25 Agustus 2017

Hyouka Jilid 4 Bab 2 LN Bahasa Indonesia


MELAKUKAN SEBUAH DOSA BESAR
(Translater : Nala)

Bagian 1
Kami belajar tentang sejarah Cina di Kelas Sejarah kami. Sayangnya, aku sudah tahu banyak tentang hal itu, jadi aku merasa sangat bosan. Namun, aku tidak tertarik untuk untuk menggambar-gambar pinggiran buku catatanku, atau melempari teman sekelasku dengan kertas untuk bergurau. Lagipula, aku tidak memiliki hobi apapun, bisa dikatakan membosankan, ataupun hanya tertarik dengan hal yang umum saja. Selagi mengabaikan penjelasan tentang taktik garis horizontal dan garis vertikal aliansi yang melelahkan, aku merefleksikan keberuntungan tidak memiliki apapun untuk dilakukan dan bermalas-malasan.
Sejak SMA Kamiyama adalah sekolah yang fokus mempersiapkan murid-murid untuk belajar ke jenjang yang lebih tinggi, sebagian besar murid disini sangat bagus dalam belajar. Suara guru tua itu bergema didalam kelas yang hening. Suara garukan terdengar ketika kapur mengenai papan tulis. Saat itu adalah jam pelajaran kelima, mungkin aku akan terserang kantuk. Hari itu adalah hari yang cerah pada bulan Juni musim hujan. Dan demikian, kehidupan SMA ku menjadi sia-sia. Aku mengetuk-ngetuk pensil mekanisku. Bukan berarti aku ingin menulis sesuatu, tetapi karena ujung isi pensil yang digunakan untuk menulis tidak keluar. Aku tidak menyadari bahwa itu telah rusak. Akupun mengambil cadangannya di tempat pensil, dan memegangnya dengan ibu jari dan juga telunjukku. Daripada memasukannya dari belakang, aku mencoba memasukannya lewat depan. Lalu mencoba mendorongnya masuk.
Tiba-tiba, keheningan tadi pecah.
Terdengar suara yang berbahaya. Itu terdengar seperti bambu yang memukul benda keras. Aku sangat terkejut. Semua rasa kantukku menghilang dan cadangan ujung isi pensil HB yang kupegang tadi patah menjadi dua. Sia-sia sekali. Oh, mungkin aku masih bisa memakainya lagi.
Tampaknya bukan aku saja yang terkejut, sementara keributan memenuhi seluruh kelas. Murid perempuan yang berada di sampingku berkata pada temannya, “Apa itu? Itu mengejutkanku.” Tidak ada seorangpun yang memiliki kesempatan untuk bersuara.
Suara itu tidak hanya terdengar sekali. Suara itu terdengar beberapa kali bergantian dengan suara orang yang sedang marah. Itu adalah suara laki-laki yang marah, tetapi karena berada di dalam kelas, aku tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan. Saat itu teman sekelasku dan juga aku telah mengerti apa yang terjadi. Di kelas sebelah, guru matematika, Omoichi, kesabarannya telah habis.
Profesi pengajar biasa menggunakan rotan guru. Tapi pada era ini, aku belum pernah melihat guru memegang rotan. Tetapi, tongkat penunjuk yang fleksibel. Dulu, aku memiliki guru di departemen konseling murid bernama Morishita. Dia memegang paham “Meskipun kau tidak memegang tongkat anggar, jika itu diizinkan tidak ada keraguan bagimu untuk memegangnya.” Ngomong-ngomong, Omichi-sensei memiliki bambu yang berbentuk galah seperti tongkat anggar yang selalu dia bawa dan digunakan juga sebagai rotan guru. Namun, Omochi-sensei yang disebut sebagai guru paling berpengalaman disekolah, tidak pernah menggunakan galah nya itu untuk memukul murid. Dia hanya menggunakannya untuk memukul meja guru dan papan tulis untuk membuat para murid diam. Omochi-sensei adalah guru terhormat yang telah mengajarkanku bahwa papan tulis ternyata sangat kuat dan sulit untuk dirusak.
Namun, walaupun aku memiliki kesan seperti ini kepada Omochi-sensei, bukan berarti aku tidak menyukainya atau membencinya. Aku memiliki guru yang mirip dengannya di SMP, bahkan di sekolah dasar. Jika aku harus mengatakan bagaimana perasaan ku kepadanya, itu adalah perasaan yang sama pada perempuan di sampingku. Aku mengetahui wajah, nama,dan kepribadian mereka, tapi aku tidak begitu peduli.
Tetapi, aku tidak merasa terkesan karena dia telah membuat kegaduhan di kelasku. Ketika aku sedang memikirkan hal itu, seketika ada suara yang memotong perkataan Omochi-sensei, suara yang juga terdengar marah. Suara itu sangat nyaring. Saat aku menyadari milik siapa suara itu, aku berkata pada waktu yang sama tanpa berpikir,
“Tidak mungkin…”
Itu adalah Chitanda.
Aku mengenalnya lewat peristiwa kecil tepat setelah aku masuk sekolah ini, dan sejak itu kami berada di dalam satu klub. Jika dipikir, Chitanda berada di kelas itu. Aku terkejut ada murid yang bisa membantah Omochi-sensei saat dia baru saja memukul papan tulis, dan aku tidak habis pikir murid itu adalah Chitanda. Aku mempertajam pendengaranku untuk memastikan jika itu benar Chintanda, tapi itu adalah suara dari balik dinding. Aku tidak yakin, tapi suara itu terdengar seperti Chitanda.
Aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan, tapi tiap katanya dia ucapkan tanpa ragu dan tajam. Aku telah berkali-kali mendengar suaranya, tapi ini pertama kalinya aku mendengarnya marah seperti itu. Tampaknya Chitanda juga marah dan menaikkan suaranya.
Dia mungkin telah mengatakan semua yang ingin dia katakan, dan suaranya tidak terdengar lagi. Keheningan melanda kelas kami, seperti kami sedang menahan nafas secara bersamaan. Kelas di sebelah telah menjadi hening kembali. Apa Chitanda benar-benar membuat Omochi-sensei diam? Atmosfer tadi yang membuat kami mengharapkan masalah yang lebih jauh hilang seketika. Karena telah hening, tidak ada pilihan selain melanjutkan kelas sejarah kami.
Aku mengeluarkan ujung pensil lain untuk pensil mekanisku. Kali ini,aku mengisinya dengan cepat dari belakang, dan memutar-mutarkannya dengan jari-jariku.

Bagian 2
Sekolah telah usai. Cahaya matahari awal musim panas bersinar secara diagonal kedalam ruang Klub Sastra Klasik, Ruang Kuliah Geografi.
Aku membuka sampul buku ku dan memegang nya diantara jari-jariku, selagi aku menyadari Chitanda yang terlihat kebingungan. Dia merasa gelisah karena Fukube Satoshi sedang berselisih dengan Mayaka Ibara, yang telah mengambil posisi di tengah ruang kelas, meskipun sebenarnya tidak layak bagi mereka untuk berselisih. Sebenarnya Ibara lah yang mengkritik Satoshi secara sepihak, dan Satoshi mengabaikannya dengan perkataan sembrono atau dengan senyum masam. Walaupun dari awal aku menjadi saski pertengkaran mereka, aku masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin itu berawal dengan debat tentang hal yang sepele seperti apakah semua tiang telepon itu tinggi atau apakah semua kotak surat itu berwarna merah.
Chitanda, Satoshi dan aku bergabung dengan Klub pada bulan April, yang memang pada saat itu tidak ada anggota. Pada bulan Mei, Ibara menemui Satoshi dan meminta untuk memasukannya ke klub.
Aku dan Ibara telah berada di kelas yang sama sejak kelas satu, tapi kami tidak begitu dekat. Kami akhirnya berada di kelas yang berbeda di SMA, tapi sekarang kami berada di dalam klub yang sama. Seberapa dekat kami terhubung oleh takdir? Dan, Ibara saat ini tengah sibuk dengan dengan tiga pekerjaannya pada waktu yang bersamaan, dia adalah anggota Komite Perpustakaan, dia juga bergabung dengan Klub Manga, begitu pula dengan Klub Sastra Klasik. Satoshi, yang bergabung dengan Komite Eksekutif, Klub Kerajinan Tangan dan Klub Sastra Klasik harus akur dengan Ibara.
Klub Sastra Klasik adalah tempat yang hening dan damai ketika hanya ada kami bertiga.
Satoshi berbicara dengan penuh gairah, tapi jika tidak ada yang dia inginkan dia akan tetap diam. Dan Chitanda akan sangat tenang, sementara seseorang berharap, jika rasa penasarannya akan segera meledak.
Ini adalah tempat yang damai ketika kami harus melakukan kegiatan klub dan tidak ada yang terjadi. Sedikit demi sedikit, aku mulai terbiasa untuk pergi ke ruangan ini. Bukan berarti aku merasa tertarik dengan kegiatan ini, tapi aku mulai menganggap tempat ini adalah tempat yang bagus untuk bersantai.
Tapi semua itu berubah ketika Ibara bergabung. Jika Ibara sendirian, dia hanyalah teman sekelas yang tidak bisa bergaul. Tapi, ketika bersama dengan Satoshi…
“Kau mengatakan kau yang akan melakukannya mungkin kau memiliki alasan tapi itu diluar dari maksudku bukankah sudah jelas kau harus menghubungiku itu akan baik-baik saja untuk dibatalkan tapi setidaknya kau harus menelepon ku aku tahu kau selalu membawa ponselmu ini akan baik-baik saja jika ini hanya pertengkaran untukku tapi ini bukan apa-apaan dengan tampangmu itu tidakkah kau dengar apa kau mengerti situasimu saat ini semuanya tidak akan selesai hanya dengan meminta maaf kepadaku.”
Berubah menjadi seperti itu.
Sudah berapa kali ini terjadi? Pertama, Chitanda sangat gelisah dan mencoba untuk melerai keduanya. Dia mencoba membujuk mereka, tapi sayangnya itu hanya membuang tenaga. Sekarang dia sudah tidak mencoba untuk ikut campur, tetapi menunggu waktu yang tepat untuk bertanya apa yang salah. Aku menatapnya dan mata ku bertemu dengan mata nya. Dia menunjuk mereka berdua dengan telunjuknya.
Buku yang kubaca adalah sebuah novel SF, dan walaupun awalnya sangat menarik, sangat sulit untuk mengerti klimaks ceritanya. Aku tahu sesuatu yang buruk terjadi, tapi aku tidak tahu apa itu. Aku tetap tidak mengerti meski membacanya untuk kedua kalinya, dan mendengar dua suara yang sangat berisik. Aku mendesah dan menaruh buku ku ke meja.
“Dan aku tahu kau menyadarinya tapi kau tidak punya sedikitpun perasaan ketika itu penting kau tahu apa yang akan terjadi tapi kau tidak mengatakan apapun setelah itu waktu itu turun hujan berangin dan ada petir bahkan turun hujan es pada akhirnya aku tidak begitu peduli dengan janji bertemu ini tapi aku sudah habiskan waktuku hanya untuk memutuskan baju apa yang harus kupakai dan sekarang baju ku sudah rusak dan itu adalah salah mu kau tidak bisa membantah soal itu kan?”
Ibara terus berteriak dalam sekali tarikan nafas.
“Apa kau sudah lelah?”
Ibara, yang tadi terus menatap tajam Satoshi, mengalihkan pandangannya kepadaku, dan memberi jawaban singkat.
“Ya.”
“Maka istirahatlah.”
“Baiklah.”
Dia duduk di atas meja dengan gusar. Dia sangat marah tadi, jadi aku tidak yakin apa semua amarahnya telah hilang. Satoshi menatapku dan memberikan jempol gaya Amerika sebagai tanda rasa terima kasih, dan tanpa rasa malu mengatakan,
“Astaga, kau ternyata bisa marah. Aku yakin kau melepaskan semua rasa stressmu tadi.”
“Jika Fuku-chan mempunyai sedikit perasaan, aku tidak akan merasa seperti ini.”
“Ya, tapi…”
Satoshi mengalihkan padangannya ke Chitanda.
“Kau harus belajar dari Chitanda-san. Aku tidak pernah melihatnya marah.”
Chitanda menarik nafas dengan berat dan melepaskannya dengan lega dan mengelus dadanya saat melihat mereka tidak lagi bertengkar. Aku tidak pernah melihatnya melakukan hal itu sebelumnya. Karena tiba-tiba di libatkan dalam percakapan, dia menjawab dengan terkejut.
“Eh? Aku?”
Tapi Ibara mengerutkan dahinya.
“Benarkah? Bukankah dia selalu marah ketika Oreki terlambat?”
Itu memang pernah terjadi di masa lalu, tapi kemarahannya sedikit berbeda dengan milik Ibara. Kata apa yang cocok untuk menggambarkannya?
“Aku juga melihatnya. Tapi itu lebih mirip dengan mengomeli daripada marah.”
Itu dia, aku pikir, aku sangat menyedihkan karena diomeli seorang gadis yang seusia denganku.
“Ah, ya, itu benar. Itu juga mirip dengan memprotes.”
Itu juga tidak bagus.
Dengan senyum dan ekspresi yang tidak jelas, Chitanda memiringkan kepalanya.
“Jika kau bicara tentang tidak pernah marah. Aku tidak pernah melihat Fukube-san atau Oreki-san marah, juga…”
Setelah jeda yang singkat, Ibara dan aku membuka mulut bersamaan.
“Satoshi selalu marah.”
“Fuku-chan pernah marah”
Jika orang diserang melalui dua arah, kemampuan mereka untuk menghakimi sesuatu akan jatuh, dan itu tidak ada bedanya dengan Chitanda. Mata besarnya mencoba untuk fokus kepadaku dan juga Ibara, gagal, lalu menatap Satoshi, yang duduk diantara kami.
“Jadi begitu?”
Satoshi menjawab dengan senyum masam.
“Aku rasa. Aku tidak memperlihatkan kemarahanku seperti Mayaka, tapi aku bisa marah sejak dulu dan sampai sekarang.”
Aku baru menyadari aku tidak pernah melihat Satoshi marah di depan Chitanda. Yah, mereka baru dua bulan saling mengenal. Ini mungkin terjadi.
“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Fukube-san marah.”
Ini dapat dimengerti dari sudut pandang Chitanda. Karena Satoshi suka memamerkan kemampuannya dalam cara yang aneh, dia jarang menunjukan emosinya tanpa merasa takut akan apa yang dipikirkan orang lain, begitu pula dengan lawan jenis, contohnya seperti dengan Ibara.
“Dia tidak begitu menakutkan saat marah.”
Ya, kemarahannya tidak begitu intens. Dia hanya menjadi lebih pendiam, tidak ingin membuat kontak mata dan selalu mengganti topik dengan mengatakan “Jangan bicarakan tentang ini lagi.” Dari pengalamanku, tidak begitu aneh jika Satoshi melakukan ini.
“Tidak menakutkan? Kau benar-benar meremehkanku…”
Chitanda menatap Satoshi dan bersuara.
“Aku rasa aku penarasan.”
Tampaknya Chitanda sedang berencana untuk membuat Satoshi marah. Aku benar-benar menantikannya.
“Bagaimana dengan Oreki?”
Ibara menatapku.
Ketika aku baru saja akan mengatakan aku tidak pernah merasa marah belakangan ini, atau aku sedang menikmati situasi ini yang seperti hari musim semi, Ibara tersenyum. Sementara senyuman adalah senyuman, itu sudah jelas adalah senyuman yang mengejek. Ibara lalu menlihat ke arah Chitanda, dan dalam nada yang terdengar seperti “Bersiaplah,” dia mulai bicara.
“Oreki tidak akan pernah marah.”
“Apa itu karena dia terlalu baik hati?”
Ibara menggelengkan kepalanya.
“Tidak, itu karena dia hanyalah seorang manusia yang kesepian yang tidak bisa mendapatkan kepuasaan dari melepaskan amarah.”
… Hey, bukankah itu sedikit kejam, apapun kenyataannya?
Ah, tapi aku sadar aku tidak marah karena perkataan itu. Aku tidak pernah merasa marah belakangan ini, tapi kapan terakhir kali kesabaranku habis? Tapi, tidak perlu merasa terganggu karena hal itu. Perkataan Ibara selalu benar… tidak. Itu memang benar, tapi aku tidak mengatakan seluruh dari perkataannya itu benar. Benar juga aku terlalu baik hati untuk marah. Tunggu, itu juga tidak benar, aku tidak bisa marah walaupun aku ingin.
“Haha, Houtarou merasa tidak yakin.”
Aku merasa sedikit kesal karena Satoshi terlalu blak-blakan. Hey, aku marah!
Satoshi tidak memperdulikanku, dia melanjutkan candaannya.
“Houtaro seperti tidak memiliki emosi. Aku rasa Chitanda yang tidak pernah marah adalah sesuatu yang spesial. Seperti dia sudah terbiasa bersikap sabar dan tenang. Mayaka harus mencoba bersikap tenang, bukan seperti gaya Houtarou tapi seperti gaya Chitanda-san.”
“Meski begitu, aku tidak bisa mengganti bagian dari diriku hanya dengan mencoba. Aku tidak ingin menjadi seperti Oreki, dan aku tidak bisa menjadi seperti Chii-chan.”
Alis Chitanda terangkat. Dalam suara yang sulit kudengar, dia bertanya.
“Um… apa aku sedang dipuji?”
Aku heran, meski aku pasti dibicarakan dengan buruk. Entah kenapa mataku bertemu dengan mata Satoshi dan Ibara.
Pertama, Ibara bicara.
“Mungkin saja.”
Lalu aku melanjutkan.
“Kami hanya melakukan observasi, jadi kami tidak mengatakan sesuatu yang positif atau negatif.”
Tapi Satoshi tersenyum dengan sangat senang.
“Tidak, tidak, lupakan saja orang-orang yang tidak bisa marah, tapi aku percaya sifat yang tidak pernah marah adalah sesuatu yang bagus. Kemurkaan adalah dosa yang besar. Aku rasa kau harus mengontrol amarah mu, Mayaka.”
“Dosa? Apa kau didenda hanya karena itu? Seperti membuat suara berisik?”
Satoshi menggelengkan kepalanya, sementara Chitanda memberi penjelasan dengan wajah nya yang memerah.
“Dosa-dosa besar kan? Aku pikir itu dikenal dengan…”
Tapi kemudian dia melanjutkan.
“Jika kau mencoba untuk memujiku, tolong berhenti.”
Chitanda menundukan wajahnya karena malu. Dan suaranya menjadi lebih kecil dari sebelumnya, jadi tidak ada seorang pun yang bisa protes. Ini mungkin adalah kali pertama aku melihat Chitanda merasa malu. Di sisi lain, Satoshi menganggukan kepalanya dengan rasa puas.
“Itu benar. seperti yang diharapkan dari Chitanda-san. Karena itu adalah topik yang populer, aku yakin Mayaka sudah pernah dengar tentang tujuh dosa besar?”
“Ya, tentu saja aku tahu itu.”
Aku tidak.
“Bukankah ada 108 dosa?”
“Itu adalah klesha.”
Terserah.
“Tujuh dosa besar adalah konsep dari ajaran Kristen, tapi itu hanyalah turunan, jadi mereka tidak terdapat didalam Alkitab. Er, selain Kemurkaan, ada juga…”
Satoshi bicara sambil membengkokkan jempol nya. Dan melakukan hal yang sama pada jari lain, dan dia melanjutkan.
“Keangkuhan, keserakahan, ketamakan… Hmm, aku hanya bisa mengingat empat…”
Satoshi, yang terlihat seperti orang idiot, diselamatkan Chitanda.
“Iri hati, nafsu, dan kemalasan, aku rasa.”
Ketika dia mengatakan dosa yang terakhir, Ibara menatapku dan tertawa… Tidak baik untuk memiliki kebiasaan menganiaya orang lain. Ibara mengalihkan pandangannya ke Chitanda.
“Jadi itu adalah tujuh dosa besar. Bukankah itu membuat Chii-chan sempurna? Kau pintar dan kau tidak makan terlalu banyak.”
“Aku tidak bisa membayangkan kau bersikap tamak, dan pastinya kau tidak malas.”
“Dan, er… kau tidak berpikiran kotor.”
“Sulit untuk mengatakan dia merasa iri dengan orang lain.”
Mereka terlihat sedang mengejeknya daripada memujinya. Wajah Chitanda yang berwarna merah menjadi lebih merah lagi. Dia meremas kedua tangannya untuk menolak pernyataan mereka dan berbicara dengan cepat.
“Tolong berhenti! Lagipula, jika aku merasa lapar aku bisa makan lebih banyak!”
Semua orang juga begitu.
“Dia terlihat seperti Santo Eru, bukan?”
“Bukankah Chitanda Eru terdengar seperti malaikat?”
“Uriel, Gabriel, Chitandael? Ahaha!”
Mereka berdua benar-benar akrab. Chitanda ditekan dengan berbagai ejekan tepat di depannya. Dia menarik nafas lewat mulutnya, dan mengumpulkan seluruh kesabarannya yang tersisa. Lalu, kemudian,
“Aku bilang hentikan!”
Dia berteriak dengan suara yang kuat.
“Dia marah…”
“Dan mengomeli kita.”
Chitanda tersenyum kepada dua orang yang terlihat sedih itu.
“Lagipula, aku rasa bukan hal yang bagus jika tidak pernah marah.”
Ibara dan Satoshi terlihat terkejut, dan aku juga mungkin merasa terkejut. Chitanda melanjutkan dengan mulus tanpa memberi petunjuk apapun.
“Bukankah itu sama dengan dosa-dosa besar yang lain?”
“Maaf, Chii-chan, tapi aku kurang mengerti.”
“Bagitu? Aku harusnya menggunakan kata-kata yang lebih baik.”
Chitanda tersenyum dan menjawab.
“Aku pikir tidak ada yang bisa dilakukan tanpa rasa sombong dan tamak. Walaupun dosa-dosa tersebut dibuat berdasarkan ajaran agama, pasti ada alasan kenapa disebut dosa-dosa besar.”
Satoshi memiringkan kepalanya.
“Contohnya?”
“Contohnya, jika kau tidak memiliki rasa angkuh, artinya kau tidak memiliki rasa percaya diri. Dan seseorang yang tidak memiliki rasa tamak tidak bisa menafkahi keluarganya. Dan yang lebih jauh, jika tidak ada seorangpun di dunia ini yang memiliki rasa iri hati, teknologi baru tidak akan pernah ditemukan.”
Chitanda berhenti bicara karena terkejut. Melihat ekspresi kami, dia berkata.
“Umm… aku tidak bermaksud mengajari kalian…”
Satoshi, yang semenjak tadi menyimak, melipat lengannya.
“Hmm, begitu. Menarik…”
Aku merasa senang ketika caraku menjalani hidup dilindungi. Aku bertanya dengan jelas.
“Intinya, yang kau katakan tadi adalah masalah kadarnya? Itu seperti Konfusianisme.”
“Aku tidak bisa menjelaskan isi Alkitab, tapi aku pikir tidak perlu menggunakan dosa-dosa besar itu ke dalam kehidupan kita.”
Dia mengatakan pendapatnya tanpa merasa sungkan. Aku tidak bisa menebak apa yang dipercaya Chitanda, jadi ini sedikit menarik.
“Jadi kau pikir merasa marah tidaklah begitu buruk, Chii-chan?”
“Benar. Jika kau tidak bisa marah dalam hal apapun, mungkin artinya kau tidak memiliki apapun yang kau sukai.”
Tentu aku juga bisa marah.
“Jika begitu, lalu kenapa kau tidak pernah marah?”
Itu adalah respon yang cepat.
“Karena itu membuatku bosan. Dan aku tidak ingin merasa lelah sedikitpun.”
Oh?
Satoshi menyentuh kepalanya, yang telah dipenuhi warna, pada tangannya dan mawar pada kakinya.
“Chi- Chitanda-san telah diracuni oleh Houtarou! Apa-apaan! Setidaknya aku harus bisa mencegah ini sebelum terjadi! Ada hantu yang meneror sekolah ini! Hantu para penghemat energi!”
“Tidak, aku hanya bercanda.”
Semuanya menjadi diam.
Dengan suara yang terdengar akan segera hilang, dia meminta maaf.
“Maaf, aku punya dorongan untuk bercanda tiba-tiba.”
Aku bisa katakan bahwa itu sangat jelas, tapi itu hanya untuk meloloskan diri karena faktanya aku telah dibodohi oleh Chitanda. Dan aku pikir aku sudah menemukan jodohku.
Chitanda kembali menjawab pertanyaan tadi, seperti dia sudah melupakan candaannya tadi.
“Bukan berarti aku tidak bisa marah. Aku juga bisa kehabisan kesabaranku. Hmm, contohnya…”
Tatapan kami memberi tanda padanya untuk segera melanjutkan perkataannya.
“Ketika aku melihat orang membuang-buang makanan, aku langsung marah.”
… Ya, dia adalah anak perempuan dari keluarga petani. Dia mempercayai perkataan “Setiap butir beras adalah setetes keringat.”
Jika dipikir-pikir, aku tiba-tiba mengingat kejadian pada jam pelajaran ke-lima tadi. Dan tanpa berpikir panjang aku bicara.
“Tapi, bukankah itu kau yang memarahi Omichi-sensei ketika dia sedang mengajar?”
Ketika aku bicara dapat kurasakan mood Chitanda yang berubah.
Aku mengatakannya. Perasaan bersalah membuatku punggungku kaku.
Chitanda, yang tadi menikmati obrolan yang menyenangkan, perlahan-lahan menundukan kepalanya dan menutup rapat-rapat mulutnya. Dia tidak melebih-lebihkan emosinya, moodnya kembali berubah dan mudah untuk dimengerti. Dia bersuara.
“Ah, itu benar! Bagaimana bisa aku lupa? Aku harap aku bisa bertanya kepada Oreki-san tentang itu!”
Bagus sekali. Kesalahan yang lain. Satoshi dan Ibara baru saja menggoda Chitanda tentang dia yang menjadi Santo atau orang yang diberkati. Aku berpikir bahwa gambaran itu tidak terlalu cocok dengannya. Itu adalah sebuah kesalahan yang besar. Dia pintar, tapi yang membedakan dia dengan orang sempurna adalah rasa penasarannya.
Aku kembali mendapat masalah, aku menggigit lidahku dan tetap diam. Satoshi tampaknya ingin mempermudah keadaan, ketika melihatku yang acuh tak acuh.
“Apa yang terjadi, Chitanda-san?”
“Ya. Sebenarnya, aku marah pada jam pelajaran kelima.”
Chitanda menganggukan kepalanya, lalu menatapku. Aku harap tadi aku melihat ke tempat lain, tapi itu tidak ada gunanya.
“Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi dan membuatku marah. Tentu saja, aku tidak punya alasan untuk marah, tapi sesuatu terjadi sehingga aku menjadi marah, dan aku tidak tahu apa itu.”
Aku harus berpikir keras untuk mengerti maksud dari perkataannya. Singkatnya, yang akan dikatakan Chitanda selanjutnya adalah.
“Aku penasaran!”

Bagian 3
Jam pelajaran kelima hari ini adalah matematika, diajarkan oleh Omichi-sensei.
Aku yakin Oreki-san dan Fukube-san tahu dia guru yang seperti apa.
Aku tidak tahu harus mulai darimana aku jelaskan agar kau mengerti, jadi aku akan menceritakannya dari awal.
Omichi-sensei masuk kelas tepat saat bel berbunyi. Dia terlihat tidak begitu senang, tapi yang aku tahu, dia selalu memasang ekspresi itu. Dia membuka pintu, dan tepat saat dia memasuki kelas dia melihat ke papan nama kelas. Semuanya terlihat normal dari situ.
Setelah memberi hormat, dia mulai menulis sebuah persamaan kuadrat di papan tulis. Sebenarnya itu adalah soal yang sederhana, y = x2 + x + 1, tapi dia membatasi domain x dari 0 sampai 3. Lalu, sambil meletakan tongkat bambunya ke bahu, dia menunjuk Kawasaki-san dan menyuruhnya menggambar jarak y. Kau tahu Kawasaki-san? Dia tinggi dan kurus dan juga sedikit gagap… tapi itu tidak ada hubungannya.
Kawasaki-san terlihat bingung, begitu juga aku. Kami belum pernah diajarkan tentang perbatasan domain.
Aku pikir Omichi-sensei mencoba mengetes imajinasi kita, mencoba menyelesaikan soal itu sebelum memulai pelajaran. Tapi sebenarnya, aku tidak baik dalam hal ini, tapi aku pernah mengalami cara mengajar ini sebelumnya. Dan lagi, metode ini membuat murid-murid merasa tidak cocok dengan cara mengajar Omichi-sensei.
Kawasaki-san memikirkan jawaban soal itu untuk beberapa saat, lalu mengatakan bahwa dia tidak bisa menjawabnya.
Pada saat itu, ternyata dugaan aku yang tadi salah. Omichi-sensei menjadi marah. “Apa? Kau tidak bisa? Apa yang kau lakukan selama aku mengajar?” Dia mulai memarahi Kawasaki-san… Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi itu lebih mirip seperti dia memaki Kawasaki-san.
Setelah mengatakan beberapa kata-kata yang tidak berperasaan tentang masa depannya yang akan hancur, Omichi-sensei menyuruh Kawasaki-san untuk duduk.
Lalu dia memilih Tamura-san, yang lebih baik matematikanya daripada Kawasaki-san. Dia berdiri, tapi tidak bisa menjawabnya juga.
Omichi-sensei menyebut Tamura-san seorang idiot dan menyuruhnya untuk duduk. Dia kemudia melihat ke seluruh kelas dan mengatakan dengan suara yang keras, “Apa ada yang bisa menyelesaikan soal ini?”
Aku harusnya sudah menyadarinya dari tadi, pada titik ini Aku akhirnya mennyadari Omichi-sensei telah keliru sudah sejauh mana kami belajar. Aku memeriksa buku catatanku, dan melihat seharusnya hari ini kami hanya perlu menyelesaikan metode penerapan fungsi kuadrat dan memulai dengan nilai maksimum dan minimum. Omichi-sensei telah membuang-buang waktu satu jam pelajaran.
Saat yang lain juga menyadari kesalahannya, ruang kelas menjadi berisik. Itu hanya membuat Omichi-sensei semakin marah dan dia mulai memukul papan tulis dengan tongkat bambunya. Dia lalu mengkritik sikap kami pada pelajaran, cinta belajar dan semangat publik dengan nada jengkel. Dia juga menggunakan kata-kata kasar apa yang akan terjadi pada kami setelah lulus nanti dan juga masa depan kami nanti. Ya, itu benar, dia memukul papan tulis pada tiap jedanya.
Aku pikir ada beberapa orang yang tahu jawabannya. Aku tidak mengikuti sekolah persiapan, tapi aku tahu kebanyakan sekolah persiapan telah mengajarkan materi ini daripada sekolah normal. Tetapi, mereka yang tahu jawabannya tetap diam, dan tidak mengangkat tangan.
Omichi-sensei kembali menunjuk Tamura-san. Dia disuruh untuk tetap berdiri hingga dia dapat menjawab soal tadi. Ketika aku berdiri. Aku mengatakan bahwa dia telah melakukan kesalahan besar, dan memintanya untuk mengecek kembali buku catatannya.
Eh? Apa yang sebenarnya ku katakan?
… Maaf, tapi itu rahasia. Apa yang kukatakan saat marah bukanlah sesuatu yang ingin kubicarakan lagi.
Benar, itu hanya terjadi ketika aku marah.

Bagain 4
Setelah menceritakan semuanya, Chitanda pun diam. Dia mungkin merasa malu karena menceritakan kemarahannya saat itu.
Tetapi Ibara menginginkan kelanjutan cerita Chitanda.
“Apa yang terjadi setelah itu?”
“Omichi-sensei mengambil bukunya. Dan dia membuka beberapa lembar halaman, dan berkata ‘Ah, benar!’ dan menyuruh Tamura-san untuk duduk. Dan melanjutkan pelajaran dengan normal.”
Ibara melipat lengannya.
“Jadi Omichi-sensei adalah guru yang seperti itu. Aku turut sedih untuk Chii-chan dan yang lain, tapi aku senang aku tidak mendapatkan guru seperti dia!”
“Benar sekali! Aku serius, aku harus berterima kasih karena dia membuatku tetap bekerja keras bahkan setelah ulangan tengah semester!”
Aku menjawab Satoshi, yang tadi telah meninggikan suaranya.
“Nilai jelekmu tidak ada hubungannya dengan Omichi-sensei. Kau harus melakukan sesuatu untuk ujian akhirmu.”
Selanjutnya, aku berbicara pada Ibara.
“Sebenarnya dia adalah guru yang tidak begitu buruk.”
“Itu benar, dia bukanlah guru yang buruk.”
“Aku rasa dia tidak begitu buruk.”
Bukankah mereka luar biasa karena dapat mengerti setiap sudut pandang yang berbeda?
Chitanda menatapku.
“Ngomong-ngomong, bagaimana menurutmu?”
Jadi, ceritanya sudah selesai? Aku pun mengubah posisi kakiku.
“Apa ada sesuatu yang aneh dari ceritamu tadi?”
Chitanda melihat dari kanan ke kiri, dia terlihat kesulitan untuk mengucapkan apa yang ingin dia katakan. Lalu, dia mulai bicara.
“Ah, aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku permasalahkan."
“Yang membuatku penasaran adalah kenapa Omichi-sensei melakukan kesalahan seperti itu. Dari cara menulisnya di papan tulis dan mengoreksi kertas ulangan, Omichi-sensei bukanlah tipe yang dapat membuat sebuah kesalahan semacam itu.”
“Yah…”
Satoshi bergabung dengan percapakan.
“Ada dua tipe guru yang keras, yang pertama adalah keras terhadap dirinya sendiri, dan yang lain adalah lembut terhadap dirinya sendiri.”
Bukankah itu juga sesuatu yang benar dengan orang-orang pada umumnya. Walaupun aku tahu itu Omichi-sensei adalah tipe yang seperti tadi.
“Dan, kenapa dia membuat kesalahan yang begitu jelas? Aku benar-benar tidak mengerti.”
Seperti biasa, kau menanyakan pertanyaan yang aneh. Aku mengangkat alisku.
“Jadi kau ingin tahu kenapa dia melakukan kesalahan? Itu tidak mungkin meski darimana pun kau melihatnya. Kenapa tidak kau saja yang pergi ke ruang guru dan lihat apa isi kepalanya?”
Chitanda menggelengkan kepalanya.
“Tidak, tolong dengar. Oreki-san dan Fukube-san mungkin tahu ini, tapi Omichi-sensei selalu membuka buku catatannya walaupun dia sedang tidak menggunakannya.”
Satoshi dan aku saling berpandangan dan mengangkat bahu secara bersamaan. Kami tidak pernah memperhatikan tingkah lakunya.
“Lalu dia menggunakan pulpennya untuk menulis catatan singkat. Menurutmu untuk apa dia melakukan itu?”
Begitu, jadi seperti itu. Aku mengerti apa yang dia coba katakan.
“Untuk mencatat sudah berapa jauh materi yang dia jelaskan pada kelas itu?”
“Aku rasa juga begitu. Omichi-sensei akan menyadari kesalahan apapun dengan mengecek buku catatannya, dan aku yakin itu telah terjadi beberapa kali. Dan lebih jauh lagi, dia tahu kami adalah kelas A, karena dia selalu mengecek papan nama kelas sebelum masuk.
“Apa kau mengikuti? Lalu Omichi-sensei akan mengecek catatan yang menunjukan sudah sejauh mana pelajaran berlangsung dan mengecek ruang kelas lagi. Bisa dikatakan bahwa itu sudah benar."
“Tapi, kenapa dia masih bisa membuat kesalahan?”
Aku rasa catatannya ditulis seperti “1 Juni, Kelas X” pada halaman 15 dan “3 Juni, Kelas X” pada halaman 20. Jika tidak begitu, dia tidak akan tahu sudah halaman berapa yang dia buka.
Aku mengungkapkan pendapatku tanpa berpikir panjang.
“Mungkin dia salah melihat tanggal?”
Aku harus bertanggung jawab karena kata-kata ku tadi. Hukuman karena kata-kataku yang ceroboh ditangani dengan cepat. Dengan tatapan dinginnya, Ibara membalas.
“… Jika benar begitu, dia mungkin saja langsung mengaku salah, tapi itu tidak akan membuatnya melakukan hal itu begitu saja dengan mudah. Gunakan otakmu, jangan bicara seenaknya.”
Apa kau harus mengatakan kata-kata seperti itu? Ibara benar-benar mengucapkannya dengan sempurna. Benar, Omichi-sensei bisa melihat beberapa catatan, tapi dia tidak bisa melakukan sesuatu yang belum tertulis di sana…
Ibara berbalik kearah Chitanda dan bertanya sesuatu yang bagaikan teka-teki padanya.
“Aku tidak bermaksud untuk mengalahkanmu dalam permainanmu sendiri, tapi…”
“Ya?”
“Aku sedikit penasaran tentang sesuatu. Tak apa jika aku menanyakannya?”
“Kau ingin menanyakan sesuatu? Ya, baiklah.”
Chitanda mengubah posisinya, yang membuatnya sedikit tidak nyaman. Daripada bertanya dengan nada serius, Ibara bertanya dengan nada yang biasa.
“Tentang cerita Chii-chan, aku mengerti kenapa kau marah. Tampaknya dia mengatakan sesuatu yang berlebihan, dan jika aku berada di situasi itu aku juga akan marah. Tapi aku tidak akan menyahut kepada seorang guru seperti itu. Bukankah itu seperti kau sengaja membakar tanganmu dengan api?”
Dia mengatakan kalimat terakhir sambil melihat ke arahku dan Satoshi. Itu adalah kata yang ekstrim untuk dikatakan. Perkataan seperti itu tidak cocok dengannya.
Ibara mungkin tidak begitu mengenal Omichi, tapi dia tahu itu adalah resiko yang besar untuk menyahut perkataannya ketika dia sedang marah. Aku juga tidak akan pernah melakukan itu, dan begitu juga Satoshi. Aku bahkan ragu murid SMA Kamiyama terkuat pun akan melakukan itu. Karena itu aku sangat terkejut.
Tapi Chitanda menjawab dengan ceroboh.
“Aku tidak yakin kenapa aku marah saat itu.”
Dia marah dan dia langsung lupa dirinya sendiri? Apa ini adalah Chitanda yang sedang kita bicarakan disini? Apapun itu, aku tidak bisa membayangkan nya… ketika aku sedang berpikir, Chitanda melanjutkan perkataannya.
“Tapi aku tidak merasa aku marah karena dia memarahi kami.”
Setelah berpikir beberapa saat, Ibara bertanya.
“Apa mungkin karena mereka yang bisa menjawab tetap diam?”
“Tidak. TIDAK ada seorang pun yang akan menjawab dalam situasi itu. Dan, jika seseorang sudah menjawab, pelajaran akan tetap berlanjut walau itu adalah materi yang sudah sangat jauh.”
“Apa karena tidak ada seorang pun yang menegur kesalahan guru?”
“Bukan.”
Ibara memikirkan jawaban lain.
“Apa itu karena Tamura terlihat menyedihkan?”
Itu baru Chitanda.
Atau terlalu seperti dia. Orang yang ditanyai hanya memiringkan kepalanya.
“Aku memang merasa kasihan padanya, dan aku rasa aku tidak akan marah karena itu. Aku tidak begitu mengerti diriku sendiri, tapi aku juga dapat mengerti kenapa Omichi-sensei akan mengomeli murid yang tidak mengingat apapun yang sudah dia ajarkan, meski sebenarnya kata-katanya sangat kasar."
“… Tapi apa yang sebenarnya membuatku marah?”
Lalu Chitanda memberi senyum tipis.
“Terkadang aku menemukan diriku sendiri sulit untuk mengerti.”
“Hmm, begitu.”
Ibara juga tersenyum dengan canggung.
Aku mengerti kenapa Ibara menanyakan hal itu. Semua orang yang berada di posisi Chitanda juga akan merasakan hal yang sama. Bahkan aku juga akan merasa tidak nyaman. Tapi sejak kita tahu Chitanda tidak pernah lepas kendali, itu sangat aneh jika dia marah walaupun itu adalah hal yang normal untuk orang lain.
Tapi jawabannya dari pertanyaan tadi belum terjawab. Ketika Chitanda menyadarinya, itu mungkin saja karena dia merasa sulit untuk menjawab, atau karena dia merasa malu, atau mungkin karena itu menyusahkan… Tunggu, apa dia bahkan merasa itu menyusahkan?
Aku tidak begitu mengenal Chitanda hingga aku dapat mengetahui apa yang dia sukai dan tidak sukai. Lagipula, aku lebih tertarik menyelesaikan buku ku yang sedang ku pegang.
“Bagaimana menurut mu, Oreki-san?”
“Aku tidak tahu.”
“Aku juga tidak tahu, tapi…”
Chitanda member jeda. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menatapku, mata besarnya berkilau dengan penuh antusias.
“Tapi kau bisa menjawanya jika kau sedikit berpikir!”
“Oh?” Kata Satoshi dengan suara yang meninggi. Aku terkesiap. Apa seperti ini rasanya diandalkan?
Apa dia sadar bahwa aku tidak memikirkan ini dengan serius?
Ibara, yang tadi duduk disisi lain meja, mengangkat kedua alisnya.
“Chii-chan, kau tidak bisa mengharapkan apapun dari Oreki, meski dia sudah berusaha. Dia hanyalah seekor belalang di kehidupan sebelumnya.”
“Eh, Mayaka-san, kau dapat melihat wujud reinkarnasi seseorang?”
Saat aku baru saja menduga rasa penasarannya tadi telah teralihkan,
“Tapi saat ini aku sedang penasaran dengan Omichi-sensei.”
Dalam waktu yang singkat, kita kembali ke topik awal. Sangat menyebalkan. Ngomong-ngomong, Satoshi lebih cocok sebagai seekor belalang dibandingkan denganku. Mereka mati pada musim dingin bukan karena menghemat energi, tapi karena mereka sepenuhnya terlalu menikmati hidup.
“Oreki-san.”
Ya, aku tidak bisa melakukan apa-apa jika aku tidak mengatakan apapun…
Aku rasa untuk saat ini aku akan menyerah dengan buku yang sedang kubaca dan mulai berpikir.

Bagian 5
Tidaklah salah untuk menduga Omichi-sensei memang menulis perkembangannya dalam mengajar di suatu kelas di bukunya. Yang dia lakukan hanyalah mengajar matematika dalam sepuluh atau dua belas tahun terakhir ini. Seperti tahun sebelumnya, dia juga mengajar di banyak kelas pada tahun ini, dan itu akan sangat membingungkan untuk mengingat tiap materi yang diajarkan di tiap kelas. Menggunakan catatan adalah jawaban yang jelas.
Bagaimanapun, meski dia sudah berusaha, dia tetap membuat kesalahan. Dan dia tidak mundur begitu saja, tapi terus berbuat lebih jauh lagi. Ini adalah cerita yang aneh.
Tunggu sebentar, bagaimana bisa ini terjadi?
Untuk membuat kesalahan itu terjadi, harus ada satu catatan pada salah satu halaman setelah catatan yang benar. Kelas X belum belajar sejauh itu, tapi ada catatan yang membuktikan bahwa mereka sudah mempelajarinya.
Itu bisa menjadi jawaban sederhana pada masalah ini. Aku menyilangkan kakiku dan bertanya pada Chitanda,
“Kelasmu belum mempelajari domain, bukan?”
“Ya, kau benar.”
Chitanda terlihat bingung dan merasa itu bukan pertanyaan yang penting. Pertanyaanku yang selanjutnya hanya membuatnya tambah bingung.
“Bagaimana jika kukatakan kelasmu sudah mempelajarinya?”
“… Apa maksudmu?”
“Omichi mengajar matematika setiap tahun. Kita bukanlah satu-satunya murid Omichi… Murid Kelas A yang dulu juga mempelajari domain X.”
“Ah,” Chitanda terdiam. Salah melihat catatan pada tahun lalu dan untuk tahun ini juga masuk akal, bukan?
Tetapi, sebelum Chitanda mengatakan bahwa dia setuju dengan itu, Satoshi menggelengkan kepalanya.
“Jika kau pikir dia salah melihat catatan, itu tidak mungkin.”
“Apa maksudmu?”
Seperti biasa, Satoshi terlihat senang membagikan informasi yang tak berarti.
“Itu simpel. Guru-guru selalu mendapatkan catatan yang baru setiap tahun. Mereka harus mendapatkan buku revisi terbaru untuk tetap konsisten dengan murid-murid, bukan? Dan, Omichi-sensei menggunakan yang edisi ke empat tahun ini.”
Chitanda menundukan kepalanya.
… Jadi begitu, itu menjadi jelas setelah Satoshi mengatakannya. Aku ingin tahu darimana dia mengetahui edisi berapa yang digunakan Omichi.
Tapi karena Omichi memiliki kebiasaan menulis di buku nya, bagaimana jika bukunya tertukar… itu mungkin saja, tapi itu hanya akan membuat Chitanda bertanya lebih jauh lagi. Omichi mungkin menulis kelas dan tanggal di lembaran terakhir. Apa mungkin dia tidak bisa membaca tulisannya sendiri? Kecuali jika ada bukti dia suka mencoret-coret seuatu dibuka nya…
Hmm.
Aku yang terlihat hanya diam, Satoshi menganggap aku tidak bisa menjawab dan berbicara dengan rendah hati.
“Aku tidak begitu mengerti domain. Aku tidak merasa bangga dari itu, tapi sudah sangat sulit untukku hanya untuk menggambar x dan y. Akan sangat menakutkan jika aku yang ditunjuk oleh Omichi.”
Jika begitu, kenapa kau tidak berhenti melakukan kebiasaan mu menggumpulkan informasi tdak berarti dan pergi belajar?... Tapi aku tidak bisa mengatakannya kan? Itu seperti menyuruh burung untuk tidak terbang. Aku penasaran apa yang sebenanya Satoshi pelajari selama ini? Aku ingat dia mengatakan sesuatu tentang buku yang selalu diganti tiap tahun.
Ah, sebentar.
Aku akhirnya mendapat petunjuk. Aku bertanya pada Satoshi.
“Satoshi, apa kelasmu sudah pernah mempelajari domain?”
“Hm? Ya.”
“Di mana kelasmu?”
“Hey Oreki, setidaknya kau bisa mengingat kelas teman-teman mu.”
Aku mencoba menyerang balik Ibara.
“Lalu apa kau tahu aku di kelas apa?”
“Kita bukan teman atau apapun.”
Aku kehabisan kata-kata.
Melihat situasi ini, Satoshi tertawa.
“Tak apa, Mayaka. Houtarou tahu.”
Saat dia mengatakan itu, aku punya perasaan aku memang sudah tahu.
Kelas Satoshi sudah mempelajari domain. Kelasku belum. Dan begitu juga kelas Chitanda.
Aku mengerti sekarang.
“Tidak ada hubungannya jika dia menulis catatan tentang seberapa jauh dia telah mengajar disuatu kelas.”
“Ya, itu benar. Aku juga memikirkan hal yang sama.”
“Catatannya memang ditulis tahun ini, dan menunjukkan perkembangan materi di kelas. Bagaimana jika catatan yang dia tulis bukan untuk kelasmu tapi untuk kelas Satoshi?”
“Kelas Fukube-san?”
Aku mengabaikan pertanyaan Chitanda, Satoshi bertanya.
“Omichi mengajar di kelas A,B,C dan D. Bahkan jika dia tidak mengajar di kelas A atau B, itu tidak harus kelas D, bukan?”
Ibara menyela.
“Kenapa harus kelas D?”
“Karena itu tidaklah aneh untuknya jika salah membaca huruf A menjadi D. A benar-benar tidak terlihat seperti C.”
Ibara menatapku, seperti dia akan mengatakan “Kau mengatakan sesuatu yang bodoh lagi.” Tidak, ini tidak akurat. Dia benar-benar mengatakannya.
“Kau mengatakan sesuatu yang bodoh lagi. Huruf A dan D sangat berbeda.”
Aku sedikit merasa kesal karena perkataan nya, tapi aku tetap berusaha tenang.
“Omichi adalah seorang guru matematika.”
“Lalu?”
“Seorang guru matematika berpotensi salah membaca huruf A dan D. Itu seperti dia membaca katakana tsu dan shi.”
“Apa?”
Tatapan nya seperti berkata, “Hey, apa kau sedang sakit?” Entah kenapa, ketika dia berdebat dengan Satoshi dia dapat bertahan hingga akhir, tapi ketika berdebat denganku, dia seperti kehabisan seluruh tenaganya.
Meski beitu, aku melanjutkan.
“Contoh, Omichi menulis ‘1 Juni, A’ pada halaman 10 dan ‘1 Juni. D.’ pada halaman 15. Jika dia salah membaca D menjadi A, itu dapat menjelaskan semuanya. Dan yang lebih jauh lagi…”
Aku menarik nafas.
“Omichi menulis kedua huruf itu hampir sama.”
Seketika, kami semua terdiam.
Aku harap mereka sudah mengerti, atau mereka sedang berpikir, “Apa maksudnya ini?” Itu adalah situasi yang tegang untukku.
Akhirnya keheningan tadi pecah.
“Ah, aku mengerti!”
Satoshi mengklaim.
“Itu hanya karena sedikit perbedaan huruf a dan d.”
Aku mengangguk dengan ekspresi kaku. Karena Chitanda mengatakan Omichi mengecek terlebih dahulu papan nama kelas, salah jika mengatakan dia salah masuk ruang kelas. Jika begitu, tidak ada cara lain selain catatannya yang membuatnya melakukan kesalahan. Tidak mungkin jika dia salah membaca A. Tapi, cerita nya berbeda jika itu adalah huruf a.
Ibara masih terdiam.
Bibirnya terlihat kaku, dan untuk suatu alasan dia menatapku. Tapi, yang keluar dari mulutnya adalah sebuah kalimat persetujuan.
“… Ya, itu mungkin saja.”
“Apa, kau merasa tak nyaman?”
“Ya, aku tidak mendapat beberapa poin nilai di ulangan Bahasa Inggris karena guru itu sulit membedakan huruf n dan h.”
Ternyata, bukan aku saja yang mengalami hal serupa. Pada kasusku bukan Bahasa Inggris tapi Matematika, dan aku mendapat nilai jelek karena angka 1 dan 7 ku sulit dibedakan. Jika diingat kembali, saat itu aku masih kelas satu. Aku ingat aku merasa sangat kesal karena aku sudah menjawab soal dengan benar tetapi tidak mendapat nilai yang bagus, tapi sekarang aku tidak peduli lagi.
Chitanda, dengan tulisan tangannya yang elegan, tidak pernah mengalami hal seperti itu. Dia berpikir sebentar, dan menganggukan kepalanya.
“Ya, pasti seperti itu.”
Chitanda tersenyum dengan lembut.
“a dan d… Aku bisa mengerti kesalahan nya sekarang. Aku mungkin sudah mengatakan hal yang terlalu berlebihan pada Omichi-sensei. Yang salah adalah aku.”
Kata-kata itu membuat ku terkejut.
Kata-kata itu hampir sama dengan yang kuperkirakan akan dikatakan oleh Chitanda.
“Eh? Kenapa kau mengatakan hal itu?”
Setelah melihat kearah Ibara, yang berusaha mengatakan Chitanda tidaklah berlebihan sejak yang salah adalah Omichi, aku mencuri pandang kearah wajah Chitanda. Dilihat dari kata-katanya yang menyalahkan diri sendiri, dapat kulihat dia telah merasa lega.
Ini yang sedang kupikirkan.
Chitanda yang biasanya selalu bersikap tenang tiba-tiba marah, dan dia ingin tahu kenapa. Dia mengatakan bukanlah hal yang buruk untuk marah, tapi sebenarnya dia tidak ingin merasa marah. Mungkin Chitanda ingin mengetahui alasan Omichi melakukan kesalahan, dan ingin percaya bahwa dia marah karena kesalahannya sendiri.
Bukankah Chitanda adalah orang yang seperti itu?
Tidak.
Aku menggelengkan kepala untuk mengusir jauh pikiran itu. Untuk apa aku memikirkan hal itu ketika aku baru mengenalnya selama dua bulan? Aku dapat mengerti tingkah dan perasaan Satoshi, karena aku sudah mengenalnya sejak SMP. Dan hal yang sma juga berlaku kepada Ibara, yang sekelas denganku selama sembilan tahun dan bisa dikatakan sebagai kenalan. Tapi apa yang yang kutahu tentang Chitanda?
Benar juga. Aku menganggap dapat memprediksi tingkah lakunya, tapi sekali lagi, motifnya yang sebenarnya sudah terlihat jelas dari awal, dan aku berpikir dapat membaca pikirannya yang paling dalam, seperti yang dia katakan, untuk melakukan sebuah dosa besar. Dosa besar keangkuhan. Aku harus berhati-hati, entah kenapa aku sudah bersikap sombong. Bahkan pada hari ini, sudah berapa kali Chitanda melakukan hal yang jauh dari bayanganku?
Aku tersenyum kecut, dan menyadari Ibara dan Satoshi telah melupakan topik Omichi yang tadi. Aku rasa gililranku sudah habis. Aku melihat jamku dan melihat jam menunjukkan pukul lima. Aku melihat matahari terbenam di luar. Mungkin ini sudah waktunya untuk pulang ke rumah?
“Aku mengerti apa yang dikatakan Chii-chan, tapi aku tidak tahu, jika aku ada di sana…”
“Jadi kau lakukan saja apa yang biasanya kau lakukan. Tapi pikirkan apa yang baru saja dikatakan Chitanda-san…”
Ya, aku rasa masih terlalu dini untuk pulang. Aku mengambil bukuku dan membaca halaman yang terbuka. Seperti ini, lebih banyak lagi kehidupan SMAku terbuang sia-sia. Menurutku, melakukan dosa besar kemalasan adalah lebih dari cukup untukku.




Hyouka Jilid 4 Bab 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.