16 Agustus 2017

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 3 Part 1 LN Bahasa Indonesia


FATE/APOCRYPHA JILID 2 BAB 3
(PART 1)
(Translater : Dan)

Sekarang dia sedang memikirkannya, dia merasa ada sesuatu yang 'salah' sejak awal.
Pertempuran besar terdiri dari tujuh Servant melawan tujuh Servat. Memang benar bahwa ini adalah keadaan darurat yang menjamin pemanggilan seorang Ruler Class.
Tapi Ruler bisa merasakan bahwa ini bukanlah tugas sebenarnya yang ditugaskan kepadanya.
Sesuatu di dalam dadanya sedang mendesaknya. Hal itu lebih mendekati rasa bahaya yang akan datang daripada rasa bertanggung jawab.
Sesuatu yang tidak akan bisa dibatalkan akan telah terjadi. Begitu melihat benteng raksasa yang sedang mengambang itu, ketidaknyamanan Ruler telah mencapai puncaknya.
Kemungkinan besar, pertempuran besar-besaran akan dimulai di antara fraksi hitam dan merah. Ruler akan baik-baik saja dengan siapa pun yang menangkan perang ini selama mereka berharap akan sesuatu yang benar dan layak dari Holy Grail. Awalnya, dia merasa lega karena alasan ini.
Itu karena Master dari kedua kubu itu seorang penyihir. Seorang penyihir mungkin adalah orang-orang yang telah terputus dari moral seorang manusia, tapi pada saat bersamaan mereka juga tidak berusaha memohon harapan yang benar-benar menyimpang. Satu-satunya yang mereka inginkan adalah mencapai Akar dari suatu masalah, atau mungkin sesuatu yang berhubungan dengan sihir, tapi bagaimanapun, hampir semua yang mereka inginkan baik dan benar.
Namun, keraguan timbul di dalam pikiranya saat fraksi merah menyerang dirinya. Cara fraksi hitam mencoba membawa dirinya kepada pihak mereka terlihat baik-baik saja. Namun pada akhirnya hal itu hanyalah sebuah tindakan untuk meraih kemenangan semata pada perang suci kali ini.
Masalahnya adalah fraksi merah. Ruler tidak bisa memikirkan hal lainya kenapa mereka mau berniat membunuhnya. Kerugianya sudah melebihi keuntungan. Dan sekarang fraksi merah sedang menyerang benteng Millenia, dengan menggunakan “benteng yang melayang”.
Ruler telah melewati pegunungan bersama dengan Sieg dan mengambil jalan memutar mengelilingi luar benteng. Ketika mereka keluar dari hutan dimana Rider dan Archer of Red telah memasuki wilayah fraksi hitam dan bertempur dalam pertempuran sengit, mereka tiba di tengah pertempuran. Homunculi dan golem bertarung melawan para Dragon Tooth Warrior, dan melakukan tindakan mengerikan untuk membunuh satu sama lain. Mantra meledak seperti tembakan meriam di mana- mana, sementara pertempuran yang nampaknya terjadi antara para Servant dengan cepat mengubah daerah sekitarnya menjadi lahan kosong.
Sambil menatap medan perang yang mengerikan ini, Ruler memusatkan perhatian pada benteng  mengambang yang mungkin milik fraksi Merah ... Benda itu tidak normal bahkan di antara banyak perang suci yang pernah terjadi didalam sejarah. Kemampuan untuk terbang dengan sendirinya adalah karya sederhana para penyihir yang bahkan bisa digunakan oleh penyihir biasa, apalagi untuk para Servant.
Tapi benda itu berada pada tingkat yang sama sekali berbeda. Tidak banyak yang mampu menyelesaikan mahakarya dalam skala besar seperti itu bahkan di antara para penyihir dari Zaman Para Dewa.
"Dengar baik, Sieg-kun. Dari sini, aku harus melewati medan perang ini dan bertemu dengan 'seseorang' dari fraksi lain. "
"…Mengapa?"
"Ada 'seseorang' yang harus kutemui di medan perang ini. Aku tidak tahu siapa orang itu, atau bahkan entah itu ServantMaster atau jenis orang lainya. Tapi aku harus bertemu dengan mereka."
Meskipun homunculus itu memiringkan kepalanya dengan bingung, ada suatu hasutan yang misterius dan kuat di dalam kata-kata Ruler. Itu bukan karena nada suaranya penuh dengan keyakinan; sebaliknya, dia berbisik kepadanya dengan cemas. Namun, dia masih melihat sekilas keinginan yang kuat di dalam dirinya yang tidak akan bisa dihentikan apa pun yang terjadi.
"Begitu," kata homunculus mengerti. Alasan dia diidolakan dan diikuti oleh tentara di masa lalu bukan karena dia menunjukkan kemauan yang kuat dengan kata-kata yang kuat. Kata-katanya bukan untuk memaksakan orang lain.
Kata-katanya hanya untuk mengkomunikasikan kehendaknya, mengatakan [aku akan pergi].
"Kurasa itu berbahaya, tapi kalau itu kehendakmu, mau diapakan lagi."
Mengatakan itu, dia meletakkan tangannya di gagang pedangnya tanpa ragu-ragu. Dengan kata lain, sebuah deklarasi tentang niatnya untuk pergi bersamanya juga. Sekalipun mereka hanya saling mengenal sebentar saja, dia cepat mengerti RulerHomunculus yang telah menamai dirinya seendiri dengan sebutan Sieg memiliki kepribadian seperti dimana, setelah memutuskan sesuatu, dia akan melakukanya sampai akhir.
Jika Ruler menyuruhnya untuk tidak ikut dan pergi sendirian ... mungkin Sieg akan mengikutinya begitu saja. Itu akan sangat berbahaya. Dia pasti akan dipandang sebagai musuh oleh fraksi Merah. Dan belum di ketahui juga apakah para penyihir dari fraksi Hitam mungkin bereaksi jika mereka melihatnya juga.
Tapi Sieg memiliki tujuan yang berbeda dari dirinya di medan perang ini.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
"Terlepas dari rekan-rekanku yang bertempur di garis depan, aku mungkin akan memiliki kesempatan untuk berbicara singkat dengan yang lain yang sedang bersiap di belakang. Bergantung pada situasinya juga, aku juga berniat untuk berbicara dengan mereka dan meminta pembebasan para homunculi lainnya yang ada di dalam benteng. Lalu setelah itu-"
"Setelah itu?"
Sieg menatapnya dengan nada meminta maaf dan bergumam.
"... Tidak, saya ingin saya dapat bertemu dengan Rider, tapi tidak ada yang tahu apakah kami bisa bertemu atau tidak. Menemui dia dalam situasi ini juga akan terlalu merepotkan dia."
" Aku tidak berpikir dia akan terganggu sama sekali, meskipun begitu ...”
Bagaimanapun juga, Ruler  menilai bahwa jika Sieg menemaninya adalah tindakan yang paling tepat.
Pokoknya, tolong ikut aku. Tapi ... dengarkan, setidaknya hindari melawan seorang Servatpun, mengerti? Jika kau mengalami masalah dengan sembarang orang di fraksi Hitam, gunakan namaku. Jika kau melakukan itu, mungkin kau bisa menghindar untuk segera dieksekusi oleh mereka. "
"Terima kasih. "
Pada saat itu, Ruler dapat secara intuitif mengatakan bahwa keputusannya benar-benar benar di bawah kehendak Tuhan. Begitulah perasaannya dalam hatinya. Apa yang sebenarnya seorang homunculus lakukan di medan perang yang sedang di kuasai oleh para Servant? ... Dia tidak pernah bisa menjadi seorang kesatria seperti seorang Saber hanya dengan memiliki pedang. Tapi dia tidak lagi punya banyak waktu dan kebebasan yang tersisa untuk memutar otaknya di atas nasibnya.
Karena pada saat ini, dia harus terjun ke medan perang yang sedang kacau ini dan mencari sesuatu yang sangat berbahaya.
"Baiklah!"
Dengan ringan dia menampar pipinya dengan kedua tangannya sendiri, Ruler memanggil sebuah bendera ke tangannya dan menggenggamnya erat-erat. Itu adalah bendera perang, bendera suci yang selalu ada di sisinya di kehidupan sebelumnya. "Jangan sampai ketinggalan," bisiknya pada Sieg dari balik bahunya.
 "- Kalau begitu, ayo pergi!"
 Ruler maju menerobos ke medan perang. Sieg juga mengejarnya dari belakang.
Sejumlah prajurit Dragon Tooth yang tak masuk akal jumlahnya segera bergegas menghampiri mereka. Pergi sejauh mungkin dan bahkan mengabaikan para homunculi dan golem yang sedang mereka lawan, para Dragon Tooth Warrior kini semua terfokus pada Ruler
"Seperti yang kukira ...!"
Ruler mengayunkan bendera itu dengan tangannya dan menghancurkan para Dragon Tooth Warrior satu per satu . Motif dasar Ruler adalah menghindari melakukan segala sesuatu yang secara langsung dapat mempengaruhi jalanya perang Holy Grail, tapi dia tidak bisa hanya berdiri dan diam tidak melakukan apa-apa jika mereka secara terbuka memperlakukannya sebagai musuh. Seiring dengan teriakan tajam yang sepertinya menembus medan perang, Ruler berlari menuju lokasi yang menjadi tujuannya.

Fate/Apocrypha Jilid 2 Bab 3 Part 1 LN Bahasa Indonesia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Hikari Yuki

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.