31 Oktober 2017

Fate Apocrypha Jilid 2 Bab 3 Part 3 LN Bahasa Indonesia


FATE/APOCRYPHA JILID 2 BAB 3
(PART 3)
(Translater : Dan; Editor : Hikari)

Ledakan, pekikan, jeritan, rapalan mantera, semua suara itu menjadi satu di dalam medan peperangan, melejit masuk ke dalam pendengaran Ruler. Mereka yang menginginkanya, mereka yang tidak, dan mereka yang bahkan tidak mengerti kata ‘harapan’ tidak menghiraukanya, sambil seorang Ruler berlari menembus medan peperangan.
“…!”
Di dalam benteng yang melayang, terdapat seorang servant. Alasan dia dapat mengetahuinya bahkan ketika sedang jauh di bawah permukaan tanah adalah karena sinar laser yang ditembakkan dari arah atas benteng bersamaan dengan hawa membunuh yang pekat. Servant yang di atas sana mengumpulkan semua kekuatan penhancur menjadi satu yang kekuatanya bisa menghancurkan sebuah benteng sedang tertuju kearah Ruler seorang diri.
Namun Ruler mengibarkan benderanya tanpa merasa panik. Kekebalan terhadap sihir miliknya sangat tinggi [EX]. Sebagaimana menjadi seorang yang suci tidak dapat dilukai bahkan oleh sihir kuno. Namun, kekebalan ini semata hanya menolak sihir dari dirinya. Dengan kata lain kekebalan itu bukan menerima dan menetralkanya saja.
“Sieg-kun, menyingkirlah!”
Sieg dengan segera bereaksi pada peringatan itu. Setelah menjauh dari titik tempat dia berdiri dengan melakukan rolling, dia melihat Ruler menghilang dibawah sinar laser yang jatuh dari atas langit.
Ruler!”
Dia secara refleks berteriak, namun suaranya langsung terhenti. Dia dalam keadaan terdiam. Menjadi seorang penyihir dari lahir, dia mengerti. Pilar laser yang terjatuh dari atas langit barusan adalah sambaran petir berisikan kedengkian. Dengan kekuatan setara bom yang dijatuhkan, bahkan kelas Saber yang jelas-jelas mempunyai kekebalan sihir tertinggi pun tidak akan bisa membelokkanya.
Namun dia menghindarinya. ‘Menghindari’ bukanlah sesuatu yang bisa menjelaskanya. Serangan sihir barusan sangat dahsyat, tidak hanya pada satu titik, namun mengenai sebagian besar area yang menyebabkan kerusakan hebat namun tanpa melukai dirinya sedikit pun.
Sambaran petir, yang mana mempunyai kemauan tersendiri itu, kini telah kehilangan rasa kedengkianya. Melainkan sambaran petir itu hanya menghancurkan sekeliling area saja.
Jika saja dia tidak memperingatkan Sieg saat itu, mungkin saja Sieg akan terlibat di dalam serangan petir itu. Di sekelilingnya tadi terdapat para golem dan pasukan Dragon Tooth yang mencoba menyerangnya, namun sekarang….. semuanya telah lenyap seketika.
Bahkan tak secuil pun sisa dari mereka berserakan… jika dia tidak memperingatkan Sieg, mungkin sekarang Sieg berubah menjadi butiran debu juga.
“Inikah… seorang Servant dari Class kedelapan.”
Pada saat dia sedang menggerutukan sesuatu, dia melihat ke atas langit. Meskipun kekebalan terhadap sihir milik Ruler sangat tidak normal dan sangat mengejutkan, namun apa yang lebih mengejutkannya adalah hasil dari sihir barusan. Sebuah sihir yang setara dengan serangan bom atom yang hanya bisa dilakukan oleh penyihir kuno.
Mungkin itu sihir milik Caster merah. Taman yang menggantung pun terlihat seperti Noble Phantasm atau sesuatu milik Servant Merah. Pada akhirnya, sihir itu sangat mustahil bagi para penyihir modern saat ini.
Pokoknya, sihir itu masih tidak bisa membunuh seorang RulerRuler dan Sieg, keduanya berpikir bahwa Servant yang mengeluarkan sihir sedahyat ini dari atas taman itu akan menyerah.
Namun…
“!?”
Mereka berdua sangat terkejut pada saat yang bersamaan. Tanpa memperdulikan fakta bahwa serangan mereka telah di pentalkan, Servant di atas sana melanjutkan bombardir permukaan tanah. Mereka melakukan perbuatan yang sia-sia…. Tidak, ada alasan yang tersembunyi. Perbuatan mereka lebih mendekati untuk mengulur waktu. Dan alasan yang menyertainya itu sangatlah terlalu berlebihan.
“Ugh..!”
Ruler melihat ke arah Sieg. Benar, Ruler masih bisa bergerak, namun Sieg harus segera menyingkir dari dirinya. Lalu Sieg berbicara tanpa gentar.
“… pergilah duluan. Aku juga harus menemui seseorang yang harus aku temui.”
“Aku mengerti.”
Dia tidak berharap pada keberuntungan di dalam dirinya. Sebuah medan perang bukanlah sesuatu yang cuma memerlukan keberuntungan agar tetap selamat. Jika Ruler ingin mengatakan sesuatu, pastilah itu sebuah doa agar Sieg tidak bertemu dengan seorang Servant.
Namun hal itu sangat mustahil. Karena Sieg pernah mengatakan bahwa dia harus menemui seseorang yang harus dia temui. Pertama, dia harus menemui para Homonculi. Menyelamatkan mereka adalah salah satu tujuannya.
Dan ada seorang lagi yang harus dia temui. Seorang Servant dari kubu Hitam. Astolfo. Keinginanya menemui servant ini bukanlah alasan yang jelas. Mungkin dia hanya ingin menemuinya karena dia inigin menemuinya saja. Ruler berpikir hal yang dilakukanya sedikit menawan.
Namun, menemui Rider berarti harus berpapasan dengan servant lainya. Sieg menggenggam sebuah pedang di tanganya, dan seluruh tubuhnya jelas sekali dipenuhi dengan semagat bertarung.
Namun, dia juga akan dipandang sebagai musuh oleh fraksi Merah. Dengan segala kewenangannya, Ruler seharusnya menghentikan Sieg, namun Sieg mungkin tidak akan menurutinya. Jika bahkan dia tahu bahwa menemui Rider Hitam adalah sia-sia dan perbuatan yang percuma dan lagi dia juga akan mengkhianati doa Rider untuk dirinya, meskipun begitu Sieg tetap akan menemuinya.
Ruler mulai berlari. Dia merasakan bahwa “seseorang” yang ingin ditemuinya berangsur-angsur menjauh, jadi dia menambah kecepatannya lagi dan lagi. Dia bahkan mengabaikan ayunan pedang dari para Dragon Tooth Warrior dan terus menambah kecepatan larinya.
Dia tidak bermaksud untuk menghentikan perang suci kali ini. Selama perang antara dua kubu berjalan baik dan normal, Ruler tidak akan menentangnya sama sekali.
Namun perasaan kekhawatiran yang kuat yang membuat giginya bergemeretak dan perasaan ingin segera berlari membelah medan perang ini. Dia harus menemuui mereka, dia harus menemui “seseorang” yang berangsur-angsur pergi menjauh itu.
Namun para Servant fraksi Merah secara sengaja menghalagi dirinya. Mereka menumpuk para Dragon Tooth Warrior seperti gunung dan membuat sebuah tembok besar untuk menghalangi dirinya.
“…. mengganggu sekali!.”
Tentu saja, meladeni gangguan seperti ini juga memakan waktu yang sangat berharga bagi Ruler. Dia membidik ujung dari tiang benderanya pada suatu titik dan menghancurkan tembok itu tanpa harus berhenti.
Lalu, dia menaburkan air suci yang dibawanya dan menunjukkan keberadaan lokasi tiap Servant sama seperti yang dia lakukan sebelumnya. Dia tahu bahwa para Servant dari fraksi Hitam bukan sebuah masalah untuk saat ini, dan dia lalu memfokuskan perhatiannya pada satu lokasi para Servant dari fraksi Merah.
Hanya para Dragon Tooth Warrior yang dapat mengulur waktu milik Ruler. Namun para Servant adalah masalah yang lain. Pertama-tama, dia harus menghindari pengejaran salah satu dari mereka.
Dengan cerdik Ruler mengambil rute yang tidak berpapasan langsung dengan para Servant dari fraksi Merah, dan lari mengikuti jalur tersebut. Dia merasakan hawa dingin  di dalam dirinya meningkat seiring berjalanya waktu.
Kemudian, perjumpaan terburuk pun muncul di hadapan Ruler sembari ingin menghadang jalanya.

Fate Apocrypha Jilid 2 Bab 3 Part 3 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.