16 Agustus 2017

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 3 Part 2 LN Bahasa Indonesia


FATE/ APOCRYPHA JILID 2 BAB. 3
(PART 2)
(Translater : Dan)

Secara tiba-tiba Shirou berhenti bergerak. Dia mendecakkan lidahnya dan melompat mundur dengan raut muka masam.
“Caster, kita harus segera mundur. Gadis itu telah ‘menyadarinya’ lebih cepat dari yang ku kira. Kemungkinan ini… karena semacam kemampuan [Revelation].
Berserker Hitam kebingungan atas tindakan Shirou yang tiba-tiba membuka jarak yang lebar di antara mereka. Untuk saat ini, dia memutuskan untuk menunggu dan melihat apa yang selanjutnya Shirou lakukan.
Aku mendengar bahwa mereka yang terpilih untuk menjadi kelas [Ruler] kebanyakan orang suci karena penilaian mereka yang tidak memihak siapapun. Jadi dia adalah salah satu dari jenis itu yah.?”
Caster merah mengangkat sedikit bahunya dengan gaya yang sarkastik.
Begitu rupanya… hal ini merupakan situasi yang kritis. Jika gadis itu membeberkan rahasiaku, situasi saat ini akan berubah menjadi kacau. Tidak, jika di ungkapkan dengan maksud lain, hal ini jadi tidak lagi menarik lagi.
Memaksa mengulur jalan cerita yang bahkan tidak menarik adalah tanda kemampuan menulis yang sangat buruk. Kalau begitu ceritanya, mari kita akhiri dulu ceritanya untuk sementara waktu .”
“Baiklah, ayo kita mundur. Yah, di sisi lain, kita berhasil mengatasi situasi ini. Dengan segera, semuanya akan berubah ke situasi dimana bahkan seorang [Ruler] pun tidak akan bisa melakukan hal apapun. Dan nampaknya aku benar, karena aku berhasil menghindari kematian dengan jarak yang setipis ini.”
Setelah mengatakan hal itu, Shirou menancapkan beberapa [Black key] ke tanah dan memanggil tembok tanah tepat di depan Berserker hitam ketika dia sedang ingin maju menyerang. Shirou dan Caster merah mulai mundur dari pertempuran dengan kecepatan tinggi.
Master, Ruler sialan itu sedang menuju ke arahmu tanpa ragu. Cepatlah! Para Dragon Tooth warrior tidak akan sanggup lagi menahan dirinya lagi.!”
Aku tahu itu!”
Sedikit tidak sabaran, Shirou dengan cepat menerima pesan bahaya itu dan meningkatkan kecepatanya. Di tengah hutan, dimana tidak ada cahaya sama sekali, bahkan sinar bulan pun sulit menembus rimbunya pepohonan. Shirou berlari dengan kecepatan tinggi tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya yang gelap gulita. Kecepatanya, jika di simpulkan dengan sebuah kata, sangatlah tidak normal. Dengan mudahnya menembus kecepatan 60 Km/jam, Shirou terus berlari dan berlari.
… namun ada seseorang yang sedang mengejar dirinya. Melihat sosok orang itu lewat sebelah bahunya, mata Shirou sedikit terbelalak.
“Berserker hitam… tidak kusangka kau akan mengejarku.”
Sesaat setelah dia melihat tembok tanah di hadapanya, Berserker memutuskan untuk mengejar master yang bernama Shirou itu.hal itu bisa di sebut sebagai intuisi, dimana seharusnya sama sekali tidak ada hubunganya dengan manusia buatan seperti dirinya.
Caules sebelumnya telah mengatakan untuk mencari Servant lainya jika Servant atau Master yang sedang dia lawan melarikan diri, namun dia menolaknya dengan geraman seperti biasanya.
Pokoknya, dirinya sendiri pun tidak mengerti apa yang sedang mengganggu dirinya.
Dia merasa bahwa akan sangat buruk jika membiarkan orang ini kabur begitu saja di sini. Master itu sudah julas terlihat tidak normal. Bukan, memangnya apakah dia adalah seorang Master?
Jika dia mengatakan bahwa orang itu didasarkan pada perasaan yang mengalir di sekujur tubuhnya, maka hal itu adalah….
“Uuu..!?”
Saat hal itu mengganggu pikiranya sejenak, empat bilah pisau melayang mengarah ke dirinya. Orang itu nampaknya melemparkan [Black key] saat sedang berlari tanpa perlu menoleh ke belakang.
Berserker hitam memilih pilihan yang tepat di sini. Yaitu, dengan tidak menghiraukan pisau-pisau itu.
Dia tidak merasakan sakit, apa yang dia terima hanyalah sebuah dampak serangan hanya sebagai  ukuran dengan angka. Hal itu bukan masalah baginya. Pada akhirnya, pisau-pisau yang di buat dengan [mana] memiliki sedikit kekuatan penghancur, dan bahkan tidak cukup kuat untuk menumbangkan seorangpun servant.
Namun, menerima serangan yang di arahkan langsung ke dirinya mungkin akan sedikit menghambatnya dan memakan sedikit waktunya. Namun lawanya jika bukan Berserker hitam.
“aaaaAAAAAAAAAAAAAAAiiiiiaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!”
Dengan teriakan yang bahkan dapat memekikkan jantung manusia, dia bahkan menambah kecepatanya. Dia bahkan tidak menghiraukan serangan dari pisau-pisau yang dilemparkan. Akhirnya, [mana] dari pisa-pisau itu memudar dan gagang-gagang pisau pun berjatuhan dari tubuhnya, dan sedangkan luka-lukanya berangsur pulih.
“—Luarbiasa!”
Mengitip lewat bahunya, Shirou tidak tahu harus takjub atau terkejut. Jika dia menangkis semua pisau-pisau itu, maka hal itu bisa dimengerti. Namun jika dia berhenti sejenak untuk menangkisnya itu akan sangat membantu sekali untuknya. Namun, Berserker tidak terlihat sama sekali kerepotan ataupun menurunkan kecepatanya setelah menerima beberapa serangan.
Aku yakin nama penciptanya adalah Doktor Frankenstein, benar 'kan? Hanya dengan desain seperti itu dia bisa membuat monster ganas seperti dirinya?”
Shirou hanya tersenyum kecut atas kata-kata yang di utarakan Caster barusan. Tiba-tiba terbentuklah sebuah rencana.
“Caster, perlihatkan wujudmu. Aku butuh ‘panggung theatermu’.”
Caster langsung mewujudkan dirinya dengan membawa sebuah buku di tanganya.
“Aku mengerti, aku mengerti! Mari kita pertemukan dia dengan seorang yang dia cintai namun juga sangat dia benci!
[Life’s but a walking shadow; a poor player. That struts and frets his hour upon the stage!]”
Caster meneriakkan kata-kata itu dengan keras, dan kemudian suatu keajaiban yang tidak mungkin akan muncul di dalam hutan yang gelap gulita. Begitu dia memastikan bentuk penampilannya, Caster kembali ke bentuk spiritual agar bisa mengikuti di belakang Shirou saat dia sedang berlari.
Dan Berserker hitam yang sedang mengejar Shirou bertemu denganya.
“…uu…!?”
Kebingungan, begitulah reaksi pertama yang dia alami. Seorang pria yang seharusnya tidak berada di sini berbicara dengan memasang ekspresi lembut yang bahkan bukan seperti dirinya. Semasa hidupnya, pria itu bahkan tidak pernah tersenyum kepada gadis itu.
Berhenti.”
“..aa, aa….”
Berserker, yang bahkan tidak berhenti sedetikpun setelah menerima langsung serangan pisau-pisau yang  dilempar Shirou, dan bahkan menambah kecepatanya, Berhenti saat itu juga. Dia tidak baik dalam menunjukkan emosinya, namun matanya terbelalak karena syok dan kebingungan.
Sosok yang berada di hadapanya sekarang adalah Dokter Frankenstein. Sorang yang menciptakan, ayah, dan seorang yang seharusnya dia benci, gadis itu..
Kenapa? Bagaimana?
Berserker Hitam sama sekali tidak terkejut dengan fakta bagaimana dia bisa berada di sini. Apa yang membuat dia terkejut adalah senyum lembut yang di buat oleh orang itu. Sejak pertama kali dia membuka matanya, ekspresi dari ayah gadis itu telah terbalik menjadi rasa benci dan jijik. Dari mulutnya yang dia kira akan keluar kata-kata yang akan memberkati dirinya, namun yang keluar hanyalah ejekan dan penganiyayaan.
Kejadian naas itu terjadi pada bulan November malam….
Itu adalah sebuah kegagalan, sebuah kegagalan, sebuah kegagalan!”
“Apa ini, benda ini hanyalah boneka yang tidak berguna!”
Benda ini tidak memiliki emosi! Apakah ada syaraf yang tidak tersambung!? Bahkan kelenjar air matapun gagal! Lupakan fakta tentang dia bukan gadis Hawa yang sempurna, benda ini bahkan bukan manusia!”
—ah nampaknya aku adalah karya yang gagal.
Apa yang membuat dia sedih bukanlah ejekan tentang dia adalah karya yang gagal. Itu karena ayahnya, terjatuh dalam kegilaan dan mulai menjambak rambutnya sendiri. Sangat menyedihkan.
Maafkan aku ayah. Maafkan aku, maafkan aku karena aku adalah karya yang gagal. Aku akan membenahi diriku sendiri. Aku benar benar akan membenahi diriku sendiri. Jadi, kumohon jangan marah lagi, jangan marah lagi—“
Namun, ketika dia mencoba untuk menangis, namun karena suatu alasan, dia tidak bisa menangis. Nampaknya fungsi untuk meneteskan air mata juga tidak bekerja. Setiap kali dia mencoba untuk menenangkan ayahnya yang telah terjerumus ke dalam minuman beralkohol, dia malah mendorongnya menjauh, memukulnya, dan menendangnya.
Perlakuan itu sama sekali tidak membuatnya kesakitan. Hanya karena, setiap kali dia terkena pukulan … hatinya terasa sesak, namun karena suatu alasan dia tidak mengerti perasaan apa itu.
Gadis itu merasa kasihan terhadap ayahnya, yang hanya  berkutat dengan kesedihanya hari demi hari. Dia memukul-mukul kepalanya untuk memikirkan hal apa yang harus dia lakukan terhadap ayahnya. Apa yang bisa dia lakukan untuk menenangkan ayahnya? Mempersiapka dirinya sendiri, dia milih untuk pergi keluar dari kediamanya yang sekarang.
Dia menemukan banyak hal di luar sana.
Pepohonan hijau, kolam yang berisikan air yang transparan, cahaya matahari. Jika dia membawa benda-benda ini  mungkin ayahnya akan senang. Saat dia memikirkan hal itu, dia diserang oleh anjing liar. Mungkin hal itu terjadi karena anjing itu tertarik dengan aroma busuk yang keluar dari pakaianya.
Ketika anjing itu menggigit tanganya, dia mencabut tenggorokan anjing itu. Saat itu juga dia menemukan pencerahan.
Ah, cantiknya. Cantiknya. Ini sangat cantik sekali. Karena benda ini tidak ada di dalam tubuhku, aku yakin ini sangat cantik—“
Dia membelah lagi bagian tubuh anjing itu dan menemukan lebih banyak daging dan isi perut yang segar.  Benda-benda ini yang tidak berada di dalam dirinya. Jadi, dia pikir benda-benda ini sangat cantik. Jadi dia memutuskan untuk membawa benda-benda itu untuk di tunjukkan kepada ayahnya.
Isi perut berwarna pink yang cantik, darah yang berwarna merah sangat indah. Dia sama sekali tidak berpikir bahwa benda benda itu sangat menjijikan dan kotor. Dia juga tidak memikirkan bahwa  anyir dari darah juga sangat menjijikan.
…. Ketika dia menunjukkan benda-benda itu tadi ke ayahnya, hubungan dengan ayahnya langsung pecah. Karena, bukan hanya karena karya yang gagal, gadis itu juga sangat jelas adalah monster.
Sebuah bentuk kehidupan yang merasa bahwa darah itu cantik dan juga teracuni oleh isi perut— inilah yang orang sebut bengan ‘Monster’.
Bukan, aku bukan seperti itu. Sungguh, aku bukan seperti itu. Aku ini normal. Aku hanya ingin membuatmu senang, Ayah.”
Ayahnya lari terbirit-birit karena ketakutan, tanpa menunjukkan sekalipun senyuman kepadanya hingga akhir. Malahan, dia meninggalkan sebuah kutukan abadi kepada gadis itu.
Kau adalah monster! Seorang monster yang gila!”
….jadi, dia berkeinginan untuk menjadi normal. Dia memutuskan untuk mendapatkan ‘alasan’ dan ‘mengerti akan hal-hal sehari-hari’. Dan dia memutuskan untuk kawin. Karena manusia normal mempunyai keluarga. Sekarang, karena dia telah ditolak oleh ayahnya sendiri, dia membutuhkan perkawinan bagaimanapun caranya.
Namun hal itu bukanlah sesuatu yang akan terkabul begitu diminta. Ataupun sesuatu yang di  dapat dari mencuri. Walaupun begitu, dia menculik banyak laki-laki. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang menjadi pasanganya.
Jadi, dia memutuskan untuk bertanya kepada ayahnya sekali.
Tolong buatkanlah seorang lagi yang akan mencintaiku, tolong buatkan aku seorang yang mau merawatku. Jika aku sehaharusnya menjadi gadis Hawa yang sempurna, kau seharusnya juga bertanggungjawab membuat manusia Adam yang asli—“
Ayahnya menolak, dan gadis itu menjadi gila karena kemarahan dan kesedihan. Kemarahanya karena pengkhianatan oleh ayahnya. Kesedihanya karena dia mengerti dia akan selalu sendiri hingga akhir hayatnya.
Dia hanya menginginkan seseorang untuk mencintainya. Dia hanya ingin untuk mencintai seseorang. Dia hanya ingin tahu apa itu cinta…. Tidak, meskipun jika permintaanya tidak dikabulkan, dia berpikir setidaknya dirinya akan dibenci. Dia mengejar ayahnya, menculiknya, karena sangat terganggu oleh cara dia lari dari dirinya, dan pada akhirnya dia membunuh keluarganya sendiri. Meskipun begitu, ayahnya selalu melarikan diri, hanya melarikan diri dari dirinya.
Tepat sebelum ayahnya meninggal, dia masih melanjutkan untuk melarikan diri dari dirinya. Dia bahkan tidak berpikir untuk balas dendam kepada seorang yang telah menghancurkan hatinya, dan orang-orang yang dia cintai.
Kenapa kau tidak membenciku? Kenapa kau tidak melihat ke arahku?”
….. gadi itu memilih terjun ke kobaran api bersama dengan ayahnya. Dan begitulah akhir dari kisah Frankenstein. Semua yang tertinggal adalah cerita legenda dari seorang monster yang mengerikkan.
Dan sekarang, soerang ayah yang telah menghianati dirinya berada tepat di depan matanya. Dia sedang menatap gadis itu dengan ekspresi hangat. Hal itu merupakan momen yang tidak dapat dia lihat meskipun di dalam mimpi liarnya.
“—benar, bagus sekali. Berhentilah berkelahi. Aku tidak menciptakanmu untuk tujuan seperti itu.”
“uu, aa….”
Dia mengulurkan tanganya untuk meraih kepala gadis itu—nampaknya dia ingin melakukan sesuatu yang biasanya orangtua lakukan kepada anaknya. Dengan kata lain, dia ingin mengelus kepala gadis itu. Hal itu yang paling di inginkan oleh gadis itu.
Dia ingin dicintai. Dia ingin seseorang mencintai dirinya. Dia juga ingin mencintai seseorang.
Keinginginan itu hampir saja terpenuhi.
Namun,
Namun, itulah kenapa….
“uuuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA—!!”
Berserker terjatuh ke dalam amukan kegilaan. Bukan, hal itu bukan sekedar mengamuk biasa. Dengan nafsu membunuh yang tidak dapat di sembunyikan lagi, dia menusuk bagian sisi pria yang wajahnya mirip Dokter  Frankenstein itu dengan Bridal Chest: Maiden’s Chastity.
“Apa, yang kau…!?”
Jangan bicara lagi, jangan bicara lagi, Jangan bicara lagi, jangan bicara lagi, Jangan bicara lagi, jangan bicara lagi, Jangan bicara lagi, jangan bicara lagi, Jangan bicara lagi, jangan bicara lagi, Jangan bicara lagi, jangan bicara lagi, Jangan bicara lagi, jangan bicara lagi, Jangan bicara lagi, jangan bicara lagi, Jangan bicara lagi, jangan bicara lagi, Jangan bicara lagi, jangan bicara lagi, Jangan bicara lagi, jangan bicara lagi—!”
Bersamaan dengan darah segar mengucur keluar dari dalam tubuh pria itu, dia memukulnya lagi tepat di wajah pria itu. Wajah pria itu hancur seperti balon yang meledak.
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaauAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaUAAAAAA!!”
Dia menjerit, dan menjerit bersamaan dengan dia mengayunkan senjatanya (semacam gada) ke sekujur tubuh pria itu. Pria itu bahkan sudah tidak terlihat kejang-kejang lagi; sederhananya, dia hanya pasrah akan kekerasan yang berlebihan itu.
Setelah itu, bahkan setelah memastikan bahwa pria yang seharusnya ada di sini tadi telah menghilang. Pada akhirnya, Berserker Hitam berhenti bergerak.
“aa…aa”
Pria itu telah mengatakan kata-kata yang dia ingin dengar di saat dia tidak ingin mendengarnya. Gadis itu tahu kebenaranya. Dia sudah mengerti bahwa keadaan ini adalah hasil dari sihir yang diciptakan oleh Caster.
Mayat itu telah menghilang. Apa yang dia serang sselama ini terlihat hanya sebuah semacam boneka. Buktinya, banyak sekali sisa potongan kayu berserakan di mana-mana.
Tapi kan, tapi kan.
Tetap saja sekali lagi aku melukai seseorang yang sangat berharga bahkan saat memikirkan mereka juga sangat berharga bagiku—!
Setelah gadis buatan itu terjatuh, terdengar suara ramah yang masuk ke dalam telinganya.
—aku memerintahkanmu dengan sihir komando ini untuk menenangkan dirimu!”
Seketika semua keresahan, kemarahan, ketidak nyamanan, dan keputusasaan lenyap di dalam kepalanya.
Baik. Apakah kau sudah tenang Berserker? Mereka sudah kabur, jadi mari kita akhiri saja dulu di sini untuk sementara. Masih banyak tempat untukmu untuk bertarung lagi. Apakah kau mengerti?”
Berserker Hitam merasakan logika menyebar didalam tubuhnya, dan dicengkeram oleh perasaan lega.
Benar sekali, hal itu hanyalah kata-kata yang di ucapkan oleh Masternya. Masih banyak tempat dimana dia harus bertarung. Dia kemudian membuka pikirannya. Ah, betapa memalukannya. Mungkin penilaian dari masternya terhadap dirinya saat ini sudah berkurang
“…jangan pikirkan hal itu. Kau telah bertarung dengan baik. Apa yang terjadi barusan tidak dapat dihindari. Master itu sangat tidak normal. Pokoknya, prioritas utama kita adalah menghabisi para Servant Merah. Jangan lupakan itu.”
Nampaknya Masternya tidak menurunkan penilaian terhadapnya sama sekali.
Sambil mengangguk mengerti. Berserker Hitam berlari keluar dari dalam hutan. Kali ini dia kembali mendapatkan ketenangannya kembali. Dimana pun itu, sirkuit pemikiranya, dia merasa bahwa dia menyesal karena membiarkan Master itu lolos.
Caules juga merasakan hal yang sama. Dia hanya mengamatinya dari kejauhan melalui binatang panggilannya, namun meski begitu, dia tetap bisa merasakan keanehan dari master itu.
Meskipun begitu, dia juga masih seorang Master. Melepaskan semua perasaan merinding yang dia rasakan, Caules mencurahkan perhatianya kea rah Berserker.
Apakah dia menyesal menenggunakan mantra komando sihirnya?.... tidak. Caules merasa yakin pada pilihanya. Gejolak milik Berserker sangat mengejutakan. Itu wajar saja, setelah membunuh ayahnya, yang sangat dipuja dan dibencinya. Mungkin saja akan berefeknya di kemudian hari. Dia tidak berpikir keputusannya untuk menggunakan Sihir komando untuk membasuh semuanya sekaligus itu salah.
... Paling tidak, dia akan menganggapnya lebih berharga daripada menggunakan seseorang untuk memaksanya mengaktifkan Noble Phantasmnya atau menghentikannya melakukan hal itu sendiri.

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 3 Part 2 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.