya keributan sedikit pun. Vampire ini pasti sedang dalam pengawasan karena sudah memicu alarm keamanan sekolah, dan para karyawan Maximilian Devices akan masuk melalui jalur umum sekolah. Tidak boleh melakukan hal ceroboh tanpa alasan.
Hal itu juga tidak baik bagi Tatsuya. Ini juga pertama kalinya Tatsuya melawan makhluk gaib dan bukan penyihir.
Memulai pertarungan dengan ceroboh dapat membeberkan sihir dan teknik rahasia mereka. Hanya dengan membayangkan cara untuk menyembunyikan dan mencegahnya saja sudah membuatnya lelah.
Setidaknya, semuanya akan lebih mudah jika mereka tahu identitas dari ‘Vampie’ yang sebenarnya merupakan Parasite. Tim dari Maximillian Devices beranggotakan enam karyawan. Jika mereka bergerak sebagai kelompok, tidak mungkin ada cara untuk mengetahui mana dari mereka yang memancarkan sinyal. Meski begitu, menghilangkan semua orang atau saksi yang melihatnya, pada kasus ini, akan lebih cocok jika menggunakan kata ‘membunuh’, juga tidak memungkinkan. Bersembunyi di kelas kosong sayap IPA, Tatsuya dan adiknya terus mengawasi mobil laboratorium (trailer yang dimodifikasi yang digunakan untuk penyimpanan) dekat loading dock.
“Lina?”
Tanpa sadar, Miyuki mengatakannya dengan keras. Sebelum adiknya berbicara, Tatsuya sudah menyadari kehadiran Lina yang mengikuti trailer itu, tapi sekarang dia benar-benar memusatkan perhatiannya pada siswa pindahan berambut pirang itu.
Hari ini, sehari setelah kemarin, ‘duel’ mereka dilaksanakan saat menjelang tengah malam, jadi semua hal yang terjadi dianggap terjadi kemarin, tapi hari ini dia masuk sekolah seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Pasukan khusus negara-negara besar dikira akan lebih tegas, walau begitu saat ini dia melakukan hal ceroboh yang tidak cocok dengan statusnya.
Tidak ada tanda-tanda kalau ini telah direncanakannya sebelumnya. Fokusnya terlalu longgar, sampai-sampai dia tidak sadar ada mata yang tertuju ke arahnya. Dia memberi kesan kalau dirinya sedang dalam pergolakan batin.
Tatsuya terus mengawasinya tanpa alasan khusus melihat seorang wanita yang mengenakan setelan jas berjalan ke arah Lina dari posisinya sebelumnya di dekat trailer.
Berdasarkan gerakan bibir Lina, dia sepertinya menyebut nama ‘Mia’. Tatsuya mengasumsikan kalau wanita ini seharusnya agen USNA yang dikirim untuk menyusup di dalam Maximilian Devices.
Berdasarkan interogasi kemarin, Lina mengatakan kalau dia sedang memburu Vampire. Itu bukan main-main, dia benar-benar berhadapan dengan mereka. Namun disaat yang sama, dia juga mengatakan kalau dia tahu para pengkhianat melarikan diri ke Jepang, tapi mereka tidak tahu identitas asli mereka. Ada kemungkinan kalau Vampire menyamar sebagai salah dari satu agen mereka, yang makin membuat mereka kewalahan adalah harus mengidentifikasi identitas asli Vampire.
(Sulit sekali untuk membayangkan orang seperti Sirius tidak dapat mengidentifikasi targetnya bahkan setelah berhadapan beberapa kali......)
Saat dia memikirkannya, Tatsuya menggunakan ‘penglihatan’nya untuk mengidentifikasi wanita itu.
Segera setelahnya, dia merasakannya. Di dalam kesadarannya, ada jejak dari pengamat-pengamat lain.
‘Roh’ dalam jumlah besar mengelilingi wanita itu.
◊ ◊ ◊
Mengenai permintaan tak terduga dari Angelina Sirius untuk bertemu di SMA 1, Michaela Honda merasa sedikit bingung dan gelisah. Walaupun mereka memiliki misi yang sama yaitu untuk mengindentifikasi sang penyihir Kelas Strategis misterius, Lina dan Michaela berasal dari dua divisi yang berbeda. Lina adalah atasannya dalam masalah pangkat, tapi susah sekali untuk membayangkannya memberi perintah kepada Michaela. Mengenai hal itu, Lina agak formal. Untungnya, dia tidak terpengaruh dengan sikap orang-orang di sekitarnya, tapi dia agak keras kepala. Ngomong-ngomong, Michaela tidak mengerti apa yang akan Lina minta darinya. Lina adalah Komandan Stars sementara Michaela hanya seorang teknisi.
Walau begitu, tidak mungkin dia dapat mengabaikan atasannya. Mengabaikannya hanya akan membuatnya terlihat mencurigakan dengan jelas. Michaela turun dari trailer dan berusaha bersikap normal saat dia berjalan ke arah Lina.
Dia melambaikan tangannya seolah-olah sedang mengusir serangga, kepada roh-roh yang mengelilinginya.
◊ ◊ ◊
Pemandangan seorang teknisi wanita yang mencoba untuk mengusir roh-roh yang tidak terlihat bagi sebagian besar penyihir memantapkan keyakinan Mikihiko kalau dia lah orangnya.
“Itu pasti dia. Tidak salah lagi.”
Mendengar suara sayu Mikihiko, Katsuto mengangguk tanpa mengatakan apa-apa.
“Aku rasa, itu Lina. Jadi…….. dia pemimpinnya.”
Bisikannya berisi amarah, Erika sudah siap dengan perlengkapannya yang berbentuk wakazashi.
Walaupun Tatsuya dan Miyuki sudah tahu kalau itu tidak benar, akan benar-benar wajar jika Erika berasumsi seperti itu.
“Ada pelindung di situ yang mengahalangi penglihatan dan pendengaran, tapi mereka tidak dapat membohongi mesin……..”
“Kalau begitu, aku saja yang melakukannya.”
Mikihiko dan Katsuto saling mengangguk. Dibelakang Mikihiko, Mizuki benar-benar tidak dapat menyembunyikan kecemasan dan kegelisahannya.
“Erika, jangan dulu.”
“Aku tahu.”
Memang benar dia sedikit teralihkan, tapi dia masih tetap tenang saat menjawab. Mendengarnya, Mikihiko melempar sebuah jimat yang dipegangnya. Enam potongan kertas yang berbentuk kipas terbang rendah diatas tanah. Jimat-jimat itu mendarat setelah membentuk sebuah segi enam sempurna di sekeliling trailer.
“Aku mulai.”
Tidak seperti teori sihir modern, sihir yang digunakannya adalah sihir dengan jangkauan luas yang menghambat indera dalam menangkap informasi.
◊ ◊ ◊
“Mia…….. Ada apa?”
Melihat Mia melambaikan tangannya seolah-olah mengusir serangga, Lina memiringkan kepalanya kebingungan.
Tidak akan aneh jika ini musim panas. Bahkan masih tidak aneh jika ini musim semi dan musim gugur, tapi ini di puncak musim dingin. Tanpa adanya kehangatan sedikit pun, suhu diluar ruangan benar-benar menusuk tulang. Didalam ruangan mungkin ada, tapi seharusnya tidak ada serangga satu pun yang terbang diluar ruangan.
“Tidak, tidak apa-apa.”
Jika hanya suaranya maka tidak ada tanda-tanda maksud tersembunyi dibaliknya. Tapi, ekspresinya jelas terlihat goyah dan, jika melihat waktu dan tempatnya sekarang, itu adalah tindakan yang aneh. Itulah yang diyakini Lina.
Lina juga yakin dengan pasti bahwa kesalahan yang dibuat Michaela tidaklah penting sekarang.
Tapi tetap saja, dia sekarang terpaksa untuk mengatakan kepada Michaela kalau mereka harus meninggalkan tempat itu. Walaupun insting Lina menemukan sumber kegoyahan Michaela, logikanya memintanya untuk terlebih dahulu memastikan kalau Michaela bukanlah Vampire.
Kebingungan ini membebani tindakan yang diambil Lina. Untungnya, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya.
“…..Apa ini? Kita dikepung!?”
Kenyataan kalau mereka berada dalam area jangkauan sihir penghambat sensorik segera menarik perhatian Lina.
◊ ◊ ◊
“Apa itu pelindung!?”
Bahkan Miyuki terkejut melihat trailer besar itu mendadak hilang dari pandangannya. Melihat adiknya menolehkan kepalanya ke arahnya dengan kebingungan, Tatsuya mengangguk membenarkan perkataan adiknya.
“Itu pasti Mikihiko. Sebenarnya, itu teknik yang cukup mengesankan.”
“Yoshida-kun?”
Tidak ada hubungannya dengan siswa Golongan 1 dan 2, Miyuki tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya kalau seorang siswa kelas 1 SMA dapat menggunakan sebuah formasi yang rumit dan kuat yang dapat menghalangi indera.
“Efeknya adalah menghalangi penglihatan dan pendengaran. Walau begitu tampaknya itu tidak mempengaruhi pergerakan fisik……….”
Dia sedikit tidak tenang meninggalkan Miyuki tidak mengerti akan apa yang terjadi, tapi dia juga tidak punya waktu untuk disia-siakan pada saat ini. Tatsuya menyambungkan kembali koneksinya dengan sambungan yang sebelumnya terhenti.
“Saegusa-senpai, ini Shiba.”
“Ada apa?”
Responnya sangat cepat, Dia pasti selalu memperhatikan sambungan itu selama ini.
“Tolong matikan semua perekam di dekat loading dock yang mengarah ke ruang kelas keterampilan teknis.”
Ini pasti adalah permintaan yang sulit bahkan bagi seorang putri Keluarga Saegusa jika yang dimaksudnya adalah perekam di jalan, tapi jika didalam sekolah, maka Mayumi masih bisa memenuhinya selama masih dirasanya pantas.
“Kenapa……. Bahkan jika aku bertanya, kau mungkin tidak akan menjawabnya.”
“Tolonglah.”
“Ha……… Ok, sudah mati.”
Jika ada yang memikirkannya sejenak, Mayumi sebenarnya sangat memanjakan Tatsuya.
Lalu dibalas, Tatsuya juga memanjakan Mayumi, jadi lebih seperti ‘saling menguntungkan’, atau mungkin ‘simbiosis mutualisme’.
“Ayo, Miyuki.”
“Baik, Onii-sama.”
Setelah melirik satu sama lain, Tatsuya dan Miyuki keluar dari jendela ruang kelas tempat mereka bersembunyi.
◊ ◊ ◊
Instingnya membuatnya dapat menghindari belati putih yang melintas didepan matanya.
Mendorong Mia kesamping, Lina menggunakan tolakan itu bagi dirinya untuk melompat ke belakang. Walaupun diterpa debu, dia masih dapat mengeluar terminal informasi tua dari kantung dalamnya. Saat dia menghindar ke samping, Lina membuka terminalnya. Sebuah CAD datar muncul dari dalamnya. Erika tidak pernah ragu-ragu, benar-benar wajar bagi penyerang untuk memperlengkapi diri mereka dengan peralatan aneh untuk serangan kejutan.
Tanpa melihat Lina sedikit pun, Erika berlari kearah Mia yang terjatuh dan mengarahkan ujung tajam dari wakazashi-nya pada Mia selagi memegangnya dengan satu tangan.
“Apa yang kau lakukan, Erika!?”
Lina mengaktifkan sihir yang didesain untuk memukul mundur Erika.
Sihir itu menabrak dengan pelindung sihir, dan terhalang.
“Katsuto Juumonji!?”
Sebuah raksasa muncul dihadapannya saat dia menolehkan kepalanya terkejut. Walaupun penampilan fisiknya tidak terlalu berlebihan baginya, kehadirannya sepertinya membuatnya tertekan.
Intelijennya mengatakan kalau kekuatannya harus diwaspadai. Tapi tetap saja, setelah bertemu dengannya secara langsung, susah sekali untuk percaya kalau orang setingkatnya bersembunyi dibelakangnya. Pada saat itu juga perhatian Lina tertuju pada Katsuto, Erika sudah melancarkan serangannya.
“Mia!?”
Teriakan putus asa yang ditujukan atas nasib rekannya segera digantikan dengan sebuah kekagetan yang dirasakan saat melihat hal yang tak dapat dipercayainya.
Mia menangkap mata pisau wakazashi milik Erika dengan tangan kosong. Tanpa menggunakan CAD apapun, telapak tangannya diselimuti pelindung sihir.
Dia pernah melihat sihir itu sebelumnya. Itu adalah sihir yang sama yang digunakan oleh sosok misterius yang memakai topeng putih.
“Apa yang terjadi………?”
“Lina, apa kau dapat mendengarku!?”
“Silvie?”
“Syukurlah! Akhirnya aku dapat menghubungimu.”
Ini bukanlah pembicaraan yang dilakukan menggunakan alat komunikasi. Sebaliknya, ini adalah tipe sihir yang dikuasai Silvie. Tanpa menggunakan tubuh fisik sebagai perantara, dia menggunakan getaran udara untuk menyampaikan suaranya. Selama dia dapat mengunci targetnya, dia dapat mengabaikan hambatan fisik apapun dan berkomunikasi tanpa transmitteratau alat perekam tidak peduli seberapa jauh jaraknya.
Jujur saja, metode ini lebih efisien dalam menghubungi seseorang, tapi walaupun memiliki kegunaan yang sama dengan alat komunikasi, sinyal sihir ini dapat diteruskan melalui getaran udara di telinga tanpa khawatir ada orang lain yang mendengarnya. Selagi sihir ini membuat percakapan sang pengguna tidak dapat didengar orang lain, kepraktisan sihir ini tidak dapat dipungkiri mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk menghubungi seseorang melalui alat komunikas.
“Aku sudah menemukan identitas dari sosok bertopeng putih yang waktu itu.”
Bahkan dengan Michaela dan Erika yang bersitegang, kesadaran Lina masih terpaku pada suara Silvia.
“Dia adalah Michaela! Identitas asli sosok bertopeng itu adalah Michaela Honda!”
Pikiran Lina kosong sesaat.
“Mia, jadi kaulah sosok bertopeng putih itu.”
Bagi Lina, Michaela hanyalah rekan setimnya. Dia hanya kebetulan menjadi tetangganya dan sering berbicara dengannya sambil minum teh.
Walau begitu, fakta kalau Michaela adalah orang yang berkali-kali berhadapan dengannya benar-benar membuatnya terpukul.
Masih berhadapan dengan Erika, Michaela melirik ke arah Lina, yang menunjukkan ekspresi yang agak tidak manusiawi. Tapi, ini bukanlah tampang menyesal atau marah, tapi sebuah tatapan dingin, tak berkemanusiaan kepada seorang musuh.
Erika yakin kalau Vampire dan Lina bersekongkol. Dia sepenuhnya mengabaikan apa yang dia kira sebagai teriakan pura-pura Lina dan mengayunkan wakazashi-nya pada celah pertahanan Michaela. Saat dia mendekat selangkah ke arah musuhnya, ayunan horizontal Erika yang diarahkan ke leher Michaela secara ajaib berubah arah untuk menghindari lengan Michaela yang berusaha menghentikannya dan menusuk tepat di dada Michaela.
Dikejutkan oleh kejadian tak terduga ini, Michaela hanya bisa memasang ekspresi ini saat dia melihat ke arah dadanya.
Pada tingkat tertentu, itulah yang diharapkan.
Meski pernah menerima latihan bertarung jarak dekat, Erika tetaplah seorang penyihir.
Walaupun dia menerima latihan bela diri, Mikihiko tetaplah seorang pengguna sihir.
Selain menerima pendidikan sihir, Erika adalah seorang pendekar pedang berbakat. Karena kemampuan berpedangnya, saat dia mengayunkan pedang atau meluncurkan pukulan dalam pertarungan, kemampuan Erika berada beberapa tingkat lebih tinggi dari penyihir-penyihir yang pernah dihadapi Michaela sampai sekarang.
Tapi, sesaat setelahnya, ganti Erika lah yang menunjukkan ekspresi suram. Tidak memperdulikan rok yang dikenakannya, Erika mengangkat kakinya untuk menendang pinggang Michaela. Dia menggunakan tolakannya untuk menarik wakazashi-nya dan melompat ke belakang ke posisi aman.
Michaela mencoba menebas citra Erika dengan tangan kanannya. Jari-jarinya melengkung seperti cakar dengan medan gaya piramida disekitarnya. Didepan mata Erika dan Lina, lubang didadanya sembuh dengan cepat.

“Sihir penyembuhan!? Dia dapat menyembuhkan luka seperti itu hanya dalam sekejap!?”
“Sepertinya yang kita hadapi adalah memang monster.”
Erika melontarkan responnya selagi tetap melekatkan pandangannya kepada Michaela, dihadapan Lina yang terdengar kecewa.
“Lalu, bagaimana kalau begini?”
Suara itu terdengar dari bayang-bayang trailer.
Bersamaan dengan suara itu, dinginnya angin yang bertiup makin meningkat. Dengan perkiraan yang tepat, hawa dingin itu tertuju ke arah Michaela.
Michaela benar-benar membeku seketika untuk mencegahnya melakukan sesuatu atau mengaktifkan sihir.
“Miyuki?”
Pemandangan luar biasa ini membuat Erika melonggarkan posisi dan nada bicaranya. Sosok yang ada didepannya tak perlu diragukan lagi adalah Miyuki, bersama Tatsuya yang muncul dibelakangnya.
“Apa yang terjadi!? Lina, apa kau tidak apa-apa!?”
“Aku tidak apa-apa, tapi tolong kirimkan pasukan khusus yang sekarang sedang bersiaga. Kita mungkin terpaksa harus mundur.”
“Baik. Akan kusiapkan.”
Menanggapi pertanyaan Silvia yang khawatir akan keselamatannya, Lina diam-diam menjawabnya dengan sebuah perintah.
Tepat saat Lina dan Silvia sedang berbicara, Tatsuya berjalan didepan Lina.
“Offline.”
Lina segera mangatakan satu kata dan segera memutus percakapannya dengan Silvia. Walaupun itu mungkin tidak ada gunanya, tapi itu tetaplah usahanya dalam menyembunyikan kartu andalannya. Tatsuya seharusnya mengetahui apa yang sedang dikatakan Lina, tapi dia tidak mencoba untuk menanyakannya.
“Lina, dia kelihatannya orang yang dekat denganmu, tapi aku akan menangkapnya.”
Tatsuya mengatakannya selagi berjalan menuju ke arah tetangga Lina yang telah dirubah menjadi sebuah patung es.
“Kau………. membunuh orang dari Maximilian Devices?”
Mendengar pertanyaan Lina, Tatsuya menunjukkan ekspresi yang agak menyerupai sebuah seringaian.
“Tidak perlu sejahat itu. Aku hanya menidurkannya sebentar.”
Karyawan Maximilian Devices bukanlah konspirator, jika dilihat dari ketidaktahuan mereka akan Michaela yang sebenarnya. Mereka hanyalah orang biasa yang terjebak di tempat dan waktu yang tidak tepat. Meski keributan ini mungkin menjadi peluang yang menguntungkan bagi Lina, dia sebenarnya lega kalau mereka terhindar dari bahaya.
“Tunggu sebentar. Aku akan kesulitan kalau kau membawanya pergi.”
Menggantikan Lina, yang kesulitan menentukan apa yang harus dilakukannya, Erika mencoba untuk mencegahnya sebelum menimbulkan masalah.
“Walapun ini akan terlihat agak bodoh di mata Tatsuya, tapi kita juga punya reputasi yang perlu dijaga. Jika wanita itu memanglah orang yang menyerang Leo, maka aku tidak bisa menyerahkannya kepadamu, Tatsuya-kun.”
Meski tidak dalam posisi siap, tidak ada sedikit pun keraguan dari caranya memegang wakazashi-nya. Itu sudah jelas menandakan kalau dia siap bertarung kapan saja.
Daripada begitu, tidak perlu diragukan lagi, matanya telah menggambarkan perasaannya dengan jelas.
Erika 100% serius akan itu.
“Aku juga tidak berencana untuk memenjarakannya.”
Terlepas dari itu, ini adalah kesalahpahaman yang berbahaya.
“Eh?”
Sesuai dugaan, Erika tampak bingung seolah-olah dia telah ditipu oleh perkataan Tatsuya.
“Bukankah kau akan menginterogasi wanita itu dan membunuhnya?”
Lina resah setelah mendengar kata ‘membunuh’. Dia tidak punya hak untuk berbicara dan ekspresinya dengan jelas menunjukkan kalau dia sedang meyakinkan dirinya akan itu.
“Apa yang kita inginkan adalah hasil interogasinya.”
Tatsuya tidak peduli dengan ekspresi Lina. Matanya fokus untuk melihat Erika dan Katsuto.
“Akan kuhubungi orang-orangku untuk melakukannya.”
Menanggapi jawaban Katsuto, Tatsuya mengangguk setuju.
Tatsuya melirik ke arah Katsuto dan Erika,
Miyuki melirik Tatsuya dan Erika,
Katsuto tetap mengunci pandangannya pada Tatsuya dan Lina,
Erika mencoba untuk mengamati Tatsuya dan Miyuki.
Hanya Mikihiko yang mengamati tempat kejadian, jadi tentu saja dia lah orang pertama yang menyadari adanya keanehan.
“Awas!”
Peringatan dikeluarkannya karena situasi yang makin mendesak. Meski begitu, peringatan ini masih tetap berjalan seperti yang diinginkan. Katsuto mengaktifkan pelindung untuk menghalangi listrik yang dihasilkan oleh Sihir Penghapus di udara sementara Tatsuya menggunakan Sihir Penangkal untuk menghentikannya.
Berdua Miyuki dan Erika mengarahkan wajah mereka ke arah sang pengguna sihir.
Saat mereka berdua berdiri terkejut, wanita yang bertanggung jawab atas sihir itu hanya terdiam membeku. Bahkan manusia biasa, tidak, bahkan mahluk bukan manusia tidak akan dapat mengendalikan kesadaran mereka, itu adalah pengetahuan umum.
Tapi saat ini, semuanya berubah. Patung es itu ditutupi dengan listrik.
“Penghancuran diri!?”
Lina lah orang yang meneriakkan hal itu.
“Semuanya tiarap!”
Katsuto dan Tatsuya meneriakkannya pada waktu yang sama. Tatsuya melindungi Miyuki sementara Mikihiko menutupi Mizuki dengan lengannya. Katsuto, Erika, dan Lina jongkok dengan posisi bertahan.
Meledakkan es Miyuki, tubuh Michaela diliputi api. Seperti kertas yang terbakar, tubuhnya hancur dengan cepat.
Setelah itu, abu yang bertiupan itu hilang sebelum sihirnya menyerang Tatsuya, Miyuki, Lina, Erika, dan Katsuto.
Saat ini, langit musim dingin ditutupi oleh awan gelap yang menandakan akan turunnya salju. Namun, petir itu tidak muncul dari awan, melainkan dari berbagai lokasi acak. Itu bukan petir, dilihat dari kecepatannya yang tidak sampai seribu meter per detik dan spektrumnya yang terlihat. Kemungkinan, kecepatannya setara dengan sebuah panah yang diluncurkan.
Tapi tetap saja, bola listrik seukuran itu dapat melakukan semua hal yang mustahil. Jika terkena sepuluh serangannya pada saat yang bersamaan tentunya akan berakhir dengan kematian.
Terlebih lagi, bahkan jika kecepatannya melambat hingga dapat terlihat oleh mata , tetap tidak ada waktu untuk mengaktifkan pelindung saat listrik itu ditembakkan dari jarak sepuluh meter. Alasan mereka dapat menghentikan serangan pertamanya adalah karena masih adanya sisa-sisa pelindung yang mereka bentuk saat mereka salah mengira apa yang dilakukan Michaela sebagai serangan bunuh diri. Jika serangan ini dilancarkan tanpa disadari siapapun, tidak mungkin mereka dapat menghindarinya. Sebagai tambahan, bahaya dari sihirnya masih belum hilang.
Sebelum Miyuki dapat menolehkan kepalanya, Tatsuya sudah menggunakan sihir untuk menghilangkan kilatan yang mendadak mundul dibelakang punggungnya.
Bola listrik yang berkumpul diatas kepala Erika dihilangkan oleh partikel es yang dibentuk Miyuki.
Katsuto menghalangi kilatan itu sementara plasma Lina mengurus sisanya.
Tidak ada tanda-tanda adanya Rangakaian Aktivasi. Terlepas dari apakah bola listrik atau energi itu berotasi atau tidak, perubahan fenomena yang dihasilkan dari Rangkaian Sihir itu dibentuk oleh Psion.
Dengan memanfaatkan perubahan fenomena yang mengumpulkan elektron-elektron di udara, mereka berhasil menahan serangan yang muncul dari segala arah.
Sekali lagi, tidak ada tanda-tanda penyihir. Setidaknya, itulah yang dilihat oleh ‘penglihatan’ Tatsuya. Berdasarkan ‘penglihatan’ Tatsuya, musuh mereka bukanlah penyihir.
(Jadi ini yang namanya Parasite!)
Sihir adalah sesuatu yang dihasilkan dari pushion yang ada di lautan Idea.
Mikihiko dan Mizuki mundur lebih jauh dari yang lain ke bayang-bayang trailer itu.
Kilatan di langit itu menghilang dihadapan Tatsuya dan teman-temannya. Itulah yang dilihat Mizuki dengan matanya, karena dia tidak dapat melihat pengguna sihir dan target sihir itu. Semua gelombang kejut sihir dihalangi oleh pelindung. Berdasarkan pengalamannya sebelumnya, Mikihiko menyimpulkan kalau hal ini sangat diperlukan bagi Mizuki. Berkat itu, mereka berdua dapat menghindari serangan petir itu. Setelah meninggalkan tubuh fisiknya, badan informasi sepertinya tidak dapat melihat cahaya dan mendengar suara, sehingga mereka terpaksa menggunakan gelombang sihir untuk merasakan dunia.
Keadaan teman-teman mereka tidak seberuntung dirinya. Serangan Parasite tersebar ke segala arah yang disebabkan oleh tujuannya untuk menjadi serangan kejutan. Kelompok Tatsuya tidak kewalahan, tapi juga tidak dapat membalas serangan itu karena mereka tidak tahu arah serangan selanjutnya. Serangan monster itu gagal mengenai Tatsuya dan yang lain, tapi mereka juga gagal mendaratkan satu serangan pun pada sang monster.
“Aneh sekali…….. Mengapa dia masih belum pergi…………?”
Telinga Mizuki mendengar gumaman Mikihiko.
Mendengar hal itu, dia mendadak memerhatikan yang sampai sekarang tidak diperhatikannya.
Seperti mengapa Vampire atau Parasite, berulang kali melancarkan serangan-serangan yang tidak efektif.
Sementara itu tidak ada cara untuk mengetahui apakah Parasite memiliki akal atau tidak, dilihat dari sifat dan refleks mereka, maka pasti ada alasan yang memaksa mereka untuk tetap melanjutkan penyerangannya.
Tapi apa itu?
Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Mizuki.
Sebelum perubahan fenomena itu terjadi, Tatsuya sudah menggagalkan Rangkaian Sihir yang dibentuk oleh Parasite.
Mungkin karena tidak ada perubahan sama sekali, tapi awalnya dia tidak dapat menemukan inti dari Rangkaian Aktivasi yang dikeluarkan Parasite itu. Sekarang, Tatsuya dapat mencegah serangan sihir Parasite itu dengan sempurna.
Setelah mendapat celah yang pas untuk membalas, di saat yang sama pikirannya juga menemukan waktu yang pas untuk mulai menganalisa teka-teki ini.
“Shiba, apa menurutmu alasannya?”
Katsuto juga seperti itu.
Saat ini, dengan Miyuki, Erika, dan Lina yang berada dibelakangnya, Katsuto dan Tatsuya membentuk formasi dimana mereka menghadapkan punggung mereka masing-masing. Walaupun mereka tidak bisa melihat wajah satu sama lain, hal itu tidak akan mengganggu kemampuan mereka untuk memahami pertanyaan satu sama lain.
“Aku tidak yakin kalau ini tujuan atau kemampuan bawaan mereka, tapi pasti ada alasan tertentu mengapa kita ditahan di sini.”
“Jadi mereka dapat pergi kemanapun mereka mau.”
“Setidaknya, aku tahu itu tidak salah.”
“Seperti biasa. Pada akhirnya, kita bahkan tidak tahu dimana mereka.”
Katsuto berada pada keadaan yang cukup sama seperti Tatsuya. Bahkan jika persepsi mereka mengenai Idea mengatakan kalau target mereka ada didepan sana, mereka tidak tahu bagaimana cara mengatasinya di dunia nyata. Target itu tidak jelas di dunia nyata. Ada hubungan yang sangat lemah pada setiap keberadaan fisik, yang memberi kesan kalau hanya ada benang lemah yang memampukan mereka untuk menggunakan sihir.
Selain itu, musuh mereka adalah badan informasi kuantum. Tatsuya tidak dapat mendekomposisinya walaupun dia dapat mengidentifikasi targetnya, yang mana membuat Tatsuya tidak dapat menyerangnya.
“Lina, apa kau tahu sesuatu?”
Seperti yang dikatakannya, Tatsuya berbalik dan mengarahkan CAD nya pada Erika sebelum menarik pelatuknya. Disamping Erika, sang pengguna sihir menghilang seperti kabut.
“……..Wujud asli dari Vampire adalah entitas tak berwujud yang dikenal sebagai Parasite.”
Dia berencana untuk tetap diam walaupun diinterogasi Tatsuya, tapi segera merubah sikapnya setelah sadar kalau ini bukan tempat dan waktu yang tepat untuk bersikap seperti itu. Lina menjawabnya dengan nada kesal.
“Definisinya sudah dijelaskan pada Konferensi London. Aku sudah tahu itu.”
Tapi, tanggapan Tatsuya benar-benar mengejutkan Lina sampai dirinya membatu selama sepuluh detik.
“……Yang benar saja, kalian ini. Jangan bilang semua anak SMA di Jepang akan mengatakan hal yang seperti itu.”
“Tenang saja. Kita ini pengecualian.”
Dia tidak tahu apa Lina dapat mengerti maksud rahasia dibalik kata ‘pengecualian’-nya.
“Lalu?”
Karena Tatsuya sendiri tidak terlalu sadar akan hal ini, tidaklah aneh jika Lina juga tidak menyadarinya.
“Parasite merasuki tubuh manusia dan bermutasi pada manusia. Walaupun tampaknya ada beberapa hubungan antara Parasite dengan inangnya, pergerakan Parasite kelihatannya didasarkan atas insting inangnya.”
“Dengan kata lain, dia ingin merasuki salah satu dari kita.”
“Kelihatannya seperti itu.”
“Bagaimana caranya?”
“Aku tidak tahu, itulah mengapa aku berharap ada seseorang yang dapat menjelaskannya padaku.”
“……….Tidak berguna sekali.”
“Kalau begitu, maaf aku tidak tahu!”
Selagi mereka saling mengejek, Tatsuya dan Katsuto masih berusaha untuk benar-benar menghentikan serangan Parasite. Terlepas dari itu, Tatsuya yakin kalau energi Parasite terbatas.
Sistem transfer energi badan informasi masih belum diketahuinya, tapi Tatsuya merasa kalau musuhnya kemungkinan besar tidak mungkin dapat menggunakan sihir secara terus-menerus. Sekali merasa tidak bisa merasuki salah satu orang dari kelompok Tatsuya, baik secara kesadaran maupun insting, Parasite akan mencoba mencari inang lain. Tentu saja, dia tidak akan membiarkannya merasuki siapapun. Dia tidak arogan hingga merasa mampu mengatasi hal itu.
Strategi apapun tidak dapat bekerja.
“Sial…….. Erika lah targetnya.”
Menjaga Mizuki dibelakangnya, Mikihiko benar-benar fokus memerhatikan teman-temannya saat dia tidak sengaja mengatakan hal itu.
“Apa dia sadar kalau satu-satunya orang yang tidak dapat melukainya adalah Erika………”
Dasar dari teknik sihir Erika adalah teknik tarung jarak dekat yang digunakan untuk melawan musuh yang berfisik. Selain gelombang kejut yang dapat melemahkan musuh, dia tidak memiliki kemampuan lain untuk menyerang musuh yang tidak berfisik.
Mikihiko mungkin agak enggan mengakuinya hal itu, tapi dia memang benar-benar khawatir. Kalau saja dia lebih tenang, dia mungkin akan sadar kalau Mizuki mendengar perkataannya, dan pasti akan mendorongnya untuk menghentikan kata-kata cerobohnya.
“Kalau saja kita tahu dimana dia, maka seharusnya ada cara untuk menyerangnya……..”
Mizuki terdiam, mendengar gumaman Mikihiko.
“Yoshida-kun, tolong hilangkan pelindung ini.”
“Eh?”
Respon panik Mikihiko bukan karena dia lupa jika Mizuki sedang bersamanya, tapi karena permintaan yang tidak terduga darinya.
“Shibata-san, apa yang kau rencanakan?”
“Aku mungkin dapat mengetahui posisinya.”
Mendengar Mizuki, Mikihiko akhirnya sadar kalau selama ini dia mengatakan pemikirannya keras-keras. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang begitu buruk.
Tapi, Mizuki tampak tidak peduli akan itu. Dengan kemauan kerasnya, dia memojokkan Mikihiko dengan tatapannya.
“………Aku tidak bisa, stimulasinya akan terlalu kuat bagimu. Bahkan jika kau menekan aura jahatnya, tetap saja masih akan ada efek sampingnya. Aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku menghentikan pelindung itu dan kau melihat langsung ke arah aura jahat itu. Kemungkinan terburuknya, kau bisa buta.”
“Sejak aku memutuskan untuk menjadi penyihir, aku sudah siap untuk menghadapi risiko itu. Erika-chan sedang dalam bahaya besar, ‘kan? Kalau aku tidak membantunya sekarang, maka kekuatan yang kumiliki akan tidak berguna. Tujuanku ada disini akan sia-sia.”
Mikihiko tahu dengan jelas apa yang dimaksudnya. Mikihiko juga diceramahi oleh perkataannya.
Namun, Mizuki adalah gadis yang terlahir pada keluarga non-penyihir, keluarga yang hanya memiliki kemampuan nenek moyang mereka untuk melihat roh. Jika Mizuki tidak lahir, keluarganya tidak akan tahu hubungan mereka dengan nenek moyang pengguna sihir. Mizuki seharusnya juga dibesarkan oleh orang tua yang tidak tahu apa-apa tentang cara membesarkan penyihir.
Tidak ada alasan baginya untuk sampai seperti itu. Dia adalah seorang gadis yang tidak perlu menanggung beban seberat itu.
Mikihiko tidak bisa mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Perkataan seperti itu lebih cocok dengan orang-orang seperti dirinya yang melihat diri mereka sendiri tidak lebih dari orang yang diberkati kemampuan sihir saja, yang menggunakan sihir untuk membantu sesamanya dan sebagai mata pencaharian, dan bukan perkataan dari seorang gadis yang kebetulan lahir dengan kemampuan sihir. Setidaknya, itulah yang dirasakan Mikihiko.
Terlepas dari fakta kalau dia hanyalah seorang ‘anak muda’, itulah yang dipikirkan Mikihiko.
“………Baiklah.”
Akhirnya, dia hanya bisa tunduk kepada permintaan Mizuki. Ironisnya dia terpaksa melakukan ini karena harga dirinya sebagai keturunan sebuah keluarga sihir terkenal.
Mikihiko mengeluarkan sebuah kain dari kantung jaket olahraganya dan memberikannya kepada Mizuki. Melihat Mizuki menerima kain itu tanpa ragu-ragu, dia memintanya untuk memakainya. Kain itu secara mengejutkan tipis dan ukurannya sebesar selendang. Ini adalah artefak untuk pertahanan sihir yang didasarkan pada ‘Ofuda[2]’ dari artefak Shito.
“Pakai itu di sekitar lehermu. Kalau kau merasa dalam bahaya, segera tarik itu ke matamu. Ini seharusnya punya efek yang sama dengan kacamata yang dipakai Shibata-san.”
Dibujuk oleh nada tegas Mikihiko, Mizuki mengikatkan kain tipis itu di sekitar lehernya tanpa ragu sedikit pun.
Sekarang , Mikihiko merentangkan satu tangannya dan melepas ikatan kain dari kepala Mizuki dan merapikannya sehingga kedua sisinya simetris terhadap bahunya saat kain itu jatuh diatas dadanya.
Mizuki tampak sangat gugup pada sentuhan kecil Mikihiko pada kepala dan bahunya, tapi Mikihiko kelihatannya bermaksud pada hal lain.
“Berjanjilah padaku kalau kau tidak akan memaksakan dirimu. Erika tidak akan ingin seseorang mengorbankan diri mereka untuknya.”
“………Aku janji.”
Dengan mata Mikihiko yang tertuju kepadanya, Mizuki lupa akan rasa malunya dan mengangguk kepada Mikihiko.
Setelah mendengar bisikan Mikihiko, ‘Kita mulai’, Mizuki dengan erat menggenggam kedua ujung kain yang menggantung ke bawah.
Sebuah kata ‘ya’ terdengar seperti jawaban yang singkat, tapi dia perlu mengerahkan seluruhnya agar suaranya tidak terdengar gemetaran.
Mizuki sangat takut kalau dia tidak dapat mengatakan kepada dirinya untuk tidak takut.
Tapi mengejutkannya, bahkan tidak pernah sekalipun terbesit di pikirannya untuk melarikan diri.
Untuk alasan yang tidak diketahui, Mizuki dengan sepenuh hati yakin kalau ini adalah tugasnya.
Mikihiko menggumamkan sesuatu yang tidak dapat dimengerti Mizuki.
Sesaat setelahnya, sebuah gelombang kekacauan datang mengenainya.
Dia bahkan tidak punya waktu untuk merasakan rasa sakit pada matanya.
Mizuki merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Dia bahkan tidak tahu bagian tubuhnya yang mana yang kesakitan.
Mengerahkan tenaga pada lututnya, dia membuka matanya.
Selama ini, berapa banyak hal yang dilewatkannya saat dia menutup matanya, Mizuki akhirnya merasa seperti itu.
Didepan matanya yang menatap dunia lain, ada sebuah objek asing yang terlihat mencolok.
Insting Mizuki mengatakan kalau itu adalah Parasite.
Sihir yang dilancarkan Parasite menghilang ketika mengenai pelindung Katsuto.
Mizuki dapat melihat sebuah benang kecil yang tersembunyi dibalik serangan listrik tersebut.
Benang panjang dan tipis itu meluncur ke arah Miyuki, Lina, dan Erika, tapi dihentikan oleh pelindung Katsuto dan dihancurkan oleh sihir Tatsuya.
Mizuki tidak punya dasar atas pemikirannya, tapi dia yakin kalau benang tipis yang tersembunyi dibalik serangan listrik itu akan menyusupi tubuh manusia melalui aliran listrik tubuh.
Dia hanya bisa melihat.
“Di situ.”
Mulutnya bergerak sendiri saat pergelangan tangannya secara spontan menunjuk. Mizuki seperti penonton di sisi samping layar bioskop saat dia melihat pemandangan ini.
“Kira-kira 20 meter diatas kepala Erika-chan, satu meter ke kanan, 50 meter ke belakang. Itu titik kontaknya.”
Mizuki menunjuk sebuah lubang di dunia ini yang memungkinkan benang-benang itu keluar.
Mikihiko bahkan tidak membuang waktu untuk berbicara saat jari-jarinya menari-nari pada CAD-nya. Benda itu berbentuk seperti kipas. Dia membuka sebuah jimat yang menyimpan api Yamashina, menuangkan Psion-nya, dan menghasilkan sebuah Rangkaian Aktivasi.
Sihir anti-iblis, Karura-en, secara khusus didesain untuk melawan sesuatu yang bukan badan informasi. Badan informasi independen yang membentuk sebuah ‘api’ meluncur ke koordinat yang ditunjuk Mizuki.
Walaupun Tatsuya sadar akan adanya ‘pembakaran’ meskipun tidak ada yang ‘terbakar’, dia sebenarnya sedang menyaksikan sihir yang menghancurkan Parasite.
Walaupun musuhnya masih ada didepannya, dia hanya bisa terkejut melihatnya.

Sihir Roh. Cara kerja sihir ini adalah dengan menggunakan badan informasi yang mengambang bebas di Idea untuk mengganggu badan informasi yang telah terpisah dari fenomena, lalu mematerialisasi ulang efek fisik dari badan informasi independen.
Saat ini, sihir yang digunakan Mikihiko berjalan dengan teori yang sama. Perbedaannya adalah efek meterialisasinya tidak terjadi dalam dimensi fisik tapi pada dimensi non-fisik.
Untuk sihir yang didesain agar bekerja terhadap badan informasi, ini adalah sesuatu yang langka atau bahkan luar biasa. Sihir yang digunakannya untuk menghancurkan badan informasi adalah sihir yang sama dengan yang menulis ulang badan informasi itu sendiri.
Namun, sihir yang digunakan Mikihiko memanfaatkan salah satu konsep sihir paling dasar yaitu ‘jika fenomena ditemani dengan badan infromasi, maka badan informasi yang menemani fenomena direkam didalam Idea’, maka dari itu ia menggunakan badan informasi yang beriringan dan tidak mengganggu dimensi fisik untuk langsung mempengaruhi Idea. Tidak ada ‘ledakan’ yang terjadi di dunia fisik, tapi sesuatu di Idea telah ditulis ulang untuk ‘terbakar’.
Sistem sihir semuanya adalah tentang menggunakan sihir untuk mewujudkan konsep di pikiran. Walau begitu, yang lebih mengejutkannya adalah koordinat Parasite yang sampai saat ini masih belum diketahuinya tiba-tiba dengan jelas terlihat oleh matanya. Ada rasa kalau sesuatu yang tidak nyata menjadi kenyataan.
Istilah ‘Kucing Schrodinger’ terlintas di pikirannya.
Baik kucing yang didalam kardusnya masih hidup atau sudah mati hanya bisa diketahui dengan membuka kardusnya. Berlawanan dengan tujuan asli pembuatnya, ide eksperimen ini memiliki pendekatan yang unik dengan menggunakan pengamatan pengamat untuk menentukan kebenaran. Terlepas dari hubungannya dengan teori Kopenhagen atau Everett, fakta mengatakan kalau kebenaran dari pengamat tidaklah pasti.
Dalam kasus Parasite, yang disebut ‘monster’ dari badan informasi, sekali diamati oleh pengamat, bukankah rangkaian kejadian yang sama akan terulang kembali pada orang lain?
Melalui penglihatan Mizuki, apa keberadaan yang sebelumnya di dimensi non-fisik bertambah kuat?
Kalau begitu keadaannya……….
(Kali ini Mizuki dalam bahaya!)
Tidak mungkin Parasite tidak sadar akan mata seseorang yang memiliki kemampuan untuk melihat dirinya.
Tatsuya segera berkonsentrasi pada ‘penglihatan’nya.
Di dalam pikirannya, hal yang paling dikhawatirkannya muncul.
Dia memikirkannya untuk sesaat.
Tatsuya mengangkat tangan kirinya yang tidak memegang CAD ke arah Mizuki.
Saat kau memandang jurang terlalu lama, jurang itu juga akan memandangmu.
Bahkan tanpa mendengar perkataan Nietzsche, itu sudah jadi pengetahuan umum. Untuk mengetahui apa yang dibalik suatu lubang kau harus melihat kedalamnya, maka ada kemungkinan kalau musuh sedang melihatmu dari balik lubang itu.
Tepat saat Mizuki melihat Parasite, Parasite juga melihat Mizuki.
“Dia datang!”
Mendengar peringatan keras Mizuki, Mikihiko segera mengaktifkan pelindung.
“Dimana!?”
Mikihiko mengaktifkan pelindung itu pada kekuatan maksimumnya secepat mungkin sementara dia bertanya kepada Mizuki tentang posisi Parasite saat ini.
Pelindung sihir yang barusan diaktifkannya secara refleks adalah pelindung yang sama seperti yang digunakannya sebelumnya.
Sihir ini menyembunyikan mereka sepenuhnya dari musuh.
Ketahanannya terhadap serangan agak lemah dan sekali terkena, kekuatan penyembunyiannya berkurang setengah.
Mikihiko sendiri sadar akan seberapa butuhnya mereka untuk menyerang.
Tapi, Mizuki tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaannya.
Dia menekan kedua tangannya pada matanya.
Mikihiko tidak tega untuk menegurnya.
Mizuki tidak pernah berhadapan dengan ‘iblis’, dan Mikihiko tahu kalau dia hanyalah seorang gadis tak berpengalaman. Inilah alasan mengapa Erika meminta Mikihiko untuk melindungi Mizuki, dan mengapa Mikihiko benar-benar berencana untuk melakukannya. Dihadapan ‘iblis’, wajar bagi Mizuki untuk jatuh sampai pada tingkat ini, itulah alasan utama mengapa mereka mundur.
Saat Parasite mendekati jarak dimana bahkan dirinya tidak yakin kalau dia dapat bertahan, Mizuki begitu patah semangat sesuai dugaannya, jadi dia tidak dapat memarahinya.
Selain itu, tidak ada waktu lagi.
Parasite merentangkan sebuah ‘benang’. Walaupun Mikihiko tidak bisa melihat benang itu, dia yakin kalau ada ‘sesuatu’ yang tercampur di cahaya itu yang mencoba untuk mendekati Mizuki.
Bukan berarti Mikihiko dapat melakukan sesuatu. Bahkan jika dia tidak dapat melihat wujud fisiknya, dia masih memiliki teknik yang dapat melihat aliran roh. Sebenarnya, pengguna Sihir Kuno seperti Mikihiko lebih terbiasa dalam menghadapi fenomena gaib daripada fisik.
Walau begitu, disaat yang sama, seni tradisional Sihir Kuno membutuhkan waktu yang lama untuk diaktifkan. Lambatnya kecepatan aktivasi adalah salah satu alasan utama mengapa sihir modern jadi lebih terkenal sementara Sihir Kuno ditinggalkan.
Meski begitu, Mikihiko tetap saja menggunakan sihir anti-iblis ‘Exorcism Cut’ pada lubang di pelindungnya. Walaupun kekuatannya lemah jika dibandingkan dengan sihir ritual, kecepatan aktivasinya setara dengan sihir yang digunakan penyihir dari Sekte Terlarang.
Membentuk sebuah pedang, Psion-Psion itu menghancurkan serangan benang Parasite.
Sayangnya, itu hanya berlangsung sesaat.
Bahkan jika dapat mematahkan sihirnya, sumber dari sihir itu sendiri tidak dapat dihancurkan.
Segera setelahnya, benang-benang lain menjulur ke arah Mizuki.
Mikihiko sudah menduga hal ini, tapi masih tetap menggunakan Exorcism Cut.
Namun, sebelum pedangnya dapat diayunkan.
Lebih cepat dari Exorcism Cut Mikihiko, sebuah badai cahaya tak terlihat menghempas Parasite bersama dengan ‘benang-benang’nya.
Kain yang dipinjamnya dari Mikihiko berhasil menghilangkan gelombang ketidaknyamanan yang menembus kacamatanya.
Tapi, yang mengejutkan adalah tidak merasa ‘tidak nyaman’ bukan berarti Mizuki tidak dapat melihat mereka. Beberapa kilauan cahaya turun dari langit, seperti kepiting yang menari di udara.
Walau begitu, hal itu tidak menghilangkan teror yang dirasakannya sedikit pun.
Dan juga, ada hal lain yang menerornya.
Walaupun dia menutup matanya, dia masih dapat melihatnya. Walaupun dia tidak mau, dia masih dapat melihatnya.
Ada tentakel tipis yang ingin mendekatinya. Itulah benda yang dilihatnya. Ketakutan yang melekat pada dirinya membuatnya tidak dapat berpikir rasional lagi.
Dia dapat merasakan kalau Mikihiko sedang berteriak, tapi dia tidak tahu apa yang diteriakkannya.
Jika dia terus seperti ini, maka akan terjadi hal yang mengerikan pada pikirannya.
Mungkin jika dibandingkan dengan tubuhnya yang melemah, pikirannya akan mati terlebih dahulu.
Apa yang menyelamatkannya, adalah gelombang Psion kuat yang menghempasnya.
Lebih seperti apa yang dilihat matanya setengah tahun yang lalu di laboratorium, tapi kali ini gelombang itu bahkan lebih kuat.
Walaupun hal itu menyelamatkannya tepat waktu, tidak ada yang namanya gelombang Psion dalam pertarungan sihir.
Tangan kanannya lebih kuat menggunakan Sihir Dekomposisi, tapi tidak seperti Gram Dispersal, Gram Demolition sendiri tidak terpengaruh oleh tangan mana yang digunakannya dan bahkan tanpa CAD sekalipun. Saat itu juga, Tatsuya mengumpulkan Psion sebanyak mungkin yang dapat dikumpulkannya di tangan kirinya.
Seperti dugaannya, berkat apa yang terjadi dengan penglihatan Mizuki, keberadaan mahluk itu di dunia ini menjadi stabil. Saat mahluk itu mendekati Mizuki, fluktuasi koordinat Parasite menjadi jauh lebih kecil, dan titik-titik yang tersebar mulai terkumpul.
Bahkan jika badan informasi memang ada, Parasite yang pernah membuat Tatsuya tidak dapat mengetahui lokasinya dan tidak tahu cara membunuhnya sekarang benar-benar dapat dianalisa dengan jelas.
Tapi tetap saja, tidak ada waktu untuk menyampaikannya. Tentakel yang dihancurkan Mikihiko, dalam imajinasi Tatsuya, terlihat seperti protozoa aneh yang merentangkan filamen pseudopoda, segera tumbuh kembali dan menjulur ke arah Mizuki lagi.
Sayangnya, dia tidak punya pilihan lain.
Dia sedikit menyipitkan matanya,
Membidik target dan membayangkan serangannya.
Tatsuya melepaskan kumpulan Psion yang disimpan di tangan kirinya.
Dengan Gram Demolition yang dilancarkan melalui telapak tangannya, sebuah badai Psion menerpa Parasite dan membuatnya dan tentakelnya terpukul mundur.
“Shibata-san, apa kau baik-baik saja!?”
Suara Mikihiko gemetaran. Mendengarnya, Tatsuya merendahkan tangan kiri yang sebelumnya diangkatnya.
Dia dengan kesal menggertakkan giginya mengingat dirinya yang menggunakan Sihir Non-Sistematik.
Gram Demolition mengandung kata ‘demolition’, tapi penggunaannya lebih seperti menggunakan tekanan gelombang Psion untuk menghapus badan informasi. (demolition = penghancuran)
Dalam keadaan dimana targetnya adalah Rangkaian Sihir, teknik ini dapat menghentikan fungsi Rangkaian Sihir tersebut melalui Eidos, dan menghentikan kerja sihir musuh seperti penangkal sihir.
Kebanyakan Rangkaian Sihir akan hancur dibawah tekanan matriks informasi yang hancur pada momen serangan itu, maka dari itu namanya ‘demolition’, tapi kenyataannya, gelombang Psion dari Gram Demolition tidak memiliki kemampuan untuk menghancurkan badan informasi. Saat mengenai target yang kerangkanya lebih kokoh daripada Rangkaian Sihir, kemungkinan besar matriks informasi itu akan terhapus daripada hancur.
Bahkan dengan pertimbangan itu di pikirannya, Tatsuya masih memilih untuk menggunakan Gram Demolition saat itu.
Demi menyelamatkan Mizuki.
Karena Tatsuya benar-benar tidak dapat menemukan solusi lain.
“Dia hilang……”
Tatsuya tidak menanggapi gumaman Katsuto. Karena Gram Demolition, Parasite hilang dari tempat itu, akibatnya mereka tidak bisa memberikan serangan terakhir mereka. Tatsuya telah merubah rencana itu di pikirannya, tapi hasilnya masih seperti ini.
“Ah, oh baiklah. Walaupun ia melarikan diri, dia setidaknya terkena serangan kita. Karena tidak ada yang terluka, aku rasa ini sudah memuaskan.”
Perkataan Katsuto bukan ditujukan untuk menghibur. Saat berhadapan dengan Parasite, mereka berhasil melaluinya tanpa korban seorang pun. Hanya saja pertarungan ini telah direncanakan mereka. Mungkin musuh mereka tidak pernah berencana untuk bertarung sebelumnya.
Karena mereka memilih untuk bertarung yang sebenarnya tidak perlu dilakukan dan dapat dihindari, yang terpenting mereka berhasil melaluinya tanpa ada korban seorang pun. Tujuan utama mereka adalah menangkap target, tujuan kedua mereka adalah memusnahkan musuh. Jika dua tujuan tersebut tidak tercapai, maka setidaknya mereka harus mendapatkan petunjuk baru mengenai kemampuan musuh bertopeng mereka.
Dengan kata lain, dari sudut pandang Tatsuya, petunjuk yang mereka dapatkan nol. Setidaknya petunjuk yang didapat mereka tidak negatif.
(Kacau sekali……….)
Tatsuya dengan terpaksa memastikan dirinya tidak mengatakan apa yang dipikirkannya.
Jika dia mengatakannya,
Miyuki akan khawatir.
Mizuki akan menyalahkan dirinya sendiri.
Erika akan sakit hati.
Bagi Tatsuya, ini sama seperti menabur garam di atas luka. Tidak mungkin Tatsuya akan melakukan sesuatu yang menyusahkannya.
  

[1] Negara-negara maritim kepulauan yang terletak di Eropa (Inggris, Irlandia, Amerika Serikat, Australia)
[2]Jimat yang berguna untuk melindungi seseorang dari penyakit maupun hal buruk. Benda tersebut biasanya berupa kertas, kayu, kain, atau logam.

Mahouka Koukou no Rettousei Jilid 10 Bab 8 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.