04 September 2017

Hyouka Jilid 4 Bab 3 LN Bahasa Indonesia


HANTU, KETIKA DIPERIKSA
(Translater : Nala; Editor : Hikari)

Bagian 1
Aku sering mendengar perkataan, "Semua hantu, ketika diperiksa, hanyalah bunga-bunga yang layu." Tetapi, pada era modern ini, orang-orang tidak dapat mengerti maksud perkataan ini bahkan setelah melihatnya di kamus, bunga yang layu terkadang dianggap sebagai hantu, dan penampilan dunia ini tak lebih dari sebuah bunga yang layu. Mungkin akan sulit bagi kita untuk menyadari hantu yang asli jika itu tetap mempertahankan wujud aslinya.
Aku mengatakan hal itu di dalam bis yang sedang melintasi jalan pegunungan pada bulan Agustus, ketika matahari musim panas masih begitu terik. Fukube Satoshi, yang duduk disampingku menganggukan kepala.
"Menarik. Penolakan ide metafisik yang pantas, dalam bentuk gurauan. Itu sangat cocok denganmu, Houtarou."
Ibara, yang duduk di depan, berputar ke belakang menghadap kami, meski tidak ada yang memamanggilnya. Dia menganggkat alisnya.
"Aku tidak suka cara berpikir yang seperti itu. Sepertinya aku bukan tipe yang menggunakan kepalaku untuk semua hal."
 Aku mendengar reaksi mereka itu, aku menarik nafas dan berseru.
"Hey, aku tidak mengatakan hal semacam itu!"
Aku sebenarnya berniat membicarakan topik tentang legenda urban seperti UFO dan Nissie, atau dalam kata lain, topik yang sedang dibicarakan banyak orang. Seperti, aku ingin membicarakan peristiwa yang di TV kemarin, "Melapor dari lokasi kejadian! Kebenaran di balik belut raksasa Danau Haman, Hussie!" Ungkapanku mungkin terkesan tidak langsung, tapi bukan berarti aku menyalahartikannya dengan sengaja. Ketika aku baru saja ingin membela diri, Chitanda yang memakai gaun dan duduk di samping Ibara, menoleh ke belakang dan tersenyum.
"Aku juga penasaran dengan sifat asli dari bunga layu."
Tampaknya semuanya sudah salah paham. Aku tidak begitu ingin memaksa yang lain untuk mengerti perkataanku, jadi aku memilih untuk diam.
Ada empat anggota Klub Sastra Klasik SMA Kamiyama.
Dan kenapa seluruh Anggota Klub Sastra Klasik berada di satu bus yang melakukan petualangan di jalan yang bergunung ini? Jawabannya adalah, tentu saja, tujuan dari bus ini. Pemberhentian terakhir, Desa Zaizen, adalah desa yang terletak di ngarai terkenal dengan mendaki dan juga pemandian air panas. Aku tidak ingin mendaki, jadi setelah berdiskusi, kami memilih pergi ke sana untuk pemandian air panas.
Suara mesin bis semakin berisik bersamaan dengan jalan yang semakin curam.

Bagian 2
Saat itu adalah libur musim panas pada bulan Agustus, dan beristirahat saat libur benar-benar cocok dengan keyakinanku. Tetapi, terima kasih kepada Ketua Klub Sastra Klasik, Chitanda, aku harus pergi ke pemandian air panas.
Selama libur musim panas ini, kami semua bekerja sama memecahkan yang Satoshi sebut sebagai "Peristiwa Hyouka", dan sangat penting bagi Chitanda. Setelah berhasil memecahkan misteri ini, dia berterima kasih, dan untuk membalas pertolongan kami, dia merencanakan sebuah perjalanan ke pemandian air panas ini. Tetapi sebenarnya, aku hanya ingin tetap tinggal di rumah, dan aku tentu tidak akan setuju dengan rencananya, tapi entah kenapa pertahananku runtuh, dan akhirnya sudah diputuskan aku harus berpartisipasi.
Perjalanan menuju Desa Zaizen memakan waktu satu setengah jam dari kota Kamiyama menggunakan bis. Kami tidak perlu membayar, karena keluarga Ibara menjalankan sebuah penginapan, karena mereka sedang merenovasi dan tidak menerima pelanggan, mereka membiarkan kami menginap secara gratis.
Aku tidak begitu lemah dengan kendaraan, tetapi karena jalan yang terlalu curam, aku langsung terkena mabuk kendaraan. Setelah itu, kami dijemput di tempat pemberhentian bis dengan mobil oleh keluarga Ibara dan akhirnya kami sampai di Seizansou. Aku duduk menghadap jendela di kamarku dan menikmati pemandangan, yang mengurangi mabuk kendaraanku.
Kamar ini berukuran dua belas tatami, dan terlalu luas untukku dan Satoshi. Aku membuka jendela yang paling besar, dan terkejut melihat gunung yang begitu dekat, yang tertutup dengan dedaunan. Ada begitu banyak uap di sana-sini, mungkin berasal dari pemandian air panas. Di sepanjang jalan, terdapat beberapa penginapan lain dan rumah-rumah. Aku juga bisa melihat sekolah yang lebih jauh lagi. Karena ada beberapa murid, sekolah dasar digabungkan dengan SMP. Aku bukan orang yang memiliki sensitifitas yang tinggi, tapi aku tidak begitu dingin hingga tidak bisa merasakan apapun ketika berpergian.
"Kamar ini memiliki pemandangan yang bagus, huh?"
Suara Satoshi terdengar dari belakang. Aku menjawab tanpa menghadap ke arahnya,
"Aku rasa ini tidaklah begitu buruk. Mungkin aku terlalu banyak meminta, tapi akan lebih baik jika datang sendiri."
Satoshi terkekeh.
"Houtarou, bepergian sendiri? Jangan bercanda, kau bukan tipe orang yang akan melakukan hal elegan seperti pergi ke pemandian air panas secara sukarela. Jangan lupa kau bisa berada di sini karena Chitanda yang merencanakannya dan Mayaka meminta bantuan keluarganya."
Selama Satoshi bicara, aku hanya diam dengan wajah cemberut. Yang memiliki lidah paling tajam adalah Ibara, tapi kata-kata fasih Satoshi juga bisa menghina. Yang membuatnya semakin buruk adalah kata-katanya memang benar. Bahkan tidak mungkin aku akan berpikir untuk pergi kemari sendiri.
Karena itu aku harus berterima kasih kepada Chitanda karena membuatku pergi ke Desa Zaizen dan menikmati pemandangan yang indah ini.
Aku mendengar langkah kaki di koridor, dan tak lama kemudian, terdengar suara ketukan.
"Makan malam!"
Itu adalah suara Ibara.
Lalu suara Chitanda, yang terdengar seperti dia meniru Ibara.
"Waktunya makan malam!"
"Dengar, kan? Ayo!"
Seperti yang diminta, aku meninggalkan tempat di dekat jendela tadi. Walau bukanlah hal yang buruk untuk pergi ke pemandian air panas, aku merasa tidak enak mengingat mereka akan bersamaku setiap waktu. Ada bau keju yang tercium di koridor. Makan malamnya mungkin adalah stew atau gratin, dan kemungkinan terbesarnya adalah cheese fondue. Ya, mungkin itu. Aku menarik nafas panjang.
Seizansou terdiri dari dua bangunan: Pertama bangunan gabungan, yang saat ini sedang kami gunakan, dan yang kedua adalah bangunan utama, yang saat ini sedang direnovasi.
Dua bangunan ini memiliki ukuran yang hampir sama dan dihubungkan dengan jalan terusan. Jika kau melihat penginapan ini dari atas, akan terlihat seperti huruf Ko. Tiap bangunan memiliki dua lantai dan dibuat dari kayu; lantainya akan berbunyi ketika diinjak. Dan hanya ada satu tangga dalam seluruh penginapan. Kamar Chitanda dan Ibara berada di paling belakang di lantai dua, sedangkan kamarku dan Satoshi berada di satu kamar sebelahnya. Kamar-kamar luas itu bisa menampung kami berempat, atau bahkan dua kali lipat, dan masih memiliki sisa ruang, tapi begitulah.
Tangga sedikit curam, jadi aku harus benar-benar berkonsentrasi saat menuruni anak tangga.
Harusnya ada ruang makan di lantai satu bangunan utama, tapi ruangan itu sedang direnovasi. Jadi kami makan malam di ruang bergaya Jepang di lantai satu bangunan gabungan. Aku membuka pintu geser yang terdapat lukisan gunung Fuji, dan melihat Chitanda, Ibara, dan dua bersaudara itu sudah duduk di tempat masing-masing.
Chitanda dan Ibara duduk berlawanan dengan dua bersaudara itu, dan tempat duduk di depan dan di belakang kosong. Mereka belum memulai makan malam mereka; Tampaknya mereka semua menunggu kami, sama seperti mendikte etiket. Aku duduk di kursi bantal terdekat, dan Satoshi duduk dengan tanda kehormatan. Meski tidak ada yang memperhatikan gaya duduk mereka saat ini.
Meja ini terasa lumayan sempit untuk menampung kami berenam. Di meja, kebalikan dari dugaanku, ada salad sayuran, Shishamo, daging babi, dan sup miso dengan tofu dan lobak. Nasi sudah disiapkan di dalam mangkuk kayu. Jelas ada wangi keju. Dari mana itu berasal? Aku kembali mencium wangi ruangan ini dan bersuara,
"Apa Cheesecakenya di panggang?"
"Ah, bagaimana kau tahu?"
Gadis dengan rambut yang dibelah tengah menyeringai. Bantal yang ia duduki sangat rendah, tapi dia termasuk pendek melebihi rata-rata. Dengan kacamata tanpa framenya, mata besar, dan senyum gembiranya, dia memberi kesan orang yang  sangat antusias. Dia memakai Kaos T-Shirt dan celana denim selutut. Ketika bersama Ibara, mereka akan benar-benar terlihat seperti saudara, tapi mereka memang memiliki ikatan darah. Dan yang lebih jauh lagi, mereka juga memakai pakaian yang sama.
Ngomong-ngomong, penampilan Ibara tidak berubah sedikit pun sejak sekolah dasar. Dia akan terlihat seperti adik perempuan ketika bersama dengan siapa pun, tapi aku tidak bisa mengatakan itu secara langsung.
Gadis yang ceroboh dan suka bergaul itu adalah satu dari dua bersaudara di Seizansou, Zenna Rie.
"Keren! Itu seperti yang dikatakan Maya-neechan!"
Apa yang kau katakan, Ibara!
Di samping Rie, ada gadis dengan rambut dikuncir kuda duduk dengan sopan. Jika diperhatikan, dia adalah seorang yang pemalu. Tampaknya dia belum terbiasa dengan kehadiran kami. Aku penasaran apa dia cocok berada di dalam keluarga yang menjalankan sebuah penginapan.
Bahkan jika aku mengabaikan sifat pemalunya dan penampilannya yang terlihat lemah, dia benar-benar tidak mirip dengan kakaknya. Aku melihat mereka berdua berdiri secara bersamaan, dan aku menyadari mereka memiliki tinggi yang sama. Meski lengan baju panjangnya terlihat tipis, dia tetap terlihat hangat memakainya di tengah musim panas. Dia akan segera masuk SMP tahun depan, tapi dia memiliki tinggi yang sama dengan Rie, yang akan memasuki tahun kedua di SMP. Dia pasti tumbuh lebih cepat dari anak seusianya. Namanya adalah Zenna Kayo.
"Selamat makan!"
Kata Ibara, yang bertingkah lebih seperti tuan rumah daripada tamu. Semua orang memisahkan sumpit mereka dan mulai mengambil makanan. Chitanda menepuk tangannya dan berdoa, seperti biasanya. Orang tua si dua bersaudara sedang tidak ada; mereka mungkin makan di bangunan utama, karena ruangan ini tidak bisa lagi menampung orang.
Yang pertama adalah sup Miso, yang aku hirup dalam waktu yang lama. Itu sangat lezat, seperti yang diharapkan. Selanjutnya, aku mencoba Shishamo. Itu mungkin bukan benar-benar Shishamo, tapi aku tetap menyukainya karena itu memiliki tekstur yang lezat.
Rie sangat tertarik dengan kehidupan SMA Ibara dan terus menanyakan tentang hal itu. Di sisi lain, Kayo dengan gugup mencoba menanyakan nama Chitanda. Satoshi dapat bergabung dengan percakapan mereka dengan mudah sambil tersenyum, sedang aku hanya akan menyumpitkan makananku dalam diam, menikmati Shishamo yang sudah lama tak kurasakan.
"... Dan, lalu itu seperti ini..."
Rie, yang larut dalam percakapan, mulai menggambar di udara hampa dengan sumpitnya. Sebenarnya itu tidak patut dilakukan saat makan, tapi aku harusnya tidak perlu khawatir dengan gaya disiplin keluarga lain.
Rie mengambil sendok besar yang berada di mangkuk salad sedangkan Kayo berusaha mengambil daging babi. Karena mereka berdua bergerak dalam waktu yang sama, tangan Rie menyenggol tangan milik Kayo. Sumpit Kayo, yang terdapat sepotong daging babi, jatuh menghantam mangkuk sup miso. Aku yang menyaksikan, mencoba memperingati mereka, tapi terlambat.
Sup tertumpah ke sana kemari. Kayo mendecit.
"Ah!"
"Aah, apa yang kau lakukan!"
Rie mengerutkan dahi tidak suka sambil mengomel. Dari sudut pandangku, mereka berdua sama-sama salah, tapi...
"Ma-maaf, Onee-chan!"
Kayo meminta maaf, dan berusaha menggapai lap meja. Tapi karena itu terlalu jauh, Chitanda mengambilkannya.
"Ini dia."
"Te-terima kasih."
Rie menyuruh  Kayo untuk lebih berhati-hati lain kali. Setelah Kayo membersihkan sup yang tumpah tadi, aku kembali menyumpit lebih banyak Shishamo. Sebenarnya aku ingin merasakan sayur-sayuran dari pegunungan, tapi aku tidak ingin meminta lebih.

Bagian 3
Setelah menikmati Cheesecake buatan Rie sebagai hidangan pencuci mulut, kami pun melakukan aktifitas kami sendiri-sendiri. Aku kembali ke kamarku, tapi Satoshi,  yang harusnya sudah kembali kemari sejak tadi, tidak ada di sini. Apa dia  pergi ke pemandian air panas?
Karena aku sedang sendiri, aku mengambil manga yang kusimpan di tas ransel yang biasa kugunakan. Satoshi mengatakan bahwa manga yang menceritakan tentang masa perang sangat menarik, jadi aku meminjamnya. Memang benar, itu digambarkan dengan sangat realistis dan berbagai emosi manusia, dan digambar dengan sangat mendetail, jadi dapat dengan mudah dibaca. Satoshi benar-benar memiliki selera yang menarik.
Ceritanya dimulai dengan penyerangan Oda Nobunaga pada Klan Asakura. Nobunaga hampir mendapatkan kemenangan saat dia menerima hadiah dari adik perempuannya. Itu adalah kantong yang diikat dengan kacang adzuki di dalamnya. Setelah melihat ini, Nobunaga mengumumkan, "Ini menandakan kita telah terjebak seperti tikus! Azai telah mengkhianati kita!" itu adalah saat ketika saudari Nobunaga, yang telah menikah dengan keluarga Azai, memberitahu kakaknya tentang keadaan sulit kakaknya.
Itu membuatku bertanya-tanya bagaimana Nobunaga dapat mengetahui bahwa dia dikhianati hanya dengan pertanda sebuah kantong, tapi tetap saja aku berpendapat ini adalah cerita yang bagus. Akankah kakak perempuanku menolongku saat aku sedang kesulitan? Itu hal yang pantas untuk dilihat.
Setelah membaca kira-kira setengah jam, mataku terasa lelah, jadi aku berhenti. Pencahayaan di ruangan ini terasa sangat suram, yang mungkin normal untuk hotel, tapi tidak untuk penginapan.
Apa yang bisa kulakukan selain membaca manga? Ada TV di dalam kamar ini, tapi itu akan membuat mataku lebih sakit lagi.
Dan akhirnya, aku mempunyai banyak waktu yang harus dihabiskan. Jika aku merasa tidak ada yang perlu dilakukan, biasanya aku hanya akan berbaring dan tidur, tapi karena kamisedang berada di pondok pemandian air panas, aku rasa aku juga harus ikut ke sana. Aku mengambil handuk yang sudah disediakan di kamar, dan berjalan menuju koridor. Tepat saat itu aku bertemu Chitanda.
"Ah, kau ingin pergi ke mana?"
Chitanda juga sedang membawa handuk.
"Ke tempat yang sama denganmu."
"Tampaknya tidak ada kamar mandi campuran disini."
"Tidak ada yang mengatakan hal itu."
Kami berjalan bersama, suara sandal kami bergantian dengan suara derak lantai kayu. Setelah berpikir untuk beberapa saat, Chitanda bertanya,
"Mungkin ini sedikit aneh jika aku menanyakan ini, tapi kakakmu orang yang seperti apa?"
Apa? Ini benar-benar aneh.
"Kakakku, huh? Jika dilihat dari beberapa sisi dia sangat aneh, tapi bagi penglihatan orang lain dia adalah seorang yang jenius. Aku ragu jika aku dapat melakukan sesuatu lebih baik darinya."
"Ah."
"Meski aku tidak terlalu peduli... Kenapa bertanya tentang kakakku tiba-tiba? Apa ini karena Zenna bersaudara?"
Chitanda mengangguk. Dan dengan malu dia menjawab dengan suara yang pelan.
"Sebenarnya, aku selalu ingin memiliki saudara. Kakak perempuan atau adik laki-laki. Bukankah itu luar biasa jika memiliki seseorang yang bisa kau andalkan dan akan selalu berada disisimu selamanya?"
Aku sedikit kagum dengan kata-katanya tadi, dan aku hanya mengangkat bahu daripada menjawab. Tampaknya nona muda ini memiliki kecenderungan untuk berharap terlalu tinggi kepada orang lain. Dan apakah dia juga percaya adanya hantu?
Pada gedung tambahan terdapat pemandian yang seperti pemandian air panas, tapi rupanya sempit seperti kamar mandi. Menurut perkataan orang lain, terdapat pemandian di dekat sini, jadi kami segera menuju ke sana. Aku memang percaya dengan paham menghemat energi, tapi aku tidak akan menolak kamar mandi yang lebih luas hanya karena harus berjalan tiga sampai dua menit.
Setelah keluar dari Seizansou, kami menuruni sebuah lereng. Dan terdapat pemandian, yang akan terlihat setelah melewati belokan, dan diatur oleh penginapan atau hotel di area ini. Ada seorang wanita tua di kasir sedang menghitung uang, tapi dia membiarkan kami masuk ketika kami mengatakan bahwa kami tamu di Seizansou.
Akhirnya Chitanda dan aku berjalan ke arah yang berbeda. Itu akan menjadi masalah yang serius jika kami tidak melakukannya.
Ruang ganti ternyata lebih kecil dari dugaanku. Aku tidak melihat orang lain, tapi tampaknya sudah ada orang di dalam sana, karena sudah ada pakaian di dalam keranjang di samping kakiku. Jika diperhatikan lebih dekat, aku mengenali celana yang berada di dalam keranjang. Orang yang sedang berada di dalam mungkin adalah Satoshi.
Aku memasuki pemandian air panas setelah membuka pakaian ku. Area pemandian dibuat dengan batu tiruan sehingga terlihat seperti pemandian air panas yang alami, dan lebih luas dari yang kubayangkan. Airnya berwarna putih dan beruap, memberikan penampilan sebuah pemandian air panas yang sesungguhnya daripada air panas biasa. Areanya dikelilingi dengan pagar bambu yang tinggi, jadi aku tidak mendapatkan pemandangan Desa Zaizen yang bagus. Tapi, aku rasa akan sangat merepotkan jika orang-orang bisa mengintip ke dalam karena pagarnya yang pendek. Aku mengambil air menggunakan keranjang, dan menyiramkannya ke tubuhku, dan dengan cepat masuk ke dalam air.
Temperatur airnya sangat pas. Aku berjalan menuju hiasan yang berada di tengah-tengah dan mendapati sebuah batu yang besar. Aku menyentuh batu itu, dan terasa seperti batu yang asli.
Aku bisa melihat bayangan seseorang di antara kabut. Itu mungkin adalah Satoshi. Aku melambaikan tangan, dan bayangan itu terlihat lesu melambaikan tangan kembali. Dia berenang menggunakan gaya dada, menuju ke arah ku. Saat itu, aku menyandarkan tubuhku ke batu, dan tubuhku dari dagu sampai ke bawah terendam ke dalam air.
"Houtarou! Akhirnya kau datang! Pemandian ini sangat hebat! Rasanya seperti mengalir di dalam tubuhku!"
"Ketika darahmu dilemahkan oleh air itu sangat berbahaya."
"Itu ada hubungannya dengan tekanan osmotik, bukan? Sangat membosankan. Tapi, setidaknya kau menikmatinya."
Setelah itu, aku tetap diam, sedangkan Satoshi juga diam menikmati air panasnya. Aku dapat mendengar seseorang masuk ke dalam air. Mungkin itu Chitanda.
Saat itu adalah sore hari. Cahaya matahari sore perlahan-lahan menghilang, dan malam perlahan-lahan muncul. Bintang-bintang mulai bercahaya, kehangatan air panas tiba-tiba memenuhi seluruh tubuhku, dari waktu ke waktu. Aku merasa mengantuk, mungkin karena kelelahan pada saat di bis.
Sebelum aku sadar, Satoshi sudah keluar dari air untuk menyiram tubuhnya, sedang aku masih berendam di dalam air.
Pandanganku menjadi gelap...
Mm.
Aku tidak bisa bergerak?

Bagian 4
Aku benar-benar harus berterima kasih kepada Satoshi karena membawaku kembali ke penginapan dengan selamat. Jika aku sedang sendirian, aku mungkin akan berurusan dengan rumah sakit, dan hidupku bisa dalam bahaya. Saat aku kembali ke Seizansou di bantu dengan Satoshi, aku melihat Ibara berteriak.
"Apa yang terjadi, Oreki!"
Aku sedang tidak berada dalam kondisi bisa menjawab. Satoshi pun yang menjawab.
"Dia merasa pusing karena berendam di air panas."
"......"
"Ini sangat menyedihkan. Dia berada di sana tidak lebih lama dariku, tapi saat aku melihat ke belakang, dia hampir saja tewas."
Ibara memijit pelipisnya.
"Oreki, kau sangat..."
Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku. Aku dibawa ke dalam kamar, sedangkan Ibara meletakan futon dan membuka jendela. Aku berbaring di atas futon dan menarik nafas panjang.
"... Maaf tentang ini, kalian berdua."
"Tidak apa-apa."
"Hanya saja kau sangat menyedihkan...kau seperti ditakdirkan untuk tidak pernah menikmati sesuatu."
Setelah itu, mereka berdua keluar. Sama seperti yang dikatakan Ibara, aku memang menyedihkan. Aku mungkin bukan seseorang yang kuat, tapi aku merasa sedikit percaya diri dengan kemampuan fisikku. Tapi aku masih saja merasa mabuk ketika perjalanan kemari.
Ketika aku berbaring sambil menutup mataku, seseorang masuk ke dalam. Dari aroma samponya, aku langsung yakin bahwa itu adalah Chitanda. Dia berlutut  sampingku dan bersuara.
"Oreki-san...kau baik-baik saja?"
"Tidak."
"Apa harus kubawakan handuk?"
Handuk dengan air dingin bisa membuatku merasa lebih baik, tapi aku tidak ingin meminta bantuan Chitanda.
"Tidak, tidak perlu. Maaf karena telah membuat kekacauan pada perjalanan yang telah kau rencanakan ini."
"Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, kami akan bercerita cerita hantu. Apa kau ingin bergabung?"
Aku tersenyum dengan lemah. Bukankah itu adalah gaya lama untuk menghabiskan malam pada libur musim panas? Aku sedikit merasa tertarik, tapi mustahil bagiku untuk bergabung.
Aku membuka mataku dan mendapati wajah Chitanda sangat dekat dengan wajahku. Nona muda ini memiliki rasa ruang personal yang lebih sempit dari orang kebanyakan. Yang bisa kulihat hanya pipi kemerahannya dan rambut berkilaunya, dan basah. Aku langsung memalingkan wajahku.
"Ah, aku hanya ingin tidur."
"Baiklah jika begitu. Aku harap kau merasa lebih baik."
Pintu ditutup, meninggalkan hanya bau sampo.
Aku melihat jamku, dan melihat jam yang bahkan belum sampai jam 8.
Aku dapat mendengar suara aneh dari arah jendela. Aku berpikir sejenak, dan menyimpulkan bahwa itu adalah suara katak. Terdengar suara taiko dengan ritme tertentu. Apalagi, karena kita berada di dataran tinggi, aku bisa mendengar suara serangga, walaupun belum bulan Agustus.
Lalu...
Setelah beberapa lama, suara teriakan Rie mencapai telingaku. Tampaknya jendela di kamar sebelah juga terbuka. Aku tidak terlalu memperhatikan, tapi aku dapat menangkap kata-katanya dengan jelas...
"Kau tahu penginapan ini di bagi menjadi bangunan utama dan bangunan gabungan, kan? Sebenarnya, kami tidak memerlukan bangunan gabungan ini. Ada rahasia kenapa bangunan ini didirikan
"Beberapa waktu yang lalu, ketika nenekku yang menjalankan penginapan, seorang pelanggan yang suram datang untuk tinggal. Dia ditempatkan di kamar tujuh di bangunan utama. Entah kenapa, dia mengatakan, 'Aku tidak memerlukan makanan atau pelayanan kamar. Menjauhlah.' Tapi dia telah membayar, dan saat itu adalah musim yang sibuk, dan kondisinya dapat diterima.
"Lalu, malam itu, suara yang menusuk bergema di seluruh penginapan. Nenek terkejut dan berlari keluar. Salah satu tamu yang sedang berjalan-jalan mencari angin di luar menunjuk ke arah kamar tujuh dan mengatakan ada bayangan lelaki yang di gantung dan tertiup angin... Ternyata lelaki itu telah menggelapkan uang perusahaan dan melarikan diri.
"Setelah kejadian itu, tamu-tamu yang menginap di kamar tujuh juga mengatakan hal yang sama. Mereka mengatakan ada sesuatu di kamar dan mereka juga melihat bayangan. Dan tamu kesembilan yang menginap di sana menderita penyakit yang tidak diketahui tempat tengah malam!
"Itulah kenapa nenek meminta pengusiran setan. Tetapi, dia merasa tidak cukup, jadi dia membangun bangunan gabungan ini untuk menghentikan rumor yang menyebar. Kau bisa melihat kamar tujuh di seberang sana dari jendela ini. Itu adalah kamar paling jauh di lantai dua. Kami tinggal di lantai satu, dan kami dilarang untuk mendekati lantai dua...
"Cerita ini adalah rahasia besar. Jangan membicarakan hal ini di depan pelanggan lain, ok?"
Aku tertawa kecil di dalam futon. Itu benar-benar gaya lama.
Aku ingin tidur dengan nyaman, jadi aku memutuskan untuk keluar dari futon dan menutup jendela. Aku masih bisa menahan panas.
Aku rasa aku melihat bayangan di halaman saat aku berurusan dengan jendela. Tetapi, aku tidak menggubris bayangan apa itu, dan aku kembali masuk ke dalam futon dan tidur nyenyak hingga pagi.

Bagian 5
Aku membuka mataku perlahan-lahan. Menurut jamku, waktu telah menunjukkan pukul delapan. Wow, aku sudah tidur selama kira-kira dua belas jam. Kepalaku masih terasa sedikit sakit, tapi aku rasa bukan karena pemandian air panas kemarin, tapi karena aku terlalu lama tertidur.
Aku menyadari Satoshi yang sedang tertidur di sampingku. Aku mencoba untuk tidak membangunkannya, selagi aku membereskan segala urusan pribadiku. Aku turun menuju lantai satu sambil memegang kepalaku, yang terasa masih sedikit sakit.
Rie dan Kayo sudah berada di ruang tamu, tapi sarapan belum berada di atas meja. Aku baru saja akan menanyakan tentang keberadaan Ibara dan Chitanda selagi mereka berdua memasuki ruangan.
Ibara bersikap aneh. Dia menempel ke lengan baju milik Chitanda. Lalu dia menatap kami dan berkata,
"Itu, itu muncul..."
Aku mencoba memikirkan maksud dari pemandangan ini. Apa yang muncul?
Ibara berjalan mendekati Rie dan mengatakan dalam satu tarikan nafas,
"Angin hangat yang lewat membangunkanku. Saat aku melihat ke arah luar, di kamar di seberang dari kamar kami, aku melihat bayangan lelaki yang tergantung, seperti ini!"
Haha, ini benar- benar kuno... Sangat jarang untuk melihat Ibara panik seperti ini. Sayang sekali kau tidak ada disini untuk melihatnya, Sotoshi.
Kayo membawakan teh hangat kepada kami. Saat aku baru saja ingin mengambil satu cangkir aku mendapati nama Rie tertulis di sana, jadi aku mengambil yang lain. Aku pikir Kayo juga menulis namanya di cangkir miliknya, tapi aku tidak menemukan cangkir yang terdapat namanya.
Rie tersenyum dan mengatakan,
"Aku tidak tahu jika kau takut pada cerita hantu seperti itu, Maya-neechan!"
"Bukan berarti aku takut pada hantu, dan aku tidak memiliki alasan untuk membenci mereka. Tapi saat kau melihat hal semacam itu, itu sangatlah mengganggu!"
Kayo, yang saat itu sedang memegang teko, terlihat kaku.
"Maya-neechan, kau melihat itu?"
"Ya. Aku melihatnya. Aku benar-benar melihatnya!"
"Onee-chan! Kau menceritakan itu kepada mereka? Ayah mengatakan untuk tidak membicarakan itu dengan orang lain!"
"Oh, diamlah. Tidak apa-apa, kan? Ini hanya Maya-neechan."
Selagi Ibara dan Zenna bersaudara membicarakan cerita hantu itu, aku menoleh ke arah Chitanda, yang saat itu sedang berdiri sedikit jauh dari kami, dan mata kami bertemu.
Chitanda memasang ekspresi yang terlihat kesulitan dan tampaknya dia sedang sedih karena sesuatu. Menurut pengalamanku di masa lalu, dia mungkin ingin mengatakan sesuatu. Aku berbicara dengan suara pelan.
"Ada apa?"
Dia menjawab.
"Er... Apa pendapatmu tentang cerita Mayaka-san?"
"Bayangan itu, huh?"
Aku tersenyum.
"Ini sangat standar, bisa juga di sebut klise, cerita-cerita tetap hidup karena mereka adalah bagian penting dari hidup. Sama seperti waktu itu..."
"Waktu itu?"
"Ah, lupakan."
Aku menelan kata-kataku di akhir. Aku hampir saja mengatakan "Sama seperti waktu itu ketika Satoshi bercerita tentang tujuh misteri". Itu juga sangat klasik, klise, dan kuno. Dan tentu saja, itu juga menggunakan kekuatan sugesti. Entah kenapa, aku tidak ingin menggali lebih jauh lagi cerita itu. Khususnya di depan Chitanda.
Karena aku menghentikan perkataanku tiba-tiba, Chitanda memperhatikan wajahku dengan rasa penasaran. Ini buruk, aku pikir, tapi aku bersyukur, perhatian Chitanda sepenuhnya berada di bayangan itu.
"... Jadi, apa kau pikir apa yang Mayaka-san katakan itu benar?"
"Tidak."
Saat aku menjawab, Chitanda terlihat tambah kesulitan dan memiringkan kepalanya dengan perasaan ragu.
"Jadi aku juga sudah salah paham."
"Hm? Apa maksudmu?"
Karena suatu alasan dia memelankan suaranya dan berbisik di telingaku.
"Aku juga melihat itu. Bayangan yang di lihat oleh Mayaka-san."
Saat itu tidak diketahui jam berapa. Ketika Ibara bangun, Chitanda juga. Dia membuka matanya, dan melihat bayangan lelaki yang tergantung di dalam gelap.
"Tetapi, saat aku bangun, aku masih merasa sedikit termangu. Itulah mengapa aku berpendapat aku hanya salah lihat, tapi jika Mayaka-san juga melihat hal yang sama..."
"Oh."
Jika yang melihat itu hanya Ibara ataupun Chitanda. Aku dapat menyimpulkan itu hanyalah mimpi. Tetapi, karena mereka berdua melihat hal yang sama di waktu yang bersamaan, aku tidak bisa membantah adanya kehadiran bayangan itu. Aku mengganti teoriku yang keliru tadi dan mengatakan,
"Kau mungkin melihat benda lain. Seperti yang dikatakan Satoshi kemarin, 'Hantu, ketika diperiksa...'"
"... Hanyalah bunga yang layu?"
Tapi Chitanda tidak merasa puas dengan jawaban itu. Matanya melihat ke atas, lalu menatapku langsung ke mataku. Matanya terlihat dipenuhi dengan semangat, menunjukkan dia sangat penasaran dengan misteri yang satu ini.
"Jika benar begitu, apa yang sebenarnya kulihat?"
Sebelum aku sadar, Ibara ternyata sudah berada tepat di samping kami.
"Itu benar. Jika kau mengatakan kami salah melihat saja, maka katakan apa yang sebenarnya kami lihat. Bukankah kau hanya seorang pengecut karena membantah bayangan yang aku dan Chii-chan lihat hanya karena kau tidak melihatnya?"
... Kenapa kau harus memanggilku pengecut?
Chitanda dan Ibara terus menerus menatapku. Berdasarkan pengalaman di masa lalu, karena  sudah menjadi seperti ini, maka semuanya sudah terlambat.
"Tentu saja, aku tidak akan meminta Oreki-san untuk menyelesaikan ini sendirian. Ayo selidiki ini bersama-sama."
Chitanda membuat keputusan secara sepihak tanpa memalingkan tatapannya.
Aku tidak menjawab, aku tidak ingin mencoba sesuatu yang tidak mungkin, tapi bukankah aku memiliki hak untuk menghela nafas karena situasiku saat ini? Seperti meledak-ledak untuk yang terakhir kali, Chitanda berseru.
"Aku penasaran!"
Setelah sarapan daing asap dan telur, sup dan kaldu sayuran, kami kembali ke lantai dua. Kami melewati Satoshi, yang saat itu sedang menuruni tangga. Dia tidak mengetahui peristiwa semalam, tapi itu tidak masalah. Dia memiliki kaleiodoskop pengetahuan yang tidak relevan, tapi aku rasa hal itu tidak akan berguna dengan yang satu ini.
Ibara sudah berjanji untuk membantu Rie menyelesaikan PR libur musim panasnya.
"Maaf karena aku tidak bisa membantu. Semoga beruntung, aku rasa."
"Serahkan saja kepada kami! Kami akan membongkar kebenaran di balik misteri ini! Benar kan, Oreki-san?"
Aku tidak begitu yakin.
Apapun yang terjadi, jika aku harus melakukannya, akan kuselesaikan dengan cepat. Aku membiarkan Chitanda masuk ke kamarku, di mana aku akan menanyai detailnya. Ada dua kursi dan satu meja kecil di dekat jendela, kami pun duduk di sana. Lalu...
"Apa kau melihat bayangan itu di kamar tepat di seberang kamarmu?"
Aku bertanya sambil membuka jendela dan melihat ke arah bangunan utama.
"Ya, itu benar."
"Seberapa besar."
"Ingatanku terasa sedikit kabur, jadi aku tidak begitu yakin, tapi kira-kira seukuran dengan manusia. Bentuknya... Maaf, aku tidak bisa ingat. Setelah mendengar cerita dari Mayaka-san aku berpendapat bahwa bayangan itu berbentuk manusia."
Suara Chitanda menjadi pelan saat  menceritakan kembali  kejadian semalam. Tampaknya dia tidak begitu yakin. Selain rasa penasarannya, Chitanda memiliki kemampuan untuk mengobservasi sesuatu dan memori yang kuat, rasa tidak yakinnya saat ini menunjukkan dia sangat lelah tadi malam. Tapi, karena aku tidak melihat bayangan atau apapun itu yang dilihat Chitanda, aku hanya bisa mengandalkan memori Chitanda, tidak peduli sekabur apapun itu. Aku melanjutkan.
"Apa warnanya?"
"Aku tidak tahu. Bukan berarti aku tidak ingat, tapi karena itu hanya sebuah bayangan."
Aku mencoba membayangkannya, tapi tidak bisa. Kata "bayangan"  masih begitu samar.
"Sebuah bayangan, huh. Dengan kata lain, ada sumber cahaya, dan kamu melihat ada bayangan manusia berlawanan dengan cahaya, kan?"
"Jika yang kami lihat bukan hal yang mistis, Aku rasa itu benar."
"... Sumber cahaya."
Aku menoleh ke arah bangunan utama lagi.
"Sumber cahaya saat malam hari pasti nya adalah bulan..."
Suaraku dipenuhi dengan keraguan.
"Aku rasa juga begitu. Bulan terlihat lebih besar tadi malam. Tapi sesuatu terlihat... Ah."
Chitanda yang melihat ke arah bangunan utama, menaikkan suara nya. Bulan maupun sumber cahaya lain, tidak bisa menciptakan bayangan. Semua pintu dan jendela di bangunan utama tertutup.
"Chitanda, kau tidur jam berapa?"
"Er, sekitar jam sepuluh. Kami semua sudah lelah, dan aku memiliki janji dengan Mayaka-san untuk mandi pagi ini, jadi kami tidur lebih awal."
"Bagaimana keadaan pintu dan jendela di bangunan utama saat itu?"
"Aku rasa tertutup. Tapi aku tidak yakin, tapi bangunan utama saat itu sangat gelap."
"Hm."
Jika semuanya tertutup, maka tidak mungkin akan ada bayangan. Ini menjadi percekcokan. Aku mengacak-ngacak rambutku. Ini sangat merepotkan, tapi aku rasa kita harus pergi langsung ke kamar tujuh, di mana bayangan itu terlihat.
Chitanda berkata dengan senyuman.
"Bagus! Ini benar-benar seperti misteri! Karena kesenangan yang seperti ini, aku senang aku merencakan perjalanan ini!"
Hanya kau yang menikmati ini.
Kami bisa dengan mudahnya pergi ke bangunan utama melalui jalan penghubung. Tetapi, ada tali pembatas di akhir jalan, dan terdapat tulisan "Yang tidak memiliki hubungan dengan konstruksi di larang masuk". Chitanda terlihat ragu-ragu untuk menerobos. Aku rasa akan buruk jika kami terkena teguran. Kami harus meminta persetujuan dari pemilik penginapan ini.
Tetapi, jika kami mengatakan kepada pemilik penginapan bahwa kami sedang menyelidiki tentang bayangan tersebut, itu akan buruk untuk Rie. Dia sudah mengatakan kepada kami untuk tidak membicarakannya kepada orang lain. Jika kami menginginkan persetujuan, kami harus memintanya dari salah satu Zenna bersaudara.
Beruntung, tepat saat itu, Kayo datang. Saat aku memintanya untuk berhenti, badannya seketika menjadi tegang, tapi dia menjadi lebih tenang saat melihat Chitanda di sampingku.
"Ya, ada apa?"
Aku menatap Chitanda.
"Eh?"
"Aku mohon urus yang ini."
Aku tidak cocok berurusan dengan anak kecil.
"Baik. Kayo-san, kami ingin masuk ke bangunan utama, apa tidak apa-apa?"
"Bangunan utama? Kenapa?"
"Aku rasa kau sudah mendengarnya tadi pagi, tapi kami sedang menyelidiki bayangan yang aku dan Mayaka-san lihat. Bisakah kau menunjukkan jalan ke kamar tujuh?"
Aku mengerti kejujuran adalah hal yang baik dan kau suka mengatakan suatu masalah langsung ke intinya, tapi kata-katamu harus sedikit dibereskan, Chitanda. Seperti yang diduga, Kayo menggelengkan kepalanya.
"Maaf, tapi aku tidak bisa melakukannya. Onee-chan... Akan marah kepadaku."
Ya, ini tidak akan berhasil. Jika di pikir-pikir, sulit untuk meminta izin seseorang untuk memasuki rumahnya hanya karena rasa penasaran. Aku langsung menyerah untuk menyelidiki kamar tujuh secara langsung, dan menanyakan sesuatu.
"Jika begitu mohon jawab ini. Apa kamar itu masih digunakan untuk menginap?"
Sebenarnya aku tidak tertarik dengan itu, tapi aku menanyakannya dengan sedikit paksaan, Kayo berjalan mundur dan mengerutkan dahinya, tapi dia masih menjawab pertanyaanku.
"Tidak. Tamu hanya menggunakan kamar mandi dan ruang makan di bangunan utama."
"Ok..."
"Lantai dua digunakan untuk penyimpanan... Bisa aku pergi sekarang?"
Aku mengangguk.
"Terima kasih. Kau sangat membantu."
Tapi Kayo berbalik dan berlari begitu saja sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Aku melipat lenganku dengan sedikit perasaan sedih.
"Sepertinya dia tidak menyukaiku."
Tapi Chitanda hanya tersenyum.
"Jangan khawatir, aku yakin dia hanya takut dengan pria yang lebih tua darinya. Itu sangat imut! Ah, memiliki seorang adik perempuan akan sangat hebat!"
Dia berkata dengan penuh gairah. Hm, imut, huh?
Matahari semakin meninggi, dan bertambah panas. Aku mengusap keringatku di dahi dengan punggung tanganku. Chitanda dengan sifatnya manusia super yang tahan panas, terlihat tenang.
"Apa ada masalah jika kita tidak masuk kamar tujuh?"
"Tidak juga."
Aku berjalan menuju pintu masuk bersama Chitanda. Karena kami tidak bisa memeriksa kamar itu dari dalam, aku memilih memeriksa dari luar. Aku bersandar untuk melepaskan sepatuku di pintu masuk yang bisa di gunakan untuk para tamu dan keluarga Zenna, saat Chitanda bersuara,
"Ah, ini mengingatkanku!"
Yang Chitanda temukan adalah dua kartu kehadiran senam radio di rak sepatu. Satunya adalah milik Rie, yang tertulis namanya dengan huruf besar, sedang yang satunya, yang tidak tertulis nama, mungkin adalah milik Kayo. Kartu kehadiran Rie terlihat banyak kosongnya untuk liburan musim panas ini. Di sisi lain, Kayo melakukan senam tiap pagi, tanpa gagal.
Chitanda mengambil dua kartu itu.
"Senam radio pagi... Aku tidak melakukan ini sejak dua tahun lalu!"
Kau tetap melakukan ini hingga tahun kedua di SMP... Serius?
Aku tidak pernah melakukan ini kecuali saat aku masih sangat muda. Sebenarnya sejak kapan aku memutuskan untuk menjadi  seorang penghemat energi?
Kami berjalan menuju kebun dan seketika di kelilingi dengan bau lembab dan bau sayur-sayuran.
Kami mengarahkan pandangan ke kamar tujuh. Jendela masih tertutup. Chitanda menyuruhku untuk pergi ke belakang bangunan, saat aku berjalan, tanpa sengaja aku menendang sebuah genangan air.
"Oops."
Lumpur dari air yang kutendang tadi terlempar langsung ke kaki Chitanda dan mengotori sepatunya.
"Maaf."
"Tidak apa-apa."
Tanah masih berlumpur karena bangunan gabungan menutup sinar matahari. Aku pikir sebagian air disini di gunakan untuk tanaman, tapi aku rasa bukan. Aku menyadari bahwa area yang terdapat cahaya matahari sudah hampir kering, berarti sudah lama waktu yang terlewati saat tanah menjadi basah untuk pertama kali. Aku bertanya,
"Chitanda, apa kemarin malam hujan?"
"Ya. Aku tidak tahu kapan tepatnya, tapi ada hujan lewat."
Kami berjalan mengitari bangunan utama. Ini adalah ideku untuk menyelidiki kamar tujuh dari sisi lain, tapi semua jendela tertutup. Jendela timur dan barat harus terbuka untuk menciptakan sebuah bayangan.
Saat aku melipat lenganku, Chitanda juga melipat tangan nya, seperti dia sedang memikirkan sesuatu.  Aku baru saja ingin menanyakan Chitanda tentang teorinya dan jendela di depan kami di buka dan Kayo berbicara.
"Um... Ini waktunya untuk makan siang."
Aku mengecek jam tanganku. Memang benar, ini hampir menjelang sore hari. Saatnya untuk beristirahat.
Menu makan siang adalah ramen dingin, yang terasa sangat lezat. Bukan berarti kami harus menahan temperatur yang tinggi di sini, tapi aku benar-benar menyambut rasa yang segar ini. Kami berenam duduk mengitari meja. Ibara bertanya sambil menggerakkan sumpitnya.
"Jadi, apa kau menemukan sesuatu?"
"Belum..."
Aku berbicara setelah Chitanda.
"Kami baru saja mulai memeriksa kamar itu. Tapi aku sudah memiliki teori."
"Oh? Aku ingin mendengarnya."
Ini sangat sulit untuk dijawab, karena pemikiranku masih sangat samar dan sulit untuk disimpulkan. Aku tidak menjawab, tapi Satoshi menggerutu dengan penasaran.
"Apa yang kalian bicarakan? Kita sudah bersama untuk waktu yang lama, dan kalian tega untuk meninggalkanku?"
Protes yang berlebihan, seperti yang diharapkan dari Satoshi. Aku tidak ingin membuang waktu menjelaskan ini kepadanya, jadi aku menjawab dengan sebuah pertanyaan.
"Meninggalkanmu atau tidak, dari mana saja kau? Aku tidak melihatmu seharian ini."
"Kau harusnya menggunakan pemandian air panas dua kali setiap hari, kapan pun kau mau."
Jadi begitu? Aku rasa aku tidak berani pergi ke sana setelah kejadian semalam.
Aku bahkan belum menyelesaikan setengah makananku tapi tiba-tiba dua orang menepuk tangan dengan tiba-tiba.
"Terima kasih makanannya."
"Terima kasih makanannya."
Mereka adalah si dua bersaudara, Rie dan Kayo. Rie mengambil piringnya sendiri dan berjalan menuju bangunan utama. Setelah beberapa saat Kayo mengikutinya dari belakang. Chitanda tersenyum senang saat melihat adegan tadi. Mungkin dia menganggap hal itu sesuatu yang manis.
"Pasti menyenangkan jika memiliki saudara. Aku benar-benar iri kepada mereka."
"Oh? Apa kau berharap memiliki seorang saudara?"
"Tidak, aku tidak akan sejauh itu hingga berharap seperti itu. Apa kau memiliki saudara, Fukube-san?"
Satoshi pun mulai berbicara tentang adik perempuannya. Aku pernah sekali bertemu dengannya, tetapi dia hanyalah seseorang yang aneh dan tidak mau bergabung dengan masyarakat. Hal yang sama dapat dikatakan kepada kakakku.
Kami menyelesaikan makan siang kami sambil membicarakan topik itu. Pada saat itu, Rie, yang tadi pergi ke bangunan utama, kembali.
Dengan sebuah "Ta-da", Rie kembali dengan memakai yukata. Itu bukan semacam yukata yang di gunakan setelah mandi yang melelahkan dan tidak menyenangkan, tapi yukata yang dipakai untuk berjalan-jalan di festival kembang api. Warna  biru mudanya bisa dikatakan warna air, dan gambar ombak dan juga burung laut yang disulam di yukata itu terlihat lumayan keren. Rie terlihat begitu bangga dengan itu.
"Bagaimana pendapatmu?"
"Wow!" Chitanda bersorak.
"Ini cantik!"
"Ya, ini benar-benar cocok denganmu. Kau terlihat dewasa saat memakainya."
Rie tersenyum lebar karena dipuji.
"Orang tuaku membelikan ini pada awal libur musim panas karena nilaiku meningkat. Ayo pergi ke festival kembang api malam ini! Aku sudah melakukan banyak persiapan!"
Saat mereka bertiga sedang terpikat dengan yukata itu, Satoshi melirikku dan berbicara dengan suara yang hanya bisa di dengar olehku.
"Itu memang terlihat cantik."
Mengetahui cara bicara Satoshi yang berputar-putar, aku langsung mengerti maksud ucapan nya. Aku berbisik kepadanya.
"Lalu, apa yang tidak bagus?"
"Obinya. Obi seperti memberi kehidupan pada yukata itu sendiri, tapi yang satu itu adalah imitasi."
Aku melihat ke arah yukata itu lagi. Ikatan pita kupu-kupu di bagian belakangnya memang terlihat menggantung dengan aneh, tapi perkataan Satoshi sudah keluar dari topik pembicaraan.
"Kenapa kau menyebut itu sebagai radioaktif?"
"Aku bilang 'imitasi', bukan 'mutasi'... Pita kupu-kupu harusnya adalah bagian yang terpisah dari obi. Mungkin mudah untuk di tempelkan, tapi itu bukan filosofiku untuk menyebut itu yukata."
Siapa yang peduli dengan filosofimu? Itu hanya akan terlihat oleh mata yang tajam saja, jika tidak maka tidak ada yang bisa membedakannya. Sungguh bodoh, pikirku sambil menguap dan menggaruk.
Tapi tepat saat itu.
"... Hmm?"
Aku merasakan kehadiran seseorang. Aku menoleh dan melihat lagi ke arah pintu yang terbuka.
Tapi aku tidak melihat siapa-siapa. Itu aneh, aku yakin aku melihat bayangan seseorang melintas. Apa aku juga terkena kutukan bayangan yang tergantung itu?
"Ada apa?"
Aku mengabaikan pertanyaan Satoshi.
Bayangan seseorang, huh.
Aku pun beranjak pergi. Akan bagus jika aku bisa menemukan ruangan yang tenang untuk berpikir. Aku menyadari Chitada yang sedang mengikutiku. Aku ingin memintanya untuk berhenti, tapi tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalaku. Bagaimana jika kita pergi ke pemandian kemarin? Aku berputar ke arahnya dan mengatakan hal ini kepada Chitanda, yang tersenyum sambil mengangguk.
Di jalan menuju pemandian, aku tetap diam sambil mengumpulkan semua pemikiranku. Menyadari keadaanku, Chitanda pun juga ikut diam.
Bayangan yang tergantung. Itu hanyalah bunga yang layu, sesuatu salah dilihat oleh Chitanda dan Ibara. Itu akan sulit, tapi mungkin mereka tidak akan keberatan jika aku menyimpulkannya seperti itu. Entah kenapa, ada sesuatu yang hilang...
Kami sampai di pemandian yang masih buka. Sebelum berpisah Chitanda mengatakan.
"Ayo kembali ke penginapan bersama-sama."
Aku tidak bisa menjawab.
Ketika aku melewati kasir dan memasuki ruang ganti, aku merasakan deja vu. Aku langsung mengerti mengapa. Itu karena penempatan benda sangat sama dengan yang kemarin malam. Sepasang pakaian dan celana cargo berada di dalam keranjang di samping kakiku. Mungkin itu milik Satoshi. Tapi ini lebih misterius daripada bayangan yang tergantung. Bukankah Satoshi masih berada di penginapan saat kami pergi kemari? Apa dia bisa teleportasi?
Saat aku masuk ke dalam pemandian, aku melihat Satoshi telah berendam di dalam air, seperti yang  kuduga. Aku tetap diam di tempat sambil melihat Satoshi, yang tetap menyadari kehadiranku meski dia tidak melihatku dengan jelas. Lalu dia menoleh ke belakang dan menjelaskan tentang kehadirannya disini.
"Jika kau meluncur dari lereng di samping Seizansou, kau akan langsung sampai di sini."
Aku tidak begitu terkejut mendengar itu. Itu benar-benar gaya Satoshi meluncur dari lereng hanya untuk mendapatkan jalan pintas.
Aku pun masuk ke dalam air. Aku mengelap kepalaku dengan handuk, mencoba menghilangkan rasa pening di kepala, meski itu tidak berhasil. Untuk masalah menjengkelkan yang ditemui Klub Sastra Klasik, dengan kata lain pertanyaan yang dibawa Chitanda, jawabannya harus bisa diterima oleh Chitanda. Tapi sekeras apapun aku berpikir, aku tidak bisa membuat penjelasan yang bisa membuat Chitanda puas.
Satu-satunya hal yang hilang adalah alasannya. Wujud asli dari bayangan itu mudah disimpulkan, tapi jika aku tidak bisa menjelaskan kenapa itu bisa berada di situ, maka sulit untuk menjelaskan itu kepada Chitanda. Tapi sebenarnya aku memikirkan sesuatu.
Aku melintasi ingatanku tanpa kata-kata. Melihat aku yang tak bergerak seinci pun dan mengingat kembali kejadian semalam, Satoshi memecahkan kesunyian.
"Houtarou? Apa kau merasa pusing lagi?"
Satoshi, huh? Mungkin dia mengetahui sesuatu. Aku mencoba bertanya kepadanya.
"Hey, apa ada sesuatu yang terjadi kemarin malam?"
Satoshi terlihat terkejut dengan pertanyaanku yang tiba-tiba, tapi senyum nya yang biasa kembali.
"Kejadian kemarin malam yang paling penting tentu saja saat kau pingsan di pemandian air panas ini."
"Aku sangat berhutang budi padamu, tapi aku tidak akan berterima kasih lagi. Ada yang lain?"
"Seperti yang kau tahu, kami bercerita tentang cerita hantu kemarin malam. Aku memegang bunga di tiap tanganku, dan satu bunga cadangan lagi."
Bunga, huh. Ketika semua sudah jelas, Chitanda adalah bunga teratai dan Ibara adalah bunga yang berduri.
"Bukan, maksudku bukan yang seperti itu. Apa kau tahu dengan yang umum?"
"Hmm, aku tidak yakin tentang hal itu, karena aku bukan berasal dari sini... Tapi, yang kutahu ada festival yang diselenggarakan. Kau tidak mendengar suara taikonya?"
Festival musim panas.
Begitu, jadi ada yang seperti itu... Seperti yang kupikirkan, ada festival musim panas.
Satoshi biasanya akan menyadari wajah puasku dengan jawabannya dan dia akan mengejekku. Tapi, setengah wajahnya terendam ke dalam air, dan matanya terlihat mengantuk, jadi dia tidak menyadari apapun. Aku akan menjawab jika dia menanyakan sesuatu, tapi aku rasa Satoshi tidak ingin menanyakan apapun. Aku keluar dari air.
Aku memakai pakaianku dan keluar, tapi Chitanda belum keluar dari pemandian. Sensasi panas dan dingin membantuku menyatukan semua pemikiranku selagi aku menunggu Chitanda. Setelah beberapa lama, Chitanda keluar, dan kami pun pergi.
Di jalan kembali ke penginapan, aku memulai percakapan dengan Chitanda.
"Bayangan yang kau lihat malam itu... Hanyalah yukata yang digantung di hanger."
"Eh?"
Chitanda terlihat terkejut dengan jawabanku. Aku menunggunya mencerna kata-kataku, dan aku melanjutkan.
"Itu adalah hal yang mungkin jika kau melihat yukata seperti bayangan seseorang, meski kau sedang tidak mengantuk. Jika itu bukan hantu, itu pastinya adalah semacam pakaian yang berayun di atap, bukan?"
Chitanda terdiam seketika, lalu memiringkan kepalanya, menunjukkan seperti dia tidak menerima teori itu.
"Tapi kenapa yukata harus digantung di sana? Bukankah itu aneh jika seseorang membuka jendela hanya agar kami melihatnya bergantungan seperti itu?"
"Itu bukan agar kau bisa melihatnya."
Aku mencuri pandang ke atas langit dengan singkat.
"Tetapi untuk dikeringkan. Yukata itu basah. Jendela dibiarkan terbuka agar angin dapat masuk dan akan lebih cepat kering.”
“Kenapa?”
“Yukata itu basah karena hujan.”
“Tidak, maksudku kenapa itu digantung dikamar tujuh?”
“Agar tidak ada yang melihat itu sedang dikeringkan.”
“Tapi kami melihatnya!”
“Tidak, itu agar tidak ada satupun keluarganya yang melihat itu.”
Aku tidak membuat kemajuan apa pun. Aku menggaruk kepalaku.
Akhirnya, aku menjelaskan teoriku dari awal.
“Orang yang menggantung yukata itu adalah Kayo.
“Kayo merasa iri dengan yukata milik Rie dan dia ingin memakainya. Tetapi, secocok apa pun yukata itu pada Kayo, itu tetap milik Rie, dan aku yakin Rie tidak akan meminjamkannya. Tidakkah kau sadar? Rie menulis namanya dicangkir dan di kartu senam radionya, untuk memastikan semua orang tahu bahwa itu miliknya. Dia adalah seorang yang posesif. Dan yang lebih jauh, Kayo takut kepada Rie dan tidak mungkin meminta Rie meminjamkan yukata itu kepadanya.
“Tapi Kayo masih ingin memakainya, jadi dia mengambilnya secara sembunyi-sembunyi. Tapi sayangnya, obinya terlepas dan dia harus memasangnya sendiri. Lalu, karena dia adalah anak dari pemilik penginapan, membersihkan yukata yang telah dia pakai adalah keahliannya. Ngomong-ngomong, dia memakainya saat festival musim panas semalam, sekitar jam delapan. Dia mungkin bersenang-senang.”
“Kayo-san pergi ke festival? Bagaimana kau tahu?”
“Satoshi mengatakan bahwa semalam ada festival. Aku tahu Kayo pergi kesana, karena aku melihat seseorang meninggalkan halaman penginapan semalam. Kayo tidak ikut ketika kalian bercerita cerita hantu, kan?”
Pagi ini, Kayo menyalahkan Rie karena Rie menceritakan bayangan tergantung itu. Jika semalam Kayo bersama dengan Rie saat Rie menceritakan itu, dia tidak akan mengatakannya hanya pada pagi harinya. Lebih lagi, menurut Satoshi, hanya terdapat tiga gadis saat itu. Pada kalimatnya, dia memiliki dua bunga ditiap tangannya, dan satu cadangan.
“Aku rasa begitu. Saat Kayo sedang bersenang-senang difestival, dia terkena masalah.”
Chitanda menarik nafas.
“Hujan pun turun.”
“Dilihat dari keringnya tanah, hujan hanya turun dalam waktu singkat, tapi yukata itu benar-benar basah. Pada saat itu Kayo ingat Rie punya rencana untuk pergi melihat kembang api. Tidak ada keraguan lagi bahwa Rie akan memakai yukata untuk itu. Kayo harus menemukan cara untuk mengeringkan yukata itu secepatnya. Dia mungkin sangat ketakutan.
“Tetapi, jika dia mengeringkannya di lantai satu pada bangunan utama, seseorang mungkin akan melihatnya, dan dia tidak mungkin melakukannya di bangunan gabungan. Dia juga tidak bisa menggunakan pengering karena sudah larut malam. Jadi, dia menunggu semua orang tertidur, lalu menyelinap ke lantai dua untuk mengeringkan yukata itu, di kamar terjauh.
“Tapi nasib buruk kembali menimpanya. Dengan jendela yang terbuka, cahaya bulan membuat yukata itu terlihat seperti bayangan orang yang tergantung untukmu dan Ibara. Karena cahaya bulan datang dari barat, berarti telah lewat tengah malam, sekitar jam tiga atau empat pagi.
“Dan yang lebih buruk, kita berdua mulai menyelidiki bayangan itu. Baru-baru ini, saat makan siang, si dua bersaudara itu menyelesaikan makanan mereka dengan cepat. Rie ingin memamerkan yukatanya, tapi Kayo... Dia merasa seperti tertancap duri.”
Aku melanjutkan langkahku setelah menjelaskan teoriku. Saat itu, aku ingat Kayo terlihat tegang saat berbicara denganku. Pasti ini alasannya. Dia pasti merasa sangat ketakutan.
“Kayo mengembalikan yukata itu di pagi hari. Masih sangat pagi... Tepat pada waktunya, kau dapat mengecek jadwal senam radio, karena Kayo rajin mengikuti senam pagi. Dia mungkin mengembalikannya sebelum itu.”
“.....”
“Aku rasa kita harus merahasiakan ini dari Ibara. Jika Rie sampai mengetahui hal ini, itu akan buruk bagi Kayo. Kau tidak akan tahu apa yang akan terjadi.”
Chitanda menundukkan kepalanya dan berjalan.
Saat kami berjalan dijalan lurus, dan melewati belokan, Chitanda bersuara tanpa mengangkat kepalanya.
“Tapi... Itu artinya mereka berdua tidak akur.”
Itu adalah hal yang tidak kusadari. Mengabaikan kebingunganku, Chitanda melanjutkan.
“Mereka yang tidak bisa meminjamkan yukata satu sama lain, hubungan mereka tidak bisa dianggap begitu dekat.”
Dia berbicara sambil memberikanku senyum tipis. Bibirnya memang melengkung tersenyum, tapi masih menunjukan perasaan sedih. Ini bukan pertama kalinya aku melihatnya seperti ini.
Aku memberanikan diri untuk bersuara.
“Bukankah itu adalah hal yang normal, untuk saudara? Seperti kakakku...”
“Aku...”
Sepertinya dia tidak mendengar kalimatku barusan. Itu lebih seperti dia berbicara kepada dirinya sendiri.
“Aku selalu menginginkan saudara. Seorang kakak yang bijak, atau adik yang imut..”
Kami berjalan dengan memakai yukata. Musim panas belum berakhir. Terlihat awan yang besar didepan mata kami, dan terasa sedikit sedih saat awan itu menghilang.
Saat kami hampir sampai dipenginapan, akhirnya Chitanda melanjutkan kalimatnya.
“Tapi sekarang aku mengerti bayangan itu bukanlah hantu. Dan aku juga mengerti tidak semua kakak-beradik merasa bahagia...”
Aku tidak ingin mendengar lebih banyak lagi soal ini. Tapi aku bersyukur, Chitanda tidak melanjutkannya lagi.
Kami menaiki lereng yang curam dan dikelilingi tumbuhan hijau. Aku sudah tahu dari awal. Saudara yang dimaksud Chitanda mirip dengan hantu. Jika kau memeriksanya lebih dekat, itu berubah menjadi bunga layu.
Selagi uap panas menembus tubuhku, yang terendam didalam air panas beberapa saat yang lalu, mulai berkeringat. Terdapat figur seseorang yang berbalik menghadap kami diatas bukit. Saat kami berjalan lebih dekat, kami melihat figur itu berubah menjadi Rie, yang sedang melambaikan tangan dengan semangat.

Hyouka Jilid 4 Bab 3 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.