02 Oktober 2017

Beatless Chapter 1 Phase 3 LN Bahasa Indonesia


CHAPTER 1 PHASE 3
(Translater : Bonn; Editor : Hikari)

22:30
Arato sedang sibuk memberikan ceramah hariannya pada Yuka.
Yang ia ceramahi adalah kebiasaan makannya. Terutama tentang kebiasaannya mencuri dan memakan makanan yang sedang disiapkan oleh Arato.
“Apa maksudmu, ‘hanya mengambilnya’? Bagaimana kamu bisa menyebutnya ‘hanya mengambil’? Sama sekali tidak ada yang tersisa di piring ini!”
Rumah mereka hanya berisi Arato dan adiknya, Yuka. Ayah mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan hanya akan kembali saat bulan penuh, dan ibunya meninggalkan mereka saat Arato masih kecil.
Itulah mengapa Arato sangat memperhatikan Yuka. Dan juga, bagi Arato sendiri, saat ini dia sedang menciptakan monster pemakan segalanya.
“Tolong beri tahu aku satu hal saja, Yuka. Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranmu saat melihatku mempersiapkan makan malam?”
“Mmm, daging, nom nom nom nom!” kata Yuka.
“Memangnya kau itu apa? Hewan liar pemakan daging?”
Yuka saat ini berusia 14 tahun dan hanya terpaut tiga tahun lebih muda dari Arato, dan bukan wajah riangnya yang membuatnya terlihat lebih muda. “Yah, mungkin seperti, kenapa makan malam harus sangat lama,” katanya, dengan wajah tanpa bersalahnya. Dia mengambil remote dan menekan tombol untuk menyalakan Holovision TV yang tadi ia gunakan untuk bermain game dan kemudian berganti menjadi siaran berita. 
“Whoa, lihat itu, ada sebuah ledakan di TV!”
Sebuah gambar 3D dari gedung yang meledak itu menampilkan kejadian ledakan itu di tengah – tengah lantai ruang makan mereka, kobaran api yang begitu hebat ditampilkan dalam bentuk virtual.
Peristiwa ledakan itu terjadi sekitar 30 menit yang lalu, menurut laporan TV.
“Pulau reklamasi Tokyo dua… yah, paling tidak tempat itu tidak berada di dekat sini,” kata Yuka.
“Apa yang kau bicarakan? TBRA-2? Itu tidak jauh dari sini!” kata Arato.
Yuka menggunakan remote-nya untuk menggantinya ke mode suara, dan menanyakan sebuah pertanyaan. 
Jawabannya segera muncul: ledakan itu hanya berjarak 15 kilometer dari tempat mereka tinggal.
“”Wow, itu memang tidak terlalu jauh. Benar – benar berita yang keren!” kata Yuka. Gambar proyeksi holografik yang ada di tengah – tengah mereka membuat suara ‘boom’ yang keras. “Hey! Itu mungkin adalah ide bagus! Mungkin sekolah akan diliburkan besok! Itu akan sangat luar biasa!”
“Jangan memikirkan hal seperti itu, bocah,” kata Arato.
“Yah, aku pikir juga tidak. Yah, terserahlah. Aku berharap tidak ada yang terluka.”
Bagian itu merupakan sisi Yuka yang disukai Arato. Yuka mungkin bukanlah seorang anak yang pintar di bidang akademik, tapi dia memiliki hati yang lembut, dan itu bukan kesimpulan yang diambil Arato karena mereka bersaudara.
Yuka melupakan sejenak tentang ledakan itu dan beranjak dari sofanya, dan dia memutuskan untuk melihat-lihat apa yang bisa dia temukan untuk makan malan ini.
Bukan berarti dia sedang sibuk untuk mempersiapkan makan malam. Dia hanya memasukkan semua makanan beku yang dia temukan ke dalam wajan penggorengan dan memasukkan bumbu – bumbu penyedap. Babi manis asam, itulah nama masakan yang sedang ia coba buat, tapi karena dia sudah menghabiskan semua daging yang ada saat dia kembali ke meja makan, yang ada hanyalah bumbu manis dan asam. Ah, well, dia hanya mencampurkan bumbu asam manis itu dengan nasi dan mencampurnya dengan sayuran diatasnya, dan jadilah makan malamnya tanpa daging.
“Hey, Onii-chan, laporan itu bilang kalau itu adalah pabrik robot,” kata Yuka. “Mungkin kita bisa mendapatkan salah satunya untuk bekerja pada kita pada hari Sabtu. Kau tahu, untuk memasak atau hal  yang lainnya.”
“Baguslah, sekarang kita kehabisan beras. Mie goreng saja ya.”
“Tidak mungkin! Tidak untuk dua hari! Ayolah Onii-chan, kita harus memiliki beras untuk makan…”
“Aku sudah bilang, kita kehabisan beras! Memangnya, apa yang ingin kau ingin aku lakukan huh? Pergi keluar dan membeli beras pada jam segini?”
Bisa dibilang itu adalah pertanyaan retorikal semata, tapi Yuka menampilkan senyumnya yang begitu manis dan saudaranya hanya menampilkan senyum dingin.
Jika makanan dan bermain bisa membuat orang menjadi kuat, maka apa yang diminta oleh Yuka adalah salah satu yang bisa membuat orang menjadi kuat.
“Oh, Onii-chan, saat kau pergi nanti, bisakah kau membelikan es krim?”
Ah, anak bungsu. Benar-benar sulit untuk berhadapan dengan yang satu ini. Walau sebenarnya Arato tidak pernah memanjakan Yuka, tapi tanpa sedikitpun rasa malu – malu, Yuka terus memintanya untuk pergi.
“Tunggu dulu, kenapa kamu bisa beranggapan ‘saat kau keluar’?” tanya Arato. Tapi kemudian dia takluk dengan senyum adik kecilnya ini.
“Onii-chan, apakah kau tahu seberapa besar aku mencintaiiiimu?”
“Huh, apa kau pikir aku bisa takluk semudah itu? Apa dengan itu saja bisa membuatku berlarian keluar dan pergi membeli apa yang kau inginkan?” nadanya begitu kasar, tapi Arato sendiri mengambil jaket untuk mengantisipasi udara malam yang begitu dingin.
“Tapi kau memang akan keluar, 'kan?” Yuka menyeringai.
Ya memang benar dia akan pergi, tapi dia berusaha menjaga harga dirinya dengan membuat alasan yang cukup logis. “Yah, aku rasa dengan ledakan yang terjadi di luar, cukup berbahaya membiarkanmu berada di luar, jadi lebih baik aku menggantikanmu pergi…”
Yuka menepuk tangannya bersamaan dengan tawanya yang terkekeh – kekeh. “Aku harap setiap hari terjadi ledakan, jadi kakak akan selalu bisa pergi!”
“Yah, dan aku pikir memang lebih baik seperti itu, aku kira,” gerutu Arato, tapi Yuka adalah adik perempuannya, dan sebagai saudara laki – laki yang lebih tua, sudah kewajibannya untuk mencintainya. Dia mengatakan dah dah—dan Yuka melambaikan tangannya saat Arato keluar dari apartemennya—Arato pergi keluar menuju malam itu.
Arato tahu jika sangat enak sekali jika bisa permohonan seseorang bisa dikabulkan. Jadi Arato ingin adiknya mengalami hal seperti itu.
Bisa dibilang Arato hidup untuk melayani adiknya.
Distrik tempat mereka tinggal adalah Shin-Koiwa, bagian dari proyek regenerasi teluk Tokyo, dan karena itu adalah tempat sambungan rel kereta api dan jalan utama terhubung, daerah itu merupakan daerah utama yang menghubungkan semuanya.
Apartemen tempat Endo tinggali adalah sebuah daerah penduduk yang memiliki koneksi jalan yang lumayan terhubung dengan jalur selatan subway Urayasu. Kebanyakan orang memilih untuk tinggal jauh dari daerah pesisir, jadi mereka bisa menghemat waktu lebih banyak.
“Berbicara mengenai ledakan, aku harap semuanya baik – baik saja,” kata Arato pada dirinya sendiri. 
Karena adiknya, dia terus memikirkan hal itu. TBRA-2 sendiri adalah tempat dimana ayahnya bekerja.
Membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk Arato berjalan menuju toko grosir tempat dia biasa membeli kebutuhannya.  Arato berusaha menghilangkan kecemasannya dengan menggunakan PortaCom-nya dari kantong celananya dan mendengarkan musik.
“Pergi berbelanja malam hari, anak muda?” seorang wanita setengah baya yang terlihat berjalan menuju Arato memanggilnya dan berjalan melewatinya.
Namanya adalah Ms. Marie, dia terlihat seperti seorang wanita gemuk berumur sekitar 40-an, tapi sebenarnya dia adalah hIE yang dimiliki oleh keluarga Yuzawa, pemilik tanah disekitar sini. Arato sudah sering melihatnya sejak ia masih kecil, dan dia tetap beroperasi dengan baik untuk sepuluh tahun ini, dan memang modelnya adalah jenis yang antik.
“Kau juga, Ms. Marie?”
“Yap, kami kehabisan barang dirumah.”
Lebih baik untuk berjalan bersama seseorang di tengah malam. Arato mengobrol dengan santai bersama dengan Ms. Marie, dan setelah cukup lama berjalan, mereka sampai di sebuah toko grosir. Arato membeli beras beku seperti biasanya dan semangkok es krim pesanan adiknya, Yuka.
Saat dia keluar dari toko itu, ratusan kelopak bunga berjatuhan dariatasnya.
“Apa yang…”
Lima kelopak bunga yang memiliki warna yang berbeda – beda jatuh dari langit, seperti hujan, atau mungkin salju. Karena sekarang adalah bulan April, Arato mengira bahwa ini adalah saat dimana bunga sakura bermekaran, tapi dia melihat lebih teliti lagi bunga – bunga yang berjatuhan ini yang jatuh di tangannya dan dia menyadari bahwa bunga itu panjang dan tipis, lebih mirip bunga chrysanthemum daripada sakura. 
Kelopak bunga itu juga terasa begitu kering ketika disentuh, seperti kelopak bunga itu menghisap kelembapan dari udara sekitarnya.
Arato sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, dan berpikir jika ini adalah kejadian langka dan begitu indah, dia juga agak takut dengan kejadian ini.
Tapi, dia harus segera pulang  kerumah, atau es krimnya akan meleleh.
“Oh, lihat, apa yang terjadi disini?” Ms. Marie baru saja keluar dari toko itu dengan tas belanjaanya di tangannya, dan menganggap hal yang terjadi tiba – tiba ini tidak memiliki ancaman yang serius, dia berjalan menuju tumpukan bunga itu, dan bunga – bunga itu beterbangan disekitarnya.
hIE itu hilang di gelapnya malam, bahkan hIE itu tidak berusaha untuk membersihkan bunga – bunga yang ada dikepalanya. Langkahnya mulai menghilang.
Arato mencoba mengikutinya, dia menggunakan tangannya untuk membersihkan tubuhnya dari bunga yang ada ditubuhnya sebisanya.
Dia kemudian mendapatkan dan mendekati Ms. Marie, atau tepatnya Arato berada tak begitu jauh dibelakangnya. Tubuh Ms. Marie membeku dan berdiri di tempat itu dengan kondisi yang tidak normal. Arato mencoba untuk memanggilnya tapi ia merasa jika tubuhnya sulit untuk digerakkan. Begitu kakunya sampai dia lupa caranya untuk berjalan.
Kemudian tubuhnya mulai mengalami getaran yang cukup kuat dari dalam dirinya. Lehernya berguncang dan kepalanya berderit, menunjukkan raut wajah tanpa emosi dibawah rambutnya yang menutupi dahinya. hIE itu menjatuhkan barang bawaannya. Kemudian, hIE itu kehilangan keseimbangannya dan ikut jatuh ke tanah.
Kelopak bunga itu terus bertahuhan ke tanah.
Arato merasakan sesuatu yang tidak biasa, dan tangannya mencoba untuk menggapai hIE itu, dia berlari menuju hIE yang berada di bawah lampu penerangan itu.
Salah satu bunga itu jatuh di telapak tangan Arato, bentuknya seperti lipan dengan kaki – kaki kecilnya, memiliki banyak bagian, dan menggeliat di tangannya.
Arato terkejut. Makhluk kecil itu bergerak menuju lengannya. Arato menggerakkan tangannya untuk menjatuhkan makhluk itu dari tangannya. Rintihannya menutupi gelapnya malam, tapi tidak ada waktu baginya untuk menangis.
“Sial! Sial!”
Kelopak bunga yang berjatuhan itu menutupi seluruh jalan dan berkumpul seperti serangga. Tidak mungkin hal ini bisa terjadi, Arato tahu itu. Tapi hal ini sungguh terjadi.
Arato menyadari bahwa dia berusaha menyelamatkan Ms. Marie. Tapi dia ingat bahwa dia hanyalah sebuah hIE bukan manusia. Tapi meski dia bukan manusia, Arato tidak bisa begitu saja meninggalkannya dibelakang. Dia lebih terlihat mirip seperti seorang manusia.
Tanpa ada peringatan, sebuah mobil sedan yang terparkir didekatnya tiba – tiba saja bergerak, bannya berdecit, dan cahayanya menyala begitu kuat. Arato melompat menghindari mobil itu, dan dia mendarat dengan lengannya. Dia merasa cukup kesakitan di bagian bahunya.
Dia mencoba untuk bangun, dan Arato baru saja tahu jika es krim yang dia beli terjatuh di tanah dan meletakkannya di tas belanjaannya.
Arato mencoba berdiri dengan bersandar pada dinding di pinggir jalan. Lalu mobil itu yang tadi bergerak kearah Arato, memasukkan gigi mundur dan bergerak kebelakang dengan kecepatan penuh menuju Arato.
Arato berusaha untuk menghindar sekali lagi, tapi itu belum cukup, sekali lagi dia merasakan sakit di bagian panggulnya.
Ketika Arato bisa melihat siapa yang ada di kursi pengemudi itu, hanya ada setumpuk bunga yang ada di mobil itu.
“Tolong berikan aku waktu…” Arato mengerang.
Bunga – bunga itu mulai menghujani tempat itu lagi.
Semua kejadian itu terlihat… tidak logis. Arato pertama mengira jika dia mulai gila, tapi dia segera menyadari bahwa semua itu bukanlah ilusi, melainkan kenyataan, ini memang benar – benar terjadi. Jadi jika semua ini adalah kenyataan, apa yang sebenarnya dia lakukan sebelum ini? Bukankah semua ingatannya hanyalah tumpukan ilusi semata? yang dia rasakan sekarang adalah rasa takut, sakit, dan jantungnya yang berdetak begitu cepat seperti dia akan mempertaruhkan hidupnya.
Makanan beku yang ada di tas belanjaan Ms. Marie yang tadi terjatuh, tumpah keluar. Bunga yang ada didalamnya mengkristal dan Arato mampu mendengar suara kaki kecil berjalan dari benda itu.
Kemudian Arato memperhatikan sebuah bayangan hitam dibalik sorotan lampu jalanan. Dia mendengar suara langkah kaki. Arato masih tersungkur di tanah, dan mencoba untuk memulihkan napasnya, tapi dia bisa merasakan jika bayangan dibelakangnya itu memiliki jenis pakaian yang sama dengan Ms. Marie.
Ketika bunga itu berkerumun pada sesuatu itu, apakah mereka akan berubah menjadi sebuah monster yang akan menghancurkan manusia?
Asap putih mencuat keluar dari mobil yang tadi hendak mencoba menabrak Arato, kini menabrak dinding, dan bunga – bunga yang ada di dalam mobil itu terlihat berterbangan menghindari bodi mobil itu.
Jika ini hanyalah sebuah mimpi buruk, Arato dapat dengan mudah bangun dari tidurnya. Tapi ini adalah kenyataan. Tidak mungkin ada kemungkinan untuk kabur dari mimpi buruk ini, hanya ada rasa sakit yang ada.
Mungkin sebentar lagi, mobil itu akan dilalap oleh api. Membayangkan tentang kobaran api yang akan terjadi itu saja sudah membuat Arato begitu terpaku, ia hanya bisa berdiri melihat apa yang akan terjadi sebentar lagi, api yang sama seperti yang ada dalam mimpinya, kecuali kali ini api ini akan menyambarnya hidup-hidup, dan dia tahu bahwa ini akan menjadi akhir dari semuanya. Arato berteriak, tolong, tolong, seperti bocah kecil yang ada didalam mimpinya.
Saat dia membuka mata, Arato melihat sebuah siluet dari seseorang yang ada didepannya.
Sosok itu muncul diantara mobil yang terbakar itu dan Arato, sosok seorang gadis yang nampak dari belakang. Dia datang entah darimana. Lengannya yang ramping membawa semacam kotak berbentuk peti mati, yang ia bongkar dan satukan kembali dengan kecepatan tinggi, membentuk sebuah payung dengan bentuk seperti setengah bola, yang dia angkat seperti sebuah tameng diantara Arato dengan gelombang api panas yang menyambar sekitarnya.
Lalu kobaran api itu pun datang. Tapi gadis itu berada di antara dirinya dan api yang begitu cepat menyala. Tubuhnya begitu ramping, begitu rapuh bagi Arato.
Setelah ledakan itu berakhir, Arato menemukan dirinya berada di hadapan seorang gadis dengan rambut yang terkibas diantara jejak bunga api dari kobaran api mobil itu yang masih beterbangan disekeliling mereka.
Gadis itu memiliki rambut ungu pucat. Dia melihat Arato.
Arato begitu kagum dengan kecantikan yang dia miliki. Dia benar – benar cantik bahkan tanpa make-up, dan bahkan kulitnya yang begitu bening dan rupanya seperti seorang malaikat membuat Arato tidak bisa berkata apapun.
“Kau meminta bantuan,” kata gadis muda itu dengan suara yang tenang.
Dia lebih pendek dari Arato, tapi dia dengan santainya membawa sebuah benda hitam besar dengan satu tangan seperti tidak ada apapun, benda itu tampak menjulang keatas lebih tinggi daripada tubuhnya.
“Oh, yah… terima kasih.”
Device berbentuk payung itu kembali merubah bentuknya menjadi bentuk aslinya yang seperti peti mati berwarna hitam.
Gadis muda itu, yang terlihat lebih tua dari Arato, membuka bibirnya yang terlihat pucat dan berbicara. 
“Namaku, Lacia, Tuan.”
Gadis itu melihat dirinya dengan mata biru es-nya, dan Arato tahu bahwa gadis itu menginginkannya.
“Aku Arato, Arato Endou.” Suaranya nampak ragu, dikarenakan tubuhnya masih diliputi rasa takut.
Ekspresi tenang yang ditunjukkan gadis itu menenangkan hatinya sedikit. Dan Arato berpikir sekali lagi, betapa cantiknya dia itu.
Gadis itu memperkenalkan dirinya sebagai Lacia mengenakan sebuah bodysuit berwarna hitam dan bercorak putih. Kotak hitam besar yang ia bawa tanpa kesulitan menunjukkan bahwa dia bukanlah manusia.
Arato menggenggam tangan kanan gadis itu. “Kita harus pergi sekarang. Bunga-bunga ini akan mengacaukanmu.”

Bunga-bunga itu terlihat seperti sedang menari-nari di udara panas akibat kobaran api itu. Arato melihat sosok Ms. Marie yang tergeletak di sisi samping jalanan, dimana ledakan itu sendiri berada didekatnya.
Kumpulan kelopak – kelopak bunga itu yang berada di jalanan dan dinding di sekitar mereka nampak membentuk sekuntum bunga, seperti polip yang membentuk gugus koral. Sisi kota ini kini terkubur oleh pemandangan taman bunga yang mematikan.
Arato tetap berusaha keluar dari situasi ini. Perasaan takut karena bersentuhan dengan ‘alien’ ini begitu menakutinya, dan tubuhnya begitu bergetar ketika mengingat hal ini terus.
Tapi tidak bagi Lacia, ia berdiri di tanah di tengah kumpulan bunga – bunga kematian itu yang dengan mudahnya mengkontrol Ms. Marie dan mobil sedan itu.
“Kenapa kita harus lari, Tuan?” tanya gadis itu.
Arato menarik lengannya sekuat tenaga, tapi tubuh rampingnya nampak tidak terganggu. Hanya Arato yang menunjukkan dia sedang kesusahan. Jantungnya masih berdegup kencang karena ledakan tadi.
Lacia yang tidak memiliki hati seorang manusia, bertanya sekali lagi pada Arato. “Apa kau takut, Tuan?”
“Tentu saja aku takut! Kita bisa terbunuh kapan saja!” Sebelum dia menyadarinya, dia berteriak. 
“Memangnya siapa yang tidak takut menghadapi hal seperti ini!”
Yah, kenapa kau tidak melawan rasa takutmu?”
Kata – kata Lacia menusuk perasaannya. Arato tidak mengharapkan mendapat nasihat dari seseorang yang bahkan bukanlah manusia. Apa sebenarnya yang kau katakan, ia ingin berteriak seperti itu, tapi penampilannya yang feminim membuatnya menahan ucapannya.
“Memangnya apa yang aku dapat jika melawan?” dia berusaha membalas perkataanya.
Bunga – bunga itu mengelilinginya, sekarang. Atau mungkin bisa dikatakan bahwa gadis itu dan Arato dikelilingi oleh musuh sekarang.
“Jika Anda tidak melawan, kapan lagi Anda bisa, Tuan?” tanya gadis itu.
Sebenarnya apa yang dibicarakannya? Pikir Arato.
Walau begitu, dia tetaplah cantik, cantik.
Lalu Arato berpikir. Apa yang terjadi jika ledakan itu malam memancing orang datang kemari dan semakin menambah korban jiwa? Apa yang akan terjadi pada orang – orang? Dia merasa bingung memikirkan hal itu.
Bunga iblis itu mulai mengerumuni rambut ungu Lacia. Peti mati hitamnya juka terlihat ditumbuhi seikat bunga.
Apa yang Arato dapat lakukan? Tidak ada. Dia lemah, tidak berguna. Tubuh kurus Lacia kini diselimuti oleh bunga – bunga itu…
Ketakutan semakin membuat Arato menggila. Tapi tetap saja, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
“Tolong… tahan sebentar, maukah kau…”
Dia menggertakkan giginya dan mengangkat tangannya.
Gadis itu menundukkan kepalanya sedikit. Arato membersihkan rambut ungunya dengan tangan kosongnya dari bunga – bunga yang ada di kepalanya. Kelopak bunga itu jatuh ke tanah.
Dia melakukan sesuatu yang berguna bagi gadis itu. Arato telah membantunya. Semangatnya kembali lagi.
“Aku pikir aku dapat melakukan sesuatu untuk membantu, paling tidak aku bisa berusaha.”
Gadis itu telah menyelamatkannya, dan Arato telah mendapatkan semangatnya kembali.
Tentu saja gadis itu adalah hIE, jadi tentu saja gadis itu tidak akan berpikir hal yang sama. Walau begitu, Arato merasa terisi kembali.
“Ayo keluar dari sini!” dia menarik tangan Lacia kembali, dan kali ini gadis itu tidak menolak. Arato mendapatkannya, Arato merasakan sesuatu yang begitu hangat dari tangannya. “Kau adalah Interfacer bukankah begitu, Lacia? Bisakah kau menghubungi polisi atau yang lainnya?”
Sekarang Arato dapat dengan jelas menyadari bahwa hujan bunga itu hanya mengarah pada mereka. Daerah lainnya yang di malam itu sama sekali tidak tersentuk oleh bunga itu. Saat mereka berlari, Arato melihat kearah belakang dan toko yang ia kunjungi tadi, sama sekali tidak tersentuh oleh bunga – bunga itu. 
Meskipun bunga – bunga itu berjatuhan tapi bunga itu hanya mengejar mereka.
“Bahkan jika aku menghubungi polisi, mereka tidak akan mampu melumpuhkan musuh,” kata Lacia. Dia tidak memiliki paru – paru tentu saja, jadi bahkan ketika dia berlari sambil membawa kota besar itu, dia tidak terganggu dengan hal itu, dan dia bisa berbicara dengan tenang.
Meski Arato berpikir jika mereka berlari untuk keselamatan mereka, Arato tetap merasa senang. Mungkin karena dia memegang tangan Lacia ketika ia berlari.
Mereka berlari menelusuri jalanan kota di tengah malam. Dunia yang sangat ia kenal, kecuali di bagian dimana mereka diserang oleh bunga – bunga yang begitu mematikan.
Mereka berlari kesana kemari, sampai Arato sendiri tak tahu lagi kemana mereka harus pergi. Dia hanya tahu jika dia sedang berlari dengan orang ini—bahkan dia bukan ‘seseorang’—dan yang dia tahu dari dirinya hanyalah namanya, dan dia hanya berlari secepat yang ia bisa. Dan kemudian, saat dia melihat kebelakang kearah Lacia, gadis itu membenahi rambutnya dan berkata:
“Tuan Arato. Apakah Anda percaya pada saya?”
Lacia tentu saja bukan hIE yang biasa. Mungkin dia entah darimana terhubung dengan hujan bunga ini.
“Aku percaya padamu!” Arato mengatakannya dengan keras malam itu, di tengah rasa was – wasnya. 
Bukan sebuah hal yang benar untuk dilakukan—bukan juga hal yang keren untuk diucapkan—untuk meragukannya seperti itu.
Arato menggenggam tangannya begitu erat saat dia berlari di jalanan yang baru saja ia lewati beberapa menit yang lalu dengan Ms. Marie. Arato tahu jika ia terus berlari seperti ini, dia bisa sampai di apartemennya dimana adik perempuannya tengah menunggu dirinya.
Arato berhenti sejenak, dan di saat yang tepat, sebuah mobil hampir menabrak dirinya.
Beruntung Lacia berhasil menyelamatkannya. Karena hal itu, Lacia sekarang berada di atas tubuh Arato yang terbaring di tanah, berhadapan muka, di atas tanah.
“Tuan Arato Endou. Saya memiliki sebuah permintaan untuk Anda, Tuan.”
Di atas, bulan yang begitu putih menerangi malam itu.
Dibawah, Lacia melihat lurus kepada Arato dengan wajah yang serius.
“Apakah Anda mau menjadi Masterku?”
Arato sadar jika rasa hangat yang ia rasakan sekarang di jaketnya adalah berasal dari bagian belakang Lacia yang menyentuh perut Arato saat dia menganggkanginya. Arato sadar jika tubuh Lacia basah kuyup. Tetesan air jatuh dari rambutnya, menetes di jaketnya dan berkumpul di kepala Arato. Seperti air mata.
“Master? Maksudmu, seperti, pemilikmu?” tanya Arato.
“Ya, Tuan. Menurut pandangan saya, Anda adalah pemilik saya yang pertama,” kata gadis itu.
Arato tidak tahu darima Lacia mengambil kesimpulan seperti itu. Tentu saja itu keputusan yang benar-benar besar ketika mereka berada dalam kejaran bahaya.
“Bukankah itu tidak terlalu buru – buru? Maksudku, kau bahkan tidak tahu sama sekali tentangku.”
Untuk beberapa alasan, Arato berpikir jika adiknya dan temannya, akan merasa bersalah karena mengambil keputusan ini tiba – tiba saja.
“Memang tidak banyak, kecuali jika Anda percaya pada saya,” kata gadis itu.
Tubuhnya yang basah menekan bagian atas Arato, ketika gadis itu membuat Arato untuk mengambil sebuah jawaban.
Lacia telah menyelamatkannya dari kobaran api mobil yang terbakar itu. Dan dia telah memilih untuk tetap bersama dengan Lacia, untuk berlari menghindari serangan bunga – bunga itu.
“Baiklah kalau begitu,” kata Arato.
Meski Lacia bukanlah manusia, dan meski Lacia lebih kuat dari dirinya, Arato tetap merasa jika dia harus melindunginya.
“Dengan izin Anda, Tuan, persetujuan Anda sepenuhnya dicatat. Dengan demikian, kontrak yang mengikat kepemilikan akan mulai berlaku sekarang.” Gadis cantik itu meletakkan tangannya di atas bahu Arato. “Tidak ada hal yang perlu Anda lakukan untuk mencegah kekuatan saya, Tuan. Hanya ada satu hal yang saya inginkan dari Anda.”
Arato tidak begitu mengerti apa yang dibicarakannya. Ia hanya melihat gerak bibirnya saja.

“Saya hanyalah sebuah alat, Master. Sebuah alat tidak bisa bertanggung jawab dengan hal yang dia lakukan. Sebagai master, Anda harus bertanggung jawab atas segara tindakan saya.”
Terdengar sebuah ledakan, sekeras suara petir. Benda seperti peti mati yang dibawa Lacia tertanam di tanah dan menahan diri dari sebuah mobil yang melaju kearah mereka. Ban belakang mobil itu berputar begitu kencang dan kemudian berasap. Peti mati hitam itu, begitu tertanam dalam di tanah, dan meski sedan mewah itu berusaha begitu keras untuk mendorongnya, benda itu tetap tidak bergerak dari tempatnya.
“Sekarang saya akan memverifikasi status Anda. Tuan. Setelah verifikasi selesai, tolong konfirmasi lagi kontrak Anda dua kali.”
Lacia menahan tangan kanan Arato dan membantunya. Dia mengarahkan jari telunjuknya ke bagian lehernya, dimana ada semacam kunci yang mengunci pintunya.
Dia memasukan jarinya kedalam lehernya.
“Tuan, Arato Endou, Anda terdaftar sebagai pemilik resmi dari kelas Lacia humanoid Interface Element Type-005. Unit hIE dan Black Monolith sekarang beroperasi secara otomatis, dan sebagai pemilik baru, pemilik bertanggung jawab penuh dan menerima konsekuensi dari segala tindakan mereka. Apakah Anda setuju, Tuan?”
“Tentu.” Jawab Arato.
Rambut gadis itu memantulkan cahaya kemilau biru. “Sekarang saya akan mensahkan data kepemilikan bagi pemilik saya yang baru. Data ini akan didaftarkan sebagai data publik dan segala tindakan saya yang melanggar hukum akan langsung dipertanggungjawabkan di dalam peradilan. Anda diharuskan menyetujui kontrak ini untuk mengeluarkan seluruh kemampuan saya.”
“Tentu,” Arato menjawabnya lagi.
Ada sebuah suara yang menderu – deru yang berasal dari seragam Lacia, dan suara metal yang terkunci telah dilepaskan. Sebuah sinar berwarna merah terang memancar. Sebuah cahanya biru pucat keluar dari bagian depan device itu.
Arato dapat mendengar suaranya yang memenuhi seluruh area yang ada disekitarnya. Cahaya biru yang menerangi seluruh area itu menunjukkan jika Lacia dan Arato benar – benar telah dikelilingi oleh bunga-bunga itu. Jika memang mereka akan diserang, maka usaha untuk menghentikan mereka elah membuat musuh menyiapkan serangan mematikan.
Bunga mematikan itu jatuh dari langit seperti hujan, tapi Lacia hanya terfokus untuk berbicara pada Arato. 
“Untuk menetralisir serangan unit yang menyerang kita, saya menyarankan untuk mematikan seluruh transmisi elektromagnetik di area ini, Tuan. Menurut saya, ini adalah cara yang terbaik untuk mengurangi dampak kerusakan dan mencegah korban jiwa.”
Ini semakin menjadi aneh bagi Arato. Dan dari posisinya yang bersandar di tanah, jauh disana, dia bisa melihat sesosok monster merangkak mendekatinya, menggunakan tubuh Ms. Marie dan menyeretnya dengan roknya.
Makhluk itu semakin mendekati dirinya, merangkak sepanjang jalan, tubunya tercerai – berai tapi tetap bisa bergerak, dan tubuhnya disatukan dengan bunga – bunga itu. Benda aneh itu, yang memiliki bentuk yang begitu cantik mendekatinya semakin dekat setiap detiknya.
“Lakukan! Hentikan benda itu!” teriak Arato.
“Baiklah, Master, tapi tolong mengertilah untuk menggunakan bahan metamaterial untuk tembakan omnidireksioanal akan menghentikan seluruh sambungan telekomunikasi dalam area ini. Ada risiko jika ternyata ada manusia yang hidup dengan alat bantuan.” Lacia melihat ke arah Arato, yang berusaha menyakinkan Arato. Matanya menunjukkan kehangatan sekaligus begitu mematikan. “Anda adalah orang yang bertanggung jawab penuh atas segala aksi saya, Tuan.”
Arato tidak berada dalam kondisi di mana dia bisa mencerna pernyataan ini. Yang dia tahu hanyalah bahwa dia diberikan bebang tanggung jawab di bahunya yang begitu besar.
“Tuan, saya membutuhkan keputusan segera, tolong. Apakah anda mengizinkan serangan, dan menerima tanggung jawab yang tidak kecil ini dengan mempertaruhkan nyawa orang lain dalam bahaya?”
Lacia bertanya pada Arato. Arato tidak begitu mengerti tentang apa yang dikatan Lacia, tapi besarnya makna dari—tanggung jawab, nyawa, risiko—diserahkan padanya. Dia sudah siap.
Dan juga, Arato telah mengatakan bahwa dia mempercayai Lacia.
“Lakukan!” Arato memberikan perintah. Lacia mengangguk.
Kotak hitam besar itu menggema dan membuat tanah terbuka. Kemudian benda itu terbuka menjadi bagian-bagian hitam yang begitu tipis, berputar dan menderu, seperti pohon metal yang menyebarkan dahannya.
Dan kemudian dalam sekejap apa yang dilihat Arato berubah. Bunga – bunga itu menghilang begitu saja, mimpi buruk itu telah berakhir, dan kota kembali menjadi seperti biasa.
“Semua itu…. hilang.” Kata Arato. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sambil melihat sekelilingnya. Meski suara yang ia dengar beberapa saat yang lalu kini benar – benar telah hilang.
“Kenapa benda itu semua?” tanya Arato.
“Cukup sederhana, Tuan. Kami melapisi serangan dengan sebuah index film negatif metamaterial, dan dengan melakukan hal itu membuat semua benda itu menghilang dari semua frekuensi dalam jangkauan tertentu. Tindakan ini membuat unit berada dalam kondisi de faktoquarantine dari sinyal komando dan dari semua gelombang radio, secara efektif menetralkan semuanya.”
“Erm, itu terlihat tidak mudah bagiku…” kata Arato. Dia meletakkan tangannya di tanah dan membantu dirinya untuk berdiri, dan merasakan telapak tangannya begitu kering. Arato menelan ludahnya, dengan reflek menarik tangannya. Melawan rasa mualnya, Arato mencoba dirinya untuk merasakan sekitarnya. 
Dengan dorongan dari dalam tubuhnya, dia menyadari bahwa dia bisa merasakan sesuatu yang tak terlihat yang begitu banyak bergelimang di sekitar tempat mereka berdiri.
Kelopak bunga itu masih ada disini. Tapi yang membuatnya berbeda adalah bahwa Lacia, entah bagaimana membuat mereka semua menghilang. Cahaya menembus benda – benda itu, sinyal yang mengkontrol bunga-bunga itu kini tak bisa menggapainya lagi, dan bunga – bunga itu kini benar – benar telah lumpuh.
Pasti ada sepuluh ribu dari mereka, paling sedikit, dan mereka semua dihilangkan dalam sekejap. Arato tidak bisa membayangkan bagaimana Lacia telah mampu mengatasi semua ini dengan tetap menjaga emosi tenangnya.
Angin bertiup. Tiupan angin mengantarkan ribuan bunga tak terlihat itu terbang ke seluruh bagian kota.
Tubuh Arato bergetar begitu kencang sampai dia berpikir jika jantungnya bisa berhenti kapan saja. Arato bukanlah seorang yang jenius, tapi dia tahu jika sesuatu yang biasa dari gadis ini. insting hewannya memberitahunya untuk kabur, menjauhi makhluk – mahkluk itu.
“Makhluk macam apa ini? Dia benar – benar luar biasa…” instingnya yang berbicara padanya. Ragu, takut, gadis itu begitu berbahaya.
Lacia berdiri seakan tidak terjadi apapun.
Arato melihatnya, dan sejenak ia seakan melihat seekor makhluk buas raksasa dari aura gadis itu.
Tapi ilusi itu hilang perlahan, dan dia kini tidak terlihat menakutkan, tapi justru terlihat begitu cantik.

Beatless Chapter 1 Phase 3 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.